Anda di halaman 1dari 174

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU

PEKERJA DALAM PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

PADA INDUSTRI PENGELASAN INFORMAL DI KELURAHAN

GONDRONG, KECAMATAN CIPONDOH, KOTA TANGERANG

TAHUN 2013
Skripsi
Disusun untuk Memenuhi Syarat Sarjana Strata 1 Kesehatan Masyarakat

Oleh :

Ilham Noviandry

NIM :

108101000034

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H.
2013 M.

1
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PERMINATAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
Skripsi, November 2013

ILHAM NOVIANDRY, NIM : 108101000034

Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Pekerja dalam


Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal
di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

xix + 113 halaman, 21 tabel, 5 gambar, 3 lampiran

ABSTRAK
Penggunaan APD merupakan tahap akhir dari pengendalian bahaya,
walaupun pengunaan APD akan semakin maksimal apabila dilakukan dengan
pengendalian lain seperti eliminasi, subsitusi, engineering dan administratif.
Manfaat dari penggunaan APD saat bekerja sangat besar dalam pencegahan
kecelakaan kerja, namun dalam kenyataannya masih banyak pekerja yang tidak
menggunakan APD saat bekerja.
Disain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan
kuantitatif menggunakan metode cross sectional study yang bertujuan untuk
mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pekerja dalam
penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal.
Jumlah sampel yang diambil sebanyak 46 orang dari 12 bengkel las yang ada di
Kelurahan Gondrong dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Data
2
dianalisis menggunakan Chi Square (X ).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pengetahuan
dengan penggunaan APD, ada hubungan antara pelatihan dengan penggunaan
APD, ada hubungan antara sikap penggunaan APD, ada hubungan antara
pengawasan dengan penggunaan APD, ada hubungan antara hukuman dengan
penggunaan APD, dan ada hubungan antara penghargaan penggunaan APD.
Sedangkan tidak ada hubungan antara motivasi dengan penggunaan APD, tidak
ada hubungan antara komunikasi dengan penggunaan APD, tidak ada hubungan
ketersediaan APD dengan penggunaan APD.
Saran dari penelitian ini adalah dengan meningkatkan pengetahuan pekerja
mengenai bahaya dan risiko pengelasan, perlunya peningkatan pengawasan
terhadap pekerja dengan memberikan penghargaan sehingga meningkatkan sikap,
motivasi dan komunikasi mengenai penggunaan APD. Serta melakukan
pengadaaan APD yang standar baik oleh pemilik usaha dan pemerintah setempat
sehingga meningkatkan kesadaran Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
khususnya mengenai pengelasan.

Daftar Bacaan : 44 (2001-2012)


Kata Kunci : Perilaku Pekerja, Alat Pelindung Diri (APD), Predisposing,
Enabling, Reinforcing, Industri Pengelasan Informal
i
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
PROGRAM STUDY OF PUBLIC HEALTH
DEPARTEMENT OF HEALTH AND WORK SAFETY
Undergraduated Thesis, November 2013

ILHAM NOVIANDRY, NIM : 108101000034

Factors Associated With Workers Behavior in the Use of Personal Protective


Equipment (PPE) In Informal Welding Industry in Gondrong, Cipondoh
Subdistrict, Tangerang in year 2013

xix + 113 Pages, 21 Tables, 5 Pictures, 3 Attachment

ABSTRACT
Used of PPE is final stage of hazard control , although used of PPE will
be maximal if it is done with other controls such as elimination , substitution ,
engineering and administrative . Benefits used of PPE when working heavily in
prevention of occupational accidents , but in the reality there are many workers
who do not use PPE when working .
Design study was a descriptive study with a quantitative approach using a
cross -sectional study aimed to determine factors associated with behavior of
workers in used of Personal Protective Equipment ( PPE ) to informal welding
industry . Number of samples taken 46 people from 12 existing welding shop in
Village Gondrong using accidental sampling technique . Data were analyzed
using Chi Square ( X2 ) .
Results showed that relationship between knowledge of use of PPE , there
is a relationship between training with use of PPE , there is a relationship
between attitude with use of PPE, there is a relationship between supervision with
use of PPE , there is a relationship between punishment with use of PPE , and
there is a relationship between use of PPE with award . While there is no
relationship between motivation with use of PPE , there is no relationship
between communication with use of PPE , there was no association between PPE
availability with use of PPE .
Suggestion of this research is to improve knowledge workers of dangers
and risks of welding , need for increased surveillance of workers by giving awards
to improve attitude , motivation and communication regarding use of PPE . As
well as doing well in providing PPE standards by business owners and local
governments to raise awareness of Health and Safety ( K3 ), particularly
regarding welding .
Reading List: 44 (2001-2012)
Keywords: Behavior Workers, Personal Protective Equipment (PPE),
Predisposing, Enabling, Reinforcing, Welding Industry Informal
ii
Riwayat Hidup

Data Diri
Nama : Ilham Noviandry

TTL : Jakarta, 15 November 1990

Alamat : Jalan KH Dewantoro no. 34 RT 001/01, Gondrong, Cipondoh,

Tangerang, Banten 15140

Telp : 0857189513689

E-mail : ilham_noviandry696969@yahoo.co.id

Pendidikan Formal
2008-2013 : Perminatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

2005-2008 : SMA Negeri 94 Jakarta

2002-2005 : SMP Negeri 187 Jakarta

1997-2002 : SD Negeri 2 Gondrong

Pendidikan Non-Formal
2011 : Training Penerapan E-KTP Massal

Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia

2009 : Pelatihan Manajemen Organisasi

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang

Ciputat 2008 : Training ESQ tingkat SMA se Jakarta Barat


vi
Pengalaman Organisasi
2010-2012 : Direktur Lembaga Kesehatan Masyarakat

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Ciputat

2010-2011 : Ketua Bidang Seni Budaya Komisariat DISTEKPERTUM

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Ciputat

2010-2011 : Ketua Bidang Olahraga dan Kesehatan Badan Pengurus

Asrama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang

Ciputat

2009-2010 : Ketua Bidang Keilmuan Komisariat DISTEKPERTUM

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang

Ciputat

2009-2010 : Ketua Bidang Kebersihan Badan Pengurus Asrama

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang

Ciputat 2006-2007 : Bidang 7K Organisasi Siswa Intra Sekolah

(OSIS)

SMA Negeri 94 Jakarta

2005-2007 : Anggota Ikatan Remaja Muhammadiyah(IRM)Ranting Gondrong


vii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan

kasih sayang serta kesempatan untuk belajar dan menambah ilmu pengetahuan

sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi mengenai Faktor-Faktor yang

Berhubungan Dengan Perilaku Pekerja dalam Penggunaan Alat Pelindung

Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,

Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

Laporan ini merupakan hasil dari proses kegiatan penelitian yang

dilakukan di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.

Semoga dengan laporan skripsi ini, mudah-mudahan Alloh SWT selalu

melimpahkan pertolongan dan ridho-Nya sehingga dapat menjadi manfaat bagi

yang membaca secara umumnya dan bagi penulis secara khususnya.

Selanjutnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang telah

membantu dan membuat terselesaikanya laporan ini. Ucapan terima kasih penulis

juga sampaikan kepada :

1. Prof. Dr (HC). Dr. M.K. Tadjudin, Sp. And. Selaku Dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Ir. Febrianti, M.Si selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat.

3. Bapak dr. Yuli Pranpanca Satar. MARS selaku pembimbing I dan Bapak

Arif Sumantri, SKM, M.Kes selaku pembimbing II Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan yang telah membimbing dengan sabar dan tawakal

dalam penulisan skripsi ini.

viii
4. Bapak Ahmad Ghozali yang membantu penulis dalam urusan administrasi

dan informasi mengenai kampus dan perkuliahan. Thanks Pak Ghozali...

5. Bapak H. Rudin beserta staf Kelurahan Gondrong yang telah banyak

membantu dalam penyusunan dan permohonan izin untuk melakukan

penelitian.

6. Buat Bapak dan Ibu yang selalu ngomelin dan memberi semangat dalam

penyusunan skripsi ini. Serta Adikku Fauzan yang selalu meminjamkan

laptop baik untu keperluan skripsi maupun keperluan lainnya. Hehehe....

7. Buat Kakakku Uni Lili, Uni Wen, Uni Ita, Kk Rosi, Uda Opi, Uni Febi,

Uni Tia, Rio, Uni Yuli, Uni Ari, Uni Yesi, Uda Oka, Uda Zal, Uni Del, Uda

In, dan yang ada di seluruh Indonesia yang selalu memberikan semangat

untuk mengerjakan skripsi ini.

8. Terima kasih buat Spesial One yang sudah memberikan semangat dan

perhatiannya sehingga bisa menyelesaikan skripsi ini. Thanks you Endah...

9. Buat temen-temenku dari K3 dan angkatan 2008 yang ada di perminatan

Gizi, buat Bang Ludi, Bang Abu, Aa Asyari, Rizqi, Miftah, Irfan (Ciripa),

Chusan yang temenin ngopi, Bayu, Iqbal. Buat Titi Ndut, Tetik, Icha,

Unil, Neng Irma dan yang lainnya di kelas K3 yang selama ini semangat

belajar dan mengerjakan tugas kelompok bersama. Juga buat Alumni dan

Adik kelas yang selalu memberikan info buat penulis.

10. Buat temen Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah periode 2012-2013, pak

Topeng Ketum Imm Ciputat, Pak Zuhri, Fauzi Bukho Medan, Bang

Andre, Bung Koko, Mawmaw(Immawan), Mbak Zum, Bang Zaki, Mbak

Kiki, Om Dimas Ndut, Bang Tole, Bang Adit, Bang Ichanuddin, beserta

ix
temen-teman Immawan dan Immawati yang tidak bisa penulis sebutkan

satu persatu. Juga buat Adik-adikku di komisariat DISTEKPERTUM. Ari,

Badra, Tsalis, Ivand, Vina, Elvin, Eci, dan yang lainnya, maaf tak bisa

disebutkan satu per satu. Semoga IMM

11. Semua pihak yang telah menyukse

Skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
saran yang membangun agar skripsi ini dapat bermanfaat. Semoga Allah SWT melimpahkan rahma

Penulis
x
DAFTAR ISI
Abstrsk..............................................................................................................i
Pernyataan Persetujuan..................................................................................iii
Panitia Ujian Skripsi.......................................................................................iv
Lembar Pernyataan.........................................................................................v
Riwayat Hidup.................................................................................................vi
Kata Pengantar................................................................................................viii
Daftar Isi...........................................................................................................xi
Daftar Gambar.................................................................................................xvi
Daftar Tabel......................................................................................................xvii

Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang..............................................................................1
1.2. Rumusan Masalah.........................................................................5
1.3. Pertanyaan Penelitian...................................................................6
1.4. Tujuan Penelitian..........................................................................8
1.4.1. Tujuan Umum...................................................................8
1.4.2. Tujuan Khusus..................................................................8
1.5. Manfaat Penelitian........................................................................9
1.5.1. Manfaat Teoritis................................................................9
1.5.2. Manfaat Metodoligis.........................................................9
1.5.3. Manfaat Aplikatif..............................................................9
1.6. Ruang Lingkup Penelitian............................................................10

Bab II Tinjauan Pustaka


2.1. Pengelasan.................................................................................... 11
2.1.1. Pengertian Pengelasan...................................................... 11
2.1.2. Jenis-Jenis Pengelasan......................................................12
2.1.3. Bahaya Pengelasan........................................................... 14
2.2. Perilaku Tidak Aman....................................................................18
2.2.1. Pengertian Perilaku Tidak Aman......................................18
2.2.2. Klasifikasi Perilaku Tidak Aman......................................19
2.3. Teori-Teori Mengenai Perilaku.....................................................20
2.3.1. Lawrence Green Theory................................................... 20
2.3.2. Social Cognitive Theory................................................... 21
2.3.3. Theory Ramsey.................................................................22
2.3.4. Model ABC dan Perilaku..................................................24
2.4. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Kerja 27
2.4.1. Pengetahuan......................................................................27
2.4.2. Pelatihan............................................................................28
2.4.3. Sikap................................................................................. 29
2.4.4. Motivasi............................................................................ 31
2.4.5. Komunikasi.......................................................................32
2.4.6. Ketersediaan Fasilitas....................................................... 33
2.4.7. Pengawasan.......................................................................34
2.4.8. Hukuman dan Penghargaan.............................................. 35
2.5. Alat Pelindung Diri (APD) Pengelasan........................................37
2.5.1. Helm Pengaman (Safety Helmet)......................................37
xi
2.5.2. Kacamata Las (Googles)...................................................38
2.5.3. Pelindung Muka (Face Shield).........................................38
2.5.4. Pakaian Kerja dan Pelindung Dada (Apron).....................39
2.5.5. Sarung Tangan (Safety Glove)..........................................39
2.5.6. Sepatu Kerja (Safety Shoes)..............................................40
2.5.7. Kacamata Bening (Safety Spectacles)...............................41
2.5.8. Pelindung Telinga (Hearing Protection)...........................41
2.5.9. Alat Pelindung Hidung (Respirator).................................42
2.6. Kerangka Teori............................................................................. 43

Bab III Kerangka Konsep


3.1. Kerangka Konsep......................................................................... 45
3.2. Varibel yang Tidak Diteliti...........................................................46
3.3. Definisi Operasional.....................................................................48
3.4. Hipotesis Penelitian...................................................................... 51

Bab IV Metodologi Penelitian


4.1. Disain Penelitian...........................................................................52
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian....................................................... 53
4.3. Populasi, Sampel dan Sampling Penelitian.................................. 53
4.3.1. Populasi...............................................................................53
4.3.2. Sampel.................................................................................53
4.3.3. Sampling Penelitian............................................................ 53
4.4. Instrumen Penelitian.....................................................................55
4.4.1. Kuesioner............................................................................55
4.4.2. Catatan Lapangan................................................................57
4.4.3. Lembar Observasi............................................................... 58
4.5. Metode Pengumpulan Data.......................................................... 58
4.6. Pengolahan Data...........................................................................59
4.7. Teknik Analisis Data.....................................................................60
4.7.1. Analisis Univariat................................................................60
4.7.2. Analisis Bivariat..................................................................61

Bab V Hasil
5.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian............................................62
5.2. Analisis Univariat Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan
Perilaku Pekerja dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
64
5.2.1. Gambaran Perilaku Pekerja dalam Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal.
64
5.2.2. Gambaran Pengetahuan dalam Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal.
64
5.2.3. Gambaran Pelatihan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD) pada Industri Pengelasan Informal.
xii
65

5.2.4. Gambaran Sikap dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) pada Industri Pengelasan Informal.
66
5.2.5. Gambaran Motivasi dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD) pada Industri Pengelasan Informal.
67

5.2.6. Gambaran Komunikasi dalam Penggunaan Alat Pelindung


Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal.
67
5.2.7. Gambaran Ketersediaan APD dalam Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal.
68
5.2.8. Gambaran Pengawasan dalam Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal.
69
5.2.9. Gambaran Hukuman dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD) pada Industri Pengelasan Informal.
69
5.2.10. Gambaran Penghargaan dalam Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal.
70
5.3. Analisis Bivariat Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku
Pekerja dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri
Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,
Kota Tangerang Tahun 2013
72
5.3.1. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Perilaku Penggunaan
Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.
72
5.3.2. Hubungan Antara Pelatihan Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.
73
5.3.3. Hubungan Antara Sikap Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.
74
5.3.4. Hubungan Antara Motivasi Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.
75
5.3.5. Hubungan Antara Komunikasi Dengan Perilaku Penggunaan
Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.
76
5.3.6. Hubungan Antara Ketersediaan APD Dengan Perilaku
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri
Pengelasan Informal.
78
xiii
5.3.7. Hubungan Antara Pengawasan Dengan Perilaku Penggunaan
Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.
79
5.3.8. Hubungan Antara Hukuman Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.
80
5.3.9. Hubungan Antara Penghargaan Dengan Perilaku Penggunaan
Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.
81

Bab VI Penbahasan
6.1. Keterbatasan Penelitian................................................................83
6.2. Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Industri
Pengelasan Informal
85
6.3. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.
86
6.4. Hubungan Antara Pelatihan Dengan Penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.
87
6.5. Hubungan Antara Sikap Dengan Penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.
89
6.6. Hubungan Antara Motivasi Dengan Penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.
90
6.7. Hubungan Antara Komunikasi Dengan Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.
92
6.8. Hubungan Antara Ketersediaan APD Dengan Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal di
Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun
2013.
94
6.9. Hubungan Antara Pengawasan Dengan Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.
96
6.10. Hubungan Antara Hukuman Dengan Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.
xiv
98
6.11. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.
99

Bab VII Kesimpulan dan Saran


7.1. Simpulan 102
7.2. Saran 105

Daftar Pustaka 107

Lampiran
xv
Daftar Gambar

Gambar Halaman

Gambar 2.1 Gambar Social Cognitive Theory....................................21

Gambar 2.2Model ABC dan Perilaku 25

Gambar 2.3Bagan Kerangka Teori 44

Gambar 3.1Bagan Kerangka Konsep 47

Gambar 5.1Bagan Struktur Organisasi Kelurahan Gondrong, Kecamatan


Cipondoh, Kota Tangerang60
xvi
Daftar Tabel

Tabel Halaman

Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasional.............................................48

Tabel 4.1 Perhitungan sampel per variable....................................55

Tabel 5.1 Perilaku Pekerja dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
64

Tabel 5.2 Gambaran Pengetahuan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
65

Tabel 5.3 Gambaran Pelatihan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
65

Tabel 5.4 Gambaran Sikap dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
66

Tabel 5.5 Gambaran Motivasi dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
67

Tabel 5.6 Gambaran Komunikasi dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
68

Tabel 5.7 Gambaran Ketersediaan APD dalam Penggunaan Alat Pelindung


Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
68
xvii
Tabel 5.8 Gambaran Pengawasan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
69

Tabel 5.9 Gambaran Hukuman dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
70

Tabel 5.10 Gambaran Penghargaan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
70

Tabel 5.11 Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di
Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
Tahun 2013......................................................................72

Tabel 5.12 Hubungan Antara Pelatihan Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di
Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
Tahun 2013......................................................................73

Tabel 5.13 Hubungan Antara Sikap Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di
Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
Tahun 2013......................................................................74

Tabel 5.14 Hubungan Antara Motivasi Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di
Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
Tahun 2013......................................................................75

Tabel 5.15 Hubungan Antara Komunikasi Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di
Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
Tahun 2013......................................................................77

Tabel 5.16 Hubungan Antara Ketersediaan APD Dengan Perilaku Penggunaan


Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di
Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
Tahun 2013......................................................................78

xviii
Tabel 5.17 Hubungan Antara Pengawasan Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di
Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
Tahun 2013......................................................................79

Tabel 5.18 Hubungan Antara Hukuman Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di
Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
Tahun 2013......................................................................80

Tabel 5.19 Hubungan Antara Penghargaan Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di
Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
Tahun 2013.....................................................................82
xix
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan seperangkat alat yang

digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh atau sebagian

tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya kecelakaan kerja

pada tempat kerja. Penggunaan alat pelindung diri sering dianggap tidak

penting ataupun remeh oleh para pekerja, terutama pada pekerja yang

bekerja pada sektor informal. Padahal penggunaan alat pelindung diri ini

sangat penting dan berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan kerja

pekerja. Kedisiplinan para pekerja dalam mengunakan alat pelindung diri

tergolong masih rendah sehingga resiko terjadinya kecelakaan kerja yang

dapat membahayakan pekerja cukup besar.

Angka kecelakaan kerja berdasarkan laporan International Labour

Organization (ILO) tahun 2010, di seluruh dunia terjadi lebih dari 337 juta

kecelakaan dalam pekerjaan per tahun. Setiap hari, 6.300 orang meninggal

karena kecelakaan kerja atau penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan.

Sekitar 2,3 juta kematian per tahun terjadi di seluruh dunia.

Angka kecelakaan kerja di Indonesia tergolong cukup tinggi.

Berdasarkan data (Jamsostek, 2011), angka kecelakaan kerja di Indonesia

tahun 2011 mencapai 99.491 kasus. Jumlah tersebut meningkat jika

dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2007 sebanyak 83.714

107
2

kasus, tahun 2008 sebanyak 94.736 kasus, tahun 2009 sebanyak 96.314

kasus, dan tahun 2010 sebanyak 98.711 kasus.

Kota Tangerang merupakan salah satu daerah terpadat di provinsi

Banten. Didaerah ini terdapat banyak industri baik industri formal maupun

industri informal. Tidak dapat dipungkiri bahwa daerah ini menjadi salah

satu penyumbang angka kecelakaan tertinggi untuk provinsi Banten.

Adapun angka kecelakaan kerja di daerah Banten mencapai 209 kasus,

meliputi 103 orang meningal dunia, 25 orang menderita luka berat, 92 orang

mengalami luka ringan. Dari angka kecelakaan tersebut, hampir

setengahnya dari jumlah kecelakaan kerja merupakan angka kematian akibat

dari kecelakaan kerja (Kementerian Tenaga Kerja dan Transportasi, 2012).

Diperkirakan pekerja di Indonesia berjumlah 95.7 juta orang yang

terdiri dari 58.8 juta tenaga kerja laki-laki dan 36.9 juta tenaga kerja

perempuan. Sekitar 60% dari jumlah tersebut bekerja dalam sektor informal.

Oleh karena itu pemerintah perlu dilakukan pengawasan dan pelaporan

mengenai tingkat kecelakaan kerja di sektor informal dari risiko dan bahaya

yang terdapat di tempat kerja selain pelaporan kecelakaan kerja dari sektor

formal (Dwi, 2008).

Kecelakaan kerja dapat terjadi karena disebabkan beberapa faktor

antara lain adanya faktor lingkungan dan manusia. Faktor lingkungan terkait

dengan peralatan, kebijakan, pengawasan, peraturan, dan prosedur kerja

mengenai pelaksanaan K3. Sedangkan faktor manusia yaitu perilaku atau

kebiasaan kerja yang tidak aman(Sumamur, 2010).


Upaya untuk mencegah kecelakaan kerja adalah dengan

menghilangkan risiko atau mengendalikan sumber bahaya bahkan

menggunakan alat pelindung diri (APD). Menurut ILO (1989), hierarki

pengendalian bahaya terdapat 5 (lima) pengendalian bahaya yaitu eliminasi,

subsitusi, engineering, administratif dan alat pelindung diri. Pencegahan

tersebut difokuskan pada lingkungan kerja, peralatan dan terutama adalah

pekerja (manusia).

