Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya dan merupakan sensor pada
tubuh manusia yang bermanfaat untuk membedakan siang dan malam, hujan dan tidak hujan
dan sebagainya. Seringkali seiring dengan perkembangan jaman, fungsi sensor ini khususnya
pada manusia telah banyak berubah. Dewasa ini banyak orang yang telah memanfaatkan
mata sebagai alat untuk membaca atau melihat. Dengan mata orang dapat menyerap
informasi yang ada dihadapannya, diatasnya, dibelakangnya, dan di tempat lain. Mata yang
lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian visual.

Sistem lakrimal terdiri dari dua bagian, yaitu sistem sekresi yang berupa kelenjar
lakrimal dan sistem ekskresi yang terdiri dari punctum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus
lakrimal, duktus nasolakrimal, dan meatus inferior. Sistem eksresi lakrimal cenderung mudah
terjadi infeksi dan inflamasi karena berbagai sebab. Membran mukosa pada saluran ini terdiri
dari dua permukaan yang saling bersinggungan, yaitu mukosa konjungtiva dan mukosa nasal,
di mana pada keadaan normal pun sudah terdapat koloni bakteri. Tujuan fungsional dari
sistem ekskresi lakrimal adalah mengalirkan air mata dari kelenjar air mata menuju ke cavum
nasal.

1.2 Batasan Masalah

Referat ini membahas anatomi kelenjar lakrimal, fisiologi kelenjar lakrimal dan air
mata, penyebab gangguan pada kelenjar lakrimal, diagnosis, manifestasi klinis, dan
penatalaksanaan gangguan-gangguan pada kelenjar lakrimal.

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan referat ini adalah:


1. Mengetahui anatomi kelenjar lakrimal, fisiologi kelenjar lakrimal dan air mata,
penyebab gangguan pada kelenjar lakrimal, diagnosis, manifestasi klinis, dan
penatalaksanaan gangguan-gangguan pada kelenjar lakrimal
2. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan ilmiah di bidang kedokteran.

1
3. Memenuhi salah satu syarat kelulusan kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan
Mata Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta RS Umum Daerah
Banjar

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan karya ini merupakan tinjauan pustaka dengan mengacu kepada
beberapa literatur terkait kelenjar lakrimal beserta kelainannya.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI APPARATUS LAKRIMALIS

2.1.1 Anatomi Apparatus Lakrimalis

Sistem lakrimalis mencakup struktur-struktur yang terlibat dalam produksi dan


drainase air mata, apparatus lakrimalis terdiri dari 2 bagian (Vaughan, 2007):
1) Komponen sekresi, yang terdiri atas kelenjar yang menghasilkan berbagai unsur
pembentuk cairan air mata, yang disebarkan di atas permukaan mata oleh kedipan
mata.
2) Komponen ekskresi, yang mengalirkan sekret ke dalam hidung, terdiri dari kanalikuli,
sakus lakrimalis, dan duktus nasolakrimalis.

Gambar 1: Apparatus Lakrimalis

3
Gambar 2: Apparatus Lakrimalis

1. Kelenjar Lakrimalis
Volume terbesar air mata dihasilkan oleh kelenjar lakrimal yang terletak di fossa
glandulae lakrimalis di kuadran temporal atas orbita. Duktus kelenjar ini mempunyai panjang
berkisar 6-12 mm, berjalan pendek menyamping di bawah konjungtiva (Vaughan, 2007).
Kelenjar yang berbentuk kenari ini dibagi oleh kornu lateral aponeurosis levator
menjadi:
a) Lobus orbita yang berbentuk kenari dan lebih besar, terletak di dalam fossa
glandulae lakrimalis di segmen temporal atas anterior orbita yang dipisahkan dari
bagian palpebra oleh kornu lateralis muskulus levator palpebrae. Untuk mencapai
bagian kelenjar ini dengan pembedahan, harus diiris kulit, muskulus orbikularis okuli,
dan septum orbita.
b) Lobus palpebra yang lebih muara ke forniks temporal superior. Bagian palpebra yang
lebih kecil terletak tepat di atas segmen temporal forniks konjungtiva superior. Duktus
sekretorius lakrimal, yang bermuara pada sekitar 10 lubang kecil, yang menghubungkan
bagian orbita dan bagian palpebra kelenjar lakrimal dengan forniks konjungtiva
superior. Pengangkatan bagian palpebra kelenjar akan memutus semua saluran
penghubung dan mencegah seluruh kelenjar bersekresi. Lobus palpebra kadang-
kadang dapat dilihat dengan membalikkan palpebra superior.
Persarafan kelenjar-utama datang dari nucleus lakrimalis di pons melalui nervus

4
intermedius dan menempuh suatu jaras rumit cabang maxillaris nervus trigeminus. Denervasi
adalah konsekuensi yang sering terjadi pada neuroma akustik dan tumor-tumor lain di sudut
cerebellopontin.

2. Kelenjar Lakrimal Aksesorius


Meskipun hanya sepersepuluh dari massa kelenjar utama, kelenjar lakrimal
aksesorius mempunyai peranan penting. Struktur kelenjar Krause dan Wolfring identik
dengan kelenjar utama, tetapi tidak memiliki ductulus. Kelenjar - kelenjar ini terletak di
dalam konjungtiva, terutama di forniks superior Sel-sel goblet uniseluler, yang juga tersebar
di konjungtiva, mensekresi glikoprotein dalam bentuk musin. Modifikasi kelenjar sebasea
Meibom dan Zeis di tepian palpebra memberi lipid pada air mata. Kelenjar Moll adalah
modifikasi kelenjar keringat yang juga ikut membentuk film air mata.
Sekresi kelenjar lakrimal dipicu oleh emosi atau iritasi fisik dan menyebabkan air
mata mengalir berlimpah melewati tepian palpebra (epifora). Kelenjar lakrimal aksesorius
dikenal sebagai pensekresi dasar". Sekret yang dihasilkan normalnya cukup untuk
memelihara kesehatan kornea. Hilangnya sel goblet berakibat mengeringnya kornea meskipun
banyak air mata dari kelenjar lakrimal (Vaughan, 2007).
Sistem ekskresi air mata terdiri atas punctum, kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus
nasolakrimalis (Vaughan, 2007).
1. Punctum Lakrimalis
Ukuran punctum lakrimalis dengan diameter 0,3 mm terletak di sebelah medial
bagian superior dan inferior dari kelopak mata. Punctum relatif avaskular dari
jaringan sekitarnya, selain itu warna pucat dari punctum ini sangat membantu jika
ditemukan adanya sumbatan. Punctum lakrimalis biasanya tidak terlihat kecuali jika
kelopak mata dibalik sedikit. Jarak superior dan inferior punctum 0,5 mm, sedangkan
jarak masing-masing ke kantus medial kira-kira 6,5 mm dan 6,0 mm. Air mata dari
kantus medial masuk ke punctum lalu masuk ke canalis lakrimalis.
2. Kanalikuli Lakrimalis
Lacrimal ducts (lacrimal canals), berawal pada orifisium yang sangat kecil, bernama
puncta lacrimalia, pada puncak papilla lacrimales, terlihat pada tepi ekstremitas
lateral lakrimalis. Duktus superior, yang lebih kecil dan lebih pendek, awalnya
berjalan naik, dan kemudian berbelok dengan sudut yang tajam, dan berjalan ke arah
medial dan ke bawah menuju lacrimal sac. Duktus inferior awalnya berjalan turun,
dan kemudian hampir horizontal menuju lacrimal sac. Pada sudutnya, duktus

5
mengalami dilatasi dan disebut ampulla. Pada setiap lacrimal papilla serat otot
tersusun melingkar dan membentuk sejenis sfingter.
3. Sakus Lakrimalis (Kantung Lakrimal)
Merupakan ujung bagian atas yang dilatasi dari duktus nasolakrimal, dan terletak
dalam cekungan (groove) dalam yang dibentuk oleh tulang lakrimal dan prosesus
frontalis maksila. Bentuk sakus lakrimalis oval dan ukuran panjangnya sekitar 12-15
mm; bagian ujungnya membulat, bagian bawahnya berlanjut menjadi duktus
nasolakrimal.
4. Duktus Naso Lakrimalis
Kanal membranosa, panjangnya sekitar 18 mm, yang memanjang dari bagian bawah
lacrimal sac menuju meatus inferior hidung, dimana saluran ini berakhir dengan
suatu orifisium, dengan katup yang tidak sempurna, plica lakrimalis (Hasneri),
dibentuk oleh lipatan membran mukosa. Duktus nasolakrimal terdapat pada kanal
osseus, yang terbentuk dari maksila, tulang lakrimal, dan konka nasal inferior.
Setiap kali berkedip, palpebra menutup seperti ritsleting, mulai dari lateral,
menyebarkan air mata secara merata di atas kornea, dan menyalurkannya ke dalam sistem
ekskresi pada aspek medial palpebra. Pada kondisi normal, air mata dihasilkan dengan
kecepatan yang kira-kira sesuai dengan kecepatan penguapannya. Dengan demikian, hanya
sedikit yang sampai ke sistem ekskresi. Bila sudah memenuhi sakus konjungtivalis, air
mata akan memasuki puncta sebagian karena sedotan kapiler. Dengan menutup mata, bagian
khusus orbicularis pratarsal yang mengelilingi ampula akan mengencang untuk mencegahnya
keluar. Bersamaan dengan itu, palpebra ditarik ke arah crista lakrimalis posterior, dan traksi
fascia yang mengelilingi sakus lakrimalis berakibat memendeknya kanalikulus dan
menimbulkan tekanan negatif di dalam sakus. Kerja pompa dinamik ini menarik air mata ke
dalarn sakus, vang kemudian berjalan melalui duktus nasolakrimalis karena pengaruh gaya
berat dan elastisitas jaringan, ke dalam meatus inferior hidung. Lipatan-lipatan serupa katup
milik epitel pelapis sakus cenderung menghambat aliran balik udara dan air mata. Yang paling
berkembang di antara lipatan ini adalah katup Hasner di ujung distal duktus nasolakrimalis.
Struktur ini penting karena bila tidak berlubang pada bayi, menjadi penyebab obstruksi
kongenital dan dakriosistitis menahun (Vaughan, 2007).

6
Gambar 3: Anatomi Sistem Drainase Lakrimal

Gambar 4: Fisiologi Sistem Drainase Lakrimal

2.1.2 Fisiologi Apparatus Lakrimalis


Sistem lakrimal terdiri atas dua jaringan utama yaitu sistem sekresi lakrimal yaitu
kelenjar lakrimalis dan sistem drainase (Sidarta, 2005) (Vaughan, 2007) (Lang, 2000).
Kelenjar lakrimalis ini terdiri atas dua lobus, yaitu bagian orbita terletak pada sisi temporal
anterior rongga orbita dan bagian palpebra, yang terletak di sisi temporal fornik konjungtiva
superior. Kelenjar lakrimalis sebagai komponen sekresi menghasilkan berbagai unsur
pembentuk cairan air mata (Sidarta, 2005) (Vaughan, 2007) (Lang, 2000). Kelenjar lakrimal

7
normalnya menghasilkan sekitar 1,2 l air mata per menit. Sebagian hilang melalui
evaporasi. Sisanya dialirkan melalui sistem nasolakrimal. Bila produksi air mata melebihi
kapasitas sistem drainase, air mata yang berlebih akan mengalir ke pipi (Lang, 2000) (Miller,
1990).

