Anda di halaman 1dari 21

TUGAS KELOMPOK

ILMU GIZI DASAR

GANGGUAN PERTUMBUHAN BAYI


(STUNTING)

OLEH :
KELOMPOK 6

RISKA WULANDARI (K211 13 011)


SANDY PRATAMA AKSAN (K211 13 012)
NUR ISTIQOMAH RAHMAH. (K211 13 018)
MAYSURI ALI (K211 13 019)

PROGRAM STUDI ILMUU GIZI


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
Kata Pengantar

Puji syukur kita panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga makalah Ilmu Gizi Dasar yang berjudul
Gangguan Pertumbuhan Bayi (Stunting) ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada dosen mata kuliah ilmu gizi dasar serta berbagai pihak yang telah
memberikan bimbingan serta arahan dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam
penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan berbagai saran dan
kritik yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan penyusunan
makalah berikutnya.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama
bagi kelompok kami sendiri.

Makassar, oktober 2014

Kelompok 6
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Sudah bukan rahasia lagi bahwa sanitasi buruk mengakibatkan beragam
dampak negatif, baik bagi kesehatan, ekonomi maupun lingkungan. Saat ini,
tantangan pembangunan sanitasi semakin berat dengan adanya temuan bahwa
sanitasi buruk mengakibatkan sebagian besar generasi penerus bangsa
terdiagnosa stunted. Sanitasi buruk dan air minum yang terkontaminasi
mengakibatkan diare yang mengganggu penyerapan zat-zat gizi dalam tubuh.
Akibatnya, anak-anak tidak mendapatkan zat gizi yang memadai sehingga
pertumbuhannya terhambat.
Stunting terjadi akibat kekurangan gizi berulang dalam waktu lama pada
masa janin hingga 2 tahun pertama kehidupan seorang anak. Riskesdas 2010
meyebutkan bahwa 35,6% balita di Indonesia mengalami masalah stunting,
artinya hampir separuh balita kita memiliki tinggi badan lebih rendah dari
standar tinggi badan balita seumurnya.

Sungguh disayangkan, masyarakat kita masih belum menyadari masalah


ini karena memang anak pendek umum terlihat di masyarakat sebagai anak-
anak dengan aktivitas yang normal, tidak seperti anak kurang gizi. Padahal
tahukah anda bahwa stunting pada anak dapat berakibat fatal bagi
produktivitas mereka dimasa dewasa? Penelitian membuktikan bahwa
kemampuan membaca anak yang pendek lebih rendah dibandingkan anak
normal, dan pada saat mereka dewasa produktivitas anak yang pendek lebih
rendah dibandingkan dengan anak yang normal (Martorell, 2007).

I.2 Rumusan Masalah


I.2.1 Pengertian stunting.
I.2.2 Faktor yang menyebabkan terjadinya stunting.
I.2.3 Faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting.
I.2.4 Penilaian Stunting secara Antropometri.
I.2.5 Dampak Stunting.
I.2.5 Cara mencegah Stunting.
I.2.6 Zat Gizi mikro yang berperan untuk menghindari stunting.
I.2.7 Usaha pemerintah dalam masalah stunting.

I.3 Tujuan
Memberikan informasi mengenai stunting yang terdiri dari :
1. Pengertian stunting.
2. Faktor yang menyebabkan terjadinya stunting.
3. Faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting.
4. Dampak Stunting.
5. Penilaian Stunting secara Antropometri.
6. Cara mencegah Stunting.
7. Zat Gizi mikro yang berperan untuk menghindari stunting.
8. Usaha pemerintah dalam masalah stunting.
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Pengertian STUNTING


Stunting merupakan istilah para nutrisi untuk penyebutan anak yang
tumbuh tidak sesuai dengan ukuran yang semestinya (bayi pendek). Stunting
adalah keadaan dimana tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau keadaan
dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak anak lain
seusianya (MCN, 2009).
Stunted adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD), ditandai
dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan
dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia anak.
Stunting dapat didiagnosis melalui indeks antropometrik tinggi badan menurut
umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan
pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari
gizi yang tidak memadai dan atau kesehatan. Stunting merupakan
pertumbuhan linier yang gagal untuk mencapai potensi genetik sebagai akibat
dari pola makan yang buruk dan penyakit (ACC/SCN, 2000).

