Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

KOMUNIKASI PESAN NONVERBAL:

Pengertian, Prinsip, Saluran, dan Kompetensi

Ditulis Sebagai Salah Satu Pemenuhan Tugas Mata Kuliah Komunikasi Antar Pribadi (KAP)

Oleh:

Azhar Ritonga 210110150228

Muhammad Narang 210110150241

Leonardo Davinci 210110150253

Tommy Reginald 210110150256

Program Studi Ilmu Komunikasi


Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan YME atas limpahan rahmad dari-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah yang akan membahas tentang Komunikasi Pesan
Nonverbal: Pengertian, Prinsip, Saluran, dan Kompetensi. Semoga makalah ini dapat
digunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk, maupun pedoman bagi pembaca dalam
memahami seluk-beluk pesan nonverbal sebagimana yang sehari-hari kita temukan.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah khazanah pengetahuan dan
pemahaman para pembaca.

Bak kata pepatah Tak ada gading yang tak retak, penulis mengakui masih
terdapat kekurangan/kesalahan yang disebabkan masih kurangnya pengetahuan yang
penulis miliki. Oleh karena itu, penulis mengharapkan pembaca untuk dapat memberikan
masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah
ini.

Jatinangor, 17 Maret 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................. iii

PESAN NONVERBAL .................................................................................... 4


1 Pengertian .............................................................................................. 4
2 Prinsip-Prinsip Komunikasi Nonverbal ................................................... 4
2.1 Pesan Nonverbal Berhubungan Erat dengan Pesan ....................... 4
2.2 Pesan Nonverbal Membantu dalam Mengolah Kesan ................... 5
2.3 Pesan Nonverbal Berperan dalam Membentuk Hubungan ............ 5
2.4 Pesan Nonverbal Melengkapi Struktur Percakapan ....................... 6
2.5 Pesan Nonverbal Dapat Mempengaruhi dan Menipu .................... 6
2.6 Pesan Nonverbal Sangat Penting untuk Mengekspresikan Emosi .. 6
3 Saluran Komunikasi Nonverbal ............................................................... 6
3.1 Gestur atau Bahasa Tubuh .............................................................. 6
3.2 Penampilan Tubuh ......................................................................... 7
3.3 Komunikasi Wajah .......................................................................... 7
3.4 Komunikasi Mata ........................................................................... 8
3.5 Komunikasi Sentuhan ..................................................................... 9
3.6 Parabahasa ..................................................................................... 10
3.7 Diam ............................................................................................... 11
3.8 Pesan Spasial dan Teritorialitas ...................................................... 12
3.9 Komunikasi Artefak ........................................................................ 12
3.10 Komunikasi Temporal ................................................................... 13
4 Kompetensi Komunikasi Nonverbal ...................................................... 14

KESIMPULAN .............................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 17

