Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi akibat pecah atau robeknya

pembuluh darah di otak, sehingga dapat menyebabkan perdarahan di daerah

otak dan jika terus berlanjut bagian otak yang terkena perdarahan akan

menjadi rusak.
Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2001, sebanyak

20.5 juta jiwa di dunia sudah menderita stroke. Dari jumlah itu 5,5 juta telah

meninggal dunia. Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi

menyumbangkan 17.5 juta kasus stroke di dunia. Di Indonesia penyakit ini

menduduki posisi ketiga setelah jantung dan kanker. Sebanyak 28,5%

penderita stroke meninggal dunia. Sisanya menderita kelumpuhan sebagian

maupun total.

Secara umum diketahui bahwa 15-20% dari seluruh penderita stroke

adalah stroke hemoragik dan sekitar 66,6% kasus strok hemoragik

berhubungan dengan hipertensi dan 20% disebabkan karena perdarahan

subaraknoid.

Akibat dari stroke yaitu menyebabkan kecacatan tubuh sehingga dapat

terjadi penurunan produktivitas kerja atau sumber daya manusia yang


2

dimana pada akhirnya akan menjadi suatu beban sosial bagi keluarga,

masyarakat dan negara.


Dari data rekam medis pasien stroke hemoragik di RSUD Undata Palu

diperoleh yaitu pada tahun 2011 terdapat 45 kasus stroke hemoragik, pada

tahun 2012 terdapat 53 kasus stroke hemoragik, dan pada tahun 2013

terdapat 72 kasus stroke hemoragik.

B. Rumusan Masalah

Stroke adalah penyakit yang banyak menyebabkan kematian dan

kelumpuhan pada orang dewasa terutama pada laki-laki, seiring dengan

bertambahnya usia maka prevalensi stroke juga terus meningkat,

Berdasarkan latar belakang di atas karena jumlah penderita stroke yang terus

meningkat tiap tahun dan juga belum pernah dilakukan penelitian ini

sebelumnya di kota Palu, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:

Bagaimana, Karakteristik pasien stroke hemoragik yang dirawat inap di

RSUD Undata Palu ?

C. Pertanyaan Penelitian
3

a. Berapa banyak pasien stroke hemoragik yang di rawat inap di bagian

Neurologi RSUD Undata Palu selama bulan 12 maret 2014 sampai 20

desember 2014?
b. Bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan usia?
c. Bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan jenis kelamin?
d. Bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan suku?
e. Bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan jenis

pekerjaan?
f. Bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan gaya hidup?
g. Bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan faktor resiko

riwayat hipertensi dan riwayat stroke?


h. Bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan jenis

perdarahan?

D. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum

Untuk mengetahui berapa banyak pasien stroke hemoragik yang di rawat

inap di bagian Neurologi RSUD Undata Palu selama bulan 12 maret 2014

sampai 20 desember 2014 dan mengetahui karakteristik pasien stroke

hemoragik dewasa yang dirawat inap RSUD Undata Palu.

b. Tujuan Khusus
a) Untuk mengetahui berapa banyak pasien stroke hemoragik yang di rawat

inap di bagian Neurologi RSUD Undata Palu selama bulan 12 maret 2014

sampai 20 desember 2014.


b) Untuk mengetahui bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik

berdasarkan usia.
4

c) Untuk mengetahui bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik

berdasarkan jenis kelamin


d) Untuk mengetahui bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik

berdasarkan suku
e) Untuk mengetahui bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik

berdasarkan jenis pekerjaan


f) Untuk mengetahui bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik

berdasarkan gaya hidup.


g) Untuk mengetahui bagaimana distribusi pasien stroke hemoragik

berdasarkan faktor resiko riwayat hipertensi dan riwayat stroke

sebelumnyaUntuk mengetahui bagaimana distribusi pasien stroke

hemoragik berdasarkan jenis perdarahan.


E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih dan

bermanfaat bagi beberapa pihak antara lain

a. Manfaat kegunaan
a) Sebagai bahan untuk dijadikan promosi kesehatan.
b) Mengetahui karakteristik agar dapat menghindari, mengurangi atau

menghilangkan faktor risiko tersebut sehingga dapat dicegah. Juga

diharapkan dapat mengenali tanda dini atau tanda awal dari stroke

hemoragik sehingga bisa mendapat penanganan lebih awal.

b. Manfaat ilmiah
a) Sebagai informasi tambahan dan menjadi rujukan untuk penelitian

selanjutnya.
5

b) Menambah pengetahuan tentang stroke hemoragik dan juga menambah

pengalaman peneliti.

F. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup pada penelitian ini adalah penelitian di bidang kesehatan

tentang kedokteran klinik khususnya karakteristik pasien stroke hemoragik

yang dirawat inap di RSUD Undata Palu

G. Sistematika dan Organisasi Penulisan


a. Sistematika penulisan
Bab I menjelaskan tentang hal-hal yang melatar belakangi, tujuan dan

manfaat penelitian ini dilakukan.


Bab II berisikan tentang landasan teori penelitian (definisi, klasifikasi,

epidemiologi, etiologi, factor resiko, patogenesis, manifestasi klinik,

diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi, prognosis, pencegahan, kerangka

teori, kerangka konsep dan definisi operasional.


Bab III berisi tentang metode penelitian yang digunakan dalam melakukan

penelitian ini, bab IV berisi tentang hasil dan pembahasan penelitian, bab V

berisi tentang kesimpulan dan saran.

b. Organisasi penulisan
1. Penulisan proposal
2. Seminar proposal, pada ahir semester II dan ahir semester IV.
6

3. Pengurusan izin penelitian (BALITBANGDA Provinsi Sulawesi Tengah,

Diklat RSU Anutapura Palu, Kepala Ruangan Poliklinik Penyakit Dalam

RSU Anutapura Palu).


4. Perngurusan Rekomendasi Etik pada Komisi Etik Penelitian Kesehatan di

Universitas Hasanuddin Makassar.


5. Melakukan Penenlitian di Bagian Neurologi RSUD Undata Palu.
6. Penulisan skripsi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Landasan Teori
7

A. Defenisi stroke Hemoragik

Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi akibat pecah atau robeknya

pembuluh darah di otak, sehingga dapat menyebabkan perdarahan di daerah

otak dan jika terus berlanjut bagian otak yang terkena perdarahan akan

menjadi rusak.

B. Anatomi otak

Otak terletak di dalam tengkorak kepala yang terdiri dari beberapa bagian

yaitu cortex cerebri, ganglion basalis, thalamus, hipotalamus,

mesenchepalon, batang otak dan cerebellum. Bila dilihat dari arah atas,

maka otak akan terlihat menjadi dua bagian yang terbelah yang disebut

hemisfer cerebri yaitu otak kiri dan otak kanan keduanya dihubungkan

dengan corpus callosum.

Pada gambar 1, Otak kiri berhubungan cara berpikir linier, hal-hal yang

bersifat rasional, bahasa, dan matematika sedangkan otak kanan

berhubungan deangan kreativitas, seni, music, gambar, dan warna. Hemisfer

cerbri dapat di bagi menjadi lobus frontalis, lobus parietalis, lobus ociptalis,

dan lobus temporalis


8

Gambar 1. Anatomi Otak

Pada gambar 2, Otak dilindungi oleh tiga lapis selaput otak (meninges)

yaitu durameter yang merupakan lapisan terluar membentuk kantong di

sepanjang chorda spinalis, lapisan tengah otak yaitu arachnoid lapisan ini

terdiri atas serabut kolagen yang dipisahkan dengan durameter oleh ruang

subdural, sedangkan lapisan terdalam adalah piameter yang melekat erat

pada otak, terdapat banyak pembuluh darah, di pisahkan dengan archanoid

oleh ruang subarchanoid.


