Anda di halaman 1dari 14

Dampak AFTA Bagi Indonesia

[Ekonomi dan Keuangan]

KEINGINAN negara-negara ASEAN untuk mempercepat proses pencapaian AFTA


(Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN) telah dilakukan sejak KTT V ASEAN pada 14-15
Desember 1995 di Bangkok. Pada KTT VI ASEAN di Hanoi (1998) disepakati ke-6 negara
ASEAN (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand) untuk
mempercepat pencapaian AFTA dari tahun 2002 menjadi 2003.

Dalam rangka mempercepat proses pencapaian AFTA tersebut ada langkah-langkah


yang perlu dilakukan, yaitu pencapaian tarif 0-5 persen sebesar 85 persen dari Inclusion
List (IL) 2000, 90 persen dari IL 2001, dan 100 persen dari IL di 2002 dengan
fleksibilitas. Langkah tersebut dikenal dengan nama Bold Measures. Di samping itu
dilakukan juga pemindahan produk Temporary Exlusion List (TEL) ke IL, mengurangi
daftar pengecualian umum (General Exception List-Ge), serta pemindahan produk
Sensitive List (SL) ke TEL dan penghapusan hambatan non-tarif.

Untuk ASEAN baru (Cabombia, Laos, Myanmar dan Vietnam) pencapian tarif 0-5 persen
pada 2003 untuk Vietnam dan 2005 untuk Laos dan Myanmar sedangkan untuk
Cambodia 2007. Sesuai kesepakatan ASEAN bahwa tingkat tarif nol persen pada 2003
bagi 60 persen sejumlah pos tarif dalam IL, kecuali Singapura, Brunei Darussalam dan
Malaysia.

Sehingga ketiga negara ASEAN lainnya (Indonesia, Filipina dan Thailand) harus bekerja
keras untuk menurunkan tarif sehingga mencapai target dimaksud. Indonesia baru
mencapai 54,63 persen yang sebagian besar terdiri dari sektor textile and apparel,
machinery and appliancem, serta chemicals.

Dengan tingkat tarif yang rendah yaitu 0-5 persen pada 2003 akan memperbesar dan
meningkatkan perdagangan intra ASEAN. Tarif impor yang rendah akan mengakibatkan
harga pengadaan barang impor lebih rendah, sehingga meningkatkan daya beli bagi
konsumen industri maupun konsumen akhir.

Bagi konsumen industri, berarti peningkatan efisiensi pengadaan bahan baku, sehingga
produk akhirnya akan memiliki daya saing yang lebih tinggi. Bagi konsumen akhir,
penurunan harga barang konsumsi asal impor akan meningkatkan variasi alternatif
barang di pasar dan persaingan yang lebih ketat akan menurunkan harga, sehingga
meningkatkan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan konsumen.
Penurunan tarif impor tentunya harus dibarengi dengan penghapusan non tarif barriers
(NTB). Penghapusan NTB ini sudah disepakati dalam sidang ke-8 Dewan AFTA (tingkat
menteri) pada 10 Desember 1995 di Bangkok, yang menyebutkan negara-negara ASEAN
menghapus NTB-nya paling lambat tahun 2003. Adapun semua faktor di atas akan
meningkatkan kegiatan ekonomi, perdagangan dan investasi yang bakal menimbulkan
suasana dan iklim kondusif bagi pengusaha.

Para pemimpin ASEAN pada KTT Infomal ASEAN ke-3 pada 28 November 1999 di Manila
sepakat mempercepat penghapusan bea masuk seluruh produk yang diperdagangkan di
kawasan AFTA dari tahun 2015 menjadi 2010 untuk enam negara ASEAN. Sedangkan
untuk empat negara ASEAN lainnya (negara baru) dipercepat dari tahun 2018 menjadi
2015.

Pencapaian tingkat tarif nol persen bagi seluruh produk di tahun 2010/2015 akan
dilakukan secara bertahap dan dimulai dengan pencapaian tingkat tarif nol persen pada
2003 sebanyak minimal 60 persen sejumlah pos tarif dalam ILnya. Tahun 2010/2015
ASEAN merupakan wilayah perdagangan bebas tanpa hambatan tarif (nol persen) yang
mencakup seluruh batas-batas negara anggotanya.

