Anda di halaman 1dari 14

Makalah Manajemen Mutu Terpadu

Konsep TQM

Dosen:
Nur Hasanah SE, Msi

Nama Anggota Kelompok 1:


Indra Gunawan RRC1B014073
Muh. As`ad Shaar RRC1B014081
Iskar Subekti RRC1B014009
Awal Mustifal RRC1B014029
M Rival Rinaldi RRC1B014061
Nanda Anugrah Harahap RRC1B014001

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI MANAJEMEN REGULAR MANDIRI
UNIVERSITAS JAMBI
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Total quality manajemen (TQM) berasal dari kata Total yang berarti keseluruhan atau
terpadu, Quality yang berarti mutu, dan Management diartikan dengan pengelolaan.
Manajemen didefinisikan sebagai proses planning, organizing, staffing, dan controlling
terhadap seluruh kegiatan dalam organisasi. Dalam pengertian mengenai organisasi Total
Quality Manajemen, penekanan utama adalah pada mutu yang didefinisikan dengan
mengerjakan segala sesuatu dengan baik sejak dari awalnya dengan tujuan untuk memenuhi
kepuasan pelanggan. Hal inilah yang melatar belakangi konsep zero defect. Kesalahan atau
cacat (defect) hanya akan terjadi bila sejak dari proses awal tidak ditekankan masalah mutu.
Selain itu, perusahaan harus membayar mahal bila produk atau jasanya tidak laku karena
tidak dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan atau tidak berorientasi pada
kepuasan pelanggan.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1. Sejarah Singkat Perkembangan Total Quality Manajemen;
2. Pengertian Total Quality Management;
3. Perbedaan TQM dengan Manajemen Lainnya;
4. Prinsip dan Unsur Total Quality Management;
5. Faktor Faktor yang Menyebabkan Kegagalan TQM;

1.3. Tujuan
Dalam penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan
Total Quality Manajemen serta prinsip prinsipnya.

1.4. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk dapat memberi pengetahuan bagi kita
tentang Total Quality Manajemen.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Singkat Perkembangan TQM


