Anda di halaman 1dari 5

Analisis pengamatan pembuluh darah pada lidah katak

Pengamatan pembuluh darah pada lidah katak dilakuakan dengan


mengamati lidah katak dibawah mikroskop. Langkah pertama adalah
melakukan single pith pada katak, kemudian membungkus tubuh katak
dengan kapas basah, kemudian membungkusnya dengan plastic.
Selanjutnya meletakkan lidah katak pada triplek yang berlung dengan
cara menarik lidah katak secara perlahan lalu menempatkkan lidah ke
tripek yang berlubang sehingga lubangnya akan tertutup. Kemudian
mengamati aliran darah pada lidah katak dibawah mikroskop.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil pada


keadaan normal atau sebelum diberikan perlakuan, aliran darah yang
terdapat pada lidah katak baik pada vena, arteriola dan kapilernya adalah
normal. Selanjutnya, lidah katak diberikan perlakuan dengan ditetesi air
dingin, dan hasil yang didapatkan adalah aliran darah pada venula,
arteriola dan kapiler mengalami perlambatan dan terjadi vasokontriksi.
Kemudian pada saat lidah katak ditetesi oleh air hangat, aliran darah pada
venula, arteriola dan kapiler mengalami peningkatan atau lebih cepat
daripada sebelumnya dan terjadi vasodilatasi. Pada saat ditetesi
adrenalin, aliran darah yang terlihat pada lidah katak baik pada venulla,
arteri dan juga kapiler adalah semakin cepat. Sedangkan ketika ditetesi
asetilkolin pada lidah katak, aliran darah yang terlihat di bawah mikroskop
adalah semakin melambat baik pada venulla, areteriola maupun
kapilernya. Pada perlakuan terakhir pada prlakuan terakhir yaitu dengan
meneteskan lidah katak dengan asetil kolin, aliran darah yang terlihat
dibawah mikroskop yaitu melambat baik pada venula, arteriola maupun
kapiler.

Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, pengamtan aliran


darah dilakuakan pada lidah katak. Menurut Susilowati, dkk (2016)
pengamatan aliran darah dilakukan pada bagian lidah katak dikarenakan
bagian ini merupakan bagian yang sanagt cocok untuk tempat
pengamatan, dimana pada bagian ini adalah bagian yang tipis, sehingga
jaringan yang tipis tersebut dapat diamati dibawah mikroskop cahaya.
Selain itu, di bagian ini aliran darah melalui kapiler dan perubahannya
karena pengaruh eksperimental mudah diamati dengan mikroskop
cahaya.

Pada pengamatan yang telah dilakukan, aliran darah yang terlihat


pada lidah katak dalam keadaan normal atau sebelum diberikan perlakuan
baik pada vena, arteriola dan kapilernya adalah normal. Aliran darah
normal yang dimaksud disini adalah kecepatan aliran darah yang paling
cepat adalah pada arteriol dan yang paling lamabat adalah pada venula.
Menurut Campbell, et al (2008) kapiler adalah pembuluh darah terkecil,
yang memiliki diameter hanya sedikit lebih besar dari sel darah merah.
Selain itu kapiler juga memiliki dinding yang sanagt tipis, terdiri dari
endothelium dan lamina basalnya yang memfasilitasi pertukaran zat-zat
antar darah dalam kapiler dan cairan interstisial (Silverthorn, 2010).
Kapiler hanya dapat dilewati sel darah merah apabila sel darah merah
berbaris satu per satu (Susilowati, dkk., 2016).

Arteri dan vena memiliki dinding yang lebih kompleks daripada


dinding-dinding kapiler, lapisan luar jaringan yang mengandung serat
elastis memungkinkan pembuluh merentang dan kembali ke bentuk
semula, serta lapisan tengah yang mengandung otot polos dan serat
elastis yang lebih banyak (Campbell, et al., 2008). Arteriol merupakan
arteri yang terkecil dimana arteriol lebih banyak mengandung serat
elastic yang sifatnya recoil atau dapat kembali pada posisi semula jika
pembuluh tersebut mela (Ganong, 2003). Dengan demikian arteriola
memiliki kecepatan aliran lebih besar dibandingkan venula. Venula
merpakan vena yang terkecil yang memiliki dinding yang tipis membawa
darah kembali ke jantung pada kecepatan dan tekanan yang lebih rendah
(Campbell, et al., 2008). Katup-katup di dalam vena mempertahankan
aliran darah searah dalam pembuluh-pembuluh.

