Anda di halaman 1dari 24

Patofisiologi

KEJANG ANAK

Pada demam, kenaikan suhu 10C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10
-15 % dan kebutuhan O2 meningkat 20 %. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak
mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa (hanya 15%) oleh
karena itu, kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan membran sel neuron dan
dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion kalium dan natrium melalui membran listrik.
dengan bantuan neurotransmitter, perubahan yang terjadi secara tiba - tiba ini dapat
menimbulkan kejang (Irdawati, 2009).

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau otak diperlukan energi yang
didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah
glukosa dan melalui suatu proses oksidasi. Dalam proses oksidasi tersebut diperlukan oksigen
yang disediakan melalui perantaraan paru-paru. Oksigen dari paru-paru ini diteruskan ke otak
melalui sistem kardiovaskular. Suatu sel, khususnya sel otak atau neuron dalam hal ini,
dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari membran permukaan dalam dan membran
permukaan luar. Membran permukaan dalam bersifat lipoid, sedangkan membran permukaan
luar bersifat ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dengan mudah dilalui
ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium ( Na+ ) dan elektrolit lainnya,
kecuali oleh ion Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+dalam neuron tinggi dan konsentrasi
Na+ rendah, sedangkan di luar neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis
dan konsentrasi ion di dalam dan di luar neuron, maka terdapat perbedaan potensial yang
disebut potensial membran neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini
diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran tadi dapat berubah karena adanya : perubahan konsentrasi
ion di ruang ekstraseluler, rangsangan yang datang mendadak seperti rangsangan mekanis,
kimiawi, atau aliran listrik dari sekitarnya, dan perubahan patofisiologi dari membran sendiri
karena penyakit atau keturunan. Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1C akan
mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan meningkatnya kebutuhan oksigen
sebesar 20%. Pada seorang anak usia 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh
sirkulasi tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi kenaikan suhu
tubuh pada seorang anak dapat mengubah keseimbangan membran sel neuron dan dalam
waktu singkat terjadi difusi ion Kalium dan ion Natrium melalui membran tersebut sehingga
mengakibatkan terjadinya lepas muatan listrik. Lepasnya muatan listrik ini demikian besar
sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel lain yang ada didekatnya
dengan perantaraan neurotransmitter sehingga terjadilah kejang.

Gastrointenteritis akut
Menurut Muttaqin (2011), Peradangan pada gastroenteritis disebabkan oleh infeksi
dengan melakukan invasi pada mukosa, memproduksi enterotoksin dan atau memproduksi
sitotoksin. Mekanisme ini menghasilkan peningkatan sekresi cairan dan menurunkan absorbsi
cairan sehingga akan terjadi dehidrasi dan hilangnya nutrisi dan elektrolit. Menurut Diskin
(2008) di buku Muttaqin (2011) adapun mekanisme dasar yang menyebabkan diare, meliputi
hal-hal sebagai berikut :
A. Gangguan osmotik, dimana asupan makanan atau zat yang sukar diserap oleh
mukosa intestinal akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat
sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus
yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul
diare.
B. Respons inflamasi mukosa, pada seluruh permukaan intestinal akibat produksi
enterotoksin dari agen infeksi memberikan respons peningkatan aktivitas sekresi air dan
elektrolit oleh dinding usus ke dalam rongga usus, selanjutnya diare timbul karena
terdapat peningkatan isi rongga usus.
C. Gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya
kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare, sebaliknya bila
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang
selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
Dari ketiga mekanisme diatas menyebabkan :
1) Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi yang mengakibatkan gangguan
keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemia)
2) Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran bertambah)
3) Hipoglekemia, gangguan sirkulasi darah.
rhinopharingitis
Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan
diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu immediate phase allergic
reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen
sampai 1 jam setelahnya dan late phase allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat
(RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas) setelah
pemaparan dan dapat berlangsung 24-48 jam.

