Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN LIPOSARCOMA

DIRUANG KEMOTERAPI RSUD. ULIN BANJARMASIN

DISUSUN OLEH :
Nama : Siti Khadijah
Nim : 14.IK.414

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARIMULIA BANJARMASIN


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2016
A. Definisi
Sarcoma adalah pertumbuhan maligna jaringan mesodermal (misal jaringan ikat,
otot, tulang) (Hinscliff, 1999 : 192).
Liposarkoma adalah tumor ganas atau kanker pada jaringan lemak, yang biasanya
dicirikan oleh adanya diferensiasi abortif sel sel menjadi liposit (Behrman, 1992 :
30).
Liposarkoma dapat ditemukan dimana mana, umpamanya di retroperitonium.
Tumor ini memang sudah ganas dari awalnya dan hampir tidak pernah berasal dari
perubahan keganasan suatu lipoma (Sjamsuhidajat, 1997: 1262).
Liposarkoma jarang terjadi dan cenderung lebih membentuk tonjolan. Terjadi dari
sel sel mesenkim primitif, beberapa diantaranya membawa vakuola vakuola
lipid yang harus ada paling sedikit beberapa sel. Sesungguhnya liposarkoma dapat
timbul dimana saja pada tubuh diluar jaringan adiposa. Sebagian besar terjadi di
jaringan jaringan lunak dalam dan meneruskan perjalanan penyakit yang sangat
tergantung pada gambaran sistologiknya. Liposarkoma miksoid cenderung
merupakan tumor tumor derajat rendah, yang sering kambuh, mempunyai
perjalanan penyakit yang sulit diobat dan metastasis lambat. Sebaliknya,
liposarkoma sel bulat dan liposarkoma pleomorfik adalah sarkoma sarkoma
derajat tinggi dan agresif (85% sampai 90% bermetastase) (Robbins, 1999 : 758
759).
Liposarkoma merupakan tipe yang paling umum dari sarkoma jaringan lunak.
Sarkoma jaringan lunak merupakan tumor yang jarang, yang tumbuh dan
berkembang dalam jaringan yang diturunkan dari embrionik mesoderm. Sarkoma
ini mungkin terjadi dimana mana tetapi paling sering terjadi pada daerah paha
(Gale, 1999 : 245).

B. Anatomi Fisiologi
Anatomi fisiologi abdomen

Gambar abdomen dengan liposarcoma

C. Etiologi
Etiologi secara umum dari kanker yaitu : virus, agens fisik, agens kimia, faktor
faktor genetik, faktor makanan dan hormonal.
1. Virus
Virus sebagai penyebab kanker pada tubuh manusia sulit untuk dipastikan
karena virus sulit untuk diisolasi. Virus dianggap dapat menyatukan diri dalam
struktur genetik sel, sehingga mengganggu generasi mendatang dari populasi
sel tersebut dan ini barang kali mengarah pada kanker (Smeltzer, 2001 : 321).
2. Agens Fisik
Faktor faktor fisik yang mengarah pada karsinogenesis mencakup
pemanjanan terhadap sinar matahari atau pada radiasi. Pemajanan berlebih
terhadap sinar ultraviolet terutama pada orang yang berkulit putih atau terang,
bermata hijau atau biru dapat meningkatkan resiko terkena kanker. Pemajanan
terhadap radiasi pengionisasi dapat terjadi saat prosedur radiografi berulang
atau ketika terapi radiasi diberikan saat mengobati penyakit. Pemajanan
terhadap medan elektromagnetik dari kabel listrik, mikrowave, dan telepon
seluler dapat meningkatkan resiko kanker (Smeltzer, 2001 : 321).
3. Agens Kimia
Sekitar 85 % dari semua kanker diperkirakan berhubungan dengan lingkungan.
Karsinogen kimia mencakup zat warna amino aromatik dan anilin, arsenik,
jelaga dan tar, asbeston, pinang dan kapus sirih, debu kayu, senyawaan
berilium, dan polivinil klorida (Smeltzer, 2001 : 322).
4. Faktor Genetik dan Keturunan
Faktor genetik juga memainkan peranan dalam pembentukan sel kanker. Jika
kerusakan DNA terjadi pada sel dimana pola kromosomnya abnormal, dapat
terbentuk sel - sel mutan. Pola kromosom yang abnormal dari kanker
berhubungan dengan kromosom ekstra, terlalu sedikit kromosom, atau
translokasi kromosom. Beberapa kanker pada masa dewasa dan anak anak
menunjukkan predisposisi keturunan. Pada kanker dengan predisposisi
herediter, umumnya saudara dekat dan sedarah dan tipe kankernya sama
(Smeltzer, 2001 : 322).
5. Faktor Faktor Makanan
Faktor faktor makanan diduga berkaitan dengan 40% sampai 60% dari
semua kanker lingkungan. Substansi makanan dapat proakif, karsinogenik atau
ko karsinogenik. Resiko kanker meningkat sejalan dengan ingesti jangka
panjang karsinogenik atau ko-karsinogenik atau tidak adanya substansi proaktif
dalam diet. Substansi diet berkaitan dengan peningkatan resiko kanker
mencakup lemak, alkohol, daging diasinkan atau diasap, makanan yang
mengandung nitrat atau nitrit, dan masukan diet dengan kalori tinggi (Smeltzer,
2001 : 322).
6. Agens Hormonal
Pertumbuhan tumor mungkin dipercepat dengan adanya gangguan dalam
keseimbangan hormon baik oleh pembentukan hormon tubuh sendiri atau
pemberian hormon eksogenus (Smeltzer, 2001 : 321).

