Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH

METODE PENYUSUNAN PEMROGRAMAN DESAIN


ARSITEKTUR
METODE PEMROGRAMAN MODEL
WALTER MOLESKI

Disusun oleh :
Angela Rinta P. 35286
Riska Nindia S. 35262
Juwita Kurnia I. 35418
Lala Rizqy L. 35866
Nur Zahrotunnisaa Z. 36053

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010
BAB I
DEFINISI PEMROGRAMAN SECARA UMUM

Kamus Webster (1966) mendefinisikan program sebagai


perencanaan prosedur. Pemrograman arsitektur adalah proses
pengaturan informasi sehingga informasi yang benar dapat secara tepat
posisinya dalam proses desain dan keutusan yang tepat dapat dilakukan
untuk mempertajam hasil dari desain bangunan tersebut.

1
Pemrograman merupakan proses kreatif secara terstruktur terhadap
harapan, keinginan, dan hasrat dari wujud bangunan nantinya.
Pemrograman juga merupakan perencanaan prosedur dan organisasi dari
semua bagian sumber daya, sudah tentu untuk membuat desain dalam
suatu kontek dan persyaratan yang spesifik. Pemrograman adalah
pengumpulan, pengorganisasian, analisa, peng-interpretasi-an, dan
pemaparan dari informasi yang relevan untuk proyek yang didesain.
Untuk memudahkan pemahaman beberapa aktifitas tersebut maka
pemrograman dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

1. Analisis dari kondisi eksisting, yaitu analisa site, profil


pengguna, kode, batasan dan iklim.
2. Proyeksi masa depan, yaitu beberapa criteria desain yang
harus dipertemukan atau diselesaikan agar supaya cocok dan
termasuk disini adalah misi, tujuan, konsep, dan persyaratan
tampilan(performance).

Penggunaan isu desain sebagai alat penyaring untuk berbagai


informasi atau data tentang kondisi eksisting dan sebagai topic untuk
membangun tujuan, persyaratan tampilan dan konsep yang dibuat untuk
membuat penjelasan kondisi masa depan.
Isu desain adalah pendifinisian sejauh mana wilayah garap dari
permintaan dari tanggapan desain.
Dalam kaitan pemrograman dilihat sebagai awal dari perencanaan
maka secara skematik posisi pemrograman terhadap desain
(perancangan) dan planning (perencanaan) dapat digambarkan sebagai
berikut:

Pemrogra Perencana Perancang


man an an (design)
(Planning)

Kesimpulan
Merupakan: pengumpulan &
pengaturan informasi yang
diperlukan untuk
perancangan/design 2
Pemrograman = planning for design
Dalam kaitan pemrograman dilihat sebagai bagian dari proses
desain, maka terdapat 3 (tiga) alternative hubungan meliputi :

1. Hubungan terpadu (integrated)

Programming

Design
2. Hubungan terpisah (segregated)

Programming

3. Hubungan interaktif (interactive)


Design

Programming
Design
Programming
Design
Di Indonesia, dalam tataran akademis, hampir sebagian besar
menganut paham pertama (integrated). Namun dalam aplikasinya,
melahirkan dua pendapat (mainstream) mengenai kedalaman kajian
terhadap programming.
Pendapat pertama: Programming diarahkan untuk mendapatkan
informasi seoptimal mungkin untuk kegiatan perancangan. Informasi ini
sifatnya operasional dan praktis.
Sedang pendapat kedua berpendapat bahwa, selain informasi
praktis dan operasional, perlu diselusuri lebih jauh ke belakang, apakah
proyek yang akan dirancang memang layak untuk dibuat.
Baik pendapat pertama maupun kedua pada dasarnya bertujuan
sama, menginginkan adanya pengembangan pengetahuan dalam Ilmu
Arsitektur, pihak pertama memilih pengembangan secara INTENSIFIKASI,
sedang yang beraliran pemikiran kedua memilih jalur pengembangam
EXTENSIFIKASI.

3
Gambaran umum dimana sebuah proses melalui pemrograman
(diawalnya) dan desain (diakhirnya) selalu dimulai dari gagasan (idea) dari
Klien sebagai pengguna, atau pemilik atau penyandang dana. Arsitek
mempunyai tugas untuk menterjemahkan gagasan atau keinginan
tersebut dengan melakukan pendekatan-
pendekatan yang bersifat mengolah
Keinginan
informasi agar bisa Ide/ gagasan dimengerti dan
klien
diterima oleh klien.

