Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang. Masalah kesehatan
difokuskan pada penyakit yang diderita manusia untuk dilakukan penyembuhan.
Konsep pencegahan dan pemeliharaan kesehatan kurang diperhatikan oleh semua
pihak, terutama oleh petugas kesehatan sehingga seringkali masalah penyakit tidak
terselesaikan dengan baik dan tuntas. Status kesehatan masyarakat yang rendah
dapat mempengaruhi beberapa aspek kehidupan manusia seperti menurunnya
semangat kerja sehingga dapat menurunkan produktifitas seseorang, mempengaruhi
tingkat sosial ekonomi dan juga dapat mempengaruhi mutu sumber daya itu sendiri.

Jumlah kejadian penyakit menular semakin meningkat pada tahun tahun


terakhir ini, dan banyak sekali faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian
penyakit menular tersebut. Salah satu contoh penyakit menular yang saat ini angka
kejadiannya masih tinggi dan penanganannya belum sepenuhnya berhasil adalah
ISPA. Penyakit ini merupakan penyebab morbiditas utama pada Negara maju, tidak
demikian keadaanya pada Negara berkembang dimana morbiditasnya relatif lebih
kecil. Mortalitas yang tinggi pada umunya akibat ISPA yang berat. Hasil SDKI
2001( Survei Departemen Kesehatan RI ) memperlihatkan prevalensi ISPA pada
anak usia < 1 tahun sebesar 38, 7 % dan pada anak usia 1-4 tahun sebesar 42,2 %
berdasarkan tempat tinggal penyakit pernapasan lebih tinggi di pedesaan 14,5 %,
dibandingkan dengan di perkotaan 9,9 %. ( http://www.jurnal kesling.com/01-02-
2002)
Setiap anak diperkirakan mengalami 3 6 episode ISPA tiap tahunmya. 40%-
60% dari kunjungan di Puskesmas adalah penyakit ISPA. Dari seluruh kematian
yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20%-30%. Kematian yang terbesar

Surveilans Penyakit ISPA


umumnya kerena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan disertai
komplikasi dan kurang gizi. (Departemen Kesehatan RI, 2006)
Kecamatan Bontomarannu adalah sebuah daerah di Kabupaten Gowa, terdiri
dari 9 kelurahan atau desa, daerah ini memiliki lingkungan yang tidak baik untuk
kesehatan seperti keadaan jalan yang rusak, kepadatan penduduk, rumah yang tidak
memenuhi syarat kesehatan dll. Dari faktor-faktor tersebut, Kec. Bontomarannu
merupakan salah satu Daerah yang rawan terkena penyakit ISPA terutama pada ibu
dan anak. Berdasarkan data dari Puskesmas setempat ( Puskesmas Bontomarannu )
jumlah penderita ISPA di daerah tersebut mencapai intensitas yang tinggi, khusunya
dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Adapun Jumlah Penderita ISPA di Puskesmas Bontomarannu dalam kurun


waktu 5 tahun terakhir ( 2003-2007 ) adalah sebagai berikut

Tabel 1
Rekapitulasi Penyakit di Puskesmas Bontomarannu
Kabupaten Gowa Tahun 2003

No Nama Penyakit Jumlah Penderita


1 ISPA 6301 Sumber: Rekam
2 Rongga Mulut ( Gigi ) 1796
3 Rhematik 1220 Medik di
4 Kulit Alergi 1069 Puskesmas
5 Diare 630
6 Kecelakaan dan Ruda 622
Paksa
7 Pneomonia 399
8 Gastritis ( Maag ) 276
9 Kulit Infeksi 222
10 Mata 200
Bontomarannu,Kab. Gowa

Surveilans Penyakit ISPA


Tabel 2
Rekapitulasi Penyakit di Puskesmas Bontomarannu
Kabupaten Gowa Tahun 2004

No Nama Penyakit Jumlah Penderita


1 ISPA 6503
2 Rongga Mulut ( Gigi ) 1924
3 Rhematik 1316
4 Kulit Alergi 944
5 Diare 780
6 Kecelakaan dan Ruda 617
Paksa
7 Gastritis ( Maag ) 296
8 Kulit Infeksi 275
9 Mata 261
10 Hipertensi 165
Sumber: Rekam Medik di Puskesmas Bontomarannu,Kab. Gowa

Tabel 3
Rekapitulasi Penyakit di Puskesmas Bontomarannu
Kabupaten Gowa Tahun 2005

No Nama Penyakit Jumlah Penderita


1 ISPA 6816
2 Rongga Mulut ( Gigi ) 1632
3 Rhematik 1346
4 Kulit Alergi 920
5 Diare 841
6 Kecelakaan dan Ruda 546
Paksa
7 Gastritis ( Maag ) 345
8 Mata 232
9 Infeksi telinga tengah 175
10 Hipertensi 165
Sumber :Rekam Medik di Puskesmas Bontomarannu,Kab. Gowa
Tabel 4
Rekapitulasi Penyakit di Puskesmas Bontomarannu
Kabupaten Gowa Tahun 2006

No Nama Penyakit Jumlah Penderita

Surveilans Penyakit ISPA


1 ISPA 7978
2 Rongga Mulut ( Gigi ) 1938
3 Rhematik 1706
4 Diare 1390
5 Kulit Alergi 1011
6 Kecelakaan dan Ruda 555
Paksa
7 Mata 400
8 Gastritis ( Maag ) 354
9 Kulit Infeksi 302
10 Hipertensi 212
Sumber: Rekam Medik di Puskesmas Bontomarannu,Kab. Gowa

Tabel 5
Rekapitulasi Penyakit di Puskesmas Bontomarannu
Kabupaten Gowa Tahun 2007

No Nama Penyakit Jumlah Penderita


1 ISPA 8469
2 Kulit Alergi 2434
3 Rongga mulut (gigi) 1985
4 Rhematik 1599
5 Diare 1171
6 Gastritis (maag) 964
7 Kecelakaan dan Ruda 895
Paksa
8 Hipertensi 689
9 Mata 454
10 Infeksi Telinga 360
Sumber: Rekam Medik di Puskesmas Bontomarannu,Kab. Gowa
B. Rumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang tersebut di atas maka rumusan masalah yang
akan di bahas sebagai berikut:
1) Bagaimana distribusi penyakit ISPA berdasarkan orang, waktu dan tempat pada
Tahun 2003-2007.
2) Bagaimana pelaksanaan surveilans penyakit ISPA di Puskesmas Bontomarannu,
Kab. Gowa

C. Tujuan Pengamatan

Surveilans Penyakit ISPA


1) Tujuan Umum
Untuk mengetahui distribusi penyakit ISPA dan pelaksanan surveilans di
Puskesmas Bontomarannu, Kab. Gowa
2) Tujuan Khusus
Untuk mengetahui distribusi penyakit ISPA berdasarkan orang (umur,
jenis kelamin, dan jenis pelayanan).
Untuk mengetahui distribusi penyakit ISPA berdasarkan waktu ( bulan ).
Untuk mengetahui distribusi penyakit ISPA berdasarkan tempat (asal
daerah).
Mengetahui pelaksanaan surveilans (pengumpulan, kompilasi, dan
analisis data).

