Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Semua lesi di parenkim paru dengan proses supurasi yang disebabkan oleh
mikroorganisme piogenik disebut abses paru. Berdasarkan jenis kelamin abses paru
lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Abses paru lebihsering
terjadi pada pasien usia lanjut karena peningkatan kejadian penyakitperiodontal dan
peningkatan prevalensi disfagia dan aspirasi.1,2
Kejadian abses paru yang paling sering adalah sebagai komplikasipneumonia
aspirasi yang disebabkan oleh mikroorganisme anaerob, yaituPseudomonas
aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus,Streptococcus
pneumonia, spesies Nocardia dan spesies jamur. Proses abses parupertama terjadi
obstruksi pada parenkim paru, infeksi, proses supurasi, kemudian nekrosis.
Perubahan reaksi radang pertama dimulai dari supurasi dan thrombosispembuluh
darah lokal yang menimbulkan nekrosis dan likuifikasi.1,3
Gejala awal abses paru adalah badan terasa lemah, tidak nafsu makan,
penurunan berat badan, batuk kering, keringat malam, demam intermitten bias
disertai menggigil dengan suhu tubuh mencapai 39,4C atau lebih. Tidak ada demam
tidak menyingkirkan adanya abses paru. Setelah beberapa hari dahak bias menjadi
purulent dan dapat mengandung darah. Pemeriksaan fisis yang ditemukan adalah
suhu badan meningkat sampai 40C, pada paru ditemukan kelainan seperti nyeri
tekan local, pada daerah terbatas perkusi terdengar redup dengan suara napas
bronkial.2
Gambaran radiografi yang spesifik berupa kavitas yang bentuknya irregular
dengan air-fluid level di dalamnya. Abses paru akibat pneumonia aspirasi biasanya
terletak pada segmen posterior lobus atas atau segmen superior lobus bawah paru
kanan.1
ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 1
Untuk mendapatkan bahan pemeriksaan mikroorganisme penyebabnya,
dilakukan aspirasi pus dengan jarum transtrakeal ataupun transtorakal.Komplikasi
pengambilan bahan pemeriksaan ini adalah penyebaran ke daerah yang belum
terinfeksi.Dengan pemberian obat antibiotik yang tepat, abses paru tidak menjadi
masalah lagi. Prognosis abses paru simpel terutama tergantung dari keadaan umum
pasien, letak abses serta luasnya kerusakan abses yang terjadi, dan respons
pengobatan yang kita berikan.2

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Abses paru adalah suatu infeksi destruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan
paru yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berbentuk nanah
(pus/nekrotik) dalam parenkim paru pada satu lobus atau lebih yang disebabkan oleh
infeksi mikroba.2

2.3 Epidemiologi
Berdasarkan jenis kelamin abses paru lebih sering terjadi pada laki-laki
dibandingkan perempuan. Abses paru lebih sering terjadi pada pasien usia lanjut
karena peningkatan kejadian penyakit periodontal dan peningkatan prevalensi
disfagia dan aspirasi. Namun, serangkaian kasus abses paru di pusat perkotaan
dengan prevalensi tinggi alkoholisme melaporkan rata-rata penderita abses paru
berusia 41 tahun.2,5
Insidensi abses paru tidak diketahui, meskipun terlihat pertumbuhannya tidak
fluktuatif dan insidensinya juga terlihat menurun sejak diperkenalkannya antibiotic
(khususnya penisilin). Sejak 1943-1956, Massachusetts General Hospital melaporkan
sebanyak 10-11 kasus abses paru per 10.000 penderita yang masuk rumah sakit pada
masa pre antibiotik dibandingkan dengan 1-2 kasus per penderita yang masuk rumah
sakit pada masa post-antibiotik. Pada tahun 1984- 1986 kasus yang ditangani The
Beth Israel Deacones Medical Centers menunjukkan bahwa abses paru mewakili
kira-kira 0,2% dari seluruh kasus pneumonia membutuhkan perawatan rumah sakit.
Penurunan kasus abses paruberhubungan dengan penggunaan dini dan luas
antimikroba yang efektif, peningkatan manajemen perawatan pasien yang tidak sadar,
dan peningkatan manajemen perawatan pasien yang dianestesi.6

