Anda di halaman 1dari 4

Katon Vembriarto Widyaswara

13114148

Kebijakan Maritim Presiden Jokowi


Luas lautan dibandingkan luas daratan di dunia mencapai kurang lebih 70
berbanding 30, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi negara-negara di dunia
yang memiliki kepentingan laut untuk memajukan maritimnya. Seiring
perkembangan lingkungan strategis, peran laut menjadi signifikan serta dominan
dalam mengantar kemajuan suatu negara. Indonesia secara geografis merupakan
sebuah negara kepulauan dengan dua pertiga luas lautan lebih besar daripada
daratan. Hal ini bisa terlihat dengan adanya garis pantai di hampir setiap pulau di
Indonesia ( 81.000 km) yang menjadikan Indonesia menempati urutan kedua
setelah Kanada sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia.
Kekuatan inilah yang merupakan potensi besar untuk memajukan perekonomian
Indonesia.

Data Food and Agriculture Organization di 2012, Indonesia pada saat ini
menempati peringkat ketiga terbesar dunia dalam produksi perikanan di bawah
China dan India. Selain itu, perairan Indonesia menyimpan 70 persen potensi
minyak karena terdapat kurang lebih 40 cekungan minyak yang berada di perairan
Indonesia. Dari angka ini hanya sekitar 10 persen yang saat ini telah dieksplor dan
dimanfaatkan.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum merasakan peran


signifikan dari potensi maritim yang dimiliki yang ditandai dengan belum
dikelolanya potensi maritim Indonesia secara maksimal. Dengan beragamnya
potensi maritim Indonesia, antara lain industri bioteknologi kelautan, perairan
dalam (deep ocean water), wisata bahari, energi kelautan, mineral laut, pelayaran,
pertahanan, serta industri maritim, sebenarnya dapat memberikan kontribusi besar
bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.

Dalam hal ini, peran Pemerintah (government will) dibutuhkan untuk bisa
menjaga dan mempertahankan serta mengolah kekayaan dan potensi maritim di
Indonesia. Untuk mengolah sumber daya alam laut ini, diperlukan perbaikan
infrastruktur, peningkatan SDM, modernisasi teknologi dan pendanaan yang
berkesinambungan dalam APBN negara agar bisa memberi keuntungan ekonomi
bagi negara dan juga bagi masyarakat. Sebagaimana halnya teori lain yang
dikemukakan oleh Alfred Thayer Mahan mengenai persyaratan yang harus dipenuhi
untuk membangun kekuatan maritim, yaitu posisi dan kondisi geografi, luas
wilayah, jumlah dan karakter penduduk, serta yang paling penting adalah karakter
pemerintahannya.

Pada Sidang Paripurna DPR RI 29 September 2014 lalu, RUU Kelautan telah
disahkan menjadi UU Kelautan. Hal tersebut merupakan langkah maju bangsa
Indonesia sekaligus menandai dimulainya kebangkitan Indonesia sebagai bangsa
bahari yang kini tengah bercita-cita menjadi Negara Maritim. UU Kelautan akan
menjadi payung hukum untuk mengatur pemanfaatan laut Indonesia secara
komprehensif dan terintegrasi.

Seiring dengan hal tersebut, Presiden terpilih Joko Widodo, yang baru saja
dilantik secara resmi sebagai Presiden Republik Indonesia, memfokuskan pada
pentingnya peran Maritim Indonesia dengan visi menjadikan Indonesia sebagai
poros maritim dunia. Hal ini merupakan kebijakan strategis, mengingat memang
Indonesia merupakan negara bahari yang dikelilingi oleh lautan. Seluruh alur
pelayaran dunia akan melalui lautan Indonesia sebagai jalur strategis sehingga
harusnya dapat dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai pendekatan diplomasi dalam
menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Untuk mewujudkan Indonesia
sebagai poros maritim dunia, terdapat ide untuk membentuk sebuah kementerian
maritim yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

Pentingnya eksistensi Kementerian Maritim ini lebih ditunjukkan pada beban-


beban tugasnya di daerah pesisir. Kementerian Maritim mempunyai tugas untuk
bisa mengintegrasikan persoalan-persoalan maritim serta solusinya dan
menyosialisasikan kepada masyarakat di wilayah pesisir Indonesia sebagai
pelaksana pertama terhadap hal-hal yang terjadi di lautan Indonesia.