Pada KTT Informal ASEAn ke-4 di Singapura (24-25 November 2000) para kepala negara
menyoroti masalah integrasi kawasan sebagai tantangan yang dihadapi ASEAN,
mengingat masih adanya kesejangan antara negara-negara anggota lama dan anggota
baru Asean. Dalam hal ini, Indonesia menekankan perlunya diperhatikan solidaritas
ASEAN, agar dalam persaingan yang terjadi di ASEAN tidak ada negara-negara anggota
yang ditinggalkan.

Dampak bagi RI

AFTA 2002 adalah komitmen lama yang secara hati-hati ditetapkan dan dilaksanakan
secara bertahap merupakan hasil pemikiran 10 negara, yang setelah disepakati bersama
diharapkan dapat memberikan suatu manfaat bersama. Jadi, bukan suatu cara yang
membuat miskin salah satu anggota atau bahkan 10 negara secara bersama.

Melaksanakan komitmen AFTA 2002 mungkin bukan pilihan ideal, namun merupakan
opsi yang lebih baik dibandingkan menunda sampai datang kondisi baik, yang bukan
tidak mungkin setelah penundaan, tiba waktunya lagi akan timbul keraguan dari pihak-
pihak tertentu dan meminta penundaan kembali dan seterusnya.
Bagi pengusaha Indonesia terutama yang terkait dalam kegiatan ekspor, pasar ASEAN
mempunyai jumlah penduduk sekitar 500 juta, sehingga merupakan peluang pasar yang
lebih besar. Demikian pula bagi pengusaha negara anggota ASEAN lainnya. Beberapa
negara anggota ASEAN memiliki daya beli lebih besar dibandingkan Indonesia.

Pasar yang sangat potensial ini akan memungkinkan berkembangnya usaha dengan
pesat dan menguntungkan. Di pihak lain, di pasar ASEAN yang tadinya terpisah, akan
terintegrasi dan tingkat persaingan regional akan lebih ketat. Pesaing yang tadinya
hanya produsen Indonesia, menjadi produsen ASEAN.

Dengan meningkatkan daya saing melalui efisiensi usaha, pengusaha Indonesia tidak
saja dapat survive, tetapi juga akan berkembang di pasar yang lebih besar. Tetapi bila
gagal dalam meningkatkan daya saing, berarti akan mengalami kesulitan. (mth)

