Anda di halaman 1dari 33

REFERAT

TUBERCULOSIS PARU DALAM KEHAMILAN


Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna mengikuti ujian
di SMF Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Jayapura

Oleh:
Desnawati Elvira Suci
009 084 0019

PEMBIMBING:

1. dr. Fitri Ria Dini P, Sp.OG.


2. dr. Jasmine Iskandar

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT UMUM JAYAPURA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA-PAPUA
2016

1
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................................4
2.1 Definisi...................................................................................................................................4
2.2 Klasifikasi..............................................................................................................................5
2.3 Epidemiologi..........................................................................................................................5
2.4 Tuberkulosis dalam Kehamilan...7
2.4.1 Pengaruh Kehamilan terhadap TB Paru...8
2.4.2 Pengaruh Tuberkulosis Paru terhadap Kehamilan....9
2.5 Tuberkulosis Kongenital...9
2.5.1 Patogenesis Tuberkulosis dari Ibu terhadap Janin......10
2.5.2 Manifestasi Klinis pada Janin.....11
2.5.3 Diagnosis dan Tatalaksana......11
1.5.4 Pencegahan pada bayi ....15
1.5.5 Laktasi pada Bayi....15
1.5.6 Prognosis pada Janin...16
2.6 Etiologi...................................................................................................................................7
2.7 Patogenesis...........................................................................................................................16
2.8 Cara Penularan...................................................................................................................18
2.9 Gejala klinis.........................................................................................................................19
2.10 Diagnosis............................................................................................................................20
2.9.1Diagnosis Tuberkulosis pada Kehamilan........................................................................21
2.11 Penatalaksanaan................................................................................................................24
2.11.1 Penatalaksanaan Tuberkulosis pada Ibu Hamil.......25

2.12 Pencegahan........................................................................................................................29
2.12 Prognosis............................................................................................................................30
BAB III KESIMPULAN..............................................................................................................32
3.1Kesimpulan...........................................................................................................................32
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................33

2
BAB I
PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah di dunia
walaupun upaya pengendalian dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short-
course) telah diterapkan dibanyak Negara sejak tahun 1995. Dalam laporan WHO (World Health
Organization) tahun 2013, diperkirakan terdapat 8,6 juta kasus TB (Tuberkulosis) pada tahun
2012 dimana 1,1 juta orang (13%) diantaranya adalah pasien TB dengan HIV (Human
Immunodeficiency Virus) positif. Sekitarnya 75% dari pasien tersebut diwilayah Afrika. Pada
tahun 2012, diperkirakan terdapat 450.000 orang yang menderita TBMDR (Tuberkulosis Multi
Drug Resistant) dan 170.000 orang diantaranya meninggal dunia. Meskipun kasus dan kematian
karena TB (Tuberkulosis) sebagian besar terjadi pada pria tetapi angka kesakitan dan kematian
wanita akibat TB juga sangat tinggi. Diperkirakan terdapat 2,9 juta kasus TB pada tahun 2012
dengan jumlah kematian karena TB (Tuberkulosis) mencapai 420.000 kasus termaksud
diantaranya adalah 160.000 orang wanita dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) positif.
Separuh dari orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) positif yang meninggal karena
TB (Tuberkulosis) pada tahun 2012 adalah wanita. Pada tahun 2012 diperkirakan proporsi kasus
TB (Tuberkulosis) anak diantara seluruh kasus TB secara global mencapai 6% (530.000 pasien
Tuberkulosis anak/tahun). 1
Tuberkulosis tersebar pada seluruh dunia dan dapat terjadi pada semua golongan umur
termaksud dalam keadaan tertentu seperti pada saat kehamilan. Walaupun pada umumnya
penyakit ini tidak banyak mempengaruhi kehamilan, kecuali penyakitnya tidak terkontrol, berat
dan luas yang disertai dengan sesak nafas dan hipoksia. 2
Indonesia belum mempunyai data prevalensi TB (Tuberkulosis) pada perempuan hamil.
Di poliklinik tuberculosis Persatuan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) tahun 2006
dan tahun 2007 terdapat 0,2% perempuan hamil yang mengidap TB (Tuberkulosis). Angka
tersebut sebanding dengan prevalensi TB (Tuberkulosis) pada masyarakat umum. Untuk itu
diasumsikan bahwa penyebaran TB (Tuberkulosis) pada perempuan hamil minimal tidak berbeda
dengan sebaran dikalangan masyarakat. Oleh karena itu usaha penapisan seharusnya dapat
dilakukan pada populasi perempuan hamil mengingat risiko lebih tinggi yang akan didapat oleh
ibu dan janin. 2

3
Periode prenatal dengan jadwal pemeriksaan berkala yang telah ditetapkan oleh WHO
(World Health Organization) memberi kesempatan untuk membantu usaha ini dengan melakukan
pemeriksaan dan pengobatan, terutama pada perempuan hamil yang mempunyai risiko tinggi
terinfeksi penyakit ini. Pada perempuan hamil TB (Tuberkulosis) memberi pengaruh pada
kehamilan dan janin terkait dengan keterlambatan pengobatan. Lebih dari 90% perempuan hamil
dengan TB (Tuberkulosis) aktif muncul dari populasi perempuan hamil dengan infeksi
tuberculosis yang tidak diobati. Mortalitas perinatal pada perempuan hamil yang menderita TB
(Tuberkulosis) enam kali lebih tinggi jika dibandingkan kontrol dengan insidens prematuritas dan
berat badan lahir rendah meningkat dua kali lipat. Diagnosis dan pengobatan yang terlambat
berhubungan dengan meningkatnya morbiditas ibu empat kali lebih tinggi. 2
Diagnosis TB (Tuberkulosis) dalam kehamilan sangat penting artinya baik bagi ibu hamil
maupun janin yang dikandungnya, karena tanpa penanganan yang tepat penyakit ini dapat
menyebabkan risiko yang cukup besar bagi keduanya. Pengobatan kasus TB (Tuberkulosis)
merupakan salah satu strategi utama pengendalian TB (Tuberkulosis ) karena dapat memutuskan
rantai penularan. Meskipun Program Pengendalian Tuberkulosis Nasional telah berhasil
mencapai target angka penemuan dan angka kesembuhan, penatalaksanaan TB (Tuberkulosis) di
sebagian besar rumah sakit dan praktik swasta belum sesuai dengan strategi Directly Observed
Treatment Short-course (DOTS) dan penerapan standar pelayanan berdasar Internasitional
Standarts for Tuberculosis Care. 2

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang menular dan dapat menyerang
berbagai organ dalam tubuh dan terutama menyerang paru. Infeksi ini disebabkan oleh
Microbacterium tuberculosis. 2
Suspek TB adalah seseorang dengan gejala atau tanda sugestif TB (WHO pada
tahun 2013 merevisi istilah suspek TB menjadi presumtif / terduga TB). Gejala umum
TB adalah batuk produktif lebih dari dua minggu yang disertai gejala pernapasan
seperti sesak napas, nyeri dada, batuk darah dan / atau gejala tambahan seperti
menurunnya nafsu makan, penurunan berat badan, keringat malam dan mudah lelah
Definisi kasus TB adalah sebagai berikut: 3
1. Kasus TB definitif adalah kasus dengan salah satu dari spesimen biologis positif dengan
pemeriksaan mikroskopis apusan dahak, biakan atau diagnostik cepat yang telah
disetujui oleh WHO (seperti Xpert MTB/RIF). (Pada revisi guideline WHO tahun 2013
definisi kasus TB definitif ini direvisi menjadi kasus TB dengan konfirmasi
bakteriologis).
2. Kasus TB diagnosis klinis adalah kasus TB yang tidak dapat memenuhi kriteria
konfirmasi bakteriologis walau telah diupayakan maksimal tetapi ditegakkan
diagnosis TB aktif oleh klinisi yang memutuskan untuk memberikan pengobatan TB
berdasarkan foto toraks abnormal, histologi sugestif dan kasus ekstraparu. Kasus
yang ditegakkan diagnosis secara klinis ini bila kemudian didapatkan hasil bakteriologis
positif (sebelum dan setelah pengobatan) harus diklasifikasikan kembali sebagai
kasus TB dengan konfirmasi bakteriologis.

Semua orang dengan batuk produktif dua sampai tiga minggu yang tidak
dapat dijelaskan sebaiknya dievaluasi untuk TB.

