Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh
manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupuan psikologis,
yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan.
Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow dalam teori Hirarki.
Kebutuhan menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar
yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta, harga diri, dan aktualisasi diri
(Potter dan Patricia, 1997).
Dalam mengaplikasikan kebutuhan dasar manusia (KDM) yang dapat
digunakan untuk memahami hubungan antara kebutuhan dasar manusia pada
saat memberikan perawatan. Beberapa kebutuhan manusia tertentu lebih
mendasar daripada kebutuhan lainnya. Oleh karana itu beberapa kebutuhan
harus dipenuhi sebelum kebutuhan lainnya. Kebutuhan dasar manusia seperti
makan ,air, keamanan dan cinta merupakan hal yang penting bagi manusia.
Dalam mengaplikasikan kebutuhan dasar manusia tersebut dapat digunakan
untuk memahami hubungan antara kebutuhan dasar manusia dalam
mengaplikasikan ilmu keperawatan di dunia kesehatan. walaupun setiap orang
mempunyai sifat tambahan, kebutuhan yang unik, setiap orang mempunyai
kebutuhan dasar manusia yang sama. Besarnya kebutuhan dasar yang terpenuhi
menentukan tingkat kesehatan dan posisi pada rentang sehat-sakit.
Hirarki kebutuhan dasar manusia menurut maslow adalah sebuah teori yang
dapat digunakan perawat untuk memahami hunbungan antara kebutuhan dasar
manusia pada saat memberikan perawatan. Menurut teori ini, beberapa
kebutuhan manusia tertentu lebih dari pada kebutuhan lainnya; oleh karena itu,
beberapa kebutuhan harus dipenuhi sebelum kebutuhan yang lain.
Lahir, kehilangan, dan kematian adalah kejadian yang unuiversal dan
kejadian yang sifatnya unik bagi setiap individual dalam pengalaman hidup
seseorang.
Kehilangan dan berduka merupakan istilah yang dalam pandangan umum
berarti sesuatu kurang enak atau nyaman untuk dibicarakan. Hal ini dapat
disebabkan karena kondisi ini lebih banyak melibatkan emosi dari yang
bersangkutan atau disekitarnya.
2

Dalam perkembangan masyarakat dewasa ini, proses kehilangan dan


berduka sedikit demi sedikit mulai maju. Dimana individu yang mengalami
proses ini ada keinginan untuk mencari bentuan kepada orang lain.
Pandangan-pandangan tersebut dapat menjadi dasar bagi seorang perawat
apabila menghadapi kondisi yang demikian. Pemahaman dan persepsi diri
tentang pandangan diperlukan dalam memberikan asuhan keperawatan yang
komprehensif. Kurang memperhatikan perbedaan persepsi menjurus pada
informasi yang salah, sehingga intervensi perawatan yang tidak tetap (Suseno,
2004).
Perawat berkerja sama dengan klien yang mengalami berbagai tipe
kehilangan. Mekanisme koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk
menghadapi dan menerima kehilangan. Perawat membantu klien untuk
memahami dan menerima kehilangan dalam konteks kultur mereka sehingga
kehidupan mereka dapat berlanjut. Dalam kultur Barat, ketika klien tidak
berupaya melewati duka cita setelah mengalami kehilangan yang sangat besar
artinya, maka akan terjadi masalah emosi, mental dan sosial yang serius.
Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam
lingkungan asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan
klien dan keluarga yang mengalami kehilangan dan dukacita. Penting bagi
perawat memahami kehilangan dan dukacita. Ketika merawat klien dan
keluarga, parawat juga mengalami kehilangan pribadi ketika hubungan klien-
kelurga-perawat berakhir karena perpindahan, pemulangan, penyembuhan atau
kematian. Perasaan pribadi, nilai dan pengalaman pribadi mempengaruhi
seberapa jauh perawat dapat mendukung klien dan keluarganya selama
kehilangan dan kematian (Potter & Perry, 2005).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penyusun merumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Apa saja kebutuhan dasar manusia (KDM)?
2. Apa yang dimaksud dengan Kebutuhan Memiliki dan Dimiliki
3. Seperti apa konsep diri dalam keperawatan?
4. Bagaimana masalah kehilangan dan berduka?
5. Bagaimana masalah menjelang kematian?
C. Tujuan
3

Sehubungan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari pembuatan


makalah Keperawatan Dasar Kebutuhan Memiliki dan Dimiliki ini adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui apa saja kebutuhan dasar manusia dalam keperawatan.
2. Memahami apa yang dimaksud kebutuhan memiliki dan dimiliki.
3. Mengetahui konsep diri dalam proses keperawatan.
4. Memahami bagaimana masalah kehilangan, berduka dan masalah menjelang
kematian.
D. Manfaat
Meninjau dari tujuan pembuatan makalah ini, adapun manfaat dari
pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menjadi ilmu tambahan dalam mata kuliah Keperawatan Dasar khususnya
dalam pemenuhan kebutuhan memiliki dan dimiliki.
2. Meningkatkan pengetahuan ilmu Keperawatan Dasar di dalam bidang
aplikasi keperawatan.
3. Menambah wawasan dalam dunia kesehatan khususnya keperawatan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kebutuhan Dasar Manusia


Kebutuhan dasar manusia adalah hal-hal seperti makanan, air, keamanan
dan cinta yang merupakan hal yang penting untuk bertahan hidup dan
kesehatan. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow adalah sebuah teori
yang dapat digunakan perawat untuk memahami hubungan antara kebutuhan
dasar manusia pada saat memberikan perawatan.
Hierarki kebutuhan manusia mengatur kebutuhan dasar dalam lima
tingkatan prioritas. Tingkatan yang paling dasar, atau yang pertama meliputi
4

