Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar


2.1.1 Definisi sinar-X

Sinar-X adalah salah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik

dengan panjang gelombang berkisar antara 10 nanometer sampai 100

picometer (frekuensi dalam jangka 30 PHz sampai 60 EHz). Sinar-X

umumnya digunakan dalam diagnosis gambar medikal dan

kristalografi sinar-X (Semple, 1982).

Sinar-X ini banyak digunakan dalam bidang kedokteran untuk

memotret kedudukan tulang atau organ dalam tubuh manusia.

Meskipun besar manfaatnya, penggunaan sinar-X harus

memperlihatkan prosedur keadaan pasien. Karena daya tembusnya

cukup besar, jaringan tubuh manusia dapat rusak terkena paparan

sinar-X terlalu lama. Oleh karena itu, pemancaran sinar-X pada pasien

diusahakan sesingkat mungkin (Semple, 1982).

2.1.2 Sifat-sifat sinar-X

Menurut (Semple, 1982). Adapun sifat-sifat sinar-X :

a. Mempunyai daya tembus yang tinggi, sinar-X dapat menembus

bahan dengan daya tembus yang sangat besar, dan digunakan

dalam proses radiografi.


b. Mempunyai panjang gelombang yang pendek yaitu : 104

panjang gelombang yang kelihatan.

5
6

c. Mempunyai efek fotografi. Sinar-X dapat menghitamkan emulsi

film setengah diproses di kamar gelap.


d. Mempunyai sifat berionisasi. Efek primer sinar-X apabila

mengenai suatu bahan atau suatu zat akan menimbulkan ionisasi

partikel-partikel bahan zat tersebut


e. Mempunyai efek biologi. Sinar-X akan menimbulkan perubahan-

perubahan biologi pada jaringan. Efek biologi ini digunakan

dalam pengobatan radioterapi.


2.1.3 Proses terjadinya sinar-X
a. Di dalam tabung rontgen ada katoda dan anoda dan bila katoda

(filament) dipanaskan lebih dari 20000 C sampai menyala

dengan mengantarkan listrik dari transformator, karena panas maka

elektron-elektron dari katoda (filament) terlepas.


b. Dengan memberikan tegangan tinggi maka elektron-elektron

dipercepat gerakannya menuju anoda (target)


c. Elektron-elektron mendadak dihentikan pada anoda (target)

sehingga terbentuk panas (99%) dan sinar-X (1%)


d. Sinar-X akan keluar dan diarahkan dari tabung melalui jendela

yang disebut diafragma


e. Panas yang ditimbulkan ditiadakan oleh radiator pendingin.

2.1.4 Proteksi Radiasi

Dalam penggunaan radiasi untuk radiografi dalam

radiodiagnostik akan memberikan kontribusi radiasi kepada banyak

pihak. Radiasi akan diterima oleh operator, hewan dan lingkungan.

Ada 3 prinsip yang telah direkomendasikan oleh International


7

Commission Radiological protection (ICRP) untuk dipatuhi

(BAPETEN, 2013), yaitu :

a. Justifikasi
Setiap pemakaian zat radioaktif atau sumber lainnya

harus didasarkan pada azaz manfaat. Suatu kegiatan yang

mencakup paparan atau potensi paparan hanya disetujui jika

kegiatan itu akan menghasilkan keuntungan yang leebih besar

bagi individu atau masyarakat dibandingkan dengan keugian

atau bahaya yang timbul terhadap kesehatan (BAPETEN,

2013).
b. Limitasi
Dosis ekivalen yang diterima pekerja radiasi atau

masyarakat tidak boleh melampaui Nilai Batas Dosis (NBD)

yang telah ditetapkan. Batas dosis bagi pekerja radiasi

dimaksudkan untuk mencegah munculnya efek deterministik

(non stokastik) dan mengurangi peluang terjadinya efek

stokastik (BAPETEN,2013)

c. Optimasi
Semua penyinaran harus diusahakan serendah-

rendahnya (as low as reasonably achievable ALARA),

dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial.

Kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir harus direncanakan dan

sumber radiasi harus dirancang dan diopeerasikan untuk

menjamin agar paparan radiasi yang terjadi dapat ditekan

serendah-rendahnya (BAPETEN, 2013) .


