Anda di halaman 1dari 23

BAB I

DASAR TEORI

Alkohol merupakan senyawa seperti air yang satu hidrogennya diganti oleh
rantai atau cincin hidrokarbon. Sifat fisis alkohol, alkohol mempunyai titik didih
yang tinggi dibandingkan alkana-alkana yang jumlah atom C nya sama. Hal ini
disebabkan antara molekul alkohol membentuk ikatan hidrogen. Rumus umum
alkohol R OH, dengan R adalah suatu alkil baik alifatis maupun siklik. Dalam
alkohol, semakin banyak cabang semakin rendah titik didihnya. Sedangkan dalam
air, metanol, etanol, propanol mudah larut dan hanya butanol yang sedikit larut.
Alkohol dapat berupa cairan encer dan mudah bercampur dengan air dalam segala
perbandingan.

Berdasarkan jenisnya, alkohol ditentukan oleh posisi atau letak gugus OH


pada rantai karbon utama karbon. Ada tiga jenis alkohol antara lain alkohol
primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier. Alkohol primer yaitu alkohol yang
gugus OH nya terletak pada C primer yang terikat langsung pada satu atom
karbon yang lain contohnya : CH3CH2CH2OH (C3H7O). Alkohol sekunder yaitu
alkohol yang gugus -OH nya terletak pada atom C sekunder yang terikat pada dua
atom C yang lain. Alkohol tersier adalah alkohol yang gugus OH nya terletak
pada atom C tersier yang terikat langsung pada tiga atom C yang lain.

CH3
H3C OH
H3C OH H3C CH3
CH3
OH
ALKOHOL PRIMER ALKOHOL SEKUNDER ALKOHOL TERSIER

Gambar 1.1 jenis alkohol berdasarkan strukturnya

Alkohol alifatik merupakan cairan yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh


ikatan hidrogen. Dengan bertambah panjangnya rantai, pengaruh gugus hidroksil
yang polar terhadap sifat molekul menurun. Sifat molekul yang seperti air
berkurang, sebaliknya sifatnya lebih seperti hidrokarbon. Akibatnya alkohol
dengan bobot molekul rendah cenderung larut dalam air, sedangkan alkohol
berbobot molekul tinggi tidak demikian. Alkohol mendidih pada temperatur yang

1
cukup tinggi. Sebagai suatu kelompok senyawa, fenol memiliki titik didih dan
kelarutan yang sangat bervariasi, tergantung pada sifat subtituen yang menempel
pada cincin benzena.

Reaksi-reaksi yang terjadi dalam alkohol antara lain reaksi substitusi,


reaksi eliminasi, reaksi oksidasi dan esterifikasi. Dalam suatu alkohol, semakin
panjang rantai hidrokarbon maka semakin rendah kelarutannya. Bahkan jika
cukup panjang sifat hidrofob ini mengalahkan sifat hidrofil dari gugus hidroksil.
Banyaknya gugus hidroksil dapat memperbesar kelarutan dalam air (Hart, 1990).

Suatu alkohol primer dapat dioksidasi menjadi aldehid atau asam


karboksilat. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton saja. Sedangkan
pada alkohol tersier menolak oksidasi dengan larutan basa, dalam larutan asam,
alkohol mengalami dehidrsi menghasilkan alkena yang kemudian dioksidasi
(Fessenden, 1997).

Alkohol terdiri dari molekul polar dengan oksigen membawa muatan


negatif parsial. Alkohol dapat membentuk ikatan hydrogen antara molekul
molekulnya sehingga titik didih alkohol lebih tinggi daripada alkil halida atau eter.
Alkil halida ataunpun eter ini memiliki bobot molekul yang sebanding dengan
alkohol. Alkohol berbobot molekul lebih rendah dalam larutan air. Hal ini
disebabkan oleh ikatan hidrogen alkohol air. Bagian hidrokarbon suatu alkohol
bersifat hidrofob, yakni menolak molekul molekul air. Semakin panjang bagian
hidrokarbon ini, maka semakin rendah kelarutannya dengan air.

Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain
alcohol; dan kadang untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini
disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada
minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan
alkohol yang digunakan dalam dunia farmasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah
etanol. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia memiliki pengertian yang lebih luas
lagi.

2
Gugus fungsional alkohol adalah gugus hidroksil yang terikat pada karbon
hibridisasi sp3. Ada tiga jenis utama alkohol - 'primer', 'sekunder, dan 'tersier'.
Etanol dan metanol adalah alkohol primer. Alkohol sekunder yang paling
sederhana adalah propan-2-ol, dan alkohol tersier sederhana adalah 2-
metilpropan-2-ol.

Pengaruh alcohol.
Alkohol murni tidaklah dikonsumsi manusia. Yang sering dikonsumsi
adalah minuman yang mengandung bahan sejenis alkohol, biasanya ethyl alcohol
atau ethanol (CH3CH2OH). Bahan ini dihasilkan dari proses fermentasi gula yang
dikandung dari malt dan buah-buahan seperti hop, anggur, dan sebagainya

Manfaat alkohol
Mengkonsumsi alkohol dalam jumlah banyak akan membuat lebih cepat
dalam mengakhiri hidup ini. Tetapi jika alkohol diminum sedikit saja secara
teratur dan dikombinasikan dengan gaya hidup sehat, hal ini dapat menjadi resep
terbaik mencapai usia panjang.

Kerugian alkohol
Meminum alkohol terlalu banyak diketahui dapat nerusak hati serta
pancreas, yang kita ketahui penting untuk pencernaan dan metabolisme. Selain itu,
terlalu banyak mengkonsumsi alkohol juga dapat merusak saluran usus dan
mempengaruhi penyerapan zat zat gizi, serta akan menyebabkan gejala gejala
kekurangn gizi. Konsumsi alkohol yang berlebihan akan menyebabkan kebutuhan
tubuh akan vitamin B kompleks, khususnya thiamin, niacin, piridoksine, asam
folat, serta vitamin B12. A, dan C juga mineral seng, magnesium, dan kalsium
meningkat. Alkohol mempengaruhi penyediaan, penyerapan, dan metabolisme
dari zat gizi. Berbagai macam kerugian yang diakibatkan banyaknya
mengkonsumsi alkohol.

3
I.1. Etanol

Dalam peristilahan umum, "alkohol" biasanya adalah etanol atau grain


alcohol. Etanol disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau
alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak
berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan
sehari-hari, dan telah dibuat oleh manusia selama ribuan tahun. Senyawa ini
merupakan obat psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman beralkohol dan
termometer modern. Etanol adalah salah satu obat rekreasi (obat yang digunakan
untuk bersenang-senang) yang paling tua dan paling banyak digunakan di dunia.
Dengan meminum alkohol cukup banyak, orang bisa mabuk. Semua alkohol
bersifat toksik (beracun), tetapi etanol tidak terlalu beracun karena tubuh dapat
menguraikannya dengan cepat.
Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia
C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Ia merupakan isomer konstitusional dari
dimetil eter. Etanol sering disingkat menjadi EtOH, dengan "Et" merupakan
singkatan dari gugus etil (C2H5).
Etanol adalah zat yang paling sering disalahgunakan manusia, etanol
diperoleh atas peragian/fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari
peragian tersebut dapat diperoleh alkohol sampai 15% tetapi dengan proses
penyulingan (destilasi) dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan
mencapai 100%. Kadar alkohol dalam darah maksimum dicapai 30-90 menit.
Setelah diserap, alkohol/etanol disebarluaskan ke seluruh jaringan dan cairan
tubuh. Dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah orang akan menjadi
euforia, namun dengan penurunannya orang tersebut menjadi depresi.
Fermentasi gula menjadi etanol merupakan salah satu reaksi organik
paling awal yang pernah dilakukan manusia. Ada 3 golongan minuman berakohol
yaitu golongan A; kadar etanol 1%-5% (bir), golongan B; kadar etanol 5%-20%
(anggur/wine) dan golongan C; kadar etanol 20%-45%

4
Karakteristik Alkohol absolut yaitu :

Cairan yang tidak berwarna

Jernih

Mudah menguap dan mudah bergerak

Berbau khas, berasa panas

Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru tidak berasap

Mudah larut dalam air, kloroform p dan eter p.