Pengolahan data Data/ informasi


Desain
perancangan
Hasil rancangan/
Tujuan dari programming
karya(programming
arsitektur goals) adalah mengkaji
issue-issue non-arsitektural seperti latar belakang sosial, politik, ekonomi,
budaya dan seterusnya. Program must consider the physical,
psychological, sociological and cultural attributes of the users (Walter
Moleski). Penelitian untuk tujuan programming memiliki pendekatan
dan metode yang berbeda dengan penelitian untuk memperkaya teori
arsitektur/uji hypotesis dan seterusnya (Djoko Wijono, 1990 ).
BAB II
PEMROGRAMAN OLEH WALTER MOLESKI

2.1. Profil Tokoh

4
Walter H. Moleski menjabat sebagai profesor di fakultas
Drexel, Amerika Serikat sejak tahun 1972. Ia menerima gelar di
bidang arsitektur dari Tulane University dan psikologi lingkungan. Ia
belajar di sebuah universitas di kota New York. Moleski adalah
seorang arsitek yang terdaftar dengan sertifikasi NCARB yang
memiliki lebih dari empat puluh tahun pengalaman sebagai arsitek
dan programmer fasilitas.
Ia juga seorang ahli yang dikenal secara internasional dalam
desain lingkungan dan psikologi. Ia adalah pendiri dan direktur
eksekutif ERG. Di bawah asuhannya, ERG telah menyelesaikan
program fasilitas di Princeton University, Georgetown University,
Seattle University, Tulane University, dan Dunbarton Oaks. Klien
lainnya termasuk Philadelphia Orchestra, National Portrait Gallery,
Galeri Corcoran dan Sekolah, dan Merrill Lynch.
Selain pengalamannya di Drexel, ia telah bertugas di fakultas
arsitektur University of Pennsylvania, Carnegie Mellon University
dan Temple University di samping mengajar di sejumlah universitas,
termasuk Robert Gordon University, MIT, North Carolina State
University, University of Wisconsin , Universitas Pennsylvania
Sekolah Kedokteran, Universitas Princeton dan University of Texas.
Moleski mengedit ulang buku Merancang Perilaku Manusia.
Dia telah menerbitkan lima belas makalah tentang program dan
psikologi lingkungan dan berbicara di berbagai konferensi
profesional.
Ia dianugerahi penghargaan EDRA Karir pada tahun 2002
karena telah membuat kontribusi penting untuk bidang
pemrograman fasilitas melalui penggabungan psikologi lingkungan
dan nilai-nilai pengguna berbasis. Ia menerima Penghargaan
Pertama untuk Riset Terapan dan Citation untuk Urban Desain dari
Progressive Arsitektur dan dua Merit Awards untuk American
Association Perencanaan. Dia menerima penghargaan atas prestasi
yang signifikan dalam pendidikan arsitektur oleh American Institute
of Architects. Gelar yang didapat:

5
o B.ARCH, Tulane University
o M.ARCH, Tulane University

o Doctoral Program in Environmental Psychology City University


of New York

Pemrograman merupakan bagian dari proses desain atau posisi


pemrograman merupakan awal kegiatan atau system dari suatu
proses perancangan arsitektur (W.Moleski dan H.Sanoff).

2.2. Dasar-dasar Pemrograman Model Moleski

Walter H. Moleski menggunakan sekuen aktivitas empat fase oleh


klien, arsitek dan programer yang bekerja secara bersama di terjemahkan
dan dijadwalkan reviewnya. Pemrogramannya ditindak-lanjuti oleh
programer pada fase rancangan dalam bentuk konsultasi dan evaluasi
bersama dengan klien dan arsitek selalma proses perancangan
berlangsung .
Moleski menambahkan fase evaluasi pada model pemrogramannya
yang dilaksanakan setelah rancangan diselesaikan dan setelah fasilitas
dibangun. Fase evaluasi ini guna mengukur keefektivan baik program
maupun rancangan dan memastikan apakah fasilitas tersebut memuaskan
dalam kegunaan dan sesuai dengan maksud yang hendak dicapai.
Moleski menyarankan agar fase evaluasi tersebut keduanya
dilaksanakan segera setelah pembangunan selesai dan setelah dua tahun
penghunian. Fase - fase pemrograman yang dipergunakan oleh Moleski
adalah:

Awareness, fase identifikasi permasalahan, isu -isu, dan tujuan


yang meliputi :
mengidentifikasi partisipan dan perannya dalam
pemrograman
mereview laporan latar belakang yang diberikan oleh klien
mengatur interview secara tak langsung dengan mereka yang
terpilih untuk mengetahui dengan pasti :