II.2 Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Stunting


Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak
langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan
perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin
mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir
dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan
perkembangan.
Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan
kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang
berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolik serta mengurangi nafsu
makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan ini
semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya
berpeluang terjadinya stunted (Allen and Gillespie, 2001).
Gizi buruk kronis (stunting) tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja
seperti yang telah dijelaskan diatas, tetapi disebabkan oleh banyak faktor,
dimana faktor-faktor tersebut saling berhubungan satu sama lainnnya.
Terdapat tiga faktor utama penyebab stunting yaitu sebagai berikut :
1. Asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi
dalam makanan yaitu karbohidrat, protein,lemak, mineral, vitamin, dan
air).
2. Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR),
3. Riwayat penyakit.
Di salah satu negara berkembang juga menunjukkan bahwa faktor risiko
utama untuk stunting pada bayi usia < 6 bulan entah perilaku ibu
atau karakteristik biologis anak di bawah kendali ibu,
misalnya, status menyusui dan berat lahir bayi. Setelah usia 6 bulan,
karakteristik sosial-ekonomi rumah tangga muncul dengan perilaku
dan variabel biologis sebagai penentu penting dari gizi buruk,
misalnya, status pendidikan yang rendah. Status sosial ekonomi rumah tangga
mempengaruhi risiko stunting awal pedesaan daripada di perkotaan.
Stunting menandakan konsekuensi akumulasi dari pertumbuhan tulang
melambat sering dikaitkan dengan diet jangka panjang, infeksi berulang, atau
keduanya. Prevalensi stunting berangsur-angsur meningkat pada anak-anak
sejak lahir sampai usia 2 tahun. Faktor risiko stunting dan wasting pada usia
yang berbeda dan dalam berbagai lingkungan dan aturan sosial budaya. Kita
tahu bahwa asupan makanan yang tidak memadai dan tinggi
morbiditas dalam konteks sosial dan kemiskinan ekonomi
meningkatkan risiko anak-anak dari pertumbuhan yang tidak sesuai.
Pola asupan makanan dan morbiditas, perilaku pengasuhan anak
(termasuk praktik pemberian makan), keyakinan budaya, akses ke
perawatan kesehatan, dan ekosistem lingkungan menjamin individu
dibutuhkan pendekatan khusus ketika mempelajari faktor risiko gizi buruk.

