Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Kulit merupakan organ tubuh paling luar yang melindungi tubuh manusia
dari lingkungan hidup sekitar. Seperti organ tubuh lain pada umumnya, kulit juga
terdiri tersusun dari jutaan sel. Normalnya, sel-sel di dalam tubuh akan membelah
lebih cepat pada masa pertumbuhan, sedangkan pada masa dewasa sel akan lebih
banyak membelah untuk menggantikan sel-sel yang mati atau untuk memperbaiki
kerusakan jaringan.1
Sel kanker terjadi akibat kerusakan dari DNA. Sel kanker akan terus tumbuh
dan membelah menjadi sel yang abnormal dan juga dapat meluas ke jaringan yang
normal (metastasis). Kanker pada kulit merupakan tiga serangkaian keganasan
pada umumnya yang sering ditemukan di Indonesia selain kanker serviks dan
kanker payudara.2
Karena kulit terdiri atas beberapa jenis sel, maka kanker kulit juga
bermacam-macamsesuai dengan jenis sel yang terkena. Akan tetapi yang paling
sering terdapat adalah karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS)
dan melanoma maligna (MM). Karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa
seringkali digolongkan ke dalam kanker kulit non melanoma.1,2
Karsinoma sel skuamosa adalah suatu poliferasi ganas dari keratinosit
epidermis yang merupakan tipe sel epidermis yang paling banyak dan merupakan
salah satu dari kanker kulit yang sering dijumpai setelah basalioma. Faktor
presdiposisi karsinoma sel skuamosa antara lain sinar ultraviolet, bahan
karsinogen, genetik dan lain-lain.2
Di Indonesia kanker telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang
besar. Frekuensi relatif kanker mulut di Indonesia diperkirakan 3,75%. Menurut
hasil penelitian lebih dari 90 % kanker mulut adalah karsinoma epidermoid atau
karsinoma sel skuamosa. Karsinoma sel skuamosa sering dijumpai pada orang
kulit putih dari pada kulit berwarna gelap dan lebih banyak dijumpai pada laki
laki dibanding dengan wanita, terutama pada usia 40-50 tahun.1,2

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Squamous cell carcinoma (SCC) adalah tumor ganas kulit yang berasal
dari sel keratinosit epidermis. SCC merupakan kasus kanker kulit nomor 2
tersering setelah Basalioma, tetapi SCC dapat menyebabkan metastase jauh
hingga kematian. Dikenal 2 bentuk yaitu bentuk intra epidermal dan bentuk
invasif. Karakteristik keganasan berdasarkan terjadinya aplasia, pertumbuhan
yang cepat, invasi ke jaringan setempat dan kemampuan untuk mengadakan
metastasis, perkembangan sel skuamous lebih cepat dan lebih sering mengadakan
metastasis dibandingkan karsinoma sel basal.3,4

2.2 Anatomi, Histologi dan Fisiologi


Kulit merupakan organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasi
dengan lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa rata-rata adalah 1,52
m2 dengan berat sekitar 15% dari berat badan. Kulit juga sangat kompleks, elastic,
dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras, dan juga bergantung
pada lokasi tubuh.5
Warna kulit bervariasi, dari kulit yang berwarna terang, pirang dan hitam,
warna merah muda pada telapak tangan dan kaki bayi serta warna hitam
kecokelatan pada genitalia orang dewasa.5
Demikian pula mengenai yang lainnya, kulit juga mempunyai variasi
mengenai kelembutan, elastic dan longgar pada palpebra, bibir, dan preputium,
kulit yang tebal dan tegang terdapat pada telapak kaki dan tangan orang dewasa.
Kulit yang tipis terdapat pada wajah, yang lembut pada leher dan badan, dan yang
berambut kasar terdapat pada kepala.5
Secara histologi, kulit dapat dibagi menjadi tiga lapisan utama, yaitu
lapisan epidermis, dermis, dan subkutis. Perbatasan antara epidermis dan dermis
jelas terlihat, sedangkan untuk batas dermis dengan lapisan subkutan tidak
memiliki garis yang tegas memisahkannya.5