iii
PESAN NONVERBAL

1. Pengertian
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi tanpa kata-kata. Bentuk komunikasi
nonverbal dapat berupa gerak tubuh atau gestur, senyuman dan cemberut, bukaan
mata, perhiasan, sentuhan kepada orang lain, intonasi, bahkan saat Anda tidak dapat
berkata apapun.
Menurut Burgoon dan Hoobler (2002), ada dua keuntungan yang dapat
diperoleh apabila dapat berbahasa nonverbal secara efektif:
a. Semakin besar kemampuan mengirim dan menerima sinyal nonverbal,
ketertarikan Anda akan tinggi, begitu juga dengan popularitas dan
psikososial (Richmond dan Hickson, 2012).
b. Semakin besar kemampuan nonverbal, maka akan besar kesuksesan Anda
dalam situasi komunikasi interpersonal, seperti hubungan intim,
komunikasi organisasi, komunikasi guru-murid, komunikasi antarbudaya,
politik, kesehatan, dan lain-lain (Riggio dan Feldman, 2005).
2. Prinsip-Prinsip Komunikasi Nonverbal
2.1 Pesan Nonverbal Berhubungan Erat dengan Pesan Verbal
Antara pesan nonverbal dan verbal memiliki keterkaitan dalam hal-hal
berikut ini:
Logat atau aksen, komunikasi nonverbal sering digunakan sebagai aksen atau
menekankan pesan verbal. Contohnya kalimat Saya cinta kamu akan lebih
terasa apabila disertai dengan bahasa mata.
Pelengkap, komunikasi nonverbal juga digunakan sebagai pelengkap atau
untuk menambah nuansa yang tidak dapat diungkapkan melalui pesan verbal.
Contohnya dalam bercerita seringkali kita memasang mimik muka bahagia
atau sedih agar menambah nuansa pesan.
Menyangkal, kadang kala Anda menyangkal pesan verbal dengan gerakan-
gerakan nonverbal. Contohnya Anda dapat mengiyakan sesuatu melalui lisan
namun Anda dapat meyangkalnya dengan kode tangan atau gelengan kepala.
Kontrol, gerakan nonverbal dapat digunakan sebagai pengontrol aliran pesan
verbal Anda. Misalnya ketika Anda sedang berbicara dan orang lain berusaha
memotong, seketika itu Anda akan mengangkat tangan (pertanda menolak).

4
Mengulangi, kalimat verbal dapat Anda nyatakan kembali dengan pesan
nonverbal. Contohnya saat Anda mengucapkan Kamu pasti bisa seraya
mengencangkan tutupan mulut dan mengepalkan tangan.
Pengganti, Anda dapat menggunakan pesan nonverbal untuk menggantikan
pesan verbal. Contohnya untuk mengiyakan/menolak diganti dengan
anggukan/gelengan kepala.

Ketika berkomunikasi dengan menggunakan perangkat elektronik, untuk


menyampaikan pesan Anda cukup menggunakan emotikon yang akan mewakili
ekspresi dan gesture.

Tabel 1. Pesan Nonverbal Melalui Emotikon


Simbol Makna Simbol Makna
:-) Senyum, senang, bahagia {} peluk
:-( Sedih, cemberut :( Menangis sedih
:-* Cium :) Haru bahagia
:- Laki-laki :o Terkejut
>- Perempuan :-s Bingung, kecewa

2.2 Pesan Nonverbal Membantu dalam Mengolah Kesan


Melalui komunikasi nonverbal, Anda dapat membentuk kesan yang akan
disampaikan. Apakah itu melalui ukuran tubuh, warna kulit, pakaian, dan
sebagainya. Pada saat inilah Anda telah memutuskan untuk menjadi seperti apa
oleh orang lain. Berikut adalah beberapa hal manajemen kesan yang dilakukan
dengan menggunakan pesan nonverbal:
Agar disukai: senyum atau berjabatan tangan dengan hangat.
Agar dipercayai: fokus pada kontak mata, gestur yang terbuka, dan lain-lain.
Ungkapan kegagalan: terlihat sedih atau menutup wajah.
Untuk diikuti: berpakaian formal/berwibawa.
Kesimpulannya pesan nonverbal dapat membentuk, menciptakan,
memanipulasi karakter diri baik dalam hal baik maupun buruk.
2.3 Pesan Nonverbal Berperan dalam Membentuk Hubungan
Banyak hubungan hidup yang Anda jalani dengan hal-hal yang bersifat
nonverbal, seperti menunjukkan kasih sayang, dukungan, perhatian. Bahkan hal