6
o sifat dasar dan image (organisasi) klien
o fungsi organisas dan proses komunikasi
o kepuasanpada fasilitas yang tengah ditempati
o permasalahan ketidakefisiennan dan
ketidakberfungsian
mereview proyek yang mirip
area permasalahan dibuat garis besamya untuk investigasi
lebih lanjut

Diagnosis, fase mengumpulkan, menganalisa dan


mengorganisasikan data ;
mengumpulkan data melalui :
o wawancara terstruktur dengan personil kunci
o observasi sistematik terhadap area terpilih
o kuisoner terperinci untuk para pengguna,
menganalisa data untuk menentukan dan
mendokumentasikan :
o kegiatan, karakteristik pengguna, hubungan, letak
dan citra
o isu permasalahan dan kebutuhan klien,
mengorganisasikan untuk menemukan dan membangun
konsep untuk menemukan dan membangun konsep untuk
pemecahan masalah dan memenuhi kebutuhan klien.

Review(1)
mendiskusikan pra-pernyataan masalah dan konsep solusi
bersama klien (perwakilan) dan perancang
memilih konsep -konsep menuju fase selanjutnya

Strategy, fase merumuskan kriteria performansi;


mengorganisasi kebutuhnn rancangan yang khusus yang
ditemukan pada rancangan
mengembangkan rekomendasi karakteristik yang mewadahi
pola aktivitas dan setting pengguna yang meliputi:
o karakteistik spasial
o kondisi fisik
o atribut simbolis
o pengaturan ruang

Review(2)

7
bertemu dengan perwakilan perancang untuk nendiskusikan
program yang direkomendasikan
menyepakati program
menetapkan tujuah arsitektural dari fasilitas

Action, merupakan fase tindak-lanjut keputusan yang telah diambil;


berkonsultasi dengan arsitek tentang tujuan program dan
kemungkinan revisi
mengevaluasi racangan berkaitan dengan kepuasan berdasar
kriteria
mendiskusikan keputusan rancangan bersama klien dan
arsitek

Pemrograman merupakan :
1. Bagian dari proses desain dan identifikasi serta pendefinisian
problem
2. Pemrograman juga merupakan upaya pemecahan masalah dalam
kaitan : fisik, psikologi sosial dan kultural.

2.3. Analisa pemrograman

Pemrograman model Moleski secara prosedural lebih panjang dan


lebih rumit karena tiap fase mengandung kompleksitas informasi yang
tinggi. Pemrogramannya sangat berhubungan erat dengan proses
perancangan secara pendekatan initeraktiv yang tampak pada sekuen
fese-fasenya yang saling merespon dengan adanya fase review.
Moleski melibatkan perancang dalam pemrograrnannya secara
stimultan dan memberi masukan dengan cara serupa. Programer yang
belum mahir lebih disarankan untuk menggunakan model ini yang lebih
runut secara prosedural, selain programer tetap bertanggung jawab
hingga proses perancangan yang memungkinkan adanya interaksi antara
programer dan perancang.

Awareness Diagnosis Review(1) Strategy

Action Review(2)

8
2.4. Proses pengembangan program

Pemrograman Model Moleski berawal dari pencarian permasalahan


yang dikembangkan dari informasi baik dari klien maupun dari preseden
fasilitas serupa yang telah ada. Data dan informasi dikumpulkan, dianalisa
dan diorganisasikan dengan dasar utama untuk menentukan dan
membangun konsep yang dapat memenuhi kebutuhan klien kemudian
dilihat kembali. Hasil dari review pertama tersebut dirumuskan dalam
kriteria performansi yang selanjutnya direview kembali untuk memperoleh
kesepakatan akan tujuan arsitektural yang hendak dicapai untuk
ditindaklanjuti dalam proses perancangan. Sekuen tersebut secara
diagramatis berbentuk alur yang linear. Jadi konsep merupakan pola yang
pengorganisasian dan pemvisualisasian kemajuan secara logis pada
pengernbangan program.

2.5. Pemrograman model Moleski

1. Penjabaran, menjabarkan secara runut isu-isu yang ditemukan


di lapangan secara garis besar.
2. Pendekatan, berpendekatan interaktiv sehingga antara
kegiatan pemrograman dan perancangan ada komunikasi
timbal balik dan respon pada fase review.
3. Keterlibatan perancangan, perancang terlibat dalam
pemrograman pada fase review 1, review 2 dan action
khususnya pada revisi design.
4. Pengembangan, proses analisa dan sintesa berlangsung
stimultan, analisa dan sintesa bisa terjadi hampir bersamaan.
5. Bentuk, diagram alur yang cenderung linear.
6. Hasil, kriteria performansi yang diharapkan.

