Anda di halaman 1dari 9

DEPARTEMEN IKA GAGAL NAPAS KODE ICD: J.

96
RSMH No.Dokumen No. Revisi
PALEMBANG Halaman:

Ditetapkan oleh,
Panduan Praktek Tanggal revisi
Klinis 1 Januari 2012
Dr. Hj. Silvia Triratna, SpA(K)
Definisi Suatu keadaan dimana kecepatan pertukaran gas antara atmosfir
dan darah tidak dapat mencukupi kebutuhan metabolik tubuh
Etiologi Penyebab gagal napas tersering pada anak antara lain:

A. Jalan napas ekstratorakal


Lesi didapat Lesi kongenital
Infeksi Stenosis subglotis
Abses retrofaring Kista atau web subglotis
Ludwigs angina Laringomalaisia
Laringotrakeobronkitis
Trakeitis periotonsiler Trakeomalaisia
Abses peritonsiler Vaskular ring
Traumatik Higroma kistik
Croup pasca ekstubasi Anomali kraniofasial
Luka bakar
Aspirasi benda asing
Lain-lain
Hipertropi tonsil/adenoid

B. JALAN NAPAS INTRATORAKAL DAN PARU-PARU


ARDS
Asma
Aspirasi
Bronkiolitis
Bronkomalaisia
Abnormalita valvular leftsided
Kontusi paru
Hampir tenggelam
Pneumonia
Edema paru
Emboli paru
Sepsis

C. POMPA NAPAS
Dinding dada
Evetrasi diafragma
Herniadiafragmatik
Flail chest
Kiposkoliosis
Otot napas
Distropi muskuler dhucenne

1
Sindroma guillain barre
Myastenia gravis
Trauma medula spinalis
Atropi muskular spinal
Kontrol sentral
Infeksi SSP
Apnea tidur
Stroke
Trauma otak

Manifestasi Klinis a. Gejala dan tanda keadaan yang akan menjadi tanda
gagal napas
Takipnea
Upaya napas meningkat : retraksi berat,
naps cuping hidung, adanya stridor danaps wheezing,
napas merintih, head bobing pada bayi
Kesadaran menurun, penurunan respon
termasuk terhadap sakit, letargi, iritabel
Pergerakan udara yang inadekuat: tangis
lemah, pengembangan dada, bunyi napas menurun
b. Gejala dan telah terjadi gagal napas
Apnu dan gasping
Bradicardi, perfusi sistemik menurun
Hipoksemia meskipun telah diberikan suplemen oksigen
( pao2<75 mmhg dengan fio2 1,0)
Adanya tanda peningkatan shunt intrapulmoner
Peninglatan gradien oksigen alveolus/arteri (>25-50
mmhg)
Penurunan rasio pao2/ fio2 (<180-240 mmhg)
Peningklatan indeks oksigen (>10)
Penurunan pergerakan udara, tangis lemah
Penatalaksanaan 1. Membebaskan dan mempertahankan jalan
napas tetap paten dengan posisi kepala yang benar dan
bila perlu memasukan orofaringeal. Bila perlu dilakukan
intubasi endotrakeal
2. Pertahankan oksigenasi adekuat,
diberikanoksigen untuk mempertahankan pao2>60 mmhg
dan saturasi oksigen arteri > 90% (lihat tabel)
Pemberian oksigen dapat diberikan nasal kanul: mampu
memberikan fio2 sebanyak 24%-44% dengan kecepatan
aliran 1-6 L/menit, digunakan apabila hanya terjadi sedikit
abnormalitas pertukaran gas dan hanya membutuhkan
sedikit lebih banyak fio2. Sungkup memberikan O2 dengan
flow dan fio2 yang lebih besar
3. Mempertahankan ventilasi yang cukup
( harus dipertahankan agar ph arteri dapat tetap dalam
kadar yang aman ). Apabila perlu, pernapasan dapat
dilakukan dengan ventilasi mekanik
4. Mengobati penyakit mendasari

2
Cara pemberian oksigen, aliran oksigen yang digunakan dan hasil
fio2 yang didapat

Cara pemberian Aliran oksigen yang diberi %FiO2 yang dida


(L/menit)
Sistem aliran rendah
Kanul nasal 1/8-2 (bayi) 24-44
1-6 (anak)
Sungkup oksigen tanpa 5-8* 24-44
reservoar
Sungkup dengan reservoar 6-10* 60-99
Sistem aliran tinggi
Sungkup venturi Sesuai aliran klep 24-50
Nebulizer 8-10 30-100
Oxygen tent 15 24-100
Oxygen hood 10-14 24-40