2
Lapisan epidermis terdiri atas 5 lapisan yaitu straum korneum, stratum
lusidum,stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale. Stratum
korneum merupakan lapisan yang paling luar yang terdiri dari beberapa lapis
epitel sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasmanya telah berubah
menjadi keratin.5
Stratum lusidum merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan
protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut dengan eleidin. Lapisan
tersebut tampak jelas di telapak tangan dan kaki. Stratum granulosum (lapisan
keratohialin) merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng dengan sitoplasma berbutir
kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri dari keratohialin.
Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini. Stratum granulosum juga tampak
jelas di telapak tangan dan kaki.5
Stratum spinosum (stratum malphigi/ prickle cell layer) terdiri dari
beberapa lapis sel yang berbentuk polygonal yang besarnya berbeda beda karena
adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung
glikogen dan inti terletak di tengah makin gepeng bentuknya. Stratum basale
terdiri atas sel-sel berbentuk kubus/ kolumnar yang tersusun vertikal pada
perbatasan dermo-epidermal yang berbaris seperti pagar (palisade). Lapisan ini
merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini mengadakan
mitosis dan berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdiri dari atas dua jenis sel yaitu
sel-sel yang berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik berinti lonjong dan
besar, dihubungkan dengan yang lain oleh jembatan antar sel. Sel yang lainnya
adalah melanosit atau clear cell yang merupakan sel-sel berwarna muda, dengan
sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butir pigmen
(melanosomes).5
Di bawah lapisan epidermis terdapat lapisan dermis yang jauh lebih tebal
daripada epidermis. Lapisan ini terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa padat
dengan elemen-elemn selular dan folikel rambut. Secara garis besar dapat dibagi
menjadi 2 bagian yaitu pars papilare yang berisi ujung serabut saraf dan pembuluh
darah dan pars retikulare yang berisi serabut kolagen, elastin, dan retikulin.
Lapisan subkutan merupakan kelanjutan dari dermis yang terdiri dari jaringan ikat

3
longgar yeng berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel ini membentuk kelompok
yang dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula yang fibrosa.5

Gambar 2.1 Lapisan kulit

Fungsi utama kulit adalah proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, termoregulasi,


pembentukan pigmen, pembentukan vitamin D, dan keratinisasi. Sebagai
protector, kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis (mekanis)
misalnya tekanan, gesekan, tarikan, gangguan kimiawi, misalnya zat-zat yang
bersifat iritan. Hal ini dimungkinkan karena adanya bantalan lemak, tebalnya
lapisan lulit, dan serabut-serabut jaringan penunjang. Melanosit turut berperan
dalam melindungi kulit terhadap pajanan sinar matahari dengan mengadakan
tanning. Kulit mengandung melanosit yang terletak pada lapisan basal.
Perbandingna antara jumlah melanosit dan sel basal adalah 1:10. Melanosit
didalamnya mengandung melanosom yang memberikan warna pada kulit. Pajanan
terhadap sinar matahari mempengaruhi produksi melanosom.5

2.3 Epidemiologi

4
Karsinoma sel skuamosa (SCC) merupakan bentuk kedua terbanyak pada
kanker kulit setelah karsinoma sel basal, frekuensinya meningkat pada kulit yang
sering terpapar dengan sinar matahari dan pada usia tua. Insidensi tertinggi pada
usia 50-70 tahun, paling sering pada kulit berwarna pada daerah tropis dan
insidensi pria 2-3 x lebih banyak dibandingkan dengan wanita, mungkin hal ini
disebabkan karena pria lebih sering terpapar dengan sinar matahari.6,7

2.4 Etiologi
Seperti pada umumnya kanker yang lain, penyebab kanker kulit ini juga
belum diketahui secara pasti. Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan
pertumbuhan karsinoma sel skuamosa pada kulit, yaitu faktor paparan sinar
matahari, arsen, hidrokarbon, suhu, radiasi kronis, parut, dan virus.6

2.5 Stadium Klinis


Stadium klinis dari SCC ditentukan dengan sistem TNM. SCC dapat
dibagi menjadi 4 stadium yaitu :6
1. Stadium I ( T1 N0 M0)
2. Stadium II (T2 N0 M0 atau T3 N0 M0)
3. Stadium III ( T4 N0 M0 atau Tany N1 M0)
4. Stadium IVA ( Tany Nany M1)
Dengan kriteria :
T T1 : Ukuran tumor 2 cm pada dimensi terbesar
T2 : Ukuran tumor 2-4 cm pada dimensi terbesar
T3 : Ukuran tumor > 4 cm pada dimensi terbesar
T4: Tumor menginvasi stuktur ektradermal bagian dalam (contoh :
kartilago, otot, atau tulang)
N N0 : Tidak ada metastasis KGB regional
N1 : Terdapat metastasis KGB regional
M M0 : Tidak ada metastasis jauh
M1 : Metastasis jauh

