Anda di halaman 1dari 17

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

OTONOMI DAERAH DAN GLOBALISASI

Kelompok VII

Ketua : M0H HASDI


Presenter :
Moh Fadli
Moh Fitrah
Bramantyo Budi Handoyo

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
PROGRAM STUDI GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
2014

RINGKASAN

17
16
Saat ini, hampir tiap negara bersiap-siap untuk menyambut dan menghadapi era
perdagangan bebas, baik dalam kerangka AFTA, APEC gmaupun WTO. Setiap negara
berupaya secara maksimal untuk menciptakan rerangka kebijakan yang mampu
menciptakan iklim perekonomian yang kondusif. Hal tersebut dimaksudkan untuk
meningkatkan investasi dalam negeri serta mampu mendorong masyarakat untuk
bermain di pasar global. Salah satu implikasi dari kondisi di atas adalah adanya tuntutan
masyarakat yang semakin tinggi terhadap efisiensi, dan efektivitas sektor publik
(pemerintahan). Hal tersebut disebabkan pasar tidak akan kondusif jika sektor
publiknya tidak efisien.
Pemberian otonomi daerah diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan
akuntabilitas sektor publik di Indonesia. Dengan otonomi, Daerah dituntut untuk
mencari alternatif sumber pembiayaan pembangunan tanpa mengurangi harapan masih
adanya bantuan dan bagian (sharing) dari Pemerintah Pusat dan menggunakan dana
publik sesuai dengan prioritas dan aspirasi masyarakat.
Dengan kondisi seperti ini, peranan investasi swasta dan perusahaan milik daerah
sangat diharapkan sebagai pemacu utama pertumbuhan dan pembangunan ekonomi
daerah (enginee of growth). Daerah juga diharapkan mampu menarik investor untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta menimbulkan efek multiplier yang
besar.
Pemberian otonomi daerah diharapkan dapat memberikan keleluasaan kepada daerah
dalam pembangunan daerah melalui usaha-usaha yang sejauh mungkin mampu
meningkatkan partisipasi aktif masyarakat, karena pada dasarnya terkandung tiga misi
utama sehubungan dengan pelaksanaan otonomi daerah tersebut, yaitu:
1. Menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah
2. Meningkatkan kualitas pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat
3. Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk ikut serta
(berpartisipasi) dalam proses pembangunan.
Globalisasi ekonomi telah meningkatkan persaingan antar negara-negara dalam suatu
sistem ekonomi internasional. Salah satu cara menghadapi dan memanfaatkan
perdagangan internasional adalah meningkatkan daya saing melalui peningkatan
efisiensi dan produktivitas kerja. Sebagai langkah awal untuk meningkatkan efisiensi
dan produktivitas, perlu dilakukan perubahan struktural untuk memperkuat kedudukan
dan peran ekonomi rakyat dalam perekonomiannasional.
KATA PENGATAR

Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucapkan
kepada Allah STW, yang karena bimbingannyalah maka penulis bisa menyelesaikan
sebuah karya tulis otonomi daerah berjudul Otonomi Daerah dan Globalisasi
Makalah ini dibuat dengan berbagai panduan dan referensi dalam jangka waktu tertentu
sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Saya
mengucapkan terimakasih kepada pihak terkait yang telah membantu saya dalam
menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah
ini. Oleh karna itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang
bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita
semua.

Palu, 23 September 2014

Penulis

17
16
Daftar isi
Ringkasan..1
Kata pengantar..2
Daftar isi3
1. BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang
Permasalahan
Tujuan Pembahasan
Manfaat Permasalahan

2. BAB II Pembahasan

3. BAB III PENUTUP


Kesimpulan
Rekomendasi
Daftar pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan
internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering
menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau
batasbatas negara.
Globalisasi sangat populer di semua kalangan masyarakat, mulai dari kalangan
akademisi, pelajar, profesional, pejabat pemerintahan samapi mastarakat umum. Sedang
kalangan masyarakat yang tidak mengenal istilah itu secara sadar atau tidak
sesungguhnya sedang hidup dan berada pada zaman globalisasi. Jadi globalisasi adalah
zaman atau kondisi yang tidak dapat dihindari oleh siapapun.
Banyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20
ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan
globalisasi dalam hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang
lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai
mengenal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para
pedagang dari Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat
(seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk berdagang. Fenomena
berkembangnya perusahaan McDonald di seluroh pelosok dunia menunjukkan telah
terjadinya globalisasi.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung
oleh negaranegara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau
curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme
dalam bentuk yang paling mutakhir. Negaranegara yang kuat dan kaya praktis akan
mengendalikan ekonomi dunia dan negaranegara kecil makin tidak berdaya karena
tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap
perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidangbidang lain seperti budaya
dan agama.
Banyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke20
ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan
globalisasi dalam hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabadabad yang
lalu. Bila ditelusuri, benihbenih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai
mengenal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M.