5
yang berseberangan dengan itu seperti ketidaksenangan, kecewa, bahagia,
permusuhan, dan lain-lain.
Melalui komunikasi nonverbal juga menunjukkan sinyal untuk
berkomunikasi kepada orang lain atau mengungkapkan status atau level
hubungan.
2.4 Pesan Nonverbal Melengkapi Struktur Percakapan
Saat melakukan percakapan, Anda sering memberi isyarat atau sinyal
untuk menyatakan bahwa Anda siap berbicara, mendengar, memberi tanggapan,
dan lain-lain.
2.5 Pesan Nonverbal Dapat Mempengaruhi dan Menipu
Anda dapat mempengaruhi orang lain tidak hanya melalui apa yang Anda
katakan, namun juga melalui sinyal nonverbal. Seiring dengan kemampuan
mempengaruhi, tentu saja kemampuan untuk menipu juga akan timbul.
Misalnya orang yang berbohong bisa saja mengondisikan komunikasi
nonverbal seperti apa. Namun ini akan sulit, seseorang akan cenderung
menghidari kontak mata, gelisah, serta lisan dan nonverbal tidak konsisten.
2.6 Pesan Nonverbal Sangat Penting untuk Mengekspresikan Emosi
Meski terkadang seseorang mengungkapkan emosinya dengan verbal,
sinyal komunikasi nonverbal menjadi hal terpenting dalam pengekspresian emosi
tersebut. Dalam hal menunjukkan perasaan, Anda tentu akan menampilkan
postur, gerakan, gerakan mata, bahkan dilasi pada pupil.
Di sisi lain, komunikasi nonverbal dapat menyembunyikan kondisi emosi
Anda. Misalnya tersenyum saat Anda sebenarnya merasa sedih atau terpaksa
tertawa saat seseorang berlelucon, meski kadang terasa konyol.
3. Saluran Komunikasi Nonverbal
3.1 Gestur atau Bahasa Tubuh
Menurut ilmu kinesik (ilmu komunikasi yang mempelajari gerakan),
terdapat lima tipe yaitu emblem, ilustrator, affect displays, regulator, dan
adaptor/penyesuai.
Emblem, adalah pengganti kata-kata atau hal yang sewenang-wenang sebagai
kata dalam setiap bahasa. Misalnya isapan jempol mengandung arti salut dan
bangga, atau ibu jari dengan telujuk membentuk bulat dan jari lainnya terbuka
sebagai tanda OK.

6
Ilustrator, dimaknai sebagai penggambaran terhadap suatu pesan verbal.
Misalnya pandangan ke bawah sebagai bentuk depresi atau kesedihan.
Affect Displays, adalah isyarat wajah yang kondisi emosional seperti perasaan
takut, terkejut, senang, dan lain-lain.
Regulator, adalah pengatur atau pengontrol pembicaraan individu lain.
Misalnya saat berusaha aktif mendengarkan orang lain, Anda akan
menganggukan kepala, menyesuaikan fokus mata, membuat paraliguistik
(deheman, suara, dan lain-lain).
Adaptor atau penyesuai, biasanya terjadi di luar kesadaran atau tidak
diketahui. Dibagi atas tiga macam, yaitu:
a. Self-adaptors, biasanya memenuhi kebutuhan fisik dan berusaha
membuat Anda merasa lebih nyaman. Misalnya garukan kepala untuk
meringankan gatal, melembabkan bibir agar tidak kering, dll.
b. Alter-adaptors, adalah gerak tubuh yang timbul sebagai respon terhadap
interaksi pada Anda. Contohnya memejamkan mata saat seseorang
berusaha mengarahkan sesuatu ke muka Anda.
c. Object-adaptors, adalah gerakan yang melibatkan manipulasi beberapa
objek. Misalnya mengeklik pulpen, mengunyah pensil, dll.

Gerak tubuh erat hubungannya dengan budaya, sesuai dengan nilai dan
norma yang berlaku menurut wilayah tertentu. Misalnya melambaikan tangan
dianggap menghina di Nigeria dan Yunani, melipat tangan pada dada dianggap
angkuh/sombong di Indonesia, dan lain-lain.

