Anda di halaman 1dari 3

MENAMBANG IDE: MENEMUKAN BERLIAN DALAM PIKIRAN

Ribuan sarjana yang mendaftar menjadi pengemudi GO-JEK demi penghasilan 6 juta p
er bulan menggambarkan dengan jelas betapa lulusan-lulusan perguruan tinggi kita
miskin ide!
Bagi saya, para sarjana ini, jika berita itu benar, tak punya gagasan lain untuk
bersaing di tengah ganasnya ibukota. Penghasilan yang dijanjikan GO-JEK boleh j
adi memang menggiurkan. Namun, andai saja mereka punya gagasan yang lebih baik,
yang bisa mereka jual , angka 6 juta mungkin tak berarti apa-apa.
Nadiem Makarim, CEO dan pendiri GO-JEK, adalah sarjana lainnya. Yang membedakan
Nadiem dengan para sarjana yang melamar ke perusahaannya adalah ide. Nadiem puny
a ide yang ia eksekusi dengan baik sehingga ide itu bisa bekerja untuk dirinya, pa
ra sarjana yang mengantre di depan pintu perusahaannya adalah mereka yang gagal
menemukan gagasan dalam pikirannya sesuatu yang memaksa mereka untuk bekerja demi hi
dup kesehariannya.
Tentu saja tulisan ini tidak sedang berusaha mendeskreditkan jenis pekerjaan ter
tentu. Saya percaya semua pekerjaan itu baik, selama tak merugikan atau mencelak
akan orang lain. Apalagi bagi mereka yang Muslim, semua pekerjaan yang mendatang
kan rejeki yang halal selalu layak untuk ditempuh. Namun, tulisan ini ingin meng
atakan hal lainnya: Andai kita punya ide, bisa mengeksekusi dan menjualnya , hidup
tak akan lagi tentang bertahan atau memenuhi kebutuhan keseharian. Jika kita bis
a menambang ide dalam diri, kita bisa menjadi manusia yang lebih baik. Bukan han
ya lebih sejahtera, tetapi juga lebih bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang la
in di sekeliling kita.
Menjadi kaya dari ide?
Menjadi kaya mungkin bukan impian semua orang. Dulu saya juga sering bertanya, m
engapa harus kaya jika kita bisa hidup sederhana dan mencukupi kebutuhan sendiri
? Lama kelamaan saya sadar bahwa pertanyaan itu salah. Kaya dan sederhana adalah
dua konsep yang tak semestinya dipertentangkan. Kaya adalah konsep kepemilikan, s
ementara sederhana adalah tentang bagaimana sikap kita tentang apa yang kita milik
i dalam hidup ini. Artinya, jika kita kaya (dalam pengertian material dan finans
ial), kita tetap bisa hidup sederhana, kok.
Lantas, untuk apa kekayaan itu? Pertanyaan kedua ini menghantui saya cukup lama
juga. Hingga suatu hari saya menemukan jawabannya. Jika kita tak mau kaya , tak mau
punya rejeki dan materi yang melimpah, yang penting cukup untuk diri sendiri da
n keluarga, tidak apa-apa sebenarnya. Namun, betapa egoisnya kita. Apakah kita t
idak ingin membantu orang lain? Tidak ingin membukakan peluang pekerjaan dan pin
tu rejeki bagi orang lain? Apakah hidup ini hanya tentang diri kita dan keluarga k
ita sendiri?
Sampai di sini, masih banyak yang bisa kita perdebatkan. Namun saya ingin meyaki
nkan bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi kaya, apalagi jika kita bisa memb
eri lebih dari apa yang sudah kita miliki.
Sejak saat itu, saya berusaha mencari tahu apa yang membedakan orang sukses yang
kaya secara materi dengan mereka yang biasa-biasa saja? Ternyata jawabannya ada
lah ide. Orang-orang itu menambang ide dalam dirinya.
Jika kita urut 10 daftar orang terkaya di dunia, mereka adalah orang-orang yang
memiliki ide. Bill Gates, kini orang terkaya nomor dua di dunia, suatu hari puny
a ide bagaimana jika semua orang memiliki sebuah komputer personal (PC) di rumah
nya? Dari sanalah ia mulai mengembangkan Microsoft. Carlos Slim Helu, pengusaha
dan filantropis terkaya nomor satu di dunia versi majalah Forbes, sejak kecil pu
nya ide agar orang-orang bisa terhubung dengan fasilitas telekomunikasi yang mur
ah. Selama bertahun-tahun ia mengasah ide itu dan suatu hari mengeksekusinya men
jadi Telefonos de Mexico, salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia
. Kembali ke soal GO-JEK, konon sebelum mendirikan perusahaannya, Nadiem Makarim
terdorong oleh ide untuk membuat mobilitas masyarakat ibukota lebih cepat dan m
urah tetapi di saat bersamaan mampu menyejahterakan para tukang ojek .