17
16
Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi,
politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lainlain. Dewasa ini,
perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai
bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu
globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Kehadiran globalisasi tentunya
membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia.
Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar
juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indonesia misalnya,
sejak politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya
di Indonesia. Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British
Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan multinasional seperti ini
tetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini.
Idealnya setiap warga negara harus tahu hak dan kewajiban dalam konteks
hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta memahami atributatribut
kenegaraan seperti lambang negara dan berbagai peraturan perundangan. Sebagaimana
diketahui dalam UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah serta kaitannya
dengan masalah globalisasi.
Mengurus negara yang sangat luas dengan rakyat yang sangat banyak dan
multikultur akan sangat sulit jika dilakukan secara sentralisasi (terpusat) oleh
pemerintah pusat saja. Adanya pengaturan secara terpusat menjadikan lemahnya
kemandirian pemerintah di daerah dalam mengem bangkan potensi daerah. Para pendiri
negara telah mengamanatkan dalam Pasal 1 UUD 1945 bahwa Indonesia adalah negara
kesatuan yang berbentuk republik. Negara kesatuan bukan berarti bahwa mengelola
negara itu hanya hak dan tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan juga hak dan
tugas pemerintah daerah. Untuk lebih menciptakan peran nyata daerah dalam
pembangunan nasional maka dilaksanakanlah otonomi daerah.
Istilah otonomi daerah dan desentralisasi dalam konteks bahasan system
penyelenggaraan pemerintahan sering digunakan secara aduk.
Desentralisasi pada dasarnya mempersoalkan pembagian kewenangan kepada
organ-organ penyelenggara Negara, sedangakan otonomi menyangkut hak yang
mengikuti pembagian wewenang tersebut.
Otonomi dalam arti sempit dapat diartikan mandiri sedangkan dalam makna
luas sebagai berdaya. Jadi otonomi daerah berarti kemandirian suatu daerah dalam
kaitan pembuatan dan pengambilan keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri.
Proses desentraslisasi dan pemberian otonomi daerah adalah proses yang tak
terelakkan, imperatif harus dilaksanakan bila kita tetap ingin mempertahankan kesatuan
bangsa dan negara kita. Proses desentralisasi dan pemberian otonomi daerah untuk
memberdayakan daerah lahir dari suatu paradigma pemerintahan era reformasi.
Pelaksanaan otonomi daerah dipengaruhi oleh faktorfaktor yang meliputi
kemampuan si pelaksana, kemampuan dalam keuangan, ketersediaan alat dan bahan,
dan kemampuan dalam berorganisasi. Otonomi daerah tidak mencakup bidangbidang
tertentu, seperti politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter, fiskal,
dan agama. Bidangbidang tersebut tetap menjadi urusan pemerintah pusat.
Pelaksanaan otonomi daerah berdasar pada prinsip demokrasi, keadilan, pemerataan,
dan keanekaragaman.
Dengan diberlakukannya UndangUndang No. 22 Tahun 1999, kemudian
diganti dengan UndangUndang No. 32 Tahun 2004, mengandung makna pemerintah
pusat tidak lagi mengurus kepentingan rumah tangga daerahdaerah. Kewenangan
mengatur, dan mengurus rumah tangga daerah diserahkan kepada pemerintah dan
masyarakat di daerah. Dengan demikian, pemerintah pusat hanya sebagai supervisor,
pemantau, pengawas, dan pengevaluasi

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapatlah diidentifikasikan beberapa masalah


yaitu sebagai berikut :

1. Bagaimana pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia ?

2. Apa saja prinsipprinsip otonomi daerah ?

3. Apa sajakah dampak positif dan negatif dari globalisasi ?

4. Bagaimana perkembangan globalisasi ?

5. Apa saja ciriciri globalisasi ?

C. Tujuan Pembahasan

Adapun tujuan dan kegunaan dalam Pembahas, antara lain yaitu :

1. Tujuan Pembahasan ini ditujukan untuk mengetahui seberapa besar Pengaruh


globalisasi terhadap otonomi daerah
17
16
2. Untuk memecahkan masalahmasalah yang ada pengaruhnya globalisasi terhadap
otonomi daerah.

