Anda di halaman 1dari 8

Optimalisasi Literasi Financial Technology untuk meningkatkan

Capital Raising kepada Pelaku UMKM melalui Platform Terpadu


untuk Meningkatkan Perekonomian Digital Indonesia

Ditulis oleh:
Devi Citra Pratiwi

Program Studi Akuntansi


Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta

No. Handphone:
082113844596
Optimalisasi Literasi Financial Technology untuk meningkatkan Capital
Raising kepada Pelaku UMKM melalui Platform Terpadu untuk
Meningkatkan Perekonomian Digital Indonesia

Barisan orang-orang dengan jaket hijau nampak memenuhi antrian sebuah restoran
mie lokal di Yogyakarta. Dengan genggaman smartphone ditangan mereka masing-masing,
satu persatu menyampaikan pesanan kepada pramusaji restoran tersebut, kemudian duduk di
bangku panjang diluar area makan restoran tersebut seraya menunggu pesanan pelanggan
mereka siap diantarkan. Mereka tentu saja bukan karyawan pengantar yang dipekerjakan
restoran tersebut, melainkan para driver dari perusahaan digital startup di bidang transportasi
yang sedang mendulang sukses di Indonesia. Fenomena tersebut tentu bukan merupakan hal
yang asing di era yang serba terdigitalisasi saat ini. Indonesia sebagai negara G-20 memang
merupakan salah satu negara yang memiliki potensi ekonomi digital tinggi yang ditargetkan
menjadi The Digital Energy of Asia. Apalagi saat ini menurut Asosiasi Penyelenggaran
Jaringan Internet Indonesia (APJII) pengguna internet di Indonesia telah mencapai 132,7 juta
dari 256, 2 juta jiwa atau sekitar 52% dari total keseluruhan penduduk Indonesia yang tentu
saja menjadi angin segar bagi optimalisasi perekonomian digital.1
Peningkatan bisnis di bidang digital di Indonesia juga pada dasarnya mengalami
peningkatan yang signifikan beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang dihasilkan BPS
melalui Sensus Ekonomi 2016, dalam kurun waktu 10 tahun terhitung dari tahun 2006-2016,
jumlah e-commerce di Indonesia meningkat hingga 17% dengan total mencapai 26,2 juta
usaha. Berkembangnya kreatifitas dan inovasi-inovasi baru pasar digital di berbagai sektor,
antusiasme target pasar yang potensial, ditambah lagi dengan keseriusan pemerintah dalam
mengoptimalkan perekonomian dibidang digital melalui peluncuran roadmap e-commerce,
secara signifikan telah meningkatkan aktivitas dalam perekonomian digital. Selain itu, tidak
terbatas pada bisnis bersifat komersial semata, peningkatan ekonomi digital di sektor
finansial melalui financial technologi (fintech) juga tidak bisa dianggap remeh. Menurut data
dari Bank Indonesia setidaknya terdapat 142 usaha fintech di Indonesia dengan total nilai
transaksi diperkirakan mencapai USD 14,5 milyar pada tahun 2016, atau setara dengan 0.6%
dari total nilai transaksi global.2

