Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

SALIVA

Saliva adalah suatu cairan kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari
kelenjar saliva mayor dan minor yang ada pada mukosa rongga mulut. Tiga kelenjar
mukosa mayor yaitu parotis, submandibularis, dan sublingualis. Sementara yang
termasuk kelenjar saliva minor adalah kelenjar ludah kecil yang terdapat dalam
mukosa pipi, bibir, palatum dan glosopalatal. Saliva adalah bagian dari rongga mulut
yang sangat perlu untuk diketahui beberapa sifat yang ada di dalamnya termasuk juga
fungsi yang ada di dalamnya. Proses pengeluaran dari saliva ini dapat sedikit ataupun
banyak melebihi nomal. Pengeluaran ini dapat dirangsang oleh adanya pengaruh
bahan kimia ataupun secara mekanis. 1

Pengetahuan saliva adalah dasar dari sebuah penatalaksanaan setiap


kasusyang ada di dalam rongga mulut, seperti dalam prosedur penumpatan
harusmemblokir saliva yang mengenai daerah yang di tumpat. Oleh karena itu,sangat
perlu sekali memahami akan beberapa karakteristik dari saliva itusendiri, khususnya
oleh mahasiswa keperawatan. Berdasarkan uraian di atas,maka laporan praktikum ini
dibuat untuk memudahkan dalam memahami hal-hal yang berkaitan dengan saliva
sehingga pengetahuan ini dapat diintegrasikandalam penatalaksanaan proses
keperawatan, baik di klinik maupun di rumahsakit. 2

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Saliva


Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar khusus dan
disebarkan ke dalam cavitas oral. Kelenjar saliva dibagi menjadi 2, yaitu kelenjar
saliva utama/mayor dan kelenjar saliva minor. Kelenjar saliva mayor yang merupakan
kelenjar ekstrinsik yang mengeluarkan sekretnya ke dalam rongga mulut secara
intermitten. Kelenjar saliva mayor ini terdiri dari 3 kelenjar besar meliputi kelenjar
parotis, kelenjar sub mandibularis, kelenjar sub lingualis. Sedangkan Kelenjar saliva
minor adalah kelenjar yang letaknya tersebar pada mukosa dan submukosa rongga
mulut, merupakan kelenjar kecil-kecil yang mengeluarkan sekretnya terus menerus.

Untuk membasahi membran mukosa rongga mulut, vestibulum dan bibir,


saliva diskresikan secara terus-menerus oleh kelenjat-kelenjar kecil yang jumlahnya
banyak dan berhubungan dengan rongga mulut. Selain itu, kelenjar parotis,
submandibular, sublingualis mengeluarkan sekretnya dalam jumlah banyak seolah
dirangsang secara mekanis, kimiawi psikis atau olfaktorius karena adanya makanan
atau dengan akan adanya makanan. Kelenjar-kelenjar mayor, ekstrinsik dan
berpasangan ini menyalurkan sekretnya ke dalam mulut melalui saluran keluarnya. 1

2.2 Sekresi Saliva

2.2.1. Mekanik

Sekresi kelenjar ludah, menurut Amerongen (1991), dapat dirangsang dengan


cara-cara mekanis. Contohnya adalah dengan mengunyah. Sekresi saliva tanpa
disertai rangsang mengunyah adalah 0,03-0,05 ml/menit/glandula, sedangkan sekresi
saliva yang disertai dengan rangsang mengunyah dapat bervariasi atau lebih banyak.
Pada sebuah jurnal penelitian di sebutkan mengenai aliran saliva yang dirangsang
dengan, stimulasi mekanik dari bahan makanan buatan (chewing inert materials), atau

2
mengunyah makanan alami (natural foods), ditemukan bahwa konsistensi dan volume
makanan juga berpengaruh terhadap aliran saliva. Makanan yang membutuhkan daya
kunyah besar atau makanan yang rasanya cukup mencolok dapat meningkatkan aliran
saliva dan juga mengubah komposisinya. 3