D. Manfaat Pengamatan
1) Manfaat Praktis
Bagi pelaksana program, kiranya dapat dijadikan sebagai masukan untuk
perencanaan dan pengembangan surveilans penyakit ISPA di masa yang akan
datang.
2) Manfaat Ilmiah
Diharapkan dapat mengaplikasikan dan menerapkan ilmu yang diperoleh.
3) Manfaat Bagi Pengamat
Bagi pengamat sendiri merupakan pengalaman berharga dalam memperluas
wawasan dan pengetahuan tentang pencegahan dan pengobatan ISPA di
lapangan.
4) Manfaat Bagi Masyarakat
Dapat mengetahui bagaimana perkembangan penyakit ISPA dan bagaimana
cara pencegahan sampai pengobatannya

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Umum Tentang Penyakit ISPA

Surveilans Penyakit ISPA


1. Defenisi
Infeksi Saluran Pernapasan Atas adalah infeksi-infeksi yang disebabkan oleh
mikroorganisme. Infeksi-infeksi tersebut terbatas pada struktur-struktur saluran
napas termaksud rongga hidung, faring dan laring.

2. Klasifikasi dan Cara Penularan Penyakit ISPA


Kalsifikasi ISPA berdasarkan gejala
a. ISPA Ringan
Berupa batuk, serak, pilek , panas atau demam. Perawatannya cukup
dilakukan dirumah dengan diberi obat penurun panas, tetapi dalam
waktu dua hari gejala belum hilang maka harus segara di bawah ke
Dokter atau Puskesmas.
b. ISPA Sedang
Seseorang dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala-
gejala ISPA ringan disertai gejala-gejala berikut :
Pernapasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur <
1 tahun atau > 40 kali per menit 1 tahun atan lebih.
Suhu tubuh lebih dari 390 C
Tenggorokan berwarna merah
Timbul bercak-bercak pada kulit seperti pada campak
Telinga sakit atau mengeluarkan nanah
Mendengkur dan mencuti-cuit

c. ISPA Berat
Seseorang dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-
gejala ISPA ringan atau ISPA sedang didertai gejala-gejala berikut :
Bibir atau kulit membiru
Lubang hidung kembang kempis ( dengan cukup lebar ) pada
waktu bernapas
Kesadaran menurun
Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernapas
Penderita ini harus di rawat di rumah sakit atau Puskesmas

Cara penularan penyakit ISPA


Air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman
terhirup oleh orang sehat ke dalam pernapasannya

3. Diagnosa dan Terapi ISPA

Surveilans Penyakit ISPA


Diagnosis yang termaksud dalam keadaan ini adalah rhinitis, sinusitis,
faringitis, tosilitis dan laryngitisa
Terapi yang diberikan pada penyakit ini biasanya pemberian antibiotik
walaupun kebanyakan ISPA disebabkan oleh virus yang dapat sembuh dengan
sendirinya tanpa pemberian obat-obatan terapiutik, pemberian antibiotik dapat
mempercepat penyembuhan panyakit ini dibandingkan hanya pemberian obat-
obatan simtomatik selain itu dengan pemberian antibiotik dapat mencegah
infeksi lanjutan dari bakterial, pemberian, pemilihanan antibotik pada penyakit
ini harus diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi resistensi kuman atau
bakterial di kemudian hari naman pada penyakit ISPA yang sudah berlanjut
dengan dahak dan hingus yang sudah menjadi hijau pemberian antibiotik
merupakan keharusan karena dengan gejala tersebut membuktikan sudah ada
bekteri yang terlibat.

4. Faktor Faktor Penyebab Penyakit ISPA

a. Faktor Infeksi
Terdiri dari lebih 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab
ISPA antara lain dari Genus Streptokokus, Stafilokokus, Pnemokokus,
Hemofilus, Bordetella dan Korinobakterium. Virus penyebab ISPA antara
lain adalah golongan Mikosovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikonavirus,
Mikoplasma, dan Herpesvirus

b. Faktor Lingkungan
Cuaca dan Musim
Di Negara dengan 4 musim, kejadian ISPA cenderung meningkat
pada musim dingin; dinegara tropis yang umumnya memiliki 2 musim,
ISPA 2 atau 3 kali lebih seering terjadi pada musim hujan.

Kepadatan Penduduk
David Morley (1973) menekankan, yang paling bertanggung jawab
terhadap terjadinya ISPA adalah kepadatan penghuni di dalam atau di

Surveilans Penyakit ISPA


luar rumah; meningkatnya kejadian ISPA pada musim-musim tertentu
bukan diakibatkan perubahan cuaca atau musim.

Umum dan Jenis Kelamin


Anak berusia dibawah 2 tahun mempunyai resiko mendapat ISPA
lebih besar dari pada anak yang lebih tua. Keadaan ini mungkin karena
pada anak di bawah usia 2 tahun imunitasnya belum sempurna dan
lumen saluran napasnya relatif sempit
Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Atas , tidak ada bedanya
antara anak laki-laki dengan perempuan sedangkan Infeksi Saluran
Pernapasan bawah pada umur kurang dari 6 tahun lebih sering pada anak
laki-laki.

Keadaan Nutrisi dan Anemia


Sejauh mana hubungan nutrisi dengan anemia terhadap kejadian
ISPA belum diketahui dengan jelas, menurut David Morley ( 1973 )
karena hubungan nutrisi dengan ISPA belum jelas apabila gizi jelek tidak
diperhitungkan, kekurangan gizi di negara berkembang tidak dapat
dianggap sebagai penyebab utama dari tingginya angka kematian ISPA.
Anemia terutama anemia defisiensi besi yang sering ditemui pada
bayi dan anak di Indonesia mempunyai hubungan timbal balik dengan
ISPA

5. Epidemiologi
ISPA bersama- sama dengan malnutrisi dan diare merupakan penyebab
kesakitan dan kematian utama pada anak balita di Negara berkembang ( Sjarma,
et al.,1998 )
ISPA mengakibatkan sekitar 20-30 % angka kematian anak balita ( Depkes
RI. 2000 ) ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan berobat
dipuskesmas dan 15 30 % kunjungan berobat di bagian rawat jalan dan rawat
inap rumah sakit disebabkan oleh ISPA ( Dirjen P2ML.,2000 )