3.2 Penampilan Tubuh


Penampilan tubuh tentu saja mengomunikasikan diri Anda, misalnya
tinggi atau berat badan, warna kulit, mata, dan warna rambut. Tubuh Anda
mengungkapkan ras atau dapat memberi petunjuk kebangsaan secara spesifik.
Meskipun hal ini tidak dibenarkan, namun kebanyakan orang sudah terlanjur
melakukan generalisasi terhadap penampilan.
3.3 Komunikasi Wajah
Dari semua interaksi interpersonal yang Anda miliki, komunikasi wajah
adalah sinyal paling spesial dalam mengungkap emosi. Menurut penelitian,
setidaknya wajah dapat mengomunikasikan delapan jenis emosi, yaitu bahagia,

7
terkejut, takut, marah, sedih, jijik, dan tertarik (Ekman, Friesen, dan Ellsworth,
1972).
a. Manajemen Wajah
Wajah juga dapat dikondisikan untuk menjadi seperti apa sesuai
dengan efek apa yang ingin ditimbulkan. Teknik manajemen wajah dapat
berupa intensifikasi, deintensfikasi, netralisir, penyamaran, dan
mensimulasikan.
b. Respon wajah
Ketika Anda mengekspresikan emosi, sebuah umpan balik akan timbul.
Misalnya dalam sebuah studi, peserta diminta mensimulasikan ekspresi sedih
dan ternyata ekspresi sedih tersebut benar-benar meningkatkan kesedihan
saat melihat foto-foto tersebut (Larsen, Kasimatis, dan Frey, 1992).
c. Budaya dan Komunikasi Wajah
Wajah dengan segala variasi ekspresinya juga dipengaruhi oleh budaya
lokal. Misalnya di Jepang, banyak perempuan yang menyembunyikan senyum
mereka dengan tangan mereka sendiri. Sementara di Amerika Serikat,
perempuan dengan luasnya tersenyum tanpa adanya batasan.
3.4 Komunikasi Mata
Okulesis, yaitu studi yang mendalami pesan komunikasi yang disampaikan
melalui mata, variasinya tergantung durasi, arah, dan kualitas perilaku mata.
Menurut Argyle dan Ingham (1972), rata-rata lama saling menatap antara dua
orang adalah 1,18 detik. Artinya jika durasinya lebih pendek, bisa diartikan orang
tertarik, malu, atau sibuk. Sementara jika lebih lama, berarti daya tarik objek yang
dilihat cukup tinggi.
Arah mata juga mengomunikasikan, ini bisa menjadi indikator
ketertarikan seseorang dalam berkomunikasi. Arah tatapan menunjukkan
kesadaran diri dan kegugupan atas interaksi.
Sementara kualitas menatap (lebar-sempit bukaan mata) juga
menunjukkan makna, terutama tingkat ketertarikan dan emosi. Apakah itu
terkejut, takut, jijik, dan lain-lain.
a. Kontak Mata
Anda dapat menggunakan kontak mata untuk mengetahui beberapa
fungsi-fungsi penting. Fungsi yang dimaksud adalah untuk memonitor umpan

8
balik, menjaga perhatian, mengatur percakapan, sinyal alami hubungan,
sinyal status, dan mengkompensasikan jarak fisik.
b. Penghindaran Mata
Ketika Anda menghindari kontak mata, itu artinya Anda membiarkan
orang lain untuk menjaga privasi mereka. Misalnya ketika dua orang sedang
cek-cok, ketika salah seorang menoleh ke arah Anda, maka Anda akan
membuang muka. Meski Anda kembali memandang, namun batin Anda
berkata Aku tidak bermaksud mengganggu, saya hormati rahasia kalian.
Fenomena ini disebut dengan Civil Inattention.
Hindaran mata juga tanda ketidak-tertarikan terhadap seseorang,
percakapan, atau beberapa stimulus visual.
c. Dilasi Pupil
Dilasi pupil mengungkapkan minat terhadap objek dan tingkat
emosional. Pupil akan membesar saat tertarik akan sesuatu dan
emosionalnya sedang terangsang.
d. Budaya dan Komunikasi Mata
Sudah menjadi rahasia umum bahwa mata menunjukkan kejujuran,
namun di Jepang menatap mata seseorang diartikan sebagai kurangnya rasa
hormat (Axtell, 2007).
Lalu kontak mata perempuan relatif lebih panjang dibanding laki-laki.
Hal itu berhubungan dengan emosi yang perempuan tampilkan (Wood, 1994).
3.5 Komunikasi Sentuhan
Ilmu yang spesifik membahas komunikasi sentuhan disebut haptik, nama
lainnya adalah Tactile Communication. Bisa dikatakan menyentuh merupakan
bentuk komunikasi tertua. Sentuhan mungkin saat pertama akal digunakan.
Setelah kelahiran, hal pertama yang terjadi adalah ibu membelai atau menepuk
bayinya. Dalam perkembangannya, anak kemudian mengeksploitasi dunianya
melalui sentuhan.
a. Makna Sentuhan
Menurut Jones (2005) dan Yarbrough (1985), secara garis besar ada
lima makna sentuhan yaitu:
Emosi positif. Setuhan seperti makna yang dimaksud terjadi antara dua
orang yang memiliki hubungan yang relatif erat. Menurut Burgoon (1991),