PENGERTIAN AFTA
Asean Free Trade Areas
Istilah perdagangan bebas identik dengan adanya hubungan dagang antar negara anggota
maupun negara non-anggota. Dalam implementasinya perdagangan bebas harus
memperhatikan beberapa aspekyang mempengaruhi yaitu mulai dengan meneliti
mekanisme perdagangan, prinsip sentral dari keuntungan komparatif (comparative
advantage),serta pro dan kontra di bidang tarif dan kuota, serta melihat bagaimana
berbagai jenis mata uang (atau valuta asing) diperdagangkan berdasarkan kurs tukar
valuta asing. ASEAN Free Trade Area (AFTA) adalah kawasan perdagangan bebas
ASEAN dimana tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun hambatan non tarif
bagi negara-negara anggota ASEAN, melalui skema CEPT-AFTA.
Sebagai contoh dari keanggotaan AFTA adalah sebagai berikut, Vietnam menjual sepatu
ke Thailand, Thailand menjual radio ke Indonesia, dan Indonesia melengkapi lingkaran
tersebut dengan menjual kulit ke Vietnam. Melalui spesialisasi bidang usaha, tiap bangsa
akan mengkonsumsi lebih banyak dibandingyang dapat diproduksinya sendiri. Namun
dalam konsep perdagang tersebut tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun
hambatan non-tarif bagi negara negaraASEAN melalui skema CEPT-AFTA.
Common Effective Preferential Tarif Scheme (CEPT) adalah program tahapan penurunan
tarif dan penghapusan hambatan non-tarif yang disepakati bersama oleh negara-negara
ASEAN. Maka dalam melakukan pedagangan sesama anggota biaya operasional mampu
ditekan sehingga akan menguntungkan.
ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan perjanjian antara
negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggar, yang
tergabung dalam ASEAN (Associate of South East Asia Nation).
AFTA merupakan suatu kesepakatan dalam bidang ekonomi
mengenai sektor produksi lokal di negara-negara ASEAN.
Perjanjian ini ditandatangani pada 28 Januari 1992 di Singapur.
Pada saat itu ASEAN terdiri dari enam negara anggota yaitu,
Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapur dan Thailand.
Sekarang ASEAN terdiri dari sepuluh negara dan seluruh negara di
ASEAN telah menandatangani perjanjian AFTA. Tujuan
diadakannya perjanjian ini adalah:
Untuk meningkatkan daya saing produksi negara-negara
ASEAN dalam pasar dunia dengan menghilangkan tarriff dan
non-tarriff bariers.
Menarik investasi asing langsung ke negara-negara ASEAN.
Negara anggota ASEAN sepakat untuk menandatangani AFTA
untuk bekerjasama dalam bidang ekonomi. Pandangan negara-
negara anggota ASEAN untuk kemajuan perekonomian di wilayah
Asia Tenggara jelas patut dipertanyakan keseriusannya. Jika
kerjasama ini dilakukan namun tidak ada langkah serius dari
masing-masing anggota yang hanya melihat dampak-dampak
negatif dari AFTA mungkin AFTA tidak akan berjalan hingga saat
ini yang kurang lebih sudah 6 tahun efektif
Dengan adanya perogram penghapusan bea seperti yang telah
diatur dalam Common Effective Preferential Tariff (CEPT),
penurunan bea masuk barang yang dilakukan oleh ASEAN-6
sesuai dengan skema CEPT menjadi 1,51 persen dari 12,76 persen.
Pemotongan biaya tarif tersebut telah dilakukan sejak 1993, diiukuti
dengan negara ASEAN lainnya. Dengan itu AFTA mulai
sepenuhnya berlaku pada tanggal 1 Januari 2004[1], setelah melalui
proses sosialisasi pemotongan bea masuk barang dan ditahun 2008
bea tarif tersebut dihilangkan. Hal ini berbeda dengan Uni Eropa,
dalam AFTA tidak diterapkan tarif eksternal umum pada barang-
barang impor. Artinya anggota ASEAN bebas mengenakan tarif
pada barang yang masuk dari luar ASEAN didasarkan pada
ketetapan yang telah dibuat oleh masing-masing negara ASEAN.
Anggota ASEAN membagi pengecualian produk-produknya dari
CEPT, yaitu: 1) pengecualian sementara, 2) pengecualian pertanian
sensitif, 3) pengecualian umum. Pengecualian sementara itu berupa
produk yang tarif akhirnya akan diturunkan menjadi 0-5%, namun
ditunda untuk sementara pengurangan tarifnya. Pengecualian
pertanian sensitif termasuk beras, baru pada tahun 2010 akan
diberlakukan pengurangannya dari 0-5%. Sedangkan pengecualian
umum mengacu pada produkproduk yang dianggap perlu untuk
di proteksi oleh masing-masing negara anggota ASEAN, termasuk
dalam pengecualian umum adalah proteksi terhadap labor
movement[2].
Administrasi AFTA di atur oleh peraturan nasional dan
perdagangan di masingmasing negara anggota ASEAN. Sekertariat
ASEAN hanya memiliki kewenangan untuk memantau dan
memastikan kepatuhan negara-negara anggota ASEAN dalam
menjalankan AFTA. Hal ini berarti Sekertariat ASEAN tidak
memiliki wewenang hukum untuk menindak negara-negara yang
tidak konsisten pada AFTA. Terlebih lagi didalam isi piaagam
ASEAN, Sekertariat ASEAN hanya bertugas untuk memastikan
aplikasi yang konsisten dalam setiap perjanjian yang telah
disepakati. Apabila terjadi perbedaan pendapat yang terjadi dalam