ISK

a. ROUTEINFEKSI
Secara umum, organisme dapat masuk ke dalam saluran kemih melalui tiga rute:
menaik, hematogen (turun), dan jalur limfatik. Uretra perempuan biasanya dijajah
oleh bakteri diyakini berasal dari flora tinja. Panjang pendek dari uretra wanita dan
kedekatannya dengan daerah perirectal membuat kolonisasi uretra kemungkinan.
Faktor lain yang mempromosikan uretra penjajahan termasuk penggunaan spermisida
dan diafragma .
Infeksi pada ginjal dengan penyebaran hematogen dari mikroorganisme biasanya
terjadi sebagai akibat dari penyebaran organisme dari infeksi primer yang jauh dalam
tubuh. Infeksi melalui rute menurun jarang terjadi dan melibatkan jumlah yang relatif
kecil dari patogen invasif. Bakteremia yang disebabkan oleh S. aureus dapat
menghasilkan abses ginjal. organisme lain termasuk Candida spp., cendawan bakteri
tuberkulosis, Salmonella spp., dan enterococci. Yang menarik, sulit untuk
menghasilkan pielonefritis eksperimental oleh intravena pemberian organisme gram-
negatif umum seperti E. coli dan P. aeruginosa. Secara keseluruhan, kurang dari 5%
dari UTI didokumentasikan hasil dari penyebaran hematogen mikroorganisme.
Tampaknya ada sedikit bukti yang mendukung peran penting untuk limfatik ginjal
dalam patogenesis ISK. Ada komunikasi phatic limfoma antara usus dan ginjal, serta
antara kandung kemih dan ginjal. Tidak ada bukti, bagaimanapun, bahwa
mikroorganisme ditransfer ke ginjal melalui rute ini. Setelah bakteri mencapai saluran
kemih, tiga faktor menentukan perkembangan infeksi: ukuran inokulum, virulensi
mikroorganisme, dan kompetensi mekanisme pertahanan tuan rumah alami.
Kebanyakan ISK mencerminkan kegagalan dalam mekanisme pertahanan tuan rumah.

b. MEKANISME OST PERTAHANAN


Saluran kemih yang normal umumnya tahan terhadap invasi oleh bakteri dan efisien
dalam cepat menghilangkan mikroorganisme yang mencapai kandung kemih. Urin
dalam keadaan normal mampu menginhibisi dan membunuh mikroorganisme. Faktor
dianggap bertanggung jawab termasuk pH rendah, ekstrem osmolalitas, konsentrasi
urea yang tinggi, dan konsentrasi asam organik tinggi. pertumbuhan bakteri
selanjutnya dihambat pada laki-laki dengan penambahan prostat secretions.
Pengenalan bakteri ke dalam kandung kemih merangsang micturition, dengan
peningkatan diuresis dan pengosongan efisien kandung kemih. Faktor-faktor ini
sangat penting dalam mencegah inisiasi dan pemeliharaan infeksi kandung kemih.

c. Faktor virulensi BAKTERI


organisme patogen memiliki derajat yang berbeda dari patogenisitas (viru- lence),
yang berperan dalam pengembangan dan beratnya infeksi. Bakteri yang mematuhi
epitel saluran kemih berhubungan dengan kolonisasi dan infeksi. Mekanisme adhesi
ion bakteri gram negatif, terutama E. coli, terkait dengan fimbriae bakteri yang kaku,
pelengkap seperti rambut dari sel. fimbriae ini mematuhi komponen glikolipid yang
spesifik pada sel-sel epitel. Jenis yang paling umum dari fimbriae adalah tipe 1, yang
mengikat residu mannose hadir dalam glikoprotein. Glikosaminoglikan dan protein
Tamm-Horsfall kaya residu mannose yang siap menjebak organisme yang
mengandung tipe 1 fimbriae, yang kemudian dicuci keluar dari bladder. fimbriae
lainnya adalah tahan mannose dan berhubungan lebih sering dengan pielonefritis,
seperti P fimbriae, yang mengikat rajin ke reseptor glikolipid spesifik pada sel
uroepithelial. Bakteri ini tahan terhadap pencucian atau penghapusan oleh glycosami-
noglycan dan mampu berkembang biak dan menyerang jaringan, terutama ginjal.
Selain itu, PMN, serta antibodi IgA sekretori, mengandung reseptor untuk tipe 1
fimbriae, yang memfasilitasi fagositosis, tetapi mereka tidak memiliki reseptor untuk
P fimbriae. fa virulensi lainnya
Etiologi

Demam dan Kejang

Demam merupakan faktor pencetus terjadinya kejang demam pada anak. Demam
sering disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi seperti infeksi saluran pernafasan akut, otitis
media akut, gastroenteritis, bronkitis, infeksi saluran kemih, dan lain-lain. Setiap anak
memiliki ambang kejang yang berbeda. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang paling
tinggi. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, serangan kejang telah terjadi pada
suhu 38C bahkan kurang, sedangkan pada anak dengan ambang kejang tinggi, serangan
kejang baru terjadi pada suhu 40C bahkan lebih.