9
menyentuh mengandung perasaan positif seperti ketenangan, kesiapan,
percaya, kesamaan dan kesetaraan, dan informalitas.
Main-main, artinya sentuhan pertanda keinginan untuk bermain-main baik
sayang maupun agresif. Dalam kata lain sentuhan berusaha untuk
meringankan interaksi.
Kontrol. Sentuhan juga dapat untuk mengendalikan tingkah laku, sikap,
atau perasaan orang lain. Contoh Anda menyentuh orang lain dengan
maksud untuk Tetap disini, Pergi!, dan lain-lain.
Sebagai ritual. Banyak sentuhan yang bertujuan untuk melakukan ritual
tertentu. Misalnya adalah salaman tangan, memeluk, memegang kepala,
menempatkan lengan pada bahu, dan lain-lain.
Fungsi tertentu. Menyentuh kadangkala dikaitkan dengan kinerja dari
fungsi tertentu. Contohnya menghapus serpihan debu, membantu orang
lain keluar dari mobil, atau memeriksa orang sakit dengan menyentuh dahi.
Perlu diketahui bahwa sentuhan juga dapat menimbulkan
permasalahan.
b. Penghindaran Sentuhan
Meskipun kebutuhan untuk menyentuh selalu terjadi, ada saatnya
seseorang cenderung untuk menghindari sentuhan dari orang lain dalam
keadaan tertentu (Andersen, 2004).
Penghindaran terhadap sentuhan bisa berarti rasa takut. Ketakutan
terhadap komunikasi verbal juga cenderung menghindari sentuhan. Sentuhan
juga dapat dimaknai sebagai sebuah hubungan intim. Oleh sebab itu jenis
kelamin juga sangat mempengaruhi proses sentuhan.
c. Budaya dan Sentuhan
Seperti halnya bentuk komunikasi nonverbal lain, sentuhan juga
dipengaruhi budaya lokal. Sentuhan dapat bermakna negatif seperti di Korea,
dimana penjual dianggap tidak sopan apabila menyentuh pelanggan. Bagitu
juga dengan orang muslim yang tidak boleh menyentuh lawan jenis.
3.6 Parabahasa
Parabahasa adalah suara vokal yang memiliki sisi nonverbal. Contohnya
adalah intensitas/volume suara, intonasi, warna suara, siulan, siutan, tawa,
tangis, dan lain-lain.