9

Gambar 2. Lapisan Otak

C. Klasifikasi Stroke Hemoragik

Menurut WHO, dalam International Statistical Classification of Diseases

and Related Health Problem, stroke hemoragik dibagi atas:

a) Perdarahan Intraserebral (PIS)

Perdarahan intraserebral disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh

darah intraserbral sehingga darah keluar dari pembuluh darah yang

kemudian masuk ke dalam jaringan otak. Sekitar 60-75% perdarahan

intraserbral disebabkan oleh hipertensi kronik, penyebab lainnya adalah

deformitas pembuluh darah bawaan,tumor otak, serta kelainan koagulasi.

(Sutrisno, 2007)

b) Perdarahan Subarchanoid (PSA)


10

Perdarahan subaraknoid terjadi karena pecahnya aneurisma pada 80%

kasus non traumatik, sehingga dapat menyebabkan darah masuk ke ruang

subarkanoid baik dari tempat lain (perdarahan subarkanoid skunder) atau

sumber perdarahan berasal dari rongga subarkanoid itu sendiri (perdarahan

subarkanoid primer). Sekitar 90% aneurisma penyebab perdarahan

subarkanoid adalah berupa aneurisma sekuler kongenital. (Sutrisno A; 2007,

CDC, Heart And Stroke Foundation Of Canada)

D. Epidemiologi Stroke Hemoragik

Sekitar 20 persen dari stroke hemoragik, yang disebabkan oleh

perdarahan yang tidak terkendali di otak dapat mengakibatkan kematian sel-

sel otak, Setiap tahun di Amerika Serikat, sekitar 795.000 orang mengalami

stroke baru atau berulang. Dari jumlah tersebut, sekitar 610.000 merupakan

serangan awal, dan 185.000 mewakili stroke berulang. Sekitar 87% dari

stroke di Amerika Serikat adalah iskemik, 10% adalah perdarahan

intraserebral, dan 3% perdarahan subarachnoid.

Stroke ditemukan pada semua golongan umur, mulai dari bayi baru lahir

sampai dengan usia lanjut. Namun angka kejadian stroke meningkat seiring

dengan bertambahnya usia. Makin tinggi usia, maka banyak kemungkinan

untuk terkena stroke. Yang dimana sebagian besar di jumpai pada umur
11

sekitar 55 tahun. Stroke banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan

dengan perempuan.

American Hearth Association menyatakan di Amerika Serikat pada tahun

1997 terdapat 97.277 (16,2%) dari 600.000 penduduk Amerika Serikat yang

meninggal akibat menderita stroke. Angka kematian pada tahun 1997 per

100.000 penduduk untuk laki-laki kulit putih adalah 615% sedangkan 88,5%

untuk laki-laki ras kulit hitam.

Insiden stroke bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin, etnis, dan

status sosial ekonomi menurut American Heart Association (AHA) penelitian

sebelumnya menemukan bahwa orang-orang kulit hitam memiliki 3 kali lipat

lebih tinggi rasio risiko stroke dibandingkan orang kulit putih, stroke

hemoragik mencapai 15% dari stroke iskemik, namun memiliki 30% dari

penyebab kematian karena stroke.

Dari data pasien stroke hemoragik di Rumah Sakit Undata Palu yang

diperoleh dari rekam medis pasien yaitu pada tahun 2011 terdapat 45 kasus

stroke hemoragik, pada tahun 2012 terdapat 53 kasus stroke hemoragik, dan

pada tahun 2013 terdapat 72 kasus stroke hemoragik. Jadi secara bertahap

jumlah penderita stroke hemoragik mengalami peningkatan setiap tahunnya.


12

E. Etiologi Stroke Hemoragik


a) Aneurisma (penonjolan pembuluh darah seperti balon)

Adalah kelainan pembuluh darah yang berupa tonjolan atau balon.

Biasanya aneurisma terdapat pada arteri-arteri di basis serebri pada

percabangan-percabangan. Hal ini terdapat pada dinding pembuluh darah

yang lemah. Kelemahan ini biasanya sudah ada sejak lahir, akan tetapi

aneurisma baru akan tumbuh di kemudian hari, yang dimana setelah

aneurisma itu pecah akan menimbulkan gejala dan ini bersifat fatal, Rentang

usia puncak untuk suatu aneurisma pecah antara 40 dan 60 tahun,

aneurisma dapat pecah jika adanya tekanan darah yang tidak teratur.

Aneurisma dapat dikendalikan atau diobati dengan tehnik pembedahan yaitu

dengan menempatkan klem dipangkal aneurisma (Lawrance M. Brass, M.D)

b) MAV (Malformasi Arteri-Vena)

Malvormasi arteri-vena merupakan kelainan bawaan sejak lahir, tetapi hal

ini baru dapat diketahui jika telah menimbulkan gejala, perdarahan akibat

Malvormasi arteriovenous yang dimana bisa terjadi secara tiba-tiba dan

menyebabkan dan kematian. (Heart and stroke Foundation Of Canada; 2008)

Malvormasi arteriovenous ini merupakan kelainan anatomis di dalam arteri

dan vena yang berada di dalam atau di sekitar otak, dimana tidak

terbentuknya sistim kapiler sehingga aliran darah dari arteri masuk langsung
13

ke vena, karena adanya hubungan antara arteri dan vena tersebut suplay O2

jadi berkurang bisa menyebabkan iskemik. (Lawrance M. Brass, M.D)

c) Hipertensi

Hipertensi atau sering disebut dengan tekanan darah tinggi adalah factor

resiko utama stroke. Penderita dengan tekanan diastolik diatas 95 mmHg

mempunyai resiko 2 kali lebih besar untuk terjadi infark otak dibandingkan

dengan tekanan diastolic kurang dari 80 mmHg, sedangkan kenaikan sistolik

lebih dari 180 mmHg mempunyai resiko 3 kali terserang stroke iskemik

dibanding dengan mereka yang bertekanan darah kurang dari 140 mmHg.

Akan tetapi pada penderita dengan usia lebih dari 65 tahun resiko stroke

hanya 1,5 kali dari pada normotensi.

F. Faktor Resiko
a) Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi
1) Usia

Risiko stroke meningkat secara signifikan dengan usia. Setelah 55 tahun ,

lebih dari dua kali lipat dengan setiap dekade. Memasuki umur tua terjadi

akumulasi plak yang tertimbun di dalam pembuluh-pembuluh darah.