Evolusi gerakan total quality dimulai dari masa studi dan gerak oleh bapak manajemen
Ilmiah, Frederick Winston Taylor, pada dekade 1920-an. Ada beberapa peristiwa dalam
evolusi gerakan total quality di Amerika Serikat yang telah dirangkum dibawah ini yaitu:
Tahun Kejadian Bersejarah
1911 Frederick W. Taylor mempublikasikan bukunya The Principles of Scentific
Management, yang melahirkan berbagai teknik, seperti studi waktu dan gerak.
1931 Walter A. Shewhart dari Bell Laboratories memperkenalkan statistical quality
control dalam bukunya Economic Control of Quality of Manufacturing Products.
1940 W. Edwards Deming membantu U.S. Bureau of Census dalam menerapkan teknik-
teknik sampling statistic.
1941 W. Edwards Deming mengajarkan teknik-teknik pengendalian kualitas di U.S. War
Department.
1950 W. Edwards Deming mengajarkan mata kuliah mengenai kualitas kepada para
ilmuan, insinyur, dan eksekutif perusahaan Jepang.
1951 Joseph M. Juran mempublikasikan bukunya yang berjudul Quality Control
Handbook.
1961 Martin Company (kemudian bernama Martin-Marietta) membangun rudal pershing
yang memiliki tingkat kerusakan nol.
1970 Philip Crosby memperkenalkan konsep zero defects.
1979 Philip Crosby mempublikasikan bukunya yang berjudul Quality is Free.
1980 Siaran dokumentasi TV if Japan Can . Why Cant We? Memberi pengakuan
kepada W. Edwards Deming di USA.
1981 Ford Motor Company mengundang W. Edwards Deming untuk berbicara di
hadapan eksekutif puncaknya, memelopori hubungan produktif antara produsen
mobil dan pakar kualitas.
1982 W. Edwards Deming menerbitkan buku berjudul Quality, Productivity, and
Comperative Position.
1984 Philip Bing Crosby menerbitkan buku berjudul Quality Without Tears: The Art of
Hassle Free Management.
1987 Konggres Amerika Serikat menetapkan Malcolm Baldrige National Quality Award.
1988 Secretary of Defense Frank Carlucci memerintahkan U.S. Department of Defense
untuk mengadopsi total quality.
1989 Florida Power and Light berhasil menjadi perusahaan non-Jepang pertama yang
berhasil memenangkan Deming Prize.
1993 Total quality approach diajarkan universitas-universitas di Amerika Serikat.
Aspek yang paling fundamental dari manajemen ilmiah adalah adanya pemisahan
antara perencanaan dan pelaksanaan. Meskipun pembagian tugas telah menimbulkan
peningkatan besar dalam hal produktivitas, sebenarnya konsep pembagian tugas tersebut
telah menyisihkan konsep lama mengenai keahlian/keterampilan, di mana individu yang
sangat terampil melakukan semua pekerjaan yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk
yang berkualitas. Manajemen ilmiah Taylor mengatasi hal ini dengan membuat perencanaan
tugas manajemen dan tugas tenaga kerja. Untuk mempertahankan kualitas produk dan jasa
yang dihasilkan, maka dibentuklah departemen kualitas yang terpisah.
Seiring dengan meningkatnya volume dan kompleksitas manufacturing, kualitas juga
menjadi hal yang makin sulit. Volume dan kompleksitas mendorong timbulnya quality
engineering pada tahun 1920-an dan reliability engineering pada tahun 1950-an. Quality
engineering sendiri mendorong timbulnya penggunaan metode-metode statistik dalam
pengendalian kualitas, yang akhirnya mengarah pada konsep control charts dan statistical
process control. Kedua konsep terakhir ini merupakan aspek fundamental dari total quality
management.
Sekalipun konsep TQM banyak dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan
Jepang, tetapi tidak dapat dinyatakan bahwa TQM made in Japan. Hal ini dikarenakan
banyak aspek TQM yang bersumber dari Amerika Serikat (Schmidt dan Finnigan, 1992
dalam Bounds, et.al, 1994 : 61) di antaranya sebagai berikut:
1. Manajemen ilmiah, yaitu berupaya menemukan satu cara terbaik dalam melakukan suatu
pekerjaan.
2. Dinamika Kelompok, yaiutu mengupayakan dan mengorganisasikan kekuatan
pengalaman kelompok.
3. Pelatihan dan Pengembangan yang merupakan investasi dalam sumber daya manusia.
4. Motivasi Berprestasi.
5. Keterlibatan Karyawan.
6. Sistem sosioteknikal, dimana organisasi beroprasi sebagai sistem yang terbuka.
7. Pengembangan organisasi.
8. Budaya organisasi.
9. Teori kepemimpinan baru.
10. Konsep lingking-pin dalam organisasi.
11. Perencanaan strategik.

2.2. Pengertian TQM


Total quality management (TQM) merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan
usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus
menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungan.
Total quality management juga dapat diartikan sebagai perpaduan semua fungsi dari
perusahaan ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork,
produktivitas, dan pengertian serta kepuasan pelanggan (Ishikawa dalam Pawitra, 1993, p.
135). Definisi lainnya menyatakan bahwa Total quality management merupakan sistem
manajemen yang menyangkut kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasaan
pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi (Santosa, 1992, p. 33).
Dasar pemikiran perlunya TQM sangatlah sederhana, yakni bahwa cara terbaik agar
dapat bersaing dan unggul dalam persaingan global adalah dengan menghasilkan kualitas
yang terbaik. Untuk menghasilkan kualitas terbaik diperlukan upaya perbaikan
berkesinambungan terhadap kemampuan manusia, proses, dan lingkungan. Cara terbaik agar
dapat memperbaiki kemampuan komponen-komponen tersebut secara berkesinambungan
adalah dengan menerapkan TQM.
Penerapan TQM dalam suatu perusahaan dapat memberikan beberapa manfaat utama
yang pada gilirannya meningkatkan laba serta daya saing perusahaan yang bersangkutan.
Dengan melakukan perbaikan kualitas secara terus-menerus maka perusahaan dapat
meningkatkan labanya melalui dua rute, yaitu:
1. Rute pasar. Perusahaan dapat memperbaiki posisi persaingannya sehingga pangsa
pasarnya semakin besar dan harga jualnya dapat lebih tinggi. Kedua hal ini mengarah
kepada penghasilan sehingga laba yang diperoleh juga semakin besar.
2. Perusahaan dapat meningkatkan output yang bebas dari kerusakan melalui upaya
perbaikan kualitas. Hal ini menyebabkan biaya operasi perusahaan berkurang. Dengan
demikian laba yang diperoleh akan meningkat.

