Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PENDAHULUAN

GASTRITIS

A. PENGERTIAN
1. Gastritis adalah inflamasi dari dinding lambung terutama pada mukosa gaster. (Hadi, 1995)
2. Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus
atau lokal. (Price & Wilson, 1992)
3. Gastritis adalah peradangan lokal atau menyebar pada mukosa lambung, yang berkembang
bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain. (Charlene J,
Reeves, 2001)
B. ETIOLOGI
Beberapa hal yang dapat menyebabkan kerusakan lapisan pelindung lambung
(http://www.medicastore.com).
1) Gastritis Bakterialis
a. Infeksi bakteri Helicobacter Pylori yang hidup didalam lapisan mukosa yang melapisi
dinding lambung. Diperkirakan ditularkan melalui jalur oral atau akibat memakan atau
minuman ynag terkontaminasi oleh bakteri ini. Infeksi ini sering terjadi pada masa kanak-
kanan dan dapat bertahan seumur hidup jika tidak dilakukan perawatan.
b. Infeksi bakteri Campylobacter Pyloroides.
2) Gastritis Karena Stres Akut
a. Penyakit berat atau trauma ( cedera ) yang terjadi tiba tiba.
b. Pembedahan
c. Infeksi berat
d. Cederanya sendiri mungkin tidak mengenai lambung seperti terjadi pada luka bakar yang
luas atau cedera yang menyebabkan perdarahan hebat.

3) Gastritis Erosif Kronis


a. Pemakaian obat penghilang rasa nyeri secara terus menerus. Obat analgesik anti
inflamasi nonsteroid (AINS) seperti Aspirin, Ibu Profen dan Naproxen dapat menyebabkan
perdarahan pada lambung dengan cara menurunkan Prostaglandin yang bertugas melindungi
dinding lambung.
b. Penyakit Crohn, gejalanya sakit perut dan diare dalam bentuk cairan. Bisa
menyebabkan peradangan kronis pada dinding saluran cerna namun, kadang kadang dapat
juga menyebabkan peradangan pada dinding lambung.
c. Penggunaan Alkohol secara berlebihan , alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mucosa
pada dinding lambung dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung
walaupun dalam kondisi normal.
4) Gastritis Eosinofilik
Terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi terhadap infeksi cacing gelang Eosinofil (sel darah
putih) terkumpul pada dinding lambung.
5) Gastritis Hipotropi dan Atropi
Terjadi karena kelainan Autoimmune, Autoimmune Atropic Gastritis terjadi ketika sistem
kekebalan tubuh menyerang sel sel yang sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini
mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding lambung,
menghancurkan kelenjar kelenjar penghasil asam lambung dan mengganggu produksi faktor
intrinsik (yaitu sebuah zat yang membantu tubuh mengabsorbsi vitamin B12) kekurangan
vitamin B12 akhirnya, dapat mengakibatkan Pernicious Anemia, sebuah kondisi yang serius
bila tidak segera dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem dalam tubuh. Autoimmune
Atropic Gastritis terutama terjadi pada orang tua.

6) Penyakit Meiner
Dinding lambung menjadi tebal, lipatannya melebar, kelenjarnya membesar dan memiliki
kista yang terisi cairan. Sekitar 10 % penderita ini menderita kanker lambung.
7) Gastritis Sel Plasma
Sel plasma ( salah satu jenis sel darah putih ) terkumpul dalam dinding lambung dan organ
lainnya.
8) Penyakit Bile Refluk
Bile ( empedu ) adalah cairan yang membantu mencerna lemak lemak dalam tubuh. Cairan
ini diproduksi oleh hati. Ketika dilepaskan, empedu akan melewati serangkaian saluran kecil
dan menuju keusus kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot Sphincter yang berbentuk
seperti cincin (Pyloric Valve) akan mencegah empedu mengalir balik kedalam lambung.
Tetapi jika katub ini tidak bekerja dengan benar, maka empedu akan masuk kedalam lambung
dan mengakibatkan peradangan dan Gastritis.
9) Radiasi dan Kemoterapi
Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan
pada dinding lambung dan selanjutnya dapat berkembang menjadi Gastritis dan Peptic Ulcer.
Ketika tubuh terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara, tapi
dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi permanen dan dapat
mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar kelenjar penghasil asam lambung.
10) Faktor-faktor lain
Gastritis sering juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan lainnya seperti HIV / AIDS, infeksi
oleh parasit, dan gagal hati atau ginjal.

C. PATOFISIOLOGI
Lambung adalah sebuah kantong otot yang kosong, terletak dibagian kiri atas perut
tepat dibawah tulang iga. Lambung orang dewasa memiliki panjang berkisar antara 10 inci
dan dapat mengembang untuk menampung makanan atau minuman sebanyak 1 gallon. Bila
lambung dalam keadaan kosong, maka ia akan melipat, mirip seperti sebuah akordion. Ketika
lambung mulai terisi dan mengembang, lipatan lipatan tersebut secara bertahap membuka.
Lambung memproses dan menyimpan makanan dan secara bertahap melepaskannya
kedalam usus kecil. Ketika makanan masuk kedalam esofagus, sebuah cincin otot yang
berada pada sambungan antara esofagus dan lambung ( Esophangeal Sphincer ) akan
membuka dan membiarkan makanan masuk lewat lambung. Setelah masuk kelambung cincin
ini menutup. Dinding lambung terdiri dari lapisan otot yang kuat. Ketika makanan berada
dilambung, dinding lambung akan mulai menghancurkan makanan tersebut. Pada saat yang
sama, kelenjar kelenjar yang berada dimucosa pada dinding lambung mulai mengeluarkan
cairan lambung ( termasuk enzim enzim dan asam lambung ) untuk lebih menghancurkan
makanan tersebut.
Suatu komponen cairan lambung adalah Asam Hidroklorida. Asam ini sangat korosif
sehingga paku besipun dapat larut dalam cairan ini. Dinding lambung dilindungi oleh mucosa
mucosa bicarbonate (sebuah lapisan penyangga yang mengeluarkan ion bicarbonate secara
reguler sehingga menyeimbangkan keasaman dalam lambung ) sehingga terhindar dari sifat
korosif hidroklorida. Fungsi dari lapisan pelindung lambung ini adalah agar cairan asam
dalam lambung tidak merusak dinding lambung. Kerusakan pada lapisan pelindung
menyebabkan cairan lambung yang sangat asam bersentuhan langsung dengan dinding
lambung dan menyebabkan peradangan atau inflamasi.Gastritis biasanya terjadi ketika
mekanisme pelindung ini kewalahan dan mengakibatkan rusak dan meradangnya dinding
lambung.(http://google.com//Gastritis).
PATHWAY KEPERAWATAN
Sumber: (Kumar, 1995), (Nanda, 2006), (Ester. M, 2001)
D. MANIFESTASI KLINIS
Gejalanya bermacam macam, tergantung kepada penyebab Gastritisnya. Biasanya penderita
Gastritis mengalami gangguan pencernaan ( Indigesti ) dan rasa tidak nyaman diperut sebelah
atas.(http://www.medicastore.com)
1) Gastritis Bakterialis
Dapat ditandai dengan adanya demam, sakit kepala dan kejang otot.
2) Gastritis Karena Stres Akut
Penyebabnya (misalnya penyakit berat, luka bakar atau cedera) biasanya menutupi gejala
gejala lambung : tetapi perut sebelah atas terasa tidak enak. Segera setelah cedera, timbul
memar kecil dalam lapisan lambung, dalam beberapa jam memar ini bisa berubah
menjadi ulkus. Ulkus dan Gastritis bisa menghilang bila penderita sembuh dengan cepat dari
cederanya. Bila penderita tetap sakit, ulkus bisa membesar dan mulai mengalami pendarahan,
biasanya dalam waktu 2 5 hari setelah terjadinya cedera. Perdarahan menyebabkan tinja
berwarna kehitaman seperti aspal, cairan lambung menjadi kemerahan dan jika sangat berat,
tekanan darah bisa turun. Perdarahan bisa meluas dan berakibat fatal.
3) Gastritis Erosif Kronis
Gejalanya berupa mual ringan dan nyeri diperut sebelah atas. Tetapi banyak penderita
( misalnya pemakai Aspirin jangka panjang ) tidak merasakan nyeri. Penderita lainnya
merasakan gejala yang mirip ulkus, yaitu nyeri ketika perut kosong. Jika gastritis
menyebabkan perdarahan dari ulkus lambung, gejalanya berupa tinja berwarna kehitaman
seperti aspal ( Melena ), muntah darah ( Hematemesis ) atau makanan yang sudah dicerna
yang menyerupai endapan kopi.
4) Gastritis Eosinofilik
Gejalanya berupa nyeri perut dan muntah bisa disebabkan penyempitan atau penyumbatan
ujung saluran lambung yang menuju keusus dua belas jari.

