Anda di halaman 1dari 4

TUGAS ETIK DAN HUKUM KEPERAWATAN

ANALISA KASUS MALPRAKTIK DALAM KEPERAWATAN

DISUSUN OLEH :
Nama : Siti Khadijah
Nim : 14.IK.414

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARIMULIA BANJARMASIN


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2017
Konsep Malpraktik
Pengadilan mendefinisikan malpraktik sebagai kesalahan atau gegabah dalam perawatan
menyebabkan cedera, penderitaan atau kematian pihak yang dirugikan dan merupakan
hasil dari kelalaian, kecerobohan yang mengabaikan aturan dan prinsip keterampilan
professional yang ditetapkan ataupun bersumber dari niat jahat atau kriminalitas (Guido,
2006). Untukmenentukan secara pasti malpraktik, Brent (2001); Lazaro (2004)
menjelaskan 4 kriteria yang harus dipenuhi yaitu :
A. Kewajiban (Duty)
B. Pelanggaran Kewajiban (Breach of the duty)
C. Cedera (Injury)
D. Mendatangkan Akibat (Causation)

Kasus
An. B berusia 12 tahun menderita kelumpuhan sejak 2 tahun yang lalu. Kejadian ini
bermula saat An.B menjadi korban dugaan malpraktik yang dilakukan oleh perawat. An. B
dibawa oleh orang tuanya berobat di klinik dr. F yang baru setahun buka dengan
mengontrak salah satu rumah wargta dikampung krompol, desa Paya Bagas, Kec. Tebing
Tinggi, Kab. Serdang Bedagai provinsi Sumatera Utara. Pada saat itu An. B berusia 10
tahun mengalami benjolan kelenjar sebesar telur puyuh dibagian punggungnya. Benjolan
itu sudah ada sejak masih bayi. Berdasarkan hasilpemeriksaan, dr. F menyarankan agar
benjolan itu sebaiknya di operasi, orang tua pasien pun menyetujui dilakukannya tindakan
operasi dan dilakukan operasi pada tanggal 12 September 2014.
Dr.F mengatakan kepada keluarga bahwayang melakukan tindakan operasi bukan dirinya
karena dia hanya seorang dokter umum, tetapi rekan sejawatnya, dokter bedah di RSUD
Kumpulan Pane kota Tebing Tinggi yang ternyata adalah seorang perawat. Perawat
berinisial Ag melakukan operasi bersama temannya bernama Ai. Pada saat operasi
berlangsung sekitar 30 menit, benjolan yang ada dipunggung An. B akhirnya di angkat dan
di buang, tetapi luka bedah pada tempat benjolan yang telah dibuang itu mengalami
perdarahan sehingga penyembuhan luka cukup lama sampai memakan waktu 6 bulan.
Beberapa bulan setelah operasi, tubuh An. B menjadi lemas dan kaku bahkan kedua
kakinya lumpuh tidak bisa digerakkan. An. B hanya dapat berbaring dan duduk
dirumahnya sambil menjalani proses pengobatan. Setelah 6 bulan melakukan operasi
kepada An.B, klinik dr.F ditutup dan tidak beroperasi lagi. Perawat Ag sempat membantu
biaya pengobatan sebanyak 2 kali, tetapi setelah itu tidak pernah kelihatan lagi. Sejak saat
itu An. B tidak bisa lagi bermain dengan anak-anak seusianya. Sampai sekarangkedua kaki
An. B lumpuh, timbul tulang ditelapak kaki kiri, telapak kaki kanan berlubang, kencing
bernanah dan susah BAB. Pihak keluarga akhirnya mengambil sikap melaporkan dr.F dan
rekannya ke Mapolres Tebing Tinggi, karena dugaan telah melakukan malpraktik pada
anaknya, proses hukum atas kasus ini masih diproses dan masih dalam tahap pemanggilan
saksi