Gambar 5. Struktur anatomi aparatus lakrimalis

Kelenjar ekskresi terdiri dari: punktum lakrimalis, kanalis lakrimalis, sakus


lakrimalis, duktus nasolakrimalis. Sistem ekskresi lakrimalis sebagai sistem drainase lakrimal
berawal melalui punktum lakrimalis yang terletak medial bagian atas dan bawah kelopak
mata, bagian bawah punktum terletak lebih lateral dibanding punktum atas (Vaughan, 2007)
(Lang, 2000) (Miller, 1990) (Newell, 1986). Secara normal punkta agak inversi, setiap
punktum dikelilingi oleh ampulla, dengan setiap puncta mengarah ke kanalikuli. Kanalikuli
merupakan struktur non keratinasi, epitel squamous non mucin. Berjalan 2 mm vertikal dan
berputar 90o, dan berjalan 8-10 mm medial berhubungan dengan sakus lakrimalis (Lang,
2000) (Miller, 1990) (Newell, 1986).

8
Gambar 6 : Kanalikuli apparatus lakrimalis

Pada umumnya kanalikuli ini berkombinasi membentuk kanalikuli tunggal sebelum


masuk ke bagian dinding lateral dari sakus lakrimalis. Valva Rosenmuller dideskripsikan
sebagai struktur yang mencegah refluks airmata dari sakus kembali ke kanalikuli. Terdapat
beberapa studi yang menyatakan bahwa kanalukuli membelok dari posterior ke bagian
anterior di belakang dari tendo kantus medial sebelum memasuki sakus lakrimal. Belokan ini
pada konjungtiva berperan untuk memblokir refluks. Sakus lakrimalis terletak anterior medial
orbital, berada dalam cekungan tulang yang dibatasi oleh lakrimal anterior dan posterior,
dimana tendokantus medial melekat. Pada tendokantus medial merupakan struktur kompleks
berkomposisi krura anterior dan posterior. Dari medial ke lamina papyracea merupakan
bagian tengah dari meatus hidung, kadang juga terdapat sel ethmiod. Bagian kubah dari sakus
memanjang beberapa mm di atas tendo kantus medial. Padabagian superior, sakus ini dilapisi
dengan jaringan fibrosa. Ini menjelaskan mengapa pada kebanyakan kasus, distensi sakus
lakrimalis memanjang dari inferior ke tendo kantus medial. Pada bagian lateral, sakus
lakrimal ini bersambung pula dengan duktus nasolakrimalis. Duktus nasolakrimalis
berukuran 12 mm atau lebih panjang. Berjalan melalui tulang dalam kanalis nasolakrimalis
yang melengkung inferior dan sedikit laterposterior. Duktus nasolakrimalis ini membuka ke
dalam hidung melalui ostium, yang biasanya sebagian dilapisi oleh lipatan mukosa (valva
hasner). Kegagalan pembentukan ostium ini pada kebanyakan kasus adalah disebabkan oleh
obstruksi duktus nasolakrimalis kongenital (Vaughan, 2007).

9
Volume terbesar air mata dihasilkan oleh kelenjar air mata utama yang terletak di
fossa lakrimalis di kuadran temporal atas orbita. Kelenjar yang berbentuk kenari ini dibagi
oleh kornu lateral aponeurosis levator menjadi lobus orbita yang lebih besar dan lobus
palpebra yang lebih kecil, masing-masing dengan sistem saluran pembuangan tersendiri ke
dalam forniks temporal superior.
Lobus palpebra kadang-kadang dapat dilihat dengan membalikkan palpebra superior.
Sekresi dari kelenjar lakrimal utama dipicu oleh emosi atau iritasi fisik sehingga
menyebabkan air mata mengalir berlimpah melewati tepian palpebra. Persarafan kelenjar
utama datang dari nukleus lakrimalis di pons melalui nervus intermedius dan menempuh jalur
rumit dari cabang maxillaris nervus trigeminus (Lang, 2000) (Newell, 1986).
Kelenjar lakrimal tambahan, meskipun hanya sepersepuluh dari massa utama
mempunyai peran penting. Kelenjar Krause dan Wolfring identik dengan kelenjar utama
namun tidak memiliki sistem saluran. Kelenjar-kelenjar ini terletak di dalam konjungtiva,
terutama di fornix superior. Sel goblet uniseluler yang juga tersebar di konjungtiva
menghasilkan glikoprotein dalam bentuk musin.
Setiap berkedip, palpebra menutup menyebarkan air mata secara merata di atas kornea
dan menyalurkan kedalam sistem ekskresi pada aspek medial palpebra. Dalam keadaan
normal, air mata dihasilkan dengan kecepatan sesuai dengan jumlah yang diuapkan dan itulah
sebabnya hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi. Bila memenuhi sakus konjungtiva,
air mata akan memasuki puncta sebagian karena sedotan kapiler konjungtiva (Lang, 2000).

Gambar 7 : Gerakan mengedip yang menyebarkan air mata

10
Dengan menutup mata, bagian khusus orbikularis pra-tarsal yang mengelilingi ampula
mengencang untuk mencegah air mata keluar. Pada waktu yang sama, palpebra ditarik ke
arah krista lakrimalis posterior, dan traksi fascia mengelilingi sakus lakrimalis, berakibat
memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan negative di dalam sakus. Kerja pompa
dinamik ini menarik air mata ke dalam sakus yang kemudian berjalan melalui duktus
nasolakrimalis karena pengaruh gaya berat dan elastisitas jaringan ke dalam meatus inferior
hidung (lang, 2000).
Suplai darah sakus lakrimalis antara lain berasal dari cabang palpebra superior dan
inferior dari arteri oftalmika, arteri angularis, arteri infraorbitalis cabang dari arteri
sphenopalatina, kemudian mengalir ke vena angularis, vena infraorbitalis dan vena-vena di
hidung. Saluran getah bening masuk ke dalam glandula submandibular dan glandula
cervicalis. Persarafan berasal dari cabang nervus infratrochlearis dari nervus nasociliaris dan
antero-superior nervus alveolaris (Sidarta, 2005)

2.1.3 Air Mata

2.1.3.1 Fungsi Air Mata


Air mata membentuk lapisan tipis setebal 7-10 um Yang menutupi epitel kornea
dan konjungtiva. Fungsi lapisan ultra-tipis ini adalah (Vaughan, 2007):
1) Membuat kornea menjadi permukaan optik yang licin dengan meniadakan
ketidakteraturan minimal di permukaan epitel
2) Membasahi dan melindungi permukaan epitel kornea dan konjungtiva yang
lembut
3) Menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan pembilasan mekanik dan
efek antimikroba
4) Menyediakan kornea berbagai substansi nutrien yang diperlukan.
2.1.3.2 Lapisan Air Mata
Film air mata terdiri atas tiga lapisan (Vaughan, 2007):
1. Lapisan superfisial adalah film lipid monomolekular yang berasal dari kelenjar
meibom. Diduga lapisan ini menghambat penguapan dan tnembentuk sawar
kedap-air saat palpebra ditutup.
2. Lapisan akueosa tengah yang dihasilkan oleh kelenjar lakrimal mayor clan minor;
mengandung substansi larut-air (garam dan protein).
3. Lapisan musinosa dalam terdiri atas glikoprotein dan melapisi sel-sel epitel kornea

11
dan konjungtiva. Membran sel
epitel terdiri atas lipoprotein
dan karenanya relatif
hidrofobik. Permukaan yang
demikian tidak dapat dibasahi
dengan larutan berair saja.
Musin diadsorpsi sebagian
pada membran sel epitel
kornea dan oleh mikrovili
ditambatkan pada sel-sel epitel
permukaan. Ini menghasilkan
permukaan hidrofilik baru bagi
Gambar 8: Tiga Lapisan Film Air Mata yang
lapisan akuosa untuk menyebar Melapisi Lapisan Epitel Superfisial di Kornea
secara merata ke bagian yang
dibasahinya dengan cara menurunkan tegangan permukaan.

2.1.3.3 Komposisi Air Mata


Volume air mata normal diperkirakan 7 2 L di setiap mata. Albumin mencakup
60% dari protein total air rnata; sisanya globulin dan lisozim yang berjumlah sama banyak.
Terdapat imunoglohulin IgA, IgG, dan IgE. Yang paling banyak adalah IgA, yang berbeda dari
IgA serum karena bukan berasal dari transudat serum saja; IgA juga di produksi sel-sel
plasma di dalam kelenjar lakrimal. Pada keadaan alergi tertentu, seperti konjungtivitis
vernal, kosentrasi IgE dalam cairan air mata meningkat. Lisozim air mata menvusun 21-25%
protein total, bekerja secara sinergis dengan gamma globulin dan faktor anti bakteri non-lisozim
lain, membentuk mekanisme pertahanan penting terhadap infeksi. Enzim air mata lain juga
bisa berperan dalam diagnosis berbagai kondisi klinis tertentu, misalnya, hexoseaminidase
untuk diagnosis penyakit Tay-Sachs (Vaughan, 2007).
K+, Na+, dan CI- terdapat dalam kadar yang lebih tinggi di air mata daripada di
plasma. Air mata juga mengandung sedikit glukosa (5 mg/dL) dan urea (0,04mg/dL).
Perubahan kadar dalam darah sebanding dengan perubahan kadar glukosa dan urea dalam air
mata. pH rata-rata air mata adalah 7,35, meskipun ada variasi normal yang besar (5,20-
8,35). Dalam keadaan normal, air mata bersifat isotonik. Osmolalitas film air mata
bervariasi dari 295 sampai 309 mosm/L (Vaughan, 2007).
2.2 KELAINAN APPARATUS LAKRIMALIS

12
Kelainan pada kelenjar lakrimalis dan salurannya dapat berupa proses infeksi, tumor,
trauma maupun suatu kelainan kongenital. Keluhan yang sering ditemui pada penderita
dengan kelainan sistem lakrimal ialah mata kering, hiperlakrimasi dan epifora. Mata kering
disebabkan oleh berkurangnya produksi air mata. Keadaan ini dapat disebabkan oleh karena
trakoma, trauma kimia, erythema multiforme yang menyumbat muara kelenjar lakrimal atau
bisa pula karena sindroma Sjogren. Hiperlakrimasi ialah kelebihan produksi air mata yang
disebabkan oleh suatu rangsangan kelenjar lakrimal, biasanya karena suatu proses infeksi.
Epifora ialah keadaan dimana terjadi gangguan sistem ekskresi air mata. Gangguan ini dapat
disebabkan oleh kelainan posisi pungtum lakrimal, jaringan sikatrik pada pungtum, paresis
atau paralisis otot orbikularis okuli yang menyebabkan berkurangnya efek penghisapan dari
kanalikuli lakrimal, benda asing dalam kanalikuli, obstruksi duktus nasolakrimalis dan sakus
lakrimal.
Untuk menentukan adanya gangguan pada sistem ekskresi air mata dilakukan :
1. Inspeksi pada posisi pungtum
2. Palpasi daerah sakus lakrimal, apakah mengeluarkan cairan yang bercampur
nanah
3. Irigasi melalui pungtum dan kanalikuli lakrimal, bila cairan mencapai rongga
hidung, maka sistem ekskresi berfungsi baik (uji Anel)
4. Probing yaitu memasukkan probe Bowman melalui jalur anatomik sistem ekskresi
lakrimal. Tindakan probing didahului oleh dilatasi pungtum dengan dilatator.