Visi misi presiden Joko widodo dengan nawa citanya, salah satunya adalah
membawa Indonesia menuju poros maritim dunia. Implementasi dari visi ini adalah
membawa Indonesia berdaulat di bidang kemaritiman, mandiri di ekonomi maritim
dan meningkatkan semangat juang jiwa bahari. Untuk itu dibuat empat fokus
program.Empat program tersebut diantaranya meneguhkan kedaulatan maritim.
Memanfaatkan secara lestari sumber daya alam kita baik di hayati maupun
nonhayati. Membangun infrastruktur, salah satunya adalah tol laut dan bangsa
Indonesia kembali menjadi bangsa bahari yang modern dengan dukungan iptek
dengan inovasi dan kreatif generasi mudanya.

Salah satu dari kebijakan paket pemerintah adalah memberikan bebas PPN
(Pajak Pertambahan Nilai) untuk galangan kapal, mempercepat restitusi pajak,
mempermudah tax allowances untuk PPh (Pajak Penghasilan), memberikan
keringanan dalam sewa lahan untuk galangan kapal, memberikan dukungan iptek
melalui National Ship Design Center yang ada di Surabaya. NSDC adalah pusat
desain perancangan kapal di ITS, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.

Satu lagi kebijakan beliau adalah menurunkan dwelling time. Target dwelling time
adalah 4,7hari, dari barang diangkat keluar container, keluar dari kapal, masuk ke
precustom clearance lalu ke bea cukai.

Tetapi dilapangan banyak sekali masalah yang dihadapi. Salah satunya mengenai
pengarsipan atau penataan dokumen. Masih minimnya kesadaran tentang dokumentasi,
kondisi lapangan dan minimnya infrastruktur terutama di wilayah sekitar perbatasan sering kali
menjadi persoalan utama.

Salah satu contoh nyata, Indonesia tidak memilik data resmi tentang jumlah
nelayan Indonesia yang ditangkap dan bahkan ditahan oleh pengadilan Australia
akibat tuduhan melakukan penangkapan ilegal di perairan Australia. Selama ini data
lebih bersumber dariAustralian Fisheries Management Authority (AFMA).

Hal ini semakin dimaklumi misalnya jika melihat kondisi lapangan bahwa
perjalanan dari pusat pemerintahan di Pulau Rote menuju Desa Nelaya Pepela
memakan waktu sekitar dua jam. Bahkan, seorang nelayan di desa nelayan di
Tablolong, Kupang mengatakan sukarnya mengurus izin jalan kapal yang harus
memakan waktu sekitar dua jam ke pusat kota dengan biaya naik ojek sekitar
Rp100.000, bahkan belum tentu sehari selesai karena kadang kala petugasnya
absen.

Padahal, dokumentasi menjadi instrumen penting, tidak saja sebagai dasar


proses pengambilan keputusan yang penting, namun juga sebagai bukti kuat dalam
diplomasi perbatasan. Dokumentasi menjadi instrumen penting dalam upaya sinergi
dan berlanjutan pembentukan peradaban maritim Indonesia.

Sumber :

http://www.perumperindo.co.id/publikasi/artikel/171-potensi-indonesia-sebagai-
negara-maritim

http://kemenkeu.go.id/en/Video/Arah%20Kebijakan%20Bidang%20Kemaritiman
%20Nasional%20

http://nasional.sindonews.com/read/924546/18/sinergi-kebijakan-maritim-indonesia-
1416026323/1