Rangsangan mekanik seperti mengunyah dapat menimbulkan refleks saliva


sederhana (tidak terkondisi). Reflex saliva sederhana (tidak terkondisi) terjadi
sewaktu kemoreseptor atau reseptor tekanan di dalam rongga mulut berespons
terhadap adanya makanan. Sewaktu diaktifkan, reseptor-reseptor tersebut memulai
impuls di serat saraf aferen yang membawa informasi ke pusat saliva di medula
batang otak. Pusatsaliva kemudian mengirim impuls melalui saraf otonom ekstrinsik
ke kelenjar saliva untuk meningkatkan sekresi saliva. Tindakan-tindakan gigi
mendorong sekresi saliva walaupun tidak terdapat makanan karena adanya
manipulasi terhadap reseptor tekanan yang terdapat di mulut. 4

Rangsang mekanik pada sekresi saliva juga berhubungan dengan fungsi saliva
yaitu, membantu proses pencernaan makanan. Pada saat mengunyah sekresi saliva
lebih banyak karena saliva mengandungenzim ptyalin (amilase ludah) dan lipase
ludah yang dikeluarkan untuk mengubah tepung dan glikogen menjadi kesatuan
karbohidrat yang lebih kecil. Selain itu juga berhubungan dengan fungsi saliva
sebagai self-cleansing. Pada orang yang memiliki kebiasaan mengunyah pada satu
sisi, sisi yang tidak digunakan cenderung akan lebih kotor daripada sisi yang
digunakan untuk mengunyah, ditandai dengan banyaknya akumulasi plak dan
biasanya banyak terbentuk karang gigi. Kondisi ini disebabkan karena gerakan
pengunyahan dan keberadaan makanan akan menstimulasi kelenjar saliva. Hal ini
juga menjelaskan mengapa pada saat orang sedang berpuasa mulut terasa kering,
karena hampir sama sekali tidak ada gerakan mengunyah dan tidak adanya makanan
yang merangsang keluarnya saliva.4

3
2.2.2 Kimiawi

Selain mekanik, sekresi saliva juga dipengaruhi oleh factor kimiawi, seperti
rangsangan asam, manis, pedas atau pahit. Yang sering meningkatkan sekresi saliva
adalah rangsangan dalam bentuk asam. Makanan yang mengandung karbohidrat atau
asam yang sering dikonsumsi akan menyebabkan keasaman dalam mulut meningkat,
sedangkan jaringan gigi dapat larut dalam keadaan asam. Dalam hal ini saliva sangat
berperan dalam mengatur keasaman pH rongga mulut, di mana saliva bertindak
sebagai buffer. 4

Kapasitas buffer saliva merupakan faktor penting, yang memainkan peran


dalam pemeliharaan pH saliva, dan remineralisasi gigi. Kapasitas buffer saliva pada
dasarnya tergantung pada konsentrasi bikarbonat. Hal tersebut berkorelasi dengan
laju aliran saliva, pada saat laju aliran saliva menurun cenderung untuk menurunkan
kapasitas buffer dan meningkatkan resiko perkembangan karies. 4

Hasil percobaan pada suatu jurnal penelitian disebutkan bahwa rata-rata


volume saliva tertinggi di dapatkan setelah mendapat stimulasi dengan asam sitrun
(1,4 ml/menit) sedangkan rata-rata volume saliva terendah terjadi pada saat tanpa
stimulasi/ kontrol (0,72 ml/menit) . Hasil yang di dapatkan pada percobaan ini
menguatkan teori bahwa stimuli asam dapat meningkatkan sekresi saliva secara
signifikan. Selain itu, komposisi dan jumlah saliva yang dihasilkan memang cukup
bergantung pada tipe dan intensitas stimulus, pada stimulus asam sitrun volume/
kapasitas sekresi saliva memiliki volume tertinggi dibandingkan yang lain. (tanpa
stimulasi: 0,4 ml/menit12; daya pengunyahan: 0,85 ml/menit7; asam sitrun: 1,7
ml/menit). 4

2.3 Komposisi saliva.

Komposisi dari saliva meliputi komponen organik dan anorganik. Namun


demikian, kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena

4
pada saliva penyusun utamanya adalah air. Komponen anorganik terbanyak adalah
sodium, potassium (sebagai kation), khlorida, dan bikarbonat (sebagai anion-nya).

