Anda di halaman 1dari 21

PROPOSAL TUGAS AKHIR

KAJIAN TEKNIS MANAJEMEN PENANGANAN SWABAKAR DENGAN


METODE COMPACTION PADA TEMPORARY STOCKPILE
DI PT. BUKIT ASAM (PERSERO) TBK TANJUNG ENIM
SUMATERA SELATAN

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Teknik (S-1)


Pada Jurusan Teknik Pertambangan

Disusun Oleh:

Desem Marihot Gea


12306028

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN
2017
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PT. Bukit Asam (Persero), Tbk Tanjung Enim merupakan suatu perusahaan yang
bergerak di bidang penambangan batubara untuk memenuhi kebutuhan industri.
Untuk memenuhi kebutuhan para konsumen, batubara yang diproduksi harus
sesuai dengan permintaan maupun prasyarat yang diinginkan konsumen. Dalam
hal ini terutama adalah kualitas batubara harus sesuai dengan standar yang telah
disepakati.

Kajian secara teknis sangatlah diperlukan untuk menjaga kualitas batubara yang
dihasilkan dari front penambangan hingga pada saat pengiriman batubara kepada
konsumen. Salah satu parameter utama yang dapat mempengaruhi kualitas dari
batubara tersebut yaitu permasalahan swabakar yang terjadi pada saat
penumpukan batubara di stockpile. Hal ini juga terjadi di tempat penumpukan
sementara (temporary stockpile). Beberapa faktor penyebab terjadinya swabakar
pada temporary stockpile ini adalah akibat dari terlalu lamanya penumpukan dan
penimbunan batubara di temporary stockpile, management stockpile yang tidak
berjalan dengan baik diantaranya kapasitas batubara pada temporary stockpile
yang telah melebihi batas dari ketentuan, tidak terpenuhinya syarat dari standar
bentuk dan ukuran dimensi pada temporary stockpile , sistem penirisan yang tidak
berjalan baik di area temporary stockpile, faktor ukuran butir yang tidak seragam,
dan kandungan mineral pengotor (mineral matter) pada tumpukan batubara yang
berada di temporary stockpile tersebut.

Tumpukan batubara pada temporary stockpile yang mengalami swabakar akan


mengakibatkan kerugian bagi perusahaan seperti penurunan kualitas batubara
yang akan mempengaruhi permintaan pasar, terbuangnya sebagian volume
batubara yang telah terbakar dan pihak perusahaan harus mengeluarkan biaya
tambahan untuk penanggulangan batubara yang terbakar.

Oleh sebab itu, dalam rangka meminimalisasi operasi kerja untuk penanganan
swabakar perlu dilakukan kajian teknis upaya penanganan swabakar dengan
metode compaction.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya swabakar pada temporary


stockpile.

2. Melakukan kajian teknis dalam upaya penanganan terjadinya swabakar pada


temporary stockpile.

3. Menganalisis efektifitas metode compaction dalam upaya penanganan


terjadinya swabakar pada temporary stockpile.

1.3 Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Mengukur suhu dan temperatur batubara di stockpile

Menghitung nilai kalor batubara setiap tumpukan

Mengukur distribusi ukuran pada tumpukan batubara

Menganalisa pengaruh segitiga api (Triangle Fire) terhadap swabakar


batubara
Mendapatkan jenis dan dimensi ukuran tumpukan batubara (lebar,tinggi
dan kemiringan) yang baik untuk mencegah swabakar batubara.

1.4 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini antara lain:


1. Faktor-faktor apa saja penyebab terjadinya swabakar pada temporary
stockpile.
2. Bagaimana tahapan proses kegiatan yang dilakukan dalam upaya penanganan
swabakar pada temporary stockpile.
3. Bagaimana tingkat efektivitas metode compaction dalam upaya penanganan
terjadinya swabakar pada temporary stockpile.
4. Apakah dimensi ukuran tumpukan dan timbunan yang berbeda dapat
mencegah swabakar.