Meskipun usia tidak dapat dimodifikasi akan tetapi dapat berjaga-jaga

dengan mengatur pola hidup sehat seperti olahraga yang teraur, mengatur

konsumsi makanan, memperhatikan kebersihan lingkungan, istirahat yang


14

cukup, check up kesehatan secara teratur, menghindari stress, berhenti

merokok dan minum minuman beralkohol, hal ini merupakan faktor penting

pencegahan pada stroke. (Lawrance M. Brass, M.D)

2) Jenis Kelamin

Stroke hemoragik ataupun stroke iskemik lebih sering terjadi pada pria

dibandingkan dengan wanita yaitu sekitar 2:1 akan tetapi pada usia lanjut

antara laki-laki dan perempuan hamper tidak berbeda. Hal ini terjadi karena

perempuan mengalami menopause sebab hormone hormon yang

melindungi perempuan hanya sampai mereka melewati masa-masa

melahirkan anak.(Gofir, 2011)

3) Ras/etnis

Pasien dengan ras negro memiliki angka insiden tinggi dan angka

mortalitas lebih tinggi dibandingkan dengan pasien ras kulit putih. Populasi

kulit hitam (negro Amerika) lebih beresiko terkena stroke karena pengaruh

lingkungan dan gaya hidup serta tingginya prevalensi hipertensi, obesitas,

dan diabetes mellitus. (Gofir, 2011)

b) Faktor resiko yang dapat dimodifikasi


1) Diabetes Melitus
15

Diabetes mellitus atau disebut juga dengan kencing manis dapat

menyebabkan stroke iskemik karena terbentuknya plak aterosklerotik pada

dinding pembuluh darah yang disebabkan ganguan metabolism glukosa

sistemik. Menurut WHO disebut sebagai penderita diabetes melitus apabila

kadar glukosa darah vena dalam keadaan puasa lebih dari 140 mg/dl dan

kadar glukosa darah vena 2 jam setelah diberi minum 75 mg glukosa lebih

dari 200 g/dl. Diabetes mellitus adalah masalah endokrinologis yang

menonjol dalam pelayanan kesehatan dan juga sudah sebagai faktor risiko

stroke dengan peningkatan risiko relatif pada stroke iskemik 1,6 sampai 8 kali

dan pada stroke perdarahan 1,02 hingga 1,67 kali (Gofir; 2011, PDSSI, 2011)

2) Merokok

Kebiasaan merokok kemungkinan untuk menderita stroke lebih besar,

resiko meningkat sesuai dengan beratnya kebiasaan merokok. Sebuah

penelitian yang meneliti tentang efek merokok di antara suami terhadap risiko

perkembangan stroke iskemik di antara sampel wanita yang representatif

secara nasional. Diantara wanita perokok dengan suami yang bukan perokok

setelah menyesuaikan dengan faktor kardiovaskuler lainnya. Penelitian

memberikan bukti baru yang menghubungkan kebiasaan merokok suami

dengan stroke. Dari 5379 wanita yang dimasukkan di dalam analisis, wanita

yang melaporkan memiliki suami perokok (n = 3727) lebih cenderung menjadi


16

perokok aktif dan melaporkan konsumsi rokok dan lama merokok yang lebih

tinggi (Gofir, 2011).

Orang yang tidak merokok dan tinggal bersama perokok (perokok pasif)

memiliki peningkatan risiko sebesar 20 30 % dibandingkan dengan orang

yang tinggal dengan bukan perokok. Risiko terjadinya penyakit jantung

coroner (PJK) akibat merokok berkaitan dengan dosis dimana orang yang

merokok 20 batang rokok atau lebih dalam sehari memiliki resiko sebesar

dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada populasi umum untuk mengalami

kejadian PJK.

3) Minuman alcohol

Minuman alkohol lebih dari 30 gram per hari pada pria atau 15 gram per

hari pada wanita sedangkan mabuk mabukan yaitu kadar alcohol yang

lebih dari 75 gram dalam 24 jam dapat meningkatkan tekanan darah

sehingga dapat meningkatkan factor resiko stroke beberapa kali lipat. Di

Australia, New Zealand dan inggris dianjurkan bahwa jumlah maksimal

minimal alcohol tidak melebihi 14 gelas per minggu, bahkan minuman alcohol

dalam jumlah sedikit saja dapat meningkatkan tekanan darah, sehingga

minuman alcohol harus dihindari untuk seseorang yang memiliki riwayat

hipertensi karena dapat menimbulkan komplikasi yang berat.


17

G. Patogenesis Stroke Hemoragik

Pada stroke hemoragik atau yang disebut juga dengan stroke perdarahan

bisa terjadi di intraserebral atau subarchanoid tergantung dari lokasi

perdarahnnya, perdarahan intraserebral (PIS) paling sering terjadi dari pada

perdarahan subarkanoid (PSA). Perdarahan yang dipicu oleh hipertensi dan

pecahnya salah satu dari banyak arteri yang ada di otak. Selain itu pecahnya

pembuluh darah bisa juga terjadi karena aneurisma dan malvormasi arteri-

vena (MAV), jika pembuluh darah di otak pecah akibatnya darah yang

berada pada pembuluh darah akan terakumulasi keluar sehingga dapat

bercampur dengan cairan otak yaitu cerebrospinal. biasnya pada kasus

perdarahan subarkanoid (PSA).

Pada umumnya mekanisme dari perdarahan subarkanoid (PSA) dan

perdarahan intraserbral (PSI) memiliki kesamaan, yang membedakan kedua

perdarahan tersebut adalah PSA terjadi lapisan otak sedangkan PIS terjadi di

dalam otak. Akibat dari darah dan cairan otak yang bercampur sehingga

terjadi peningkatan tekanan intracranial, yang menyebabkan suplay nutrisi

dan O2 untuk otak berkurang. (Sutrisno A, 2007)

Sistim serebrovaskular mengandung banyak zat-zat makanan yang

penting bagi fungsi normal otak. Terhentinya aliran darah cerebrum (CBF)

selama beberapa detik saja akan menimbulkan gejala disfungsi serebrum


18

dan juga menyebabkan kehilangan kesadaran yang akhirnya jika terus

berlanjut akan menyebabkan iskemik serebrum. (Price SA)

Mekanisme lain yang dapat menyebabkan terjadinya stroke hemoragik

adalah pemakaian kokain atau amfetamin, karena zat-zat ini dapat

menyebabkan hipertensi berat dan perdarahan intraserebral (PSI) atau

subarchanoid (PSA). Perdarahan dapat dengan cepat menimbulkan gejala

neurologik karena terjadi penekanan pada struktur-struktur saraf di dalam

tengkorak. Iskemik merupakan konsekuensi sekunder dari perdarahan

mekanisme terjadinya iskemik tersebut ada dua yaitu :


a) Tekanan pada pembuluh darah akibat ekstravasasi darah ke dalam
tengkorak yang volumenya tetap.
b) Vasospasme reaktif pembuluh-pembuluh darah yang terpajan ke
darah bebas di dalam ruang antara lapisan arkanoid dan piamater
meningen.