8

Pembatasan dosis radiasi baru dikenal pada tahun 1928 yaitu

sejak dibentuknya organisasi internasional untuk proteksi radiasi

(International Comission on Radiological Protection/ICRP). Pelopor

proteksi radiasi yang terkenal adalah seorang ilmuwan dari swedia

bernama Rolf Sievert. Ia lahir pada tahun 1896 ketika Henri Becquerel

menemukan zat radioaktif alam. Sievert kemudian diabadikan sebagai

satuan dosis paparan radiasi dalam sistem satuan Internasional (SI). 1

Sievert (Sv) menunjukan berapa besar dosis paparan radiasi dari

sumber radioaktif yang diserap oleh tubuh per satuan massa (berat),

yang mengakibatkan kerusakan secara biologis pada sel/jaringan

(BAPETEN, 2013).

Menurut rekomendasi ICRP, pekerja radiasi yang ditempat

kerjanya terkena radiasi tidak boleh menerima dosis radiasi lebih dari

50 mSv per tahun dan rata-rata pertahun selama 5 tahun tidak boleh

lebih dari 20 mSv. Nilai maksimum ini disebut Nilai Batas Dosis

(NBD). Jika wanita hamil yang ditempat kerjanya terkena radiasi,

diterapkan batas dosis yang lebih ketat,dosis radiasi paling tinggi yang

diizinkan selama kehamilan adalah 2 mSv (BAPETEN, 2013).

2.1.5 Anatomi Gigi Geligi

Struktur gigi pada manusia terbagi dalam 2 bagian yaitu bagian

mahkota dan bagian akar. Pada bagian mahkota merupakan bagian

gigi yang terlihat dalam mulut, sedangkan pada bagian akar

merupakan bagian yang tertanam di dalam tulang rahang. Gigi


9

merupakan salah satu jaringan keras tubuh yang terdiri dari

enamel/email, dentine dan sementum (Clark, 2005).

Gambar 2.1. Anatomi Gigi (Clark, 2005).

Struktur gigi pada manusia terbagi dalam 2 bagian yaitu bagian

mahkota dan bagian akar. Pada bagian mahkota merupakan bagian

gigi yang terlihat dalam mulut, sedangkan pada bagian akar

merupakan bagian yang tertanam di dalam tulang rahang. Gigi

merupakan salah satu jaringan keras tubuh yang terdiri dari

enamel/email, dentin dan sementum (Clark, 2005).

Gigi termasuk bagian dari system pencernaan. Gigi tumbuh di

dalam lesung pada rahang dan memiliki jaringan seperti pada tulang,

tetapi gigi bukanlah bagian dari kerangka, gigi lebih banyak

persamaannya dengan kulit dari pada dengan tulang (Clark, 2005).

Dalam pertumbuhannya, gigi mengalami 2 fase pergantian.

Diawali dari perumbuhan gigi susu yang lengkap pada kisaran umur 3

tahun dengan jumlah 20 gigi, kemudian diganti dengan fase gigi tetap

yang diawali pada kisaran umur 13 tahun keatas. Pertumbuhan gigi

tetap ini menjadi lengkap setelah jumlah gigi menjadi 32 gigi, sekitar

umur 17 sampai dengan umur 21 tahun. Fase diantara awal fase gigi
10

tetap sampai gigi tetap yang lengkap disebut fase gigi campuran, yaitu

antara umur 13 sampai dengan umur 17 tahun (Clark, 2005).

N Macam-macam Definisi Fungsi Gambar

O gigi
1. Gigi seri Gigi seri Untuk
adalah gigi mendoron
yang g dan
memiliki 1 mengerat
akar yang makanan
jumlahnya atau benda
ada 8, dengan lainnya.
pembagian
4 rahang atas
dan 4 berada
di rahang
bawah.
2. Gigi Taring Gigi Taring Untuk
adalah gigi mengoyak
yang makanan
memiliki atau benda
satu akar dan lainnnya.
jumlahnya
ada 4, dengan
pembagian 2
ditiap rahang.
3. Gigi Pra-Molar Gigi Pra- Menggilas
Molar adalah dan
gigi geraham mengunya
kecil, adalah h makanan
gigi yang atau benda
punya dua lainnya.
akar.
4. Gigi Molar Gigi Molar Untuk
adalah gigi melumat
yang dan
memiliki tiga mengunya
akar. h makanan
atau
11

benda-
benda
lainnya.

Tabel 2.1 Macam-macam gigi (Clark, 2005).

2.1.6 Struktur Gigi

Pada bagian gigi manusia tersusun atas 4 jaringan (Bontrager,

2001).

a. Mahkota
Mahkota merupakan bagian gigi yang menonjol dari rahang
b. Leher
Leher merupakan bagian gigi yang terletak antara mahkota dengan

bagian akar gigi


c. Akar
Akar merupakan bagian yang tertanam di dalam rahang
d. Email
Email merupakan jaringan yang berfungsi untuk melindungi

tulang gigi dengan zat yang sangat keras yang berada dibagian

paling luar gigi manusia. Email inilah yang melapisi mahkota gigi

dan mempunyai ketebalan yang bervariasi mulai bagian pucuk

mahkota dan akan semakin menipis ketebalannya pada dasar

mahkota, tepatnya pada perbatasan mahkota dengan akar gigi.


warna email gigi pun sebenarnya tidak putih mutlak,

kebanyakan lebih mengarah keabu-abuan dan semi translusen.