II.3 Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Stunting


Prevalensi stunted meningkat dengan bertambahnya usia, peningkatan
terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan, proses pertumbuhan anak masa
lalu mencerminkan standar gizi dan kesehatan.
Menurut laporan UNICEF (1998) beberapa fakta terkait stunted dan
pengaruhnya antara lain sebagai berikut :
1. Anak-anak yang mengalami stunted lebih awal yaitu sebelum usia enam
bulan, akan mengalami stunted lebih berat menjelang usia dua tahun.
Stunted yang parah pada anak-anak akan terjadi deficit jangka panjang
dalam perkembangan fisik dan mental sehingga tidak mampu untuk
belajar secara optimal di sekolah, dibandingkan anak- anak dengan tinggi
badan normal. Anak-anak dengan stunted cenderung lebih lama masuk
sekolah dan lebih sering absen dari sekolah dibandingkan anak-anak
dengan status gizi baik. Hal ini memberikan konsekuensi terhadap
kesuksesan anak dalam kehidupannya dimasa yang akan datang.
2. Stunted akan sangat mempengaruhi kesehatan dan perkembanangan anak.
Faktor dasar yang menyebabkan stunted dapat mengganggu pertumbuhan
dan perkembangan intelektual. Penyebab dari stunted adalah bayi berat
lahir rendah, ASI yang tidak memadai, makanan tambahan yang tidak
sesuai, diare berulang, dan infeksi pernapasan. Berdasarkan penelitian
sebagian besar anak-anak dengan stunted mengkonsumsi makanan yang
berada di bawah ketentuan rekomendasi kadar gizi, berasal dari keluarga
miskin dengan jumlah keluarga banyak, bertempat tinggal di wilayah
pinggiran kota dan komunitas pedesaan.
3. Pengaruh gizi pada anak usia dini yang mengalami stunted dapat
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kognitif yang kurang. Anak
stunted pada usia lima tahun cenderung menetapsepanjang hidup,
kegagalan pertumbuhan anak usia dini berlanjut pada masa remaja dan
kemudian tumbuh menjadi wanita dewasa yang stunted dan mempengaruhi
secara langsung pada kesehatan dan produktivitas, sehingga meningkatkan
peluang melahirkan anak dengan BBLR. Stunted terutama berbahaya pada
perempuan, karena lebih cenderung menghambat dalam proses
pertumbuhan dan berisiko lebih besar meninggal saat melahirkan.

II.4 Penilaian Stunting secara Antropometri

Untuk menentukan stunting pada anak dilakukan dengan cara


pengukuran. Pengukuran panjang badan menurut umur dilakukan pada anak
BADUTA (bawah dua tahun) dan pengukuran tinggi badan menurut umur
dilakukan pada anak di atas dua tahun. Antropometri merupakan ukuran dari
tubuh, sedangkan antropometri gizi adalah jenis pengukuran dari beberapa
bentuk tubuh dan komposisi tubuh menurut umur dan tingkatan gizi, yang
digunakan untuk mengetahui ketidakseimbangan protein dan energi.
Antropometri dilakukan untuk pengukuran pertumbuhan tinggi badan dan
berat badan (Gibson, 2005).

Standar digunakan untuk standarisasi pengukuran berdasarkan


rekomendasi NCHS dan WHO. Standarisasi pengukuran ini membandingkan
pengukuran anak dengan median, dan standar deviasi atau Z-score untuk usia
dan jenis kelamin yang sama pada anak- anak. Z-score adalah unit standar
deviasi untuk mengetahui perbedaan antara nilai individu dan nilai tengah
(median) populasi referent untuk usia/tinggi yang sama, dibagi dengan standar
deviasi dari nilai populasi rujukan. Beberapa keuntungan penggunaan Z-score
antara lain untuk mengiidentifikasi nilai yang tepat dalam distribusi perbedaan
indeks dan perbedaan usia, juga memberikan manfaat untuk menarik
kesimpulan secara statistik dari pengukuran antropometri.

Indikator antropometrik seperti panjang badan atau tinggi badan menurut


umur (stunted) adalah penting dalam mengevaluasi kesehatan dan status gizi
anak-anak pada wilayah dengan banyak masalah gizi buruk. Dalam
menentukan klasifikasi gizi kurang dengan stunted sesuai dengan Cut off
point, dengan penilaian Z-score, dan pengukuran pada anak balita
berdasarkan tinggi badan menurut Umur (TB/U) Standar baku WHO-NCHS
berikut (Sumber WHO 2006).

II.5 Dampak Stunting


Stunting dapat mengakibatkan penurunan intelegensia (IQ), sehingga
prestasi belajar menjadi rendah dan tidak dapat melanjutkan sekolah. Karena
itu anak yang menderita stunting berdampak tidak hanya pada fisik yang lebih
pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan, produktivitas dan prestasinya kelak
setelah dewasa, sehingga akan menjadi beban negara.
Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko
meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif, dan perkembangan
motorik yang rendah serta fungsi-fungsi tubuh yang tidak seimbang (Allen &
Gillespie, 2001). Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-
masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya dan sulit
diperbaiki.
Masalah stunting menunjukkan ketidakcukupan gizi dalam jangka waktu
panjang, yaitu kurang energi dan protein, juga beberapa zat gizi mikro.

