Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Fraktur telah diidentifikasikan sebagai masalah medis sepanjang sejarah.


Fraktur femur dimana penyebab terbanyak yaitu akibat trauma, telah menjadi
perhatian baik masyarakat maupun tenaga kesehatan. Selain femur, tibia merupakan
tulang panjang yang sering mengalami cedera. Tibia mempunyai permukaan
subkutan yang paling panjang, sehingga paling sering terjadi fraktur terbuka.
Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang
dapat menyebabkan fraktur. Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja, olah
raga dan rumah tangga industri, olahraga, dan rumah tangga.1,2
Walaupun penatalaksanaan di bidang orthopaedi telah berkembang, mortalitas
trauma masih tetap tinggi, berkisar antara 10 - 20 persen. Sebanyak 87% kecelakaan
di Amerika Serikat menyebabkan fraktur pada individu antara usia 1 dan 44 tahun
dan merupakan salah satu 10 penyebab paling umum kematian pada usia diatas 34
tahun.1 Di Indonesia, kecelakaan juga merupakan penyebab terbanyak terjadinya
fraktur dan terdapat lebih dari 12.000 kematian setiap tahunnya. 2 Sedangkan di kota
Medan, berdasarkan penelitian yang dilakukan di rumah sakit tahun 2009, proporsi
penderita fraktur berdasarkan sosiodemografi tertinggi pada kelompok umur 16 - 26
tahun (40,3%) yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas sebanyak 78,9%, fraktur
tertutup 73,7%, ekstremitas bawah 55,3%. Dari seluruh kejadian tersebut yang
memerlukan tindakan operasi 55,3%.3 Di Palembang, belum ada penelitian mengenai
epidemiologi fraktur yang terjadi per tahun nya.
Berdasarkan data di atas, maka desakan untuk meningkatkan cara dan system
penanggulangan penderita gawat darurat sangat diperlukan. Oleh sebab itu, kasus ini
diangkat sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sebagai praktisi medis agar dapat
mengenal penyakit ini lebih rinci dan memberikan terapi yang tepat sehingga dapat
menyelamatkan hidup penderita dan mencegah kecatatan dengan pengobatan yang
adekuat serta terpadu.

1
BAB II
LAPORAN KASUS

.1. Identifikasi
Nama : Ryan Hidayat
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir/ Umur : 1 Juni 1993/ 23 Tahun
Alamat : Jl. Proklamasi Komplek Masjid Asai Muara Enim
Pekerjaan : Pelajar
Pendidikan : SLTA
Status : Belum Menikah
Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
No. Rekam Medis : 960479
No. Register : RI 16029441
Masuk RS : 27 Oktober 2016

2.2. Anamnesis (Autoanamnesis 7 November 2016)


Keluhan Utama : Sulit menggerakkan tungkai kanan
Keluhan Tambahan : Nyeri saat menggerakkan tungkai kanan
Riwayat Perjalanan Penyakit :
Sejak 4 bulan SMRS, penderita mengalami kecelakaan saat mengendarai
motor. Penderita terjatuh dan terdengar bunyi krek pada tungkai kanan. Kaki
kanan menjadi sulit digerakkan dan nyeri bertambah ketika digerakkan,
bengkak (+), memar (+), luka robek (+). Penderita berobat ke RSUD Muara
Enim, dilakukan pemasangan bidai dan luka robek dijahit.
Sejak 2 bulan SMRS, penderita merasa lutut kanannya bengkok dan masih
sulit digerakkan serta terasa nyeri, bengkak (-), memar (-), luka robek (-), scar
(+) bekas jahitan sebelumnya. Penderita kembali berobat ke RSUD Muara
Enim lalu dirujuk ke RSMH Palembang.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat trauma sebelumnya : ada, 4 bulan yang lalu kecelakaan motor
Riwayat operasi : disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama dalam keluarga disangkal

2
2.3. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Pernafasan : 22x/menit
Nadi : 84x/menit
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Suhu : 36,7C

Keadaan Spesifik
Kepala : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat, isokor,
reflek cahaya (+/+)
Leher : JVP 5-2 cmH2O, pembesaran KGB (-)

Thorax : Simetris kanan=kiri


Paru
Inspeksi : Statis dan dinamis kanan = kiri
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler (+) normal, rinkhi (-), wheezing (-)