1.5 Batasan Masalah

Penelitian difokuskan kepada kajian teknis metode compaction sebagai upaya


dalam penanganan swabakar pada temporary stockpile. Secara administratif lokasi
penelitian ini berada di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. Kabupaten Tanjung Enim,
Provinsi Sumatera Selatan,
BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Stockpile Management Batubara

Menurut Mulyana, hana (2005) mengatakan Stockpile Managemen adalah suatu


proses pengaturan dan prosedur yang terdiri dari pengaturan kuantitas, pengaturan
kualitas dan prosedur penumpukan batubara di stockpile. Stockpile managemen
merupakan suatu upaya agar batubara yang diproduksi dapat dikontrol, baik
kuantitasnya maupun kualitasnya. Selain itu stockpile managemen berfungsi
untuk mengurangi kerugian yang mungkin muncul dari proses handling batubara
di stockpile. Stockpile managemen dibagi menjadi 3 bagian kerja, yaitu :

1. Storage / stocking management,


2. Quality and Quantity Management,
3. Blending Management.
Penjelasan dari 3 bagian kerja didalam stockpile managemen sebagai berikut:

1. Storage / stocking management

yaitu penyimpanan batubara yang terkait dengan pemeliharaan kuantitas dan


kualitas batubara yang ditumpuk di stockpile. Manajemen penumpukan dimulai
dari pembuatan desain stockpile yang berorientasi pada pemeliharaan kuantitas,
kualitas dan lingkungan. Berorientasi pada pemeliharaan kuantitas karena suatu
storage management harus mempertimbangkan faktor kapasitas stockpile yang
dapat semaksimum mungkin pada area yang tersedia tetapi tetap memperhatikan
faktor kualitas dan lingkungan. Berorientasi pada pemeliharaan kualitas karena
desain kualitas yang efisien sehingga keperluan untuk pengaturan kualitas seperti
blending, segresi penumpukan yang didasarkan pada kualitas produk. Sedangkan
berorientasi pada lingkungan karena desain stockpile harus benar-benar memiliki
fasilitas pengolahan dan pengelolaan limbah yang berasal dari stockpile.
Kemungkinan limbah yang dihasilkan seperti debu, logam-logam berat yang
menyebabkan mengganggu kesehatan dan batubara berukuran partikel kecil (fine
coal) yang terbawa air hujan atau pada waktu penyemprotan stockpile.

2. Desain stockpile yang akan ditentukan bergantung pada :

Kapasitas volume batubara yang akan dikelola.

Jumlah pengelompokan kualitas yang akan dijadikan main product.

Blending system yang akan diterapkan.

Sistem penumpukan / stacking system yang digunakan.

Bentuk bangun atau dimensi stockpile bermacam-macam, tetapi yang biasa


dijumpai adalah bentuk kerucut dan limas terpancung. Rumus perhitungan volume
dari bentuk bangun stockpile batubara sebagai berikut :

Volume kerucut terpancung

V = 1/3 x t ( R2 + r2 + R.r)

Keterangan :
V : Volume Kerucut Terpancung
t : Tinggi Kerucut Terpancung
r : Jari-Jari Lingkaran Atas
R : Jari-Jari Lingkaran Bawah

Volume limas terpancung

V = 1/3 x t (B + A + B + A)
Keterangan :

V : volume limas terpancung

t : tinggi limas terpancung

A : luas bidang atas


B : luas bidang bawah

3. Blending management

Didalam stockpile management kegiatan blending management adalah yang


paling rutin dilakukan bahkan stockpile management identik dengan blending
management. Blending adalah suatu proses pencampuran beberapa batubara yang
memiliki kualitas yang berbeda sehingga membentuk satu batubara dengan
kualitas tertentu yang diinginkan.