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 3
2.4 Etiologi
Abses paru dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, yaitu:
a. Kelompok bakteri anaerob, biasanya diakibatkan oleh pneumonia aspirasi
1. Bacteriodes melaninogenus
2. Bacteriodes fragilis
3. Peptosireptococcus species
4. Bacillus Intermedius
5. Fusobacterium nucleatum
6. Microaerophilic streptococcus
Bakteri anaerobik meliputi 89% penyebab abses paru dan 85%-100% dari specimen
yang didapat melalui aspirasi transtrakheal.2
b. Kelompok bakteri aerob:
1. Gram positif: sekunder oleh sebab selain aspirasi
Staphylococcus aureus
Streptococcus microaerophilic
Streptococcus pyogenes
Streptococcus pneumonia
- Streptococcus viridans
- Streptococcus milleri
2. Gram negative: biasanya merupakan sebab nosocomial
-Klebsiella pneumonia
-Pseudomonas aeruginosa
-Escherichia coli
-Haemophilus Influenza
-Actinomyces Species
-Gram negative bacilli
c. Kelompok:
-jamur: mucoraceae, aspergilus species

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 4
-parasit, amuba
-mikobakterium
Terdapat 46% abses paru disebabkan hanya oleh bakteri anaerob, sedangkan
43% campuran bakteri anaerob dan aerob. Spektrum kuman patogen penyebab abses
paru pada pasienimmunocompromised sedikit berbeda. Pada pasien AIDS kebanyakan
kumannya adalah bakteri aerob, P. carinii dan jamur termasuk Cryptococcus
neoforman dan mycobacterium tuberculosis.2

2.5 Patofisiologi
Abses paru timbul bila parenkim paru terjadi obstruksi, infeksi kemudian
proses supurasi dan nekrosis. Perubahan reaksi radang pertama dimulai darisuppurasi
dan trombosis pembuluh darah lokal, yang menimbulkan nekrosis dan likuifikasi.
Pembentukan jaringan granulasi terjadi mengelilingi abses, melokalisir proses abses
dengan jaringan fibrotik. Bermacam-macam faktor yang berinteraksi dalam terjadinya
abses paru seperti daya tahan tubuh dan tipe dari mikroorganisme patogen yang
menjadi penyebab. Terjadinya abses paru biasanya melalui dua cara yaitu aspirasi dan
hematogen. Yang paling sering dijumpai adalah kelompok abses paru bronkogenik
yang termasuk akibat aspirasi, stasis sekresi, benda asing, tumor danstriktur bronkial.
Keadaan ini menyebabkan obstruksi bronkus dan terbawanya organisme virulen yang
akan menyebabkan terjadinya infeksi pada daerah distal obstruksi tersebut. Abses
jenis ini banyak terjadi pada pasien bronchitis kronis karena banyaknya mukus pada
saluran napas bawahnya yang merupakan kulturmedia yang sangat baik bagi
organisme yang teraspirasi. Pada perokok usia lanjut keganasan bronkogenik bisa
merupakan dasar untuk terjadinya abses paru.2,3
Secara hematogen, yang paling sering terjadi adalah akibat septikemi atau
sebagai fenomena septik emboli, sekunder dari fokus infeksi dari bagian lain
tubuhnya seperti iricuspid valve endocarditis. Penyebaran hematogen ini umumnya
akan terbentuk abses multipel dan biasanya disebabkan oleh stafilokokus.
Penanganan abses multiple dan kecil-kecil adalah lebih sulit dariabses single
ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 5
walaupun ukurannya besar. Secara umum diameter abses paru bervariasi dari
beberapa mm sampai dengan 5 cm atau lebih. Disebut abses primer bila infeksi
diakibatkan aspirasi atau pneumonia yang terjadi pada orang normal, sedangkan abses
sekunder bila infeksi terjadi pada orang yang sebelumnya sudah mempunyai kondisi
seperti obstruksi, bronkiektasis dan gangguan imunitas. 2
Selain itu abses paru dapat terjadi akibat necrotizing pneumonia yang
menyebabkan terjadinya nekrosis dan pencairan pada daerah yang mengalami
konsolidasi, dengan organisme penyebabnya paling sering ialah Staphylococcus
maureus, Klabsiella pneumonia dan grup Pseudomonas. Abses yang terjadi biasanya
multiple dan berukuran kecil (<2 cm).2
Bulla atau kista yang sudah ada bisa berkembang menjadi abses paru.Kista
bronkogenik yang berisi cairan dan elemen sekresi epitel merupakan media kultur
untuk tumbuhnya mikroorganisme. Bila kista tersebut mengalami infeksioleh
mikroorganisme yang virulens maka akan terjadilah abses paru. Abses hepar bakterial
atau amubik bisa mengalami rupture dan menembusdiafragma yang akan
menyebabkan abses paru pada lobus bawah paru kanan danrongga pleura. Abses paru
biasanya satu (singel), tapi bisa multipel yang biasanyaunilateral pada satu paru, yang
terjadi pada pasien dengan keadaan umum yangjelek atau pasien yang mengalami
penyakit menahun seperti malnutrisi, sirosishati, gangguan imunologis yang
menyebabkan daya tahan tubuh menurun, atau penggunaan sitostatika. Abses akibat
aspirasi paling sering terjadi pada segmen posterior lobus atas dan segmen apical
lobus bawah, dan sering terjadi pada paru kanan, karena bronkus utama kanan lebih
lurus dibanding kiri. Abses bisa mengalami rupture ke dalam bronkus, dengan isinya
diekspektorasikan keluar dengan meninggalkan kavitas yang berisi air dan udara.
Kadang-kadang abses ruptur ke rongga pleura sehingga terjadi empyema yang bisa
diikuti dengan terjadinya fistula bronkopleura.2
Faktor predisposisi terjadinya abses paru :
a. Kondisi-kondisi yang memudahkan terjadinya aspirasi:

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 6
1. Gangguan kesadaran: Alkoholisme, epilepsi/kejang sebab lain, Gangguan
serebrovaskular, anestesi umum, penyalahgunaan obatintravena, koma, trauma,
sepsis.
2. Gangguan esophagus dan saluran cerna lainnya: Gangguanmotilitas.
3. Fistula trakeoesopageal.
b. Sebab-sebab Iatrogenik
c. Penyakit-penyakit periodontal
d. Kebersihan mulut yang buruk
e. Pencabutan gigi
f. Pneumonia akut
g. Immunosupresi
h. Bronkiektasis
i. Kanker paru
j. Infeksi saluran napas atas dan bawah yang belum teratasi. Pasien HIV yang terkena
abses paru pada umumnya mempunyai status immunocompromised yang sangat jelek
(kadar CD4<50/mm3), dan kebanyakan didahului oleh infeksi terutama infeksi paru.2

2.6 Diagnosis
2.6.1 Anamnesis
Onset penyakit bisa berjalan lambat atau mendadak/akut.disebut abses akut
bila terjadinya kurang dari 4-6 minggu. Umumnya pasien mempunyai riwayat
perjalanan penyakit 1-3 minggu dengan gejala awal adalah badan terasa lemah, tidak
nafsu makan, penurunan berat badan, batuk kering, keringat malam,demam
intermitten bisa disertai menggigil dengan suhu tubuh mencapai 39,4C atau lebih.
Tidak ada demam tidak menyingkirkan adanya abses paru. Setelah beberapa hari
dahak bisa menjadi purulent dan bisa mengandung darah.2
Kadang-kadang kita belum curiga adanya abses paru sampai dengan abses
tersebut menembus bronkus dan mengeluarkan banyak sputum dalam beberapa jam
sampai dengan beberapa hari yang masih mengandung jaringan paru yang
ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 7
mengalami ganggren. Sputum yang berbau amis dan berwarna anchovy menunjukkan
penyebabnya bakteri anaerob dan disebut dengan putrid abscesses, tetapi tidak
didapatkannya sputum dengan ciri di atas tidak menyingkirkan kemungkinan infeksi
anaerob. Bila terdapat nyeri dada menunjukkan keterlibatan pleura. Batuk darah bisa
dijumpai, biasanya ringan tetapi ada yang masif.2
2.6.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisis yang ditemukan adalah suhu badan meningkat sampai 40C,
pada paru ditemukan kelainan seperti nyeri tekan local, pada daerah terbatas perkusi
terdengar redup dengan suara napas bronkial. Bila abses luas dan letaknya dekat
dengan dinding dada kadang kadang terdengar suara amforik. Suara napas bronkial
atau amforik terjadi bila kavitasnya besar dan karena bronkus masih tetap dalam
keadaan terbuka disertai adanya konsolidasi sekitar abses dan drainase abses yang
baik. Biasanya juga akan terdengar suara ronkhi.2
Bila abses paru letaknya dekat pleura dan pecah akan terjadi piotoraks
(empiema torakis) sehingga pada pemeriksaan fisik ditemukan pergerakan dinding