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi : Bunyi jantung I-II (+) normal, reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar, jejas (-), luka (-)
Palpasi : Lemas, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Ekstremitas
Akral hangat, CRT <3

Status Lokalis
Regio Cruris Dextra
Look : Warna sama dengan kulit disekitarnya, skar (+), deformitas
(+), diskrepansi (+) tampak shortening 2 cm

3
True length : dextra : 86 cm, sinistra : 88 cm
Apparent length : dextra : 88 cm, sinistra : 90 cm

Feel : nyeri tekan (+), krepitasi (+), neovaskular distal baik,


kekuatan otot 3.
Movement : Rom aktif dan pasif terbatas

2.4. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Laboratorium (11 Oktober 2016)
Hemoglobin : 16 g/dl (13,2-17,3 g/dL)
Eritrosit : 5.590.000 (4.200.000-4.870.000/mm3)
Leukosit : 12.700/mm3 (4.500-11.000/mm3)
Hematokrit : 42% (43-49%)
Trombosit : 349.000/L (150.000-450.000/L)
Hitung Jenis Leukosit : 0/14/50/29/7 (0-1/1-6/50-70/25-40/2-8)
Waktu Perdarahan : 1 menit (1-3 menit)
Waktu Pembekuan : 9 menit (9-15 menit)
Glukosa Puasa : 80 mg/dL (70-120 mg/dL)
Ureum : 27 mg/dL (16,6-48,5 mg/dL)

4
Kreatinin : 0,77 mg/dL (0,50-0,90 mg/dL)
Natrium : 144 mEq/L (135-155 mEq/L)
Kalium : 4,7 mEq/L (3,5-5,5 mEq/L)

Pemeriksaan Radiologi (10 Juli 2016)

Kesan :
Fraktur complete di 1/3 proximal tibia dextra

Pemeriksaan Radiologi (6 September 2016)

5
Kesan : Fraktur kominutif di 1/3 proximal tibia dextra

2.5. Diagnosis Kerja


Fraktur terbuka 1/3 proximal tibia dextra undisplaced grade III A

2.6. Penatalaksanaan
- Ketorolac injeksi 1x1 ampul
- Imobilisasi dengan spalk
- Rujuk ke Spesialis Bedah Orthopedi : Pro : Open Reduction and Internal
Fixation (ORIF)
- Rehabilitasi medik

2.7. Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Dubia ad Bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Tibia

6
Os tibia merupakan os longum yang terletak di sisi medial region cruris.
Ini merupakan tulang terpanjang kedua setelah os femur. Tulang ini terbentang
ke proksimal untuk membentuk articulatio genu dan ke distal terlihat semakin
mengecil.3
Os fibula atau calf bone terletak sebelah lateral dan lebih kecil dari tibia.
Extremitas proximalis fibula terletak agak posterior dari caput tibia, dibawah
articulatio genu. 3

Gambar 1. Anatomi Tibia

Fascia cruris merupakan tempat perleketan musculus dan bersatu dengan


periosteum. Ke proximal akan melanjutkan diri ke fascia lata, dan akan
melekat di sekitar articulatio genu ke os patella, ligamentum patellae,
tuberositas tibiae, dan capitulum fibulae. Ke posterior membentuk fascia
poplitea yang menutupi fossa poplitea. Disini tersusun oleh serabut-serabut
transversal yang ditembus oleh vena saphena parva. Fascia ini menerima
serabut-serabut tendo m.biceps femoris femoris disebelah lateral dan tendo m.
Sartorius, m.gracilis, m.semitendinosus, dan m.semimembranosus disebelah
medial. Keanterior, fascia ini bersatu dengan perosteum tibia serta perostenium

7
capitulum fibulae dan malleolus fibulae. Ke distal, fascia ini melanjutkan diri
ke raetinaculum mm.extensorum superior dan retinaculum mm. flexorum.
Fascia ini menjadi tebal dan kuat dibagian proximal dan anterior cruris, untuk
perlekatan m.tibialis anterior dan m.extensor digitorum longus. Tetapi, fascia
ini tipis dibagian posterior yang menutupi m.gastrocnemeus dan m.soleus.
disisi lateral cruris, fascia ini membentuk septum intermusculare anterius dan
septum intermusculare posterius.3