Penggunaan alat pelindung diri sudah seharusnya menjadi

keharusan, namun tidak digunakan oleh pekerja. Hal ini disebabkan masih

lemahnya kedisiplinan dan kesadaran para pekerja. Berdasarkan temuan

bahaya di perusahaan yang ada di Indonesia bahwa 60% tenaga kerja cedera

kepala karena tidak menggunakan helm pengaman, 90% tenaga kerja cedera

wajah karena tidak menggunakan alat pelindung wajah, 77% tenaga kerja

cedera kaki karena tidak menggunakan sepatu pengaman, dan 66% tenaga

kerja cedera mata karena tidak menggunakan alat pelindung mata

(Jamsostek, 2011).

Penelitian Syaaf (2008) diketahui bahwa faktor yang berhubungan

dengan perilaku penggunaan APD pada pengelasan informal adalah

pengetahuan, pelatihan, sikap, motivasi, komunikasi, ketersediaan APD,

pengawasan, hukuman dan penghargaan. Sedangkan Wibowo (2010), faktor

yang memiliki hubungan dengan perilaku penggunaan APD adalah

pengetahuan, pengawasan, dan kebijakan. Adapun Linggasari (2008),

faktornya adalah ketersediaan APD, pelatihan dan pengawasan.


Pengendalian bahaya dengan menggunakan APD juga tidak akan

maksimal jika pekerja sendiri tidak menggunakan padahal dari pihak

perusahaan atau pemilik usaha telah menyediakan. Menurut salah satu

penelitian yang dilakukan pada pekerjaan pengelasan industri informal di

daerah Depok hanya 50% pekerja yang berperilaku menggunakan APD saat

bekerja sedangkan 50% mempunyai perilaku tidak menggunakan APD saat

bekerja (Purwanto, 2009).

Penggunaan APD merupakan tahap akhir dari pengendalian bahaya.

Walaupun pengunaan APD akan menjadi maksimal apabila dilakukan

dengan pengendalian lain seperti eliminasi, subsitusi, engineering,

administratif sehingga bahaya dapat dikendalikan. Manfaat dari penggunaan

APD saat bekerja sangat besar dalam pencegahan kecelakaan kerja. Namun

dalam kenyataannya masih banyak pekerja yang tidak menggunakan APD

saat bekerja.

Kelompok masyarakat pekerja sektor informal masih belum

mendapatkan perhatian dalam kesehatan kerjanya. Tindakan pencegahan

dan pengendalian yang ada belum disesuaikan dengan potensi bahaya yang

ada di tempat kerja. Pada umumnya fasilitas pelayanan keselamatan dan

kesehatan kerja lebih banyak dinikmati oleh tenaga kerja pada industri skala

besar (jumlah pekerja lebih dari 500 orang). Pada industri kecil dan

menengah, fasilitas pelayanan keselamatan dan kesehatan bersifat parsial

dan mungkin tidak ada sama sekali (Nur dalam Dian Rawar, 2010).

Banyak faktor yang mempengaruhi pekerja dalam menggunakan alat

pelindung diri yang disediakan perusahaan/pemilik usaha antara lain


ketidaknyamanan dalam menggunakan APD sehingga mengurangi kinerja

para pekerja bahkan dapat menimbulkan kecelakaan kerja yang lain. Dengan

menggunakan APD pada saat bekerja maka mengurangi kemungkinan

kecelakaan kerja. Oleh karena itu, penggunaan APD pada sektor informal

perlu diperhatikan oleh pekerja, perusahaan dan pemerintahan setempat.

1.2. Rumusan Masalah

Bahaya dan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja dapat

muncul dari setiap tempat kerja dalam bentuk yang berbeda-beda. Pada

industri pengelasan informal, banyak terdapat bahaya dan risiko yang dapat

melukai para pekerja, mulai dari risiko kecil sampai besar dengan tingkat

paparan berbeda dari bahaya di pengelasan informal. Sehingga dalam

menunjang K3 di tempat pengelasan dan untuk mencegah kecelakaan,

diperlukan Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan bulan Maret 2013 di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, diketahui

bahwa 6 dari 10 orang pekerja tidak menggunakan APD pada saat bekerja

dan diketahui bahwa 2 dari 4 bengkel las tidak mempunyai aturan atau

kebijakan khusus dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Pemilihan

Kelurahan Gondrong sebagai tempat penelitian karena daerah tersebut

terdapat banyak pembangunan rumah, ruko dan bangunan lainnya yang

memerlukan jasa pengelasan. Sehingga bengkel las di Kelurahan ini juga

banyak mendapat pemesanan dari luar Kelurahan Gondrong sendiri

sehingga tempat ini dapat dijadikan tempat penelitian.


Berdasarkan latar belakang diatas, diketahui bahwa masih banyak

pekerja pengelasan yang tidak menggunakan APD saat bekerja sehingga

kecelakaan kerja ringan sampai berat dapat membahayakan para pekerja.

Dengan demikian diperlukan adanya suatu penelitian yang menggambarkan

perilaku pekerja dalam penggunaan APD pada industri pengelasan informal

ini. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pekerja sehingga tidak

menggunakan APD saat bekerja walaupun dari pihak perusahaan atau

pemilik usaha antara lain ketidaknyamanan jika menggunakan APD saat

bekerja. Tingginya kasus kecelakaan kerja diarea kerja diakibatkan

kecenderungan pekerja untuk bekerja tidak aman (unsafe act) seperti tidak

menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada saat melakukan

pekerjaannya, hal ini juga yang berkaitan dengan behavior yang dimiliki

oleh pekerja tersebut.

1.3. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran perilaku pekerja dalam penggunaan Alat

Pelindung Diri (APD) ditempat kerja.?

2. Bagaimana gambaran faktor Predisposing (Pengetahuan, Pelatihan,

Sikap, Motivasi, dan Komunikasi) pekerja dalam perilaku penggunaan

Alat Pelindung Diri (APD) di industri pengelasan informal di

Kelurahan Gondrong.

3. Bagaimana gambaran faktor Enabling (Ketersediaan APD) pekerja

dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di industri pengelasan

informal di Kelurahan Gondrong.


4. Bagaimana gambaran faktor Reinforcing (Pengawasan, Hukuman dan

Penghargaan) pekerja dalam perilaku penggunaan Alat Pelindung Diri

(APD) di industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong.

5. Bagaimana hubungan faktor Predisposing (Pengetahuan, Pelatihan,

Sikap, Motivasi, dan Komunikasi) pekerja dengan perilaku penggunaan

Alat Pelindung Diri (APD) di industri pengelasan informal di

Kelurahan Gondrong.

6. Bagaimana hubungan faktor Enabling (Ketersediaan APD) pekerja

dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di industri pengelasan

informal di Kelurahan Gondrong.

7. Bagaimana hubungan faktor Reinforcing (Pengawasan, Hukuman dan

Penghargaan) pekerja dengan perilaku penggunaan Alat Pelindung Diri

(APD) di industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong.

1.4. Tujuan Penelitian

1.4.1. Tujuan Umum

Diketahuinya hubungan faktor-faktor perilaku pekerja dalam penggunaan

APD pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Tangerang.

1.4.2. Tujuan Khusus

1. Diketahuinya gambaran perilaku pekerja dalam penggunaan Alat

Pelindung Diri (APD) di industri pengelasan informal di Kelurahan

Gondrong.?

2. Diketahuinya gambaran faktor Predisposing (Pengetahuan, Pelatihan,

Sikap, Motivasi, dan Komunikasi) pekerja dalam perilaku penggunaan


Alat Pelindung Diri (APD) di industri pengelasan informal di

Kelurahan Gondrong.

3. Diketahuinya gambaran faktor Enabling (Ketersediaan APD) pekerja

dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di industri pengelasan

informal di Kelurahan Gondrong.

4. Diketahuinya gambaran faktor Reinforcing (Pengawasan, Hukuman dan

Penghargaan) pekerja dalam perilaku penggunaan Alat Pelindung Diri

(APD) di industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong.

5. Diketahuinya hubungan faktor Predisposing (Pengetahuan, Pelatihan,

Sikap, Motivasi, dan Komunikasi) pekerja dengan perilaku penggunaan

Alat Pelindung Diri (APD) di industri pengelasan informal di

Kelurahan Gondrong.

6. Diketahuinya hubungan faktor Enabling (Ketersediaan APD) pekerja

dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di industri pengelasan

informal di Kelurahan Gondrong.

7. Diketahuinya hubungan faktor Reinforcing (Pengawasan, Hukuman dan

Penghargaan) pekerja dengan perilaku penggunaan Alat Pelindung Diri

(APD) di industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong.


1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1. Manfaat Teoritis

Sebagai sumbangan referensi akademis berkaitan dengan faktor-faktor yang

berhubungan dengan perilaku pekerja dalam penggunaan APD pada

pekerjaan pengelasan di Kelurahan Gondrong.

1.5.2. Manfaat Metodoligis

Penelitian ini diharapkan menambah pengetahuan tentang metodologi

penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan perilaku pekerja dalam

penggunaan APD.

1.5.3. Manfaat Aplikatif

1. Bagi industri, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi

dan evaluasi mengenai faktor perilaku pekerja dalam penggunaan APD,

serta dapat melakukan upaya pencegahan terhadap risiko dan bahaya

kecelakaan di tempat kerja.

2. Bagi fakultas, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan

dalam pengembangan kurikulum program studi Kesehatan Masyarakat

khususnya pada konsentrasi K3.

3. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini bermanfaat untuk dijadikan bahan

perbandingan ataupun data dalam penelitian faktor-faktor yang

berhubungan dengan perilaku pekerja dalam penggunaan APD pada

industri pengelasan informal.


1.6. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini bertujan untuk mengetahui hubungan antara faktor

yang mempengaruhi perilaku dengan perilaku penggunaan Alat Pelindung

Diri (APD) pada pekerjaan pengelasan informal di Kelurahan Gondrong.

Penelitian ini perlu dilakukan karena masih kurangnya penggunaan APD

sebagai salah satu bentuk pengendalian dari bahaya yang terjadi ditempat

kerja sehingga para pekerja masih mengalami Penyakit Akibat Kerja (PAK)

dan Kecelakaan Kerja. Penelitian ini menggunakan disain penelitian

kuantitatif dengan metode studi cross sectional. Penelitian akan

dilaksanakan oleh peneliti itu sendiri. Jumlah sampel yang diambil sebanyak

46 orang dari 12 bengkel las yang ada di Kelurahan Gondrong dengan

menggunakan teknik Accidental Sampling. Penelitian dilaksanakan pada

bulam Mei-Juni 2013. Penelitian ini menggunakan data primer yang

diperoleh dengan cara pengisian kuesioer dan lembar obsevasi, sedangkan

data sekunder yaitu jumlah tempat pengelasan informal. Observasi

dilakukan untuk melihat bagaimana penggunaan APD para pekerja pada

pekerjaan pengelasan di lapangan. Wawancara dilakukan untuk mengetahui

data pekerja, pengetahuan, pelatihan, sikap, motivasi, komunikasi,

pengawasan, dan fasilitas mengenai APD.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengelasan

2.1.1. Pengertian Pengelasan

Banyak institusi maupun para ahli yang mendefinisikan tentang

pengelasan. Namun secara umum pengelasan (welding) adalah salah satu

teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk

dan ligam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam

penambah dan menghasilkan sambungan yang kontinyu.

Menurut Deutsche Industrie Normen (DIN) (2008) las adalah ikatan

metalurgi pada sambungan logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan

lumer atau cair, dari definisi tersebut dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa las

adalah sesuatu proses dimana bahan dan jenis yang sama digabungkan

menjadi satu sehingga terbentuk suatu sambungan melalui ikatan kimia

yang dihasilkan dari pemakaian panas dan tekanan.

Menurut Wiryosumarto (2000), las adalah suatu cara untuk

menyambung benda padat dengan jalan mencairkannya melalui pemanasan.

Untuk berhasilnya penyambungan diperlukan beberapa persyaratan yang

harus dipenuhi yakni:

a. Bahwa benda cair tersebut dapat cair/lebur oleh panas.

b. Bahwa antara benda-benda padat yang disambung tersebut terdapat

kesesuaian sifat lasnya sehingga tidak melemahkan atau menggagalkan

sambungan tersebut.

107
12

c. Bahwa cara-cara penyambungan sesuai dengan sifat benda padat dan

tujuan penyambungan.

2.1.2. Jenis-Jenis Pengelasan

Sampai pada waktu sakarang ini banyak sekali pengklasifikasian

yang digunakan dalam bidang las. Ini disebabkan perlu adanya kesepakatan

dalah hal pengklasifikasian tersebut. Secara konvensional pengklasifikasian

berdasarkan kerja dan energi yang digunakan. Klasifikasi berdasarkan kerja

dibagi menjadi 3 yaitu pengelasan cair, pengelasan tekan dan pematrian.

Sedangkan klasifikasi berdasarkan energi yang digunakan dibagi menjadi 3

yaitu pengelasan listrik, pengelasan kimia, dan pengelasan mekanik.

Berdasarkan proses pengelasan, maka pengelasan terbagi menjadi

dua antara lain (Prabowo, 2007):

1. Las Oksi Asetilen

Las oksi asetilen merupakan proses pengelasan secara manual dengan

pemanasan permukaan logam yang akan dilas atau disambung sampai

mencair oleh nyala gas asetilen melalui pembakaran C2H2 dengan gas

O2 dengan atau tanpa logam pengisi. Pembakaran gas C2H2 oleh

oksigen (O2) dapat menghasilkan suhu yang sangat sangat tinggi

sehingga dapat mencairkan logam. Gas asetilen merupakan salah satu

jenis gas yang sangat mudah terbakar dibawah pengaruh suhu dan

tekanan. Bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh gas asetilen

antara lain:
a. Polimerisasi, peristiwa ini akan menyebabkan suhu gas meningkat

jauh lebih tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Polimerisasi ini

akan terjadi pada suhu 300C, jika berada pada tekanan 1 atm. Oleh

sebab itu, gas asetilen tidak boleh disimpan atau digunakan pada

suhu diatas 300C.

b. Disosiasi, yaitu adanya panas yang ditimbulkan oleh proses

pembentukan zat-zat. Disosiasi terjadi pada suhu 600C jika berada

pada tekanan 1 atm atau 530C jika tekanan 3 atm. Jika terjadi

disosiasi maka tekanan gas meningkat dan hal ini sangat

membahayaka karena bisa menimbulkan ledakan.

2. Las listrik

Las tahanan listrik adalah proses pengelasan yang dilakukan dengan

jalan mengalirkan arus listrik melalui bidang atau permukaan-

permukaan benda yang akan disambung. Elektroda-elektroda yang

dialiri listrik digunakan untuk menekan benda kerja dengan tekanan

yang cukup. Penyambungan dua buah logam atau lebih menjadi satu

dengan jalan pelelehan atau pencairan dengan busur nyala listrik.

Tahanan yang ditimbulkan oleh arus listrik pada bidang-bidang

sentuhan akan menimbulkan panas dan berguna untuk mencairkan

permukaan yang akan disambung.

Bahaya pada las listrik yaitu, loncatan bunga api yang terjadi pada

nyala busur listrik karena adanya potensial tegangan atau beda tegangan

antara ujung-ujung elektroda dan benda kerja. Tegangan yang

digunakan sangat menentukan terjadinya loncatan bunga api, semakin


besar tegangan semakin mudah terjadi loncatan bunga api listrik. Selain

penggunaan arus dan tegangan yang bisa membahayakan operator,

nyala busur listrik juga memancarkan sinar ultra violet dan sinar infra

merah yang berinteraksi sangat tinggi. Pancaran atau radiasi dari sinar

tersebut sangat membahayakan mata maupun kulit manusia (Prabowo,

2007).

2.1.3. Bahaya Pengelasan

Dalam melakukan pengelasan terdapat beberapa bahaya yang

berpotensi terjadinya antara lain (Yasari, 2008):

A. Bahaya Cahaya/Sinar

Cahaya dari busur las dapat digolongkan pada sifatnya yaitu cahaya

yang dapat dilihat, ultra violet dan infra merah. Cahaya tersebut tergolong

dalam radiasi bukan pengion (non-ionizing). Bahaya cahaya (radiasi cahaya)

ini dapat menimbulkan luka bakar, kerusakan mata dan kerusakan kulit.

a. Sinar ultraviolet

Sinar ultraviolet sebenarnya adalah pancaran yang mudah diserap,

tetapi sinar ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap reaksi kimia

yang terjadi di dalam tubuh. Bila sinar ultraviolet yang terserap oleh

lensa dan kornea mata melebihi jumlah tertentu maka pada mata akan

terasa seakan-akan ada benda asing di dalamnya. Dalam waktu antara 6

sampai 12 jam kemudian mata akan menjadi sakit selama 6 sampai 24

jam. Pada umunya rasa sakit ini akan hilang setelah 48 jam.
b. Cahaya tampak

Semua cahaya tampak yang masuk ke mata akan diteruskan oleh lensa

dan kornea ke retina mata. Bila cahaya ini terlalu kuat maka akan

segera menjadi lelah dan kalau terlalu lama mungkin akan menjadi

sakit. Rasa lelah dan sakit ini sifatnya juga hanya sementara.

c. Sinar inframerah

Adanya sinar inframerah tidak segera terasa oleh mata, karena itu sinar

ini lebih berbahaya sebab tidak diketahui, tidak terlihat dan tidak terasa.

Pengaruh sinar inframerah terhadap mata sama dengan pengaruh panas,

yaitu menyebabkan pembengkakan pada kelopak mata, terjadinya

penyakit kornea, presbiopia yang terlalu dini dan terjadinya kerabunan.

B. Bahaya Asap dan Gas Las

Asap las (fume) yang ada selama pengelasan terutama terdiri dari

oksida logam. Asap ini terbentuk ketika uap logam terkondensasi dan

teroksidasi. Komposisi asap ini tergantung pada jenis logam induk, logam

pengisi, flux dalam permukaan atau kontaminasi pada permukaan logam.

Gas-gas berbahaya dapat menyebabkan kerusakan pada system pernafasan

juga bagian tubuh tertentu. Adapun gas-gas berbahaya yang terjadi pada

waktu pengelasan adalah gas CO, CO2, NO, NO2 dan ozon.

a. Gas Karbon Monoksida

Gas ini mempunyai afinitas tinggi terhadap hemoglobin (Hb) yang akan

menurunkan daya penyerapan terhadap oksigen.

b. Gas Karbon Dioksida


Gas ini sebenarnya tidak berbahaya terhadap tubuh tetapi bila

konsentrasinya terlalu tinggi dapat membahayakan apabila operator

yang berada diruangan tertutup.

c. Gas Nitrogen Monoksida

Ikatan NO dan hemoglobin lebih kuat dari pada CO dan Hb, bahkan

mengikat oksigen yang dibawa hemoglobin. Hal ini dapat membahayak

sistem syaraf.

d. Gas Nitrogen Dioksida

Gas ini memberikan rangsangan yang kuat terhadap mata dan lapisan

pernafasan sehingga dapat menyebabkan sakit dan iritasi mata serta

mengalami gangguan pada pernafasan.

C. Bahaya Percikan Api

Selama dalam proses pengelasan menghasilkan percikan dan terak las.

Percikan dan terak las apabila mengenai kulit dapat menyebabkan luka

bakar. Oleh karena itu, juru las harus dilindungi terhindar dari hal ini

terutama apabila harus melakukan pengelasan tegak dan pengelasan diatas

kepala.

D. Bahaya Kebakaran

Kebakaran terjadi karena adanya kontak langsung antara api

pengelasan dengan bahan-bahan yang mudah terbakar seperti solar, bensin,

gas, cat kertas dan bahan lainnya yang mudah terbakar. Bahaya kebakaran

juga dapat terjadi karena kabel yang menjadi panas yang disebabkan karena

hubungan yang kurang baik, kabel yang tidak sesuai atau adanya kebocoran

listrik karena isolasi yang rusak.


E. Bahaya Ledakan

Dalam mengelas tangki bahan bakar, tangki harus bersih dari minyak,

gas yang mudah terbakar dan cat yang mudah terbakar sebelum melakukan

pengelasan. Apabila dalam hal ini pembersihannya kurang sempurna maka

akan terjadi ledakan yang cukup membahayakan. Untuk mencegah hal

tersebut, sebelum pengelasan harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu

untuk memastikan bahwa tidak akan terjadi ledakan.

F. Bahaya Jatuh

Didalam pengelasan dimana ada pengelasan di tempat yang tinggi

akan selalu ada bahaya terjatuh dan kejatuhan. Bahaya ini dapat

menimbulkan luka ringan ataupun berat bahkan kematian karena itu usaha

pencegahannya harus diperhatikan.

G. Bahaya Listrik

Besarnya kejutan yang timbul karena listrik tergantung pada besarnya

arus dan keadaan badan manusia. Tingkat dari kejutan dan hubungannya

dengan besar arus adalah sebagai berikut:

a. Arus 1 mA hanya akan menimbulkan kejutan yang kecil saja dan tidak

membahayakan.

b. Arus 5 mA akan memberikan stimulasi yang cukup tinggi pada otot dan

menimbulkan rasa sakit.

c. Arus 10 mA akan menyebabkan rasa sakit yang hebat.

d. Arus20 mA akan menyebabkan terjadi pengerutan pada otot sehingga

orang yang terkena tidak dapat melepaskan dirinya tanpa bantuan orang

lain.
e. Arus 50 mA sangat berbahaya bagi tubuh.

f. Arus 100 mA dapat mengakibatkan kematian.

2.2. Perilaku Tidak Aman

2.2.1. Pengertian Perilaku Tidak Aman

Menurut Illyas (2000) dalam Pratiwi (2009) perilaku tidak aman

adalah perilaku yang dilakukan oleh pekerja yang menyimpang dari prinsip-

prinsip keselamatan atau tidak sesuai dengan prosedur kerja yang berisiko

untuk timbulnya masalah.

