Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Dasar hukum mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan


Tinggi baik Negeri maupun Swasta adalah :
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, pasal 37 ayat (2) tentang kurikulum
pendidikan tinggi wajib memuat :
- Pendidikan Agama
- Pendidikan Kewarganegaraan
- Bahasa
3. Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) Nomor :
43/DIKTI/Kep/2006.

B. Visi, Misi Serta Kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Mata


Kuliah Pengembangan Kepribadian.
Visi Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata kuliah pengembangan
kepribasian di Perguruan Tinggi adalah merupakan sumber nilai dan
pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi guna
mengantarkan mahasisiwa memantapkan kepribasiannya sebagai manusia
Indonesia seutuhnya.
Misi Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata kuliah pengembangan
kepribasian di Perguruan Tinggi adalah membantu mahasiswa
menantapkan kepribadiannya agar secara konsisten mampu mewujudkan
nilai-nilai dasar Pancasila, rasa kebangsaan, dan cinta tanah air sepanjang
hayat dalam menguasai, menerapkan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni yang dimilikinya dengan rasa tanggung
jawab.
Kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan untuk menggunakan
pengetahuan kewarganegaraan, kemampuan berfikir kritis, bersikap
rasional, etis, estetis dan dinamis, berpandangan luas sebagai manusia
intelektual dan bersikap demokratis yang berkeadaban serta memiliki
kepribadian, mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan
sehari-hari. Dan mengantarkan mahasisiwa memiliki kemampuan untuk :
a. Menjadi ilmuwan yang professional yang memiliki rasa
kebangsaan, cinta tanah air, demokratis yang berkeadaban.
b. Menjadi warganegara yang memiliki daya saing, berdisiplin dan
berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan yang damai
berdasarkan sistem nilai Pancasila.

1
BAB II
PANCASILA

A. Timbulnya Filsafat
Manusia adalah makhluk yang dapat kagum atau heran terhadap hal-hal
yang dijumpainya. Ia heran terhadap lingkungan hidupnya bahkan dapat heran
terhadap dirinya sendiri. Manusia dapat mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal
yang tidak diketahuinya dan dapat mengangsikan sesuatu yang belum jelas
kedudukannya.
Kekaguman atau keheranan (wonder) manusia akan diikuti dengan
mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang bercorak kefilsafatan berusaha untuk
mengetahui hakikat atau esensi yang ditanyakan itu. Banyak filsuf menunjukkan
rasa heran (bahasa Yunani thaumasia) sebagai filasat. Menurut Aristoteles, filsafat
mulai dengan suatu rasa kagum-kekaguman itu timbul dari suatu aporia, yaitu
suatu kesulitan karena adanya perbandingan-perbandingan yang saling
bertentangan. Istilah Yunani aporia berarti problem, pertanyaan tanpa jalan
keluar. Filsafat dimulai dari: (1) ketika manusia kahum terhadap dunia dan
berusaha untuk menerangkan gejala-gejalanya agar terhindar dari ketidaktahuan.
Pada tahap awal kekaguman manusia terarahpada hal-hal yang bersangkutan
dengan alam semesta (universe), atau hal-hal yang di luar dirinya, (2) kesangsian,
keraguan dan sikap skeptis juga merupakan tahap awal permunculan fisafat.
Agustinus, Rene Descartes, menyatakan kesangsian sebagai sumber utama
pemikirannya. Semua gejala alam dijelaskan oleh mitos dan dongeng. Akan tetapi
penjelasan yang dikemukanan itu tidak dapat dibuktikan dan tidak masuk akal.
Sehingga para filsuf meragukan atau menyangsikan cerita-cerita mitos dan mulai
berspekulai dengan menggunakan akalnya. Kesangsian para filsuf terhadap mitos
misalnya tentang gejala alam yang berupa pelangi. Dikatakan bahwa pelangi
adalah tangga bidadari. Penjelasan semacam itu diragukan oleh filsuf
Xenophanes yang mengatakan bahwa pelangi adalah awan. Filsuf Anaxagoras
menyatakan bahwa pelangi adalah pemantulan matahari pada awan. (3)
Selanjutnya manusia juga takjub, kagum, dan heran terhadap dirinya sendiri.
Diajukan pertanyaan : apa dan siapa manusia itu?. Darimana asal manusia?,
Kemana pada akhirnya hidup manusia itu?. Socrates dinyatakan sebagai filsuf
uyang menindahkan filsafat dari langit ke bumi. Artinya, sasaran yang diselidiki
bukan lagi alam melainkan manusia. Dengan mempergunakan akalnya mereka
menghasilkan pemikiran yang dapat dibuktikan dan diteliti kebenarannya oleh
orang lain.
2
B. Arti Secara Etimologi

Istilah filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah


(Arab), philosophy (Inggris), philosophia (Latin), philosophie (Jerman, Belanda,
Perancis). Semua istilah itu bersumber pada istilah Yunani philosophia. Istilah
Yunani philein berarti mencintai, sedangkan philos berarti teman. Selanjutnya
istilah sophios berarti bijaksana, sedangkan sophia berarti kebijaksanaan.
Dengan demikian ada dua arti secara etimologi dari filsafat yang sedikit
berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mengacu pada asal kata philein dan
sophos, maka berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (bijaksana
dimaksudkan sebagai kata sifat). Kedua, apabila filsafat mengacu pada asal kata
philos dan sophia, maka artinya adalah teman kebijaksanaan ( kebijaksanaan
dimaksudkan sebagai kata benda).
Menurut sejarah, Pythagoras (572-497 SM) adalah orang yang pertama
kali memakai kata philosophia. Ketika beliau dittany apakah ia sebagai orang yang
bijaksana, maka Pythagoras dengan rendah hati menyebut dirinya sebagai
philosophos, yakni pencinta kebijaksanaan (lover of visdom). Banyak sumber yang
menegaskan bahwa Sophia mengadung arti yang lebih luas daripada
kebijaksanaan. Artinya ada berbagai macam antara lain : (1) kerajinan, (2)
kebenaran pertama, (3) pengetahuan yang luas, (4) kebijakan intelektual, (5)
pertimbangan yang sehat, (6) kecerdikan dalam memutuskan hal-hal praktis.
Dengan demikian asa mula kata filsafat itu sangat umum, yang intinya adalah
mencari keutamaan mental the pursuit of mental excellence.