pengaplikasian AFTA maka Sekertariat ASEAN memiliki otoritas
untuk memmbantu dalam penyelesaiannya, namun sekali lagi
ditekankan bahwa Sekertariat ASEAN tidak memiliki kewenangan
dalam hukum untuk menyelesaiakan suatu masalah yang terjadi.
ASEAN kini semakin meningkatkan koordinasi dengan negara
anggotanya. Konsep terbaru dari pengembangan AFTA adalah
ASEAN Single Window. Konsep ASEAN Single Window ini yang
akan membantu negara-negara yang ingin berinvestasi atau
bekerjasama dengan negara-negara anggota ASEAN dengan
memberikan informasi data yang terkait dengan transaksi ataupun
produksi di negara-negara ASEAN.
Keuntungan AFTA Bagi Indonesia.
Suatu kesepakatan atau perjanjian kerjasama dalam perdagangan
dilakukan terdapat suatu keuntungan tersendiri bagi negara yang
ikut kedalamnya. Dalam AFTA tersendiri, negara-negara ASEAN
sepakat untuk ikut serta berarti terdapat suatu keuntungan yang
nantinya akan didapat oleh negara anggotanya.
Bagi Indonesia sendiri, AFTA merupakan kerjasama yang
menguntungkan. AFTA merupakan peluang bagi kegiatan eksport
komoditas pertanian yang selama ini dihasilkan dan sekaligus
menjadi suatu tantangan tersendiri untuk menghasilkan komoditas
yang kompetitif si pasar regional AFTA sendiri. Peningkatan daya
saing ini akan mendorong perekonomian Indonesia untuk semakin
berkembang. AFTA juga merangsang para pelaku usaha di
Indonesia untuk menghasilkan barang yang berkualitas sehingga
dapat bersaing dengan barang-barang yang dihasilkan oleh negara-
negara ASEAN lainnya.
AFTA juga dianggap dapat memberikan peluang bagi pengusaha
kecil dan menengah di Indonesia untuk mengekspor barangnya.
Hal ini membuat para pelaku usaha tersebut mendapatkan pasar
untuk melempar produk-produknya selain di pasar dalam negeri.
Adanya kesempatan besar bagi para pelaku usaha di Indonesia
untuk lebih meningkatkan produk barangnya dari segi mutu juga
mendorong kesadaran para pengusaha-pengusaha di Indonesia
untuk memiliki daya saing usaha yang kuat. Jelas semua hal
tersenut dapat terwujud dengan adanya sokongan dari pemerintah
Indonesia dalam memberikan modal bagi peningkatan kualitas
produksi dan standar mutu barang. Pemerintah Indonesia
sepatutnya menerapkan suatu undangundang yang memberikan
kebebasan bagi para pelaku usahanya untuk meningkatkan daya
saingnya. Hal ini dikarenakan untuk menciptakan suatu usaha
yang mandiri terutama dalam menghadapi AFTA. Dukungan
pemerintah sangat dibutuhkan disini, jika suatu industri tidak
dapat bersaing dikarenakan rendahnya mutu barang pemerintah
haruslah memberikan suatu sokongan dengan cara memberikan
bantuan modal.Bentuk bantuan tersebut semata-mata untuk
merangsang para pengusaha kecil dan menengah dalam
peningkatan kualitas barang produksinya agar dapat bersaing
dengan produk-produk lain yang masuk ke pasar dalam negeri.
Hambatan yang dihadapi Indonesia
Dalam setiap hubungan kerjasama pasti terdapat hambatan-
hamatan yang dihadapi. Hambatan tersebut biasanya muncul saat
pengaplikasian perjanjian. Dalam penerapan AFTA banyak
hambatan yang dihadapi saat pertama kali diterapkan. ASEAN6
merupakan negara anggota ASEAN yang pertama kali menerapkan
usaha pengaplikasian AFTA. ASEAN-6 menjadi contoh bagi empat
negara ASEAN lain. Dalam penerapan AFTA terutama penerapan
penurunan tarif terhadap beberapa barang komoditas. Banyak
negara anggota ASEAN melakukan proteksi terhadap barang yang
dianggap penting bagi negaranya sehingga penerapan penurunan
tarif terhadap komoditas yang diproteksi tersebut mengalami
penundaan.
Negara-negara di ASEAN sebenarnya memiliki perbedaan tinggak
perekonomian. Hal itu terlihat pada pendapatan perkapita masing-
masing negara anggota ASEAN. Beberapa negara memiliki
pendapatan perkapita lebih tinggi dari pada negara lainnya. Belum
lagi ketidak stabilan politik dalam negeri yang juga mempengaruhi
perekonomian di negara-negara anggota ASEAN. ASEAN-6
contohnya, pendapatan perkapita negara-negara ASEAN-6 lebih
tinggi dibandingkan empat negara lainnya yaitu, Lao PDR,
Myanmar, Vietnam dan Kamboja. Sehingga sulit bagi keempat
negara tersebut untuk menurunkan tarif bagi barang yang
dianggap sensitif bagi kepentingan dalam negerinya. Belum lagi
persaingan barang komoditas antara negara-negara anggota
ASEAN, terkadang kualitas barang yang rendah dan tidak dapat
bersaing membuat ambruknya industri kecil di beberapa negara
tersebut. Bahkan bukan bagi keempat negara di ASEAN yang
tergolong memiliki perekonomian rendah tetapi juga negara
anggota ASEAN-6 harus menghadapi kenyataan bahwa industri
kecil di negaranya harus mengalami guncangan karena tidak dapat
bersaing dengan barang komoditas yang masuk ke negaranya.
Bahkan banyak anggapan bahwa AFTA hanya menghasilkan
persaingan yang tidak seimbang bagi negara anggota ASEAN itu
sendiri. Penurunan tarif barang bagi barang yang masuk dari