2.2.1 Kelainan pada Sistem Sekresi Lakrimal


2.2.1.1 Dakrioadenitis
Dakrioadenitis ialah suatu proses inflamasi pada kelenjar air mata pars sekretorik.
Dibagi menjadi dua yaitu dakrioadenitis akut dan kronik, keduanya dapat disebabkan
oleh suatu proses infeksi ataupun dari penyakit sistemik lainnya. Patofisiologinya masih
belum jelas, namun beberapa ahli mengemukakan bahwa proses infeksinya dapat terjadi
melalui penyebaran kuman yang berawal di konjungtiva yang menuju ke ductus
lakrimalis dan menuju ke kelenjar lakrimalis.
Beberapa penyebab utama dari proses infeksi terbagi menjadi 3, yaitu :
1. Viral (penyebab utama)
Mumps (penyebab tersering, terutama pada anak-anak)
Epstein-Barr virus
Herpes zoster
Mononucleosis
Cytomegalovirus
Echoviruses

13
Coxsackievirus A

2. Bacterial
Staphylococcus aureus and Streptococcus
Neisseria gonorrhoeae
Treponema pallidum
Chlamydia trachomatis
Mycobacterium leprae
Mycobacterium tuberculosis
Borrelia burgdorferi
3. Fungal (jarang)
Histoplasmosis
Blastomycosis
Parasite (rare)
Schistosoma haematobium
Protozoa (rare)
4. Pada penyakit sistemik yang memungkinkan terjadinya dakrioadenitis adalah :
Benign lymphoepithelial lesion
Sarcoidosis
Graves disease
Sjgren syndrome
Orbital inflammatory syndrome
2.2.1.1.1 Dakrioadenitis Akut
Pada dakrioadenitis akut sering ditemukan pembesaran kelenjar air mata di
dalam palpebra superior, hal ini dapat ditemukan apabila kelopak mata atas dieversi,
maka akan kelihatan tonjolan dari kelenjar air mata yang mengalami proses inflamasi.
Pada perabaan karena ini merupakan suatu proses yang akut maka biasanya akan sangat
nyeri dan dapat diikuti oleh gejala klinis lainnya yaitu kemosis (pembengkakkan
konjungtiva), konjungtival injeksi, secret mukopurulen, eritema dari kelopak mata,
lymphadenopati (submandibular), pembengkakkan dari 1/3 lateral atas kelopak mata
(S- shape), proptosis, pergerakan bola mata yang terbatas.

Diagnosis bandingnya :
1. Hordeolum internum : biasanya lebih kecil dan melingkar
2. Abses kelopak mata : terdapat fluktuasi
3. Selulitis orbita : biasanya berkaitan dengan penurunan pergerakan mata

2.2.1.1.1 Dakrioadenitis Kronik

Pada kronis darkrioadenitis gejala klinisnya lebih baik daripada yang akut.
Umumnya tidak ditemukan nyeri , ada pembesaran kelenjar namun mobil, tanda-tanda

14
ocular minimal, ptosis bisa ditemukan, dapat ditemukan sindroma mata kering .

Diagnosis bandingnya :
1. Periostitis dari kelopak mata atas : sangat jarang terjadi
2. Lipodermoid : tidak ada tanda-tanda inflamasi
Semuanya diterapi secara kausatif dan kompres mata dengan rivanol.

Gambar 9 : Tampak Kelenjar Gambar 10 : edema dan eritema


lakrimalis yang oedem saar eversi bilateral pada palpebra
2.2.2 Kelainan pada Sistem Ekskresi Lakrimal
palpebra
2.2.2.1 Dakriosistitis
Dakriosistitis merupakan suatu inflamasi pada sakus lakrimal yang
biasanya terjadi karena obstruksi duktus nasolakrimal. Obstruksi bisa disebabkan
oleh stenosis inflamasi idiopatik (primary acquired nasolacrimal duct obstruction)
atau sebab sekunder akibat dari trauma, infeksi, inflamasi, neoplasma, atau
obstruksi mekanik (secondary acquired nasolacrimal duct obstruction) (Bharathi, et
al 2007).

Epidemiologi
Infeksi pada sakus lakrimalis umumnya ditemukan pada 2 kategori usia,
pada infant dan orang dewasa yang berusia lebih dari 40 tahun (Gilliand, 2009)
(Sidarta, 2005) Dakriosistitis akut pada bayi baru lahir jarang ditemukan, terjadi
pada kurang dari 1% dari semua kelahiran (Gilliand, 2009). Dakriosistitis didapat
secara primer terjadi pada wanita dan lebih sering pada pasien dengan usia di atas
40 tahun, dengan puncak insidensi pada usia 6070 tahun. Kebanyakan penelitian
mendemonstrasikan sekitar 7083% kasus dakriosistitis terjadi pada wanita,
sementara dakriosistitis kongenital memiliki frekuensi yang sama antara pria dan
wanita (Gilliand, 2009).

15
Pada individu dengan kepala berbentuk brachycepalic memiliki insidensi
yang tinggi mengalami dakriosistitis dibandingkan dengan individu dengan kepala
berbentuk dolichocephalic atau mesosephalic. Hal ini dikarenakan pada tengkorak
berbentuk brachycephalic memiliki diameter lubang yang lebih sempit ke dalam
duktus nasolakrimalis, duktus nasolakrimalis lebih panjang, dan fossa lakrimalis
lebih sempit. Pada pasien dengan hidung pesek dan muka kecil memiliki resiko
lebih tinggi mengalami dakriosistitis, diduga karena kanalis osseus lakrimal yang
lebih sempit.

Klasifikasi
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, dakriosistitis dibedakan menjadi 3
(tiga) jenis yaitu:
1. Akut
Pasien dapat menunjukkan morbiditasnya yang berat namun jarang
menimbulkan kematian. Morbiditas yang terjadi berhubungan dengan
abses pada sakus lakrimalis dan penyebaran infeksinya.
2. Kronis
Morbiditas utamanya berhubungan dengan lakrimasi kronis yang
berlebihan dan terjadinya infeksi dan peradangan pada konjungtiva.
3. Kongenital
Merupakan penyakit yang sangat serius sebab morbiditas dan
mortalitasnya juga sangat tinggi. Jika tidak ditangani secara adekuat,
dapat menimbulkan selulitis orbita, abses otak, meningitis, sepsis, hingga
kematian. Dakriosistitis kongenital dapat berhubungan dengan
amniotocele, di mana pada kasus yang berat dapat menyebabkan
obstruksi jalan napas. Dakriosistitis kongenital yang indolen sangat sulit
didiagnosis dan biasanya hanya ditandai dengan lakrimasi kronis,
ambliopia, dan kegagalan perkembangan (Gilliland, 2009).

Faktor Predisposisi dan Etiologi


Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya obstruksi duktus
nasolakrimalis (Mamoun, 2009):
Terdapat benda yang menutupi lumen duktus, seperti pengendapan
kalsium, atau koloni jamur yang mengelilingi suatu korpus alienum.

16
Terjadi striktur atau kongesti pada dinding duktus.
Penekanan dari luar oleh karena terjadi fraktur atau adanya tumor pada
sinus maksilaris.
Obstruksi akibat adanya deviasi septum atau polip.

Obstruksi duktus nasolakrimalis menyebabkan penyumbatan aliran air mata


yang berhubungan dengan system drainase air mata yang mengakibatkan
dakriosistitis.
Dakriosistitis akut biasanya sering disebabkan oleh bakteri kokus gram
negatif, sedangkan dakriosistitis kronik disebabkan oleh campuran bakteri gram
negatif maupun positif namun lebih sering disebabkan oleh Coagulase Negative-
Staphylococcus (Barathi, 2007). Bakteri yang sering ditemukan umumnya
didominasi oleh streptokokus pneumonia dan stapilokokus Sp. Infeksi jamur
biasanya oleh candida albikan dan aspergillus Sp, biasanya infeksi akibat jamur
jarang ditemukan (Bharathi, et al 2007). Literatur lain menyebutkan bahwa
dakriosistitis akut pada anak-anak sering disebabkan oleh Haemophylus influenzae,
sedangkan pada orang dewasa sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan
Streptococcus -haemolyticus. (Ilyas, 2005).

Patofisiologi
Awal terjadinya peradangan pada sakus lakrimalis adalah adanya obstruksi
pada duktus nasolakrimalis. Obstruksi duktus nasolakrimalis pada anak-anak
biasanya akibat tidak terbukanya membran nasolakrimal, sedangkan pada orang
dewasa akibat adanya penekanan pada salurannya, misal adanya polip hidung
(Sidarta, 2005). Obstruksi pada duktus nasolakrimalis ini dapat menimbulkan
penumpukan air mata, debris epitel, dan cairan mukus sakus lakrimalis yang
merupakan media pertumbuhan yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
Ada 3 tahapan terbentuknya sekret pada dakriosistitis. Hal ini dapat
diketahui dengan melakukan pemijatan pada sakus lakrimalis. Tahapan-tahapan
tersebut antara lain:
1. Tahap obstruksi
Pada tahap ini, baru saja terjadi obstruksi pada sakus lakrimalis, sehingga yang
keluar hanyalah air mata yang berlebihan.

2. Tahap Infeksi

17
Pada tahap ini, yang keluar adalah cairan yang bersifat mukus, mukopurulen,
atau purulent tergantung pada organisme penyebabnya.

3. Tahap Sikatrik
Pada tahap ini sudah tidak ada regurgitasi air mata maupun pus lagi. Hal ini
dikarenakan sekret yang terbentuk tertahan di dalam sakus sehingga membentuk
suatu kista.

Gambaran klinik
Gambaran klinis dakriosistitis secara umum berupa nyeri fokal, kemerahan
dan bengkak pada mata daerah kelopak mata bawah bagian nasal. Dalam beberapa
kasus nyeri dapat menyebar sampai hidung dn gigi, epifora dan okular discharge
juga sering dilaporkan.
Pada pemeriksaan ditemukan pembengkakan disekitar sakus lakrimalis dan
discharge dapat keluar dari pungktum inferior ketika ditekan, kondisi ini dapat
rekuren dan menjadi berat berhubungan dengan demam.

a. Dakriosistitis Akut
Pada keadaan akut, terdapat epifora, sakit yang hebat didaerah kantung air
mata menyebar ke daerah dahi, orbita sebelah dalam dan gigi bagian depan dan
demam. Terlihat pembengkakan kantung air mata. Terlihat pembengkakan kantung
air mata, lunak dan hiperemi yang menyebar sampai ke kelopak mata disertai sekret
yang mukopurulen yang akan memancar bila kantung air mata ditekan, daerah
kantung ar mata berwarna merah meradang (Sidarta, 2005).

b. Dakriosistitis Kronis
Pada keadaan menahun, jarang terdapat rasa nyeri, tanda-tanda radang
ringan, biasanya gejala berupa mata yang sering berair, yang bertambah bila mata
kena angin. Bila kantung air mata ditekan dapat keluar secret yang mukoid dengan
pus di daerah punctum lakrimal dan palpebra yang melekat satu dengan lainnya
(Sidarta, 2005). Infeksi pada dakriosistitis dapat menyebar ke anterior orbita dengan
gejala edema palpebra atau dapat berkembang menjadi selulitis preseptal.