Kecuali pada kondisi email yang abnormal seringkali

menghasilkan warna yang menyimpang dari warna normal enamel


12

dan cenderung mengarah ke warna yang lebih gelap. Semakin

menuju ke bagian dalam dari enamel, kekerasannya akan semakin

berkurang. Bagian email ini pula yang menjadi awal terjadinya

lubang pada gigi, karena sifatnya mudah larut terhadap asam, dan

kelarutannya juga meningkat seiring dengan semakin dalamnya

lapisan enamel (Bontrager, 2001).


e. Tulang
Tulang yaitu tulang merupakan lapisan yang berada pada

lapisan yang berada pada lapisan setelah email yang dibentuk dari

zat kapur. Tulang juga merupakan bagian yang terluas dari struktur

gigi, meliputi seluruh panjang gigi mulai dari mahkota hingga akar.

Dentin pada mahkota gigi dentin dilapisi oleh email, sedangkan

tulang pada akar gigi dilapisi oleh semen (Bontrager, 2001).

f. Rongga gigi
Rongga gigi adalah rongga yang di dalamnya terdapat

pembuluh darah kapiler dan serabut-serabut syaraf (Bontrager,

2001).
g. Semen
Semen merupakan bagian dari akar gigi yang berdampingan

dan berbatasan langsung dengan bagian tulang rahang dimana gigi

manusia tumbuh. Seperti halnya pada bagian email yang melapisi

dentin, semen juga melapisi dentin namun untuk dentin pada

bagian akar gigi. Semen ini secara normal tidak tampak dari

pandangan kita namun, terutup oleh tulang dan dilapisi oleh gusi

(Bontrager, 2001).
h. Pulp
Pulp adalah rongga yang di dalamnya terdapat pembuluh

darah kapiler dan serabut-serabut saraf (Bontrager, 2001).


13

2.1.7 Patofisiologi gigi


2.1.7.1 Plak gigi
Plak gigi adalah lapisan tipis bening yang menempel pada

pemukaan gigi, gusi, dan lidah, yang berasal dari apa yang

dimasukan manusia ke dalam mulutnya terutama sisa

makanan. Plak gigi yang seiring waktu tak pernah dibersihkan

akan menjadi karang gigi, karang gigi ini akan mencengkram

leher gigi. Itulah sebabnya gigi menjadi berubah warna

menjadi kehitaman, kecoklatan, atau kehijauan. Karang gigi ini

kalau dibiarkan saja akan merusak gigi (Bontrager, 2001).


2.1.7.2 Caries (cavity)
Dental caries adalah gigi berlubang. Kondisi yang umum

terjadi dan umum juga tidak langsung diambil tindakan hingga

gigi tersebut tanggal atau sudah menimbulkan masalah yang

lebih parah (Bontrager, 2001).


2.1.7.3 Gingivitis
Gingivitis atau gusi bengkak adalah reaksi dari plak yang

terlalu lama tidak dibersihkan . keadaan ini sebenarnya tidak

berbahaya apabila langsung diambil tindakan yang tepat

dengan cara mengunjungi dokter gigi (Bontrager, 2001).


2.1.7.4 Tumor gigi
Banyak kejadian hanya karena mencoba-coba mencabut

sendiri gigi yang sakit akhirnya berujung tumor gigi. Tumor

gigi ini cukup berbahaya karena tidak saja merusak

penampilan tapi juga bisa berujung dengan kematian

(Bontrager, 2001).
2.1.7.5 Impaksi gigi Molar (geraham)
Impaksi gigi molar (geraham) adalah gigi molar ketiga

yang gagal untuk erupsi (tumbuh) secara sempurna pada


14

posisinya. Gigi terhalang oleh gigi depannya (molar dua) atau

jaringan tulang/jaringan lunak yang padat di sekitarnya.