D. Manfaat Permasalahan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Deskripsi Teori
1. Hakikat Otonomi Daerah
Secara etimologi, istilah otonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu autos yang berarti
sendiri dan nomos yang berarti mengatur dan mengurus. Jadi, kata otonomi dapat
diartikan sebagai pengaturan perundangundangan sendiri atau pemerintahan sendiri.
Dalam otonomi bukan berarti kewenangan atau kebebasan yang diberikan dapat
dilakukan dengan sebebasbebasnya, melainkan kebebasan yang di dalamnya melekat
kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan.
Otonomi daerah dapat diartikan sebagai hak, wewenang, dan kewajiban yang
diberikan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat untuk meningkatkan daya guna
dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap
masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang
undangan.
Wewenang untuk mengurus urusan rumah tangganya sendirinya inilah yang
disebut dengan hak otonomi. Terdapat banyak pengertian tentang otonomi berdasarkan
sudut pandang masingmasing pakar, yang sebagai berikut :
1) Prof. Soepomo, memandang otonomi sebagai prinsip penghormatan terhadap
kehidupan regional sesuai dengan riwayat, adat istiadat, dan sifatsifatnya
dalam kadar negara kesatuan RI.
2) Price dan Mueller, memandang otonomi sebagai seberapa banyak dan luas
otoritas pengambilan keputusan yang dimiliki suatu organisasi/pemerintahan.
Semakin banyak dan luas otoritas pengambilan keputusan, maka semakin
tinggi tingkat otonominya.
3) The Liang Gie, melihat dari empat sudut, yaitu :
a) Sudut politik, yakni tidak hanya sebagai permainan kekuasaan yang
dapat mengarah pada penumpukan kekuasaan yang seharusnya kepada
penyebaran kekuasaan, tetapi juga sebagai tindakan pendemokrasian
untk melatih diri dalam mempergunakan hakhak demokrasi.
b) Sudut teknik organisatoris sebagai cara untuk menerapkan dan
melaksanakan pemerintahan yang efisien.
c) Sudut kultural, yaitu perhatian terhadap keberadaan atau khusus
kedaerahan.
d) Sudut pembangunan, yaitu otonomi secara langsung memperhatikan dan
memperlancar serta meratakan pembangunan.