D. Patofisiologi
Pada sarkoma belum dikenal adanya kanker insitu, sehingga sukar sekali untuk
mengetahui kapan sarkoma itu muncul. Secara umum terjadinya kanker dimulai
dari tumbuhnya satu sel kanker yang besarnya 10 mU. Kanker itu tumbuh terus
tanpa batas, mengadakan invasi kejaringan sekitar dan menyebar sampai akhirnya
penderita meninggal. Perjalanan penyakit kanker sampai penderita meninggal
dapat dibagi menurut luas penyakit atau stadium penyakit. Stadium penyakit kanker
dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Stadium Pra Klinik : Yaitu stadium pada saat kanker belum dapat diketahui
adanya dengan pemeriksaan klinik yang ada. Pada saat ini tumor yang lebih
kecil dari 0,5 cm hampir tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan klinik
maupun penunjang klinik. Diperkirakan lama stadium pra klinik itu 2/3 dari lama
perjalanan hidup kanker dan hanya 1/3 dari lama hidupnya berada dalam
stadium klinik.
2. Stadium Klinik : Yaitu stadium pada saat kanker itu telah cukup besar atau
telah memberikan keluhan sehingga dapat diketahui adanya dengan
pemeriksaan klinik dan / atau penunjang klinik. Selanjutnya stadium klinik
dibagi menjadi beberapa stadium berdasarkan :
a. Kemungkinan Sembuh
1) Stadium Dini ( Early Stage ) : Dimana kanker itu belum lama diketahui
adanya, masih kecil, letaknya masih lokal terbatas pada organ tempat
asalnya tumbuh, belum menimbulkan kerusakan yang berarti pada
organ yang ditumbuhinya dengan kemungkinan sembuh besar.
2). Stadium Lanjut ( Advance Stage ) : Stadium dimana kanker itu telah
lama ada, telah besar, telah menimbulkan kerusakan yang besar pada
daerah yang ditumbuhinya, telah mengadakan infiltrasi pada jaringan
atau organ disekitarnya dan umumnya juga telah mengadakan
metastase regional. Kemungkinan sembuh kecil.
3). Stadium Sangat Lanjut ( Far Advance Stage ) : Stadium dimana
kanker telah lama ada, telah besar dan keadaanya sama dengan
stadium lanjut dan disertai metastase luas diseluruh tubuh.
Kemungkinan sembuh sangat kecil atau tak dapat sembuh lagi
(Sukardja, 2000 : 146 148).

