Anda di halaman 1dari 4

Sekilas tentang Birokrasi

Birokrasi berasal dari dua kata dari bahasa prancis, yang memilki arti tersendiri. Bureu
berarti office table (meja kantor) yang bertujuan sebagai alat kerja manusia atau juga diartikan
sebagai hukum untuk mencapai to-role. Dengan demikian akan menghasilakan aturan-aturan dan
juga kekuasaan. Crasy berarti power atau dalm bentuknya berupa outority yang menghasilkan
power dan legitimation. Dengan demikian secara sederhana birokrasi menghasilkan orang yang
diberi wewenang untuk menjalankan kekuasaan (Salim, 2002: 97).

Dalam weber diktionary, istilah birokrasi (bureaucracy) diartikan sebagai The


administrasion of gaforment trough departmens and subdivision meneget by sets of official
following an inflexible rautine (administrasi pemerintah melalui beberapa departemen dan
beberapa sub bagian yang dikelola oleh sekelompok pejabat untuk mengikuti rutinitas yang
kaku). Dalam kamus lengkap bahasa Indonesia karya Budiono, Birokrasi didefinisikan sebagai
pemerintah yang di jalankan oleh pegawai bayaran yang tidak terpilih oleh rakyat cara
pemerintah yang dikuasai oleh kaum pegawai negaeri cara kerja atau aturan kerja yang
terlampau lambat, serba menurut aturan yang berliku-liku (Azizy, 2007: 73).

Menurut Blau (1987), birokrasi mencakup tiga unsur utama, yaitu adanya aturan, memiliki
prosedur, dan mengandung kerumitan. Lebih rinci lagi birokrasi diuraikan sebagai: a) pembagian
kerja yang pasti b) pembagian tugas berdasarkan prinsip hirarki c) dijalankannya jenjang
berdasarkan aturan d) mekanisme kerja dijalankan secara obyektif. e) rekruitmen yang
dijalankan berdasarkan aturan tertentu f) pengalaman secara universal, harus dijalankan secara
efisien sehingga tercapai efektivitas tujuan kegiatan.

Dalam kamus politik birokrasi di definisikan sebagai (a) system pemerintahan yang
dijalankan oleh pegawai pemerintah oleh karena ia berpegang pada hirarki dan jenjang jabatan.
(b) cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban dan menurut tata auturan (adat dan
sebagainya) yang banyak lika likunya; (c) Birokrasi sering melupakan tujuan pemerintah yang
sejati, karena terlalu mementingkan cara dan bentuk. Ia menghalangi pekerjaan yang cepat serta
menimbulkan semangat menanti, menghilangkan inisiatif terikat dalam peraturan yang jelimet
dan bergantung kepada pemerintah atasan, berjiwa statis, dank arena itu menghambat kemajuan
(Tamim, 2004: 78).

Warsito Utomo (2006: 167) Guru besar dan pengelola pascasarjana UGM, menyebutkan
bahwa Birokrasi dan birokrat merupakan pelaksana dari kebijakan-kebijakan yang telah dibuat
oleh pejabat politis untuk direalisasikan. Beberapa pengertian diatas menggambarkan birokrasi
dengan begitu negative. Memang dalam banyak hal, tuduhan mengenai kekakuan tersebut tidak
meleset. Namun keterikatan yang kaku ini tidak semata-mata disebabkan oleh perilaku birokrat,
tetapi justru merupakan akibat system atau akibat tindakan lembaga lain, baik yang berkaitan
dengan pemeriksaan keuangan maupun lembaga penegak hokum. Dalam dunia korporat,
penjebolan terhadap prosedur tetap dianggap sebagai out of the box tetapi dalam system kerja
birokrasi dianggap melawan hokum. Ancaman jeratan hokum terhadapnya sangat berat,
sedangkan dalam korporat tindakan tersebut justru akan memperoleh reward yang luar biasa.
Kendala dalam birokrasi ini yang menjadi belenggu dasyat terhadap kreatifitas, inovasi dan
imajinasi pimpinan dalam menjalankan leadership management. Sebenarnya masih banyak
birokrat yang baik dan mempunyai dedikasi tinggi, tetapi dalam waktu bersamaan mereka
menyadari betul kendala itu.

Budaya birokrasi juga menjadi faktor yang sangat penting dalam menjalankan kegagalan
birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada masyrakat. Praktik-praktik dan simbol-simbol
yang selama ini berkembang, dalam birokrasi dan pemerintah sangat jauh dari kepentingan
publik. Praktik-praktik penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan pelayanan publik yang
mengabaikan kepentingan masyrakat selama ini dianggap wajar dan bahkan memiliki kekuatan
normatif. Simbol-simbol seperti penguasa tunggal, stabilitas nasional, kepentingan negara dan
pembangunan telah menjadi basis dan kriteria dalam penyelenggaraan pemerintah dan
pelayanan publik (Dwiyanto, 2003: 7).

