Anda di halaman 1dari 13

Defenisi bioetik

Sepanjang perjalanan sejarah dunia Kedokteran, banyak defenisi dan


paham mengenai bioetika yang dilontarkan oleh para ahli etika dari
berbagai belahan dunia. Pendapat pendapat ini dibuat untuk merumuskan
suatu pemahaman bersama tentang apa itu bioetika.

Bioetika berasal dari kata bios yang berati kehidupan dan ethos yang
berarti norma-norma atau nilai-nilai moral. Bioetika merupakan studi
interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di
bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro maupun makro,
masa kini dan masa mendatang. Bioetika mencakup isu-isu sosial,
agama, ekonomi, dan hukum bahkan politik. Bioetika selain
membicarakan bidang medis, seperti abortus, euthanasia, transplantasi
organ, teknologi reproduksi butan, dan rekayasa genetik, membahas pula
masalah kesehatan, faktor budaya yang berperan dalam lingkup
kesehatan masyarakat, hak pasien, moralitas penyembuhan tradisional,
lingkungan kerja, demografi, dan sebagainya. Bioetika memberi perhatian
yang besar pula terhadap penelitian kesehatan pada manusia dan hewan
percobaan.

Menurut F. Abel, Bioetika adalah studi interdisipliner tentang masalah-


masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan biologi dan kedokteran,
tidak hanya memperhatikan masalah-masalah yang terjadi pada masa
sekarang, tetapi juga memperhitungkan timbulnya masalah pada masa
yang akan datang.

Kaidah kaidah bioetik merupakah sebuah hukum mutlak bagi seorang

dokter. Seorang dokter wajib mengamalkan prinsip prinsip yang ada

dalam kaidah tersebut,tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi

berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan

dengan mengorbankan prinsip yang lain. Kondisi seperti ini disebut Prima
Facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika

kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia

mengacu kepada kepada 4 kaidah dasar moral yang sering juga disebut

kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika, yaitu:

Beneficence

Non - Maleficence

Justice

Autonomi

Beneficence

Dalam arti bahwa seorang dokter berbuat baik, menghormati

martabat manusia, dokter tersebut harus berusaha maksimal agar

pasiennya tetap dalam kondisi sehat. Perlakuan terbaik kepada pasien

merupakan poin utama dalam kaidah ini.Kaidah beneficence menegaskan

peran dokter untuk menyediakan kemudahan dan kesenangan kepada

pasien mengambil langkah positif untuk memaksimalisasi akibat baik

daripada hal yang buruk. Prinsip prinsip yang terkandung didalam kaidah

ini adalah;

Mengutamakan Alturisme

Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia


Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak

hanya menguntungkan seorang dokter

Tidak ada pembatasan goal based

Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak

dibandingkan dengan suatu keburukannya

Paternalisme bertanggung jawab/kasih sayang

Menjamin kehidupan baik-minimal manusia

Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan

Menerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik

seperti yang orang lain inginkan

Memberi suatu resep berkhasiat namun murah

Mengembangkan profesi secara terus menerus

Minimalisasi akibat buruk

Kaidah Benefince dalam kasus dokter Bagus

1. Dokter Bagus telah lama bertugas di suatu desa terpencil yang

sangat jauh dari kota. Sehari-harinya ia bertugas di sebuah puskesmas

yang hanya ditemani oleh seorang mantri, hal ini merupakan pekerjaan

yang cukup melelahkan karena setiap harinya banyak warga desa yang

datang berobat karena puskesmas tersebut merupakan satu-satunya

sarana kesehatan yang ada. Dokter Bagus bertugas dari pagi hari sampai
sore hari tetapi tidak menutup kemungkinan ia harus mengobati pasien

dimalam hari bila ada warga desa yang membutuhkan pertolongannya.

Disini dokter bagus menunjukan bahwa ia melayani pasien tanpa

mengenal batas waktu, walaupun sebenarnya ia merasakan

kelelahan,tetapi hal tersebut tidak meruntuhkan niatnnya untuk

menolong pasien dokter bagus juga rela berkorban demi orang lain.

Dalam kasus ini, dokter bagus telah menjalankan prinsip altruisme dalam

kaidah Beneficence.

2. Setelah memeriksakan anak tersebut, dokter Bagus menyarankan

agar anak tersebut dirawat dirumah sakit yang berada dikota.

Dapat kita lihat bahwa dokter bagus juga telah melakukan suatu

tindakan yang berhubungan dengan Kaidah Beneficence yaitu

mengusahakan agar kebaikan atau manfaat lebih banyak dibandingkan

dengan keburukannya, dan meminimalisasi akibat buruk.

3. Dokter Bagus memberikan beberapa macam obat dan vitamin

serta nasehat agar istirahat yang cukup.

Disini dokter Bagus memberi perhatian penuh kepada pasien,

dalam mengusahakan agar kebaikan serta manfaatnya lebih besar

dibandingkan dengan kerugian yang akan diterima pasien.

4. Pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak ibu ini dan setelah

itu tolong jelaskan cara membuat air oralit pada ibu ini kata dokter

Bagus kepada pak mantri.