C. Filsafat Merupakan Usaha untuk Memperoleh Pandangan yang


Menyeluruh.
Filsafat mencoba menggabungkan kesimpulan-kesimpulan dari berbagai
ilmu dan pengalaman manusia menjadi suatu pandangan dunia yang konsisten.
Para filsuf berhasrat meninjau kehidupan tidak dengan sudut pandang yang
khusus sebagaimana dilakukan oleh seorang ilmuwan. Para filsuf memakai
pandangan yang menyeluruh terhadap kehidupan sebagai suatu totalitas. Menurut
para ahli filsafat spekulatif (yang dibedakan dengan filsafat kritis), dengan
tokohnya C.D. Broad, tujuan filsafat adalah mengambil alih hasil-hasil pengalaman
manusia dalam bidang keagamaan, etika dan ilmu pentetahuan, kemudian hasil-
hasil tersebut direnungkan secara menyeluruh. Dengan cara ini diharapkan dapat
diperoleh beberapa kesimpulan umum tentang sifat-sifat dasar alam semesta,
3
kedudukan manusia di dalamnya serta pandangan-pandangan ke depan. Usaha
filsafati semacam ini sebagai reaksi terhadap masa lampau di mana filsafat hanya
terarah pada analisis pada bidang khusus. Usaha yang hanya mementingkan
sebagian dari pengetahuan atau usaha yang hanya menitik beratkan pada
sebagian kecil dari pengalaman manusia. Para filsuf seperti : Plato, Aristoteles,
Thiman Aquinas, Hegel, Bergson, Joh Dewey dan A.N. Whitehead termasuk flsuf
tang berusaha untuk memperoleh pandangan tentang hal-hal secara
komprehensif.

D. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Pancasila sebagai system ilmu tidak sama dengan Pancasila sebagai


system filsafat, karena itu perlu dipertanyakan :
1. Apakah Pancasila memiliki cirri-ciri filsafat secara ilmiah?
2. Jika Pancasila sebagai system filsafat bagaimanakah bentuk konsep ontologi,
epistemologi dan aksiologinya?
Sebagai system ilmiah Pancasila harus memenuhi pengetahuan ilmiah, yaitu :
1. Memiliki obyek yang khas
2. Milik masyarakat (komunal) atau collective consiousness
3. Selalu dipertanyakan dengan skeptis
4. Memiliki metode yang khas
5. tersusun secara sistematik
6. Memiliki nilai kebenaran
7. Kebenarannya disepakati bersama, dan
8. Memiliki sifat universal.
Mengacu pada persyaratan tersebut, Pancasila terdiri dari lima sila yang
spesifik bersal dasri nilai-nilai dan norma yang berasal dari alam masyarakat
Indonesia, sehingga memenuhi persyaratan memiliki obyek yang khas dan
merupakan kesadaran kolektif. Pancasila selalu dipertanyakan dengan skeptis,
mangacu pada suatu kondisi bahwa Pancasila selalu bias diuji ketangguhannya
dan kebenarannya mulai dari awal kemerdekaan sampai saat ini. Dengan
menggunakan metode induktif yang bermula dari keberadaan dan hakikat
Pancasila akhirnya sampai pada rumusan Pancasila yang kefilsafatan.

Tersusun secara sistematik merujuk pada hierarki yang saling mengisi satu
sama lain. Sebagai contoh, sila Ketuhanan yang Maha Esa memayungi keempat
sila lainnya ang bersifat organis majemuk tunggal yaitu terdiri dari lima sila yang
4
tidak terpisah satu sama lain melainkan satu kesatuan yang bersifat organis, tiap
sila mempunyai kedudukan dan fungsi sendiri-sendiri, antar sila yang satu dengan
yang lain saling melengkapi.
Kesatuan sila-sila Pancasila berdasarkan pada kodrat yang menjadi
bawaan manusia, Pancasila merupakan rumusan dari sifat-sufat kodrat manusia
sewajarnya. Karena itulah Pancasila memiliki sifat universal. Dengan terpenuhinya
syarat-syarat sebagaimana pengetahuan ilmiah, Pancasila dapat dikembangkan
sebagai suatu system. Pancasila sebagai sistem filsafat harus mempunyai konsep
ontology, hakikat apa yang dikaji; konsep epistemology, bagaimana cara
mendapatkan pengetahuan Pancasila secara benar dan konsep aksiologi, nilai
kegunaan Pancasila terutama sebagai falsafah dab peranan hidup bangsa
Indonesia.
Konsep ontologi mengacu pada objek/isi arti Pancasila yang abstrak umum
universal yaitu Ke Tuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, Keadilan
dimaksudkan tidak hanya terdapat dalam fikiran atau angan-angan, justru karena
Pancasila itu merupakan cita-cita bangsa yang menjadi dasar filsafat Negara. Sila-
sila Pancasila itu berhubungan dengan Tuhan, manusia, kesatuan, rakyat, dan
adil, yang menjadi landasan dari Pancasila. Rumusan hubungan yang ada di
antara Negara denga Tuhan, manusia, kesatuan, rakyat dan adil, ialah kesesuaian
sifat-sifat dan keadaan-keadaan di dalam Negara dengan hakikat Tuhan, manusia,
kesatuan, rakyat dan adil.
Secara aksiologi realisasi, pelaksanaan atau penjelmaan isi arti Pancasila
yang hakiki dalam kehidupan memerlukan pengkhususan isi rumusan yang umum
kolektif dan khusus. Isi arti umum kolektfi adalah realisasinya dalam bidang-bidang
kehidupan dan yang khusus bagi realita dalam suatu lapangan kehidupan tertentu.
Konsekwensi logis dari hubungan tersebut bahwa segala sesuatu mulai
dari kepribadian bangsa sampai pada pelaksanaan dalam kehidupan
bermasyarakat harus sesuai dengan hakikat yang terdapat pada sebabnya yaitu
Pancasila. Dengan pemikiran Notonagoro adalah untuk menemukan dasar
hubungan kefilsafatan antara Tuhan, manusia, kesatuan, rakyat dan adil sebagai
landasan Pancasila, sebagai landasan yang menjelma sebagian atau seluruhnya
kepaqda akobatnya yaitu Negara Indonesia.
Secara epsitemologi Pancasila sebagai system filsafat mengajak untuk
menggali bagaimana cara mendapatkan pengetahuan secara benar. Berdasarkan
pemikiran falsafat yang lebih menekankan pemikiran secara
komprehensif,\metode yang digunakan bias melalui logika berfikir maupun dengan

5
menggunakan metode ilmiah yaitu induktif dan deduktif. Maksudnya kebenaran
Pancasil selalu bias diuji.

E. Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa dan Dasar Negara Indonesia

Latar Belakang
Sejak berdirinya Republik Indonesia, Bangsa Indonesia sudah
merumuskan nilai-nilai dasar kehidupan kolektif dalam sila-sila Pancasila. Berarti
Pancasil bukanlah sebuah ideologi yang ditanamkan dari atas, melainkan
merupakan manifestasi moralitas publik.
Pancasila merupakan sebuar ideology yang membuka dialog yang kreatif
dan dinamis dengan pemikiran-pemikiran lain, sehingga nilai-nilai dasarnya
mengalami pendalaman dan pelebaran, serta tidak disempitkan pada tujuan-
tujuan politis strategis belaka. Pancasila tidak lain diangkat dari pandangan hidup
masyarakat Indonesia sendiri, sehingga merupakan kausa materialis (asal bahan)
Pancasila.
Unsur-unsur Pancasila tersebut kemudian diangkat dan dirumuskan oleh
para pendiri Negara, sehingga Pancasila berkedudukan sebagai dasar Negara
dan ideology bangsa dan Negara Indonesia. Dengan demikian Pancasila sebagai
ideology bangsa dan Negara Indonesia berakar pada pandangan hidup dan
budaya bangsa, dan bukannya mengangkat atau mengambil ideology dari bangsa
lain.
Pengertian ideology secara umum dapat dikatakan sebagai suatu
kumpulan gagasan-gagasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan serta kepercayaan-
kepercayaan yang bersifat sistematis yang memberikan arah dan menyangkut
tingkah laku sekelompok manusia tertentu, dalam pelbagai bidang kehidupan. Hal
ini menyangkut berbagai bidang kehidupan yaitu :
a. Bidang politik, termasuk didalamnya bidang hukum, pertahanan
dan keamanan.
b. Bidang social
c. Bidang kebudayaan
d. Bidang keagamaan
(Sumargono, tanpa tahun:8)

Maka ideology Negara dalam arti cita-cita Negara atau cita-cita yang
menjadi basis bagi suatu teori atau system kenegaraan untuk seluruh rakyat dan

6
bangsa yang bersangkutan, pada hakikatnya merupakan asas kerokhanian yang
antara lain memiliki cirri sebagai berikut :
a. Mempunyai derajat yang tinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan
kenegaraan.
b. Oleh karena itu mewujudkan suatu asas kerukhanian, pandangan dunia,
pandangan hidup, pegangan hidup yang harus dikembangkan, diamankan,
dilestarikan kepada generasi penerus bangsa, diperjuangkan dan
dipertahankan dengan kesediaan berkorban. (Notonagoro, tanpa
tahun:2,3)
Ideologi Pancasila sebagai ideology bangsa dan negara tumbuh dan berkembang
melalui dan dalam pandangan hidup masyarakat dan bangsa Indonesia sendiri
dan melalui wakil-wakil bangsa dalam lembaga pembentuk Negara dengan suatu
kesepakatan serta perjanjian yang luhur diangkat menjadi ideology bangsa dan
Negara Indonesia. Sebagai suatu ideology, maka Pancasila merupakan sumber
cita-cita, harapan nilai-nilai serta norma-norma yang dianggap baik, sehingga
ideology Pancasila pada hakikatnya demi kesejahteraan hidup bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai Dasar Filsafat atau Dasar Falsafah Negara (Philosfiche
Gronslag) dari Negara, ideology Negara atau (Staatsidee). Pancasila merupakan
suatu dasar nilai serta norma untuk mengatur pemerintahan Negara atau dengan
lain perkataan Pancasila merupakan suatu dasar untuk mengatur
penyelenggaraan negara. Konsekwensinya seluruh pelaksanaan dan
penyelenggaraan negara terutama segala peraturan perundang-undangan negara
dijabarkan dan diderivasikan dari nilai-nilai Pancasila. Maka Pancasila merupakan
Sumber dari Segala Sumber Hukum, Pancasila merupakan sumber kaidah hukum
negara yang secara konstitusional mengatur Negara republic Indonesia beserta
seluruh unsur-unsurnya yaitu rakyat, wilayah serta pemerintahan negara. Sebagai
sumber dari segala sumber hukum atau sebagai sumber tertib hukum Indonesia
maka Pancasila tercantum atau dijabarkan lebih lanjut dalam pokok-pokok pikiran,
yang meliputi suasana kebatinan dari UUD 1945, yang pada akhirnya
dikonkritisasikan atau dijabarkan dalam pasal-pasal UUD 1945, serta hukum
positif lainnya. Dasar formal kedudukan Pancasila sebagai dasar Negara Republik
Indonesia tersimpul dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang secara yuridis
memiliki makna sebagai dasar Negara. Walaupun dalam kalimat terakhir dalam
Pembukaan UUD 1945 tidak tercantum kata Pancasila secara ekplisit namun
anak kalimat denga berdasar, kepada ini memiliki makna dasar Negara
adalah Pancasila.

7
Kedudukan Pancasila sebagai dasar Negara tersebut dapat dirinci sebagai
berikut :
a. Pancasila sebagai dasar Negara adalah merupakan sumber dari segala
sumber hukum (sumber tertib hukum) Indonesia. Dengan demikian
Pancasila merupakan asas kerokhanian tertib hukum Indonesia yang
dalam Pembukaan UUD 1945 dijelmakan lebih lanjut ke dalam empat
pokok pikiran.
b. Meliputi suasana kebatinan (Geistlichentergrund) dari Undang-Undang
Dasar 1945.
c. Mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar Negara (baik hukum dasar
tertulis maupun tidak tertulis).
d. Menangdung norma yang mengharus Undang-Undang Dasar mewajibkan
pemerintah dan lain-lain penyelenggara Negara (termasuk para
penyelenggara partai) untuk memelihara budi pekerti (moral) kemanusiaan
yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Hal ini
sebagaimana tercantum dalam pokok pikiran keempat yang berbunyi
sebagai berikut : Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa,
menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
e. Merupakan sumber semangat bagi Undang-undang Dasar 1945, bagi
penyelenggaraan Negara, para pelaksana pemerintah (juga para
penyelenggara partai). Hal ini dapat dipahami karena semangat adalah
penting bagi pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara, karena
masyarakat dan Negara Indonesia senantiasa tumbuh dan berkembang
seiring dengan perkembangan zaman dan dinamika masyarakat. Dengan
semangat yang bersumber pada asas kerokhanian Negara sebagai
pandangan hidup bangsa, maka dinamika masyarakat dan Negara akan
tetap diliputi dan diarahkan asas kerokhanian Negara.