1 Merina, Nely. Data Pengguna Internet di Indonesia. http://goukm.id/data-


pengguna-internet-di-indonesia-2016/
Namun, seringkali terdapat miskonsepsi terhadap definisi fintech dengan e-business
lainnya seperti e-commerce. Fintech seperti yang dilansir dari Bank Indonesia didefinisikan
sebagai fenomena terjadinya fusi antara teknologi dan kegiatan finansial yang
mentrasformasikan model bisnis dan melemahkan batasan-batasan pemain baru dalam
memasuki jasa institusi finansial pada umumnya. 3 Berkembangnya fintech semakin membuat
inovasi keuangan akan semakin terpusat pada pengguna (customer driven) dibandingkan pada
dekade-dekade sebelumnya yang lebih terfokus pada bank (bank driven).
Fintech sendiri memiliki empat subsektor yaitu:
a. Deposits, lending and capital raising
b. Market provision
c. Payment, clearing and settlement, serta
d. Investment and risk management4
Dengan meningkatnya pergerakan fintech pada sektor-sektor, maka dapat disimpulkan
bahwa fintech menjadi salah satu aspek fundamental dalam meningkatnya kegiatan bisnis
digital yang berimplikasi terhadap peningkatan perekonomian digital. Jika dikaji lebih dalam
lagi, maka salah satu sektor fintech yang sangat potensial untuk mengakselerasi pertumbuhan
ekonomi digital adalah pada sektor deposits, lending dan capital raising. Sayangnya, hingga
saat ini peran fintech dalam sektor tersebut masih cenderung terfokus pada perusahaan digital
startup di tingkat menengah atas hingga besar dan belum menjangkau UMKM. Padahal
UMKM merupakan sektor yang sangat potensial untuk dioptimalkan dan tidak bisa
diremehkan kontribusinya terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara sebagai salah
satu indikator kesejateraan perekonomian. Mengapa demikian?
Berdasarkan data dari BPS jumlah UMKM di Indonesia mencapai angka 56,5 juta
usaha pada tahun 2016. Di tahun yang sama sektor UMKM juga berkontribusi terhadap PDB
dengan persentase mencapai 60,3% dengan serapan tenaga kerja hingga 97,22%. 5 Tak
mengherankan jika pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap UMKM

2 Bank Indonesia. 2016. Analisa Peluang Indonesia dalam Era Ekonomi Digital
dari Aspek Infrastruktur, Teknologi, SDM, dan Regulasi Penyelenggara dan
Pendukung Jasa Sistem Pembayaran

3 Bank Indonesia. 2016. Analisa Peluang Indonesia dalam Era Ekonomi Digital
dari Aspek Infrastruktur, Teknologi, SDM, dan Regulasi Penyelenggara dan
Pendukung Jasa Sistem Pembayaran

4 Idem

5 Kementrian Perindustrian Republik Indonesia. 2016. Kontribusi UMKM Naik


karen UMKM memiliki potensi yang sangat tinggi untuk meningkatkan perekonomian
negara. Namun sayangnya optimalisasi pengembangan UMKM masih memiliki sejumlah
kendala. Salah satu yang sudah umum diketahui adalah pada masalah pendanaan atau
permodalan. Menurut Bank Indonesia, sebanyak 60-70% usaha UMKM masih belum
memiliki akses dan informasi terkait pembiayaan. Statistik pembiayaan UMKM saat ini
umumnya masih didominasi oleh perbankan dengan prosentase oleh 50% Bank Persero, 40%
Bank Swasta Nasional, 7% BPD dan 3% Bank Asing6.
Dalam hal ini fintech harusnya mempunyai peluang untuk meningkatkan sektor
finansial UMKM. Namun pada realitanya, peran fintech dalam sektor deposits, lending dan
capital raising sebagai sarana finansial untuk pengembangan UMKM masih belum dikenal
baik oleh pelaku UMKM itu sendiri. Fintech saat ini memang lebih banyak bergerak pada
sektor payment, clearing dan settlement dengan persentase mencapai 56%.7 Ditambah lagi
secara khusus operasional fintech belum diregulasikan secara khusus oleh Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) untuk menjamin keamanan berinvestasi dan perlindungan konsumen.
Padahal Fintech memiliki beberapa keunggulan sebagai penunjang modal UMKM
dibandingkan dengan bank konvensional. Seperti yang dikutip dari Reynold Wijaya, Co-
Founder dan CEO Modalku (startup Fintech untuk pembiayaan UMKM) dalam Indonesian
Fintech Conference 2016, Fintech bisa menjawab kebutuhan pembiayaan peer to peer (P2P)
yang tidak bisa dilayani bank konvesnsional seperti melayani pembiayaan kurang dari Rp 10
juta dengan tenor kurang dari 2 tahun. Selain itu dengan basis operasional berupa teknologi
infomasi, Fintech lebih efisien dibandingkan bank konvensional karena tidak memerlukan
kantor cabang, karyawan yang banyak atau perangkat lainnya serta tata aturan yang ketat. 8
Persyaratan pengajuan dana UMKM ke bank konvensional juga dinilai cukup sulit terutama
untuk perusahaan startup atau yang masih sederhana. Hal ini membuat fintech harusnya lebih
diminati karena lebih fleksibel dan sangat feasible bagi UMKM untuk mengajukan
permohonan pendanaan.

