Anda di halaman 1dari 9

1

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING


UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF
SISWA KELAS X-H MAN MALANG 1

Nurul Azizah(1), Sutarman, dan Chusnana


Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Malang
(1)
email: viastz_minerva_cweet@yahoo.com

ABSTRAK: Berdasarkan fakta ditemukan bahwa terdapat pemasalahan


kemampuan kognitif bagi siswa kelas X-H MAN Malang 1. Hal ini terlihat dari
rata-rata nilai siswa pada ulangan harian pertama untuk ranah kognitif yaitu 68,5
dan masih banyak siswa (67%) yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah. KKM yang ditetapkan MAN Malang 1
untuk mata pelajaran Fisika adalah 75. Salah satu model pembelajaran yang dapat
memperbaiki proses pembelajaran di kelas X-H tersebut adalah model inkuiri
terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif
siswa mulai dari ranah C1 sampai dengan C6. Kemampuan kognitif tersebut dapat
dilihat dari hasil tes kemampuan kognitif yaitu mulai dari ranah C1 sampai
dengan C6. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, tiap siklus dilaksanakan
dalam dua kali pertemuan. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-H MAN
Malang 1 tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah 30 siswa. Pengumpulan data
pada penelitian ini dilakukan melalui pemberian tes kemampuan kognitif dalam
bentuk pilihan ganda dan uraian serta lembar observasi keterlaksanaan
pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran
fisika model inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa
kelas X-H MAN Malang 1. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh persentase
rata-rata keterlaksanaan pembelajaran mengalami peningkatan dari 86,2%
menjadi 97,4%. Hasil belajar siswa pada aspek kognitif pada siklus I siswa yang
lulus KKM sebesar 77% dan meningkat menjadi 90% pada siklus II. Persentase
peningkatan kemampuan kognitif siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu ranah
pengetahuan (C1) mengalami peningkatan persentase dari 89,85% menjadi 90%,
ranah pemahaman (C2) juga mengalami peningkatan persentase dari 85,85%
menjadi 93,15%, ranah penerapan (C3) mengalami peningkatan persentase dari
78,25% menjadi 81,1%, ranah analisis (C4) mengalami peningkatan persentase
dari 83% menjadi 97%, ranah evaluasi (C5) mengalami penurunan persentase dari
79% menjadi 76,5%, dan ranah mencipta (C6) mengalami peningkatan persentase
dari 73% menjadi 80%.
Kata Kunci : Pembelajaran Inkuiri Terbimbing, Kemampuan Kognitif.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru fisika kelas X MAN Malang 1,


diperoleh informasi bahwa hasil belajar fisika aspek kognitif masih rendah yang
dapat dilihat dari banyaknya siswa yang memperoleh nilai di bawah Kriteria
2

Ketuntasan Minimal (KKM).pada saat ulangan harian. Nilai KKM untuk mata
pelajaran fisika di MAN Malang 1 adalah 75. Berdasarkan hasil yang diperoleh
siswa ketika ulangan harian jumlah siswa yang memenuhi ketuntasan belajar
berdasarkan nilai KKM yaitu 11 siswa dari 30 siswa dengan persentase sebesar
37% dan nilai rata-rata kelas sebesar 68,5. Hal ini menunjukkan hasil belajar
fisika aspek kognitif masih rendah karena belum memenuhi KKM yang
ditetapkan oleh sekolah.
Seorang pendidik perlu menerapkan sebuah metode yang mengarahkan
siswa untuk berperan aktif dan menggali potensi yang ada pada dirinya sendiri,
sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan-keterampilan tertentu
seperti keterampilan dalam menyelesaikan masalah, keterampilan mengambil
keputusan, keterampilan dalam menganalisis data, berpikir secara logis dan
sistematis dan mampu meningkatkan hasil belajar kognitifnya. Salah satu metode
pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa untuk menemukan konsepnya
sendiri adalah dengan metode inkuiri terbimbing (guided inquiry). Di dalam
pembelajaran inkuiri terdapat proses-proses mental, yaitu merumuskan masalah,
membuat hipotesis, mendesain eksperimen, melakukan eksperimen,
mengumpulkan data dan menganalisis data serta menarik kesimpulan.
Amri (2010: 95) menyatakan bahwa pada prinsipnya, keseluruhan proses
pembelajaran selama menggunakan metode inkuiri membantu siswa menjadi
mandiri, percaya diri dan yakin pada kemampuan intelektualnya sendiri untuk
terlibat secara aktif. Menurut Sanjaya (2008:165) menyatakan bahwa semakin
konkret siswa mempelajari bahan pengajaran, contohnya melalui pengalaman
langsung, maka semakin banyaklah pengalaman yang diperolehnya. Sebaliknya
semakin abstrak siswa memperoleh pengalaman, contohnya hanya mengandalkan
bahasa verbal, maka semakin sedikit pengalaman yang akan diperoleh siswa.
Tahap-tahap pembelajaran inkuiri yaitu (1) orientasi, siswa diberi
pengetahuan awal mengenai materi yang akan dipelajari dan guru melakukan
demonstrasi untuk menarik minat siswa mengikuti pelajaran, (2) merumuskan
masalah, siswa diminta untuk membuat pertanyaan berdasarkan demonstrasi yang
dilakukan guru, (3) merumuskan hipotesis, siswa membuat hipotesis atau dugaan
sementara berdasarkan pertanyaan awal yang mereka ajukan, (4) pengumpulan
3