8
Kepustakaan :
Abbas Hamuni Rintaredja; Konsep Teori Pengetahuan dalam Filsafat Pancasila,
Internship Dosen Filsafat Pancasila, Yogyakarta, 1997.
Ali Mudhofir, Pengantar Filsafat, Internship Dosen Filsafat Pancasila, Yogyakarta,
1997.
Kaelan, M.S, Pendidikan Pancasila, Yuridis Kenegaraan; Yogyakarta, Penerbit
Paradigma, 1998.
Sri Suprapto, MS, Hakikat Sila-Sila Pancasila. Internship Dosen Filsafat Pancasila,
Yogyakarta, 1997.
Yuyun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Popular, Jakarta: Sinar
harapan, 1984.

9
BAB III
IDENTITAS NASIONAL

A. Karakteristik Identitas Nasional

Pengertian dan Konsep


Pengertian identitas nasional pada hakikatnya adalah manifestasi
nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan
satu bangsa (nation) dengan ciri-ciri khas, dan dengan ciri-ciri yang khas
tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya.
(Wibisono Koento:2005).
Identitas berasal dari kata identity yang berarti ciri-ciri, tanda-tanda,
atau jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang
membedakannya dengan yang lain. Dalam terminology antropologi,
identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan
kesadaran diri pribadi sendiri, golongan, kelompok, komunitas atau negara
sendiri.
Kata Nasional dalam idetitas nasional merupakan identitas yang
melekat pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh
kesamaan-kesamaan, baik fisik seperi budaya, agama, bahasa maupun
nin fisik seperti keinginan, cita-cita dan tujuan. Istilah identitas nasional
atau identitas bangsa melahirkan tindakan kelompok (collective action)
yang diberi atribut nasional.
Nilai-nilai budaya yang berada dalam sebagian besar masyarakat
dalam suatu negara dan tercermin di dalam identitas nasional bukanlah
barang jadi yang sudah selesai dalam kebekuan normative dan dogmatis,
malainkan sesuatu yang terbuka yang cenderung terus menerus
berkembang karena hasrat menuju kemajuan yang dimiliki oleh
masyarakat pendukungnya. Implikasinya adalah identitas nasional
merupakan sesuatu yang terbuka untuk diberi makna baru agar tetap
relevan dan fungsional dalam kondisi actual yang berkembang dalam
masyarakat.
Arti dan makna identitas nasional atau bangsa memiliki sejumlah
pertanyaan yang fundamental. Nilai apakah yang dapat menjadi dasar bagi
suatu identitas bangsa? Apakah nilai-nilai etnis dan bahasa merupakan
nilai-nilai yang paling penting? Ataukah kepada nilai-nilai yang paling
penting? Taukah kepada nilai-nilai yang dapat mengikat kita secara khusus
10
sebagai suatu identitas bersama seperti kebangsaan atau nasionalisme?
Mungkinkan etika kemajemukan merupakan solusi strategis dalam
mempertahankan kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa?.
Pertanyaan yang berkaitan dengan keanggotaan dalam komunitas
negara tampaknya harus dihadapi oleh hamper semua masyarakat
dewasa ini. Kalau tidak dapat diselesaikan secara memuaskan akan
menimbulkan kekerasan dan kekacauan (chaos). Dan ini terbukti dengan
terus meningkatnya konflik-konflik bernuansa kekerasan dan isu
separatisme di beberapa daerah di Indonesia.
Identitas bangsa (national identity) sebagai suatu kesatuan ini
biasanya dikaitkan dengan nilai kerikatan dengan tanah air (ibu pertiwi),
yang berwujud identitas atau jati diri bangsa dan biasanya menampilkan
karakteristik tertentu yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain, yang pada
umumnya dikenal dengan istilah kebangsaan atau nasionalisme. Rakyat
dalam konteks kebangsaan tidak tidak mengacu sekadar kepada mereka
yang berada pada status social yang rendah, akan tetapi mencakup
seluruh struktur social yang ada. Semua terikat untuk berpikir dan merasa
bahwa mereka adalah satu. Bahkan ketika berbicara tentang bangsa,
wawasan kita tidak terbatas pada realitas yang dihadapi pada suatu saat,
tentang suatu komunitas yang hidup saat ini, melainkan juga mencakup
mereka yang telah meninggal dan yang belum lahir (Anderson, 2001).

Oleh karena itu, setiap warganegara perlu memiliki kesadaran akan


arti pentingnya penghargaan terhadap suatu identitas bersama yang
tujuannya adalah menegakkan Bineka Tunggal Ika atau kesatuan dalam
perbedaan (unity in diversity) satu solidaritas yang didasarkan pada
kesantunan (civility). Kesatuan meliputi pembawaan yang ramah sikap
hormat dan sopan (Geertz, 1992). Hal ini berarti pula sebagai suatu system
politik yang didasarkan pada kekuasaan yang dimiliki bersama (demokrasi)
yang dilandasi oleh tertib hukum, kepedulian terhadap kesejahteraan
umum, dan keseimbangan antara hak pribadi dan kepentingan umum.
Karena suatu identitas bersama itu menetapkan dasar keanggotaan
di dalam suatu komunitas Negara, maka hal ini akan menjadi masalah
yang paling mendasar dan perlu dikaji. Membangun suatu identitas
bersama berkaitan erat dengan pemahaman terhadap nilai-nilai dan
simbol-simbol yang mendasari suatu system politik (Surbakti, 1999).
Kelompok-kelompok masyarakat semuanya memiliki nilai-nilai, norma-
11
norma dan symbol-simbol tersendiri (lagu, slogan, bendera, tata cara
komunikasi) terutama di dalam suatu masyarakat yang luas dan heterogen.
Dan masalah mempertemukan identitas yang berbeda-beda ini merupakan
hal yang sangat sensitive bagi Negara seperti Indonesia yang
masyarakatnya bersifat sangat mejamuk dan bahkan sangat multicultural
(Prayitno & Trubus, 2002).
Faktor-faktor Pembentukan Identitas Nasional
Sebagaimana dijelaskan, pembentukan Negara, bangsa sangat berkaitan
dengan identitas yang tersedia u ntuk menyatukan masyarakat. Factor-
faktor yang diperkirakan menjadi identitas bersama suatu masyarakat
(bangsa) meliputi primordial, sacral, tokoh, bhineka tunggal ika, konsep
sejarah, perkembangan ekonomi dan kelembagaan (Surbakti, 1999).
Berikut ini secara singkat dijelaskan keenam faktor tersebut :
a. Primordialisme
Ikatan kekerabatan (darah dan keluarga) dan kesamaan suku
bangsa, darah, bahasa, dan adapt istiadat merupakan faktor-faktor
primordial yang dapat membentuk bangsa negara. Primordialisme
tidak hanya menimbulkan pola perilaku yang sama, tetapi juga
melahirkan persepsi yang sama tentang masyarakat Negara yang
dicita-citakan.
Walaupun ikatan kekerabatan dan kesamaan budaya itu tidak
menjalin terbentuknya suatu bangsa, karena mungkin ada faktor
yang lain yang lebih menonjol, namun kemajemukan secara
budaya mempersukar pembentukan suatu nasionalitas baru
( bangsa-negara) karena perbedaan ini akan melahirkan konflik
nilai.
Selain Negara Indonesia yang memiliki tingkat kemajemukan
masyarakat yang tinggi. Salah saru Negara yang mengalami
kesukaran dalam membentuk nasionalitas baru karena
kemajemukan suku bangsa, yakni Malaysia. Negara ini mencakup
tiga kelompok masyarakat, seperti Melayu, Cina dan India yang
jumlah anggotanya relative seimbang. Demikian pula dengan
Negara Filipina, yang terdiri atas kelompok masyarakat beragama
Katholik, Kristen, Islam, dan lokal sampai saat ini juga masih
menghadapi permasalah nasionalitasnya.
b. Keagamaan (Sakralitas Agama)