5) Penyakit Meniere
Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri lambung. Hilangnya nafsu makan, mual,
muntah dan penurunan berat badan, lebih jarang terjadi. Tidak pernah terjadi perdarahan
lambung. Penimbunan cairan dan pembengkakan jaringan (edema) bisa disebabkan karena
hilangnya protein dari lapisan lambung yang meradang. Protein yang hilang ini bercampur
dengan isi lambung dan dibuang dari tubuh.
6) Gastitis Sel Plasma
Gejalanya berupa nyeri perut dan muntah bisa terjadi bersamaan dengan timbulnya ruam
dikulit dan diare.
7) Gastritis Akibat Terapi Penyinaran
Menyebabkan nyeri, mual dan Heartburn (rasa hangat atau rasa terbakar dibelakang tulang
dada), yang terjadi karena adanya peradangan dan kadang karena adanya tukak dilambung.
Tukak bisa menembus dinding lambung sehingga isi lambung tumpah kedalam rongga perut,
menyebabkan peritonitis (peradangan lapisan perut) dan nyeri yang luar biasa. Perut kaku dan
keadaan ini memerlukan tindakan pembedahan darurat. Kadang setelah terapi penyinaran,
terbentuk jaringan parut yang menyebabkan menyempitnya saluran lambung yang menuju
keusus duabelas jari, sehingga terjadi nyeri perut dan muntah. Penyinaran bisa merusak
lapisan pelindung lambung, sehingga bakteri dapat masuk kedalam dinding lambung dan
menyebabkan nyeri hebat yang muncul secara tiba tiba.
Gejala Gastritis secara umum (http://www.google.com//Gastritis)
a. Hilangnya nafsu makan.
b. Sering disertai rasa pedih atau kembung di ulu hati, mual dan muntah.
c. Perih atau sakit seperti rasa terbakar pada perut bagian atas yang dapat menjadi lebih baik
atau lebih buruk ketika makan.
d. Perut terasa penuh pada perut bagian atas setelah makan.
e. Kehilangan berat badan.
E. KLASIFIKASI
Gastritis dibagi menjadi 2 jenis (Charlene.J.Reeves, 2001) yaitu:
1) Gastritis Akut
Gastritis akut adalah proses peradangan jangka pendek dengan konsumsi agen kimia atau
makanan yang mengganggu dan merusak mucosa gastrik. Agen semacam itu mencakup
bumbu, rempah-rempah, alkohol, obat-obatan, radiasi, chemoterapi dan mikroorganisme
infektif.
2) Gastritis Kronis
Gastritis kronis dibagi dalam tipe A dan B. Gastritis tipe A mampu menghasilkan imun
sendiri, tipe ini dikaitkan dengan atropi dari kelenjar lambung dan penurunan mucosa.
Penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi antibodi. Anemia Pernisiosa
berkembang dengan proses ini. Sedangkan Gastritis tipe B lebih lazim, tipe ini dikaitkan
dengan infeksi bakteri Helicobacter Pylori, yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Bila pasien didiagnosis terkena Gastritis, biasanya dilanjutkan dengan pemeriksaan
penunjang untuk mengetahui secara jelas penyebabnya. (http://www.google.com//Gastritis)
Pemeriksaan ini meliputi :
1) Pemeriksaan Darah
Tes ini digunakan untuk memeriksa adanya antibodi H. Pylori dalam darah. Hasil test yang
positif menunjukan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu waktu dalam
hidupnya, tapi itu tidak menunjukan bahwa pasien tersebut terkena infeksi. Tes darah dapat
juga dilakukan untuk memeriksa Anemia, yang terjadi akibat pendarahan lambung akibat
Gastritis.
2) Pemeriksaan Pernafasan
Tes ini dapat menentukan apakah pasien terinfeksi oleh bakteri H. Pylori atau tidak.

3) Pemeriksaan Feses
Tes ini memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam feses atau tidak. Hasil yang positif
mengindikasikan terjadi infeksi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah dalam
feses. Hal ini menunjukan adanya perdarahan pada lambung.
4) Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas
Dengan test ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang
mungkin tidak terlihat dengan sinar-X. Test ini dilakukan dengan cara memesukan sebuah
selang kecil yang fleksibel (endoskop) melalui mulut dan masuk kedalam Esopagus, lambung
dan bagian atas usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu dimati-rasakan (anestesi)
sebelum endoskop dimasukan untuk memastikan pasien merasa nyaman menjalani test ini.
Jika ada jaringan dalam saluran cerna yang terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil
sedikit sampel (biopsi) dari jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa
kelaboratorium untuk diperiksa. Test ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit.
Pasien biasanya tidak langsung disuruh pulang ketika selesai test ini, tetapi harus menunggu
sampai efek dari anestesi menghilang, kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada
resiko akibat test ini. Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada
tenggorokan akibat menelan endoskop.
5) Ronsen Saluran Cerna Bagian Atas
Test ini akan melihat adanya tanda-tanda Gastritis atau penyakit pencernaan lainnya.
Biasanya pasien akan diminta menelan cairan Barium terlebih dahulu sebelum dilakukan
Ronsen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika dironsen.
G. PENCEGAHAN
Walaupun infeksi H.Pylori tidak dapat selalu dicegah, berikut beberapa saran untuk dapat
mengurangi resiko terkena Gastritis.
(http://www.Google.com//Gastritis)
1) Makan secara benar
Hindari makanan yang dapat mengiritasi terutama makanan yang pedas, asam, gorengan, atau
berlemak. Yang sama pentingnya dengan pemilihan jenis makanan yang tepat bagi kesehatan
adalah bagaimana cara memakannya. Makanlah dengan jumlah yang cukup, pada waktunya
dan lakukan dengan santai.
2) Hindari Alkohol
Penggunaan Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis lapaisan mucosa lambung dan dapat
mengakibatkan peradangan dan perdarahan.
3) Jangan merokok
Merokok mengganggu kerja lapisan lambung, membuat lambung lebih rentan terhadap
Gastritis dan borok. Merokok juga meningkatkan asam lambung, sehingga menunda
penyembuhan lambung dan merupakan penyebab utama terjadinya kanker lambung.
4) Lakukan olah raga secara teratur
Aerobik dapat meningkatkan kecepatan pernafasan dan jantung, juga dapat menstimulasi
aktivitas otot usus sehingga membantu mengeluarkan limbah makanan dari usus secara lebih
cepat.
5) Kendalikan stres
Stres meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke, menurunkan sistem kekebalan tubuh
dan dapat memicu terjadinya permasalahan kulit. Stres juga dapat meningkatkan produksi
asam lambung dan memperlambat kecepatan pencernaan. Karena stres bagi sebagian orang
tidak dapat dihindari, maka kuncinya adalah dengan mengendalikannya secara efektif dengan
cara diet yang bernutrisi, istirahat yang cukup, olah raga teratur dan relaksasi yang cukup.
6) Ganti obat penghilang nyeri
Jika memungkinkan ahindari penggunaan AINS, obat-obat golongan ini akan menyebabkan
terjadinya peradangan dan akan membuat peradangan yang sudah ada menjadi lebih parah.
Ganti dengan penghilang nyeri yang mengandung Acetaminophen.
7) Ikuti rekomendasi dokter
H. PENATALAKSANAAN
Terapi Gastritis sangat bergantung pada penyebab spesifiknya dan mungkin memerlukan
perubahan dalam gaya hidup, pengobatan atau dalam kasus yang jarang pembedahan untuk
mengobatinya.
(http://www.google.com)
1) Jika penyebabnya adalah infeksi oleh Helicobacter Pylori, maka
diberikan Bismuth, Antibiotik (misalnya Amoxicillin &Claritromycin) dan obat anti-
tukak (misalnya Omeprazole).
2) Penderita Gastritis karena stres akut banyak mengalami penyembuhan (penyakit berat,
cedera atau perdarahan) berhasil diatasi. Tetapi sekitar 2 % penderita Gastritis karena stres
akut mengalami perdarahan yang sering berakibat fatal. Karena itu dilakukan pencegahan
dengan memberikan Antasid(untuk menetralkan asam lambung) dan obat anti-ulkus yang
kuat (untuk mengurangi atau menghentikan pembentukan asam lambung). Perdarahan hebat
karena Gastritis akibat stres akut bisa diatasi dengan menutup sumber perdarahan dengan
tindakan Endoskopi. Jika perdarahan masih berlanjut mungkin seluruh lambung harus
diangkat.
3) Penderita Gastritis Erosif Kronis bisa diobati dengan Antasid. Penderita sebaikanya
menghindari obat tertentu (misalnya Aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya)
dan makanan yang menyebabkan iritasi lambung. Misoprostol mungkin bisa mengurangi
resiko terbentuknya Ulkus karena obat anti peradangan non-steroid.
4) Untuk meringankan penyumbatan disaluran keluar lambung pada Gastritis Eosinofilik, bisa
diberikan Kortikosteroid atau dilakukan pembedahan.
5) Gastritis Atrofik tidak dapat disembuhkan, sebagian besar penderita harus mendapatkan
suntikan tambahan vitamin B12.
6) Penyakit Meiner bisa disembuhkan dengan mengangkat sebagian atau seluruh lambung.
7) Gastritis sel plasma bisa diobati dengan obat anti Ulkus yang menghalangi pelepasan asam
lambung.
8) Pengaturan diet yaitu pemberian makanan lunak dengan jumlah sedikit tapi sering.
9) Makanan yang perlu dihindari adalah yang merangsang dan berlemak seperti sambal,
bumbu dapur dan gorengan.
10) Kedisiplinan dalam pemenuhan jam-jam makan juga sangat membantu pasien dengan
gastritis.
I. KOMPLIKASI
Jika dibiarkan tidak terawat, Gastritis akan dapat mengakibatkan Peptic Ulcers dan
perdarahan pada lambung. Beberapa bentuk gastritis kronis dapat meningkatkan resiko
kanker lambung, terutama jika terjadi penipisan secara terus menerus pada dinding
lambung dan perubahan pada sel sel dinding lambung.
Kebanyakan kanker lambung adalah Adenocarcinomas, yang bermula pada sel sel
kelenjar dalam mucosa. Adenocarsinomas tipe 1 biasanya terjadi akibat infeksi H. Pylori.
Kanker jenis lain yang terkait dengan infeksi akibat H. Pylori adalah MALT (Mucosa
associated Lymphoid Tissue) Lymphomas, kanker ini berkembang secara perlahan pada
jaringan sistem kekebalan pada dinding lambung. Kanker jenis ini dapat disembuhkan bila
ditemukan pada tahap awal.
(http://www.Google.com//Gastritis).

