Anda di halaman 1dari 20

PRESENTASI KASUS

SKIZOAFEKTIF TIPE MANIK

Disusun oleh:
Fitrandirama Alfarici - 1610221124

Pembimbing:
dr. Galianti, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN VETERAN JAKARTA
RUMAH SAKIT JIWA DR. SOEHARTO HEERDJAN
Periode 6 Februari 11 Maret 2017
I. IDENTITAS PASIEN
Nama Lengkap : Nn. Cindy Vivian Latuperisa
Tempat dan Tanggal Lahir : Maluku, 18 Januari 1971
Umur : 45 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Belum Menikah
Pendidikan Terakhir : SMA
Pekerjaan : Tidak bekerja
Bangsa/Suku : Maluku
Agama : Kristen
Alamat : Cengkareng
Dokter yang Merawat : dr. Arundhati Aji, Sp.KJ
Tanggal Masuk RSJSH : 3 Februari 2017
Ruang Perawatan : Ruang rawat inap Melati
Rujukan/ Datang sendiri/ Keluarga : Diantar Keluarga

1
II. RIWAYAT PSIKIATRIK
Autoanamnesis
Tanggal 24 Februri 2017, pukul 16.30, di Ruang Melati Rumah Sakit Jiwa Soeharto
Heerdjan.
Tanggal 27 Februari 2017, pukul 10.00, di Ruang Melati Rumah Sakit Jiwa Soeharto
Heerdjan.
Tanggal 28 Februari 2017, pukul 17.00, di Ruang Melati Rumah Sakit Jiwa Soeharto
Heerdjan.
Alloanamnesis
Tanggal 28 Februari 2017, pukul 19.00, dilakukan dengan menggunakan telfon
Keluhan Utama
Pasien datang ke RS Jiwa Soeharto Heerdjan dibawa oleh keluarganya karena
gelisah, marah-marah, dan melempar-lemparkan barang sejak 5 hari sebelum masuk
RS.

A. Riwayat Gangguan Sekarang


Pasien merupakan Nn. C, seorang wanita, 46 tahun, belum menikah, saat ini
tidak bekerja, tinggal bersama ibu dan kakaknya, beragama kristen, dan berasal dari
Maluku. Pasien datang ke RS Jiwa Soeharto Heerdjan dibawa oleh keluarganya
karena gelisah, marah-marah, dan melempar-lemparkan barang sejak 5 hari sebelum
masuk RS.
Keluhan pertama kali dirasakan oleh keluarga pasien sejak 8 bulan yang lalu.
Saat itu, pasien baru saja ditinggal menikah oleh kekasihnya keluar negeri. Pasien
sebelumnya memiliki riwayat gangguan jiwa dan mengkonsumsi obat dengan teratur.
Mulai 8 bulan yang lalu, pasien tidak mau minum obat lagi sehingga perubahan sikap
mulai terlihat dalam diri pasien. Pasien menjadi lebih aktif berbicara, sering berbicara
sendiri, dan mengalami gangguan tidur. Keluhan dirasakan memburuk 5 hari sebelum
masuk RS. Menurut keluarga pasien, sejak 5 hari sebelum masuk RS, pasien sangat
aktif berbicara, sering berbicara sendiri, dan suka melempar semua barang-barang di
rumah sambil tertawa tanpa alasan yang jelas. Menurut keluarga pasien, akibat
aktivitasnya yang tinggi pasien menjadi mengalami gangguan tidur. Pada saat malam
hari, pasien lebih sering menghabiskan waktunya dengan aktif berbicara dan
melakukan aktivitas harian seperti memandikan anjingnya dan merapihkan rumah.

