Anda di halaman 1dari 166

TUGAS AKHIR

SISTEM PENGENDALIAN PETI KEMAS KOSONG


UNTUK KEGIATAN EKSPOR IMPOR
PADA DEPO PETI KEMAS PT MASAJI TATANAN CONTAINER
SAMUDERA INDONESIA GROUP SEMARANG

Disusun untuk Melengkapi Tugas tugas dan Syarat syarat Lulus Diploma III
Program Studi Administrasi Bisnis Jurusan Administrasi Bisnis
Politeknik Negeri Semarang

Disusun Oleh :

DIAH AYU BINTARI NINGRUM

NIM : 3.51.13.1.06

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS

JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

2016
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO :

Dasar dari prestasi yang besar terletak pada kemauan untuk menjadi yang
terbaik yang Anda bisa. (Harold Taylor)
Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran
yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan
istirahat sebelum lelah. (Mario Teguh)
Tidak ada kesuksesan yang berhasil tanpa adanya kerja keras. (Penulis)

PERSEMBAHAN :

Bapak dan Ibu yang selalu memberikan motivasi, dorongan moril maupun
materiil serta senantiasa dengan tulus dan ikhlas memberikan doa untuk anak-
anaknya.

Saudara saudara dan keluarga besar yang telah memberikan dukungan dan
doa sehingga Tugas Akhir ini dapat terselesaikan sesuai dengan keinginan.

Teman teman seangkatan tahun 2013 2016 yang telah memberikan


semangat dan doa sehingga Tugas Akhir ini dapat terselesaikan sesuai dengan
keinginan.

Almamaterku Politeknik Negeri Semarang.

iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TUGAS AKHIR

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa Tugas Akhir dengan
judul :

SISTEM PENGENDALIAN PETI KEMAS KOSONG UNTUK KEGIATAN


EKSPOR IMPOR PADA DEPO PETI KEMAS PT MASAJI TATANAN
CONTAINER SAMUDERA INDONESIA GROUP SEMARANG

adalah hasil karya saya.

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam naskah Tugas Akhir ini tidak terdapat
karya orang lain yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar di suatu perguruan
tinggi dan atau sepanjang sepengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah Tugas Akhir ini, dan disebutkan pada daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti terdapat hal hal yang tidak sesuai dengan
pernyataan di atas saya sanggup menerima sanksi akademis dalam bentuk apapun.

Semarang, Agustus 2016

Yang menyatakan

Diah Ayu Bintari Ningrum

NIM : 3.51.13.1.06

v
ABSTRACT

Title: The Control of Empty Container System for Export Import Acivity of
Container Depot at PT Masaji Tatanan Container Samudera Indonesia
Group Semarang

The purposes of this final project are, firstly to find out the process in depo
flow and out depo flow containers at PT Masaji Tatanan Container Semarang
container depot, secondly to find out related documents, thirdly to find out
operation obstacles in the continuity of in depo flow and out depo flow activities,
fourthly to identity the terms and conditions that must be done to overcome the
obstacles in the continuity in depo flow and out depo flow process activities.
The method of writing is descriptive. The data collected by interviews,
observation and literature studies. The types of data used qualitative, quantitative,
primary and secondary data.
The result of this final project shows that the depo flow processes are from
administration, gate in, survey, containers cleaning, and lift off containers. The out
depo flow processes are from administration, survey, and lift on containers. Export
import document should be attached in the process in depo flow and out depo flow
containers. One of the biggest problem at the depot factor is the traffic jam. The
obstacle happen because of lack equipment, less effective of accumulation
planning, and human resource skills are inadequate. To overcome the obstacles,
the terms and conditions that must be done are making the request for the purchase
or repair tool, applying good accumulation technique and training depo operations
employees.
It is suggested that operational activities should be based on the systems
and procedures in accordance with the company standards in order to create
effective and efficient conditions.

vi
PRAKATA

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas segala Rahmat, Hidayah

dan Karunia-Nya yang telah diberikan sehingga dapat terselesaikannya Tugas

Akhir ini dengan judul SISTEM PENGENDALIAN PETI KEMAS KOSONG

UNTUK KEGIATAN EKSPOR IMPOR PADA DEPO PETI KEMAS PT

MASAJI TATANAN CONTAINER SAMUDERA INDONESIA GROUP

SEMARANG.

Tugas Akhir ini disusun untuk memenuhi persyaratan kelulusan pendidikan

Diploma III Program Studi Administrasi Bisnis, Jurusan Administrasi Bisnis

Politeknik Negeri Semarang.

Dalam penulisan Tugas Akhir ini tentu tidak terlepas dari bantuan dan

bimbingan berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini diucapkan terima kasih

kepada :

1. Ir. Supriyadi, M.T., Direktur Politeknik Negeri Semarang.

2. Drs. Budi Prasetyo, M.Si., Ketua Jurusan Administrasi Bisnis Politeknik

Negeri Semarang.

3. Sugiyanta, S.E., M.Pd., Dosen pembimbing utama yang senantiasa

memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan Tugas Akhir ini.

4. Dra. Erika Devie, M.Ed.M., Dosen pembimbing pembantu yang senantiasa

memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan Tugas Akhir ini.

vii
5. Bapak Moh. Zaenal Mochtarom Supervisor Operasional PT Masaji Tatanan

Container Semarang yang telah memberikan saran dan bimbingan dalam

penulisan Tugas Akhir ini.

6. Seluruh karyawan di PT Masaji Tatanan Container Semarang yang telah

memberikan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penyusunan Tugas

Akhir ini.

7. Semua pihak yang tidak disebutkan satu persatu, yang telah berkenan

membantu dalam penulisan Tugas Akhir ini.

Dalam penulisan Tugas Akhir ini tentu masih banyak kekurangan. Oleh

karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak

sangat diharapkan demi kesempurnaan Tugas Akhir ini.

Semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan masukan yang bermanfat bagi

pihak perusahaan dan memperluas wawasan bagi para pembaca.

Semarang, Agustus 2016

Diah Ayu Bintari Ningrum

NIM. 3.51.13.1.06

viii
DAFTAR ISI

halaman

JUDUL....................................................................................................... i

PERSETUJUAN TUGAS AKHIR............................................................ ii

TANDA PENGESAHAN TUGAS AKHIR.............................................. iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN................................................................ iv

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR.......................................... v

ABSTRACT............................................................................................... vi

PRAKATA................................................................................................. vii

DAFTAR ISI.............................................................................................. ix

DAFTAR TABEL...................................................................................... xiii

DAFTAR GAMBAR................................................................................. xiv

DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................. xv

BAB I PENDAHULUAN................................................................... 1

1.1 Latar Belakang.................................................................. 1

1.2 Perumusan Masalah.......................................................... 3

1.3 Tujuan Penelitian.............................................................. 4

1.4 Kontribusi Penelitian........................................................ 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................... 7

2.1 Pengertian Sistem dan Prosedur....................................... 7

2.1.1 Pengertian Sistem.................................................... 7

2.1.2 Pengertian Prosedur................................................ 8

ix
2.2 Pengertian Ekspor dan Impor........................................... 8

2.2.1 Pengertian Ekspor.................................................... 8

2.2.2 Pengertian Impor.................................................... 8

2.3 Pengertian Depo............................................................... 8

2.4 Pengertian Peti Kemas...................................................... 9

2.5 Ukuran Peti Kemas........................................................... 11

2.6 Ketentuan Peti Kemas....................................................... 12

2.7 Bentuk Peti Kemas dan Kegunaannya.............................. 12

2.8 Keuntungan dan Kerugian Peti Kemas............................. 23

2.9 Tanda Pengenal Peti Kemas.............................................. 24

2.10 Pergerakan Peti Kemas.................................................... 25

2.11 Penanganan Peti Kemas................................................... 26

2.12 Biaya Pergerakan Peti Kemas.......................................... 26

2.13 Flowchart......................................................................... 27

2.13.1 Pengertian Flowchart............................................ 27

2.13.2 Simbol-simbol Flowchart....................................... 28

BAB III METODE PENELITIAN .......................................................... 29

3.1 Jenis Data Penelitian......................................................... 29

3.2 Metode Pengumpulan Data............................................... 31

3.3 Metode Penulisan.............................................................. 32

3.4 Kerangka Penulisan.......................................................... 33

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................... 35

4.1 Gambaran Umum Perusahaan........................................... 35

x
4.1.1 Sejarah Perusahaan................................................... 35

4.1.2 Jenis Pelayanan......................................................... 36

4.1.3 Costumer PT Masaji Tatanan Container................... 37

4.1.4 Visi dan Misi............................................................ 39

4.1.5 Jumlah Karyawan..................................................... 39

4.1.6 Struktur Organisasi................................................... 40

4.1.7 Hari dan Jam Kerja................................................... 44

4.2 Hasil dan Pembahasan.......................................................... 45

4.2.1 Bidang Usaha PT Masaji Tatanan Container

Semarang................................................................ 45

4.2.2 Dokumen Bongkar Muat Peti Kemas

Kosong.................................................................... 50

4.2.3 Sistem Alur Kegiatan Bongkar dan Muat Peti

Kemas Kosong pada PT Masaji Tatanan Container

Semarang................................................................... 55

4.2.4 Hambatan yang dihadapi dalam Kelancaran

Bongkar Muat Peti Kemas Kosong pada PT Masaji

Tatanan Container Semarang.................................... 62

4.2.5 Upaya yang Harus dilakukan dalam Kelancaran

Bongkar Muat Peti Kemas Kosong pada PT Masaji

Tatanan Container Semarang.................................... 67

4.2.6 Pihak-pihak yang Terkait.......................................... 74

4.2.7 Sarana dan Prasarana yang dimiliki PT Masaji

xi
Tatanan Container Semarang.................................... 75

4.2.8 Peralatan yang dimiliki PT Masaji Tatanan

Container Semarang.................................................. 76

4.2.9 Data Peti Kemas........................................................ 77

4.2.10 Tarif LOLO (Lift On dan Lift Off) Peti Kemas

Kosong...................................................................... 80

BAB V KESIMPULAN.......................................................................... 89

5.1 Kesimpulan......................................................................... 89

5.2 Saran................................................................................... 90

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xii
DAFTAR TABEL

halaman
TABEL 4.1 JAM KERJA KARYAWAN ........................................................ 45

TABEL 4.2 DOKUMEN YANG DIOBSERVASI ......................................... 51

TABEL 4.3 CONTAINER MONITORING ...................................................... 62

TABEL 4.4 DATA KELUAR MASUK PETI KEMAS 20 ........................... 63

TABEL 4.5 DATA KELUAR MASUK PETI KEMAS 40 ........................... 79

TABEL 4.6 TARIF LOLO IN PER THIRD PARTY ........................................ 81

TABEL 4.7 TARIF LOLO OUT PER THIRD PARTY .................................... 82

TABEL 4.8 TARIF LOLO PER PRINCIPAL REPO PACKAGE ................... 84

TABEL 4.9 TARIF LOLO PER PRINCIPAL REPO BREAKDOWN ............. 86

xiii
DAFTAR GAMBAR

halaman
GAMBAR 2.1 CLOSED CONTAINER .............................................................. 14

GAMBAR 2.2 OPEN TOP CONTAINER .......................................................... 15

GAMBAR 2.3 HALF HEIGHT CONTAINER .................................................... 16

GAMBAR 2.4 DRY BULK CONTAINER........................................................... 18

GAMBAR 2.5 REEFER CONTAINER ............................................................... 19

GAMBAR 2.6 TANK CONTAINER ................................................................... 20

GAMBAR 2.7 PLATFORM CONTAINER ......................................................... 21

GAMBAR 2.8 OPEN SIDE CONTAINER ......................................................... 23

GAMBAR 3.1 KERANGKA PENULISAN TUGAS AKHIR .......................... 34

GAMBAR 4.1 STRUKTUR ORGANISASI ...................................................... 41

GAMBAR 4.2 LIFT ON CONTAINER............................................................... 47

GAMBAR 4.3 LIFT OFF CONTAINER ............................................................ 47

GAMBAR 4.4 PENCUCIAN DAN PEMBERSIHAN PETI KEMAS .............. 49

GAMBAR 4.5 PROSES PERBAIKAN PETI KEMAS .................................... 49

GAMBAR 4.6 ALUR KEGIATAN BONGKAR PETI KEMAS ...................... 58

GAMBAR 4.7 ALUR KEGIATAN MUAT PETI KEMAS .............................. 61

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Permohonan Observasi


Lampiran 2 Surat Keterangan Selesai Observasi
Lampiran 3 Lembar Kontrol Bimbingan
Lampiran 4 Daftar Pertanyaan Wawancara
Lampiran 5 Tabel jam kerja karyawan operator lapangan depo
Lampiran 6 Flowchart In Depo & Out Depo Flow, Prosedur Bongkar & Muat
Peti Kemas
Lampiran 7 Layout depo PT Masaji Tatanan Container Semarang
Lampiran 8 Daftar Alat PT Masaji Tatanan Container Semarang
Lampiran 9 Data Keluar Masuk Peti Kemas
Lampiran 10 Delivery Order impor
Lampiran 11 Container Receive Order & Receipt
Lampiran 12 Estimated of Repairs
Lampiran 13 Surat Tanda Terima Container Impor
Lampiran 14 Delivery Order Ekspor
Lampiran 15 Container Release Order & Receipt
Lampiran 16 Equipment Interchange Receipt
Lampiran 17 Surat Tanda Terima Container Ekspor
Lampiran 18 Container time monitoring
Lampiran 19 Depart Operasi 2016

xv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam dunia perdagangan skala nasional maupun internasional, transportasi

merupakan alat yang sangat penting untuk menunjang kelancaran arus barang.

Untuk menunjang kegiatan transportasi, penerapan sistem pengangkutan

menggunakan peti kemas sangat berpengaruh besar terhadap kelancaran arus

barang.

Petikemas dilihat dari segi fungsi dan kegunaannya berpengaruh sangat besar

terhadap perdagangan internasional untuk kegiatan ekspor impor begitu juga

dilihat dari segi aspek lain seperti pada kecepatan bongkar muat barang di

pelabuhan menjadi lebih singkat dan dapat diperkirakan dengan standar

manajemen operasional yang sesuai dengan prosedur sehingga waktu

pemberangkatan kapal dari negara asal sampai dengan tibanya kapal di negara

tujuan dapat diperkirakan.

Gagasan penggunaan peti kemas (containers), merupakan usaha-usaha ke

arah pemecahan masalah keterlambatan bongkar muat yang pada akhirnya

1
2

merupakan perombakan pola pengangkutan laut pada umumnya. Pada

pertengahan abad 1950-an, Malcolm McLean, pemilik perusahaan angkutan truck

Sea-Land memperkenalkan sistem pengangkutan peti kemas di atas truck dengan

latar belakang pemikiran mengikutsertakan transportasi angkutan truk melalui

laut. Sedangkan perkembangan penggunaan petikemas di Indonesia dimulai sejak

tahun 1970-an yang ditandai dengan adanya kapal dan pelabuhan petikemas

pertama di Indonesia dimana penanganannya masih bersifat konvensional.

Supaya penggunaan peti kemas dalam pergerakannya dapat berjalan secara

optimal maka diperlukan faktor faktor yang menunjang diantaranya adalah

diadakan atau dibangunkannya tempat khusus berupa lapangan penumpukan peti

kemas atau bisa disebut juga depo petikemas (container depot). Dalam

pengelolaan lapangan penumpukan peti kemas yang disebut juga depo peti kemas

biasanya dikelola oleh pihak badan swasta, sehingga dengan dibangunkannya

depo peti kemas di wilayah Semarang dapat menunjang kegiatan ekspor impor

lebih mudah khususnya di pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

PT Masaji Tatanan Container Semarang adalah anak perusahaan dari

PT Samudera Indonesia Group yang berlokasi di Kawasan Industri Cipta Kav 10

Jl. Arteri Yos Sudarso Semarang. Perusahaan ini bergerak dalam bidang

transportasi untuk kargo dan layanan-layanan logistik dengan bisnis utamanya

adalah sebagai tempat penumpukan peti kemas kosong. Seiring dengan

meningkatnya kegiatan ekspor maupun impor di Indonesia, hal ini juga

berpengaruh terhadap kegiatan operasional depo sebagai tempat penumpukan peti


3

kemas kosong. Dalam sehari terdapat sebanyak 200 pergerakan peti kemas yang

masuk maupun keluar dari depo PT Masaji Tatanan Container.

Untuk menghadapi meningkatnya kegiatan ekspor maupun impor

menggunakan peti kemas tersebut maka pihak pengelola depo harus mempunyai

sistem mengenai pergerakan peti kemas, baik yang masuk untuk kegiatan impor

maupun peti kemas yang keluar untuk kegiatan ekspor supaya menjadi lebih

optimal. Untuk mengoptimalkan kegiatan pergerakan peti kemas di depo maka

perlu diadakannya sistem operasional dan pengendalian yang baik dan efektif

untuk mendapatkan hasil yang menguntungkan bagi semua pihak yang

berkepentingan dengan depo. Maka dengan diadakannya penelitian ini, peneliti

dapat mengetahui kendalakendala atau hambatanhambatan di dalam

penanganan peti kemas kosong di depo sehingga setelah menganalisis

permasalahan tersebut, dapat diambil kesimpulan dan saran mengenai sistem

pengendalian depo peti kemas kosong di PT Masaji Tatanan Container Semarang.

Dari uraian-uraian diatas maka penelitian dalam Tugas Akhir ini berjudul

Sistem Pengendalian Peti Kemas Kosong untuk Kegiatan Ekspor Impor pada

Depo Peti Kemas PT Masaji Tatanan Container Samudera Indonesia Group

Semarang

1.2 Perumusan Masalah

Tugas Akhir ini ditulis berdasarkan dari pengalaman-pengalaman yang

didapatkan selama melakukan praktek kerja lapangan di PT Masaji Tatanan

Container Semarang dan juga teori maupun bahan studi pustaka yang telah
4

didapatkan di kampus, sehingga agar pembahasan dalam Tugas Akhir ini semakin

jelas, maka akan dibatasi obyek masalah sebagai berikut:

a. Apa saja dokumen dokumen yang terkait dalam prosedur bongkar dan muat

peti kemas pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang

b. Bagaimana prosedur atau alur kegiatan bongkar dan muat peti kemas pada

depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang

c. Hambatan-hambatan apa saja yang di hadapi oleh bagian operasional dalam

kelancaran bongkar dan muat peti kemas pada depo peti kemas

PT Masaji Tatanan Container Semarang

d. Upaya apa saja yang harus dilakukan dalam kelancaran bongkar dan muat

peti kemas pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun sebagai arahan terhadap apa yang diharapkan dalam melakukan

penelitian dari Tugas Akhir ini, tujuan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui dokumen dokumen yang terkait dalam prosedur bongkar

dan muat peti kemas pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container

Semarang.

b. Untuk mengetahui prosedur atau alur kegiatan bongkar dan muat peti kemas

pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang.


5

c. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang di hadapi oleh bagian

operasional kelancaran bongkar dan muat peti kemas pada depo peti kemas

PT Masaji Tatanan Container Semarang.

d. Untuk mengetahui upaya apa saja yang harus dilakukan untuk mengatasi

hambatan-hambatan dalam kelancaran bongkar dan muat peti kemas pada

depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang.