2.6 Gambaran Klinis

5
Karsinoma sel skuamosa kulit pada umumnya sering terjadi pada usia 50
70 tahun dengan lokasi yang tersering adalah pada daerah yang banyak terpapar
sinar matahari seperti wajah, telinga, bibir bawah, punggung, tangan dan tungkai
bawah. Karsinoma sel skuamosa memiliki beberapa variasi gambaran klinis,
yaitu:
1. Eksofitik
Lesi ini memiliki permukaan yang tidak rata dan berpapil-
papil, dengan warna yang bervariasi dari sama dengan jaringan sekitar
sampai merah keputihan, tergantung dari keratin yang terbentuk.
Permukaan seringkali mengalami ulserasi dan pada palpasi terasa keras
(indurasi).
2. Endofitik
Lesi ini berbentuk cekung dan ireguler, terdapat ulserasi,daerah
sentral dibatasi oleh penggiran yang meninggi berbentuk bulat (rolled
border) yang berwarna merah keputihan. Pinggiran yang meninggi ini
merupakan akibat dari tumor yang berinvasi ke bawal dan laterl ke
jaringan epitel di bawahnya.
3. Leukoplakia dan eritoplakia
Keadaan leukoplakia dan ertitroplakia merupakan keadaan
awal sebelum terbentuknya suatu masa atau ulserasi. Gambaran klinis
ini identik dengan lesi premalignansi. Permukaan mukosa secara khas
akan berubah dengan terbentuknya karsinoma endofitik atau eksofitik.
Bila terjadi destruksi pada lapisan tulang di bawahnya, dapat
menimbulkan rasa sakit dan terlihat pada gambaran radologisnya
sebagai moth eaten radiolusensi dengan tepi bergerigi.

2.7 Penegakan Diagnosa

6
2.7.1 Anamnesis
Anamnesis ditujukan pada adanya faktor risiko, riwayat solar burn,
riwayat transplantasi organ, konsumsi obat-obatan immunosupresif, HIV, dan
sebagainya. Riwayat pertumbuhan tumor dari kulit yang sehat (de novo), atau dari
lesi yang sebelumnya ada.6
Perlu diperhatikan kemungkinan adanya lesi yang multiple, terutama pada
pasien kulit putih. Riwayat keluarga, atau pernah menderita kanker kulit
sebelumnya, juga merupakan faktor risiko.6
2.7.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik terutama ditujukan pada daerah tumor primer dan
regional lymph nodes basin nya. Pada pemeriksaan fisik perlu diperhatikan
bentuk/morfologi tumor primer, pada tahap awal SCC akan terlihat berupa papul
atau nodul yang kemerahan dan nyeri. Biasanya nodul atau papul ini di lapisi oleh
lapisan hyperkeratosis, lesi ini berkembang dalam waktu bulanan dan semakin
nyeri. pada tahap lanjut akan berbentuk fungating bentukan seperti bunga kol
(cauliflower). Selain itu perlu diperhatikan adanya ulserasi, ada tidaknya krusta,
kedalaman infiltrasi penting untuk mengetahui kemungkinan terkenanya struktur
lain (tulang, kartilago), dan potensi metastasis. Pada beberapa kasus, terutama lesi
di kaki dan kulit kepala, maka gambaran SCC ini akan terlihat berupa ulserasi
tanpa didahului nodul atau pembengkakan lainnya.6,7
Palpasi dengan teliti KGB regional ada tidaknya pembesaran KGB, dan
pemeriksaan kemungkinan adanya metastasis, jauh seperti ke paru, hati, dan
sebagainya.6