negara anggota ASEAN menimbulkan kerugian. Ketidak siapan
pasar industri lokal juga yang menjadi kendala bagi berjalannya
AFTA dan penerapan penurunan tarif. Seperti negara-negara
anggota ASEAN lainnya Indonesia pun mengalami hal yang sama.
Daya saing barang yang diperdagangkan kurang memenuhi
standar yang ditetapkan, hal ini mengakibatkan banyaknya
industri-industri kecil dan menengah di Indonesia mengalami
kerugian yang besar. Persaingan produk dalam negeri dengan
produk yang masuk kedalam negeri membuat para pengusaha
harus bisa meningkatkan kualitas barang produksinya. Hal tersebut
tidak mudah dengan keterbatasan modal yang dimiliki oleh para
pengusaha-pengusaha kecil dan menengah. Belum lagi
keterbatasan dari segi infrastruktur di Indonesia, keterbatasan
tekhnologi yang menunjang produksi para pengusaha kecil dan
menengah di Indonesia juga menjadi suatu masalah tersendiri.
Dalam AFTA para pengusaha dipaksa untuk memiliki daya saing
yang tinggi, agar nantinya pengusaha-pengusaha dalam negeri ini
dapat mandiri.
Peran dan dukungan pemerintah sangat dibutuhkan disini,
pemerintah haruslah membuat suatu regulasi yang jelas dalam
menanggapi masalah-masalah yang dihadapi oleh para pengusaha
di Indonesia khususnya pengusaha kecil dan menengah mengenai
bantuan modal usaha. Pemerintah sepatutnya menolong para
pengusaha kecil dan menengah kita dalam meningkatkan kualitas
produknya agar nantinya produksi mereka tidak berhenti dan rugi.
Selama ini permasalahan yang yang selalu timbul adalah ketidak
mampuan pemerintah Indonesia dalam melindungi para
pengusaha kecil dan menengah di Indonesia. Hal ini terlihat dari
banyaknya para pengusaha yang tergolong pengusaha kecil dan
menengah di Indonesia mengalami kerugian besar dan
produksinya berhenti dikarenakan kualitas barang mereka kalah
dibandingkan dengan barang-barang yang masuk dari Vietnam
dan Cina. Contohnya industri rotan di Indonesia, biasanya para
pengusaha rota hanya mengirim berupa rotan yang belum diolah
sehingga merugikan pihak pengusaha rotan dalam negeri,
sedangkan rotan yang masuk dari Cina dan Vietnam biasanya telah
diolah menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Dari permasalah tersebut seharusnya pemerintah sudah memiliki
langkah yang pasti untuk melindungi para pengusaha rotan,
caranya dengan mengekspor produk rotan bukan sekedar bahan
dasarnya saja tapi berupa rotan yang telah di olah menjadi suatu
produk yang harga jualnya lebih tinggi, sama dengan yang
diekspor Vietnam dan Cina.
Dalam banyak hal, AFTA dapat efektif dan menguntungkan
Indonesia jika para pengusaha dan pemerintah Indonesia bekerja
sama. Solusi yang jelas bagi para pengusaha di Indonesia akan
membantu Indonesia dalam menghadapi pasar bebas yang
diberlakukan. Pemerintah melindungi para pengusaha kecil dan
menengah dengan cara bantuan modal untuk melakukan produksi
agar para pengusaha kecil dan menengah di Indonesia dapat
membuat suatu produk yang memiliki daya saing yang tinggi saat
dipasarkan. Kendala yang tengan dihadapi adalah masalah
infrastruktur di Indonesia yang kurang mendukung. Pemerintah
juga sepatutnya menyediakan infastruktur yang memadai, seperti
jalanan yang rusak akan menghambat proses distribusi barang dan
dapat merugikan. Indonesia memiliki banyak barang komoditas
yang tidak kalah oleh Vietnam dan Cina. Masalahnya hanya
terletak pada daya saing para pengusaha di Indonesia dalam
persaingan di dalam pasar bebas ini.
Di Asian Free Trade Act (perjanjian pasar bebas asia), negara-2
peserta (yg ikut perjanjian ya!) bisa menjual produk industrinya ke
negara-2 peserta lainnya ... bebas bea masuk u/ produk-2 yg
disertakan (dinyatakan) dlm perjanjian itu.
Kalau dikatakan 'apakah keuntungan dan kerugian', yg ada => lbh
banyak kerugiannya, krn serbuan produk dr luar itu tdk akan bisa
dibendung lagi ... pdhl sblm ikut AFTA ini (berlaku per 1 Januari
2010!) ... serbuan barang-2 ex Cina (LN) itu sdh membanjiri hampir
semua pasar yg ada di Indonesia ... bagaimana sekarang? Pasti lbh
besar lagi gerakan serbuan barang-2 itu.
KERUGIAN PARA PENGUSAHA MANUFACTURING
Kerugian akan terjadi di berbagai usaha produksi yg barang-2-nya
kalah harga, kalah mutu: textil, pakaian jadi, makanan kemasan,
minuman kemasan, peralatan elektronik, alat-2 kesehatan (berbagai
kelas ... dr yg kecil spt bahan-2 kebutuhan kesehatan smp alat kelas
berat menggunakan nuklir yg datang dr Cina), automotive (barang
jadi, suku cadang) ... dlsb. Perusahaan-2 itu akan gulung tikar
(bangkrut) atau membangkrutkan diri krn si pengusaha lbh suka
mencari untung sbg pengimport barang, sbg distributor (mata
rantai perusahaan LN), atau langsung sbg pedagang kelontongnya
sekalian.
SIAPA YG MERUGI?
Nah, siapa yg akan RUGI? Yg meRUGI ya para pekerja Indonesia yg
selama ini bekerja di bbg perusahaan produksi yg produknya kalah