II.6 Cara Mencegah Stunting


Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan
bertambahnya umur, namun pertambahan tinggi badan relatif kurang
sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat. Jika terjadi gangguan
pertumbuhan tinggi badan pada balita, maka untuk mengejar pertumbuhan
tinggi badan optimalnya masih bisa diupayakan, sedangkan anak usia
sekolah sampai remaja relatif kecil kemungkinannya. Maka peluang besar
untuk mencegah stunting dilakukan sedini mungkin. dengan mencegah
faktor resiko gizi kurang baik pada remaja putri, wanita usia subur
(WUS), ibu hamil maupun pada balita. Selain itu, menangani balita yang
dengan tinggi dan berat badan rendah yang beresiko terjadi stunting, serta
terhadap balita yang telah stunting agar tidak semakin berat.
Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin
dalam kandungan dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi
bagi ibu hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang
cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau
kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja
sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan
pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas
selain mendapat makanan cukup gizi, juga diberi suplementasi zat gizi
berupa kapsul vitamin A. Memantau pertumbuhan balita di posyandu
merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya
gangguan pertumbuhan, sehingga dapat dilakukan pencegahan terjadinya
balita stunting.
Bersama dengan sektor lain meningkatkan kualitas sanitasi
lingkungan dan penyediaan sarana prasarana dan akses keluarga terhadap
sumber air terlindung, serta pemukiman yang layak. Juga meningkatkan
akses keluarga terhadap daya beli pangan dan biaya berobat bila sakit
melalui penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.
Peningkatan pendidikan ayah dan ibu yang berdampak pada
pengetahuan dan kemampuan dalam penerapan kesehatan dan gizi
keluarganya, sehingga anak berada dalam keadaan status gizi yang baik.
Mempermudah akses keluarga terhadap informasi dan penyediaan
informasi tentang kesehatan dan gizi anak yang mudah dimengerti dan
dilaksanakan oleh setiap keluarga juga merupakan cara yang efektif dalam
mencegah terjadinya balita stunting.
1. Penanggulangan dan pencegahan Stunting pada Bayi
a. Penanggulangan stunting pada pertumbuhan bayi
Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada
seribu hari pertama kehidupan, yaitu:
Pada ibu hamil
Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara
terbaik dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat
makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan
sangat kurus atau telah mengalami Kurang Energi Kronis (KEK),
maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil
tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah,
minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu harus tetap
dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.
Pada saat bayi lahir
Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu
bayi lahir melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi sampai
dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI Eksklusif).
Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan
Pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan
sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih. Bayi dan anak
memperoleh kapsul vitamin A, taburia, imunisasi dasar lengkap.
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan oleh
setiap rumah tangga.
b. Pencegahan stunting pada pertumbuhan bayi
Kebutuhan gizi masa hamil
Pada Seorang wanita dewasa yang sedang hamil, kebutuhan
gizinya dipergunakan untuk kegiatan rutin dalam proses
metabolisme tubuh, aktivitas fisik, serta menjaga keseimbangan
segala proses dalam tubuh. Di samping proses yang rutin juga
diperlukan energi dan gizi tambahan untuk pembentukan jaringan
baru, yaitu janin, plasenta, uterus serta kelenjar mamae. Ibu hamil
dianjurkan makan secukupnya saja, bervariasi sehingga kebutuhan
akan aneka macam zat gizi bisa terpenuhi. Makanan yang
diperlukan untuk pertumbuhan adalah makanan yang mengandung
zat pertumbuhan atau pembangun yaitu protein, selama itu juga
perlu tambahan vitamin dan mineral untuk membantu proses
pertumbuhan itu.
Kebutuhan Gizi Ibu saat Menyusui
Jumlah makanan untuk ibu yang sedang menyusui lebih besar
dibanding dengan ibu hamil, akan tetapi kualitasnya tetap sama.
Pada ibu menyusui diharapkan mengkonsumsi makanan yang
bergizi dan berenergi tinggi. Susu untuk memenuhi kebutuhan
kalsium dan flour dalam ASI. Kadar air dalam ASI sekitr 88 gr %.
Maka ibu yang sedang menyusui dianjurkan untuk minum
sebanyak 22,5 liter (8-10 gelas) air sehari, di samping bisa juga
ditambah dengan minum air buah.
Kebutuhan Gizi Bayi 0 12 bulan
Pada usia 0 6 bulan sebaiknya bayi cukup diberi Air Susu Ibu
(ASI). ASI adalah makanan terbaik bagi bayi mulai dari lahir
sampai kurang lebih umur 6 bulan. Menyusui sebaiknya dilakukan
sesegara mungkin setelah melahirkan. Pada usia ini sebaiknya bayi
disusui selama minimal 20 menit pada masing-masing payudara
hingga payudara benar-benar kosong. Apabila hal ini dilakukan
tanpa membatasi waktu dan frekuensi menyusui,maka payudara
akan memproduksi ASI sebanyak 800 ml bahkan hingga 1,5 2
liter perhari.