Gastroenteris

Etiologi atau penyebab dari acute gastroenteris yaitu :


o 75-90% virus seperti Rotavirus, enteric adenovirus, Calicivirus, Astrovirus
o 10-20% bakteri seperti Salmonella, Shigella, Campylobacter jejuni, Yersinia
enterocolitica, E. coli, Clostridium difficile.
o 0-5% parasit seperti : Giardia lamblia, Cryptosporidium.
(Anderson, 2011, 2)

Rhinopharingitis

Rinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan predisposisi genetik dalam
perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan herediter sangat berperan pada ekspresi
rinitis alergi (Adams, Boies, Higler, 1997). Penyebab rinitis alergi tersering adalah alergen
inhalan pada dewasa dan ingestan pada anak-anak. Pada anak-anak sering disertai gejala
alergi lain, seperti urtikaria dan gangguan pencernaan. Penyebab rinitis alergi dapat berbeda
tergantung dari klasifikasi. Beberapa pasien sensitif terhadap beberapa alergen. Alergen yang
menyebabkan rinitis alergi musiman biasanya berupa serbuk sari atau jamur. Rinitis alergi
perenial (sepanjang tahun) diantaranya debu tungau, terdapat dua spesies utama tungau yaitu
Dermatophagoides farinae dan Dermatophagoides pteronyssinus, jamur, binatang peliharaan
seperti kecoa dan binatang pengerat. Faktor resiko untuk terpaparnya debu tungau biasanya
karpet serta sprai tempat tidur, suhu yang tinggi, dan faktor kelembaban udara. Kelembaban
yang tinggi merupakan faktor resiko untuk untuk tumbuhnya jamur. Berbagai pemicu yang
bisa berperan dan memperberat adalah beberapa faktor nonspesifik diantaranya asap rokok,
polusi udara, bau aroma yang kuat atau merangsang dan perubahan cuaca (Becker, 1994).

ISK

Bakteri yang menyebabkan UTI biasanya berasal dari flora normal usus dari tuan rumah.
Meskipun hampir setiap organisme berhubungan dengan ISK, organisme tertentu
mendominasi sebagai akibat dari faktor virulensi tertentu. Penyebab paling umum dari ISK
tanpa komplikasi adalah Escherichia coli, yang menyumbang 85% dari infeksi diperoleh
masyarakat. organisme negative menghasilkan perubahan-tambahan pada infeksi tanpa
komplikasi termasuk Staphylococcus saprophyticus (5% sampai 15%), Klebsiella
pneumoniae, Proteus spp., Pseudomonas aeruginosa, dan Enterococcus spp. (5% sampai
10%). infeksi Staphylococcus aureus mungkin timbul dari saluran kemih, tetapi mereka lebih
sering akibat bakteremia memproduksi abses metastasis di ginjal. Candida spp. adalah
penyebab umum dari ISK pada pasien sakit kritis dan kronis kateter. Kebanyakan ISK
disebabkan oleh organisme tunggal; Namun, pada pasien dengan batu, kateter urin
berdiamnya, atau abses ginjal kronis, beberapa organisme dapat diisolasi. Tergantung pada
situasi klinis, pemulihan beberapa organisme dapat mewakili kontaminasi, dan evaluasi ulang
harus dilakukan (Dipiro et al., 2008).