* dibutuhkan aliran oksigen > 5 L/menit untuk mengeluarkan


udara ekspirasi dari sungkup

3
DEPARTEMEN Syok KODE ICD: R.57
IKA RSMH
PALEMBAN No.Dokumen No. Revisi
Halaman:
G
Ditetapkan oleh,
Panduan
Tanggal revisi
Praktek
1 Januari 2012
Klinis
Dr. Hj. Silvia Triratna, SpA(K)
Definisi Syok adalah sindrom klinik akibat kegagalan sistem sirkulasi dalam
mencukupi kebutuhan nutrien dan oksigen dari segi pasokan maupun
penggunaannya untuk metabolisme selular jaringan tubuh, sehingga terjadi
defisiensi akut oksigen seluler
Etiologi a. Syok Hipovolemik
Jenis syok ini paling sering terjadi pada anak. Terjadi kekurangan
volume intravaskuler. Aliran darah ke jaringan dan organ menurun
b. Syok Kardiogenik
Syok terjadi akibat disfungsi miokard. Terjadi kegagalan pompa jantung
c. Syok Distributuf
Syok distributif disebabkan oleh maldistribusi aliran darah. Venous
return menjadi tidak mencukupi oleh karena darah terkumpul di
ekstremitas menybabkan penurunan preload, akibat cardiac output
turun dan perfusi jaringan berkurang
Terdapat 3 jenis syok distributive:
1. Syok anafilaktik, terjadi akibat adanya reaksi alegi, ditandai
vasodilatasi akut nasif dan peningkatan permeabilitas kapiler
2. Syok neurogenik, terjadi apabila tonus simpatis menjadi
hilang, menyebabkan vasodilatsi arteri dan vena massif
3. Syok septic, terjadi karena infeksi
d. Syok Obstruktif
Hambatan aliran darah ke jantung. Contohnya coartasio aorta

Manifestasi Secara klinik syok terbagi 3 fase yaitu: fase kompensasi, dekompensasi
Klinis dan irreversibel

Gejala klinis kompensasi dekompensasi irreversibel


Kehilangan Sampai dengan 25 25-40 >40
darah % Takikardi +
Frekuensi Takikardi ++ Takikardi/bradikardi
jantung Normal/menurun
Volume nadi Menurun + Menurun ++
Pengisian Normal/meningkat
kapiler Meningkat + Meningkat--
Kulit Dingin, pucat
RR Takipnu + Dingin, mottled Pucat mati
Tingkat Agitasi ringan Takipnu + Sighing respiration
kesadaran berkooperasi Bereaksi hanya kepa
rasa sakit atau tid
responsif

4
Diagnosis 1. Dari riwayat penyakit, riwayat kehilangan darah/trauma
dapat diperoleh dugaan dan penyebab syok. Sebagian penyebab syok
adalah syok hipovolemik karena dehidrasi atau perdarahan (trauma)
diikuti oleh sepsis dan jantung bawaan
2. Pemeriksaan klinis
Tentukan status kardiovaskuler antara lain frekuensi jantung, kualitas
nadi kecepatan kapiler (capilery refill), kaki tangan dingin, gangguan
perfusi kulit (pucat, mottled, sianosis) dan tekanan darah
Pengaruh gangguan sirkulasi terhadap organ vital lain yaitu frekuensi
dan tipe pernapasan, tingkat kesadaran dan produksi urin

Penatalaksanaan Resusitasi awal


1. Airway
Bersihkan jalan napas bila ada sumbatan, letakan dalam posisi tubuh-
leher-kepala dalam satu garis kesatuan
2. Breathing
Berikan oksigen (fio2 100%) , bila perlu ventilatory support
3. Circulation
Pasang akses vaskuler secepatnya (60-90 detik) untuk resusitasi cairan
dan berikan cairan kristaloid 20 cc/kgbb dalam waktu kurang dari 10
menit. Nilai respon terhadap pemberian cairan dengan menilai
perubahan nadi dan perfusi jaringan(sebelum dan setelah resusitasi).
Respon yang baik ditandai dengan penuruan denyut nadi, perbaikan
perfusi jaringan dan perbaikan tekanan darah bila terdapat hipotensi
sebelumnya.
Periksa kateter urin untuk menilai sirkulasi dengan memantau produksi
urin.
Penggunaan koloid, dalam jumlah yang terukur, dapat dipertimbangkan
untuk mengisi volume intravaskular.
Pemberian cairan resusitasi dapat diulangi, bila syok belum teratasi,
hingga volume intravaskular optimal. Pemberian cairan dapat diberikan
kembali setelah pemberian pertama belum optimal yaitu 2 x 10
cc/kgbb.Target resusitasi cairan:
- Capillary refill time < 2 detik
- Kualitas nadi perifer dan sentral sama
- Akral hangat
- Produksi urine > 1 ml/kg/jam
- Kesadaran normal
Pemberian resusitasi cairan dihentikan bila penambahan volume tidak
lagi mengakibatkan perubahan hemodinamik, dapat disertai
terdapatnya ronkhi basah halus nyaring, peningkatan vena jugular atau
pembesaran hati.
Bila resusitasi cairan telah diberikan (2-3 kali) dimana kurang lebih 40-
60% dari volume darah telah dimasukkan namun belum ada respon
yang adekuat, maka dilakukan tindakan intubasi dan bantuan ventilasi
Periksa dan atasi gangguan metabolik seperti hipoglikemia,
hipokalsemia dan asidosis.