1.4 Kontribusi Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi pembaca Tugas

Akhir ini, adapun kontribusi yang hendak dicapai pada penulisan Tugas Akhir ini

adalah sebagai berikut:

a. Bagi Penulis

Sebagai sarana dalam menambah pengetahuan yang telah didapatkan selama

berada dibangku kuliah serta mengembangkan dan meningkatkan sikap

professionalisme, bertanggung jawab, percaya diri, disiplin, dan sikap lain

yang dibutuhkan dalam dunia kerja untuk menjadi tenaga kerja yang siap

pakai setelah lulus dari Politeknik Negeri Semarang.

b. Bagi Perusahaan

Sebagai sarana menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan serta

diharapkan agar Tugas Akhir ini dapat menjadi pertimbangan untuk

meningkatkan kualitas pelayanan di perusahaan.


6

c. Bagi Politeknik Negeri Semarang

Sebagai referensi bagi perpustakaan Politeknik Negeri Semarang dan dapat

memberikan informasi sebagai sebuah tambahan wacana yang bermanfaat,

serta dapat menjadi dasar bagi rekan-rekan lain yang hendak melakukan

penelitian kembali untuk bidang yang sama.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sistem dan Prosedur

2.1.1 Pengertian Sistem

Sistem berasal dari bahasa Latin (systema) dan bahasa Yunani (sustema)

adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan

bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi.

( http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem )

Pengertian sistem menurut Mulyadi (Mulyadi, 2001: 5) adalah Jaringan

prosedur yang dibuat menurut pola terpadu untuk melaksanakan kegiatan pokok

perusahaan.

Adapun pengertian sistem menurut Jogiyanto (2005: 2) adalah


Kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai
suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu kejadian-
kejadian dan kesatuan yang nyata adalah suatu objek yang nyata,
seperti tempat, benda, dan orang-orang yang betul-betul ada dan
terjadi.

7
8

2.1.2 Pengertian Prosedur

Prosedur adalah serangkaian aksi yang spesifik, tindakan atau operasi yang

harus dijalankan atau dieksekusi dengan cara yang sama agar selalu memperoleh

hasil yang sama dari keadaan yang sama.

( http://id.wikipedia.org/wiki/Prosedur )

Prosedur menurut (Mulyadi, 2001: 5) adalah Suatu urutan kegiatan klerikal,

biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen atau lebih yang

dibuat untuk menjamin penanganan secara berulang-ulang.

2.2 Pengertian Ekspor dan Impor

2.2.1 Pengertian Ekspor

Dalam buku yang berjudul Pedoman Transaksi Ekspor dan Impor Ahsjar

(2007: 1) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan kegiatan ekspor adalah

Perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari dalam keluar wilayah

Pabean suatu Negara ke Negara lain dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.

2.2.2 Pengertian Impor

Ahsjar (2007: 153) mengatakan Impor adalah memasukkan barang dari Luar

Negeri kedalam Wilayah Pabean Indonesia dengan memenuhi ketentuan yang

berlaku.

2.3 Pengertian Depo/Depot

Dalam buku yang berjudul Shipping Angkutan Intermodal Ekspor Impor

Melalui Laut Suyono (2001: 246) menyatakan bahwa


9

Depo/depot adalah tempat konsolidasi muatan yang akan di


ekspor keluar negeri. Depot tumbuh karena berkembangnya
muatan yang dikirim dengan peti kemas. Selain depot yang
digunakan untuk menampung muatan yang hendak dikirim
kepelabuhan, juga ada depot yang digunakan untuk menampung
peti kemas yang kosong (empty container).

Dalam pengertian lain Suranto (2003: 7) mengemukakan bahwa Usaha depo

peti kemas adalah kegiatan usaha yang meliputi penyimpanan, penumpukan,

membersihkan, dan memperbaiki petikemas serta kegiatan lainnya yang berkaitan

dengan pengurusan peti kemas.

Sedangkan pengertian depo menurut Lasse (2014: 228) adalah Area diluar

pelabuhan yang menyediakan layanan jasa pergudangan untuk menampung

muatan peti kemas ekspor dan atau muatan impor pindahan (overbrengen) dari

area pelabuhan.

2.4 Pengertian Peti Kemas/Container

Dalam buku yang berjudul Peti Kemas dan Penanganannya Tumbel (1991:

4) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan peti kemas adalah Kotak besar

dari berbagai ukuran dan terbuat dari berbagai jenis bahan pembangun yang

kegunaannya untuk mengangkut barang-barang baik melalui darat, laut, maupun

udara.

Dalam pengertian lain Suyono (2001: 133) mengatakan bahwa Peti kemas

(container) adalah suatu kemasan yang dirancang secara khusus dengan ukuran

tertentu, dapat dipakai berulang kali, dipergunakan untuk penyimpanan dan

sekaligus mengangkut muatan yang ada didalamnya.


10

Peti kemas menurut Amir (1997: 6) adalah Peti yang terbuat dari logam

yang memuat barang-barang yang lazim disebut muatan umum (general cargo )

yang akan dikirimkan melalui laut.

Sudjatmiko (1997: 173) menyatakan bahwa peti kemas adalah

Gudang yang dapat dipindahkan (removable warehouse) yang


digunakan untuk mengangkut barang, merupakan perangkat
perdagangan dan sekaligus juga merupakan komponen dari pada
sistem pengangkutan. Sudjatmiko (1997: 248) juga
mengemukakan bahwa pengertian container / peti kemas yang
sebenarnya adalah wadah/peti besar berukuran tinggi kurang lebih
2,5 M, lebar kurang lebih 2,5 M terbuat dari kerangka baja,
kedalamnya muatan yang hendak dikapalkan dimasukkan.
Panjang container bervariasi antara 10 sampai 65 (feet/kaki).

Menurut Lasse (2014: 90) Peti kemas adalah muatan yang teruji

kekuatannya, terbuat dari bahan logam, dapat dipakai berulang-ulang dikapal atau

dikendaraan non kapal, dan disediakan oleh pihak pengangkut (carrier).

Lembaga Maritim Sedunia (International Maritime Organization)

menyatakan bahwa arti peti kemas adalah

Suatu benda yang dijadikan sebagai alat angkutan barang bersifat


permanen, kuat, dapat digunakan berulang kali, dirancang khusus
untuk mudah diangkut berbagai moda transportasi secara aman,
dan dilengkapi dengan soket pengangkat pada sudut-sudutnya.

International Organization for Standarization (ISO) menyatakan bahwa

Peti kemas adalah suatu bagian/perangkat alat angkutan yang


mempunyai sifat permanen dan cukup kuat untuk dipergunakan
berulangkali yang dirancang khusus untuk mengangkut barang
dengan satu macam atau lebih alat pengangkut tanpa perlu
membongkar isinya disaat pemindahan, dan dilengkapi dengan
perlaatan yang memungkinkan mudah ditangani terutama pada
perpindahan dari satu macam alat angkutan serta dirancang
sedemikian sehingga mudah di isi dan dikosongkan.
11

2.5 Ukuran Peti Kemas

Agar pengoperasian petikemas dapat berjalan dengan baik, maka semua

pihak yang terlibat harus menyetujui agar ukuran-ukuran dari petikemas harus

sama agar mudah diangkut. Badan International Standard Organization (ISO)

(dalam Suyono, 2001: 133) telah menetapkan ukuran-ukuran dari petikemas

sebagai berikut:

a. Container 20 Feet
Ukuran luar : 20 (p) x 8 (l) x 86 (t)
Atau
: 6.058 x 2.438 x 2.591 m
Ukuran dalam : 5.919 x 2.340 x 2.380 m
Kapasitas : Cubic Capacity : 33 Cbm
Pay Load : 22.1 ton
b. Container 40 Feet
Ukuran luar : 40 x 8 x 86
Atau
: 12.192 x 2.438 x 2.591 m
Ukuran dalam : 12.045 x 2.309 x 2.379 m
Kapasitas : Cubic Capacity : 67.3 Cbm
Pay Load : 27.396 ton
c. Container 40 Feet High Cube
Ukuran luar : 40 x 8 x 96 m
Atau
: 12.192 x 2.438 x 2.926 m
Ukuran dalam : 12.056 x 2.347 x 2.684 m
Kapasitas : Cubic Capacity : 76 Cbm
Pay Load : 29.6 ton

Ukuran muatan dalam pembongkaran/pemuatan kapal petikemas dinyatakan

dalam TEU (Twenty foot equivalent unit). Oleh karena ukuran standar dari

petikemas dimulai dari panjang 20 feet, maka satu petikemas 20 dinyatakan

dalam 1 TEU dan petikemas 40 dinyatakan sebagai 2 TEU atau sering juga

dinyatakan dalam Fourty foot Equivalent Unit (FEU).


12

Meskipun ukuran petikemas dari luar adalah seragam atau sama, namun

petikemas dikeluarkan dalam berbagai variasi sesuai kegunaannya. Variasi

tersebut dapat dilihat berdasarkan bentuk, ukuran, barang yang berbentu kotak,

tabung, ataupun flat. Ada yang berukuran besar dan kecil. Ada yang memuat

barang padat, cair, ataupun curah. Ada yang dapat diisi dari depan, dari samping,

atau dari atas. Juga ada yang khusus dilengkapi pendingin untuk muatan beku.

2.6 Ketentuan Peti Kemas

Meskipun ada beberapa silang pendapat mengenai petikemas, menurut ISO

(International Standard Organization) memberikan ketentuan mengenai

petikemas (freight container) sebagai berikut:

a. Bentuk tetap dan karenanya cukup kuat untuk dipakai berkali-


kali.
b. Dibuat khusus untuk mengangkut barang melalui berbagai cara
moda transportasi dengan tidak mengisi di antaranya.
c. Dilengkapi dengan perlengkapan operasional untuk segera
dipakal terutama untuk memindahkan dari moda transpor yang
satu ke moda transpor yang lain.
d. Dibuat sedemikian rupa sehingga mudah diisi dan
dikosongkan.
e. Mempunyai isi bagian dalam 1 M3 (35,8 cu.ft) atau lebih.

2.7 Bentuk-bentuk Peti Kemas dan Kegunaannya

Menurut Amir (1997: 16) Peti kemas mempunyai bentuk dan kegunaan yang

berbeda-beda, antara lain:

1. Closed Container ( General Purposes Container)


Yang dimaksud dengan closed container adalah peti kemas
berbentuk standar, seluruh badan tertutup dinding dan hanya
mempunyai satu pintu disalah satu ujung dari peti kemas itu.
13

Peti kemas ini biasanya dipakai untuk mengangkut general


cargo yang tidak memerlukan pengaturan temperatur,
ventilasi, dan kondisi khusus lainnya. Peti kemas ini lazim
juga disebut dengan dry cargo container, yaitu peti kemas
yang diisi dengan bukan barang cair (liquid), dan juga bukan
barang curah (bulk cargo). Pada umumnya peti kemas jenis ini
diisi dengan barang yang dibungkus didalam karton, atau
dengan pengepakan konvensional lainnya.

Adapun nama lain dari peti kemas Closed Container adalah dry cargo

container (peti kemas untuk muatan kering), dry goods container (peti kemas

untuk barang kering), dan general purpose container (peti kemas serba guna)

Selain hal yang telah disebutkan diatas, peti kemas jenis closed container

mempunyai keuntungan dan kelebihan dalam hal penggunaannya.

Keuntungan peti kemas jenis Closed Container adalah secara umum biaya

konstruksinya murah serta pemeliharaan tidak terlalu dipentingkan. Petikemas

inilah yang paling banyak dipakai dalam perdangan internasional, oleh karena itu

peti kemas ini mudah dan cepat didapat.

Sedangkan Kerugian peti kemas Closed Container adalah penyusunan dan

pembongkaran barang-barang hanya bisa dilakukan dari pintu yang terletak

disalah satu ujungnya. Untuk memudahkan pembongkaran maka dibuatkan pintu-

pintu tambahan pada kedua sisinya. Kerugian-kerugian dari peti kemas berpintu

tambahan ini adalah:

a. Bertambahnya berat peti kemas, sehingga akan mengurangi kapasitas berat

muatan yang bisa dimuat.

b. Kemungkinan untuk terjadinya pengembunan atau kemasukan debu ataupun

bau akan lebih besar.


14

c. Akibat bertambahnya pintu maka lebar bagian dalam akan berkurang

sehingga kapasitas ruang muatan dengan sendirinya akan berkurang.

Gambar 2.1

CLOSED CONTAINER

Sumber: (http://www.google.co.id/closedcontainer)

1. Open Top (Soft Top) Container


Yang dimaksud dengan Open Top Container adalah peti kemas
yang terbuka dibagian atas, ditutup dengan terpal sebagai
pengganti metal. Peti kemas jenis ini dipakai untuk memuat
barang yang tidak mudah masuk bila dimuat dari pintu
samping. Oleh karena itu dimuat dari atas peti kemas. Peti
kemas ini adakalanya mempunyai pintu ujung juga seperti
general purpose container untuk memudahkan pembongkaran
muatan. Open Top Container biasanya dipakai untuk memuat
barang seperti kayu gergajian (timber) dan logam logam tua.
Peti kemas ini juga sering dipakai untuk barang-barang yang
terlalu tinggi bila dimuat melalui pintu samping, dan akan
lebih mudah bila dimuat dari bagian atas. Pemakaian peti
kemas jenis ini, biasanya dikenakan tambahan ongkos angkut
(additional freight rate).

Adapun nama lain dari peti kemas ini adalah shoft top container, removable

container atau top loading container.

Selain hal yang telah disebutkan diatas, peti kemas jenis open top container

mempunyai keuntungan dan kelebihan dalam hal penggunaannya. Keuntungan


15

peti kemas jenis Open Top Container adalah dengan peti kemas ini pemuatan

akan menjadi lebih cepat karena dapat dimuat dari atas. Adapun kerugian

penggunaan peti kemas jenis open top container adalah:

a. Memerlukan pemeliharaan ekstra terhadap muatan karena penutup terpalnya

tidak tahan cuaca.

b. Kekuatan membujur dari peti kemas berkurang bila dibandingkan dengan

closed container dan juga mudah terjadinya degleksi pada badan peti kemas.

c. Bila muatan yang dimuat mempunyai ketinggian yang berlebihan maka

diatasnya tidak bisa disusun peti kemas yang lain, jadi disusun dibagian

paling atas, dan hal ini mempengaruhi kesetimbangan kapal terutama bila

berat muatannya berlebihan.

Gambar 2.2

OPEN TOP CONTAINER

Sumber: (http://www.google.co.id/opentopcontainer)

2. Peti Kemas Setengah Tinggi (Half Height Container)


Yang dimaksud dengan half height container atau petikemas
setengah tinggi adalah peti kemas yang mempunyai ukuran
panjang dan lebar standar, namun hanya mempunyai tinggi
setengah dari ukuran standar.
Peti kemas ini biasanya dipakai untuk mengangkut barang-
barnag berat (berbobot) seperti besi tua, lembaran baja, pipa
besi, dan benda berat lainnya. Oleh karena itu peti kemas ini
memiliki pembatas berat, maka benda berat ini bila dimuat
cukup dengan separo dari peti kemas standar. Karena itu peti
16

kemas ini juga disebut dengan two half height yang artinya dua
peti kemas cukup menempati satu ruangan untuk peti kemas
standar, sehingga sangat menghemat ruangan kapal.

Terdapat dua jenis half height container, yaitu:


a. Half Height Container, Solid Removable Top
Yaitu peti kemas setengah tinggi yang mempunyai tutup
metal yang dapat dibuka atau dipindahkan untuk
memudahkan pemuatan barang dari bagian atas.
b. Half Height Container, Soft Removable Top
Yaitu peti kemas setengah tinggi yang mempunyai tutup
dari terpal, yang dapat dibuka atau dipindahkan untuk
memudahkan pemuatan barang dari bagian atas.

Selain hal yang telah disebutkan diatas, peti kemas jenis half height container

mempunyai keuntungan dan kelebihan dalam hal penggunaannya.

Adapun keuntungan penggunaan peti kemas jenis half height container

adalah menggunakan ruang yang lebih kecil daripada peti kemas dengan tinggi

biasa, karena muatan yang berat hanya memerlukan ruang yang kecil hingga

ruangan yang tidak terpakai (broken stowage) kecil.

Gambar 2.3

HALF HEIGHT CONTAINER

Sumber: (http://www.google.co.id/halfheightcontainer)

3. Peti kemas Barang Curah (Dry Bulk Container)


Yang dimaksud dengan peti kemas barang curah adalah peti
kemas yang dirancang untuk mengangkut barang curah.
17

Bentuknya sama dengan peti kemas tertutup (Closed


container/General purpose container) namun dibagian atas
terdapat lubang untuk mengisi barang curah, dan dibagian
bawah ujung terdapat lubang atau pintu untuk mengucurkan
barang curah.

Peti kemas ini banyak dipakai untuk memuat barang yang berbentuk butiran-

butiran kering seperti gula, pupuk urea, semen, kacang-kacangan, dan lain-lain.

Adapun nama lain dari peti kemas jenis dry bulk container adalah bulker atau bulk

freight container.

Selain hal yang telah disebutkan diatas, peti kemas jenis dry bulk container

mempunyai keuntungan dan kelebihan dalam hal penggunaannya.

Adapun keuntungan penggunaan peti kemas jenis Dry Bulk Container adalah

menghemat tenaga buruh dalam hal pengisian dan pembongakaran muatan,

kadang-kadang peti kemas ini bisa digunakan untuk pemuatan general cargo.

Sedangkan kerugian penggunaan peti kemas jenis Dry Bulk Container

sebagai berikut:

a. Berat peti kemas besar.

b. Harga sewa peti kemas mahal

c. Bila memuat didaerah yang jalannya mempunyai daya topang terbatas maka

berat muatan harus dikurangi.

d. Memerlukan pemeliharaan yang lebih dibandingkan dengan peti kemas biasa.

e. Dengan terdapatnya lubang pengisian makan untuk menjaga keamanan

muatan serta pemeliharaannya agak lebih sulit.

f. Bila lubang-lubang pengisisan terlalu kecil, maka akan menyulitkan dalam

meratakan (trimming) muatan yang telah dimuat.


18

g. Ada kemungkinan terjadi kecelakaan sewaktu akan

menuangkan/membongkar muatan dimana peti kemas diangkat disalah satu

ujungnya dan pada saat pintu bawah terbuka.

Gambar 2.4

DRY BULK CONTAINER

Sumber: (http://www.google.co.id/drybulkcontainer)

4. Reefer Container (Refrigerated Container)


Yang dimaksud dengan reefer container atau peti kemas
berpendingin adalah peti kemas standar biasa yang dilengkapi
dengan alat pendingin yang dihubungkan dengan tenaga listrik
kapal atau dengan generator sendiri.
Peti kemas berpendingin dirancang untuk mengangkut barang-
barang yang cepat membusuk sehingga diperlukan proses
pengawetan selama dalam perjalanan. Oleh karena itu, peti
kemas jenis ini sering dipakai untk mengangkut sayur-sayuran,
buah-buahan, daging, ikan, susu segar, dan barang lain yang
sejenis.

Adapun nama lain dari peti kemas reefer container adalah: Refrigerated

container, Thermal container, atau Insulated/heated container.

Selain hal yang telah disebutkan diatas, peti kemas jenis reefer container

mempunyai keuntungan dan kelebihan dalam hal penggunaannya.


19

Adapun keuntungan penggunaan peti kemas jenis reefer container adalah

bisa mengangkut muatan-muatan beku dengan jarak yang jauh dan dengan suhu

yang dapat dikontrol.