Standar 1 International Standards for Tuberculosis Care

5
2.2 Klasifikasi Diagnosis TB3

No Klasifikasi Keterangan
1 Lokasi anatomi 1. TB intra paru
2. TB ekstra paru
2 Riwayat 1. Kasus baru
2. Kasus dengan riwayat pengobatan sebelumnya :
Pengobatan
a. Kasus kambuh
b. Kasus pengobatan setelah gagal
c. Kasus setelah putus obat
3 Pemeriksaan Pemeriksaan apusan dahak atau specimen lain atau indentifikasi
Bakteriologis M. Tuberkulosis
4 Status HIV 1. Kasus TB dengan HIV positif
2. Kasus TB dengan HIV negative
3. Status TB dengan status HIV tidak diketahui

Semua pasien (dewasa, remaja, dan anak yang dapat mengeluarkan dahak)
dicurigai TB paru sebaiknya mengirimkan dua spesimen dahak untuk
pemeriksaan mikroskopik ke laboratorium yang terjamin kualitasnya. Bila
mungkin diperoleh paling sedikit satu spesimen pagi karena memiliki hasil yang
terbaik. Semua orang dengan temuan foto toraks tersangka TB sebaiknya
mengirimkan spesimen dahak untuk pemeriksaan mikrobiologi.

Standar 2 dan 4 International Standards for Tuberculosis Care3ulosis


Care
2.3 Epidemiologi
Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di
dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 (WHO, 2010) dan
estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB
diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya. Indonesia merupakan negara dengan
percepatan peningkatan epidemi HIV yang tertinggi di antara negara-negara di Asia.
HIV dinyatakan sebagai epidemik terkonsentrasi (a concentrated epidemic), dengan
perkecualian di provinsi Papua yang prevalensi HIVnya sudah mencapai 2,5%
(generalized epidemic). Secara nasional, angka estimasi prevalensi HIV pada populasi
dewasa adalah 0,2%. Sejumlah 12 provinsi telah dinyatakan sebagai daerah prioritas
untuk intervensi HIV dan estimasi jumlah orang dengan HIV/AIDS di Indonesia sekitar
190.000 - 400.000. Estimasi nasional prevalensi HIV pada pasien TB baru adalah 2.8%.
6
Angka MDR-TB diperkirakan sebesar 2% dari seluruh kasus TB baru (lebih rendah dari
estimasi di tingkat regional sebesar 4%) dan 20% dari kasus TB dengan pengobatan
ulang. Diperkirakan terdapat sekitar 6.300 kasus MDR TB setiap tahunnya. Meskipun
memiliki beban penyakit TB yang tinggi, Indonesia merupakan negara pertama diantara
High Burden Country (HBC) di wilayah WHO South-East Asian yang mampu mencapai
target global TB untuk deteksi kasus dan keberhasilan pengobatan pada tahun 2006. Pada
tahun 2009, tercatat sejumlah sejumlah 294.732 kasus TB telah ditemukan dan diobati
(data awal Mei 2010) dan lebih dari 169.213 diantaranya terdeteksi BTA+. Dengan
demikian, Case Notification Rate untuk TB BTA+ adalah 73 per 100.000 (Case Detection
Rate 73%). Rerata pencapaian angka keberhasilan pengobatan selama 4 tahun terakhir
adalah sekitar 90% dan pada kohort tahun 2008 mencapai 91%. Pencapaian target global
tersebut merupakan tonggak pencapaian program pengendalian TB nasional yang utama. 1

Meskipun secara nasional menunjukkan perkembangan yang meningkat dalam


penemuan kasus dan tingkat kesembuhan, pencapaian di tingkat provinsi masih
menunjukkan disparitas antar wilayah (Tabel 3). Sebanyak 28 provinsi di Indonesia belum
dapat mencapai angka penemuan kasus (CDR) 70% dan hanya 5 provinsi menunjukkan
pencapaian 70% CDR dan 85% kesembuhan. 1

7
Dengan angka nasional proporsi kasus relaps dan gagal pengobatan di bawah 2%,
maka angka resistensi obat TB pada pasien yang diobati di pelayanan kesehatan pada
umumnya masih rendah. Namun demikian, sebagian besar data berasal dari Puskesmas yang
telah menerapkan strategi DOTS dengan baik selama lebih dari 5tahun terakhir. Probabilitas
terjadinya resistensi obat TB lebih tinggi di rumah sakit dan sektor swasta yang belum
terlibat dalam program pengendalian TB nasional sebagai akibat dari tingginya
ketidakpatuhan dan tingkat drop out pengobatan karena tidak diterapkannya strategi DOTS
yang tinggi. Data dari penyedia pelayanan swasta belum termasuk dalam data di program
pengendalian TB nasional. Sedangkan untuk rumah sakit, data yang tersedia baru berasal
dari sekitar 30% rumah sakit yang telah melaksanakan strategi DOTS. Proporsi kasus TB
dengan BTA negatif sedikit meningkat dari 56% pada tahun 2008 menjadi 59% pada tahun
2009. Peningkatan jumlah kasus TB BTA negatif yang terjadi selama beberapa tahun
terakhir sangat mungkin disebabkan oleh karena meningkatnya pelaporan kasus TB dari
rumah sakit yang telah terlibat dalam program TB nasional. Jumlah kasus TB anak pada
tahun 2009 mencapai 30.806 termasuk 1,865 kasus BTA positif. Proposi kasus TB anak
dari semua kasus TB mencapai 10.45%. Angka-angka ini merupakan gambaran parsial
dari keseluruhan kasus TB anak yang sesungguhnya mengingat tingginya kasus
overdiagnosis di fasilitas pelayanan kesehatan yang diiringi dengan rendahnya pelaporan
dari fasilitas pelayanan kesehatan. 1
2.4 Tuberkulosis dalam Kehamilan
Tuberkulosis paru pada kehamilan seperti tuberkulosis paru umumnya masih
merupakan problem kesehatan masyarakat Indonesia maupun negara-negara yang sedang
berkembang lainnya. Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan, karena penyakit ini
masih merupakan penyakit rakyat sehingga masalah pada wanita itu sendiri, bayinya dan
masyarakat sekitarnya. 4
2.4.1 Pengaruh Kehamilan terhadap TB Paru
Sejak zaman Hippokrates, adanya kehamilan dianggap menguntungkan pada
pasien-pasien tuberkulosis paru, tetapi sejak pertengahan abad 19 pendapat berubah
8
berlawanan. Kehamilan dianggap memperburuk penyakit tuberkulosis. Wanita yang
mengidap tuberkulosis paru dianjurkan untuk tidak hamil atau bila telah terjadi
konsepsi maka dianjurkan untuk dilakukan aborsi. Tetapi saat ini, aborsi terapetik
jarang dilakukan kecuali atas indikasi komplikasi TB paru pada kehamilan. Pada
kenyataannya, terdapat perburukan penyakit sebesar 15%-30% pada pasien yang tidak
diobati. Tidak terdapat peningkatan reaktivasi pada pasien TB paru pada saat
kehamilan. Jumlah reaktivasi berkisar antara 5%-10% pada saat kehamilan atau pada
saat tidak hamil. Beberapa penelitian sebelum era kemoterapi terhadap tuberkulosis
menunjukkan, selama kehamilan perjalanan penyakit tuberkulosis paru relatif stabil,
tetapi perjalanan penyakit menjadi progresif sejak 6 minggu setelah melahirkan.
Beberapa teori diajukan untuk menjelaskan fenomen ini antara lain faktor kadar
estrogen yang meningkat pada bulan pertama kehamilan, kemudian tiba-tiba menurun
segera setelah melahirkan. Disamping faktor lain yang memperburuk tuberkulosis
paru pada masa nifas adalah trauma pada waktu melahirkan, kesibukan atau kelelahan
ibu siang dan malam mengurus anak yang baru lahir dan faktor-faktor sosial ekonomi.
Sejak ditemukannya obat-obat anti tuberkulosis, kontroversi pengaruh kehamilan
terhadap tuberkulosis paru dianggap tidak begitu penting. Pasien tuberkulosis aktif
dengan kehamilan dan mendapat kemoterapi adekuat mempunyai prognosis yang
sama seperti pasien tuberkulosis paru tanpa kehamilan. Kecepatan dalam diagnosis
dan tatalaksana sangat berperan dalam prognosis penyakit tuberkulosis. Mortalitas
wanita hamil yang baru diketahui menderita tuberkulosis paru sesudah hamil adalah
2x lipat dibandingkan wanita hamil yang telah diketahui menderita tuberkulosis paru
sebelum dia hamil. Pasien-pasien yang tidak mendapat kemoterapi adekuat, yang
resisten terhadap terapi, sesudah melahirkan karena diafragma turun mendadak,
komplikasi yang sering dijumpai adalah hemoptisis atau penyebaran kuman secara
hematogen atau tuberkulosis milier. 4
2.4.2 Pengaruh Tuberkulosis Paru terhadap Kehamilan
Dulu pernah dianggap bahwa wanita dengan tuberkulosis paru aktif
mempunyai insidensi yang lebih tinggi secara bermakna dibandingkan wanita hamil
tanpa infeksi tuberkulosis paru dalam hal abortus spontan dan kesulitan persalinan.
Banyak sumber yang mengatakan peranan tuberkulosis terhadap kehamilan antara lain
meningkatnya abortus, pre-eklampsi, serta sulitnya persalinan. Penelitian terbaru
9
menunjukkan bahwa hal tersebut tergantung dari letak tuberkulosis apakah paru atau
nonparu serta apakah tuberkulosis terdiagnosis semasa kehamilan. Pada penelitian
terhadap wanita-wanita Indian yang mendapat pengobatan selama 6-9 bulan semasa
kehamilan maka kematian janin 6 kali lebih besar dan insidens dari: prematuritas,
KMK ( kecil untuk masa kehamilan), BBLR (berat badan lahir rendah) (<2500g)
adalah 2 kali lipat. Pengaruh tidak langsung tuberkulosis terhadap kehamilan ialah
efek teratogenik terhadap janin karena obat anti tuberkulosis yang diberikan kepada
sang ibu. Efek samping pasien yang mendapat terapi anti tuberkulosis yang menyebar
maka tuba falopii bagian proximal dan bahkan uterus dapat terinfeksi. Infeksi jarang
mengenai cervix atau tractus genitalia bagian bawah. Tidak seperti TB paru, infeksi
pada genital biasanya tidak menunjukkan gejala yang berarti, memerlukan beberapa
tahun bisa menimbulkan kerusakan yang besar dan terjadinya perlengketan pada
rongga pelvis, walaupun pasien dengan TB pelvis biasanya steril, tetapi kadang-
kadang dapat terjadi konsepsi tetapi implantasinya lebih sering terjadi pada tuba
daripada intra uterin adekuat adalah gangguan pada traktus genitalis dimana traktus
genitalis terinfeksi dari fokus primer TB paru. Tuba falopii biasanya merupakan
tempat pertama yang terinfeksi terutama tuba falopii bagian distal. Bila infeksinya
menyebar maka tuba falopii bagian proximal dan bahkan uterus dapat terinfeksi.
Infeksi jarang mengenai cervix atau tractus genitalia bagian bawah. 4
2.5 Tuberkulosis Kongenital
Fetus dapat terinfeksi tuberkulosis melalui tali pusat. Meskipun demikian hal ini
jarang terjadi, kurang lebih 300 kasus pernah dilaporkan. Tuberkulosis kongenital yang
terjadi secara hematogen yang disebabkan oleh infeksi pada plasenta yang didapat dari ibu
yang menderita tuberkulosis paru. Mycobacterium tuberculosis dapat diidentifikasi dari
amnion, desidua, dan vili chorionic. Walaupun infeksi fetal yang didapat secara langsung
dari darah ibu tanpa pembentukan lesi caseosa pada plasenta yang pernah dilaporkan pada
binatang percobaan, tetapi ini tidak jelas terjadi pada manusia. Bila tuberkulosis menyebar
melalui plasenta dari peredaran darah ibu ke peredaran darah janin, infeksi dapat terjadi.
Bayi juga dapat terinfeksi selama atau segera setelah kelahiran dari terhirupnya bahan yang
terinfeksi, atau dari penolong persalinan atau orang lain yang menderita tuberkulosis paru
aktif dengan sputum positif. Bila seorang anak terinfeksi sebelum lahir, ibunya pasti