18
Studi pada pasien daksriosistitis kronis didiagnosa berdasarkan tanda dan
gejala meliputi epifora dengan atau tanpa massa dan regurgitasi mukoid atau cairan
mukopurulen pada penekanan di daerah sakus atau pada saluran di kanalis
lakrimalis (Gilliand, 2009).

Gambar 11 : Dakriosistitis akut Gambar 12 : Dakriosistitis Kronik

c. Dakriosistitis Kongenital
Dakriosistitis sering timbul pada bayi yang disebabkan karena duktus
lakrimalis belum berkembang dengan baik. Pada dakriosistitis kongenital biasanya
ibu pasien akan mengeluh mata pasien merah pada satu sisi, bengkak pada daerah
pangkal hidung dan keluar air mata diikuti dengan keluarnya nanah terus-menerus.

19
Bila bagian yang bengkak tersebut ditekan pasien akan merasa kesakitan (epifora)
(Mamoun, 2009).
Merupakan penyakit yang sangat serius sebab morbiditas dan mortalitasnya
juga sangat tinggi. Jika tidak ditangani secara adekuat, dapat menimbulkan selulitis
orbita, abses otak, meningitis, sepsis, hingga kematian. Dakriosistitis kongenital
dapat berhubungan dengan amniotocele, di mana pada kasus yang berat dapat
menyebabkan obstruksi jalan napas. Dakriosistitis kongenital yang indolen sangat
sulit didiagnosis dan biasanya hanya ditandai dengan lakrimasi kronis, ambliopia,
dan kegagalan perkembangan.

Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis dakriosistitis dibutuhkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dapat dilakukan dengan
cara autoanamnesis dan aloanamnesis yang dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik.
Bila anamnesis dan pemeriksaan fisik masih belum bisa dipastikan penyakitnya,
maka boleh dilakukan pemeriksaan penunjang.

Beberapa pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui


ada tidaknya obstruksi serta letak dan penyebab obstruksi. Pemeriksaan fisik yang
digunakan untuk memeriksa ada tidaknya obstruksi pada duktus nasolakrimalis
adalah dye dissapearence test, fluorescein clearance test dan Johns dye test. Ketiga
pemeriksaan ini menggunakan zat warna fluorescein 2% sebagai indikator.
Sedangkan untuk memeriksa letak obstruksinya dapat digunakan probing test dan
anel test (Mamoun, 2009) (Sidarta, 2005) (Gilliand, 2009).

Dye disappearance test : meneteskan zat warna fluorescein 2% pada kedua


mata, masing-masing satu tetes. Kemudian permukaan kedua mata dilihat dengan
slit lamp. Zat warna akan tertinggal pada mata yang mengalami obstruksi (Gilliard,
2009). Fluorescein clearance test : meneteskan zat warna fluorescein 2% pada mata
yang dicurigai mengalami obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Kemudian
pasien diminta berkedip beberapa kali dan pada akhir menit ke-6 pasien diminta
untuk bersin dan menyekanya dengan tissue. Jika pada tissue terdapat zat warna,
berarti duktus nasolakrimalis tidak mengalami obstruksi (Mamoun, 2009) (Sidarta,
2005). Jones dye test I : meneteskan zat warna fluorescein 2% sebanyak 1-2 tetes
pada mata pasien yang dicurigai mengalami obstruksi pada duktus
20
nasolakrimalisnya. Kemudian kapas yang sudah ditetesi pantokain dimasukkan ke
meatus nasal inferior dan ditunggu selama 3 menit. Jika kapas yang dikeluarkan
berwarna hijau, berarti tidak ada obstruksi pada duktus nasolakrimalis. Jones dye
test II : caranya hampir sama dengan Jones test I, akan tetapi jika pada menit ke-5
tidak didapatkan kapas dengan bercak berwarna hijau, maka dilakukan irigasi pada
sakus lakrimalis. Bila setelah 2 menit didapatkan zat warna hijau pada kapas, maka
fungsi sistem lakrimalis dalam keadaan baik. Bila lebih dari 2 menit atau bahkan
tidak ada zat warna hijau pada kapas sama sekali setelah dilakukan irigasi, maka
fungsi sistem lakrimalis sedang terganggu (Sidarta, 2005).

Gambar 13: Dye disappearance test yang menunjukan adanya obstuksi pada
nasolakrimalis kiri

Anel test : dengan memakai spuit yang telah diisi garam fisiologis,
disuntikkan melalui pungtum lakrimal yang sebelumnya dilebarkan dengan dilator
pungtum, masuk ke dalam saluran ekskresi, ke rongga hidung dan sebagian ke
tenggorokan. Tes Anel (+) bila terasa asin di tenggorokan, menunjukkan fungsi
sistem ekskresi lakrimal normal. Tes Anel (-) bila tak terasa asin, berarti ada
obstruksi di dalam saluran ekskresi tersebut. Probing test : menentukan letak
obstruksi pada saluran ekskresi air mata dengan cara memasukkan sonde ke dalam
saluran air mata. Pada tes ini, pungtum lakrimal dilebarkan dengan dilator,
kemudian probe dimasukkan ke dalam sakus lakrimalis. Jika probe yang bisa masuk
panjangnya > 8 mm, berarti kanalis dalam keadaan normal, tapi jika yang masuk < 8
mm berarti ada obstruksi.

Pemeriksaan penunjang lain yang berguna antara lain CT-scan untuk


menentukan penyebab obstruksi duktus nasolakrimalis, terutama akibat adanya
suatu massa atau keganasan, serta dacryocystography dan dacryoscintigraphy untuk
mendeteksi adanya suatu kelainan anatomi pada sistem drainase lakrimal.

21
A B
Gambar 14: (A) probing test, (B) Anel Test

Diagnosis Banding
a. Selulitis Orbita
Selulitis orbita merupakan peradangan supuratif jaringan ikat longgar
intraorbita di belakang septum orbita. Selulitis orbita akan memberikan gejala
demam, mata merah, kelopak sangat edema dan kemotik, mata proptosis, atau
eksoftalmus diplopia, sakit terutama bila digerakkan, dan tajam penglihatan
menurun bila terjadi penyakit neuritis retrobulbar. Pada retina terlihat tanda stasis
pembuluh vena dengan edema papil (Bahar, 2009).

b. Hordeolum
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata.
Dikenal bentuk hordeolum internum dan eksternum. Horedeolum eksternum
merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum merupakan
infeksi kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus. Gejalanya berupa kelopak
yang bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah dan nyeri bila ditekan.
Hordeolum eksternum atau radang kelenjar Zeis atau Moll akan menunjukkan
penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak (Bahar, 2009).

Penatalaksanaan
Pengobatan dakriosistitis pada anak (neonatus) dapat dilakukan dengan
masase kantong air mata ke arah pangkal hidung. Dapat juga diberikan antibiotik

22
amoxicillin/clavulanate atau cefaclor 20-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam tiga dosis
dan dapat pula diberikan antibiotik topikal dalam bentuk tetes (moxifloxacin 0,5%
atau azithromycin 1%) (Sowka, 2010) atau menggunakan sulfonamid 4-5 kali sehari
(Sidarta, 2005).
Pada orang dewasa, dakriosistitis akut dapat diterapi dengan melakukan
kompres hangat pada daerah sakus yang terkena dalam frekuensi yang cukup sering
(Sidarta, 2005). Amoxicillin dan chepalosporine (cephalexin 500mg p.o. tiap 6 jam)
juga merupakan pilihan antibiotik sistemik yang baik untuk orang dewasa. Untuk
mengatasi nyeri dan radang, dapat diberikan analgesik oral (acetaminofen atau
ibuprofen), bila perlu dilakukan perawatan di rumah sakit dengan pemberian
antibiotik secara intravena, seperti cefazoline tiap 8 jam. Bila terjadi abses dapat
dilakukan insisi dan drainase (Sidarta, 2005).
Dakriosistitis kronis pada orang dewasa dapat diterapi dengan cara
melakukan irigasi dengan antibiotik. Sumbatan duktus nasolakrimal dapat
diperbaiki dengan cara pembedahan jika sudah tidak radang lagi.
Penatalaksaan dakriosistitis dapat juga dilakukan dengan pembedahan,
yang bertujuan untuk mengurangi angka rekurensi. Prosedur pembedahan yang
sering dilakukan pada dakriosistitis adalah dacryocystorhinostomy (DCR). Di mana
pada DCR ini dibuat suatu hubungan langsung antara sistem drainase lakrimal
dengan cavum nasal dengan cara melakukan bypass pada kantung air mata. Dulu,
DCR merupakan prosedur bedah eksternal dengan pendekatan melalui kulit di dekat
pangkal hidung. Saat ini, banyak dokter telah menggunakan teknik endonasal
dengan menggunakan scalpel bergagang panjang atau laser (Gilliand, 2009).
Dakriosistorinostomi internal memiliki beberapa keuntungan jika
dibandingkan dengan dakriosistorinostomi eksternal. Adapun keuntungannya yaitu,
(1) trauma minimal dan tidak ada luka di daerah wajah karena operasi dilakukan
tanpa insisi kulit dan eksisi tulang, (2) lebih sedikit gangguan pada fungsi pompa
lakrimal, karena operasi merestorasi pasase air mata fisiologis tanpa membuat
sistem drainase bypass, dan (3) lebih sederhana, mudah, dan cepat (rata-rata hanya
12,5 menit) (Yuliani, 2009).
Kontraindikasi pelaksanaan DCR ada 2 macam, yaitu kontraindikasi absolut
dan kontraindikasi relatif (Mamoun, 2009) . Kontraindikasi relatif
dilakukannya DCR adalah usia yang ekstrim (bayi atau orang tua

23
di atas 70 tahun) dan adanya mucocele atau fistula lakrimalis .
Beberapa keadaan yang menjadi kontraindikasi absolut antara lain:

Kelainan pada kantong air mata :


- Keganasan pada kantong air mata.
- Dakriosistitis spesifik, seperti TB dan sifilis
Kelainan pada hidung :
- Keganasan pada hidung
- Rhinitis spesifik, seperti rhinoskleroma
- Rhinitis atopik
Kelainan pada tulang hidung, seperti periostitis
A B

Gambar 15: (A) Teknik dakriosistorinostomi eksternal, (B) Teknik dakriosistorinostomi


internal.

Komplikasi
Dakriosistitis yang tidak diobati dapat menyebabkan pecahnya kantong air
mata sehingga membentuk fistel. Bisa juga terjadi abses kelopak mata, ulkus,
bahkan selulitis orbita (Sidarta, 2005). Komplikasi pada dakriosistitis lebih kepada
komplikasi terapi bedah. Dakriosistorinostomi bila dilakukan dengan baik
merupakan prosedur yang cukup aman dan efektif. Namun, seperti pada semua
prosedur pembedahan, komplikasi berat dapat terjadi. Perdarahan merupakan
komplikasi tersering dan dilaporkan terjadi pada 3% pasien. Selain itu, infeksi juga
merupakan komplikasi serius dakriosistorinostomi. Beberapa ahli menyarankan
pemberian antibiotic drop spray pada hidung setelah pembedahan. Kegagalan
dakriosistorinostomi paling sering disebabkan oleh osteotomi atau penutupan
fibrosa pada pembedahan ostium yang tidak adekuat. Kebanyakan kasus kemudian
diterapi dengan dilatasi ostium menggunakan probing Bowman berturut-turut.