MEKANISME KERJA OBAT

1. Ampisilin : sintesis dinding sel bakteri dengan cara mengikat satu atau lebih dari
protein (PBP) yang menghambat transpeptidasi langkah terakhir dari sintesis
peptidoglikan di dinding sel bakteri, sehingga menghambat biosintesis dinding sel.
2. Cefotaxime : i sintesis dinding sel bakteri dengan cara mengikat satu atau lebih dari
protein (PBP) yang menghambat transpeptidasi langkah terakhir dari sintesis
peptidoglikan di dinding sel bakteri, sehingga menghambat biosintesis dinding sel.
3. Injeksi ondanserton : Selektif antagonis 5-HT3-reseptor, memblokir serotonin, baik
perifer pada terminal saraf vagal dan terpusat di zona pemicu kemoreseptor.
4. Interzinc (zinc sulfate) : Zinc merupakan mikronutrien yang penting untuk kesehatan,
pertumbuhan dan pemeliharaan sistem imun. Pemberian Zinc mampu menggantikan
kandungan Zinc alami tubuh yang hilang saat diare dan mempercepat penyembuhan
diare.
5. Lacto b (Lactic acid bacterial) : Lactic Acid Bacterial menghasilkan asam organik
yang menghambat bakteri merugikan, sehingga dapat membantu memperbaiki
ketidakseimbangan flora usus pada saat diare.
6. Stesolid supp (diazepam) : Mengikat stereospesifik reseptor benzodiazepine pada
GABA neuron postsynaptic di beberapa bagian dalam sistem saraf pusat, termasuk
sistem limbik, formasi reticular. Peningkatan efek penghambatan GABA hasil
rangsangan saraf dengan peningkatan permeabilitas membran neuron untuk ion
klorida. pergeseran ion klorida ini menghasilkan hiperpolarisasi dan stabilisasi.
7. Propiretix supp (Parasetamol) : Menghambat sintesis prostaglandin dalam sistem saraf
pusat dan perifer blok nyeri generasi impuls; menghasilkan antipyresis dari
penghambatan hipotalamus pusat pengaturan panas.
8. Farmadol infus (Parasetamol) : Menghambat sintesis prostaglandin dalam sistem saraf
pusat dan perifer blok nyeri generasi impuls; menghasilkan antipyresis dari
penghambatan hipotalamus pusat pengaturan panas.
9. Cefadroxil : Menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan cara mengikat satu atau
lebih dari penisilin binding protein (PBP) yang pada gilirannya menghambat akhir
transpeptidasi dari sintesis peptidoglikan di dinding sel bakteri, sehingga menghambat
biosintesis dinding sel. Bakteri akhirnya melisiskan akibat aktivitas yang sedang
berlangsung enzim autolytic dinding sel (autolysins dan murein hidrolase) sementara
perakitan dinding sel ditangkap.
10. Fenitoin : Menstabilkan membran neuronal dan menurunkan aktivitas kejang dengan
meningkatkan penghabisan atau menurunkan masuknya ion natrium melintasi
membran sel di korteks motor selama generasi impuls saraf; memperpanjang periode
refrakter efektif dan menekan ventrikel alat pacu jantung otomatis, memperpendek
potensial aksi di jantung.
11. Sanmol : Menghambat sintesis prostaglandin dalam sistem saraf pusat dan perifer
blok nyeri generasi impuls; menghasilkan antipyresis dari penghambatan hipotalamus
pusat pengaturan panas.
12. Diazepam : Mengikat stereospesifik reseptor benzodiazepine pada GABA neuron
postsynaptic di beberapa bagian dalam sistem saraf pusat, termasuk sistem limbik,
formasi reticular. Peningkatan efek penghambatan GABA hasil rangsangan saraf
dengan peningkatan permeabilitas membran neuron untuk ion klorida. pergeseran ion
klorida ini menghasilkan hiperpolarisasi dan stabilisasi.

(DIH,17 th,2008)

ANALISIS PROBLEM MEDIK

1. Faringitis

Subyektif : Batuk pilek3 hari; Batuk berdahak; Nyeri tenggorokan

Obyektif : Suhu = 39oC; Bakteri batang (+)

Terapi :

Ampicilin injeksi 4 x 5000 mg


Sanmol tab 500 mg/4jam

Farmadol infus 250 mg/4jam

Analisis :

Ampicilin inj 4 x 5000mg

Tepat obat: Terapi atau obat pilihan pada faringitis dengan laboratorium
positif adalah Penicilin, hal ini dikarena Penicilin memiliki aktivitas
spektrum sempit,efektif, aman dan murah (Dipiro, 2008, Hal. 1820).

Tepat pasien: Pada skin test yang dilakukan pada pasien terhadap
Ampicilin menunjukkan hasil yang negatif sehingga Ampicilin dapat
diberikan pada pasien.

Tidak tepat dosis: Pemberian Penicillin dengan rute selain po


diasumsikan memiliki efektivitas yang sama (Dipiro, 2008, Hal. 1820).
Sehingga pemilihan rute injeksi dapat dilakukan pada pasien rawat inap.
Dosis yang dianjurkan pada DIH adalah 250-500 setiap 6jam, sehingga
dosis awal sebesar 5000 mg perlu diturunkan menjadi 500mg.