2.3. Perbedaan TQM Dengan Metode Manajemen Lainnya


Ada empat perbedaan pokok antara TQM dengan metode manajemen lainnya.
Pertama, asal intelektualnya. Sebagian besar teori dan teknik manajemen berasal dari ilmu-
ilmu sosial. Ilmu ekonomi mikro merupakan dasar dari sebagian besar teknik-teknik
manajemen keuangan, ilmu psikologi mendasari teknik pemasaran dan decision support
system, dan sosiologi memberikan dasar konseptual bagi desain organisasi. Sementara itu
dasar teoritis dari TQM adalah statistika. Inti dari TQM adalah Pengendalian Proses
Statistikal (SPC/Statistical Process Control) yang didasarkan pada sampling dan analisis
varians.
Kedua, yakni sumber inovasinya. Bila sebagian besar ide dan teknik manajemen
bersumber dari sekolah bisnis dan perusahaan konsultan manajemen terkemuka, maka
inovasi manajemen sebagian besar dihasilkan oleh para pionir yang pada umumnya adalah
insinyur industri dan ahli fisika yang bekerja di sektor industri dan pemerintah.
Ketiga, yakni asal negara kelahirannya. Kebanyakan konsep dan teknik dalam
manajemen keuangan, pemasaran, manajemen strategik, dan desain organisasi berasal dari
Amerika Serikat dan kemudian tersebar ke seluruh dunia. Sebaliknya TQM semula berasal
dari Amerika Serikat, kemudian lebih banyak dikembangkan di Jepang dan kemudian
berkembang ke Amerika Utara dan Eropa. Jadi TQM mengintegrasikan keterampilan teknikal
dan analisis dari Amerika, keahlian implementasi dan pengorganisasian Jepang, serta tradisi
keahlian dan integritas dari Eropa dan Asia.
Keempat, yakni proses diseminasi atau penyebaran. Penyebaran sebagian besar
manajemen modern bersifat hirarkis dan top-down. Yang mempeloporinya biasanya adalah
perusahaan-perusahaan raksasa seperti General Electric, IBM, dan General Motors.
Sedangkan gerakan perbaikan kualitas merupakan proses bottom up, yang dipelopori
perusahaan-perusahaan kecil. Dalam implementasi TQM, penggerak utamanya tidaklah
selalu CEO, tetapi seringkali malah manajer departemen atau manajer divisi.