Menurut Sulistyana dan Saputra (2012) mengatakan kualitas batubara yang


termasuk peringkat rendah dengan kandungan volatile matter yang cukup tinggi
memungkinkan terjadinya spontaneous combustion pada stockpile batubara
sehingga memerlukan stockpile managemen yang baik. Apabila batubara telah
terbakar pada stockpile batubara, maka dilakukan penanganan sebagai berikut :

1. Melakukan spreading atau penyebaran untuk mendinginkan suhu batubara.


2. Bila kondisi cukup parah, maka bagian batubara yang kualitasnya telah turun
dapat dibuang.
3. Memadatkan batubara yang mengalami self heating atau spontaneous
combustion.
4. Untuk menyimpan batubara lebih lama bagian atas stockpile harus dipadatkan
guna mengurangi resapan udara dan air ke dalam stockpile.

2.2 Syarat Teknik Penimbunan Batubara

Didalam menentukan kapasitas penimbunan didalam stockpile, maka akan


bergantung dengan desain stockpile yang telah direncanakan. Pada stockpile yang
direncanakan memiliki kapasitas yang besar, maka perencanaan desain stockpile
harus benar-benar sesuai, hal ini untuk mencegah batubara yang ditimbun turun
kebagian bawah. Dalam hal ini akan seolah-olah kehilangan batubara didalam
stockpile. Menurut Mulyana, hana (2005) syarat teknis penimbunan meliputi:
1) Kualitas Batubara
Batubara sebagai salah satu syarat teknis penimbunan juga harus diperhatikan.
Batubara yang berpengaruh sebagai berikut:
a. Batubara yang Ditimbun Diusahakan Sejenis
Untuk menghindari terbakarnya batubara kelas lebih tinggi maka untuk
setiap satu lokasi penimbunan digunakan batubara yang sejenis (kelas dan
kualitas yang sama). Hal tersebut dikarenakan batubara kelas lebih rendah
lebih mudah dan cepat untuk terbakar dengan sendirinya, sehingga panas
yang dihasilkan oleh batubara kelas lebih rendah terakumulasi dan
mempengaruhi batubara kelas lebih tinggi untuk terbakar.
b. Ukuran Butir
Ukuran butiran memiliki pengaruh terhadap timbulnya swabakar,
ketidakseragaman ukuran butir pada timbunan batubara juga akan
memudahkan batubara mengalami oksidasi. Pada dasarnya semakin besar
luas permukaan yang berhubungan langsung dengan udara luar, semakin
cepat proses swabakar. Sebaliknya semakin besar ukuran bongkah
batubara, semakin lambat proses swabakar.

2. Desain Permukaan Dasar Stockpile

Permukaan dasar dari suatu stockpile harus dibuat stabil dan dibuat bedding
dengan menggunakan material yang cukup kuat untuk menopang berat tumpukan
batubara. Selain itu permukaan dasar stockpile harus dibuat agak cembung agar
drainase pada stockpile lancar. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi genangan
air yang terjebak di tengah stockpile pada saat hujan. Pada penumpukan batubara
yang menyerupai kerucut, titik berat akan berada di sekitar pusat lingkaran. Hal
ini akan menyebabkan terjadinya penurunan dasar stockpile. Penurunan dasar
stockpile dapat dilihat pada (Gambar 2.1).

Sumber : Mulyana, hana, 2005


Gambar 2.1 Penurunan Dasar Stockpile
Apabila terjadi penurunan dasar stockpile (Gambar 2.1), maka akan
menyebabkan air terjebak dalam cekungan tersebut yang mengakibatkan
terjadinya perbedaan humiditas dalam tumpukan batubara tersebut yang dalam
jangka panjang akan memicu terjadinya self heating atau menjadi akselerator
pada saat batubara bagian atas mengalami kenaikan temperatur. Selain itu
cekungan tersebut semakin lama akan semakin dalam dengan kegiatan
operasional di stockpile yang pada akhirnya akan menimbun sebagian batubara
kedalam tanah.