Sedangkan kerugian penggunaan peti kemas jenis reefer container adalah:

a. Ongkos angkut peti kemas jenis ini lebih tinggi

b. Dengan adanya system insulasi dan dilengkapi dengan alat pendingin serta

generator pembangkit listrik membuat berat peti kemas itu sendiri menjadi

tinggi, sehingga muatan yang dapat dimuat pun lebih terbatas.

c. Pemeliharaan peti kemas jenis ini memerlukan perhatian yang lebih.

Gambar 2.5

REEFER CONTAINER

Sumber: (http://www.google.co.id/reefercontainer)

5. Peti Kemas Likuid (Tank Container)


Yang dimaksud dengan peti kemas tank container atau peti
kemas likuid adalah peti kemas yang dirancang untuk
mengangkut benda-benda cair. Dibuat berbentuk tanki bulat
panjang (silinder) dari bahan baja tahan karat, diberi kerangka
besi dengan ukuran sama dengan ukuran peti kemas standar
sehingga dapat dikelola sama seperti peti kemas lainnya.
Peti kemas jenis ini banyak dipakai untuk mengangkut benda
cair mulai dari alkohol, minuman seperti whisky, sampai
bahan-bahan kimia berbahaya (hazardous chemicals).
20

Selain hal yang telah disebutkan diatas, peti kemas jenis tank container

mempunyai keuntungan dan kelebihan dalam hal penggunaannya.

Adapun keuntungan penggunaan peti kemas jenis tank container adalah

penggunaan tenaga buruh lebih minim pada waktu pembongkaran dan pemuatan,

bisa digunakan sebagai tempat penampungan untuk sementara.

Sedangkan kerugian penggunaan peti kemas jenis tank container adalah:

a. Pembuatan peti kemas ini memerlukan biaya yang tinggi.

b. Biaya pembersihan bila dari muatan yang satu ke muatan yang lain cukup

besar.

c. Sukar ditransportasikan bila isinya sedikit.

d. Berat peti kemas kosong cukup tinggi.

Gambar 2.6

TANK CONTAINER

Sumber: (http://www.google.co.id/tankcontainer)

6. Platform Container (Flat Rack Container)


Yang dimaksud dengan platform container adalah peti kemas
yang tak punya dinding dn tak punya atap, hanya sekedar
pelataran yang rata saja. Peti kemas ini mempunyai panjang
21

dan lebar sesuai ukuran peti kemas standar, namun tidak


mempunyai tinggim kecuali setebal lantai dari peti kemas itu
saja.
Peti kemas ini biasanya dipakai untuk mengangkut mesin-
mesin yang tidak mempunyai bentuk yang simetris sehingga
sulit diangkut dengan peti kemas standar yang normal.

Adapun nama lain dari peti kemas jenis platrofm container adalah flat rack

container

Gambar 2.7

PLATFORM CONTAINER

Sumber: (http://www.google.co.id/platformcontainer)

7. Open Top , Open Sided, Open Ended Skeletal Container

Selain dari bentuk-bentuk di atas, maka terdapat pula aneka bentuk

lain yang disesuaikan untuk kebutuhan pengangkutan aneka jenis

muatan. Disamping peti kemas berpintu ujung (open ended), juga

terdapat peti kemas berpintu samping, atau tanpa dinding samping

yang dikenal dengan istilah open sided container. Bahkan ada peti

kemas tanpa atap dan tanpa dinding, namun punya tiang penyangg dan

kerangka besi (skeletal). Peti kemas ini dikenal dengan istilah open-
22

top, open-sided, open ended skeletal container, atau peti kemas

berkerangka besi.

Selain hal yang telah disebutkan diatas, peti kemas jenis open top, open sided

container mempunyai keuntungan dan kelebihan dalam hal penggunaannya.

Adapun keuntungan penggunaan peti kemas jenis open top, open sided

container adalah pemuatan dapat dilakukan melalui salah satu sisi ataupun

melalui kedua belah sisi untuk peti kemas yang terbuka dikedia belah sisinya,

serta dapat juga dimuati dari pintu ujungnnya. Dengan adanya langit-langit / atap

yang kuat dan bersifat tetap menyebabkan jenis peti kemas ini tahan terhadap

cuaca hujan dan panas.

Sedangkan kerugian penggunaan peti kemas jenis open top, open sided

container sebagai berikut:

a. Karena penguatan dinding samping tidak ada maka bagian dasar/lantai peti

kemas dibangun lebih tebal, sehingga berat peti kemas bertambah besar.

b. Kerangka penutup samping tidak dibangun sebagai penahan muatan.

c. Bila kerangka penutup samping diangkat karena memuat muatan yang

lebarnya melampaui atau over width caro maka besar kemungkinan hilangnya

penutup tersebut.

d. Bila penutup samping dilepas maka pada muatan tersebut harus diberi lashing

tambahan dan itu berarti menambah biaya.

e. Biaya pemeliharaan peti kemas ini relatif lebih besar.


23

Gambar 2.8

OPEN SIDE CONTAINER

Sumber: (http://www.google.co.id/opensidecontainer)

2.8 Keuntungan dan Kerugian Memakai Peti Kemas

Dalam menunjang kegiatan ekspor maupun impor menggunakan angkutan

peti kemas, keuntungan dan kerugian memakai peti kemas menurut Suyono

(2001: 140) adalah sebagai berikut:

1. Keuntungan memakai peti kemas


a. Cepat dan ekonomis dalam menangani peti kemas, terutama
dalam bongkar/muat peti kemas di pelabuhan atau interface.
b. Keamanan terhadap kerusakan dan pencurian lebih terjaga,
terutama untuk barang-barang kecil atau berharga.
c. Efisien,karena satu gang dari 12 orang dapat bongkar/muat
kapal peti kemas dalam 3 atau 4 hari. Bila dilakukan
halyang sama oleh 100 orang akan memakan waktu 3 atau 4
minggu.
d. Pembungkus barang ridak perlu terlalu kuat, karena
tumpukan (stacking) dapat dibatasi setinggi dalamnya peti
kemas.
e. Pembungkus barang tidak perlu terlalu kuat, karena
tumpukan (stacking) dapat dibatasi setinggi dalamnya peti
kemas.
f. Bisa untuk angkutan door to door
24

2. Kerugian memakai peti kemas


a. Kapal peti kemas mahal (lebih mahal dari kapal barang
biasa).
b. Jumlah banyaknya peti kemas harus 3 x (tiga kali)
banyaknya peti kemas yang ada di kapal. Satu kelompok
yang akan dimuat dan satu kelompok yang akan dibongkar.
c. Harus dibuat terminal khusus untuk bongkar muat peti
kemas dan harus menggunakan perlatan khusus untuk
mengangkut dan menumpuknya.
d. Jalan-jalan yang ada harus disesuaikan untuk pengangkutan
peti kemas.
e. Dapat terjadi ketidakseimbangan dalam perdagangan antar
negara, bila suatu negara tidak cukup persegiaan peti
kemasnya.

2.9 Tanda Pengenal Peti Kemas

Untuk mengenali sebuah peti kemas yang dinyatakan di dalam B/L semua

dokumen dipakai pengenal yang terdiri dari huruf dan angka yang disebut

marking code, Suyono (2001: 144). Pengaturan marking code ditentukan oleh

ISO sebagai berikut:

Kode pemilik (owner code) : 4 huruf


Nomor seri (serial number) : 6 angka
Nomor periksa (check number) : 1 angka
Kode negara (country code) : 3 huruf
Ukuran dan tipe (size and tipe) : 4 angka
Contoh nomor peti kemas DLCU 167435 3
(1) (2) (3)
RIX 2 3 1 5
(4) (5) (6)
Keterangan:
1) Kode pemilik : petikemas Djakarta Lloyd
2) Nomor seri : 16 : Ukuran peti kemas
1 : kode closed container
6 : kode peti kemas 20
7435 : nomor peti kemas
3) Nomor periksa : 3
Digunakan untuk memeriksa
kebenaran nomor seri
4) Kode negara : RIX = Indonesia
5) Ukuran peti kemas : 2 3
25

2 : kode peti kemas 20 feet


3 : kode tinggi peti kemas 86.
6) Tipe peti kemas : 1 5
1 : kode untuk closed ventilated
container
5 : kode untuk mechanical
ventilated
Angka digit pertama dari tipe peti kemas:
0 - closed container
1 - closed container,ventilated
2 - insulated container
3 - refrigated container
4 - refrigated container, removable equipment
5 - open top container
6 - platform
7 - tank container
8 - bulk container, cattle container, etc
9 - air container

2.10 Pergerakan Peti Kemas

Pergerakan peti kemas menurut Suyono (2001, 145) adalah Aktivitas

memindahkan peti kemas dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dalam aktivitas pergerakan peti kemas terdiri dari:


a. Haulage Container
Haulage container terbagi menjadi:
1. Carrier haulage, yakni memindahkan petikemas dari CY
di pelabuhan ke tempat consignee premises yang
dilakukan oleh carrier atas beban pemilik barang.
2. Merchant Haulage, yakni pemindahan (haulage) yang
dilakukan pemilik barang.
b. Repositioning Empty (MT) Container
MT Container merupakan aktivitas yang terdiri dari:
a. Mengambil MT dari depo (pick up) untuk selanjutnya diisi
muatan.
b. Menyerahkan MT ke depo (drop off) setelah dipakai.
c. Mengembalikan MT ke tempat asal atau tempat lain.
Dalam pergerakan peti kemas, dikenal pula istilah equipment
interchange receipt (EIR). Dokumen EIR digunakan pada saat
pengalihan tanggungjawab atas keadaan peti kemas dari yang
menyerahkan dan yang meneriman, dan sebelumnya diadakan
survei bersama. Hal ini berlaku untuk petikemas kosong maupun
isi. Khusus untuk peti kemas yang kosong, harap diperiksa
26

apakah terdapat kebocoran pada bagian atasnya. Untuk peti


kemas yang berisi, harap diperiksa apakah terdapat kerusakan
pada bagian atas, pintu, dan segelnya.

2.11 Penanganan Peti kemas di Lapangan Peti Kemas

Dalam menangani peti kemas di lapangan atau depot, hal-hal yang harus

diperhatikan menurut Suyono (2001: 148) adalah:

1. Tempat penumpukan harus keras dan rata


2. Cara menumpuk (stacking)
3. Peti kemas 40 feet tidak boleh ditindih oleh peti kemas 20 feet.
4. Tidak boleh meletakkan silang antara satu dan lainnya
5. Antara sudut peti kemas diatas dan dibawah harus saling
beradu
6. Peralatan untuk mengangani (handling) peti kemas harus siap.

2.12 Biaya Pergerakan Peti kemas

Dalam pergerakan peti kemas, terdapat biaya yang ditetapkan sesuai dengan

kondisi dari pergerakan peti kemas itu sendiri. Biaya pergerakan peti kemas

menurut Suyono (2001: 160) adalah sebagai berikut:

1. Terminal Handling Charges


Terminal Handling Charges (THC) adalah biaya handling FCL
Container di pelabuhan atas kegiatan:
a. Menerima peti kemas dari kapal
b. Marshalling
c. Stacking dan restacking
d. Menyerahkan kepada consignee, atau
e. Menerima peti kemas dari shipper
f. Menyerahkan peti kemas ke kapal

2. LCL Service charge


LCL Service Charge adalah biaya yang harus dibayar oleh
pemilik barang untuk handling LCL Container di pelabuhan
seperti stuffing, unstuffing, delivery, receiving, dan pemakaian
alat mekanik, seperti lift on/lift off. LCL Service charge sama
seperti biaya OPP/OPT pada breakbulk cargo.
27

3. Demurrage
Demurrage merupakan denda (penalty) yang harus dibayar oleh
pemilik barang karena pemakaian peti kemas melebihi free time,
yakni waktu yang diberikan oleh pelayaran untuk
mengosongkan atau mengembalikan peti kemas setelah
dibongkar dari kapal. Apabila waktu yang ditentukan terlewat
maka pemilik barang dikenakan demurrage. Lamanya free time
ditentukan sendiri oleh perusahaan pelayaran dan berbeda antar
masing-masing pelayaran.

4. Detention
Detention adalah denda (penalty) yang harus dibayar oleh
pemilik barang apabila pengembalian peti kemas atau peralatan
peti kemas, sepereti chassis / prime mover melewati waktu yang
diizinkan. Container on chassis dihitung mulai dipakai dari
depot pelayaran atau UPTK.

5. Deposit
Deposit adalah sejumlah uang yang diserahkan oleh consignee
kepada agen pelayaran sebagai jaminan pada waktu mengambil
peti kemas dari CY. Jaminan diperlukan oleh agen pelayaran
atas kemungkinan kekurangan pembayaran demurrage
/detention dan untuk jaminan perbaikan peti kemas kosong
dikembalikan terdapat kerusakan. Jaminan akan diperhitungkan
dengan seluruh biaya yang harus dibayar oleh pemilik barang
dan apabila jaminan lebih besar maka sisanya akan
dikembalikan.

6. Repair/Cleaning
Pada waktu MT Container dikembalikan ke depot, pemilik
barang harus membayar biaya cleaning dan repair (minor
damage). Di Indonesia, kebiasaannya adalah membebankan
biaya tersebut secara pukul rata tanpa memperhatikan apakah
benar peti kemas tersebut perlu dibersihkan dan diperbaiki.

2.13 Flowchart

2.13.1 Pengertian Flowchart

Menurut Diana dan Setiawati (2011:41) flowchart adalah Penyajian secara

grafis dari sistem informasi dan sistem operasi yang terkait. Sedangkan menurut

Jogiyanto (2005:796) bagan alur sistem (system flowchart) merupakan Bagan


28

yang menunjukkan secara keseluruhan dari system. Bagan ini menjelaskan urutan-

urutan dari prosedur-prosedur yang ada di dalam sistem. Bagan alur sistem

menggunakan apa yang dikerjakan di sistem.

2.13.2 Simbol-simbol Flowchart

No. Simbol Flowchart Fungsi

DECISION

Simbol ini digunakan untuk pengujian suatu


1
kondisi yang sedang diproses berdasarkan

kondisi yang ada.

PROSES

2 Simbol yang menunjukkan pengolahan yang

dilakukan oleh komputer.

TERMINAL
Simbol ini digunakan untuk mengawali atau
3
mengakhiri suatu proses/kegiatan.

FLOW LINE

Simbol ini digunakan untuk menggambarkan


4
arus proses suatu kegiatan kegiatan lain. Simbol

ini disebut juga connecting line


BAB III

METODE PENELITIAN

Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu hal yang di

dalamnya terdapat langkah-langkah yang sistematis. Menurut Zulganef (2008: 7)

Metode Penelitian dapat diartikan sebagai cara-cara yang sistematik atau

prosedur untuk memeriksa atau menyelidiki sesuatu secara hati-hati.

3.1 Jenis Data Penelitian

Jenis data yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini meliputi:

a. Jenis data menurut sumbernya

1) Data primer

Menurut Arsyad dan Soeratno (2008: 70) data primer adalah Data yang

dikumpulkan dan diolah sendiri oleh organisasi yang menerbitkan atau

menggunakannya.

Data primer pada penulisan tugas akhir ini adalah hasil observasi dan

wawancara dengan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan

obyek yang diteliti selama pengamatan lapangan atau kegiatan

29
30

operasional di depo peti kemas kosong pada PT Masaji Tatanan

Container Semarang.

2) Data sekunder

Menurut Arsyad dan Soeratno (2008: 71) data sekunder adalah Data

yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan

pengolahannya.

Data sekunder dalam penulisan tugas akhir ini adalah dari pencarian

buku di perpustakaan kampus Politeknik Negeri Semarang (Polines),

buku di perpustakaan kampus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP), dan buku

di Perpustakaan Daerah Wilayah Semarang dari referensi buku-buku

yang ada dan di internet.

b. Jenis data menurut sifatnya

1) Data Kualitatif

Menurut Arsyad dan Soeratno (2008: 67) data kualitatif adalah Data

yang dicatat bukan dengan angka-angka tetapi dengan menggunakan

klasifikasi-klasifikasi.

Data Kualitatif pada penulisan tugas akhir ini adalah gambaran umum

perusahaan, tugas dan fungsi-fungsi bagian organisasi, gambaran tentang

operasional dan alur depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container

Semarang.

2) Data Kuantitatif

Menurut Arsyad dan Soeratno (2008: 67) Data kuantitatif adalah

kumpulan angka-angka hasil observasi atau pengukuran.


31

Data kuantitatif dalam penulisan tugas akhir ini adalah rincian pembagian

shift pegawai, rincian waktu kerja pegawai, rincian arus keluar dan arus

masuk peti kemas selama 3 tahun dan rincian time monitoring oleh

trucking yang masuk ke depo untuk kegiatan muat maupun bongkar peti

kemas kosong di depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container

Semarang.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Menurut Tika (2006: 28) Pengumpulan data adalah prosedur yang

sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Dalam

penyusunan Tugas Akhir ini digunakan metode pengumpulan data sebagai

berikut:

a. Metode wawancara (Interview)

Menurut Nurboko dan Achmadi (2008: 83) Wawancara adalah proses tanya

jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang

atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi

atau keterangan-keterangan.

Dimana dalam metode wawancara ini, diajukan pertanyaan seputar

pengelolaan manajemen operasional peti kemas, kendala dan hambatan yang

dihadapi kepada pihak yang tekait dengan bagian operasional. Selain itu juga

berdiskusi dengan beberapa narasumber saat melakukan observasi di depo

peti kemas kosong PT Masaji Tatanan Container Semarang sebagai tambahan

informasi terhadap obyek yang diteliti. Daftar pertanyaan wawancara kepada


32

karyawan PT Masaji Tatanan Container Semarang dapat dilihat pada

Lampiran 4.

b. Metode Observasi

Menurut Nurboko dan Achmadi, (2008: 7) Metode observasi atau

pengamatan adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

mengamati dan mencatat sistematik gejala-gejala yang diselidiki.

Dalam penelitian ini akan dilakukan pengamatan secara langsung pada bagian

operasional untuk mendapatkan gambaran tentang pengelolaan depo peti

kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang.

c. Metode Studi pustaka

Menurut Sukandarrumidi (2006: 103) Studi pustaka adalah penelitian yang

dilakukan dengan mempelajari bahan yang tertulis antara lain jurnal atau

majalah ilmiah.

Pada metode ini, dilakukan pengumpulan data dengan cara mencari dan

membaca buku dari perpustakaan maupun dokumen dari perusahaan yang

dapat menunjang Tugas Akhir ini.

3.3 Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan Tugas Ahir ini adalah

metode deskriptif kualitatif, yaitu Desain penelitian yang disusun dalam rangka

memberikan gambaran secara sistematis tentang informasi ilmiah yang berasal

dari subyek atau obyek penelitian. (Sanusi, 2012: 13).


33

Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moeleong, 2005: 4) mendefinisikan

metode kualitatif sebagai Prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif

berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat

diamati.

Dalam penelitian ini ditulis secara deskriptif kualitatif yang mana berisi

uraian atau penjabaran beberapa teori dan menghubungkan variabel yang satu

dengan variabel yang lain. Penjabaran hasil pembahasan dengan memberikan

solusi secara sistematik dan logis berdasarkan fakta-fakta pada objek yang diteliti.

Penelitian ini memberikan gambaran yang jelas tentang alur kegiatan dan

implementasi manajemen operasional dan pengendalian terhadap pengoptimalan

penggunaan depo peti kemas kosong pada PT Masaji Tatanan Container

Semarang.