24
Kompliksi lainnya meliputi nyeri transient pada segmen superior os.maxilla,
hematoma subkutaneus periorbita, infeksi dan sikatrik pascaoperasi yang tampak
jelas (Yuliani, 2009).

Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan higienitas pada palpebra
,termasuk melakukan kompres air hangat dan membersihkan silia. Selain itu,
higienitas nasal dengan spray salin dapat mencegah obstruksi aliran lakrimal bagian
distal.

Prognosis
Pengobatan dakriosistitis dengan antibiotik biasanya dapat memberikan
kesembuhan pada infeksi akut. Dakriosistitis sangat sensitif terhadap antibiotika
namun masih berpotensi terjadi kekambuhan jika obstruksi duktus nasolakrimalis
tidak ditangani secara tepat, sehingga prognosisnya adalah dubia ad malam. Akan
tetapi, jika dilakukan pembedahan baik itu dengan dakriosistorinostomi eksternal
atau dakriosistorinostomi internal, kekambuhan sangat jarang terjadi sehingga
prognosisnya dubia ad bonam.
Jika stenosis menetap lebih dari 6 bulan maka diindikasikan pelebaran
duktus dengan probe. Satu kali tindakan efektif pada 75% kasus (OBrein, 2009).

2.2.2.2 Dakriostenosis
Dakriostenosis adalah penyumbatan duktus nasolakrimalis (saluran yang
mengalirkan air mata ke hidung (Dorland, 2002). Selain itu, dakriostenosis dapat
dikatakan adanya obstruksi duktus nasolakrimalis yang terjadi sejak lahir dengan
gejala mata berair dan adanya seret pada mata.
Dakriostenosis dapat terjadi secara kongenital maupun didapat. Secara
kongenital disebabkan oleh pengembangan yang tidak sempurna dari duktus
nasolakrimalis dan hal ini menyebabkan sumbatan sehingga air mata tidak dapat
mengalir sebagaimana mestinya. Sedangkan apabila dakriostenosis didapat,
penyebabnya bisa infeksi atau trauma langsung pada sistem lakrimalis (Mosby,
2009)

Epidemiologi

25
Menurut John J Woog, MD setelah melakukan riset pada warga Olsted
County, Minnesota, Amerika Serikat pada tahun 1976-2000 didapatkan dari 587
pasien diidentifikasikan rata-rata tingkat insiden 30,4 per 100.000 dengan gejala
penyumbatan dan obstruksi outflow lakrimal. Dakriostenosis adalah penyakit
paling sering, yaitu dengan tingkat insidensi 20,24 per 100.000 dan di antara 397
pasien dengan kasus dakriostenosis, 107 (27%) adalah laki-laki dan 290 (73%)
adalah wanita.
Sedangkan menurut Mounir Bashourm seorang professor di Megill
University, frekuensi dakriostenosis kongenital di Amerika adalah 2-4% pada bayi
baru lahir. 35% diantaranya adalah obstruksi duktus nasolakrimalis, 15% karena
agenesis punctum, 10% karena fistula kongenital, dan 5% karena defek
kraniofacial. Pada studi internasional mendata dakriostenosis terjadi pada 22-36%
anak dengan Sindrom Down dan dari 2-4% kejadian bayi baru lahir (Nelson,
2000).
Obstruksi duktus lakrimal kongenital terdapat pada 50 % neonatus, namun
pada banyak kasus akan membuka spontan setelah 4 6 minggu kelahiran. Pada 2-
6% bayi umur 3 4 minggu akan menetap dan bermanisfestasi, 1/3-nya bersifat
bilateral. Sembilan puluh persen kasus akan hilang sendiri pada satu tahun pertama
kehidupan (Zorab, 2008)

Etiologi
Dalam keadaan normal, air mata dari permukan mata dialirkan ke dalam
hidung melalui duktus nasolakrimalis. Jika saluran ini tersumbat, air mata akan
menumpuk dan mengalir secara berlebihan ke pipi. Mekanisme pengaliran air mata
sendiri adalah dari glandula lakrmalis dikumpulkan di forniks superior lalu
diratakan dengan cara berkedip kemudian masuk ke pars ekskretorius melalui
pungtum (Mosby, 2009)
Penyumbatan duktus nasolakrimalis (dakriostenosis) bisa terjadi
akibat:
1. Kongenital :
Agenesis pungtum dan kanalikuli
Obstruksi duktus nasolakrimal
2. Didapat :
Abnormalitas pungtum
Sumbatan Kanalikuli
o Plak lakrimal

26
o Obat obatan
o Infeksi
o Penyakit inflamasi
o Trauma
o Neoplasma
Sumbatan duktus nasolakrimal
o Stenosis involusi
o Dakriolith
o Penyakit sinus
o Trauma
o Penyakit Inflamasi
o Plak lakrimasi
o Neoplasma

Patofisiologi (Zorab, 2008)


1. Kongenital :
Agenesis pungtum dan kanalikuli
Terdapat membran yang memblok katup Hasner yang menutupi duktus
nasolakrimal pada hidung
2. Didapat :
Abnormalitas pungtum
Abnormalitas pungtum termasuk pungtum yang terlalu kecil (oklusi
dan stenosis) atau terlalu besar (biasanya iatrogenik), dan pungtum
yang mengalami malformasi atau tersumbat oleh bagian lain disekitar
punctum.
Sumbatan kanalikuli
Sumbatan bisa terjadi pada kanalikuli komunis, superior atau inferior.
Hal ini disebabkan karena :
a) Plak lakrimal
Plak pungtum dan kanalikuli bisa dalam berbagai ukuran dan
bentuk. Plak ini awalnya bertujuan untuk menyumbat aliran
lakrimal dalam pengobatan mata kering.
b) Obatobatan
Obatobatan yang biasanya menyebabkan obstruksi kanalikuli
adalah obat kemoterapi sistemik (5-Fluorouracil, Docetaxel,
Idoxuridine). Obatobatan ini disekresi dalam air mata dan ini akan
mengakibatkan inflamasi dan jaringan parut pada kanalikuli. Jika
kondisi ini dapat dideteksi dini sebelum obstruksi komplit stent
bisa dipasang untuk meregangkan kanalikuli yang menyempit dan
juga untuk mencegah penyempitan lebih lanjut selama pemakaian

27
obat kemoterapi. Obstruksi kanalikuli juga terjadi akibat
penggunaan obat topikal (Phospholine iodine, serine), namun
jarang terjadi.
c) Infeksi
Berbagai infeksi dapat menyebabkan obstruksi kanalikuli, biasanya
obstruksi terjadi pada infeksi konjungtiva difus (virus vaccinia,
virus herpes simpleks). Infeksi kanalikuli terisolasi (kanalikulitis)
bisa juga menyebabkan obstruksi.
d) Penyakit inflamasi
Keadaan inflamasi seperti pemfigoid, sindrom Steven Johnson, dan
juga penyakit Graft vs. Host sering menyebabkan bagian pungtum
dan kanalikuli rusak. Namun, oleh karena adanya penyakit mata
kering yang terjadi pada saat yang sama, penderita biasanya tidak
mengalami epiphora.
e) Trauma
Trauma pada kanalikuli bisa menyebabkan kerusakan permanen
kanalikuli jika tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat.
f) Neoplasma
Apabila neoplasma berada di kantus medial, setelah pembedahan
reseksi komplit, biasanya ikut mengangkat punctum dan kanalikuli.
Jaringan yang ikut dieksisi ketika eksisi tumor komplit harus
dipastikan dengan pemeriksaan histopatologi sebelum
penyambungan kembali antara sistem drainase lakrimal dengan
meatus media.
Sumbatan duktus nasolakrimal
a) Stenosis involusi
Penyebab terjadinya proses ini tidak diketahui namun ada
penelitian patologi klinik yang mengatakan kompresi lumen duktus
nasolakrimal terjadi akibat infiltrat inflamasi dan edema. Ini
mungkin terjadi akibat infeksi yang tidak diketahui atau
kemungkinan penyakit autoimun.
b) Dakriolith
Dakriolith ataupun pembentukan cast dalam sakus lakrimal bisa
menyebabkan obstruksi duktus nasolakrimal. Dakriolith terdiri dari

28
sel epithelial, lemak dan debris amorphous dengan atau tanpa
kalsium. Kapur pengendapan di dalam sakus lakrimal akibat
gangguan keseimbangan air atau peradangan sakus lakrimal yang
biasanya disebabkan infeksi jamur.
c) Penyakit sinus
Pada penderita sebaiknya ditanyakan riwayat operasi sinus karena
kerusakan pada duktus nasolakrimal kadangkadang terjadi apabila
ostium sinus maksilaris bagian anterior dibesarkan.
d) Trauma
Fraktur nasoorbital bisa mengenai duktus nasolakrimal. Trauma
juga bisa terjadi saat rhinoplasty atau operasi sinus endoskopi.
e) Penyakit inflamasi
Penyakit granuloma termasuk sarkoidosis, Wegener
granulomatosis, dan Lethal midline granuloma bisa juga
menyebabkan obstruksi duktus nasolakrimal. Apabila diduga
adanya penyakit sistemik, biopsi sakus lakrimal atau duktus
nasolakrimal harus dilakukan sewaktu dacriosistorinostomi.
f) Plak lakrimasi
Prosesnya menyerupai cara plak bermigrasi dari pungtum ke
kanalikuli dan menyebabkan obstruksi kanalikuli. Plak pada
pungtum dan kanalikuli yang terlepas bisa bermigrasi dan
menyumbat duktus lasolakrimal. Bagianbagian dari stent silikon
yang menetap karena tidak dibuang dengan benar juga bisa
menyebabkan obstruksi duktus nasolakrimal.
g) Neoplasma
Neoplasma harus dipikirkan kemungkinannya pada semua
penderita obstruksi duktus nasolakrimal. Pada pasien dengan
presentasi atypical termasuk usia muda dan jenis kelamin lakilaki,
pemeriksaan lebih lanjut diperlukan. Bila ada discharge
pendarahan di pungtum atau distensi sakus lakrimal di atas tendon
kantus medial sangat mengarah pada neoplasma. Riwayat
keganasan terutama yang berasal dari sinus atau nasofaring, juga
sangat perlu dilakukan pemeriksaan lanjut.