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK


DENGAN GASTRITIS

A. PENGKAJIAN
Metode yang dapat digunakan dalam pengkajian berupa wawancara, pemeriksaan fisik,
observasi umum, catatan tertulis dari pelayanan kesehatan profesional lain, hasil pemeriksaan
diagnostik, catat pada waktu masuk RS dan interaksi dengan perawat, dokter, atau ahli yang
lain (Long, 1996).
Pengkajian kesehatan meliputi waktu terjadinya masalah, durasi, faktor pencetus dan
manifestasi manifestasi yang dirasakannya. Mulai dengan menanyakan mengapa ia mencari
bantuan kesehatan, kapan merasakan gejala, tanyakan pasien mengenai keluhan utama dan
penyakit saat ini berdasarkan: kapan masalah pertama kali dirasakan? Apakah bertahap atau
tiba tiba? Apa yang dilakukan pasien bila masalah pertama kali dihadapi? Apakah ini
berhubungan dengan masukan makanan?
1. Durasi
a. Apakah masalah terjadi kadang kadang atau menetap?
b. Bila masalah nyeri, perhatikan apakah masalah nyeri kontinyu atau intermitten?
2. Kualitas dan Karakteristik
Minta pasien untuk menggambarkan masalah
3. Tingkat Keparahan
Apakah ini mempengaruhi kemampuannya melakukan aktivitas kehidupan sehari hari
seperti biasanya.
4. Lokasi
a. Dimana pasien merasakan terjadinya masalah?
b. Apakah nyeri menyebar pada bagian tubuh yang lain?
c. Apa yang terjadi pada pasien bila terjadi manifestasi?

5. Faktor Pencertus
a. Adakah sesuatu yang tampaknya menimbulkan masalah?
b. Apakah hal itu membuat makin buruk / makin baik?
c. Kapan ini terjadi?
d. Apakah berhubungan dengan makanan, minuman atau aktivitas?
e. Apakah makanan mencetuskan / meningkatkan nyeri?
6. Faktor Penghilang
a. Adakah sesuatu yang dilakukan pasien untuk mengurangi masalah?
b. Sudahkah ia mencoba obat obatan ?
c. Mengubah posisi atau hal lain yang dapat menghilangkan nyerinya?
7. Manifestasi yang berhubungan dengan gastritis
a. Adakah manifestasi lain yang menggganggu pasien bila masalahnya ada?
b. Apakah pasien kehilangan nafsu makan, mual, muntah atau diare?
Dibawah ini adalah sumber data yang berupa biodata pasien, keluhan utama, keluhan
tambahan, riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga dan pemeriksaan fisik pada
pasien dengan Gastritis:
1. Biodata Pasien
Biodata pasien secara lengkap diperlukan untuk memulai hubungan yang harmonis dan serasi
antara perawat dan pasien. Adanya hubungan awal yang baik dapat memperlancar dalam
mengembangkan hubungan atau komunikasi Terapeutik. Terjalinnya komunikasi terapeutik
yang baik dapat membantu menurunkan sters pasien akibat Hospitalisasi dan meningkatkan
peras serta pasien dalam perawatan dan pengobatan.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama yang dirasakan pasien adalah nyeri didaerah Epigastrium. Nyeri yang dialami
dipengaruhi oleh penglaman, persepsi, toleransi dan reaksi orang terhadap nyeri itu sendiri.
Individu memberi respon yang berbeda terhadap nyeri, ada yang disertai rasa takut, gelisah,
dan cemas sedangkan yang lain penuh dengan toleransi dan optimis. ( Long, 1996 ).
Beberapa mekanisme nyeri yang bersumber dari abdomen yaitu inflamasi peritoneum
parietal, obstruksi visera rongga, gangguan vaskular dan dinding abdominal. Nyeri inflamasi
peritoneum parietal bersifat tetap, sakit dan terletak langsung pada daerah meradang.
Intensitas nyeri tergantung pada tipe dan jumlah substansi benda asing pada peritoneum
parietal yang terpapar dalam periode waktu tertentu. Pelepasan mendadak sejumlah kecil
cairan asam lambung kerongga peritoneum menyebabkan nyeri yang hebat dibandingkan
dengan bahan yang sangat tercemar dalam jumlah yang sama.
Karakteristik lain iritasi peritoneal adalah spasme reflek tonik otot abdomen. Intensitas
spasme otot tonik yang menyertai inflamasi peritoneal bergantung pada lokasi proses
peradangan atau kecepatan berkembang dan integritas sistem nervosa.
Nyeri obstruksi visera abdominal berongga secara klasik dilukiskan sebagai intermiten,
abdomen mulas atau kolik. Nyeri karena gangguan vaskuler disebabkan karena adanya
embolisme atau trombosis arteri mesentererika superior.
Nyeri yang timbul dari dinding abdomen biasanya konstan dan sakit. Pergerakan, berdiri
lama dan adanya tekanan pada abdomen akan menambah perasaan nyeri dan spasme otot.
Keterlibatan otot secara serentak pada bagian lain dari tubuh biasanya bermanfaat untuk
membedakan miositis dinding abdomen dari suatu proses intraabdominal yang dapat
menyebabkan nyeri pada daerah yang sama.
Keluhan Tambahan
Keluhan tambahan yang terdapat pada pasien gastritis biasanya berupa mual dan muntah.
Mual dan muntah dikendalikan oleh pusat muntah pada dasar ventrikel otak keempat. Pusat
muntah dibagian dorsal lateral dari formasio retikularis medula oblongata, yaitu pada tingkat
nukleus motorik dorsal lateral dari syaraf vagus. Pusat ini terletak dekat dengan pusat
salivasi, vasomotor dan pernafasan. Alat keseimbangan dapat terserang akibat proses proses
sentral atau perifer. Peranan dari pusat muntah adalah mengkoordinir semua komponen
komplek yang terlibat dalam proses muntah. (Long, 1996).
Terjadinya muntah didahului oleh salivasi dan inspirasi dalam sfinter esophagus akan
relaksasi, laring dan palatum mole tingkat dan glotis menutup. Selanjutnya diafragma akan
berkontraksi dan menurun serta dinding perut juga berkontraksi mengakibatkan suatu tekanan
pada lambung dan sebagian isinya dimuntahkan. Peristiwa ini didahului oleh statis lambung,
kontraksi duodenum, dan antrum lambung. Mual dirasakan sebagai sensasi tidak enak
diepigastrium, dibelakang tenggorokan dan perut. Sensasi mual biasanya disertai dengan
berkurangnya motilitas lambung dan meningkatnya kontraksi duodenum.
Terdapat lima penyebab muntah yang utama diantaranya adalah penyakit psikogenik,
proses proses sentral, proses sentral tidak langsung, penyakit perifer dan iritasi lambung
atau usus. Konsekuensi dari muntah yang berat dan lama akan meningkatkan dehidrasi,
gangguan keseimbangan elektrolit serta gangguan asam basa.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Perawat menanyakan kepada pasien tentang masalah masa lalu pada sistem
Gastrointestinal. Pernahkan pasien dirawat dirumah sakit? Untuk melanjutkan pengkajian
keperawatan riwayat pasien, perawata mencatat status kesehatan umum pasien serta
gangguan dan perbedaan gastrointestinal sebelumnya. Obat obatan, dapatkan informasi
lengkap tentang obat yang diresepkan dan yang dijual bebas, baik saat ini dan yang
digunakan sebelumnya. Tanyakan tentang penggunaan Aspirin, dan obat antiinflamasi
nonsteroid (NSAID) yang dapat memperberat gastritis.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat kesehatan keluarga tentang penyakit Gastrointestinal yang dapat mempengaruhi
masalah kesehatan saat ini dan masa lalu pasien.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik kemudian dilakukan untuk memastikan data subjektif yang didapat
dari pasien. Abdomen diinspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi. Pasien ditempatkan dalam
posisi terlentang.
Kontur dan simetrisitas abdomen diperhatikan dengan identifikasi benjolan lokal, distensi
atau gerakan peristaltik. Auskultasi dilaksanakan sebelum perkusi dan palpasi dapat
meningkatkan motilitas usus, mengubah bising usus. Palpasi digunakan untuk
mengidentifikasi masa abdomen atau area nyeri tekan sebelum perkusi dan palpasi. Timpani
atau pekak dicatat selama perkusi. (Ester, 2000)
Nyeri tekan pada regio epigastrik merupakan salah satu dari manifesrasi klinis pada
gastritis. (Long, 1996). Nyeri pada regio epigastrik terjadi karena destruksi mucosa lambung.
Destruksi tersebut terjadi karena susana asam yang terdapat pada lumen lambung yang akan
mempercepat kerusakan mukosa barier oleh cairan usus yang menyebabkan efek nyeri
epigastrik, karena terjadi vasokontriksi pembuluh darah yang disebabkan karena stress terjadi
penurunan perfusi mucosa. Iskemia mucosa menyebabkan permeabilitas meningkat sehingga
difus balik H+ meningkat dan terjadi pengeluaran histamin mucosa dan pertukaran yang
dapat mengakibatkan gejala distensi abdomen dan konsistensi agak keras.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman ( Nyeri Akut ) berhubungan dengan Cedera Biologi (Iritasi
Lambung )
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan
makanan tidak adekuat dan rangsangan muntah.
3. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi pada mukosa lambung
4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan Muntah, Haematoemesis, Melena.
5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas menurun dan proses penyakit.
6. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, pengobatan, perawatan serta hospitalisasi
berhubungan dengan Kurang informasi.