3.4 Kerangka Penulisan

Kerangka penulisan sangat penting bagi seorang penulis dalam menghasilkan

suatu karya ilmiah. Karena dalam kerangka karangan, diperlukan sebuah metode

yang teratur dalam membuat sebuah bagan atau rencana kerja, yang setiap kali

dapat mengalami perbaikan dan penyempurnaan hingga dicapai bentuk yang lebih

sempurna, sehingga dapat dilihat hubungan yang jelas antara satu bagian dengan

bagian yang lain, dan bagian mana yang masih memerlukan penyempurnaan.

Keraf (2004: 149), menjelaskan Definisi kerangka karangan adalah suatu

rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan

digarap. Gambar 3.1 adalah kerangka penulisan pada Tugas Akhir ini.
34

Gambar 3.1

KERANGKA PENULISAN TUGAS AKHIR

SISTEM PENGENDALIAN PETI


KEMAS KOSONG UNTUK
KEGIATAN EKSPOR IMPOR
PADA DEPO PETI KEMAS

FOKUS MASALAH

KENDALA - UPAYA PENERAPAN


KENDALA MANAJEMEN
OPERASIONAL DAN
PENGENDALIAN

PENGOPERASIAN DEPO PETI


KEMAS KOSONG YANG
OPTIMAL

Sumber: Data primer yang telah diolah, 2016


35

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan

Gambaran umum PT Masaji Tatanan Container Semarang bertujuan untuk

mengetahui bagaimana sejarah perusahaan, jenis pelayanan, visi dan misi, struktur

organisasi, jumlah pegawai, bidang usaha dan waktu kerja.

4.1.1 Sejarah Perusahaan

PT Masaji Tatanan Container Semarang adalah perusahaan yang bergerak

dibidang transportasi untuk kargo dan layanan-layanan logistik. PT Masaji

Tatanan Container merupakan anak perusahaan dari PT. Samudera Indonesia

Group, Tbk, dengan bisnis utamanya adalah depo petikemas dan sudah

berpengalaman menjalankan bisnis depot petikemas sejak periode tahun 80-an.

Pada perkembangannya juga mengembangkan bisnis sebagai penyedia modifikasi

petikemas atau office container sejak periode tahun 90-an. PT Samudera

Indonesia Grup berdiri pada tanggal 13 November 1964, sedangkan PT Masaji

Tatanan Container berdiri pada tanggal 10 Desember 1991. Perusahaan ini


36

berkantor pusat di Jakarta dan memiliki beberapa cabang di beberapa kota antara

lain Surabaya, Semarang, Belawan, Panjang, Bandung dan Makassar.

PT Masaji Tatanan Container cabang Semarang berdiri pada tahun 1997

berlokasi di Kawasan Industri Cipta Kav 10 Jl. Arteri Yos Sudarso Semarang.

Jarak dari pelabuhan ke PT Masaji Tatanan Container Semarang kira-kira 2,5 km.

Perusahaan ini menempati area seluas kira-kira 46.000 m2 dengan kapasitas 5000

TEUS. PT Masaji Tatanan Container ini melayani penitipan container di depo,

pemindahan container kosong dari atau ke pelabuhan depo (reposition),

menyewakan container, dan modifikasi container. PT Masaji Tatanan Container

memiliki beberapa customer diantaranya MSC, NYK, Hapag, KMTC, UASC,

OOCL, COSCO, CSAV, NORASIA, STX PAN HOYER, dan SILKARGO. Alat-

alat yang dimiliki berupa handling equipment diantaranya KALMAR DC,

VALMET dan alat lainnya seperti 150 KVA of genset for reefer plug.

4.1.2 Jenis Pelayanan

PT Masaji Tatanan Container merupakan penyedia jasa logistik yaitu untuk

depo container (tempat penumpukan petikemas dan kargo); modifikasi petikemas

(container office, kafe, container wudhu, tidur kabin container, laundry, dapur

container, dll) jual beli dan persewaan petikemas, pemeliharaan atau perbaikan

dan pembersihan container (petikemas) baik petikemas dry, reefer maupun

isotank; penyewaan generator untuk petikemas reefer; pelayanan untuk petikemas


37

reeferdan sebagai agen resmi sparepart reefer thermoking dan carrier, survey

petikemas, dan pengangkutan petikemas.

4.1.3 Customer PT Masaji Tatanan Container

a. Pelanggan produk porta camp

Adapun Pelangggan tetap pengguna produk porta camp dari PT Masaji

Tatanan Container Semarang adalah sebagai berikut:

1. PT Thiess Contractor

2. PT Adhi Karya

3. PT Medco Energy Geothermal

4. PT Indotruck Utama

5. PT Freeport Indonesia

6. PT Elang Nusantara

7. PT Sclumberger Geophisics Nusantara

8. PT Alam Bersemi Sentosa

b. PT Masaji Tatanan Container juga bekerjasama dengan beberapa perusahaan

Pelayaran atau Principal sebagai Internal Costumer, diantaranya:

1. American President Lines (APL)

2. Nippon Yusen Kabushiki Kaisha (NYK)

3. China Shipping Container Line (CSCL)

4. Hapag-Lloyd

5. China Ocean Shipping Company (COSCO)

6. Orient Overseas Container Line (OOCL)

7. Korean Maritim Trasnport Co.Ltd (KMTC)


38

8. PT Samudera Indonesia (SSL)

9. United Arab Shipping Company (UASC)

10. Mitsui O.S.K Line (MOL)

11. Emirates

12. Transliner

c. PT Masaji Tatanan Container juga bekerjasama dengan EMKL (Ekspedisi

Muatan Kapal Laut) sebagai Eksternal Costumer, diantaranya:

1. PT Ahlers Thoeng

2. PT Apac Inti Corpora

3. PT Arindo Jaya Mandiri

4. PT Global Trans Nusantara

5. PT Jasa Pasific Indonesia

6. PT Kalisari

7. PT Kayu Lapis Indonesia

8. PT Mercusuar

9. PT Mitra Kargo Indonesia

10. PT Samudera Perdana Selaras

11. PT Segara Citra Perkasa

12. PT Segaramas

13. PT Trans Focus

14. PT Varuna Tirta Prayasa

15. PT Wahana Mitra


39

4.1.4 VISI dan MISI

PT Masaji Tatanan Container ini mempunyai visi dan misi untuk

mengembangkan usaha dan mendapatkan pangsa pasar yang luas. Selain itu, juga

sebagai antisipasi terhadap perkembangan bisnis yang berlangsung semakin pesat

dan sangat cepat serta tingkat persaingan yang tinggi. Visi dari PT Masaji Tatanan

Container ini adalah menjadi perusahaan bidang transportasi kargo dan industri

logistik yang tumbuh, berkembang, dan profesional dengan mengutamakan

kualitas pelayanan yang terbaik dan dapat diandalkan oleh pengguna jasa. Adapun

misi dari PT Masaji Tatanan Container adalah menyediakan jasa pelayanan

transportasi dan logistik yang berkualitas untuk customers di wilayah Asia. Dapat

meningkatkan kesejahteraan karyawan, mencapai pertumbuhan perusahaan dan

mampu memberikan keuntungan maksimal bagi stakeholder.

4.1.5 Jumlah Karyawan

Jumlah karyawan yang bekerja pada PT Masaji Tatanan Container Semarang

adalah sebagai berikut:

a. Supervisor : 3 orang
b. Costumer Service : 6 orang
c. Sales Project : 2 orang
d. Staf operasional : 19 orang
e. Staf Keuangan : 4 orang
f. HRD & Umum : 2 orang
g. Office Boy : 2 orang
h. Security : 12 orang
40

4.1.6 Struktur Organisasi PT Masaji Tatanan Container Semarang

PT Masaji Tatanan Container Semarang mempunyai struktur organisasi yang

masing-masing mempunyai tugas, wewenang dan tanggung jawab memberikan

pelayanan dalam peningkatan pelayanan dan kepuasan konsumen, selain itu dapat

memberikan kemudahan. Bentuk struktur organisasi yang digunakan oleh

PT Masaji Tatanan Container Semarang adalah bentuk fungsional dimana

kekuasaan pimpinan dilimpahkan kepada para pejabat yang memimpin satuan

dibawahnya dalam satuan bidang pekerjaan tertentu. Gambar 4.1 merupakan

struktur organisasi pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang.
41

Gambar 4.1

STRUKTUR ORGANISASI

PT MASAJI TATANAN CONTAINER SEMARANG

BRANCH HEAD

SALES & MARKET OPERATIONAL FINANCE HRD


DEPARTMENT DEPARTMENT DEPARTMENT DEPARTMENT

COSTUMER ESTIMATOR & ADM TREASURY GENERAL


SERVICE OPERATIONS

SALES PROJECT MEKANIK & BILLING SECURITY HEAD


PROJECT

YARDMAN & CASHIER


REPO

DAMAGE & ACCOUNTING &


REPAIR TAX

Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016

Keterangan tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian:

a. Branch Head

Memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

1) Memimpin dan mengkoordinasi jalannya perusahaan agar tercipta hasil

yang sejalan.
42

2) Bertanggungjawab terhadap selutuh kegiatan yang ada pada depo peti

kemas.

3) Mengadakan koordinasi tugas dengan bawahannya sehingga tujuan

perusahaan dapat tercapai.

4) Melaporkan secara berkala kepada pusat tentang perkembangan

perusahaan.

5) Mengadakan hubungan-hubungan dengan pihak luar untuk mewujudkan

perkembangan perusahaan.

b. Sales and Marketing Department

Sales and Market Department terbagi menjadi dua yaitu costumer service dan

sales project yang memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

1) Customer Service, memiliki tugas dan tanggung jawab antara lain:

a) Melayani Costumer untuk membuat Bon Muat, Bon Bongkar.

b) Betindak sebagai kasir untuk melakukan transaksi pembayaran

c) Memonitoring dokumen damage container

d) Memonitoring FIFO melalui inventory

e) Membuat dan mengirim Daily Movement Report ke principal

f) Membuat tagihan bulanan kepada principal

2) Sales Project, memiliki tugas dan tanggung jawab antara lain:

a) Modifikasi peti kemas menjadi toilet, dapur, laundry, villa atau resort

atau fungsi lain sesuai dengan permintaan pemakai atau pelanggan.

b) Melakukan penawaran kepada pelanggan terhadap program sales

project perusahaan.
43

c. Operational Department

Memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

1) Bertanggung jawab atas semua kegiatan yang ada dilapangan dalam hal

operasional perusahaan kepada branch head.

2) Mengawasi dan memonitor pelaksanaan operasional depo, seperti

melakukan gate in dan gate out kontainer, melakukan proses lift on dan

lift off container, pembersihan peti kemas (container cleaning),

perbaikan peti kemas (container repair), dan pengangkutan peti kemas

(container trucking).

3) Membuat laporan-laporan pelaksanaan harian/mingguan/bulanan dan

tahunan (annual report ) kepada pimpinan.

4) Mengawasi kelancaran peti kemas dari atau ke pelabuhan.

5) Memberikan masukan atau pendapat kepada pimpinan perusahaan dalam

bidang operasional

6) Membantu pimpinan perusahaan dalam pembinaan Sumber Daya

Manusia dalam bidang operasional.

7) Membantu penyusunan anggaran operasional.

d. Finance Department

Memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

1) Bertanggungjawab atas semua pengeluaran dan pemasukan perusahaan

2) Mengurus pembayaran pajak perusahaan

3) Mengatur piutang pada costumer yang harus ditagih


44

4) Meminta dropping dari pusat.

5) Menyelenggarakan sistem laporan keuangan mingguuan/bulanan secara

berkala kepada pimpinan perusahaan, bank atau pihak-pihak lain yang

dianggap perlu.

6) Memonitor dan menyelenggarakaninventory system aset perusahaan atau

milik orang lain yang dipercayakan kepada perusahaan.

7) Memberikan masukan atau pendapat kepada piimpinan perusahaan

khususnya dalam bidang keuangan.

8) Menyusun rencana kerja atau anggaran realisasi perusahaan.

e. Umum dan personalia

Memiliki tugas sebagai berikut:

1) Mengurus gaji seluruh karyawan PT Masaji Tatanan Container Semarang

2) Mengatur tata tertib yang berlaku di perusahaan

3) Melakukan pengadaan barang-barang dan peralatan kantor.

4.1.7 Hari dan Jam Kerja

Hari kerja PT Masaji Tatanan Container Semarang adalah 6 hari kerja yaitu

hari Senin sampai Sabtu dengan jam kerja sebagai berikut:


45

Tabel 4.1

JAM KERJA KARYAWAN PT MASAJI TATANAN CONTAINER

Hari Jam Kerja Jam Istirahat

Senin s/d Jumat 08.00 WIB 16.30 WIB 12.00 WIB 13.00 WIB

Sabtu 08.00 WIB 12.00 WIB -

Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016

Adapun selain jadwal harian tersebut, ada pula pada karyawan bagian

operasional yang lembur setiap harinya sesuai dengan jadwal piket mengingat

banyaknya kegiatan peti kemas yang keluar masuk dari depo. Tabel jam kerja

karyawan operator lapangan depo dapat dilihat pada Lampiran 5.

4.2 Hasil dan Pembahasan

4.2.1 Bidang Usaha PT Masaji Tatanan Container Semarang

Dari hasil wawancara penulis dengan karyawan PT Masaji Tatanan Container

Semarang, telah didapatkan beberapa informasi tentang kondisi PT Masaji

Tatanan Container Semarang, bidang usahanya antara lain:

a. Depo Peti kemas

PT Masaji Tatanan Container Semarang mempunyai depo peti kemas yang

terdiri dari beberapa unsur fasilitas kegiatan di dalamnya, antara lain: tempat

penumpukan peti kemas, tempat perbaikan peti kemas (repair container),

tempat pembersihan dan pencucian peti kemas (cleaning and washing

container).
46

Dalam kegiatan opersional sehari-hari, depo PT Masaji Tatanan Container

melaksanakan berbagai macam aktivitas antara lain:

1) Sebagai tempat penumpukan peti kemas kosong

Aktivitas yang dilakukan disini adalah menyimpan peti kemas kosong

yang akan dan telah dilakukan untuk kegiatan ekspor impor. Sebagai

tempat penumpukan peti kemas kosong, tentu saja PT Masaji Tatanan

Container Semarang tidak memiliki peti kemas sendiri tetapi hanya

memberikan fasilitas berupa lapangan penumpukan terbuka yang

cukup luas untuk digunakan sebagai tempat penumpukan peti kemas

kosong. Peti kemas-peti kemas tersebut dimiliki oleh perusahan

pelayaran / principal / shipping company. Salah satu pemilik peti

kemas yang termasuk dalam lingkup PT Masaji Tatanan Container

Semarang adalah perusahaan pelayaran PT Samudera Indonesia

Group.

2) Lift On dan Lift Off

Lift On dan Lift Off merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh

PT Masaji Tatanan Container Semarang yang berhubungan dengan

menaikkan dan menurunkan peti kemas dari atas tumpukan.

Jadi Lift On maksudnya adalah jasa yang diberikan untuk menaikkan

atau memuat peti kemas yang diambil dari tumpukan peti kemas,

kemudian peti kemas diletakkan diatas truk chassis untuk kemudian

dikeluarkan (gate out) dari depo peti kemas PT Masaji Tatanan

Container Semarang. Sedangkan yang dimaksud dengan jasa Lift Off


47

adalah jasa yang diberikan dalam menurunkan peti kemas kosong dari

truk chassis kemudian diletakkan diatas tumpukan peti kemas dan

disimpan di dalam depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container

Semarang. Gambar lift on dan lift off dapat dilihat seperti dibawah ini:

Gambar 4.2
LIFT ON CONTAINER

Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016

Gambar 4.3

LIFT OFF CONTAINER

Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016


48

3) Survey

Survey adalah meneliti dan memeriksa kondisi peti kemas pada saat

itu. Survey merupakan salah satu kegiatan yang ada pada depo

PT Masaji Tatanan Container Semarang untuk memeriksa setiap peti

kemas yang masuk atau diserahkan ke dalam depo maupun pada saat

peti kemas akan keluar dari depo PT Masaji Tatanan Container

Semarang.

4) Pencucian dan Pembersihan Peti kemas (cleaning and washing

container)

Proses Cleaning adalah kegiatan yang dilakukan oleh depo peti

kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang berkaitan dengan

kebersihan peti kemas, jadi peti kemas yang kotor dibersihkan

terlebih dahulu dengan cara menyapu bagian dalam peti kemas

tersebut, lalu mencucinya dengan air sebelum peti kemas tersebut

digunakan kembali. Semua peti kemas yang masuk ke dalam depo

peti kemas ini harus melewati proses pencucian peti kemas

(Cleaning Proses).
49

Gambar 4.4

PENCUCIAN DAN PEMBERSIHAN PETI KEMAS

Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016

5) Perbaikan Peti kemas (Container Repair)

Proses perbaikan peti kemas merupakan salah satu kegiatan yang ada

di depo PT Masaji Tatanan Container Semarang untuk memperbaiki

keadaan atau kondisi peti kemas yang rusak (damage) setelah

digunakan dalam kegiatan pengiriman barang.

Gambar 4.5

PROSES PERBAIKAN PETI KEMAS

Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016


50

b. Trucking

Selain bergerak dalam usaha depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container

Semarang juga menjalankan angkutan peti kemas (trucking). Kegiatan usaha

trucking di PT Masaji Tatanan Container Semarang adalah penyediaan

angkutan truk yang digunakan untuk mengangkut peti kemas dari depo ke

gudang pemilik barang atau ke dermaga.

c. Porta Camp

Peti Kemas Modifikasi / Porta camp atau lebih dikenal dengan sebutan office

container adalah petikemas yang dimodifikasi sedemikain rupa sehingga

mempunyai fungsi lain atau tambahan yang dapat digunakan untuk keperluan

sehari-hari. Adapun fungsi tersebut adalah menjadi petikemas untuk fungsi

sebagai kantor, toilet, dapur, laundry, villa atau resort atau fungsi lain sesuai

dengan permintaan pemakai atau pelanggan.

4.2.2 Dokumen Bongkar Muat Peti Kemas Kosong

Dokumen-dokumen yang digunakan pada proses bongkar muat peti kemas

dari dan ke depo PT Masaji Tatanan Container Semarang dapat dilihat pada

Tabel 4.2.
51

Tabel 4.2
DOKUMEN YANG DIOBSERVASI
NO JENIS DOKUMEN JUMLAH ADA TIDAK
1. Delivery Order 2
2. Kitir bongkar / Container Receive 1
Order
3. Kitir muat / Container Release 1
Order
4. Kwitansi bukti pembayaran/receipt 2
5. EIR (Equipment Interchange 1
Report)
6. EOR (Estimated Of Repairs) 1
7. Surat Tanda Terima Container 2
Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016

Berikut penjelasan dari Tabel 4.4 mengenai data yang diobservasi pada PT Masaji

Tatanan Container Semarang:

a. Dokumen yang digunakan dalam proses bongkar peti kemas

Berikut merupakan beberapa dokumen yang digunakan dalam proses bongkar

peti kemas atau proses masuknya peti kemas di depo peti kemas PT Masaji

Tatanan Container Semarang:

1) Delivery order impor

Delivery Order merupakan surat keterangan yang diterbitkan oleh pihak

shipping atau forwarder kepada shipper sebagai tanda bukti pengambilan

(booking confirmation) peti kemas kosong dan atau tanda bukti

pengiriman barang dari gudang shipper ke Unit Terminal Peti Kemas

(UTPK) atau gudang (Warehouse). Biasanya untuk Delivery Order


52

melalui proses impor atau sering disebut juga Delivery Order untuk

bongkar peti kemas kosong berisi tentang keterangan nomor peti kemas

yang akan dikembalikan melalui proses gate in pada depo. Dokumen

delivery order untuk kegiatan bongkar peti kemas atau impor dapat

dilihat pada pada Lampiran 10.