29
Manifestasi Klinis

1. Pada anak-anak
Tanda-tanda dapat timbul beberapa hari atau beberapa minggu setelah lahir
dan sering bertambah berat karena infeksi saluran pernafasan atas atau karena
pemajanan terhadap suhu dingin atau angin. Manifestasi obstruksi duktus
nasolakrimal yang lazim adalah berair mata (tearing), yang berkisar dari
sekedar mata basah (peningkatan di cekungan air mata) sampai banjir air mata
yang jelas (epiphora), penimbunan cairan mukoid atau mukopurulen (sering
digambarkan orang tua sebagai nanah), dan kerak. Mungkin ada eritema atau
maserasi kulit karena iritasi dan gesekan yang disebabkan oleh tetes-tetes air
mata dan cairan. Pada banyak kasus refluks cairan jernih atau mukopurulen
dapat dihilangkan dengan massase sakus nasolakrimal, yang membuktikan
adanya obstruksi terhadap aliran. Bayi dengan sumbatan duktus nasolakrimal
dapat mengalami infeksi akut dan radang sakus nasolakrimal (dakriosistitis),
radang jaringan sekitarnya (perisistitis), atau bahkan selulitis periorbita. Pada
dakriosistitis daerah sakus bengkak, merah dan nyeri, dan mungkin ada tanda
sistemik infeksi seperti demam dan iritabilitas (Nelson, 2000).
2. Pada orang dewasa (Rudolph, 1991)
Mata yang basah memenuhi air mata dan ketika berlebihan jatuh ke pipi
Akumulasi discharge mucus atau mukopurulen biasanya menimbulkan
perlengketan pada waktu bangun tidur
Eritema atau maserasi pada kulit palpebra inferior
Keluarnya mukus atau mukopurulen saat sakus nasolakrimal ditekan
Keadaan ini bisa hilang timbul atau menetap selama beberapa bulan
Infeksi saluran pernapasan atas dapat memperburuk keadaan
Biasanya unilateral, namun kadang bilateral
Eritema dan iritasi ringan pada konjungtiva

Pemeriksaan Fisik
Untuk menegakkan diagnosis dakriostenosis dilakukan pemeriksaan fisik
yang dilakukan di pelayanan kesehatan, yaitu:
1. Pelayanan Kesehatan Primer (PEC)
Pemeriksaan periorbital, palpebra, dan sistem lakrimal dengan senter
dan lup Perhatikan seluruh wajah, termasuk kening dan pipi, daerah

30
kantus medial dan palpebra. Lihat apakah ada periorbital asimetris,
bengkak, ptosis, dan palpebral malposisi. Pada daerah kantus medial
lihat apakah ada fistul, inflamasi dan discharge. Punctum seharusnya
mengarah ke danau lakrimal, pastikan keempat pungtum ada dan
terbuka. Lihat juga apa ada karunkel.
Pada saat daerah sakus lakrimal ditekan dengan jari/cotton bud akan
tampak regurgitasi sekret dari pungtum lakrimal
2. Pelayanan Kesehatan Mata Sekunder (SEC)
Pemeriksaan dengan senter dan lup, tampak mata berair
Pada saat daerah sakus lakrimal ditekan dengan jari/cotton bud akan
tampak regurgitasi sekret dari pungtum lakrimal
Bila bayi sudah berumur di atas 3 bulan, dengan tes anel akan tampak
regurgitasi
3. Pelayanan Kesehatan Mata Tersier (TEC)
Dilakukan pemeriksaan dasar dan penunjang seperti pada SEC,
ditambah pemeriksaan dakriosistografi untuk mengetahui apakah sakus
sudah dilatasi.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada dakriostenosis sama seperti pemeriksaan
penunjang pada dakriosistitis karena prinsipnya pemeriksa mencari adanya
obstruksi dari saluran lakrimal. Untuk mengetahui hal tersebut bisa dilakukan Dye
disappearance test, Fluorescein clearance test, Jones dye test I, Jones dye test II,
Anel test,Probing test. Pemeriksaan penunjang lain yang bisa dilakulan untuk
menunjang diagnosis yaitu pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologi
membantu mengkonfirmasi lokasi stenosis atau obstruksi, perlambatan aliran air
mata fungsional dan melihat patologi paranasal. Pemeriksaan radiologi yang dapat
dilakukan, antara lain :
Dakriosistografi (DCG)
Injeksi cairan radio-opak kedalam kanalikuli superior atau inferior, kemudian
difoto. Menilai anatomi kanalikuli, sakus dan duktus nasolakrimal. Baik untuk
menentukan lokasi stenosis atau obstruksi dan sangat berguna untuk
membedakan stenosis presakus dan post sakus.
Nukleur Lakrimal Sintigrafi
Menggunakan technitium 99m pertechnetate yang diteteskan kedalam sakus
konjungtiva, dan diambil foto dengan kamera gama. Dakriosistografi dan

31
Nukleur Lakrimal Sintigrafi harus dilakukan sebelum dilakukan
Dakriosistorinostomi.
Computer Tomografi (CT)
Magnetic Resonance Imaging (MRI) jarang dilakukan

Diagnosis Banding
Beberapa penyakit yang menunjukkan gejala klinis yang menyerupai
dakriostenosis antara lain (Camara, 2008) :
1. Blefaritis
Merupakan radang yang sering terjadi pada kelopak dan tepi kelopak.
Blefaritis dapat disebabkan infeksi dan alergi yang biasanya berjalan kronis
atau menahun. Gejala umum pada blefaritis adalah kelopak mata merah,
bengkak, sakit, eksudat lengket, dan epiphora. Blefaritis sering disertai
dengan konjungtivitis dan keratitis.
2. Dakriosistitis
Merupakan peradangan sakus lakrimalis. Penyakit umum yang biasanya
terdapat pada bayi atau wanita pasca-menopause. Paling sering unilateral.
Biasanya peradangan ini dimulai oleh terdapatnya obstruksi duktus
nasolakrimal. Gejala utama dakriosistitis adalah berair mata dan bertahi
mata. Pada keadaan akut, didaerah sakus lakrimalis terdapat gejala radang,
sakit, bengkak, dan nyeri tekan. Materi purulen dapat memancar dari sakus
lakrimalis. Pada keadaan menahun, satu-satunya tanda adalah berair mata,
materi mukoid akan memancar bila sakus di tekan (Sullivan, 2000).
3. Sindrom mata kering (dry eye syndrome atau keratokonjungtivitis sicca)
Mata kering dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dengan defisiensi
unsur air mata (akuos, musin, atau lipid), kelainan permukaan palpebra, atau
kelainan epitel. Pasien dengan mata kering paling sering mengeluh tentang
sensasi gatal atau berpasir (benda asing). Gejala umum lain adalah gatal,
sekresi mukus berlebihan, tidak mampu menghasilkan air mata, sensasi
terbakar, fotosensitivitas, merah, sakit, dan sulit menggerakkan palpebra.
Mata terlihat normal pada pemeriksaan pada kebanyakan pasien. Ciri paling
khas pada pemeriksaan slitlamp adalah tidak adanya meniscus air mata di
tepi palpebra inferior (Sullivan, 2000).
4. Benda asing kornea (cornea foreign body)

32
Benda asing di kornea menyebabkan nyeri dan iritasi yang dapat dirasakan
sewaktu mata dan kelopak digerakkan (Asbury, 2000)
5. Konjungtivitis
Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir
yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Gejala penting
konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu sensasi tergores atau panas,
gatal, dan fotofobia. Gambaran klinis yang terlihat pada konjungtivitis dapat
berupa hiperemi konjungtiva bulbi (injeksi konjungtiva), lakrimasi, eksudat
dengan sekret yang lebih nyata di pagi hari, pseudoptosis akibat kelopak
membengkak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membran, pseudomembran,
granulasi, flikten, dan mata merasa seperti adanya benda asing.

Komplikasi
Kompikasi yang sering terjadi akibat dakriostenosis antara lain :11
1. Dakriosistitis
Inflamasi pada sakus lakrimalis dengan edema, eritem, dan nyeri tekan di
daerah sekitar duktus mengalami penyumbatan.
2. Perisistitis
Peradangan pada jaringan sekitar duktus yang tersumbat.
3. Mukocele
Masa subkutan berwarna kebiruan dibawah tendon kantus media.
4. Selulitis periorbita
Peradangan didaerah ipsilateral mata.

Penatalaksanaan
Pada bayi dalam kandungan, meatus inferior masih tertutup oleh suatu
membran mukosa, yang membuka beberapa waktu setelah lahir. Dan sebagian
besar anak-anak yang menderita dakriostenosis dapat sembuh sendiri. Biasanya
menghilang tanpa pengobatan pada usia 3 sampai 9 bulan, seiring dengan
perkembangan duktus nasolakrimalis tersebut (Gupta, 2006), Tetapi apabila pada
bayi didapatkan tanda-tanda dakriostenosis yaitu epiphora, penanganan pertama
adalah sang ibu disuruh melakukan pijitan sepanjang duktus nasolakrimalis dengan
ibu jari ke arah nasal dan mata dibersihkan beberapa kali sehari. Pemijitan

33
dilakukan 5-10 kali pijitan dengan frekuensi 3-4 kali per hari selama beberapa
minggu (Gupta, 2006).
Secara diagnosis sekret dapat dikeluarkan dari pungtum dengan menekan
sakus lakrimalis. Namun demikian konjungtiva tidak mengalami inflamasi. Karena
itu, kebanyakan obstruksi menghilang secara spontan pada tahun pertama
kehidupan.
Langkah berikutnya bila tidak berhasil dan epiphora terus berlangsung
adalah dengan melakukan probing yaitu dibuat dengan melewatkan satu probe
melalui pungtum ke duktus nasolakrimalis untuk melubangi membran yang
tertutup. Dibutuhkan anestesi umum untuk prosedur ini.
Jika pada penekanan sakus lakrimal, keluar pus dari pungtum lakrimal,
diberikan juga larutan penisilin atau antibiotika dengan spectrum luas. Bila tidak
dapat diatasi, lakukan test anel tetapi dengan narkose umum. Adapula yang
melakukan intubasi memakai pipa silicon, yang dimasukkan melalui pungtum
lakrimal dan keluar hidung, dibiarkan 1 bulan dan disusul dengan test anel
kembali, tetapi apabila pengobatan tetap tidak berhasil dan terjadi residitif dilakuka
dakriosistorinostomi (DCR). Dakriosistorinostomi adalah pembedahan yang
dilakukan untuk memperbaiki duktus nasolakrimalis yang tersumbat dengan cara
menghubungkan permukaan mukosa sakus lakrimalis ke mukosa nasal dengan
menghilangkan tulang diantaranya. Operasi ini dilakukan melalui insisi pada sisi
hidung atau dengan endoskopi melalui pasase nasal sehingga menghindari
terjadinya parut pada wajah.
Indikasi DCR: Pasien dengan epifora, mucocele atau dakriosistitis kronis
akibat dari stenosis duktus nasolakrimal dengan kanalikuli normal atau hanya
sumbatan pada distal membran kanalikuli komunis.
Teknik DCR: Mula-mula diadakan insisi di atas krista lakrimalis anterior.
Dinding lateral hidung dari tulang dilubangi, dan mukosa hidung dijahit pada
mukosa sakus lakrimalis. Pendekatan endoskopik melalui hidung memakai laser
untuk membentuk lubang antara sakus lakrimalis dan rongga hidung adalah
alternatif lain.
Dalam kebanyakan kasus, prosedur dakriosistorinostomi bypass akan
memulihkan keadaan pasien jika obstruksi terletak di bagian bawah sakus lakrimal
atau duktus. Apabila kanalikuli yang terobstruksi, rekonstruksi kanalikuli
dilakukan.