6. Pencegahan Penyakit ISPA


Keadaan gizi dijaga agar tetap baik
Di imunisasi

Surveilans Penyakit ISPA


Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA

B. Tinjauan Umum tentang Surveilans Epidemiologi

1. Pengertian Surveilans Epidemiologi


Surveilans epidemiologi adalah pengumpulan dan pengamatan secara
sistematik, berkesinambungan, analisis dan interpretasi data kesehatan dalam
proses menjelaskan dan memonitoring kesehatan, dengan kata lain surveilans
epidemiologi merupakan kegiatan pengamatan secara teratur dan terus-menerus
terhadap semua aspek kejadian penyakit dan kematian akibat penyakit tertentu,
baik keadan maupun penyebarannya dalam suatu masyarakat tertentu untuk
kepentingan pencegahan dan penanggulangannya. (Nur Nasry Noor, 2002).
Dari pengertian tersebut di atas terdapat enam komponen penting dalam
surveilans, yaitu:
a. Pengumpulan / pencatatan kejadian yang dapat dipercaya
b. Pengolahan data untuk memberi informasi atau keterangan.
c. Analisis dan intervensi data untuk keperluan kegiatan.
d. Penyebarluasan data (informasi) dan umpan balik.
e. Evaluasi / penilaian kegiatan.
f. Perencanaan dan penanggulangan khusus dan program pelaksanaannya.
2. Pembagian Surveilans
Surveilans dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Surveilans Aktif (Active Surveilance)
Merupakan pengamatan yang dilakukan secara langsung dilapangan
dengan hasil yang jauh lebih baik. Untuk melakukan surveilans aktif

Surveilans Penyakit ISPA


dibutuhkan tersedianya dana dan pelaksanaan tenaga khusus yang dalam
banyak hal tidak mudah untuk dipenuhi.
b. Surveilas Pasif (Passive Surveilance)
Merupakan pengamatan khusus yang dilakukan secara tidak langsung
yakni:
Hanya melalui laporan yang diterima saja dibandingkan dengan surveilans
aktif maka hasil yang diperoleh dari surveilans pasif kurang lengkap.
3. Sumber Data Surveilans
Salah satu pengumpulan data yang dilakukan secara terus-menerus dalam
epidemiologi dikenal dengan surveilans. Sebagai sumber data surveilans WHO
merekomendasikan 10 macam sumber data yang dapat di pakai yaitu:
a. Registrasi mortalitas
b. Laporan Morbiditas
c. Laporan Epidemi
d. Investigasi laboratorium
e. Investigasi khusus individu
f. Investigasi lapangan epidemic
g. Survei
h. Studi reservoir binatang dan distribusi vector
i. Penggunaan biologis dan obat
j. Pengetahuan populasi dan lingkungan

Selain itu, untuk surveilans data dapat juga diperoleh dari:


a. Statistik rumah sakit dan tempat perawatan lainnya.
b. Pencatatan dokter-dokter
c. Daftar absen kerja atau sekolah

4. Kegiatan Surveilans
a. Kegiatan Bersifat Rutin

Surveilans Penyakit ISPA


1) Laporan rutin penyakit menular maupun penyakit tidak menular atau
berbagai kejadian yang berhubungan dengan kesehatan secara umum.
2) Pencatatan dan pelaporan khusus kejadian penyakit tertentu dalam
masyarakat yang terbatas pada kejadian yang mempunyai dampak besar
kepada masyarakat.
3) Pelaksanaan pencatatan dan pelaporan jenis penyakit yang wajib
dilaporkan.
4) Surveilas ekologi dan lingkungan.

5) Pengamatan dan pengawasan terhadap pemakaian zat tertentu.


6) Pencatatan dan pelaporan peristiwa vital yang meliputi kelahiran,
perkawinan, perceraian dan kematian.

b. Kegiatan Bersifat Khusus


1) Pelaksanaan survey berkala untuk berbagai hal tertentu.
2) Pengamatan khusus terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) dan penelitian
aktif tertentu.
3) Pengamatan khusus oleh dokter praktek pengamatan di klinik dan lain-
lain

5. Kegunaan Sistem Surveilans


Suatu kegiatan surveilans dapat dikatakan berguna apabila dapat
membantu mencegah dan menanggulangi penyakit atau peristiwa pada
masyarakat dengan memenuhi lebih dari satu hal sebagai berikut:
a. Dapat mendeteksi kecenderungan (trend) perubahan kejadian penyakit
tertentu.
b. Dapat mendeteksi Kejadian Luar Biasa (trend) atau epidemic.
c. Dapat memberi perkiraan besarnya morbiditas dan mortalitas sehubungan
dengan masalah kesehatan yang menjalani surveilans tersebut.

Surveilans Penyakit ISPA


d. Dapat merangsang dan mendorong untuk diadakan penelitian epidemiologis
tentang adanya kemungkinan pencegahan dan penanggulangannya.
e. Dapat mengidentifikasi faktor resiko yang berkaitan dengan kejadian
penyakit.
f. Dapat memperhitungkan kemungkinan adanya efek atau pengaruh upaya
penanggulangan kejjadian penyakit atau gangguan kesehatan.
g. Dapat memberi perbaikan dibidang klinis bagi pelaksanaan pelayanan (health
care provider) yang juga merupakan bagian dari unsur pokok sistem
surveilans.
C. Tinjauan Umum tentang Surveilans Penyakit ISPA

1. Pengumpulan atau pencatatan kejadian penyakit ISPA


Pencatatan kejadian penyakit ISPA dilakukan dengan cara menghitung
registrasi pengunjung ( rawat jalan ) di Puskesmas Bontomarannu Gowa.
Sistem pengolahan dan pengumpulan data di Puskesmas Bontomarannu sudah
berjalan dengan baik karena penginputan datanya dilakukan tiap hari kerja
secara rutin namun belum maksimal.

2. Pengolahan dan analisis data


Pengolahan datanya dilakukan dengan mencatat di dalam buku registrasi
kemudian di pindahkan ke dalam komputer untuk setiap kejadian.

3. Kompilasi data
Kompilasi data dilakukan dengan cara merekapitulasi angka kejadian
penyakit perbulan, ini dilakukan dengan rutin.

4. System pelaporan
System pelaporan penyakit ISPA dilaporkan dengan system surveilans
terpadu perbulan, kemudian data hasil masuk kebagian evaluasi dan
perencanaan dan dilaporkan ke DINKES dan DEPKES

Surveilans Penyakit ISPA


BAB III

METODE SURVEILANS

A. Jenis Praktek
Pengamatan ini bersifat survei deskriptif, dengan pengamatan ini
dimaksudkan untuk mengkaji distribusi penyakit ISPA dan pelaksanaan
surveilans dari tahun 2003-2007 di Puskesmas Bontomarannu, Kab. Gowa yang
mencakup umur, jenis kelamin, jenis pelayanan waktu per bulan dan asal
daerah. Metode yang digunakan untuk memperoleh fakta, semua karakteristik
variabel digunakan dengan cara praktek surveilans epidemiologi.

B. Jenis Dan Sumber Data


1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperlukan unutk
mengetahui distribusi penyakit ISPA di Puskesmas Bontomarannu Gowa.
2. Sumber Data
Data sekunder diperoleh melalui status pasien penyakit ISPA tahun 2003
2007 pada bagian pengolahan data di Puskesmas Bontomarannu Gowa,
subjeknya adalah semua orang yang menderita penyakit ISPA.

D. Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan melalui pengolahan data di Puskesmas
Bontomarannu Gowa tahun 2003 2007 yang mengumpulkan data ini adalah
Muhammad Faizal, Meyril S. Tuhuleruw, Arfa Wahyuni Latar, Nurilma B, Rajal
Rasyid. Sumber pengambilan data adalah Kharmawati. SKM ( Tata Usaha ) dan

Surveilans Penyakit ISPA


Relawati ( Pengolahan Data ISPA untuk umur 0 4 tahun) yang merupakan
pegawai Puskesmas Bontomarannu Kab. Gowa

E. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan cara manual dengan menggunakan
computer dengan menggunakan program word dan excel, disajikan dalam bentuk
narasi, grafik dan table. Data ini diolah oleh Muhammad Faizal, Meyril S.
Tuhuleruw, Arfa Wahyuni Latar, Nurilma B, Rajal Rasyid

F. Analisis Data
Data yang telah diolah selanjutnya dianalisis secara deskriptif untuk
mengetahui gambaran distribusi dan permasalahan dalam pelaksanaan surveilans
penyakit ISPA di Puskesmas Bontomarannu, Kab Gowa tahun 2003 - 2007.

G. Lokasi Praktek
Tempat pengamatan ini dilaksanakan di Puskesmas Bontomarannu, Kab.
Gowa

Surveilans Penyakit ISPA


HASIL PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Gambaran Umum Tentang Puskesmas Bontomarannu
1) Geografis dan Demografis
Puskesmas Bontomarannu terletak di Kelurahan Bontomanai, Kecamatan
Bontomarannu, Kabupaten Gowa dengan batas batas wilayah sebagai berikut
a. Sebeleh Utara berbatasan dengan Kec. Sombaopu
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kec. Patallassang
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kab.Takalar
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kec. Pallangga
Luas wilayah kerja Puskesmas Bontomarannu sekitar 25,31 km2 yang terdiri
dari 9 Desa atau Kelurahan. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas
Bontomarannu adalah 28.187 jiwa, jumlah rumah tangga 5580 dengan
kepadatan penduduk 536. Jumlah penduduk di Kecamatan Bontomarannu pada
tahun 2006 sebanyak 28.187 jiwa yang terdiri dari 13.945 jiwa laki-laki dan
14.242 jiwa perempuan ( Laporan Tahunan Puskesmas Bontomarannu 2006)

Surveilans Penyakit ISPA


Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Gowa
Tabel 6
Jumlah Penduduk menurut Desa/ Kelurahan
di Kecamatan Bontomarannu tahun 2003-2006

Desa / Jumlah Penduduk


2003 % 2004 % 2005 % 2006 %
Kelurahan
Borongloe 6371 25, 6373 25, 6694 25, 2740 9,7
Bontomanai 3729 8 3412 8 3584 8 3407 12,
Sokkolia 2553 15, 2649 13, 2784 13, 2726 1
Pakatto 4344 1 4078 8 4285 8 4501 9,7
Nirannuang 1866 10, 1748 10, 1837 10, 1989 16.
Bili-bli 4 7 8 1977 0
Romangloe 4279 17, 4751 16, 4992 16, 4302 7,1
Mata Allo 1542 6 1687 5 1770 5 1705 7.0
Romanglomp 7,6 7,1 7,1 4840 15,
oa 3
17, 19, 19, 6,0
3 3 2 17,
6,2 6,8 6,8 1

Jumlah 24 100 24 100 25.94 100 28 187 100


684 698 6
Sumber : Koordinator Statistik Kecamatan Bontomarannu
Ket : Sebelum Tahun 2006 terdapat 7 Desa atau Kelurahan di Kecamatan
Bontomarannu namun pada tahun 2006 terjadi penambahan 2 Desa/
Kelurahan sehingga Kecamatan Bontomarannu sekarang memiliki 9 Desa/
Kelurahan
2) Data Umum Puskesmas
Kode Puskesmas : 73060801
Puskesmas : Bontomarannu
Kecamatan : Bontomarannu

Surveilans Penyakit ISPA


Kabupaten : Gowa
Propinsi : Sulawasi selatan
Tahun dibangun : 1970
Luas tanah (halaman) Pusk. : 2576 m2
Luas Bangunan : 135 m2
Jumlah ruangan : 13 ruangan
Terakhir di Rehabilitasi : Tahun 2003
Tabel 7
Jumlah Pegawai Puskesmas Bontomarannu
Kabupaten Takalar Tahun 2008

No Profesi Pendidika Jumlah No Profesi Pendidika Jumlah


n n
1 Dokter S1 2 8 Gizi DI 1
Umum
2 Dokter S1 2 9 Farmasi DIII 1
Gigi
3 Sarjan S2 4 10 Laboratoriu DIII 1
a S1 2 m
Kesma
s
4 Bidan S1 3 11 Pekarya SMA 1
DIII 1
SMA Kej/UM 5
5 Perawa DIII 6 12 Tata usaha SMA 1
t SMA 7
6 Perawa DIII 3 13 Promkes DI 1
t gigi SMA 1
7 Sanitas DI 1
i
Sumber : Data umum Puskesmas Bontomarannu

3) Visi dan Misi


Visi
Wilayah kerja Puskesmas Bontomarannu menuju sehat tahun 2010

Surveilans Penyakit ISPA


Misi
Menungkatkan pelayanan kesehatan
Meningkatkan lingkungan bersih dan sehat
Meningkatkan peran serta masyarakat
Mengembangkan pemanfaatan ilmu pengetahuan melalui riset dan kerja
sama perguruan tinggi dan institusi pendidikan kesehatan.
Menggalang kemitraan dengan pihak swasta, organisasi profesional,
ORNOP dan organisasi kemasyarakatan yang lain.

4) Program Unggulan
MTBS : Manejemen Terpadu Balita Sakit
RBM : Rehabilitas Bersumberdaya Masyarakat
QA : Quality Asurance KIA

2. Gambaran Surveilans
1) Analisis Atribut Penyakit ISPA
a) Kesederhanaan (Simplicity)
(Kesederhanaan dalam bentuk analisis data dan penyajian data)
Data diolah dengan menggunakan komputer dan penyajiannya dalam
bentuk excel.
b) Fleksibilitas
(Kemampuan selektif dan adaptif terhadap perubahan)
Sistem surveilans di Puskesmas Bontomarannu terus mengalami perubahan
sesuai dengan perkembangan teknologi. Yang dulunya dengan cara manual
saja, sekarang dengan menggunakan komputerisasi walaupun tidak banyak
jumlahnya.
c) Ketepatan Waktu (Time Lines)
(Ketepatan waktu dalam setiap pelaporan ke instansi terkait yaitu Dinas
Kesehatan).

Surveilans Penyakit ISPA


Data dilaporkan tiap bulan secara rutin ke Depkes dan ke Dinkes jika
dibutuhkan.