2.6. Kelebihan dan kekurangan pemrograman Walter Moleski


1. Kelebihan
Setiap fase memiliki informasi yang cukup kompleks.

9
Setiap sekuen fase saling merespon dengan adanya fase
interview.
Isu isu yang didapat di lapangan lebih runut secara
procedural.
Terdapat pendekatan secara interaktif, sehingga pada
proses pemrograman dan perancangan terdapat timbal
balik pada fase review.
Mengedepankan kualitas.

2. Kekurangan
Secara procedural, proses pemrograman ini cukup panjang
dan rumit.
Memakan biaya yang lebih dan kurang efektif karena fase
evaluasi dilaksanakan setelah 2 tahun masa
pembangunan.
Kuantitas bangunan yang dihasilkan lebih sedikit.

2.7. Contoh Kasus Implementasi Model Programming


Implementasi metode pemrograman Walter Moleski tercermin pada
perumahan, swalayan, maupun supermarket.
Perumahan
Meskipun antara perumahan satu dengan perumahan
lainnya berbeda fasadnya, maupun letak tatanan ruangnya,
namun mereka mempunyai tatanan ruang dan fungsi-fungsi
ruang yang sama antara perumahan yang satu dengan yang
lainnya. Bangunan ini sangat sesuai menggunakan metode
pemrograman Moleski dalam perancangannya. Karena model
Moleski pada tahap awareness memiliki tujuan mereview
proyek yang mirip. Jadi disini arsitek tidak mendesain
bangunan ataupun melakukan peracangan baru lagi tetapi
membangun bangunan dengan pemrograman baru namun
menggunakan tatanan yang sudah ada dan dengan mereview
bangunan itu.

Swalayan dan Supermarket

10
Bangunan supermarket dan swalayan memiliki
kesamaan dalam hal tantanan ruang, yang terdiri dari
informasi, ruang display, kasir, ruang penitipan barang, dll,
oleh karena itu bangunan ini sesuai dengan konsep
pemrograman Moleski. Di samping itu, bangunan swalayan
dan supermarket adalah bangunan yang bersifat pabrikan.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:

Pengertian Program :

Adalah sekumpulan informasi spesifik yang berorientasi berisi


tentang persyaratan-persyaratan dari klien yang mana menjadi
tugas arsitek untuk menterjemahkan dalam desain berupa fasilitas-
fasilitas. Fasilitas-fasilitas tersebut sebagai hasil karya rancangan
arsitektur diharapkan dapat mengkomunikasikan aspek/faktor
manusia, faktor fisik dan faktor eksternal dimana ketiganya tersebut
akan mempengaruhi design .

Pengertian Pemrograman:

11
o Merupakan proses identifikasi & pendefinisian kebutuhan dari
suatu proyek dan mengkomunikasikan persyaratan-
persyaratan dari klien ke dalam desain
o Pemrograman membantu arsitek mengumpulkan dan
mengidentifikasi kebutuhan informasi yang spesifik.
o Tujuan pemrograman merupakan investigasi dan analisis dari
kebutuhan - kebutuhan (data/informasi) untuk proyek desain,
juga sebagai media komunikasi antara klien arsitek/perancang

Hubungan teori Walter Moleski dalam desain


Dilihat dari ciri-ciri dan cara pandang Walter Moleski, maka
dapat disimpulkan bahwa metode pemrograman Moleski sangat
berhubungan erat dengan klien. Dari proses awal hingga akhir
melibatkan klien dengan menggali informasi-informasi yang dimiliki
dan diinginkan oleh klien. Sehingga proses ini lebih mengedepankan
kualitas dibanding kuantitas. Maka dari itu metode ini cocok
diterapkan saat perancang akan membangun sebuah bangunan
yang sifatnya lebih pribadi, seperti rumah tinggal.

3.2. Daftar Pustaka


http://www2.uiah.fi/, Teory of Architecture
http://www.google.co.id/, Walter Moleski
Wijono, Djoko. 1990. Metode Penelitian Dalam Pemrograman
Rancang Bangun Arsitektur. Seminar Metodologi Penelitian
Arsitektur, Jurusan Teknik Arsitektur UGM
Lang, John, Charles Burnette, Walter Moleski, David Vachon.
Designing for Human Behavior: Architecture and the
Behavioral Science. Stroudsburg. Pennsylvania. Dowden.
Hutchingon & Ross, Inc. 1974.
Modul Metode Penyusunan Pemrograman Desain Arsitektur, 2010

12