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
a. Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Brunner dan Sudarth, 2001)
b. Gastritis adalah inflamasi (pembengkakan) dari mukosa lambung termasuk gastritis erosiva
yang disebabkan oleh iritasi, refluks cairan kandung empedu dan pankreas haemorraphic
gastritis, infectionus gastrititis dan atrafi mukosa lambung. (www.google.2007)
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa grastitis adalah suatu peradangan
dan mukosa lambung baik akut atau kronik yang menimbulkan gejala rasa sakit atau tidak
enak didaerah epigastrium.
Gastritis dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Gastritis akut
Merupakan kelainan klinis akut yang jelas penyebabnya dengan tanda dan gejala yang khas,
biasanya ditemukan sel inflamasi akut atau neotrofil.
2. Gastritis kronik
Penyebabnya tidak jelas, sering bersfat multifaktur dengan perjalanan klinik yang bervariasi.
Kelainan ini berkaitan erat dengan H. Pylori.

2. Etiologi
a. Gastritis akut disebabkan oleh:
1. Obat-obatan, aspirin, obat anti inflamasi non steroid (AINS)
2. Alkohol
3. Gangguan Mikosirkulasi mukosa lambung: trauma, luka bakar, sepsis. Secara mikroskopik
terdapat lesi mukosa dengan lokasi yang berbeda. Jika ditemukan pada korpus dan fundus,
biasanya disebabkan stress. Jika disebabkan oleh obat-obatan AINS terutama ditemukan
didaerah antrum, namun dapat juga menyeluruh sedangkan secara mikroskopik terdapat erosi
dengan regenerasi epitel dan ditemukan reaksi sel inflamasi neutrofil yang minimal.
b. Gastritis kronis disebabkan oleh:
Ulkus benigna atau maligna atau oleh bakteri helycobacterpylory (H. Pylory).

3. Patofisiologi
a. Gastitis Akut
Membran mukosa lambung menjadi edema dan hiperemik (kongesti dengan jaringan,
cairan dan darah) dan mengalami erosi superfisial bagian ini mensekresi sejumlah getah
lambung, yang sangat sedikit asam tetapi banyak mucus. Ulserasi superfisial dapat terjadi dan
dapat menimbulkan hemoragi. Mukosa lambung memperbaiki diri sendiri setelah mengalami
gastritis, kadang hemoragi memerlukan intervensi bedah.

b. Gastritis Kronis
Dapat diklisifikasikan sebagai tipe A atau tipe B. Tipe A (sering disebut sebagai gastritis
autoinum) diakibatkan dari perubahan sel parietal yang menimbukan atrofi dan infiltrasi
seluler, hal ini jika dibandingkan dengan penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa dan
terjadi pada fundus atau korpus dari lambung . Tipe B (kadan disebut sebagai gastritis H
Pylory ) mempengarui antrum dan pylorus (ujung bawah lambung dekat duodenum) ini
dihubungkan dengan bakteri H. Pylory. Faktor diet, seperti minum panas atau pedas,
penggunaan obat-obatan, alkohol, merokok atau refluk isi usus ke dalam lambung.

4. Pathway
Pathway dapat dilihat disini.
5. Tanda dan gejala
a. Gastritis Akut
Memiliki tanda dan gejala:
Merasa tidak nyaman, syndrome dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, mentah,
kembung, merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemuka pula pendarahan
saluran cerna hematemesis dan melena. Kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca
pendarahan.
b. Gastritis kronis
Memiliki tanda dan gejala:
Nyeri ulu hati, anoreksia, nausea dan pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan.

6. Evaluasi Diagnostik
a. Gastritis Akut
Tiga cara dalam menegakkan diagnosis, yaitu gambaran klinis, gambaran lesi mukosa
akut di mukosa lambung berupa erosi atau ulkus dangkal dengan tepi rata. Pada endoskopi
saluran cerna bagian atas lebih sensitif dan spesifik untuk diagnosis kelainan akut lambung.
b. Gastritis Kronis
Gastritis tipe A dihubungkan dengan Aklorhidria dan Hipoklorhidria (kadar asam
hidroklohidria tidak ada atau rendah) sedangkan gastritis tipe B dihubungkan dengan
Hiperklorhidria (kadar tinggi dari hodroklorhidria). Diagnosis dapat ditentukan dengan
endoskopi, sedangkan pemeriksaan sinarX dan pemeriksaan histologis. Tindakan diagnosis
untuk mendeteksi H.Pylory mencakup serologis untuk antibody terhadap antigen H. Pylory
dan pernafasan.