data, siswa melakukan eksperimen untuk membuktikan apakah hipotesis yang


mereka rumuskan benar atau salah, (5) Pengujian hipotesis, dari data eksperimen
yang telah diperoleh, guru membimbing siswa untuk menguji kebenaran hipotesis,
(6) membuat kesimpulan, guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan
hasil pembelajaran yang telah dilakukan.
Menurut Bloom (dalam Hamsa: 2012) kemampuan kognitif adalah
kemampuan yang melibatkan pengetahuan dan perkembangan keterampilan dan
intelaktual siswa. Kemampuan ini dapat diukur dari tingkat penguasaan siswa
terhadap materi fisika yang telah dipelajari melalui hasil tes selama proses
pembelajaran berlangsung dan di akhir pembelajaran.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena memenuhi
karakteristik penelitian kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
Kelas (classroom action research) yang ditekankan pada penerapan pembelajaran
inkuiri terbimbing untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Penelitian ini
dilaksanakan di MAN Malang 1 yang terletak di Jl. Baiduri Bulan No. 40
Malang. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas X-H yang berjumlah 30
siswa, terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 20 perempuan. Pada proses pengambilan
data, peneliti bertugas mengamati dan menganalisis jalannya pembelajaran di
kelas. Teman sejawat berperan sebagai pelaksana proses pembelajaran di kelas.
Peneliti dan teman sejawat sebelumnya berdiskusi untuk menyamakan persepsi
tentang pembelajaran dan penelitian yang dilaksanakan dan dilakukan pembagian
tugas yang akan dikerjakan.
Penelitian tindakan kelas ini, ditiap siklusnya terdiri dari 4 fase, yaitu
rencana (planning), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi
(reflection) dalam 2 siklus, dimana tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan
perubahan yang ingin dicapai. Pada tahap awal dilakukan studi pendahuluan
untuk mengidentifikasi permasalahan. Proses identifikasi masalah dilakukan
dengan observasi kelas dan wawancara dengan guru kelas. Instrumen yang
digunakan adalah perangkat pembelajaran yang berupa RPP, LKS, lembar
4

observasi keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing dan soal tes


kemampuan kognitif C1 sampai C6 berupa soal pilihan ganda dan uraian.
Analisis data pada penelitian ini bersifat kualitatif (berbentuk kalimat yang
menjelaskan aktivitas siswa dan guru), dan kuantitatif (berupa angka untuk
keterlaksanaan proses pembelajaran dan kemampuan kognitif siswa). Data yang
diperoleh disederhanakan melalui seleksi pemfokusan dan pengabstraksian data
mentah menjadi informasi yang bermakna. Data yang sudah diklasifikasikan dan
disederhanakan, dideskripsikan dalam bentuk kata-kata yang bermakna. Data
yang telah diorganisir ditarik kesimpulan dalam bentuk pernyataan kalimat yang
singkat dan mengandung pengertian luas.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Paparan Data
Setelah semua proses pengumpulan dan analisis data, maka diperoleh hasil
penelitian. Pada penelitian kali ini, hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk
kolom ringkas yang berisi tentang semua informasi dari hasil observasi.

