Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH FARMASI

HIPERTENSI

Oleh:
Gabriella Diandra Nurbianto
G99142118

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR MOEWARDI

SURAKARTA

2015

1
BAB I
PENDAHULUAN

Tekanan darah merupakan faktor yang amat penting pada sistem sirkulasi.
Peningkatan atau penurunan tekanan darah akan mempengaruhi homeostatsis di
dalam tubuh. Tekanan darah selalu diperlukan untuk daya dorong mengalirnya
darah di dalam arteri, arteriola, kapiler dan sistem vena, sehingga terbentuklah
suatu aliran darah yang menetap. Terdapat dua macam kelainan tekanan darah
darah, antara lain yang dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi dan
hipotensi atau tekanan darah rendah (Ibnu, 1996).
Hipertensi merupakan salah satu penyebab paling penting dari kematian
dini karena erat kaitannya dengan resiko penyakit kardiovaskuler (Erceg, 2009).
Seorang pasien disebut hipertensi jika tekanan darah sistoliknya lebih tinggi atau
sama dengan 140 mm Hg serta tekanan darah diastoliknya lebih tinggi atau sama
dengan 90 mm Hg atau ketika seseorang sedang mengonsumsi obat antihipertensi
untuk mengontrol tekanan darah (Yagiela & Haymore, 2007).
Prevalensi hipertensi di Indonesia pada tahun 2005 adalah 8.3%
(pengukuran standar WHO yaitu pada batas tekanan darah normal 140/90
mmHg). Pada tahun 2010 prevalensi penderita hipertensi di indonesia mencapai
21% (pengukuran standart Depkes yaitu pada batas tekanan darah normal 139/89
mmHg). Selanjutnya akan diestimasi akan meningkat menjadi 37% pada tahun
2015 dan menjadi 42% pada tahun 2025 (Zamhir, 2006 dalam Eka, 2011).
Kasus hipertensi di beberapa Provinsi di Indonesia sudah melebihi rata-
rata nasional, dari 33 Provinsi di Indonesia terdapat 8 Provinsi yang kasus
penderita hipertensi melebihi rata-rata nasional yaitu: Sulawesi Selatan (27%),
Sumatera Barat (27%), Jawa Barat (26%), Jawa Timur (25%), Sumatera Utara
24%, Sumatera Selatan (24%), Riau (23%), dan Kalimantan timur (22%).
Sedangkan dalam perbandingan kota di Indonesia kasus hipertensi cenderung
tinggi pada daerah urban seperti: Jabodetabek, Medan, Bandung, Surabaya, dan
Makassar yang mencapai 30-34%. (Zamhir, 2006 dalam Eka, 2011).

2
Gejala hipertensi pada umumnya tidak nyata, banyak yang sudah terlambat
dan berkomplikasi barulah di ketahui penyebabnya. Seseorang yang mempunyai
penyakit darah tinggi mempunyai resiko besar terhadap penyakit lainnya, tidak
hanya penyakit jantung koroner saja tapi penyakit gagal ginjal , kebutaan dan
stroke bisa saja terjadi.
Makin tinggi tekanan darah seseorang maka semakin tinggi pula
resikonya, maka dari itu seseorang harus mengetahui tekanan darahnya karena
Hipertensi merupakan penyakit yang mempunyai tingkatan agar mendapat
perhatian dan perawatan sedini mungkin, karena dengan perawatan yang tepat dan
cepat dapat mencegah hal hal yang mengerikan seperti stroke. Penatalaksanaan
hipertensi ini memerlukan waktu yang lama dan melibatkan berbagi profesi
tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan ahli gizi.
Banyaknya kejadian harus mendapatkan perhatian serius mengingat
banyaknya resiko terjadinya komplikasi, maka peran tenaga medis termasuk juga
perawat adalah merawat pasien hipertensi dan berusaha untuk memotifasi klien
untuk berusaha berobat dan menerapkan pola hidup sehat dan dan berolahraga
secara teratur.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN HIPERTENSI
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg.
Pada populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps, 2005).

B. KLASIFIKASI HIPERTENSI
Menurut Rahmawati, 2006, JNC VIII mengklasifikasi hipertensi untuk

usia 18 tahun, klasifikasi hipertensi tersebut dapat kita lihat pada tabel

berikut:

Tabel Klasifikasi Hipertensi untuk usia 18 Tahun

Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik


Klasifikasi
(mmHg) (mmHg)
Normal <120 <80
Pre Hipertensi 120-139 80-89
Stadium I 140-159 90-99
Stadium II 160 100

Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi menjadi dua golongan:


1. Hipertensi primer (esensial) adalah suatu peningkatan persisten tekanan
arteri yang dihasilkan oleh ketidakteraturan mekanisme kontrol
homeostatik normal. Hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya dan
mencakup 90% kasus hipertensi (Wibowo, 1999).
2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi persisten akibat kelainan dasar
kedua selain hipertensi esensial. Hipertensi ini penyebabnya diketahui dan
ini menyangkut 10% dari kasus-kasus hipertensi (Sheps, 2005).
Berdasarkan bentuk hipertensi, yaitu hipertensi diastolik, campuran,
dan sistolik. Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) adalah peningkatan
tekanan diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik. Biasanya
ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. Hipertensi campuran (sistol dan

4
diastol yang meninggi) adalah peningkatan tekanan darah pada sistol dan
diastol. Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension) adalah peningkatan
tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan diastolik. Umumnya
ditemukan pada usia lanjut (Gunawan, 2001).