7. Komplikasi
a. Gastritis akut
Pendarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hematemesis dan melena, dapat
berakhir dengan shock hemoragik. Khususnya untuk pendarahan SCBA, perlu dibedakan
dengan tukak peptic. Gambaran klinis yang diperlihatkan hampir sama namun pada tukak
peptic.
Penyebab utamanya adalah infeksi H. Pylory sebesar 100% pada tukak duodenum dan
60-90% pada tukak lambung.
b. Gastritis Kronis
Pendarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi dan anemia karena gangguan
absorbsi Vitamin B12.
8. Penatalaksanaan
a. Gastritis akut dapat diatasi dengan menghilangkan etiologinya. Diet lambung dengan porsi
kecil dan sering. Apabila gejala menetap cairan perlu diberikan secara parenteral. Bila
pendaraan terjadi maka penatalaksanaannya adalah serupa dengan prosedur yang dilakukan
untuk hemoragi saluran gastrointestinal. Bila gastritis diakibatkan oelh mencerna makanan
yang terlalu asam atau alkali. Pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralan agen
penyebab.
Untuk menetralisasi asamsx
Digunakan antasida umum (misalnya alumunium hidrosida). Untuk menetralisasi alkali
digunakan intravena bahan yang cukup encer.
Bila korasi lurus atau berat karena berbagai terapi pendukung mencakup intubasi analgesik
dan sedatif, antasida serta cairan intravena endoskopi, fiberoptik, mungkin diperlukan untuk
mengangkat gangren atau jaringan perforasi. Gastrojejunostomi atau sekresi lambung
mungkin diperlukan untuk mengatasi obstruksi pylorus.
b. 2. Gastritis Kronis diatasi dengan modifikasi diet pasien, meningkatkan istirahat,
mengurangi stress, mengurangi stress dan memulai farmakoterapi. H. pylory dapat diatrasi
dengan anibiotik (seperti tetrasiklin atau amoksilin) dan garam bismuth (pepto-bismol).
Pasien dengan gastritis tipe A biasanya mengalami malabsorbsi vitamin B12 yang disebabkan
dengan adanya antibody terhadap faktor intrinsik.
B. Nursing Care Plan
1. Pengkajian
Pengumpulan dara subyektif dan obyektif sebelum melakukan tindakan keperawatan.
a. Pengkajian pola kesehatan fungsional
1. Riwayat pola persepsi kesehatan dan manajemen kesehatan.
Pengetahuan tentang penyakit dan pemeliharaan kesehatan selama ini.
2. Pola pemenuhan nutrisi metabolik
Program diet RS
Intake makanan dan cairan
3. Pola Eliminasi
Buang air besar
Buang air kecil
Karakteristik feses dan urine
4. Pola aktivitas dan latihan
Bernafas (pernafasan klien)
Sirkulasi (Mekanisme Kardio Pulmoner)
Aktivitas / Mobilitas
ADL = makan, berpakaian, mandi, mobilitas umum, berhias, eliminasi, memasak.
5. Pola tidur dan istirahat
Lama tidur, gangguan tidur, pengawasan saat bangun
6. Pola Persepsi kognitif
Pandangan klien tentang sakitnya
Kecemasan
Konsep diri
7. Pola persepsi Konsep Diri
Pandangan klien tentang sakitnya, kecemasan, konsep diri
8. Pola peran dan hubungan
Komunikasi hubungan dengan orang lain, kemampuan keuangan
9. Pola Seksualitas dan Reproduksi
Fertilisasi, libido, menstruasi, kontrasepsi
10. Pola Koping dan Toleransi Stress
Perubahan/kemampuan klien dalam bertahan terhadap situasi sepanjang hidupnya
11. Pola nilai dalam kepercayaan
Pandangan klien tentang agama dan kegiatan keagamaan.

2. Diagnosa Keperawatan

Definisi Gastritis
Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa yunani yaitu gastro,
yang berarti perut/lambung dan itis yang bebrarti inflamasi/peradangan.Gastritis adalah
inflamasi dari mukosa lambung (Kapita Selecta Kedokteran, Edisi Ketiga hal 492). Gastritis
adalah segala radang mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau local (Price
& Wilson 2006). Berdasarkan berbagai pendapat tokoh diatas, gastritis dapat juga diartikan
sebagai suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung dan secara
hispatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut.
Gastritis bukan merupakan penyakit tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang
kesemuanya itu mengakibatkan peradanngan pada lambung. Biasanya peradangan tersebut
merupakan akibat dari infeksi oleh bakteri yang sama dengan bakteri yang dapat
mengakibatkan borok di lambung yaitu Helicobacter pylori. Peradangan ini mengakibatkan
sel darah putih menuju ke dinding lambung sebagai respon terjadinya kelainan pada bagian
tersebut.

Gastritis menurut jenisnya terbagi menjadi 2, yaitu (David Ovedorf 2002):


a. Gastritis Akut
Disebabkan karna mencerna asam atau alkali yang dapat menyebabkan mukosa menjadi
ganggren atau proforasi. Gastritis akut dibagi menjadi dua gartis besar yaitu:
1) Gastritis Eksogen Akut (biasanya disebabkan oleh faktor-faktor dari luar, seperti bahan
kimia misalnya: lisol, alkohol, merokok, kafein lada, steroid mekanis iritasi bakterial obat
analgetik, anti inflamasi terutama aspirin(aspirin yang dosis rendah sudah dapat
menyebabkan erosi mukosa lambung).
2) Gastritis Endogen Akut (adalah gastritis yang disebabkan oleh kelainan badan.)

b. Gastritis Kronik
Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau maligna dari
lambung atau oleh bakteri Helicobacter pylory (H.Pylory).Gastritis kronik dikelompokan lagi
dalam 2 tipe yaitu tipe A dan tipe B. Dikatakan gastritis kronis tipe A jika mampu
menghasilkan imun sendiri. Tipe ini dikaitkan dengan atropi dari kelenjar lambung dan
penurunan mukosa.Penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi antibodi. Anemi
pernisiosa berkembang pada proses ini. Gastritis kronik tipe B lebih lazim.Tipe ini dikaitkan
dengan infeksi helicobacter pylori yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung.