dada tertinggal pada tempat lesi, fremitus vokal menghilang, parkusi redup/pekak,
bunyi napas menghilang dan terdapat tanda-tanda pendorongan mediastinum
terutama pendorongan jantung ke arah kontra lateral tempat lesi. Pada abses paru
dijumpai jari tabuh, yang proses terjadinya berlangsung cepat.2

2.6.3 Pemeriksaan Radiologi


a. Foto X-ray
Foto dada PA dan lateral sangat membantu untuk melihat lokasi lesi dan
bentuk abses paru. Pada hari-hari pertama penyakit, foto dada hanya menunjukkan
gambaran opak dari satu atau lebih segmen paru, atau hanya berupa gambaran
densitas homogeny yang berbentuk bulat. Kemudian akan ditemukan gambaran
radiolusen dalam bayangan infiltrat yang padat. Selanjutnya bila abses tersebut
mengalami ruptur sehingga terjadi drainase abses yang tidak sempurna
kedalambronkus, maka baru akan tampak kavitas irregular dengan batas cairan dan
ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 8
permukaan udara (air fluid level) di dalamnya. Gambaran spesifik ini tampak dengan
mudah bila kita melakukan foto dada PA dengan posisi berdiri. Khas pada abses paru
anaerobic kavitasnya single (soliter) yang biasanya ditemukan pada infeksi paru
primer, sedangkan abses paru sekunder (aerobic, nosocomial atau hematogen) lesinya
bisa multipel. Sepertiga kasus abses paru bisa disertai dengan empiema. Empiema
yang terlokalisir dan disertai dengan fistula bronkopleura akan sulit dibedakan
dengan gambaran abses paru. Untuk suatu gambaran abses paru simple, noduler dan
disertai limfadenopati hilus maka harus dipikirkan sebabnya adalah suatu keganasan
paru.2

Gambar 4.(A) Abses paru yang besar dengan air-fluid level di bagian distal pada
suatu karsinoma hilus. Lobus kanan atas kolaps disertai dengan emfisema sebagai
kompensasi. (B) Tampak penebalan pada fissura obliq yang bersebelahan dengan
abses (panah).

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 9
Gambar 5.Abses Paru Foto Postero-Anterior

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 10
Gambar 6. Abses Paru Foto Lateral
b. CT-Scan
CT scan bisa menunjukkan tempat lesi yang menyebabkan obstruksi
endobronkial, dan gambaran abses tampak seperti massa bulat dalam paru dengan
kavitas sentral berdinding tebal, tidak teratur, dan terletak didaerah jaringan paru
yang rusak. Tampak bronkus dan pembuluh darah paru berakhir secara mendadak
pada dinding abses, tidak tertekan atau berpindah letak.CT scan juga bias
menunjukkan lokasi abses berada dalam parenkim paru yang membedakannyadari
empyema. Gambaran empyema karakteristik, yaitu tampak pemisahan pleura parietal
dan visceral (pleura split) dan kompresi paru. Lokalisasi abses paru umumnya 75%
berada di lobus bawah paru kanan bawah.1,2