3.2 Definisi Fraktur


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari tulang, sering diikuti oleh
kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh
darah, otot dan persarafan.4 Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma
tunggal, tekanan yang berulang-ulang, atau kelemahan abnormal pada tulang
(fraktur patologik).5
Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung,
tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan, dan
trauma tidak langsung, trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari
daerah fraktur. Akibat trauna bergantung pada jenis trauma, kekuatan, arahnya
dan umur penderita.5

3.3 Etiologi Fraktur


Trauma
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan otot yang tiba-tiba dan
berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan,
pemuntiran, atau penarikan. Bila terkena kekuatan langsung, tulang dapat
patah pada tempat yang terkena; jaringan lunak juga pasti rusak. Bila
terkena kekuatan tak langsung, tulang dapat mengalami fraktur pada tempat
yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu; kerusakan jaringan lunak
di tempat fraktur mungkin tidak ada.6
Kompresi
Retak dapat terjadi pada tulang, sama halnya seperti pada logam dan benda
lain, akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering ditemukan

8
pada tibia atau fibula atau metatarsal, terutama pada atlet, penari, dan calon
tentara yang jalan berbaris dalam jarak jauh.6
Patologik
Fraktur dapat terjadi karena tekanan yang normal apabila tulang itu lemah
(misalnya oleh tumor) atau apabila tulang itu sangat rapuh (misalnya pada
penyakit paget).6

3.4 Klasifikasi Fraktur


a. Berdasarkan komplit - tidak komplit5,6
- Fraktur komplit : garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
- Fraktur tidak komplit : garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang seperti:
1. Hairline fracture
2. Buckle fracture atau torus fracture (terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya).
3. Greenstick fracture (mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak)

Gambar 2. a. Fraktur Komplit ; b. Fraktur inkomplit

b. Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma5,6


- Garis patah transverse
- Garis patah oblique
- Garis patah spiral
- Fraktur kompresi
- Fraktur avulsi

c. Jumlah garis patah5,6


- Fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan
- Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak
berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal.

9
- Fraktur multipel : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang
berlainan tempatnya.

d. Bergeser - tidak bergeser (displaced-undisplaced)5,6


- Fraktur undisplaced (tidak bergeser) : garis patah komplit tetapi kedua
fragmen tidak bergeser. Periosteumnya masih utuh.
- Fraktur displaced (bergeser) : terjadi pergeseran fragmen-fragmen
fraktur yang juga disebut dislokasi fragmen.
1. Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah
sumbu dan overlapping)
2. Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
3. Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling
menjauhi).

e. Fraktur terbuka tertutup5,6


Fraktur tertutup yaitu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan
dunia luar dan, terbuka dimana fraktur memiliki hubungan dengan dunia
luar.

Klasifikasi fraktur terbuka menurut Gustillo Anderson.6

10
Klasifikasi fraktur tertutup menurut Tscherne.6
Grade 0 : cedera jaringan lunak yang sedikit dan dapat diabaikan
Grade 1: abrasi superficial, atau kontusio jaringan lunak
Grade 2: kontusio signifikan pada otot, abrasi kulit terkontaminasi
Grade 3: cedera jaringan lunak yang berat, dapat disertai degloving, crushing,
sindrom kompartemen ataupun cedera vaskular

3.5 Diagnosis
Menegakkan diagnosis fraktur dapat secara klinis meliputi anamnesis lengkap
dan melakukan pemeriksaan fisik yang baik, namun sangat penting untuk
dikonfirmasikan dengan melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto
rontgen untuk membantu mengarahkan dan menilai secara objektif keadaan
yang sebenarnya.5
1. Anamnesis
Adanya riwayat trauma.
Bila tidak ada riwayat trauma berarti fraktur patologis. Trauma harus
diperinci jenisnya, besar-ringannya trauma, arah trauma dan posisi
penderita atau ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme trauma).Dari

11
anamnesis dapat diduga :
Kemungkinan politrauma.
Kemungkinan fraktur multipel.
Kemungkinan fraktur-fraktur tertentu, misalnya : fraktur colles,
fraktur supracondylair humerus, fraktur collum femur.
Pada anamnesa ada nyeri tetapi tidak jelas pada fraktur inkomplit
Ada gangguan fungsi, misalnya : fraktur femur, penderita tidak dapat
berjalan. Kadang-kadang fungsi masih dapat bertahan pada fraktur
inkomplit dan fraktur impacted ( impaksi tulang kortikal ke dalam
tulang spongiosa).