Nilai yang menghargai HAM, keadilan, dan kebebasan kerang menempati posisi sentral
dalam kehidupan pemerintah dan birokrasinya. Ini semua ikut menjelaskan mengapa perilaku
birokrasi dan pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah dan pelayanan cenderung tidak
responsif dan tidak aspiratif terhadap kepentingan masyrakat dan warga negaranya.

Hukum dan birokrasi; kasus di Indonesia


Pada akhir tahun 2009 ini masyarakat Indonesia disuguhi dengan tontonan beberapa kasus
yang menunjukkan ke-tidak adilan dan permasalahan hukum dan birokrasi di Negara demokrasi.
Indonesia ini. Setiap hari dalam media televisi tidak terlepaskan dari pemberitaan tentang
permasalahan hukum dan birokrasi di Indonesia ini. Permasalah hukum dan birokrasi yang
mencuat pada tahun 2008/2009 ini dimulai dengan terbongkarnya kasus korupsi artalita suryani
yang menyuap salah satu oknum di jajaran penegak hukum di Indonesia ialah jajaran Kejaksaan
Agung, yakni Jaksa Muda UripTri Gunawan yang merupakan Ketua Tim Penyelidikan Kasus
BLBI-BDNI yang melibatkan artalita suryani. Tak tanggung-tanggung, ia menerima suap
sebanyak US 660.000 atau sekitar Rp 6,1 milyar dari Artalyta Suryani, teman baik Sjamsul
Nursalim, pengusaha yang terkait kasus BLBI. Jaksa itu, oleh KPK, telah dijadikan tersangka
penerima suap, kendati ia membantah dan mengakuinya sebagai transaksi jual-beli permata.
Namun KPK berkeyakinan telah punya bukti kuat bahwa hal itu adalah suap.

Antasari Azhar, lalu selanjutnya kasus penahanan pimpinan KPK yang lainnya yakni Candra
dan Bibit. petinggi penegak hukum di Indonesia yakni Kabareskrim Mabes Polri susno Aji dan
juga wakil jaksa A.H Sitonga. mencuatnya kasus tersebut terbuka juga kasus-kasus lainya yakni
kasus century yang menghabiskan dana sekitar 6 tririlun yang juga melibatkab petinggi
pemerintahan yakni Mantan Direktur Bank Indonesia yang sekrang menjabat sebagai wakil
presiden Republik Indonesia Budiono dan juga Menteri keuangan Sri Mulyani.

awal tahun 2009 ini tim satgas pemberantasan mafia hukum yang dibentuk presiden susilo
bambang yudhoyono bersama kementrian hukum dan ham, telah menangkap ketidakadilan
hukum di Indonesia yakni tersangka penyuapan Artalita suryani mendapat fasilitas yang berbeda
seperti halnya fasilitas hotel bintang 5 yang berbeda dengan terpidana lainnya yang harus
merasakan dinginnya tidur di lantai lapas padahal kejahatan nya tidak lebih jahat dari artalita
suryani. Lalu masuk ke permasalahn birokrasi di Indonesia. Anggodo adalah potret dari pada
orang Tionghoa yang ada di Indonesia, dengan kakaknya Anggoro sebagai pengusaha penyedia
peralatan radio komunikasi kepada Departemen Kehutanan (kasus yang menjerat dirinya
sehingga sekarang dikenal setiap orang).

Proses birokrasi seringkali memakan waktu yang panjang dalam pengurusan surat ketika
kita berhubungan dengan instansi pemerintah, entah memang lama atau dilama-lamakan hanya
Tuhan dan orang tersebut yang tahu. Tidak heran biro jasa/calo tumbuh di mana-mana bak jamur
di musim hujan, yang membantu kita mengurus perizinan dengan instasi
pemerintah.Diversivikasi pelayanan (tidak ingin menyebut secara radikal diskriminasi
berdasarkan ciri fisik) terjadi sampai ke instansi terendah di kelurahan. Untuk mengurus KTP
saja bisa beragam harga yang diberikan, padahal sepanjang pengetahuan saya harusnya KTP itu
sudah gratis.

Kemudian kasus Nunun Nurbaeti yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap
pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004 ini pada Mei 2011. Keterlibatan Nunun
dalam kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia ini beberapa kali disebut
dalam persidangan terdakwa Dudhie Makmun cs. Dalam persidangan terungkap bahwa cek
pelawat yang diterima Dudhie cs berasal dari Nunun melalui Arie Malangjudo.

Rangkaian kasus-kasus permasalahan hukum dan birokrasi di Indonesia diatas merupakan


satu mol NaCl dari Ribuan bahkan jutaan mol NaCl di lautan sana. Begitu banyak sekali kasus
semacam kasus-kasus diatas yang terjadi di Indonesia ini. Lalu apa yang bisa kita lakukan.
Mungkin kita hanya bisa berharap para penegak penegak hukum itu sadar akan keadaan bangsa
kita ini sekarang. Rakyat manunggu REFORMASI di bidang hukum dan birokrasi di Indonesia
ini. Rakyat Indonesia Menunggu REFORMASI di Instasi PEnegakan HUkum di Indonesia
( POLRI, Kejaksaan, KPK, dsb) Apa yang presiden terpilih kita Presiden SBY yang menjajikan
reformasi di bidang hukum dan birokrasi ini belum sepenuhnya terlaksana namun terlihat ada
sekit upaya dari Presiden SBY, cotohnya dengan dibentuknya Tim Satgas Pemberantasan Mafia
Hukum di Indonesia.