B. Etiologi
Lambung adalah sebuah kantung otot yang kosong terletak pada bagian kiri atas perut
tepat dibawah tulang iga.Lambung orang dewasa mempunyai panjang berkisar antara 10
inchi dan dapat mengembang untuk menampung makanan atau minuman sebanyak 1 gallon.
Bila lambung dalam keadaan kosong, makan ia akan meliputi, mirip seperti sebuah akordion.
Ketika lambung mulai terisi dan mengembang lipatan- lipatan tersebut secara bertahap
membuka lambung memproses dan menyimpan makanan dan secara betahap melepaskannya
ke dalam usus kecil.
Ketika makanan masuk kedalam esofagus, sebuah cincin otot yang berada pada
sambungan antara esophagus dan lambung (esophagus sphincter) akan membuka dan
membiarkan makanan masuk kelambung. Setelah masuk kelambung cincin ini
menutup.Dinding lambung terdiri dari lapisan otot yang kuat. Ketika makanan berada di
lambung, dinding lambung akan mulai menghancurkan makanan tersebut. Pada saat yang
sama , kelenjar-kelenjar yang berada di mukosa pada dinding lambung akan mulai
mengeluarkan cairan lambung (termasuk enzim-enzim dan asam lambung), untuk lebih
menghancurkan makanan tersebut.
Salah satu komponen cairan lambung adalah asam hidroklorida.Asam ini sangat
korosif sehingga paku besi dapat larut dalam cairan ini. Dinding lambung dilindungi oleh
mukosa-mukosa bicarbonate (sebuah lapisan penyangga yang mengeluarkan ion bicarbonate
secara regular sehingga menyeimbangkan keasaman dalam lambung) sehingga terhindar dari
sifat korosif asam hidroklorida. Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung ini
kewalahan dan mengakibatkan rusak dan meradangnya dinding lambung. Beberapa penyebab
yang dapat mengakibatkan terjadinya gastritis antara lain:
1) Infeksi bakteri . Sebagian besar populasi di dunia teinfeksi oleh bakteri H.Pylori yang
hidup di bagian lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Walaupun tidak sepenuhnya
dimengerti bagaimana bakteri tersebut dapat ditularkan, namun diperkirakan penularan
tersebut terjadi melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang
terkontaminasi oleh bakteri ini. Infeksi H.Pylori sering terjadi pada masa kanak-kanak dan
dapat bertahan seumur hidup jika tidak dilakukan perawatan. Infeksi H.Pylori ini sekarang
diketahui sebagai penyebab utama terjadinya peptic ulcer dan penyebab tersering terjadinya
gastritis. Infeksi dalam jangka waktu yang lama akan menjadi peradangan menyebar yang
kemudian mengakibatkan perubahan pada lapisan pelindung dinding lambung. Salah satu
perubahan itu adalah atrophic gastritis, sebuah keadaan dimana kelenjar-kelenjar penghasil
asam lambung secara perlahan rusak. Peneliti menyimpulkan bahwa tingkat asam lambung
yang rendah dapat mengakibatkan racun-racun yang dihasilkan oleh kanker tidak dapat
dihancurkan atau dikeluarkan secara sempurna dari lambung sehingga meningkatkan resiko
(tingkat bahaya) dari kanker lambung. Tapi sebagaian besar orang yang terkena infeksi H.
Pylori kronis tidak mempunyai kanker dan tidak mempunyai gejala gastritis, hal ini
mengindikasikan bahwa ada penyebab lain yang membuat sebagian orang rentan terhadap
bakteri ini sedangkan yang lain tidak.
2) Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus.Obat analgesic anti inflamasi
nomsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxendapat menyebabkan peradangan
pada lambung dengan cara mengurangi prostalglandin yang bertugas melindungi dinding
lambung. Jika pemaikaian pbat-obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya
masalah lambung akan kecil. Tapi jika pemakaian dilakukan secara terus menerus atau
pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan gastritisd dan peptic ulcer.
3) Penggunaan alcohol secara berlebihan. Alcohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa
pada dinding lambung dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap aam lambung
walaupun pada kondisi normal.
4) Penggunaan kokain. Kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan pendarahan dan
gastritis.
5) Stress fisik. Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar, atau infeksi
berat dapat menyebabkan gastritis dan juga borok serta pendarahan pada lambung.
6) Kelainan aoutoimune.Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika system kekebalan tubuh
menyerang sel-sel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan
peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kenlenjar-
kelenjar penghasil asam lambung dan mengganggu produksi factor intrinsic (yaitu sebuah zat
yang membantu tubuh mengabsorbsi vitamin B-12). Kekurangan B-12, akhirnya, dapat
mengakibatkan pernicious anemia, sebuah konsisi serius yang jika tidak dirawat
mempengaruhi seluruh system dalam tubuh. Autoimmune atrophic gastritis terjadi terutama
pada orang tua.
7) Crohns disease. Walaupun penyakit ini biasanya menyebabkan peradangan kronis pada
dinding saluran cerna, namun kadang-kadang dapat juga menyebabkan peradangan pada
dinding lambung. Ketika lambung terkena penyakit ini, gejala-gejala dari crohns disease
(yaitu sakit perut dan diare dalam bentuk cairan) tampak lebih menyolok dari pada gejala-
gejala gastritis.
8) Radiasi dan Kemoterapi. Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat
mengakibatkan peradangan pada dinding lambung yang selanjutnya dapat berkembang
menjadi gastritis dan peptic ulcer.ketika tubuh terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang
terjadi biasanya sementara, tapi dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut
menjadi permanen dan dapat mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar-kelenjar
penghasil asam lambung.
9) Penyakit bile refluk. Bile (empedu) adalah cairan yang membantu mencerna lemak-lemak
dalam tubuh. Cairan ini diproduksi oleh hati ketika dilepaskan, empedu akan melewati
serangkaian saluran kecil dan menuju ke usus kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot
sphincter yang berbentuk seperti cincin (pyloric valve) akan mencegah empedu mengalir
balik ke dalam lambung. Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan benar, balik ke dalam
lambung. Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan benar, maka empedu akan masuk ke dalam
lambung dan mengakibatkan peradangan dan gastritis.

10) Faktor-faktor lain. Gastritis sering juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan lainnya seperti
HIV/AIDS, infeksi oleh parasit, dan gagal hati atau ginjal.
C. Patofisiologi
D. Manisfestasi Klinis
1. Gastritis akut :
a) Ulserasi superficial yang menimbulkan hemorragie
b) Ketidaknyamanan abdomen (mual, anoreksia)
c) Muntah serta cegukan
d) Dapat terjadi kolik dan diare
e) Peningkatan Suhu Tubuh
f) Takikardi
2. Gastritis kronis :
a) Tipe A : Asimtomatis
b) Tipe B :Mengeluh anoreksia, Sakit ulu hati setelah makan, Bersendawa, Rasa pahit dalam
mulut, Mual dan muntah
E. Komplikasi
1. Gastritis Akut
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh gastritis akut adalah perdarahan saluran cerna
bagian atas (SCBA) berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syock
hemoragik.Khusus untuk perdarahan SCBA, perlu dibedakan dengan tukak peptik. Gambaran
klinis yang diperlihatkan hampir sama. Namun pada tukak peptik penyebab utamanya adalah
H. pylory, sebesar 100% pada tukak duodenum dan 60-90 % pada tukak lambung. Diagnosis
pasti dapat ditegakkan dengan endoskopi.

2. Gastritis Kronis
Perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi dan anemia karena gangguan
absorpsi vitamin B12.
F. Penatalaksanaan Gastritis
Penatalaksanaan gastritis secara umum adalah menghilangkan faktor utama yaitu etiologinya,
diet lambung dengan porsi kecil dan sering, serta Obat-obatan. Namun secara spesifik dapat
dibedakan sebagai berikut:
1) Gastritis Akut:
a. Pantang minum alkohol dan makan sampai gejala-gejala menghilang; ubah menjadi diet
yang tidak mengiritasi.
b. Jika gejala-gejala menetap, mungkin diperlukan cairan IV.
c. Jika terdapat perdarahan, penatalaksanaannya serupa dengan hemoragie yang terjadi pada
saluran gastrointestinal bagian atas.
d. Jika gastritis terjadi akibat menelan asam kuat atau alkali, encerkan dan netralkan asam
dengan antasida umum, misalnya aluminium hidroksida, antagonis reseptor H2, inhibitor
pompa proton, antikolinergik dan sukralfat (untuk sitoprotektor).
e. Jika gastritis terjadi akibat menelan basa kuat, gunakan sari buah jeruk yang encer atau
cuka yang di encerkan.
f. Jika korosi parah, hindari emetik dan bilas lambung karena bahaya perforasi.
2) Gastritis Kronis :
a. Modifikasi diet, reduksi stress, dan farmakoterapi.
b. H. phylory mungkin diatasi dengan antibiotik (mis; tetrasiklin atau amoxicillin) dan garam
bismuth (pepto bismol)

G. Asuhan Keperawatan pada Gastritis


1) Pengkajian
Anamnesa meliputi:
a. Identitas Pasien
Nama
Usia
Jenis kelamin
Jenis pekerjaan
Alamat
Suku/bangsa
Agama
Tingkat pendidikan : bagi orang yang tingkat pendidikan rendah/minim mendapatkan
pengetahuan tentang gastritis, maka akan menganggap remeh penyakit ini, bahkan hanya
menganggap gastritis sebagai sakit perut biasa dan akan memakan makanan yang dapat
menimbulkan serta memperparah penyakit ini.
Riwayat sakit dan kesehatan
Keluhan utama
Riwayat penyakit saat ini
Riwayat penyakit dahulu

b. Pemeriksaan fisik : Review of System


B 1 (breath) : takhipnea
B 2 (blood) : takikardi, hipotensi, disritmia, nadi perifer
lemah, pengisian perifer lambat, warna kulit pucat.
B 3 (brain) : sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran
dapat terganggu, disorientasi, nyeri
epigastrum.
B 4 (bladder) : oliguri, gangguan keseimbangan cairan.
B 5 (bowel) : anemia, anorexia,mual, muntah, nyeri ulu hati,
tidak toleran terhadap makanan pedas.
B 6 (bone) : kelelahan, kelemahan

c. Pemeriksaan Diagnostik
i. Pemeriksaan Darah
Tes ini digunakan untuk memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam darah.Hasil tes yang
positif menunujukkan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu waktu dalam
hidupnya tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena infeksi.Tes darah dapat
juga dilakukan untuk memeriksa anemia yang terjadi akibat perdarahan lambung karena
gastritis.

ii. Uji Napas Urea


Suatu metode diagnostik berdasarkan prinsip bahwa urea diubah oleh ureaseH.Pylori dalam
lambung menjadi amoniak dan karbondioksida (CO2).CO2 cepat diabsorbsi melalui dinding
lambung dan dapat terdeteksi dalam udara ekspirasi.

iii. Pemeriksaan Feces


Tes ini memeriksa apakah terdapat bakteri H. Pylori dalam feses atau tidak.Hasil yang positif
dapat mengindikasikan terjadinya infeksi.Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah
dalam feses.Hal ini menunjukkan adanya pendarahan dalam lambung.