Biasanya stroke hemoragik secara cepat menyebabkan kerusakan fungsi

otak dan kehilanan kesadaran. Namun, apabila perdarahan berlangsung

lambat, pasien kemungkinan bisa mengalami nyeri kepala hebat, yang

merupakan khas pada PSA (perdarahan subarchanoid). (Price SA)

H. Manifestasi Klinik
a) Manifestasi Klinik Pada PIS (perdarahan intraserebral)
1) Nyeri kepala
2) Serangan sering terjadi di siang hari sewaktu beraktifitas
3) Defisit neurologi timbul mendadak dan memburuk dengan cepat (dalam

beberapa menit atau jam)


4) Muntah
5) Hemiplegi bisa terjadi sejak permulaan serangan
6) Kesadaran biasanya menurun dan terjadi koma.
19

b) Manifestasi Klinik Pada PSA (perdarahan subarchanoid)


1) Nyeri kepala hebat
2) Kesadaran terganggu hingga bisa menyebabkan koma
3) Gejala/tanda rangsang meningeal : kaku kuduk
4) Muntah
5) Fotofobia
6) Defisit neurologis fokal berupa hemiparese
7) Kematian mendadak

b. Letak kelumpuhan pada stroke hemoragik


a) Kelumpuhan pada sisi kanan (Hemiparesis Dextra)

Belahan kanan otak mengatur pergerakan dari sisi kiri tubuh, ini juga

mengontrol analisis dan persepsi, seperti dapat menilai jarak, ukuran,

kecepatan atau posisi suatu strok yang terjadi di sisi seblah kanan sering

menyebabkan kelumpuhan di sisi kiri tubuh, hal ini sering disebut hemiplegia

kiri. Penderita dengan stroke hemisper kanan memiliki masalah yaitu

kekurangan komunikasi verbal. Tetapi persepsi dan memori visuomotornya

sangat baik. (National Stroke Associaton)

b) Kelumpuhan pada sisi kiri (Hemiparesis Sinistra)

Belahan otak kiri mengontrol pergerakan dari sisi kanan tubuh juga

mengontrol bicara. Suatu stroke pada hemisper kiri dapat menyebabkan


20

kelumpuhan pada sisi kanan tubuh, seseorang dengan stroke pada bagian

hemisfer kiri dapat menimbulkan gejala aphasia dan juga ketidak mampuan

persepsi visuomotor serta kehilangan memori visual. (National Stroke

Associaton)

c) Kelumpuhan kedua sisi (Paraparesis)

Merupakan kerusakan pada sisi kiri dan sisi kanan. Pada keadaan ini,

kedua kaki penderita sulit untuk digerakan

I. Diagnosis
a) Anamnesis

Anamnesis dilakukan melalui wawancara terhadap pasien atau keluarga

yang mengetahui perjalanan dari penyakit penderita, yang perlu di tanyakan

saat melakukan anamnesis pada pasien stroke hemoragik yaitu:

1) Gejala dan tanda


(a) Modalitas yang terlibat (motorik, sensorik, visual)
(b) Daerah anatomi yang terlibat (wajah lengan, tangan, kaki,dan apakah
seluruh atau sebagian tungkai, satu atau kedua mata)
(c) Apakah gejala tersebut fokal atau nonfokal
(d) Apa kualitasnya (apakah negatif misalnya hilangnya kemampuan
sensorik, hilangnya kemampuan sensorik dan visual), atau positif
(misalnya menyebabkan sentakan tungkai limb jerking, tingling,
halusinasi)
2) Konsekuensi fungsinal (misalnya tidak bisa berdiri, tidak bisa mengangkat

tangan)
3) Kecepatan onset dan perjalanan gejala neurologis
(a) Kapan gejala tersebut dimulai (hari apa dan jam berapa)
(b) Apakah onsetnya mendadak
(c) Apakah gejala tersebut lebih minimal atau lebih maksimal saat onset;

apakah menyebar atau semakin parah secara bertahap, hilang timbul,


21

ataukah progresif dalam menit/jam/hari. Atau apakah ada fluktuasi antara

fungsi normal dan abnormal


4) Apakah ada kemungkinan presipitasi
Apa yang pasien sedang lakukan pada saat dan tidak lama sebelum onset
5) Apakah ada gejala-gejala lain yang menyertai Nyeri kepala, kejang

epileptik, panik dan anxietas, muntah, dan nyeri dada.


6) Apakah ada riwayat penyakit dahulu atau riwayat penyakit keluarga yang

relevan
(a) Apakah ada riwayat TIA atau stroke terdahulu
(b) Apakah ada riwayat hipertensi, hiperkolesterolemia, Diabetes mellitus,
angina, infark miokard, arteritis.
(c) Apakah ada riwayat penyakit vaskuler atau trombotik pada keluarga.
7) Apakah ada prilaku atau gaya hidup yang relevan

Merokok, konsumsi alkohol, diet, aktivitas fisik obat-obatan (khususnya

obat kontrasepsi oral, abat antitrombotik, antikoagulan, dan obat-obat

rekreasional seperti amfetamin.

b) Pemeriksaan fisik
1) Fungsi visual, denagan pemeriksaan lapangan pandang dan tes

konfrontasi
2) Pemeriksaan pupil dan refleks cahaya
3) Pemeriksaan dolls eye phenomenon (jika tidak ada kecurigaan cidera

leher)
4) Sensasi, dengan memeriksa sensasi kornea dan wajah terhadap benda

tajam
5) Gerakan wajah mengikuti perintah atau sebagai respon terhadap

stimulasi noxious (menggelitik hidung)


6) Fungsi faring dan lingual, dengan mendengarkan dan mengevaluasi cara

bicara dan memeriksa mulut


22

7) Fungsi motorik dengan memeriksa gerakan pronator, kekuatan, tonus,

kekuatan gerakan jari tangan atau jari kaki


8) Fungsi sensorik, dengan cara memeriksa kemampuan pasien untuk

mendeteksi sensoris dengan jarum, rabaan, vibrasi, dan posisi (tingkat

level gangguan sensibilitas pada bagian tubuh sesuai dengan lesi

patologis di medulla spinalis, sesuai dermatomnya.


9) Fungsi serebelum, dengan melihat cara berjalan penderita dan

pemeriksaan disdiadokinesia
10) Ataksia pada tungkai, dengna meminta pasien menyentuh jari kaki

pasien
ke tangan pemeriksa
11) Refleks asimetris (Contohnya refleks fisiologis anggota gerak kanan
meningkat yang kiri normal)
12) Refleks babinski.

c) Pemeriksaan penunjang
1) Laboratorium
(a) Koagulasi darah

Tes ini terdiri dari tiga pemeriksaan, yaitu: prothrombin time, partial

thrombloplastin time (PTT), international normalized ratio (INR), dan agregasi

trombosit. Keempat tes ini gunannya untuk mengukur seberapa cepat darah

pasien menggumpal. Gangguan penggumpalan bisa menyebabkan

perdarahan atau pembekuan darah. Jika pasien sebelumnya suda menerima

obat pengencer darah seperti warfarin, INR digunakan untuk mengecek

apakah obat itu diberikan dalam dosis yang benar. (Sutrisno A; 2007)
23

(b) Tes lumbal pungsi

Untuk mengetahui adanya darah yang bercampur dengan cairan

serebrospina.

2) Pemeriksaan Scanning
(a) Head CT Scan

Untuk mengetahui letak lesi, pada kasus stroke iskemik, warna otak akan

lebih banyak warna hitam sedangkan pada stroke hemoragik lebih banyak

berwarna putih serta dapat membantu mebedakan antara stroke homoragik

dan stroke non hemoragik

(b) MRI

Dibandingkan dengan CT-scan MRI lebih akurat, pasien tidak perlu

disuntikan atau meminum cairan kontras. MRI mampu mendeteksi kelainan

otak dan pembuluh darah kecil di otak yang tidak mungkin dijangkau oleh CT-

scan. Selain itu dapat membantu mebedakan antara stroke homoragik dan

stroke non hemoragik.