b. Topografi Penyakit
Stadium penyakit berdasarkan letak topografi tumor beserta ekstensi dan
metastasenya dalam organ. Berdasarkan topografinya stadium kanker
dibagi menjadi :
1) Stadium Lokal : Pertumbuhan kanker masih terbatas pada organ
tempatnya semula tumbuh.
2) Stadium Metastase Regional : Kanker telah mengadakan metastase di
kelenjar lymfe yang berdekatan yaitu kelenjar lymfe regional. Pada
kasus liposarkoma dikaki pembesaran kelenjar limfe dapat dilihat pada
kelenjar limfe inguinalis.
3) Stadium Metastase Jauh atau Diseminasi : Kanker telah mengadakan
metastase di organ yang letaknya jauh dari tumor primer.
E. Pathway
F. Manifestasi Klinik
Tumor ganas ini umumnya memberikan gejala dan tanda benjolan tanpa
nyeri atau tanda radang dan biasanya mempunyai simpai atau batas yang cukup
jelas dengan jaringan sekitarnya, sehingga kebanyakan tidak dianggap sebagai
tumor ganas. Benjolan tanpa gejala dan keluhan apapun karena tumbuh dalam
jaringan lunak yang mudah didesak dan sering kali jauh dari organ vital. Keluhan
baru timbul setelah ukuran sudah besar atau terjadi tarikan atau tekanan pada otot
atau saraf (Sjamsuhidajat, 1997 : 1261).
Gejala dan tanda kanker jaringan lemak tidak spesifik, tergantung pada
lokasi dimana tumor berada, umumnya gejala berupa adanya suatu benjolan
dibawah kulit yang tidak terasa sakit, hanya sedikit penderita yang mengeluh sakit.
Rasa sakit muncul akibat perdarahan atau nekrosis dalam tumor dan bisa juga
karena penekanan pada saraf saraf tepi. Kanker yang sudah begitu besar, dapat
menyebabkan borok dan perdarahan kulit

G. Pemeriksaan Penunjang
Untuk menentukan ganas atau jinak dari semua benjolan pada jaringan
lunak yang menetap perlu dilakukan biopsi. Benjolan yang mudah digerakkan dari
jaringan sekitarnya dan disangka lipoma dapat memberi hasil patologi yang
mengejutkan. Secara klinis diagnosis ditentukan dengan palpasi untuk
memperkirakan ukuran kelainan dan perlekatan dengan struktur dangkal maupun
dalam.
Pemeriksaan pencitraan seperti radiografi, ultrasonografi, limfangiografi, payaran
CT, atau MRI sebaiknya digunakan dengan selektif. Angiografi bermanfaat karena
dapat menilai hubungan anatomi tumor dengan jaringan sekitarnya. Dalam
perencanaan pembedahan, angiografi menentukan jarak tumor dengan pembuluh
darah utama.
Pemeriksaan pencitraan paru dilakukan karena kebanyakan tumor ganas
jaringan lunak lebih dulu beranak sebar ke paru paru. Foto Rontgen dilakukan
karena kanker ini bisa menginvasi tulang, setelah foto Rongten dapat direncanakan
untuk reseksi tulang (Sjamsuhidajat, 1997 : 1261).

H. Komplikasi
Komplikasi sarkoma dari proses penyakit meliputi metastase pada paru
paru, liver, tulang. Komplikasi dari penatalaksanaan yaitu infeksi pada
pembedahan, dan jika dilakukan terapi radiasi mungkin akan terjadi perlambatan
penyembuhan luka, dan nekrosis dijaringan setelahnya. Jika dilakukan
khemoterapi, akan didapat komplikasi antara lain : mual, muntah, stomatitis,
neuropati perifer, miopati jantung, dan kerusakan hepar (Gale, 1999 : 246).