bersaing ... perusahaannya ditutup ... pemilik perusahaannya
berpindah menjadi pedagang kelontong itu. Selain itu ... yg
meRUGI ya para sarjana bbg jurusan terkait bbg produksi
(manufacturing, industri, teknik otomotiv, dll) juga para mahasiswa
di bbg jurusan terkait .... krn mrk akan kehilangan kesempatan
kerja di bbg bidang itu!
MASYARAKAT DIUNTUNGKAN?
Masyarakat sbg konsumen, pengguna, penikmat bbg barang ex LN
yg lebih murah (mungkin lbh berkualitas) itu tentu merasa
diUNTUNGkan ... ttp hanya sebatas sbg konsumen. Perlahan tapi
pasti ... kekuatan daya beli masyarakat secara umum jg akan
turun ... bersamaan dgn bertambahnya anggota masyarakat yg
terPHK krn perusahaannya ditutup ... kalah bersaing di pasar
bebas.
APA dan SIAPA yg BISA beruntung?
Indonesia punya bahan baku industri n kerajinan yg seharusnya bs
dilindungi agar tdk dijual ke LN sbg bahan baku mentah ... tetapi
sbg produk jadi ... TERUTAMA bahan baku yg hanya (atau banyak)
ada di Indonesia ... spt rotan, serat eceng gondok, kulit hasil
tangkaran (buaya, biawak, ular ... dll ... ada jg kulit BULLFROG di
Sumatra selatan!?) ... n bbg bahan lainnya ... yg dibuat sedemikian
rupa menjadi barang-2 seni, assesoris (tas, dompet, dll) ... n jg
produk BATIK!!!. ... kain-2 tenun (dr berbagai daerah) ... dll. Semua
kegiatan industri kecil atau rumahan yg lbh banyak mengandalkan
ketrampilan tangan (bukan mesin) akan bisa menjual produksinya
ke LN. Jd hrs spezifik lokal-an (ke daerah-an) n uniq yg tdk bs
dibuat oleh perusahaan/industri LN. Waspada ... Cina jg membuat
kain batik (industri, mesin) n pakaian bermotif batik jg ... n
barangnya sdh menyerbu pasar-2 di Indonesia.
Nah, SIAPA yg BISA beruntung ... tentu sj mrk yg bergerak di
bidang-2 usaha yg menggunakan bahan-2 baku yg hanya
(kebanyakan ada) di Indonesia itu.
TETAPI hanya BISA beruntung! ... selama bahan baku itu tdk dijual
ke LN dlm bentuk bahan mentah!!! Coba lihat ROTAN mentah yg
terus sj dijual ke LN, ke Taiwan ... n industri disana yg beruntung
kan! Jd BISA menjadi beruntung ... kalau ada usaha-2 dr banyak
orang, si pelaksana lapangan (pengusaha penjual bahan mentah) n
si pelaksana tingkat pemerintah yg membuat peraturan u/
mempertahankan agar bahan-baku itu ttp bisa diberi nilai tambah
di dalam negeri, dgn mempersiapkan kursus-2 ketrampilan,
memberikan kemudahan berusaha, memberikan pinjaman modal ...
mencarikan pasar di LN.
Intinya: jgn berusaha di bidang-2 yg sdh semi-industri n full
industri, krn akan kalah bersaing dgn negara-2 tetangga ... ttp lbh
fokus ke usaha-2 padat karya yg lbh manual n semi-manual dgn
bahan-baku lokal-an. Industri-2: pariwisata, kesenian Indonesia,
handycraft dll hrs lbh dikedepankan ... meski berada di dlm negeri
ttp pembelinya akan datang dr mancanegara (wisatawan LN).
Nggak gampang juga kan ... lihat sarana-prasarana-nya ... lihat
biaya-2 siluman-nya ... lihat pungli-2 ... begitu banyak hambatan yg
harus dihilangkan!
Bukan perkara kecil dan gampang u/ bs BERUNTUNG di AFTA ...
msh banyak lg yg hrs dipertimbangkan ... dianalisa ...
diperhitungkan ... dirancang ... dilaksanakan ...!!!???
Pengaruh Positif
Melihat dari banyaknya kelebihan dari skema dan tujuan-tujuan yangdiharapkan dapat terlaksana
dalam AFTA, maka dapat dicermati keuntungan yangakan diperoleh Indonesia dalam AFTAini, yaitu dengan
tanpa dikenanya tarif,produk-produk Indonesia dapat di ekspor ke kawasan negara-negara ASEAN dengan lebih
murah, tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan yang duludikenakan sebelum persetujuan AFTA, kini
produk-produk Indonesia dapat dengan mudah berada di kawasan ASEAN, hal ini tentu tidak hanya
memberikan keuntungan dengan kemudahan perdagangan internasional dalam regional ASEAN tetapi juga
akan memacu kreativitas dalam negeri sebab produk-produk negara lain di kawasan ASEAN pun akan marak
di dalam negeri, sehingga jika dalam negeri tidak meningkatkan kreativitasnya, maka dengan mudah dilindasi
oleh produk-produk impor.
Adapun hal yang mencengangkan dengan adanya AFTAakan membukapeluang pasar yang besar dan
luas bagi produk Indonesia, dimana penduduk yangnotabene adalah konsumen dengan jumlah sebesar 500
juta jiwa berada di areaASEAN sehingga akan lebih memperlancar proses perputaran perdagangan bagi produk-
produk Indonesia dan tingkat pendapatan masyarakat yang beragam akan membantu terdistribusinya produk-
produk Indonesia dengan level yang bervariasi kepada tingkat sosial masyarakat yang variatif pula.Selain itu para
pengusaha/produsen Indonesia akan lebih rendah mengeluarkan biaya produksi, dimana diketahui bahwa
beberapa produk Indonesia ada juga yang membutuhkan barang modal dan bahan baku/ penolongdari negara
anggota ASEAN lainnya sehingga dengan adanya pembebasan tarif akan lebih meringankan pengeluaran biaya
produksi yang juga akan secara