Menurut Kletz (2001) dalam Pratiwi (2009) menyatakan bahwa pada

dasarnya tindakan/perilaku tidak aman merupakan kesalahan manusia dalam

mengambil sikap/tindakan. Klasifikasi kesalahan manusia antara lain :

a. Kesalahan karena lupa

Kesalahan terjadi biasanya pada seseorang yang sebetulnya tahu,

mampu dan berniat, mengerjakan secara benar dan aman dan telah biasa

dilakukan, namun melakukan kesalahan karena lupa. Contoh : menekan

tombol yang salah, lupa membuka atau menutup keran.

b. Kesalahan karena tidak tahu

Kesalahan terjadi karena orang tersebut tidak mengetahui cara

mengerjakan/mengoperasikan peralatan secara benar dan aman atau

terjadi kesalahan perhitungan. Hal tersebut terjadi disebabkan karena

kurang pelatihan, kurang/ salah instruksi, perubahan informasi.

c. Kesalahan karena tidak mampu


Kesalahan terjadi karena tidak mampu melakukan tugasnya. Contoh:

pekerjaan terlalu sulit, beban fisik maupun mental pekerjaan terlalu

berat, tugas/ informasi terlalu banyak.

d. Kesalahan karena kurang motivasi

Kesalahan karena kurang motivasi ini bisa terjadi karena hal-hal :

Dorongan pribadi (desire) : ingin cepat selesai, melalui jalan pintas,

ingin nyaman, malas memakai APD, menarik perhatian dengan

mengambil resiko berlebihan.

2.2.2. Klasifkasi perilaku tidak aman

Menurut Bird dan Germin (1990), factor penyebab dasar (basic

cause) terutama adalah factor manusia yang menyebabkan tindakan tidak

aman sehingga menimbulkan kejadian hampir celaka (near miss) dan

kecelakaan yaitu kemampuan fisik dan mental yang tidak sesuai, kurangnya

pengetahuan, kurangnya keterampilan, stress fisik dan mental, motivasi

yang tidak memadai. (Maanaiya, 2005).

Menurut Bird (1990) dalam Maanaiya (2005) tindakan tidak aman

meliputi sebagai berikut :

1. Pengoperasian peralatan pada kecepatan yang tidak pantas.

2. Mengoperasikan peralatan pada otoritas yang tidak pantas.

3. Penggunaan peralatan yang tidak sesuai.

4. Penggunaan peralatan yang cacat.

5. Tindakan yang menyebabkan alat keselamatan tidak dapat dioperasikan.

6. Kegagalan memberi isyarat atau untuk menjalani/mengamankan

peralatan.
7. Kegagalan menggunakan APD.

8. Penempatan peralatan/persediaan yang tidak sesuai.

9. Pengambilan posisi kerja yang tidak sesuai.

10. Memperbaiki/ merawat peralatan yang sedang bergerak.

11. Bercanda dalam bekerja.

12. Bekerja di bawah pengaruh alkohol.

13. Penggunaan obat-obat terlarang.

14. Merokok pada lokasi yang dilarang misalnya pada lokasi tempat

bekerja.

2.3. Teori-teori Mengenai Perilaku

2.3.1. Lawrence Green Theory

Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2005), faktor

perilaku ditentukan oleh tiga faktor yaitu:

a. Faktor Predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor yang

mempermudah terjadinya perilaku seseorang antara lain pengetahuan,

sikap, keyakinan, pengetahuan, motivasi, kepercayaan, nilai dan tradisi.

b. Faktor Pemungkin (enabling factors), adalah faktor yang

memungkinkan atau memfasilitasi perilaku antara lain sarana dan

prasarana atau fasilitas untuk terjadinya kesehatan.

c. Faktor Penguat (reinforcement factors), faktor yang mendorong atau

memperkuat terjadinya perilaku antara lain peraturan, undang-undang,

pengawasan.
2.3.2. Social Cognitive Theory

Social Cognitive Theory merupakan teori perilaku kesehatan yang

dikembangkan oleh Albert Bandura tahun 1963. Menurut Bandura (1977)

dalam Syaaf (2008), teori social kognitif terdapat 3 (tiga) faktor yang

mempengaruhi perilaku kesehatan yaitu individu, sosial, dan lingkungan,

dimana satu sama lain saling berhubungan dan menentukan (triadic

reciprocity).

Environment

Equipment, Tools,
SOP, House
Keeping

Behavior
Person
Complying,
Knowledge, Coaching,
skill, Abilities, Recognizing,
Motivate, Gambar 2.1 Communication
Intelegence
Gambar Social Cognitive Theory

Bandura menguraikan bahwa individu atau pribadi mempunyai

kemampuan dasar manusiawi yang sifatnya kognitif. Setiap individu

memiliki karakteristik tertentu antara lain emosi, bertindak, keyakinan,

harapan, pengaturan diri, kemampuan belajar, dan lain-lain. Sedangkan

faktor lingkungan juga memiliki karakteristik tersendiri misalnya

karakteristik fisik, sosial, budaya, politik.


2.3.3. Theory Ramsey

Ramsey dalam Vitriyansyah P. (2012) mengemukakan bahwa perilaku

pekerja yang aman atau terjadinya perilaku yang dapat menyebabkan

kecelakaan, dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor yaitu:

a. Pengamatan (perception)

b. Kognitif (cognition)

c. Pengambilan Keputusan (decision making)

d. Kemampuan (ability)

Ramsey mengemukakan sebuah model yang mengkaji faktor-faktor

pribadi yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan. Pada tahapan pertama,

seseorang akan mengamati suatu bahaya yang akan mengancam. Bila ia

tidak mengamati atau salah mengamati adanya bahaya maka ia tidak akan

menampilkan perilaku kerja yang aman. Sedang bilamana bahaya kerja

teramati sedangkan yang bersangkutan tidak memiliki pengetahuan atau

pemahaman bahwa hal yang diamati tersebut membahayakan maka perilaku

yang aman juga tidak terampil.

Pada tahapan ketiga, perilaku kerja yang aman juga tidak akan tampil

bilamana seseorang tidak memiliki keputusan untuk menghindari walaupun

yang bersangkutan telah melihat dan mengetahui bahwa yang dihadapi

tersebut merupakan sesuatu yang membahayakan. Dan pada tahapan

keempat, perilaku kerja yang aman juga tidak akan tampil bilamana

seseorang tidak memiliki kemampuan untuk menghindar dari bahaya.

Tahap pertama, pengamatan seseorang terhadap bahaya dipengaruhi

oleh:
1. Kecakapan sensoris (sensory skill)

2. Preseptual (preseptual skill)

3. Kesiagaan mental (state of alertness)

Tahap kedua, pengenalan seseorang terhadap faktor bahaya yang

diamati atau teramati akan tergantung:

1. Pengalaman (experience)

2. Pelatihan (training)

3. Kemampuan mental (mental ability)

4. Daya ingat (memory ability)

Tahap ketiga, keputusan seseorang untuk menghindari kecelakaan

akan dipengaruhi oleh:

1. Pengalaman (experience)

2. Pelatihan (training)

3. Sikap (attitude)

4. Motivasi (motivation)

5. Kepribadian (personality)

6. Kecenderungan menghadapi resiko (risk taking tendency)

Tahap ke empat, kemampuan seseorang untuk menghindari

kecelakaan dipengaruhi oleh:

1. Ciri dan kemampuan diri (physical characteristic and ability)

2. Kemampuan motorik (psychomotor skill)

3. Proses fisiologis (psysiological procces)

Dari keempat tahapan tersebut dapat disimpulkan bahwa keseluruhan

faktor, sebagian besar merupakan faktor individu yang masih dapat


ditingkatkan melalui berbagai strategi pendidikan dan pelatihan yang

sesuai.namun perlu disadari pula bahwa perilaku kerja aman masih

memungkinkan terjadinya suatu kecelakaan kerja.

2.3.4. Model ABC dan Perilaku

Menurut model ABC , perilaku dipicu oleh beberapa rangkaian

peristiwa anteseden (sesuatu yang mendahului sebuah perilaku dan secara

kausal terhubung dengan perilaku itu sendiri) dan diikuti oleh konsekuensi

(hasil nyata dari perilaku bagi individu) yang dapat meningkatkan atau

menurunkan kemungkinan perilaku tersebut akan terulang kembali. Analisis

ABC membantu dalam mengidentifikasi cara-cara untuk mengubah perilaku

dengan memastikan keberadaan anteseden yang tepat dan konsekuensi yang

mengandung perilaku yang diharapakan Anteseden yang juga disebut

sebagai aktivator dapat memunculkan suatu perilaku untuk mendapatkan

konsekuensi yang diharapkan (reward) atau menghindari konsekuensi yang

tidak diharapkan ( penalty).

Dengan demikian, anteseden mengarahkan suatu perilaku dan

konsekuensi menentukan apakah perilaku tersebut akan muncul kembali.

Konsekuensi dapat menguatkan atau melemahkan perilaku sehingga dapat

meningkatkan atau mengurangi frekuensi kemunculan perilaku tersebut.

Dengan kata lain, konsekuensi dapat meningkatkan atau menurunkan

kemungkinan perilaku akan muncul kembali dalam kondisi yang serupa.

Anteseden adalah penting namun tidak cukup berpengaruh untuk

menghasilkan perilaku. Konsekuensi menjelaskan mengapa orang


mengadopsi perilaku tertentu (Fleming dan. Lardner, 2002 dalam Syaaf

2008).

Model ABC dapat digunakan untuk mempromosikan perilaku sehat

dan selamat. Hubungan antara anteseden, perilaku, dan konsekuensi dapat

dilihat pada gambar. Panah dua arah diantara perilaku dan konsekuensi

menegaskan bahwa konsekuensi mempengaruhi kemungkinan perilaku

tersebut akan muncul kembali.

Anteseden Behavior Concequence


Gambar 2.2 Model ABC dan Perilaku

a. Anteseden

Anteseden adalah peristiwa lingkungan yang membentuk tahap

atau pemicu perilaku. Anteseden yang secara reliable mengisyaratkan

waktu untuk menjalankan sebuah perilaku dapat meningkatkan

kecenderungan terjadinya suatu perilaku pada saat dan tempat yang

tepat. Anteseden dapat bersifat alamiah (dipicu oleh peristiwa-peritiwa

lingkungan) dan terencana (dipicu oleh pesan/peringatan yang dibuat

oleh komunikator).

Meskipun anteseden diperlukan untuk memicu perilaku, namun

kehadirannya tidak menjamin kemunculan suatu perilaku. Sebagai

contoh, adanya peraturan dan prosedur keselamatan belum tentu

memunculkan perilaku aman. Bagaimanapun anteseden yang memiliki

efek jangka panjang seperti pengetahuan sangat penting untuk

menciptakan perilaku aman. Anteseden adalah penting untuk


memunculkan perilaku, tetapi pengaruhnya tidak cukup untuk membuat

perilaku tersebut bertahan selamanya.

b. Konsekuensi

Konsekuensi adalah peristiwa lingkungan yang mengikuti sebuah

perilaku, yang juga menguatkan, melemahkan atau menghentikan suatu

perilaku. Secara umum, orang cenderung mengulangi perilaku-perilaku

yang membawa hasil-hasil positif dan menghindari perilaku-perilaku

yang memberikan hasil-hasil negatif.

Konsekuensi didefinisikan sebagai hasil nyata dari perilaku

individu yang mempengaruhi kemungkinan perilaku tersebut akan

muncul kembali. Dengan demikian, frekuensi suatu perilaku dapat

meningkat atau menurun dengan menetapkan konsekuensi yang

mengikuti perilaku tersebut. (Fleming dan Lardner, 2002 dalam Syaaf,

2008).

Konsekuensi dapa berupa pembuktian diri, penerimaan atau

penolakan dari rekan kerja, sanksi, umpan balik, cedera atau cacat,

penghargaan, kenyamanan atau ketidaknyamanan, rasa terimakasih,

penghematan waktu.

Ada tiga macam konsekuensi yang mempengaruhi perilaku, yaitu

penguatan positif, peguatan negatif, dan hukuman. Penguatan positif

dan penguatan negatif memperbesar kemungkinan suatu perilaku untuk

muncul kembali sedangkan hukuman memperkecil kemungkinan suatu

perilaku untuk muncul kembali (Fleming dan Lardner, 2002 dalam

Syaaf, 2008)
Penguatan positif dapat berupa mendapatkan sesuatu yang

diinginkan seperti umpan balik positif terhadap pencapaian, dikenal

oleh atasan, pujian dari rekan kerja, dan penghargaan. Penguatan

negative dapat berupa terhindar dari sesuatu yang tidak diingiinkan

seperti terhindar dari pengucilan oleh rekan kerja, terhindar dari rasa

sakit, terhindar dari kehilangan insentif, dan terhindar dari denda.

Hukuman dapat berupa mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan

atau kehilangan sesuatu yang dimiliki atau diinginkan seperti

kehilangan keuntungan, aksipendisiplinan, rasa sakit/cedera, perasaaan

bersalah (Fleming dan Lardner, 2002 dalam Syaaf, 2008).

2.4. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Kerja

Berdasarkan penelitian Syaaf (2008), ada beberapa faktor yang

berhubungan dengan perilaku kerja yang dapat mempengaruhi pekerja

dalam melakukan suatu pekerjaan, antara lain:

2.4.1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat

penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( overt behavior).

Notoatmodjo (2003) mengungkapkan pendapat Rogers bahwa


sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di dalam

diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:

a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam

arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

b. Interest ( merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di

sini sikap subjek sudah mulai terbentuk.

c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya

stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden

sudah lebih baik lagi.

d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai

dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.

e. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Berdasarkan penelitian Arianto Wibowo (2010), diketahui

bahwa responden yang memiliki pengetahuan kurang baik tanpa

penggunaan APD lebih sedikit yaitu (83,8%) daripada responden yang

memiliki pengetahuan baik yang menggunakan APD (91,8%). Hasil

uji Chi Square menunjukan ada hubungan yang bermakna antara

penggunaan APD dengan pengetahuan P = 0,000 (Pvalue <0,05).

2.4.2. Pelatihan

Salah satu cara yang baik untuk mempromosikan keselamatan di

tempat kerja adalah dengan memberikan pelatihan bagi pekerja.

Pelatihan keselamatan awal harus menjadi bagian proses orientasi


pekerja baru. Pelatihan selanjutnya diarahkan pada pembentukan

pengetahuan yang baru, spesifik dan lebih dalam serta memperbaharui

pengetahuan yang sudah ada.

Pelatihan memberikan manfaat ganda dalam promosi

keselamatan. Pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman

kerja terhadap hazard dan risiko. Dengan adanya peningkatan

kesadaran terhadap risiko, pekerja dapat menghindari kondisi tertentu

dengan mengenali pajanan dan memodifikasinya dengan mengubah

prosedur kerja menjadi lebih aman.

Latihan keselamatan adalah penting mengingat kebanyakan

kecelakaan terjadi pada pekerja baru yang belum terbiasa bekerja

dengan selamat. Pentingnya segi keselamatan harus ditekankan

kepada tenaga kerja oleh pelatih, pimpinan kelompok atau instruktur

(Sumamur 2009).

Berdasarkan penelitian Arianto Wibowo (2010), diketahui

bahwa responden yang tidak pernah mengikuti pelatihan tanpa

memakai APD lebih sedikit (34,0%) daripada responden yang pernah

mengikuti pelatihan memakai APD (66,7%). Hasil uji Chi Square

menunjukan tidak ada hubungan yang bermakna antara penggunaan

APD dengan pelatihan P = 0,938 (Pvalue >0,05).

2.4.3. Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih

tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata

menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus


tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan

tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku.

Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai

tingkatan, yakni:

1. Menerima (Receiving)

Subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek

2. Merespon (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya serta mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan. Lepas jawaban dan pekerjaan

itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.

3. Menghargai (Valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan

terhadap suatu masalah

4. Bertangguang jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya

merupakan tingkat sikap yang paling tinggi.

Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak

langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaiamana pendapat

atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara tidak

langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis,

kemudian ditanyakan pendapat responden.(Sangat setuju, setuju, tidak

setuju, sangat tidak setuju).

Berdasarkan penelitian Linggasari (2008), diketahui bahwa

responden yang memiliki sikap kurang baik dalam penggunaan APD


sebanyak 60 responden (69,8%), sedangkan responden yang memiliki

sikap baik dalam penggunaan APD sebanyak 12 responden (55,0%).

Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0,06 (P value <0,05) dengan

(95%CI) maka tidak ada hubungan antara sikap dengan perilaku

penggunaan APD.

2.4.4. Motivasi

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang

yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam

melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri

individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu

(motivasi ekstrinsik). Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu

akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang

ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam

kehidupan lainnya.

Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam

menghadapi situasi (situation) kerja di perusahaan. Motivasi

merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan

yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi

perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positip terhadap

situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk

mencapai kinerja maksimal. Dalam penggunaan APD, motivasi

dibutuhkan untuk memberitahukan betapa pentingnya melindungi diri

dari bahaya yang ada di tempat kerja.


Berdasarkan penelitian Asriyani (2011), diketahui bahwa

responden yang memiliki motivasi kurang baik tanpa penggunaan

APD sebanyak 35 responden (55,5%), sedangkan responden yang

memiliki motivasi baik dalam penggunaan APD sebanyak 12

responden (19,1%). Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0,002 (P

value <0,05) maka ada hubungan antara motivasi dengan perilaku

penggunaan APD.

2.4.5. Komunikasi

Menurut Notoatmodjo (2007), komunikasi adalah proses

pengoperasian rangsangan (stimulus) dalam bentuk lambing atai

symbol bahasa atau gerak (non-verbal), untuk mempengaruhi orang

lain. Agar terjadi komunikasi yang efektif perlu keterlibatan beberapa

unsur komunikasi, yaitu komunikator, komunikan pesan, saluran atau

media.

Komunikasi keselamatan dan kesehatan kerja dapat

menggunakan berbagai meda baik lisan maupun tertulis. Pesan harus

mudah diingat oleh penerima. Daya ingat rata-rata melalui berbgai

media adalah sebagai berikut: 10% apa yang dibaca, 20% apa yang

didengar, 30% apa yang dilihat, 50% apa yang didengar dan dilihat,

70% apa yang dikatakan, 90% apa yang dikatakan dan dikerjakan.

Disamping untuk menyampaikan perintah dan pengarahan

dalam pelaksanaan pekerjaan, Komunikasi Keselamatan dan

Kesehatan Kerja digunakan untuk mendorong perilaku, sehingga

pekerja termotivasi untuk bekerja dengan selamat.


Berdasarkan penelitian Syaaf (2008), diketahui bahwa

responden yang memiliki komunikasi baik dalam penggunaan APD

(85,7%), sedangkan responden yang memiliki komunikasi kurang baik

tanpa penggunaan APD (18,2%). Hasil uji Chi Square diperoleh nilai

p = 0,072 (P value >0,05) maka tidak ada hubungan komunikasi

dengan perilaku penggunaan APD.

2.4.6. Ketersediaan Fasilitas

Penggunaan APD merupakan penyambung dari berbagai upaya

pencegahan kecelakaan lainnya atau ketika tidak ada metode atau

praktek lain yang mungkin untuk dilakukan (Roughton, 2002). Aneka

alat-alat APD adalah kaca mata (goggles), safety shoes, sarung tangan,

topi pengaman, pelindung telinga, pelindung paru-paru, dan lain-lain.

Desain dan pembuatan APD harus memenuhi standar-standar tertentu

dan sudah diuji terlebih dahulu kemampuan perlindungannya

(Sumamur, 2009).

Menurut Notoatmodjo (2005) perilaku dapat terbentuk dari tiga

faktor, salah satunya faktor pendukung (enabling) yaitu ketersediaan

fasilitas atau sarana kesehatan. Ketersediaan APD dalam hal ini

merupakan salah satu bentuk dari faktor pendukung perilaku, dimana

suatu perilaku otomatis belum terwujud dalam suatu tindakan jika

tidak terdapat fasilitas yang mendukung terbentuknya sikap tersebut.

Berdasarkan penelitian Asriyani (2011), diketahui bahwa

responden yang menyatakan ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD)

tidak lengkap dan memiliki sikap yang kurang baik (69,8%),


sedangkan responden yang menyatakan ketersediaan Alat Pelindung

Diri (APD) lengkap dan memiliki sikap yang baik (88,1%). Hasil uji

Chi Square diperoleh nilai p = 0,002 (P value <0,05) dengan (95%CI)

maka ada hubungan antara ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD)

dengan perilaku penggunaan APD di PT Telekomunikasi, Tbk

Pekanbaru.

2.4.7. Pengawasan

Kelemahan dari peraturan keselamatan adalah hanya berupa

tulisan yang menyebutkan bagaimana seseorang bisa selamat, tetapi

tidak mengawasi tindakan aktivitasnya. Pekerja akan cenderung

melupakan kewajibannya dalam beberapa hari atau minggu

(Roughton, 2002 dalam Syaaf, 2008). Oleh karena itu, dibutuhkan

pengawasan untuk menegakkan peraturan di tempat kerja.

Menurut Roughton (2002) dalam Syaaf (2008), beberapa tipe

individu yang harus terlibat dalam mengawasi tempat kerja yaitu :

a. Pengawas (Supervisor)

Setiap pengawas yang ditunjuk harus mendapatkan pelatihan

terlebih dahulu mengenai bahaya yang mungkin akan ditemui dan

juga pengendaliannya.

b. Pekerja

Ini merupakan salah satu cara untuk melibatkan pekerja dalam

proses keselamatan. Setiap pekerja harus mengerti mengenai

potensi bahaya dan cara melindungi diri dan rekan kerjanya dari

bahaya tersebut. Mereka yang terlibat dalam pengawasan


membutuhkan pelatihan dalam mengenali dan mengendalikan

potensi hazard.

c. Safety Professional

Safety Professional harus menyediakan bimbingan dan petunjuk

tentang metode inspeksi. Safety Professional dapat diandalkan

untuk bertanggung jawab terhadap kesuksesan atau permasalahan

dalam program pencegahan dan pengendalian bahaya.

Berdasarkan penelitian Arianto Wibowo (2010), diketahui

bahwa responden yang menyatakan tidak ada pengawasan dalam

penggunaan APD lebih sedikit yaitu 72,3% daripada responden yang

menyatakan ada pengawasan (92,4%). Hasil uji Chi Square

menunjukan ada hubungan yang bermakna antara penggunaan APD

dengan adanya pengawasan P =0,000 (Pvalue<0,05) dengan OR

32,533(10,535-100,468)

2.4.8. Hukuman dan Penghargaan

Menurut Geller (2001) dalam Syaaf (2008) hukuman adalah

konsekuensi yang diterima individu atau kelompok sebagai bentuk

akibat dari perilaku yang tidak diharapkan. Hukuman dapat menekan

atau melemahkan perilaku. Hukuman tidak hanya berorientasi untuk

meghukum pekerja yang melanggar peraturan, melainkan sebagai

control terhadap lingkungan kerja sehingga pekerja terlindung dari

insiden.
Sedangkan penghargaan menurut Geller (2001) dalam Syaaf

(2008) adalah konsekuensi positif yang diberikan kepada individu atau

kelompok dengan tujuan mengembangkan, mendukung dan

memelihara perilaku yang diharapkan. Jika digunakan sebagaimana

mestinya, penghargaan dapat memberikan yang terbaik kepada setiap

orang karena penghargaan membentuk parasaan percaya diri,

penghargaan diri, pengendalian diri, optimistisme, dan rasa memiliki.