2
Pada saat wawancara pertama tanggal 24 Februari 2017 di Bangsal Melati,
pasien tampak sadar penuh, penuh tawa, kooperatif, dan pasien menjawab semua
pertanyaan dengan baik. Pasien tahu saat itu merupakan hari Jumat, dan pasien sedang
berada di RSJ Grogol. Pasien mengatakan tidak memiliki keluhan apapun dan hanya
ingin cepat keluar dari RS. Pasien mengatakan tidak memiliki gangguan makan dan
tidur selama berada di RS Jiwa Soeharto Heerdjan. Menurut pasien, dia tidak pernah
melihat bayangan atau sosok aneh selama ini, begitupun mendengar suara-suara yang
tidak dikenalinya.
Pada saat wawancara selanjutnya, pasien mengatakan bahwa sebelum masuk
ke RS, dirinya merupakan tenaga pengajar di salah satu sekolah di Jakarta. Pasien
mengatakan dirinya merupakan pendeta dan memiliki banyak jamaat di gerejanya.
Menurut pasien ayahnya merupakan seorang pendeta yang hebat, hal itu diwariskan
oleh ayahnya kepada dirinya dengan menjadi pendeta yang banyak didengar oleh
masyarakat. Pasien mengatakan bahwa kekasihnya merupakan pendeta ternama di
Amerika. Menurut pasien, pasien pernah bertemu dengan Tuhan Yesus di Yogyakarta
beberapa tahun yang lalu. Menurut pasien, saat itu Tuhan Yesus tidak mengatakan
apapun dan hanya diam tersenyum kepadanya. Pasien mengatakan beberapa kali
pernah bertemu dengan Tuhan Yesus, namun saat ini sudah tidak pernah bertemu lagi.
Pasien mengatakan bahwa Tuhan Yesus dapat membaca pikirannya dan menjawab
pertanyaan yang dia pikirkan dengan suara-suara yang menggema yang bisa dia
dengar. Suara itu timbul tidak tentu, berupa suara lelaki yang dikenali sebagai Tuhan
Yesus, suara tersebut berisikan nasehat untuk berbuat baik bagi pasien dan tidak
pernah menyuruh pasien melakukan seuatu. Menurut pasien, saat ini pasien sudah
tidak bisa mendengar suara itu lagi, dan terakhir mendengar beberapa minggu lalu
saat masih berada di rumah.
Menurut pasien, sesekali pasien merasa sesak saat melakukan aktivitas terus
menerus. Sesak dirasakan hilang timbul dan hilang jika pasien mau beristirahat.
Menurut keluarga pasien, sejak keluhan pertama kali dirasakan saat usia pasien 20
tahun pasien sudah tidak bekerja kembali. Sebelum 8 bulan lalu, pasien bisa
melakukan pekerjaan rumah dengan baik seperti menyapu, mengepel, dan mengurus
hewan peliharaannya.

3
B. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatrik
Menurut keterangan ibu pasien, pasien sudah lebih dari tiga kali di rawat di
RSJSH. Keluhan pertama kali dirasakan 20 tahun yang lalu. Sebelumnya pasien
dikenal sebagai anak yang pintar dan berprestasi selama duduk dibangku sekolah.
Pasien juga memiliki banyak teman dan memiliki interaksi sosial yang baik dengan
tetangga dan juga kerabat. Pada saat 20 tahun yang lalu, pasien ditinggal oleh
kekasihnya. Hal ini membuat perubahan dalam diri pasien. Pasien terlihat menjadi
lebih sering berbicara dan melakukan banyak aktivitas, sesekali keluarga menemukan
pasien berbicara sendiri. Pasien sering membanting barang sambil tertawa-tawa
sendiri, hal ini membuat keluarga membawanya ke RSJSH dan dirawat selama kurang
lebih 15 hari.
Sampai tahun 2012, menurut keluarga keadaan pasien terlihat lebih stabil. Pasien
mengkonsumsi obatnya dengan teratur. Pasien terkadang masih berbicara sendiri,
namun hal ini tidak sering terlihat. Pada tahun 2012, pasien kembali menunjukkan
gejala yang sama. Hal ini disebabkan ayah pasien meninggal. Menurut keluarga
semenjak kejadian tersebut pasien menjadi lebih sering berbicara sendiri, pasien
merasa dirinya ialah pendeta hebat penerus ayahnya. Hal ini membuat pasien kembali
dirawat di RSJSH selama 15 hari. Setelah itu, keadaan pasien kembali stabil.
Kurang lebih 8 bulan yang lalu, pasien ditinggal menikah oleh pacarnya ke
Amerika. Hal ini membuat pasien menghentikan pengobatannya dan menjadi sering
berteriak-teriak sendiri dan membanting-banting barang. Menurut keluarga, pasien
tidak pernah berada dalam keadaan kehilangan minat dan semangat untuk melakukan
aktivitasnya. Pasien tidak pernah menyendiri dan melamun. Sesekali pasien
menunjukkan rasa sedih, namun dalam waktu singkat pasien kembali bersemangat.
2. Riwayat Gangguan Medik
Pasien tidak pernah mengalami sakit berat saat kecil, tidak pernah dirawat di
rumah sakit dan dioperasi sebelumnya karena keluhan medis. Pasien tidak pernah
kejang sebelumnya. Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan atau trauma pada
kepala yang menyebabkan pasien pingsan atau mengalami penurunan kesadaran. Saat
ini pasien juga tidak memiliki riwayat demam, diabetes mellitus, sakit kuning,
ataupun riwayat sakit ginjal sebelumnya. Pasien memiliki riwayat keluarga hipertensi
dan gangguan jantung. Saat ini tekanan darah pasien berada pada border line.