kebutuhan fisiologis seperti: udara, air dan makanan. Tingkatan yang kedua
meliputi kebutuhan keselamatan dan keamanan, yang melibatkan keamanan
fisik dan psikologis. Tingkatan yang ketiga mencakup kebutuhan cinta dan rasa
memiliki, termasuk persahabatan, hubungan sosial dan cinta seksual. Tingkatan
yang keempat meliputi kebutuhan rasa berharga dan harga diri, yang
melibatkan percaya diri, merasa berguna, penerimaan dan kepuasan diri.
Tingkatan yang terakhir adalah kebutuhan aktualisasi diri.
Menurut teori Maslow seseorang yang seluruh kebutuhannya terpenuhi
merupakan orang yang sehat, dan sesorang dengan satu atau lebih kebutuhan
yang tidak terpenuhi merupakan orang yang berisiko untuk sakit atau mungkin
tidak sehat pada satu atau lebih dimensi manusia.
Hal-hal yang mendasari pemahaman KDM, manusia sebagai bagian integral
yang berintegrasi satu sama lainnya dalam motivasinya memenuhi kebutuhan
dasar (fisiologis, keamanan,kasih sayang, harga diri dan aktualisasi diri). Setiap
kebutuhan manusia merupakan suatu tegangan integral sebagai akibat dari
perubahan dari setiap komponen sistem. Tekanan tersebut dimanifestasikan
dalam perilakunya untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan sampai
terpenuhinya tingkat kepuasan klien.
Dasar kebutuhan manusia adalah terpenuhinya tingkat kepuasan agar
manusia bisa mempertahankan hidupnya. Peran yang utama adalah memenuhi
kebutuhan dasar manusia dan tercapainya suatu kepuasan bagi diri sendiri serta
kliennya, meskipun dalam kenyataannya dapat memenuhi salah satu dari
kebutuhan membawa dampak terhadap perubahan system dalam individu
(biologis, intelektual, emosional, social, spiritual, ekonomi, lingkungan,
patologi dan psikopatologi).
Maslow memiliki konsep fundamental unil dari teorinya, yaitu : Manusia
dimotivasikan oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh
spesies, tidak berubah, dan berasal dari sumber genetis atau naluriah.
Kebutuhan-kebutuhan itu juga bersifat psikologis, bukan semata-mata
fisiologis. Kebutuhan-kebutuhan itu merupakan inti kodrat manusia, hanya saja
mereka itu lemah, mudah diselewengkan dan dikuasai proses belajar, kebiasaan
atau tradisi yang keliru. Kebutuhan dasar tersebut tersusun secara hierarki
dalam strata yang bersifat relatif, yaitu:
1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (Faali/Phsyologic Needs)
2. Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan ( Safety & Security Needs)
5

3. Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki ( Love and Belonging Needs)
4. Kebutuhan akan penghargaan (Esteen Need)
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri ( Self Actualization Need)
Kebutuhan-kebutuhan ini senantiasa muncul, meskipun dimungkinkan tidak
secara berurutan. Dalam pengertian, bahwa kebutuhan yang paling dasar akan
muncul terlebih dahulu dan mendesak untuk dipenuhi, dan jika kebutuhan ini
sudah terpenuhi akan muncul kebutuhan berikutnya yang juga menuntut untuk
dipenuhi. Namun dimungkinkan ada sebagian kecil orang yang kebutuhan
dasarnya berbeda struktur hierarkinya disbanding dengan yang lain. Misalnya
orang yang memiliki keyakinan tertentu akan memilih kelaparan dari pada
harus menghilangkan keyakinannya. Seperti kisah Amar bin Yasir yang lebih
memilih disiksa oleh kafir Qurais daripada berpindah keyakinan, karena dia
tidak butuh menyembah berhala.
B. Kebutuhan Memiliki dan Dimiliki
Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki (Love and Belonging Needs),
ketika kebutuhan fisik akan makan, papan, sandang berikut kebutuhan
keamanan telah terpenuhi, maka seseorang beralih ke kebutuhan berikutnya
yakni kebutuhan untuk dicintai dan disayangi (love and belonging needs).
Dalam hal ini seseorang mencari dan menginginkan sebuah persahabatan,
menjadi bagian dari sebuah kelompok, dan yang lebih bersifat pribadi seperti
mencari kekasih atau memiliki anak, itu adalah pengaruh dari munculnya
kebutuhan ini setelah kebutuhan dasar dan rasa aman terpenuhi.
Manusia secara umum membutuhkan perasaan dicintai oleh keluarga,
diterima oleh teman sebaya dan oleh masyarakat.
Kebutuhan ini meningkat setelah kebutuhan fisiologik dan keselamatan
terpenuhi. Di RS klien terikat dengan aturan, rutinitas, pembatasan lingkungan
dan jam berkunjung. Kemudian ada teori kasih sayang (attachment theory)
Bowlby (1980) menggambarkan pengalaman berkabung. Kasih sayang, suatu
perilaku berdasarkan naluri, menyebabkan perkembangan ikatan kasih sayang
antara anak dan perawat primer mereka. Ikatan hubungan ada dan aktif
sepanjang siklus kehidupan, dan individu selanjutnya akan menyamakannya
dengan individu dalam hubungan yang lain. Perilaku kasih sayang menjamin
ketahanan hidup karena hal itu menjaga individu dekat dengan semua yang
menawarkan cinta, perlindungan, dan dukungan.
C. Konsep Diri
6

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang
diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalalm
berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sundeen, 1998). Selain itu konsep
diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal,
emosional, intelektual, sosial dan spiritual (Beck, Willian dan Rawlin, 1986).
Perilaku klien dengan gangguan konsep diri:
1. Perilaku yang adaptif :
a. Syok Psikologis
Merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat
terjadi pada saat pertama tindakan. Syok psikologis digunakan sebagai
reaksi terhadap ansietas. Mekanisme koping yang digunakan seperti
mengingkari, menolak dan proyeksi untuk mempertahankan diri.
b. Menarik Diri
Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan, tetapi
karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional.
Klien menjadi tergantung, pasif, tidak ada motivasi dan keinginan untuk
berperan dalam perawatannya.
c. Penerimaan atau pengakuan secara bertahap
Setelah klien sadar akan kenyataan, maka respon kehilangan atau
berduka muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi
dengan gambaran diri yang baru.
2. Perilaku yang maladaptif
a. Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah.
b. Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.
c. Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.
d. Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh.
e. Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang.
f. Mengungkapkan keputusasaan.
g. Mengungkapkan ketakutan ditolak.
h. Depersonalisasi.
i. Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh.
Adapun untuk asuhan keperawatan pada masalah konsep diri dapat
dijabarkan sebagai berikut.
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian terhadap masalah konsep diri adalah persepsi diri atau pola
konsep diri, pola berhubungan atau peran, pola reproduksi, koping terhadap
stres, serta adanya nilai keyakinan dan tanda-tanda ke arah perubhan fisik,
seperti kecemasan, ketakutan, rasa marah, rasa bersalah, dan lain-lain.
2. Diagnosa Keperawatan
7