I. Penatalaksanaan Medis
Sebelum kita memberikan terapi pada penderita kanker, terlebih dahulu
perlu diketahui bagaimana prinsip prinsip pengelolaan kanker. Pastikan dulu
diagnosa klinis dan patologi, stadium dan keadaan penderita, serta buat rencana
terapi yang akan diberikan. Apa tujuan terapi, bagaiman caranya, bagaimana
urutannya, kapan dimulai dan hasil apa yang diharapkan.
Tujuan terapi kanker ada 2 yaitu : kuratif atau penyembuhan dan paliatif
atau meringankan. Terapi kuratif ialah tindakan untuk menyembuhkan penderita
yaitu membebaskan penderita dari kanker yang dialami untuk selama lamanya.
Umumnya untuk penyembuhan kanker ini hanya mungkin pada kanker dini yaitu
kanker loko regional, masih kecil. Kurang lebih 70 % kanker yang solid dapat
disembuhkan dengan pembedahan.
Terapi paliatif ialah semua tindakan aktif guna meringankan beban
penderita kanker terutama bagi yang tidak mungkin disembuhkan lagi. Perawatan
Paliatif bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup agar dapat bekerja dan
menikmati hidup. Mengatasi komplikasi yang terjadi, dapat memperpanjang hidup
dan tanpa memperpanjang penderitaan. Mengurangi atau meringankan keluhan,
keluhan yang berat pada penderita kanker umumnya nyeri, ulkus berbau,
perdarahan yang sukar berhenti dan berulang ulang, tidak ada nafsu makan,
badan lemas dan mengurus, dsb. Hilang atau berkurangnya keluhan maka
penderita akan merasa lebih enak dan sehat (Sukardja, 2000 : 210).
Ada bermacam macam terapi kanker, yaitu : Terapi utama, ini
merupakan penatalaksanaan yang ditujukan kepada penyakit kanker itu sendiri,
yang meliputi pembedahan, radioterapi, khemoterapi, hormonterapi dan bioterapi.
Pada umumnya terapi yang diberikan kepada penderita kanker ialah cara
sequential yaitu setelah selesai dengan cara terapi yang satu, kalau perlu diikuti
cara terapi yang lain. Pada kasus kanker loko regional yang operabel, urutan terapi
umumnya ialah dimulai dengan operasi, kemudian radioterapi dan terakhir
khemoterapi (Sukardja, 2000 : 214).
Pada sarkoma jaringan lunak seperti liposarkoma penatalaksanaan bukan
hanya tumornya saja yang diangkat, namun juga dengan jaringan sekitarnya
sampai bebas tumor menurut kaidah yang telah ditentukan, tergantung dimana
letak kanker ini. Tindakannya berupa operasi eksisi luas. Penggunaan radioterapi
dan khemoterapi hanyalah sebagai pelengkap. Untuk kanker yang ukurannya
besar, setelah operasi ditambah dengan radioterapi. Setelah penderita operasi
harus sering kontrol untuk memonitor ada tidaknya kekambuhan pada daerah
operasi ataupun kekambuhan ditempat jauh hasil metastase. (Sukardja, 2000 :
214).

J. Penatalaksanaan / Konsep Keperawatan


PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan merupak dasar proses
keperawatan diperlukan pengkajian yang cermat untuk mengenal masalah klien
agar dapat memberikan rah kepada tindakan keperawatan.
Keberhasilan keperawatan sanagat tergantung kepada kecermatan dan
ketelitian dalam pengkajian. Tahap pengkajian ini terdiri dari empat komponen
antara lain : pengelompokan data, analisa data, perumusan diagnosa
keperawatan.
Data dasar pengkajian klien :
a. Aktivitas istirahat
Gejala : kelemahan dan keletihan
b. Sirkulasi
Gejala : palpitasi, nyeri, dada pada pengarahan kerja.
Kebiasaan : perubahan pada TD
c. Integritas ego
Gejala : alopesia, lesi cacat pembedahan
Tanda : menyangkal, menarik diri dan marah
d. Eliminasi
Gejala : perubahan pada pola defekasi misalnya : darah pada feces,
nyeri pada defekasi. Perubahan eliminasi urunarius misalnya nyeri atau ras
terbakar pada saat berkemih, hematuria, sering berkemih.
Tanda : perubahan pada bising usus, distensi abdomen.
e. Makanan/cairan
Gejala : kebiasaan diet buruk ( rendah serat, tinggi lemak, aditif bahan
pengawet). Anoreksisa, mual/muntah.
Intoleransi makanan
Perubahan pada berat badan; penurunan berat badan hebat,
berkuranganya massa otot.
Tanda : perubahan pada kelembapan/tugor kulit, edema.
f. Neurosensori
Gejala : pusing, sinkope.
g. Nyeri/kenyamanan
Gejala : tidak ada nyeri atau derajat bervariasi misalnya ketidaknyamanan
ringan sampai berat (dihubungkan dengan proses penyakit)
h. Pernafasan
Gejala : merokok(tembakau, mariyuana, hidup dengan sesoramh yang
merokok.) Pemajanan asbes.
i. Keamanan
Gejala : pemajanan bahan kimia toksik. Karsinogen
Pemajanan matahari lama/berlebihan.
Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi.
j. Seksualitas
Gejala : masalah seksualitas misalnya dampak pada hubungan perubahan
pada tingkat kepuasan. Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun. Multigravida,
pasangan seks miltifel, aktivitas seksual dini.
k. Interaksi social
Gejala : ketidakadekuatan/kelemahan sotem pendikung. Riwayat perkawinan (
berkenaan dengan kepuasan di rumah dukungan, atau bantuan).