6 LPPI, Bank Indonesia. 2015. Profil Bisnis UMKM. Halaman 2

7 Bank Indonesia. 2016. Analisa Peluang Indonesia dalam Era Ekonomi Digital
dari Aspek Infrastruktur, Teknologi, SDM, dan Regulasi Penyelenggara dan
Pendukung Jasa Sistem Pembayaran

8 Liliyah, Arie. 2016. Benarkah Fintech Mengancam Kredit UMKM Perbankan.


SWA Magazine
Kendala lainnya selain dari sisi regulasi dan operasional adalah kurangnya sosialisasi
mengenai fintech dan masih tingginya gap terkait literasi dan edukasi penggunaan internet
pada demografis Indonesia terutama pada daerah-daerah kecil. Meskipun secara statistik
pengguna internet di Indonesia telah mencapai jumlah yang signifikan, namun menurut APJII
persebaran pengguna internet masih terpusat di pulau-pulau besar terutama pulau Jawa.
Terkait dengan fintech sendiri, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo)
Rudiantara mengatakan, masih banyak pelaku UMKM yang enggan untuk melakukan
transaksi menggunakan internet. Menurut Muhammad Awaluddin, Direktur Enterprise &
Business Telkom, Usaha Kecil yang memanfaatkan ICT baru 4%, dimana dari 500.000
pelaku UMKM yang gabung di portal. Sekitar 80%-nya baru fokus ke connectivity, belum ke
content.9 Hal ini disimpulkan sebagai implikasi kurangnya sosialisasi digital ekonomi itu
sendiri pada UMKM yang juga berasosiasi dengan tingkat kepercayaan pendidikan dan
pemahaman literasi keuangan dengan basis digital dari pelaku UMKM.
Untuk itu perlu dirumuskan solusi yang sesuai untuk permasalahan tersebut. Solusi
yang dapat dilakukan antara lain pembuatan platform fintech khusus terpadu yang difokuskan
pada capital raising sektor UMKM yang mudah digunakan dan memiliki payung hukum
yang, serta optimalisasi sosialisasi fintech pada pelaku UMKM.
Platform fintech terpadu yang dimaksud nantinya dapat diderivatifkan dalam bentuk
aplikasi mobile maupun basis web, yang nantinya akan diakses oleh pelaku UMKM
dimanapun untuk kepentingan finansial seperti capital raising. Prinsip kerjanya bersifat
akomodatif dan edukatif, tapi juga tetap memprioritaskan perlindungan investor dan pelaku
usaha. Pelaku UMKM yang ingin menghimpun dana melalui fintech pertama-tama harus
mendaftarkan diri pada platform tersebut untuk masuk ke tahap verifikasi usaha. Setelah
resmi terdaftar, perlaku UMKM akan dapat mengakses menu tata cara dan persyaratan untuk
memperoleh dana dari pihak ketiga mulai dari syarat dan ketentuan umum, alur kerja,
sistematika pendanaan, manajemen risiko dan dokumen-dokumen yang harus diunduh untuk
tahap verifikasi modal. Tahapan selanjutnya adalah memilih pihak ketiga yang akan
diprospek untuk capital raising, platform akan memberikan list perusahaan-perusahaan
fintech yang compatible dan paling potensial dengan proposal UMKM yang diajukan, untuk
dipilih oleh pelaku UMKM. Tahapan terakhir adalah penentuan jadwal pertemuan kepada
perusahaan prospek untuk mempresentasikan proposal pendanaan secara langsung sebelum
akhirnya disetujui oleh perusahaan prospek.
9 Noor, Achmad Rouzni. 2015. Usaha Kecil yang Manfaatkan ICT baru 4 persen.
Detik.com
Berikut adalah skema alur dari platform yang disarankan.
Dengan adanya platform tersebut maka fungsi fintech dalam menyediakan
kebutuhkan pendanaan bagi UMKM akan lebih terakomodasi. Platform tersebut berperan
sebagai jembatan penghubung antara pelaku UMKM dengan perusahaan fintech penyedia
dana. Pelaku UMKM juga lebih mudah mempersiapkan persiapan pengajuan pendanaan
karena semua sudah terstandardisasi. User interface dari platform ini nantinya juga dirancang
untuk mudah digunakan oleh semua pelaku UMKM untuk segala usia.