10
menderita tuberkulosis selama kehamilan. Kuman tuberkulosis telah mencapai janin melalui
darah ibunya. 4
2.5.1 Patogenesis Tuberkulosis dari Ibu terhadap Janin
Pada infeksi intra uteri (pranatal/kongenital) terjadi penyebaran M.tuberculosis
secara hematogen oleh ibu TB primer yang sistemik. M.tuberculosis akan menempel
dan membentuk tuberkel pada plasenta karena adanya sawar plasenta. Bila tuberkel
pecah, akan terjadi penyebaran melalui vena umbilikalis mencapai hati yang
mengakibatkan fokus primer di hati serta melibatkan kelenjar getah bening periportal.
M.tuberculosis dalam hati dapat masuk ke dalam peredaran darah kemudian
mencapai paru membentuk focus primer dalam bentuk dorman. 5
Tuberkel pada plasenta yang pecah tersebut dapat pula menginfeksi cairan
amnion. Cairan amnion yang terinfeksi M.tuberculosis terhisap oleh janin selama
kehamilan sehingga kuman dapat mencapai paru dan menyebabkan fokus primer di
paru. Namun bila cairan amnion tersebut tertelan, kuman akan mencapai usus yang
menyebabkan fokus primer di usus. 5
Infeksi TB pada neonatus yang terjadi saat persalinan (natal), dapat terjadi
karena tertelan atau terhisapnya cairan amnion yang terinfeksi M.tuberculosis oleh
neonatus saat proses persalinan. Pada penularan ini kuman yang teraspirasi dapat
menyebabkan fokus primer di paru atau di usus. Penularan infeksi TB pasca natal
merupakan penularan TB pada neonatus yang paling sering, yaitu melalui inhalasi
udara (droplet infection) oleh ibu atau orang dewasa lain penderita TB aktif di sekitar
neonatus. Kuman TB mencapai alveolus paru terutama pada lobus tengah dan lobus
bawah yang kaya akan oksigen sehingga umumnya fokus primer akan terdapat di sini,
walaupun semua lobus bisa saja menjadi fokus primer. 5
2.5.2 Manifestasi Klinis pada Janin
Manifestasi klinis TB kongenital dapat timbul segera setelah lahir namun
paling sering pada minggu kedua dan ketiga kehidupan. M.tuberculosis kurang dapat
berkembang pada lingkungan intra uterin dengan kadar oksigen yang rendah. Dengan
bertambahnya usia bayi setelah lahir, kadar oksigen pun meningkat mengakibatkan
pertumbuhan bakteri yang cepat. 5
Gejala klinis TB kongenital sulit dibedakan dengan sepsis bakterial pada
umumnya. Oleh sebab itu sering terjadi keterlambatan diagnosis dan pada akhirnya
menyebabkan kematian. Gejala yang paling sering ditemukan adalah distres

11
pernapasan, hepatosplenomegali dan demam. Gejala lain seperti prematuritas, berat
lahir rendah, toleransi minum yang buruk, letargi, kejang, ikterus, limfadenopati, lesi
kulit,dan cairan pada telinga juga dilaporkan. Pejham dkk melaporkan 1 kasus TB
kongenital dengan facial nerve palsy karena infeksi pada sistem saraf pusat.
Tuberkulosis yang didapat pasca natal memiliki gejala yang sama dengan TB pada
anak, seperti berat badan turun tanpa sebab, gagal tumbuh, demam lama dan berulang,
pembesaran kelenjar getah bening multipel, batuk lama, atau diare persisten.5
2.5.3 Diagnosis dan Tatalaksana
Tatalaksana TB pada neonatus mencakup beberapa aspek yaitu ibu, bayi yang
dilahirkan dan lingkungan keluarga. Ibu yang terdiagnosis TB berdasarkan
pemeriksaan fisik, radiologik dan bakteriologik menjelang atau saat persalinan harus
diisolasi. Bila ibu telah didiagnosis TB aktif pada kehamilan, pengobatan anti
tuberkulosis (OAT) langsung diberikan tanpa mengesampingkan efek samping OAT
pada janin. Obat yang rekomendasi oleh WHO dan Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia (PDPI) yaitu kombinasi rifampisin, isoniasid, pirazinamid dan etambutol.
Regimen OAT sama seperti pada kasus TB lainnya kecuali streptomisin tidak
diberikan karena bersifat teratogenik. Pada ibu yang telah cukup mendapat
pengobatan sebelumnya selama kehamilan, pada umumnya selama persalinan proses
tuberculosis sudah tenang. 5
Dokter ahli kebidanan bersama dokter anak harus saling berdikusi sebelum
bayi dilahirkan. Setelah bayi dilahirkan segera lakukan pemeriksaan patologi anatomi
plasenta dan pemeriksaan mikrobiologi dari darah vena umbilikalis untuk mencari
gambaran tuberkel dan atau kuman TB. Setelah ibu diisolasi, evaluasi klinis dan foto
toraks dilakukan pada neonatus. Gejala klinis TB kongenital sulit dibedakan dengan
sepsis bakterial pada umumnya. Sehingga bila gejala klinis sesuai dengan sepsis
bakterialis dapat diberikan terapi kombinasi anti tuberkulosis dan antibiotik. 5
Pemantauan klinis pada neonatus meliputi apakah terdapat prematuritas, berat
lahir rendah, distress pernapasan, hepatosplenomegali, demam, letargi, toleransi
minum yang buruk, gagal tumbuh, atau distensi abdomen. Bila pada pemantauan
klinis sterdapat limfadenopati, lesi di kulit, atau sekret pada telinga dilakukan
pemeriksaan mikrobiologi dan atau patologi anatomi. Bila didapatkan hepatomegali
selama pemantauan klinis dilakukan pemeriksaan USG abdomen, dan bila ditemukan