DRP: Tidak tepat dosis

Rekomendasi: Dosis Penicilin menjadi 500mg 4 x sehari

Monitoring:

ESO: Ruam kulit; mual; muntah

Efektivitas: Selama 3 hari tidak terjadi gejala

(DIH, Ampicillin)

(Dipiro, 2008, Hal. 1820)

(Dipiro, 2008, Hal.1820)


Sanmol tab 500 mg/4jam

Farmadol infus 250 mg/4jam

Tepat obat: Menghilangkan rasa sakit dengan menggunakan analgesik


berupa paracetamol dan NSAID sangat direkomendasikan. Namun,
pemilihan paracetamol lebih dipilih karena NSIAD ditakutkan dapat
meningkatkan resiko untuk toxic shock syndrome yang diakibatkan
faringitis (Dipiro, 2008, Hal. 1820).

Tidak tepat Dosis: Penggunaan parasetamol tidak dianjurkan lebih dari


4 gram perhari karena akan mengakibatkan hepatotoksik (DIH,
Acitaminophen). Akumulasi penggunaan paracetamol pada pasien pada 3
hari pertama tidak tepat dosis yaitu 4,5 gram per hari. Setelah tanggal 16
pemakaian Farmadol infus dihentikan.

DRP: Tidak tepat dosis pada tanggal 13/4; 14/4; 15/4

Rekomendasi: Sanmol tab 500mg/4jam tanpa penggunaan farmadol


infus.

Monitoring: Efektifitas : Nyeri menghilang

(Dipiro, 2008, 1820)

(
DIH, Acitaminophen)

Tablet hisap yang mengandung antiseptik untuk tenggorokan dapat


disarankan pada faringitis (Binfar, 2005, Hal. 21). Pasien mengalami nyeri
pada tenggorokan sehingga penambahan terapi berupa tablet hisap
diperlukan.
Rekomendasi: Degirol 1 loz di atas lidah, diulangi 3-4 jam, maksimal 8
tab/hari.

Monitoring: Nyeri tenggorokan

(Binfar, 2005, Hal. 21)

2. Kejang Demam Kompleks

Subyektif Obyektif :
Obyektif Pemeriksaan darah perifer, elektrolit, gula darah (normal); Penyebabnya adalah
gastroenteritis dehidrasi.

Terapi
Terapi IGD :
Stesolid Supp 10 mg ( DIazepam)

Sanmol tab 500 mg (Paracetamol) Retur

Propiretix Supp 500 mg (Paracetamol)

Terapi bangsal :
Sanmol tab 500 mg /4 jam (Paracetamol)

Diazepam 3x2 mg

Fenitoin 2 x 100 mg

Farmadol infuse 250 mg/4 jam.

Analisis :
Menurut guideline tatalaksana kejang, dalam keadaan darurat obat yang paling cepat berefek
untuk menghentikan kejang adalah Diazepam iv 0,3-0,5 mg/kg dengan kecepatan 1-2
mg/menit. Tetapi selain terapi iv dapat juga diberikan melalui rute rectal dengan dosis 0,5-
0,75 mg/kg atau 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Sehingga terapi pada saat IGD
sudah tepat.
Menurut Sajun Chung (2014) Untuk terapi profilaksis fenitoin tidak bisa diberikan pada
pasien kejang demam kompleks karena tidak bisa mencegah keberulangan terjadinya kejang
demam. Terapi yang dapat diberikan yaitu dengan asam valproat karena lebih efektif dalam
mencegah terjadinya kejadian berulang kejang demam (Sajun Chung, 2014).
Penggunaan antipiretik tidak menunjukkan bukti dapat mengurangi resiko, tetapi untuk tetapi
terapi tetap diberikan untuk memperbaiki kondisi pasien. Dosis paracetamol yang dianjurkan
adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari tidak lebih dari 5 kali.

DRP : Diazepam tidak tepat rute penggunaan ; Fenitoin tidak tepat obat
Rekomendasi :Diazepam saat terapi bangsal diberikan secara iv 0,3-0,5 mg/kg dengan
kecepatan 1-2 mg/menit agar lebih berefek. Fenitoin dihentikan, diberikan obat rumat asam
valproat karena kejang demam berulang dua kali dalam 24 jam. Dosis yang
direkomendasikan untuk asam valproat 15-40 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis. Pengobatan
diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2
bulan. Paracetamol dilanjutkan hingga suhu tubuh pasien menurun.
Monitoring :

Monitoring efektivitas :
Hilangnya kejang, suhu tubuh normal.
Monitoring toksisitas :
Diazepam CNS, Psikiatri.
Paracetamol Hepatotoxic
Asam valproat Depresi CNS, gagl hati.
3. GASTROENTRITIS AKUT

Subjektif: nyeri perut, diare 5 x/hari, mual muntah, panas, pusing

Objektif :