Kemungkinannya, gigi bisa muncul sebagian atau tidak bisa

erupsi sama sekali. Kalaupun muncul, erupsi nya salah arah

atau posisinya tidak normal. Gigi demikian bisa digolongkan

sebagai gigi yang gagal bererupsi pada posisi normal

(Bontrager, 2001).
Posisi impaksi gigi molar bisa macam-macam. Ada yang

miring ke depan, vertical dan muncul sebagian,serta terpendam

horizontal atau vertical. Semua itu tergantung letak dan posisi

gigi molar ketiga terhadap rahang dan geraham kedua (molar

kedua), atau kedalamannya menancap di dalam tulang rahang

(Bontrager, 2001).
2.1.8 Tekhnik Radiografi Dental Intra-oral
2.1.8.1 Dental X-ray
Dental X-ray adalah alat yang digunakan untuk

mendapatkan gambar dari gigi, tulang, dan jaringan lunak

disekitarnya, untuk membantu menemukan masalah pada gigi,

mulut, dan rahang. Gambaran radiografinya dapat

menunjukan, struktur gigi yang berlubang, struktur gigi yang

tersembunyi (gigi bungsu) dan tulang keropos yang tidak bisa

dilihat pada pemeriksaan visual. Jenis film yang digunakan

pada pesawat radiografi dental adalah film khusus yang

merupakan single emulsi, digunakan dengan ukuran 0-22 x 35

mm : untuk anak kecil dan menggunakan teknik paralleling,

dan film dengan ukuran 2-31 x 41 mm untuk anak 6 tahun


15

keatas dan proyeksi periapical, pengolahan film dapat diproses

secara manual dan otomatis (Clark, 2005).

2.1.8.2 Indikasi Pemeriksaan Dental Intra-oral


Penilaian gigi secara keseluruhan, untuk mencatat

pertumbuhan dan posisi dari perkembangan gigi permanen

(Clark, 2005) :
a) Adanya kelainan apical atau periapical yang tidak

terdeteksi secara klinis.


b) Adanya kelainan pada rahang
c) Karies yang tersembunyi (pada proksimal atau karies akar)

karies sekunder, karies incipen, kedalaman karies.


d) Impaksi, merupakan gangguan yang terjadi pada gigi

dimana gigi yang baru tumbuh mendesak gigi di depannya

yang suda lebih dulu tumbuh, impaksi biasanya terjadi pada

molar 3 yang mendesak molar 2.


e) Antral disease, khusunya untuk melihat permukaan gigi,

dinding depan dan belakang antra.


f) Penyakit gigi, untuk mengetahui keseluruhan level tulang

alveolar
g) Penilaian terhadap beberapa penyakit sebelum melakukan

pemasangan gigi palsu


h) Penilaian terhadap pertumbuhan dan posisi gigi liar

2.1.8.3 Persiapan pasien


Persiapan pasien dalam pemeriksaan dental dengan

intra-oral pada proyeksi periapical pada kasus impaksi molar

3, pasien diminta melepas benda-benda logam, plastik dan

benda benda yang dapat mengganggu gambaran dari kepala

dan leher, kemudian pasien diberi penjelasan tentang


16

pemeriksaan dental dengan intra-ral pada proyeksi periapical,

termasuk diberitahu tentang pemasangan film dental, setelah

itu pasien di instruksikan menahan sebentar sampai proses

pemeriksaan selesai. Alat harus disiapkan dalam posisi start,

tergantung pada jenis peralatan yang digunakan, pemeriksaan

dapat dilakukan dengan pasien berdiri atau duduk (Clark,

2005).
2.1.8.4 Pengaturan posisi pasien
Pengaturan posisi pasien dengan proyeksi

periapical dengan teknik paralleling adalah pasien berdiri atau

duduk tegak pada kursi dan instruksikan pasien menghadap

pesawat dental X-ray, kemudian pilih pemegang film yang

sesuai dan film periapical yang telah dipilih, setelah itu

tempatkan blok gigitan kontak dengan tepi gigi untuk

dicitrakan. Pastikan film menutupi bagian tertentu gigi yang

akan diperiksa. Untuk rahang atas : untuk gigi seri, taring,

premolar dan molar daerah, film holder harus diposisikan agak

jauh dari gigi untuk mencapai paralelisme. Hal ini memerlukan

menggunakan seluruh yang panjang horizontal blok gigitan

dengan film holder menempati bagian tertinggi dari langit-

langit (Clark, 2005).


17

Gambar 2.2 posisi pasien proyeksi periapical dengan teknik

paralleling (Clark, 2005).

Sementara Pengaturan posisi pasien dengan

proyeksi periapical dengan teknik Bisecting angle technique

(contd) adalah pasien berdiri atau duduk tegak pada kursi dan

instruksikan pasien menghadap pesawat dental X-ray,

kemudian kepala pasien harus di dukung secara memadai

dengan pesawat medial vertical dan horizontal bidang oklusal

(Mid bidang oklusal atas dan bidang oklusal lebih rendah

untuk rahang atas dan radiografi mandibula masing-masing,

pemegang film yang digunakan :


Ukuran Film yang benar dipilih dan ditempatkan di film

holder.
Posisikan film holder intra-oral berdekatan dengan aspek

lingual/palatal dari gigi yang akan dicitrakan.