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
Dari pemeriksaan umum dicari kemungkinan kompikasi umum,
misalnya: shock pada fraktur multipel, fraktur pelvis atau fraktur terbuka,
tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka terinfeksi. Pada pemeriksaan
awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
Syok, anemia atau pendarahan
Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan
abdomen
Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.

Pemeriksaan Status Lokalis


Tanda-tanda klinis pada fraktur tulang panjang:
a. Look, cari apakah terdapat:
- Deformitas, terdiri dari penonjolan yang abnormal (misalnya pada
fraktur kondilus lateralis humerus), angulasi, rotasi dan
shortening.
- Functio laesa (hilangnya fungsi), misalnya pada fraktur tibia tidak
dapat berjalan.
- Lihat juga ukuran panjang tulang, bandingkan kiri dan kanan.
b. Feel, apakah terdapat nyeri tekan, nilai keadaan vaskularisasi dari
distal fraktur berupa nadi dan menguji sensasi.
c. Move, untuk mencari:
- Krepitasi, terasa bila fraktur digerakkan. Pemeriksaan ini sebaiknya
tidak dilakukan karena menambah trauma.
- Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif atau pasif.

12
- Seberapa jauh gangguan-gangguan fungsi, gerakan-gerakan yang
tidak mampu dilakukan, range of joint movement (derajat dari
ruang lingkup gerakan sendi) dan kekuatan. Penilaian dilakukan
secara hati hati karena sifat nyeri hebat dan kemungkinan merusak
jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.

3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk menentukan jenis dan kedudukan
fragmen fraktur. Foto Rontgen harus memenuhi beberapa syarat (rule of
two):
Dua pandangan
Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar-X tunggal
dansekurang-kurangnya harus dilakukan 2 sudut pandang (AP &
Lateral/Oblique).
Dua sendi
Pada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat mengalami
fraktur atau angulasi. Tetapi angulasi tidak mungkin terjadi
kecuali kalau tulang yang lain juga patah, atau suatu sendi mengalami
dislokasi. Sendi-sendi diatas dan di bawah fraktur keduanya harus
disertakan dalam foto sinar-X.

Dua tungkai
Pada sinar-X anak-anak epifise dapat mengacaukan diagnosis fraktur.
Foto pada tungkai yang tidak cedera akan bermanfaat.
Dua cedera
Kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari 1
tingkat. Karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu
juga diambil foto sinar-X pada pelvis dan tulang belakang.
Dua kesempatan
Segera setelah cedera, suatu fraktur mungkin sulit dilihat, kalau ragu-
ragu, sebagai akibat resorbsi tulang, pemeriksaan lebih jauh 10-14 hari
kemudian dapat memudahkan diagnosis.

Pemeriksaan radiologis lainnya :


CT-Scan : suatu jenis pemeriksaan untuk melihat lebih detail mengenai
bagian tulang atau sendi, dengan membuat foto irisan lapis demi lapis.
Pemeriksaan ini menggunakan pesawat khusus.13

13
MRI : MRI dapat digunakan untuk memeriksa hampir semua tulang,
sendi, dan jaringan lunak. MRI dapat digunakan untuk mengidentifikasi
cedera tendon, ligamen, otot, tulang rawan, dan tulang.