Terapi:

a. Interzinc 1x1 tab

Analisis:
Intezinc mengandung zink sulfat yang diindikasikan sebagai pelengkap cairan
rehidrasi oral (CRO) untuk mengganti cairan tubuh dan mencegah dehidrasi pada anak dan
digunakan bersama dengan cairan rehidrasi oral. Dosis yang diberikan untuk zinc adalah 15
mg/ hari (DIH,2008) sedangkan menurut Depkes RI (2011) pemberian diatas 6 bulan adalah
1 tablet per hari. Sedangkan untuk oralit diberikan untuk anak lebih dari 1 tahun diberikan
100-200 cc setiap buang air besar. Oralit digunakan untuk mengganti cairan yang hilang
akibat diare (Depkes RI, 2011)

(Depkes RI, 2011)


(Guarino et al., 2014)

(DIH 2009)
DRP: Tidak ada DRP
Rekomenedasi: terapi di lanjutkan dengan penambahan cairan rehidrasi oral (CRO) denga
dosis 110-220 mg 3 x sehari
Monitoring Keberhasilan: evaluasi klinis
Monitoring ESO: mual,muntah, dispepsia dan pusing (BNF, 2011)
b. Injeksi Ondansetron (hanya diberikan pada tgl 13/4)
Tepat indikasi dan tepat obat : Ondansetron diindikasikan untuk mengatasi mual muntah
(BNF Children, 244). Ondansetron termasuk antagonis reseptor 5-HT 3 yang memiliki
keuntungan klinik pada pengobatan gastroenteritis akut pada anak (NSW, 2014).
Ondansetron dapat menurunkan risiko muntah terus-menerus, mengurangi kebutuhan
cairan i.v serta menurunkan risiko masuk RS pada anak yang muntah akibat
gastroenteritis. Ondansetron dapat diberikan secara oral atau intravena, efektif dan aman
pada anak dengan AGE atau akut gastroenteritis (Guarino et.al., 2014).

(BNF Children, 244)

(NSW, 2014)

(Guarino et.al., 2014)


Tepat pasien : ondansetron tidak kontraindikasi dengan pasien anak (DIH, ondansetron).

(DIH, ondansetron)
Tepat dosis : ondansetron inj. hanya diberikan pada tgl 13/4, untuk pasien 14th
mendapatkan dosis ondansetron 4 mg (BNF Children, 244).

(BNF Children, 244)


DRP : tidak ada
Rekomendasi : injeksi ondansetron sudah dihentikan karena gejala mual muntah sudah
hilang. Ondansetron dapat diberikan kembali apabila terdapat gejala mual muntah lagi.
Monitoring efektivitas : hilangnya gejala mual muntah

Monitoring ESO : pusing, fatigue, konstipasi (DIH, ondansetron)

c. Lacto B 3x1 sachet


Manajemen diare akut terdiri dari penggantian cairan yang hilang dengan larutan rehidrasi
oral (gula-garam) yang bermanfaat dalam mengurangi keparahan maupun durasi diare.
Probiotik, biasanya juga digunakan sebagai terapi tambahan dalam pengobatan diare akut
(Canani et. al., 2007) dalam perannya sebagai pencegahan dan pengobatan diare, terutama
pada pediatrik. Sehingga pemberian Lacto B pada pasien ini sudah tepat (Guandalini,
2011).

(Canani et. al., 2007)

(Guandalini, 2011)
Probiotik yang paling umum digunakan adalah Lactobacillus GG, Lactobacillus
acidophilus, Lactobacillus casei, Bifidobacterium ssp, Streptococcus ssp, dan ragi
Saccharomyces boulardii (Guandalini, 2011). Lactobacilus berguna dalam membantu
membangun kembali flora usus normal; menekan pertumbuhan mikroorganisme patogen
potensial dengan memproduksi asam laktat yang mendukung pembentukan flora asam
(DIH, 2008).

(Guandalini, 2011)
(DIH, 2008)
Lacto-B termasuk probiotik yang mengandung Lactobacillus acidophilus, Bifidobacterium
longum, Streptococcus thermophillus, vit C, vit B1, vit B2, niacin, lemak serta energi.
Lacto-B diindikasin untuk mengatasi diare dan pencegahan terhadap intoleransi laktosa.
Penggunaan lacto-B sudah tepat dosis yaitu 3x1 sachet per hari (www.mims.com).