Baru-baru ini di smester dua tahun 2013 kita dikejutkan dengan kasus suap yang dilakukan
oleh adik gubernur banten (wawan) kepada ketua MK aqil mukhtar dan yang lebuh parah lagi
ditemukan obat-obatan terlarang di ruang kerja-nya tersebut. Presiden SBY pun tururn tangan
yang akhirnya membentuk tim kehormatan MK dan mengeluarkan PERPU tentang pengawasan
MK, dan mencabut independensi MK sebagai intitusi tertinggi hukum harus diawasi oleh KY.
Sifat Keputusan
Seperti dijelaskan dalam artikel Perbedaan Keputusan Dengan Peraturan, suatu
keputusan (beschikking) selalu bersifat individual, kongkret dan berlaku sekali selesai
(enmahlig). Sedangkan, suatu peraturan (regels) selalu bersifat umum, abstrak dan berlaku secara
terus menerus (dauerhaftig).

Pengertian dan Istilah KEPUTUSAN TATA USAHA


NEGARA
Keputusan Tata Usaha Negara pertama kali diperkenalkan oleh Otton Meyer, seorang
sarjana asal Jerman dengan istilah verwaltungsakt dan kemudian di Belanda dikenal dengan
istilah beschikking oleh Van Vollenhoven dan C.W. van der Pot. Di Indonesia, para pakar banyak
yang mengartikan istilah beschikking dengan dua asal kata terjemahan, yaitu keputusan serta
ketetapan. MenurutPasal 1 Angka (3) UU No. 5 Tahun 1986, yang berisi kompetensi absolute
peradilan tata usaha Negara, menyatakan pengertian dari keputusan tatan usaha Negara yaitu,
Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
bersifat Konkret, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau
badan hukum perdata. Unsur-unsur beschikking atau keputusan yaitu antara lain:

1. Pernyataan kehendak sepihak


2. Dikeluarkan oleh organ pemerintahan
3. Didasarkan pada kewenangan hukum yang bersifat public
4. Ditujukkan untuk hal-hal khusus atau peristiwa konkret dan individual;
5. Menimbulkan akibat hokum dalam bidang administrasi

Syarat pembuatan keputusan/ketetapan yaitu terdiri atas 2 macam antara lain syarat material
dan formil. Syarat material berupa bahwa organ yang membuat keputusan harus berwenang,
keputusan tidak boleh mengandung kekurangan-kekurangan yuridis, keputusan harus
berdasarkan suatu keadaan tertentu dan keputusan harus dapat dilaksanakan tanpa melanggar
peraturan-peraturan lain. Sedangkan syarat formal berupa pemenuhan syarat-syarat yang
berhubungan dengan persiapan dan cara membuat keputusan, keputusan harus dibentuk sesuai
yang ditentukan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dikeluarkannya keputusan
tersebut, syarat yang berhubungan dengan pelaksanaan keputudsan harus dipenuhi serta jangka
waktu yang harus ditentukan antara timbnulnya hal-hal yang menyebabkan dibuatnya dan
diumumkannya keputusan tersebut harus diperhatikan.

Salah satu kata kunci yang penting dalam suatu keputusan tata usaha Negara adalah
adanyawewenang atau kewenangan yang selalu harus ada dan yang menjadi dasar berpijak
bagi Pejabat TUN untuk dapat melakukan tindakan-tindakan hukum dan khususnya dalam hal ini
adalah menerbitkan keputusan-keputusan TUN sebagai salah satu instrument yuridis dalam
menjalankan pemerintahan. Wewenang dalam menjalankan urusan pemerintahan tersebut dapat
dilakukan melalui perbuatan atau tindakan yang bersifat atau menurut hukum publik, maupun
yang bersifat atau menurut hukum privat. Salah satu ciri yang terpenting dalam penerapan
wewenang menurut hukum publik tersebut (terutama dalam menerbitkan Keputusan-keputusan
TUN) adalah bahwa penerapan wewenang yang demikian itu membawa akibat atau konsekuensi
hukum, yaitu lahirnya hak dan kewajiban yang bersifat hukum publik bagi warga masyarakat
yang bersangkutan, kewenangan mana dapat dipaksakan secara sepihak (bersifat unilateral).
Pada dasarnya wewenang hukum publik dikaitkan selalu pada jabatan publik yang merupakan
organ pemerintahan (bestuurs orgaan) dan menjalankan wewenangnya dalam fungsi
pemerintahan, yang dalam segala tindakannya selalu dilakukannya demi kepentingan umum atau
pelayanan umum (public service). Pada organ pemerintahan yang demikian, melekat pula
sifatnya sebagai pejabat umum (openbaar gezag).