Efek dari konsumsi etanol yang memabukkan juga telah diketahui sejak
dulu. Efek yang ditimbulkan dapat bermacam macam, antara lain :
Efek yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi alkohol dapat dirasakan
segera dalam waktu beberapa menit saja, tetapi efeknya berbeda-beda, tergantung
dari jumlah / kadar alkohol yang dikonsumsi. Dalam jumlah yang kecil, alkohol
menimbulkan perasaan relax, dan pengguna akan lebih mudah mengekspresikan
emosi, seperti rasa senang, rasa sedih dan kemarahan.
Bila dikonsumsi berlebihan, akan muncul efek sebagai berikut: merasa
lebih bebas lagi mengekspresikan diri, tanpa ada perasaan terhambat menjadi
lebih emosional (sedih, senang, marah secara berlebihan) muncul akibat ke fungsi
fisik - motorik, yaitu bicara cadel, pandangan menjadi kabur, sempoyongan,
inkoordinasi motorik dan bisa sampai tidak sadarkan diri. kemampuan mental
mengalami hambatan, yaitu gangguan untuk memusatkan perhatian dan daya
ingat terganggu.
Pengguna biasanya merasa dapat mengendalikan diri dan mengontrol
tingkahlakunya. Pada kenyataannya mereka tidak mampu mengendalikan diri
seperti yang mereka sangka mereka bisa. Oleh sebab itu banyak ditemukan
kecelakaan mobil yang disebabkan karena mengendarai mobil dalam keadaan
mabuk.
Pemabuk atau pengguna alkohol yang berat dapat terancam masalah
kesehatan yang serius seperti radang usus, penyakit liver, dan kerusakan otak.
Kadang-kadang alkohol digunakan dengan kombinasi obat - obatan berbahaya

5
lainnya, sehingga efeknya jadi berlipat ganda. Bila ini terjadi, efek keracunan dari
penggunaan kombinasi akan lebih buruk lagi dan kemungkinan mengalami over
dosis akan lebih besar.
Pada zaman modern, etanol yang ditujukan untuk kegunaan industri
dihasilkan dari produk sampingan pengilangan minyak bumi.
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia
yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada
parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam kimia, etanol adalah
pelarut yang penting sekaligus sebagai stok umpan untuk sintesis senyawa kimia
lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah lama digunakan sebagai bahan bakar.
Etanol sering digunakan sebagai bahan bakar. Etanol telah digunakan
manusia sejak zaman prasejarah sebagai bahan pemabuk dalam minuman
beralkohol. Residu yang ditemukan pada peninggalan keramik yang berumur
9000 tahun dari Cina bagian utara menunjukkan bahwa minuman beralkohol telah
digunakan oleh manusia prasejarah dari masa Neolitik.
Etanol dan alkohol membentuk larutan azeotrop. Karena itu pemurnian
etanol yang mengandung air dengan cara penyulingan biasa hanya mampu
menghasilkan etanol dengan kemurnian 96%. Etanol murni (absolut) dihasilkan
pertama kali pada tahun 1796 oleh Johan Tobias Lowitz yaitu dengan cara
menyaring alkohol hasil distilasi melalui arang.
Lavoisier menggambarkan bahwa etanol adalah senyawa yang terbentuk
dari karbon, hidrogen dan oksigen. Pada tahun 1808 Saussure berhasil
menentukan rumus kimia etanol. Lima puluh tahun kemudian (1858), Couper
mempublikasikan rumus kimia etanol. Dengan demikian etanol adalah salah satu
senyawa kimia yang pertama kali ditemukan rumus kimianya.
Etanol pertama kali dibuat secara sintetik pada tahun 1826 secara terpisah
oleh Henry Hennel dari Britania Raya dan S.G. Srullas dari Perancis. Pada tahun
1828, Michael Faraday berhasil membuat etanol dari hidrasi etilena yang
dikatalisis oleh asam. Proses ini mirip dengan proses sintesis etanol industri
modern.
Etanol telah digunakan sebagai bahan bakar lampu di Amerika Serikat
sejak tahun 1840, namun pajak yang dikenakan pada alkohol industri semasa