2.4. Konsep TQM


Manajemen mutu (Total Quality Management) merupakan suatu penerapan metode
kuantitatif dan sumber daya manusia untuk memperbaiki dalam penyediaan bahan baku
maupun pelayanan bagi organisasi, semua proses dalam organisasi pada tingkat tertentu di
mana kebutuhan pelanggan terpenuhi sekarang dan masa mendatang. TQM lebih
merupakan sikap dan perilaku berdasarkan kepuasan atas pekerjaan dan kerja tim atau
kelompoknya. TQM menghendaki komitmen dari manajemen sebagai pemimpin organisasi
di mana komitmen ini harus disebarluaskan pada seluruh karyawan dan dalam semuab level
atau departemen dalam organisasi. TQM merupakan program atau sistem, tapi merupakan
budaya yang harus dibangun, dipertahankan, dan diingatkan oleh seluruh anggota organisasi
atau perusahaan bila organisasi atau perusahaan tersebut berorientasi pada mutu dan
menjadikan mutu sebagai way of life.
Pengendalian, sistem dan teknik-teknik sangat diperlukan dalam penerapan TQM
tetapi semuanya itu bukan merupakan utama. Yang terpenting dalam penerapan TQM
adalam keterlibatan secara menyeluruh setiap orang dalam organisasi atau perusahaan
tersebut untuk mengubah budaya (cultre) yang lama menjadi budaya baru. Perubahan
tersebut antara lain :
1. Dari kerahasiaan atau sesuatu yang bersifat selentingan menjadi komunikasi terbuka
anatar seluruh anggota atau perusahaan. Dengan keterbukaan maka kerjasama akan
terwujud, dan dengan keterbukaan, maka kesalahpahaman dapat teratasi.
2. Dari pengendalian menjadi pemberdayaan. Karyawan tidak mau kalau secara terus
menerus dimonitor. Mereka ingin selalu dilibatkan, diajak berdiskusi, dan
berpendapat. Mereka juga harus diserahi tanggung jawab yang sesuai serta
mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan mendapat penghargaan atas prestasi
yang diraih.
3. Dari inspeksi menjadi pencegahan. Inspeksi adalah pemeriksaan terhadap barang atau
produk jadi setelah keluar dari proses produksi. Sehingga bila ada produk yang cacat
atau tidak ada lagi istilah inspeksi, melainkan pencegahan. Artinya, sejak dari
perencanaan produk. Proses produksi hingga menjadi produk akhir menghasilkan
cacat atau kesalahan nol (xero defect)
4. Dari fokus internal dan fokuas eksternal, fokuas intyernal adalah perhatian perusahaan
atau organisasi apada kemampuan yang dimiliki saja, sehingga proses produksi
dilaksanakan berdasarkan kemampuan tanpa mempergatikan permintaan pelanggan
(push system) sedangkan TQM menganggap bahwa cara berproduksi seperti ini
adalah pemborosan. TQM lebih memfokuskan pada kebutuhan dan harapan
pelanggan (eksternal fokus) sehingga melaksanakan proses produksi terik (pull
system).
5. Dari biaya dan penjualan menjadi kesesuaian terhadap mutu. Semula, perusahaan atau
organisasi hanya memperhatikan masalah biaya dan waktu produksi. Namun kondisi
tersebut kemudian berubah menjadi mutu produk yang menjadi orientasinya. Namun
kondisi tersebut kemudian berubah menjadi mutu produk yang menjadi orientasinya.
Mutu produk yang dimaksud di sini adalah dengan memperhatikan kebutuhan dan
harapan pelanggan. Barang atau jasa dikatakan bermutu nila mampu mengurangi
biaya (cost reducation), menghilangkan pemborosan (eliminating waste),
menyampaikan secara tepat waktu (faster delivery), dan menjual dengan harga rendah
(lower price). Apabila hal tersebut tercapai, maka profit meningkat.
6. Dari stabilitas menjadi perubahan dan perbaikan secara terus menerus. Kondisi yang
tidak beubah bukannya membawa keuntungan dan manfaatkan bagi perusahaan.
Justru perusahaan atau organisasi yang mau berubah yang mau terus menerus
mengadakan perbaikan itulah yang akan berhasil dengan baik. Dalam kondisi yang
serba stabil. Orang tidak akan pernah mau belajar. Sementara dalam organisasi yang
menggunakan filosofi TQM di tuntut untuk selalu belajar atau berubah, memperbaiki
yang meningkatkan kemamouan, karena prinsip TQM yang continious quality
improvement.
7. Dari hubungan yang sifatnya persaingan menjadi hubungan kejasama. Dalam
organisasi yang menggunakan konsep TQM semua pihak yang berhubungan bailk
secara langsung maupun tidak langsung denngan kondisi tersebut (pemasok,
pelanggan, pesaing, dan lain-lain) adalah teman atau saudara. Hal ini menuntut
adanya kerjasama yang kuat dan saling membantu. Hubungan erat dan kerjasama
yang baik dengan pelanggan akan membuat mereka terbuka untuk membrikan kritik
dan saran untuk peningktakan produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan.
8. Dari pengalokasian dan melemparkan hal-hal yang tidak dikertahui mendaji
penyelesaian smeua masalah sampai akar-akarnya. Perusahaan biasanya akan
menutupi masalah yang dihadapi dan bersikap pura-pura tidak tahu, atau membenci
siapa pun yang mengetahui permasalahan yang ada. Perusahaan atau organisasi yang
menganut filosofi TQM justru akan menghadappi semua permasalahan yang ada,
mencari penyelesaian hingga tuntas.
Untuk dapat menerapkan TQM pada industri jasa diperlukan konsep dasar
teknik dan langkah-langkah penerapannya, antara lain :
a. Memfokuskan pada produk (yang dalam hal ini adalah jasa yang di tawarkan)
dan pelanggan.
b. Kepemimpinan dalam organisasi jasa yang mendukung pelaksanaan filosofi
TQM.
c. Budaya organisasi (yaitu budaya organisasi yang berorintasi mutu)
d. Komunikasi yang efektif antar seluruh personil dalam organisasi maupun
antara para personil organisasi dengan pelanggan.
e. Pengetahuan atau keahlian karyawan dalam melaksanakan filosofi TQM.
f. Tanggung jawab para karyawan.
g. Manajemen berdasarkan data dan fakta.
h. Sudut pandang jangka panjang.
Total quality management merupakan sekumpulan langkah yang harus dilalui
tingkat demi tingkat untuk dapat meneraokannya. Pada dasarnya untuk dapat
menerapkan total quality mangement yang paling diperlukan adalah dukungan
atau komitmen dari pimpinan ppuncak, komunikasi antar seluruh anggota
organisasi, dan adanya perubahan budaya.