3.6 Proses Penyembuhan Tulang


Proses penyembuhan tulang yang mengalami fraktur terbagi menjadi beberapa
fase, yaitu:7
1. Fase hematoma (dalam waktu 24 jam timbul perdarahan)
Apabila terjadi fraktur maka pembuluh darah kecil yang melewati
kanalikuli dalam sistem harvesian mengalami robekan pada daerah fraktur
dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma
yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan dapat
mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat
terjadi ekstravasasi darah kedalam jaringan lunak. Osteosit dengan
lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan
kehilangan darah dan mati,yang akan menimbulkan suatu daerah cicin
avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.
2. Fase proliferasi/inflamasi (Terjadi 1 5 hari setelah trauma)
Terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi
penyembuhan. Penyembuhan terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang
berproliferasi dari perosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada
daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai aktivitas seluler dalam
canalis medullaris. Apabila terjadi robekan hebat pada periosteum maka
penyembuhan sel berasal dari sel-sel mesenkimal yang tidak berdiferensiasi
kedalam jaringan lunak. Pada tahap awal penyembuhan fraktur terjadi
penambahan jumlah sel-sel osteogenik yang memberikan pertumbuhan
yang cepat melebihi sifat tumor ganas. Jaringan seluler tidak terbentuk dari
organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa
minggu kalus dari fraktur akan membentuk satu massa yang meliputi
jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologi kalus belum mengandung
tulang sehingga masih merupakan suatu daerah radiolusen.
3. Fase pembentukan kalus (terjadi 6 10 hari setelah trauma)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen
sedasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas
membentuk tulang rawan. Tempat osteoblas diduduki oleh matriks

14
interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam-garam kalsium
membentuk tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut woven bone
(merupakan indikasi radiologi pertama penyembuhan fraktur).
4. Fase konsolidasi (2 3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan
diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang
menjadi struktur lamelar dan kelebihan kalus dapat diresorpsi secara
bertahap.
5. Fase remodeling (waktu lebih 10 minggu)
Perlahan-perlahan terjadi resorbsi secara osteoklastik dan tetap terjadi
proses osteoblastik pada kalus eksterna secara perlahan-lahan menghilang.
Kalus intermediet berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi sistem
haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk
membentuk ruang sum-sum.

Gambar 3. Proses Penyembuhan Tulang

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan tulang, antara lain :7


Faktor yang mengganggu penyembuhan fraktur
1. Imobilisasi yang tidak cukup
Imobilisasi dalam balutan gips umumnya memenuhi syarat imobilisasi,
asalkan persendian proksimal dan distal dari patah tulang turut di imobilisasi.
Gerakan minimal pada ujung pecahan patah tulang di tengah otot dan didalam
lingkaran kulit dalam gips, yang misalnya disebabkan oleh latihan ekstremitas
yang patah tulang tidak mengganggu, bahkan dapat merangsang
perkembangan kalus. Hal ini berlaku utuk patah tulang yang ditangani gips
maupun traksi.

15
2. Infeksi
Infeksi di daerah patah tulang merupakan penyulit berat.
Hematom merupakan lingkungan subur untuk kuman patologik yang dapat
menyebabkan osteomyelitis di kedua ujung patah tulang, sehingga proses
penyembuhan sama sekali tidak dapat berlangsung.
3. Ruang diantara kedua fragmen serta Interposisi oleh jaringan lunak
Interposisi jaringan seperti otot atau tendo antara kedua fragmen patah tulang
dapat menjadi halangan perkembangan kalus antara ujung patahan tulang.
Penyebab yang lain, karena distraksi yang mungkin disebabkan oleh kelebihan
traksi atau karena tonus dan tarikan otot.
4. Gangguan perdarahan setempat
Pendarahan jaringan tulang yang mencukupi untuk membentuk tulang baru
merupakan syarat mutlak penyatuan fraktur.
5. Trauma lokal ekstensif
6. Kehilangan tulang
7. Rongga atau jaringan diantara fragmen tulang
8. Keganasan lokal
9. Penyakit tulang metabolik (mis; penyakit paget)
10. Radiasi (nekrosis radiasi)
11. Nekrosis avaskuler
Apabila kedua fragmen mempunyai vaskularisasyang baik, maka penyembuhan
biasanya tanpa komplikasi akan tetapi bila salah satu sisi fraktur
vaskularisasinya jelek sehingga mengalami kematian maka akan menghambat
penyembuhannya.
12. Fraktur intra artikuler (cairan sinovial mengandung fibrolisin, yang akan melisis
bekuan darah awal dan memperlambat pembentukan jendalan)
13. Usia (lansia sembuh lebih lama)
Waktu penyembuhan tulang pada anak-anak jauh lebih cepat daripada orang
dewasa. Hal ini terutama disebabkan karena aktifitas proses osteogenesis pada
periosteum dan endosteum dan juga berhubungan dengan proses remodeling
tulang pada bayi sangat aktif dan makin berkurang apabila umur bertambah.
14. Kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan)

Faktor yang mempercepat penyembuhan fraktur.8,9


1. Imobilisasi fragmen tulang
2. Kontak fragmen tulang maksimal
3. Asupan darah yang memadai (dengan syarat imobilisasi yang baik)
4. Nutrisi yang baik
5. Latihan-pembebanan berat badan untuk tulang panjang

16
6. Hormon-hormon pertumbuhan, tiroid kalsitonin, vitamain D, steroid anabolic
7. Potensial listrik pada patahan tulang
Penyembuhan fraktur berkisar antara 3 minggu sampai 4 bulan. Waktu
penyembuhan pada anak secara kasar waktu penyembuhan pada dewasa.