2) Kitir Bongkar / Container Receive Order

Kitir Bongkar / Bon Bongkar atau Container Receive Order dibuat

berdasarkan adanya DO (Delivery Order) yang dibawa oleh EMKL

(Ekspedisi Muatan Kapal Laut) sehingga EMKL bisa mengembalikan

container berdasarkan nomor container yang terdapat di dalam DO yang

dipakai untuk impor. Dokumen kitir bongkar / Container Receive Order

untuk kegiatan bongkar peti kemas atau impor dapat dilihat pada pada

Lampiran 11.

3) Kwitansi / Bukti Pembayaran

Semua transaksi pembayaran yang dilakukan dengan menggunakan ATM

meliputi pembuatan kwitansi Bon Muat, kwitansi Bon Bongkar dan

kwitansi lembur. Dokumen kwitansi/receipt untuk kegiatan bongkar peti

kemas atau impor dapat dilihat pada pada Lampiran 11.

4) Estimated Of Repairs

Estimated Of Repairs pada proses bongkar peti kemas bisa juga disebut

dengan EIR In (Equipment Interchange Receipt In). Surat jalan ini

merupakan surat yang dikeluarkan oleh pihak depo sebagai hasil dari

pemeriksaan fisik/survey atas peti kemas kosong yang dikembalikan oleh


53

importir (detail kondisi, rencana perbaikan, dan total biaya). Dokumen

Estimated Of Repairs untuk kegiatan bongkar peti kemas atau impor

dapat dilihat pada Lampiran 12.

5) Surat Tanda Terima Container impor

Surat ini sebagai tanda terima pengembalian peti kemas kosong dari depo

yang dikeluarkan oleh petugas pintu gate out. Dokumen Surat Tanda

Terima Container untuk kegiatan bongkar peti kemas atau impor dapat

dilihat pada pada Lampiran 13.

b. Dokumen yang digunakan dalam proses muat peti kemas

Berikut merupakan beberapa dokumen yang digunakan dalam proses muat

peti kemas atau proses keluarnya peti kemas di depo peti kemas

PT Masaji Tatanan Container Semarang:

1) Delivery order Ekspor

Delivery Order merupakan surat keterangan yang diterbitkan oleh pihak

shipping atau forwarder kepada shipper sebagai tanda bukti pengambilan

(booking confirmation) peti kemas kosong dan atau tanda bukti

pengiriman barang dari gudang shipper ke Unit Terminal Peti Kemas

(UTPK) atau gudang (Warehouse). Dokumen Delivery order untuk

kegiatan muat peti kemas atau ekspor dapat dilihat pada pada Lampiran

14.
54

2) Kwitansi / Bukti Pembayaran

Semua transaksi pembayaran yang dilakukan dengan menggunakan ATM

meliputi pembuatan kwitansi Bon Muat, kwitansi Bon Bongkar dan

kwitansi lembur. Dokumen kwitansi/receipt untuk kegiatan muat peti

kemas atau ekspor dapat dilihat pada pada Lampiran 15.

3) Kitir Muat / Container Release Order

Bon Muat atau Container Release Order dibuat berdasarkan adanya DO

(Delivery Order) yang dibawa oleh EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal

Laut) sehingga EMKL bisa mengambil container untuk ekspor.

Dokumen Container Release Order untuk kegiatan muat peti kemas atau

ekspor dapat dilihat pada pada Lampiran 15.

4) Equipment Interchange Receipt

Surat jalan ini merupakan surat yang dikeluarkan oleh pihak depo

sebagai surat tanda muat peti kemas kosong. Dokumen Equipment

Interchange Receipt untuk kegiatan muat peti kemas atau ekspor dapat

dilihat pada pada Lampiran 16.

5) Surat Tanda Terima Container Ekspor

Surat ini sebagai tanda terima bahwa peti kemas kosong telah dimuat

oleh trucking dari depo yang dikeluarkan oleh petugas pintu gate out.

Dokumen Surat Tanda Terima Container Ekspor untuk kegiatan muat

peti kemas atau ekspor dapat dilihat pada pada Lampiran 17.
55

4.2.3 Sistem Alur Kegiatan Bongkar dan Muat Peti Kemas Kosong pada

PT Masaji Tatanan Container Semarang

a. Prosedur Kegiatan Bongkar Peti Kemas

Pada prosedur kegiatan bongkar peti kemas (flow in depo) adalah proses

masuknya peti kemas kosong ke dalam depo setelah digunakan untuk

kegiatan impor kemudian dibongkar di depo peti kemas.

Berikut penjelasan prosedur alur kegiatan bongkar peti kemas kosong pada

depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container:

1) Bagian administrasi

Pada proses administrasi, costumer EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal

Laut) mengambil nomor antrian dan duduk menunggu diruang tunggu

sampai tiba giliran antrian pelayanan. Lalu costumer membawa

salinan/copy Delivery Order ke loket pelayanan dan EMKL menunggu

proses administrasi yang dilakukan oleh customer serviceke dalam IDMS

(Integrated Depo Management System) Petugas loket/costumer service

melakukan verifikasi dokumen, membuat PRA In, dan mencetak Bon

Bongkar/CRO In (Container Receive Order In) kemudian EMKL

membayar lift off untuk bongkar peti kemas kosong. Costumer service

melakukan administrasi pembayaran meliputi mencetak kwitansi/receipt,

faktur pajak dan menyerahkan bersama Bon Bongkar/CRO In (Container

Receive Order In) kepada EMKL.


56

2) Gate In

Pada proses gate in container, Sopir/driver memberikan Bon

Bongkar/CRO In (Container Receive Order In) kepada petugas security,

kemudian petugas security memasukan nomor peti kemas untuk

memanggil data kemudian security memasukkan nomor polisi dan

trucking company menunjukkan Bon Bongkar/CRO In (Container

Receive Order In) lalu membuka boom gate.

3) Cleaning, petugas cleaning melakukan pembersihan dan pencucian peti

kemas.

4) Survey

Pada proses survey peti kemas, petugas surveyor melakukan survey fisik

peti kemas kosong kemudian menginput nomor peti kemas untuk

memanggil data dan memasukan kondisi peti kemas, remark damage,

dan mengambil foto kerusakan. Kemudian surveyor mentrigger

autoprinting EIR In (Equipment Interchange Receipt In) ke gate out.

5) Setelah melewati proses survey dan cleaning, petugas surveyor

menentukan kondisi peti kemas yang telah disurvey, jika kondisi peti

kemas dalam keadaan DN (damage) atau rusak maka peti kemas

diletakkan di blok workshop area damage dan petugas repair melaporkan

kerusakan kepada pihak principal. Setelah pihak pelayaran atau principal

menyetujui (approve) untuk melakukan repair peti kemas maka petugas

repair menyerahkan ampra atau instruksi kerja kepada vendor untuk

memperbaiki kerusakan peti kemas, kemudian peti kemas tersebut


57

diletakkan dan ditumpuk pada lokasi blok peti kemas available. Jika peti

kemas dalam keadaan AC (available cleaning) atau baik, maka petugas

cleaning mengarahkan trailertruck menuju lokasi bongkar berdasarkan

blok kemudian truk menuju lokasi bongkar.

6) Yardman memerintahkan operator untuk membongkar peti kemas kosong

dari truk chasis ke lokasi yang ditentukan dan mengupdate lokasi peti

kemas yang dibongkar di dalam COINS di tab. Proses bongkar peti

kemas/lift off container sampai meletakkan peti kemas di tempat yang

ditentukan. Kemudian truk trailer menuju pintu gate out.

7) Security meminta CRO In (Container Receive Order In) dan

menukarkan dengan EIR In (Equipment Interchange Receipt In) yang

sesuai, membuka boom gate sekaligus mencatat waktu keluar dan

mempersilahkan truk trailer keluar.

Gambar 4.6 adalah flowchart alur kegiatan masuk (flow in) bongkar peti

kemas pada depo PT Masaji Tatanan Container Semarang.


58

Gambar 4.6
ALUR KEGIATAN BONGKAR PETI KEMAS
PT MASAJI TATANAN CONTAINER SEMARANG
Bagian Proses
EMKL Gate In Proses Survey Proses Repair Lift Off
Administrasi Cleaning
Start

Input Data

Verifikasi
DO
DO Survey Peti
Input cont. Y (AC) Lapangan
Cleaning Kemas
& trucking Peti Kemas penumpukan
Pra In number N
(AU/DN) Input Data
Kerusakan

2
1
BB
Repair

Pembuatan Peti Kemas


Kwitansi
Workshop
(Bengkel) End

2
1
Kwitansi

Sumber: Data sekunder yang diolah, 2016


59

b. Prosedur Kegiatan Muat Peti Kemas (Flow Out)

Pada prosedur kegiatan muat peti kemas (flow out depo) adalah proses

keluarnya peti kemas kosong dari dalam depo yang akan digunakan untuk

kegiatan ekspor, biasa disebut juga dengan muat peti kemas. Gambar 4.7

adalah flowchart alur kegiatan keluar (flow in) depo. Proses alur kegiatan

muat peti kemas kosong pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container

adalah sebagai berikut:

1) Bagian administrasi

Pada proses administrasi, costumer EMKL mengambil nomor antrian dan

duduk menunggu diruang tunggu sampai tiba giliran antrian pelayanan.

Customer service melakukan panggilan nomor antrian dan EMKL

memberikan salinan/copy Delivery Order ke loket pelayanan dan EMKL

menunggu proses administrasi yang dilakukan oleh customer service ke

dalam IDMS (Integrated Depo Management System). Petugas

loket/costumer service melakukan verifikasi dokumen, membuat PRA

OUT, dan mencetak Bon Bongkar/CRO Out (Container Receive Order

Out) kemudian EMKL membayar lift off untuk bongkar peti kemas

kosong. Costumer service melakukan administrasi pembayaran meliputi

mencetak kwitansi/receipt, faktur pajak dan menyerahkan seal peti kemas

bersama Bon Bongkar/CRO Out (Container Receive Order Out) kepada

EMKL.
60

2) Pemeriksaan Security

Sopir/driver memberikan Bon Muat/CRO Out (Container Receive Order

Out) kepada petugas security, kemudian petugas security memasukan

nomor CRO Out untuk memanggil data kemudian security memasukkan

nomor polisi dan trucking company lalu membuka boom gate.

3) Survey

Yardman mensurvey peti kemas dengan cara mencarikan peti kemas

sesuai dengan nomor peti kemas yang tercantum pada Bon Muat

(Container Receive Order) sebelum peti kemas dinaikkan diatas truk

chasis. Truk trailer menuju lokasi muat yang sudah ditentukan blocking

system. Yardman dan operator alat side loader mendekati truk trailer

sesuai lokasi manuver alat dan meminta CRO Out (Container Receive

Order Out).

4) Gate Out

Yardman menginstruksikan operator alat untuk memuat peti kemas diatas

truk chasis kemudian menginput nomor peti kemas di dalam TAB

sekaligus melakukan triger printing EIR Out (Equipment Interchange

Receipt Out) ke gate out.

5) Lift on container, operator memuat peti kemas langsung diatas chasis.

Lalu trailer menuju gate out.

6) Petugas security memasukkan nomor peti kemas berdasarkan fisik,

menekan tombol print dan membuka pintu gate sekaligus mencatat

nomor trucking. Trailer mengambil EIR Out (Equipment Interchange


61

Receipt Out) dari mesin scanner, kemudian mencocokkan dan trucking

keluar dari depo.

Data prosedur alur kegiatan bongkar/masuk (flow in) peti kemas kosong dan

muat (flow out) peti kemas kosong pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan

Container dapat dilihat pada Lampiran 6.

Gambar 4.7
ALUR KEGIATAN MUAT PETI KEMAS
PT MASAJI TATANAN CONTAINER SEMARANG

Bagian Pemeriksaan Proses


EMKL Security
Gate Out Lift Off
Administrasi Survey
Start

Verifikasi Input Data


DO

DO

Pra Out

Pemeriksaan Survey Peti Lapangan


2 Input cont.
Bon Muat Kemas penumpukan
1 & trucking
BM
number

Pembuatan
Kwitansi

2 End
1
Kwitansi

A A

Sumber: Data sekunder yang diolah, 2016


62

4.2.4 Hambatan yang dihadapi dalam Kelancaran Bongkar Muat Peti

Kemas Kosong pada PT Masaji Tatanan Container Semarang

Dalam proses masuk dan keluarnya peti kemas pada depo peti kemas PT

Masaji Tatanan Container Semarang sering kali mengalami beberapa kendala

yang dapat menghambat atau memperlambat kinerja operasional. Masalah

yang diamati adalah dalam hal ketepatan waktu. Dalam hal ketepatan waktu PT

Masaji Tatanan Container Semarang memiliki standar waktu mulai dari proses

administrasi sampai proses masuk dan keluar pintu/gate maksimal adalah 30

menit. Tetapi sesuai hasil pengamatan yang dilakukan, waktu yang digunakan

lebih dari tiga puluh menit. Jadi dilihat dari ketepatan waktu PT Masaji

Tatanan Container Semarang tidak sesuai dengan misi perusahaan tersebut.

Berikut rincian time monitoring oleh trucking yang masuk untuk kegiatan muat

maupun bongkar peti kemas kosong:

Tabel 4.3
CONTAINER MONITORING
PT MASAJI TATANAN CONTAINER SEMARANG
No Container Principal Details Activity
1 ESPU2036470 EMIRATES 01:13:10 IMPORT
2 - KMTC 01:06:37 EXPORT
3 FCIU9852970 COSCO 00:58:40 EXPORT
4 XINU1142084 HAPAG 00:58:21 EXPORT
5 CAIU8645754 CSCL 00:57:54 EXPORT
Sumber: Data sekunder yang diolah, data lebih lengkap dapat dilihat
pada Lampiran 18
63

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa peti kemas bernomor

ESPU2036470 dengan nama principal EMIRATES waktu yang digunakan

selama trucking masuk ke depo untuk bongkar peti kemas impor adalah satu

jam tiga belas menit sepuluh detik. Principal KMTC waktu yang digunakan

selama trucking masuk ke depo untuk muat peti kemas ekspor adalah satu jam

enam menit dan tiga puluh tujuh detik. Peti kemas bernomor FCIU9852970

dengan nama principal COSCO waktu yang digunakan selama trucking masuk

ke depo untuk muat peti kemas ekspor adalah lima puluh delapan menit empat

puluh detik. Peti kemas bernomor XINU1142084 dengan nama principal

HAPAG waktu yang digunakan selama trucking masuk ke depo untuk muat

peti kemas ekspor adalah lima puluh delapan menit dua puluh satu detik. Peti

kemas bernomor CAIU8645754 dengan nama principal CSCL waktu yang

digunakan selama trucking masuk ke depo untuk muat peti kemas ekspor

adalah lima puluh tujuh menit lima puluh empat detik.

Menurut hasil observasi yang dilakukan waktu lamanya trucking untuk

masuk maupun keluar dari depo membutuhkan waktu paling lama sampai satu

jam, dengan kondisi yang demikian menyebabkan sering terjadinya kemacetan

karena terlalu banyak truk yang antri untuk menunggu. Hal ini tidak hanya

mengakibatkan kemacetan pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container

Semarang saja, tetapi akan mengakibatkan kemacetan yang terjadi disepanjang

jalan depo lainnya.


64

Dari hasil pengamatan dapat diketahui beberapa hambatan yang dihadapi

oleh pihak operasional depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container

Semarang sebagai berikut:

a. Keterbatasan peralatan

Peralatan memegang peranan yang sangat penting dalam menunjang

kelancaran proses kegiatan masuk dan keluarnya peti kemas dari depo.

Secara keseluruhan peralatan yang dimiliki oleh depo peti kemas PT

Masaji Tatanan Container Semarang sudah lengkap, namun terdapat

beberapa peralatan yang dapat mengganggu proses kelancaran kegiatan

masuk dan keluarnya peti kemas dari depo yaitu:

1) Pada pintu gate in peti kemas alat barcode scanner belum ada, hal ini

akan mengakibatkan proses yang lama dalam gate in dan tidak sesuai

prosedur baru yang berlaku karena tidak adanya alat barcode scanner

seperti yang ada pada pintu gate out.

2) Jaringan wifi masih sering terputus tidak stabil, hal ini akan

berdampak pada proses administrasi yang dilakukan oleh costumer

service dan petugas operasional lapangan depo karena tidak bisa

menginput data.

3) Alat print EOR (Estimated of Repairs) yang ada di depo rusak, hal ini

akan mengakibatkan costumer EMKL tidak bisa mencetak EOR untuk


65

surat jalan yang akan dibawa ke pihak pelayaran sehingga

mengganggu proses bongkar peti kemas.

4) Lampu yang digunakan oleh petugas survey dan cleaning peti kemas

kosong mati sehingga petugas kesulitan dalam mensurvey peti kemas

kosong pada saat jam kerja lembur dimalam hari.

b. Kurang efektif perencanaan penumpukan

Berikut hambatan atau kendala yang terjadi selama proses penumpukan

peti kemas pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang:

1) Penumpukan peti kemas yang tidak berdasarkan kelompok principal,

penumpukan peti kemas milik perusahaan pelayaran yang satu dengan

yang lain ditumpuk menjadi satu tumpukan, sehingga petugas depo

sulit untuk melakukan pengawasan, pendataan, dan pengambilan peti

kemas karena membutuhkan waktu yang lama.

2) Penumpukan peti kemas masih sering tercampur, antara peti kemas

yang digunakan untuk antar pulau dengan peti kemas yang digunakan

untuk ekspor.

c. Keterampilan Sumber Daya Manusia yang kurang memadai

Sumber daya manusia juga merupakan salah satu faktor yang penting

dalam memaksimalkan penggunaan depo peti kemas. Dengan sumber daya

manusia yang berkualitas maka kegiatan operasional di depo tersebut juga

akan berjalan dengan baik dan lancar. Dari hasil pengamatan yang
66

dilakukan dilapangan masih ditemukan hal-hal yang berhubungan dengan

sumber daya manusia atau para pekerja dan staff depo tersebut, seperti:

1) Petugas administrasi costumer service kurang teliti dalam menginput

data sehingga terdapat kesalahan seperti kesalahan jumlah pembayaran

yang dilakukan oleh EMKL, kesalahan dalam menentukan peti kemas

yang digunakan dalam kegiatan ekspor dikarenakan petugas costumer

service sebelum membuat kitir bon muat tidak melihat stok peti kemas

yang available sehingga mengakibatkan harus mengubah data terlebih

dahulu dan mengakibatkan antrian proses administrasi menjadi lama.

2) Petugas Gate peti kemas tidak bisa membukakan pintu boom gate

ketika menerima surat bon bongkar yang demurrage yaitu batas waktu

pinjam peti kemas telah melebihi batas waktu yang ditentukan,

akibatnya petugas gate tidak bisa membukakan pintu sehingga truk

peti kemas harus mengantri didepan pintu gate karena EMKL harus

membayar denda demurage terlebih dahulu, hal ini akan berdampak

kemacetan yang ada didepo.

3) Petugas operasional tally yang kurang teliti karena kondisi petugas

yang kelelahan sehingga sering terdapat kesalahan penulisan dokumen

yang menyebabkan kesalahan peletakan peti kemas di depo.

Contohnya seperti kesalahan penulisan nomor peti kemas dalam proses

pembuatan data stock opname container.


67

4) Petugas operasional survey peti kemas yang kurang teliti saat

melakukan survey peti kemas kosong dikarenakan kelelahan sehingga

sering mengakibatkan kelalaian petugas dalam melakukan survey peti

kemas dan kurangnya petugas yang ada pada proses survey.