6
Perang Saudara Amerika membuat penggunaannya tidak ekonomis. Pajak ini
dihapuskan pada tahun 1906,[5] dan sejak tahun 1908 otomobil Ford Model T telah
dapat dijalankan menggunakan etanol. Namun, dengan adanya pelarangan
minuman beralkohol pada tahun 1920, para penjual bahan bakar etanol dituduh
berkomplot dengan penghasil minuman alkohol ilegal, dan bahan bakar etanol
kemudian ditinggalkan penggunaannya sampai dengan akhir abad ke-20- lah lama
digunakan sebagai bahan bakar.
Etanol adalah cairan tak berwarna yang mudah menguap dengan aroma
yang khas. Ia terbakar tanpa asap dengan lidah api berwarna biru yang kadang-
kadang tidak dapat terlihat pada cahaya biasa.

o Sifat-sifat fisika

Sifat-sifat fisika etanol utamanya dipengaruhi oleh keberadaan


gugus hidroksil dan pendeknya rantai karbon etanol. Gugus hidroksil dapat
berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen, sehingga membuatnya cair dan
lebih sulit menguap dari pada senyawa organik lainnya dengan massa
molekul yang sama.
Etanol adalah pelarut yang serbaguna, larut dalam air dan pelarut
organik lainnya, meliputi asam asetat, aseton, benzena, karbon
tetraklorida, kloroform, dietil eter, etilena glikol, gliserol, nitrometana,
piridina, dan toluena. Ia juga larut dalam hidrokarbon alifatik yang ringan,
seperti pentana dan heksana, dan juga larut dalam senyawa klorida alifatik
seperti trikloroetana dan tetrakloroetilena.
Campuran etanol-air memiliki volume yang lebih kecil daripada
jumlah kedua cairan tersebut secara terpisah. Campuran etanal dan air
dengan volume yang sama akan menghasilkan campuran yang volumenya
hanya 1,92 kali jumlah volume awal. Pencampuran etanol dan air bersifat
eksotermik dengan energi sekitar 777 J/mol dibebaskan pada 298 K.
Campuran etanol dan air akan membentuk azeotrop dengan perbandingkan
kira-kira 89 mol% etanol dan 11 mol% air. Perbandingan ini juga dapat

7
dinyatakan sebagai 96% volume etanol dan 4% volume air pada tekanan
normal dan T = 351 K. Komposisi azeotropik ini sangat tergantung pada
suhu dan tekanan. Ia akan menghilang pada temperatur di bawah 303 K.
Ikatan hidrogen pada etanol padat pada -186 C. Ikatan hidrogen
menyebabkan etanol murni sangat higroskopis, sedemikiannya ia akan
menyerap air dari udara. Sifat gugus hidroksil yang polar
menyebabkannya dapat larut dalam banyak senyawa ion, utamanya
natrium hidroksida, kalium hidroksida, magnesium klorida, kalsium
klorida, amonium klorida, amonium bromida, dan natrium bromida.
Natrium klorida dan kalium klorida sedikit larut dalam etanol.Oleh karena
etanol juga memiliki rantai karbon nonpolar, ia juga larut dalam senyawa
nonpolar, meliput kebanyakan minyak atsiri dan banyak perasa, pewarna,
dan obat. Penambahan beberapa persen etanol dalam air akan menurunkan
tegangan permukaan air secara drastis. Campuran etanol dengan air yang
lebih dari 50% etanol bersifat mudah terbakar dan mudah menyala.
Campuran yang kurang dari 50% etanol juga dapat menyala apabila
larutan tersebut dipanaskan terlebih dahulu.
Indeks refraksi etanol adalah 1,36242 (pada =589,3 nm dan 18,35 C).