Gambar 9.CT-Scan Abses Paru

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 11
Gambar 10.Potongan aksial dari CT-Scan Thorax, menggambarkan multilokular
abses dengan double air-fluid level pada pasien pria usia 39 tahun dengan abses paru
dan penanganan yang tidak berhasil.
Lesi-lesi yang bisa mengakibatkan terjadinya abses paru bakterial meliputi
karsinoma bronkogenik dengan kavitas, bronkiektasis, empiema sekunder dari fistula
bronkopleura, tuberkulosis paru, cocciodomycosis dan infeksi jamur pada paru, bulla
atau kista udara yang mengalami infeksi, perlunakan/skuesterisasi paru, nodul silikat
dengan sianosis sentral, abses hepar atau subfrenik akibat amuba atau hidatid yang
menembus ke bronkus dan Wageners granulomatosis.Pemeriksaan diagnostic secara
seksama seperti yang disebutkan di atas harusdilakukan untuk membedakannya dari

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 12
abses paru biasa (simpel). Klinisi harus tetap waspada bahwa kavitas paru yang ada
bukan suatu abses paru.2
Diagnosa banding dari abses paru antara lain sebagai berikut:
1. Penyebab infeksi: tuberculosis, bulla infeksi, emboli septik,2
2.Penyebab bukan infeksi: kavitas oleh karena keganasan, Wagenersgranulomatosis,
nodul rheumatoid, vaskulitis, sarkoidosis, infark paru, kongenital (bulla, kista, bleb).2

2.6.4 Laboratorium
Hitung leukosit umumnya tinggi berkisar 10.000-30.000/mm dengan hitung
jenis bergeser ke kiri dan sel polimorfonuklear yang banyak terutama netropil yang
immature. Bila abses berlangsung lama sering ditemukan adanya anemia.
Pemeriksaan dahak dapat membantu dalam menemukan mikroorganisme penyebab
abses, namun dahak tersebut hendaknya diperoleh dari aspirasi transtrakheal,
transtorakal atau bilasan/sikatan bronkus, karena dahak yang dibatukkan akan
terkontaminasi dengan organisme anaerobic normal pada rongga mulut dan saluran
napas atas. Prosedur invasive ini tidak bisa dilakukan, kecuali bila respons terhadap
antibiotic tidak adekuat. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dari dahak adalah
pewarnaan langsung dengan teknik gram, biakan, mikroorganisme aerob, anaerob,
jamur, Nokardia, basil mikobakterium tuberculosis dan mikobakterium lain. Dahak
bisa mengandung Spirochaeta,fusiform bacilli atau sejumlah besar bakteri baik yang
pathogen maupun flora manusia seperti Streptococcus viridian. Klostridium dapat
ditemukan dari aspirasi transtrakeal. Kultur darah dapat membantu menemukan
etiologi, sedangkan pemeriksaan aerologi juga dapat dilakukan untuk jamur dan
parasite.2

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 13
5. Pemeriksaan Patologi Anatomi

Gambar 11.Gambaran histopatologis dari abses paru menunjukkan reaksi inflamasi.

2.6.5 Pemeriksaan Melalui Aspirasi Jarum Perkutan


Cara ini mempunyai akurasi tinggi untuk diagnosis bakteriologis, dengan
spesifisitas melebihi aspirasi transtrakeal.2

2.7 Deferential Diagnosis


1. Karsinoma Bronkogen
Pemeriksaaan radiologik untuk membantu diagnosis karsinoma
parubermacam-macam, antara lain bronkografi invasif, CT-Scan, serta pemeriksaan
radiologik konvensional (thorax PA, lateral, fluoroskopi). Beberapa kelainan seperti
emfisema setempat, atelektasis, pembesaran hilus unilateral, serta kavitas dapat
dicurigai sebagai suatu keganasan.13Berdasarkan histologinya, karsinoma bronkogen
terdiri atas 4 jenis sel, yakni: adenocarcinoma, squamous cell carcinoma,
undifferentiated large cellcarcinoma, dan small cell carcinoma. Squamous cell
carcinoma merupakan jenis sel yang paling sering memberikan gambaran radiologik