Perlakuan selanjutnya adalah meneteskan lidah katak dengan air


dingin, dan hasil yang didapatkan adalah aliran darah pada venula,
arteriola dan kapiler mengalami perlambatan dan terjadi vasokontriksi.
Menurut Sherwood (2001), hal ini disebabkan mengkerutnya otot-otot
polos pada pembuluh darah karena terkana air dingin, sehingga diameter
pembuluh darah menjadi kecil yang disebut vasokontriksi, mengecilnya
pembuluh darah ini menyebabkan resistensi arteriol meningkat dan
terjadilah penurunan aliran darah. Menurut Soewolo (2005), penyempitan
arteriola mengurangi kelancaran aliran darah dari arteri menuju arteriola
serta dapat menambah tahanan, sehingga aliran darah akan melambat.

Pada saat lidah katak ditetesi dengan air panas, aliran darah pada
venula, arteriola dan kapiler mengalami peningkatan atau lebih cepat
daripada sebelumnya dan terjadi vasodilatasi. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Sherwood (2001) yaitu pada saat diteteskan air panas, aliran
darah lebih cepat karena air panas membuat dinding pembuluh darah
menjadi lemas dan mudah membesar (vasodilatasi), selian itu juga
menyebabkan penurunan resistensi arteriol, sehingga akan lebih banyak
darah yang mengalir ke daerah-daerah dengan resistensi arteriol rendah.
Dengan adanya penurunan resistensi arteriol, maka darah akan lebih
mudah mengalir, dengan kata lain kecepatan aliran darah akan meningkat
dibandingkan jika ditetesi dengan air dingin.

Perlakuan selanjutnya adalah meneteskan lidah katak dengan


epinefrin 1/5000 atau adrenalin, aliran darah yang terlihat pada lidah
katak baik pada venulla, arteri dan juga kapiler adalah semakin cepat.
Menurut Aminah (2011), penambahan adrenalin/epinefrin mengakibatkan
penyempitan diameter pembuluh darah, sehingga kecepatan aliran darah
meningkat. Mekanisme terjadinya adalah sama seperti pada
perangsangan saraf simpatis, namun menggunakan faktor stimulan
dengan menambahkan adrenalin/epinephrine pada percobaan ini
sehingga reflex yang mengatur tekanan arteri, sehingga tekanan
meningkat. Adrenalin dapat mencapai beberapa bagian sirkulasi yang
tidak mempunyai persarafan simpatis sama sekali, Karena pada saraf
simpatis dilepaskan neropineprin yang dapat memperlambat aliran darah
(Soewolo, 2005), selain itu, adrenalin juga mencapai pembuluh darah
sangat kecil seperti meta- arteriole. Hormon-hormon ini mempunyai aksi
yang sangat kuat pada beberapa jaringan vascular. Hal ini yang membuat
aliran darah pada lidah katak menjadi meningkat kecepatannya.
Pada saat meneteskan lidah katak menggunakan asetilkolin, aliran
darah yang terlihat di bawah mikroskop adalah semakin melambat baik
pada venulla, areteriola maupun kapilernya. Hal ini berkebalikan dengan
saat ditetesi dengan adrenalin yang dapat mempercepat aliran darah.
Asetilkolin adalah suatu senyawa ammonium kuartener yang tidak mampu
menembus membrane. Aktivitasnya berupa muskarinik dan nikotinik yang
dapat melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah akan lancar
(Mycek, 2001).
Perlakuan terakhir adalah meneteskan lidah katak dengan asam asetat,
dan hasil yang didapatkan adalah aliran darah pada kapiler, arteri dan
venulla melambat. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Sherwood
(2001) yang menyatakan bahwa asam lemah (asam cuka) dapat
merangsang potensial aksi otot polos dan meningkatkan produksi
Ca 2+ sitosol yang diproduksi diRetikulum Endoplasmic system.
Dengan meningkatnya kadar Ca 2+, otot polos berkontraksi.
Kontarksi tiba-tiba inilah yang memompa darah pada area tersebut
untuk terdorong ke depan dan mempercepat aliran darah. Kesalahan yang
terjadi saat pengamatan dikarenakan sulitnya dalam mengamati aliran
darah yang terdapat pada lidah katak yang jaringannya lebih tebal
daripada selaput renangnya, selain itu mikroskop yang kurang focus juga
menyebabkan pengamat tidak dapat melihat aliran darahnya dengan
jelas. Fungsi dari asam asetat adalah untuk reaksi pembuatan koagulan dikarenakan asam
asetat merupakan larutan asam lemah yang dapat direaksikan dengan air jika digunakan
langsung pada darah menurut Kuchel (2009). Terbentuknya koagulan ini mungkin
menyebabkan penurunan diameter pembuluh darah (vasokontriksi). Fungsi koagulan lain
juga sama pada larutan Na oksalat dan NaCl 0,9% . pada Na oksalat bekerja dengan mengikat
kalsium.