Akibatnya peti kemas yang setelah disurvey dalam keadaan baik

(available) ternyata setelah dilapangan keadaan peti kemas tersebut

rusak (damage).

5) Petugas repair peti kemas yang belum siap untuk mengampra yaitu

menentukan peti kemas yang rusak kemudian pekerjaan repair peti

kemas diserahkan kepada vendor untuk dapat segera dilakukan proses

perbaikan peti kemas, dikarenakan petugas repair belum membuat

daftar peti kemas yang harus diperbaiki, maka untuk memperbaiki peti

kemas dari kerusakan menjadi lama.

4.2.5 Upaya yang Harus dilakukan dalam Kelancaran Bongkar Muat

Peti Kemas Kosong pada PT Masaji Tatanan Container

Fakta yang didapat setelah melakukan observasi dan wawancara pada depo

peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang masih ditemukannya

hambatan atau kendala yang mempengaruhi dalam proses kelancaran kegiatan

masuk dan keluarnya peti kemas dari depo. Oleh karena itu diperlukan suatu

evaluasi sehingga pelayanan yang ada di depo dapat ditingkatkan. Adapun


68

syarat dan upaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut

agar terciptanya kelancaran kegiatan masuk dan keluarnya peti kemas dari depo

diperlukan manajemen operasional dan pengendalian yang baik, diantaranya:

a. Mengatasi Terbatasnya Peralatan

Mengingat pentingnya peranan peralatan dalam menunjang kegiatan

operasional pada suatu depo, maka perlu adanya upaya untuk

menganggulangi terbatasnya peralatan. Selain jumlah alat-alat tersebut

terbatas, depo tersebut juga memiliki masalah lain yang masih

berhubungan dengan peralatan, yaitu terdapat alat-alat yang rusak.

Upaya-upaya yang harus dilakukan oleh pihak operasional depo untuk

menanggulangi permasalahan pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan

Container Semarang adalah:

1) Membeli peralatan baru agar dapat memenuhi kebutuhan alat-alat yang

menunjang kegiatan operasional depo, seperti membeli alat barcode

scanner.

2) Memperbaiki koneksi jaringan wifi yang ada pada depo untuk

menunjang kegiatan operasional sehingga petugas depo tidak

mengalami masalah dalam penginputan data.

3) Memperbaiki alat print EOR (Estimated of repairs) sehingga costumer

EMKL bisa mencetak EOR untuk surat jalan yang akan dibawa ke
69

pihak pelayaran sehingga tidak mengganggu proses bongkar peti

kemas.

4) Memperbaiki lampu survey yang mati atau membeli lampu survey

baru, sehingga petugas tidak kesulitan dalam melakukan proses survey

dan cleaning peti kemas kosong pada saat jam kerja lembur.

5) Selain upaya-upaya yang telah disebutkan, ada opsi lain yang dapat

dipilih yaitu dengan cara penyediaan tenaga mekanik yang dapat

memperbaiki kerusakan pada alat-alat depo tersebut.

Jika upaya-upaya diatas dilakukan oleh pihak depo, bukan tidak

mungkin permasalahan yang berupa keterbatasan alat dapat diatasi. Jika

masalah-masalah tersebut dapat diatasi dan alat alat tersebut telah sesuai

dengan kebutuhan depo maka diharapkan kegiatan operasional depo dapat

berjalan dengan lancar.

b. Mengatasi kurang efektif perencanaan penumpukan

Perencanaan penumpukan merupakan hal yang penting dalam

mempengaruhi kelancaran proses operasional. Untuk penataan peti kemas

di depo diperlukan suatu perencanaan untuk menentukan teknik atau cara

penumpukan yang baik, sehingga dengan adanya perencanaan dan teknik

yang baik dalam penumpukan diharapkan nantinya penggunan ruang depo

yang tersedia menjadi efektif dan efisien, sehingga arus keluar masuk

petikemas di depo menjadi lancar dan tidak mengganggu kegiatan lainnya


70

serta tetap memperhatikan keamanan dan keselamatan. Syarat maupun

upaya yang harus dilakukan PT Masaji Tatanan Container Semarang agar

terwujud penumpukan yang rapi, teratur dan aman adalah dengan cara:

1) Memperhatikan dan menerapkan teknik penumpukan yang baik antara

lain:

a) Pengalokasian petikemas, karena di depo tidak hanya terdapat

petikemas milik satu perusahaan pelayaran/principal, tetapi lebih

dari satu dan juga tidak hanya petikemas yang dalam keadaan baik

tetapi juga terdapat petikemas rusak yang memerlukan perbaikan,

sehingga dengan adanya pengalokasian ini dapat memudahkan

pengambilan, pengangkatan, pengontrolan, dan pengawasan

petikemas.

b) Penumpukan petikemas dikelompokkan menurut masing-masing

perusahaan pelayaran agar terlihat rapi dan memudahkan

pengaturan dan pengoperasiannya. Dengan penumpukan

petikemas yang rapi akan memudahkan petugas depo dalam

melakukan pengawasan serta pengambilan, dan juga memudahkan

pendataan atau administrasi depo.

c) Petikemas ditumpuk dengan rapi, tidak boleh menumpuk silang

antara petikemas yang satu dengan petikemas lainnya, dan antara

sudut (corner fitting) petikemas diatas dan dibawahnya harus

saling beradu atau bertemu. Hal ini bertujuan untuk menghindari


71

petikemas jatuh yang menyebabkan kerusakan petikemas itu

sendiri, dan membahayakan keselamatan para pekerja.

d) Dua peti kemas 20 feet tidak boleh diletakkan atau ditumpuk

diatas peti kemas 40 feet karen akan merusak peti kemas 40 feet.

Dibandingkan peti kemas 40 feet, dua peti kemas 20 feet memiliki

daya tahan atau penyangga yang lebih kuat.

e) Peti kemas tidak boleh ditumpuk atau dilatakkan didekat gate,

karena akan mengganggu keluar masuknya peti kemas.

f) Antara sudut peti kemas diatas dan dibawahnya harus saling

beradu, agar tumpukan peti kemas tersebut kuat dan tidak mudah

roboh.

g) Kondisi peti kemas itu sendiri harus dalam keadaan baik dan

sesuai standar yang ditetapkan sehingga memungkinkan untuk

ditumpuk secara rapi dan teratur karena ukuran peti kemas sama.

2) Perlunya petugas atau operator alat handling yang terampil dalam

menata dan menumpuk peti kemas.

3) Membuat denah depo yang sesuai dengan teknik penumpukan yang

baik.

c. Mengatasi ketrampilan sumber daya manusia yang kurang memadai

Untuk menghasilkan penataan dan penumpukan yang baik dan tetap

memperhatikan sisi keamanan dan keselamatan, sehingga arus keluar

masuk peti kemas di depo menjadi lancar, juga pada akhirnya diharapkan
72

penggunaan depo yang tersedia menjadi efisien dan efektif maka

diperlukan sumber daya manusia yang memiliki ketrampilan pada

bidangnya masing-masing dalam melaksanakan kegiatan operasional di

depo tersebut. Untuk memperoleh sumber daya manusia yang mempunyai

ketrampilan memadai, maka pihak depo harus melakukan upaya-upaya

seperti:

1) Menyelenggarakan diklat untuk para petugas depo, seperti:

a) Diklat operator untuk alat handling

b) Diklat operasi penumpukan peti kemas

c) Diklat IT dan Logistic

d) Diklat administrasi operasi depo

2) Mengadakan pembagian waktu dan kelompok kerja

Karena kinerja petugas yang kurang teliti, yang disebabkan kondisi

yang kelelahan, sehingga terdapat kesalahan penulisan dokumen yang

menyebabkan kesalahan peletakan peti kemas di depo. Dengan adanya

pembagian waktu dan kelompok kerja maka stamina pekerja akan

terjaga dan tidak mudah lelah. Dengan kondisi dan stamina yang baik

para pekerja akan memperkecil tingkat kesalahan.

Adapun rencana program baru yang akan dilakukan untuk

menanggulangi hambatan dalam rangka mengupayakan pengoptimalan

penggunaan depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang

adalah sebagai berikut:


73

a) Development struktur organisasi operasi yang kuat dan kokoh

b) Membuat standar operasional prosedur/intruksi kerja

c) Pengembangan dan penataan infrastruktur depo

d) Depo Operations to be excelent:

(1) Level pelayanan maksimal 30 menit

(2) FIFO base in mandatory

e) Full technology dan open process untuk monitoring

Rincian rencana upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi

hambatan-hambatan dalam kelancaran bongkar dan muat peti kemas

kosong pada depo peti kemas PT Masaji PT Masaji Tatanan Container

Semarang yang dilakukan oleh pihak operasional depo dalam rangka

mengoptimalkan penggunaan depo peti kemas PT Masaji Tatanan

Container Semarang dapat dilihat pada Lampiran 19.

Depo sangat penting bagi dunia perdagangan, terutama untuk

perdagangan dalam skala internasional yang berhubungan dengan

pengangkutan peti kemas, sehingga depo harus berfungsi sebagai mana

mestinya, yaitu sebagai penunjang kegiatan operasional dan

memberikan pelayanan yang baik sesuai misi perusahaan tersebut.

Dengan kondisi depo yang masih banyak ditemukan kekurangan-

kekurangan dalam kegiatan operasionalnya, dan kekurangan-


74

kekurangan tersebut akan menyebabkan kendala yang dapat

menghambat kelancaran penggunaan depo tersebut.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, pihak depo harus melakukan

upaya-upaya yang dapat mengubah kendala-kendala tersebut menjadi

faktor yang dapat menunjang kelancaran dalam pengoptimalan

penggunaan depo dengan upaya penerapan manajemen operasional dan

pengendalian peti kemas kosong pada pada sistem pengendalian depo

peti kemas kosong PT Masaji Tatanan Container Semarang sehingga

upaya tersebut dapat terwujud.

4.2.6 Pihak-pihak yang Terkait

Pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan bongkar dan muat peti kemas kosong

pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang adalah sebagai

berikut:

a. Principal (Perusahaan Pelayaran)

b. Shipper atau eksportir

c. Ekspedisi Muatan Kapal Laut (Costumer)

d. Karyawan PT Masaji Tatanan Container Semarang

e. Bank

Pihak bank yang terkait dengan PT Masaji Tatanan Container Semarang

adalah:
75

1) Bank Mandiri

2) Bank BCA

3) Bank CIMB Niaga

f. Vendor

Vendor yang bekerja pada PT Masaji Tatanan Container Semarang ada tiga

yaitu:

1) CV Daya Hasta Sejahtera

2) CV Tirang Jaya Samudera

3) CV Meka Tani Pande

4.2.7 Sarana dan Prasarana yang dimiliki PT Masaji Tatanan Container

Semarang

Untuk menunjang kegiatan usahanya, berikut ini adalah data mengenai

sarana dan prasarana yang berupa lahan beserta fasilitas-fasilitas yang ada di

depo peti kemas, antara lain:

a. Luas keseluruhan area depo adalah seluas 5 Hektar dengan lantai dasar

paving/con blok. Lantai con-blok ini memiliki kemampuan yang bisa

dibebani sampai 30 ton.

b. Kapasitas penimbunan peti kemas dapat menampung sampai sebanyak

5000 Teus.
76

c. Bengkel repair, yaitu fasilitas yang ada di depo berupa perbaikan petikemas

yang mengalami kerusakan. Bengkel PT Masaji Tatanan Container

Semarang sebanyak satu unit dengan kapasitas 100 Teus per hari.

d. Pengelolaan survey atas kondisi peti kemas, dimana petugas survey akan

menentukan peti kemas dalam kondisi baik (available) atau rusak

(damage).

e. Area pembersihan atau pencucian peti kemas (cleaning area) terdiri dari

dua tempat, masing-masing untuk peti kemas ukuran 20 kaki dan 40 kaki

yang memang harus dipisah pada saat dilakukan proses pembersihan

(cleaning).

f. Fasilitas untuk petikemas reefer, yaitu pelaksanaan PTI, monitoring, Pre

cooling, dan genset rental.

g. Fasilitas pintu keluar dan masuk (gate in dan gate out) peti kemas yang

masing-masing terdiri dari satu pintu.

Gambar lay out depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang dapat

dilihat pada Lampiran 7.

4.2.8 Peralatan yang dimiliki PT Masaji Tatanan Container Semarang

Selain lahan untuk penumpukan peti kemas, PT Masaji Tatanan Container

Semarang juga memiliki beberapa peralatan yang di gunakan untuk menunjang

kegiatan operasional. Peralatan-peralatan tersebut antara lain:


77

a. Forklift

Jumlah : 1 unit

Kapasitas : 7 ton

Status : Milik

Kondisi : Baik

b. Side Loader Kalmar

Jumlah : 4 unit

Kapasitas : 15 ton

Status : Milik

Kondisi : Baik

c. Side Loader Velmet

Jumlah : 1 unit

Kapasitas : 15 ton

Status : Milik

Kondisi : Rusak

Tabel daftar alat-alat yang dimiliki oleh PT Masaji Tatanan Container

Semarang dapat dilihat pada Lampiran 8.

4.2.9 Data Peti Kemas

Selama melakukan observasi, setelah menghitung jumlah pergerakan peti

kemas per tahunnya ditemukan adanya peningkatan pada data peti kemas
78

masuk maupun keluar. Data tabel keluar masuk peti kemas ukuran 20 dapat

dilihat pada Tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4.4

DATA KELUAR MASUK PETI KEMAS 20

PER 31 DESEMBER 2013 31 DESEMBER 2015

KELUAR (lift on) MASUK (lift off)


TAHUN
JUMLAH PERUBAHAN (%) JUMLAH PERUBAHAN (%)
2013 12.337 - - 12.269 - -
2014 15.514 3177 25,8 14.950 2681 21,9
2015 22.908 7490 32,6 20.049 5099 34,1
Sumber: Data sekunder yang diolah, data lebih lengkap dapat dilihat pada
Lampiran 9

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa pada tahun 2014 jumlah peti

kemas yang keluar sebanyak 15.514 unit mengalami peningkatan sebesar 3177

unit dan mempunyai prosentase sebesar 25,8% dari jumlah sebelumnya tahun

2013 sebesar 12.337 unit. Tahun 2015 jumlah peti kemas yang keluar sebanyak

22.908 unit mengalami peningkatan sebesar 7490 unit dan mempunyai

prosentase sebesar 32,6% dari jumlah sebelumnya tahun 2014 sebesar 15.514

unit.

Tahun 2014 jumlah peti kemas yang masuk sebanyak 14.950 unit

mengalami peningkatan sebesar 2681 unit dan mempunyai prosentase sebesar

21,9% dari jumlah sebelumnya tahun 2013 sebesar 12.269 unit. Tahun 2015
79

jumlah peti kemas yang masuk sebanyak 20.049 unit mengalami peningkatan

sebesar 5099 unit dan mempunyai prosentase sebesar 34,1% dari jumlah

sebelumnya tahun 2014 sebesar 14.950 unit.

Meningkatnya jumlah prosentase keluar dan masuknya peti kemas ukuran

20 (feet) dari depo selama tiga tahun terjadi dikarenakan banyaknya peminat

atau shipper yang melakukan kegiatan untuk ekspor maupun impor barang.

Sedangkan data tabel keluar masuk peti kemas ukuran 40 dapat dilihat

pada Tabel 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4.5

DATA KELUAR MASUK PETI KEMAS 40

PER 31 DESEMBER 2013 31 DESEMBER 2015

KELUAR (lift on) MASUK (lift off)


TAHUN
JUMLAH PERUBAHAN (%) JUMLAH PERUBAHAN (%)
2013 22.608 - - 21.400 - -
2014 22.672 64 0,28 23.507 2107 9,8
2015 23.326 654 4,2 26.640 3133 13,3
Sumber: Data sekunder yang diolah, data lebih lengkap dapat dilihat pada
Lampiran 9

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa pada tahun 2014 jumlah peti

kemas yang keluar sebanyak 22.672 unit mengalami peningkatan sebesar 64

unit dan mempunyai prosentase sebesar 0,28% dari jumlah sebelumnya tahun

2013 sebesar 22.608 unit. Tahun 2015 jumlah peti kemas yang keluar sebanyak
80

23.326 unit mengalami peningkatan sebesar 654 unit dan mempunyai

prosentase sebesar 4,2% dari jumlah sebelumnya tahun 2014 sebesar 22.672

unit.

Tahun 2014 jumlah peti kemas yang masuk sebanyak 23.507 unit

mengalami peningkatan sebesar 2107 unit dan mempunyai prosentase sebesar

9,8% dari jumlah sebelumnya tahun 2013 sebesar 21.400 unit. Tahun 2015

jumlah peti kemas yang masuk sebanyak 26.640 unit mengalami peningkatan

sebesar 3133 unit dan mempunyai prosentase sebesar 13,3% dari jumlah

sebelumnya tahun 2014 sebesar 23.507 unit.

Meningkatnya jumlah prosentase keluar dan masuknya peti kemas ukuran

40 (feet) dari depo selama tiga tahun dikarenakan banyaknya peminat atau

shipper yang melakukan kegiatan untuk ekspor maupun impor barang.

4.2.10 Tarif LOLO (Lift On dan Lift Off) Peti Kemas Kosong

Dalam melakukan kegiatan bongkar dan muat peti kemas kosong

diberlakukan tarif yang berbeda-beda. Tarif LOLO (Lift On dan Lift Off) yang

berlaku pada depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang yaitu:

a. Tarif LOLO per Third Party

Tarif LOLO per third party yaitu tarif yang dibayarkan oleh EMKL pada

depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang untuk kegiatan

bongkar atau muat peti kemas kosong, untuk tarif LOLO pembayaran

dibedakan berdasarkan keluar atau masuknya peti kemas dari depo, yaitu:
81

1) Tarif LOLO In dan Cleaning

Tarif LOLO In dan cleaning yaitu tarif yang diberlakukan untuk

kegiatan bongkar peti kemas yang masuk ke depo, pembayarannya

meliputi LOLO (Lift Off dan Lift On) untuk bongkar peti kemas (lift

off) dan tarif cleaning untuk pembersihan peti kemas yang masuk

kedalam depo. Tarif LOLO (Lift On and lift off) In per third party

untuk peti kemas berukuran 20 dan 40 untuk semua principal dapat

dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6

TARIF LOLO IN DAN CLEANING PER THIRD PARTY

PT MASAJI TATANAN CONTAINER

All Principal 20 (Rp) 40 (Rp)

1. LOLO 236.500 324.500

2. Cleaning 110.000 165.500

TOTAL 346.500 489.500

Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa untuk peti kemas yang

berukuran 20 (feet) dan 40 (feet) masing-masing mempunyai tarif

untuk pembayaran LOLO (Lift On and lift off) dan tarif pembayaran

cleaning peti kemas. Untuk semua principal peti kemas dengan


82

ukuran 20 mempunyai tarif LOLO (Lift On and lift off) sebesar Rp

236.500,00 dan mempunyai tarif cleaning sebesar Rp 110.000,00

sehingga jumlah tarif LOLO In per third party yang dibayarkan

sebesar Rp 346.500,00 sedangkan peti kemas dengan ukuran 40

mempunyai tarif LOLO (Lift On and lift off) sebesar Rp 324.500,00,

mempunyai tarif cleaning sebesar Rp 165.500,00 sehingga jumlah

tarif LOLO In per third party yang dibayarkan sebesar Rp

489.500,00

2) Tarif LOLO Out

Tarif LOLO Out yaitu tarif yang diberlakukan untuk kegiatan muat

peti kemas yang keluar dari depo, untuk semua principal hanya

membayar LOLO saja. Tarif LOLO (Lift On and lift off) Out per

third party untuk peti kemas berukuran 20 (feet) dan 40 (feet) bagi

semua principal dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.7

TARIF LOLO OUT PER THIRD PARTY

PT MASAJI TATANAN CONTAINER

NO All Principal 20 (Rp) 40 (Rp)

1. LOLO 236.500 324.500

TOTAL 236.500 324.500

Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016


83

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa peti kemas dengan ukuran

20 mempunyai tarif LOLO (Lift On and lift off) yang dibayarkan

sebesar Rp 236.500,00, sedangkan peti kemas dengan ukuran 40

mempunyai tarif LOLO (Lift On and lift off) yang dibayarkan

sebesar Rp 324.500,00.

b. Tarif LOLO per Principal

Tarif LOLO per principal yaitu tarif yang dibayarkan oleh principal pada

depo peti kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang untuk kegiatan

bongkar atau muat peti kemas kosong dalam proses REPO (Reposition).