Sedangkan komponen organik pada saliva meliputi protein yang berupa enzim
amilase, maltase, serum albumin, asam urat, kretinin, mucin, vitamin C, beberapa
asam amino, lisosim, laktat, dan beberapa hormon seperti testosteron dan kortisol.
Selain itu, saliva juga mengandung gas CO2, O2, dan N2. Saliva juga mengandung
immunoglobin, seperti IgA dan IgG dengan konsentrasi rata-rata 9,4 dan 0,32 mg%. 1

2.4 Fungsi saliva.

1) Menghaluskan makanan
2) Membentuk makanan menjadi bolus-bolus sehingga dapat ditelan dengan
mudah.
3) Memecah karbohidrat menjadi maltosa dan dextrin (Karena adanya enzim
amilase dalam saliva).
4) Mencegah kerusakan dan erosi pada gigi.
5) Meminimalisir keasaman rongga mulut dan mencegah kerusakan struktur gigi
saat terjadi muntah.
6) Ion-ion seperti Ca, P, dan F yang terkandung dalam saliva berperan penting
pada proses remineralisasi.
7) Mempertahankan mulut tetap lembap.
8) Membantu proses bicara dengan memudahkan gerakan bibir dan lidah.
9) Mempertahankan mulut dan gigi tetap bersih.
10) Mekanisme pertahanan tubuh (mempunyai daya anti-bakteri) dan sebagai anti
oksidan. 1

Terdapat beberapa fungsi saliva diantaranya adalah: 5

1) Fungsi Saliva pada Proses Pencernaan dan Pengunyahan Enzim amilase yang
terdapat pada saliva mampu menguraikan sebagian makananyang mengandung
tepung kanji dan glikogen.

5
2) Fungsi Saliva dalam Proses Pengecapan Rasa Saliva berperan dalam melarutkan
bahan-bahan makanan yang memiliki rasa tertentu sehingga dapat diterima
stimulusnya oleh reseptor-reseptor pengecap.

3) Fungsi Saliva sebagai Buffer Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat, serta


kandungan ammonia dan ureadalam saliva dapat menyangga dan menurunkan pH
yang terjadi saat bakteri plak sedang memetabolisme gula.

4) Fungsi Saliva dalam Proses Anti Bakteri Saliva mengandung beberapa faktor yang
dapat menghancurkan bakteri. Salah satunya adalah ion tiosianat dan beberapa enzim
proteolitik seperti lisozim, yang dapat menyerang bakteri, membantu ion tiosianat
memasuki bakteri yang kemudian menjadi bakterisidal, dan dapat pula mencerna
partikel makanan sehingga dapat menghilangkan pendukung metabolisme bakteri.

5) Fungsi Saliva dalam Mencegah Karies Difusi komponen saliva seperti kalsium,
fosfat, ion OH dan Fe ke dalam plak dapat menurunkan kelarutan email dan
meningkatkan remineralisasi karies dini. Beberapa komponen saliva yang termasuk
dalam komponen non imunologi seperti lisozim, laktoperoksidase, dan laktoferin
mempunyai daya anti bakteri yang langsung terhadap mikroflora tersebut, sehingga
derajat asidogeniknya berkurang.

6) Fungsi Lubrikasi Saliva dapat membentuk lapisan mukus pelindung pada membran
mukosa yang akan bertindak sebagai pelindung terhadap iritan dan akan mencegah
kekeringan dalam rongga mulut. Jika mukosa mulut tidak dilindungi oleh saliva,
maka mukosa mulut akan mudah luka dan terkena infeksi. Peradangan mukosa
ditandai oleh rasa nyeri atau seperti terbakar dan akan mengalami eksaserbasi oleh
makanan pedas, buah- buahan, minuman panas, dan tembakau.

7) Fungsi Saliva dalam Menjaga Higiene Rongga Mulut Aliran saliva dapat
menurunkan akumulasi plak pada permukaan gigi dan juga meningkatkan
pembersihan karbohidrat dari rongga mulut. Jika jumlah saliva di dalam mulut
menurun, akumulasi plak akan meningkat dan terjadi modifikasi flora plak sehingga

6
jumlah Candida, Laktobasilus dan Streptococcus mutans makin banyak. Oleh karena
itu, pada pasien yang menderita mulut kering akan sering terjadi infeksi kandida dan
gingivitis.2

2.5 Komponen Kelenjar Saliva

1. Connective tissue

Connective tissue terbentuk dari kapsula yang keluar dan masuk ke dalam
kelenjar yang terbagi menjadi Lobos, Makrolobus dan Mikrolobus yang membawa
cairan sekretori dari duktus ke pembuluh darah dan limfe.