10
Parabahasa memiliki keterkaitan yang erat dengan persepsi. Pendengar
akan memprediksi seseorang berdasarkan suara yang ia dengar. Sehingga
sepanjang berkomunikasi otak secara tidak sadar akan memaknai bentuk-bentuk
parabahasa yang terjadi, seperti deheman, tekanan suara, jeda, dan lain-lain.
Parabahasa juga dapat menunjuk persuasi. Misalnya ketika seseorang
diperdengarkan rekaman pidato yang berdurasi beberapa jam, dia akan
menangkap hal-hal penting berdasarkan parabahasa yang ada, baik itu intonasi,
tinggi-rendah (volume), dan sebagainya.
Parabahasa juga erat kaitannya dengan budaya. Budaya yang ada akan
membentuk cara berkomunikasi penganutnya. Misalnya orang Batak dikenal
dengan logat yang keras dan kasar. Atau orang Sunda yang berbicara lembut
sehingga terkesan ramah dan sopan.
3.7 Diam
Keadaan diam juga menunjukkan komunikasi yang sedang berlangsung.
Ekspresi diam memiliki fungsi-fungsi berikut ini:
Sebagai waktu untuk berpikir.
Untuk menyakiti orang lain, artinya diam digunakan sebagai bentuk
ketidakpedulian dan menolak orang lain.
Untuk merespon kecemasan pribadi. Maksudnya diam digunakan untuk
mengungkapkan perasaan cemas, malu, atau merasa terancam
Untuk mencegah komunikasi.
Untuk mengomunikasikan emosi, misalnya sebagai ungkapan jengkel yang
disertai muka cemberut. Atau sebagai ungkapan rindu saat diam menatap
sebuah foto.
Untuk membentuk efek tertentu, misalnya perselisihan yang sengaja
didiamkan secara berkepanjangan dengan tujuan menimbulkan efek
kehilangan.
Untuk tidak mengatakan apapun.
3.8 Pesan Spasial dan Teritorialitas
Ruang merupakan faktor penting dalam komunikasi antar pribadi. Ilmu
yang khusus membahas ini disebut dengan proksemik.
a. Jarak Proksemik

11
Jarak mengartikan hubungan yang terbentuk antara objek-objeknya.
Terbagi atas empat macam yaitu hubungan intim (0-18 inchi), hubungan
personal (18 inchi-4 kaki), hubungan sosial (4-12 kaki), dan hubungan publik
(12-lebih dari 25 kaki)
b. Teritorialitas
Teritorial atau kewilayahan juga menandakan komunikasi antar
individu di dalamnya. Misalnya hewan akan menandai wilayah kekuasaanya,
sehingga akan menyerang hewan lain yang memasuki wilayahnya. Seperti
halnya manusia, ketika ia memasuki suatu wilayah tertentu maka mau tidak
mau harus mengikuti budaya dan gaya komunikasi setempat.
3.9 Komunikasi Artefak
Komunikasi artefak terdiri atas pesan-pesan yang disampaikan melalui
objek benda yang dibuat oleh manusia. Contohnya seni, warna, pakaian,
perhiasan, dan gaya rambut. Bau-bauan juga termasuk ke dalamnya, seperti
cologne, parfum, dan lain-lain.
a. Dekorasi Tempat
Dekorasi sebuah tempat sangat mempengaruhi persepsi seseorang.
Termasuk dekorasi ruangan pribadi dapat menggambarkan siapa diri Anda.
Misalnya perabot rumah tangga akan dapat menjabarkan stastus dan harta
kekayaan Anda.
b. Komunikasi Warna
Komunikasi warna terjadi pada banyak tingkatan dimana masing-
masing warna menyampaikan pesan tersendiri kepada komunikan. Warna
juga mempengaruhi harapan terhadap sensasi rasa (Srivastava dan More,
2011). Contohnya pil, warna merah muda untuk rasa manis, kuning untuk
asin, putih dan biru untuk pahit, dan jingga untuk asam. Warna juga
dipengaruhi oleh budaya, bahkan jenis kelamin.
c. Pakaian dan Aksesoris
Pakaian memiliki beragam fungsi dan makna, sebagai pelindung
tubuh, menandakan status/level (dalam pekerjaan), profesionalitas, dan
perlambang budaya. Pakaian juga mempengaruhi perilaku diri sendiri dan
kelompok.