12
kompleks primer maka dilanjutkan dengan biopsi hati. Pemantauan klinis kadang-
kadang perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Gejala klinis TB kongenital
dapat timbul segera setelah lahir atau hingga minggu kedua dan ketiga kehidupan. 5
Bila pada neonatus terdapat gejala TB maka diagnosisnya adalah TB perinatal
dan terapi TB langsung diberikan. Terapi yang dianjurkan adalah isoniasid dosis 5-10
mg/kgBB/hari, rifampisin dosis10-15 mg/kgBB/hari dan pirazinamid dosis 25-35
mg/kgBB/hari. 5
Lakukan pemeriksaan bilas lambung sebelum pemberian terapi. Setelah terapi
TB selama 1bulan (usia 1 bulan) lakukan pemeriksaan uji tuberkulin. Namun pada
neonatus dengan gejala klinis TB dan didukung oleh satu atau lebih pemeriksaan
penunjang (foto toraks, patologi anatomi plasenta dan mikrobiologis langsung diobati
selama 6 bulan tanpa pemerikaan uji tuberkulin. Apabila pada usia 1 bulan uji
tuberkulin positif maka diagnosis TB ditegakkan dan diberikan terapi TB selama 6
bulan disertai pemeriksaan foto toraks dan bilas lambung. Namun bila hasil uji
tuberculin negatif, masih mungkin TB karena faktor imunitas yang imatur pada
neonatus. 5
Dalam hal ini terapi TB diteruskan disertai pemeriksaan tuberkulin pada usia
3 bulan. Apabila hasil uji tuberkulin pada usia 3 bulan positif maka diagnosis TB
ditegakkan dan diberikan terapi TB selama 6 bulan. Namun apabila hasilnya negatif
maka diagnosis bukan TB dan terapi TB dihentikan. Selain mendapat terapi TB,
pemberian nutrisi harus adekuat. Bayi dipisahkan selama minimal 2 minggu
pemberian terapi TB pada ibu, namun ASI tetap dapat diberikan. Kandungan OAT di
dalam ASI pada ibu yang mendapat terapi TB hanya dalam jumlah yang kecil dan
tidak berpotensi menimbulkan infeksi pada bayi. Selain itu pemantauan peningkatan
berat badan, tanda vital, dan keluhan lain harus dilakukan dengan ketat. 5
Apabila neonatus lahir dari ibu TB aktif namun pemeriksaan klinis dan
penunjang dalam batas normal, maka neonatus tetap berpotensi untuk terinfeksi
M.tuberculosis. Tatalaksana awal adalah pemberian profilaksis primer INH dengan
dosis 5-10 mg/kgBB/hari selama 1 bulan kemudian dilakukan uji tuberkulin untuk
mengetahui apakah pasien telah terinfeksi. 5 Apabila setelah 1 bulan uji tuberkulin
positif maka diagnosis TB dapat ditegakkan dan diberikan terapi TB selama 6 bulan
disertai pemeriksaan foto toraks dan bilas lambung. Namun bila setelah 1 bulan uji

13
tuberkulin negative maka pemberian profilaksis primer INH diteruskan sampai 3
bulan kemudian dilakukan uji tuberculin untuk mengetahui apakah pasien telah
terinfeksi. Bila setelah 3 bulan uji tuberkulin tetap negatif dan telah dibuktikan tidak
ada sumber penularan lagi maka profilaksis primer INH dapat dihentikan. Namun bila
positif, harus dinilai klinis dan pemeriksaan penunjang. Bila terdapat kelainan maka
didiagnosis TB dan diberikan terapi TB selama 6 bulan. Apabila pemeriksaan tidak
mendukung TB, maka diberikan profilaksis sekunder selama 6-12 bulan. Pemberian
BCG hanya dapat dilakukan apabila bayi belum terinfeksi M.tuberculosis yaitu pada
saat 3 bulan dan uji tuberkulin negatif. Tatalaksana terhadap lingkungan meliputi
lingkungan keluarga. Harus dicari adanya sumber penularan. 5

14
Gambar Skema diagnosis dan tatalaksana neonatus dari ibu hamil dengan tuberculosis aktif. 5

1.5.4 Pencegahan pada bayi


1. Jangan pisahkan anak anak dari ibunya, kecuali ibu sakit sangat parah
2. Apabila ibu dahak negatif, segera bayi diberikan BCG
3. Apabila dahak sediaan langsung ibu positif selama kehamilan, atau tetap demikian saat
melahirkan
a. Bila bayi tampak sakit saat dilahirkan dan dicurigai adanya tuberkulosis kongenital
berilah pengobatan anti TB yang lengkap.
b. Bila anak tampak sehat, berikanlah isoniazid 5 mg/kgbb dalam dosis tunggal setiap
hari selama 2 bulan. Kemudian lakukan tes tuberkulin. Jika negatif, hentikan
isoniazid dan berikan BCG. Jika positif, lanjutkan isoniazid selama 4 bulan lagi.

15
Jangan berikan BCG pada saat diberikan isoniazid atau jangan lakukan tes tuberkulin
dan berikan isoniazid selama 6 bulan.
4. Di banyak negara adalah paling aman bagi ibu untuk menyusui bayinya. Air Susu Ibu
(ASI) merupakan gizi yang paling tinggi mutunya bagi bayi. 4

1.5.5 Laktasi pada Bayi


Kontak segera antara ibu dan anak diperbolehkan jika ibu telah mendapatkan
pengobatan dan tidak terdapat reaktivasi penyakit. Ibu dengan tuberkulosis aktif dapat
berhubungan dengan bayinya minimal 3 minggu pengobatan, dan bayinya juga mendapat
isoniazid. Tidak ada kontraindikasi untuk menyusui pada ibu yang menderita tuberkulosis,
walaupun obat antituberkulosis ditemukan pada air susu ibu tetapi jumlahnya sangat rendah
dan resiko keracunan pada bayi sangat minimal. Perlu menginstruksikan pasien di rumah
sakit agar menutupi mulut di saat batuk dan saat sedang menyusui. Batuk harus ke dalam
tisu yang sekali pakai. Yang penting adalah pendidikan pada penderita dan keluarganya
tentang keadaan penyakit TB paru yang sedang dialami serta bahaya penularan penyakit
TBC ini pada anaknya, sehingga penderita dan keluarganya menyadari sepenuhnya
bagaimana cara melakukan perawatan bayinya dengan baik. 4

1.5.6 Prognosis pada Janin


Prognosis TB kongenital biasanya lebih buruk dariTB didapat pasca natal. Komplikasi
TB pada neonatus adalah koagulasi intravascular diseminata, meningitis, gagal napas,
perforasi usus dan syok sepsis. Hampir 50% dari kasus TB kongenital dilaporkan
meninggal, meskipun dengan penanganan yang intensif. Hal ini disebabkan karena
keterlambatan diagnosis dan komplikasi. Oleh karena itu deteksi dini ibu dan neonatus
dengan TB serta penanganan yang baik pada neonatus sangat penting untuk memperkecil
angka kematian TB pada neonatus. 4

2.6 Etiologi
Mycobacterium tuberculosis merupakan jenis kuman berbentuk batang berukuran
panjang 1-4 mm dengan tebal 0,3-0,6 mm. Sebagian besar komponennya adalah lipid
sehingga kuman tersebut mampu bertahan terhadap asam serta sangat tahan terhadap zat
kimia dan faktor fisik. Bakteri ini bersifat aerob sehingga sangat menyukai daerah yang