2.5. Prinsip dan Unsur Pokok TQM


TQM merupakan suatu konsep yang berupaya melaksanakan sistem manajemen
kualitas kelas dunia. Untuk itu diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai
suatu organisasi. Menurut Hensler dan Brunell (dalam schueuning dan Cristoper, 1993: 165-
166), ada empat prinsip utama dalam TQM. Keempat prinsip tersebut adalah:
1.Kepuasan pelanggan
Dalam TQM, konsep mengenai kualitas dan pelanggan diperluas. Kualitas tidak
hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi-spesifikai tertentu, tetapi ditentukan oleh
pelanggan. Pelanggan itu sendiri meliputi pelanggan internal dan pelanggan eksternal.
Kebutuhan pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam segala aspek, termasuk didalam
nya harga, keamanan, dan ketepatan waktu. Oleh karena itu, segala aktifitas perusahaan harus
dikoordinasikan untuk memuaskan para pelanggan. Kualitas yang dihasilkan suatu
perusahaan sama dengan nilai yang diberikan, maka makin besar pula kepuasan pelanggan.

2.Respek terhadap setiap orang


Dalam perusahaan yang kualitasnya tergolong kelas dunia, setiap karyawan
dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreatifitas yang khas. Dengan
demikian, karyawan merupakan sumber daya organisasi yang paling bernilai. Oleh karena itu,
setiap orang dalam organisasi diperlukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk terlibat
dan berpartisipasi dalam tim pengambilan keputusan.

3.Manajemen berdasarkan fakta


Perusahaan kelas dunia berorientasi pada fakta. Maksudnya bahwa setiap keputusan
selalu didasarkan pada data, bukan sekedar perasaan (feeling). Ada dua konsep pokok yang
berkaitan dengan hal ini. Pertama, prioritas (prioritization), yakni suatu konsep bahwa
perbaikan tidak dapat dilakukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan mengingat
keterbatasan sumber daya yang ada. Oleh karena itu, dengan menggunakan data, maka
manajemen dan tim dalam organisasi dapat memfokuskan usaha nya pada situasi tertentu
yang vital. Kedua, variasi atau variabiolitas kinerja manusia. Data statistik dapat memberikan
gambaran mengenai variabilitas yang wajar dari setiap sistem organisasi. Dengan demikian,
manajemen dapat memprediksi hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.