(www.mims.com)
DRP : tidak ada
Rekomendasi : terapi lacto-B dilanjutkan 3x1 sachet, sampai pasien tidak mengalami
diare.
Monitoring efektivitas : frekuensi BAB menurun atau diare berkurang
Monitoring ESO : flatulen (DIH, Lactobacillus)

(DIH, Lactobacillus)
4. ISK
Subyektif : pusing , mual, muntah dan demam
Obyektif : bakteri batang (+)

Terapi : Ampicilin 4 x 5000 mg IV


Menurut dipiro, (hal 1936) antimikroba yang dapat digunakan pada pasien ISK didasarkan
atas gejala yang di alami pasien, efek samping, kerentanan dan kenyamanan pasien.
Pada kasus ini pasien mendapatkan terapi ampicilin 5000 mg 4x sehari , ampicilin
merupakan terapi pilihan untuk ISK pada anak sebagai antimikrobial dengan dosis 50-
100 mg setiap 6 jam. (NWC,2012), penggunaan ampicilin juga dapat menghindari
adanya resistensi baklteri terhadap penggunaan antimikroba, karena pasien telah
melakukan skin test dan hasilnya negatif sehingga pasien tidak memiliki kontraindikasi
terhadap penggunaan ampicilin . Pemberian ampicillin kepada pasien sudah tepat obat,
tepat pasien, tepat indikasi tetapi tidak tepat dosis. Dosis ampicillin untuk anak-anak
dengan pemberian I.V yaitu 100-150 mg/kgBB/hari diberikan tiap 6jam maksimal 2-4 g
per hari (DIH, 2008)
DRP ; tdk tepat dosis
Rekomendasi : terapi dilanjutkan dengan penggantian dosis yaitu 100-150 mg/kgBB/hari
diberikan tiap 6jam maksimal 2-4 g per hari
Monitoring : gejala berkurang dan nilai bakteri menjadi negatif
ESO : rash , diare, alergi

dipiro, 1936

NWC,2012

dipiro hal 1938


1. Cefotaxim injeksi 3 x 500 mg
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, terdapat bakteri batang pada pasien. Selain itu
pasien juga mengeluhkan rasa nyeri perut. Pasien didiagnosa oleh dokter terkena penyakit
Infeksi Saluran Kemih (ISK). Pasien mendapatkan terapi Cefotaxim injeksi yang merupakan
golongan sefalosporin generasi ketiga. Menurut Dipiro (2008) hal ketik 1938, sefalosporin
generasi ketiga merupakan salah satu agen antimikroba terapi parenteral untuk treatment
Infeksi Saluran Kemih. Pada kasus ini, pasien berusia 13 tahun dan tergolong usia anak-anak.
Menurut BNF Children (2009) hal ketik 322, dosis Cefotaxim injeksi yang tepat untuk pasien
usia 1 bulan sampai 18 tahun yaitu 50 mg/kg setiap 8-12 jam atau 1 vial 500 mg secara IV
atau IM. Pasien diberikan terapi cefotaxim injeksi 3 x 500 mg sehingga tepat indikasi, tepat
obat, tepat pasien dan tepat dosis.

Dipiro (2008) hal ketik 1938


BNF Children (2009) hal ketik 322
Cefadroxil 2x2 cth (250mg/5mL)
Analisis : Pemberian kombinasi memiliki efektifitas yang lebih tinggi untuk sebagian
besar bakteri. Level infeksi saluran kemih yang tinggi memungkinkan treatment
infeksi yang penting untuk mencegah komplikasi. Sehinga diperlukan profilaksis
untuk recurrent infeksi. Terapi oral yang tepat untuk profilaksis recurrent infeksi yaitu
Trimetropim-sulfamethoxazole. Sehingga pemberian cefadroxil kepada pasien tidak
tepat obat, tidak tepat pasien, tidak tepat indikasi dan tidak tepat dosis. Trimetropim-
sulfamethoxazole diberikan dengan dosis 2 mg TMP/kg/dose daily or 5 mg
TMP/kg/dose twice weekly
DRP : Tidak tepat obat, tidak tepat indikasi, tidak tepat dosis, dan tidak tepat pasien
Rekomendasi : Terapi oral yang tepat untuk profilaksis recurrent infeksi yaitu Trimetropim-
sulfamethoxazole. Trimetropim-sulfamethoxazole diberikan dengan dosis 2 mg TMP/kg/dose
daily or 5 mg TMP/kg/dose twice weekly (DIH, 2008)