o Sifat-sifat kimia

Etanol termasuk dalam alkohol primer, yang berarti bahwa karbon


yang berikatan dengan gugus hidroksil paling tidak memiliki dua hidrogen
atom yang terikat dengannya juga. Reaksi kimia yang dijalankan oleh
etanol kebanyakan berkutat pada gugus hidroksilnya.

1. Reaksi asam-basa
Gugus hidroksil etanol membuat molekul ini sedikit basa. Ia
hampir netral dalam air, dengan pH 100% etanol adalah 7,33, berbanding
dengan pH air murni yang sebesar 7,00. Etanol dapat diubah menjadi
konjugat basanya, ion etoksida (CH3CH2O), dengan mereaksikannya
dengan logam alkali seperti natrium:

8
2CH3CH2OH + 2Na 2CH3CH2ONa + H2

ataupun dengan basa kuat seperti natrium hidrida:

CH3CH2OH + NaH CH3CH2ONa + H2

Reaksi seperti ini tidak dapat dilakukan dalam larutan akuatik, karena air
lebih asam daripada etanol, sehingga pembentukan hidroksida lebih
difavoritkan daripada pembentuk etoksida.

2. Halogenasi
Etanol bereaksi dengan hidrogen halida dan menghasilkan etil
halida seperti etil klorida dan etil bromida:

CH3CH2OH + HCl CH3CH2Cl + H2O

Reaksi dengan HCl memerlukan katalis seperti seng klorida.


Hidrogen klorida dengan keberadaan seng klorida dikenal sebagai reagen
Lucas.
CH3CH2OH + HBr CH3CH2Br + H2O

Reaksi dengan HBr memerlukan proses refluks dengan katalis asam sulfat.
Etil halida juga dapat dihasilkan dengan mereaksikan alkohol dengan agen
halogenasi yang khusus, seperti tionil klorida untuk pembuatan etil
klorida, ataupun fosforus tribromida untuk pembuatan etil bromida.

CH3CH2OH + SOCl2 CH3CH2Cl + SO2 + HCl.

Reaksi seperti ini tidak dapat dilakukan dalam larutan akuatik,


karena air lebih asam daripada etanol, sehingga pembentukan hidroksida
lebih difavoritkan daripada pembentuk etoksida.

9
3. Pembentukan ester
Dengan kondisi di bawah katalis asam, etanol bereaksi dengan
asam karboksilat dan menghasilkan senyawa etil eter dan air:

RCOOH + HOCH2CH3 RCOOCH2CH3 + H2O

Agar reaksi ini menghasilkan rendemen yang cukup tinggi, air


perlu dipisahkan dari campuran reaksi seketika ia terbentuk.
Etanol juga dapat membentuk senyawa ester dengan asam
anorganik. Dietil sulfat dan trietil fosfat dihasilkan dengan mereaksikan
etanol dengan asam sulfat dan asam fosfat. Senyawa yang dihasilkan oleh
reaksi ini sangat berguna sebagai agen etilasi dalam sintesis organik.

4. Dehidrasi
Asam kuat yang sangat higroskopis seperti asam sulfat akan
menyebabkan dehidrasi etanol dan menghasilkan etilena maupun dietil
eter:
2 CH3CH2OH CH3CH2OCH2CH3 + H2O (pada 120'C)
CH3CH2OH H2C=CH2 + H2O (pada 180'C)
C2H5OH + 2[O] CH3COOH + H2O

Produk oksidasi etanol, asam asetat, digunakan sebagai nutrien oleh tubuh
manusia sebagai asetil koA.