2) Analisis Komponen Surveilans Penyakit ISPA


Epidemiologi surveilans dalam pelaksanaan kegiatannya, secara teratur dan
terencana melakukan berbagai komponen utama surveilans. Komponen
surveilans dari penyakit ISPA meliputi koleksi data, analisis data, interpretasi
data dan diseminasi data. Sedangkan penggambaran pola distribusi dan
determinan penyakit ini menurut waktu, tempat dan orang.
a) ISPA
Adalah penyakit yang di diagnosis oleh dokter di Puskesmas Bontomarannu
tahun 2003-2007. Seorang dapat didiagnosa menderita ISPA apabila
terdapat keluhan antaranya hidung tersumbat, sputum berlebihan, dan rabas
hidung (pilek), nyeri kepala, demam dingin dan malese yang juga timbul
akibat reaksi peradangan

b) Koleksi Data
Adalah kumpulan data yang diperoleh dari hasil survei di Puskesmas
Bontomarannu, kab. Gowa tahun 2003 2007.
Menurut data dari tahun 2003-2007, terdapat 36.096 orang yang menderita
penyakit ISPA

c) Analisis Data
Adalah kegiatan lanjutan dari pengolahan data yang tujuannya untuk
mengartikan informasi yang diperoleh guna menjawab persoalan yang
dipertanyakan.
Penderita ISPA pada tahun 2003-2007 di Puskesmas Bontomarannu

d) Interpretasi Data

Surveilans Penyakit ISPA


Adalah pemaparan hubungan antara variabel bebas dengan variabel
tergantung.
Angka kejadian penyakit ISPA menurun seiring dengan bertambahnya usia

e) Diseminasi Data
Adalah penyebarluasan data.
Hasil data yang diperoleh dari berbagai sumber disebarluaskan untuk
menambah wawasan masyarakat tentang penyakit ISPA

f) Waktu Pengambilan Data


Aspek waktu dalam investigasi epidemiologi berkisar mulai jam, minggu,
bulan, tahun sampai dekade.
Pengambilan data dilakukan di hari Jumat dan Sabtu, mulai dari tanggal
12 maret sampai selesai, setiap jam kerja.

g) Tempat pengambilan data


Lokasi tempat dilakukannya pengambilan data.
Lokasi pengambilan data dilakukan di Puskesmas Bontomarrannu Kab.
Gowa.

h) Orang
Orang yang terdiagnosa sebagai penderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas

Surveilans Penyakit ISPA


3. Gambaran Epidemiologi Penyakit ISPA
Epidemiologi penyakit ISPA dapat diamati dengan melihat karakteristik
penderita berdasarkan karakteristik orang (umur ,jenis kelamin, dan jenis
pelayanan), karakteristik waktu ( bulan ), dan karakteristik tempat (asal penderita)
1. Karakteristik Orang
Karakteristik orang dapat dilihat lewat distribusi umur, jenis kelamin, dan jenis
pelayanan
1. Distribusi Umur
Jumlah penderita ISPA terdapat pada berbagai kelompok umur, dapat
dilihat pada tabel dan grafik di bawah ini

Tabel 8
Distribusi Frekuensi Penyakit ISPA Berdasarkan Umur
Di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003 2007

UMUR TAHUN
JUMLAH
(TAHUN 2007
2003 2004 2005 2006
) n % n %
n % n % n % n %
11, 10, 625 7,4 3162 8,8
<1 693 705 521 7,6 618 7,7
0 8
14 1229 19, 1170 17, 1050 15, 1437 18,0 151 17,8 6396 17,

Surveilans Penyakit ISPA


5 9 4 0 7
13, 12, 15, 132 15,6 5189 14,
59 826 835 1042 1164 14,6
1 9 3 2 4
10 14 507 8,0 485 7,4 545 8,0 516 6,5 524 6,2 2577 7,1

15 19 276 4,4 294 4,5 336 5,0 375 4,7 412 4,9 1693 4,7
21, 21, 23, 182 21,5 7857 21,
20 44 1324 1400 1565 1743 21,8
0 4 0 5 8
45 54 554 8,8 538 8,2 579 8,5 759 9,5 762 9,0 3192 8,8

55 59 217 3,5 216 3,3 269 3,9 335 4,3 362 4,3 1399 3,9

60 69 494 7,8 594 9,1 561 8,2 741 9,3 812 9,6 3202 8,8

>70 181 2,9 295 4,5 348 5,1 290 3,6 315 3,7 1429 4,0
JUMLA 846 100 3609 100
6301 100 6532 100 6816 100 7978 100
H 9 6
Sumber :Rekam Medik di Puskesmas Bontomarannu, Kab. Gowa
Tabel 9
Proporsi Penderita ISPA Berdasarkan Umur
Di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003-2007

UMUR TAHUN
2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006 - 2007
(TAHUN) PERUBAHA PERUBAHA PERUBAHA PERUBAHAN
N (%) N (%) N (%) (%)
<1 1,73 -26,09 18,6 1,13
14 -4,80 -10,26 36,86 5,08
59 1,21 24,80 11,71 13,57
10 14 -4,34 12,37 -5,32 1,55
15 19 6,52 14,29 11,61 9,87
20 44 5,74 11,79 11,37 4,70
45 54 -2,98 7,62 31,09 0.40
55 59 -0,46 24,54 24,54 8,06
60 69 20,24 -5,56 32,09 24,48
>70 62,98 17,97 -16,67 8,62
JUMLAH 3,67 4,35 17,05 6,15

Surveilans Penyakit ISPA


Berdasarkan data di atas tahun 2003 2004 terjadi peningkatan pada beberapa
golongan umur ( 1 bln-<1 thn, 5-9 thn,15-19 thn, 20- 44 thn, 60-69 thn dan >70 thn )
sedangkan golongan yang lain mengalami penurunan. Tahun 2004 2005 terjadi
pula peningkatan di beberapa golongan umur kecuali 1 bln-<1 thn, 1 4 thn dan 60
69 thn. Tahun 2005 2006 hampir semua golongan umur mengalami peningkatan
sedangkan yang mengalami penurunan hanya pada golongan umur 10 14 thn dan
>70 thn. Tahun 2006-2007 terjadi peningkatan di semua golongan umur. Namun jika
dilihat secara keseluruhan dari tahun ke tahun jumlah penderita ISPA terus
meningkat
Grafik 1

Distribusi Frekuensi Penyakit ISPA berdasarkan BAalita dan Bukan Balita


Di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003-2007

7000
6000
5000
4000
3000
2000
Jumlah Penderita
1000
0

Berdasarkan Grafik di atas, di peroleh frekuensi tertinggi penderta ISPA


periode 2003-2007 pada kelompok bukan balita. Hal ini diakibatakn karena
aktifitas kelompok yang bukan bakita lebih padat baik di dalam maupun
diliar rumah.