Setiap setelah diberikan perlakuan, maka lidah katak harus ditetesi


oleh Ringer atau garam fisiologis NaCl 0,9% yang bertujuan agar dapat
menjaga kelembaban lidah serta kesegarannya. Agar tetap dapat diamati
sampai perlakuan yang lain selesai,

Kesimpulan:

1. Pembuluh darah yang terlihat pada pengamatan lidah katak adalah


adanya arteriol, venula dan kapiler. Dimana pada keadaan normal
arteriol memiliki kecepatan aliran paling tinggi dan yang terendah
adalah pada venula
2. Pada saat lidah katak ditetesi ari dingin terjadi vasokontriksi yang
menyebabkan mengkerutnya otot-otot polos serta meningkatnya
resistensi arteriol dan terjadilah penurunan aliran darah. Sedangkan
pada saat ditetesi air panas, terjadi vasodilatasi dimana dinding
pembuluh darah menjadi lemas dan mudah membesar
(vasodilatasi), serta resistensi menurun sehingga terjadilah
peningkatan aliran darah.
3. Penetesan adrenalin pada lidah katak menyebabkan aliran darah
menjadi lebih cepat dibandingkan ketika diteteskan oleh asetilkolin
4. Asam asetat berfungsi untuk reaksi pembuatan koagulan, begitupula pada Na
Oksalat dan NaCl 0.9% sebagai cairan fisiologis yang dapat menjaga kesegaran lidah
katak sehingga tetap dapat diamati sampai selesai.

Dapus:

Sherwood, lauralee. 2001. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Penerbit


buku kedokteran EGC : jakarta

Ganong W. F. 2001. Fisiologi Manusia (Review of Medical Physiologi).


Penerbit Buku Kedokteran EGC :Jakarta

Ganong W.F. 2003. Review of Medical Physiology. Lange Medical Books,


McGraw-Hill
Aminah, Tri S. 2009. Mikrosirkulasi. (Online),
(http://www.scribd.com/scribd/
Mikrosirkulasi, diakses 11 November 2011).
Mycek, M.J., (1995), Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi kedua. Jakarta:
Widya
Medika. Hal. 226-228.
Campbell, Neil A, & Reece, Jane B. 2008. Biologi 1 Ed. 8. Jakarta: Erlangga.
Soewolo, 2005. Fisiologi Manusia. Malang: UM PRESS
Kuchel, Phillip. 2009. Schaums Outlines of Biochemistry. London: The McGraw Hill
Company.

Silverthorn, D.U.2010.Human Physiology An Integrated Approach (5th edition). St., San

Francisco: Pearson Benjamin Cummings,