Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS DAMPAK TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH

DI KOTA BENGKULU TERHADAP LINGKUNGAN SEKITAR

February 8, 2015
Tags: Kota Bengkulu, sampah, TPAOleh :Royeki Ronal

Abstrak

Sampah merupakan material sisa yang sudah tidak dipakai, tidak disenangi atau
sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh
manusia tetapi bukan untuk kegiatan biologis. Sampah sampai saat ini selalu menjadi
masalah; sampah dianggap sebagai sesuatu yang kotor dan harus dibuang. Bila dibuang
sembarangan akan menjadi sumber pencemaran lingkungan dan sumber penyakit bagi
manusia. Dalam hal ini keberadaan tempat pembuangan akhir (TPA) sangat diperlukan oleh
suatu daerah, karena sampah senantiasa diproduksi oleh penduduk dalam segala aktivitasnya.
Selama penduduk terus berkembang maka produksi sampah akan semakin besar. Sesuai
dengan standar kota sedang, yaitu tingkat timbulan sampah sebanyak 3liter/orang/hari, Kota
Bengkulu dengan jumlah penduduk 360.772 jiwa, menghasilkan1.082,32 m3/hr timbulan
sampah. Jumlah ini didapatkan dari jumlah penduduk dikalikan 3/1000 (m3/hr). Data ini
menggambarkan banyak sampah yang ada dikota Bengkulu. Sampah inilah yang nantinya
akan menumpuk di TPA yang ada di Bengkulu. Sampah yang tidak terkelola dengan baik
akan menimbulkan masalah bagi lingkungan dan masyarakat. Oleh karena itu, dalam
menentukan dan pembangunan sebuah TPA sampah perlu diperhatikan dampak potensial
yang dari keberadaan TPA tersebut.

1. PENDAHULUAN

Sampah adalah sesuatu yang sering kita jumpai di sekeliling kita banyak
sampah berhamburan ataupun tercecer di jalan-jalan, sekeliling rumah, pasar semua
itu sudah tidak asing lagi bagi kita rasakan. Jika mendengar istilah sampah, pasti yang
terlintas dalam benak kita adalah setumpuk barang-barang atau pun benda-benda yang
tak layak guna dan menimbulkan aroma bau busuk yang sangat menyengat. Sampah
diartikan sebagai material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses.
Secara singkat Chandra (2007) mengemukakan, Sampah adalah sesuatu yang tidak
digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari
kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Dalam kehidupan manusia,
sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri, misalnya pertambangan,
manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada
suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira- kira mirip dengan jumlah konsumsi.
Laju pengurangan sampah lebih kecil dari pada laju produksinya. Hal inilah yang
menyebabkan sampah semakin menumpuk di setiap penjuru kota.
Besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan menyebabkan
berbagai permasalahan baik langsung mau pun tidak langsung bagi penduduk kota
apalagi daerah di sekitar tempat penumumpukan. Dampak langsung dari penanganan
sampah yang kurang bijaksana diantaranya adalah timbulnya berbagai penyakit
menular maupun penyakit kulit serta gangguan pernafasan, sedangkan dampak tidak
langsung diantaranya adalah bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya arus
air di sungai karena terhalang timbunan sampah yang dibuang ke sungai. Selain
penumpukan di tempat pembuangan sementara (TPS), jumlah sampah pun akan
semakin meningkat di tempat pembuangan akhir (TPA).
Tempat pembuangan akhir (TPA) atau tempat pembuangan sampah (TPS) ialah
tempat untuk menimbun sampah dan merupakan bentuk tertua perlakuan sampah.
TPA dapat berbentuk tempat pembuangan dalam (di mana pembuang sampah
membawa sampah dari tempat produksi), begitupun tempat yang digunakan oleh
produsen. Adapun dampak-dampak yang diperkirakan timbul akibat adanya TPA
sampah sangat beragam, baik persoalan pra atau pasca berdirinya TPA tersebut.
Dampak tersebut digambarkan pada tabel berikut:

ISI TULISAN
Kondisi Sampah Kota Bengkulu

Kota Bengkulu terdiri dari 4 kecamatan yaitu Kecamatan Gading Cempaka, Teluk Segara,
Bengkahulu, dan Selebar seluas 14.482 Ha dengan jumlah penduduk keseluruhan sejumlah
360.772 jiwa.( Bappeda Kota Bengkulu (Data Usulan DAU th. 2004)). Dengan asumsi
timbulan sampah untuk kota sedang sebesar 3 liter/orang/hari, maka kebutuhan komponen
persampahan Kota Bengkulu disajikan dalam tabel berikut.

Data di atas menggambarkan perbandingan jumlah sampah yang dihasilkan penduduk dengan
jumlah sampah yang dapat ditangani oleh dinas kebersihan. Terlihat masih begitu banyak
sampah yang belum tertangani. Tidak hanya sampai disitu, dari data tersebut kita bisa
berkesimpulan, begitu banyak penumpukan sampah pada TPA. Ini menggambarkan bahwa
daya tampung TPA kota Bengkulu sudah over capacity. Data tahun 2013 menyebutkan kota
Bengkulu menghasilkan sekitar 875 meter kubik sampah organik perhari.