II.7 Zat Gizi Mikro yang Berperan untuk Menghindari Stunting (Pendek)
a. Kalsium
Kalsium berfungsi dalam pembentukan tulang serta gigi, pembekuan
darah dan kontraksi otot. Bahan makanan sumber kalsium antara lain :
ikan teri kering, belut, susu, keju, kacang-kacangan.
b. Yodium
Yodium sangat berguna bagi hormon tiroid dimana hormon tiroid
mengatur metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Yodium
juga penting untuk mencegah gondok dan kekerdilan. Bahan makanan
sumber yodium : ikan laut, udang, dan kerang.

c. Zink
Zink berfungsi dalam metabolisme tulang, penyembuhan luka, fungsi
kekebalan dan pengembangan fungsi reproduksi laki-laki. Bahan makanan
sumber zink : hati, kerang, telur dan kacang-kacangan.
d. Zat Besi
Zat besi berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan otak,
dan metabolisme energi. Sumber zat besi antara lain: hati, telur, ikan,
kacang-kacangan, sayuran hijau dan buah-buahan.
e. Asam Folat
Asam folat terutama berfungsi pada periode pembelahan dan
pertumbuhan sel, memproduksi sel darah merah dan mencegah anemia.
Sumber asam folat antara lain : bayam, lobak, kacang-kacangan, serealia
dan sayur-sayuran.

II.8 Usaha Pemerintah dalam Masalah Stunting


Selama ini pemerintah sudah berusaha mengurangi Gizi buruk, terutama
pertumbuhan yang terhambat, merupakan sebuah masalah kesehatan
masyarakat yang utama di Indonesia. Untuk mengatasi tantangan itu,
UNICEF mendukung sejumlah inisiatif di tahun 2012 untuk menciptakan
lingkungan nasional yang kondusif untuk gizi. Ini meliputi peluncuran
Gerakan Sadar Gizi Nasional (Scaling Up Nutrition SUN) dan mendukung
pengembangan regulasi tentang pemberian ASI eksklusif.
Manajemen masyarakat tentang gizi buruk akut dan pemberian makan
bayi dan anak menjelma menjadi sebuah paket holistik untuk menangani gizi
buruk, sementara pengendalian gizi anak dan malaria ditangani bersama untuk
mencegah pertumbuhan yang terhambat (stunting) (Laporan Tahunan Unicef
Indonesia, 2012).
Untuk membantu pemerintah dalam melakukan perbaikan gizi pada
balita Stunting, menurut Unicef Indonesia perhatian khusus harus diberikan
pada:
1. Penciptaan dan penguatan mekanisme koordinasi nasional dan
daerah untuk mengimplementasikan Rencana Aksi Nasional Pangan dan
Gizi, dan untuk melakukan koordinasi dengan sektor-sektor non-gizi.