Pada saat pengambilan batubara atau reclaiming, yang dijadikan dasar permukaan
adalah level disekitar pinggiran stockpile yang belum turun, sehingga pada saat
pengambilan batubara di bagian tengah tumpukan, batubara dalam cekungan yang
diakibatkan dari beban batubara tersebut akan tertinggal dan semakin lama
semakin banyak. Apabila hal ini terjadi maka seolah-olah kehilangan batubara
pada saat dilakukan pengukuran stock inventory yang biasanya diukur secara
berkala baik bulanan atau tahunan. Dengan membuat dasar stockpile cukup kuat
dan relatif cembung, maka diharapkan kejadian tersebut diatas dapat dicegah.
Cekungan yang terbentuk dan terisi batubara dapat dilihat pada (Gambar 2.2)

Sumber : Mulyana, Hana 2005


Gambar 2.2 Cekungan Stockpile yang akan terisi Batubara

3. Keadaan Tempat Penimbunan


Keadaan tempat timbunan di daerah stockpile akan berpengaruh terhadap syarat
teknis penimbunan yang dilakukan pada saat penimbunan batubara yang baru
masuk kedalam stockpile. Untuk itu perlu diperhatikan syarat-syarat keadaan
tempat penimbunan yang baik. Syarat keadaan penimbunan yang baik adalah
sebagai berikut:

a) Area Penimbunan yang Bersih

Area penimbunan batubara harus bebas dari segala material yang mudah
terbakar seperti kayu dan sampah. Selain itu juga harus bebas dari
potongan-potongan logam.

b) Pembuatan Saluran Air di Sekeliling Stockpile

Untuk mengalirkan air yang berasal dari tumpukan batubara baik yang
berasal dari air hujan, maupun yang berasal dari penyemprotan air di
sekeliling areal stockpile tersebut harus dibuatkan paritan atau saluran air
yang akhirnya di alirkan ke settling pond atau kolam pengendap. Air yang
melewati tumpukan batubara akan melarutkan batubara halus dari
tumpukan batubara, sehingga partikel batubara yang halus tersebut akan
terbawa oleh aliran air. Sebelum air dialirkan ke sungai, perlu ada
pengolahan air dari stockpile tersebut, atau paling tidak dibuatkan kolam
pengendap. Dengan demikian partikel batubara yang terbawa oleh aliran
air dari stockpile tersebut tidak mencemari lingkungan khususnya tidak
mencemari sungai. Selain settling pond, apabila terbukti dari pengukuran
bahwa air yang berasal dari stockpile tersebut bersifat asam, maka perlu
juga dilakukan netralisasi. Netralisasi air asam dari batubara dapat
menggunakan kapur. Proses netralisasi dilakukan setelah air tersebut
melewati settling pond, atau dilakukan sebelum air dibuang ke sungai atau
ke laut.

c) Posisi Stockpile

Posisi stockpile harus memperhatikan arah angin. Dengan mengetahui arah


angin maka posisi stockpile diusahakan tidak menghadap arah angin
terutama pada bagian panjang stockpile sehingga permukaan timbunan
yang diterpa angin semakin kecil yang bertujuan menghindari proses
oksidasi pada timbunan yang menyebabkan spontaneous combustion.

2.3 Sistem Penumpukan dan Pola Penimbunan

Sistem penumpukan batubara harus diatur sedemikian rupa agar segregasi atau
pemisahan stock berdasarkan perbedaan kualitas dapat dilakukan dengan baik,
juga tumpukan tersebut dapat meminimalkan resiko terjadinya pembakaran
spontan di stockpile. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menumpuk batubara
memanjang searah dengan arah angin agar permukaan tumpukan batubara yang
menghadap ke arah datangnya angin menjadi kecil. Arah penumpukan batubara
dapat dilihat pada (Gambar 2.3).