Berdasarkan penelitian Syaaf (2008), diketahui bahwa

responden yang menyatakan tidak ada kebijakan dalam penggunaan

APD lebih sedikit yaitu 86,5% daripada responden yang menyatakan

ada kebijakan (93,2%). Hasil uji Chi Square menunjukan ada

hubungan yang bermakna antara penggunaan APD dengan kebijakan

P = 0,000 (P value<0.05).

Menurut Wilde dalam Syaaf (2008) penekanan pada hukuman

dapat memotivasi perilaku seseorang dalam keselamatan, namun bukti

dari efektifitasnya tidak diketahui dengan pasti. Adapun kelemahan

dari hukuman ini adalah :

a. Efek Atribusi. Sebagai contoh, menilai seseorang sebagai

karakteristik yang tidak diharapkan dapat merangsang seseorang

untuk berperilaku seperti mereka benar-benar memiliki

karakteristik itu. Menilai seseorang tidak bertanggung jawab akan

membuat mereka berperilaku seperti itu.

b. Penekanan pada pengendalian proses pembentukan perilaku.

Sebagai contoh menggunakan alat pelindung diri atau mematuhi


batas kecepatan kerja daripada menekankan pada hasil akhir yang

ingin dicapai yaitu keselamatan. Pengendalian proses tidak praktis

untuk didesain dan diimplementasikan serta tidak dapat

merangkum seluruh perilaku yang tidak diharapkan dari pekerja

dalam setiap waktu.

c. Hukuman membawa efek samping negatif. Hukuman

menimbulkan disfungsi iklim organisasi yang tidak ditandai oleh

dendam, tidak mau bekerja sama, sikap antagonis, bahkan

sabotase. Hasilnya, perilaku yang tidak diharapkan mungkin akan

muncul.

2.5. Alat Pelindung Diri (APD) Pengelasan

Menurut Sriwirdharto (1987) dalam Vitriyansyah P. (2012), Alat

pelindung diri (APD) yang digunakan dalam proses pengelasan meliputi:

A. APD Pengelasan Utama

1. Helm Pengaman (Safety Helm)

Alat pelindung kepala (safety helmet) digunakan untuk

melindungi pekerja dari bahaya terbentur oleh benda tajam atau benda

keras yang dapat meyebabkan luka gores, terpotong, tertusuk,

kejatuhan benda, atau terpukul oleh benda-benda yang melayang di

udara. Safety helmet juga berfungsi untuk melindungi rambut pekerja

dari bahaya terjepit mesin yang berputar, bahaya panas radiasi, dan

percikan bahan kimia. Di Indonesia belum ada standar/klasifikasi

untuk safety helmet.


Di Amerika terdapat 4 jenis safety helmet yaitu:

a. Kelas A : untuk penggunaan umum dan untuk tegangan listrik yang

terbatas.

b. Kelas B : tahan terhadap tegangan listrik tinggi

c. Kelas C : tanpa perlindungan terhadap tegangan listrik, biasanya

terbuat dari logam.

d. Kelas D : yang digunakan untuk pemadam kebakaran.

Adapun fungsi dari Helm pengaman antara lain:

a. Tumbukan langsung benda keras dengan kepala

b. Cipratan ledakan-ledakan kecil dari cairan las yang mengakibatkan

terbakarnya daerah kepala.

2. Kacamata Las (Googles)

Pelindung mata digunakan untuk menghindati pengaruh radiasi

energy seperti sinar ultra violet, sinar infra merah dan lain-lain yang

dapat merusak mata. Para pekerja yang kemungkinan dapat terkena

bahaya dari sinar yang menyilaukan, seperti sinar las potong dengan

menggunakan gas dan percikan dari sinar las yang memijar harus

menggunakan pelindung mata khusus. Pekerjaan pengelasan juga

menghasilkan radiasi sinar tergantung pada pada temperature tertentu.

3. Pelindung Muka (Face Shield)

Pelindung muka digunakan untuk melindungi seluruh muka

terhadap kebakaran kulit sebagai akibat dari cahaya busur, percikan

dan lainnya, yang tidak dapat dilindung hanya dengan pelindung mata
saja. Bentuk dari pelindung muka bermacam-macam, dapat berbentuk

helm las (helmet welding) dan kedok las (handshield welding).

4. Pakaian Kerja dan Pelindung Dada (Apron)

Pakaian kerja yang digunakan waktu pengelasan berfungsi untuk

melindungi anggota badan dari bahaya-bahaya waktu pengelasan.

Sedangkan bagian dada merupakan bagian yang sangat peka terhadap

pengaruh panas dan sinar yang tajam. Sinar dari las listrik termasuk

sinar yang sangat tajam. Pelindung dada dipakai setelah baju las.

Pakaian kerja khusus untuk pekerja dengan sumber-sumber

berbahaya tertentu seperti :

a. Tahan radiasi panas : Pakaian kerja untuk radiasi panas harus

dilapisi bahan yang merefleksikan panas biasanya aluminium dan

berkilap, sedangkan pakaian kerja untuk panas konveksi terbuat

dari katun yang mudah menyerap keringat serta longgar.

b. Tahan radiasi mengion : Pakaian harus dilengkapi dengan timbal

dan biasanya berupa apron.

c. Tahan cairan dan bahan-bahan kimiawi : Pakaian kerja terbuat dari

plastik atau karet.

5. Sarung Tangan (Safety Glove)

Pekerjaan pengelasan selalu berhadapan dengan benda-benda

panas dan arus listrik. Untuk melindung jari-jari tangan dan kulit dari

benda panas dan sengatan listrik dingin, radiasi elektromagnetik, dan


radiasi mengion, bahan kimia, benturan dan pukulan, luka, lecet dan

infeksi, maka tukang las harus memakai sarung tangan yang tahan

panas dan bersifat isolasi terhadap listrik. Menurut bentuknya alat

pelindung tangan dan jari dapat dibedakan menjadi:

a. Sarung tangan (gloves).

b. Mitten : sarungan tangan dengan ibu jari terpisah sedang jari lain

menjadi satu.

c. Hand pad : melindungi telapak tangan.

d. Sleeve : untuk pergelangan tangan sampai lengan, biasanya

digabung dengan sarung tangan.

Bahan untuk sarung tangan bermacam-macam bahannya, sesuai

dengan fungsinya :

a. Bahan asbes, katun, wool untuk panas dan api.

b. Bahan kulit untuk panas, listrik, luka dan lecet.

c. Bahan karet alam atau sintetik untuk kelembaban air dan

bahan kimia.

d. Bahan PVC (Poli Vinil Chloride) untuk zat kimia, asam kuat

dan oksidator.

6. Sepatu Kerja (Safety Shoes)

Fungsi dari sepatu kerja yaitu untuk melindungi kaki dan kulit

dari benda-benda tajam, kejatuhan benda-benda tajam dan percikan

cairan logam serta goresan-goresan benda-benda tajam. Syarat dari

sepatu kerja yaitu kuat dan tahan api, tinggi dengan ujung sepatu dari

baja dan bahan dari kulit.


Safety shoes yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis

risikonya seperti :

a. Untuk melindungi jari-jari kaki terhadap benturan dan tertimpa

benda-benda keras, safety shoes dilengkapi dengan penutup jari

dari baja atau campuran baja dengan karbon.

b. Untuk mencegah tergelincir dipakai sol anti slip luar dari karet

alam atau sintetik dengan bermotif timbul (permukaan kasar).

c. Untuk mencegah tusukan dari benda-benda runcing, sol dilapisi

dengan logam.

d. Terhadap bahaya listrik, sepatu seluruhnya harus dijahit atau

direkat, tidak boleh menggunakan paku.

Untuk pekerja yang bekerja dengan mesin-mesin berputar tidak

diperkenankan menggunakan sepatu yang menggunakan tali.

B. APD Pengelasan Tambahan

1. Kacamata Bening (Safety Spectacles)

Kacamata ini mempunyai lensa yang terbuat dari gelas atau

plastik yang tahan terhadap benturan, dengan atau tanpa pelindung

samping. Kacamata bening dipakai pada waktu membersihkan terak,

karena terak sangat rapuh dan keras pada waktu dingin.

2. Pelindung Telinga (Hearing Protection)

Alat pelindung telinga digunakan untuk melindungi telinga dari

kebisingan pada waktu menggerinda, meluruskan benda kerja,

persiapan pengelasan dan lain sebagainya yang dapat merusak telinga.


3. Alat Pelindung Hidung (Respirator)

Alat pelindung hidung (Masker dan respirator) digunakan untuk

melindungi saluran pernapasan dari pernapasan secara inhalasi

terhadap sumber-sumber bahaya di udara pada tempat kerja seperti

kekurangan oksigen, pencemaran oleh partikel (debu, kabut, asap dan

uap logam), pencemaran oleh gas atau uap sehingga tidak terjadi

penyakit akibat kerja (PAK).

Berdasarkan jenisnya masker dibagi menjadi 2 yaitu masker

debu dan masker karbon:

a. Masker debu : Melindungi dari debu phylon, buffing, grinding,

serutan kayu dan debu lain yang tidak terlalu beracun. Masker

debu tidak dapat melindungi dari uap kimia, asap cerobong dan

asap dari pengelasan.

b. Masker karbon : Melindungi dari bahan kimia yang daya toxicnya

rendah yang memiliki absorben dari karbon aktif.

Respirator berdasarkan jenisnya dibagi menjadi 3 macam, yaitu:

a. Respirator untuk memurnikan udara : Respirator yang bersifat

memurnikan udara dibagi menjadi 3 jenis, yaitu respirator yang

mengandung bahan kimia, respirator dengan filter mekanik,

respirator yang mempunyai filter mekanik dan bahan kimia.


b. Respirator untuk supply udara : Supply udaranya berasal dari

saluran udara bersih atau kompresor, alat pernapasan yang

mengandung udara (self contained breathing apparatus).

2.6. Kerangka Teori

Berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan Alat

Pelindung Diri (APD) dibagi atas faktor lingkungan dan individu. Menurut

Lawrence Green dalam Arianto (2010) faktor yang berhubungan dengan

pemakaian APD adalah faktor individu berupa pengetahuan, pelatihan dan

faktor lingkungan berupa pengawasan dan kebijakan. Sedangkan menurut

teori Social Cognitive dalam Purwanto (2009), faktor yang berhubungan

dengan perilaku pemakaian APD adalah faktor individu berupa

pengetahuan, kemampuan, motivasi, intelegensia, komunuikasi, pelatihan,

pengambilan keputusan dan faktor lingkungan berupa perlengkapan,

peralatan, SOP, House Keeping. Menurut Syaaf (2008), faktor yang

berhubungan dengan pemakaian APD adalah faktor individu berupa

pengetahuan, pelatihan, sikap, motivasi, komunikasi dan faktor lingkungan

berupa ketersediaan fasilitas, pengawasan, hukuman dan penghargaan.


Kerangka Teori Menurut Lawrence Green

Faktor Predisposing
Pengetahuan
Pelatihan
Kemampuan
Motivasi
Intelegensia
Komunuikasi
Pengambilan keputusan
Sikap

Perilaku
Faktor Enabling Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Perlengkapan
-
Peralatan
- House Keeping.
-

Faktor Reinforcing
Pengawasan
Kebijakan
SOP
Hukuman dan Penghargaan

Gambar 2.3

Bagan Kerangka Teori

Sumber:

Lawrence Green dalam Arianto (2010), teori Social Cognitive dalam Purwanto

(2009), Syaaf (2008).


BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep

Pada umunya perilaku timbul karena suatu alasan tertentu dan

dipengaruhi oleh berbagai faktor penentu (internal dan eksernal) dan proses

terbentuknya perilaku tersebut dapat terjadi karena faktor belajar dan naluri.

Kerangka konsep ini berdasarkan pada kerangka teori yang telah

diungkapkan oleh beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa banyak

faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

antara lain;

1. Faktor Predisposing: Pengetahuan (Arianto, 2010; Purwanto, 2009;

Syaaf, 2008), Pelatihan (Arianto, 2010; Purwanto, 2009; Syaaf, 2008),

Kemampuan (Purwanto, 2009), Motivasi (Purwanto, 2009; Syaaf, 2008),

Intelegensia (Purwanto, 2009), Komunuikasi (Purwanto, 2009; Syaaf,

2008), Pengambilan keputusan (Purwanto, 2009) dan Sikap (Purwanto,

2009; Syaaf, 2008).

2. Faktor Enabling berupa Perlengkapan, Peralatan, House Keeping

(Purwanto, 2009)

3. Faktor Reinforcing berupa Pengawasan (Arianto, 2010; Purwanto, 2009;

Syaaf, 2008), Kebijakan (Arianto, 2010), SOP (Purwanto, 2009) ,

Hukuman dan penghargaan (Syaaf, 2008).


107
46

3.2. Variabel yang tidak Diteliti

Dalam penelitian ini, Kemampuan, Intelegensia, Pengambilan

keputusan, Kebijakan, SOP, House Keeping tidak diteliti.

a. Kemampuan

Variabel ini tidak diteliti karena kemampuan seseorang yang baik tidak

dapat diukur dengan standar atau ketentuan tertentu. Kemampuan tidak

dapat dijabarkan dengan pengalaman, lama bekerja, usia dan jenis

pekerjaan tertentu yang sesuai keahlian masing-masing pekerja.

b. Intelegensia

Variabel ini tidak diteliti karena Intelegensia seseorang yang baik tidak

dapat menentukan apakah pekerja dapat bekerja dengan baik dan

selamat.

c. Pengambilan Keputusan

Variabel ini tidak diteliti karena pengambilan keputusan dilakukan oleh

pemilik usaha atau industri, sedangkan penelitian ini ditujukan untuk

pekerja yang memakai/tidak memakai APD.

d. SOP

Variabel ini tidak diteliti karena SOP yang sesuai dengan standar

pengelasan pada sektor informal tidak ditemukan dan tidak diketahui

oleh pemilik usaha atau industri.

e. House Keeping

Variabel ini tidak diteliti karena House Keeping merupakan bagian dari

SOP sehingga jika SOP tidak ditemukan dan diketahui sehingga House
Keeping yang sesuai dengan standar dan ketentuan tertentu pada

pengelasan informal tidak diketahui.

Penelitian ini memiliki kerangka konsep yang terdiri dari beberapa

faktoryangmempengaruhiperilakuyaitupekerjadanlingkungan. Berdasarkan hal tersebut maka gam


pada penelitian ini.

Faktor Predisposing
Pengetahuan
Pelatihan
Sikap
Motivasi
Komunikasi

Faktor Enabling Perila


Ketersediaan Pengguna
APD

Faktor Reinforcing
Pengawasan
Hukuman
Penghargaan

Gambar 3.1

Bagan Kerangka

Konsep

Sumber:

Lawrence Green dalam Arianto (2010), teori Social Cognitive dalam Purwanto

(2009), Syaaf (2008).


48

3.3. Definisi Operasional

VARIABEL INDEPENDENT
No. Variabel Definisi Operasional Alat Pengukuran Skala Hasil Pengukuran
Independent
1 Pengetahuan Semua informasi yang akan mempengaruhi Kuesioner Ordinal 0. Baik, jika skor pengetahuan
pekerja mengenai potensi bahaya yang ada di 12 dari 17 (skor total).
tempat kerja sehingga mengetahui manfaat 1. Kurang, jika skor pengetahuan
dalam penggunaan APD pada waktu bekerja. <12 dari 17 (skor total).
2 Pelatihan Kegiatan yang pernah dilakukan untuk Kuesioner Ordinal 0. Pernah
menambah keterampilan dan pengetahuan 1. Tidak Pernah
para pekerja tentang APD yang
diselenggarakan oleh pemilik usaha maupun
pemerintah.
3 Sikap Pendapat atau pernyataan mengenai Kuesioner Ordinal 0. Setuju, jika skor sikap 17
pandangan pekerja terhadap penggunaan dari 25 (skor total).
APD di tempat kerja. 1. Tidak Setuju, jika skor sikap
<17 dari 25 (skor total).
4 Motivasi Hal yang membuat pekerja memakai atau Kuesioner Ordinal 0. Baik, jika skor motivasi 5
tidak memakai APD dengan atau tanpa dari 7 (skor total).
paksaan di tempat kerja. 1. Kurang baik, jika skor
motivasi <5 dari 7 (skor total).
49

VARIABEL INDEPENDENT
No. Variabel Definisi Operasional Alat Pengukuran Skala Hasil Pengukuran
Independent
5 Komunikasi Proses interaksi antar individu yang Kuesioner Ordinal 0. Baik, jika skor komunikasi 4
Antar mempengaruhi perilaku sehingga menjadikan dari 5 (skor total).
Individu sebuah perilaku penggunaan APD. 1. Kurang baik, jika skor
komunikasi < 4 dari 5 (skor
total).
6 Ketersediaan Ketersediaan APD yang dibutuhkan oleh Lembar Ordinal 0. Lengkap. Jika tersedia APD
APD pekerja yang bekerja di tempat yang Observasi 4 dari APD Pengelasan
berpotensi bahaya. Utama (Kacamata Las, Sarung
dan Kuesioner
Tangan, Pelindung Muka,
Pakaian Kerja).
1. Kurang lengkap, jika tersedia
APD <4 dari APD Pengelasan
Utama (Kacamata Las, Sarung
Tangan, Pelindung Muka,
Pakaian Kerja).
7 Pengawasan Kegiatan yang dilakukan untuk memantau Kuesioner Ordinal 0. Ada
pekerjaan dalam menggunakan APD saat 1. Tidak
bekerja.
VARIABEL INDEPENDENT
No. Variabel Definisi Operasional Alat Pengukuran Skala Hasil Pengukuran
Independent
8 Hukuman Suatu tindakan yang diambil perusahaan/unit Kuesioner Ordinal 0. Ada
usaha kepada pekerja jika terbukti 1. Tidak Ada.
melaksanakan pekerjaan dengan tidak baik
dan tidak aman.

9 Penghargaan Suatu tindakan yang diambil perusahaan/unit Kuesioner Ordinal 0. Ada


usaha kepada pekerja jika terbukti 1. Tidak Ada
melaksanakan pekerjaan dengan baik dan
aman.
VARIABEL DEPENDENT
No. Variabel Definisi Operasional Alat Pengukuran Skala Hasil Pengukuran
Dependent
1 Perilaku Perilaku dimana pekerja melakukan atau Lembar Ordinal 0. Menggunakan APD
Penggunaan tidak melakukan tindakan berupa penggunaan Obsevasi 1. Tidak Menggunakan APD
APD APD yang tersedia di tempat kerja saat
bekerja.

Tabel 3.1
Tabel Definisi Operasional
51

3.4. Hipotesis Penelitian

1. Ada hubungan antara faktor Predisposing (pengetahuan, pelatihan,

sikap, motivasi dan komunikasi) dengan perilaku penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong.
Ada hubungan antara faktor Enabling (ketersediaan APD) dengan perilaku penggunaan Alat Pelindu
Ada hubungan antara faktor Reinforcing (pengawasan, hukuman dan penghargaan) dengan perilak
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Disain Penelitian

Disain penelitian ini adalah bersifat dengan pendekatan kuantitatif

menggunakan disain penelitian cross sectional. Pengambilan data dari

variabel dependen dan independen dilakukan dalam waktu yang bersamaan.

Pemilihan disain penelitian cross sectional oleh peneliti karena lebih mudah

dilakukan, waktu yang digunakan efisien dan sesuai dengan penelitian ini

yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pekerja dalam penggunaan

APD pada indsutri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan

Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013. Penelitian ini digunakan untuk

menganalisis perilaku seperti apa yang mempengaruhi penggunaan APD

pada pekerja industri pengelasan informal.

Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui korelasi antara faktor-

faktor-faktor perilaku dengan perilaku penggunaan APD dengan cara

mengisi kuesioner, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu

waktu serta mengkaji keadaan subjek pada waktu penulisan berlangsung

atau informasi yang dikumpulkan hanya pada waktu tertentu.

Pemilihan disain ini didasarkan pada beberapa pertimbangan,

diantaranya penelitian kuantitatif digunakan untuk mengetahui hubungan

antara faktor-faktor perilaku yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam

penggunaan APD.

107
53

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada pekerjaan pengelasan industri informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Waktu

penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2013.

4.3. Populasi, Sampel dan Sampling Penelitian

4.3.1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah pekerja yang bekerja pada

pengelasan sektor informal di Kelurahan Gondrong. Kecamatan Cipondoh,

Kota Tangerang. Jumlah populasi pada industri pengelasan informal di

Kelurahan Gondrong sebanyak 56 orang dari 15 bengkel las yang ada.

4.3.2. Sampel

Sampel penelitian adalah subjek yang diambil dari populasi

dianggap mewakili seluruh populasi. Sampel pada penelitian ini adalah para

pekerja yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang. Pemilihan responden ini dilakukan setelah observasi terlebih

dahulu sehingga dapat diketahui jumlah populasi sehingga diketahui jumlah

responden yang dilakukan penelitian ini.

4.3.3. Sampling Penelitian

Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling.

Metode ini dipilih karena pekerja yang dijadikan objek penelitian

merupakan pekerja yang sedang ada ditempat kerja dan bersedia menjadi

responden. Hal ini dikarenakan ada sebagian dari bengkel las yang jam buka
tidak menentu bahkan tidak buka selama penelitian ini. Berdasarkan

kesesuaian dengan jumlah populasi dan responden yang bersedia mengikuti

penelitian ini pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong

sebanyak 46 orang dari 12 bengkel las yang ada.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan tingkat kepercayaan 95%

dengan memakai derajat kemaknaan () 5% dan kekuatan uji 90%.