4
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif
Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan NAPZA dan konsumsi alkohol
serta merokok sebelumnya.

4. Riwayat Gangguan Sebelumnya

Tingkat Keparahan Gangguan

3 Feb
1996 2017
2013

2012 8 bulan
lalu

1995

Waktu

A 2010 B C D E F G H I

Keterangan :
A : Saat pasien dalam kondisi baik dan tidak terlihat gejala apapun
B : Awal mula pasien mengalami manik disertai keluhan sering berbicara sendiri
C : Puncak episode ditandai dengan perburukan keadaan pasien yang suka melempar
barang-barang di rumahnya. Pasien dirawat di RSJSH
D : Fase predromal, pasien stabil namun sesekali masih terlihat berbicara sendiri
E : Pasien menjadi hipomanik
F : Puncak episode ditandai dengan perburukan keadaan pasien yang berteriak-teriak
gaduh di rumah. Pasien dirawat di RSJSH
G : Fase predromal, pasien stabil namun sesekali masih terlihat berbicara sendiri
H : Kenaikan aktivitas pasien menjadi hipomanik
I : Puncak episode ditandai dengan perburukan keadaan pasien yang suka melempar
barang-barang di rumahnya. Pasien dirawat di RSJSH

5
1995
- Pasien putus cinta dengan pacar
- Pasien menjadi hipomanik
- Mulai ada gangguan tidur
- Sesekali terlihat sedang berbicara sendiri
1996
- Keluhan sebelumnya dirasa memberat
- Pasien sering berteriak gaduh dan melempar barang-barang
- Pasien sering berbicara sendiri sambil tertawa dengan volume keras
- Pasien sudah tidak bekerja
- Pasien dirawat di RSJSH
1997-2012
- Pasien berobat jalan di RSJSH
- Pasien teratur minum obat
- Sesekali pasien tampak sedih, namun kembali ceria lagi sesaat kemudian
- Pasien sesekali masih terlihat sedang berbicara sendiri
2012
- Ayah pasien meninggal
- Pasien mulia sering mengatakan bisa melihat Tuhan Yesus
- Pasien merasa dirinya adalah pendeta hebat
- Pasien berhenti melakukan kontrol rutin dan konsumsi obat
2013
- Pasien sering berteriak-teriak dengan suara keras
- Pasien merasa dirinya ialah pendeta hebat dan sering seolah-olah sedang memberikan
ceramah kepada jemaat
- Pasien di rawat di RSJSH
- Pasien mengalami sulit tidur
2013-2016
- Pasien tidak pernah berteriak-teriak lagi
- Sesekali terlihat masih berbicara sendiri
- Pasien kembali konsumsi obat dan kontrol rutin dengan teratur

6
2017
- Pasien ditinggal menikah dengan pacarnya
- Pasien berhenti konsumsi obat dan kontrol rutin
- Halusinasi visual dan auditorik semakin jelas
- Waham kebesaran sangat jelas
- Sering berteriak-teriak dan melempar barang

B. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir spontan, ditolong oleh bidan. Pasien lahir dalam keadaan sehat
dan langsung menangis. Riwayat komplikasi kelahiran, trauma, dan cacat bawaan
disangkal.
2. Riwayat Perkembangan Fisik
Tidak ada kelainan atau pun keterlambatan dalam perkembangan fisik pasien
sejak pasien masih bayi, hingga saat ini.
3. Riwayat Perkembangan Kepribadian
a. Masa Kanak Awal ( 0 3 tahun )
Masa ini dilalui dengan baik. Pasien tergolong anak yang sehat, dengan
proses tumbuh kembang dan tingkah laku sesuai anak seusianya. Pasien tidak
pernah mengalami sakit yang serius atau sakit berat, dan tidak pernah mengalami
kejang atau trauma kepala saat kecil.
b. Masa Kanak Pertengahan ( 3 11 tahun )
Menurut ibu pasien, perkembangan pasien baik pada usia ini, pasien dapat
bersekolah dengan baik dan dapat mengikuti pelajaran di sekolahnya dengan baik,
sering ada teman yang main ke rumah.
c. Masa Kanak Akhir ( Pubertas dan Remaja )
Secara umum perkembangan kepribadian pasien di usia ini cukup baik.
Pasien memiliki banyak teman dan tidak pernah mengalami masalah dengan
kerabat ataupun teman-temannya
d. Masa Dewasa
Pasien merupakan orang yang terubuka, jika pasien ada masalah pasien
suka bercerita. Pasien memiliki banyak teman dan bisa beraktivitas dengan baik.

7
4. Riwayat Pendidikan
Pasien menjalani pendidikan hingga kuliah namun tidak sampai selesai. Saat
menempuh pendidikan pasien tidak pernah tidak naik kelas.
5. Riwayat Pekerjaan
Pasien pernah bekerja sebagai pegawai swasta disuatu perusahaan, namun
hanya 3 bulan setelah itu pasien berhenti bekerja. Selanjutnya pasien tidak pernah
bekerja lagi, dan hanya membantu pekerjaan rumah sehari-hari.
6. Kehidupan Beragama
Pasien beragama Kristen, pasien merupakan penganut agama yang taat karena
dibesarkan di lingkungan keluarga yang mayoritas pedeta. Pasien pernah masuk
sekolah agama.
7. Kehidupan Perkawinan/ Psikoseksual
Pasien belum pernah menikah. Menurut keterangan keluarga, pasien sudah
pernah menjalin hubungan sebanyak 2 kali dan pasien sempat ditinggal oleh pacarnya
2 kali. Pasien sudah merencanakan pernikahan, namun pacarnya meninggalkannya ke
Amerika dan menikah dengan wanita lain.
8. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak pernah berurusan dengan aparat penegak hukum, dan tidak
pernah terlibat dalam proses peradilan yang terkait dengan hukum.
9. Riwayat Sosial
Pasien mengaku bahwa hubungan pasien dengan keluarganya baik. Menurut
pasien, kakak dan adik-adiknya sangat menyayanginya. Saat ini pasien tinggal dengan
ibu kandungnya. Pasien sudah tidak bekerja lagi, tapi masih menjalin interaksi sosial
yang baik dengan tetangga dan kerabat sekitar. Pasien beberapa kali memiliki teman
dekat dan sudah ada rencana untuk menikah.

8
C. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak keempat dari enam bersaudara. Pasien saat ini tinggal
dengan ibu kandungnya.
Genogram Keluarga:

: Laki-laki

: Perempuan

: Pasien

: Sudah meninggal

: hipertensi

: Tinggal serumah

D. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya


Pasien mengakui dirinya sedang sakit sehingga harus dirawat di RS, namun pasien
tidak menyadari dan mengakui dirinya mengalami gangguan jiwa. Pasien
beranggapan dirinya sakit fisik (sakit tenggorokan dan sesak). Pasien masih
beranggapan dirinya memiliki seorang kekasih yang sedang menunggunya untuk
segera pulang karena akan melangsungkan pernikahan di Amerika. Pasien
beranggapan bahwa melihat Tuhan Yesus dan mendengar suara Tuhan Yesus
9
merupakan hal yang wajar bisa dilakukan oleh semua orang. Pasien juga masih
beranggapan dirinya adalah seorang pendeta yang memiliki banyak jemaat yang akan
mendengarkan semua perkatannya.

III. STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien seorang perempuan, usia 46 tahun, tampak sesuai dengan usianya,
mengenakan kaos warna coklat muda. Pasien tampak rapi dan terawat.
2. Kesadaran
Kesadaran: Compos mentis, pasien tampak sadar penuh saat dilakukan wawancara.
3. Perilaku dan Aktivitas Motorik
a. Sebelum Wawancara
Pasien duduk dipelataran bersama pasien-pasien yang lain.
b. Selama Wawancara
Pasien duduk dengan tenang di hadapan pemeriksa. Pasien menatap wajah
pemeriksa saat diajak berbicara dan bisa mempertahankannya. Tidak terdapat
perlambatan gerakan, kejang, maupun kekakuan gerakan. Semua pertanyaan dapat
dijawab dengan baik oleh pasien.
c. Sesudah Wawancara
Pasien menjabat tangan pemeriksa saat diminta bersalaman untuk mengakhiri
percakapan, lalu tetap duduk selama kurang lebih 1 menit dan kemudian pasien
berjalan ke kamar untuk tiduran kembali.
4. Sikap Terhadap Pemeriksa
Pasien bersikap kooperatif.
5. Pembicaraan
a. Cara berbicara: Pasien menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan jelas.
Bicara pasien spontan, artikulasi jelas, intonasi datar, dan volume keras.
b. Gangguan berbicara: Tidak terdapat hendaya atau gangguan berbicara.

10
B. Alam Perasaan (Emosi)
1. Mood : Euthym
2. Afek : Luas
3. Keserasian : Serasi

C. Gangguan Persepsi
a) Halusinasi : Auditorik (+), visual (+)
b) Ilusi : Tidak ada
c) Depersonalisasi : Tidak ada
d) Derealisasi : Tidak ada

D. Fungsi Intelektual
1. Taraf Pendidikan SMA
2. Pengetahuan Umum Baik (Pasien mengetahui nama-nama daerah di Indonesia)
3. Kecerdasan Baik (Pasien selalu menempati peringkat 5 teratas selama
sekolah)
4. Konsentrasi dan Konsentrasi baik, perhatian baik (pasien dapat menghitung
Perhatian 100-7, dan seterusnya)
5. Orientasi Baik (pasien dapat membedakan pagi, siang, dan malam
- Waktu dan pasien dapat mengetahui hari saat wawancara)

- Tempat Baik (pasien mengetahui ia berada di RSJSH)

- Orang Baik (pasien mengetahui sedang diwawancara oleh dokter


muda dan mengenal perawat yang sebelumnya
mewawancarai)
6. Daya Ingat
- Jangka Baik (pasien dapat mengingat tempat sekolah pasien dan
Panjang mengingat dimana dia dilahirkan)
- Jangka Baik (pasien mengingat naik kendaraan apa saat ke
Pendek RSJSH)
- Segera baik (pasien dapat mengingat nama benda-benda yang
disebutkan)

11
7. Pikiran Abstrak Baik (pasien dapat mendeskripsikan mengenai persamaan
bola dan jeruk)
8. Visuospasial Baik (pasien mampu cerita dari ruangan mana tadi ia
berjalan)
9. Kemampuan Baik (pasien dapat makan, mandi, dan berpakaian sendiri)
Menolong Diri