Kondisi TPA kota Bengkulu

Lokasi TPA merupakan tempat pembuangan akhir sampah yang akan menerima segala resiko
akibat pola pembuangan sampah terutama yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya
pencemaran lindi (leachate) ke badan air maupun air tanah, pencemaran udara oleh gas dan
efek rumah kaca serta berkembang biaknya vector penyakit seperti lalat (Judith, 1996).
Menurut Qasim (1994) dan Thobanoglus (1993), potensi pencemaran leachate maupun gas
dari suatu landfill kelingkungan sekitarnya cukup besar mengingat proses pembentukan
leachate dan gas dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama yaitu 20-30 tahun setelah
TPA ditutup.
Saat ini kota Bengkulu memiliki satu TPA di daerah Air Sebakul dengan luas 11 hektare. TPA
ini terletak di Kecamatan Selebar, dengan jarak ke pemukiman penduduk 4 km. sistem TPA
ini berupa sistem open dumping yaitu penimbunan sampah secara terbuka pada areal terbuka
sehingga menyerupai gunungan sampah (Menurut Abijuwono dalam Nandi, 2005)

TPA open dumping di Kota Bengkulu


Dampak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Kota Bengkulu Terhadap Lingkungan
Sekitar
Keberadaan TPA ini tentunya sangat mempengaruhi lingkungan disekitar TPA tersebut.
Dampak tersebut ada yang negatif dan ada juga yang positif .

1. Sampah sebagai bahan pencemar lingkungan


Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi penyebab gangguan dan
ketidak seimbangan lingkungan. Sampah padat yang menumpuk ataupun yang
berserakan menimbulkan kesan kotor dan kumuh. Sehingga nilai estetika pemukiman
dan kawasan di sekitar sampah terlihat sangat rendah. Bila di musim hujan, sampah
padat dapat memicu banjir; maka di saat kemarau sampah akan mudah terbakar.
Kebakaran sampah, selain menyebabkan pencemaran udara juga menjadi ancaman
bagi pemukiman.

a. Pencemaran udara

Sampah (organik dan padat) yang membusuk umumnya mengeluarkan gas seperti
methan (CH4) dan karbon dioksida (CO2) serta senyawa lainnya. Secara global, gas-
gas ini merupakan salah satu penyebab menurunnya kualitas lingkungan (udara)
karena mempunyai efek rumah kaca (green house effect) yang menyebabkan
peningkatan suhu, dan menyebabkan hujan asam. Sedangkan secara lokal, senyawa-
senyawa ini, selain berbau tidak sedap / bau busuk, juga dapat mengganggu kesehatan
manusia. Sampah yang dibuang di TPA pun masih tetap berisiko; karena bila TPA
ditutup atau ditimbun terutama dengan bangunan akan mengakibatkan gas methan
tidak dapat keluar ke udara. Gas methan yang terkurung, lama kelamaan akan
semakin banyak sehingga berpotensi menimbulkan ledakan. Hal seperti ini telah
terjadi di sebuah TPA di Bandung, sehingga menimbulkan korban kematian.

b. Pencemaran air

Proses pencucian sampah padat oleh air terutama oleh air hujan merupakan sumber
timbulnya pencemaran air, baik air permukaan maupun air tanah. Akibatnya, berbagai
sumber air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari (sumur) di daerah
pemukiman telah terkontaminasi yang mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat
kesehatan manusia / penduduk. Pencemaran air tidak hanya akibat proses pencucian
sampah padat, tetapi pencemar terbesar justru berasal dari limbah cair yang masih
mengandung zat-zat kimia dari berbagai jenis pabrik dan jenis industri lainnya. Air
yang tercemar tidak hanya air permukaan saja, tetapi juga air tanah; sehingga sangat
mengganggu dan berbahaya bagi manusia.

c. Penyebab banjir

Fisik sampah (sampah padat), baik yang masih segar maupun yang sudah membusuk;
yang terbawa masuk ke got / selokan dan sungai akan menghambat aliran air dan
memperdangkal sungai. Pendangkalan mengakibatkan kapasitas sungai akan
berkurang, sehingga air menjadi tergenang dan meluap menyebabkan banjir. Banjir
tentunya akan mengakibatkan kerugian secara fisik dan mengancam kehidupan
manusia (hanyut / tergenang air). Tetapi yang paling meresahkan adalah akibat
lanjutan dari banjir yang selalu membawa penyakit ( Tobing, 2005).