Sumber : Mulyana, hana 2005


Gambar 2.3Arah Penumpukan Batubara

Pemadatan terhadap seluruh permukaan dapat dilakukan apabila batubara tersebut


akan disimpan dalam jangka waktu yang lama. Namun demikian hal tersebut
dapat dilakukan tergantung ada desain penumpukan batubara di stockpile tersebut.
Untuk penumpukan batubara dengan system stacking biasa, pemadatan
permukaan batubara dapat dilakukan dengan mudah.

Untuk menghindari segregasi partikel batubara yang halus dengan yang besar
yang akan mempercepat terjadinya pembakaran spontan, maka penumpukan harus
dibuat sedemikian rupa agar seggregasi partikel tersebut dapat diminimalkan.
Caranya adalah dengan membuat tumpukan dengan bentuk chevron atau windrow.
Selain itu untuk mencegah atau memperlambat terjadinya pemanasan dengan
sendirinya di stockpile adalah dengan mengusahakan agar permukaan bagian atas
tumpukan dibuat rata dan tidak berpuncak-puncak. Karena apabila permukaan
atas tidak rata atau berpuncak-puncak, maka hal ini juga dapat menyebabkan
percepatan terjadinya oksidasi batubara yang mengarah ke terjadinya pmbakaran
spontan.

Untuk maintenance stockpile dan untuk merelokasi batubara yang terbakar


apabila tidak bisa dicegah, maka tumpukan batubara harus diatur agar tidak ada
bagian tumpukan batubara yang sampai ke tepi areal stockpile. Di sekeliling
tumpukan batubara harus ada akses jalan baik untuk kontrol maupun untuk
excavator apabila diperlukan untuk menggali batubara yang terbakar (Gambar
2.4).

Sumber : Mulyana, hana 2005


Gambar 2.4 AKSES jalan di sekeliling tumpukan batubara

Sedangkan pada pola penimbunan, terdiri dua metode yaitu metode penimbunan
terbuka (open stockpile) dan metode penimbunan tertutup (coverage storage).
Penimbunan yang umum dilakukan di dalam kegiatan pertambangan adalah
dengan metode penimbunan terbuka (open stockpile). Open stockpile adalah
penumpukan material di atas permukaan tanah secara terbuka dengan ukuran
sesuai tujuan dan proses yang digunakan.

2.4 Spontaneous Combustion pada Batubara


Menurut Mulyana, hana (2005) mengatakan bahwa Spontaneous combustion atau
disebut juga self combustion adalah salah satu fenomena yang terjadi pada
batubara pada waktu batubara tersebut disimpan atau di storage / stockpile dalam
jangka waktu tertentu. Proses spontaneous combustion diketahui dari proses self
heating atau pemanasan dengan sendirinya yang berasal dari oksidasi atau suatu
reaksi kimia dari suatu mineral didalam batubara itu sendiri.

Menurut Falcon, R.M (1986) menyebutkan spontaneous combustion pada semua


batubara terjadi akibat kontak atmosfir (udara) yang secara cepat atau lambat
menunjukkan tanda-tanda oksidasi dan pelapukan dengan resultan penurunan
konten kalori, volatile matter, dan terjadinya swelling capacities. Reaksi
eksotermis yang menghasilkan panas apabila tidak hilang akan mencapai suhu
inisiasi yang pada akhirnya membentuk titik api pada hot spot batubara. Reaksi
spontaneous combustion dapat digambarkan sebagai berikut :

C + O2 (>5%) CO2 (150F - 200 F)

CO2 + C CO (212 F - 300 F)

Menurut Sukandarrumidi (2008), proses spontaneous combustion mengalami


proses bertahap yang dijelaskan sebagai berikut :
1. Mula-mula batubara akan menyerap oksigen dari udara secara perlahan-
lahan dan kemudian temperatur udara akan naik.

2. Akibat temperatur naik kecepatan batubara menyerap oksigen dan udara


bertambah dan temperatur kemudian akan mencapai 100oC 140oC.