Dapat dilihat jika dokter Bagus juga menjalankan prinsip

Benefince yang ke 15 yaitu, memberikan obat berkhasiat namun murah

kepada pasiennya.

5. Pak, yang hanya dapat saya lakukan adalah memberi obat

obatan penunjang agar anak bapak tidak terlalu menderita kata dokter

Bagus sambil menyerahkan obat kepada orang tua pasien. (Paragraf 4).

Dokter bagus memberikan obat penunjang untuk meminimalisasi

akibat buruk agar pasien tidek terlalu menderita.

6. Sambil bersimbah peluh, dokter Bagus akhirnya menyelesaikan

tindakan amputasi telapak tangan pemuda yang mengalami kecelakaan

tersebut. (Paragraf 5). Disini dokter Bagus menunjukkan sisi paternalisme

penuh kasih sayang dan bertanggung jawab sebagai seorang dokter

dalam menangani pasiennya.

7. Demikianlah kegiatan sehari-hari dokter Bagus dan tanpa terasa

sudah 25 tahun dokter Bagus mengabdi di desa tersebut dan kini usianya

sudah memasuki 55 tahun, namun belum ada sedikitpun dibenaknya

dokter Bagus untuk mencari pendamping hidupnya, yang ada hanya

bagaimana mengobati pasien-pasiennya

Disini dokter Bagus menunjukkan sis i altruisme, ia menolong dan

rela berkorban demi kepentingan orang lain, dan tidak mementingkan

dirinya sendiri.

Non-Maleficence
Non-maleficence adalah suatu prinsip yang mana seorang dokter tidak

melakukan perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih

pengobatan yang paling kecil resikonya bagi pasien yang dirawat atau

diobati olehnya. Pernyataan kuno Fist, do no harm, tetap berlaku dan

harus diikuti. Non-malficence mempunyai ciri-ciri:

Menolong pasien emergensi

Mengobati pasien yang luka

Tidak membunuh pasien

Tidak memandang pasien sebagai objek

Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien

Melindungi pasien dari serangan

Manfaat pasien lebih banyak daripada kerugian dokter

Tidak membahayakan pasien karena kelalaian

Menghindari misrepresentasi

Memberikan semangat hidup

Tidak melakukan white collar crime

Kaidah Non - Maleficence dalam kasus dr. Bagus:

1. Ketika yang lain sibuk membaringkan pemuda yang tidak

sadarkan diri tersebut, salah satu orang mengatakan bahwa pemuda


tersebut telapak tangan sebelah kanannya masuk kedalam mesin

penggilingan padi dan setelah 15 menit kemudian telapak tangan pemuda

tersebut baru dapat dikeluarkan dari mesin penggilingan padi. Pada

pemeriksaan, dokter Bagus mendapatkan telapak tangan pemuda

tersebut hancur. Dokter Bagus bertanya kepada orang-orang yang

mengantar pemuda tadi apakah diantara mereka ada keluarga dari

pemuda tersebut. Dari serombongan orang tadi keluar seorang

perempuan, ia mengatakan bahwa ia adalah istri dari pemuda tersebut.

Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan kanan suaminya dan

tindakan yang harus dilakukan adalah amputasi. (Paragraf 5).

Disini dokter Bagus menunjukkan usahanya yaitu melakukan

amputasi dalam hal untuk meminimalisasi akibat buruk yang akan

merugikan pasien, seperti kehilangan nyawa akibat pendarahan.

Autonomi

Dalam kaidah ini, seorang dokter wajib menghormati martabat dan hak

manusia. Setiap individu harus diperlakukan sebagai manusia yang

mempunyai hak menentukan nasib sendiri. Dalam hal ini pasien diberi

hak untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan sendiri. Autonomi

bermaksud menghendaki, menyetujui, membenarkan, membela, dan

membiarkan pasien demi dirinya sendiri. Kaidah Autonomi mempunyai

prinsip prinsip sebagai berikut:

Menghargai hak menentukan nasib sendiri


Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan

Berterus terang menghargai privasi

Menjaga rahasia pasien

Menghargai rasionalitas pasien

Melaksanakan Informed Consent

Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan

sendiri

Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien

Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat

keputusan, termasuk keluarga pasien sendiri

Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus

non emergensi

Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikann pasien

Mejaga hubungan atau kontrak

Kaidah Autonomi dalam kasus dr. Bagus :

1. Namun ibu tersebut menolak karena tidak mempunyai uang

untuk berobat. Baiklah kalau begitu saya akan memberi ibu obat dan

oralit untuk anak ibu, nanti ibu berikan obat tersebut sesuai dengan
aturan dan usahakan anak ibu minum oralit sesering mungkin, nanti sore

setelah selesai tugas saya akan mampir kerumah ibu untuk melihat

kondisi keadaan anak ibu, kata dokter Bagus. (Paragraf 3).