2. Secretory Ductus

Duktus yang terbesar akan mengecil menjadi sistem yang komplek. Cabang terkecil
dari sistem duktus adalah Intralobula yang merupakan Terminal Secretory Unit
(mucous tuberositas atau serous acini) yang merupakan duktus striata maupun
intercalate. Inut sekretori bertemu di duktus sekretori utama.

3. Terminal Secretory Cell

Sel-sel ini ditemukan di Microlobus yang terbentuk mengelilingi lumen. Terpisah dari
jaringan connective tissue oleh basal lamina.7

Fungsi Efek Komponen yang berperan yaitu:

1) Proteksi dan pembersihkan


2) Pelumas
3) Thermis
4) Pembentukan pelikel Air
5) Mucin dan glikoprotein
6) Mucin
7) Protein, glikoprotein, mucin
8) Penyeimbang PH Menstabilkan PH
9) Menetralisir asam Bikarbonat, fosfat
10) Protein dasar, urea, amonia

7
11) Keutuhan gigi Pemasakan email dan perbaikan email Kalsium, fosfat,
fluoride, statherin, protein kaya prolin
12) Anti mikroba Phisycal barrier
13) Immune defense
14) Nonimmune defense Mucin
15) Sekresi Ig A
16) Peroksidase, lisosim, laktoferin, histatin, mucin, dan aglutinin
17) Perbaikan jaringan Penyembuhan luka dan regenerasi epitel Faktor
pertumbuhan dan protein trefoil
18) Pencernaan Pembentukan bolus Pencernaan karbohidrat dan trigliserida
Mucin dan air
19) Amilase dan lipase
20) Perasa Memelihara kondisis indera pengecap Faktor pertumbuhan epidermal
dan karbonik hidrase VI. 6

2.6 Macam-macam kelenjar ludah.

1. Kelenjar ludah utama / Mayor / Besar

Kelenjar-kelenjar ludah besar terletak agak jauh dari rongga mulut dan
sekretnya disalurkan melalui duktusnya kedalam rongga mulut.

Kelenjar saliva mayor terdiri dari :

1) Kelenjar Parotis , terletak dibagian bawah telinga dibelakang ramus


mandibula
2) Kelenjar Submandibularis (submaksilaris) , terletak dibagian bawah korpus
mandibula
3) Kelenjar Sublingualis , terletak dibawah lidah

Kelenjar ludah besar sangat memegang peranan penting dalam proses


mengolah makanan. 8

8
Gambar 1. www.google.com

2.6.1 Kelenjar Parotis

Kelenjar parotis merupakan kelenjar ludah terbesar yang terletak antara


prossesus mastoideus dan ramus mandibula. Duktus kelenjar ini bermuara pada
vestibulus oris pada lipatan antara mukosa pipi dan gusi dihadapan molar 2 atas.
Kelenjar parotis dibungkus oleh jaringan ikat padat. Mengandung sejumlah besar
enzim antara lain amilase lisozim, fosfatase asam, aldolase, dan
kolinesterase.bJaringan ikat masuk kedalam parenkim dan membagi organ menjadi
beberapa lobus dan lobulus. Secara morfologis kelenjar parotis merupakan kelenjar
tubuloasinus (tubulo-alveolar) bercbang-cabang (compound tubulo alveolar gland).
Asinus-asinus murni serus kebanyakan mempunyai bentuk agak memanjang dan
kadang-kadang memperlihatkan percabangan-percabangan. Antara sel-sel asinus
membran basal terdapat sel-sel basket. Saluran keluar utama ( duktus interlobaris)

9
disebut duktus stenon (stenson) terdiri dari epitel berlapis semu. Kearah dalam organ
duktus ini bercabang-cabang menjadi duktus interlobularis dengan sel-sel epitel
berlapis silindris. Duktus interlobularis tadi kemudian bercabang-cabang menjadi
duktus intralobularis. Kebanyakan duktus intralobularis merupakan duktus Pfluger
yang mempunyai epitel selapis silindris yang bersifat acidophil dan menunjukkan
garis-garis basal. Duktus Boll pada umumnya panjang-panjang dan menunjukkan
percabangan. Duktus Pfluger agak pendek. Sel-selnya pipih dan memanjang. Pada
jaringan ikat interlobaris dan interlobularis terlihat banyak lemak yang berhubungan
dengan kumpulan lemak bichat (Fat depat of bichat). Juga pada jaringan tersebut
terlihat cabang-cabang dari Nervus Facialis dan pembuluh darah. 8