12
Kesamaan agama yang dipeluk oleh suatu masyarakat, atau ikatan
ideology dokriner yang kuat dalam suatu masyarakat merupakan
factor sacral yang dapat membentuk bangsa-negara. Ajaran-ajaran
agama dan ideology dokriner tidak menggambarkan semata-mata
bagaimana seharusnya hidup (dalam hal ini cara hidup yang suci,
agama menjanjikan surga, ideology dokriner menjanjikan
masyarakat tanpa kelas), karena menggambarkan cara hidup yang
seharusnya dan tujuan suci. Walaupun kesamaan agama atau
ideology tidak menjamin bagi terbentuknya suatu bangsa-negara,
sebagaimana ditunjukkan dengan kenyataan lebih dari sepuluh
Negara Arab untuk Islam, puluhan Negara Amerika latin untuk
Katholik dan sejumlah Negara komunis, namun factor ini ikut
menyumbangkan terbentuknya satu nasionalitas.
c. Tokoh (Pemimpin bangsa)
Kepemimpinan dari seorang tokoh yang disegani dan dihormati
secara luas oleh masyarakat dapat pula menjadi factor yang
menyatukan suatu bangsa dan negara. Pemimpin ini menjadi
panutan sebab warga masyarakat mengidentifikasikan diri kepada
sang pemimpin, dan ia dianggap sebagai penyambung lidah
masyarakat. Berdasarkan masayarakat yang tengah membebaskan
diri dari belenggu penjajahan, biasanya muncul pemimpin yang
kharismatik untuk menggerakkan massa rakyat mencapai
kemerdekaannya. Kemudian pemimpin ini muncul sebagai simbol
persatuan bangsa, seperti tokoh dwitunggal Soekarno-Hatta di
Indonesia dan Josepht Bros Tito di Yugoslavia. Akan tetapi,
pemimpin saja mungkin tidak menjamin bagi terbentuknya suatu
bangsa Negara, sebab pengaruh pemimpin bersifat sementara.

B. Proses Berbangsa dan Bernegara.


Memalui proses perjuangan melawan kolonialisme dan keterbelakangan
dalam berbagai bidang serta hasrat menjadi anak manusia yang
manusiawi setara dengan anak manusia manapun di planet kecil kita ini,
maka lahir hasrat untuk membangun Indonesia sebagai sebuah bangsa,
tanah air dan negara. Keinginan yang dijabarkan dengan sederhana dalam
slogan di tembok-tembok kota Merdeka atau Mati!., pertanda bahwa ide
kemerdekaan sudah menjelma jadi kekuatan material. Kalau proklamasi
Kemerdekaan 17 Agustus 1945, hanya didukung oleh segelintir
13
cendekiawan dan lapisan elite lainnya, kalau dukungan ini hanya terdapat
di Jawa, sulit dibayangkan RI bias bertahan sampai sekarang, karena itu
saya kira sangat beralasan jika proklamasi menyebut dalam teks
Proklamasi atas nama bangsa Indonesia sebagai jawaban mendesak
terhadap keadaan pada waktu itu.
Bagaimana menjabarkan konsep bangsa Indonseia ke dalam bentuk
Negara merupakan pertanyaan berikut yang jawabannya ditagih dari
semua yang setuju manjadi Indonesia?.
Kesempatan bagi semua etnik dan asal turunan di berbagai pulau dan
daerah untuk menjawab pertanyaan inilah yang terutama pada masa Orde
Baru dan selanjutnya tidak diberikan kesempatan dengan berlangsungnya
system otoritarianisme dan militerisme serta system sentralistik yang ketat.
Pratek selama ini telah membuat daerah daerah, terutama di luar Jawa,
merasakan diri dan dihadapkan dengan kenyataan tidak lain dari sapi
perahan pemerintah pusat di Jakarta. Harapan dan mimpi ketika turut
menegakkan RI hampir sirna dan pasti sirna jika RI masih meneruskan
system sentralistik seperti yang diterapkan selama ini. Lebih-lebih jika
Republik kehilangan nilai-nilai republiknya dan merosot menjadi alat dan
system penjajahan baru oleh orang yang disebut sebangsa dan setanahair.
Apakah tidak karena keadaan demikian maka akhirnya daerah-daerah.

14
BAB IV
NEGARA DAN KONSTITUSI

Negara

A. Pengertian Negara
Pada hakikatnya Negara adalah organisasi kekuasaan karena di dalamnya
terdapat pusat-pusat kekuasaan. Ada banyak pendapat tentang Negara,
antara lain menurut :
1. Miriam Budiarjo : Organisasi dalam suatu wilayah dapat memaksakan
kekuasannya secara sah terhadap semua golongan kekuasaan lainnya
dan dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan bersama.
2. Mac Iver : Persetambatan (asosiasi yang bertindak berdasarkan hukum
dan direalisasikan oleh suatu pemerintahan) untuk keperluan ini
Negara dilengkapi dengan kekuasaan.
3. Max Weber : Suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam
menggunakan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah.
4. Kranenburg : Pada hakikatnya inilah suatu organisasi kekuasaan yang
diciptakan oleh sekelompok manusia yang disebut bangsa.
Negara adalah suatu organisasi dari kelompok manusia yang bersama-
sama mendiami suatu wilayah tertentu dan mengakui adanya suatu
pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan kelompok atau
beberapa kelompok masyarakat tersebut (lihat unsur negara).