4. Perbaikan Berkesinambungan
Agar dapat sukses, setiap perubahan perlu melakukan peroses sestimasidalam
melakukan perbaikan secara berkesinambungan. Konsep yang berlaku di sini adalah siklus
PDCAA ( plan-do-check-act-analyze ) yang terdiri atas langkah-langkah perencanaan, dan
melakukan tindakan korektif terhadap hasil yang diproleh.
Sepuluh unsur utama TQM adalah:
a. Fokus pada pelanggan. Dalam TQM, baik pelanggan internal maupun pelanggan
eksternal merupakan driver. Pelanggan eksternal menetukan kualitas produk atau jasa
yang disampaikan kepada mereka, sedangkan pelanggan internal beberapa besar
dalam menetukan ualitas manusia, proses, dan lingkungan yang berhubungan dengan
produk atau jasa.
b. Terobsesi dengan mutu, yaitu dengan menjadikan mutu sebagai pegangan atau
pandangan hidup seluruh anggota organisasi atau perusahaan.
c. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan
masalah hal ini disebabkan pendekanatan ilmiah dapat di percaya dan dapat di
pertanggung jawabkan kebenarannya.
d. Komitmen jangka panjang. Usaha peningkatan atau perbikan mutu bukan merupakan
loncatan ( quantum leap ). Melainkan merupakan suatu proses jangka panjang yang
berkasinambungan.Oleh karana itu, dalam melaksanakan total qualityperhatian kita
harus berpusat pada masa mendatang yang berjangka jauh kedepan, bukan jangka
pendek.
e. Kerja tim (teamwork). Ada prinsip yang mengatakan bahwa pemikiran sekumpulan
orang lebih baik dari pada hanya satu orang,sehingga hasil yang diperoleh akan lebih
baik bila semua pekerjaan di kerjakan secara bersama-sama.pemberian upah dan
penghargaan pun tidak dilaksanakan secara individu,melainkan juga merupakan
penilaian kelompok.
f. Continual process improvement . Mutu hanya bisa di capai bila selalu diadakan
perbaikan dan penyempurnaan walau hanya kecil. Hal ini sesuai dengan prinsip
Kaizenlittle better everyday .
g. Pendidikan dan pelatihan. Karna untuk menciptakan sesuatu yang bermutu,maka
orang harus mau belajar dan berlatih sampai kapanpun. Hal ini akan membentuk dan
meningkatkan pola pikir yang selalu berorientasi pada proses perbaikan.
h. Tidak ada pengendalian(freedom from control). Perusahaan atau organisasi yang
berorientasi pada total quality tidak lagi menggunakan statistical proses control yang
hanya merupakan penilaian produk akhir,melainkan setiap karyawan harus
mengendalikan sendiri dirinya untuk membuat atau memberikan atau menerima
produk yang benar-benar cacat .
i. Keseragaman tujuan . dengan adanya kesamaan tujuan maka kegiatan akan dapat
dilakukan dengan mudah dan tidak ada pertentangan dalam pelaksanaanya.
j. Keterlibatan dan pemberdayaan karyawan. Keterlibtan dan pemberdayaan karyawan
merupakan hal yang penting dalam penerapan TQM. Usaha untuk melibatkan
karyawan membawa dua mamfaat utama. Pertama, meningkatkan kemungkinan di
hasilkannya keputusan yang baik. Kedua,meningkatkan rasa memiliki dan tangggung
jawab atas keputusan dengan melibatkan orang orang yang harus melaksanakannya.