bersamaan mengurangi biaya pemasaran, sehingga harga produk Indonesiatersebut dapat lebih ditekan
yang akhirnya dengan kualitas yang baik produk Indonesia dapat dipasarkan dengan harga terjangkau yang
kemudian akan memberikan keuntungan sebab para konsumen akan lebih tertarik dengan nilaiharga yang
ditawarkan.
Tidak hanya para pebisnis yang akan merasakan keuntungan melaluiAFTAini, konsumen di Indonesia
pun yang merupakan konsumen terbesar dari 9negara anggota AFTAakan menerima nilai plus pula, dimana
dengan maraknya produk luar di pasar domestik akan memberikan keragaman produk dengan harga yang
variatif yang dapat disesuaikan dengan kemampuan kantong setiap individu,dan pada bagian awal yang telah
saya sebutkan sebelumnya bahwa denganmaraknya produk luar yang menggrogoti pasar domestik Indonesia,
akan memacu kreativitas produsen lokal untuk bersaing agar tidak kehilangan konsumennya,serta memacu pula
pemanfaatan sumber daya alam dan manusia pada tingkatan maksimal.
Serta keuntungan lain yang dapat diperoleh Indonesia adalah terbukanya kerjasama dalam
menjalankan bisnis dengan beraliansi bersama pelaku bisnis dinegara anggota ASEAN lainnya. Melalui aliansi
ini, para pebisnis Indonesia akanl ebih memperluas jaringannya, yang kelak akan mengamtarkan mereka
tidak hanya berbisnis di area ASEAN saja tetapi juga dapat menjadi batu loncatan kepasar global, hal ini akan
sangat bermanfaat untuk prosuden-produsen rumahan,yang akan lebih meningkatkan kesejahteraan para
pekerjanya serta memberikan keuntungan bagi negara dimana akan terbentuk pemahaman di benak konsumen
luar negeri bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh pasar domestik Indonesia memiliki kualistas
internasional dengan penanganan yang berstandar tinggi.