Setelah adanya platform yang memadai, tentu saja harus didukung oleh sosialisasi
yang optimal dari pemerintah dan perusahaan fintech penyedia dana kepada pelaku UMKM
secara menyeluruh serta peningkatan akses internet dan literasi perekonomian digital pada
daerah-daerah pelosok. Sehingga penggunaan platform untuk memaksimalkan pendanaan
UMKM dapat menjangkau seluruh UMKM tidak hanya di kota besar namun juga di kota-
kota kecil dan daerah pelosok. Dengan menguatnya sektor UMKM melalui financial
technology, maka target Indonesia menjadi Negara Ekonomi Digital terbesar di Asia
Tenggara pada tahun 2020 akan lebih realistis untuk diwujudkan.
REFERENSI

Bank Indonesia. 2016. Analisa Peluang Indonesia dalam Era Ekonomi Digital dari
Aspek Infrastruktur, Teknologi, SDM, dan Regulasi Penyelenggara dan Pendukung
Jasa Sistem Pembayaran. Bogor: Temu Ilmiah Nasional
LPPI, Bank Indonesia. 2015. Profil Bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.
Pusat Penilitian Badan Keahlian DPR RI. 2009. Prospek Ekonomi Digital Bagi
Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta
Marina, Nely. 2017. Data Pengguna Internet di Indonesia. (http://goukm.id/data-
pengguna-internet-di-indonesia-2016/). Diakses 17 Februari 2017
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. 2015. 2020 Indonesia Menyasar Jadi
Negara Ekonomi Digital Terbesar di Asia Tenggara.
(http://www.kemenkeu.go.id/Berita/2020-indonesia-menyasar-jadi-negara-ekonomi-
digital-terbesar-di-asia-tenggara%3Ftag%3D). Diakses 17 Februari 2017.
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. 2016. Kontribusi UMKM Naik.
(http://www.kemenperin.go.id/artikel/14200/Kontribusi-UMKM-Naik). Diakses: 17
Februari 2017.
Liliyah, Arie. 2016. Benarkah Fintech Mengancam Kredit UMKM Perbankan.
(http://swa.co.id/swa/business-strategy/benarkah-fintech-mengancam-kredit-umkm-
perbankan). Diakses 17 Februari 2017.
Pratama, Aditya Hadi. 2017. Perkembangan Startup Fintech di Indonesia 2016.
(https://id.techinasia.com/perkembangan-startup-fintech-di-indonesia-2016). Diakses
17 Februari 2017.
Noor, Achmad Rouzni. 2015. Usaha Kecil yang Manfaatkan ICT baru 4 persen.
(https://inet.detik.com/business/d-2960286/usaha-kecil-yang-manfaatkan-ict-baru-4).
Diakses 17 Februari 2017.