a. Gangguan konsep diri (gambaran diri) dikarenakan perubahan fisik atau


kehilangan bagian tubuh.
b. Gangguan konsep diri (harga diri) dikarenakan harapan diri yang tidak
realistis.
c. Gangguan konsep diri (identitas diri) dikarenakan harapan orang tua yang
tidak realistis.
d. Gangguan konsep diri (peran) dikarenakan ketidakmampuan menerima
peran dan pekerjaan baru di masyarakat.
3. Perencanaan dan Tindakan Keperawatan
a. Meningkatkan gambaran (citra) diri pasien, dengan cara:
1) Menciptakan hubungan saling percaya dengan mendorong pasien
untuk membicarakan perasaan tentang dirinya.
2) Meningkatkan interaksi sosial dengan cara membantu pasien untuk
menerima petolongan dari orang lain,mendorong pasien untuk
melakukan aktivitas sosial, menerima keadaan dirinya, dan lain-lain.
3) Bila terjadi perubahan atau kehilangan fungsi tubuh, berikan
pemahaman tentang arti kehilangan. Mendorong pasien untuk bereaksi
terhadap kehilangan dan menggali alternatif yang nyata guna
membantu mengatasinya.
b. Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:
1) Membantu pasien untuk mengurangi ketergantungan dengan bersikap
mendukung dan menerima. Memberi kesadaran pada pasien akan
pentingnya keinginan atau semangat hidup yang tinggi.
2) Meningkatkan sensitivitas pasien terhadap dirinya dengan memberi
perhatian, membangun harga diri dengan memberi umpan balik positif
atas penyelesaian yang dicapai, menghargai privasi, dan mendorong
pasien untuk melakukan latihan yang membangkitkan harga dirinya.
3) Membantu pasien mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan
mendorong pengungkapan perasaan, baik positif maupun negatif.
4) Memberi kesempatan untuk memberikan aktivitas sosial yang positif.
Mendorong pasien untuk berhubungan dengan teman atau kerabat
dekat dan terlibat dengan aktivitas sosial. Jangan biarkan pasien
mengisolasi diri.
5) Memberi kesempatan mengembangkan keterampilan sosial dan
vokasional dengan cara mendorong sikap optimis dan berpartisipasi
dalam segala aktivitas.
c. Memperbaiki identitas diri pasien, dengan cara:
8

1) Mengenal diri sendiri sebagai bagian dari tubuh dan terpisah dengan
orag lain.
2) Mengakui seksualitasnya sendiri.
3) Memandang berbagai aspek dalam dirinya sebagai suatu keselarasan.
4) Menilai diri sendiri sesuai dengan penilaian di masyarakat.
d. Meningkatkan atau memperbaiki peran pasien, dengan cara:
1) Membantu meningkatkan kejelasan perilaku dan pengetahuan yang
sesuai dengan peran.
2) Mempertahankan konsistensi terhadap peran yang dilakukan.
3) Menyesuaikan antara peran yang diemban.
4) Menyelaraskan antara budaya dan harapan terhadap perilaku peran.
4. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah konsep diri secara umum dapat dinilai dari
kemampuan untuk menerima diri, menghargai diri, melakukan peran yang
sesuai, dan mampu menunjukan identitas diri.
D. Masalah Kehilangan dan Berduka
Sejak lahir sampai meninggal, kita membentuk hubungan dan menderita
karena kehilangan. Kita membangun kebebasan dari individu dewasayang
membesarkan kita, mulai dan meninggalkan sekolah, mengubah teman,
memulai karier dan membentuk hubungan baru. Nilai-nilai yang dipelajari
dalam satu keluarga, komunitas keagamaan, masyarakat dan budaya akan
membentuk apa yang dianggap seseorang sebagai kehilangan dan bagaimana
merasakan duka (Hooyman dan Kramer). Individu mengalami kehilangan
ketika individu lain, pengontrolan, bagian tubuh, lingkungan yang dikenal, atau
perasaan diri sudah berubah atau tidak ada lagi.
Kehilangan adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang
dapat dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada,
baik sebagian atau keseluruhan atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga
terjadi perasaan kehilangan. Kehilangan merupakan pengalaman yang
pernah dialami oleh setiap individu selama rentang kehidupannya. Sejak
lahir, individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan
mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. Setiap
individu akan bereaksi terhadap kehilangan.
Respon terakhir terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh respon
individu terhadap kehilangan sebelumnya. Perubahan kehidupan bersifat alami
dan biasanya bersifat positif. Kita belajar berharap bahwa sebagian besar dari
rasa kehilangan yang diperlukan pada akhirnya digantikan oleh sesuatu yang
9

berbeda atau lebih baik. Namun, beberapa rasa kehilangan menyebabkan kita
mengalami perubahan permanen dalam hidup kita dan mengancam perasaan
kita tentang kepemilikan dan keamanan. Kematian seseorang yang kita cintai,
perceraian, atau kehilangan kebebasan akan mengubah hidup kita selamanya
dan secara signifikan mengganggu kesehatan fisik, psikologis,, dan spiritual.
Kehilangan maturasional (maturasional losses) adalah suatu bentuk dari
kehilangan yang penting dan melibatkan semua harapan hidup yang secara
normal berubah disepanjang kehidupan. Rasa kehilangan maturasional
berhubungan dengan transisi kehidupan yang normal akan membantu individu
mengembangkan keterampilan beradaptasi untuk digunakan ketika mengalami
rasa kehingan yang tidak direncakan, tidak diinginkan, atau tidak diharapkan.
Teori dari proses berduka, tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk
menjalani proses berduka. Konsep dan teori berduka hanyalah alat yang hanya
dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan emosional klien dan
keluarganya dan juga rencana intervensi untuk membantu mereka memahami
kesedihan mereka dan mengatasinya. Peran perawat adalah untuk mendapatkan
gambaran tentang perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka terhadap
perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati.
Teori Engels
Menurut Engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat
diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal.
1. Fase I
Shock dan tidak percaya, seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan
mungkin menarik diri, duduk malas, atau pergi tanpa tujuan. Reaksi secara
fisik termasuk pingsan, diaporesis, mual, diare, detak jantung cepat, tidak bisa
istirahat, insomnia dan kelelahan.
2. Fase II
Berkembangnya kesadaran, seseoarang mulai merasakan kehilangan secara
nyata/akut dan mungkin mengalami putus asa. Kemarahan, perasaan bersalah,
frustasi, depresi, dan kekosongan jiwa tiba-tiba terjadi.
3. Fase III
Restitusi, berusaha mencoba untuk sepakat/damai dengan perasaan yang
hampa/kosong, karena kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian
yang baru dari seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan kehilangan
seseorang.
4. Fase IV
10

Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap


almarhum. Bisa merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang
perhatiannya di masa lalu terhadap almarhum.
5. Fase V
Kehilangan yang tak dapat dihindari harus mulai diketahui/disadari.
Sehingga pada fase ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima
kondisinya. Kesadaran baru telah berkembang.
Teori Martocchio
Martocchio (1985) menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai
lingkup yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. Durasi kesedihan
bervariasi dan bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan
itu sendiri. Reaksi yang terus menerus dari kesedihan biasanya reda dalam 6-12
bulan dan berduka yang mendalam mungkin berlanjut sampai 3-5 tahun.
Teori Rando
Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi 3 katagori:
1. Penghindaran
Pada tahap ini terjadi shock, menyangkal dan tidak percaya.
2. Konfrontasi
Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara
berulang-ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling
dalam dan dirasakan paling akut.
3. Akomodasi
Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai
memasuki kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana
klien belajar untuk menjalani hidup dengan kehidupan mereka.

PERBANDINGAN EMPAT TEORI PROSES BERDUKA


ENGEL KUBLER-ROSS MARTOCCHIO RANDO
(1964) (1969) (1985) (1991)
Shock dan tidak Menyangkal Shock and Penghindaran
percaya disbelief
Berkembangnya Marah Yearning and
kesadaran protest
Restitusi Tawar-menawar Anguish, Konfrontasi
disorganization
and despair
Idealization Depresi Identification in
11

bereavement
Reorganization / the Penerimaan Reorganization and Akomodasi
out come restitution
Beberapa rasa kehilangan terlihat tidak diperlukan dan bukan merupakan
bagian dari pengalaman pendewasaan yang diharapkan. Secara tiba-tiba,
kejadian eksternal yang tidak diperkirakan menyebabkan rasa kehilangan
situasional. Kehilangan dapat bersifat aktual atau dirasa. Rasa kehilangan
aktual (actual loss) terjadi ketika seseorang tidak dapat lagi merasakan,
mendengar, atau mengenali seseorang atau objek. Contohnya antaralain:
kehilangan bagian tubuh, kematian anggota keluarga, atau kehilangan
pekerjaan. Rasa kehilangan yang dirasa (perceived losses) didefinisikan secara
unik oleh seseorang yamg mengalami rasa kehilagan dan bersifat tidak begitu
jelas bagi individu lain. Sebagai contoh, beberapa individu merasakan
penolakan dari teman, atau rasa kehilangan kepercayaan atau status dalam
kelompok. Kemudian untuk jenis kehilangan adalah sebagai berikut.
1. Kehilangan objek eksternal (misalnya kecurian atau kehancuran akibat
bencana alam)
2. Kehilangan lingkungan yang dikenal (misalnya berpindah rumah, dirawat
dirumah sakit, atau berpindah pekerjaan)
3. Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti (misalnya pekerjaan,
kepergin anggota keluarga atau teman dekat, perawat yang dipercaya, atau
binatang peliharaan)
4. Kehilangan suatu aspek diri (misalnya anggota tubuh dan fungsi psikologis
atau fisik)
5. Kehilangan hidup (misalnya kematian anggota keluarga, teman dekat, atau
diri sendiri)
Selanjutnya adapun untuk dampak yang ditimbulkan akibat kehilangan
antara lain:
1. Pada masa anak-anak kehilangan dapat mengancam kemampuan untuk
berkembang, kadang-kadang akan timbul regresi serta rasa takut untuk
ditinggalkan atau dibiarkan kesepian.
2. Pada masa remaja atau dewasa muda, kehilangan dapat menyebabkan
disintegrasi dalam keluarga.
3. Pada masa dewasa tua, kehilangan khususnya kematian pasangan hidup,
dapat menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan semangat
hidup orang yang ditinggalkan.
12

Dalam permasalahan kehilangan dan berduka, perawat pun dianjurkan


berkontribusi dalam upaya pemenuhan kebutuhan memiliki dan dimiliki yang
asuhan keperawatan pada masalah kehilangan dan berduka antara lain sebagai
berikut.
1. Pengkajian
Pengkajian masalah ini adalah adanya faktor predisposisi yang
memengaruhi respons seseorang terhadap perasaan kehilangan yang di hadapi,
antara lain:
a. Faktor genetik
Individu yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga dengan riwayat
depresi akan sulit memngembangkan sikap optimis dalam menghadapi
suatu permasalahan, termasuk dalam menghadapi perasaan kehilangan.
b. Kesehatan fisik
Individu dengan fisik, mental, serta pola hidup yang teratur cenderung
mempunyai kemampuan dalam mengatasi stres yang lebih tinggi
dibandingkan dengan individu yang mengalami gangguan jasmani.
c. Kesehatan mental
Individu yang mengalami gangguan jiwa, terutama yang mempuyai
riwayat depresi yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan
pesimis, selalu dibayangi masa depan peka dalam menghadapi situasi
kehilangan.
d. Pengalaman kehilangan di masa lalu
Kehilangan atau perpisahan dengan orang yang dicintai pada masa
kanak-kanak akan memengaruhi kemampuan individu dalam mengatasi
perasaan kehilangan pada masa dewasa.
e. Struktur kepribadian
Individu dengan konsep diri yang negatif dan perasaan rendah diri akan
menyebabkan rasa percaya diri yang rendah dan tidak objekif terhadap
stres yang di hadapi.
f. Adanya stressor perasaan kehilangan
Stressor ini dapat berupa stres yang nyata ataupun imajinasi individu itu
sendiri, seperti kehilngan biopsikososial yang meliputi kehilangan harga
diri, pekerjaan, seksualitas, posisi dalam masyarakat, milik pribadi
(kehilangan harta benda atau yang dicintai, kehilangan kewarganegaraan,
dan lain-lain).
2. Diagnosis Keperawatan
a. Berduka berhubungan dengan kehilangan aktual atau kehilangan yang
dirasakan.
13

b. Berduka antisipasi berhubungan dengan perpisahan atau kehilangan.