C. ETIOLOGI HIPERTENSI
Corwin (2000) menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada
kecepatan denyut jantung, volume sekuncup dan Total Peripheral Resistance
(TPR). Maka peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak
dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi.
Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan
abnormal saraf atau hormon pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut
jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidisme.
Namun, peningkatan kecepatan denyut jantung biasanya dikompensasi oleh
penurunan volume sekuncup atau TPR, sehingga tidak meninbulkan hipertensi
(Astawan, 2002).
Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi
apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat
gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang
berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun penurunan
aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal.
Peningkatan volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik
akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah.
Peningkata preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik
(Amir, 2002).
Total Peripheral Resistence yang berlangsung lama dapat terjadi pada
peningkatan rangsangan saraf atau hormon pada arteriol, atau responsivitas
yang berlebihan dari arteriol terdapat rangsangan normal. Kedua hal tersebut
akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pada peningkatan Total
Peripheral Resistence, jantung harus memompa secara lebih kuat dan dengan
demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar, untuk mendorong darah
melintas pembuluh darah yang menyempit. Hal ini disebut peningkatan dalam

5
afterload jantung dan biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan
diastolik. Apabila peningkatan afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri
mungkin mulai mengalami hipertrifi (membesar). Dengan hipertrofi,
kebutuhan ventrikel akan oksigen semakin meningkat sehingga ventrikel harus
mampu memompa darah secara lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan
tesebut. Pada hipertrofi, serat-serat otot jantung juga mulai tegang melebihi
panjang normalnya yang pada akhirnya menyebabkan penurunan
kontraktilitas dan volume sekuncup (Hayens, 2003).

D. FAKTOR RISIKO HIPERTENSI


Hipertensi esensial adalah penyakit multifalktorial yang timbul karena
interaksi antara faktor-faktor risiko tertentu. Faktor-faktor risiko tersebut
antara lain (Yogiantoro, 2006):
1. Diet dan asupan garam, stres,
ras, obesitas, merokok, dan genetik;
2. Sistem saraf simpatis: tonus
simpatis, variasi diurnal;
3. Keseimbangan antara
modulator vasodilatasi dan vasokontriksi;
4. Pengaruh sistem otokrin
setempat terhadap sistem renin, angiotensin, dan aldosteron.
Selain faktor risiko di atas, pada JNC 7 dilaporkan dalam rangka
mengetahui prognosis dan pedoman terapi pada penderita hipertensi perlu
memperhatikan faktor-faktor risiko kardiovaskuler sebagai berikut:
1. Hipertensi,
2. Usia (laki-laki usia > 55 tahun, perempuan > 65 tahun),
3. Diabetes mellitus,
4. Peningkatan kadar LDL-kolesterol (atau kolesterol total) atau penurunan
kadar HDL-kolesterol,
5. Mikroalbuminuria,
6. Glomerulus Filtration Rate (GFR) < 60 ml/menit,
7. Riwayat keluarga penyakit kardiovaskuler dini (laki-laki usia < 55 tahun
atau perempuan usia < 65 tahun),
8. Obesitas (IMT 30 kg/m2),
9. Inaktivitas fisik,

6
10. Perokok.
(National Institutes of Health, 2004)

E. PATOFISIOLOGI HIPERTENSI
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan
abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls
yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik
ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor
seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitif
terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal
tersebut bisa terjadi (Corwin, 2001)
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga
terangsang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal
mengsekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal
mengsekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon
vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan
aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang
pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II,
suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi
aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan
air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler.
Semua faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi (Dekker, 1996).
Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah
perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada
lanjut usia. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas

7
jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang
pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh
darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya
dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume
sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan
perifer (Corwin, 2001).

F. GEJALA KLINIS HIPERTENSI


Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menunjukkan gejala
sampai bertahun-tahun. Oleh karena itulah hipertensi dikenal sebagai silent
killer. Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan
darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti
pendarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan
pada kasus berat akan mengalami edema pupil.
Corwin (2000), menyebutkan bahwa sebahagian besar gejala klinis
timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun:
1. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat
peningkatan tekanan darah intrakranial
2. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi.
3. Ayunan langkah yang tidak mantap akibat susunan saraf pusat telah rusak
4. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus
5. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler
Gejala lainnya yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu
pusing, muka merah, sakit kepala, keluarnya darah dari hidung secara tiba-
tiba, tengkuk terasa pegal dan lain-lain.
G. DIAGNOSIS HIPERTENSI
Diagnosis yang akurat merupakan langkah awal dalam
penatalaksanaan hipertensi. Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat
hipertensi dan lamanya menderita, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang
berkaitan dengan penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit
serebrovaskuler, dan lain-lain. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam

8
keluarga dan gejala-gejala yang berkaitan dengan penyebab hipertensi,
perubahan aktivitas/ kebiasaan merokok, konsumsi makanan, riwayat obat-
obatan bebas, faktor lingkungan, pekerjaan, psikososial, dan sebagainya.
Akurasi cara pengukuran tekanan arah dan alat ukur yang digunakan,
serta ketepatan waktu pengukuran. Pengukuran tekanan darah dianjurkan
dilakukan pada posisi duduk setelah beristirahat 5 menit dan 30 menit bebas
rokok dan kafein (Prodjosudjadi, 2000). Pengukuran tekanan darah posisi
berdiri atau berbaring dapat dilakukan pada keadaan tertentu. Sebaiknya alat
ukur yang dipilih adalah sfigmamonometer air raksa dengan ukuran cuff yang
sesuai. Balon di pompasampai 20-30 mmHg di atas tekanan sistolik yaitu saat
pulsasi nadi tidak teraba lagi, kemudian dibuka secara perlahan-lahan. Hal ini
dimaksudkan untuk menghindari auscultatory gap (hilangnya bunyi setelah
bunyi pertama terdengar yang disebabkan oleh kekakuan arteri)
(Prodjosudjadi, 2000).
Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali
pengukuran, hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran
pada kunjungan yang berbeda, kecuali terdapat kenaikan yang tinggi atau
gejala-gejala klinis. Pengukuran pertama harus dikonfirmasikan pada
sedikitnya 2 kunjungan lagi dalam waktu satu sampai beberapa minggu.
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk mengetahui penyerta
maupun komplikasi pada organ target. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan
berupa:
1. Test darah rutin
2. Glukosa darah (sebaiknya puasa)
3. Kolesterol total serum, kolesterol LDL dan HDL serum, trigliserida serum
4. Asam urat, kreatinin, kalium dalam serum
5. Hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Hct)
6. Urinalisis (uji carik celup serta sedimen urin)
7. Elektrokardiogram (EKG)
Evaluasi pasien hipertensi juga diperlukan untuk menentukan adanya
penyakit penyerta sistemik, yaitu:
1. Aterosklerosis (melalui pemeriksaan profil lemak);
2. Diabetes (terutama pemeriksaan gula darah);
3. Fungsi ginjal (dengan pemeriksaan proteinuria, kreatinin serum, serta
memperkirakan laju filtrasi glomerulus).

9
Yang perlu diperhatikan adalah tes mendalam untuk mencari penyebab
hipertensi tidak dianjurkan kecuali jika dengan terapi memadai, target tekanan
darah tidak tercapai (Yogiantoro, 2006).

H. PENATALAKSANAAN
Pengendalian faktor risiko penyakit jantung koroner yang dapat saling
berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi, hanya terbatas pada faktor risiko
yang dapat diubah, dengan usaha-usaha sebagai berikut (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2006):
1. Mengatasi obesitas/menurunkan kelebihan berat badan.
Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi hipertensi
pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi
pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang
yang badannya normal. Sedangkan, pada penderita hipertensi ditemukan
sekitar 20-33% memiliki berat badan lebih (overweight). Dengan
demikian obesitas harus dikendalikan dengan menurunkan berat badan.
2. Mengurangi asupan garam di dalam tubuh.
Nasehat pengurangan garam, harus memperhatikan kebiasaan makan
penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit
dilaksanakan. Batasi sampai dengan kurang dari 5 gram (1 sendok teh )
per hari pada saat memasak.
3. Ciptakan keadaan rileks
Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat
menontrol sistem syaraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.
4. Melakukan olah raga teratur
Berolahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit
sebanyak 34 kali dalam seminggu, diharapkan dapat menrnbah kebugaran
dan memperbaiki metabolisme tubuh yang ujungnya dapat mengontrol
tekanan darah.
5. Berhenti merokok
Merokok dapat menambah kekakuan pembuluh darah sehingga dapat
memperburuk hipertensi. Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon
monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah
dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri, dan mengakibatkan
proses artereosklerosis, dan tekanan darah tinggi. Pada studi autopsi,

10
dibuktikan kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan adanya
artereosklerosis pada seluruh pembuluh darah. Merokok juga
meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk disuplai ke
otot-otot jantung. Merokok pada penderita tekanan darah tinggi semakin
meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri. Tidak ada cara
yang benar-benar efektif untuk memberhentikan kebiasaan merokok.
6. Mengurangi konsumsi alkohol.
Hindari konsumsi alkohol berlebihan
Penatalaksanaan penyakit hipertensi bertujuan untuk mengendalikan
angka kesakitan dan kematian akibat penyakit hipertensi dengan cara
seminimal mungkin menurunkan gangguan terhadap kualitas hidup penderita.
Pengobatan hipertensi dimulai dengan obat tunggal, masa kerja yang panjang
sekali sehari dan dosis dititrasi. Obat berikutnya mungkin dapat ditarnbahkan
selama beberapa bulan pertama perjalanan terapi. Pemilihan obat atau
kombinasi yang cocok bergantung pada keparahan penyakit dan respon
penderita terhadap obat anti hipertensi. Beberapa prinsip pemberian obat anti
hipertensi sebagai berikut:
1. Pengobatan hipertensi sekunder adalah menghilangkan penyebab
hipertensi
2. Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan darah
dengan harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya
komplikasi.
3. Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat anti
hipertensi.
4. Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang, bahkan
pengobatan seumur hidup.
JNC VIII merupakan klasifikasi hipertensi terbaru dari Joint National
Committee yang berpusat di Amerika Serikat sejak desember 2013. JNC VIII
telah merilis panduan baru pada manajemen hipertensi orang dewasa terkait
dengan penyakit kardiovaskuler. Para penulis membentuk Sembilan
rekomendasi yang dibahas secara rinci bersama dengan bukti pendukung.