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 14
berupa kavitas, yakni pada sekitar 10% dari kasus. Sedangkan karsinoma
bronkioloalveolar (adenocarcinoma) adalah jenis karsinoma bronkogen kedua
terbanyak setelahsquamous cell carcinoma yang pada gambaran radiologiknya
menunjukkan kavitasi.9

Gambar 12. Bronchioloalveolar carcinoma pada pria 39 tahun dengan sputum darah
dan nyeri dada pleuritik.(a) Foto Thorax PA yang menggambarkan konsolidasi dan
kavitas pada paru kiri atas segmen lingular. (b) CT-Scan Thorax (window paru)
menunjukkan gambaran kavitas dengan konsolidasi pada parenkim paru. Nampak air
bronchogram pada sekitar kavitas. Pada pembedahan, ditemukan kavitas 8,4 x 6,4 x
3,5 cm pada bronchioloalveolar carcinoma dengan perluasan langsung ke pleura
visceralis. Meskipun tampak tanda-tanda demikian, gambaran paling sering pada
bronchioalveolar carcinoma adalah nodul soliter pada paru.
2. Tuberkulosis Paru dengan kavitas
Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru (segmen apical lobus
atas atau segmen apikal lobus bawah), tetapi dapat pula mengenai lobus bawah atau

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 15
di daerah hilus (misalnya pada tuberkulosis endobrakial).Pada awal penyakit, lesi
masih merupakan sarang-sarang pneumonia, dengan gambaran radiologik berupa
bercak berawan dengan batas yang tidak tegas. Bila sudah diliputi jaringan ikat maka
terlihat bayangan berupa bulatan dengan batas tegas. Lesi ini lebih dikenal dengan
tuberkuloma. Selain itu, nampak pula kavitas, yakni bayanganberupa cincin.9

1.8 Klasifikasi
Klasifikasi abses paru dibagi atas abses paru primer dan sekunder. Disebut
abses primer bila abses terjadi akibat aspirasi atau pneumoni. Abses sekunder terjadi
akibat infeksi pada orang yang sebelumnya sudah mempunyai kondisi seperti
obstruksi akibat neoplasma saluran, bronkiektasis, komplikasi operasi intrathoraks,
penyebaran dari tempat luar paru, septik emboli atau kondisi sistemik/pengobatan
yang menyebabkan gangguan imunitas (HIV, Immunosupresion).2
Klasifikasi lain dibagi berdasarkan lamanya jangka waktu abses tersbut
terdiagnosis, akut bila < 1 bulan (<4-6minggu), kronik bila > dari itu.2

2.9 Penatalaksanaan
2.9.1 Non-operatif
Tujuan utama pengobatan pasien abses paru adalah eradikasi secepatnya dari
patogen penyebab dengan pengobatan yang cukup, drainase yang adekuat dari
empiema dan pencegahan komplikasi yang terjadi.2
Pasien abses paru memerlukan istirahat yang cukup. Bila abses paru pada foto
dada menunjukkan diameter 4 cm atau lebih sebaiknya pasien dirawat inap. Posisi
berbaring pasien hendaknya miring dengan paru yang terkena abses berada di atas
supaya gravitasi drainase lebih baik.Bila segmen superior lobus bawah yang terkena,
maka hendaknya bagian atas tubuh pasien/kepala berada di bagian terbawah (posisi
trendelenberg). Diet biasanya bubur biasa dengan tinggi kalori tinggi protein. Bila
abses telah mengalami resolusi dapat diberikan nasi biasa.2
Penyembuhan sempurna abses paru tergantung dari pengobatan antibiotic
yang adekuat dan diberikan sedini mungkin segera setelah sampel dahak dan darah