(c) Cerebral angiography

Peralatan ini dimanfaatkan untuk memindai aliran darah yang melewati

pembuluh darah otak. Yaitu dengan cara memasukan kateter ke dalam tubuh

yang sudah disuntikan cairan kontras, kontras bertujuan untuk meberikan

jalan sekaligus lampu penerangan bagi kateter. Alat ini juga beguna untuk
24

mendeteksi adanya kelainan pembuluh darah pada stroke akut akibat

aneurisma atau AVM. (Sutrisno A; 2007)

J. Komplikasi

Morbiditas dan mortalitas stroke sangat tergantung dari kejadian

komplikasi pasca stroke. Penyebab kematian terbanyak adalah herniasi

tentorial (83,68%) baik pada stroke perdarahan maupun pada stroke iskemik,

kelainan jantung (5,26%), septikemia (3,68%), sudden death (2,63%), syoke

hipovolemik (1,58%), Respiratory arrest (1,58%), pneumonia (1,05%), serta

aspirasi (0,53%).(6) Di samping itu stroke juga merupakan penyebab

kelumpuhan utama, dan menjadi beban yang berat bagi keluarga, tetangga,

serta teman pasien. Seperempat pasien stroke akan meninggal langsung

maupun dalam perawatan. (Gofir, 2011)

K. Prognosis

Prognosis stroke dapat dilihat dari 6 aspek yaitu: death, disease, disability,

discomfort,dissatisfaction, dan destitution (Asmedi A & Lamsudin, 1998).

Prognosis fungsional stroke pada infark lakuner cukup baik karena tingkat

ketergantungan dalam activity daliy living (ADL) hanya 19% pada bulan

pertama dan meningkat sedikit (20%) sampai tahun pertama. Dari berbagai

penelitian, perbaikan fungsi neurologis dan fungsi aktivitas hidup sehari-hari


25

pasca stroke menurut waktu cukup bervariasi. Suatu penelitian menunjukkan

bahwa terdapat perbaikan fungsi paling cepat pada minggu pertama dan

menurun pada minggu ketiga samapai 6 bulan pasca stroke. (Gofir, 2011)

2. Kerangka Teori

Umur Suku Jenis Pekerjaan

Perubahan Konsumsi
Makanan Pengasilan
Fisiologis
perbulan
Pembuluh
Lemak menumpuk di
Penurunan pembuluh darah
elastisitas Hipertensi Stress
Pembuluh
Darah Pecah pembuluh
darah
Gaya Hidup
Stroke
- Merokok Hemoragik
- konsumsi alkohol
Jenis Perdarahan
Jenis Kelamin
Resiko stroke
- Perdarahan intraserebral
berulang
- Perdarahan subarcahnoid

Suplay O2 dan Nutrisi untuk otak Riwayat


Cairan di otak (udem inter cerebral) Stroke
Tekanan intracranial sebelumnya
26

Gambar 3. Kerangka Teori


Pada gambar 3 kerangka teori menggambarkan variabel-variabel bebas

yang mempengaruhi penderita stroke hemoragik, yang tediri dari Faktor

Demografi (Usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan dan suku). Gaya Hidup

(Merokok dan Minuman Alkohol). Faktor resiko (Riwayat Hipertensi dan

Riwayat stroke sebelumnya).

3. Kerangka Konsep

FAKTOR DEMOGRAFI
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Suku

FAKTOR SOSIOEKONOMI
1. Jenis Pekerjaan

GAYA HIDUP STROKE


1. Merokok
HEMORAGI
2. Alcohol
K
FAKTOR RESIKO
1. Riwayat Hipertensi
2. Riwayat stroke sebelumnnya

JENIS PERDARAHAN
1. Perdarahan intraserebral
2. Perdarahan subarchanoid
27

Gambar 4.
Kerangka Konsep
4. Definisi Operasional

a. Yang dimaksud dengan penderita stroke hemoragik pada penelitian ini

adalah pasien yang telah dilakukan pemeriksaan Head CT Scan di

diagnosis menderita penyakit stroke hemoragik.

b. Yang dimaksud usia pada penelitian ini adalah kelompok umur yang dilihat

dari Kartu tanda penduduk kemudian di catat pada case report.

1. 40 45 tahun
2. 46 65 tahun
3. > 65 tahun
c. Yang dimaksud dengan jenis kelamin pada penelitian ini adalah

berdasarkan hasil observasi dan di catat pada case report yang digologkan

menjadi:
1. Laki-laki
2. Perempuan
d. Yang dimaksud dengan suku dalam penelitian ini yaitu di dapatkan dari

hasil wawancara terhadap penderita stroke hemoragik yang kemudia

dicatat pada kuesioner baik itu suku :


1. Kaili
2. Bugis
3. Arab
4. Cina
5. Bali
28

e. Yang dimaksud dengan pekerjaan pada penelitian ini di dapatkan dari hasil

wawancara kepada penderita yang kemudian dicatat pada kuesioner

dibedakan atas:
1. Pengawai negeri sipil
2. Wiraswasta
3. Ibu rumah tangga
4. Tidak bekerja

f. Yang dimaksud dengan merokok dalam penelitian ini adalah perilaku atau

kebiasaan pasien stroke yang didapatkan dari wawancara dan disimpan

dikuesioner stroke hemoragik yaitu :

1. Merokok

2. Tidak Merokok

g. Yang dimaksud dengan minuman alkohol dalam penelitian ini adalah

perilaku atau kebiasaan pasien stroke yang didapatkan dari wawancara

dan disimpan dikuesioner stroke hemoragik yaitu :

1. Konsumsi alkohol

2. Tidak mengkonsumsi alcohol

h. Yang dimaksud dengan Riwayat Hipertensi pada penelitian ini adalah di

tetapkan berdasarkan anamnesis terhadap pasien atau keluarga pasien,

tentang ada tidaknya hipertensi sebelumnya dan riwayat minum obat

hipertensi kemudian disimpan dikuesioner stroke hemoragik yaitu :


1. Ada riwayat hipertensi
2. Tidak ada riwayat hipertensi
29

i. Yang dimaksud dengan riwayat stroke sebelumnya dalam penelitian ini

berdasarkan hasil wawancara dan kemudian disimpan dikuesioner stroke

hemoragik yaitu adalah


1. Ada riwayat stroke sebelumnya
2. Tidak ada riwayat stroke sebelumnya

j. Yang dimaksud dengan jenis perdarahan dalam penelitian ini berdasarkan

hasil rekam medik pasien dan di catat pada kuesioner, yang dikategorikan

atas :

1. Perdarahan Intraserebral (PIS)

2. Perdarahan Subarchanoid (PSA)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

1. Desain Penelitian
30

Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat

observasional dengan pendekatan Cross sectional. Dimana pengambilan

data dilakukan hanya satu kali pada satu saat.

Umur

Jenis

SUBJEK Stroke Suku


Hemoragi
Jenis

Gaya hidup

Factor

Jenis

Gambar 5.
Desain Penelitian

2. Lokasi dan waktu penelitian


A. Lokasi penelitian

Penelitian dilakukan di ICU RSUD. Undata Palu Sulawesi Tengah.

B. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan selama 12 maret 2014 sampai 20 desember 2014


31

3. Populasi dan Subjek penelitian


A. Populasi penelitian

Penderita yang di rawat inap di ICU tahun 2014 yang didiagnosis oleh

dokter spesialis saraf dan melakukan CT scan menderita stroke hemoragik.

B. Subjek penelitian

Penderita yang di rawat inap di ICU tahun 2014 yang didiagnosis oleh

dokter spesialis saraf dan melakukan CT scan menderita stroke hemoragik.

Yang memenuhi kriteria penelitian.