3.7 Komplikasi fraktur


Komplikasi pada fraktur dapat timbul segera, secara dini maupun lanjut: 9
Komplikasi segera
- Kulit dan otot; berbagai vulnus, kontusio, avulsi
- Vaskular; terputus, kontusio, perdarahan
- Organ dalam; jantung, paru-paru, hepar, limpa (pada fraktur kosta), buli-
buli (pada fraktur pelvis)
Komplikasi dini pada fraktur:
- Tulang : infeksi
- Jaringan lunak : Lepuh dan luka akibat gips, otot dan tendon robek, cedera
vaskular (termasuk sindroma kompartemen), cedera saraf, cedera visceral
- Sendi : Hemartrosis dan infeksi, cedera ligament.
Komplikasi lanjut pada fraktur:
- Tulang : Nekrosis avaskular, penyatuan lambat dan non-union, mal-union,
osteomyelitis, gangguan pertumbuhan, patah tulang rekuren.
- Jaringan lunak : Ulkus dekubitus, miositis osifikans, tendinitis dan rupture
tendon, tekanan dan terjepitnya saraf, kontraktur volkmann
- Sendi : Ketidakstabilan, kekakuan.

3.8 Tatalaksana

Secara umum prinsip pengobatan fraktur ada 4, yaitu:10,11


1. Recognition, diagnosis dan penilaian fraktur.
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksan klinis dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu
diperhatikan:
- Lokalisasi fraktur
- Bentuk fraktur
- Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan
- Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan
2. Reduction yaitu dengan mengurangi fraktur apabila perlu restorasi fragmen
fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima. Pada fraktur
intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat mungkin
mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan,

17
deformitas, serta perubahan osteoartritis di kemudian hari. Posisi yang baik
adalah :
- Alignment yang sempurna
- Aposisi yang sempurna
3. Retention; imobilisasi fraktur
4. Rehabilitation yaitu mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

Pilihan terapi
Ada 2 terapi, pilihan berdasarkan banyak faktor seperti bentuk fraktur, usia penderita,
level aktivitas, dan pilihan dokter sendiri.10,11

Terapi pada fraktur tertutup10,11


Pilihannya adalah terapi konservatif atau operatif .
Terapi konservatif
a. Proteksi saja Untuk penanganan fraktur dengan dislokasi fragen yang
minimal atau dengan dislokasi yang tidak akan menyebabkan cacat di
kemudian hari.
b. Immobilisasi saja tanpa reposisi Misalnya pemasangan gips pada fraktur
inkomplit dan fraktur dengan kedudukan yang baik.
c. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Ini dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti. Fragen
distal dikembalikan ke kedudukan semula terhadap fragen proksimal dan
dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips.
d. Traksi
Ini dilakukan pada fraktur yang akan terdislokasi kembali di dalam gips. Cara
ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat. Traksi dapat untuk reposisi
secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips setelah tidak
sakit lagi. Pada anak-anak dipakai traksi kulit (traksi Hamilton Russel/traksi
Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg, untuk anak-
anak waktu dan beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi
definitif, bilamana tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips. Untuk
orang dewasa traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction.

18
Gambar5.Traksi

Terapi operatif

Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan radiologis.

1. Reposisi tertutup fiksasi externa


Setelah reposisi berdasarkan control radiologis intraoperatif maka dipasang
fiksasi externa. Untuk fiksasi fragmen patahan tulang, digunakan pin baja yang
ditusukkan pada fragmen tulang, kemudian pin baja tadi disatukan secara
kokoh dengan batangan logam di luar kulit.
2. Reposisi tertutup dengan control radiologis diikuti fiksasi interna.Fragmen
direposisi secara non operatif dengan meja traksi. Setelah tereposisi dilakukan
pemasangan pen secara operatif.