2.6.2 Kelenjar submandibularis (submaksilaris)

Kelenjar ini terletak disebelah dalam korpus mandibula dan mempunyai


duktus ekskretoris (Duktus Wharton) yang bermuara pada dasar rongga mulut pada
frenulum lidah , dibelakang gigi seri bawah. Merupakan kelenjar yang memproduksi
air liur terbanyak. Seperti juga kelenjar parotis, kelenjar ini diliputi kapsel yang
terdiri dari jaringan ikat padat yang juga masuk ke dalam organ dan membagi organ
tersebut menjadi beberapa lobulus. Secara morfologis kelenjar ini merupakan kelenjar
tubuloalveolar / tubuloacinus bercabang-cabang (compound tubulo alveolar gland).
Percabangan duktusnya sama dengan glandula parotis demikian pula sel-selnya.
Bentuk sinus kebanyakan memanjang. Antara sel-sel asinus membran basal terdapat
sel-sel basket. Duktus Boll : pendek, sempit sehingga sukar dicari dalam preparat bila
dibandingkan glandula parotis. Selnya pipih dan memanjang. Duktus Pfluger : lebih
panjang daripada duktus pfluger kelenjar parotis dan menunjukkan banyak
percabangan sehingga dalam preparat lebih mudah dicari.8

2.6.3 Kelenjar sublingualis

Merupakan kelenjar terkecil dari kelenjar-kelenjar ludah besar. Terletak pada


dasar rongga mulut, dibawah mukosa dan mempunyai saluran keluar (duktus

10
ekskretorius) yang disebut Duktus Rivinus. Bermuara pada dasar rongga mulut
dibelakang muara duktus Wharton pada frenulum lidah. Glandula sublingualis tidak
memiliki kapsel yang jelas tetapi memiliki septa-septa jaringan ikat yang jelas/tebal.
Secara morfologis kelenjar ini merupakan kelenjar tubuloalvioler bercabang-cabang
(compound tubuloalveolar gland). Merupakan kelenjar tercampur dimana bagian
besar asinusnya adalah mukus murni. Duktus ekskretoris sama dengan glandula
parotis. Duktus Pfluger sangat pendek. Duktus Boll sangat pendek dan bentuknya
sudah tidak khas sehingga dalam preparat sukar ditemukan. Pada jaringan ikat
interlobularis tidak terdapat lemak sebagai glandula parotis. 8

Gambar 2. Kelenjar Ludah. 7

2. Kelenjar ludah tambahan / minor / kecil-kecil

Kebanyakan kelenjar ludah merupakan kelenjar kecil-kecil yang terletak di


dalam mukosa atau submukosa (hanya menyumbangkan 5% dari pengeluaran ludah
dalam 24 jam) yang diberi nama lokasinya atau nama pakar yang menemukannya.
Semua kelenjar ludah mengeluarkan sekretnya kedalam rongga mulut.

1) Kelenjar labial (glandula labialis) terdapat pada bibir atas dan bibir bawah
dengan asinus-asinus seromukus

11
2) Kelenjar bukal (glandula bukalis) terdapat pada mukosa pipi, dengan asinus-
asinus seromukus
3) Kelenjar Bladin-Nuhn ( Glandula lingualis anterior) terletak pada bagian
bawah ujung lidah disebelah menyebelah garis, median, dengan asinus-asinus
seromukus
4) Kelenjar Von Ebner (Gustatory Gland = albuminous gland) terletak pada
pangkal lidah, dnegan asinus-asinus murni serus
5) Kelenjar Weber yang juga terdapat pada pangkal lidah dengan asinus-asinus
mukus .
6) Kelenjar Von Ebner dan Weber disebut juga glandula lingualis posterior
7) Kelenjar-kelenjar pada pallatum dengan asinus mukus.8

Gambar 3. Kelenjar Saliva dan komponennya. 7

2.7 Penyakit Kelenjar Ludah

2.7.1 Penyakit kelenjar ludah dengan keluhan saliva yg berkurang

1. Sialolithiasis

1) Sialolithiasis : massa organik terkalsifikasi yg berkembang di parenchym atau


duktus kelenjar ludah mayor atau minor.