11
Bukti diambil dari penelitian terkontrol secara acak dan diklasifikasikan
menjadi:
1. A: strong recommendation, terdapat tingkat keyakinan yang tinggi
berbasis bukti bahwa hal yang direkomendasikan tersebut memberikan
manfaat atau keuntungan yang substansial
2. B: moderate recommendation, terdapat keyakinan tingkat menengah
berbasis bukti bahwa rekomendasi yang diberikan dapat memberikan
manfaat secara moderate.
3. C: weak recommendation, terdapat setindaknya keyakinan tingkat
moderate berbasis bukti bahwa hal yang direkomendasikan memberikan
manfaat meskipun hanya sedikit.
4. D. recommendation against, terdapat setidaknya keyakinan tingkat
moderate bahwa tidak ada manfaat atau bahkan terdapat risiko atau bahaya
yang lebih tinggi dibandingkan manfaat yang bisa didapat.
5. E: expert opinion, bukti-bukti belum dianggap cukup atau masih belum
jelas atau terdapat konflik (misal karena berbagai perbedaan hasil), tetapi
direkomendasikan oleh komite karena dirasa penting untuk dimasukakan
di dalam guideline.
6. N: no recommendation for or against, tidak ada manfaat yang jelas
terbukti, keseimbangan antara manfaat dan bahaya tidak dapat ditentukan
karena tidak ada bukti-bukti yang jelas.
Terdapat 9 rekomendasi terbaru, yaitu:
1. Pada pasien berusia 60 tahun, mulai pengobatan farmakologis pada
tekanan darah sistolik 150 mmHg atau diastolik 90 mmHg dengan
target terapi untuk sistolik <150 mmHg dan diastolik <90 mmHg (grade
A).
2. Pada pasien berusia <60 tahun, mulai pengobatan farmakologis pada
tekanan darah diastolik 90 mmHg dengan target < 90 mmHg (untuk usia
30-59 tahun: grade A; untuk usia 18-29 tahun: grade E).
3. Pada pasien berusia <60 tahun, mulai pengobatan farmakologis pada
tekanan darah sistolik 140 mmHg dengan target terapi <140 mmHg
(grade E).
4. Pada pasien berusia 18 tahun dengan penyakit ginjal kronis, mulai
pengobatan farmakologis pada tekanan darah sistolik 140 mmHg atau

12
diastolik 90 mmHg dengan target terapi sistolik <140 mmHg dan
diastolik < 90 mmHg (grade E).
5. Pada pasien berusia 18 tahun dengan diabetes, mulai pengobatan
farmakologis pada tekanan darah sistolik 140 mmHg atau diastolik BP
90 mmHg dengan target terapi untuk sistolik gol BP <140mmHg dan
diastolik gol BP <90 mmHg (grade E).
6. Pada populasi umum bukan kulit hitam, termasuk orang-orang dengan
diabetes, pengobatan antihipertensi awal harus mencakup diuretik tipe
thiazide, CCB, ACE inhibitor atau ARB (grade B).
7. Pada populasi umum kulit hitam, termasuk orang-orang dengan diabetes,
pengobatan antihipertensi awal harus mencakup diuretic tipe thiazide atau
CCB (untuk penduduk kulit hitam umum: grade B, untuk pasien hitam
dengan diabetes: grade C).
8. Pada penduduk usia 18 tahun dengan penyakit ginjal kronis, pengobatan
awal atau tambahan antihipertensi harus mencakup ACE inhibitor atau
ARB untuk meningkatkan outcome ginjal (grade B).
9. Jika target tekanan darah tidak tercapai dalam waktu satu bulan
pengobatan, tiingkatkan dosis obat awal atau menambahkan obat kedua
dari salah satu kelas dalam Rekomendasi 6. Jika target tekanan darah tidak
dapat dicapai dengan dua obat, tambahkan dan titrasi obat ketiga dari
daftar yang tersedia. Jangan gunakan ACEI dan ARB bersama-sama pada
pasien yang sama. Jika target tekanan darah tidak dapat dicapai hanya
dengan menggunakan obat-obatan dalam Rekomendasi 6 karena
kontraindikasi atau kebutuhan untuk menggunakan lebih dari 3 obat untuk
mencapai target tekanan darah, maka obat antihipertensi dari kelas lain
dapat digunakan (grade E).
Hipertensi Tanpa Compelling Indication
Hipertensi stage-1
Dapat diberikan diuretik (HCT 12.5-50 mg/hari, furosemid 2x20-80
mg/hari), atau pemberian penghambat ACE (captopril 2x25-100 mg/hari
atau enalapril 1-2 x 2,5-40 mg/hari), penyekat reseptor beta (atenolol 25-
100mg/hari dosis tunggal), penghambat kalsium (diltiazem extended

13
release 1x180-420 mg/hari, amlodipin 1x2,5-10 mg/hari, atau nifedipin
long acting 30-60 mg/hari) atau kombinasi.
Hipertensi stage-2.
Bila target terapi tidak tercapai setelah observasi selama 2 minggu, dapat
diberikan kombinasi 2 obat, biasanya golongan diuretik, tiazid dan
penghambat ACE atau antagonis reseptor AII (losartan 1-2 x 25-100
mg/hari) atau penyekat reseptor beta atau penghambat kalsium.
Pemilihan anti hipertensi didasarkan ada tidaknya kontraindikasi dari
masing-masing antihipertensi di atas. Sebaiknya pilih obat hipertensi yang
diminum sekali sehari atau maksimum 2 kali sehari.

14
Hipertensi Compelling Indication (Lihat Tabel)
Bila target tidak tercapai maka dilakukan optimalisasi dosis atau
ditambahkan obat lain sampai target tekanan darah tercapai (kondisi untuk
merujuk ke Spesialis).