Untuk tarif LOLO pembayaran dibedakan berdasarkan package dan

breakdown yaitu:

1) Package

Tarif repo package yaitu pembayaran yang ditagihkan kepada

principal setiap bulannya, pembayarannya mencakup biaya LOLO,

Trucking dan Port Charges yang dibayarkan menjadi satu paket tarif

LOLO package. Tarif LOLO (lift on dan lift off) Repo Package untuk

peti kemas yang berukuran 20, 40 dan 45 per principal pada PT

Masaji Tatanan Container Semarang dapat dilihat pada tabel berikut:


84

Tabel 4.8

TARIF LOLO PER PERINCIPAL REPO PACKAGE

PT MASAJI TATANAN CONTAINER

NO PRINCIPAL 20(Rp) 40 (Rp) 45(Rp)

1 NYK 175.000 265.000 290.000

2 COSCO $10 $15

3 OOCL 141.313 212.038 212.038

4 HAPAG $12,46 $19,46

5 EMIRATES 219.082 317.544 278.148

Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa pada tarif LOLO per

principal repo package terdapat 4 (empat) principal yaitu NYK,

COSCO, OOCL, HAPAG dan EMIRATES. Untuk principal NYK,

COSCO, OOCL, HAPAG dan EMIRATES masing-masing mempunyai

tarif pembayaran Pada principal NYK untuk peti kemas yang berukuran

20 (feet), 40 (feet), dan 50 (feet). Sedangkan untuk principal COSCO

dan HAPAG hanya mempunyai tarif LOLO per principal repo package

untuk peti kemas yang berukuran 20 (feet) dan 40 (feet) saja

dikarenakan principal COSCO dan HAPAG tidak mempunyai peti

kemas yang berukuran 45 (feet) yang disimpan didepo. Untuk peti


85

kemas yang berukuran 20 (feet), pada principal NYK mempunyai tarif

LOLO sebesar Rp 175.000,00. Pada principal COSCO untuk peti

kemas yang berukuran 20 mempunyai tarif LOLO sebesar $10. Pada

principal OOCL untuk peti kemas yang berukuran 20 mempunyai tarif

LOLO sebesar Rp 175.000,00. Pada principal HAPAG untuk peti

kemas yang berukuran 20 mempunyai tarif LOLO sebesar $12,46.

Pada principal EMIRATES untuk peti kemas yang berukuran 20

mempunyai tarif LOLO sebesar Rp 219.082,00.

Untuk peti kemas yang berukuran 40 (feet) principal NYK

mempunyai tarif LOLO sebesar Rp 265.000,00. Pada principal COSCO

mempunyai tarif LOLO sebesar $15. Pada principal OOCL mempunyai

tarif LOLO sebesar Rp 212.038,00. Pada principal HAPAG

mempunyai tarif LOLO sebesar $19,46. Pada principal EMIRATES

mempunyai tarif LOLO sebesar Rp 317.544,00.

Untuk peti kemas yang berukuran 45 (feet) principal NYK

mempunyai tarif LOLO sebesar Rp 290.000,00. Pada principal OOCL

mempunyai tarif LOLO sebesar Rp 212.038,00. Pada principal

EMIRATES mempunyai tarif LOLO sebesar Rp 278.148,00.

2) Breakdown

Tarif repo breakdown yaitu pembayaran yang ditagihkan kepada

principal setiap bulannya, pembayaran breakdown dibedakan atas


86

LOLO dan trucking. Tarif LOLO (lift on dan lift off) Per Principal

Repo Breakdown untuk peti kemas yang berukuran 20 dan 40 per

principal dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.9

TARIF LOLO PER PRINCIPAL REPO BREAKDOWN

PT MASAJI TATANAN CONTAINER

PETI KEMAS 20 PETI KEMAS 40


NO PRINCIPAL LOLO TRUCKING LOLO 40 TRUCKING
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1 CSCL 6.000 $3,29 10.000 $6,52
2 MOL 23,400 42,900 34,500 66.000
3 UASC 107.302 $1,06 269,659 $1,06
4 SSL 7.500 37.500 11.500 56.250
5 KMTC 10.500 93.750 16.000 150.000
Sumber: PT Masaji Tatanan Container Semarang, 2016

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa untuk peti kemas yang

berukuran 20 pada principal CSCL mempunyai tarif LOLO sebesar Rp

6.000,00 dan mempunyai tarif trucking sebesar $3,29. Principal MOL

mempunyai tarif LOLO sebesar Rp 23.400,00 dan tarif trucking sebesar

Rp 42.900,00. Principal UASC mempunyai tarif LOLO sebesar Rp

107.302,00 dan tarif trucking sebesar $1,06. Principal SSL mempunyai

tarif LOLO sebesar Rp 7.500,00 dan tarif trucking sebesar Rp


87

37.500,00. Principal KMTC mempunyai tarif LOLO sebesar Rp

10.500,00 dan tarif trucking sebesar Rp 93.750,00

Sedangkan untuk peti kemas yang berukuran 40 pada principal

CSCL mempunyai tarif LOLO sebesar Rp 10.000 dan tarif trucking

sebesar $6,52. Principal MOL mempunyai tarif LOLO sebesar Rp

34.500 dan tarif trucking sebesar Rp 66.000,00. Principal UASC

mempunyai tarif LOLO sebesar Rp 269.659,00 dan tarif trucking

sebesar $1,06. Principal SSL mempunyai tarif LOLO sebesar Rp

11.500,00 dan tarif trucking sebesar Rp 56.250,00. Principal KMTC

mempunyai tarif LOLO sebesar Rp 16.000,00 dan tarif trucking sebesar

Rp 150.000,00.

Untuk tarif pembayaran LOLO peti kemas ukuran 20 tertinggi

adalah principal UASC dengan tarif LOLO sebesar Rp 107.302,00

sedangkan tarif pembayaran LOLO peti kemas ukuran 20 terendah

adalah principal CSCL dengan tarif LOLO sebesar Rp 10.000,00. Tarif

pembayaran trucking peti kemas ukuran 20 tertinggi adalah principal

KMTC dengan tarif trucking sebesar Rp 93.750,00 sedangkan tarif

pembayaran trucking terendah adalah principal SSL dengan tarif

trucking sebesar Rp 37.500,00.

Untuk tarif pembayaran LOLO peti kemas ukuran 40 tertinggi

adalah principal UASC dengan tarif LOLO sebesar Rp 269.659,00

sedangkan tarif pembayaran LOLO peti kemas ukuran 20 terendah


88

adalah principal CSCL dengan tarif LOLO sebesar Rp 6.000,00. Tarif

pembayaran trucking peti kemas ukuran 40 tertinggi adalah principal

KMTC dengan tarif trucking sebesar Rp 150.000,00 sedangkan tarif

pembayaran trucking terendah adalah principal UASC dengan tarif

trucking sebesar $1,06.


BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan observasi yang dilakukan dan telah diuraikan

pada bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

a. Dokumen yang digunakan dalam bongkar dan muat peti kemas adalah:

1) Delivery Order

2) Kitir Bongkar / Container Receive Order

3) Kitir Muat / Container Release Order

4) Kwitansi / Receipt

5) Equipment Interchange Report

6) Estimated of Repairs

7) Surat Tanda Terima Container

b. Prosedur bongkar dan muat peti kemas kosong pada PT Masaji Tatanan

Container Semarang

Bahwa prosedur alur kegiatan bongkar peti kemas kosong untuk kegiatan

impor pada depo meliputi proses administrasi, gate in, survey, cleaning peti

kemas, dan lift off peti kemas. Sedangkan prosedur alur kegiatan muat peti

89
90

kemas kosong untuk kegiatan ekspor meliputi proses administrasi, survey,

lift on peti kemas dan gate out peti kemas.

c. Hambatan-hambatan yang di hadapi dalam kelancaran bongkar muat peti

kemas kosong pada depo PT Masaji Tatanan Container Semarang

1) Keterbatasan peralatan

2) Kurang efektif perencanaan penumpukan

3) Ketrampilan sumber daya manusia yang kurang memadai

d. Bahwa pihak operasional depo telah mengusahakan beberapa upaya untuk

mengatasi hambatan yang harus dilakukan dalam kelancaran proses alur

kegiatan bongkar dan alur kegiatan muat peti kemas kosong pada depo peti

kemas PT Masaji Tatanan Container Semarang seperti:

1) Development struktur organisasi operasi yang kuat dan kokoh

2) Membuat standar operasional prosedur/intruksi kerja

3) Pengembangan dan penataan infrastruktur depo

5.2 SARAN

a. Pihak depo dalam melaksanakan kegiatan operasional depo harus berdasarkan

sistem dan prosedur yang sesuai, agar tercipta kondisi yang efektif dan efisien

sehingga kegiatan pada depo dapat berjalan dengan lancar.

b. Pihak depo melakukan upaya-upaya untuk dapat mengatasi kendala-kendala

atau hambatan agar tidak sering terjadi kesalahan dalam pengelolaan depo

tersebut. Upaya-upaya yang harus dilakukan tersebut antara lain:


91

1) Melakukan pembelian atau penambahan alat untuk mengatasi terbatasnya

peralatan

2) Menerapkan teknik penumpukan yang baik dengan system FIFO (First In

First Out) untuk mengatasi kurang efektifnya perencanaan penumpukan.

3) Mengadakan diklat-diklat untuk petugas depo, untuk mengatasi

ketrampilan sumber daya manusia yang kurang memadai.


DAFTAR PUSTAKA

Ahsjar, Djauhari. 2007. Pedoman Transaksi Ekspor dan Impor. Jakarta: Pretasi
Pustakakarya

Amir, M.S. Peti Kemas Masalah dan Aplikasinya. Jakarta: PPM

Arsyad, Licollin dan Soeratno. 2008. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan
Bisnis. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN

Diana, Anastasia dan Lilis Setiawati. 2011. Sistem Informasi Akuntansi.


Yogyakarta: Andi

Jogiyanto. 2005. Analisis & Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: Penerbit Andi

Keraf, Gorys. 2004. Komposisi. Ende-Flores: Nusa Indah

Lasse, D.A. 2014. Manajemen Muatan Aktivitas Rantai Pasok Di Area


Pelabuhan. Jakarta: Rajawali

Moloeng, J. Lexy. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda

Mulyadi. 2001. Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat

Nurboko, Cholid dan Abu Achmadi, 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi
Aksara

Tika, Moh. Pabundu. 2006. Budaya Organisasi Dan Peningkatan Kinerja


Perusahaan. Jakarta: Bumi Aksara
Sanusi, Anwar. 2012. Metodologi Penelitian Bisnis. Jakarta: Salemba Empat

Sudjatmiko, FDC. 1997. Pokok-Pokok Pelayaran Niaga, Cetakan Kedua. Jakarta:


Gunung Agung

Sukandarrumidi. 2006. Metode Penelitian Petunjuk Praktis Untuk Peneliti


Pemula. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Suranto. 2003. Pengantar Bisnis Angkutan Laut dan Kepelabuhanan. Semarang:


Politeknik Ilmu Pelayaran

Suyono, R.P. 2001. Shipping Pengangkutan Intermodal Ekspor Impor Melalui


Laut. Jakarta: PPM

Tumbel, A.H. 1991. Petikemas dan Penanganannya. Semarang: Politeknik Ilmu


Pelayaran

Zulganef. 2008. Metode Penelitian Sosial dan Bisnis. Yogyakarta: Graha Ilmu

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem
http://id.wikipedia.org/wiki/Prosedur
LAMPIRAN 1
SURAT PERMOHONAN OBSERVASI
LAMPIRAN 2
SURAT KETERANGAN SELESAI OBSERVASI
LAMPIRAN 3
LEMBAR KONTROL BIMBINGAN
LAMPIRAN 4
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA

A. DAFTAR RESPONDEN
1. Responden 1 : Supervisor Operasional
2. Responden 2 : Yard Man
3. Responden 3 : Surveyor
4. Responden 4 : Petugas repair

B. DAFTAR PERTANYAAN
1. Bergerak dalam bidang usaha apa saja PT Masaji Tatanan Container
Semarang?
2. Aktivitas apa saja yang dilakukan pada usaha depo peti kemas kosong?
3. Salah satu aktivitas depo peti kemas adalah penumpukan peti kemas
kosong, jelaskan tentang hal tersebut
4. Peralatan apa saja yang dimiliki depo ?
5. Berapakah keseluruhan luas area depo dan kapasitas penumpukan peti
kemas pada depo?
6. Bagaimanakah prosedur masuk dan pengeluaran peti kemas pada depo?
7. Apa yang dimaksud dengan kegiatan lift on dan lift off?
8. Hambatan apa yang dialami selama proses penumpukan peti kemas
dilapangan depo peti kemas?
9. Apakah yang dimaksud dengan pembersihan dan pencucian peti kemas?
10. Apa yang dimaksud dengan survey peti kemas?
11. Hal-hal apa saja yang diperiksa pada suatu peti kemas saat dilakukannya
proses survey?
12. Apa saja hambatan yang dihadapi pada saat proses survey peti kemas?
13. Bagaimanakah proses perbaikan / repair peti kemas?
14. Apa saja kendala yang dihadapi saat proses repair peti kemas?
LAMPIRAN 5
TABEL JAM KERJA OPERATOR
LAMPIRAN 6
FLOWCHART IN DEPO & OUT DEPO FLOW,
PROSEDUR BONGKAR & MUAT PETI KEMAS
MT CON Value Stream Mapping
Administrasi Muat Peti Kemas Export/ Flow Out Depo(Proposed)

Petugas loket melakukan


Cs melakukan panggilan No Antrian Petugas loket (all pelayanan)
Customer mengambil nomor antrian administrasi pembayaran, memprint
& Customer memberikan copy melakukan verifikasi dokumen,
dan duduk menunggu sampai tiba kuitansi, faktur pajak dan
DO/email/PDF kepada loket membuat PRA OUT, dan memprint
giliiran antrian pelayanan menyerahkan bersama CRO OUT
pelayanan dan customer menunggu CRO Out
kepada EMKL

MP 2 MP 1 MP MP
TCT TCT TCT TCT
VA VA VA VA
C/O C/O C/O C/O
Uptime Uptime Uptime Uptime
Available time Available time Available time Available time

#DIV/0! #DIV/0!

0.00 sec

Administrasi Pembayaran (pembayarand engan EDC, pemgembalian uang kembalian, verifikasi bukti transaksi) RESUME
Rekonsiliasi perhitungan antara cash dalam deposit dengan copy kuitansi dilakukan pada saat break dan sesudah penutupan loket administrasi MANPOWER 0 orang
Pembayaran dapat dilakukan dengan EDC, cash maupun transfer, verifikasi transfer dengan menggunakan notifikasi via email atau SMS banking TCT 0.00 detik
VA #REF!
TOTAL WIP 3.00 truk antri
#DIV/0!
MLT
#DIV/0!
VAR #REF!
MT CON Value Stream Mapping
Administrasi Bongkar Peti Kemas Impor/ Container Unload Administration Flow In Depo (Proposed)

Petugas loket (all pelayanan) Petugas loket melakukan


Customer mengambil nomor antrian melakukan verifikasi dokumen, administrasi pembayaran, memprint
EMKL membawa copy DO ke loket
dan duduk menunggu sampai tiba membuat PRA IN, dan memprint kuitansi, faktur pajak dan
pelayanan dan EMKL menunggu
giliiran antrian pelayanan CRO IN kemudian customer untuk menyerahkan bersama CRO IN
melakukan administrasi pembayaran kepada EMKL

MP MP MP MP
TCT TCT TCT TCT
VA VA VA VA
C/O C/O C/O C/O
Uptime Uptime Uptime Uptime
Available time Available time 0 sec Available time 0 sec Available time

Administrasi Pembayaran (pembayarand engan EDC, pemgembalian uang kembalian, verifikasi bukti transaksi) RESUME
Rekonsiliasi perhitungan antara cash dalam deposit dengan copy kuitansi dilakukan pada saat break dan sesudah penutupan loket administrasi MANPOWER 0 orang
Pembayaran dapat dilakukan dengan EDC, cash maupun transfer, verifikasi transfer dengan menggunakan notifikasi via email atau SMS banking TCT 0.00 detik
VA #REF!
TOTAL WIP 0.00 truk antri
0.00 hari
MLT
00 minute
VAR #REF!
MT CON Value Stream Mapping - Proses Bongkar Kontainer/unloading of container (Proposed)

Surveyor melakukan survey fisik


Driver memberikan CRO kepada
kontainer kemudian input nomor Yardman memerintahkan operator
security, security memasukan
kontainer untuk memanggil data Proses cleaning, dan petugas untuk membongkar kontainer dari
nomor kontainer untuk memanggil
dan memasukan kondisi container, cleaning mengarahkan trailer Trailer go to uload location (lift chasis (lift off) ke lokasi yang
data, kemudian input nomor polisi
remark damage, dan mengambil menuju lokasi bongkar berdasarkan off) ditentukan dan mengupdate lokasi
dan trucking company
foto kerusakan. Kemudian blok kontainer yang dibongkar di dalam
dmenunjukkan CRO In, lalu
surveyor mentrigger autoprinting COINS di tab
membuka boom gate
EIR IN ke gate out

1 MP 1 1 MP 2 1 MP 2 2 MP 1 1 MP 3
TCT TCT TCT TCT TCT
VA VA VA VA VA
C/O C/O C/O C/O C/O
Uptime Uptime Uptime Uptime Uptime
Available time Available time Available time Available time Available time

#DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!

0.00 sec 0.00 sec 0.00 sec 0.00 sec 0.00 sec
Pada saat proses survey dan gate in selesai, aplikasi menampilkan lokasi blok Lokasi kontainer yang diupdate adalah : blok A-Z

Security meminta CRO IN dan


menukarkan dengan EIR IN yang Proses bongkar sampai meletakkan
sesuai, membukakan bom gate Trailer menuju gate out kontainer di tempat yang
sekaligus mencatat waktu keluar ditentukan
dan mempersilahkan trailer keluar

MP 1 3 MP 1 1 MP 3 2
TCT TCT TCT
VA VA VA
C/O C/O C/O
Uptime Uptime Uptime
Available time Available time Available time

#DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!