12
Begitu halnya perhiasan atau aksesoris, konsep pernikahan bisa dilihat
dari pakaian pengantin atau cincin. Contoh lainnya adalah tattoo, gambar
yang terpatri mengungkap sisi pemiliknya.
d. Bau-Bauan
Bau-bauan atau aroma yang keluar dari parfum, cologne, air, dan lain-
lain merupakan bentuk komunikasi. Ilmu yang mendalami ini disebut dengan
olfaktik. Menurut para ilmuwan, manusia mampu membedakan bau
sebanyak 10.000 macam. Berikut ini adalah beberapa bentuk-bentuk
komunikasi yang disampaikan bau-bau:
Untuk menarik orang lain. Secara ilmiah bau laki-laki menarik kaum
perempuan begitu sebaliknya. Manusia memancarkan hormon seks
feromon yang dapat membangkitkan hasrat seksual (Kluger, 2008). Parfum
merupakan bebauan buatan yang juga menarik orang lain sehingga
terdapat variasi bau.
Untuk membantu rasa. Tanpa bau, jelas akan sangat mengganggu.
Contohnya adalah jualan makanan di jalan, dengan adanya bau makan akan
menarik calon pembeli.
Untuk membantu memori. Bau yang kuat akan membantu memori manusia
untuk mengingat. Adanya pengalaman emosional akan menuntun
seseorang untuk mengingat bau yang ia terima. Misalnya seorang dosen
yang memiliki bau yang khas akan selalu diingat oleh siswanya.
Sebagai penggambaran. Bau sering diciptakan untuk menggambarkan
identitas atau produk tertentu. Itulah mengapa ada parfum yang dibuat
sebagai gambaran beberapa artis tertentu, seperti Ariel, Lady Gaga, dll.
3.10 Komunikasi Temporal
Ilmu yang membahas hal ini disebut dengan kronemik, yaitu bagaimana
pengaruh pesan terhadap penggunaan waktu. Perhatikan psikologi waktu yaitu
masa lampau, masa sekarang, dan masa mendatang. Masa lampau jelas sudah
berlalu dan menjadi referensi Anda. Masa sekarang adalah masalah bagaimana
Anda untuk besok, bukan kemarin. Lalu masa mendatang adalah padangan Anda
ke depan sehingga butuh persiapan hari ini.
Orientasi waktu tersebut tergantung pada kondisi sosioekonomi dan
pengalaman personal Anda (Gonzales dan Zimbardo, 1985). Contoh

13
pengalaman masa kecil Anda akan berimbas pada masa dewasa Anda, peran
orang tua sangat penting disini.
Ingat juga pengaruh waktu terhadap budaya yang berlaku, tentu hal
yang riskan bila Anda mengirim pesan singkat (SMS) kepada orang lain di tengah
malam.
a. Waktu Formal dan Informal
Waktu formal biasanya diikat oleh suatu sistem atau aturan.
Sementara waktu informal bisa mengandung ambigu. Misalnya ungkapan
kata terlambat, dalam perkuliahan terlambat dapat diartikan toleransi
beberapa menit.
b. Monokromatis dan Polikromatis
Tabel 2. Perbandingan Monokromatis dan Polikromatis
Monokromatis Polikromatis
Satu hal dilakukan dalam satu waktu Beberapa hal dilakukan sekaligus
Perencanaan waktu yang serius Perencanaan waktu yang bermanfaat
Mempertimbangkan kelurga dan
Mempertimbangkan kepentingan kerja
hubungan interpersonal
Tergantung kepentingan privasi individu Terkait satu sama lain

c. Jam Sosial (The Social Clock)


Jam sosial berhubungan erat dengan budaya. Jam sosial menjadi
referensi Anda untuk mengevaluasi diri dan mengembangkan
profesionalitas. Ketika Anda konsisten berada bersama kelompok sosial,
maka Anda akan merasa nyaman, kompeten, dan merasa bagian dari
kelompok.
4. Kompetensi Komunikasi Nonverbal
Berikut ini adalah beberapa saran dalam menerima (decoding) dan mengirim
(encoding) pesan nonverbal. Hal terpenting dalam mengasah kemampuan komunikasi
nonverbal adalah dengan sadar akan pesan nonverbal tersebut, yaitu dengan
mengamati perilaku nonverbal secara efektif.
4.1 Menerima Pesan Nonverbal (Decoding)
Perhatikan dengan penuh sebelum melakukan penilaian. Lakukan interpretasi
terhadap perilakunya, namun ingat persepsi pertama Anda bisa saja salah.