5. Oksidasi
Etanol dapat dioksidasi menjadi asetaldehida, yang kemudian dapat
dioksidasi lebih lanjut menjadi asam asetat. Dalam tubuh manusia, reaksi
oksidasi ini dikatalisis oleh enzim tubuh. Pada laboratorium, larutan
akuatik oksidator seperti asam kromat ataupun kalium permanganat
digunakan untuk mengoksidasi etanol menjadi asam asetat. Proses ini akan
sangat sulit menghasilkan asetaldehida oleh karena terjadinya
overoksidasi. Etanol dapat dioksidasi menjadi asetaldehida tanpa oksidasi

10
lebih lanjut menjadi asam asetat menggunakan piridinium kloro kromat
(Pyridinium chloro chromate, PCC).

6. Pembakaran
Pembakaran etanol akan menghasilkan karbon dioksida dan air:

C2H5OH(g) + 3 O2(g) 2 CO2(g) + 3 H2O(l);(Hr = 1409 kJ/mol)

7. Hidrasi etilena
Etanol yang digunakan untuk kebutuhan industri sering kali dibuat
dari senyawa petrokimia, utamanya adalah melalui hidrasi etilena:

C2H4(g) + H2O(g) CH3CH2OH

Katalisa yang digunakan umumnya adalah asam fosfat. Katalis ini


digunakan pertama kali untuk produksi skala besar etanol oleh Shell Oil
Company pada tahun 1947. Reaksi ini dijalankan dengan tekanan uap
berlebih pada suhu 300C. Proses lama yang pernah digunakan pada tahun
1930 oleh Union Carbide adalah dengan menghidrasi etilena secara tidak
langsung dengan mereaksikannya dengan asam sulfat pekat untuk
mendapatkan etil sulfat. Etil sulfat kemudian dihidrolisis dan
menghasilkan etanol:

C2H4 + H2SO4 CH3CH2SO4H


CH3CH2SO4H + H2O CH3CH2OH + H2SO4

8. Fermentasi
Etanol untuk kegunaan konsumsi manusia (seperti minuman
beralkohol) dan kegunaan bahan bakar diproduksi dengan cara fermentasi.
Spesiesragi tertentu (misalnya Saccharomyces cerevisiae) mencerna gula
dan menghasilkan etanol dan karbon dioksida:

11
C6H12O6 2 CH3CH2OH + 2 CO2

Proses membiakkan ragi untuk mendapatkan alkohol disebut


sebagai fermentasi. Konsentrasi etanol yang tinggi akan beracun bagi ragi.
Pada jenis ragi yang paling toleran terhadap etanol, ragi tersebut hanya
dapat bertahan pada lingkungan 15% etanol berdasarkan volume.

Untuk menghasilkan etanol dari bahan-bahan pati, misalnya


serealia, pati tersebut harulah diubah terlebih dahulu menjadi gula. Dalam
pembuatan bir, ini dapat dilakukan dengan merendam biji gandum dalam
air dan membiarkannya berkecambah. Biji gandum yang beru
berkecambah tersebut akan menghasilkan enzim amilase. Biji kecambah
gandum ditumbuk, dan amilase yang ada akan mengubah pati menjadi
gula.
Untuk etanol bahan bakar, hidrolisis pati menjadi glukosa dapat
dilakukan dengan lebih cepat menggunakan asam sulfat encer,
menambahkan fungi penghasil amilase, atapun kombinasi dua cara
tersebut.

Penggunaan :

Pelarut

Campuran minuman (intoxicant)

Sintesis bahan kimia lain

12
BAB II

TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan dari praktikum pembuatan alkohol absolut yaitu :


a. Memahami cara memisahkan campuran azeotrop.

b. Mampu memperoleh alcohol absolute tanpa kontak dengan udara luar.