E. Proses Pikir
1. Arus Pikir
a. Produktifitas : Cukup ide
b. Kontinuitas : Koheren
c. Hendaya Bahasa : Tidak ada
2. Isi Pikir
a. Preokupasi : Tidak ada
b. Waham : Ada (waham kebesaran)
c. Obsesi : Tidak ada
d. Fobia : Tidak ada
F. Pengendalian Impuls
Baik (saat diwawancara pasien tampak tenang dan kooperatif).
G. Daya Nilai
Daya Nilai Sosial
Baik (Pasien tidak pernah melakukan kekerasan kepada teman-temannya selama di
ruangan, pasien juga bersikap baik kepada perawat dan dokter, dan membuang
sampah bekas makanannya ke tempat sampah).
Uji Daya Nilai
Baik (pasien mengatakan bila ia menemukan dompet di jalan, ia akan mengembalikan
dompet tersebut kepada pemiliknya).
Daya Nilai Realita
Terganggu (terdapat halusinasi dan waham pada pasien).
H. Tilikan
Derajat 1 = Pasien tidak menyadari dan mengakui dirinya sedang mengalami
gangguan
I. Reliabilitas : Dapat dipercaya

12
IV. STATUS FISIK
A. Status Internus
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis

Tanda Vital
Tekanan Darah : 130/90 mmHg
Nadi : 80x/ menit
Suhu : 36,5 oC
Pernafasan : 20x/ menit

Kulit : sawo matang , ikterik (-), sianosis (-), turgor baik,


kelembaban normal,.efloresensi primer/sekunder (-)
Kepala : Normocephali, rambut warna hitam, panjang dan ikal,
distribusi merata
Mata : Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks
cahaya tidak.langsung +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera
ikterik -/-,
Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung
(-), sekret -/-, epiktasis (-)
Telinga : Bentuk normal, Sekret -/-, nyeri tekan -/-.
Mulut : Bibir merah muda, lembab, sianosis (-), trismus (-),
Lidah : Normoglossia, warna merah, lidah kotor (-).
Gigi geligi : Karies dentis (-)
Uvula : Letak di tengah, hiperemis (-)
Tonsil : T1/T1, tidak hiperemis
Tenggorokan : Faring tidak hiperemis
Leher : KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak teraba .
membesar.

13
Thorax
Paru
Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris dalam keadaan statis maupun
dinamis, efloresensi primer/sekunder dinding dada (-), pulsasi abnormal (-), gerak
napas simetris, irama teratur, retraksi suprasternal (-).
Palpasi : Gerak napas simetris, vocal fremitus simetris
Perkusi : Sonor pada semua lapangan paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler pada seluruh lapang paru

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : S1 S2 reguler, murmur -, gallop
Abdomen
Inspeksi : Tampak membuncit, efloresensi (-)
Auskultasi : Bising usus (+)
Perkusi : Timpani pada keempat kuadran abdomen, shifting dullness (-),
nyeri ketuk CVA (-)
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba membesar,
balotemen (-)
Ekstremitas
- Atas : Akral hangat, CRT < 2 detik, sianosis (-), edema (-)
- Bawah : Akral hangat, CRT < 2 detik, sianosis (-), edema (-)
Genitalia : Tidak diperiksa karena tidak ada indikasi

B. Status Neurologis
1. Saraf kranial (I-XII) : Baik
2. Tanda rangsang meningeal : Tidak ada
3. Refleks fisiologis : (+) normal
4. Refleks patologis : Tidak ada
5. Motorik : Baik
6. Sensorik : Baik
7. Fungsi luhur : Baik

14
8. Gangguan khusus : Tidak ada
9. Gejala EPS : Akatisia (-), bradikinesia (-), rigiditas (-), tonus otot
(N), tremor (-), distonia (-), disdiadokokinesis (-)