Data Keterlaksanaan Pembelajaran dengan Model Inkuiri Terbimbing Pada Siklus I dan
Siklus II
Siklus
Kenaikan
No. Tahap Pembelajaran I II
(%) (%) (%)
1. Orientasi 87,5 100 12,5
2. Merumuskan masalah dan 85 95 10
Mengajukan Hipotesis
3. Mengumpulkan Data 79,2 96 16,7
4. Menguji hipotesis 91,7 96 4,2
5. Menyimpulkan Pembelajaran 87,5 100 25
Rata-rata 86,2 97,4 -

Data Kemampuan Kognitif Siswa Pada Siklus I dan Siklus II


Persentase Kemampuan
Kognitif Peningkatan
No. Ranah Kognitif
Siklus I Siklus II
(%) (%) (%)
1. Pengetahuan (C1) 89,85 90 0,15
2. Pemahaman (C2) 85,85 93,15 7,3
3. Penerapan (C3) 78,25 81,1 2,85
4. Analisis (C4) 83 97 14
5. Evaluasi (C5) 79 76,5 -3,5
6. Mencipta (C6) 73 80 7
5

Data Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II


Nilai Siswa Siklus I Siklus II
Nilai 75 (belum tuntas) 7 3
Nilai 75 (tuntas) 23 27
Ketuntasan Belajar Klasikal 77% 90%

Pembahasan
Keterlaksanaan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Berdasarkan temuan penelitian, pelaksanaan pembelajaran dengan inkuiri
terbimbing siswa kelas X-H MAN Malang 1 mengalami peningkatan secara
bertahap. Pada siklus I, peserta didik masih kaku/ takut dalam mengajukan
pertanyaan dan bertanya karena peserta didik takut jika pertanyaan atau jawaban
dari pertanyaan tersebut salah, peserta didik kebingungan dalam membuat
hipotesis karena mereka belum terbiasa, selain itu sebagian peserta didik masih
cenderung kurang aktif dalam kegiatan diskusi dan praktikum dengan
kelompoknya. Hal tersebut menghambat guru dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan, dikarenakan guru harus
sering menjelaskan pada peserta didik kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan.
Pada siklus II keterlaksanaan pembelajaran dengan inkuiri terbimbing
berlangsung lebih baik daripada siklus I, karena siklus II ini merupakan perbaikan
dari siklus I. Pada siklus I persentase rata-rata keterlaksanaan pembelajaran yaitu
sebesar 86,2% sedangkan pada siklus II persentase rata-rata keterlaksanaan
pembelajaran yaitu sebesar 97,4%. Peningkatan keterlaksanaan disetiap tahap
pembelajaran terlihat dari lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Pada
siklus I, tahap mengumpulkan data dan menyimpulkan hasil pembelajaran
memiliki persentase paling rendah diantara yang lain yaitu 79,2% dan 75%. Hal
ini disebabkan karena siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran yang
dilakukan, selain itu keterbatasan waktu menyebabkan guru lupa memberikan
tugas rumah pada siswa. Menurut Sanjaya (2007: 206) salah satu kelemahan dari
model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah memerlukan waktu panjang dalam
pelaksanaannya.
6

Pada siklus II, semua tahap pembelajaran mengalami peningkatan. Tahap


orientasi dan menyimpulkan pembelajaran mampu mencapai persentase 100%.
Peningkatan tersebut dikarenakan adanya perbaikan-perbaikan tindakan pada
siklus II yang dilakukan berdasarkan kekurangan-kekurangan yang ada pada
siklus I. Hal ini sesuai dengan pendapat Arends (2008), keterlaksanaan
pembelajaran meningkat karena perbaikan dan pembenahan pembelajaran yang
dilakukan guru.
Peningkatan keterlaksanaan pembelajaran juga disebabkan peserta didik
sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru dan
mulai berani mengajukan pertanyaan dan membuat hipotesis, hampir semua
peserta didik aktif melakukan prraktikum dan diskusi dan mengambil keputusan
bersama-sama karena 1 kelompok terdiri dari 6 anggota sehingga peserta didik
juga dilatih untuk mengungkapkan pendapatnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan
dari Arends (2008: 75) bahwa diskusi digunakan oleh guru untuk mencapai paling
tidak tiga tujuan penting, yaitu meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan
membantu mengkonstruksikan pemahamannya sendiri tentang isi akademik,
meningkatkan keterlibatan dan engagement siswa, membantu siswa mempelajari
berbagai keterampilan komunikasi dan proses berpikir yang penting.