Tantangan Bagi indonesia


AFTAbagi Indonesia adalah pisau bermata ganda. Selain meberikankeuntungan yang besar tetapi
dapat pula mencengkeram dan memeras tanpa henti

hingga akan berbalik memberikan kerugian jika ditangani tanpa maksimal dandukungan penuh oleh setiap pihak
yang berpengaruh di dalamnya. Sehingga perluditekankan kembali agar setiap kebijakan ekonomi ke depan
dapat selaludijalankan pada peningkatan daya saing dengan memperhatikan ketahananekonomi nasional. Ada
beberapa tantangan besar yang harus siap dihadapiIndonesia dalam AFTA, yaitu :
1.Perekonomian yang terbuka tanpa pengenaan tarif akan menimbulkanketergantungan antar berbagai kekuatan
ekonomi di kawasan sehinggaberpengaruh pada perekonomian domestik Indonesia,
sehingga perlu diwaspadai terutama investor-investor asing, sebab dapat terlihat bahwaIndonesia telah memiliki
sejarah yang buruk dengan beberapa para investor,dimana kekayaan alam Indonesia terus dikeruk oleh mereka
dan Indonesiatinggal menerima ampasnya saja.
2.Dari beberapa aspek, Indonesia tidak dapat berharap lebih terhadap AFTA,dimana keunggulan komparatif
yang rendah terlihat dari kemiripan produk-produk ekspor andalan di antara sesama anggota AFTA, sehingga
Indonesiadiharuskan menciptakan terobosan di bidang perdagangan dengan maksimaldan spektakuler.
3.APEC sebenarnya telah cukup lebih memberikn manfaat bagi Indonesia daripada AFTAsebab dengan
partner-parner yang lebih luas dan beragam yangbersifat global, akan lebih memperluas pangsa pasar bagi
produk Indonesia,tetapi bukan berarti Indonesia mesti meninggalkan AFTAsebab bentuk aftayang lebih
meregional seperti Uni Eropa akan lebih mempermudah kontrolpemasaran bagi produk Indonesia,
sehingga yang kiranya perlu dilakukanadalah menyiasati agar lahan yang sebenarnya menjanjikan tersebut
dapatbermanfaat seoptimal mungkin bagi perekonomian nasional
.4.Dilihat dari hal investasi, AFTAmenjadi penting bagi Indonesia untuk menarik modal yang keluar dari
indonesia yang terjadi selama periode krisisekonomi. Sehingga perlu menciptakan suasana kondusif di dalam
negeri, danIndonesia juga perlu semakin aktif melakukan promosi keluar. Meski secaraalami bahwa faktor
kekayaan alam yang melimpah serta jumlah pasar yang besar (210 juta orang) akan memposisikan Indonesia
sebagai lahan subur bagiinvestasi, namun diketahui bahwa investasi selalu bergerak berdasarkan keuntungan dari
pendapatan. Maka perlu diingat bahwa negara-negara lainakan mudah merebut pasar Indonesia jika Indonesia
tidak jeli menangkappeluang yang ada.