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pasien dibawa ke RSJSH oleh keluarganya, sering berteriak-teriak dan
membanting barang di rumah. Menurut keluarga pasien pasien, pasien sudah tiga kali
di rawat di RSJSH, pasien mulai mengalami keluhan sejak 20 tahun yang lalu. Awal
keluhan dirasakan karen pasien putus dengan kekasihnya. Hal ini membuat pasien jadi
aktif berbicara dan kadang tidak tidur karena melakukan banyak aktivitas. Puncaknya
pasien membanting barang-barang dirumah sambil berteriak-teriak dan berbicara
sendiri. Pasien dirawat di RSJSH selama kurang lebih 15 hari. Setelah itu kondisi
pasien membaik, pasien rutin kontrol dan minum obat dengan teratur. Sesekali
keluarga mendapati pasien berbicara sendiri, namun intensitasnya tidak sering.
Pada tahun 2012, ayah pasien meninggal. Hal ini membuat pasien
menghentikan pengobatannya. Sejak saat itu, pasien merasa dirinya ialah pendeta
hebat penerus ayahnya. Pasien mulai bercerita pernah melihat Tuhan Yesus beberapa
kali. Menurut pasien, melihat Tuhan Yesus ialah kemampuan yang wajar yang
dimiliki setiap manusia yang taat beribadah. Pasien mengatakan pikirannya bisa
dibaca oleh Tuhan Yesus. Dan Tuhan Yesus akan menjawab pertanyaannya dengan
suara-suara yang bisa didengar pasien. Pasien lalu dirawat pada tahun 2013, setelah
itu pasien rutin minum obat dan bisa beraktivitas seperti biasa. Interaksi sosial pasien
baik, pasien memiliki seorang kekasih dan sudah berencana untuk menikah.
Pada tahun 2016, pasien ditinggal oleh kekasihnya. Hal ini membuat pasien
menghentikan pengobatannya. Halusinasi dan waham semakin jelas terlihat, hingga
puncaknya pasien berteriak-teriak dirumah dan melemparkan semua barang-barang di
rumahnya.

15
VII. FORMULASI DIAGNOSTIK
Gangguan jiwa adalah suatu kelompok gejala yang secara klinis ditemukan bermakna dan
yang disertai distress dan disfungsi.
Aksis I: Gangguan Klinis dan Kondisi Klinis yang Menjadi Fokus Perhatian
Khusus
Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, maka kasus ini dapat digolongkan
kedalam:
1. Gangguan kejiwaan karena adanya:
Gangguan/hendaya dan disabilitas: hendaya dalam fungsi sosial, pasien sering
berteriak-teriak sambil tertawa keras tanpa alasan. Pasien melemparkan semua
barang yang ada didepannya.
Distress/penderitaan: Waham kebesaran, halusinasi auditorik, dan halusinasi
visual.
2. Gangguan merupakan gangguan fungsional karena :
Tidak ada gangguan kesadaran neurologis.
Tidak disebabkan oleh gangguan medik umum (penyakit metabolik, infeksi,
penyakit vaskuler, neoplasma).
Tidak disebabkan oleh penyalahgunaan zat psikoaktif.
3. Gangguan skizoafektif tipe manik karena ;
Ditemukan adanya skizofrenia dan gangguan afektif yang sama-sama
menonjol pada saat yang bersamaan
Afek meningkat secara menonjol
Memenuhi satu atau dua ciri skizofrenia yang khas
- adanya thought broadcasting dimana pasien merasa pikirannya bisa
dibaca oleh Tuhan Yesus
- halusinasi auditorik, dimana pasien mendengar suara Tuhan yesus
- adanya waham kebesaran yang menetap jelas
- adanya halusinasi visual, dimana pasien bisa melihat adanya Tuhan Yesus

Aksis II : Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental


Ciri kepribadian pasien perlu dilakukan eksplorasi lebih jauh, karena pada
autoanamnesis dan alloanamnesis tidak dapat disimpulkan ciri kepribadian pasien.
Pasien tidak memiliki retardasi mental, dibuktikan dengan tidak terdapat

16
keterlambatan belajar berbicara, berjalan, dan berinteraksi dengan teman sebaya sejak
ia masih kanak-kanak.

Aksis III : Kondisi Medis Umum


Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan neurologis tidak ditemukan kelainan.