iv. Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas


Dengan tes ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang
mungkin tidak terlihat dari sinar-x. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang
kecil yang fleksibel (endoskop) melalui mulut dan masuk ke dalam esofagus, lambung dan
bagian atas usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu dianestesi sebelum endoskop
dimasukkan untuk memastikan pasien merasa nyaman menjalani tes ini. Jika ada jaringan
dalam saluran cerna yang terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel
(biopsy) dari jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk
diperiksa. Tes ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit.Pasien biasanya tidak
langsung disuruh pulang ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari
anestesi menghilang kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resioko akibat tes
ini.Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat
menelan endoskop.

v. Rontgen Saluran Cerna Bagian Atas


Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya
akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dirontgen. Cairan ini akan
melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di rontgen.

vi. Analisis Lambung


Tes ini untuk mengetahui sekresi asam dan merupakan tekhnik penting untuk menegakkan
diagnosis penyakit lambung.Suatu tabung nasogastrik dimasukkan ke dalam lambung dan
dilakukan aspirasi isi lambung puasa untuk dianalisis. Analisis basal mengukur BAO (basal
acid output) tanpa perangsangan. Uji ini bermanfaat untuk menegakkan diagnosis sindrom
Zolinger- Elison(suatu tumor pankreas yang menyekresi gastrin dalam jumlah besar yang
selanjutnya akan menyebabkan asiditas nyata).

vii. Analisis Stimulasi


Dapat dilakukan dengan mengukur pengeluaran asam maksimal MAO (maximum acid
output) setelah pemberian obat yang merangsang sekresi asam seperti histamin atau
pentagastrin.Tes ini untuk mengetahui teradinya aklorhidria atau tidak.

d. Psikososial
Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta
bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya, kecemasan
terhadap penyakit.

2) Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan mukosa lambung teriritasi
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan
nutrisi yang tidak adekuat.
c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan masukan cairan tidak cukup dan
kehilangan cairan berlebih.

3) Rencana Keperawatan
1 Nyeri Akut NOC NIC
Definisi: pengalaman - Pain level Pain management
sensori dan emosional - Pain control Lakukan
yang tidak menyenangkan- Comfort level pengkajian nyeri
yang muncul akibat Kriteria hasil: secara komperehensif
kerusakan jaringan yang - Mampu mengontrol nyeri termasuk lokasi,
actual atau potensial atau (tahu penyebab nyeri, karakteristik, durasi,
digambarkan dalam hal mampu menggunakan frekuensi, kualitas,
kerusakan sedemikian teknik nonfarmakologi dan faktor presipitasi.
rupa (International untuk mengurangi nyeri, Observasi reaksi
Association for the study mencari bantuan) nonverbal dari
of Pain): awitan yang - Melaporkan bahwa nyeri ketidaknyamanan.
tiba-tiba atau lambat dari berkurang dengan Gunakan teknik
intensitas ringan hingga menggunakan manajemen komunikasi terapiutik
berat dengan akhir yang nyeri untuk mengetahui
dapat diantisipasi atau - Mampu mengurangi nyeri pengalaman nyeri
diprediksi dan (skala intensitas, frekuensi pasien.
berlangsung <6 bulan. dan tanda nyeri) Kaji kultur yang
Batasan karakteristik: - Menyatakan rasa nyaman mempengaruhi respon
Perubahan selera setelah nyeri berkurang nyeri.
makan Evaluasi
Perubahan tekanan pengalaman nyeri
darah masa lampau.
Perubahan frekuensi Evaluasi bersama
jantung pasien dan tim
Perubahan frekuensi kesehatan lain tentang
pernafasan ketidakefektifan
Diaphoresis control nyeri masa
Perilaku distraksi (mis; lampau.
berjalan mondar-mandir Bantu pasien dan
mencari orang lain dan keluarga untuk
aktivitas yang berulang) mencari dan
Mengekspresikan menemukan
perilaku, mis; gelisah, dukungan.
merengek, dan menangis. Kontrol lingkungan
Masker wajah, mis; yang dapat
mata kurang bercahaya, mempengaruhi nyeri
tampak kacau, dan seperti suhu ruangan,
gerakan mata berpencar. pencahayaan, dan
Sikap melindungi area kebisingan.
nyeri Kurangi faktor
Fokus menyempit presipitasi nyeri
Indikasi nyeri yang Pilih dan lakukan
dapat diamati penanganan nyeri
Perubahan posisi (farmakologi,
untuk menghindari nyeri nonfarmakologi, dan
Dilatasi pupil interpersonal)
Melaporkan nyeri Kaji tipe dan
secara verbal sumber nyeri untuk
Gangguan tidur menentukan intervensi
Faktor yang berhubungan Ajarkan tentang
Agen cedera (mis; teknik nonfarmakologi
biologis, zat kimia, fisik, Berikan anlgetik
psikologis) untuk mengurangi
nyeri
Evaluasi
keefektifan kontrol
nyeri
Tingkatkan
istirahat kolaborasikan
dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
Monitor
penerimaan pasien
tentang manajemen
nyeri
Analgetic
administration
Tentukan lokasi
karakteristik, kualitas,
dan derajat nyeri
sebelum pemberian
obat
Cek intruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesic
yang diperlukan atau
kombinasi dari
analgesic ketika
pemberian lebih dari
satu
Tentukan pilihan
analgesic tergantung
tipe dan beratnya nyeri
Tentukan analgesic
pilihan, rute,
pemberian, dan dosis
optimal
Pilih rute
pemberian secara IV,
IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesic
pertama kali
Berikan anlgesik
tepat waktu, terutama
saat nyeri hebay
Evaluasi efektivitas
analgesic tanda dan
gejala
2 Ketidakseimbangan NOC NIC
nutrisi kurang dari Nutritional status : Nutrition Management
kebutuhan tubuh Nutritional status : food Kaji adanya alergi
Definisi : Asuhan nutrisi and fluid intake makanan
tidak cukup untuk Nutritional status : Kolaborasi dengan
memenuhi kebutuhan nutrient intake ahli gizi untuk
metabolic Weight control menentukan jumlah
Batasan karakteristik : Kreteria Hasil kalori dan nutrisi yang
Kram abdomen Adanya peningkatan dibutuhkan pasien.
Nyeri abdomen berat badan sesuai dengan Anjurkan pasien
Menghindari makanan tujuan untuk meningkatkan
Berat badan 20% atau Berat badan ideal sesuai intake Fe.
lebih dibawah berat dengan tinggi badan Anjurkan pasien
badan ideal Mampumengidentifikasi untuk meningkatkan
Kerapuahan kapiler kebutuhan nutrisi protein dan vitamin C
Diare Tidak ada tanda-tanda Berikan substansi
Kehilangan rambut malnutrisi gula
berlebihan Menunjukan Yakinkan diet yang
Bising usus hiperaktif peningkatan fungsi dimakan mengandung
Kurang makanan pengecapan dari menelan tinggi serat untuk
Kurang informasi Tidak terjadi penurunan mencegah konstipasi
Membrane mukosa berat badan yang berarti Berikan makanan
pucat yang erpilih (sudah
Ketidakmampuan dkonsltasikan dengan
memakan makanan ahli gizi
Tonus otot menurun Ajarkan pasien
Mengeluh gangguan bagaimana membuat
sensasi rasa catatan makanan
Mengeluh asupan harian.
makanan kurang Monitor jumlah
RDA (recormmended nutrisi dan kandungan
daily allowance) kalori
Cepat kenyang setelah Berikan informasi
makan tentang kebutuhan
Sariawan rongga mlut nutrisi
Steatorea Kaji kemampan
Kelemahan otot pasien untuk
pengunyah mendapatkan nutrisi
Kelemahan otot untuk yang dibutuhkan.
menelan Nutrision monitoring
Faktor-faktor yang BB pasien dalam
berhubungan : batas normal
Faktor biologis Monitor adanya
Faktor ekonomi berat badan
Ketidak mampuan Monitor tipe dan
untuk mengabsorbsi jumlah aktivitas yang
nutrient biasa dilakukan
Ketidakmampuan Monitor interaksi
untuk mencerna makanan anak atau orang tua
Ketidakmampuan selama makan.
menelan makanan Monitor
Faktor psikologis lingkungan selama
makan
Jadwalkan
pengobatan tidak
selama jam makan
Monitor kulit
kering dan perubahan
monitor turgor kulit
Monitor
kekeringan rambut
kusam dan mudah
patah
Monitor mual dan
muntah
Monitor total
protein Hb dan kadar
Ht
Monitor
pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat,
kemerahan, jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan
intake nutrisi
Catat adanya
edema,
hiperemi,hipertonik,
papilla lidah,cavitas
oral.
Catat jika lidah
berwarna magenta
scarlet.