Disini dokter Bagus menunjukkan bahwa setiap keputusan itu

berada di tangan pasien, dan dokter bagus tidak mengintervensi

keputusan dari ibu tersebut. Dia juga tetap menjaga hubungan atau

kontrak dengan pasien, dengan berjanji akan mengunjungi anak dari ibu

tersebut

2. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan kanan

suaminya dan tindakan yang harus dilakukan adalah amputasi. (Paragraf

5).

Disini dokter bagus berterus terang dan tidak berbohong demi

kebaikan pasien itu sendiri.

3. Melihat kondisi pasien yang baik dan stabil, akhirnya pasien

diperbolehkan pulang dengan diberi beberapa macam obat dan anjuran

agar besok datang kembali untuk kontrol. (Paragraf 5).

Dapat dilihat bahwa dokter Bagus sepenuhnya memberikan

keputusan kepada pasien, apakah dia mau dirawat atau tidak, dan dokter

Bagus pun tetap menjaga hubungannya dengan pasien melalui kontrol

rutin yang dilakukannya.


4. Setelah menerima penjelasan tentang kemungkinan

penyakit yang dideritanya, pasien pulang dengan membawa surat rujukan

tersebut. (Paragraf 6)

Dapat kita lihat juga dalam paragraph ini, bahwa dokter Bagus

selalu menerapkan prinsip prinsip yang ada didalam kaidah Autonomi.

Dalam kasus ini, dokter Bagus menerapkan prinsip ke 3, yaitu berterus

terang kepada pasiennya.

Justice

Keadilan atau Justice adalah suatu prinsip dimana seorang dokter wajib

memberikan perlakuan sama rata serta adil untuk kebahagiaan dan

kenyamanan pasien tersebut. Perbedaan tingkat ekonomi, pandangan

politik, agama, kebangsaan, perbedaan kedudukan sosial, kebangsaan,

dan kewarganegaraan tidak boleh mengubah sikap dan pelayanan dokter

terhadap pasiennya. Justice mempunyai ciri-ciri :

Memberlakukan segala sesuatu secara universal

Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan

Memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi

yang sama

Menghargai hak sehat pasien

Menghargai hak hukum pasien


Menghargai hak orang lain

Menjaga kelompok rentan

Tidak membedakan pelayanan terhadap pasien atas dasar SARA,

status social, dan sebagainya

Tidak melakukan penyalahgunaan

Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien

Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya

Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian secara adil

Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan

kompeten

Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah

atau tepat

Menghormati hak populasi yang sama sama rentan penyakit atau

gangguan kesehatan

Bijak dalam makroalokasi

Kaidah Justice dalam kasus dr. Bagus :

1. Pada suatu pagi hari, ketika ia datang ke puskesmas sudah ada 4

orang pasien yang sedang mengantri. Dokter bagus memeriksa pasien


sesuai nomor urut pendaftaran, hal ini dilakukannya agar pemeriksaan

pasien berjalan tertib teratur. (Paragraf 2).

Disini dokter Bagus menunjukkan keadilannya dalam menangani

pasien, ia memeriksa pasiennya secara teratur menurut nomor urut agar

pemeriksaan berjalan dengan tertib, lancar dan tidak membeda-bedakan

pasien.

2. Pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak ibu ini dan setelah

itu tolong jelaskan cara membuat air oralit pada ibu ini kata dokter

Bagus kepada pak mantri. (Paragraf 3)

Dari percakapan dokter bagus diatas, dapat dilihat jika dokter

Bagus menjalankan prinsip Justice yang ke sepuluh, yaitu memberikan

kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien

3. Dokter Bagus meminta kesediaan pasien keempat untuk

menunggu diluar karena ia akan terlebih dahulu memberi pertolongan

pada pemuda tersebut. (Paragraf 5).

Di sini dokterbagusmenjalankan prinsip Justice yang ketiga, yaitu

memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang

sama.

Kesimpulan
Dari hasil pembahasan mengenai kasus dokter Bagus, dapat ditarik

kesimpulan bahwa dokter Bagus melaksanakan segala tugas praktek

kedokterannya berdasarkan prinsip-prinsip yang ada di dalam kaidah

bioetika kedokteran, yaitu beneficence, non maleficence, justice dan

autonomi.

Sesuai prinsip beneficence dokter Bagus memberikan usaha yang terbaik

untuk kesembuhan pasien. Ia mengutamakan kepentingan pasien.

Kemudian sesuai prinsip non maleficence, dokter bagus mengutamakan

keselamatan pasien, terutama pada saat pasien dalam keadaan darurat.

Yang ketiga sesuai prinsip justice, dokter Bagus mengutamakan keadilan

baik untuk pasien itu sendiri maupun keluarga pasien. Dan yang terakhir

menurut prinsip autonomi, dokter Bagus mengutamakan hak-hak pasien

dalam mengambil keputusan tentang penanganan terhadap penyakit yang

pasien alami dan menghormati hak pasien dalam menentukan nasibnya

sendiri.

Prinsip-prinsip dalam bioetik tersebut dapat diterapkan dalam

menghadapi pasien, sehingga terciptanya situasi yang,baik bagi hubungan

pasien dan dokter dalam pelayanan kesehatan demi kesembuhan pasien.