4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

A. Kriteria Inklusi

a) Pasien stroke hemoragik yang telah di diagnosis dokter spesialis saraf

dengan Head CT scan


b) Berusia > 40 tahun
c) Laki laki dan perempuan
d) Tempat tinggal di palu
e) Bersedia ikut penelitian

B. Kriteria Ekslusi
a) Pasien stroke Non hemoragik
b) Pasien stroke Hemoragik yang tidak dilakukan Head CT scan.
c) Tidak dapat berkomunikasi.
32

5. Besar Sampel

Besar sampel yang diperlukan pada penelitian ini sesuai dengan rumus

Teknik Solvin sebagai berikut:

N

N 1+ N (e)
2

n = Besar Sampel
N = 59
E = 0,05
Jadi,
59

N 1+59( 0,05)
2

59

N 1+59( 0,0025)
59

N 1,1475

N 51 orang

Jadi, sampel yang dibutuhkan digenapkan menjadi 51 pasien stroke

hemoragik yang dirawat inap di RSUD Undata Palu, dengan harapan

mendapatkan hasil Reliabilitas dan validitas data yang lebih baik

6. Cara Pengambilan Sampel


33

Pengambilan sampel pada penelitian ini, menggunakan cara Consecutive

Sampling yaitu Pasien Stroke Hemorgaik yang dirawat inap di RSUD Undata

Palu.

7. Alur Penelitian
34

Gambar 6. Alur Penelitian

8. Prosedur penelitian

Pada semua pasien stroke hemoragik yang dirawat inap di RSUD Undata

Palu, yang memenuhi kriteria inklusi, akan:

1. Diberikan penjelasan tentang tujuan, latar belakang, prosedur penelitian

yang akan dilakukan. serta bagaimana cara-cara lain yang dilakukan pada

penelitian ini terhadap subyek. Di jelaskan juga tentang hak-hak dari

subyek: hak menolak dan mengundurkan diri dari penelitian tanpa

konsekuensi kehilangan hak mendapat pelayanan kesehatan yang

diperlukannya, hak untuk bertanya dan mendapat penjelasan bila masih

diperlukan. Subyek juga diberitahu bahwa semua biaya yang dibutuhkan

dalam penelitian ini akan ditanggung oleh peneliti.

2. Dilakukan anamnesis dan pencatatan identitas penderita mengenai data

pribadi, gaya hidup dan riwayat penyakit sebelumnya

3. Dilakukan pemeriksaan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita

Pengukuran menggunakan alat sphygmomanomater dan stetoskop. Hasil

pengukuran yang diambil adalah rerata dari dari dua kali pengukuran yang

kemudian dibulatkan.

4. Setelah data terkumpul dilakukan analisis data lebih lanjut dengan

mengunakan SPSS. Data yang ada akan sangat dijaga kerahasiaannya.


35

5. Setelah analisis data selesai, peneliti mempersiapkan untuk melakukan

penulisan hasil untuk selanjutnya diseminarkan pada seminar hasil.

9. Rencana Analisa Data

Menggunakan deskriptif kategorik dengan hasil berupa frekuensi dan

presentase (proporsi) yang dapat disajikan dalam bentuk tabel maupun

grafik.

10. Implikasi Etika Penelitian

Penelitian ini tidak mempunyai implikasi etik karena :

a) Semua subyek setuju untuk ikut penelitian tanpa paksaan setelah

mendapat penjelasan.

b) Penelitian ini tidak memberikan dampak negatif karena hanya

menggunakan teknik wawancara dan pemeriksaan fisik yang tidak

berbahaya.

c) Subyek penelitian mempunyai hak untuk tidak menjawab atau menolak ikut

dalam penelitian ini, tanpa rasa takut akan ada akibatnya terhadap hak

untuk mendapat pelayanan kesehatan

d) Semua data disimpan dengan aman dan disajikan secara lisan maupun

tulisan secara anonim


36

Semua subyek tidak diwajibkan membayar apapun yang sehubungan

dengan penelitian ini.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Undata pada Palu tahun 2014

terhadap 51 orang pasien stroke hemoragik yang di rawat inap di bagian

Neurologi RSUD Undata Palu yang dilakukan sejak 12 maret 2014 sampai 20

desember 2014. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi

wawancara langsung dan bebrapa pemeriksaan klinis untuk mengisi

kuesioner dan case raport. Data yang di peroleh terdiri dari karakteristik

demografi (umur, jenis kelamin, dan suku), karakteristik sosioekonomi

(pekerjaan), gaya hidup (merokok dan minum minuman ber alkohol), faktor
37

resiko, dan jenis perdarahan stroke hemoragik. Hasil analisa statistic

ditampilkan dengan sistematika sebagai berikut :

a. Menurut Karakteristik Demografi

Distribusi penderita stroke hemoragik berdasarkan karakteristik demografi

(umur, jenis kelamin, dan suku) dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini :

Tabel 1. Distribusi pasien stroke hemoragik yang dirawat inap di RSUD

Undata Palu tahun 2014 berdasarkan karakteristik demografi

No Demografi Frekuensi Presentase %


1 Umur
3 5,9
1. 40 45 tahun 44 86,3
4 7,8
2. 45 65 tahun

3. > 65 tahun
Total 51 100,0
2 Jenis Kelamin
31 60,8
1. Laki - laki 20 39,2

2. Perempuan
Total 51 100,0
3 Suku
27 52,9
1. Kaili 14 27,5
0 0
2. Bugis 10 19,6
0 0
3. Arab

4. Cina
38

6. Bali
Total 51 100,0

Tabel 1 dapat diketahui dari 51 pasien stroke hemoragik yang memenuhi

kriteria sampel penelitian terbanyak ditemukan pada kelompok umur 45 65

tahun yaitu sebanyak (86,3%) dan terendah ditemukan pada kelompok umur

40 - 45 tahun yaitu sebanyak (5,9%). Sedangkan jenis kelamin laki-laki

(60,8%) lebih banyak dari perempuan (39,2%). Dilihat dari suku yang

bervariasi (Kali, Bugis, Arab, Cina, Bali) dan yang terbanyak adalah suku kaili

(52,9%)

b. Menurut Karakteristik Sosioekonomi

Distribusi responden berdasarkan karakteristik Sosioekonomi dapat

dilihat pada Tabel 2 berikut ini:

Tabel 2. Distribusi pasien stroke hemoragik yang dirawat inap di RSUD


Undata Palu tahun 2014 berdasarkan karakteristik
sosioekonomi
No Pekerjaan Frekuensi Presentase %
1. PNS 15 29,4
20 39,2
2. Wirasuwasta 4 7,8
12 23,5
3. Ibu rumah tangga

4. Tidak bekerja
Total 51 100,0
39

Tabel 2 menunjukan karakteristik sosioekonomi yang dilihat dari pekerjaan

pasien yang tertinggi adalah wirasuwasta (39,2%) sedangkan terendah

adalah ibu rumah tangga (7,8%).

c. Menurut Gaya Hidup

Distribusi responden berdasarkan gaya hidup dapat dilihat pada Tabel

berikut ini:

Tabel 3. Distribusi pasien stroke hemoragik yang dirawat inap di RSUD


Undata Palu tahun 2014 berdasarkan karakteristik gaya hidup
No Gaya Hidup Frekuensi Presentase %
Merokok
36 70,6
1. Ada 15 29,4