13
BAB III

ALAT & BAHAN

III.1. ALAT

1. Seperangkat alat 10. Kaleng ( sbg


refluks waterbath )
2. Seperangkat alat 11. Statif & klem
destilasi 12. Kaki tiga
3. Labu alas bulat leher 13. Pendingin balik
panjang 250ml (refluks)
4. Tabung CaCl2. 14. Pendingin leibig
5. Heating mantle 15. Erlenmeyer
6. Beaker glass 16. Thermometer
7. Labu hisap 17. Corong kaca
8. Adaptor/alonga 18. Penangas air dan
9. Sumbat gabus Bunsen

III.2. BAHAN

1. Etanol 95,6% 100ml


2. CaO 15gr
3. CaCl2. anhidrat q.s
4. Aquadest q.s
5. Batu didih q.s

14
BAB IV
REAKSI KIMIA

H H
H C C OH H OH + CaO Ca(OH) 2 + C2H5OH
absolut
H H Kalium Hidroksida
Kalium Oksida
ETANOL 95% Alkohol absolut (99,5%)

15
BAB V

CARA KERJA

V.1. PROCEDUR (BS. Furniss, A J. Hannaford, PWG Smith. AR


Tatchell. Vogels Textbook of Practical Organik Chemistry, 5 th ed. John
Willey & Sons New York, 1989 400 401)

ETHANOL
Ethanol of a high degree of purity is frequently required in
preparative organic chemistry. For some purposes ethanol of c. 99,5 per
cent purity is satisfactory; this grade may be purchased (the absolute
alcohol of commerce) , or it may be conveniently prepared by the
dehydration of rectified spirit with calcium oxide.
Rectified spirit is the constant boiling point mixture which ethanol
forms with water and usually contains 95,6 per cent of ethanol by weight.
Whenever the term rectified spirit is used in this book, approximately 95
per cent ethanol is to be understood. Ethanol which has been denatured by
the incorporation of certain toxic additives, notably methanol, to render it
unfit for consumption, constitutes the industrial spirit (industrial
methylated spirit, IMS) of commerce; it is frequently a suitable solvent for
recrystallisations.
Dehydration of rectified spirit by calcium oxide. Pour the
contents of a Winchester bottle of rectified spirit (2 2,25 litres) into a 3
litre round bottomed flask and add 500 g calcium oxide which has been
freshly ignited in a muffle furnace and allowed to cool in a desiccator. Fit
the flask with a double surface condenser carrying a calcium chloride
guard-tube, reflux the mixture gently for 6 hours (preferably using a
heating mantle) and allow to stand overnight. Reassemble the condenser

16
for downward distillation via a splash head adapter to prevent carry-over
of the calcium oxide in the vapour stream. Attach a receiver flask with a
side-arm receiver adapter which is protected by means of a calcium
chloride guard-tube. Distil the ethanol gently discarding the fish 20 ml of
distillate. Preserve the absolute ethanol (99,5%) in a bottle with a well
fitting stopper.
Super-dry ethanol. The yields in several organic preparations
(e.g. malonic ester syntheses, reductions involving sodium and ethanol,
etc.) are considerably improved by the use of ethanol of 99,8 per cent
purity or higher. This very high grade ethanol may be prepared in several
ways from commercial absolute alcohol or from the product of
dehydration of rectified spirit with calcium oxide.
The method of Lund and Bjerrum depends upon the reactions :
Mg + 2EtOH H2 + Mg(OEt)2 (1)
Mg(OEt)2 + 2H2O Mg(OH)2 + 2EtOH (2)
Reaction (1) usually proceeds readily provided the magnesium is
activated with iodine and the water content does not exceed 1 per cent.
Subsequent interaction between the magnesium ethanolate and water gives
the hightly insoluble magnesium hydroxide; only a slight excess og
magnesium is therefore necessary.
Fit a dry 1,5 or 2 litre round-bottomed flask with a double surface
condenser and a calcium chloride guard-tube. Place 5 g of clean dry
magnesium turnings ethanol. Warm the mixture until the iodine has
disappeared : if a lively evolution of hydrogen does not set in, add a
further 0,5 g portion od iodine. Continue heating until all the magnesium is
converted into ethanolate, then add 900 ml of commercial absolute ethanol
and reflux the mixture for 30 minutes. Distil off the ethanol directly into
the vessel in which it is to be stored, using an apparatus similar to that
described for the dehydration of rectified spirit. The purity of the ethanol
exceeds 99,95 per cent provided adequate precautions are taken to protect
the distillate from atmospheric moisture. The super-dry ethanol is