Terapi operatif dengan membuka frakturnya

1. Reposisi terbuka dan fikasasi interna / ORIF (Open Reduction and Internal
Fixation)fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di dalam sumsum tulang
panjang, bisa juga berupa plat dengan skrup di permukaan tulang. Keuntungan
ORIF adalah bisa dicapai reposisi sempurna dan bila dipasang fiksasi interna

19
yang kokoh, sesudah operasi tidak perlu lagi dipasang gips dan segera bisa
dilakukan immobilisasi. Kerugiannya adalah reposisi secara operatif ini

mengundang resiko infeksi tulang.

Gambar 6. Fiksasi Interna

Indikasi ORIF:
a. Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi.
b. Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup
c. Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan.
d. Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik
dengan operasi, misalnya fraktur femur.

2. Excisional arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi.
3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis dilakukan pada fraktur kolum
femur.
Terapi pada fraktur terbuka10,11
Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan segera.
Tindakan harus sudah dimulai dari fase pra rumah sakit:
- Pembidaian
- Menghentikan perdarahan dengan perban tekan
- Menghentikan perdarahan dengan perban klem.

Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh karena 40% dari

20
fraktur terbuka merupakan polytrauma. Tindakan life-saving harus selalu di
dahulukan dalam kerangka kerja terpadu.Tindakan terhadap fraktur terbuka:

1. Nilai derajat luka, kemudian tutup luka dengan kassa steril serta pembidaian
anggota gerak, kemudian anggota gerak ditinggikan.
2. Kirim ke radiologi untuk menilai jenis dan kedudukan fraktur serta tindakan
reposisi terbuka, usahakan agar dapat dikerjakan dalam waktu kurang dari 6 jam
(golden period 4 jam)
3. Penderita diberi toksoid, ATS atau tetanus human globulin.

Tindakan reposisi terbuka (di ruang operasi):


1. Pemasangan torniquet di kamar operasi dalam pembiusan yang baik.
2. Ambil swab untuk pemeriksaan mikroorganisme dan kultur/ sensitifity test.
3. Dalam keadaan narkose, seluruh ekstremitas dicuci selama 5-10 menit dan
dicukur.
4. Luka diirigasi dengan cairan Naci steril atau air matang 5-10 liter. Luka derajat 3
harus disemprot hingga bebas dari kontaminasi.
5. Tutup luka dengan doek steril
6. Ahli bedah cuci tangan dan seterusnya
7. Desinfeksi anggota gerak
8. Debridement luka (semua kotoran dan jaringan nekrosis kecuali neurovascular
vital termasuk fragmen tulang lepas dan kecil) dan diikuti reposisi terbuka, kalau
perlu perpanjang luka dan membuat incisi baru untuk reposisi tebuka dengan
baik.
9. Fiksasi:
a. Fiksasi interna untuk fraktur yang sudah dipertahankan reposisinya
(unstable fracture) minimal dengan Kischner wire
b. Intra medular nailing atau plate screw sesuai dengan indikasinya seperti
pada operasi elektif, terutama yang dapat dilakukan dalam masa golden
period untuk fraktur terbuka grade 1-2
c. Tes stabilitas pada tiap tindakan. Apabila fiksasi interna tidak memadai
(karena sifatnya hanya adaptasi) buat fiksasi luar (dengan gips spalk atau
sirkular)
d. Setiap luka yang tidak bisa dijahit, karena akan menimbulkan ketegangan,
biarkan terbuka dan luka ditutup dengan dressing biasa atau dibuat sayatan
kontra lateral.Untuk grade 3 kalau perlu: Pasang fikasasi externa dengan

21
fixator externa (pin/screw dengan K nail/wire dan acrylic cement).
Usahakan agar alignment dan panjang anggota gerak sebaik-baiknya.
Apabila hanya dipasang gips, pasanglah gips sirkuler dan kemudian gips
dibelah langsung (split) setelah selesai operasi.
e. Buat x-ray setelah tindakan

3.9 Prognosis
Prognosis dari fraktur tibia fibula untuk kehidupan adalah bonam. Pada
sisi fungsi dari kaki yang cedera, kebanyakan pasien kembali ke performa
semula, namun hal ini sangat tergantung dari gambaran frakturnya, macam
terapi yang dipilih, dan bagaimana respon tubuh terhadap pengobatan.10,11
Komplikasi infeksi yang menyebabkan osteomielitis biasanya merupakan
akibat dari fraktur terbuka meskipun tidak jarang terjadi setelah reposisi
terbuka.