2.6. Faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan TQM

Selain di karenakan usaha pelaksanaan yang setengah hati dan harapan-harapan yang
tidak realistis,ada pula beberapa kesalahan yang secara umum dilakukan pada saat organisasi
memulai inisiatif perbaikan kualitas. Beberapa kesalahan yang sering dilakukan antara lain:
1. Delegasi dan kepemimpinan yang tidak baik dari manajemen senior.
Inisiatif upaya perbaikkan kulitas secara langsung dalam pelaksanaanya. Bila
tanggung jawab tersebut didelegasikan kepada pihak lain(misalnya kepada pakar yang
di gaji)maka peluang terjadinya kegagalan sangat besar.
2. Team mania.
Organisasi perlu membentuk beberapa tim yang melibatkan semua karyawan. Untuk
Menunjang dan menumbuhkan kerja sama dalam tim,paling tidak ada dua hal yang
perlu di perhatikan. Pertama,baik penyelia maupun karyawan harus memiliki
pemahaman yang baik terhadap perannya masing-masing. Kedua, organisasi harus
melakukan perubahan budaya supaya kerja sama tim tersebut dapat berhasil.
3. Proses penyebarluasan (Deployment)
Ada organisasi yang mengembangkan inisiatif kualitas tanpa secara berbarengan
mengembangkan rencana untuk menyatukannya ke dalam seluruh elemen organisasi
(misalnya operasi,pemasaran, dan lain-lain). Seharusnya pengembangan inisiatif
tersebut juga melibatkan para manajer,serikat kerja,pemasok, dan bidang produksi
lainnya, karena usaha itu meliputi pemikiran mengenai
struktur,penghargaan,pengembangan keterampilan,pendidikan dan kesadaran.
4. Menggunakan pendekatan yang terbatas dan Dogmatis
Ada pula organisasi yang hanya menggunakan pendekatan Deming,pendekatan
juran,atau pendekatan crosby dan hanya menerapkan prinsip-prinsip yang
ditentuhklan di situ. Padahal tidak ada satupun pendekatan yang disarankan oleh
ketiga pakar tersebut maupun pakar-pakar kualitas lainnya yang merupakan satu
pendekatan yang cocok untuk segala situasi bahkan pakar kualitas mendorong
organisasi untuk menyelesaikan program-program kualitas dengan kebutuhan mereka
masing-masing.
5. Harapan yang berlebihan dan tidak realistis
Bila hanya mengirim karyawan untuk mengikuti suatu pelatihan selama beberapa
hari,bukan bearti telah membentuk keterampilan mereka. Masih di butuhkan waktu
untuk mendidik,mengilhami, dan membuat para karyawan sadar akan pentingnya
kualitas. Selain itu dibutuhkan waktu yang cukup lama pula untuk
mengimplemtasikan perubahan-perubahan proses baru,bahkan seringkali perubahan
tersebut memakan waktu yang sangat lama untuk sampai terasa pengaruhnya terhadap
peningkatan kualitas dan daya saing perusahaan.

6. Empowement yang bersifat prematur.


Banyak perusahaan yang kurang memahami makna pemberian empowement kepada
para karyawan. Mereka mengira bahwa karyawan telah dilatih dan diberi wewenang
baru dalam mengambil suatu tindakan,maka para karyawan tersebut akan dapat
menjadi self-directed dan memberikan hasil-hasil positif. Seringkali dalam
praktik,karayawan tidak tahu apa yang harus dikerjakan setelah suatu pekerjaan di
selesaikan. Oleh karena itu sebenarnya mereka membutuhkan sasaran dan tujuan yang
jelas sehingga tidak salah dalam melakukan sesuatu.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Total quality manajemen (TQM) berasal dari kata Total yang berarti keseluruhan
atau terpadu, Quality yang berarti mutu, dan Management diartikan dengan pengelolaan.
Manajemen didefinisikan sebagai proses planning, organizing, staffing, dan controlling
terhadap seluruh kegiatan dalam organisasi. Dalam pengertian mengenai organisasi Total
Quality Manajemen, penekanan utama adalah pada mutu yang didefinisikan dengan
mengerjakan segala sesuatu dengan baik sejak dari awalnya dengan tujuan untuk memenuhi
kepuasan pelanggan.
DAFTAR PUSTAKA

M.N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu, ( Jakarta: Ghalia Indonesia, 2001), hlm.24-28
Tjiptono, Fandy dan Anastasia Diana, Total Quality Management, (Kawasan Candi Gebang:
Andi Offset Yogyakarta, 1998), hlm. 4
Ibid, hlm. 10-13
Dorothea Wahyu Ariani, Manajemen Kualitas, (Yogyakarta: cetakan pertama, 1999), hlm.23-
35
M.N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu, ( Jakarta: Ghalia Indonesia, 2001), hlm. 33-34
M.N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu, ( Jakarta: Ghalia Indonesia, 2001), hlm. 33-34
Tjiptono, Fandy dan Anastasia Diana, Total Quality Management, (Kawasan Candi Gebang:
Andi Offset Yogyakarta, 1998), hlm. 18-21