2. Distribusi Jenis Kelamin


Penyakit ISPA menyerang laki- laki maupun perempuan. Distribusinya
dapat dilihat pada tabel dan grafik di bawah ini:

Surveilans Penyakit ISPA


Tabel 10
Distribusi Frekuensi Penyakit ISPA Berdasarkan Jenis Kelamin
Di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003 2007

JENIS TAHUN
KELAMIN 2003 2004 2005 2006 2007 JUMLAH
n % n % n % n % n % n %
Laki-Laki 2675 42, 2585 39, 3041 44, 3508 44, 3912 46, 1572 43,
5 6 6 0 2 1 6
Perempuan 3626 57, 3947 60, 3775 55, 4470 56, 4557 53, 2037 56,
5 4 4 0 8 5 4
Jumlah 6301 100 6532 100 6816 100 7978 100 8469 100 3609 100
6
Sumber :Rekam Medik di Puskesmas Bontomarannu,Kab. Gowa
Tabel 11
Proporsi Penderita ISPA
Berdasarkan Jenis Kelamin DiPuskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003-2007

TAHUN
JENIS 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007
KELAMIN
PERUBAHA
PERUBAHA PERUBAHA PERUBAHA
N
N (%) N (%) N (%)
(%)
Laki-Laki -3,36 17,64 15,36 11,52
Perempuan 8,85 -4,36 18,41 1,95
JUMLAH 3,67 4,35 17,05 6,15

Berdasarkan data di atas, penderita ISPA untuk laki -laki dan perempuan hampir
semua tahun mengalami peningkatan, penurunan hanya dialami laki-laki pada
tahun 2003-2004 dan perempuan pada tahun 2005-2006.

Grafik 2

Surveilans Penyakit ISPA


Distribusi Frekuensi berdasarkan jenis kelamin
di Puskesmas Bontomarannu
periode 2003-2007

perempuan; 56%
laki-laki; 44%

Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa jenis kelamin Perempuan lebih rentan
menderita penyakit ISPA dibandingkan Laki-laki. Dimana jumlah ini terus
mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena perempuan memiliki jumlah
waktu berada dalam dapur lebih banyak sehingga paparan asap yang mengeluarkan
gas CO berkotribusi terhadap tingginya kejadian ISPA ( salah satu faktor penyebab
ISPA).
3. Jenis Pelayanan
Terdapat beberapa jenis pelayanan di Puskesmas Bontomarannu Gowa yaitu
ASKES, JPS, dan UMUM. Dimana pasien dapat memilih dari ketiga jenis pelayanan
tersebut yang sesuai dengan kemampuan mereka. Jenis pelayanan ini dapat dilihat
pada tabel dan grafik di bawah ini:

Tabel 12
Distribusi Frekuensi Penyakit ISPA Berdasarkan Jenis Pelayanan
Di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003 2007

Jenis TAHUN JUMLAH


2003 2004 2005 2006 2007
Pelayana
n % n % n % n % n % n %
n
ASKES 123 2.0 174 2,7 183 2,7 225 2,8 316 3,7 1021 2,8
JPS 302 291 44, 330 48, 373 46, 352 41, 1650 45,
48.0
6 5 6 5 5 2 8 1 6 0 7

Surveilans Penyakit ISPA


UMUM 315 344 52, 332 48, 402 50, 463 54, 1857 51,
50.0
2 3 7 8 8 1 4 1 7 5 5
Jumlah 630 100. 653 100 681 100 797 100 846 100 3609 100
1 0 2 6 8 9 6
Sumber :Rekam Medik di Puskesmas Bontomarannu,Kab. Gowa

Tabel 13
Proporsi Penderita ISPA
Berdasarkan Jenis Pelayanan DiPuskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003-2007

Jenis TAHUN
2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007
Pelayana PERUBAHA PERUBAHA PERUBAHA PERUBAHA
n N (%) N (%) N (%) N (%)
ASKES 41,46 5,17 22,95 40,44
JPS -3,67 13,38 12,92 -5,60
UMUM 9,23 -3,34 20,82 15,20
JUMLA
3,67 4,35 17,05 6,15
H

Berdasarkan data di atas, jenis pelayanan yang di peroleh penderita ISPA. ASKES
terus mengalami peningkatan, JPS mengalami peningkatan 2004-2005 dan 2005-
2006, dan tahun yang lain mengalami penurunan. Untuk UMUM terjadi
peningkatan hampir semua tahun hanya pada tahun 2004-2005 yang mengalami
penurunan.
Grafik 3

Surveilans Penyakit ISPA


Distribusi frekuensi penyakit ISPA berdasarkan jenis pelayanan
di puskesmas bontomarannu
kab.Gowa periode 2003-2007

5000
4500
4000
3500
3000

jumlah penderita 2500


2000
1500
1000
500
0
2003 2004 2005 2006 2003

Berdasarkan grafik di atas, Pasien yang menggunakan jenis pelayanan UMUM dan
JPS lebih banyak dibandingkan ASKES, hal ini disebabkan karena tidak adanya
biaya yang harus dikeluarkan oleh pasian yang mengunakan JPS, sedangkan
pelayanan untuk UMUM memang tinggi karena pasien sendiri tidak mengurus atau
tidak memiliki Asuransi maupun jaminan kesehatan yang lain

2. Kerakteristik Waktu
Jumlah kunjungan penderita ISPA setiap tahunnnya berbeda dan terus
mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat berdasarkan distribusi jumlah
penderita penyakit ISPA berdasarkan bulan pada periode 2003-2007

Tabel 14

Surveilans Penyakit ISPA


Distribusi Frekuensi Penyakit ISPA Berdasarkan Bulan
Di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003 2007
TRIWULAN TAHUN
JUMLAH
2003 2004 2005 2006 2007
n % n % n % N % N %
I (Jan-Maret) 2168 34.4 165 25.3 179 26.3 188 23.7 186 22.0 9362 25.9
1 3 7 3
II (Apr-Sept) 1141 18.1 174 26.7 165 24.2 176 22.1 200 23.7 8309 23.0
6 2 4 6
III (Jul-Sept) 20.2 172 26.5 170 25.1 221 27.7 245 29.0 26.0
1275 9 8 3 3 9378
IV (Okt-Des) 27.2 140 21.5 166 24.4 26.5 214 25.4 25.1
1717 6 3 2114 7 9047
JUMLAH 100. 653 100. 681 100. 797 100. 846 100. 3609 100.
0 0 0 0 0 0
6301 2 6 8 9 6
Sumber :Rekam Medik di Puskesmas Bontomarannu,Kab. Gowa

Tabel 15
Proporsi Penderita ISPA
Berdasarkan Bulan Di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003-2007
TRIWULAN TAHUN
2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007
PERUBAHA PERUBAHA PERUBAHA
PERUBAHAN
N N N
(%)
(%) (%) (%)
I (Jan-Maret) -23,85 8,60 5,24 -1,27
II (Apr-Sept) 53,02 -5,38 6,78 13,72
III (Jul-Sept) 0,36 -1,21 29,57 10,85
IV (Okt-Des) -18,11 18,28 27,12 1,56
JUMLAH 3,67 4,35 17,05 6,15

Berdasarkan data di atas, tahun 2003-2004 terjadi peningkatan pada bulan April
sampai September dan bulan-bulan yang lain mengalami penurunan. Untuk tahun
2004-2005 hampir semuanya mengalami peningkatan, penurunan hanya terjadi pada

Surveilans Penyakit ISPA


bulan yang Maret, April, Juni dan Agustus. Selanjutnya pada tahun 2005-2006
Penurunan hanya terjadi pada bulan Januari dan April selebihnya mengalami
peningkatan. Sedangkan untuk tahun 2006-2007 penurunan terjadi pada bulan
Januari dan Desember, bulan-bulan yang lainnya mengalami peningkatan.