Monitoring : ESO : diare, mual, muntah, pusing

Keberhasilan terapi : pengurangan gejala

KONSELING

GASTROENTRITIS AKUT
Banyak minum air putih
Istirahat yang cukup
Memberian suplemen zinc untuk mengurangi keparahan diare
Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum kontak dengan mulut,
Mencuci tangan setelah dari kamar mandi
Tidak makan sembarangan
Menjaga higienitas
Menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi

KEJANG DEMAM KOMPLEKS


Menginformasikan kepada keluarga pasien mengenai kejang demam dan
prognosisnya.
Tidak ada peningkatan risiko keterlambatan sekolah atau kesulitan intelektual
akibat kejang demam.
Kejang demam kurang dari 30 menit tidak mengakibatkan kerusakan otak.
Risiko kekambuhan penyakit yang sama di masa depan.
Rendahnya risiko terkena epilepsi dan kurangnya manfaat menggunakan terapi
obat antiepilepsi dalam mengubah risiko itu.

INFEKSI SALURAN KEMIH


Mencukupi kebutuhan asupan cairan
Banyak minum air putih untuk mendorong bakteri keluar.
Jangan menahan buang air kecil, segera buang air kecil saat terasa.
Menjaga kebersihan, misalkan setiap buang air kecil bersihkan dari depan ke belakang
agar bakteri tidak masuk ke saluran urin dari rektum.
Ganti pakaian setiap hari agar bakteri tidak berkembang biak.
Hindari kafein, minuman yang mengandung karbonat dan alkohol yang dapat
mengiritasi kandung kemih.
Pemakaian antibiotik harus dihabiskan

FARINGITIS
Istirahat cukup
Minum air putih yang cukup
Berkumur dengan air yang hangat dan berkumur dengan obat kumur antiseptik untuk
menjaga kebersihan mulut
Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan olahraga teratur.
Menghindari makan makanan yang dapat mengiritasi tenggorokan
Selalu menjaga kebersihan mulut
Mencuci tangan secara teratur
Pemakaian antibiotik harus dihabiskan

Dapus
Adams G., Boies L., Higler P., 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke enam. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta: 135-142.
Amstrong, L.L., et al., 2009. Drug Information Handbook 17 th Edition. Lexicomp for the
American Pharmacist Association. America.

Anderson, M. James, 2011, Evidence-Based Care Guideline : Prevention and Management of


Acute Gastroenteritis (AGE) In Children Aged 2 Month To 18 Years. Cincinnati
Children's Hospital Medical Center.
Becker, E. W. (1994), Microalgae Biotechnology and Microbiology, Cambridge:
Cambridge University Press.

BNF 61, 2011, British National Formulary 61, Royal Pharmaceutical Society, BMJ Group,
London.
BNF for Children, 2009., BNF for Children, The Essential Resource for Clinical Use of
Medicines in Children, RPS Publishing, Germany.
Canani, et. al., 2007, Probiotics for treatment of acute diarrhoea in children: randomised
clinical trial of five different preparations, BMJ, 1-6.
Depkes RI, 2011, Buku Saku Petugas Kesehatan lintas Diare, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
Dipiro, et.al., 2008, Pharmacotheraphy a Pathophysiologic Approach, 7th Edition, Mc.Graw
Hill, USA.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005, Pharmaceutical Care
untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan, Direktorat Bina Farmasi
Komunitas dan Klinik.
Guandalini, Stefano, 2011, Probiotics for Prevention and Treatment of Diarrhea, J. Clin
Gastroenterol , Volume 4.
Guarino A., Ashkenazi S., Gendrel D., Vecchio A. Lo, Shamir R. and Szajewska H., 2014,
European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition/European
Society for Pediatric Infectious Diseases Evidence-Based Guidelines for the
Management of Acute Gastroenteritis in Children in Europe: Update 2014, Jpgn, 59 (1),
132152.

IDAI, 2006, Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam, Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Irdawati.2009. KEJANG DEMAM DAN PENATALAKSANAANNYA. Berita Ilmu
Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol 2 No.3, September 2009: 143-146

Muttaqin, Arif. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi asuhan keperawatan Medikal


Bedah.Jakata : Salemba Medika.

NSW, 2014., Management of Acute Gastroenteritis: Fourth Edition. Infants and Children.
Clinical Practice Guideline, NSW Government.
NWC, 2012., Management of urinary tract infection in Children. Clinical Practice Guideline,
NWC Government
Sajun Chung, MD, 2014, Febrile Seizure, Korean J. Pediatr, 57(9): 384-395
www.mims.com

Anda mungkin juga menyukai