B. Asal Mula terbentuknya Negara.


Ada banyak teori mengenai adal mula terbentunya negara, antara lain :
1. Teori Perjanjian Masyarakat dan Teori Hukum Alam.
Teori ini berangkat dari keadaan sebelum terbentuknya negara,
manusia dalam keadaan alamiah (belum ada keteraturan dan
perdamaian). Terjadinya keadaan yang disebut oleh Thomas Hobbes
Bellum Omnium Corrra Omnes (Manusia melawan manusia, manusia
melawan kelompok manusia, kelompok manusia melawan kelompok
manusia). Untuk terjadinya perdamaian manusia mengadakan
perjanjian yang disebut perjanjian masyarakat, sehingga terbentuk
masyarakat dan terbentuk negara. Masyarakat yang berjanji menunjuk
penguasa untuk menyelenggarakan perjanjian tersebut.

Keadaan Perjanjian Menunjuk 15


Negara
alamiah masyarakat penguasa
(Tidak ada keteraturan)
Pendukung teori ini adalah :
a. Thomas Hobbes : menghasilkan negara dengan kekuasaan
raja yang mutlak (absolut)
b. John Loeke : menghasilkan negara dengan kekuasaan raja
yang dibatasi oleh hak-hak alamiah masyarakat (hak asasi
manusia).
c. J.J. Rosseou : menghasilkan negara dengan kekuasaan
raja yang dibatasi, kedaulatan ada di tangan rakyat (rakyat yang
berdaulat).
2. Teori Ketuhanan : Negara, Penguasa, dan Kekuasaan terjadi atas
kehendak Tuhan.
3. Teori Kekuatan : negara merupakan alat yang berkuasa atau yang kuat
untuk menggunakan mereka yang lemah demi kepentingan yang kuat.
Artinya siapa yang kuat dialah yang berkuasa.
4. Pada Zaman modern sekarang, negara bisa terbentuk dengan cara :
a. memisahkan diri dengan negara asal
b. penggabungan diri/fusi
c. pendudukan atas wilayah yang belum ada pemerintahan

C. Proses terbentuknya Negara Republik Indonesia.


Menurut M. Yamin proses terbentuknya negara kebangsaan Indonesia
melalui tiga tahap, yakni :
Tahap Pertama, ditandai dengan berdirinya
Kerajaan Sriwijaya Negara
Kebangsaan
Tahap Kedua, ditandai dengan berdirinya Indonesia lama
Kerajaan Majapahit

Tahap Ketiga, Negara Proklamasi kemerdekaan Negara


Kebangsaan
Sampai sekarang Indonesia baru

Terbentuknya negara proklamasi kemerdekaan melalui proses yang


panjang, yang dimulai dari :

1. Zaman kerajaan nusantara


2. Zaman penjajahan Balanda : Indonesia (nusantara) dijadikan negara
bagian Kerajaan Belanda dengan nama Hindia Belanda (Netherlands
16
Indie), dengan pimpinan pemerintahan tertinggi : Gubernur Jenderal
yang bertanggung jawab kepada Ratu Belanda.
3. Zaman penjajahan Jepang : terbentuk BPUPKI, badan pembentuk
negara yang merumuskan hal-hal yang diperlukan untuk berdirinya
sebuah negara. BPUPKI bersidang sebanyak dua kali :
Sidang I : 29 Mei s/d 1 Juni 1945, menghasilkan
rumusan tentang konsep dasar Negara.
Sidang II : 10 s/d 16 Juli 1945, merumuskan
bentuk negara (negara kesatuan yang berbentuk republik) wilayah
negara (wilayah bekas jajahan Belanda/Hindia Belanda dulu), dan
UUD.
4. 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
5. 18 Agustus berdiri NKRI setelah terbentuknya pemerintahan pada
sidang PPKI dengan dipilih dan diangkatnya Soekarno dan M. Hatta
sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
D. Unsur, Tujuan dan Fungsi, Bentuk dan Elemen Kekuatan Negara
1. Unsur-unsur Negara :
Wilayah
Penduduk
Pelerintahan : setiap negara memiliki organisasi yang berwenang
untuk merukuskan dan melaksanakan keputusan-keputusan yang
mengikat bagi seluruh penduduk di dalam wilayahnya
Kedaulatan : kekuasaan tertinggi untuk membuat UU dan
melaksanakan dengan semua cara (termasuk paksaan yang
tersdia). Negara mempunyai kekuasaan yang tertinggi untuk
memaksa semua penduduknya mantaati UU serta peraturan-
peraturannya.
2. Tujuan Negara
Menyelenggaran kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya atau
menyelenggarakan masyarakat adil dan makmur.
Dapat dikatakan tujuan akhir setiap negara ialah menciptakan
kebahagiaan bagi rakyatnya (bonum publicum, common good,
common wealth).
Menurut Roger H. Soltau tujuan negara ialah memungkinkan rakyatnya
berkembang sertas menyelanggarakan daya ciptanya sebebas
mungkin.
Menurut Harold J. Laski tujuan negara ialah menciptakan keadaan
dimata rakyatnya dapat menciptakan terkabulnya keingian-keinginan
secara maksimal. Tujuan negara Indonesia : tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945 alinea keempat.
3. Fungsi Negara
Melaksanakan penertiban
Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
Pertahanan
17
Menegakkan keadilan
Sesuai dengan UU 1945, fungsi negara RI dapat dijabarkan sebagai
berikut :
a. Fungsi keamanan, pertahanan, dan ketertiban. Penjabaran fungsi
ini negara harus mempertahankan apabila ada seorang dari luar
dan rongrongan atau pemberontakan dari dalam, pencegahan
terhadap pencurian kekayaan lautan serta kekayaan alam lainnya,
baik di laut maupun di udara, pelanggaran wilayah oleh angkatan
perang asing, dan sebagainya. Termasuk juga dalam fungsi ini
perlindungan terhadap kehidupan, hak milik, dan hak lainnya akan
diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
b. Fungsi kesejahteraan (welfare fuction). Fungsi ini dalam arti yang
seluas-luasnya, termasuk social secrvive dan social welfare, seperti
bantuan-bantuan bencana alam, kemiskinan, pengangguran,
penentuan upah minimum, bantuan kesehatan, panti asuhan, dan
lain-lain.
c. Fungsi pendidikan. Fungsi ini harus ditafsirkan dalam arti yang
seluas-luasnya. Temasuk dalam fungsi ini misalnya tugas untuk
penerangan umum, nation and character building, peningkatan
budaya.
d. Fungsi mewujudkan keterlibatan serta kesejahteraan dunia dalam
arti yang harus pula. Dalam politik bebas aktif, Negara Indonesia
ikut menciptakan kedamaian yang kekal dan abadi bagi kehidupan
manusia pada umumnya.