15
16
Berikut ini adalah alogaritma tatalaksana hipertensi menurut JNC VIII:

17
I. PEMANTAUAN
Pasien yang telah mulai mendapatkan pengobatan harus datang kembali
untuk evaluasi lanjutan dan pengaturan dosis sampai target tekanan darah
tercapai. Setelah tekanan darah tercapai dan stabil, kunjungan selanjutnya
dengan interval 3-6 bulan, tetapi frekuensi ini juga ditentukkan oleh ada
tidaknya komorbiditas seperti gagal jantung, diabetes, dan kebutuhan akan
pemeriksaan laboratorium.
Strategi untuk meningkatkan kepatuhan pasien adalah; empati dokter
akan meningkatkan kepercayaan, motivasi dan kepatuhan pasien, dokter harus
mempertimbangkan latar belakang pasien serta sikap pasien terhadap
pengobatan, pasien diberi tahu hasil pengukuran tekanan darah, target yang
masih harus dicapai, rencana pengobatan selanjutnya serta pentingnya
mengikuti rencana tersebut.
Pengobatan antihipertensi umumnya untuk selama hidup. Penghentian
pengobatan cepat atau lambat akan diikuti oleh naiknya tekanan darah sampai
seperti sebelum dimulai pengobatan antihipertensi. Walaupun demikian, ada
kemungkinan untuk menurunkan dosis dan jumlah obat antihipertensi secara
bertahap bagi pasien yang diagnosis hipertensinya sudah pasti serta tetap
patuh terhadap pengobatan nonfarmakologis. Tindakan tersebut harus disertai
dengan pengawasan tekanan darah yang ketat.

18
BAB III
CONTOH KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn.D
Umur : 56 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Karyawan kantor
Alamat : Surakarta
Tanggal Pemeriksaan : 20 Mei 2015

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama : Nyeri kepala
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan nyeri kepala. Nyeri kepala sudah dirasakan
sejak kurang lebih 2 minggu terakhir. Nyeri kepala dirasakan cekot-cekot
terutama pada bagian tengkuk. Cekot-cekot dirasakan hilang timbul
terutama jika malamnya susah tidur. Keluhan ini telah dirasakan hilang
timbul sejak 5 bulan terakhir namun baru berobat sekarang. Keluhan
sering muncul jika pasien kurang beristirahat atau banyak pekerjaan.
Pasien pernah memeriksakan tekanan darah ke puskesmas dan didapatkan
hasilnya tinggi, dengan tekanan sistol sekitar diatas 140. Pasien diberi obat
namun tidak rutin diminum, pasien juga tidak rutin memeriksakan tekanan
darahnya dan kontrol ke puskesmas.
Pasien tidak mengeluhkan pandangan kabur, nyeri dada, berdebar-
debar, sesak napas, maupun kesemutan. BAB dan BAK dalam batas
normal.
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat keluhan sama :
(+)

19
Riwayat trauma kepala : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat sakit darah tinggi :
(+) terakhir periksa sekitar 5
bulan yang lalu
Riwayat mondok : disangkal
Riwayat sakit gula : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat sakit darah tinggi : (+) ayah pasien
Riwayat sakit gula : disangkal
Riwayat sakit jantung : disangkal
5. Riwayat Kebiasaan
Pasien makan sehari 2-3 kali dengan sayur dan lauk, pasien adalah
penggemar makanan asin, pedas dan minuman berkafein.
Pasien bekerja sebagai karyawan kantor yang bekerja setiap hari dari
pagi hingga sore hari. Pasien mengaku jarang berolahraga di luar
aktivitas hariannya.
Pasien adalah seorang perokok sejak usia 25 tahun dengan konsumsi
3-6 batang per hari.

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
CM GCS=E4V5M6, gizi kesan cukup
BB : 76
TB : 168 cm
IMT : 26.92 (overweight)
2. Tanda Vital
Tensi : 150/95 mmHg
Nadi : 96 x/ menit
Frekuensi Respirasi : 18 x/menit
Suhu : 36,60C

20
3. Kepala: bentuk kepala normal, mata konjungtiva pucat, pupil isokor,
reflek cahaya +/+
4. Leher: pembesaran kelenjar getah bening (-)
5. Jantung: inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi dalam batas normal
6. Pulmo: inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi dalam batas normal
7. Abdomen: inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi dalam batas normal

D. DIAGNOSIS
Hipertensi stage I

E. TUJUAN PENGOBATAN
1. Menurunkan tekanan darah sampai <140/90 mmHg.
Modifikasi gaya hidup
a. Berhenti merokok.
b. Menurunkan berat badan hingga IMT normal. Setiap penurunan 10
kgBB dapat menurunkan tekanan darah sistolik kurang lebih 5-20
mmHg.
c. Konsumsi makanan kaya buah, sayur, susu rendah lemak dapat
menurunkan tekanan sistol sebesar 8-14 mmHg.
d. Mengurangi asupan natrium sampai kurang dari 2,4 g/hari atau
NaCl 6 g/hari, dapat menurunkan tekanan sistol 2-8 mmHg.
e. Berolahraga aerobik teratur misalnya berjalan kaki (30 menit/hari
selama 4-5 hari seminggu) dapat menurunkan tekanan sistol
sebesar 4-9 mmHg.
Obat antihipertensi, untuk pasien hipertensi stage I, diberikan salah
satu obat hipertensi:
a. Diuretik. Misalnya hidroklortiazid 1 tablet dengan dosis 12,5 mg
diberikan sehari sekali setiap hari hingga tekanan sistolik pasien
mencapai kurang dari 100 mmHg. Jika angka ini tercapai maka
pemberian obat dihentikan dan dilakukan monitoring.
b. ACE inhibitor. Misalnya tenapril 1 kaplet dengan dosis 2,5 mg
diberikan sehari sekali setiap hari atau captopril tablet dengan dosis
12,5 mg diberikan 2 kali sehari setiap hari hingga tekanan sistolik
pasien mencapai kurang dari 100 mmHg. Jika angka ini tercapai
maka pemberian obat dihentikan dan dilakukan monitoring.