0.00 sec 0.00 sec 0.00 sec


MT CON Value Stream Mapping - Proses Muat Kontainer / loading of container (Proposed)

Driver memberikan CRO OUT Yardman mencarikan kontainer dan


kepada petugas security, petugas Yardman dan alat mendekati menginstruksikan operator untuk
Security memasukkan nomor container
security memasukan nomor CRO Trailer menuju load location trailer sesuai lokasi manuver alat memuat kontainer diatas chasis Operator memuat kontainer
berdasarkan fisik , menekan tombol Trailer menyobek EIR out,
untuk memanggil data kemudian (sudah ditentukan blocking dan meminta CRO out, Lalu kemudian input nomor kontainer di langsung diatas chasis (lift on Trailer menuju gate out
print dan membuka gate sekaligus Mencocokkan dan Keluar dari depo
security memasukkan no polisi, system) mensurvey peti kemas sebelum dalam TAB sekaligus melakukan process)
mencatat no trucking
trucking company, dan membuka dinaikkan diatas truck chasis triger printing EIR OUT ke gate
boom gate out

1 MP 1 MP 2 MP 1 MP 1 MP 3 MP 5 MP MP
TCT TCT TCT TCT TCT TCT TCT TCT
VA VA VA VA VA VA VA VA
C/O C/O C/O C/O C/O C/O C/O C/O
Uptime Uptime Uptime Uptime Uptime Uptime Uptime Uptime
Available time 0 sec Available time 0 sec Available time Available time Available time Available time Available time Available time

##### #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!

0.00 sec 0.00 sec 0.00 sec 0.00 sec 0.00 sec 0.00 sec 0.00 sec 0.00 sec

Di dalam CRO OUT sudah tertera lokasi blok untuk muat kontainer Terdapat plang/rambu-rambu yang menunjukan lokasi/blok
Petugas security memberitahu lokasi blok yang untuk pemuatan kepada driver

RESUME
MANPOWER
0 TCT
VA
TOTAL WIP

MLT

VAR
LAMPIRAN 7
LAYOUT DEPO
LAYOUT DEPO PT MASAJI TATANAN CONTAINER SEMARANG
LAMPIRAN 8
DAFTAR ALAT PT MASAJI TATANAN CONTAINER
EQUIPMENT LIST OF PT MASAJI TATANAN CONTAINER SEM

NO INITIAL MODEL S/N COLOUR

1 K.16 KALMAR DCE 70 - 45 E 7 T.34111.0037 RED RAL 3000


2 K.17 KALMAR DCE 90 - 45 E 7 T.34111.0286 BLUE ( NORDIG )
3 S.06 SISU TDE-07 / TD 6 ECR-AX162 EC 16463 YELLOW
4 K.14 VELMET T.34111.0024 BLUE ( NORDIG )
5 K.34 KALMAR DCF 100 - 45 -E 7 DB H.30200057 RED RAL 3000
6 F.08 FORKLIFT 5 TON ( FD 50 E ) 60939-P YELLOW
7 G.61 GENSET CLIP ON LYR30020112 BLUE
8 G.62 GENSET CLIP ON LYR30020113 BLUE
9 G.63 GENSET CLIP ON LYR30020114 BLUE
AN CONTAINER SEMARANG

DM CAP STACK LOKASI USIA

2000 7000 7 SEMARANG 16


2004 9000 7 SEMARANG 12
1994 7000 7 SEMARANG 22
2001 9000 7 SEMARANG 15
2015 10000 7 SEMARANG 1
1998 5000 2 SEMARANG 18
2007 0 0 SEMARANG 9
2007 0 0 SEMARANG 9
2007 0 0 SEMARANG 9
LAMPIRAN 9
DATA KELUAR MASUK PETI KEMAS
LAMPIRAN 10
DELIVERY ORDER IMPOR
LAMPIRAN 11
CONTAINER RECEIVE ORDER & RECEIPT
LAMPIRAN 12
ESTIMATED OF REPAIRS
PAGE 1
PT. Masaji Tatanan Container
ESTIMATE OF REPAIRS

JL.RAYA CAKUNG NO.15 RT.004 RW.010 KEL.SEMPER TIMUR CILINCING JAKARTA UTARA DKI JAKARTA RAYA 14130
(024) (024)

You may print EOR by yourself at CONT. NUMBER : UTCU4132079


http://core.samudera.com:8010/print/eor.php?branch=SRG EQUIPMENT DESCRIP : 20 8.5 (TK)
MANUF. DATE : 01.85
EOR / EIR NUMBER : 320406 (COPY) INSPECTED AT : DEPOT1 - MTCON
Reference : DURSRG160000011X CONDITION : Damage Minor
DPP : 0.00 CUSTOMER : KAYU LAPIS INDONESIA, PT
ESTIMATE DATE : 20/04/2016 09:22 CONT. OPERATOR : STOLT Nielsen-Richland Log
RETURN DATE : 19/04/2016 15:26 EX VESSEL/VOY : KOTA RANCAK / 969F
TERM / ORIGINAL PORT : CY / SEMARANG ON HIRE DATE :

LABOUR
MATERIAL
No. LOCATION DESCRIPTION OF WORK TOTAL A/C
COST
HRS COST

1 RH1N RAIL ASSY TORN SEC 45 cm 1.50 0.00 22.50 22.50 U


Insurance Account(USD) 0.00 0.00 0.00 0.00
Total Owner Account(USD) 0.00 0.00 0.00 0.00
User Account(USD) 1.50 0.00 22.50 22.50
2 BX FLR/PLWD DIRTY WTR WASH 1.0 0.00 0 0 0 U
Insurance Account(IDR) 0.00 0 0 0
Total Owner Account(IDR) 0.00 0 0 0
User Account(IDR) 0.00 0 0 0

TOTAL(USD) 1.50 0.00 22.50 22.50


TOTAL(IDR) 0.00 0.00 0.00 0.00

STOLT Nielsen- RICHLAND- Pt. Samudera Indonesia, t 320406 (COPY)

For Receiving Party For Delivering Party Repair Approved By

_________________ _________________ _________________


LAMPIRAN 13
SURAT TANDA TERIMA CONTAINER IMPOR
JL.RAYA CAKUNG NO.15 RT.004 RW.010 KEL.SEMPER TIMUR CILINCING JAKARTA UTARA
PHONE:(024) FAX: (024)

ORIGINAL
TANDA TERIMA CONTAINER
IN [ 337981 ]
EX IMPORT

Kepada Yth. :
KAYU LAPIS INDONESIA, PT
Dengan ini kami beritahukan, bahwa:
Nomor Container UTCU4132079
TYPE TANK CONTAINER
Size 20.00 8.50
Load Status EMPTY
Principal RICH
Ex.Vessel KOTA RANCAK - 969F
From :
Trucker EMKL-TRUCKER
Remarks
No. Polisi H1779GW
Telah kami terima dan survey :
Kondisi : Damage
Surveyor : OBET

SEMARANG, 19/04/2016 15:26:31


Trucker Petugas Gate-In

ZAENAL
(________________) (________________)
LAMPIRAN 14
DELIVERY ORDER EKSPOR
LAMPIRAN 15
CONTAINER RELEASE ORDER & RECEIPT
LAMPIRAN 16
EQUIPMENT INTERCHANGE RECEIPT
JL.RAYA CAKUNG NO.15 RT.004 RW.010 KEL.SEMPER TIMUR CILINCING JAKARTA
UTARA DKI JAKARTA RAYA 14130
PHONE:**(024) FAX: (024)
WebSite: www.mtcon.co.id

ORIGINAL

EQUIPMENT INTERCHANGE RECEIPT

MOVEMENT OUT
CONDITION AU
CONTAINER DETAIL : APL
APHU4639906 ( 45.00 - 9.60 )
HIGH CUBE CONTAINER
DATE OF INTERCHANGE :
01/06/2016 09:34:48
LOADING VSL : KANWAY GALAXY
VOYAGE : 306
DESTINATION : LAAKDAL
LOCATION : MTCON SEMARANG
REMARKS : MF
SEAL : AS50207167
CLEAN :
DO NR :
78437513
FOR CARRIER :
THIS EQUIPMENT WAS RECEIVED IN GOOD CONDITION

SIGNATURE :
FULL NAME : ALI
TRUCKER :
EMKL-TRUCKER
VEHICLE NR : B9031WB
RECEIVE : PT. PANTJATUNGGAL KNITTING
FOR DEPOT :
THIS EQUIPMENT WAS DELIVERED IN GOOD CONDITION

SIGNATURE :
FULL NAME : ZAENAL
THIS IS NOT AN ESTIMATION REPORT
LAMPIRAN 17
SURAT TANDA TERIMA CONTAINER EKSPOR
JL.RAYA CAKUNG NO.15 RT.004 RW.010 KEL.SEMPER TIMUR CILINCING JAKARTA UTARA
PHONE:(024) FAX: (024)

ORIGINAL
TANDA TERIMA CONTAINER
IN [ 337981 ]
EX IMPORT

Kepada Yth. :
KAYU LAPIS INDONESIA, PT
Dengan ini kami beritahukan, bahwa:
Nomor Container UTCU4132079
TYPE TANK CONTAINER
Size 20.00 8.50
Load Status EMPTY
Principal RICH
Ex.Vessel KOTA RANCAK - 969F
From :
Trucker EMKL-TRUCKER
Remarks
No. Polisi H1779GW
Telah kami terima dan survey :
Kondisi : Damage
Surveyor : OBET

SEMARANG, 19/04/2016 15:26:31


Trucker Petugas Gate-In

ZAENAL
(________________) (________________)
LAMPIRAN 18
CONTAINER TIME MONITORING
LAMPIRAN 19
DEPART OPERASI 2016
Operation Department 2016
Create, Improve To be Excellent Operation

SEMARANG BRANCH
Presented by:
Moh. Zaenal M.
Operational Supervisor

Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk


PROBLEM
STANDAR & MUTU PELAYANAN
TIDAK TERJAMIN
Standar operasional Prosedur tidak terimplementasikan
Load Kerja yang tidak seimbang & Inkonsistensi S D M
Tidak Adanya Penilaian & Monitoring KPI Secara Ketat
Sarana & Infrastruktur yang mendukung
Penyempurnaan SOP / Intruksi Kerja
HSE Program
Reward & Punishment
Standar LayOut & Flow Process
Tidak adanya Training & Konselling secara Regular
Konsolidasi & Komunikasi Secara reguler
Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk
GENERAL PROGRAM
1. Development Struktur Organisasi Operasi Yang Kuat & Kokoh

2. Create Standar Operasional Prosedur/Intruksi Kerja & Full Implementasi per aktifitas

3. Create & Monitoring KPI Secara Periodik

4. Konselling & Training Pengembangan S D M Secara Periodik

5. Pengembangan & Penataan Infrastruktur Depo

6. Operasional Depo To be Excellent :


a. Level pelayanan max 30 minute
b. FIFO base in mandatory
c. Blocking System
d. Repair Time dengan System 3,5,7
e. Survey & Cleaning with Zero complain
f. Reporting on Time & standar untuk Project , Repair , hanging , Foto
g. Quick Respon

7. Full Teknologi & Open Process untuk Monitoring

8. HSE program , Create , Implementasi & Monitoring

9. Optimalisasi dan Efisiensi Program

Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk


TUJUAN

STANDAR MUTU YANG TERJAGA & KONSISTEN

OPERASIONAL DEPO YANG EXCELLENT

SUMBER DAYA MANUSIA YANG DIANDALKAN

SOP & FLOW KERJA YANG BAKU & STANDAR

Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk


TIME FRAME
TIME SCHEDULE
NO PROGRAM PIC
JAN FEB MAR APRIL MAY JUN JUL AGUS SEPT OCT NOV DEC

1 S O Operation Dept Head


a. Penyusunan
b. Pengajuan & Persetujuan
c. SK
2 SOP / Intruksi Kerja Koordinator
a. Pengumpulan/Penyusunan
b. Sosialisasi
c. Implementasi
d. Review & Penyempurnaan
3 KPI, Reward & Punishman Koordinator
a. Penyusunan KPI
b. Sosialisasi
c. Implementasi
d. Monitoring
e. Reward
f. Konseling & Punishment
4 Infrastruktur & Pengembangan Koordinator
a. Tab , Perlengkapan Karyawan
b. Kantor Operasional Mushola
c. Gate Depan
d. Gate Samping & Barier gate
e. shelter lapangan
f. Layout & Denah Depo
g. Sign & Tanda blok dan lainnya
h. Penerangan Depo
i. PTI & Infrastucture reefer
j. ware house & gudang mekanik
k. Perbaikan lahan Regular
l. Perbagikan lahan luasan tertentu
m. kantin ,pos sekuriti & parkir
n. taman , jalan lapangan , saluran

Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk


TIME FRAME TIME SCHEDULE
NO PROGRAM PIC
JAN FEB MAR APRIL MAY JUN JUL AGUS SEPT OCT NOV DEC
5 Proses Operasional Koordinator
a. Level pelayanan max 30 minute
b. FIFO base in mandatory
c. Blocking System

d. Repair Time dengan System 3,5,7


e. Survey & Cleaning with Zero
complain
f. Reporting on Time & standar
untuk Project , Repair , hanging , Foto
g. Quick Respon
6 HSE Program Koordinator
a. Pengumpulan/Penyusunan
b. Sosialisasi
c. Implementasi
d. Monitoring, Reward & Punishment
7 Open Process & Monitoring Koordinator
a. Penyusunan Program
b. Penyiapan Infrastruktur
c. Sosialisasi
d. Implementasi
8 Sumber Daya Manusia Personalia
a. Penambahan Mekanik
b. Review & Penilaian
c. Training Internal
- System
- Customer Service
- handle to Complain
- Process
d. Training External
- study Banding ke MTCon
- Survey & IICL
- Operator & Mekanik
- Training HC Pusat

Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk


STRUKTUR ORGANISASI
EXISTING PROPOSAL
DEPO HEAD
CATURYANTO SEPTANUGRAHA DEPO HEAD
CATURYANTO SEPTANUGRAHA
OPERATION SECTION HEAD
EKO ARFIANTO ( K )
OPERATION SECTION HEAD
PROJECT MOCH. ZAENAL MOHTAROM ( K )
GATOT S ( K )
KOORDINATOR OPERATIONAL
GATOT S ( K ) NON DEPO HSE MEKANIK PROJECT YARDMAN REPO DAMAGE ESTIMATOR
OPERATOR & REPAIR & ADM OPS
GATOT S (K) GATOT S (K) GATOT S (K) GATOT S (K) SOEGONDO ( PKWT ) SOEGONDO ( PKWT ) JOKO L (K) DARKUSMALI (K)
Jamburi ( PKWT )
Musholi ( PKWT )
V. KEBERSIHAN SECURITY CV. INDO M V. PROJECT OPERATOR V. REPO SURVEYOR ESTIMATOR
Agung Widodo ( PKWT )
Kary I ( Indek ) Sec 1 ( Indek ) PT. INDO TRU CV. JMT Jamburi ( PKWT ) PT. TIRANG JAYA Iwan K ( PKWT ) Widi Antoro
Trisno ( PKWT )
Kary II ( Indek ) Sec 2 ( Indek ) CV. AJI Djaya Musholi ( PKWT ) Suko ( PKWT )
Hadi Machwad ( PKWT ) Kary III ( Indek ) Sec 3( Indek ) Agung Wi ( PKWT ) Obed ( Indek )
ESTIMATOR Sec 4 ( Indek ) Trisno ( PKWT ) Pranoto ( Indek )
Widi Antoro VENDOR LAHAN Sec 5 ( Indek ) V. HANGING Hadi Ma ( PKWT )
MEKANIK CV. JMT Sec 6 ( Indek ) CV. DHS CONT. INSPECTION V. CLEANING
CV. .. Sec 7 ( Indek ) PT. MTP M Fajri ( PKWT ) PT. MTP
SURVEYOR Sec 8 ( Indek ) Widarsono ( PKWT )
Iwan kurniawan ( PKWT ) Sec 9 ( Indek ) Hardik ( Indek ) V. REPAIR
Suko ( PKWT ) Sec 10 ( Indek ) Irfan ( Indek ) CV. DHS
Obed ( Indek ) Sec 11 ( Indek ) Eko Susanto ( Indek ) PT. MTP
Pranoto ( Indek ) Sec 12 ( Indek ) PT. TIRANG JAYA

REPO CONTAINER Sec 13 ( Indek )


Sugondo ( PKWT )
CONTAINER INSPECTION
Darkusmali ( K )
Joko Luwistiyono ( K )
Mochamat Fajri ( PKWT )
Widarsono ( PKWT )
Hardik ( Indek )
Irfan ( Indek )
Eko Susanto ( Indek )
Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk
JOB DESCRIPTION

OPERATION SECTION HEAD


MOCH. ZAENAL MOHTAROM ( K )

DAMAGE ESTIMATOR
NON DEPO HSE MEKANIK PROJECT YARDMAN REPO
& REPAIR & ADM OPS
SOEGONDO (
GATOT S (K) GATOT S (K) GATOT S (K) GATOT S (K) SOEGONDO ( PKWT ) PKWT ) JOKO L (K) DARKUSMALI (K)

1. Ware
1. Perbaik Lahan 1. Penyusun HSE House 1. Penerb SPK a. Level pelay max 30 mi Repositioning a.Target Repair a. Reply email
2.
Perencanaa b. FIFO base in
2. Kebers Depo 2. Monitori HSE n 2. Perencanaan mandatory b.Preparati Repair b. Menghandle claim
3.
Maintenanc
3. Fasilitas Pagar 3. Perlengkn HSE e 3. Monitoring c. Blocking System c.Blocking Repair c. Estimasi
4. Penerangan 4. Pengiriman d. Zero Complain d.Kecepa Repair d. penghubung
5. Infratruktur 5. Pelaporan e. Quick Respon e. Survey & Cleani e. foto damage
6. Perlengk Ops 6. Hanging f. Planing Kerja f. Blocking System f. foto cleaning
7. Kantor Ops 7. Portacam g. foto release out g.Kondisi Cont g. Reportinamprahan
8. Sarana Penujn 8.Sell Unit h. Quick Respon h. reporting CR
9. Others
Project i. Planing Kerja i. report approval
j. report waiting app
k. foto CR

Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk


DENAH DEPO

Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk


FLOW PROCESS, SOP/INTRUKSI KERJA & KPI

Proses Pick Up Container Service


Proses Receive Container Service
Prepare , Repair & After Process Repair
Cleaning Container
Project Portacamp
Hanging & Single Face Container
Others Project
Program HSE
Penerangan & Keamanan Depo
Perencanaan & Perbaikan Lahan
Sekurity MTCon SOP dan Flow Kerja

Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk


FLOW PENEMPATAN KARYAWAN OPS

DENAH
SHELTER SHELTER

TALLY / ALAT I

DENAH

TALLY IV
TALLY / ALAT II

TALLY / ALAT III SHELTER SHELTER

Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk


FLOW PENEMPATAN KARYAWAN OPS

Yardman & Operator Merupakan Kesatuan Team

Yardman & Operator di jadikan sebagai satu Team dalam Periode Tertentu
a. Team I Gang 1
b. Team II Gang 2
c. Team III Gang 3
d. Team IV MPC
Setiap personel wajib menggunakan password masing masing untuk entry ke system

Yardman dilarang keras meninggalkan Alat

Operator dilarang keras melakukan aktifitas bongkar, muat,shifting tanpa ada tally didekatnya

Team I IV hanya dapat melakukan aktifiras di wilayahnya masing masing

Koordinator Yardman bertanggung Jawab Penuh terhadap FIFO & level Service , photos

Semua aktifitas harus di persiapkan satu hari sebelumnya dengan mengoptimalkan shift 2

KPI Monitoring terhadap pelaksaan SOP akan dilakukan setiap hari

Confidential & proprietary of PT. Samudera Indonesia Tbk


THANK YOU