c. Berduka disfungsional berhubungan dengan kehilangan orang atau benda
yang dicintai atau memiliki arti besar.
3. Perencanaan dan Tindakan Keperawatan
Secara umum, perencanaan dan intervensi keperawatan yang dilakukan
untuk menghadapi kedukaan adalah:
a. Membina dan meningktakan hubungan saling percaya dengan cara:
1) Mendengarkan pasien berbicara.
2) Memberi dorongan agar pasien mau mengungkapkan perasaannya.
3) Menjawab pertanyaan pasien secara langsung, menunjukan sikap
menerima dan empati.
b. Mengenali faktor-faktor yang mungkin menghabat dengan cara:
1) Bersama pasien mendiskusikan hubungan pasien dengan orang atau
objek yang pergi atau hilang.
2) Menggali pola hubungan pasien dengan orang yang berarti.
c. Mengurangi atau menghilangkan faktor penghambat dengan cara:
1) Bersama pasien mengingat kembali cara mengatasi perasaan berduka
di masa lalu.
2) Memperkuat dukungan serta kekuatan yang dimiliki pasien dan
keluarga.
3) Mengenali dan menghargai sosial budaya agama serta kepercayaan
yang dianut oleh pasien dan kleuarga dalam mengatasi perasaan
kehilangan.
d. Memberi dukungan terhadap respons kehilangan pasien dengan cara:
1) Menjelaskan kepada pasien atau keluarga bahwa sikap mengingkari,
marah, tawar menawar depresi, dan menerima adalah wajar dalam
menghadapi kehilangan.
2) Memberi gambaran tentang cara menungkapkan perasaan yang bisa
diterima.
3) Menguatkan dukungan keluarga atau orang yang berarti.
e. Meningkatkan rasa kebersamaan antar anggota keluarga dengan cara:
1) Menguatkan dukungan keluarga atau orang yang berarti.
2) Mendorong pasien untuk menggali perasaannya bersama anggota
keluarga lainnya, mengenali masing masing anggota keluarga.
3) Menjelaskan manfaat hubungan dengan orang lain.
4) Mendorong keluarga untuk mengevaluasi perasaan dan saling
mendukung satu sama lain.
f. Menentukan tahap keberadaan pasien dengan cara:
1) Mengamati perilaku pasien.
2) Menggali pikiran perasaan pasien yang selalu timbul dalam dirinya.
Secara khusus, tahap/rentang respons individual terhadap kedukaan adalah:
a. Tahap pengingkaran
14

Memberi kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan


perasaannya dengan cara:
1) Mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan berduka.
2) Meningkatkan kesabaran pasien secara bertahap tentang kenyataan
dan kehilangan, apabila sudah siap secara emosinal.
Menunjukan sikap menerima dengan ikhlas dan mendorong pasien
untuk berbagi rasa dengan cara:
1) Mendengarkan dengan penuh perhatian dan minat mengenai hal yang
dikatakan oleh pasien tanpa menghukum atau menghakimi.
2) Menjelaskan kepada pasien bahwa sikpa tersebut biasa terjadi pada
orang yang mengalami kehilangan.
Memberi jawaban yang jujur terhadap pertanyaan pasien tentang sakit,
pengobatan, dan kematian dengan cara:
1) Menjawab pertanyaan pasien dengan bahasa yang mudah dimengerti,
jelas, dan tidak berbelit-belit.
2) Mengamati dengan cermat respons pasien selama berbicara.
3) Meningkatkan kesadaran secara bertahap.
b. Tahap marah
Mengizinkan dan mendorong pasien menungkapkan rasa marah secara
verbal tanpa melawan kemarahan tersebut dengan cara:
1) Menjelaskan kepada keluarga bahwa kemarahan pasien sebenarnya
tidak ditujukan kepada mereka.
2) Membiarkan pasien menangis.
3) Mendorong pasien untuk membicarakan kemarahannya.
c. Tahap tawar menawar
Membantu pasien mengungkapkan rasa bersalah dan takut dengan cara:
1) Mendengarkan ungkapan dengan penuh perhatian.
2) Mendorong pasien untuk membicarakan rasa takut atau rasa
bersalahnya.
3) Bila pasien selalu mengungkapkan kata kalau ata seandainya...
beritahu pasien bahwa perawat hanya dapat melakukan sesuatu yang
nyata.
4) Membahas bersama pasien mengenai penyebab rasa bersalah atau rasa
takutnya.
d. Tahap depresi
Membantu pasien mengidentifikasi rasa bersalah dan takut dengan
cara:
1) Mengamati perilaku pasien dan bersama dengannya membahas
perasaannnya.
15