2. Sampah sebagai sumber penyakit


Sampah merupakan sumber penyakit, baik secara langsung maupun tak langsung.
Secara langsung sampah merupakan tempat berkembangnya berbagai parasit, bakteri
dan patogen; sedangkan secara tak langsung sampah merupakan sarang berbagai
vektor (pembawa penyakit) seperti tikus, kecoa, lalat dan nyamuk. Sampah yang
membusuk; maupun kaleng, botol, plastik; merupakan sarang patogen dan vektor
penyakit. Berbagai penyakit yang dapat muncul karena sampah yang tidak dikelola
antara lain adalah, diare, disentri, cacingan, malaria, kaki gajah (elephantiasis) dan
demam berdarah. Penyakit penyakit ini merupakan ancaman bagi manusia, yang dapat
menimbulkan kematian. Warga Air Sebakul lokasi TPA menyatakan resah dengan
makin banyaknya lalat didekat pemukiman warga akibat dekatnya lokasi dengan
pemukiman warga.
(http://www.bengkulu-online.com/j0/index.php/beritabengkulu/2288-kota-bengkulu-
hasilkan-sampah-875-kubik-per-hari,diakses tanggal 19 Maret 2014).

Konsepsi Pengelolaan TPA sampah Kota Bengkulu yang Berkelanjutan


Dalam rangka mengurangi terjadinya dampak potensial yang mungkin terjadi selama
kegiatan pembuangan akhir berlangsung diperlukan pengamanan lingkungan TPA (dampak
potensial dapat dilihat pada tabel 1). Upaya tersebut meliputi :

Penentuan lokasi TPA yang memenuhi syarat (SNI No. 03-3241-1997 tentang Tata
Cara Pemilihan Lokasi TPA).
Pembangunan fasilitas TPA yang memadai, pengoperasian TPA sesuai dengan
persyaratan dan reklamasi lahan bekas TPA sesuai dengan peruntukan lahan dan tata
ruang .
Monitoring pasca operasi terhadap bekas lahan TPA.
Selain itu perlu juga dilakukan perbaikan manajemen pengelolaan TPA secara lebih
memadai terutama ketersediaan SDM yang handal serta ketersediaan biaya operasi
dan pemeliharaan TPA. Menurut Tobing (2005) Pengelolaan sampah, tidak harus
dilakukan dengan memperbanyak tempat pembuangan sampah, tetapi akan lebih
efektif dengan memanfaatkannya kembali. Sampah an-organik telah banyak
dimanfaatkan dengan mendaur ulang dan memanfaatkannya kembali, dan sampah
organik juga sangat potensial untuk diolah dan dimanfaatkan kembali.

KESIMPULAN

Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber
hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi
bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif karena dalam penanganannya baik
untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar.
Tempat pembuangan akhir (TPA) Sampah Air Sebakul yang merupakan satu-satunya TPA di
kota Bengkulu, pada kenyataannya sudah menerapkan system Open Dumping, pada
kenyataannya masih memberikan dampak negatif pada lingkungan, sehingga secara
operasional diperlukan penyempurnaan melalui proses monitoring dan evaluasi secara
berkala. Dampak negatif yang perlu menjadi perhatian serius adalah berkembangnya berbagai
parasit, bakteri dan patogen; sedangkan secara tak langsung sampah merupakan sarang
berbagai vektor (pembawa penyakit) seperti tikus, kecoa, lalat dan nyamuk. Dimana sudah
dirasakan lansungakibatnya oleh penduduk sekitar lokasi TPA. Strategi pengelolaan sistem
lama ini perlu di ubah, karena disamping memerlukan biaya operasioanl dan lahan bagi
pembuangan akhir yang besar juga menimbulkan banyak dampak yang kurang
menguntungkan bagi masyarakat serta akan menumbuhkan masyarakat yang kurang peduli
terhadap lingkungan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada Allah SWT


Terima kasih kepada Bapak Prof. Ir. Urip Santoso, S.Kom., M.Sc., Ph.D selaku dosen
mata kuliah Penyajian Ilmiah yang telah memberikan masukan penulisan makalah
ilmiah saya ini.

DAFTAR PUSTAKA

Aboejuwono,A. 1985. Pengelolaan Sampah Menuju ke Sanitasi Lingkungan dan


Permasalahannya;Wilayah DKI Jakarta Sebagai Suatu Studi Kasus. Jakarta

Aspek_lingkungan_tpa. diakses tanggal 19 Maret 2014

Bappeda Kota Bengkulu (Data Usulan DAU th. 2004).

http://www.bengkulu-online.com/j0/index.php/beritabengkulu/2288-kota-bengkulu-hasilkan-
sampah-875-kubik-per-hari, diakses tanggal 19 Maret 2014.
Imran,SLTobing. 2005. Dampak Sampah Terhadap Kesehatan Lingkungan dan Manusia.
Fakultas Biologi Universitas Nasional.Jakarta

Judith Petts.Envoronmental Impact Assesment for Waste Treatment & Disposal


Facilities.1996.

Nandi. 2005. Kajian Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah Dalam
Konteks Tata Ruang. 2013 (artikel_di_jurnal.pdf_tata_ruang_TPA_Leuwigajah) 19 Maret
2014

Qasim. Sanitary Landfill leachate generation, control & Treatment, Technomic Publishing
Company. 1994

SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA, Departemen Pekerjaan Umum,
1994

Thobanoglous, G, Theisen. Integrated Solid Waste Management. Mc Graw-Hill International


Edition, 1993