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 16
diambil untuk kultur dan tes sensitivitas. Kebanyakan kasus abses paru yang
disebabkan bakteri anaerob kumannya tidak dapat ditentukan dengan pasti, sehingga
pengobatan diberikan secara empiric. Kebanyakan pasien mengalami perbaikan
hanya dengan antibiotik dan postural drainage, sedangkan kira-kira10% harus
dilakukan tindakan operatif.2
Kemudian antibiotik diberikan sesuai dengan hasil tes sensitivitas. Abses paru
yang disebabkan stafilokokus harus diobati dengan penicilinase-resistantpenicillin
atau sefalosporin generasi pertama, sedangkan untuk Staphylococus aureus yang
methicillin resistant seperti yang disebabkan oleh emboli paru septik nasokomial,
pilihannya adalah vankomisin. Abses paru yang disebabkan nocardiapilihannya
adalah sulfonamide 3x1 gram oral. Abses paru amubik diberikan metronidazol 3x750
mg, sedangakan bila penyakitnya serius seperti terjadi rupture dari abses harus
ditambahkan emetin parentral pada 5 hari pertama.2
Antibiotik diberikan sampai dengan pneumonitis telah mengalami resolusi
dan kavitasnya hilang, tinggal berupa lesi sisa yang kecil dan stabil dalam waktu
lebih dari 2-3 minggu.Resolusi sempurna biasanya membutuhkan waktu pengobatan
6-10 minggu dengan pemberian antibiotik oral sebagai pasien rawat jalan. Pemberian
antibiotik yang kurang dari waktu ini sering menyebabkan kekambuhan dengan
melibatkan organisme yang resisten terhadap antibiotic yangdiberikan sebelumnya.2
Perbaikan klinis berupa berkurang atau hilangnya demam tercapai dalam 3-4
minggu sampai dengan 7-10 hari.2
Bronkoskopi juga mempunyai peranan penting dalam penanganan abses paru
seperti pada kasus yang dicurigai karsinoma bronkus atau lesi obstruksi, pengeluaran
benda asing atau untuk melebarkan striktur. Di samping itu dengan bronkoskopi dapat
dilakukan aspirasi dan pengosongan abses yang tidak mengalami drainase yang
adekuat, serta dapat diberikannya larutan antibiotic melewati bronkus langsung ke
lokasi abses.2

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 17
Drainase dengan tindakan operasi jarang diperlukan karena lesi biasanya
respons dengan antibiotic. Bila tidak respons, apalagi bila kavitasnya besar maka
harus dilakukan drainase perkutan untuk mencegah kontaminasi pada rongga pleura.2
2.9.2 Tindakan Operatif
Tindakan operasi diperlukan pada kurang dari 10-20% kasus. Indikasi operasi
adalah sebagai berikut:
a. Abses paru yang tidak mengalami perbaikan.2
b. Komplikasi : empiema, hemoptysis masif, fistula bronkopleura.2
c. Pengobatan penyakit yang mendasari : karsinoma obstruksi primer/metastasis,
pengeluaran benda asing, bronkiektasis, gangguan motilitas gastroesopageal,
malformasi atau kelainan congenital.2
Abses paru yang berkembang cepat antara lain yang terjadi pada pasien
immunocompromised dengan etiologi seperti mucoraceae membutuhkan reseksi paru
dengan segera disamping pemberian antibiotic. Reseksi paru juga diindikasikan pada
abses paru yang responnya minimal dengan antibiotik, abses paru dengan ukuran
yang besar dan infark paru.2
Lobektomi merupakan prosedur paling sering, sedangkan reseksi segmental
biasanya cukup untuk lesi-lesi yang kecil. Pneumoektomi diperlukan terhadap abses
multipel atau gangren paru yang refrakter terhadap penanganan dengan obat-obatan.
Angka mortalitas setelah pneumoektomi mencapai 5%-10%.2
Pasien dengan risiko tinggi untuk operasi maka untuk sementara dapat
dilakukan drainase perkutan via kateter secara hati-hati untuk mencegah kebocoran
isi abses ke dalam rongga pleura.2