2. Tidak merokok
Total 51 100,0
Minum ber Alkohol
38 74,5
1. Ada 13 25,5

2. Tidak minum alkohol


Total 51 100,0

Tabel 3 menunjukan karakteristik gaya hidup stroke hemoragik yang dibagi

atas kebiasan merokok dan minuman ber alcohol. Karakteristik berdasarkan

kebiasan merokok lebih banyak yang merokok (70,6%) dari pada yang tidak

merokok (29,4%). Sedangkan berdasarkan kebiasaan minum ber alcohol,


40

lebih banyak yang minum ber alcohol (74,5%) dari pada yang tidak minum

ber alcohol (25,5%).

d. Menurut Faktor Risiko

Distribusi responden berdasarkan faktor risiko dapat dilihat pada Tabel

berikut ini:

Tabel 4. Distribusi pasien stroke hemoragik yang dirawat inap di RSUD


Undata Palu tahun 2014 berdasarkan karakteristik faktor risiko
No Faktor Resiko Frekuensi Presentase %
1 Riwayat Hipertensi
51 100,0
Ada 0 0

Tidak
Total 51 100,0
2 Riwayat Storke Sebelumnya
33 64,7
Ada 18 35,3

Tidak
Total 51 100,0

Tabel 4 menunjukan angka kejadian stroke hemoragik berdasarkan faktor

resiko. Lebih banyak yang memiliki riwayat hipertensi yaitu (100,0%) dan

lebih banyak yang memilik riwayat stroke sebelumnya yaitu (64,7%).

e. Menurut Jenis Perdarahan


41

Distribusi responden berdasarkan jenis perdarahan dapat dilihat pada

Tabel berikut ini:

Tabel 5. Distribusi pasien stroke hemoragik yang dirawat inap di RSUD


Undata Palu tahun 2014 berdasarkan karakteristik jenis
perdarahan
No Jenis Perdarahan Frekuensi Presentase %
1. PIS 32 62,7
19 37,3
2. PSA
Total 51 100,0

Tabel 5 menunjukan angka kejadian stroke hemoragik berdasarkan jenis

perdarahan. Yang terbanyak adalah perdarahan intraserbral (62,7%) dari

pada perdarahan subarachnoid (37,3%).

B. PEMBAHASAN

a. Menurut Karakteristik Demografi (Umur, Jenis Kelamin, dan

Suku)

1. Menurut Karakteristik Umur

Dari hasil penelitian menurut umur terhadap kejadian stroke hemoragik

adalah tertinggi pada kelompok umur 45 65 tahun. Resiko terkena stroke

akan meningkat sejak umur 45 tahun. Hal ini terjadi karena adanya
42

akumulasi plak yang trertimbun di dalam pembuluh pembuluh darah (Gofir,

2011), bertambahnya umur berpengaruh juga terhadap perubahan fisiologis

pembuluh darah mengalami penurunan elastisitas pembuluh darah sehingga

meningkatkan terjadinya hipertensi (Anggraini, 2009)

Menurut penelitian (Siregar F 2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan

dengan desain case control, kelompok umur > 45 tahun resiko terkena

stroke dengan OR: 9,451 kali dibandingkan kelompok umur < 45 tahun. Data

dunia dari studi Framingham resiko stroke meningkat sebanyak 693 orang

pada kelompok umur yang lebih tua.

2. Menurut Karakteristik Jenis Kelamin

Dari hasil penelitian menurut jenis kelamin terhadap kejadian stroke

hemoragik adalah tertinggi pada laki - laki. Hal ini sejalan dengan penelitian

yang dilakukan oleh (Wiwid, 2008) di Rumah sakit Stroke Nasional

Bukittinggi dengan mengunakan desain case series yang menyatakan

bahwa lebih banyak pada jenis kelamin laki laki yaitu 53,6% dari pada

perempuan yaitu 46,4%. Penyebabnya adalah karena perempuan memiliki

hormon estrogen yang merupakan pelindung dari penyakit jantung dan

stroke sampai umur pertengahan hidupnya. Tetapi setelah menopause,

perempuan beresiko sama dengan laki-laki untuk terkena penyakit jantung

dan stroke (Heart And Stroke Foundation, 2010). Perbedaan ini karena laki-
43

laki lebih cendering melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dapat memicu

terjadinya stroke seperti merokok dan mengkonsumsi alcohol (Lingga, 2013)

3. Menurut Karakteristik Suku

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa suku kaili lebih banyak terhadap

kejadian stroke hemoragik. Hal ini bukan berarti stroke hemoragik lebih

banyak menyerang pada suku Kaili. Akan tetapi karena sebagian besar

penduduk asli kota Palu adalah suku Kaili. Hal ini dikarenakn banyak

mengkonsumsi makanan berlemak seperi kaledo yang merupakan makanan

khas suku Kaili yang dapat memicu kejadian hipertensi. Sedangkan

hipertensi merupakan factor resiko terjadinya stroke hemoragik.

b. Menurut Karakteristik Sosioekonomi (Pekerjaan)

Dari hasil penelitian menurut jenis pekerjaan terhadap kejadian stroke

hemoragik adalah lebih banyak yang bekerja sebagai wiraswasta. Pekerjaan

merupakan salah satu faktor resiko terjadinya stroke. Hal ini dikaitkan antara

pekerjaan dan tingkat stress seseorang. (Engstrom, 2005). Stress ada

hubungannya dengan masalah masalh kesehatan yang serius, termasuk

penyakit jantung, stroke, kanker dan sejumlah masalah kesehatan lainnya


44

(Jumiliah, 2010). Maka dari itu dapat dikaitkan bahwa stress psikologis dapat

meningkatkan resiko stroke. Pekerjaan yang tidak tetap atau bekerja swasta

sebagian besar mengalami stress yang di kaitkan dengan penghasilan setiap

bulannya.

c. Menurut Gaya Hidup

1. Merokok

Dari hasil penelitian menurut gaya hidup merokok terhadap kejadian

stroke hemoragik adalah lebih banyak yang merokok. Menurut teori nikotin

dalam rokok menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah yang dapat

menyebabkan naiknya tekanan darah atau yang biasa disebut hipertensi.

(Stroke Association, 2010). Rokok adlah determinan independen yang

menyebabkan penebalan pembuluh darah arteri karotis, yang disebabkan

oleh meningkatnya koagulabilitas, kadar fibrinogen, platelet agegrasi dan

juga meningkatkan tekanan darah (Jusuf Misbach, 2011).

2. Konsumsi Alkohol

Dari hasil penelitian menurut gaya hidup konsumsi alcohol terhadap

kejadian stroke hemoragik adalah lebih banyak yang mengkonsumsi alcohol.

Menurut teori alkohol dapat menggangu peredaran darah ke otak dan juga
45

dapat menigkatkan tekanan darah serta dapat menggangu pembekuan

darah (Thomas 1995).

d. Menurut Faktor Resiko

1. Menurut Faktor Resiko Riwayat Hipertensi

Dari hasil penelitian menurut factor resiko hipertensi terhadap kejadian

stroke hemoragik adalah lebih banyak yang hipertensi. Menurut teori

hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan factor resiko yang sangat

berpengaruh terhadap kejadian stroke hemoragik, sekitar 3-4 kali lebih besar

kejadian stroke terjadi pada penderita hipertensi dibandingkan non-hipertensi

(Bornstein, M N, 2009). Peningkatan resiko stroke terjadi seiring dengan

peningkatan tekanan darah (Gofir, 2011). Hipertensi dapat mengakibatkan

pecahnya pembuluh darah di otak karena tidak tahan menerima tekanan

yang tinggi. Apabila pembuluh darah di otak pecah maka akan terjadi

perdarahan otak dan juga penekanan (Adib, M, 2009)

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Dian Nastiti, 2012)

dengan hasil hipertensi merupakan factor resiko stroke terbanyak. Dari 655

pada penderita stroke di RSSN Bukittinggi tahun 2010 juga di dapatkan

sekitar (85,3%) merupakan pasien stroke dengan hipertensi (Mailisafitri,

2011)
46

2. Menurut Faktor Resiko Riwayat Stroke

Sebelumnya

Dari hasil penelitian menurut faktor resiko riwayat stroke sebelumnya

terhadap kejadian stroke hemoragik adalah lebih banyak yang memiliki

riwayat stroke sebelumnya. Menurut teori, penderita yang terkena serangan

TIA biasanya akan beresiko mengalami stroke yang serius. Sepertiga pasien

yang terkena serangan TIA akan terjangkit stroke (Sutrisno, 2007). Adanya

riwayat stroke memiliki resiko yang besar untuk terjadi stroke berikutnya.