34
Sedangkan penatalaksanaan yang dilakukan di Pelayanan Kesehatan antara lain:
1. Pelayanan Kesehatan Mata Primer (PEC)
Bila bayi di bawah 3 bulan, diberi tetes antibiotic topikal selama 5-7 hari
Pengasuh atau orang tuaya diberitahu cara melakukan masase pada sakus
lakrimal
Bila bayi sudah berumur di atas 3 bulan dan maa masih berair dan ada
sekret, rujuk ke SEC
2. Pelayanan Kesehatan Mata Sekunder (SEC)
Bila bayi sudah berumur di atas 3 bulan, lakukan irigasi dari pungtum
lakrimal superior/inferior agar membran Hassner terbuka. Beri tetes
antibiotika selama 3-5 hari.
Bila setelah dilakukan 3 kali tindakan di atas berturut-turut tiap 2 minggu
tetapi masih berair dan banyak sekret, lakukan probing dalam narkose
Bila test anel masih menunjukkan regurgitasi, lakukan pematahan
concha inferior
Bila setelah dilakukan tindakan di atas mata masih berair dan banyak
sekret, rujuk ke TEC
3. Pelayanan Kesehatan Mata Tertier (TEC)
Bila sakus belum dilatasi, lakukan probing pematahan concha inferior
Bila sakus sudah dilatasi akan tetapi sekret masih banyak, lakukan
dakriosistorinostomi
Bila terdapat kelainan pada kanalikulus atau mukosa hidung tidak dapat
dijahit dengan dinding sakus sewaktu melakukan operasi, pasang silicon
lakrimal tube
Sesudah operasi beri antibiotika oral, antibiotika dengan steroid tetes
mata, analgetik, dan dekongestan tetes hidung, Antikoagulan diberikan
bila perlu.
Silikon tube diangka 2-3 bulan sesudah operasi

Prognosis
Prognosis dari dakriostenosis adalah dubia ad bonam yang artinya sebagian
besar dapat ditangani. Pada bayi dibawah usia 1 tahun dapat sembuh dengan
sendirinya dengan perkembangan duktus nasolakrimalis. Dapat juga dilakukan
probing ataupun dakriosistorinostomi. Sedangkan keberhasilan tergantung
penanganan. Tanpa pengobatan, akan terbentuk bekas luka permanen pada duktus
lakrimal.

35
2.2.2.3 Kanalikullitis
Kanalikulitis adalah infeksi yang terjadi di kanalikulus. Sering terjadi pada
orang tua usia 50 tahun keatas dengan penyebab utama adalah Actinomyces
israelii. Dapat terjadi pada orang usia muda sekitar 20 tahunan atau dibawahnya
biasanya penyebab tersering adalah infeksi herpes. Jika tidak ditangani dengan
benar dapat terjadi stenosis dari kanalikulus biasanya oleh dakriolit. Dakriolit
adalah batu yang terbentuk dari air mata dan debris serta sisa epitel yang
bergabung jadi satu. Keluhan biasanya terjadi epifora, terdapat pengeluaran sekret
yang serous ataupun mukopurulen dan biasanya unilateral.
Terapinya dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah dengan
mengeluarkan benda asing disana (sekret) dan antibiotik terapi. Dakriolit yang
kecil dan debris dapat dikeluarkan dengan cotton buds yang ditekankan pada
punctum lakrimalis. Jika batu yang terbentuk banyak dan susah dikeluarkan dengan
cara manual maka dapat dilakukan tindakan pembedahan yaitu kanalikulotomi.

A B

36
Gambar 16: (A) Tampak secret purulent yang keluar dari kanalikuli, (B) Tampak secret
yang keluar setelah dimanipulasi

2.2.3 Disfungsi Sistem Lakrimal


2.2.3.1 Dry Eye Syndrome

Dry eye syndrome atau sundrom mata kering atau keratoconjunctivitis sicca
(KCS) adalah penyakit mata dimana jumlah atau kualitas produksi air mata berkurang
atau penguapan air mata film meningkat (Vaughan, 2007). Terjemahan dari
"keratoconjunctivitis sicca" dari bahasa Latin adalah "kekeringan kornea dan
konjungtiva".

Etiologi
Banyak diantara penyebab sindrom mata kering mempengaruhi lebih dari satu
komponen film air mata atau berakibat perubahan permukaan mata yang secara sekunder
menyebabkan film air mata menjadi tidak stabil. Ciri histopatologik termasuk timbulnya
bintik-bintik kering pada kornea dan epitel konjungtiva, pembentukan filamen, hilangnya
sel goblet konjungtiva, pembesaran abnormal sel epitel non-goblet, peningkatan
stratifikasi sel, dan penambahan keratinasi (Vaughan, 2007) (Skuta, 2011)

A. Kondisi ditandai hipofungsi kelenjar lakrimal


1. Kongenital
a. Dysautonomia familier (sindrom Riley-Day)
b. Aplasia kelenjar lakrimal (alakrima kongenital)
c. Aplasia nervus trigeminus
d. Dysplasia ektodermal
2. Didapat
a. Penyakit sistemik
1) Sindrom sjorgen
2) Sklerosis sistemik progresif
3) Sarkoidosis
4) Leukimia, limfoma
5) Amiloidosis
6) Hemokromatosis
b. Infeksi
1) Trachoma
2) Parotitis epidemica
c. Cedera
1) Pengangkatan kelenjar lakrimal
2) Iradiasi
3) Luka bakar kimiawi
d. Medikasi
1) Antihistamin
2) Antimuskarinik: atropin, skopolamin

37
3) Anestetika umum: halothane, nitrous oxide
4) Beta-adregenik blocker: timolol, practolol
e. Neurogenik-neuroparalitik (fasial nerve palsy)
B. Kondisi ditandai defisiensi musin
1. Avitaminosis A
2. Sindrom steven-johnson
3. Pemfigoid okuler
4. Konjungtivitis menahun
5. Luka bakar kimiawi
6. Medikasi-antihistamin, agen muskarin, agen Beta-adregenic blocker
C. Kondisi ditandai defisiensi lipid:
1. Parut tepian palpebra
2. Blepharitis
D. Penyebaran defektif film air mata disebabkan:
1. Kelainan palpebra
a. Defek, coloboma
b. Ektropion atau entropion
c. Keratinasi tepian palpebra
d. Berkedip berkurang atau tidak ada
1) Gangguan neurologik
2) Hipertiroid
3) Lensa kontak
4) Obat
5) Keratitis herpes simpleks
6) Lepra
e. Lagophthalmus
1) Lagophthalmus nocturna
2) Hipertiroidi
3) Lepra
2. Kelainan konjungtiva
a. Pterygium
b. Symblepharon
3. Proptosis

Epidemiologi

Mata kering merupakan salah satu gangguan yang sering pada mata, persentase
insidenisanya sekitar 10-30% dari populasi, terutama pada orang yang usianya lebih dari
40 tahun dan 90% terjadi pada wanita. Frekuensi insidensia sindrom mata kering lebih
banyak terjadi pada ras Hispanic dan Asia dibandingkan dengan ras kaukasius (Sidarta,
2005).

Manifestasi Klinis
Pasien dengan mata kering paling sering mengeluh tentang sensasi gatal atau
berpasir (benda asing). Gejala umum lainnya adalah gatal, sekresi mukus berlebihan,
tidak mampu menghasilkan air mata, sensasi terbakar, fotosensitivitas, merah, sakit, dan

38
sulit menggerakkan palpebral (Skuta, 2011). Pada kebanyakan pasien, ciri paling luar
biasa pada pemeriksaan mata adaah tampilan yang nyata-nyata normal. Ciri yang paling
khas pada pemeriksaan slitlamp adalah terputus atau tiadanya meniskus air mata di tepian
palpebra inferior. Benang-benang mukuskental kekuning-kuningan kadang-kadang
terlihat dalam fornix conjungtivae inferior. Pada konjungtiva bulbi tidak tampak kilauan
yang normal dan mungkin menebal, beredema dan hiperemik.

Epitel kornea terlihat bertitik halus pada fissura interpalpebra. Sel-sel epitel
konjungtiva dan kornea yang rusak terpulas dengan bengal rose 1% dan defek pada epitel
kornea terpulas dengan fluorescein. Pada tahap lnjut keratokonjungtivitis sicca tampak
filamen-filamen dimana satu ujung setiap filamen melekat pada epitel kornea dan ujung
lain bergerak bebas. Pada pasien dengan sindrom sjorgen, kerokan dari konjungtiva
menunjukkan peningkatan jumlah sel goblet. Pembesaran kelenjar lakrimal kadang-
kadang terjadi pada sindrom sjorgen. Diagnosis dan penderajatan keadaan mata kering
dapat diperoleh dengan teliti memakai cara diagnostik berikut (Plugfelder, 2004):

A. Tes Schirmer
Tes ini dilakukan dengan mengeringkan film air mata dan memasukkan
strip Schirmer (kertas saring Whatman No. 41) kedalam cul de sac konjungtiva
inferior pada batas sepertiga tengah dan temporal dari palpebra inferior. Bagian
basah yang terpapar diukur 5 menit setelah dimasukkan. Panjang bagian basah
kurang dari 10 mm tanpa anestesi dianggap abnormal.
Bila dilakukan tanpa anestesi, tes ini mengukur fungsi kelenjar lakrimal
utama, yang aktivitas sekresinya dirangsang oleh iritasi kertas saring itu. Tes
Schirmer yang dilakukan setelah anestesi topikal (tetracaine 0.5%) mengukur
fungsi kelenjar lakrimal tambahan (pensekresi basa). Kurang dari 5 mm dalam 5
menit adalah abnormal.
Tes Schirmer adalah tes saringan bagi penilaian produksi air mata.
Dijumpai hasil false positive dan false negative. Hasil rendah kadang-kadang
dijumpai pada orang normal, dan tes normal dijumpai pada mata kering terutama
yang sekunder terhadap defisiensi musin.
B. Tear film break-up time
pengukuran tear film break-up time kadang-kadang berguna untuk
memperkirakan kandungan musin dalam cairan air mata. Kekurangan musin
mungkin tidak mempengaruhi tes Schirmer namun dapat berakibat tidak stabilnya
film air mata. Ini yang menyebabkan lapisan itu mudah pecah. Bintik-bitik kering

39
terbentuk dalam film air mata, sehingga memaparkan epitel kornea atau
konjungtiva. Proses ini pada akhirnya merusak sel-sel epitel, yang dapat dipulas
dengan bengal rose. Sel-sel epitel yang rusak dilepaskan kornea, meninggalkan
daerah-daerah kecil yang dapat dipulas, bila permukaan kornea dibasahi
flourescein.
Tear film break-up time dapat diukur dengan meletakkan secarik keras
berflourescein pada konjungtiva bulbi dan meminta pasien berkedip. Film air mata
kemudian diperiksa dengan bantuan saringan cobalt pada slitlamp, sementara
pasien diminta agartidak berkedip. Waktu sampai munculnya titik-titik kering
yang pertama dalam lapisan flourescein kornea adalah tear film break-up time.
Biasanya waktu ini lebih dari 15 detik, namun akan berkurang nyata oleh
anestetika lokal, memanipulasi mata, atau dengan menahan palpebra agar tetap
terbuka. Waktu ini lebih pendek pada mata dengan defisiensi air pada air mata dan
selalu lebih pendek dari normalnya pada mata dengan defisiensi musin.