16
banyak oksigen dan lembab. Oleh karena itu M. tuberculosis sangat senang tinggal dibagian
apeks paru-paru yang terdapat banyak oksigen. 6
Bakteri tuberculosis ini disebut dengan bakteri tahan asam (BTA) dikarenakan
bertahan terhadap pencucian warna dengan asam dan alcohol serta tahan dalam keadaan
dingin dan kering. Bersifat dorman dan aerob. Mycobacterium tuberculosis biasa mati pada
pemanasan100 C selama 5-10 menit, pada pemanasan 60 C selama 30 menit, dan dengan
alcohol 70-95% selama 15-30 detik. Bakteri ini juga tahan selama 1-2 jam diudara terutama
ditempat yang lembab dan gelap (biasa berbulan-bulan), tetapi tidak tahan terhadap sinar atau
aliran udara. 6
2.7 Patogenesis
Kuman tuberculosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan
paru sehingga akan terbentuk satu sarang pneumonik, yang disebut sarang primer atau afek
primer. Masa inkubasi M.Tuberculosis hingga membentuk afek primer biasanya berlangsung
dalam waktu 10-20 hari. Dari sarang primer akan terlihat peradangan saluran getah bening
menuju hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan limfangitis regional
dikenal sebagai kompleks primer (tuberculosis). Kompleks primer tersebut akan mengalami
beberapa kemungkinan: 7
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad integrum)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain Ghon, garis fibrotic, sarang
perkapura dihilus)
3. Menyebar dengan cara:
Perkontinutiatum, menyebar kedaerah disekitarnya. Misalnya pada epituberkulosis,
yaitu suatu kejadian penekan bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus
yang membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran napas dengan akibat
atelektasis. Kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini ke lobus
yang atelektasis dan menimbulkan perdangan pada lobus yang atelektasis tersebut, yang
dikenal sebagai epituberkulosis. Penyebaran secara bronkogen, baik diparu tersebut maupun
diparu sebelahnya. 7
Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini berkaitan dengan daya
tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara
spontan, akan tetapi bila tidak terdapat imunitas yang adekuat, penyebaran ini akan
menimbulkan keadaan cukup gawat seperti tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa,
thypobacillosis landouzy. Penyebaran ini juga dapat menyebabkan tuberkulosis pada alat
tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan
17
penyebaran ini kemungkinan berakhir dengan kesembuhan yang meninggalkan sekuele
(misalnya pertumbuhan terbelakang pada anak setelah menderita ensefalomeningitis,
tuberkuloma) atau meninggal. 7

2.8 Cara Penularan


Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin
penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet atau percikan dahak. Droplet
yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam.
Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Setelah
kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman tersebut dapat
menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran
limfe, saluran nafas atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. 8
Daya penularan dari penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan
dari parunya, makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita
tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif maka penderita tersebut dianggap tidak

18
menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh kosentrasi droplet dalam
udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Setiap BTA positif akan mengeluarkan kepala
10-15 orang lainnya, hasil studi lain melaporkan bahwa kontak terdekat misalnya keluarga
serumah akan dua kali lebih berisiko dibandingkan kontak biasa (tidak serumah). Seorang
penderita dengan BTA (+) yang derajat positifnya tinggi berpotensi menularkan penyakit ini,
sedangkan penderita BTA (-) dianggap tidak menularkan. Saat seorang penderita batuk,
sejumlah tetesan cairan ludah tersembur ke udara yang mengandung banyak kuman. Tetesan
yang paling besar akan jatuh ketanah, namun yang terkecil yang tidak dapat dilihat akan tetap
berada dan ikut terbawa aliran udara baik diluar maupun didalam ruangan. Didalam ruangan
yang tertutup, didalam gubuk atau didalam ruangan sempit, tetesan tersebut melayang di
udara dan akan bertambah jumlahnya setiap kali orang tersebut batuk. 8
Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif melalui percik renik dahak yang
dikeluarkannya. Namun, bukan berarti bahwa pasien TB dengan hasil pemeriksaan BTA
negatif tidak mengandung kuman dalam dahaknya. Hal tersebut bisa saja terjadi oleh karena
jumlah kuman yang terkandung dalam contoh uji 5.000 kuman/cc dahak sehingga sulit
dideteksi melalui pemeriksaan mikroskopis langsung. Pasien TB dengan BTA negatif juga
masih memiliki kemungkinan menularkan penyakit TB. Tingkat penularan pasien TB BTA
positif adalah 65%, pasien TB BTA negatif dengan hasil kultur positif adalah 26% sedangkan
pasien TB dengan hasil kultur negatif dan foto toraks positif adalah 17%. Infeksi akan terjadi
apabila orang lain menghirup udara yang mengandung percik renik dahak yang infeksius
tersebut. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
percikan dahak (droplet nuclei / percik renik). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000
percikan dahak. 1
2.9 Gejala klinis
Pasien suspek TB dapat dicurigai dengan melihat gejala-gejala respiratorik seperti
batuk 2 minggu, batuk darah, sesak napas atau nyeri dada. Gejala respiratorik ini sangat
bervariasi, mulai dari tidak ada gejala sampai gejala yang berat tergantung dari luas lesi.
Selain itu, dapat pula terdapat gejala sistemik, seperti: malaise, demam, keringat malam,
anoreksia dan penurunan berat badan. 9
Gejala klinis tuberkulosa dibagi menjadi dua golongan, yaitu gejala lokal dan gejala
sistemik. Bila organ yang terkena adalah paru maka disebut sebgai gejala lokal, yaitu gejala

19
respiratorik (gejala lokal sesuai organ yang terlibat). Gejala sistemik adalah gejala yang
dirasakan diseluruh tubuh dan tidak spesifik pada satu organ. Gejala tuberkulosis antara lain:9
a. Gejala respiratorik:
- Batuk-batuk selama dua minggu atau lebih
- Batuk berdarah
- Sesak napas
- Nyeri dada
Gejala respiratorik sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang
cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang pasien terdiagnosis pada saat medical check up.
Bila bronkus belum terlihat pada proses penyakit, maka pasien mungkin tidak ada gejala
batuk. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi bronkus dan selanjutnya batuk diperlukan
untuk membuang dahak keluar. 9
b. Gejala sistemik:
- Demam
- Malaise
- Anoreksia
- Keringat malam
- Berat badan menurun
Pada tuberkulosi ekstra paru, gejala yang timbul tergantung dari organ yang terlibat,
misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri
dari kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis,
sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas kadang nyeri dada pada sisi
yang rongga pleuranya terdapat cairan.
2.10 Diagnosis
Diagnosis TB ditegakkan berdasarkan keluhan klinis, gejala-gejala fisik, kelainan
bakteriologis sputum sampai pemeriksaan radiologis. Gejala klinis yang penting dari TB paru
yang sering digunakan untuk menegakkan diagnose klinik adalah batuk yang terus menerus
selama 3 minggu atau lebih yang disertai dengan keluarnya sputum dan gejala lain yang
sering dijumpai adalah dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas dan nyeri dada,
badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise),
berkerigat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari satu bulan.8
Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukan BTA pada
pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila
sedikitnya dua dari tiga specimen SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu) BTA hasilnya positif. Bila
hanya satu spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lanjut yaitu foto rongen dada
atau pemeriksaan dahak SPS diulang. 8

20
a. Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita didiagnosis sebagai penderita TB
BTA positif
b. Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan dahak SPS diulangi
Bila ketiga spesimen dahak hasilnya negatif, diberikan antibiotik sprektum luas
(misalnya kotrimoksasol atau amoksisilin) selama 1-2 minggu. Bila tidak ada perubahan,
namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS. 8
a. Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif
b. Kalau hasil SPS tetap negative, lakukan pemeriksaan foto rontgen dada, untuk
mendukung diagnosis TB
- Bila hasil rontgen mendukung TB, didiagnosis sebagai penderita TB BTA negative
rontgen positif
- Bila hasil rontgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB. 8
2.10.1 Diagnosis Tuberkulosis pada Kehamilan
Untuk mendiagnosis kondisi tersebut, riwayat paparan terhadap individu
dengan batuk kronis atau berkunjung ke daerah endemik tuberculosis harus diperoleh.
Riwayat gejala, mirip dengan gejala yang dialami oleh wanita yang tidak hamil.
Perhatian harus ditingkatkan mengingat gejala pada ibu hamil tidak spesifik, yaitu
keringat dimalam hari, demam dimalam hari, batuk darah, penurunan berat badan
yang progresif dan batuk kronis selama lebih dari 3 minggu. Tahap penting dalam
membuat diagnosis pada kehamilan yaitu untuk mengidentifikasi faktor risiko untuk
infeksi TB dan gejala-gejala infeksi. 2
Pemeriksaan rutin pada TB selama masa kehamilan bukan merupakan suatu
standar yang dilakukan diberbagai tempat pelayanan, dan hal ini menjadi salah faktor
keterlambatan diagnosis dan meningkatkan angka mortalitas maternal. Pada suatu
penelitian di Soweto, Afrika selatan, pemeriksaan penyaring TB dengan menanyakan
beberapa pertanyaan saat melakukan kunjungan antenatal dirasakan mudah untuk
dilakukan. Oleh karena itu, direkomendasikan cara tersebut dilakukan didaerah
dengan prevalensi HIV tinggi, dimana angka infeksi TB pada wanita hamil juga tinggi
dalam keadaan tersebut. 2
Alat diagnostik yang biasa digunakan adalah pemeriksaan sputum bakteri
tahan asam, kultur sputum, dan spesimen lainnya, dan radiografi dada. Tes tuberkulin
mempunyai nilai diagnosis pada infeksi laten TB, kecuali didaerah dengan prevalensi
dan insidens TB yang tinggi. 2