BAB IV
ANALISA KASUS

Seorang laki-laki berusia 23 tahun datang dengan keluhan utama sulit


menggerakkan tungkai kanan dan keluhan tambahan nyeri saat menggerakkan
tungkai kanan. Dari anamnesa didapatkan bahwa 4 bulan SMRS penderita
mengalami kecelakaan motor dan saat terjatuh terdengar bunyi krek pada tungkai
kanan. Kaki kanan menjadi sulit digerakkan dan nyeri bertambah ketika digerakkan.
Berdasarkan anamnesa di atas dapat disimpulkan bahwa penderita mengalami trauma
langsung dengan energi besar akibat kecelakaan motor pada tungkai kanan. Hal ini
menunjukkan kemungkinan terjadi fraktur, dan bukan fraktur patologis. Saat
kejadian penderita mengaku mengalami luka robek pada tungkai kanan sehingga
kemungkinan terjadi fraktur terbuka.

22
Dari pemeriksaan fisik pada inspeksi terdapat skar bekas luka robek yang
telah sembuh dan pemendekan pada tungkai kanan. Pada palpasi terdapat nyeri pada
tungkai kanan atas dan tidak terdapat gangguan pada sistem saraf dan pembuluh
darah. Pada pemeriksaan ROM didapatkan pergerakan aktif dan pasif yang terbatas.
Hal ini mengarahkan adanya suatu fraktur tibia dextra. Namun untuk memastikan
suatu fraktur diperlukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen.

Pemeriksaan foto rontgen tanggal 10 Juli 2016 didapatkan kesan fraktur


complete di 1/3 proximal tibia dextra, dan pemeriksaan foto rontgen tanggal 6
September 2016 didapatkan kesan fraktur kominutif di 1/3 proximal tibia dextra.
Dari pemeriksaan ini dapat ditetapkan bahwa penyebab keluhan pada penderita
adalah fraktur pada tibia.

Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang


penderita mengalami fraktur akibat trauma dengan energi besar sejak sekitar 6 bulan
yang lalu, sehingga diagnosa pada penderita yaitu fraktur kominutif tibia dextra 1/3
proximal undisplaced terbuka grade III A.

Berdasarkan prinsip penanganan fraktur, tindakan pertama yang dilakukan adalah


recognition atau mengidentifikasi fraktur yang dialami penderita. Kedua adalah
reduction/reposisi dan sekaligus retaining, dimana fraktur direposisi dan
dipertahankan dengan menggunakan ORIF. Terakhir adalah rehabilitasi yaitu
mengembalikan fungsi ekstremitas yang terganggu karena fraktur. Prognosis pada
kasus ini adalah dubia ad bonam.
DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2. Jakarta: Media


Aesculapius, 2000.346-370
2. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: EGC, 2005.
840-841.
3. Snell, Anatomi Klinik. Bagian 2. Edisi ketiga. Jakarta: EGC. 1998
4. Evans, P.J., B.J McGrory. 2001. Fracture of The Proximal Femur. ME:
Orthopaedic Associates of Portland.

23
5. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, cetakan ke-V. Jakarta:
Yarsif Watampone, 2008. 332-334.
6. Apley, A.G.,L. Solomon. 1995. Buku Ajar Ortopedi Fraktur Sistem Apley.
Edisi 7. Jakarta: Widya Medika.
7. Sami. 2015. Fracture Healing. (http://orthotips.com/198-fracture-healing,
diakses pada 5 November 2016)
8. Hoppenfeld, S., 1999. Treatment and Rehabilitation of Fractures. New York:
Lippincott Williams & Wilkins
9. Jay. R. liberman, M. D. and Gary E Friedlaender . Bone Regeneration and
Repair, Human Press, new jersey, United States of America.21-38,2005
10. Buckley, R., . General Principle of Fracture Care, Department of Surgery,
Division of Orthopaedi, University of Calgary, Canada:4-32,2004
11. Doherty M. Gerard. Current Diagnosis and Treatment Surgery.13th Edition.
New York: Mc Grow Hill. 2009

24