Masalah keperawatan yang muncul pada pasien dengan kanker jaringan lunak
antara lain :
1. Ansietas berhubungan dengan stres, ancaman kematian
2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit atau cedera
3. Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh
4. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
factor biologis
6. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan perubahan metabolisme seluler
Intervensi
N Diagnosa Kriteria Hasil Intervensi
o Keperawatan
1 Ansietas berhubungan Anxiety self control Anxiety
dengan stres, ancaman Anxiety Level Reduction
kematian 1) Memberikan
- Klien mampu
HE tentang
mengidentifikasi dan
kondisi klien
mengungkapkan gejala
dan
cemas
penatalaksanaa
n
- Klien mampu
2) Berikan
mengidentifikasi,
penguatan atas
mengungkapkan dan
upaya keluarga
menunjukkan teknik
untuk
untuk mengontrol cemas
3) merawat klien
4) Memberikan
kesempata
kepada
keluarga untuk
mendiskusikan
perasaan
mereka
2 Gangguan citra tubuh Body image Body Image
berhubungan dengan Self estheem enhancement
penyakit atau cedera
Setelah dilakukan tindakan - Kaji secara

selama 1x24 jam diharapkan verbal dan

kecemasan pasien nonverbal

berkurang dengan kriteria respon klien

hasil : terhadap

- Body image positif tubuhnya


- Mampu mengidentifikasi - Jelaskan

kekuatan personal tentang


- Mempertahankan pengobatan,
interaksi sosial perawatan,
kemajuan dan
prognosis
penyakit
- Dorong klien
mengungkapka
n perasaannya