Pemantauan awal

5
1. Nilai respon penderita terhadap pemberian fluid challenge (loading)
dengan memantau status kardiovaskuler/tanda vital dan perfusi
perifer
2. Pasang kateter urin untuk menilai respon perbaikan sirkulasi
dengan memantau produksi urin
3. Ambil pemeriksa urin darah cito untuk darah tepi, analisa gas darah,
kadar glukosa dan elektrolit ( bila perlu kultur, resistensi dan
golongan darah)
Resusitasi lanjutan
1. Bila syok teratasi penderita dikirim ke bangsal sesuai diagnosa
2. Bila syok tidak teratasi penderita dikirim ke picu

6
DEPARTEMEN IKA ASMA BRONKIAL KODE ICD: J.45
RSMH No.Dokumen No. Revisi
PALEMBANG Halaman:

Ditetapkan oleh,
Panduan Praktek Tanggal revisi
Klinis 1 Januari 2012
Dr. Hj. Silvia Triratna, SpA(K)
Dasar diagnosis Batuk, dan sesalk napas yang proksimal dengan atau tidak ad faktor
pencetus dan ada atau tidak ada gejala atopi dalam keluarga,
ekspirasi memanjang dan wheezing ekspirasi

Penatalaksanaan Mencari dan menghindari faktor pencetus untuk itu perku


kerjasama dengan orang tua penderita
Mencegah serangan asma dengan pemberain obat untuk
mempertahankan sel-sel mediator tidak pecah. Obat-obat yang
dipakai adalah sodium kromoglikat dan ketotifen. Bila serangan
diduga akibat faktor elergi dan serangan lebih dari 3 kali dalam
sebulan diberikan ketotifen dosis 0,025 mg/kgbb/hari dibagi 2
dosis diberikan selama 6 bulan atau lebih
Pengelolaan serangan akut/status asmatikus berikan ventolin
nebulizer (0,5-1 ampul) serangan ringan (1x nebulisasi) -> pulang
dengan obat oral (pulvus asma)
Serangan sedang (2-3x nebulisasi) -> rawat sehari -> oksigen,
steroid oral, tiap 2 jam nebulisasi, nilai 8-12 jam:
Bila perbaikan -> pulang
Bila gagal -> rawat bangsal, pasang IVFD
Serangan berat (3x nebulisasi) -> gagal -> status asmatikus ->
rawat bangsal

7
DEPARTEMEN IKA Kejang KODE ICD: R.56
RSMH No.Dokumen No. Revisi
PALEMBANG Halaman:

Ditetapkan oleh,
Panduan Praktek Tanggal revisi
Klinis 1 Januari 2012
Dr. Hj. Silvia Triratna, SpA(K)
Tujuan 1. Menjaminoksigenasi jaringan otak, serta fungsi jantung dan
paru
2. Mengatasi kejang secepat mungkin dan mencagah
berulangnya kejang
3. Memperbaiki gangguan metabolisme dan keseimbangan air
dan elektrolit
4. Mencegah komplikasi sistemik
5. Mengenal dan mengobati penyebab naiknya suhu

Penatalaksanaan Untuk mencapai tujuan tersebut diatas maka langkah pertolongan


yang akan dilakukan adalah:
1. Mengatasi dan mencegah berulangnya kejang. Semua anak
yang dalam keadaan kejang pada saat pemeriksaan,
apapunpenyebabnya, obat pilihan adalah diazepam, baik
secara parenteral atau perektal

2. Perawatan umum
Sementara mengatsi kejang, diberi pertolongan untuk
memperbaiki dan menjamin oksigenasi otak dengan jalan:
a. Memperbaiki oksigen
b. Melonggarkan pakaian padat
c. Membersihkan jalan napas, menghisap cairan dari
rongga mulut dan saluran pernapasan
d. Anak diletakan dalam posisi semi trendelenberg
e. Untuk mencegah aspirasi sebaiknya posisi kepala
anak dimiringkan
f. Menurunkan suhu bila panas dengan cara:
Meniupkan udara dingin
Mendinginkan udara seitarnya
Kompresi dengan es atau alkohol
Antipiretik : parasetamol 30-50 mg/kgbb/hari
dibagi dalam 3 dosis atau parasetamol 60 mg/tahun
umur/kali, 3 kali sehari

3. Bila kejang lebih dari 30 menit, maka untuk mengatasi edema


otak yang dapat terjadi diberikan kortikosteroid :
deksametason 0,2-0,3 mg/kgbb/kali, 3 kali sehar, lama
pemberian 4-5 hari. Bila ada tanda herniasi: pernapasan tidak
teratur, bradipnu, kesadaran makin menurun, diberikan
manitol 20% dengan dosis 0,25-1 gram/kgbb/kali intravena.
Diberikan dalam waktu jam dapat diulang tiap 8 jam.
Berikan cairan dengan kadar natrium yang rendah yaitu

8
cairan 2:1 dan jumlah cairan pada hari pertama 70% dari
kebutuhan maintenence. Kalau tidak tersedia manitol dapat
juga diberikan gliserol 10% dengan dosis 0,5-1
gram/kgbb/hari peroral diberikan 4 dosis
4. Mencari dan mengobati penyebab panas
5. Setelah kejang teratasi penderita dikirim ke bangsal