Perhitungan sampel akan dilakukan berdasarkan variabel yang akan diteliti

yang telah diteliti oleh penelitian sebelumnya. Apapun perhitungan sampel

akan digunakan rumus uji hipotesis 2 proporsi:

Keterangan

n : Jumlah Sampel

P : Rata-rata populasi {(P1+P2)/2)

P1 : Populasi yang menggunakan Alat Pelindung Diri P1

P2 : Populasi yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri P2

Z1-/2 : Derajat kemaknaan pada 5% =1,96

Z2- : Kekuatan uji 1- yaitu 90% = 1,28


Tabel 4.1
Perhitungan sampel per variabel

Variabel Diketahui Sampel Total


Pengetahuan P1 = 91,8 % = 0,918 240 x 2 = 480
P2 = 82,3 % = 0,823
P=
Pelatihan P1 = 66,7% = 0,667 21 x 2 = 42
P2 = 34 % = 0,34
P=
Sikap P1 = 19,1 % = 0,191 17 x 2 = 34
P2 = 55,5 % = 0,555
P=
Motivasi P1 = 42,8 % = 0,428 36 x 2 = 72
P2 = 67,8 % = 0,678
P=
Komunikasi P1 = 18,2 % = 0,182 5 x 2 = 10
P2 = 85,7 % = 0,857
P=
Pengawasan P1 = 92,4 % = 0,924 41 x 2 = 82
P2 = 72,3 % = 0,723
P=
Ketersediaan APD P1 = 88,1 % = 0,881 5 x 2 = 10
P2 = 69,7 % = 0,697
P=
Hukuman dan P1 = 93,2 % = 0,932 307 x 2 = 614
Penghargaan P2 = 86,5% = 0,865
P=

Instrumen Penelitian

Kuesioner

Kuesioner adalah suatu pedoman yang digunakan oleh peneliti untuk

mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan dari salah

satu responden. Kuesioner yaitu daftar pertanyaan-pertanyaan tertulis yang

akan ditanyakan kepada responden. Kuesioner dibuat berdasarkan pola

penelitian yang telah ditentukan oleh peneliti berdasarkan penelitian

sebelumnya dan ditambah dengan litaratur yang lain. Kuesioner yang akan

digunakan peneliti dapat dilihat dalam lampiran. Kuesioner ini meliputi


pertanyaan yang mengukur tentang pengetahuan, pelatihan, sikap, motivasi,

komunikasi, ketersediaan APD, pengawasan, hukuman dan penghargaan.

Seluruh variabel penelitian, baik variabel dependen dan variabel

independen kemudian dilakukan proses scoring. Scoring yaitu pemberian

skor jawaban responden pada beberapa pertanyaan di kuesioner sehingga

dapat digabungkan menjadi satu variabel. Proses scoring untuk masing-

masing variabel sebagai berikut:

1. Untuk variabel pengetahuan ada 20 pertanyaan, pertanyaan 1 sampai

dengan 17 diberi skor 0-1. Mempunyai jumlah nilai 17. Pengetahuan

dikategorikan baik apabila mempunyai jumlah nilai 12,sedangkan

dikategorikan kurang baik apabila nilainya < 12.

2. Untuk variabel pelatihan ada 4 pertanyaan. Pelatihan dikategorikan

pernah apabila menjawab Ya pada pertanyaan no. 1, sedangkan

dikategorikan tidak pernah apabila menjawab Tidak pada pertanyaan

no. 1.

3. Untuk variabel Sikap ada 5 pertanyaan, pertanyaan 1 sampai dengan 5

diberi skor 1-5 dengan penilaian Sangat Setuju = 5, Cukup Setuju =

4, Setuju = 3, Kurang Setuju = 2, Tidak Setuju = 1. Mempunyai

jumlah nilai 25. Sikap dikategorikan setuju apabila mempunyai jumlah

nilai 17, sedangkan dikategorikan setuju apabila nilainya <17.

4. Untuk variabel motivasi ada 7 pertanyaan, pertanyaan 1 sampai dengan

7 diberi skor 0-1. Mempunyai jumlah nilai 7. Motivasi dikategorikan

baik apabila mempunyai jumlah nilai 5, sedangkan dikategorikan

kurang baik apabila nilainya < 5.


5. Untuk variabel komunikasi ada 5 pertanyaan, pertanyaan 1 sampai

dengan 5 diberi skor 0-1. Mempunyai jumlah nilai 5. Komunikasi

dikategorikan baik apabila mempunyai jumlah nilai 4,sedangkan

dikategorikan kurang baik apabila nilainya < 4.

6. Untuk variabel ketersediaan APD ada 7 pertanyaan. Ketersediaan APD

dikategorikan Lengkap apabila memiliki APD 4 (Kacamata Las,

Sarung Tangan, Pelindung Muka dan Pakaian Kerja), sedangkan

dikategorikan Kurang Lengkap apabila memiliki APD < 4 (Kacamata

Las, Sarung Tangan, Pelindung Muka dan Pakaian Kerja).

7. Untuk variabel pengawasan ada 5 pertanyaan. Pengawasan

dikategorikan ada apabila menjawab Ya pada pertanyaan no. 1,

sedangkan dikategorikan tidak ada apabila menjawab Tidak pada

pertanyaan no. 1.

8. Untuk variabel hukuman ada 4 pertanyaan. Hukuman dikategorikan ada

apabila menjawab Ya pada pertanyaan no. 1, sedangkan dikategorikan

tidak ada apabila menjawab Tidak pada pertanyaan no. 1.

9. Untuk variabel penghargaan ada 5 pertanyaan. Penghargaan

dikategorikan ada apabila menjawab Ya pada pertanyaan no. 1,

sedangkan dikategorikan tidak ada apabila menjawab Tidak pada

pertanyaan no. 1.

4.4.2. Cacatan Lapangan

Catatan lapangan bermanfaat untuk catatan hasil keterangan dari

responden selain kuesioner.


4.4.3. Lembar Observasi

Lembar observasi bermanfaat bagi peneliti pada saat pengamatan

langsung di lapangan sehingga membantu peneliti dalam mengamati objek

penelitian (responden).

4.5. Metode Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data primer didapatkan melalui kuesioner kepada responden

penelitian dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun oleh

peneliti. Selain itu, data primer dalam penelitian ini juga diperoleh dari

hasil observasi menggunakan lembar observasi.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini

adalah observasi (pengamatan), dan wawancara.

a. Observasi (pengamatan)

Pengamatan dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar

pengamatan untuk mengamati secara langsung penggunaan APD

dan keadaan disekitar pekerja.

b. Angket/Kuesioner

Kuesoner dalam penelitian ini akan dilakukan kepada responden

dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan

reabilitas kepada para responden. Pembagian kuesioner kepada para

responden dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang

Pengetahuan, Pelatihan keselamatan dari resiko, Sikap, Motivasi,


Komunikasi antar Individu Pengawasan, Ketersediaan fasilitas

APD, Hukuman dan Penghargaan.

2. Data Sekunder : Didapatkan berupa profil Kelurahan Gondrong dan

jumlah bengkel las yang ada di Kelurahan Gondrong.

4.6. Pengolahan Data

1. Mengkode data (Data Coding)

Mengklasifikasikan, memberi kode data untuk masing-masing nomor

pada kuesioner/angket. Coding merupakan kegiatan merubah data

berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/bilangan.

Kode pada penelitian ini adalah:

a. Perilaku Penggunaan APD: 0. Menggunakan APD; 1. Tidak

Menggunakan APD

b. Pengetahuan : 0. Baik; 1. Kurang Baik

c. Pelatihan : 0. Pernah; 1. Tidak Pernah

d. Sikap : 0. Setuju; 1. Tidak Setuju

e. Motivasi : 0. Baik; 1. Kurang Baik

f. Komunikasi Antar Individu: 0. Baik; 1. Kurang Baik

g. Ketersediaan APD : 0. Lengkap; 1. Kurang Lengkap

h. Pengawasan : 0. Ada; 1. Tidak Ada

i. Hukuman : 0. Ada; 1. Tidak Ada

j. Penghargaan : 0. Ada; 1. Tidak Ada


2. Mengedit Data (Data Editing)

Memastikan data yang diperoleh adalah data yang lengkap sehingga

dapat diolah dengan memeriksa kelengkapan dan ketepatan pengisian

kuesioner/angket.

3. Memasukkan Data (Data Entry)

Memasukkan data dalam program atau fasilitas data berdasarkan

klasifikasi dengan computer (SPSS).

4. Membersihkan Data (Data Cleaning)

Pengecekan kembali data yang telah dimasukkan untuk memastikan

data tersebut tidak ada yang salah, sehingga dengan demikian data

tersebut telah siap diolah dan dianalisis.

4.7. Teknik Analisis Data

4.7.1. Analisis Univariat

Analisis univariat (deskriptif) ini adalah untuk menjelaskan atau

mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti. Pada

umumnya tujuan dari analisis univariat adalah untuk mengetahui gambaran

distribusi frekuensi dan proporsi dari variable dependen dan independen

yang ada pada suatu penelitian. Variabel yang diteliti tersebut adalah

variabel pengetahuan, pelatihan, sikap, motivasi, komunikasi, ketersediaan

APD, pengawasan, hukuman dan penghargaan.


4.7.2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel

independen dengan dependen menggunakan uji Chi square. Uji statistik

dengan uji Chi square dimanfaatkan untuk menghubungkan variabel

kategorik. Jika Pvalue nilai (0,05) maka dapat ditarik kesimpulkan

bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara variabel independen dan

variabel dependen. Sebaliknya jika Pvalue > nilai (0,05) maka dapat

disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara variabel

independen dan variabel dependen. Adapun persamaan Chi Square adalah

sebagai berikut:
2
Persamaan Chi-Square (X )

Keterangan :

2
X = Chi Square

O = Nilai Observasi (yang diamati)

E = Nilai Ekspetasi (yang diharapkan)


BAB V

HASIL

5.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Kelurahan Gondrong merupakan salah satu kelurahan yang berada di

Kecamatan Cipondoh yang mempunyai mempunyai luas wilayah terluas

2
dengan luas wilayah 4.029 km . Sedangkan jumlah KK di Kelurahan

Gondrong ada 3.519 KK.

Adapun Kelurahan Gondrong mempunyai batas wilayah adalah

sebagai berikut:

Utara : Kelurahan Ketapang


Selatan : Kelurahan Neroktog & Pondok
Bahar Barat : Kelurahan Petir
Timur : Kelurahan Kenanga

Kelurahan Gondrong jumlah penduduk terbanyak yaitu 13.515 orang


dengan jumlah laki-laki sebanyak 7.138 orang dan perempuan sebanyak
6.377 orang. Penduduk di Kelurahan Gondrong tersebar di 6 RW dan 33
RT.
Visi dan misi Kelurahan Gondrong sebagai berikut:
A. Visi
Mewujudkan kelurahan Gondrong yang bersikap jujur, tanggung jawab
dan amanah dalam melaksanakan pelayanan kepada masyarakat.
B. Misi
1. Memberikan pelayanan publik yang prima (Good Governance).
2. Menegakkan 5 (lima) Komitmen Pembangunan Masyarakat Kota
Tangerang yang berakhlakul karimah.
3. Memberikan pengayoman kepada masyarakat tanpa memandang
kelas dan golongan sesuai dengan hak dan kewajiban.

107
63

Jumlah pekerja yang berada di kantor kelurahan Gondrong berjumlah


13 orang, jumlah PNS berjumlah 7 orang dan TKS (Tenaga Kerja Sukarela)
berjumlah 6 orang. Adapun struktur organisasi Kelurahan Gondrong adalh
sebagai berikut:

Lurah

Jabatan
Fungsional

Sekretaris
Staf Sekretaris

Kasie. Tata Kasie. Ekonomi Kasie. Pemberdayaan


Pemerintahan dan Pembangunan Masyarakat

Staf Tata Staf Ekonomi dan Staf Pemberdayaan


Pemerintahan Pembangunan Masyarakat

Bagan 5.1. Struktur organisasi Kelurahan Gondrong, Kecamatan


Cipondoh, Kota Tangerang.

Sumber : Bagian Tata Pemerintahan Kelurahan Gondrong


5.2. Analisis Univariat Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku
Pekerja dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri
Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,
Kota Tangerang Tahun 2013.

5.2.1. Gambaran Perilaku Pekerja dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) pada Industri Pengelasan Informal.

Para pekerja industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong,

Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013, didapatkan hasil

presentase perilaku pekerja dalam penggunaan APD yang dapat dilihat pada

tabel dibawah ini:

Tabel 5.1
Perilaku Pekerja dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada
Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan
Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penggunaan APD N %
Menggunakan 24 52,2 %
Tidak Menggunakan 22 47,8 %

Berdasarkan tabel 5.1 bahwa perilaku pekerja dalam penggunaan APD

pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan

Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013 yang menggunakan APD lebih

banyak yaitu 24 orang (52,2%) daripada pekerja yang tidak menggunakan

APD yaitu 22 orang (47,8%).

5.2.2. Gambaran Pengetahuan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)


pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun gambaran pengetahuan dalam penggunaan APD pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang tahun 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:


Tabel 5.2
Gambaran Pengetahuan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada
Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan
Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Pengetahuan N %
Baik 36 78,3 %
Kurang Baik 10 21,7 %

Berdasarkan tabel 5.2 bahwa pengetahuan dalam penggunaan APD

pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan

Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013 yang memiliki pengetahuan baik

lebih banyak yaitu 36 orang (78,3%) daripada pekerja yang memiliki

pengetahuan kurang baik yaitu 10 orang (21,7%).

5.2.3. Gambaran Pelatihan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)


pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun gambaran pelatihan dalam penggunaan APD pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang tahun 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.3
Gambaran Pelatihan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada
Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan
Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Pelatihan N %
Pernah 21 45,7 %
Tidak Pernah 25 54,3%

Berdasarkan tabel 5.3 bahwa pelatihan dalam penggunaan APD pada

industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,


Kota Tangerang tahun 2013 yang pernah mendapatkan pelatihan lebih

sedikit yaitu 21 orang (45,7%) daripada pekerja yang tidak pernah

mendapatkan pelatihan yaitu 25 orang (54,3%).

5.2.4. Gambaran Sikap dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada
Industri Pengelasan Informal.

Adapun gambaran sikap dalam penggunaan APD pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang tahun 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.4
Gambaran Sikap dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada
Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan
Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Sikap N %
Setuju 39 84,8 %
Kurang Setuju 7 15,2 %

Berdasarkan tabel 5.4 bahwa sikap dalam penggunaan APD pada

industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,

Kota Tangerang tahun 2013 yang memiliki sikap setuju lebih banyak yaitu

39 orang (84,8%) daripada pekerja yang memiliki sikap tidak setuju yaitu 7

orang (15,2%).
5.2.5. Gambaran Motivasi dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun gambaran motivasi dalam penggunaan APD pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang tahun 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.5
Gambaran Motivasi dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada
Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan
Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Motivasi N %
Baik 29 63,0 %
Kurang Baik 17 27,0 %

Berdasarkan tabel 5.5 bahwa motivasi dalam penggunaan APD pada

industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,

Kota Tangerang tahun 2013 yang memiliki motivasi lebih banyak yaitu 29

orang (63,0%) daripada pekerja yang tidak memiliki motivasi yaitu 17 orang

(37,0%).

5.2.6. Gambaran Komunikasi dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)


pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun gambaran komunikasi dalam penggunaan APD pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang tahun 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:


Tabel 5.6
Gambaran Komunikasi dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada
Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan
Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Komunikasi N %
Baik 28 60,9 %
Kurang Baik 18 39,1 %

Berdasarkan tabel 5.1 bahwa komunikasi dalam penggunaan APD

pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan

Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013 yang memiliki komunikasi baik

lebih banyak yaitu 28 orang (60,9%) daripada pekerja yang memiliki

komunikasi kurang baik yaitu 8 orang (39,1%).

5.2.7. Gambaran Ketersediaan Alat Pelindung Diri dalam Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun gambaran ketersediaan APD dalam penggunaan APD pada

industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,

Kota Tangerang tahun 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.7
Gambaran Ketersediaan Alat Pelindung Diri dalam Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Ketersediaan APD N %
Lengkap 22 57,8 %
Tidak Lengkap 24 52,2 %

Berdasarkan tabel 5.7 bahwa ketersediaan APD dalam penggunaan

APD pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan


Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013 yang memiliki APD lengkap lebih

sedikit yaitu 22 orang (47,8%) daripada pekerja yang memiliki APD kurang

lengkap yaitu 24 orang (52,2%).

5.2.8. Gambaran Pengawasan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)


pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun gambaran pengawasan dalam penggunaan APD pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang tahun 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.8
Gambaran Pengawasan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada
Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan
Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Pengawasan N %
Ada 17 37,0 %
Tidak Ada 29 63,0 %
Berdasarkan tabel 5.8 bahwa pengawasan dalam penggunaan APD

pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan

Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013 yang memiliki pengawasan lebih

sedikit yaitu 17 orang (37,0%) daripada pekerja yang tidak memiliki

pengawasan yaitu 29 orang (63,0%).

5.2.9. Gambaran Hukuman dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)


pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun gambaran hukuman dalam penggunaan APD pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang tahun 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:


Tabel 5.9
Gambaran Hukuman dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada
Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan
Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013
Hukuman N %
Ada 27 58,7 %
Tidak Ada 19 41,3 %

Berdasarkan tabel 5.9 bahwa hukuman dalam penggunaan APD pada

industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,

Kota Tangerang tahun 2013 yang memiliki hukuman lebih banyak yaitu 27

orang (58,7%) daripada pekerja yang tidak memiliki hukuman yaitu 19

orang (41,3%).

5.2.10. Gambaran Penghargaan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun gambaran penghargaan dalam penggunaan APD pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang tahun 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.10
Gambaran Penghargaan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada
Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan
Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penghargaan N %
Ada 27 58,7 %
Tidak Ada 19 41,3 %

Berdasarkan tabel 5.10 bahwa hukuman dalam penggunaan APD pada

industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,

Kota Tangerang tahun 2013 yang memiliki penghargaan lebih banyak yaitu
27 orang (58,7%) daripada pekerja yang tidak memiliki penghargaan yaitu

19 orang (41,3%).
5.3. Analisis Bivariat Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku
Pekerja dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri
Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,
Kota Tangerang Tahun 2013.

5.3.1. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun hasil statistik hubungan antara pengetahuan dengan perilaku

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

dapat dilihat pada tabel 5.11.

Tabel 5.11
Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penggunaan APD
Memakai Tidak Total
Pengetahuan Pvalue
Memakai
n % n % N %
Baik 24 66,7 12 33,3 36 100
Kurang Baik 0 0 10 100 10 100 0,000
Total 24 52,2 22 47,8 46 100

Berdasarkan tabel 5.11 diatas diketahui bahwa pekerja yang memiliki

pengetahuan baik yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lebih

banyak yaitu 24 orang (66,7%) daripada pekerja yang memiliki pengetahuan

kurang baik yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yaitu 10

orang (100%). Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi
2
Square (X ) pada variabel pengetahuan didapatkan pvalue yaitu 0,000 yang

berarti nilai Pvalue < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang

signifikan antara proporsi pekerja dengan pengetahuan baik dan pekerja

dengan pengetahuan kurang baik dalam menggunakan Alat Pelindung Diri


(APD) pada industri pengelasan informal. Maka dalam penelitian ini,

terdapat hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan Alat Pelindung

Diri (APD) pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong,

Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

5.3.2. Hubungan Antara Pelatihan Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun hasil statistik hubungan antara pelatihan dengan perilaku

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

dapat dilihat pada tabel 5.12.

Tabel 5.12
Hubungan Antara Pelatihan Dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penggunaan APD
Memakai Tidak Total
Pelatihan Pvalue
Memakai
N % N % N %
Pernah 19 90,5 2 9,5 21 100
Tidak Pernah 5 20,0 20 80,0 25 100 0,000
Total 24 52,2 22 47,8 46 100

Berdasarkan tabel 5.12 diatas diketahui bahwa pekerja yang pernah

mengikuti pelatihan yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lebih

sedikit yaitu 19 orang (90,5%) daripada pekerja yang tidak pernah

mengikuti pelatihan yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)

yaitu 20 orang (80,0%). Berdasarkan hasil uji statistik, dengan


2
menggunakan uji Chi Square (X ) pada variabel pelatihan didapatkan

pvalue yaitu 0,000 yang berarti nilai Pvalue < 0,05. Hal ini menunjukkan
bahwa ada perbedaan yang signifikan antara proporsi pekerja yang pernah

mengikuti pelatihan dan pekerja yang tidak pernah mengikuti pelatihan

dalam menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan

informal. Maka dalam penelitian ini, terdapat hubungan antara pelatihan

dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan

informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang

Tahun 2013.

5.3.3. Hubungan Antara Sikap Dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung


Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun hasil statistik hubungan antara sikap dengan perilaku

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

dapat dilihat pada tabel 5.13.

Tabel 5.13
Hubungan Antara Sikap Dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penggunaan APD
Sikap Memakai Tidak Total
Pvalue
Memakai
N % N % N %
Setuju 24 58,5 15 41,5 39 100
Tidak Setuju 0 0 7 100 7 100 0,003
Total 24 52,2 22 47,8 46 100

Berdasarkan tabel 5.13 diatas diketahui bahwa pekerja yang bersikap

setuju yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lebih banyak yaitu 24

orang (58,5%) daripada pekerja yang bersikap tidak setuju yang tidak

menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yaitu 7 orang (100%).


2
Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi Square (X )

pada variabel sikap didapatkan pvalue yaitu 0,003 yang berarti nilai Pvalue

< 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara

proporsi pekerja yang bersikap setuju dan pekerja yang bersikap tidak setuju

dalam menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan

informal. Maka dalam penelitian ini, terdapat hubungan antara sikap dengan

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun

2013.

5.3.4. Hubungan Antara Motivasi Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun hasil statistik hubungan antara motivasi dengan perilaku

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

dapat dilihat pada tabel 5.14.

Tabel 5.14
Hubungan Antara Motivasi Dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penggunaan APD
Motivasi Memakai Tidak Total
Pvalue
Memakai
N % N % N %
Baik 16 55,2 13 44,8 29 100
Kurang Baik 8 47,1 9 52,9 17 100 0,595
Total 24 52,2 22 47,8 46 100

Berdasarkan tabel 5.14 diatas diketahui bahwa pekerja yang memiliki

motivasi baik yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lebih banyak
yaitu 16 orang (55,2%) daripada pekerja yang memiliki motivasi kurang

baik yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yaitu 9 orang

(52,9%). Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi

2
Square (X ) pada variabel motivasi didapatkan pvalue yaitu 0,595 yang

berarti nilai Pvalue > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan

yang signifikan antara proporsi pekerja yang memiliki motivasi baik dan

pekerja motivasi kurang baik dalam menggunakan Alat Pelindung Diri

(APD) pada industri pengelasan informal. Maka dalam penelitian ini, tidak

terdapat hubungan antara motivasi dengan penggunaan Alat Pelindung Diri

(APD) pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong,

Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

5.3.5. Hubungan Antara Komunikasi Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun hasil statistik hubungan antara komunikasi dengan perilaku

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

dapat dilihat pada tabel 5.15.