3 Harga diri rendah Body Image, disturbed Self Esteem


berhubungan dengan Coping, Ineffective Enhancement
gangguan citra tubuh - Tunjukkan rasa
- Menunjukkan penilaian percaya diri
pribadi tentang harga diri terhadap
- Mengungkapkan
kemampuan
penerimaan diri
- Komunikasi terbuka pasien untuk
- Mengatakan optimism mengatasi
tentang masa depan situasi
- Buat statement
positif terhadap
pasien
- Monitor
frekuensi
komunikasi
verbal pasien
yang negative
4 Gangguan rasa nyaman : Pain Level, Pain Management
nyeri berhubungan Pain control, - Lakukan
Comfort level
dengan agen cedera fisik pengkajian
nyeri secara
- Mampu mengontrol nyeri
komprehensif
(tahu penyebab nyeri,
termasuk
mampu menggunakan
lokasi,
tehnik nonfarmakologi
karakteristik,
untuk mengurangi nyeri,
durasi,
mencari bantuan)
frekuensi,
- Melaporkan bahwa nyeri kualitas dan
berkurang dengan faktor
menggunakan presipitasi
- Observasi
manajemen nyeri
- Mampu mengenali nyeri reaksi
(skala, intensitas, nonverbal dari
frekuensi dan tanda ketidaknyama
nyeri) nan
- Menyatakan rasa - Gunakan
nyaman setelah nyeri teknik
berkurang komunikasi
- Tanda vital dalam
terapeutik
rentang normal
untuk
mengetahui
pengalaman
nyeri pasien
- Evaluasi
pengalaman
nyeri masa
lampau
- Bantu pasien
dan keluarga
untuk mencari
dan
menemukan
dukungan
- Kontrol
lingkungan
yang dapat
mempengaruhi
nyeri seperti
suhu ruangan,
pencahayaan
dan
kebisingan
- Kaji tipe dan
sumber nyeri
untuk
menentukan
intervensi
- Ajarkan
tentang teknik
non
farmakologi
- Berikan
analgetik
untuk
mengurangi
nyeri
- Kolaborasikan
dengan dokter
jika ada
keluhan dan
tindakan nyeri
tidak berhasil
5 Ketidakseimbanga Nutritional Status : food Nutrition
n nutrisi kurang and Fluid Intake Management
dari kebutuhan Kriteria Hasil : - Kaji adanya
tubuh - Adanya peningkatan alergi makanan
- Kolaborasi
berhubungan berat badan sesuai
dengan ahli gizi
dengan factor dengan tujuan
- Berat badan ideal untuk
biologis
sesuai dengan tinggi menentukan
badan jumlah kalori
- Mampu dan nutrisi yang
mengidentifikasi dibutuhkan
kebutuhan nutrisi pasien.
- Tidak ada tanda - Anjurkan
tanda malnutrisi pasien untuk
- Tidak terjadi
meningkatkan
penurunan berat
intake Fe
badan yang berarti - Anjurkan
pasien untuk
meningkatkan
protein dan
vitamin C
- Berikan
substansi gula
- Yakinkan diet
yang dimakan
mengandung
tinggi serat
untuk
mencegah
konstipasi
- Berikan
informasi
tentang
kebutuhan
nutrisi
- Kaji
kemampuan
pasien untuk
mendapatkan
nutrisi yang
dibutuhkan
- BB pasien
dalam batas
normal
- Monitor adanya
penurunan
berat badan
- Monitor tipe
dan jumlah
aktivitas yang
biasa dilakukan
- Jadwalkan
pengobatan
dan tindakan
tidak selama
jam makan
- Monitor mual
dan muntah
- Monitor pucat,
kemerahan,
dan kekeringan
jaringan
konjungtiva
- Monitor kalori
dan intake
nuntrisi
- Catat adanya
edema,
hiperemik,
hipertonik
papila lidah dan
cavitas oral.
- Catat jika lidah
berwarna
magenta,
scarlet

6 Hambatan mobilitas fisik Joint Movement : Active Exercise therapy :


berhubungan dengan Mobility Level ambulation
perubahan metabolisme Self care : ADLs
- Monitoring
Transfer performance
seluler
vital sign
Kriteria Hasil : sebelm/sesudah
- Klien meningkat latihan dan lihat
dalam aktivitas fisik respon pasien
- Mengerti tujuan dari
saat latihan
peningkatan - Konsultasikan
mobilitas dengan terapi
- Memverbalisasikan
fisik tentang
perasaan dalam
rencana
meningkatkan
ambulasi sesuai
kekuatan dan
dengan
kemampuan
kebutuhan
berpindah - Bantu klien
- Memperagakan
untuk
penggunaan alat
menggunakan
bantu untuk
tongkat saat
mobilisasi (walker)
berjalan dan
cegah terhadap
cedera
- Ajarkan pasien
atau tenaga
kesehatan lain
tentang teknik
ambulasi
- Kaji
kemampuan
pasien dalam
mobilisasi
- Latih pasien
dalam
pemenuhan
kebutuhan
ADLs secara
mandiri sesuai
kemampuan
- Dampingi dan
Bantu pasien
saat mobilisasi
dan bantu
penuhi
kebutuhan
ADLs ps.
- Berikan alat
Bantu jika klien
memerlukan.
- Ajarkan pasien
bagaimana
merubah posisi
dan berikan
bantuan jika
diperlukan