Serangan stroke ulang berkisar antara 30%-43% dalam waktu 5 tahun.

(Pinzon dkk 2008)

e. Menurut Jenis Perdarahan

Dari hasil penelitian menurut jenis perdarahan terhadap kejadian stroke

hemoragik adalah lebih banyak ditemukan pada penelitian ini adalah

perdarahan intraserebral. Menurut teori, perdarahan intraserebral disebabkan

oleh hipertensi kronik yang menyebabkan vaskulopati serebral dengan akibat

pecahnya pembuluh darah otak, hal tersebut sejalan dengan penelitian ini

dengan hasil lebih banyak pasien hipertensi yang merupakan penyebab

terbanyak dari perdarahan intraserebral.


47

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Roinda Napitupulu di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2009

dengan hasil lebih banyak perdarahan intraserberal yaitu (71,4%)

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dari 51 pasien di Bagian Neurologi RSUD

Undata Palu tahun 2014 tentang Karakteristik stroke hemoragik yang dirawat

inap di Bagian Neurologi RSUD. Undata Palu tahun 2014 kesimpulannya

sebagai berikut:
48

1. Distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan karakteristik demografi

(umur, jenis kelamin, dan suku). Kelompok umur yang terbanyak yaitu

kelompok umur 45-65 tahun (86,3%). Jenis kelami pasien stroke

hemoragik yang terbanyak yaitu laki-laki (60,8%). Dan suku yang

terbanyak yaitu suku kaili (52,9%).

2. Distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan karakteristik

sosioekonomi (Pekerjaan). Pekerjaan yang terbanyak yaitu wirasuwasta

(39,2%).

3. Distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan karakteristik gaya hidup

merokok dan konsumsi alkohol yaitu lebih banyak yang merokok (70,6%).

Dan lebih banyak yang konsumsi alkohol (74,5%).

4. Distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan karakteristik faktor resiko

(riwayat hipertensi dan riwayat stroke sebelumnya). Lebih banyak yang

memiliki riwayat hipertensi yaitu (100,0%) dan lebih banyak yang memilik

riwayat stroke sebelumnya yaitu (64,7%)

5. Distribusi pasien stroke hemoragik berdasarkan karakteristik jenis

perdarahan (perdarahan intraserebral dan perdarahan subarachnoid).

Yang terbanyak yaitu perdarahan intraserbral (62,7%) dari pada

perdarahan subarachnoid (37,3%).

B. Saran Saran
49

Dari kesimpulan di atas maka saran dari penulis yaitu:

1. Bagi orang yang tidak memiliki hipertensi agar menjaga pola makan dan

gaya hidup sehat seperti mengurangi makan makanan yang berlemak,

kemudian tidak merokok dan juga minum minuman beralkohol yang

merupakan faktor resiko hipertensi, terutama pada suku kaili pada

penelitian ini yang lebih cenderung mengkonsumsi makanan berlemak.

2. Bagi usia yang produktif dalam penelitian ini yaitu berusia lebih dari 45

tahun ke atas yang memiliki hipertensi, agar mengontrol tekanan

darahnya dengan cara minum obat hipertensi dengan teratur dan juga

memperbaiki pola makan dan gaya hidup untuk mencegah terjadinya

stroke berulang.

3. Bagi tempat pelayanan kesehatan melihat hipertensi merupakan

penyebab terbanyak pada kasus stroke hemoragik sehingga dapat

melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk sadar terhadap

hipertensi agar bisa mencegah terjadinya stroke hemoragik.


50

DAFTAR PUSTAKA

1. Amiruddin, A. 2010. Stroke (Cerebrovascular attack). Depertemen


Neurologi, Divisi Stroke dan Penyakit Neurovaskuler. Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin.

2. Annisa Nurul. (2011). Penatalaksanaan Stroke Trombotik. Fakultas


Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.

3. Anonim, (2009) Prevalence and Incidence of Stroke. (Online):


http://www.wrongdiagnosis.com

4. Bahrudin, M. (2008). Diagnosa Stroke. Fakultas Kedokteran Universitas


Brawijaya Malang.

5. CDC Central For Disease Control And Prevention (2013) Types of Stroke
(Online) http://www.cdc.gov/stroke/types_of_stroke.htm

6. Erpindz, (2002). Hipertensi dan Stroke. (Online):


http://www.strokebethesda.com
51

7. Gofir, A 2011. Manajemen Stroke. Pustaka Cendekia Press, Yogyakarta.

8. Heart And Stroke Foundation Of Canada. (2008) Hemorrhagic stroke,


(Online)
http://www.heartandstroke.com/site/c.ikIQLcMWJtE/b.3484153/k.7675/ Str
oke__Hemorrhagic_stroke.htm

9. Junaidi, I. (2004). Panduan Praktis Pencegahan dan Pengobatan Stroke .


PT Bhuana ilmu Populer, Jakarta.

10. Jonathan Duncan, MD, and Bruce Lo, MD, RDMS, FACEP, (2011)
Management of Hemorrhagic Stroke: A Focused Review of Current
Guidelines.(Online): http://www.emedmag.com/Article.aspx?
ArticleId=0FrOxEXKFnE

11. Mardjono M, Sidharta P. 2010. Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat.


Jakarta.

12. Napitupulu R. (2008) Karakteristik pasien stroke hemoragik yang dirawat


inap di RS. Santha Elizabeth Medan. (online): library.usu.ac.id

13. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. (2011). Buku ajar


neurologi klinis. Gadja Mada University Press, Yogyakarta.

14. Pramita, Wiwid, (2008) Karakteristik Penderita Stroke yang Dirawat Inap
di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi Tahun 2005-2007. Skripsi
FKM USU.

15. Price, S.A, Wilson, L.M. (2005) Patofisiologi. Ed 6. EGC, Jakarta.


52

16. Sid Shah, MD (2008). Stroke Pathophysiology. (Online) uic.edu

17. Sutrisno, A. (2007) Stroke ???. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

18. Sharon Parmet. MS. Writer . Tiffany J. Glass. MA. Illustrator. Richard M.
Glass, MD.(2007) Stroke Hemoragic. Jama The Journal Of The
American Medical Association.

19. WHO. 2004. Global Burden. (Online):


http://www.who.int/healthinfobase/report

20. WHO. 2008. Stroke Prevalence. (Online):


http://www.who.int/infobase/report

21. Venketasubramanin, N, (1998). The Epidemiology of Stroke in ASEAN


Countries. (Online): http://www.neurology-asia.org