12
2) Tersusun berlapis dari bahan organik hidroksiapatit & mengandung
oktakalsium fosfat.
3) Komposisi kimia tda kalsium fosfat dan karbon, magnesium, potasiumklorida,
amonium.
4) Penyebab : Inflamasi, iritasi lokal ,obat2an yg menyebabkan stasis.
5) 80-90% terjadi di kel. Submandibula/duktus nya krn duktus Wharton
memiliki lekukan tajam yg memudahkan terperangkapnya debris dan kadar
kalsium di saliva lebih tinggi dari kel.submand, serta posisi kelenjar lebih
memungkinkan tjdnya stasis.
6) 5-15% terjadi di Parotis; 2-5% di Sublingual dan kel. ludah minor.
7) GEJALA: pembesaran intermiten & sakit di daerah kel. Saliva mayor dimana
lebih parah waktu makan. Rasa sakit berasal dari pengumpulan saliva di
belakang batu. Stasis dapat berlanjut ke infeksi, lalu fibrosis dan atrofi
kelenjar. Pada kasus kronis dapat terjadi fistel, ulserasi.7

2. Aplasia & hipoplasia kelenjar ludah.

1) Jarang terjadi.
2) Biasanya kombinasi dgn anomali lain spt cleft palate atau mandibulofacial
dysostosis.
3) Keluhan utama : xerostomia parah, kesulitan makan, rampant caries.
4) Perlu supervisi terus utk kesehatan giginya serta penggunaan fluoride
khususnya pada masa pertumbuhan gigi.7

2.7.2 Gangguan Inflamasi

1. Sialadenitis (inflamasi kelenjar ludah).

1) Diperlihatkan dgn pembesaran kel. yang terkena dgn berbagai tingkat ggn.
fungsi yg tergantung keparahan reaksi inflamasi.
2) Aliran saliva berkurang, kekentalan dan turbidity bertambah sehigga infeksi
bisa lebih parah.
3) Parotis paling sering terkena. 7

2. MUMP (infeksi virus)

13
1) Epidemic parotitis, disebabkan oleh paramyxovirus.
2) Terutama mengenai kelenjar ludah.
3) Klinis : pembengkakan kel. saliva tiba-tiba tanpa pus dari duktus. Demam
ringan,malaise, anorexia.
4) Parotis paling sering, satu atau keduanya. Membesar terus dlm 2-3 hari,
mengecil dlm 7 hari.
5) Sakit jika makan asam. Orifis juga inflamasi. 7

3. HIV Associated Saliva Gland Disease (virus)

1) Pembesaran kelenjar saliva mungkin dari AIDS-related tumor, Sarkoma


Kaposi, dan limfoma diikuti xerostomia.
2) Beberapa penderita AIDS mengalami xerostomia progresif tanpa pembesaran
kelenjar.7

4. Infeksi karena bakteri.

Bisa akut dan rekuren dan paling banyak mengenai kel. Parotis. Mungkin
disebabkan oleh aktifitas bakteriostatik saliva dari kelenjar submandibular.

1. Acute Bacterial Sialodenitis


1) Disebut juga suppurative parotitis.
2) Berasosiasi dgn aliran saliva yg berkurang pada pasien dehidrasi dan
lemah.
3) Banyak terjadi pada usia lanjut yg lemah.
4) Bakteri : Staphyllococcus aureus.
5) Faktor kontribusi : dehidrasi & kesehatan mulut yang rendah.7
2. Chronic Bacterial Sialadenitis
1) Kronis atau rekuren (Parotitis).
2) Banyak diketemukan pd anak2 normal dan dewasa.
3) Bisa mengenai satu atau kedua kelenjar.
4) Penyebab : obstruksi duktus, congenital stenosis, Sjogrens syndrome, infeksi
virus sebelumnya, alergi. Pada umumnya : idiopatik.
5) Biasanya menghilang pada masa pubertas atau setelah 20 tahun.
6) Bakteri : S. viridans, Escherichia coli, & proteus, pneumococci.
7) Tanda utama parotitis rekuren : pembengkakan mendadak unilateral pada
sudut rahang, telah tjd berulang kali.
8) Pus masih bisa dijumpai di orifis.

14
9) Aliran saliva yg berkurang karena fibrosis parenchym kelenjar. 7
3. SJOGRENS SYNDROME (SS)
1) Gangguan autoimun kel. eksokrin yg berhubungan dgn penyakit jar.
ikat lain, neuropathy & gangguan lymfoproliferatif.
2) SS primer mengganggu hanya kel. eksokrin terutama kel. Lakrimal &
Saliva.
3) Keluhan : xerostomia yg bisa disertai pembesaran kelenjar parotis.