Kemampuan Kognitif Siswa


Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri perbimbing
memiliki dampak positif dalam peningkatan hasil belajar peserta didik terutama
pada kemampuan kognitifnya. Hasil ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya
hasil belajar peserta didik dari siklus I dan siklus II yang dilihat dari peningkatan
hasil pre-test dan post-test menggunakan gain score. Pada siklus I, siswa yang
lulus KKM mencapai 77% dengan gain score 0,51 dan pada siklus II siswa yang
lulus KKM mencapai 90% dengan gain score 0,59 .
Ditinjau dari ranah kognitifnya, berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa
hampir pada semua ranah kognitif mengalami peningkatan kecuali pada ranah C5
yang mengalami penurunan persentase dari 79% menjadi 76,5%. Selain itu ranah
C6 juga mendapatkan hasil persentase rendah jika dibandingkan dengan ranah
kognitif yang lain. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu (1)
7

Perbedaan kemampuan kognitif peserta didik yang satu dengan peserta didik yang
lainnya, (2) Materi tes dan distribusi soal berdasarkan ranah kognitifnya berbeda,
(3) peserta didik masih masih belum mengerti tentang materi yang diajarkan
dalam proses pembelajaran inkuiri terbimbing, (4) peserta didik kebingungan
mengerjakan soal yang bersifat analisis teori hal ini terlihat pada soal nomor 4
pada siklus II, jika dibandingkan dengan soal yang lain soal nomor 4 ini memiliki
persentase paling rendah karena hanya 18 siswa yang menjawab benar, (5) ranah
C5 dan C6 merupakan ranah tertinggi pada tingkatan taksonomi Bloom dan
termasuk kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Menurut Anderson (dalam Hamsa,2006: 144) taksonomi Bloom
menggambarkan suatu proses pembelajaran, cara kita memproses suatu informasi
sehingga dapat dimanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa prinsip
didalamnya adalah (1) Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus
mengingatnya terlebih dahulu, (2) Sebelum kita menerapkan maka kita harus
memahaminya terlebih dahulu, (3) Sebelum kita mengevaluasi dampaknya maka
kita harus mengukur atau menilai, (4) Sebelum kita berkreasi sesuatu maka kita
harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi,
serta memperbaharui.
Peningkatan kemampuan kognitif siswa dari siklus I dan siklus II ini
menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dapat
meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik ke arah positif dari sebelum
diberi perlakuan. Peningkatan kemampuan kognitif pada siklus II dikarenakan
peserta didik sudah terbiasa dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan
juga guru telah memotivasi agar siswa secara aktif mengajukan pertanyaan dan
berlatih membuat hipotesis serta saling bekerjasama antar anggota kelompok
untuk memahami materi.
Taksonomi Bloom digunakan untuk mengukur pencapaian hasil belajar
siswa berdasar pada proses kognitif siswa dalam memahami suatu masalah.
Pencapaian hasil belajar siswa diukur berdasar pada kemampuan siswa menjawab
masalah yang sesuai proses kognitif yang akan diukur. Taksonomi Bloom sering
digunakan guru untuk menentukan hasil belajar yang diinginkan, menentukan
proses pembelajaran yang akan dilakukan, dan menentukan alat evaluasi yang
8

sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Anderson, 2001).


Hendaknya soal-soal tersebut dapat meliputi seluruh tingkat atau ranah kognitif,
disusun dari yang termudah yaitu tingkat terendah dari ranah kognitif (C1) hingga
ranah kognitif tertinggi (C6). Dengan demikian, guru akan dapat mengetahui
ranah kognitif mana yang telah dicapai oleh para peserta didiknya dan dapat
menyusun suatu strategi untuk meningkatkan kemampuan peserta didik yang
masih mencapai tingkat rendah pada ranah kognitifnya.