3. Setelah mencapai temperatur 140oC, uap dan CO2 akan terbentuk sampai
temperatur 230oC, isolasi CO2 akan berlanjut. Bila temperatur telah berada
di atas 350oC, ini berarti batubara telah mencapai titik sulutnya dan akan
cepat terbakar.
2.4.1 Faktor-faktor Penyebab Batubara Terbakar Sendiri

Batubara merupakan bahan organic, dan apabila bersinggungan langsung dengan


dalam keadaan temperature tinggi maka akan menyebabkan terjadinya
spontaneous combustion. Pada stockpile batubara, pengaturan sudut kemiringan
akan diperhitungkan karena akan berpengaruh terhadap terpaan angin. Menurut
sukandarrumidi (2008), sebab-sebab terjadinya spontaneous combustion adalah
sebagai berikut :

1. Reaksi eksotermal (uap dan oksigen di udara). Reaksi ini merupakan hal
yang paling sering terjadi.

2. Akibat bakteri.

3. Aksi katalis dari benda-benda anorganik.

Sedangkan kemungkinan dapat terjadinya spontaneous combustion diantara


sebagai berikut :
1. Karbonisasi yang rendah (low carbonization)

2. Kadar belerangnya tinggi (>2%). Ambang batas belerang yang disarankan


sebaiknya 1,2%.

2.5 Teori Swabakar (Spontaneous Combustion)

Swabakar (Spontaneous Combustion) adalah pembakaran spontan yang


merupakan fenomena alami dan disebut pembakaran sendiri (Self combustion).
Gambar 2.5 Proses terjadinya swabakar

Hal ini disebabkan terjadinya reaksi zat organic dengan oxigendi udara.
Kecepatan reaksi oksidasi sangat bervariasi antara zat dengan zat lainnya. Berikut
adalah gambar terjadinya swabakar (Spontaneous Combustion).

Ada beberapa teori yang mengungkapkan proses terjadinya suatuspontaneous


combustion, Teori ini berdasarkan pengalaman atau percobaan dari penemunya,
Dari teori-teori tersebut dapat menjelaskan fenomena spontaneous
combustion secara lebih luas yaitu :

2.5.1 Teori Pyrite Besi Disulfida

Teori Pyrite Besi disulfida (FeS2) berada didalam batubara dalam dua bentuk
yaitu : cubic yellow pyrite (density 5.2) dan rhombic marcasite (density sekitar
4.8) (Coward, 1957). Marcasite diketahui lebih reaktif terhadap oksigen
dibanding dengan pyrite. Meskipun kemudian Li dan Parr (1926) menemukan
bahwa kedua bentuk pyrite tersebut memilikirate oksidasi yang relatif
sama. Pyrite memberikan kontribusi pada terjadinya oksidasi batubara lebih besar
dalam bentuk partikel kecil, sedangkan pada partikel yang relatif lebih
besar rate oksidasinya akan lebih rendah. Nilai panas dari oksidasi pyrite ini
ditentukan oleh Lamplough and Hill (1912 13) yang menemukan nilai rata-rata
13.8 J/ml oksigen yang dikonsumsi. Meskipun terdapat beberapa perbedaan
mengenai peran pyrite didalam spontaneous combustion, namun sekarang dapat
diterima secara umum bahwa :

a. Panas yang dihasilkan dari oksidasi pyrite ikut membantu pada terjadinya
oksidasi batubara.

b. Oksidasi pyrite menjadi ferrous sulphate menyebabkan disintegrasi dari


batubara sehingga memperluas dareah permukaan batubara untuk terjadinya
oksidasi.

Persamaan reaksi berikut menggambarkan reaksi oksidasi pyritedidalam batubara


(Schmidt, 1945). Persamaan reaksi berikut menggambarkan reaksi
oksidasi pyritedidalam batubara (Schmidt, 1945) ; 2 FeS2 + 7 O2 + 16 H2O 2
H2SO4 + 2 FeSO4. 7H2O.