7
Gambar 2.1 Gambaran solar keratosis dan squamous cell ca 7

8
Gambar 2.2 Karsinoma Sel Skuamosa

2.7.3 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang terutama ditujukan untuk mengetahui diagnosis
histopatologis, adanya struktur sekitar yang terinvasi/infiltrasi, ada tidaknya
metastasis jauh, dan pada tumor yang masif untuk melihat operabilitas tumor dan
kemungkinan melakukan coumpound resection.6,10
Pada pemeriksaan biopsi dan histopatologis, biopsy insisional sebaiknya
dihindari. Biopsi untuk lesi yang lebih besar adalah dengan punch atau shaved
biopsy, dengan catatan harus mendapatkan specimen yang cukup besar dan
kedalaman yang cukup. Biopsi eksisional dilakukan untuk tujuan diagnosis dan
terapeutis terutama untuk lesi yang kecil (<2cm) dan dengan surgical safety
margin minimal 1 cm.6
Pada lesi yang besar dan dalam, diperlukan pemeriksaan foto polos
(misalnya foto tulang), CT scan atau MRI untuk melihat keterlibatan struktur lain
oleh SCC, operabilitas dan merencanakan pembedahan lebih baik. Pemeriksaan
foto toraks dan USG Hepar untuk melihat ada tidaknya metastasis jauh.6

2.8 Penatalaksanaan
Tindakan terapi untuk SCC tergantung dari lokasi anatomi, besar,
kedalaman invasi/ infiltrasi, grading histology, ada tidaknya KGB regional yang
membesar/ terkena, riwayat terapi/ pembedahan sebelumnya, metastasis jauh dan
kemampuan ahli bedah.6
Modalitas terapi yang utama adalah pembedahan, yaitu eksisi luas, dengan
surgical safety margin yang adekuat (1cm atau lebih). Defek pembedahan dapat
ditutup dengan jahit primer, skin grafting (partial or full, advancement flap,
interpolation flap. Untuk defek yang besar dapat dilakukan rekontruksi dengan
distant flap atau free vascularized graft.6,10
Untuk lesi di daerah sulit, seperti pad acanthus, nasolabial, pre-orbital,
periauricular, dianjurkan untuk dilakukan Mosh Micrographic Surgery, dan bila
tidak mungkin dilakukan eksisi luas dan rekontruksi. SCC dengan infiltrasi/ invasi

9
jaringan sekitar ( tulang, kartilago, dan lain-lain) dapat dilakukan compound
exicision & reconstruction dan atau pemberian radioterapi (jika margin + atau
sempit).6
Untuk lesi di penis dilakukan partial atau total penectomy dan biopsi
sentinel node inguinal ( KGB pada fossa ovalis femur) dan jika KGB+, dilakukan
diseksi inguinal superficialis. SCC anus, dapat dilakukan eksisi luas dan pada
SCC yang besar/inoperabel dapat diberikan kemoterapi (berbasis cisplatum) atau
radioterapi.6,10

2.9 Prognosis
Prognosis SCC sangat bergantung kepada lokasi, ukuran tumor, tingkat
diferensiasi sel-sel, metastasis dan diagnosis dini. SCC dengan pemeriksaan
Histopatologis diferensiasi sel buruk atau yang sudah metastasis lebih sulit diobati
karena kemungkinan penyakit dapat rekuren atau masih tetap berlanjut.5

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Muttaqin, Arif. 2013. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen.


Jakarta : Salemba Medika.

2. Suzzane C. Smeltzer, Brenda G. Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah


Vol.1.Jakarta : EGC.

3. Dorland WAN. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC; 2000.
Hal 852.

4. McIlrath DC. Kelainan Bedah Apendiks Vermiformis dan Divertikulum


Meckel dalam Sabiston DC. Buku Ajar Bedah. Bagian 2. Jakarta: EGC;
1994. Hal 338

5. Rata IGAK. Tumor Kulit. Dalam: Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi
kelima. Jakarta : FKUI. 2007. 207-15

6. Manuaba IBTW. Karsinoma Sel Skuamosa. Panduan Penatalaksanaan


Kanker Solid PERABOI 2010. Jakarta : Sagung Seto. 2010. 153-9

7. ACN Working Party on the Management of Non-Melanoma Skin Cancer.


Basal cell Carcinoma, Squamous Cell Carcinoma and Related
Keratinocyte Dysplasias-A Guide to Clinical Management in Australia.

8. Partogi D. Karsinoma Sel Skuamosa. Medan : FK USU. 2008

9. Australia cancer council. A Sumarry of Management in clinical Practical


Basal cell and Squamous cell Carcinoma. (Cited on www.cancer.org.au)

11
10. American Cancer Society . Skin cancer : Basal And Squamous cell (cited
on http://bioremede.com/downloadoc.php?
url=http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/webcontent/003139-
pdf.pdf)

12