Beberpa contoh di atas bisa menjelaskan betapa ide bisa membuat seseorang berbeb
eda dari orang kebanyakan. Dan dalam kompetisi menjadi sukses , ide-lah yang membua
t seseorang stand out meski tak selamanya menang. Contoh lainnya adalah mereka yan
g bekerja di industri kreatif. Para film-maker, penulis, musisi, seniman, adalah
mereka yang percaya pada ide yang mereka miliki mereka berkarya dan membiarkan id
e itu bekerja untuk mereka. Pertanyaan berikutnya, jika ide berkorelasi dengan kes
uksesan, mengapa masih banyak orang yang punya ide tetapi tak berhasil mengkonve
rsi ide itu menjadi kekayaan?
Menambang Ide
Di sinilah masalahnya, punya ide saja tidak cukup. Mungkin begini teorinya: Sedi
kit sekali orang yang punya ide, tetapi lebih sedikit orang yang bisa mengekseku
si idenya dengan baik. Sialnya, setelah ide diekseskusi dengan baik, tak semua d
ari mereka bisa menjual ide itu! Di sini, perlu kecakapan dan pengalaman tersendir
i untuk menjual ide dalam pengertian memberinya nilai tambah.
Saya percaya ide itu harus ditambang. Seperti emas atau berlian. Sebelum menamba
ng ide dalam diri kita, pertama-tama kita harus mempelajari dengan baik siapa di
ri kita, apa yang kita miliki, apa yang bisa kita lakukan, dan seterusnya. Semua
aktivitas menambang selalu membutuhkan riset yang baik, kan? Riset itu bertujua
n agar ide tidak berujung sia-sia. Kita harus mengetahui secara utuh dan menyelu
ruh mengenai ide yang kita miliki. Pelajari dari hulu sampai ke hilirnya.
Setelah mengetahui dan memahaminya, saatnya eksekusi. Ide yang baik adalah ide y
ang dieksekusi dengan baik! Artinya, sebaik apapun gagasan yang kita miliki, sel
ama kita tak mengeksekusinya, tak akan jadi apa-apa!
Namu, bagaimanapun, eksekusi saja tidak cukup. Problem berikutnya adalah bagaima
na memberinya nilai tambah? Bayangkan saja emas dan berlian. Meskipun kita sudah
mendapatkan emas dan berlian dari aktivitas tambang kita, tetapi emas mentah at
au berlian yang belum diolah meski berharga tak akan menghasilkan keuntungan yang ba
nyak jika dibandingkan kita mengolahnya: Memberinya nilai tambah. Emas bisa diub
ah menjadi perhiasan, berlian bisa diolah menjadi batu mulia termahal di dunia.
Setelah semuanya, kita masih harus menjualnya, kan? Banyak yang lupa bahwa kreato
r atau penambang ide juga sebenarnya harus menjadi pemasar (marketing yang baik) un
tuk karya-karyanya. Percuma saja kita memiliki emas atau berlian yang banyak, ya
ng mungkin sudah diolah menjadi perhiasan-perhiasan terbaik, tetapi tak ada seor
angpun yang mengetahuinya! Pasarkanlah gagasan-gagasan itu, buat semua orang men
getahuinya, buat mereka tahu kualitasnya. Dengan begitu, kita bisa mendulang leb
ih banyak dari yang kita tambang.
Di atas semua itu, yang paling utama adalah proses. Menambang ide selalu membutu
hkan proses dan boleh jadi proses itu terus berulang. Jika tidak berhasil dengan
aktivitas tambang pertama, teruslah menggali ke kedalaman diri, temukanlah emas
dan berlian yang lain, lalu berproses lagi dan lagi.
Tutup
Tentang ide, saya selalu ingat nasihat Jack Ma, orang terkaya nomor satu di Chin
a, katanya kita harus selalu menemukan hal yang unik yang tak dimiliki orang lai
n. Jika ingin sukses, jangan sekadar meniru orang lain. You should learn from you
r competitors, but never copy. Copy and you die! Katanya.
Akhirnya, tulisan ini hanya sekadar ikhtiar saya dalam berbagai perspektif. Tida
k sedikitpun berniat menggurui. Anda boleh setuju, boleh juga tidak. Para ideali
s mungkin berpikir, mengapa ide disederhanakan hanya untuk menjualnya dan mendat
angkan kekayaan? Bukankah ide yang baik adalah yang berhasil mengubah jalannya s
ejarah? Boleh juga berpikir seperti itu, saya setuju. Lain kali, saya akan menul
is tentang itu.
Sekarang, ini saja dulu: Ide adalah emas dan berlian dalam pikiran. Jadilah apa
saja yang membahagiakan Anda. Hiduplah dengan ide. Jadilah kaya dari ide. Merdek
alah dengan ide.
Selamat menambang!
Jakarta, 13 Agustus 2015
FAHD PAHDEPIE Penulis, novelis, co-founder inspirasi.co