Akan tetapi Miyagawa (1930) menyatakan bahwa persamaan reaksi


oksidasi pyrite tidak seperti persamaan reaksi diatas , melainkan mengikuti
persamaan reaksi seperti FeS2 + 3 O2 2 FeSO4 + SO2. Dia menyatakan bahwa
Sulfur dioksida yang dihasilkan dari reaksi oksidasi tersebut kemudian diadsorpsi
kuat oleh permukaan pyrite sehingga mencegah reaksi oksidasi lebih lanjut.
Hilangnya gas ini dari permukaan pyritetersebut karena air, menyebabkan
terjadinya reaksi oksidasi lanjutan. Untuk alasan inilah dia mengklaim bahwa
batubara yang mengandung banyak pyritelebih besar kecenderungannya untuk
terjadi spontaneous combustionapabila disimpan dalam keadaan basah atau
lembab.

2.5.2 Teori Kompleks (Coal Oxigen)

Teori coal oxygen atau teori kompleks adalah pembentukan sebuah coal-oxygen
kompleks selama oksidasi batubara pada temperatur rendah dinyatakan oleh
sejumlah peneliti terdahulu seperti Wheeler (1918), Davis & Byrne (1925), dan
terakhir Schmidt (1945).Teori ini menyatakan bahwa adsorpsi oksigen terjadi
pada temperatur rendah, tahap ini merupakan tahap awal yang merupakan
adsorpsi secara fisik. Tahap ini berlanjut dengan pembentukan komplek oksigen
yang mengandung bentuk oksigen yang aktif yang disebut per-oksigen. Tahap
ini disebut tahap Chemisorption. Kemudian proses ini dilanjutkan pada tahap
reaksi per-oksigen tersebut dengan batubara dimana CO, CO2 dan H2O
dihasilkan oleh dekomposisi dari per-oksigen tersebut. Secara singkat tahapan dari
teori ini dapat disederhanakan menjadi :

a. Adsorpsi oksigen secara

b. Tahap Chemisorption merpakan pembentukan sebuah komplek yang


mengandung oksigen aktif yang disebut per-oksigen
c. Reaksi kimia cepat dimana CO, CO2 dan H2O dihasilkan oleh dekomposisi
dari per-oksigen tersebut.

2.5.3 Teori Humidity

Teori Humidity adalah batubara akan bereaksi dengan oksigen diudara segera
setelah batubara tersebut terekspose selama penambangan. Kecepatan reaksi ini
lebih besar terutama pada batubara golongan rendah seperti lignit dan sub-
bituminus. Sedangkan pada golongan batubara bituminus keatas atau high rank
coal, oksidasi ini baru akan tampak apabila batubara tersebut sudah diekspose
dalam jangka waktu yang sangat lama. Apabila temperatur batubara terus
meningkat yang disebabkan oleh self heating, maka ini perlu ditangani dengan
serius karena ini akan berpengaruh terhadap nilai-nilai komersial dari batubara
tersebut, selain itu ini akan mengakibatkan pembakaran spontan batubara yang
sangat tidak kita inginkan karena akan merugikan dan juga mengakibatkan
kerusakan lingkungan.

Akan tetapi pada temperatur normal kecepatan oksidasi ini kecil sekali, bahkan
cenderung menurun selang dengan waktu. Dengan demikian resiko penurunan
kualitas karena oksidasi ini masih bisa diterima dalam perioda waktu pengiriman
yang normal ( 8 jam 8 minggu ). Oksidasi yang dimaksud diatas adalah oksidasi
yang tidak diikuti dengan pembakaran spontan atau oksidasi pada temperatur
rendah. Akan tetapi apabila disimpan dalam jangka waktu lama
di stockfile penurunan kualitas akibat ini biasanya tidak dapat diterima karena
selain penurunan kualitas secara kimia juga akan terjadi penurunan kualitas secara
fisik terutama terjadi pada batubara golongan rendah atau low rank coal.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Metode penelitian dalam kegiatan ini adalah melakukan pemadatan terhadap
penimbunan batubara untuk mengurangi masuknya udara kedalam pori-pori
tumpukan batubara. Lokasi penelitian ini dilakukan pada suatu area stockpile
batubara di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Tanjung Enim (31716), Sumatera
Selatan.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Dalam pelaksanaan penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan


adalah dengan menggabungkan antara studi pustaka dengan data data yang di
dapat dari lapangan. Sistematika penelitian adalah sebagai berikut :

1. Studi Literatur

Dengan mengumpulkan data pustaka yang mendukung, diperoleh dari artikel,


buku dan jurnal.

2. Penelitian dilapangan

Dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap keadaan lokasi,


melakukan pengambilan data yang diperlukan.
3. Pengambilan data dapat dilakukan dengan pengabungan anara data primer dan
sekunder, antara lain adalah :

a. Data Primer adalah data yang didapatkan secara langsung di lapangan,


seperti : Lamanya penimbunan, metode penimbunan dan pembongkaran,
dimensi tumpukan batubara, Ukuran butir, suhu dan temperatur batubara,
kondisi lokasi stockpile.

b. Data Skunder adalah data yang diambil dari literatur dan refensi
perusahaan, seperti data curah hujan, data kapasitas batubara di stockpile.

3.3 Diagram Alir Penelitian

Mulai

Study Pustaka Desain Penelitian

Data

Data Primer Data Sekunder


Lama Penimbunan Data curah hujan
Pola Penimbunan Data kecepatan udara
Dimensi Timbunan Kapasitas Stockpile
Distribusi Ukuran Kalori Batubara
Temperatur batubara
Kondisi Stockpile

Pola penimbunan &


pemadatan
Waktu Penimbunan
Volume timbunan
Analisis
Ukuran butir
Kecepatan Udara
Dimensi Timbunan

Upaya menghilangkan faktor kandungan Oksigen (O2) atau Panas


(Heat) pada timbunan batubara

Rekomendasi Desain dan Metode untuk pencegahan swabakar

Kesimpulan
4.4 Jadwal Pelaksanaan
Rencana pelaksanaan Tugas Akhir adalah mulai bulan Maret sampai dengan April
2017, dengan jadwal pelaksanaan sebagai berikut:

Waktu Pelaksanaan
N
Kegiatan Minggu Ke -
o
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Orientasi Lapangan

2. Pengumpulan Referensi dan Data

3. Konsultasi dan Bimbingan

4. Pengolahan Data

5. Penyusunan Draft Laporan

3.5 Penutup

Demikianlah proposal ini saya ajukan sebagai acuan dalam melaksanakan Tugas
Akhir, serta sebagai bahan pertimbangan untuk Bapak/Ibu. Melihat keterbatasan dan
kekurangan yang dimiliki, maka saya sangat mengharapkan bantuan dan dukungan,
baik berupa moril maupun materil dari pihak perusahaan untuk melancarkan Tugas
Akhir ini. Adapun rencana waktu pelaksanan dalam Tugas Akhir ini adalah selama
dua bulan yaitu antara bulan Maret sampai dengan bulan April 2017.
Besar harapan saya agar kiranya dapat diterima untuk melaksanakan Tugas Akhir di
PT. BUKIT ASAM (Persero),Tbk yang Bapak/Ibu pimpin, mengingat sangat
pentingnya program Tugas Akhir yang akan saya lakukan ini. Atas perhatian dan
bantuan Bapak/Ibu saya ucapkan terima kasih.

Medan, Februari 2017

Mengajukan Permohonan,
Nama : Desem Marihot Gea
Nim : 12 306 028
Jurusan : Teknik Pertambangan
Telp : +62853-7395-9665
e-mail : desem_marihot@yahoo.com