Aksis IV: Problem Psikososial dan Lingkungan


o Masalah dengan keluarga: tidak ada
o Masalah dengan lingkungan sosial : tidak ada
o Masalah ekonomi : Tidak ada
o Masalah akses ke pelayanan kesehatan : Tidak ada
o Masalah denga relasi (kekasih) : ada

Aksis V: Penilaian Fungsi Secara Global


GAF current : 60-51 (Gejala sedang, disabilitas sedang)
GAF HPLY : 70-61 (beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam
fungsi, secara umum masih baik)

VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL


Aksis I : F25.0 Gangguan Skizoafektif Tipe Manik
Aksis II : perlu eksplorasi lebih lanjut
Aksis III : Tidak ada
Aksis IV : Masalah dengan relasi
Aksis V : GAF Current: 60-51
GAF HPLY : 70-61

IX. DAFTAR MASALAH


A. Organobiologi : Tidak ditemukan kelainan organic pada pasien dan tidak
ditemukan factor herediter pada pasien.
B. Psikologik : terdapat halusinasi auditorik dan visual, waham kebesaran,
perilaku berbicara kacau dan marah-marah.
C. Sosial dan Lingkungan : hubungan dengan relasi (kekasih) yang buruk

17
X. PROGNOSIS
Quo ad vitam : Bonam (tidak ada tanda gangguan mental organik ataupun
kondisi medis lain yang menyertai)
Quo ad functionam : Dubia ad bonam (selama pasien meminum obat dengan dosis
yang tepat, gejalanya akan terkontrol sehingga pasien dapat
melakukan kegiatannya seharihari).
Quo ad sanationam : Dubia ad malam (pasien tidak menyadari dirinya sakit dan tidak
menyadari bahwa meminum obat ialah suatu kebutuhan baginya)

Faktor-faktor yang mempengaruhi


a. Faktor yang Memperingan:
Masih adanya dukungan dari keluarga untuk merawat pasien.
b. Faktor Yang Memperberat:
Masalah psikososial.

XI. PENATALAKSANAAN
1. Rawat Inap
Dengan indikasi:
Mengganggu kenyaman lingkungan tempat tinggalnya
Untuk observasi lebih lanjut
2. Psikofarmaka
Quetiapine (Seroquel) 2x400 mg
Quetiapine adalah salah satu first-line treatment pada pasien dengan gejala
psikosis. Quetiapine merupakan obat antipsikotik generasi 2 atau antipsikotik
atipikal, yang bekerja sebagai antagonis reseptor serotonin (terutama 5HT2A)
sehingga efektif juga untuk gejala negatif dan reseptor dopamine D2. Efek sedasi
pada quetiapine lebih tinggi bila dibandingkan dengan risperidon. Untuk efek
samping EPS, quetiapine memiliki efek yang lebih rendah dibandingkan dengan
risperidon.
Asam valproat (Depakote) 1x500 mg
Asam valproat ada obat mood stabilizer. Asam valproat diketahui dapat
menginhibisi voltage-sensitive sodium channels sehingga dapat meningkatkan
aktivitas neurotransmiter GABA sehingga meningkatkan aktivitas inhibisi GABA.

18
Asam valproat diketahui juga dapat menginhibisi voltage-sensitive calcium
channels sehingga akan menghambat aktivitas eksitasi Glutamat.
3. Edukasi kepada pasien dan keluarga
Dilakukan edukasi pada pasien dan keluarganya mengenai penyakit yang dialami
pasien, gejala yang mungkin terjadi, rencana tatalaksana yang diberikan, pilihan obat,
efek samping pengobatan dan prognosis penyakit.
4. Psikoterapi
Psikoterapi suportif kepada pasien
Sugesti: Menanamkan kepada pasien bahwa gejala-gejala gangguannya akan
hilang atau dapat dikendalikan.
Pendekatan Cognitive-Behavioral : Tujuan dari cognitive behavioral adalah
untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam kemampuan menyelesaikan
masalah, kemampuan berkomunikasi, kontrol impuls dan emosi
Edukasi pada keluarga pasien
Melibatkan keluarga dalam pemulihan, dengan memberikan pengarahan
kepada keluarga agar tetap memberi dukungan untuk perbaikan pasien.
Edukasi keluarga tentang pentingnya mengawasi dan ikut serta dalam
mendisiplinkan pasien untuk mengkonsumsi obat yang diberi dan kontrol
rutin setelah pulang dari rumah sakit untuk memperbaiki kualitas hidup
pasien.
5. Sosioterapi
Menganjurkan pasien untuk mau bersosialisasi dengan pasien lain dan
berolahraga bersama.

19