4. Bentuk Negara
Bentuk negara seperti yang dikemukakan oleh Leon Duguit dan Jellinck
dilihat dari penentuan kepala negara dan pengambilan keputusan yang
dilakukan di dalam negara tersebut maka ada 2 bentun negara, yaitu :
a. Republik, apabila mekanisme penentuan kepala negaranya
dilakukan melalui pemilihan (langsung atau melalui majelis) dengan
periodesasi masa jabatan yang telah ditentukan. Sedangkan
pengambilan keputusan di dalam negara dilakukan dalam sebuah
forum majelis yang mencerminkan representasi rakyat.
b. Monarkhi, apabila penentuan kepala negara dilakukan berdasarkan
prinsip pewarisan turun temurun, dan pengambilan keputusannya
tidak dilakukan dalam suatu forum majelis yang mempresentasikan
kepentingan rakyat.
Secara umum ada 3 bentuk negara, yaitu :
a. Negara Kesatuan : Ciri-cirinya adalah :
- Hanya ada satu pemeritahan yang berdaulat, yaitu
pemerintah pusat.
- Kedaulatan keluar dan ke dalam dipegang oleh pemerintah
pusat.
- Hanya memiliki satu UUD
- Negara terdiri atas wilayah-wilayah atau provinsi
- Kedaulatan asli berasal dari pemerintah pusat.
Negara kesatuan ada dua macam sistem :
18
1. Negara Kesatuan dengan sistem sentralisasi, kekuasaan
terpusat pada pemerintah pusat
2. Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi, kekuasaan
pemerintahan pusat didesentralisasikan/dilimpahkan/
diserahkan sebagian ke pemerintahan di daerah/wilayah-
wilayah.
b. Negara Serikat; Ciri-cirinya adalah :
- Ada dua pemerintahan, yakni pemerintahan pusat
(serikat/federal) dan pemerintahan negara bagian.
- Kedudukan keluar dipegang oleh pemerintahan pusat
(serikat/federal)
- Ada UUD negara serikat, dan ada UUD negara bagian
- Kedaulatan asli berasal dari pemerintahan negara-negara
bagian.
c. Serikat Negara/Konfederasi, adalah :
Negara-negara yang berdaulat bergabung karena memiliki
kepentingan tertentu. Masing-masing negara berdaulat penuh,
contoh MEE, WTO, ASEAN, OPEC.
5. Elemen Kekuatan Negara.
Kekuatan suatu negara akan didukung oleh berbagai elemen antara
lain sebagai berikut :
a. TNI dan POLRI, yang melaksanakan fungsi ketertiban dan
pertahanan dan keamanan negara dari ancaman, hambatan dan
tantangan dari luar dan dalam.
b. Pemerintahan yang stabil dan bersih dari KKN
c. Jumlah penduduk, yang didukung oleh kondisi:
Penyebaran penduduk yang merata
Tingkat perekonolian yang tinggi
Tingkat pendidikan yang tinggi
Tingkat kesehatan yang tinggi
d. Wilayah, dan sumber daya alamnya.

E. Sistem Pemerintaha Negara


Secara umum ada tiga macam sistem pemerintahan yang dianut oleh
negara-negara di dunia, yakni :
a. Presidensial, sistem pemerintahan presidential memiliki ciri-ciri sebagai
berikut :
Kepala Negara dan kepala pemerintahan dipegang oleh presiden
Presiden dan parleman dipilih langsung oleh rakyat
Presiden tidak bertanggung jawab kepada parleman
Presiden dan parlemen tidak bisa saling menjatuhkan
Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden
Menteri-menteri bertanggung jawab kepada presiden
Jika presiden/wakil presiden dalam masa jabatannya melakukan
perbuatan melanggar hukum, dapat diberhentikan melalui
mekanisme yang diatur dalam UUD/Konstitusi.
Keterangan :
19
Sistem ini disebut juga sistem pemisahan kekuasaan. Dalam sistem
pemerintahan ini parlemen/legislatif dan pemerintah/eksekutuf memiliki
kedudukan yang sama dan saling mengawasi (check and banalance
system). Dalam sistem ini masa/periode kabinet sudah pasti. (4 tahun,
5 tahun atau 6 tahun) sesuai aturan konstitusi suatu negara dan tidak
bisa diganggu gugat oleh parleman (fixed term atau fixed execitive)
Contoh : AS dan RI.
b. Parlemen, memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Kepala Negara dipegang oleh presiden/raja/ratu/kaisar, hanya
berperan sebagai simbol negara.
Kepala pemerintahan dipegang oleh perdana menteri
Pemilu hanya untuk memilih anggota parlemen/legislatif
Perdana menteri dan menteri-menteri ditunjuk dan diangkat oleh
parlemen
Perdana menteri dan menteri-menteri bertanggung jawab kepada
parlemen
Perdana menteri mengepalai kabinet yang terdiri atas menteri-
menteri
Parlemen bisa menjatuhkan kabinet dengan mosi tidak percaya
Keterangan :
Dalam sistem ini kedudukan parlemen/legislatif lebih tinggi
dibandingkan kedudukan pemerintah/eksekutif. Dalam sistem ini masa
periode kabinet tidak pasti. Sewaktu waktu kabinet bisa dibubarkan
oleh parlemen dengan mosi tidak percaya. Contoh : Indonesia pada
masa UUDS 1950, Inggris dan Jepang.
c. Sistem pemerintahan dengan sistem referendum
Merupakan sistem pemerintahan dengan pengawasan langsung dari
rakyat. Contoh : Swiss.
d. Sistem Pemerintahan Negara Indonesia
Indonesia menganut sistem pemerintahan presidential dengan ciri-ciri
seperti di atas, namun Indonesia tidak menganut sistem pemisahan
kekuasaan murini. Kekuasaan Negara terbagi kedalam 8 lembaga
negara, yakni :