Grafik 4

Distribusi Frekuensi Penyakit ISPA Berdasarkan Triwulan


di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003-2006

3000

2500

2000

Jumlah Penderita 1500

1000

500

0
2003 2004 2005 2006 2007

Berdasarkan grafik di atas, dilihat dari keseluruhan frekuensi penderita ISPA yang
paling tinggi di temukan pada Triwulan III (juli-sept). Tergantung cuaca pada bulan
tersebut.

3. Karakteristik Tempat

Surveilans Penyakit ISPA


Karakteristik tempat penderita ISPA dapat dilihat berdasarkan distribusi asal
daerahnya. Penderita ISPA tersebar di berbagai Desa/ Kelurahan di Kecamatan
Bontomarannu, Kab. Gowa. Datanya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 16
Distribusi Frekuensi Penyakit ISPA Berdasarkan Asal Daerah
Di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003 2007
Asal Daerah TAHUN
2003 2004 2005 2006 2007
n % n % n % n % n %
Borongloe 165 26,3 179 27,4 1938 28,4 1066 13,4 115 13,
8 3 2 6
Bontomanai 162 25,8 167 25,7 1822 26,7 2114 26,5 224 26,
8 8 2 5
Sokkolia 517 8,2 465 7,1 513 7,5 537 6,7 517 6,1
Pakatto 138 21,9 145 22,3 1471 21,6 1743 21,8 180 21,
2 9 1 3
Nirannuang 275 4,4 318 4,9 235 3,4 312 3,9 326 3,8
Bili-bili - - - - - - 192 2,4 212 2,5
Romangloe 596 9,5 478 7,3 494 7,2 355 4,5 371 4,4
Mata Allo 245 3,9 341 5,2 343 5,0 408 5,1 427 5,0
Romanglomp - - - - - 1251 15,7 142 16,
oa 1 8
Jumlah 630 100 653 100 6816 100 7978 100 846 100
1 2 9
Sumber :Rekam Medik di Puskesmas Bontomarannu,Kab. Gowa

Ket : Sebelum Tahun 2006 terdapat 7 Desa atau Kelurahan di Kecamatan


Bontomarannu namun pada tahun 2006 terjadi penambahan 2 Desa/
Kelurahan sehingga Kecamatan Bontomarannu sekarang memiliki 9 Desa/
Kelurahan. Sebelum tahun 2006, jumlah penderita ISPA di Daerah Bili-bili
masih terhitung sebagai jumlah penderita ISPA di Daerah Romangloe,

Surveilans Penyakit ISPA


kemudian jumlah penderita ISPA di Daerah Romanglompoa juga masih
terhitung sebagai jumlah penderita ISPA di Daerah Borongloe.
Tabel 17
Proporsi Penderita ISPA
Berdasarkan Asal Daerah Di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa Periode 2003-2007

TAHUN
2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007
Asal Daerah PERUBAHA PERUBAHA PERUBAHA PERUBAHA
N (%) N (%) N (%) N (%)
Borongloe 8,14 8,09 -45,00 8,07
Bontomanai 3,07 8,58 16,03 6,05
Sokkolia -10,06 10,32 4,68 -3,72
Pakatto 5,57 0,82 18,50 3,33
Nirannuang 15,64 -26,19 32,77 4,49
Bili-bili - - - 10,42
Romangloe -19,80 3,35 -8,14 4,51
Mata Allo 39,18 0,59 18,95 4,66
Romanglomp 13,59
- - -
oa

Berdasarkan data di atas, tahun 2003-2004 hampir semua daerah mengalami


peningkatan hanya pada daerah Sokkolia dan Romangloe yang mengalami
penurunan. Pada tahun 2004-2005 penurunan hanya pada daerah Nirannuang.
Penurunan juga terjadi pada tahun 2005-2006 di daerah Borongloe dengan
Romangloe, sedangkan 2006-2007 penurunan hanya terjadi pada daerah Sokkolia

Surveilans Penyakit ISPA


Grafik 5

Distribusi Frekuensi Penyakit ISPA berdasarkan Asal Daerah


di Puskesmas Bontomarannu
Kab. Gowa periode 2003-2007
2500

2000 Tahun 2003


Tahun 2004
1500 Tahun 2005
Jumlah Penderita Tahun 2006
1000
Tahun 2007
500

0
Borongloe

Asal Daerah

Berdasarkan grafik di atas, penderita ISPA tahun 2003 lebih banyak di daerah
Bontomanai dibandingkan dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan letak
Puskesmas Bontomarannu yang berada di Daerah tersebut (Bontomanai) sehingga
pasien dapat dengan mudah datang ke Puskesmas tersebut.

B. Pembahasan
1) Alur Pelayanan Puskesmas Bontomarannu

Surveilans Penyakit ISPA


ALUR UMUM

DATANG

AMBIL NOMOR

KAMAR KARTU
GIZI
GIGI DAN MULUT KIA / KB PERIKSA UMUM LAB

SANITASI

APOTIK UGD /TINDAKAN

PULANG

BERKAS HASIL PEMERIKSAAN


MASUK KE BAGIAN REKAM MEDIK

KET : Pasien datang, kemudian menuju ke loket untuk mengambil No. Urut sekaligus
melakukan registrasi pasien. Pasien selanjutnya akan masuk ke ruangan atau
kamar yang sesuia dengan keperluan atas keluhanya, misalnya jika ada keluhan
dari pasien terkait rongga mulut dapat menuju ke ruangan pemeriksaan gigi dan
mulut, kemudian juka terkait masalah KIA atau KB bisa menuju ke ruangan
Pemeriksaan KIA. Jika ada masalah kesehatan yang lain, pasien bisa menuju ke
ruangan pemerikasaan umum ( gizi, laboratorium, dan sanitasi ). Jika ada pasien
gawat darurat maka pasien akan dievakuasi langsung ke ruang gawat darurat,
Seterusnya pasien akan di anjurkan untuk mengambil obat ke bagian Apotik,
dan bisa segera pulang.
ALUR POLIK PELAYANAN UMUM

DATANG

AMBIL KARTU

KIA KAMAR KARTU

MTBS UNTUK UKUR TEKANAN DARAH


ANAK < 3 THN UNTUK PENDERITA > 15 THN

Surveilans Penyakit ISPA


KAMAR DOKTER

UNTUK JPS UMUM UNTUK ASKES


MENANDATANGANI MENANDATANGANI
REGISTER JPS REGISTER ASKES

APOTIK
LAB
PULANG

BERKAS HASIL PEMERIKSAAN


MASUK KE BAGIAN REKAM MEDIK

Ket : Pasien yang datang menuju ke loket untuk mengambil No. Urut sekaligus
melakukan registrasi pasien, untuk pasien ibu dan anak memiliki ruagan pemeriksaan
tersediri, untuk penderita > 15 thn akan diperikasa lebih dulu tekanan darahnya,
selanjutnya semua pasian akan menuju ke ruangan dokter untuk pemeriksaan yang
lebih jelas, setelah itu pasien dapat menandatangani register sesuai jenis pelayanan
yang di pakai ( ASKES, JPS, dan UMUM ), bila diperlukan akan dilakukan
pemeriksaan di Laboratorium, Seterusnya pasien akan di anjurkan untuk mengambil
obat ke bagian Apotik, dan bisa segera pulang.