17
16
Van der Pot, memahami konsep otonomi daerah sebagai menjalankan rumah
tangga sendiri. Otonomi adalah pemberian hak kepada daerah untuk mengatur sendiri
daerahnya. Daerah mempunyai kebebasan inisiatif dalam peyelenggaraan rumah
tangga dan pemerintahan di daerah. Selain itu, bisa dimaknai sebagai kebebasan dan
kemandirian satuan pemerintahan lebih rendah untuk mengatur dan mengurus
sebagian urusan pemerintahan.
Porsi otonomi daerah menurut Lacia, tidak cukup dalam wujud otonomi daerah yang
luas dan bertanggung jawab, tetapi harus diwujudkan dalam format otonomi daerah
ang seluasluasnya. Konsep pemerintahan otonomi yang seluasluasnya merupakan
salah satu upaya untuk menghindari ide negara federal. Cakupan otonomi seluas
luasnya adalah bermakna penyerahan urusan sebanyak mungkin kepada daerah untuk
menjadi urusan rumah tangga sendiri.
Di sisi lain, Soehino bepandangan bahwa cakupan otonomi seluasluasnya
bermakna penyerahan urusan sebanyak mungkin kepada daerah untuk menjadi urusan
rumah tangga sendiri. Nasroen berpendapat bahwa otonomi daerah seluasluasnya
bukan tanpa batas sehingga mereakan negara kesatuan. Otonomi daerah berarti
berotonomi dalam negara.
Sesuai UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU
Nomor 32 Tahun 2004) definisi otonomi daerah sebagai berikut: Otonomi daerah
adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundangundangan.
UU Nomor 32 Tahun 2004 juga mendefinisikan daerah otonom sebagai
berikut: Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat
hukum yang mempunyai batasbatas wilayah yang berwenang mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Sejak diberlakukannya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
banyak aspek positif yang diharapkan dalam pemberlakuan UndangUndang tersebut.
Otonomi Daerah memang dapat membawa perubahan positif di daerah dalam hal
kewenangan daerah untuk mengatur diri sendiri. Kewenangan ini menjadi sebuah
impian karena sistem pemerintahan yang sentralistik cenderung menempatkan daerah
sebagai pelaku pembangunan yang tidak begitu penting atau sebagai pelaku pinggiran.
Tujuan pemberian otonomi kepada daerah sangat baik, yaitu untuk memberdayakan
daerah, termasuk masyarakatnya, mendorong prakarsa dan peran serta masyarakat
dalam proses pemerintahan dan pembangunan.
Pada masa lalu, pengerukan potensi daerah ke pusat terus dilakukan dengan
dalih pemerataan pembangunan. Alihalih mendapatkan manfaat dari pembangunan,
daerah justru mengalami proses pemiskinan yang luar biasa. Dengan kewenangan
yang didapat daerah dari pelaksanaan Otonomi Daerah, banyak daerah yang optimis
bakal bisa mengubah keadaan yang tidak menguntungkan tersebut.
Beberapa contoh keberhasilan dari berbagai daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah
yaitu:
1. Di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, masyarakat lokal dan LSM yang
mendukung telah berkerja sama dengan dewan setempat untuk merancang
suatu aturan tentang pengelolaan sumber daya kehutanan yang bersifat
kemasyarakatan (communitybased). Aturan itu ditetapkan pada bulan
Oktober yang memungkinkan bupati mengeluarkan izin kepada masyarakat
untuk mengelola hutan milik negara dengan cara yang berkelanjutan.
2. Di Gorontalo, Sulawesi, masyarakat nelayan di sana dengan bantuan LSM
LSM setempat serta para pejabat yang simpatik di wilayah provinsi baru
tersebut berhasil mendapatkan kembali kontrol mereka terhadap wilayah
perikanan tradisional/adat mereka.
Kedua contoh di atas menggambarkan bahwa pelaksanaan Otonomi Daerah
dapat membawa dampak positif bagi kemajuan suatu daerah. Kedua contoh
diatas dapat terjadi berkat adanya Otonomi Daerah di daerah terebut. Selain
membawa dampak positif bagi suatu daerah otonom, ternyata pelaksanaan
Otonomi Daerah juga dapat membawa dampak negatif. Pada tahap awal
pelaksanaan Otonomi Daerah, telah banyak mengundang suara pro dan kontra.
Suara pro umumnya datang dari daerah yang kaya akan sumber daya, daerah
daerah tersebut tidak sabar ingin agar Otonomi Daerah tersebut segera
diberlakukan.
Sebaliknya, bagi daerahdaerah yang tidak kaya akan sumber daya, mereka
pesimis menghadapi era otonomi daerah tersebut. Masalahnya, otonomi daerah
menuntut kesiapan daerah di segala bidang termasuk peraturan perundang-
undangan dan sumber keuangan daerah. Oleh karena itu, bagi daerahdaerah
yang tidak kaya akan sumber daya pada umumnya belum siap ketika Otonomi
Daerah pertama kali diberlakukan. Selain karena kurangnya kesiapan daerah
daerah yang tidak kaya akan sumber daya dengan berlakunya otonomi daerah,
dampak negatif dari otonomi daerah juga dapat timbul karena adanya berbagai
penyelewengan dalam pelaksanaan Otonomi Daerah tersebut.
Berbagai penyelewengan dalam pelaksanan otonomi daerah :

