Anda di halaman 1dari 13

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan (Knowledge)


Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga menghasilkan
4

pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi


terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui indra pendengaran
(telinga), dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek
mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda (Notoatmodjo, 2010).
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif menurut Notoatmodjo
(2010) mempunyai enam tingkatan, yaitu:
1) Tahu (know)
4

2) Memahami (comprehension)
3) Aplikasi (application)
4) Analisis (analysis)
5) Sintesis (synthesis)
6) Evaluasi (evaluation)
Pada tingkat pengetahuan (know) adalah tingkat pengetahuan yang paling
rendah, disini subjek telah mengetahui rokok dan rokok itu dikenal atau dipelajari
4

sebelumnya. Subjek akan dapat menyebutkan, menguraikan ataupun


mendefinisikan dengan benar apa yang dimaksud dengan rokok. Misalnya: subjek
mengetahui apa itu rokok, jenis-jenis rokok yang dijual, ataupun menjelaskan
rokok itu dari sudut pandangnya. Memahami (comperehension) merupakan
tingkatan yang lebih tinggi dari tahu, disini subjek memiliki kemampuan untuk
menjelaskan dan menginterpretasikan rokok secara benar. Aplikasi (application),
disini subjek mampu menggunakan pengetahuannya akan rokok dalam kondisi
4

atau situasi yang sesungguhnya, misalnya: subjek yang telah mengerti akan
bahaya asap rokok, dia akan keluar dari ruangan yang penuh dengan asap rokok
guna menjaga kesehatannya. Pada tingkat analisis (analysis), subjek memiliki
5

kemampuan untuk menjabarkan rokok lebih spesifik. Pada tahap ini subjek mulai
menganalisis efek-efek dari asap rokok terhadap kesehatan maupun keuntungan
dan kerugian dari asap rokok. Sedangkan pada tingkat sintesis (synthesis), subjek
mulai menghubungkan efek-efek dari asap rokok. Kandungan dalam rokok
dengan timbulnya penyakit, misalnya: kanker, penyakit jantung maupun PPOK.
Akhirnya pada tingkat evaluasi (evaluation), subjek membuat keputusan
5

berdasarkan tahapan pengetahuan terhadap rokok, dimana subjek akan


menanggapi rokok secara positif maupun negatif (Loren, 2010).

2.2 Sikap (Attitude)


Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Dari batasan-batasan diatas dapat disimpulkan
bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan
5

terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukan
konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu dalam kehidupan
sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosioanal terhadap stimulus sosial.
Menurut Newcomb, salah seorang ahli psikologis, menyatakan bahwa sikap itu
merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan
pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas,
akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan
5

kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai sesuatu


penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2010).
Notoatmodjo (2010), sikap mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan
intensitasnya, yaitu :
1) Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau menerima stimulus
yang diberikan (objek).
5

2) Menanggapi (Responding)
Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap
pertanyaan atau objek yang dihadapi.
7

3) Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap
objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain, bahkan mengajak atau
mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons.
4) Bertanggung Jawab (responsible)
7

Sikap yang paling tinggi tingkatnya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah
diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya,
dia harus berani mengambil resiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya
risiko lain.

2.3 Penyakit menular seksual


7