2) Surveilans Penyakit ISPA


Kegiatan Surveilans di Puskesmas Bontomarannu, Kab.gowa

Berkas Pasien masuk Berkas diperiksa Penentuan jenis


Pasien Pulang ke rekam medik dari kelengkapan dan penyakit. ISPA atau
pukul 08-13.00 setiap dianalis Non-ISPA
6 hari kerja

Di input ke komputer
Keterangan: per hari/ ruangan
(pembukuan registrasi)

Surveilans Penyakit ISPA


Setelah pasien pulang, berkas pasien masuk ke bagian rekam medik
untuk diperiksa dan dianalisis, apakah datanya lengkap atau tidak.
Berkas rekam medik harus di masukkan paling lambat pukul 13.00. Dilaporkan dengan
Setelah data pasien lengkap kemudian dilakukan penentuan jenis surveilans

Penyakit. ISPA atau Non-ISPA. Setelah itu diinput ke komputer terpadu per bulan

(pembukuan registrasi).Penginputan ini dilakukan per hari tiap


hari kerja, yaitu senin-saptu. Selanjutnya direkapitulasi per bulan,
Berkas hasil masuk ke
dan dilaporkan dengan surveilans terpadu perbulan. Berkas masuk bagian perencanaan dan
ke bagian perencanaan dan evaluasi, kemudian dilaporkan dievaluasi

ke Depkes, ke Dinkes jika dibutuhkan.

Dilaporkan ke DEPKES,
ke DINKES jika
dibutuhkan

3) Epidemiologi Penyakit ISPA


Person (orang )
Kelompok umur yang paling banyak terkena penyakit ISPA adalah
kelompok umur 20 - 44 tahun yaitu 7857 kasus dari tahun 2003-2007 dan
penyakit ini banyak ditemukan pada perempuan.

Time ( waktu )
Distribusi penyakit ISPA dilihat berdasarkan bulan dalam periode lima
tahun terakhir yaitu 2003 sampai 2007.

Place ( tempat )
Penyakit ISPA berdasarkan tempat ( asal daerah ) semuanya berasal dari
Kecamatan Bontomarannu.

Surveilans Penyakit ISPA


PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hasil data yang diperoleh dari bagian rekam medik di Puskesmas
Bontomarannu, Kab. Gowa dapat dilihat bahwa distribusi penyakit ISPA yang
berjumlah 36.096 kasus cenderung diderita oleh kelompok umur 20-44 tahun
(21,8 %) dan paling banyak ditemukan pada Perempuan (56,4 %), kemudian
Jenis Pelayanan yang sering digunakan oleh Penderita ISPA adalah Pelayanan
UMUM (51,5 %)
2. Kejadian penyakit ISPA paling banyak ditemukan pada Triwulan ke III (juli-
sept) dengan jumlah kasus 9378 (26,0) pada periode 2003-2007 , selanjutnya
penderita ISPA banyak berasal dari Kelurahan Bontomanai karena daerah ini
memang lebih dekat dengan Puskesmas Bontomarannu di bandingkan daerah-
daerah lain.

Surveilans Penyakit ISPA


3. Surveilans Penyakit ISPA di Puskesmas Bontomarannu mengandung
kesederhanaan dalam bentuk analisis dan penyajian data , fleksibilitas
(kemampuan selaktif dan adaptif terhadap perubahan ) dan ketepatan waktu
dalam setiap pelaporan. Adapun komponen surveilans diantaranya koleksi data
(kumpulan data dimana terdapat 36.096 orang yang menderita ISPA pada
perode 2003-2007), Analisis (kegiatan lanjutan dari pengolahan data),
Interpretasi ( ini merupakan hubungan antar variabel dimana ditemukan bahwa
angka kejadian penyakit ISPA menurun seiring dengan bertambahnya usia ),
yang terakhir Diseminasi ( penyebarluasan Data guna menambah wawasan
banyak orang )

B. Saran
1.
2. Untuk mengatasi frekuensi penderita ISPA sebaiknya registrasi ISPA yang ada
lebih diaktifkan untuk pengumpulan dan penyaringan kasus pada suatu
populasi di daerah-daerah tertentu sehingga angka kejadian penyakit ini dapat
ditekan
3. Dalam pelaksanaan surveilans di Puskesmas Bontomarannui diharapkan
penambahan jumlah fasilitas penginputan data (komputer) dan peningkatan
kualitas SDM (operator penginputan data).

Surveilans Penyakit ISPA


DAFTAR PUSTAKA

Anderson. Clifford. M.D .2001. Petunjuk Modern Kepada Kesehatan. Bandung :


Indonesia Publising House
Bres, P. Tindakan Darurat Kesehatan Masyarakat Pada Kejadian Luar Biasa.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.1995.
Departemen Kesehatan RI. Prosedur Kerja Surveilans Faktor Risiko Penyakit
Menular Dalam Intensifikasi Pemberantasan Penyakit Menular Terpadu
Berbasis Wilayah. Jakarta : Bhakti Husada. 2003
Departemen Kesehatan RI. Rencana Kerja Jangka Menengah Nasional. Jakarta :
Bhakti Husada. 2006

Surveilans Penyakit ISPA


Depkes RI. ( 2000 ). Informasi Tentang ISPA Pada Balita. Jakarta : Pusat
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat.
Noor, Nur Nasry.Prof.Dr.M.Ph. 2004. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular.
Jakarta : Rineka Cipta
Noor, Nur Nasry.Prof.Dr.M.Ph.2000. Dasar Epidemiologi. Jakarta : Rineka Cipta
Nur A. Y. dan Lilis S. (2005). Hubungan Sanitasi Rumah dengan Kejadian ISPA.
http://www.jurnal kesling.com/01-02-2002. Diakses Januari 2005

Surveilans Penyakit ISPA


Tempat melakukan Praktek Surveilans Ruang UGD

Surveilans Penyakit ISPA


( Puskesmas Bontomarannu, Kab. Gowa )

Suasana Ruang Tunggu Pasien Tindakan Medik


Terhadap Penderita ISPA

Pintu Masuk Puskesmas Bontomarannu Jalan yang berdebu di Sekitar


Puskesmas Bontomarannu

Surveilans Penyakit ISPA


Pengambilan Data Sekunder Penjelasan Kegiatan Surveilans ISPA
Dipuskesmas Bontomarannu Di Puskesmas Bontomarannu

Surveilans Penyakit ISPA