Tabel 5.15
Hubungan Antara Komunikasi Dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penggunaan APD
Komunikasi Memakai Tidak Total
Pvalue
Memakai
N % N % N %
Baik 15 53,6 13 46,4 28 100
Kurang Baik 9 50,0 9 50,0 17 100 0,813
Total 24 52,2 22 47,8 46 100
Berdasarkan tabel 5.15 diatas diketahui bahwa pekerja yang memiliki

komunikasi baik yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lebih

banyak yaitu 15 orang (53,6%) daripada pekerja yang memiliki komunikasi

kurang baik yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yaitu 9

orang (50,0%). Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi

2
Square (X ) pada variabel komunikasi didapatkan pvalue yaitu 0,813 yang

berarti nilai Pvalue > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan

yang signifikan antara proporsi pekerja yang memiliki komunikasi baik dan

pekerja yang memiliki komunikasi kurang baik dalam menggunakan Alat

Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal. Maka dalam

penelitian ini, tidak terdapat hubungan antara komunikasi dengan

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun

2013.

5.3.6. Hubungan Antara Ketersediaan APD Dengan Perilaku Penggunaan


Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun hasil statistik hubungan antara ketersedian APD dengan

perilaku penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan

informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang

tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 5.16.


Tabel 5.16
Hubungan Antara Ketersediaan APD Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penggunaan APD
Ketersediaan
Memakai Tidak Total
APD Pvalue
Memakai
N % N % N %
Lengkap 15 62,5 9 37,5 24 100
Kurang 9 40,9 13 59,1 22 100
0,143
Lengkap
Total 24 52,2 22 47,8 46 100

Berdasarkan tabel 5.16 diatas diketahui bahwa pekerja yang bekerja di

bengkel las dengan APD lengkap yang menggunakan Alat Pelindung Diri

(APD) adalah sama yaitu 15 orang (62,5%) dengan pekerja yang bekerja di

bengkel las dengan APD kurang lengkap yang tidak menggunakan Alat

Pelindung Diri (APD) yaitu 13 orang (59,1%). Berdasarkan hasil uji


2
statistik, dengan menggunakan uji Chi Square (X ) pada variabel

ketersediaan APD didapatkan pvalue yaitu 0,143 yang berarti nilai Pvalue >

0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan

antara proporsi pekerja yang bekerja di bengkel las dengan APD lengkap

dan pekerja yang bekerja di bengkel las dengan APD kurang lengkap dalam

menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan

informal. Maka dalam penelitian ini, tidak terdapat hubungan antara

ketersediaan APD dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada

industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,

Kota Tangerang Tahun 2013.


5.3.7. Hubungan Antara Pengawasan Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun hasil statistik hubungan antara pengawasan dengan perilaku

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

dapat dilihat pada tabel 5.17.

Tabel 5.17
Hubungan Antara Pengawasan Dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penggunaan APD
Pengawasan Memakai Tidak Total
Pvalue
Memakai
N % N % N %
Ada 13 76,5 4 23,5 17 100
Tidak Ada 11 37,9 18 62,1 29 100 0,012
Total 24 52,2 22 47,8 46 100

Berdasarkan tabel 5.17 diatas diketahui bahwa pekerja yang bekerja di

bengkel las yang memiliki pengawasan yang menggunakan Alat Pelindung

Diri (APD) lebih sedikit yaitu 13 orang (76,5%) daripada pekerja yang

bekerja di bengkel las yang tidak memiliki pengawasan yang tidak

menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yaitu 18 orang (62,1%).


2
Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi Square (X )

pada variabel pengawasan didapatkan pvalue yaitu 0,012 yang berarti nilai

Pvalue < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan

antara proporsi pekerja yang bekerja di bengkel yang memiliki pengawasan

dan pekerja yang bekerja di bengkel yang tidak memiliki pengawasan dalam

menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan

informal. Maka dalam penelitian ini, terdapat hubungan antara pengawasan


dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan

informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang

Tahun 2013.

5.3.8. Hubungan Antara Hukuman Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun hasil statistik hubungan antara hukuman dengan perilaku

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

dapat dilihat pada tabel 5.18.

Tabel 5.18
Hubungan Antara Hukuman Dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penggunaan APD
Hukuman Memakai Tidak Total
Pvalue
Memakai
N % N % N %
Ada 17 70,8 7 29,2 24 100
Tidak Ada 7 31,8 15 68,2 22 100 0,008
Total 24 52,2 22 47,8 46 100

Berdasarkan tabel 5.18 diatas diketahui bahwa pekerja yang bekerja di

bengkel las memiliki hukuman yang menggunakan Alat Pelindung Diri

(APD) lebih banyak yaitu 17 orang (70,8%) daripada pekerja yang bekerja

di bengkel las tidak memiliki hukuman yang tidak menggunakan Alat

Pelindung Diri (APD) yaitu 15 orang (68,2%). Berdasarkan hasil uji

2
statistik, dengan menggunakan uji Chi Square (X ) pada variabel

pengetahuan didapatkan pvalue yaitu 0,008 yang berarti nilai Pvalue < 0,05.

Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara proporsi
pekerja yang bekerja di bengkel memiliki hukuman dan pekerja yang

bekerja di bengkel tidak memiliki hukuman dalam menggunakan Alat

Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal. Maka dalam

penelitian ini, terdapat hubungan antara hukuman dengan penggunaan Alat

Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal di Kelurahan

Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

5.3.9. Hubungan Antara Penghargaan Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal.

Adapun hasil statistik hubungan antara penghargaan dengan perilaku

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

dapat dilihat pada tabel 5.19.

Tabel 5.19
Hubungan Antara Penghargaan Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013

Penggunaan APD
Penghargaan Memakai Tidak Total
Pvalue
Memakai
N % N % N %
Ada 17 70,8 7 29,2 24 100
Tidak Ada 7 31,8 15 68,2 22 100 0,008
Total 24 52,2 22 47,8 46 100

Berdasarkan tabel 5.18 diatas diketahui bahwa pekerja yang bekerja di

bengkel las memiliki penghargaan yang menggunakan Alat Pelindung Diri

(APD) lebih banyak yaitu 17 orang (70,8%) daripada pekerja yang bekerja

di bengkel las tidak memiliki penghargaan yang tidak menggunakan Alat

Pelindung Diri (APD) yaitu 15 orang (68,2%). Berdasarkan hasil uji


2
statistik, dengan menggunakan uji Chi Square (X ) pada variabel

penghargaan didapatkan pvalue yaitu 0,008 yang berarti nilai Pvalue < 0,05.

Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara proporsi
pekerja yang bekerja di bengkel memiliki penghargaan dan pekerja yang bekerja di bengkel tidak m
BAB VI

PEMBAHASA

6.1. Keterbatasan Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian Faktor-Faktor yang Berhubungan

Dengan Perilaku Pekerja dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan

Cipondoh, Kota Tanggerang tidak terlepas dari keterbatasan yang terjadi,

serta kemungkinan bias yang tidak dapat dihindarkan, walaupun telah

diupayakan untuk mengatasinya. Adapun keterbatasan tersebut diantaranya :

1. Model penelitian yang dilakukan penulis adalah model perilaku

individu (personal behavior). Perilaku individu dipengaruhi oleh

banyak sekali faktor yang sangat kompleks dan biasanya sulit untuk

dilakukan pengukuran serta membutuhkan waktu yang cukup lama. Ini

sangat bergantung kepada bentuk perilaku yang akan diteliti.

Berdasarkan alasan-alasan di atas penulis membatasi konsep penelitian

ini hanya kepada faktor-faktor yang dapat diukur dan diperkirakan

mempunyai hubungan dengan perilaku individu, dalam penelitian ini

adalah perilaku penggunaan APD.

2. Penelitian ini lebih bersikap subyektif yaitu tentang perilaku, sehingga

hasilnya hanya sebatas pada industri dimana penelitian ini dilakukan

dan perilaku sebagai variabel penelitian bukan hal yang bersifat

menetap, sehingga hasil pengukuran yang dilakukan pada saat


107
84

pengambilan data bukan hasil yang sama pada penelitian sebelumnya

atau setelahnya.

3. Adanya kemungkinan terjadi bias karena faktor kesalahan

interpretasi/pemahaman responden dalam menangkap maksud dari

pertanyaan yang sebenarnya. Sehingga dampak yang didapat adalah

ketidaksesuaian antara jawaban yang diharapkan dari pertanyaan yang

diajukan. Kemungkinan responden lupa dalam menjawab maksud

pertanyaan yang sebenarnya atau bahkan sengaja memberikan jawaban

yang tidak sebenarnya.

4. Masih ada beberapa responden disaat dilakukan pemberian kuesioner

yang takut memberikan jawaban, sehingga jawaban yang diberikan

tidak sesuai dengan kondisi yang ada karena khawatir memberikan

dampak negatif terhadap pekerjaannya. Hal ini bisa menyebabkan bias

informasi seperti yang disebutkan pada keterbatasan penelitian.

5. Adanya kesulitan dalam menentukan deskripsi isi dari kuesioner yang

benar-benar mencakup seluruh permasalahan penelitian karena tidak

adanya standar yang baku mengenai penelitian perilaku seseorang.


6.2. Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Industri
Pengelasan Informal.

Alat Pelindung Diri (APD) adalah peralatan keselamatan yang harus

digunakan oleh pekerja apabila berada pada suatu tempat kerja yang

berbahaya. APD digunakan pekerja untuk melindungi sebagian atau seluruh

tubuhnya dari adanya potensi bahaya kecelakaan kerja. Penggunaan APD

dilakukan apabila usaha penanggulangan bahaya secara eliminasi, subsitusi,

engineering, administratif tidak maksimal dalam mengendalikan bahaya

yang ada ditempat kerja. Hasil penelitian yang dilakukan pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang tahun 2013 menunjukkan bahwa pekerja yang menggunakan

APD lebih banyak yaitu 24 orang (52,2%) daripada pekerja yang tidak

menggunakan APD yaitu 22 orang (47,8%).

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bambang (2008)

didapatkan hanya 50% pekerja yang berperilaku menggunakan APD saat

bekerja sedangkan 50% mempunyai perilaku tidak menggunakan APD saat

bekerja.

Dari hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa pekerja yang

menggunakan APD pada industri pengelasan informal di Kelurahan

Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013 lebih banyak.

Hal ini menunjukkan bahwa pekerja memiliki awarness terhadap upaya

pencegahan dan pengendalian potensi bahaya di tempat kerja. Sehingga

sangat penting jika pekerja menggunakan APD saat bekerja agar

mengurangi dampak dari bahaya yang ada di tempat kerja.


6.3. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pekerja di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

didapatkan para pekerja yang pengetahuannya baik dan menggunakan APD

sebanyak 24 orang (66,7%), pekerja yang pengetahuannya baik namun tidak

menggunakan APD sebanyak 12 orang (33,3%), pekerja yang

pengetahuannya kurang baik tidak ada yang menggunakan APD sedangkan

pekerja yang pengetahuannya kurang baik dan tidak menggunakan APD

sebanyak 10 orang (100%).

Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi Square

2
(X ) didapatkan pvalue sebesar 0,000 yang berarti Pvalue < 0,05. Hal ini

menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal

di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun

2013.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arianto

Wibowo (2010) yang menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara

penggunaan APD dengan pengetahuan.

Hasil penelitian diatas sesuai dengan pendapat Green dalam

Notoadmojo (2005) yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah

satu faktor berpengaruh (predisposing factors) yang mendorong atau

menghambat individu untuk berperilaku (dalam hal ini penggunaan APD).

Pendapat ini juga dikemukakan oleh Bandura (1963) dalam Syaaf (2008)
yang mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan faktor individu

(person) yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, bila

pekerja mempunyai sifat kognitif dalam menilai sesuatu(penggunaan APD).

Pengetahuan yang didapat pekerja merupakan pengalaman dan pelatihan

yang didapat dari tempat kerja sebelumnya (perusahaan). Sehingga

perilaku penggunaan APD yang ditunjukkan oleh pekerja di bengkel las

merupakan kesadaran pekerja. Pengetahuan yang didapatkan merupakan

analisis pekerja terhadap bahaya yang terjadi sehingga

penggunaan APD didasarkan kemampuan pekerja untuk menjabarkan,

membedakan, memisahkan dan mengelompokkan bahaya yang ada ditempat

kerja. Walaupun mengetahui bahaya dan risiko yang mengharuskan

penggunaan APD, masih ada pekerja yang tidak menggunakan APD.

6.4. Hubungan Antara Pelatihan Dengan Penggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) Pada Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pekerja di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

didapatkan para pekerja yang pernah mengikuti pelatihan dan menggunakan

APD sebanyak 19 orang (90,5%), pekerja yang pernah mengikuti pelatihan

namun tidak menggunakan APD sebanyak 2 orang (9,5%), pekerja yang

tidak pernah mengikuti pelatihan dan menggunakan APD sebanyak 5 orang

(20,0%) sedangkan pekerja yang tidak pernah mengikuti pelatihan dan tidak

menggunakan APD sebanyak 20 orang (80,0%).


Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi Square

2
(X ) pada variabel pelatihan didapatkan pvalue yaitu 0,000 yang berarti nilai

Pvalue < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara

pelatihan dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang Tahun 2013.

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arianto Wibowo

(2010) didapatkan P = 0,938 (Pvalue >0,05) sehingga menunjukkan tidak

ada hubungan yang bermakna antara penggunaan APD dengan pengetahuan.

Kemungkinan bias pada variabel ini adalah pelatihan yang didapatkan

pekerja tidak hanya mengenai penggunaan APD ditempat kerja, tetapi juga

mengenai keterampilan dalam melakukan pengelasan dan bahaya yang

terdapat dibengkel las.

Hasil penelitian diatas sesuai dengan pendapat Ramsey dalam Benny

(2012) yang menyatakan pelatihan merupakan salah satu bagian dari

pengamatan (cognition) dan mengambil keputusan (decision making)

sesorang terhadap risiko bahaya yang ada. Pendapat ini juga dikemukakan

oleh Bandura dalam Syaaf (2008) yang mengemukakan bahwa pelatihan

merupakan faktor perilaku yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku

seseorang, bila pekerja pernah mengikuti sehingga dapat menilai potensi

bahaya dalam penggunaan APD.

Pelatihan yang pernah didapatkan adalah mengenai keterampilan

dalam menggunakan perlatan pengelasan. Adapun pelatihan mengenai


Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) khususnya mengenai APD tidak

pernah dilakukan. Sehingga pengetahuan pengelasan dilakukan secara lisan.

6.5. Hubungan Sikap Pekerja Dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung


Diri (APD) di Industri Pengelasan Informal di Kelurahan Gondrong,
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pekerja di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

didapatkan para pekerja yang bersikap setuju dan menggunakan APD

sebanyak 24 orang (61,5%), pekerja yang bersikap setuju namun tidak

menggunakan APD sebanyak 15 orang (38,5%), pekerja yang bersikap tidak

setuju tidak ada yang menggunakan APD sedangkan pekerja yang bersikap

tidak setuju dan tidak menggunakan APD sebanyak 7 orang (100%).

Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi Square

2
(X ) pada variabel sikap didapatkan pvalue yaitu 0,003 yang berarti nilai

Pvalue < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara sikap

dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan

informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang

Tahun 2013.

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Linggasari

(2008) didapatkan P = 0,06 (Pvalue <0,05) sehingga menunjukkan ada

hubungan antara sikap dan perilaku penggunaan APD. Kemungkinan bias

pada variabel ini adalah sikap para pekerja dalam penggunaan APD tidak

hanya hanya dipengaruhi dari internal individu berupa kesadaran diri

melainkan eksternal individu berupa lingkungan sekitar individu.


Hasil penelitian diatas sesuai dengan pendapat Green dalam

Notoadmojo (2005) yang menyatakan sikap merupakan salah satu faktor

berpengaruh (predisposing factors) yang mendorong atau menghambat

individu untuk berperilaku (dalam hal ini penggunaan APD). Pendapat ini

juga dikemukakan oleh Ramsey dalam Benny (2012) yang mengemukakan

bahwa sikap merupakan salah satu bagian dari mengambil keputusan

(decision making) seseorang terhadap risiko bahaya yang ada.

Sikap belum merupakan suatu tindakan akan tetapi mempermudah

terjadinya perilaku. Adapun sikap melalui tahapan yaitu: menerima bahwa

penggunaan APD sebagai salah satu pengendalian bahaya, kemudian

merespon penggunaan APD dengan melakukan tindakan pencegahan,

setelah itu menghargai pendapat mengenai penggunaan APD sebagai salah

satu upaya keselamatan bekerja sehingga pekerja bertanggung jawab apabila

mengalami kecelakaan karena tidak menggunakan APD. Sikap setuju yang

terdapat dalam penelitian ini dapat diartikan pekerja setuju dalam

penggunaan APD di tempat kerja. Walaupun pekerja bersikap setuju dalam

penggunaan APD, masih ada pekerja yang tidak menggunakan APD.

6.6. Hubungan Antara Motivasi Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) di Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan, Kota Tangerang Tahun 2013.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pekerja di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

didapatkan para pekerja yang motivasinya baik dan menggunakan APD

sebanyak 16 orang (55,2%), pekerja yang motivasinya baik namun tidak


menggunakan APD sebanyak 13 orang (44,8%), pekerja yang motivasinya

kurang baik dan menggunakan APD sebanyak 8 orang (47,1%) sedangkan

pekerja yang motivasinya kurang baik dan tidak menggunakan APD

sebanyak 9 orang (52,9%).

Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi Square

2
(X ) pada variabel motivasi didapatkan pvalue yaitu 0,595 yang berarti nilai

Pvalue > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara

motivasi dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang Tahun 2013.

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Asriyani (2011)

didapatkan P = 0,002 (Pvalue <0,05) sehingga menunjukkan ada hubungan

antara motivasi dan perilaku penggunaan APD. Kemungkinan bias pada

variabel ini adalah motivasi pekerja dalam menggunakan APD tidak hanya

dipengaruhi dari kenyamanan dan keamanan dari APD yang digunakan

melainkan juga ada ketentuan dan peraturan dari pemilik usaha untuk

menggunakan APD ditempat kerja sehingga tidak diketahui faktor

pendukung mana yang paling kuat hubungan dengan perilaku penggunaan

APD.

Hasil penelitian diatas tidak sesuai dengan pendapat Green dalam

Notoadmojo (2005) yang menyatakan motivasi merupakan salah satu faktor

berpengaruh (predisposing factors) yang mendorong atau menghambat

individu untuk berperilaku (dalam hal ini penggunaan APD).


Hal ini mungkin dikarenakan motivasi tiap pekerja berbeda sehingga

para pekerja mempunyai alasan masing-masing dalam penggunaan APD.

Adapun motivasi pekerja dapat mempengaruhi seseorang dalam bekerja

karena bekerja di bengkel las tidak memiliki bahaya tinggi sehingga pekerja

tidak termotivasi dalam menggunakan APD. Walaupun mempunyai

motivasi dalam penggunaan APD di tempat kerja, masih ada pekerja yang

tidak menggunakan APD.

6.7. Hubungan Antara Komunikasi Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) di Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pekerja di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

didapatkan para pekerja yang komunikasinya baik dan menggunakan APD

sebanyak 15 orang (53,6%), pekerja yang komunikasinya baik namun tidak

menggunakan APD sebanyak 13 orang (46,4%), pekerja yang

komunikasinya kurang baik dan menggunakan APD sebanyak 9 orang

(50,0%) sedangkan pekerja yang komunikasinya kurang baik dan tidak

menggunakan APD sebanyak 9 orang (50,0%).

Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi Square

2
(X ) pada variabel komunikasi didapatkan pvalue yaitu 0,813 yang berarti

nilai Pvalue > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan

antara komunikasi dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada

industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,

Kota Tangerang Tahun 2013.


Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Syaaf (2008)

didapatkan P = 0,072 (Pvalue <0,05) sehingga menunjukkan tidak ada

hubungan antara komunikasi dan perilaku penggunaan APD. Kemungkinan

bias pada variabel ini adalah komunikasi yang dilakukan pekerja tidak

hanya mengenai penggunaan APD, tetapi juga pembicaraan mengenai hal

yang bersifat individu.

Hasil penelitian diatas tidak sesuai dengan pendapat Bandura dalam

Syaaf (2008) yang mengemukakan bahwa motivasi merupakan faktor

perilaku yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, bila

pekerja memiliki motivasi maka pekerja akan menggunakan APD dalam

upaya pencegahan dan pengendalian risiko dan bahaya. Sementara itu,

Ramsey dalam Benny (2012) yang mengemukakan bahwa motivasi

merupakan salah satu bagian dari mengambil keputusan (decision making)

sesorang terhadap risiko bahaya yang ada.

Hal ini mungkin dikarenakan bentuk komunikasi yang dilakukan

bersifat pribadi bukan mengenai pelaporan dan identifikasi risiko dan

bahaya. Juga kemungkinan komunikasi yang dilakukan dapat mengganggu

pada saat bekerja sehingga dapat mengurangi kinerja dalam melakukan

pengelasan. Walaupun pekerja mempunyai komunilasi yang baik di tempat

kerja, masih ada pekerja yang tidak menggunakan APD.


6.8. Hubungan Antara Ketersediaan Alat Pelindung Diri Dengan Perilaku
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di Industri Pengelasan
Informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota
Tangerang Tahun 2013.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pekerja di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

didapatkan para pekerja yang bekerja di bengkel las dengan APD lengkap

dan menggunakan APD sebanyak 15 orang (62,5%), pekerja yang bekerja di

bengkel las dengan APD lengkap namun tidak menggunakan APD sebanyak

9 orang (37,5%), pekerja yang bekerja di bengkel las dengan APD kurang

lengkap dan menggunakan APD sebanyak 9 orang (40,9%) sedangkan

pekerja yang bekerja di bengkel las dengan APD kurang lengkap dan tidak

menggunakan APD sebanyak 13 orang (59,1%).

Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi Square

2
(X ) pada variabel ketersediaan APD didapatkan pvalue yaitu 0,143 yang

berarti nilai Pvalue > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat

hubungan antara ketersediaan APD dengan penggunaan Alat Pelindung Diri

(APD) pada industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong,

Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Asriyani (2011)

didapatkan P = 0,002 (Pvalue <0,05) sehingga menunjukkan ada hubungan

antara ketersediaan APD dan perilaku penggunaan APD. Kemungkinan bias

pada variabel ini adalah ketersediaan APD di tempat kerja tidak hanya APD

yang tersedia tidak lengkap dan standar, tetapi juga ketentuan dari pemilik

usaha sehingga menjadi penentuan dalam pengadaan APD ditempat kerja.


Hasil penelitian diatas tidak sesuai dengan pendapat Green dalam

Notoadmojo (2005) yang menyatakan ketersediaan APD merupakan salah

satu faktor pemungkin (enabling factors) yang mendorong atau

menghambat individu untuk berperilaku (dalam hal ini penggunaan APD).

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Bandura dalam Syaaf (2008)

yang mengemukakan bahwa ketersediaan APD merupakan faktor

lingkungan yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, bila

pekerja menggunakan APD yang ada maka dapat mencegah risiko dan

bahaya yang ada di tempat kerja.

Hal ini mungkin karena APD Utama yang tersedia di tempat kerja

tidak lengkap karena industri pengelasan informal biasanya tidak

mempunyai risiko dan bahaya yang cukup tinggi dikarenakan presepsi

mengenai APD tertentu berdasarkan potensi bahaya yang ada dari pemilik

usaha dan pekerja. Adapun APD Utama kurang lengkap dipakai para

pekerja dikarenakan frekuensi dari bahaya yang ada (biasanya risiko rendah)

sering terjadi di tempat kerja. Walaupun tersedia peralatan APD utama

maupun APD tambahan di tempat kerja, masih ada pekerja yang tidak

menggunakan APD. Namun ada beberapa pekerja yang memiliki inisiatif

menggunakan APD yang mereka punya sendiri.


6.9. Hubungan Antara Pengawasan Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) di Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pekerja di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

didapatkan para pekerja yang bekerja di bengkel las yang mempunyai

pengawasan dan menggunakan APD sebanyak 13 orang (76,5%), pekerja

yang bekerja di bengkel las yang mempunyai pengawasan namun tidak

menggunakan APD sebanyak 4 orang (23,5%), pekerja yang bekerja di

bengkel las yang tidak mempunyai pengawasan dan menggunakan APD

sebanyak 11 orang (37,9%) sedangkan pekerja yang bekerja di bengkel las

yang tidak mempunyai pengawasan dan tidak menggunakan APD sebanyak

18 orang (62,1%).

Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi Square

2
(X ) pada variabel pengawasan didapatkan pvalue yaitu 0,012 yang berarti

nilai Pvalue < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara

pengawasan dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang Tahun 2013.

Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arianto Wibowo

(2010) didapatkan P = 0,000 (Pvalue <0,05) sehingga menunjukkan ada

hubungan bermakna antara pengawasan dan perilaku penggunaan APD.

Kemungkinan bias pada variabel ini adalah pengawasan yang dilakukan

tidak hanya bersifat khusus yaitu penggunaan APD, tetapi juga pengawasan
yang bersifat umum yaitu pengawasan terhadap kinerja para pekerja di

bengkel las dan kondisi bengkel las.

Hasil ini sesuai dengan pendapat Green dalam Notoadmojo (2005)

yang menyatakan pengawasan merupakan salah satu faktor penguat

(reinforcement factors) yang mendorong atau menghambat individu untuk

berperilaku (dalam hal ini penggunaan APD).

Namun hubungan tersebut dimungkinkan karena pekerja takut

mendapatkan hukuman apabila tidak menggunakan APD saat ada

pengawasan dari pengawas baik dari pihak bengkel las maupun dari pihak

pemerintahan selaku pembuatan kebijakan dan SIUP. Walaupun memiliki

pengawasan dalam penggunaan APD, masih ada pekerja yang tidak

menggunakan APD. Pengawasan yang ada di bengkel las dilakukan

sebagian besar dilakukan oleh pemilik usaha pengelasan. Sehingga

pelanggaran yang mungkin terjadi tidak diketahui oleh pengawas (pemilik

usaha).

Dalam ketersediaan APD diperlukan juga kebijakan atau peraturan

yang berhubungan dengan bengkel las tidak hanya sebagai usaha sektor

informal yang memerlukan SIUP, tetapi juga bengkel las sebagai home

industry yang mempunyai kapasitas produksi yang kecil dengan jumlah

pekerja yang juga sedikit. Sehingga dalam menyediakan APD di tempat

kerja tidak hanya disediakan oleh bengkel las tetapi juga disuplai dari

pemegang kebijakan (pemerintah setempat).


6.10. Hubungan Antara Hukuman Dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) di Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pekerja di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

didapatkan para pekerja yang bekerja di bengkel las yang mempunyai

hukuman dan menggunakan APD sebanyak 17 orang (70,8%), pekerja yang

bekerja di bengkel las yang mempunyai hukuman namun tidak

menggunakan APD sebanyak 7 orang (29,2%), pekerja yang bekerja di

bengkel las tidak mempunyai hukuman dan menggunakan APD sebanyak 4

orang (31,8%) sedangkan pekerja yang bekerja di bengkel las yang tidak

mempunyai hukuman dan tidak menggunakan APD sebanyak 15 orang

(68,2%).

Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi Square

2
(X ) pada variabel hukuman didapatkan pvalue yaitu 0,008 yang berarti nilai

Pvalue < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara

hukuman dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada industri

pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota

Tangerang Tahun 2013.

Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Syaaf (2008)

didapatkan P = 0,000 (Pvalue <0,05) sehingga menunjukkan ada hubungan

bermakna antara hukuman dan perilaku penggunaan APD. Kemungkinan

bias pada variabel ini adalah hukuman yang diberikan kepada para pekerja

hanya bersifat ringan yaitu berupa teguran saja dan pengurangan pendapatan

para pekerja.
Hasil ini sesuai dengan pendapat Green dalam Notoadmojo (2005)

yang menyatakan ketersediaan APD merupakan salah satu faktor penguat

(reinforcement factors) yang mendorong atau menghambat individu untuk

berperilaku (dalam hal ini penggunaan APD). Pendapat ini juga dikemukan

melalui Model ABC, hukuman sebagai konsekuensi dari peristiwa

lingkungan yang memberikan hasil negatif akibat suatu pekerjaan yang

dilakukan.

Peraturan yang diterapkan oleh pemilik usaha kepada para pekerja

bersifat lisan, sehingga terdapat kemungkinan pekerja melakukan

pelanggaran. Kalau terjadi pelanggaran, hukuman yang diberikan tidak

signifikan atau berarti karena hukuman hanya berupa teguran saja. Adapun

bengkel las memiliki hukuman terhadap penggunaan APD di tempat kerja,

masih ada pekerja yang tidak menggunakan APD.

6.11. Hubungan Antara Penghargaan Dengan Perilaku Penggunaan Alat


Pelindung Diri (APD) di Industri Pengelasan Informal di Kelurahan
Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Tahun 2013.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pekerja di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013

didapatkan para pekerja yang bekerja di bengkel las yang mempunyai

penghargaan dan menggunakan APD sebanyak 17 orang (70,8%), pekerja

yang bekerja di bengkel las yang mempunyai penghargaan namun tidak

menggunakan APD sebanyak 7 orang (29,2%), pekerja yang bekerja di

bengkel las mempunyai penghargaan dan menggunakan APD sebanyak 4

orang (31,8%) sedangkan pekerja yang bekerja di bengkel las yang


100

mempunyai penghargaan dan tidak menggunakan APD sebanyak 15 orang

(68,2%). Berdasarkan hasil uji statistik, dengan menggunakan uji Chi

2
Square (X ) pada variabel penghargaan didapatkan pvalue yaitu 0,008 yang

berarti nilai Pvalue < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan

antara penghargaan dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada

industri pengelasan informal di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh,

Kota Tangerang Tahun 2013.

Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Syaaf (2008)

didapatkan P = 0,000 (Pvalue <0,05) sehingga menunjukkan ada hubungan

bermakna antara penghargaan dan perilaku penggunaan APD.

Kemungkinan bias pada variabel ini adalah penghargaan yang diberikan

kepada pekerja hanya bersifat stimulant untuk bekerja lebih giat berupa

pujian dan bertambahnya pendapatan dari pemilik usaha.

Hasil ini sesuai dengan pendapat Green dalam Notoadmojo (2005)

yang menyatakan ketersediaan APD merupakan salah satu faktor penguat

(reinforcement factors) yang mendorong atau menghambat individu untuk

berperilaku (dalam hal ini penggunaan APD). Pendapat ini juga dikemukan

melalui Model ABC, penghargaan sebagai konsekuensi dari peristiwa

lingkungan yang memberikan hasil positif akibat suatu pekerjaan yang

dilakukan.

Peraturan yang diterapkan oleh pemilik usaha kepada para pekerja

bersifat lisan, sehingga terdapat kemungkinan pekerja melakukan pekerjaan

dengan baik. Kalau pekerja melakukan pekerjaan dengan baik, reward yang

diberikan tidak signifikan atau berarti karena penghargaan hanya berupa


101

penambahan pendapatan saja. Adapun bengkel las memiliki penghargaan

terhadap penggunaan APD di tempat kerja, masih ada pekerja yang tidak

menggunakan APD.
BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

7.1. Simpulan

1. Gambaran Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada pekerja di

industri pengelasan informal Kelurahan Gondrong, Kecamatan

Cipondoh, Kota Tangerang tahun 2013 bahwa pekerja pengelasan di

bengkel las informal yang menggunakan APD adalah sebanyak 24

orang. Sedangkan pekerja pengelasan di bengkel las informal yang

tidak menggunakan APD adalah sebanyak 22 orang.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pekerja dalam penggunaan

Alat Pelindung Diri (APD) pada industri pengelasan informal di

Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh

2.1. Faktor Predisposing

a. Gambaran pekerja yang memiliki pengetahuan baik lebih banyak

yaitu 36 orang (78,3%) daripada pekerja yang memiliki pengetahuan

kurang baik yaitu 10 orang (21,7%) dalam penggunaan APD.

b. Gambaran pekerja yang pernah mendapatkan pelatihan lebih sedikit

yaitu 21 orang (45,7%) daripada pekerja yang tidak pernah

mendapatkan pelatihan yaitu 25 orang (54,3%) dalam penggunaan

APD.

c. Gambaran pekerja yang memiliki sikap setuju lebih banyak yaitu 39

orang (84,8%) daripada pekerja yang memiliki sikap tidak setuju

yaitu 7 orang (15,2%) dalam penggunaan APD.

107
103

d. Gambaran pekerja yang memiliki motivasi lebih banyak yaitu 29

orang (63,0%) daripada pekerja yang tidak memiliki motivasi yaitu

17 orang (37,0%) dalam penggunaan APD.

e. Gambaran pekerja yang memiliki komunikasi baik lebih banyak

yaitu 28 orang (60,9%) daripada pekerja yang memiliki komunikasi

kurang baik yaitu 8 orang (39,1%) dalam penggunaan APD.

2.2. Faktor Enabling

a. Gambaran pekerja yang bekerja dengan APD lengkap lebih sedikit

yaitu 22 orang (47,8%) daripada pekerja yang bekerja dengan APD

kurang lengkap yaitu 24 orang (52,2%) dalam penggunaan APD.

2.3. Faktor Reinforcing

a. Gambaran pekerja yang bekerja di bengkel las yang memiliki

pengawasan lebih sedikit yaitu 17 orang (37,0%) daripada pekerja

yang bekerja di bengkel las yang tidak memiliki pengawasan yaitu

29 orang (63,0%) dalam penggunaan APD.

b. Gambaran pekerja yang bekerja di bengkel las yang memiliki

hukuman lebih banyak yaitu 27 orang (58,7%) daripada pekerja

yang bekerja di bengkel las yang tidak memiliki hukuman yaitu 19

orang (41,3%).

c. Gambaran pekerja yang bekerja di bengkel las yang memiliki

penghargaan lebih banyak yaitu 27 orang (58,7%) daripada pekerja

yang bekerja di bengkel las yang tidak memiliki penghargaan yaitu

19 orang (41,3%).
3. Hubungan antara faktor Predisposing (pengetahuan, pelatihan, sikap,

motivasi dan komunikasi) dengan perilaku pekerja dalam penggunaan

Alat Pelindung Diri (APD).

a. Terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pekerja

dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

b. Terdapat hubungan antara pelatihan dengan perilaku pekerja dalam

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

c. Terdapat hubungan antara sikap dengan perilaku pekerja dalam

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

d. Tidak terdapat hubungan antara motivasi dengan perilaku pekerja

dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

e. Tidak terdapat hubungan antara komunikasi dengan perilaku pekerja

dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

4. Tidak terdapat hubungan antara faktor Enabling (ketersediaan APD)

dengan perilaku pekerja dalam pengunaan Alat Pelindung Diri (APD).

5. Hubungan antara faktor Reinforcing (pengawasan, hukuman dan

penghargaan) dengan perilaku penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

a. Terdapat hubungan antara pengawasan dengan perilaku pekerja

dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

b. Terdapat hubungan antara hukuman dengan perilaku pekerja dalam

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

c. Terdapat hubungan antara penghargaan dengan perilaku pekerja

dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).


7.2. Saran

1. Bagi industri pengelasan informal

a. Meningkatkan pengetahuan pekerja mengenai risiko dan bahaya

yang ada ditempat kerja dengan cara memberikan informasi dan

pengalaman yang dimiliki dalam mengenali potensi bahaya ditempat

kerja sebelum pekerja melakukan pengelasan.

b. Memperhatikan sikap para pekerja yang setuju dalam penggunaan

APD dengan menyediakan peralatan APD yang standar dan nyaman

digunakan oleh pekerja di tempat kerja sehingga pekerja dapat

bekerja dengan aman.

c. Perlu adanya pemberian reward dan punisment bagi pekerja yang

telah bekerja dengan baik sesuai dengan peraturan yang ada,

sehingga pekerja mempunyai motivasi untuk melakukan pekerjaaan

dengan aman dan baik.

d. Perlu melakukan peningkatan intensitas pengawasan sesering

mungkin dan menjalin komunikasi yang dilakukan oleh pemilik

usaha sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara pemilik usaha

dan pekerja.

e. Pemilik usaha harus mempersiapkan APD yang lengkap dan sesuai

dengan standar sebelum pekerja melakukan pengelasan agar pekerja

sebagai investasi peralatan usaha tidak mengalami hal yang tidak

diinginkan.
f. Melakukan pembinaan kepada para pemilik usaha dan pekerja di

bengkel las agar semua pihak mulai menyadari bahwa pekerja

merupakan investasi yang berharga.

2. Bagi pemerintah Daerah setempat

a. Pemerintah diharapkan memberikan pengarahan dalam penggunaan

APD dengan memasukkan bagian APD dalam aturan dan Surat Izin

Usaha dan Pembangunan (SIUP).

b. Perlu meningkatkan pelatihan yang telah ada dengan memperhatikan

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dilingkungan industri

pengelasan informal.

c. Lebih memperhatikan industri pengelasan informal guna

meningkatkan kesadaran akan pentingnya Kesehatan dan

Keselamatan Kerja (K3). Hal ini sesuai dengan UU Ketenagakerjaan

RI no. 25 tahun 1997 Bab XI mengenai Tenaga Kerja di Dalam

Hubungan Kerja Sektor Informal dan di Luar Hubungan Kerja pasal

158-160.

d. Melakukan pengawasan berkala dan sesering mungkin pada industri

pengelasan informal agar dapat meningkatkan keselamatan dan

kesejahteraan pekerja.

e. Penyediaan APD yang tidak bisa disediakan oleh pemilik usaha

sebagai upaya pemerintah mewujudkan kebijakan dan peraturan

mengenai izin usaha (SIUP).


DAFTAR PUSTAKA

Amran, Yuli. 2012. Pengolahan dan Analisis Data Statistik di Bidang Kesehatan.

Ciputat: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Anonim. Personal Protective Equipment (PPE) Guide Volume 1: General PPE

F417-207-000. Washington: Washington State Department of Labor and

Industries. Dapat diakses di : http://www.phpa.com.au/About-

us/Corporate-

Governance/Document-Library/pdf/PR_-_HS020_-

_Personal_Protective_Equipment_(PPE)_P.aspx. Diakses pada 14 April


2013

pukul 21.31 WIB

Anonim. Tapi APD Bukan Hiasan. Online pada

http://www.semengresik.com/ina/post/APD-Bukan-Hiasan.aspx. diakses

pada 18 April 2013

Asriyani. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Penggunaan Alat

Pelindung Diri Pada Pekerja Bagian Sistem Telepon Otomatis (STO) PT.

Telekomunikasi,Tbk Riau-Daratan Kota Pekanbaru. Jakarta: Skripsi

Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional

(Veteran) Jakarta.

Astute, Yunani Sri. 2001. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi

Perawat Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Untuk Mengikuti Pendidikan, Suatu

Studi Kasus di Tiga RSJ di Jawa Barat. Depok: Skripsi Program Sarjana

Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.


107
108

Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.

Jakarta: EGC.

Budiono, Sugeng. 2005. Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan Kerja :

Higiene Perusahaan, Ergonomi, Kesehatan Kerja dan Keselamatan Kerja.

Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Cassell, Erin, dkk. Gear Up: Motivation and Barriers to the Wearing of Personal

Protective Equipment by Youth Skaters in Council Skateparks. Monash:

Monash University Journal. 2005. Dapat diakses di :

http://www.health.vic.gov.au/injury/downloads/skaters.pdf .

Diakses pada 10

April 2013 pukul 14.49 WIB

Chahaya S., Indra. 2006. Perilaku tentang Pemakaian Alat Pelindung Diri Serta

Keluhan Kesehatan Petugas Penyapu Jalan di Kecamatan Medan Amplas,

Kota Medan hal 167-173. Departemen Kesehatan Lingkungan FKM USU.

Jurnal Volume X, Nomor 2, Desember 2006, Halaman 101 205

Terakreditasi No. 26/DIKTI/Kep/2005. ISSN 1410-6434.

Departemen Kesehatan, 2002, Perencanaan Strategis Program Kesehatan Kerja

2002-2004. Jakarta: Litbangkes Depertemen Kesehatan.

Deutsche Industrie Normen (DIN). 2008. Pengelasan. Germany: Deutsche

Industrie Normen. Dapat diakses melalui http://www.din.de/. Diakses

pada

16 April 2013 pukul 21.03 WIB.

Dwi. 2008. Kecelakaan kerja RI terbesar kedua. 3 April 2008. [Publised 15

January 2009]. Dapat diakses melalui:


http://finance.groups.yahoo.com/group/fpsmi/message/1953. Diakses pada

10 April 2013 pukul 14.15 WIB

Gardiner dkk. 2007. Occupational Helath. United Kingdom: Blackwell

Publishing Ltd.

Harson, Wiryosumarto. 2000. Teknologi Pengelasan Logam. Jakarta: Pradnya

Paramita. Dapat diakses : http://www.kesmas-

unsoed.info/2011/01/hubungan-perilaku-keselamatan-dan.html. 27

Februari 2013 jam 10.14 WIB.

International Labour Office. 1989. Buku Pedoman Pencegahan Kecelakaan.

Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.

ILO. 2010. World Of Work Report. Dapat diakses http://www.ilo.org/. Diakses

pada 27 November 2013 jam 13.25 WIB

Jamsostek. 2011. Kasus Kecelakaan Kerja Tahun 2011. Dapat diakses

http://www.jamsostek.co.id/content_file/ar_jamsostek_lores_
8812.pdf.

Diakses pada 27 November 2013 jam 13.05 WIB.

Kementerian Tenaga Kerja dan Transportasi. 2012. Tipe Kecelakaan Kerja di

Indonesia Menurut Provinsi Triwulan II Tahun 2012. Dapat diakses

melalui http://pusdatinaker.balitfo.depnakertrans.go.id/ .

Diakses pada 27

November 2013 pukul 21.13 WIB.

Leka, Stavroula & Houdmont, Jonathan. 2010. Occupational Helath Psycology.

United Kingdom: Blackwell Publishing Ltd.


Lewis, Joan & Thornbory, Greta. 2010. Employment Law & Occupational Helath.

United Kingdom: Blackwell Publishing Ltd.

Linggasari. 2008. Faktor faktor yang Mempengaruhi Perilaku Penggunaan Alat

Pelindung Diri di Departemen Engineering PT. Kiat Pulp & Paper Tbk.

Tangerang tahun 2008. Depok: Skripsi Program Sarjana Kesehatan

Masyarakat Universitas Indonesia.

Maanaiya, Imam, 2005, Faktor-faktor Yang Berhubungan dengan Tindakan Tidak

Aman (Unsafe Act/Substandarf Practice) Pekerja di Bagian Press PT.

YIMM. Depok: Thesis Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

Notoadmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT.

Rineka Cipta

. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu

Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT. Rineka Cipta

. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta:

PT. Rineka Cipta

Prabowo, Riyadi. 2007. Analisis Risiko Kegiatan Proses Pengelasan Dengan

Menggunakan Mesim Las PSW (Portable Spot Welding) welding PT.

Indomobil Suzuki International Plant Tambun II Tahun 2007. Depok:

Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Purwanto, Bambang Y. 2009. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Pekerja Las di Jalan


Raya Kelapa Dua Tanggerang. Depok: Skripsi Program Sarjana

Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Rawar P., Dian. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kapasitas Vital

Paru Pada Pekerja Bengkel Las di Pisangan Ciputat Tahun 2010. Jakarta:

Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

Republik Indonesia. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 1405/MENKES/SK/XI/ Tentang Persyaratan Kesehatan

Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.

Sandjaja, B., Heriyanto, Albertus. 2006. Panduan Penelitian. Jakarta: Pretasi

Pustaka Publisher.

Santoso. 2010. Statistik Parametrik. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Setyawati. 2008. Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan APD pada

Lingkungan Pekerjaan. Jurnal Kesehatan dan Keselamatan Kerja Volume

IV edisi ke-5 tahun 2008,Halaman 87-98. Jakarta: Program Studi

Kesehatan Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional (Veteran)

Jakarta.

Sigit Atmanto, Ireng. 2011. BEHAVIORAL DETERMINANTS WORKERS IN THE

USE OF PPE BASED ON HAZARD ASSESSMENT IN FOUNDRY

COMPANY CEPER KLATEN. Prosiding Seminar Nasional Sains dan

Teknologi ke-2 Tahun 2011. Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Semarang. ISBN. 978-602-99334-0-6.