14
Tetap bersifat sementara. Jangan terlalu cepat untuk menarik kesimpulan, perlu
menguji persepsi awal Anda berdasarkan bukti-bukti lain.
Ingatlah, pesan nonverbal datang dari berbagai sumber.
Semua kemungkinan bisa saja salah, sinyal nonverbal bisa berarti banyak hal.
Ingatlah, pesan nonverbal memiliki hubungan erat dengan budaya masing-
masing. Anda dapat menginterpretasikan sesuatu hal menurut budaya Anda
sendiri, pada hal tersebut bertentangan dengan lawan komunikasi Anda.
Pertimbangkan banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku nonverbal
orang lain. Terlebih kondisi fisik bisa menipu, misalnya orang yang berbibir
sumbing.
4.2 Mengirim Pesan Nonverbal (Encoding)
Perhatikan komunikasi nonverbal yang Anda pilih. Identifikasi dan berhati-hati
dalam mengomunikasikan apa yang akan dikomunikasikan.
Konsisten antara pesan nonverbal dengan pesan verbal, hindari pesan verbal yang
dilain sisi menunjukkan pesan nonverbal yang lain.
Pesan nonverbal yang tidak tepat akan diartikan negatif.
Hindari pesan nonverbal yang ekstrem dan monoton. Sedikit pesan nonverbal
mengandung banyak arti.
Perhatikan situasi dan kondisi yang terjadi. Komunikasi nonverbal yang efektif
bersifat situasional.
Aturlah kontak mata dengan pembicara.
Hindari hal-hal yang tidak layak untuk dilakukan di depan publik, misalnya
menyisir rambut, membersihkan gigi, dan lain-lain.
Hindari penggunaan cologne atau parfum yang berbau kuat/tajam.
Berhati-hati dalam sentuhan, tergantung level hubungan dan konteks yang
sedang terjadi.

15
KESIMPULAN

Komunikasi noverbal adalah komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata, baik


lisan maupun tulisan. Bentuk-bentuknya berupa gerak tubuh atau gestur, senyuman dan
cemberut, bukaan mata, perhiasan, sentuhan, intonasi, bahkan saat seseorang diam
sekalipun. Perlu diketahui juga pesan nonverbal sangat erat kaitannya dengan aspek
budaya. Jadi bisa dikatakan juga pesan nonverbal merupakan persepsi individu atau
kelompok.

Komunikasi nonverbal itu sangatlah penting karena merupakan salah satu


indikator ketertarikan sekitar terhadap Anda. Di samping itu, komunikasi nonverbal juga
menggambarkan situasi komunikasi interpersonal Anda.

Fungsi pesan nonverbal antara lain, berhubungan erat dengan pesan verbal,
membantu dalam pengolahan kesan, membentuk hubungan, melengkapi struktur
percakapan, mempengaruhi dan menipu, serta berperan penting dalam mengekspresikan
emosi.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat mengelak terjadinya


komunikasi nonverbal. Artinya manusia menemui dan membutuhkan komunikasi
nonverbal untuk hidupnya, karena pada hakikatnya manusia selalu menerima (decoding)
dan mengirim (encoding) pesan nonverbal. Oleh karena manusia perlu melatih
kompetensi baik dalam hal mengirim, maupun menerima pesan nonverbal.

16
DAFTAR PUSTAKA

Joseph, DeVito. 2012. The Interpersonal Communication. New York: Pearson Publisher

17