21
c. ARBs. Misalnya 1 tablet losartan dengan dosis 50 mg diberikan
sekali setiap harinya akan menurunakn tekanan darah tanpa
mempengaruhi denyut jantung. Efek losartan sama dengan
golongan ACE Inhibitor, namun losartan tidak menimbulkan efek
batuk kering seperti pada pemberian ACE Inhibitor.
2. Penurunan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskuler.
Dilakukan dengan mempertahankan tekanan darah normal.
3. Mengahambat laju nefropati hipertensi.
Obat-obatan golongan ACE inhibitor memiliki efek nefroprotektor,
misalnya captopril tablet dengan dosis 12,5 mg diberikan 2 kali sehari setiap
hari dengan monitoring fungsi ginjal rutin.

F. PENGOBATAN
1. Nonmedikamentosa
a. Menurunkan berat badan yang berlebihan
b. Latihan fisik
c. Menurunkan asupan garam
d. Meningkatkan konsumsi buah dan sayur
e. Berhenti merokok

22
2. Medikamentosa
Resep

dr. Gabriella
SIP: 2011999142118
Poli Klinik Interna
RSUD Dr. Moewardi Surakarta
20 Mei 2015

R/ Hidroklorotiazid tab mg 12,5 No. VII

1 dd tab 1 mane

R/ Paracetamol tab mg 500 No. XX

prn (3-5) dd tab 1

Pro : Tn. D (56 tahun)

Alamat: Surakarta

23
BAB IV
PEMBAHASAN OBAT

DIURETIK
Diuretik menurunkan tekanan darah terutama dengan cara mendeplesikan
simpanan natrium tubuh. Awalnya, diuretik menurunkan tekanan darah dengan
menurunkan volume darah dan curah jantung, tahanan vaskuler perifer. Penurunan
tekanan darah dapat terlihat dengan terjadinya diuresis. Diuresis menyebabkan
penurunan volume plasma dan stroke volume yang akan menurunkan curah
jantung dan akhirnya menurunkan tekanan darah. Obat-obat diuretik yang
digunakan dalam terapi hipertensi yaitu: diuretik golongan tiazid, diuretik kuat,
dan diuretik hemat kalium.
Obat-Obat Pilihan:
A. Golongan Tiazid
1. Bendroflazid/bendroflumetazid (Corzide)
- Indikasi: edema, hipertensi
- Kontra indikasi: hipokalemia yang refraktur, hiponatremia,
hiperkalsemia, gangguan ginjal dan hati yang berat, hiperurikemia
yang simptomatik, penyakit adison.
- Bentuk sediaan obat: tablet
- Dosis: edema dosis awal 5-10 mg sehari atau berselang sehari pada
pagi hari; dosis pemeliharaan 5-10 mg 1-3 kali seminggu
Hipertensi, 2,5 mg pada pagi hari
- Efek samping: hipotensi postural dan gangguan saluran cerna yang
ringan; impotensi (reversibel bila obat dihentikan); hipokalemia,
hipomagnesemia, hiponatremia, hiperkalsemia, alkalosis
hipokloremanik, hiperurisemia, pirai, hiperglikemia, dan
peningkatan kadar kolesterol plasma; jarang terjadi ruam kulit,
fotosensitivitas, ganggan darah (termasuk neutropenia dan
trombositopenia, bila diberikan pada masa kehamilan akhir);
pankreatitis, kolestasis intrahepatik dan reaksi hipersensitivitas.
- Peringatan: dapat menyebabkan hipokalemia, memperburuk
diabetes dan pirai; mungkin memperburuk SLE (eritema lupus

24
sistemik); usia lanjut; kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan
ginjal yang berat;porfiria.
2. Chlortalidone (Hygroton, Tenoret 50, Tenoretic)
- Indikasi: edema, hipertensi, diabetes insipidus
- Peringatan, kontra indikasi, dan efek samping: lihat pada
Bendrofluazid
- Dosis: edema, dosis awal 50 mg pada pagi hari atau 100-200 mg
selang sehari, kurangi untuk pemeliharaan jika mungkin.
Hipertensi, 25 mg; jika perlu ditingkatkan sampai 50 mg pada pagi
hari
- Bentuk sediaan obat: tablet
3. Hidroklorotiazid
- Indikasi: edema, hipertensi
- Peringatan, kontra indikasi, dan efek samping: lihat pada
Bendrofluazid
- Dosis: edema, dosis awal 12,5-25 mg, kurangi untuk pemeliharaan
jika mungkin; untuk pasien dengan edema yang berat dosis
awalnya 75 mg sehari Hipertensi, dosis awal 12,5 mg sehari; jika
perlu ditingkatkan sampai 25 mg pada pagi hari
- Bentuk sediaan obat: tablet.
B. Diuretik kuat
1. Furosemide (Lasix, uresix, impugan)
- Indikasi: edema pada jantung, hipertensi
- Kontra indikasi: gangguan ginjal dan hati yang berat.
- Bentuk sediaan obat: tablet, injeksi, infus
- Dosis: oral, dewasa 20-40 mg pada pagi hari, anak 1-3 mg/kg bb;
Injeksi, dewasa dosis awal 20-50 mg im, anak 0,5-1,5mg/kg
sampai dosis maksimal sehari 20 mg; infus IV disesuaikan dengan
keadaan pasien
- Efek samping: Gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi
alergi seperti ruam kulit
- Peringatan: dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia;
kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal; memperburuk
diabetes mellitus; perbesaran prostat; porfiria.
C. Diuretik hemat kalium
1. Amilorid HCL (Amiloride, puritrid, lorinid)
- Indikasi: edema, hipertensi, konservasi kalium dengan kalium dan
tiazid