Simatupang, Erni Maria. 2011. Pengaruh Pelatihan Dan Motivasi Kerja

Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Perkebunan Nusantara III

PERSERO) Medan. Medan: Tesis Program Pascasarjana Univesitas

Sumatera Utara. Dapat diakses melalui :

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/23728 . Diakses

pada 16 April

2013 pukul 20.13 WIB.

Sriwidharto. 1996. Petunjuk Kerja Las. Jakarta: PT.Pradnya Paramita.

Strank, Jeremy. 2006. The A-Z of Health and Saftey. London: Thorogoud

Publishing Ltd.

Strank, Jeremy. 2007. Human Factors & Behavioural Saftey. United Kingdom:

Elsevier Publishing Ltd.

Sumamur. 2010. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Jakarta:

CV Sagung Seto.

Suratman M. 2001. Teknik Mengelas Asetilen, Brazing dan Las Busur Listrik.

Bandung : Pustaka Grafika.

Syaaf, Fathul Mashuri. 2008. Analisis Perilaku Beresiko (at-risk behavior) pada

pekerja unit usaha las sector informal di Kota X. Depok: Skripsi Program

Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Taylor, Geoffrey. 2004. Enchanging Occupational Safety & Health. United

Kingdom: Elsevier Publishing Ltd.


Vitriyansyah P., Benny. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Perilaku Pekerja Pengelasan Industri Informal Dalam Penggunaan Alat

Pelindung Diri (APD) di Jalan Raya Bogor-Dermaga, Kota Bogor tahun

2011. Depok. Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas

Indonesia.

Wibowo, Arianto. 2010. Faktor faktor yang Berhubungan dengan Perilaku

Penggunaan Alat Pelindung Diri di Areal Pertambangan PT. Antam,Tbk

Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor Kabupaten Bogor. Jakarta:

Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri

Jakarta.

Yasari. 2008. Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri Dan Kejadian Dermatitis

Akibat Kerja Pada Pekerja Pengangkut Sampah di PT. USB Kota Jambi.

Yogyakarta: Thesis Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.


LAMPIRAN
107
Responden [] [] []

PEDOMAN WAWANCARA PENELITIAN

Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Pekerja dalam

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Pada Industri Pengelasan Informal

di Kelurahan Gondrong Tahun 2013

Petunjuk pengisian

Lingkarilah jawaban yang sesuai dengan pilihan Anda

Isilah titik-titik yang ada deng jelas

Jawablah setiap pertanyaan yang ada di kuesioner ini dengan benar, jujur dan apa

adanya.

Setiap jawaban akan dijaga kerahasiaannya dan tidak akan mempengaruhi penilaian

terhadap kinerja Anda di tempat kerja.

Tangerang, 2013

Tertanda,

Responden
Pertanyaan Penelitian

A. Karakteristik Pekerja (Diisi oleh Peneliti)

1. Nama Responden

2. Umur Responden tahun (sejak tahun lahir) [] []

3. Pendidikan Terakhir Responden (Lingkari salah satu) []

a. Tidak Sekolah e. Tamat SMP

b. Tidak Tamat SD f. Tidak Tamat SMA

c. Tamat SD g. Tamat SMA

d. Tidak Tamat SMP h. Tamat Perguruan Tinggi (S1,S2,S3)

4. Lama Bekerja tahun (sejak tahun bekerja) [] []

B. Pengetahuan (Diisi oleh Peneliti)

1. Apa Anda tahu tentang bahaya dan risiko dalam pengelasan.? []

a. Ya, sebutkan

b. Tidak

2. Apakah menurut Anda ini termasuk Alat Pelindung Diri.?

a. Helm Pengaman (Safety Helmet) []

b. Kacamata Las (Googles) []

c. Pelindung Muka (Face Shield) []

d. Kacamata Bening (Safety Spectacles) []

e. Pelindung Telinga (Hearing Protection) []

f. Alat Pelindung Hidung (Respirator) []

g. Pakaian Kerja dan Pelindung Dada (Apron) []

h. Sarung Tangan (Safety Glove) []

i. Sepatu Kerja (Safety Shoes) []


3. Apakah kegunaan Alat Pelindung Diri menurut Anda.?

a. Seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga keja untuk []


melindungi selurh/sebagian tubuhnya terhadap
kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.
[]
b. Alat untuk digunakan saat bekerja.
[]
c. Untuk mengurangi dampak kecelakaan kerja

4. Apakah Anda mengetahui tujuan dan fungsi alat-alat Pelindung


diri.? []
a. Ya, sebutkan

b. Tidak

5. Kapan Anda menggunakan Alat Pelindung Diri.? []


a. Saat bekerja, jelaskan

b. Sebelum bekerja

6. Menurut Anda, Apakah ada petunjuk penggunaan APD.? []


a. Ya b. Tidak

7. Apakah APD adalah salah satu cara mengendalikan bahaya.? []


a. Ya b. Tidak

C. Pelatihan (Diisi oleh Peneliti)

1. Apakah Anda pernah diberikan pelatihan tentang Kesehatan []


dan Keselamatan Kerja khususnya tentang APD.?

a. Ya b. Tidak Langsung ke no. 4

2. Menurut Anda, dengan mengikuti pelatihan tersebut akan


[]
mempermudah pemahaman mengenai APD.?

a. Ya b. Tidak

3. Dengan adanya pelatihan apakah akan menambah keterampilan


Anda dalam bekerja.? []
a. Ya, jelaskan

b. Tidak

4. Selama Anda bekerja berapa kali anda pernah mengikuti [] []


pelatihan.? kali

D. Sikap (Diisi oleh Peneliti)


1. Apakah pendapat Anda tentang penggunaan APD saat []
bekerja.?
a. Sangat Setuju
b. Cukup Setuju
c. Setuju
d. Kurang Setuju
e. Tidak Setuju
2. Apakah pendapat Anda tentang APD dapat mengurangi bahaya
[]
kecelakaan.?
a. Sangat Setuju
b. Cukup Setuju
c. Setuju
d. Kurang Setuju
e. Tidak Setuju
3. Apakah pendapat Anda sebelum melakukan pekerjaan,
dilakukan pengarahan (safety briefing).? []
a. Sangat Setuju
b. Cukup Setuju
c. Setuju
d. Kurang Setuju
e. Tidak Setuju
4. Ketika pengawas datang, apakah pendapat Anda bekerja
menggunakan APD.?
[]
a. Sangat Setuju
b. Cukup Setuju
c. Setuju
d. Kurang Setuju
e. Tidak Setuju

5. Ketika pemilik usaha datang, setujukah Anda selalu bekerja []


menggunakan APD.?
a. Sangat Setuju
b. Cukup Setuju
c. Setuju
d. Kurang Setuju
e. Tidak Setuju
E. Motivasi (Diisi oleh Peneliti)

1. Apakah Anda tidak pernah melakukan tindakan []


berisiko/berbahaya.?

a. Ya b. Tidak
[]
2. Apakah Anda mempunyai motivasi untuk menyelesaikan
pekerjaan dengan cepat dengan bekerja secara aman.?

a. Ya b. Tidak
[]
3. Apakah Anda menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) karena
alasan nyaman.?

a. Ya b. Tidak

4. Apakah suasana kerja mendorong Anda untuk melakukan []


tindakan aman.?

a. Ya b. Tidak
[]
5. Apakah Anda hanya mengikuti peraturan K3 jika sedang
diawasi oleh pengawas.?

a. Ya b. Tidak

6. Apakah Anda mematuhi peraturan/prosedur kerja ketika Anda []


melakukan pekerjaan.?

a. Ya b. Tidak

7. Apakah Anda melakukan identifikasi bahaya sebelum Anda


[]
melakukan pekerjaan.?

a. Ya b. Tidak

F. Komunikasi (Diisi oleh Peneliti)


1. Apakah di tempat kerja Anda diberikan hak untuk melaporkan []
risiko pekerjaan, perilaku tidak aman yang terjadi di tempat
kerja kepada pihak pengawas.?

a. Ya b. Tidak
[]
2. Apakah Anda pernah melaporkan perilaku tidak aman yang
Anda lihat di tempat kerja kepada pihak pengawas.?

a. Ya b. Tidak

3. Apakah pihak pengawas melakukan komunikasi potensi []


bahaya atau risiko di tempat kerja kepada Anda.?

a. Ya b. Tidak

4. Apakah pihak pengawas menyampaikan hasil penyelidikan


kecelakaan kepada pekerja.? []

a. Ya b. Tidak

5. Apakah Anda diberikan hak untuk melaporkan kepada pihak


atasan jika melihat rekan kerja dengan perilaku tidak aman atau
[]
melanggar prosedur kerja.?

a. Ya b. Tidak

G. Ketersediaan APD (Diisi oleh Peneliti)

1. Apakah ditempat ada bekerja tersedia APD.? []

a. Ya b. Tidak Langsung ke Point H

2. Sebelum Anda bekerja, apakah Anda diperkenalkan APD


untuk bekerja.?
[]
a. Ya b. Tidak

3. Apakah ada ketentuan dari pemilik usaha tentang penggunaan


APD.?
[]
a. Ya b. Tidak
4. Apakah selalu ada inspeksi ketika sedang bekerja agar tidak []
terjadi penyimpangan dalam melaksanakan prosedur kerja.?

a. Ya b. Tidak

5. Apakah pengawas selalu mengingatkan Anda untuk bekerja


[]
dengan menggunakan APD.?

a. Ya b. Tidak

6. Apakah APD yang digunakan sesuai dengan standar yang ada.?


[]
a. Ya b. Tidak

7. Apakah Anda memakai APD tersebut di tempat Anda bekerja.?


[]
a. Ya b. Tidak

H. Pengawasan Penggunaan APD (Diisi oleh Peneliti)

1. Apakah ada pengawasan pada pekerjaan yang terdapat di []


tempat kerja Anda.?

a. Ya b. Tidak Langsung ke poin I

2. Berapa jumlah pengawas yang ada di tempat bekerja Anda.?


[]
orang

3. Berapa kali pengawasan yang dilakukan oleh pengawas di


[] []
tempat kerja Anda selama seminggu.?

kali

4. Apakah pengawas selalu mengingatkan Anda untuk bekerja


dengan menggunakan APD.? []
a. Ya b. Tidak

5. Ketika pengawas datang, setujukah Anda selalu bekerja []


menggunakan APD.?

a. Ya b. Tidak

I. Hukuman (Diisi oleh Peneliti)


1. Apakah ada peraturan penggunaan APD yang digunakan di []
tempat kerja Anda
a. Ya b. Tidak Langsung ke Poin J
[]
2. Jika pekerja melakukan pelangggaran, apakah harus dikenakan
sanksi yang tegas.?
a. Ya b. Tidak []
3. Menurut Anda, jika sudah tidak sesuai dengan APD yang
digunakan maka pekerja perlu diberikan hukuman.?
[]
a. Ya b. Tidak
4. Apakah Anda mematuhi peraturan yang ada di tempat Anda
bekerja.? []
a. Ya b. Tidak
J. Penghargaan (Diisi oleh Peneliti)

5. Apakah ada peraturan penggunaan APD yang digunakan di []


tempat kerja Anda
a. Ya b. Tidak Selesai
[]
6. Jika pekerja melakukan prestasi, apakah diberikan hadiah.?
a. Ya b. Tidak
7. Menurut Anda, jika sudah sesuai dengan APD yang digunakan []
maka pekerja perlu diberikan penghargaan.?
a. Ya b. Tidak
[]
8. Apakah Anda mematuhi peraturan yang ada di tempat Anda
bekerja.?
a. Ya b. Tidak []
9. Apakah APD harus digunakan dibawah pengawasan seorang
pengawas.?
a. Ya b. Tidak
LEMBAR OBSERVASI PERILAKU

No. Alat Pelindung Diri (APD) Memakai Tidak Memakai Keterangan


APD Pengelasan Utama
1. Helm Pengaman (Safety Helm)
2. Kacamata Las (Googles)
3. Pelindung Muka (Face Shield)
4. Pakaian Kerja dan Pelindung Dada (Apron)
5. Sarung Tangan (Safety Glove)
6. Sepatu Kerja (Safety Shoes)
APD Pengelasan Tambahan
7. Kacamata Bening (Safety Spectacles)
8. Pelindung Telinga (Hearing Protection)
9. Alat Pelindung Hidung (Respirator)

No. Responden :

Nama Responden :

Nama Bengkel Pengelasan :


Analisis Univariat

Frequencies

[DataSet1] D:\Skripsi Ilham 4.sav

Statistics

Pakai_APD Pengetahuan Pelatihan Sikap Motivasi Komunikasi Sedia_APD Pengawasan Hukuman Penghargaan

N Valid 46 46 46 46 46 46 46 46 46 46

Missing 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Frequency Table
Pakai_APD

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Memakai APD 24 52.2 52.2 52.2

Tidak Memakai APD 22 47.8 47.8 100.0

Total 46 100.0 100.0

Pengetahuan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Baik 36 78.3 78.3 78.3

Kurang Baik 10 21.7 21.7 100.0

Total 46 100.0 100.0

Pelatihan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Pernah 21 45.7 45.7 45.7

Tidak Pernah 25 54.3 54.3 100.0

Total 46 100.0 100.0


Sikap

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Setuju 39 84.8 84.8 84.8

Kurang Setuju 7 15.2 15.2 100.0

Total 46 100.0 100.0

Motivasi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Baik 29 63.0 63.0 63.0

Kurang Baik 17 37.0 37.0 100.0

Total 46 100.0 100.0

Komunikasi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Baik 28 60.9 60.9 60.9

Kurang Baik 18 39.1 39.1 100.0

Total 46 100.0 100.0

Sedia_APD

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Lengkap 24 52.2 52.2 52.2

Tidak Lengkap 22 47.8 47.8 100.0

Total 46 100.0 100.0

Pengawasan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ada 17 37.0 37.0 37.0


Tidak Ada 29 63.0 63.0 100.0

Total 46 100.0 100.0

Hukuman

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ada 24 52.2 52.2 52.2

Tidak Ada 22 47.8 47.8 100.0

Total 46 100.0 100.0

Penghargaan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ada 24 52.2 52.2 52.2

Tidak Ada 22 47.8 47.8 100.0

Total 46 100.0 100.0


Analisis Bivariat

Pengetahuan * Pakai_APD
Crosstab

Pakai_APD

Tidak Memakai
Memakai APD APD Total

Pengetahuan Baik Count 24 12 36

% within Pengetahuan 66.7% 33.3% 100.0%

Kurang Baik Count 0 10 10

% within Pengetahuan .0% 100.0% 100.0%

Total Count 24 22 46

% within Pengetahuan 52.2% 47.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value Df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 13.939 1 .000
b
Continuity Correction 11.396 1 .001

Likelihood Ratio 17.854 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 13.636 1 .000


b
N of Valid Cases 46

a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,78.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper
For cohort Pakai_APD =
.333 .210 .529
Tidak Memakai APD

N of Valid Cases 46

Pelatihan * Pakai_APD
Crosstab

Pakai_APD

Tidak Memakai
Memakai APD APD Total

Pelatihan Pernah Count 19 2 21

% within Pelatihan 90.5% 9.5% 100.0%

Tidak Pernah Count 5 20 25

% within Pelatihan 20.0% 80.0% 100.0%

Total Count 24 22 46

% within Pelatihan 52.2% 47.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value Df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 22.718 1 .000
b
Continuity Correction 19.981 1 .000

Likelihood Ratio 25.454 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 22.224 1 .000


b
N of Valid Cases 46

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,04.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper
Odds Ratio for Pelatihan
38.000 6.564 219.975
(Pernah / Tidak Pernah)

For cohort Pakai_APD =


4.524 2.040 10.029
Memakai APD

For cohort Pakai_APD =


.119 .031 .451
Tidak Memakai APD

N of Valid Cases 46

Sikap* Pakai_APD
Crosstab

Pakai_APD

Tidak Memakai
Memakai APD APD Total

Sikap Setuju Count 24 15 39

% within Sikap 61.5% 38.5% 100.0%

Kurang Setuju Count 0 7 7

% within Sikap .0% 100.0% 100.0%

Total Count 24 22 46

% within Sikap 52.2% 47.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value Df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 9.007 1 .003
b
Continuity Correction 6.710 1 .010

Likelihood Ratio 11.713 1 .001

Fisher's Exact Test .003 .003

Linear-by-Linear Association 8.811 1 .003


b
N of Valid Cases 46

a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,35.

b. Computed only for a 2x2 table


Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

For cohort Pakai_APD =


.385 .259 .572
Tidak Memakai APD

N of Valid Cases 46

Motivasi * Pakai_APD
Crosstab

Pakai_APD

Tidak Memakai
Memakai APD APD Total

Motivasi Baik Count 16 13 29

% within Motivasi 55.2% 44.8% 100.0%

Kurang Baik Count 8 9 17

% within Motivasi 47.1% 52.9% 100.0%

Total Count 24 22 46

% within Motivasi 52.2% 47.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .283 1 .595
b
Continuity Correction .051 1 .821

Likelihood Ratio .283 1 .595

Fisher's Exact Test .761 .410

Linear-by-Linear Association .277 1 .599


b
N of Valid Cases 46

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,13.
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .283 1 .595
b
Continuity Correction .051 1 .821

Likelihood Ratio .283 1 .595

Fisher's Exact Test .761 .410

Linear-by-Linear Association .277 1 .599


b
N of Valid Cases 46

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,13.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for Motivasi (Baik


1.385 .417 4.602
/ Kurang Baik)

For cohort Pakai_APD =


1.172 .642 2.140
Memakai APD

For cohort Pakai_APD =


.847 .463 1.548
Tidak Memakai APD

N of Valid Cases 46

Komunikasi * Pakai_APD
Crosstab

Pakai_APD

Tidak Memakai
Memakai APD APD Total

Komunikasi Baik Count 15 13 28

% within Komunikasi 53.6% 46.4% 100.0%

Kurang Baik Count 9 9 18

% within Komunikasi 50.0% 50.0% 100.0%

Total Count 24 22 46
Crosstab

Pakai_APD

Tidak Memakai
Memakai APD APD Total

Komunikasi Baik Count 15 13 28

% within Komunikasi 53.6% 46.4% 100.0%

Kurang Baik Count 9 9 18

% within Komunikasi 50.0% 50.0% 100.0%

Total Count 24 22 46

% within Komunikasi 52.2% 47.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .056 1 .813
b
Continuity Correction .000 1 1.000

Likelihood Ratio .056 1 .813

Fisher's Exact Test 1.000 .526

Linear-by-Linear Association .055 1 .815


b
N of Valid Cases 46

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,61.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for Komunikasi


1.154 .353 3.776
(Baik / Kurang Baik)

For cohort Pakai_APD =


1.071 .602 1.907
Memakai APD

For cohort Pakai_APD =


.929 .505 1.708
Tidak Memakai APD

N of Valid Cases 46
Sedia_APD * Pakai_APD
Crosstab

Pakai_APD

Tidak Memakai
Memakai APD APD Total

Sedia_APD Lengkap Count 15 9 24

% within Sedia_APD 62.5% 37.5% 100.0%

Tidak Lengkap Count 9 13 22

% within Sedia_APD 40.9% 59.1% 100.0%

Total Count 24 22 46

% within Sedia_APD 52.2% 47.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 2.144 1 .143
b
Continuity Correction 1.366 1 .242

Likelihood Ratio 2.160 1 .142

Fisher's Exact Test .237 .121

Linear-by-Linear Association 2.098 1 .148


b
N of Valid Cases 46

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,52.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for Sedia_APD


2.407 .736 7.877
(Lengkap / Tidak Lengkap)

For cohort Pakai_APD =


1.528 .847 2.756
Memakai APD

For cohort Pakai_APD =


.635 .340 1.183
Tidak Memakai APD
N of Valid Cases 46
Pengawasan * Pakai_APD
Crosstab

Pakai_APD

Tidak Memakai
Memakai APD APD Total

Pengawasan Ada Count 13 4 17

% within Pengawasan 76.5% 23.5% 100.0%

Tidak Ada Count 11 18 29

% within Pengawasan 37.9% 62.1% 100.0%

Total Count 24 22 46

% within Pengawasan 52.2% 47.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 6.379 1 .012
b
Continuity Correction 4.928 1 .026

Likelihood Ratio 6.636 1 .010

Fisher's Exact Test .016 .012

Linear-by-Linear Association 6.241 1 .012


b
N of Valid Cases 46

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,13.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for Pengawasan


5.318 1.381 20.484
(Ada / Tidak Ada)

For cohort Pakai_APD =


2.016 1.181 3.442
Memakai APD
For cohort Pakai_APD =
.379 .154 .935
Tidak Memakai APD

N of Valid Cases 46

Hukuman * Pakai_APD
Crosstab

Pakai_APD

Tidak Memakai
Memakai APD APD Total

Hukuman Ada Count 17 7 24

% within Hukuman 70.8% 29.2% 100.0%

Tidak Ada Count 7 15 22

% within Hukuman 31.8% 68.2% 100.0%

Total Count 24 22 46

% within Hukuman 52.2% 47.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 7.002 1 .008
b
Continuity Correction 5.526 1 .019

Likelihood Ratio 7.186 1 .007

Fisher's Exact Test .017 .009

Linear-by-Linear Association 6.850 1 .009


b
N of Valid Cases 46

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,52.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper
Odds Ratio for Hukuman
5.204 1.481 18.289
(Ada / Tidak Ada)

For cohort Pakai_APD =


2.226 1.147 4.322
Memakai APD

For cohort Pakai_APD =


.428 .215 .849
Tidak Memakai APD

N of Valid Cases 46

Penghargaan * Pakai_APD
Crosstab

Pakai_APD

Tidak Memakai
Memakai APD APD Total

Penghargaan Ada Count 17 7 24

% within Penghargaan 70.8% 29.2% 100.0%

Tidak Ada Count 7 15 22

% within Penghargaan 31.8% 68.2% 100.0%

Total Count 24 22 46

% within Penghargaan 52.2% 47.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 7.002 1 .008
b
Continuity Correction 5.526 1 .019

Likelihood Ratio 7.186 1 .007

Fisher's Exact Test .017 .009

Linear-by-Linear Association 6.850 1 .009


b
N of Valid Cases 46

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,52.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval


Lower Upper
Value
Odds Ratio for Penghargaan
5.204 1.481 18.289
(Ada / Tidak Ada)

For cohort Pakai_APD =


2.226 1.147 4.322
Memakai APD

For cohort Pakai_APD =


.428 .215 .849
Tidak Memakai APD

N of Valid Cases 46