Analisa Kasus
A. Berdasarkan Konsep Malpraktik
Kasus diatas merupakan salah satu bentuk malpraktik keperawatan karena telah
memenuhi ke empat kriteria (duty, breach of the duty, injury, causation), yaitu :
a. Perawat Ag berkewajiban melakukan tugasnya sebagai seorang perawat sesuai
dengan kewenangannya. Perawat tersebut melakukan hal diluar kewenangan
profesinya dan melakukan kewenangan profesi lain (dokter).
b. Perawat Ag gagal melakukan tanggung jawabnya sesuai standar profesi perawat
dimana kewajiban perawat melaksanakan asuhan keperawatan yang holistic.
c. Perawat Ag membuat pasien menderita cedera fisik dan perdarahan.
d. Tindakan operasi mandiri perawat Ag mendatangkan akibat yang buruk bagi
pasien yaitu pasien harus menjalani pengobatan dalamjangka waktu yang lama
serta mengalami kelumpuhan.

B. Berdasarkan Kajian Hukum


1. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, BAB III hak dan Kewajiban dalam
Pasal 4 bahwa setiaporang berhak atas kesehatan. Dalam hal ini klien berhak
mendapatkan pengobatan guna mendapatkan kesehatan dan setiap orang
mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,
serta terjangkau. Pada kasus An. B, klien tidak mendapatkan pelayanan kesehatan
yang aman, bermutu, dan terjangkau, karena klien mengalami luka yang
mengakibatkan terjadinya kelumpuhan. Hal ini membuat pengobatan klien
semakin lama dan biaya yang dikeluarkan semakin besar.
2. UU RI No. 28 Tahun 2014 tentang Keperawatan
a. Pasal 32 ayat 2 menjelaskan bahwa pelimpahan wewenang tindakan medis
kepada perawat dapat dilakukan secara delegatif dan mandat. Selanjutnya,
pada penjelasan ayat 4 dapat diketahui bahwa tindakan medis yang dapat
dilimpahkan secara delegatif adalah menyuntik, memasang infus, dan
memberikan imunisasi sedangkan secara mandate yaitu pemberian terapi
parenteral dan penjahitan luka. Berdasarkan kasus diatas, perawat Ag telah
melakukan tindakan pembedahan, tindakan tersebut diluar kewenangan yang
diperbolehkan dalam UU Keperawatan.
b. Pasal 36 menjelaskan bahwa perawat melaksanakan praktik keperawatan,
berhak menolak keinginan klien atau pihaklain yang bertentangan dengan
kode etik, standar pelayanan, profesi, SPO, atau ketentuan peraturan
perundang undangan. Sesuai dengan kode etik keperawatan (PPNI, 2005)
Perawat juga berhak menolak tindakan operasi secara mandiri yang
bertentangan dengan kode etik keperawatan antara perawat dan teman
sejawat. Perawat harus bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan
yang memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan
illegal.
c. Pasal 37 poin (f) menjelaskan bahwa perawat dalam melaksanakan praktik
keperawatan berkewajiban melaksanakan tindakan pelimpahan wewenang
dari tenaga kesehatan lain yang sesuai dengan kompetensi perawat.
Pelayanan keperawatan berdasarkan standar kompetensi perawat Indonesia
merupakan rangkaian tindakan yang dilandasi aspek etik legal dan peka
budaya untukmemenuhi kebutuhan klien. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan
procedural, pengambilan keputusan klinik yang memerlukan analisis kritis
serta kegiatan advokasi dengan menunjukkan perilaku caring. Berdasarkan
kasus diatas, perawat tidak melakukan pelayanan keperawatan sesuai ranah
kompetensi praktik professional, etis, legal, dan peka budaya (PPNI, 2005).

Malpraktik yang dilakukan oleh perawat Ag akan memberikan dampak yang luas, tidak
saja kepada pasien dan keluarganya, juga kepada institusipemberi pelayanan keperawatan,
individu perawat pelaku malpraktik dan terhadapprofesi. Secara hokum perawat Ag dapat
dikenakan gugatan hukum pidana dan perdata, sedangkan secara profesi perawat Ag dapat
dikenakansanksi disiplin profesi perawat yang akan dikeluarkan oleh Konsil Keperawatan.

Anda mungkin juga menyukai