Gambar 17. Indeks Perlindungan Okular


( Sumber : http://www.systane.ca )

C. Tes Ferning Mata


Sebuah tes sederhana dan murah untuk meneliti mukus konjungtiva
dilakukan dengan mengeringkan kerokan konjungtiva di atas kaca obyek bersih.
Arborisasi (ferning) mikroskopik terlihat pada mata normal. Pada pasien
konjungtivitis yang meninggakan parut (pemphigoid mata, sindrom stevens
johnson, parut konjungtiva difus), arborisasi berkurang atau hilang.
D. Sitologi Impresi

40
Sitologi impresi adalah cara menghitung densitas sel goblet pada
permukaan konjungtiva. Pada orang normal, populasi sel goblet paling tinggi di
kuadran infra-nasal. Hilangnya sel goblet ditemukan pada kasus
keratokonjungtivitis sicc, trachoma, pemphigoid mata cicatrix, sindrom stevens
johnson, dan avitaminosis A.
E. Pemulasan Flourescein
Menyentuh konjungtiva dengan secarik kertas kering berflourescein
adalah indikator baik untuk derajat basahnya mata, dan meniskus air mata mudah
terlihat. Flourescein akan memulas daerah-daerah tererosi dan terluka selain defek
mikroskopik pada epitel kornea.
F. Pemulasan Bengal Rose
Bengal rose lebih sensitif dari flourescein. Pewarna ini akan memulas
semua sel epitel non-vital yang mengering dari kornea konjungtiva.

Gambar 18 : Pewarnaan Bengal rose

G. Penguji Kadar Lisozim Air Mata


Penurunan konsentrasi lisozim air mata umumnya terjadi pad awal
perjalanan sindrom Sjorgen dan berguna untuk mendiagnosis penyakit ini. Air
mata ditampung pada kertas Schirmer dan diuji kadarnya. Cara paling umum
adalah pengujian secara spektrofotometri.
H. Osmolalitas Air Mata
Hiperosmollitas air mata telah dilaporkan pada keratokonjungtivitis sicca
dan pemakaian kontak lens dan diduga sebagai akibat berkurangnya sensitivitas
kornea. Laporan-laporan menyebutkan bahwa hiperosmolalitas adalah tes paling
spesifik bagi keratokonjungtivitis sicca. Keadaan ini bahkan dapat ditemukan pada
pasien dengan Schirmer normal dan pemulasan bengal rose normal.
I. Lactoferrin

41
Lactoferrin dalam cairan air mata akan rendah pada pasien dengan hiposekresi
kelenjar lakrimal. Kotak penguji dapat dibeli dipasaran.

Penatalaksanaan

Pasien harus mengerti bahwa mata kering adalah keadaan menahun dan
pemulihan pemulihan total sukar terjadi, kecuali pada kasus ringan, saat perubahan epitel
pada kornea dan konjungtiva masih reversibel. Air mata buatan adalah terapi yang kini
dsering digunakan. Salep berguna sebagai pelumas jangka panjang, terutama saat tidur
(Skuta, 2011)

Fungsi utama pengobatan ini adalah penggantian cairan. Pemulian musin adalah
tugas yang lebih berat. Tahun-tahun belakangan ini, ditambahkan polimer larut air dengan
berat molekul tinggi pada air mata buatan, sebagai usaha memperbaiki dan
memperpanjang lama pelembaban permukaan.agen mukomimetik lain termasuk Na-
hialuronat dan larutan dari serum pasien sendiri sebagai tetesan mata. Jika mukus itu
kental, seperti pada sindrom Sjorgen, agen mukolitik (mis, acetylcystein 10%) dapat
menolong.

Topikal cyclosporine A

Topikal corticosteroids

Topikal/sistemik omega-3 fatty acids: Omega-3 fatty acids menghambat sintesis dari
mediator lemak dan memblok produksi dari IL-1 and TNF-alpha. Pasien dengan
kelebihan lipid dalam air mata memerlukan instruksi spesifik untuk menghilangkan
lipid dari tepian palpebrae. Mungkin diperlukan antibiotika topikal atau sistemik.
Vitamin A topikal mungkin berguna untuk memulihkan metaplasia permukaan mata.

Semua pengawet kimiawi dalam air mata buatan akan menginduksi sejumlah
toksisitas kornea. Benzalkonium chlorida adalah peparat umum yang paling merusak.
Pasien yang memerlukan beberapa kali penetesan sebaiknya memakai larutan tanpa bahan
pengawet. Bahan pengawet dapat pula menimbulkan reaksi idiosinkrasi. Ini paling serius
dengan timerosal.

42
Pasien dengan mata kering oleh sembarang penyebab lebih besar kemungkinan
terkena infeksi. Blepharitis menahun sering terdapat dan harus diobati dengan
memperhatikan higiene dan memakai antibiotika topikal. Acne rosacea sering terdapat
bersamaan dengan keratokonjungtivitis sicca, dan pemgobatan dengan tetrasklin sistemik
ada manfaatnya.

Tindakan bedah pada mata kering adalah pemasangan sumbatan pada punktum
yang bersifat temporer (kolagen) atau untuk waktu lebih lama (silikon), untuk menahan
sekret air mata. Penutupan puncta dan kanalikuli secara permanen dapat dilakukan dengn
terapi themal (panas), kauter listrik atau dengan laser.

Prognosis

Secara umum, prognosis untuk ketajaman visual pada pasien dengan sindrom
mata kering baik.

Komplikasi

Pada awal perjalanan keratokonjungtivitis sicca, penglihata sedikit terganggu.


Dengan memburuknya keadaan, ketidaknyamanan sangat menggangu. Pada kasus lanjut,
dapat timbul ulkus kornea, penipisan kornea, dan perforasi. Kadang-kadang terjadi infeksi
bakteri sekunder, dan berakibat parut dan vaskularisasi pada kornea, yang sangat
menurunkan penglihatan. Terapi dini dapat mencegah komplikasi-komplikasi ini

2.2.5 Keganasan Sistem Lakrimal


Tumor jinak dari kelenjar lakrimal yang paling sering terjadi adalah pleomorphic
adenoma, sedangkan tumor ganas dari kelenjar lakrimal yang paling sering terjadi adalah
adenoid cyctic carcinoma dan pleomorphic adenocarcinoma.

WHO memberikan klasifikasi tentang tumor kelenjar lakrimalis dalam beberapa


kategori , yaitu :
a. Epitelial tumors
b. Tumors of the hematopoietic or lymphatic tissue
c. Secondary tumors
d. Inflamed tumors
e. Other and unclassified tumours

43
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan

Aparatus Lakrimalis terbagi menjadi 2 sistem :

1. Sistem sekresi lakrimal terbagi menjadi kelenjar lakrimalis dan kelenjar asesorius
(kelenjar wolfring dan kelenjar Krause)

2. Sistem ekskresi lakrimal terbagi menjadi pungtum lakrimalis, kanalikuli


lakrimalis, sakus lakrimalis, duktus naso lakrimalis.

Kelenjar air mata dipersarafi oleh :

1. Nervus Lakrimalis (sensoris), suatu cabang dari devisi pertama Trigeminus.


2. Nervus Petrosus superficialis magna (sekretoris) yang datang dari nukleus
salivarius superior.

3. Saraf simpatis yang menyertai arteria dan nervus lakrimalis

Apabila terjadi gangguan pada aparatus lakrimalis ada 2 bagian yang terganggu bisa di
bagian sekresi atau di ekskresinya antara lain :

1. Dakrioadenitis akut dan kronik


2. Dakriosistitis akut dan kronik
3. Kanalikulitis
4. Konjungtivitas sika
5. Tumor di kelenjar lakrimal

3.2 Saran

1. Perlu adanya pemahaman mengenai anatomis dan fisiologis kelenjar lakrimal untuk
mempermudah pemahaman mengenai kelainannya
2. Perlunya pemahaman mengenai etiologi, gejala klinis dan kriteria diagnosis agar tidak
terjadi kesalahan dalam penegakkan diagnosis sehingga penanganannya menjadi lebih
tepat dan adekuat.
3. Perlunya pemahaman mengenai penatalaksanaan kelainan kelenjar lakrimal sesuai
dengan penyakit penyebab sehingga meningkatkan angka kesembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

44
Asbury, Tailor and Sanitato, James. 2000. Trauma.Oftalmologi Umum Vaughan. Edisi 14.
Jakarta : Widya Medika. Hal 381.
Bahar, Ardiansyah. 2009. Dakriosistitis. [serial online]. http://arbaa-
fivone.blogspot.com/2009/03/dakrisistitis.html. [diunduh 14 April 2014].
Barathi, Ramakrishnan, Maneksha, Shivakumar, Nithya dan Mittal. 2007. Comparative
Bacteriology of Acute and Chronic Dacryocystitis. [serial online].
http://www.eye.com/. [diunduh 14 April 2014].
Camara, Jorge G. 2008. Nasolacrimal Duct Ostruction : Differential Diagnosis and Work up.
Diakses dari www.medscape.com [diunduh 14 April 2014]
Dorland, W. A. 2002. Newman. Kamus Kedokteran Dorland, edisi 29. Jakarta.EGC.
Gilliland, GD. 2009. Dacryocystitis. Diunduh dari: http//:www.emedicine.medscape.com 14
April 2014, 21.15 WIB

Gupta, P. D. 2006. Patho-Physiology of Lacrimal Glands in Old Age. International Digital


Organization for Scientific Information. Volume I.I
Lang, Gerhard K. 2000. Ophthalmology A Pocket Textbook Atlas. Thieme. New York.

Mamoun, Tarek. 2009. Acute Dacryocystitis. [serial online].


http://eyescure.com/Default.aspx?ID=85 [diunduh 14 April 2014]

Miller, Stehen J.H. 1990. Parsons Disease Of the Eye. 8th Ed. Churchill livingstone. New
york.

Mosby. Medical Dictionary. Edisi 8. 2009. Elsevier.


Nelson, Leonard. 2000. Gangguan Mata. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC. Hal 2164
2165.
Newell, Frank W. 1986. Ophthalmology. Principles and Concepts. 6th Ed.The CV. Mosby
Company. Taiwan.

O'Brien, Terrence P. 2009. Dacryocystitis. [serial online].


http://www.mdguidelines.com/dacryocystitis.htm. [diunduh 14 April 2014]
Plugfelder, Stephen C et al. Dry Eye and Ocular Surface Disorders. New york : 2004.
Marcell Decker.

Sidarta, Ilyas. 2005. Ilmu Penyakit Mata, edisi ke-3. Fakultas kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta : EGC.

45
Skuta, Gregory L et al. American Academy of Ophtalmology : Orbit Eyelids and Lacrimal
System . San Fransisco: 2011 . American Academi of Ophtalmology

Sowka, J.W., Gurwood, A.S., dan Kabat, A.G. 2010. Review of Optometry, The Handbook of
Occular Disease Management Twelfth Edition. [serial online].
http://www.revoptom.com/. [diunduh 14 April 2014]
Sullivan, J. 2000. Palpebra dan Aparatus Lakrimal. Oftalmologi Umum Vaugan. Edisi 14.
Jakarta : Widya Medika.
Yuliani, Putri. 2009. Pendekatan Sederhana dan Evolusional Untuk Merekanalisasi
Obstruksi Duktus Nasolakrimalis. [serial online].
http://www.scribd.com/doc/37289785/Journal-Reading-Rekanalisasi-Obstruksi-
Sistem-Lakrimalis#. [diunduh 14 April 2014]
Zorab, Richard at all. 2008. Abnormalities of The Lacrimal Secretory and Drainage
Systems.Orbit, Eyelids, and Lacrimal System. San Fransisco : American Academic of
Ophtalmology. Hal 265 290.

46