2. Pengembangan, pemantauan dan penegakan peraturan nasional untuk


mengawasi pemasaran produk pengganti ASI.
3. Revisi standar minimal pelayanan kesehatan untuk mencakup aksi-aksi
dan sasaran gizi, seperti aksi-aksi yang berhubungan dengan konseling
gizi, makanan pendamping ASI dan gizi ibu.

4. Penguatan sistem informasi kesehatan untuk meningkatkan keandalan


data, promosi pengawasan suportif terhadap program kesehatan dan gizi,
dan promosi penggunaan data oleh petugas kesehatan secara terus-
menerus untuk meningkatkan dampak program.

5. Penguatan program fortifikasi pangan nasional dengan memperbarui


standar fortifikasiuntuk terigu, pengharusan fortifikasi minyak, dan
peningkatan penegakan legislasi yang ada; tentang iodisasi garam.

6. Implementasi langkah-langkah untuk merekrut, mengembangkan dan


mempertahankan ahli gizi yang memenuhi syarat, termasuk insentif bagi
mereka yang bekerja di daerah-daerah yang kurang terlayani.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Stunting adalah keadaan dimana tinggi badan berdasarkan umur rendah,
atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak
anak lain seusianya (MCN, 2009).
Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab
tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan
perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin
mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir
dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan
perkembangan. Beberapa faktor yang terkait dengan kejadian stunted antara
lain kekurangan energi dan protein, sering mengalami penyakit kronis,
praktek pemberian makan yang tidak sesuai dan faktor kemiskinan.
Untuk menentukan stunted pada anak dilakukan dengan cara
pengukuran. Pengukuran tinggi badan menurut umur dilakukan pada anak
usia di atas 2 tahun. Antropometri merupakan ukuran dari tubuh,
sedangkan antropometri gizi adalah jenis pengukuran dari beberapa bentuk
tubuh dan komposisi tubuh menurut umur dan tingkatan gizi, yang digunakan
untuk mengetahui ketidakseimbangan protein dan energi.
Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam
kandungan dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu
hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi,
mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau kesehatannya.
Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja sampai umur 6
bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI
(MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat
makanan cukup gizi, juga diberi suplementasi zat gizi berupa kapsul vitamin
A.

III.2 Saran
Penanggulangan Masalah gizi harus diprioritaskan pada Ibu Hamil dan
anak BADUTA (Bawah Dua Tahun) karena Baduta adalah Windows
Oportunity untuk masalah pembangunan sumber daya manusia indonesia.
Upaya advokasi diharapkan dapat membuka wawasan para pengambil
kebijakan untuk membuka peluang upaya pelaksanaan program pencegahan
dan penanggulangan masalah stunting. Advokasi juga ditujukan pada pemuka
masyarakat untuk membantu pendekatan pada masyarakat dalam
membangun kesadaran pentingnya pemenuhan gizi terutama pada ibu hamil
dan bayi hingga usia 2 tahun. Advokasi baru menjadi langkah awal dan tidak
mungkin langsung merubah keadaan menjadi lebih baik, butuh proses serta
komitmen dari semua pihak yang bersinggungan dengan masalah stunting
sehingga kita siap membangun generasi yang lebih baik dan siap
menyongsong masa depan.