Masukkan roll kapas antara gigi menentang dan

menggigit blok.
Minta pasien untuk menutup bersama-sama secara

perlahan untuk memungkinkan bertahap akomodasi dari

pemegang Film intra-oral.


Beritahu pasien untuk terus menggigit di blok gigitan

untuk posisi pemegang Film aman.


18

Gambar 2.3 posisi pasien proyeksi periapical dengan teknik

Bisecting angle technique (Clark, 2005).

Jika jari pasien yang digunakan dalam pemeriksaan :


Ukuran Film yang benar dipilih dan diposisikan intra-

oral.
Pastikan bahwa gigi yang diperiksa berada di tengah

film
2 mm dari paket film harus melampaui insisal atau

Margin oklusal untuk memastikan bahwa seluruh gigi

dicitrakan.
Anjurkan pasien untuk lembut mendukung film baik

menggunakan jari telunjuk atau ibu jari.


Terapkan pasien jari/jempol semata-mata untuk

daerah film yang menutupi mahkota dan gingiva

jaringan gigi. Ini mengurangi kemungkinan distorsi

dengan menekuk film meliputi akar dan periapikal

jaringan
19

Gambar 2.4 posisi pasien proyeksi periapical dengan teknik

Bisecting angle technique dengan menggunakan tangan (Clarck,

2005).
2.1.8.5 Arah sinar

Arah sinar pada teknik paralleling adalah menyelaraskan

tabung X-ray yang berdekatan dengan batang indikator dan

bertujuan cincin di kedua pesawat vertical dan horizontal.

Arah sinar pada teknik teknik Bisecting angle

technique dan teknik Bisecting angle technique dengan

menggunakan tangan, sinar X-ray harus berpusat vertikal pada

titik tengah gigi untuk diperiksa (Clark, 2005)

2.1.8.6 Pengambilan gambar

Pada proyeksi periapical ini teknik paralleling dengan

menggunakan film holder, teknik paralleling menggunakan

teknik pengambilan gambar yaitu posisi pasien tepat dan

pastikan bahwa gigi yang diperiksa berada di tengah film.

Eksposi pasien dilakukan Pada pengambilan gambar molar

maksila film ditempatkan pada film holder dalam orientasi

horizontal. Molar kedua terletak di tengah film dengan pusat


20

sinar-X tegak lurus terhadap film. Sentral dari sinar-X berada

di bawah sudut luar mata ke daerah tengah pipi. Gambaran

radiografi yang akan diperoleh adalah mahkota dan apical dari

molar pertama, kedua dan ketiga (Clark, 2005).

Teknik Bisecting angle dan teknik Bisecting angle dengan

menggunakan tangan, dan tidak menggunakan film holder.

teknik ini menggunakan teknik pengambilan gambar yaitu

posisi pasien tepat dan pastikan bahwa gigi yang diperiksa

berada di tengah film. Eksposi pasien dilakukan Angulasi

vertikal teknik bisecting pada daerah mandibula adalah

insisivus sentral, insisivus lateral dan kaninus dengan sudut

penyinaran 15 sampai 20 premolar pertama, premolar kedua

dan molar pertama dengan sudut penyinaran 10, molar kedua

dan molar ketiga dengan sudut penyinaran 5 sampai 0

14
sampai 5 . Setelah dilakukan pemeriksaan, film dilepaskan

dari pasien dan pasien dipersilahkan meninggalkan ruangan

kemudian bisa dilakukan processing film dengan

menggunakan manual maupun automatic (Clark, 2005).

2.2 Tinjauan Terdahulu


21

2.3 Kerangka Konsep

tata laksana pemeiksaan radiografi Impaksi merupakan gangguan


dental dengan intra-oral pada yang terjadi pada gigi dimana
kasus impaksi molar 3 dengan gigi yang baru tumbuh
proyeksi periapical (Clark, 2005) mendesak gigi di depannya yang
sudah lebih dulu tumbuh,
impaksi biasanya terjadi pada
molar 3 yang mendesak molar 2
(Langland, 1989).

bisecting
paralleling bisecting angle
teknik angle teknik teknik
dengan
tangan

Hasil Radiograf

Tujuan khusus penelitian ini untuk mengetahui tata


laksana pemeiksaan radiografi dental dengan intra-
oral pada kasus impaksi molar 3 dengan proyeksi
periapica
22

Gambar 2.5 Kerangka Konsep