2) Mencegah tindakan bunuh diri atau merusak diri sesuai derajat


resikonya.
Membantu pasien mengurangi rasa bersalah dengan cara:
1) Menghargai perasaan pasien.
2) Membantu pasien menemukan dukungan yang positif dengan
mengaitkan terhadap kenyataan.
3) Memberi kesempatan untuk menangis dan mengungkapkan
perasaannya.
4) Bersama pasien membahas pikiran negatif yang selalu timbul.
e. Tahap penerimaan
Membantu pasien menerima kehilangan yang tidak bisa doelakan dengan
cara:
1) Membantu keluarga mengunjungi pasien secara teratur.
2) Membantu keluarga berbagi rasa, karena setiap anggota keluarga tidak
berada pada tahap yang sama pada saat yang bersamaan.
3) Membahas rencana setela masa berkabung terlewati.
4) Memberi informasi akurat tentang kebutuhan pasien dan keluarga.
4. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah kehilangan dan berduka secara umum dapat
dinilai dari kemampuan untuk menghadapi atau memaknai arti kehilangan,
reaksi terhadap kehilangan, dan peruahan perilaku yang menerima arti
kehilangan.
Berduka (grieving) merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Hal
ini diwujudkan dalam berbagai cara yang unik pada masing-masing orang dan
didasarkan pada pengalaman pribadi, ekspektasi budaya, dan keyakinan
spiritual yang dianutnya. Sedangkan istilah kehilangan (bereavement)
mencakup berduka dan berkabung (mourning), yaitu perasaan didalam dan
reaksi keluar orang yang ditinggalkan. Berkabung adalah periode penerimaan
terhadap kehilangan dan berduka. Hal ini terjadi dalam masa kehilangan dan
sering dipengaruhi oleh kebudayaan atau kebiasaan. Adapun untuk jenis
berduka adalah sebagai berikut.
1. Berduka normal, terdiri atas perasaan, perilaku dan reaksi yang normal
terhadap kehilangan. Misalnya, kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian,
dan menanrik diri dari aktivitas untuk sementara.
2. Berduka antisipatif, yaitu prosese melepaskan diri yang muncul sebelum
kehilangan atau kematian yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, ketika
menerima diagnosis terminal, seseorang akan memulai proses perpisahan
dan menyelesaikan berbagai urusan di dunia sebelum ajalnya tiba.
16

3. Berduka yang rumit, dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ke
tahap berikutnya, yaitu tahap kedukaan normal, masa berkabung seolah-olah
tidak kunjung berakhir dan dapat mengancam hubungan orang yang
bersangkutan dengan orang lain.
4. Berduka tertutup, yaitu kedukaan akibat kehilangan yang tidak dapat di akui
secara terbuka. Contohnya, kehilangan pasangan karena AIDS, anak
mengalami kematian orang tua tiri, atau ibu yang kehilangan anaknya di
kandungan atau ketika bersalin.
Bowbly menggambarkan empat fase berkabung. Sama dengan teori tahap
berduka yang lain, individu dapat kembali dan meneruskan antara dua fase
manapun dalam merespons rasa kehilangan.
1. Mati rasa (numbing), fase berkabung yang paling singkat, berlangsung dari
beberapa jam sampai satu minggu atau lebih. Individu yang berduka
menggambarkan fase ini sebagai perasan yang menyebabkan pingsan atau
tidak nyata.
2. Kerinduan dan pencarian (yearning and searching), mati rasa melindungi
individu dari dampak penuh akibat rasa kehilangan. Ledakan kesedihan
yang bersifat emosional dan tekanan akut merupakan karakteristik dari fase
kedua kehilangan. Gejala fisik yang banyak ditemukan dalam fase ini antara
lain: sesak didada dan tenggorokan, nafas yang pendek, perasaan lesu, sulit
tidur dan tidak nafsu makan. Individu juga mengalami kerinduan dari dalam
yang hebat terhadap individu atau objek yang hilang. Fase ini dapat
berlangsung selama berbulan-bulan atau lebih panjang lagi.
3. Kekacauan dan keputusasaan (disorganization and despair), seorang
individu akhirnya memeriksa bagaimana dan mengapa kehilangan terjadi
atau mengungkapkan kemarahan pada seseorang yang sepertinya
bertanggung jawab terhadap rasa kehilangan tersebut. Individu yang
berduka menceritakan kembali kisah kehilangan tersebut berulang kali.
Secara bertahap, indivudu menyadari bahwa kehilangan tersebut bersifat
permanen.
4. Reorganisasi, yang biasanya memakan waktu satu tahun atau lebih, individu
mulai menerima perubahan, menerima peran yang belum dikenal,
membutuhkan keterampilan baru, dan membangun hubungan baru. Individu
17

yang melakukan reorganisasi mulai membuka dirinya dari hubungan mereka


yang hilang tanpa merasakan bahwa mereka mengurangi kepentingannya.
E. Masalah Menjelang Kematian
Konsep ansietas, ansietas adalah ketakutan atau kekhawatiran pada sesuatu
yang tidak jelas dan berhubungan dengan perasaan tidak menentu dan tak
berdaya (helplessness). Karakteristik ansietas merupakan emosi yang bersifat
subyektif , takut- sumber tidak jelas, bisa ditularkan, terjadi akibat adanya
ancaman pada harga diri dan identitas diri, perlu adanya keseimbangan antara
keberanian dan kecemasan. Untuk tingkat ansietas sendiri adalah sebagai
berikut:
1. Ansietas ringan: pada kehidupan sehari-hari individu sadar, lahan persepsi
meningkat (mendengar, melihat, meraba lebih dari sebelumnya). Perlu untuk
memotivasi belajar, pertumbuhan dan kreativitas.
2. Ansietas sedang: lahan persepsi menyempit (melihat, mendengar, meraba
menurun daripada sebelumnya) fokus pada perhatian segera.
3. Ansietas berat: lahan persepsi sangat sempit, hanya bisa memusatkan
perhatian pada yang detil tidak yang lain. Semua prilaku ditujukan untuk
menurunkan ansietas
4. Panik: hilang kontrol, hanya bisa menurut perintah
Terminal menjelang ajal, kondisi terminal adalah suatu keadaan dimana
seseorang mengalami penyakit atau sakit yang tidak mempunyai harapan
sembuh sehingga sangat dekat dengan proses kematian. Respon klien dalam
kondisi terminal sangat individual tergantung kondisi fisik, psikologis, sosial
yang dialami sehingga dampak yang ditimbulkan pada tiap individu juga
berberda. Hal ini mempengaruhi tingkat kebutuhan dasar yang ditunjukkan
oleh pasien terminal. Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan
kondisi terminal, tujuannya untuk dapat menyiapkan dukungan dan bantuan
bagi klien sehingga pada saat-saat terakhir dalam hidup bisa bermakna dan
akhirnya dapat meninggal dengan tenang dan damai.
Menejalang ajal adalah kondisi dimana secara medis dan legal sudah tidak
dapat diobati dan diintervensi dan berhubungan dengan kematian atau fase
akhir dari kehidupan, dimana individu sangat ansietas menghadapinya.
Masalah psikososial pada klien dengan ansietas menjelang ajal biasanya
mengalami banyak respon emosi, perasaan marah, dan putus asa sering kali
ditunjukkan. Problem psikologis lain yang muncul pada klien menjelang ajal
18