PENUTUP
Kesimpulan
Kualitas keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing
mengalami peningkatan secara bertahap. Berdasarkan persentase keterlaksanaan
pembelajaran inkuiri terbimbing pada siklus I dan siklus II, terlihat bahwa
persentase rata-rata keterlaksanaan pembelajaran mengalami peningkatan dari
86,2% menjadi 97,4%. Untuk persentase peningkatan kemampuan kognitif siswa
dari tiap ranah kognitifnya, yaitu ranah pengetahuan (C1) mengalami peningkatan
persentase dari 89,85% menjadi 90%, ranah pemahaman (C2) juga mengalami
peningkatan persentase dari 85,85% menjadi 93,15%, ranah penerapan (C3)
mengalami peningkatan persentase dari 78,25% menjadi 81,1%, ranah analisis
(C4) mengalami peningkatan persentase dari 83% menjadi 97%, ranah evaluasi
(C5) mengalami penurunan persentase dari 79% menjadi 76,5%, dan ranah
mencipta (C6) mengalami peningkatan persentase dari 73% menjadi 80%.

Saran
Guru diharapkan dapat menciptakan suatu inovasi dalam pembelajaran
seperti penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing ini yang terbukti dapat
meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik. Selain itu, Guru fisika di
SMA/MAN lain yang ingin melakukan penelitian dengan kondisi kelas dan
siswanya mirip dengan kondisi siswa kelas X-H MAN Malang 1 ini disarankan
untuk mencoba materi pembelajaran yang lain dengan waktu yang lebih
diperpanjang agar siswa mampu menjiwai pembelajaran yang diajarkan.
9

DAFTAR RUJUKAN
Ali, Manzoor. 2009. Teaching of heat and temperature by hypothetical inquiry
approach : A sample of inquiry teaching, Journal Physics Teacher
Education online Vol 5 No 2, autumn 2009, (Online),
(www.phy.ilstu.edu/jpteo/issues/jpteo5(2)aut09.pdf), diakses 12 Februari
2013.
Amri, S. 2010. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif Dalam Kelas. Jakarta :
Prestasi Pustaka.

Anderson, Lorin W. & Krathwohl, David R. 2001. A Taxonomy for Learning,


Teaching and Assessing: a Revision of Blooms Taxonomy. New York.
Longman, (Online),
(http://www.utar.edu.my/fegt/file/Revised_Blooms_Info.pdf), diakses 12
Februari 2013)
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta
Depdiknas (2002). Pendekatan Kontekstual (CTL). Jakarta.
Hanafi. 2012. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Untuk
Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII-D
SMPN 10 Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FMIPA UM
Kemmis, S & MC Taggart R.1989. The Action Research Planner. Victoria :
Deakin University Press.
Maimuna, Siti. 2011. Penerapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif Siswa SMP Kelas VII Pada Materi
Kalor. Tesis tidak diterbitkan. Malang: FMIPA UM
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Widyanita, Irena Rahma. 2011. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri


Terbimbing Menggunakan Instrumen Tes Padanan Soal Trends In
International Mathematics And Science Study Dalam Pembelajaran IPA
SMP, (Online), (http://repository.upi.edu/skripsiview.php?start=3060),
diakses 10 Mei 2013.
Wirtha, I.M. dan Ni Ketut R. 2008. Pengaruh Model Pembelajaran dan
Penalaran Formal Terhadap Penguasaan Konsep Fisika dan Sikap Ilmiah
Siswa SMA Negeri 4 Singaraja. Denpasar : Jurnal penelitian dan
pengembangan pendidikan UNDIKSHA, (online) ,
(http://www.freewebs.com/santyasa/Lemlit/PDF_Files/PENDIDIKAN/AP
RIL_2008/I_Made_Wirtha.pdf), diakses 30 Maret 2010).
Yuliati, Lia. 2008. Model-model Pembelajaran Fisika. Malang: Universitas
Negeri Malang.