21
Pada wanita hamil dengan gejala dan tanda TB, harus dilakukan tes tuberkulin.
Tes tersebut sudah dinyatakan aman untuk dilakukan pada ibu hamil. Namun,masih
diperdebatkan mengenai sensivitas tuberkulin saat kehamilan. Penelitian awal
mengatakan adanya penurunan sensivitas tuberkulin saat kehamilan, sementara itu
penelitian terakhir mengatakan tidak adanya perbedaan antara populasi hamil dan
tidak hamil. 2
Dua tipe tes tuberculin yang dibahas yaitu: 2
a. Tes Tine
Tes ini menggunakan beberapa jarum yang sudah dicelupakan pada bakteri
TB yang sudah dimurnikan, disebut dengan old tuberculin (OT). Kulit ditusuk
dengan jarum tersebut dengan reaksi dianalisa 48-72 jam kemudian. Namun tes ini
tidak lagi popular kecuali untuk uji penyaring pada populasi yang besar. 2
b. Tes Mantox
Injeksi intradermal derivate protein yang sudah dimurnikan sebanyak
0,1ml (5 tuberkulin unit), dan reaksi kulit dianalisis 48-72 jam kemudian
berdasarkan diameter indurasi terbesar yang terbentuk. Tes ini lebih akurat dari
pada tes tine. 2
Positif palsu dapat terjadi pada pasien yang sudah mendapatkan vaksin
BCG yang sudah mendapatkan pengobatan untuk tuberculosis ataupun pasien
yang sudah terinfeksi dengan spesies mycobacterium lainnya. Negative palsu
dapat terjadi karena system imun yang menurun dan kesalahan teknis. 2
Pemeriksaan radiologi dada dengan penutup dibagian perut dapat
dilakukan setelah tes tuberculin, walaupun pemeriksaan radiografi dada tertunda
karena kekhawatiran akan efek radiasi terhadap janin. 2
Pemeriksaan mikroskopik sputum atau specimen lain untuk bakteri tahan
asam masih menjadi dasar diagnosis untuk TB dalam kehamilan. Tiga contoh
sputum harus diperiksa untuk smear, kultur, dan uji kerentanan obat. Pewarnaan
bakteri tahan asam menggunakan Ziehl-Nielsen, flouresence, auramine-rhodamine
dan teknik kinyoun. Pemeriksaan dengan mikroskop dengan florucense light
emitting diode (LED) baru-baru ini diperkenalkan untuk meningkatkan kepastian
diagnosis. Menurut laporan WHO mengenai pengendalian TB secara global,
pemeriksaan TB terdeteksi positif sebanyak 68%. Pemeriksaan dengan pewarnaan
mungkin tidak kuat untuk diagnosis, karena hasil yang negatif mungkin dapat
luput. Individu dengan hasil yang sedikit, pemeriksaan mikroskopis tidak cukup
22
untuk menegakkan diagnosis. Radiografi dada dan penilaian suara nafas
merupakan alat bantu penting untuk membuat diagnosis dari pemeriksaan
mikroskop TB yang negatif. Namun gambaran radiografi dada dapat normal pada
14% pasien dengan kultur TB positif. Tb ekstrapulmonal juga jarang terjadi pada
kehamilan, dan klinisi harus segera mencurigai apabila terdapat gejala antipikal. 2
Anamnesis
Banyak kasus tuberkulosis (sekitar 77% kasus) dapat didiagnosis hanya
dengan anamnesis. Anamnesis yang cermat dan hati-hati harus dilakukan pada kasus-
kasus dengan risiko tinggi. Riwayat kontak dengan penderita TB dewasa aktif serta
gejala-gejala TB pada umumnya seperti batuk lama dan batuk berdarah, keringat
dingin pada malam hari, penurunan berat badan dan gejala-gejala lain harus
dinyatakan pada saat anamnesis. Keluhan-keluhan seorang penderita TB sangat
bervariasai, mulai dari sama sekali tidak ada keluhan sampai dengan adanya keluhan-
keluhan yang serba lengkap. 2

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik, kelainan yang ditemukan tergantung dari organ yang
terlihat. Pada TB paru, kelainan yang dijumpai tergantung luas kelainan strukut paru.
Pada awal perkembangan penyakit, kelainan umumnya sulit ditemukan. Bila
ditemukan kelaianan biasanya terletak didaerah lobus superior, terutama daerah apeks
dan segmen posterior, serta daerah pada lobus inferior. Pada pemeriksaan fisik dapat
ditemukan antara lain suara nafas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki
basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum. 9

Pemeriksaan Bakteriologi
Penemuan bakteri TB memiliki arti penting dalam menegakkan diagnosis TB.
Bahan untuk pemeriksaan ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura, cairan
seresbrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, urin, feses dan jaringan biopsi.
Pengambilan dahak dilakukan 3 kali, yang lebih dikenal dengan singkatan SPS, yaitu
sewaktu, pagi, sewaktu atau setiap 3 hari berturut-turut. Digunakan pewaranaan Ziehl-
Nielsen untuk pemeriksaan mikroskopis biasa. 7

23
Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah foto thoraks PA. pada pemeriksaan
foto thoraks, TB dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk. Gambaran yang
dicurigai sebagai lesi TB aktif adalah bayangan berawan atau nodular disegmen apical
dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah, terdapat kavitas yang
biasanya lebih dari satu dan dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular,
bayangan bercak milier, serta efusi pleura unilateral. Sedangkan gambaran radiologis
yang dicurigai lesi TB inaktif, yaitu: fibrotik, kalsifikasi dan penebalan pleura. 9

2.11 Penatalaksanaan
a) Tujuan pengobatan TB adalah: 1
1. Menyembuhkan pasien dan memperbaiki produktivitas serta kualitas hidup
2. Mencegah terjadinya kematian oleh karena TB atau dampak buruk sebelumnya
3. Mencegah terjadinya kekambuhan TB
4. Menurunkan penularan TB
5. Mencegah terjadinya dan penularan TB resisten obat
b) Prinsip pengobatan TB: 1

24
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) adalah komponen terpenting dalam pengobatan
TB. Pengobatan TB adalah merupakan salah satu upaya paling efisisen untuk
mencegah penyebaran lebih lanjut dari kuman TB.
Pengobatan yang adekuat harus memenuhi prinsip:
- Pengobatan diberikan dalam bentuk paduan OAT yang tepat mengandung minimal
4 macam obat untuk mencegah terjadinya resistensi
- Diberikan dalam dosis yang tepat
- Ditelan secara teratur dan diawasi secara langsung oleh PMO (Pengawas Menelan
Obat) sampai selesai pengobatan
- Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang cukup terbagi dalam tahap awal
serta tahap lanjutan untuk mencegah kekambuhan
2.11.1 Penatalaksanaan Tuberkulosis pada Ibu Hamil
1. Pengobatan TB pada ibu hamil pada prinsipnya tidak berbeda dengan pengobatan
TB pada umumnya. Hanya saja, streptomisin TIDAK BOLEH diberikan karena
dapat menyebabkan cacat bawaan pada janin.
2. Pastikan selama masa pengobatan, pasien didampingi oleh seorang pengawas
minum obat (PMO) yang dapat memantau dan mendorong kepatuhan pasien
berobat.
3. Untuk Kategori 1 (pasien TB baru BTA positif, ATAU pasien TB baru BTA
negatif foto toraks positif), ibu diberikan rifampisin, INH, pirazinamid, dan
etambutol setiap hari selama 2 bulan, dilanjutkan rifampisin dan INH 3 kali
seminggu (intermiten) selama 4 bulan. Dosis yang diberikan adalah sebagai
berikut.
- INH dosis 5 mg/kgBB/hari (untuk pemberian setiap hari) atau 10 mg/kgBB/hari
(untuk pemberian 3 kali seminggu); maksimum 300 mg/hari
- Rifampisin 10 mg/kgBB/hari; maksimum 600 mg/hari
- Pirazinamid 25 mg/kgBB/hari; maksimum 2000 mg/hari
- Etambutol 15 mg/kgBB 10

Terapi tersebut dapat diberikan dalam bentuk kombinasi dosis tetap (KDT) sesuai
berat badan ibu seperti di bawah ini: 10