17
16
1. Adanya kecenderungan pemerintah daerah untuk mengeksploitasi rakyat
melalui pengumpulan pendapatan daerah.
Keterbatasan sumber daya dihadapkan dengan tuntutan kebutuhan dana
(pembangunan dan rutin operasional pemerintahan) yang besar. Hal tersebut
memaksa Pemerintah Daerah menempuh pilihan yang membebani rakyat,
misalnya memperluas dan atau meningkatkan objek pajak dan retribusi.
Padahal banyaknya pungutan hanya akan menambah biaya ekonomi yang akan
merugikan perkembangan ekonomi daerah. Pemerintah daerah yang terlalu
intensif memungut pajak dan retribusi dari rakyatnya hanya akam menambah
beratnya beban yang harus ditanggung warga masyarakat.
2. Penggunaan dana anggaran yang tidak terkontrol
Hal ini dapat dilihat dari pemberian fasilitas yang berlebihan kepada pejabat
daerah. Pemberian fasilitas yang berlebihan ini merupakan bukti ketidakarifan
pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerah.
3. Rusaknya Sumber Daya Alam
Rusaknya sumber daya alam ini disebabkan karena adanya keinginan dari
Pemerintah Daerah untuk menghimpun pendapatan asli daerah (PAD), di mana
Pemerintah Daerah menguras sumber daya alam potensial yang ada, tanpa
mempertimbangkan dampak negatif/kerusakan lingkungan dan prinsip
pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Selain itu, adanya
kegiatan dari beberapa orang Bupati yang menetapkan peningkatan ekstraksi
besarbesaran sumber daya alam di daerah mereka, di mana ekstraksi ini
merupakan suatu proses yang semakin mempercepat perusakan dan punahnya
hutan serta sengketa terhadap tanah.
4. Bergesernya praktik korupsi dari pusat ke daerah
Praktik korupsi di daerah tersebut terjadi pada proses pengadaan barang
barang dan jasa daerah (procurement). Seringkali terjadi harga sebuah barang
dianggarkan jauh lebih besar dari harga barang tersebut sebenarnya di pasar.
5. Pemerintahan kabupaten juga tergoda untuk menjadikan sumbangan yang
diperoleh dari hutan milik negara dan perusahaan perkebunaan bagi budget
mereka.
Ada beberapa hal yang menjadi prinsip di dalam otonomi daerah, antara lain :
1. Otonomi adalah pemberian keleluasaan kepada daerah untuk mengatur
dan mengurus rumah tangga daerah secara mandiri ( self governing )
sesuai situasi, kondisi, dan karakteristik daerah dalam lingkup wilayah
negara. Otonomi berkaitan dengan kemampuan daerah untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas
otonomi dan tugas pembantuan.
2. Otonomi daerah menjalankan otonomi seluasluasnya dalam arti bahwa
daerah diberi kewenangan mengatur dan mengurus semua urusan
pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintahan Pusat. Daerah
memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk member
pelayanan, peningkatan peran serta prakarsa, dan pemberdayaan
masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
3. Dalam menerapkan otonomi seluasluasnya, didasarkan pada prinsip
otonomi yang nyata, bertanggung jawab, dinamis, dan serasi. Otonomi
nyata berarti bahwa pemberian otonomi daerah harus didasarkan pada
faktorfaktor keadaan setempat yang memang benarbenar dapat
menjamin daerah bersangkutan mampu secara nyata mengatur rumah
tangganya sendiri. Otonomi yang bertanggung jawab dalam arti bahwa
pemberian otonomi benarbenar sejalan dengan tujuannya untuk
melancarkan pembangunan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air,
yang pada akhirnya dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat secara adil
dan merata.
Otonomi yang dinamis dalam arti bahwa otonomi daerah tidak tetap,
tetapi dapat berubah, bertambah apabila pemerintah pusat menambah
penyerahan urusannya kepada daerah, dan berkurang apabila urusan
daerah yang bersangkutan sudah menyangkut urusan nasional atau
daerah tidak mampu lagi mengurusi urusan yang sudah diserahkan,
maka urusan tersebut dapat ditarik menjadi urusan pemerintah pusat
kembali. Otonomi yang serasi dalam arti bahwa pelaksanaan
pembangunan tetap dijaga keseimbangan antara daerah dan
pemerintah pusat agar tidak terjadi ketimpangan satu daerah dengan
daerah lain. Otonomi daerah diselenggarakan untuk menjamin
keutuhan wilayah negara dan tetap tegaknya NKRI dalam rangka
mewujudkan tujuan negara.
4. Dalam menjalankan otonomi daerah, baik pemerintah pusat maupun
daerah memegang teguh prinsip berkeadilan dan berkeadaban,
kegotongroyongan membangun kesejahteraan daerah dan masyarakat,
permusyawaratan dan meniadakan ketimpangan sosialekonomi serta
ketimpangan antar daerah.