2.10 Komplikasi
Komplikasi lokal meliputi penyebaran infeksi melalui aspirasi melewati
bronkus atau penyebaran langsung melalui jaringan sekitarnya. Abses paru yang
drainasenya kurang baik, bisa mengalami ruptur kesegmen lain dengan
kecenderungan penyebaran infeksi staphylococcus, sedang yang rupture ke rongga
ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 18
pleura menjadi piotoraks (empiema). Komplikasi sering lainnya berupa abses otak,
hemoptysis masif, ruptur pleura viseralis sehingga terjadi piopneumotoraks dan
fistula bronkopleura.2
Abses paru yang resisten (kronik), yaitu yang resisten dengan pengobatan
selama 6 minggu, akan menyebabkan kerusakan paru yang permanen dan mungkin
akan menyisakan suatu bronkiektasis, kor pulmonal, dan amiloidosis. Abses paru
kronik bisa menyebabkan anemia, malnutrisi, kakeksia, gangguan cairan dan
elektrolit serta gagal jantung terutama pada manula.2

2.11 Prognosis
Prognosis abses paru simpel terutama tergantung dari keadaan umum pasien,
letak abses serta luasnya kerusakan abses yang terjadi, dan respons pengobatan yang
kita berikan. Angka mortalitas pasien abses paru pada era antibiotik kurang dari 10%,
dan kira-kira 10-15% memerlukan operasi. Di zaman era antibiotik sekarang angka
penyembuhan mencapai 90-95% . Bila pengobatan diberikan dalam jangka waktu
cukup lama angka kekambuhannya rendah.2
Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi jelek adalah kavitas yang
besar (lebih dari 6 cm), panyakit dasar yang berat, status immunocompromised ,umur
yang sangat tua, empiema, nekrosis paru yang progresif, lesi obstruktif, abses yang
disebabkan bakteri aerobik (termasuk Staphylococcus aereus dan basil gram negatif),
dan abses paru yang belum mendapat pengobatan dalam jangka waktu yang lama.
Angka mortalitas pada pasien-pasien ini bisa mencapai 75% dan bila sembuh maka
angka kekambuhannya tinggi.2

2.12 Pencegahan
Perhatian khusus ditujukan kepada kebersihan mulut. Kebersihan mulut yang
jelek dan penyakit-penyakit periodontal bisa menyebabkan kolonisasi bakteri patogen
orofaring yang akan menyebabkan infeksi saluran napas sampai dengan abses paru.
Setiap infeksi paru akut harus segera diobati sebaik mungkin terutama bila

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 19
sebelumnya diduga ada faktor yang memudahkan terjadinya aspirasi seperti pada
pasien manula yang dirawat di rumah, batuk yang disertai muntah,adanya benda
asing, kesadaran yang menurun dan pasien yang memakai ventilasi mekanik.
Menghindari pemakaian anestesi umum pada tonsilektomi, pencabutan abses gigi dan
operasi sinus para nasal akanmenurunkan insiden abses paru.2

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 20
DAFTAR PUSTAKA

1. Darmanto R. Respirologi. Edisi:I. Jakarta; EGC; 2009.Hal.143.


2. Rasyid A. Abses paru. Dalam: Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I, Simadibrata
KM, Setiati S, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid III. Edisi V.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. hal.2323-2327.
3. Haryadie R. Lung abscess. [online] 2012 June 11 [cited 2012 Juli 30]. Avai
lable from: URL:http://dokterbook.com/
4. Kumar, Cotran S, Robbind L. Buku Ajar Patologi. Vol.2. Edisi 7.
Jakarta:EGC; 2007. hal. 556
5. Yunus M. CT guided transthoracic catheter drainage of intrapulmonary
abscess. J Pak Med Assoc. 2009; 59 (10): 703-8
6. Koziel H. Lung abscess. [online] 2006 [cited 2011 April 20]. Available from:
URL: http://www.scribd.com/doc/28978474/Lung-Abscess
7. Price A,Wilson M. Patofisiologi. Vol. 2.Edisi 6. Jakarta: EGC;2005. hal.737
8. Leung A.N. Pulmonary tuberculosis: the essentials. Radiology.1999; 210:307-
22. Diposkan oleh Nasriyadi Nasir di 23:20 Label: Health, Internal Medicine,
Radiology .
9. Luhulima JW. Systema respiratorium. Makassar: Bagian Anatomi FK Unhas;
2004. hal.1, 159

ABSES PARU
SMF ILMU KESEHATAN PARU 21