BAB III

KESIMPULAN

Saliva adalah suatu cairan kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari
kelenjar saliva mayor dan minor yang ada pada mukosa rongga mulut. Tiga kelenjar
mukosa mayor yaitu parotis, submandibularis, dan sublingualis. Sementara yang
termasuk kelenjar saliva minor adalah kelenjar ludah kecil yang terdapat dalam
mukosa pipi, bibir, palatum dan glosopalatal. Saliva adalah bagian dari rongga mulut
yang sangat perlu untuk diketahui beberapa sifat yang ada di dalamnya termasuk juga
fungsi yang ada di dalamnya. Proses pengeluaran dari saliva ini dapat sedikit ataupun
banyak melebihi nomal. Pengeluaran ini dapat dirangsang oleh adanya pengaruh
bahan kimia ataupun secara mekanis.

Komposisi dari saliva meliputi komponen organik dan anorganik. Namun


demikian, kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena
pada saliva penyusun utamanya adalah air. Komponen anorganik terbanyak adalah
sodium, potassium (sebagai kation), khlorida, dan bikarbonat (sebagai anion-nya).
Saliva banyak mempunyai fungsi misalkan Menghaluskan makanan, Mencegah

15
kerusakan dan erosi pada gigi, Mempertahankan mulut tetap lembap,
Mempertahankan mulut dan gigi tetap bersih

Macam-macam kelenjar ludah yaitu Kelenjar ludah utama / Mayor / Besar


Kelenjar saliva mayor terdiri dari : Kelenjar Parotis, Kelenjar Submandibularis
(submaksilaris), Kelenjar Sublingualis. Dan Kelenjar ludah minor yaitu: Kelenjar
labial (glandula labialis), Kelenjar bukal (glandula bukalis), Kelenjar Bladin-Nuhn
( Glandula lingualis anterior), Kelenjar Von Ebner (Gustatory Gland = albuminous
gland), Kelenjar Weber, Kelenjar Von Ebner dan Weber, Kelenjar-kelenjar pada
pallatum dengan asinus mucus

Saliva juga dapat mengalami kelainan-kelainan seperti dijelaskan sebelumnya


yang harus diketahui oleh dokter gigi sehingga dokter gigi dapat membedakan saliva
normal dan saliva yang mengalami ketidaknormalan sehingga dapat mendiagnosis
kelainan yang terjadi pada saliva dengan tepat.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Kartika S. Saliva. [online] [cited 2014 Januari 2]. Available from: URL:
https://www.scribd.com/doc/84959506/Saliva.
2. Anonim, 2009, Saliva. [online] [cited 2014 Januari 2]. Available from: URL
(http://jurtek.akprind.ac.id/sites/default/files/127_134_ganjar.pdf).
3. Amerongen, A.N., 1991, Ludah dan Kelenjar Ludah: Arti Penting bagi
Kesehatan Gigi, Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. Halaman : 6-22;
37-39.
4. Putri Julica, Mawar.2010. Laporan Tertulis: Pengaruh Stimulasi Berkumur,
Mengunyah dan Asam Sitrun terhadap Sekresi dan pH Saliva. Gajah Mada
University Press: Yogyakarta. Diposkan 15th March 2013 oleh Medina Nanda
http://mdolpind.blogspot.com/2013/03/sekresi-saliva.html
5. Kidd EAM, Bechal SJ. Karies dan Saliva: Dasar-dasar Karies dan
Penanggulangannya. Sumawinata N, Faruk F, alih bahasa. Jakarta: EGC. P.66-
67. 2.
6. Lawrence HP. Salivary Markers of Systemic Disease: Noninvasive Diagnosis
of Disease and Monitoring of General Health. J Can Dent Assoc, 2002; 68(3):
170-4.

17
7. Tjahajawati S. Kelenjar Saliva dan Saliva. Kuliah Ilmu Kedokteran Gigi
Dasar. FKG Universitas Padjadjaran. 2014.
8. Dentistry Molar. Jenis Kelenjar Saliva dan Muaranya [online] [cited 2014
Januari 2]. Available from: URL:
https://dentistrymolar.wordpress.com/2010/04/24/jenis-kelenjar-saliva-dan-
muaranya/.

18