antara lain ketergantungan, kehilangan kontrol diri, tidak mampu produktif


dalam hidup, kehilangan harga diri dan harapan, kesenjangan komunikasi/
barrier komunikasi.
Dokka (1993) menggambarkan respon terhadap penyakit yang mengancam
hidup kedalam 4 fase:
1. Fase Prediagnostik
Terjadi ketika diketahui ada gejala atau faktor resiko penyakit.
2. Fase Akut
Berpusat pada kondisi krisis. Klien dihadapkan pada serangkaian keputus
asaan, termasuk kondisi medis, interpesrsonal maupun psikologis.
3. Fase Kronis
Klien bertempur dengan penyakit dan pengobatannya.
4. Fase terminal
Dalam kondisi ini kematian bukan lagi hanya kemungkinan, tetapi pasti
terjadi. Klien dalam kondisi terminal akan mengalami berbagai masalah
baik fisik, psikologis, maupun sosial spiritual. Gambaran problem yang
dihadapi pada kondisi ini antara lain:
a. Problem oksigenasi
Respirasi irregular, cepat atau lambat, pernafasan cheyne stokes, sirkulasi
perifer menurun, perubahan mental: agitasi, gelisah, TD menurun,
hipoksia, akumulasi sekret, nadi irreguler.
b. Problem eliminasi
Konstipasi, medikasi atau imobilitas memperlambat peristaltik, kurang
diet serat dan asupan makanan juga mempengaruhi konstipasi,
inkontinensia fekal bisa terjadi oleh karena pengobatan atau kondisi
penyakit.
c. Problem nutrisi
Asupan makanan dan cairan menurun, peristaltik menurun, distensi
abdomen, kehilangan BB, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kering dan
membengkak, mual muntah, cegukan, dehidrasi, terjadi karena asupan
cairan menurun.
d. Problem suhu
Ekstremitas dingin, kedinginan sehingga harus memakai selimut.
e. Problem sensori
Penglihatan menjadi kabur, refleks berkedip hilang saat mendekati
kematian, menyebabkan kekeringan pada kornea, pendengaran menurun,
kemampuan berkonsentrasi menjadi menurun. Penglihatan kabur,
pendengaran berkurang, sensasi menurun.
f. Problem nyeri
19

Ambang nyeri menurun, pengobatan nyeri dilakukan secara intravena,


klien harus selalu didampingi untuk menurunkan kecemasan dan
meningkatkan kenyamanan.
g. Problem kulit dan mobilitas
Sering kali tirah baring lama menimbulkan masalah pada kulit sehingga
pasien terminal memerlukan perubahan sosial yang sering.
h. Masalah psikologis
Klien terminal dan orang terdekat biasanya mnegalami banyak respon
emosi, perasaan marah, dan putus asa, sering kali ditunjukkan. Problem
psikologis lain yanng muncul adalah ketergantungan, hilang kontrol diri,
tidak mampu lagi produktif dalam hidup, kehilangan harga diri dan
harapan, kesenjangan komunikasi/ barrier komunikasi, dan ansietas.
i. Perubahan sosial spiritual
Klien mulai merasa hidup sendiri, terisolasi akibat kondisi terminal dan
menderita penyakit kronis yang lama dapat memaknai kematian sebagai
kondisi peredaan terhadap penderitaan. Sebagian beranggapan bahwa
kematian sebagai jalan menuju kehidupan kekal yang akan
mempersatukannya dengan orang-orang yang dicintai, sedangkan yang
lain beranggapan takut akan perpisahan, dikucilkan, ditelantarkan,
kesepian, atau mengalami penderitaan sepanjang hidup.
Menurut Kubler Ross (1969) seseorang yang menjelang ajal menunjukkan 5
tahapan yaitu sebagai berikut.
1. Denial (penyangkalan)
Pada tahap ini individu menyangkal dan bertindak seperti tidak terjadi
sesuatu, dia mengingkari bahwa dirinya dalam kondisi terminal. Pernyataan
seperti tidak mungkin, hal ini tidak akan terjadi pada saya.. saya tidak akan
mati karena kondisi ini umum dilontarkan klien.
2. Anger (kemarahan)
Individu melawan kondisi terminalnya, dia dapat bertindak pada seseorang
atau lingkungan disekitarnya. Tindakan seperti itu tidak mau minum obat,
menolak tindakan medis, tidak ingin makan.. adalah respon yang mungkin
ditunjukkan klien dalam kondisi terminal.
3. Bargainning (penawaran)
Individu berupaya membuat perjanjian dengan cara yang halus/jelas untuk
mencegah kematiannya. Seperti Tuhan beri saya kesembuhan, jangan cabut
nyawaku, saya akan berbuat baik dan mengikuti program pengobatan.
4. Depression (depresi)
20