Dosis KDT sesuai berat badan ibu

25
4. Lakukan pemeriksaan dahak kembali di akhir tahap intensif (bulan kedua). Bila
hasil negatif, lanjutkan pengobatan tahap berikutnya. Bila hasil positif, berikan
tambahan pengobatan seperti tahap intensif selama 28 hari (OAT sisipan). Setelah
selesai, lakukan pemeriksaan dahak ulangan. Bila negatif, lanjutkan pengobatan ke
tahap berikutnya. Bila tetap positif, rujuk pasien ke layanan TB-MDR untuk
pemeriksaan resistensi sambil melanjutkan pengobatan ke tahap lanjutan.
5. Lakukan pemeriksaan dahak satu bulan sebelum tahap lanjutan selesai (bulan
kelima). Bila hasilnya negatif, lanjutkan pengobatan. Bila hasilnya positif rujuk
pasien ke layanan TB-MDR dan mulai pengobatan kategori 2.
6. Lakukan pemeriksaan dahak di akhir pengobatan (bulan keenam). Bila hasilnya
negatif, pasien dinyatakan sembuh. Bila hasilnya positif, rujuk pasien ke layanan
TB-MDR dan mulai pengobatan kategori 2.
7. Setelah lahir, bayi diberikan profilaksis INH (5-10 mg/kgBB/hari) sampai 6
bulan. Vaksinasi BCG segera diberikan setelah pengobatan profilaksis selesai.
8. Ibu hamil dengan tuberkulosis Kategori 2 (pasien kambuh, pasien gagal, dan
pasien putus berobat) dan ibu hamil dengan TB ekstra paru sebaiknya dirujuk
ke layanan TB-MDR untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai. 10

Penatalaksanaan Pasien Hamil dengan Tes PPD (Purified Protein Derivat) Positif4
1) Masa kehamilan trimester I
- Kurangi aktivitas fisik (bedrest); terpenuhinya kebutuhan nutrisi (tinggi kalori
tinggi protein); pemberian vitamin dan Fe; dukungan keluarga & kontrol
teratur.
- Dianjurkan penderita datang sebagai pasien permulaan atau terakhir dan
segera diperiksa agar tidak terjadi penularan pada orang-orang disekitarnya.
Dahulu pasien tuberkulosis paru dengan kehamilan harus dirawat dirumah
26
sakit, tetapi sekarang dapat berobat jalan dengan pertimbangan istirahat yang
cukup, makanan bergizi, mencegah penularan pada keluarga dll.
- Pasien sejak sebelum kehamilan telah menderita TB paru Obat diteruskan
tetapi penggunaan rifampisin di stop.
- Bila pada pemeriksaan antenatal ditemukan gejala klinis tuberkulosis paru
(batuk-batuk/batuk berdarah, demam, keringat malam, nafsu makan menurun,
nyeri dada,dll) maka sebaiknya diperiksakan PPD (Purified Protein Derivate),
bila hasilnya positif maka dilakukan pemeriksaan foto dada dengan pelindung
pada perut, bila tersangka tuberkulosis maka dilakukan pemeriksaan sputum
BTA 3 kali dan biakan BTA. Diagnosis ditegakkan dengan adanya gejala klinis
dan kelainan bakteriologis, tetapi diagnosis dapat juga dengan gejala klinis
ditambah kelainan radiologis paru. 4
Lakukan pemeriksaan PPD bila PPD (+) lakukan pemeriksaan
radiologis dengan pelindung pada perut :
1. Bila radiologi (-) berikan INH profilaksis 400 mg selama 1 tahun
2. Bila radiologi suspek TB periksa sputum sputum BTA (+)
- INH 400 mg/hr selama 1 bulan, dilanjutkan 700 mg 2 kali seminggu 5-8
bulan
- Etambutol 1000 mg/hr selama 1 bulan
Rifampisin sebaiknya tidak diberikan pada kehamilan trimester pertama
Pada penderita dengan proses yang masih aktif, kadang-kadang diperlukan
perawatan, untuk membuat diagnosis serta untuk memberikan pendidikan. Perlu
diterangkan pada penderita bahwa mereka memerlukan pengobatan yang cukup
lama dan ketekunan serta ada kemauan untuk berobat secara teratur. Penyakit akan
sembuh dengan baik bila pengobatan yang diberikan dipatuhi oleh penderita.
Penderita dididik untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk, bersin dan
tertawa. Pengobatan terutama dengan kemoterapi, dan sangat jarang diperlukan
tindakan operasi. TBC paru tidak merupakan indikasi untuk abortus buatan dan
terminasi kehamilan. 4
2) Masa kehamilan trimester II dan III
Pada penderita TB paru yang tidak aktif, selama kehamilan tidak perlu
dapat pengobatan. Sedangkan pada yang aktif, hendaknya jangan dicampurkan
dengan wanita hamil lainnya pada pemeriksaan antenatal dan ketika mendekati
persalinan sebaiknya dirawat di rumah sakit; dalam kamar isolasi. Gunanya untuk
mencegah penularan, untuk menjamin istirahat dan makanan yang cukup serta
27
pengobatan yang intensif dan teratur. Dianjurkan untuk menggunakan obat dua
macam atau lebih untuk mencegah timbulnya resistensi kuman. Untuk diagnosis
pasti dan pengobatan selalu bekerja sama dengan ahli paru-paru. Penatalaksanaan
sama dengan masa kehamilan trimester pertama tetapi pada trimester kedua
diperbolehkan menggunakan rifampisin sebagai terapi. 4
Medikamentosa: (Dilakukan atas konsultasi dengan Internest)
PPD (+) tanpa kelainan radiologis maupun gejala klinis:
- INH 400 mg selama 1 tahun
TBC aktif (BTA +) :
- Rifampisin 450-600 mg/hr selama 1 bulan, dilanjutkan 600 mg 2x seminggu
selama 5-8 bulan
- INH 400 mg/hr selama 1 bulan, dilanjutkan 700 mg 2x seminggu selama 5-8
bulan
Etambutol 1000 mg/hr selama 1 bulan4

3) Masa Persalinan
Pasien yang sudah cukup mendapat pengobatan selama kehamilan
biasanya masuk kedalam persalinan dengan proses tuberkulosis yang sudah tenang.
Persalinan pada wanita yang tidak mendapat pengobatan dan tidak aktif lagi, dapat
berlangsung seperti biasa, akan tetapi pada mereka yang masih aktif, penderita
ditempatkan dikamar bersalin tertentu (tidak banyak digunakan penderita lain).
Persalinan ditolong dengan kala II dipercepat misalnya dengan tindakan ekstraksi
vakum atau forsep, dan sedapat mungkin penderita tidak mengedan, diberi masker
untuk menutupi mulut dan hidungnya agar tidak terjadi penyebaran kuman ke
sekitarnya. Sedapat mungkin persalinan berlangsung pervaginam. Sedangkan sectio
caesarea hanya dilakukan atas indikasi obstetrik dan tidak atas indikasi tuberkulosis
paru. 4
4) Masa Nifas
Penelitian terdahulu menyatakan bahwa pengaruh kehamilan terhadap
tuberkulosis paru justru menonjol pada masa nifas. Hal tersebut mungkin karena
faktor hormonal, trauma waktu melahirkan, kesibukan ibu dengan bayinya dll.
Tetapi masa nifas saat ini tidak selalu berpengaruh asal persalinan berjalan lancar,
tanpa perdarahan banyak dan infeksi. Cegah terjadinya perdarahan pospartum
seperti pada pasien-pasien lain pada umumnya. Setelah penderita melahirkan,
penderita dirawat diruang observasi selama 6-8 jam, kemudian penderita dapat
28
dipulangkan langsung. Diberi obat uterotonika, dan obat TB paru diteruskan, serta
nasihat perawatan masa nifas yang harus mereka lakukan. Penderita yang tidak
mungkin dipulangkan, harus dirawat di ruang isolasi. 4
2.12 Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan baik perorang maupun kelompok. Tujuan mendeteksi
dini seseorang dengan infeksi TB adalah untuk mengindentifikasi siapa saja yang akan
memperoleh keuntungan dari terapi pencegahan untuk menghentikan perkembangan TB
yang aktif secara klinis. 6
Menurut Depkes RI (2001) hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah
penularannya adalah: 6
- Kebersihan ruangan dalam rumah terjaga terutama kamar tidur dan setiap ruangan
dalam rumah dilengkapi jendela yang cukup untuk pencahayaan alami dan ventilasi
untuk pertukaran udara serta usahakan agar sinar matahari dapat masuk kesetiap
ruangan dalam rumah melalui jendela atau genting kaca, karena kuman TBC mati
dengan sinar matahari yang mengandung sinar ultraviolet.
- Menjemur kasur dan bantal secara teratur
- Pengidap TBC diminta menutupi hidung dan mulutnya apabila mereka batuk atau bersin
- Minum obat secara teratur sampai selesai, gunakan Pengawasan Minum Obat (PMO)
untuk menjaga keteraturan minum obat
- Jangan meludah disembarnag tempat karena ludah yang mengandung Mycobacterium
tuberculosis akan terbawa udara dan dapat terhirup orang lain
- Apabila sedang dalam perjalanan maka penderita dianjurkan memakai penutup mulut
atau masker, dan bila akan membuang dahak maka harus dikloset dan kemudian disiram
atau dipembuangan air yang mengalir
- Gunakan tempak penampungan dahak seperti kaleng atau sejenisnya yang ditambahkan
air sabun atau karbol/Lysol
- Cuci dan bersihkan barang-barang yang digunakan oleh penderita. Seperti alat makan
dan minum, atau perlengkapan tidur. 6
2.13 Prognosis
Prognosis pada umumnya baik apabila pasien melakukan terapi sesuai dengan
ketentuan pengobatan. Untuk TB dengan komorbid, prognosis menjadi kurang
baik. 11
Sangatlah penting untuk dapat mendiagnosis adanya infeksi TBC secara dini pada
wanita hamil. TBC pada wanita hamil dan tidak hamil menimbulkan prognosis yang
tidak jauh berbeda bahkan sama. Hasil yang lebih baik didapatkan jika wanita itu
diketahui menderita TBC sebelum masa kehamilannya. Hasil terburuk didapatkan pada