DAFTAR PUSTAKA
Ricci, Judith A. and Becker, Stan. Risk factors for wasting and stunting among
children in Metro Cebu, Philippines The American Journal of Clinical
Nutrition. 2014. 1996;63:966-75.
http://adriyanpramono.blogspot.com/2013/05/empat-pilar-gizi-seimbang-sebagai
media.html

http://gizi.depkes.go.id/stop-generasi-stunting-di-indonesia

http://www.indonesian-publichealth.com/2013/01/dampak-dan-penyebab-
stunted.html

Lampiran Pertanyaan dan Jawaban


1. Inayanti Jaenuddin (K211 13 504)
a. Diberikan dalam hitungan bulan atau perhari tablet zat besi sebanyak
90 tablet pada ibu hamil ?
b. Bagaimana mengatasi ibu yang tidak memproduksi ASI dan bayi yang
tidak memperoleh ASI dari ibunya ?
Jawab:
a. 90 tablet zat besi diberikan selama 90 hari kehamilan, berturut-turut
diberikan setiap hari 1 tablet dalam sehari.
b. Bayi yang tidak memiliki ibu dan tidak memperoleh ASI dari ibunya,
dapat dilakukan dengan meminta bantuan kepada ibu yang memiliki
bayi yang menyusui, atau bayi tersebut harus memiliki ibu asuh yang
memberinya ASI. Karena jika hal tersebut tidak diatasi bayi tersebut
akan mengalami masalah gizi dalam kehidupannya seterusnya.
Langkah yang dapat dilakukan untuk memproduksi ASI yang lancar:
1) Ibu yang menyusui harus memperhatikan asupan makanannya
yang memenuhi kebutuhan nutrisi secara seimbang dan baik yang
bertujuan agar ASI yang keluar dapat lancar dan ekslusif.
2) Meminimalisir tingkat gangguan psikologis yang dialami sang Ibu,
karena hal ini dapat mengakibatkan produksi ASI berkurang.

2. Sri Wulandari (K211 13 006)


Apa perbedaaan anak-anak yang mengalami stunted lebih awal yaitu
sebelum usia enam bulan dan yang mengalami stunted setelah usia enam
bulan ?
Jawab:
Yang membedakan stunting sebelum dan sesudah umur 2 tahun yaitu cara
pengukuran antropometrinya yaitu anak usia sebelum 2 tahun dilakukan
pengukukuran panjang badan (PB) karena belum bias berdiri. Sedangkan
pada usia sesudah 2 tahun dilakukan pengukuran tinggi badan (TI) karena
anak tersebut sudah bisa berdiri. Ada program pemerintah yaitu 1000 hari
pertama kehidupan yang harus diperhatikan asupan gizinya dari dalam
kandungan hingga berumur 2 tahun. Artinya pada 1000 hari pertama
kehidupan itu benar-benar diperhatikan proses pertumbuhan dan
perkembangannya dari asupan makanannya, karena jika tidak diperhatikan
akan sangat mempengaruhi perkembangan kehidupan selanjutnya, dan
akan susah diatasi.

3. Nur Indayani (K211 13 313)


Upaya apa yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengurangi
stunting yang terjadi di Indonesia?
Jawab:
a. Pengembangan, pemantauan dan penegakan peraturan
nasional untuk mengawasi pemasaran produk pengganti ASI.
b. Revisi standar minimal pelayanan kesehatan untuk mencakup aksi-
aksi dan sasaran gizi, seperti aksi-aksi yang berhubungan dengan
konseling gizi, makanan pendamping ASI dan gizi ibu.
c. Penguatan sistem informasi kesehatan untuk meningkatkan
keandalan data, promosi pengawasan suportif terhadap program
kesehatan dan gizi, dan promosi penggunaan data oleh petugas
kesehatan secara terus-menerus untuk meningkatkan dampak
program.
d. Penguatan program fortifikasi pangan nasional dengan
memperbarui standar fortifikasiuntuk terigu, pengharusan
fortifikasi minyak, dan peningkatan penegakan legislasi yang ada;
tentang iodisasi garam.
e. Implementasi langkah-langkah untuk merekrut, mengembangkan
dan mempertahankan ahli gizi yang memenuhi syarat, termasuk
insentif bagi mereka yang bekerja di daerah-daerah yang kurang
terlayani.