2. Hakikat Globalisasi
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang
maknanya ialah universal. Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan

17
16
dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di
tseluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan
bentukbentuk interaksi yang lain sehingga batasbatas suatu negara menjadi semakin
sempit. Globalisasi adalah suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok, dan
antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain
yang melintasi batas negara.t
Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan
sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa
dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali
sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang
melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah,
atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin
terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko
eksistensi dengan menyingkirkan batasbatas geografis, ekonomi dan budaya
masyarakat. Jadi globalisasi adalah suatu keadaan yang mengarah kepada sesuatu yang
mendunia. Bandingkan dengan katakata yang menggunakan sasi, seperti organisasi,
mekanisasi, sosialisasi dan lainlain.
Adapun konsep globalisasi menurut pendapat para ahli adalah :
a. Malcom Waters
Globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan
geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma
didalam kesadaran orang.
b. Emanuel Ritcher
Globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaan menyatukan
masyarakat yang sebelumnya terpencarpencar dan terisolasi kedalam saling
ketergantungan dan persatuan dunia.
c. Thomas L. Friedman
Globlisasi memiliki dimensi ideologi dan teknologi. Dimensi teknologi yaitu
kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensi teknologi adalah teknologi
informasi yang telah menyatukan dunia.
d. Princenton N. Lyman
Globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atas saling ketergantungan
dan hubungan antara Negaranegara didunia dalam hal perdagangan dan
keuangan.
e. Leonor Briones
Demokrasi bukan hanya dalam bidang perniagaan dan ekonomi namun juga
mencakup globalisasi institusiinstitusi demokratis, pembangunan sosial, hak
asasi manusia, dan pergerakan wanita.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan
globalisasi :
Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya
hubungan internasional. Dalam hal ini masingmasing negara tetap
mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin
tergantung satu sama lain.
Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan
batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas
devisa, maupun migrasi.
Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin
tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia.
Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi
dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga
mengglobal.
Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda
dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing
masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada
pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri,
bukan sekadar gabungan negaranegara.
Globalisasi juga dicirikan oleh munculnya lembaga lembaga governance
global yang mempunyai kekuasaan mempengaruhi kebijakan melebihi kemampuan
negara bangsa.
Kavaljit Singh menjelaskan bahwa proses globalisasi dewasa ini ditandai oleh lima
perkembangan pokok, yaitu :
1. Pertumbuhan transaksi keuangan internasional yang cepat;
2. Pertumbuhan perdagangan yang cepat, terutama perusahanperusahaan
multinasional;
3. Gelombang investasi asing langsung (FDI) yang mendapat dukungan luas
dari kalangan perusahaan multinasional;
4. Timbulnya pasal global; dan
5. Penyebaran teknologi dan berbagai pemikiran sebagai akibat dari ekspansi
sistem transportasi dan komunikasi yang cepat dan meliputi seluruh dunia.
Dan globalisasi itu memiliki ciriciri yang menandakan semakin berkembang
globalisasi di dunia, yaitu perubahan dalam konsep ruang dan waktu dalam berbagai
dimensi. Ada tiga ciri pokok globalisasi yaitu :
1. Pasar dan produksi ekonomi di negaranegara yang berbeda menjadi saling
bergantung.
2. Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa.
3. Meningkatnya masalah bersama.

17
16
Dari perkembangan globalisasi mempunyai dampak negatif dan positifnya. Dampak
negatif dari globalisasi yaitu cenderung menaikkan barangbarang impor. Apabila
suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak berkembang. Walaupun
banyak dampak negatinya, globalisasi menurut Tanri Abeng ada juga positifnya,
yaitu :
1. Globalisasi produksi
2. Globalisasi pembiayaan
3. Globalisasi tenaga kerja
4. Globalisasi jaringan informasi
5. Globalisasi perdagangan
Dari hal tersebut tampak bahwa globalisasi merupakan sesuatu yang niscaya dalam
sistem kapitalisme, artinya keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari perkembangan
kapitalisme sehingga mendiskusikan globalisasi tanpa menyertakan kapitalisme di
dalamnya adalah sesuatu yang terasa tidak lengkap.

B. Kerangka Berpikir
Globalisasi merupakan suatu proses yang mencakup keseluruhan dalam berbagai
bidang kehidupan sehingga tidak tampak lagi adanya batasbatas yang mengikat
secara nyata, sehingga sulit untuk disaring atau dikontrol.
Idealnya setiap warga negara harus tahu hak dan kewajiban dalam konteks hidup
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta memahami atributatribut
kenegaraan seperti lambang negara dan berbagai peraturan perundangan.
Sebagaimana diketahui dalam UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan
daerah serta kaitannya dengan masalah globalisasi.
C. Pengajuan Hipotesa
Berdasarkan deskripsi teori dan kerangka berpikir, maka hipotesis penelitian
dalam penelitian ini dapat dirumuskan bahwa adanya pengaruh globalisasi
terhadap otonomi daerah.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dri penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan

17