Ketika ajal semakin dekat atau kondisi semakin memburuk, klien merasa
terlalu sangat kesepian dan menarik diri. Komunikasi terjadi kesenjangan, klien
banyak berdiam diri dan menyendiri.
5. Acceptance (penerimaan)
Reaksi psikologis semakin memburuk, klien mulai menyerah dan pasrah
pada keadaan atau putus asa.
Menurut Rando (1984) ada tiga kebutuhan utama klien menjelang ajal yaitu
pengendalian nyeri, pemulihan jati diri dan makna diri, dan cinta serta afeksi.
Kehadiran perawat harus bisa memberikan ketenangan dan menurunkan
ansietas, perawat dapat mendukung harga diri klien dengan menanyakan
tentang pilihan perawatan yang diinginkan. Perawat mendorong keluarga untuk
berpartisipasi dalam pembuatan keputusan klien dan keputusan bersama. Hal
ini membantu menyiapkan keluarga ketika klien sudah tidak mampu membuat
keputusan.
Faktor psikososial, peran perawat adalah mengamati perilaku pasien
terminal, mengenali pengaruh kondisi terminal terhadap perilaku, dan
memberikan dukungan yang empatik. Perawat harus mengkaji bagaimana
interaksi pasien selama kondisi terminal, karena pada kondisi ini pasien
cenderung menarik diri, mudah tersinggung, tidak ingin berkomunikasi dan
sering bertanya tentang kondisi penyakitnya. Ketidak yakinan dan keputus
asaan sering membawa pada perilaku isolasi. Perawat harus bisa mengenali
tanmda klien mengisolasi diri, sehingga klien dapat memberikan dukungan
sosial, bisa dari teman dekat, kerabat atau keluarga untuk selalu menemani
klien.
Faktor spiritual, perawat harus mengkaji bagaimana keyakinan klien akan
proses kematian, bagaimana sikap pasien menghadapi saat-saat terakhirnya.
Apakah semakin mendekatkan diri pada tuhan ataukah semakin berontak akan
keadaannya. Perawat juga harus mengetahui saat-saat seperti ini apakah pasien
mengharapkan kehadiran tokoh agama untuk menemani disaat terkhirnya.
Asuhan keperawatan pada masalah menejelang kematian dan kematian antara
lain.
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian masalah ini antaralain adanya tanda klinis saat menghadapi
kematian (sekarat), seperti perlu dikaji adanya hilangnya tonus otot, relaksasi
otot wajah, kesulitan untuk berbicara, kesulitan menelan, penurunan aktivitas
21

gastrointestinal, melemahnya tanda sirkulasi, melemahnya sensasi, terjadi


sianosis pada ekstremitas, kulit teraba dingin, terdapat perubahan tanda vital
seperti nadi melambat dan melemah, penurunan tekanan darah, pernafasan
tidak teratur melalui mulut, adanya kegagalan sensori seperti pandangan kabur
dan menurunnya tingkat kesadaran. Pasien yang mendekati kematian ditandai
dengan dilatasi pupil, tidak mampu bergerak, refleks hilang, nadi naik
kemudian turun, resfirasi cheyne stokes (nafas terdengar kasar), dan tekanan
darah menurun. Kematian di tandai dengan terhentinya pernafasan, nadi, dan
tekanan darah, hilangnya respon terhadap stimulus eksternal, hilangnya
pergerakan otot, dan terhentinya aktivitas otak.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketakutan berhubungan dengan ancaman kematian (proses sekarat).
b. Keputusasaan berhubungan dengan penyakit terminal.
3. Perencaan dan Tindakan Keperawatan
Hal yang dapat dilakukan dalam perencanaan tujuan keperawatan adalah
membantu mengurangi depresi dan ketakutan pasien, mempertahankan
harapan, membantu pasien menerima kenyataan, serta memberikan rasa
nyaman. Rencana yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, antara
lain:
a. Memberi dukungan dan mengembalikan kontrol diri pasien dengan cara
mengatur tempat perawatan, mengatur kunjungan, jadwal aktivitas, dan
penggunaan sumber pelayanan kesehatan.
b. Membantu pasien mengatasi kesepian depresi, dan rasa takut.
c. Membantu pasien mempertahankan rasa aman, percaya diri, dan harga
diri.
d. Membantu pasien mempertahankan harapan yang dimiliki.
e. Membantu pasien menerima kenyataan.
f. Memenuhi kebutuhan fisiologis.
4. Tindakan dalam menghadapi kematian
a. Perawatan jenazah
1) Tempatkan dan atur jenazah pada posisi anatomis.
2) Singirkan pakaian atau alat tenun.
3) Lepaskan semua alat kesehatan.
4) Bersihkan tubuh dari kotoran dan noda.
5) Tempatkan kedua tangan jenazah diatas abdomen dan ikat
pergelangannya (tergantung kepercayaan agama).
6) Tempatkan satu bantal dibawah kepala.
7) Tutup kelopak mata, jika tidak ada tutup bisa menggunakan kapas
basah.
22

8) Katupkan rahang dan mulut, kemudian ikat dan letakan gulungan


handuk d bawah dagu.
9) Letakan alat di bawah glutea.
10) Tutup sampai sebatas bahu, kepala ditutup dengan kain titpis.
11) Catat semua milik pasien dan berikan kepada keluarga.
12) Beri kartu atau tanda pengenal.
13) Bungkus jenazah dengan kain panjang.
b. Perawatan jenazah yang akan diotopsi
1) Ikuti prosedur rumah sakit dan jangan lepas alat kesehatan.
2) Beri label pada pembungkus jenazah.
3) Beri label pada alat protesa yang digunakan.
4) Tempatkan jenazah pada lemari pendingin.
c. Perawatan terhadap keluarga
1) Dengarkan ekspresi keluarga.
2) Beri kesempatan keluarga untuk bersama dengan jenazah selama
beberapa saat.
3) Siapkan ruangan khusus untuk memulai rasa berduka.
4) Bantu keluarga untuk membuat keputusan serta perencanaan pada
jenazah.
5) Beri dukungan jika terjadi disfungsi berduka.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah sekarat dan kematian secara umum dapat dinilai
dari kemampuan untuk menghadapi atau menerima makna kematian, reaksi
terhadap kematian, dan perubahan perilaku, yaitu menerima arti kematian.
23

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kematian merupakan bagian dari kebutuhan memiliki dan dimiliki dimana
individu mengalami proses kehilangan dan berduka. Dalam hidupnya juga
setiap individu pasti akan mengalami kematian, adapun dalam melewati proses
menjelang kematian tersebut manusia akan dihadapkan pada masalah
fisiologis, psikologis, sosial dan spiitual yang dapat menjadi strsor. Akan tetapi
perawat sebagai komponen dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia
memiliki peran yang sangat penting dalam meminimalisir masalah yang
mungkin timbul saat terjadi kehilangan, duka dan menjelang kematian pada
pasien. Oleh sebab itu asuhan keperawatan yang optimal adalah tugas seorang
perawat.
B. Saran
Adapun saran dalam materi kebutuhan memiliki dan dimiliki adalah seorang
perawat dapat menerapkan asuhan keperawatan yang dapat meminimalisir stres
akibat tekanan baik kehilangan, berduka maupun menjelang kematian sehingga
tercapai kenyaman, ketenangan bahkan kematian yang damai.