25
- Kontra indikasi: gangguan ginjal, hiperkalemia.
- Bentuk sediaan obat: tablet
- Dosis: dosis tunggal, dosis awal 10 mg sehari atau 5 mg dua kali
sehari maksimal 20 mg sehari. Kombinasi dengan diuretik lain 5-
10 mg sehari
- Efek samping: Gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi
alergi seperti ruam kulit, bingung, hiponatremia.
- Peringatan: dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia;
kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal; memperburuk
diabetes mellitus; usia lanjut.
2. Spironolakton (Spirolactone, Letonal, Sotacor, Carpiaton)
- Indikasi: edema, hipertensi
- Kontra indikasi: gangguan ginjal, hiperkalemia, hipernatremia,
kehamilan dan menyusui, penyakit adison.
- Bentuk sediaan obat: tablet
- Dosis: 100-200 mg sehari, jika perlu tingkatkan sampai 400 mg;
anak, dosis awal 3 mg/kg dalam dosis terbagi.
- Efek samping: gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi
alergi seperti ruam kulit, sakit kepala, bingung, hiponatremia,
hiperkalemia, hepatotoksisita, impotensi.
- Peringatan: dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia;
kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal; usia lanjut.
ACE INHIBITOR
ACE inhibitor memiliki mekanisme aksi menghambat sistem renin-
angiotensin-aldosteron dengan menghambat perubahan Angiotensin I menjadi
Angiotensin II sehingga menyebabkan vasodilatasi dan mengurangi retensi
sodium dengan mengurangi sekresi aldosteron. Oleh karena ACE juga terlibat
dalam degradasi bradikinin maka ACE inhibitor menyebabkan peningkatan
bradikinin, suatu vasodilator kuat dan menstimulus pelepasan prostaglandin dan
nitric oxide. Peningkatan bradikinin meningkatkan efek penurunan tekanan darah
dari ACE inhibitor, tetapi juga bertanggungjawab terhadap efek samping berupa
batuk kering. ACE inhibitor mengurangi mortalitas hampir 20% pada pasien
dengan gagal jantung yang simtomatik dan telah terbukti mencegah pasien harus
dirawat di rumah sakit (hospitalization), meningkatkan ketahanan tubuh dalam
beraktivitas, dan mengurangi gejala.

26
ACE inhibitor harus diberikan pertama kali dalam dosis yang rendah untuk
menghindari resiko hipotensi dan ketidakmampuan ginjal. Fungsi ginjal dan
serum potassium harus diawasi dalam 1-2 minggu setelah terapi dilaksanakan
terutama setelah dilakukan peningkatan dosis. Salah satu obat yang tergolong
dalam ACE inhibitor adalah Captopril yang merupakan ACE inhibitor pertama
yang digunakan secara klinis.
- Nama Generik: Captopril
- Nama Dagang:
- Acepress: Tab 12,5mg, 25mg
- Capoten: Tab 12,5mg, 25mg
- Captensin: Tab 12,5mg, 25mg
- Captopril Hexpharm: Tab 12,5mg, 25mg, 50mg
- Casipril: Tab 12,5mg, 25mg
- Dexacap: Tab 12,5mg, 25mg, 50mg
- Farmoten: Tab 12,5mg, 25mg
- Forten: Tab 12,5mg, 25mg, 50mg
- Locap: Tab 25mg
- Lotensin: Kapl 12,5mg, 25mg
- Metopril: Tab salut selaput 12,5mg, 25mg; Kapl salut selaput 50mg
- Otoryl: Tab 25mg
- Praten: Kapl 12,5mg
- Scantensin: Tab 12,5mg, 25mg
- Tenofax: Tab 12,5mg, 25mg
- Tensicap: Tab 12,5mg, 25mg
- Tensobon: Tab 25mg
- Indikasi:
- Hipertensi esensial (ringan sampai sedang) dan hipertensi yang parah.
- Hipertensi berkaitan dengan gangguan ginjal (renal hypertension).
- Diabetic nephropathy dan albuminuria.
- Gagal jantung (Congestive Heart Failure).
- Postmyocardial infarction
- Terapi pada krisis scleroderma renal.
- Kontraindikasi:
- Hipersensitif terhadap ACE inhibitor
- Kehamilan
- Wanita menyusui
- Angioneurotic edema yang berkaitan dengan penggunaan ACE
inhibitor sebelumnya
- Penyempitan arteri pada salah satu atau kedua ginjal
- Bentuk sediaan: tablet, tablet salut selaput, kaplet, kaplet salut selaput.
- Dosis dan aturan pakai captopril pada pasien hipertensi dengan gagal
jantung:

27
- Dosis inisial: 6,25-12,5mg 2-3 kali/hari dan diberikan dengan pengawasan
yang tepat. Dosis ini perlu ditingkatkan secara bertingkat sampai tercapai
target dosis.
- Target dosis: 50mg 3 kali/hari (150mg sehari)
- Aturan pakai: captopril diberikan 3 kali sehari dan pada saat perut kosong
yaitu setengah jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Hal ini
dikarenakan absorbsi captopril akan berkurang 30%-40% apabila
diberikan bersamaan dengan makanan.
- Efek samping :
- Batuk kering
- Hipotensi
- Pusing
- Disfungsi ginjal
- Hiperkalemia
- Angioedema
- Ruam kulit
- Takikardi
- Proteinuria
- Resiko khusus :
- Wanita hamil.
Captopril tidak disarankan untuk digunakan pada wanita yang sedang
hamil karena dapat menembus plasenta dan dapat mengakibatkan
teratogenik. Hal ini juga dapat menyebabkan kematian janin.
Morbiditas fetal berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor pada
seluruh masa trisemester kehamilan. Captopril beresiko pada
kehamilan yaitu pada level C (semester pertama) dan D (semester
kedua dan ketiga).
- Wanita menyusui.
Captopril tidak direkomendasikan untuk wanita yang sedang menyusui
karena bentuk awal captopril dapat menembus masuk dalam ASI
sekitar 1% dari konsentrasi plasma. Akan tetapi tidak diketahui apakah
metabolit dari captopril juga dapat menembus masuk dalam ASI.
- Penyakit ginjal.
Penggunaan captopril (ACE inhibitor) pada pasien dengan gangguan
ginjal akan memperparah kerusakan ginjal karena hampir 85%
diekskresikan lewat ginjal (hampir 45% dalam bentuk yang tidak
berubah) sehingga akan memperparah kerja ginjal dan meningkatkan

28
resiko neutropenia. Apabila captopril digunakan pada pasien dengan
gangguan ginjal maka perlu dilakukan penyesuaian dosis dimana
berfungsi untuk menurunkan klirens kreatininnya.

BETA-BLOCKER (Propanolol, Bisoprolol)


Merupakan obat utama pada penderita hipertensi ringan sampai moderat
dengan penyakit jantung koroner atau dengan aritmia. Bekerja dengan
menghambat reseptor 1 di otak, ginjal dan neuron adrenergik perifer, di mana 1
merupakan reseptor yang bertanggung jawab untuk menstimulasi produksi
katekolamin yang akan menstimulasi produksi renin. Dengan berkurangnya
produksi renin, maka cardiac output akan berkurang yang disertai dengan
turunnya tekanan darah.

ALFA-BLOCKER (Doxazosin, Prazosin).


Bekerja dengan menghambat reseptor 1 di pembuluh darah sehingga
terjadi dilatasi arteriol dan vena. Dilatasi arteriol akan menurunkan resistensi
perifer.

CALCIUM CHANNEL BLOCKER (Nifedipin, Amlodipin).


Bekerja dengan menghambat masuknya kalsium ke dalam otot polos
pembuluh darah sehingga mengurangi tahanan perifer. Merupakan antihipertensi
yang dapat bekerja pula sebagai obat angina dan antiaritmia, sehingga merupakan
obat utama bagi penderita hipertensi yang juga penderita angina.

Obat Tambahan
PARACETAMOL
Paracetamol merupakan obat analgetik non narkotik dengan cara kerja
menghambat sintesis prostaglandin terutama di sistem saraf pusat (SSP). Efek
analgesic paracetamol serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau
mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Pada kasus ini, paracetamol digunakan
untuk menghilangkan nyeri kepala bila diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA

29
Amir N. 2002. Diagnosis dan pelaksanaan depresi pasca stroke. http:/www.A:/
%20 20 news % 20%Energi%20chi%20%20defenisi%document?e? (20 Mei
2015)

Astawan, (2002). Cegah Hipertensi dengan pola makan. http:/www.A:/


%2020news%20%Energi %20chi%20%20defenisi
%document20%setting/bill-re (20 Mei 2015)

Corwin EJ. 2001. Buku saku Patofisiologi. Jakarta:EGC.

Dekker E. 1996. Hidup dengan tekanan darah tinggi. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman Teknis Penemuan


Dan Tatalaksana Penyakit Hipertensi

Eka UN.2011. Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Penderita Hipertensi


dalam Upaya Mencegah Kekambuhan.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24304/4/chapter%201.pdf (20
Mei 2015)

Erceg Marijan, et al. 2009. Regional differences in the prevalence of arterial


hypertension in Croatia. Coll.Antropol.;33(1):19-23. 2.

Gunawan L. 2001. Hipertensi: Tekanan darah tinggi. Yogyakarta: Percetakan


Kanisus

Hayens B et al. 2003. Buku pintar menaklukkan Hipertensi. Jakarta: Ladang


Pustaka

Ibnu M. Dasar-dasar fisiologi kardiovaskuler. Jakarta: EGC, 1996.

James PA, Oparil S, Carter BL, et al. 2014. Evidence-Based Guideline for the
Management of High Blood Pressure in Adults: Report from the Panel
Member Appointed to the Eight Joint National Committee (JNC 8). JAMA; 18
Dec 2013

National Institutes of Health. 2004. Complete Report: The Seventh Report of The
Hoint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure. New York: NIH Publications. August 2004.
No 04-5230

Prodjosudjadi W. 2000. Hipertensi: Mekanisme Dan Penatalaksanaannya.


Majalah Berkala Neurosains, Vol. 1 No.3

Sheps. 2005. Mengatasi tekanan darah tinggi. Jakarta: Intisari Mediatama

30
Wexler. 2002. Hipertensi; Encylopedia of Nursing and Alied Health.
http://www.findarticles.com/p/article/mi (20 Mei 2015)

Yagiela JA, Haymore TL. 2007. Management of hypertensive dental patient.


http://www.cda.org/library/cda_member/pubs/journal/jour0107/yagiela.pdf
(20 Mei 2015)

Yogiantoro, M. Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simardibrata K. M.,


Setiati, S. 2006. Hipertensi Esensial. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi
IV. Jilid I. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Pp: 610-614

31