4. Muhammad Iffah Nurhikmah (K211 13 310)


Apabila pasangan suami istri, keduanya stunting, apakah anaknya lahir
stunting pula? Selama masa pertumbuhannya asupan gizi yang diberikan
pada sang anak sangat cukup. Apakah stunting itu merupakan faktor
genetik, dana anak tersebut dikatakan stunting atau tidak?
Jawab:
stunting bukan penyakit genetik, artinya anak tersebut belum tentu
stunting, jika asupan nutrisi yang diberikan sangat cukup, bisa saja anak
tersebut tidak mengikuti orangtuanya yang stunting. Presentasi anak
tersebut stunting hanyalah 10%. Asupan nutrisi lebih berperan terhadap
pertumbuhan sang anak dari dalam janin.

5. Andi Fahrunisah (K211 13 307)


Pada anak yang normal IQ nya 105, sedangkan pada anak yang mengalami
stunting hanya 90. Adakah cara untuk menambah kecerdasan pada anak
stunting tersebut?
Jawab: Penelitian tahun 1991 mengatakan bahwa anak normal rata-rata
memiliki kecerdasan dengan skor sekitar 105, sedangkan anak
stunting hanya memiliki skor sekitar 90. pemberian susu dan
stimulasi merupakan kombinasi yang baik dalam meningkatkan
kecerdasan anak stunting. Dengan melakukan keduanya,
kecerdasan anak stunting rata-rata bisa mencapai skor 100.
Sedangkan pemberian stimulasi saja rata-rata skor kecerdasan
mencapai 97 dan pemberian susu saja mencapai 95.

6. Lia Nurmilatun Saidah (K211 13 302)


Seseorang yang memiliki riwayat penyakit stunting, dapatkah diatasi
dengan asupan makanan dan ASI?
Jawab:
Iya dapat diatasi, karena jika masalah gizi di awal kehidupan teratasi,
maka risiko dan biaya kesehatan di kemudian hari bisa jauh berkurang.
Stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungan
dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil.
Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja sampai umur 6
bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping
ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Memperbaiki gizi dan
kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi stunting.
Karena ASI eksklusif dapat melindungi bayi dari penyakit, ASI juga
mengandung agen anti bakteri dan anti virus. Dengan diberikan ASI dapat
mengurangi resiko masalah gizi , karena ASI mengandung 88% air dan
mengandung zat gizi lainnya seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin
mineral serta zat gizi lain. ASI mengoptimalkan perkembangan fisik dan
mental anak.

7. Amalia (K211 13 007)


Apa yang menyebabkan prevalensi stunting yang terjadi di indonesia
mengalami naik turun?
Jawab :
Hal itu dapat disebabkan oleh asupan gizi yang kurang, seringnya anak
sakit juga menjadi penyebab terjadinya gangguan pertumbuhan. Sanitasi
lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anak melalui peningkatan
kerawanan anak terhadap penyakit infeksi. Anak yang sering sakit akibat
rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat dapat menyebabkan gangguan
pertumbuhan kronis dan berdampak anak menjadi pendek.
Status gizi ibu yang sangat berkaitan dengan kejadian balita pendek.
Terlihat dari ibu yang pendek sekalipun ayah normal, prevalensi balita
pendek pasti tinggi, tetapi sekalipun ayah pendek tetapi ibu normal,
prevalensi balita pendek masih lebih rendah disbanding ibunya yang
pendek. Artinya status gizi ibu yang akan menjadi ibu hamil yang sangat
menentukan akan melahirkan balita pendek.
Dan juga dari segi pendidikan ayah dan ibu yang berdampak pada
kurangnya pengetahuan dan kemampuan dalam penerapan kesehatan dan
gizi keluarganya, sehingga anak berada dalam keadaan status gizi yang
kurang. Tidak adanya akses keluarga terhadap informasi dan penyediaan
informasi tentang kesehatan dan gizi anak yang mudah dimengerti dan
dilaksanakan oleh setiap keluarga juga merupakan faktor terjadinya balita
stunting.