17
exceedingly hygroscopic; it may with advantage be stored over a Type 4A
molecular sieve.

V.2. CARA KERJA ( FURNISS )

1. 100 mL etanol 95, 6 % dan tambahkan 25 gram CaO, tambahkan


beberapa butir batu didih, masukkan dalam labu alas bulat.

2. Dipasang pendingin balik, diatas pendingin dihubungkan dengan


tabung CaCl2, yang telah diisi dengan CaCl2 anhidrat dan disumbat
dengan kapas.

3. Panaskan labu pada penangas air dengan pendingin balik (refluks)


campuran selama 6 jam, (tapi hanya dilakukan refluks selama 1 jam),
diamkan 20-30 menit.

4. Dilakukan destilasi sederhana dengan penangas air pada tekanan


atmosfer dengan pendingin liebig ( diberi lairan air), untuk memperoleh
alcohol absolute, dimana penampung juga dihubungkan dengan tabung
CaCl2 (3 tetes destilat pertama dibuang).

5. Hasil yang terbentuk di bawah titk didihnya (78,5C) dibuang dan


destilat selanjutnya ditampung dalam labu hisap yang di pasang tabung
CaCl2 yang berisi CaCl2 anhidrat

6. Ditentukan titik didih, ukur indeks bias dan rimbang hasilnya.

18
BAB VI
SKEMA KERJA

19
2. 1.
3.

Etanol 95%
CaO(S) Batu didih
100 ml
25 g
Labu alas bulat
CaCl(S) leher panjang,
Tabung CaCl2 t.d 0-80oC
Kapas
Sumbat Gabus

Air keluar

Pendingin balik

Selang
Air Masuk
Sumbat Gabus
Etanol Absolut
Water Bath

Lubang
kecil

Lubang
kecil

Untuk mengurangi
Refluk selama 1 jam. kontak dengan udara
Botol Hasil Labu Hisap

Termometer

3 cm
BAB VII
Pendingin Liebig
Sumbat Gabus
GAMBAR PENGGUNAAN & PEMASANGAN ALAT
Adaptor
Water Bath

Air keluar CaCl(S)

Air Masuk Kapas


20
Tabung CaCl2
o Labu Hisap
Destilasi dengan suhu 78,5 C,
Tetesan 1-2 dibuang
jika bisa harus konstan.
BAB VIII
HASIL PRAKTIKUM

21
Hasil akhir dari percobaan kami yaitu :
1. Preparat : Alkohol Absolut
2. Teoritis :
3. Praktis :
4. Persentase hasil :
5. Titik leleh teoritis :
6. Indeks bias :

BAB IX
DAFTAR PUSTAKA

22
BS. Furniss, A J. Hannaford, PWG Smith. AR Tatchell. Vogels Textbook of
Practical Organik Chemistry, 5 th ed. John Willey & Sons, New York, 1989 400
401

Furniss BS, et al, 1978, Vogels textbook of Practical Organic Chemistry, 4 th


edition, The English Language Book Society and Longman, London, 831-869.

Mc Murry J, 2000, Organic Chemistry, 5 th edition, Brooks/Coel Publishing


Company Pasific Grove, USA, 645-656

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/sifat_senyawa_organik/alkohol1/
oksidasi_alkohol/

http//www.wikipedia.com/alkohol

23