29
pasien-pasien yang baru diketahui pertama kali menderita infeksi TBC pada masa
puerperium, dikarenakan TBCnya tidak diobati selama kehamilan sehingga telah
menyebar luas. Akan tetapi jika TBC didiagnosis dan diobati secara baik dan benar maka
prognosis untuk ibu dan bayi sangat baik. 4
Kehamilan yang dipersulit dengan kontaminasi oleh organisme yang resisten atau
dengan adanya AIDS, memerlukan perhatian khusus, pada kasus ini penggunaan
kombinasi 4 sampai 5 obat mungkin diperlukan, termasuk obat-obatan seperti
streptomicin, yang normalnya tidak direkomendasikan selama kehamilan. Harus
dipertimbangan untuk dirawat dulu dirumah sakit pada penanganan awal dilanjutkan
dengan pengawasan ketat secara DOTS. 4
Kehamilan tidak memperburuk perjalanan penyakit dari TBC, dan TBC tidak
mengganggu secara keseluruhan dari jalannya kehamilan dan persalinan walaupun
dilaporkan di India adanya peningkatan insidensi persalinan prematur, BBLR, dan
pembatasan perkembangan bayi dan juga peningkatan angka kematian bayi pada ibu
dengan aktif TB paru pada 79 wanita hamil (Jana and coleagues 1994) Jana dkk (1999)
melaporkan pada 33 wanita hamil dengan komplikasi TB paru melahirkan bayi dengan
berat badan yang rendah. Selain itu kasus kasus meningitis TBC dalam kehamilan
menyebabkan kematian pada ibu pada sepertiga dari seluruh kasus. 4
Adhikari and colleagues (1997) menggambarkan bahwa 11 wanita Afrika Selatan
yang hamil dan postpartum biopsinya didapatkan hasil kulturnya positif, enam bayi
diantaranya menderita TBC kongenital, dan satu diantaranya meninggal. Insidensi infeksi
pada neonatal jarang terjadi bila ibu dengan TBC yang aktif diterapi sebelum saat
persalinan dan jika pemeriksaan kultur dahaknya negatif. Dikarenakan pada bayi yang
baru lahir sangat mudah terinfeksi penyakit termasuk TBC, maka sebagian ahli
berpendapat direkomendasikan untuk ibu agar diisolasi jika dicurigai memiliki TBC yang
aktif. Jika tidak diobati, resiko terinfeksi penyakit pada bayi yang lahir dari wanita dengan
infeksi yang aktif adalah 50% pada tahun pertama. 4
Wanita hamil yang menderita tuberkulosis bila diobati dengan pengobatan
antituberkulosis yang adekuat tidak akan menyebabkan efek samping yang berarti pada
saat hamil, masa nifas ataupun bagi janin. Wanita hamil mempunyai prognosis yang sama
dengan wanita tidak hamil. Tidak ada indikasi untuk melakukan tindakan pengguguran
kehamilan pada penderita TB paru. 4

30
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
1. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang menular dan dapat menyerang
berbagai organ dalam tubuh dan terutama menyerang paru. Imfeksi ini disebabkan
oleh Microbacterium tuberculosis
2. Diagnosis tuberculosis pada kehamilan mungkin lebih sulit dilakukan, karena
gejala awalnya mungkin dianggap berasal dari kehamilan. Penurunan berat badan
yang berhubungan dengan penyakit juga mungkin tertutupi oleh kenaikan berat
badan normal pada kehamilan
3. Efek TB terhadap kehamilan dipengaruhi oleh beberapa factor, termaksud tingkat
keparahan penyakit, umur kehamilan saat didiagnosis TB, adanya penyebaran
ekstrapulmoner, koinfeksi HIV dan pengobatan yang diberikan.
4. Etiologi tuberculosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis dan
sumber penularannya adalah penderita TB BTA positif pada saat batuk atau bersin
yang menyebabkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
5. Pasien suspek TB dapat dicurigai dengan melihat gejala respiratorik dan sistemik
dan diagnosis TB ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala-gejala fisik, kelainan
bakteriologis sputum sampai pemeriksaan radiologis .
6. Pengobatan TB pada ibu hamil pada prinsipnya tidak berbeda dengan pengobatan
TB pada umumnya. Hanya saja, streptomisis tidak boleh diberikan karena dapat
menyebabkan cacat bawaan pada janin. Prognosis pada umumnya baik apabila
pasien melakukan terapi sesuai dengan ketentuan pengobatan

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Subuh M., Priohutomo Sigit. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian


Tuberkulosis. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
2. Lukito F., Listyana T. 2012. Referat Tuberkulosis Pada Kehamilan. Jakarta:
Fakultas Kedikteran Unika Atmajaya. Di akses 15 januari 2016. URL:
https://www.scribd.com/mobile/doc/102837620/Referat-TB-Kehamilan
3. Kementrian Kesehatan RI. 2013. Pedoman Naional Pelayanan Kedokteran
Tatalaksana Tuberkulosis. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
4. Warouw N.N., Suryawan A. 2010. Manajemen TBC dalam Kehamilan. Manado:
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Diakses 25 Februari 2016. URL:
http://majour.maranatha.edu/index.php/jurnal-kedokteran/article/view/93/pdf
5. Dharmawan B.S., Setyanto D.B., Rinawati R. Diagnosis dan Tatalaksana
Neonatus dari Ibu Hamil Tuberkulosis Aktif. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Diakses 25 Februari 2016.
URL:nhttp://saripediatri.idai.or.id/pdfile/6-2-6.pdf
6. Humaira. 2013. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pasien
TuberkulosisParu dalam PencegahanPenularan Tuberkulosis Di Puskesmas
Tangerang Selatan Tahun 2013. Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
UIN Syarif Hidayatullah. Di akses 15 Januari 2016. URL:
https://reposiory.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/1234567889/25558/1/HUMAIRA
%2520-%2520FKIK.pdf
7. Putra Ogy A. 2012. Studi Kasus Mycobacterium Tuberculosis yang Resisten
terhadap Antibiotik Lini Pertama pada PasienTuberkulosis Di RSUP Fatmawati.
Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah.
Diakses 15 Januari 2015. URL:
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/26019/1/OGI
%2520ANDYKA%2520PUTRA-fkik.pdf

32
8. Darwel. 2012. Faktor-Faktor yang Berkorelasi terhadap Hubungan Kondisi
Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Di Sumatra
(Analisis Data Riskesdas 2010. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Program
Studi Pascasarjana Epidemiologi. Diakses 15 Januari 2016. URL:
http://lib.ui.ac.id/file%3Ffile%3Ddigital/20300435-T3041%250-%2520Faktor.pdf
9. Gunardi Harsya D. 2012. Hubungan Antara Faktor Jenis Kelamin dengan
Prevalensi Tuberkulosis Paru pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di RS.Cipto
Mangunkusumo pada Tahun 201. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Diakses 15 Januari 2016. URL:http://lib.ui.ac.id/file%3Ffile
%3Ddigital/20314761-S-Harsya%2520Dwindaru%2520Gunardi.pdf
10. Kementrian Kesehatan RI. 2013. Buku Kesehatan Peleyanan KesehatanIbu di
Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia.
11. Kementrian Kesehatan RI. 2014. Panduan Praktis Klinis bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer. Diakses 17 Januari 2016. URL:
http://www.idingada.org/wp-content/uploads/2015/05/Buku-Panduan-Praktik-
Klinis-bagi-Dokter-di-Fasilitas-Pelayanan-kesehatan-Primer-Sunaria.pdf

33