Etiologi

1. Infeksi bakteri.
Sebagian besar populasi di dunia terinfeksi oleh bakteri H. Pylori yang hidup di
bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Diperkirakan penularan terjadi
melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh
bakteri ini. Infeksi H. pylori ini sekarang diketahui sebagai penyebab utama terjadinya peptic
ulcer dan penyebab tersering terjadinya gastritis. Infeksi dalam jangka waktu yang lama akan
menyebabkan peradangan menyebar yang kemudian mengakibatkan perubahan pada lapisan
perlindungan dinding lambung. Salah satu perubahan itu adalah atrophic gastritis, sebuah
keadaan dimana kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung secara perlahan rusak.
2. Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus
Obat analgesic anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen dan
naproxen dapat menyebabkan peradangan pada lambung dengan cara mengurangi
prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung.
3. Penggunaan alkohol secara berlebihan.
Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan membuat
dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung walaupun pada kondisi normal.
4. Penggunaan kokain.
Kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan perdarahan dan gastritis.
5. Stres fisik
Stres fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi berat dapat
menyebabkan gastritis dan juga borok serta perdarahan pada lambung.
6. Kelainan autoimmune
Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-
sel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan peradangan dan secara
bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam
lambung dan mengganggu produksi faktor intrinsic (yaitu sebuah zat yang membantu tubuh
mengabsorpsi vitamin B12). Kekurangan B12 akhirnya dapat mengakibatkan pernicious
anemia, sebuah konsisi serius yang tidak dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem dalam
tubuh.
7. Crohns disease.
Ketika lambung terkena penyakit ini, gejala-gejala dari Crohns disease (yaitu sakit
perut dan diare dalam bentuk cairan) tampak lebih menyolok daripada gejala gastritis.
8. Radiasi dan kemoterapi.
Ketika tubuh terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan tersebut menjadi permanen
dan dapat mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar penghasil asam lambung.

9. Penyakit bile refluk.


Bile (empedu) adalah cairan yang membantu mencerna lemak-lemak dalam tubuh.
Cairan ini diproduksi oleh hati. Ketika dilepaskan, empedu akan melewati serangkaian
saluran kecil dan menuju ke usus kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot sphincter yang
berbentuk seperti cincin (pyloric valve) akan mencegah empedu mengalir balik ke dalam
lambung. Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan benar, maka empedu akan masuk ke dalam
lambung dan mengakibatkan peradangan dan gastritis.

Manifestasi klinik

1. Gastritis Akut
a. rasa pedih, kadang timbul rasa berdenyut-denyut di perut atas yang ada hubungan dengan
makanan
b. Dapat terjadi ulserasi superfisal dan mengarah pada hemoragi
c. Rasa tidak nyaman pada abdomen dengan sakit kepala kelesuan, mual, anoreksia mungkin
terjadi mual dan muntah serta cegukan.
d. Beberapa pasien menunjukkan asimtomatik
e. Dapat terjadi lokil dan diare apabila tidak dimuntahkan tetapi malah mencapai usus
f. Pasien biasanya mulai pulih kembali sekitar sehari meskipun nafsu makan mungkin akan
hilang selama 2-3 hari

2. Gastritis kronik
a. Keluhan yang sering diajukan oleh penderita pada umumnya bersifat ringan dan dirasakan
sudah berbulan-bulan bahkan sudah bertahun-tahun.
b. Pada umumnya mengeluh rasa tidak enak diperut atas,lekas kenyang, mual, rasa pedih
sebelum atau sesudah makan dan kadang mulut terasa masam.

F. Komplikasi
Komplikasi yang timbul pada Gastritis Akut, yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas
(SCBA) berupa hemotemesis dan melena, berakhir dengan syock hemoragik, terjadi ulkus,
kalau prosesnya hebat dan jarang terjadi perforasi.

Komplikasi yang timbul Gastritis Kronik, yaitu gangguan penyerapan vitamin B 12, akibat
kurang pencerapan, B 12 menyebabkan anemia pernesiosa, penyerapan besi terganggu dan
penyempitan daerah antrum pylorus.

G. Penatalaksaan Farmakologis

Gastritis Akut
Pemberian obat-obatan H2 blocking (Antagonis reseptor H2). Inhibitor pompa proton,
ankikolinergik dan antasid (Obat-obatan alkus lambung yang lain). Fungsi obat tersebut
untuk mengatur sekresi asam lambung.

Gastritis Kronik
Pemberian obat-obatan atau pengobatan empiris berupa antasid, antagonis H2 atau inhibitor
pompa proton.

H. Penatakalsanaa Non-Farmakologis

Terapi non-farmakologis yang dapat dilakukan diantaranya mengurangi atau


menghilangkan stress psikologis, menghentikan kebiasaan merokok, tidak menggunakan
obat-obat golongan nonsteroidal anti-inflamatory drug (NSAID). Selain itu
penderitagastritis harus menghindari makanan-makanan yang dapat menyebabkan terjadinya
ulcer (tukak) seperti makanan dan minuman yang mengandung kafein, pedas dan alkohol.
(Dipiro, J.T., et al., 2005)

Manifstasi klinis
Manifestasi klinis pada gastritis akut dan gastritis kronik (Brunner & Suddart,2002:1062)
yaitu :

Gastritis akut :

o Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium

o Nausea

o Kembung

o Vomiting

o Anoreksia

o Rasa asam dimulut

o Kolik

o Diare

o Pendarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena

o Anemia pasca pendarahan.

Gastritis kronik :

o Nyeri ulu hati

o Anoreksia

o Nausea

o Bersendawa

o Vomiting

o Pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan.

Pemeriksaan Fisik :

Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara (Inayah, 2004 ; 58) sebagai berikut :

Inspeksi >> Melihat abdomen bagian kiri atas. Dilihat dari segi bentuknya.
Auskultasi >> Pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop (untuk mendengar
peristaltik lambung atau organ pencernaan yang lain).Apabila gerakan peristaltik
cepat dan sering,maka kemungkinan besar pasien mengalami gejala gastritis.

Palpasi >> Menekan atau meraba bagian perut. Apakah kondisi perutnya
kembung atau sakit kalau ditekan

Perkusi >> Perkusi dilakukan di abdomen bagian atas sebelah kiri, disana kita
mengamati apakah ada gas atau cairan di lambung

Pencegahan

Walaupun infeksi H. pylori tidak dapat selalu dicegah, berikut beberapa saran untuk dapat
mengurangi terkena gastritis (Donna D. 1995 ;1390) yaitu :

1. Lakukan olah raga secara teratur.

Aerobik dapat meningkatkan kecepatan pernapasan dan jantung,


juga dapat menstimulasi aktifitas otot usus sehingga membantu
mengeluarkan limbah makanan dari usus secara lebih cepat.

2 Jangan merokok.

a. Merokok mengganggu kerja lapisan pelindung lambung, membuat


lambung lebih rentan terhadap gastritis dan borok. Merokok juga
meningkatkan asam lambung, sehingga menunda penyembuhan
lambung dan merupakan penyebab utama terjadinya kanker
lambung. Tetapi, untuk dapat berhenti merokok tidaklah mudah,
terutama bagi perokok berat. Konsultasikan dengan dokter mengenai
metode yang dapat membantu untuk berhenti merokok.

2 Hindari alkohol.

Penggunaan alkohol dapat mengiritasi dan mengikis lapisan mukosa


dalam lambung dan dapat mengakibatkan peradangan dan
pendarahan.

2 Makan secara benar.

Hindari makanan yang dapat mengiritasi terutama makanan yang


pedas, asam, gorengan atau berlemak. Yang sama pentingnya dengan
pemilihan jenis makanan yang tepat bagi kesehatan adalah
bagaimana cara memakannya. Makanlah dengan jumlah yang
cukup, pada waktunya dan lakukan dengan santai.
2 Kendalikan stress.

Stress meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke,


menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu terjadinya
permasalahan kulit. Stress juga meningkatkan produksi asam
lambung dan melambatkan kecepatan pencernaan. Karena stress
bagi sebagian orang tidak dapat dihindari, maka kuncinya adalah
mengendalikannya secara effektif dengan cara diet yang bernutrisi,
istirahat yang cukup, olah raga teratur dan relaksasi yang cukup.

2 Ganti obat penghilang nyeri.

Jika dimungkinkan, hindari penggunaan AINS, obat-obat golongan


ini akan menyebabkan terjadinya peradangan dan akan membuat
peradangan yang sudah ada menjadi lebih parah. Ganti dengan
penghilang nyeri yang mengandung acetaminophen.