UUD 1945
Amandemen

BP DP DP MPR Pres/W. MK MA KY
K R D Pres
Kekuasaan Legislatif adalah DPR dan DPD
Kekuasaan Eksekutif adalah Presiden
Kekuasaan Yudikatif adalah MK dan MA

20
Setelah UUD 1945 diamandemen terdapat perubahan sistem
pemerintahan Negara RI yang cukup fundamental. Perubahan tersebut
dapat diilustrasikan sebagai berikut :
a. Sistem pemerintahan negara mempergunakan sistem
presidensial murni, yang sebelumnya cenderung Quasi
Presidensial artinya ada pertanggung jawaban presiden/eksekutif
ke lembaga lain yaitu MPR sebagai lemabaga tertinggi negara.
Sekarang lembaga-lembaga negara memiliki kedudukan yang
sejajar/sederajat satu sama lain.
b. Presiden dan/atau Wapres serta parlemen terdiri dari dua
kamar yang dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilu.
c. Di bidang politik, kedudukan presiden dan/atau wapres serta
parlemen sama-sama kuat. Artinya antara kedua lembaga ini tidak
bisa saling menjatuhkan.
d. Dikenal adanya lembaga peradilan konstitusi, yakni
Mahkamah Konstitusi yang mempunyai wewenang untuk
melakukan impeachment kepada presiden dan/atau wapres jika
ditengarai telah melakukan pelanggaran hukum berat. Hal ini berarti
presiden dan/atau wapres hanya dapat dijatuhkan jika melakukan
perbuatan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat yuridis.

21
Konstitusi
A. Pengertian Konstitusi

UUD bukan syarat mutlak untuk adanya negara yang baik, tapi dalam
kehidupan negara modern sekarang perlu adanya UUD/Konstitusi. Dengan
adanya UUD/Konstitusi penguasan dan rakyat/warga negara dapat dengan
mudah mengetahui sistem ketatanegaraannya yang digambarkan dalam
aturan/ketentuan-ketentuan pokok yang termuat didalamnya.

Negara yang menganut sistem negara hukum dalam konsep


pemerintahannya menggunakan konstitusi atau UUD sebagai norma
hukum tertinggi disamping norma hukum yang lain.
Ada empat motif/sebab adanya UUD/Konstitusi, yakni :
1. Karena ada keinginan dari warga negara untuk menjamin hak-hak
mereka dan membatasi tindakan-tindakan penguasa.
2. Adanya keinginan dari pihak yang diperintah atau dari penguasa sendiri
untuk menjamin rakyatnya dengan jalan menentukan suatu bentuk
sistem ketatanegaraan tertentu yang semulanya tidak jelas ke dalam
suatu bentuk tertentu.
3. Adanya keinginan dari pembentuk negara yang baru untuk menjamin
adanya cara penyelenggaraan ketatanegaraan yang pasti dan dapat
membahagiakan warga negaranya.
4. Karena keinginan untuk menjamin adanya kerjasama yang efektif dari
beberapa negara yang mulanya berdiri sendiri (menjadi negara serikat).
Menurut E.C.S. Wade : suatu naskah yang memaparkan kerangka dan
tugas-tugas pokok pemerintahan suatu negara dab menentukan pokok-
pokok kerja badan-badan tersebut.
Konstituai/UUD suatu negara merupakan :
Dokumen Nasional; artinya mempunyai sebuah konstitusi hendak
ditujukan kepada dunia luar tentang identitas negara sendiri.
Dokumen Politik dan Hukum; artinya konsitusi merupakan alat untuk
pembentukan sistem politik dan sistem hukum negara sendiri.
Sertifikat(piagam) kelahiran negara; artinya konstitusi merupakan tanda
kedewasaan rakyat dan bangsa dan tanda kemerdekaan.
Konstitusi hukum dasar tertulis UUD
hukum dasar tidak tertulis Konvensi
UUD bagian dari konstitusi yang bersifat tertulis
Di Indonesia UUD = Konstitusi
Sifat Konvensi;
22
Memiliki kebiasaan yang berulang kali dan terpelihara dalam praktek
penyelenggaraan negara.
Tidak bertentangan dengan UUD dan berjalan sejajar
Diterima oleh masyarakat
Bersifat sebagai pelengkap
Kedudukan UUD/Konstitusi;
- Sebagai hukum dasar
- Sebagai peraturan hukum tertinggi
Materi/isi UUD/Konstitusi;
Secara umum muatan/isi dari UUD/Konstitusi diberbagai negara mengatur
3 (tiga) kelompok materi muatan;
1. Perlindungan HAM dan hak warga negara
2. Susunan ketatanegaraan yang mendasar
3. Pembagian dan pembatasan tugas-tugas ketatanegaraan yang
mendasar.
B. Hakikat dan Fungsi UUD/Konstitusi
Pada hakikatnya UUD/Konstitusi pengendalian atau pembatasan
kekuasaan dalam negara.
Fungsi UUD/Konstitusi menurut Jirnly Asshiddiqie, ialah;
1. Fungsi penentu dan pembatas kekeuasaan organ negara.
2. Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antar organ negara.
3. Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antar organ negara dengan
warga negara.
4. Fungsi pemberi atau sumber legitimasi terhadap kekuasanaan negara
ataupun kegiatan penyelenggaraan kekuasaan negara.
5. Fungsi penyalur atau pengalih kewenangan dari sumber kekuasaan
yang asli (yang dala sistem demikrasi adalah rakyat) kepada organ
negara.
6. Fungsi simbolik sebagai pemersatu (symbol of unity), sebagai rujukan
identitas dan keagungan kebangsaan (identity of nation), serta sebagai
centere of ceremony
7. Fungsi sebagai sarana pengendali masyarakat (social control), baik
dalam arti sempit hanya di bidang politik, maupun dalam arti luas
mencakup bidang sosial dan ekonomi.
8. Fungsi sebagai sarana perekayasaan dan pembaruan masyarakat
(social engineering atau social reform).
Fungsi UUD/Konstitusi menurut Joeniarto, ialah ;
1. Ditunjau dari tujuannya : menjamin hak-hak warga negara dari tindakan
sewenang-wenang penguasa.

23
2. Ditinjau dari penyelenggaraan pemerintahan : untuk dijadikan landasan
struktural dari penyelenggaraan pemerintahannya menurut sistem
ketatanegaraan tertentu pokok-pokoknya telah digambarkan dalam
ketentuan UUDnya.
C. Institusi dan Mekanisme Perubahan
UUD/Konstitusi
Institusi yang melakukan perubahan terhadap Konsitusi/UUD lazimnya
diatur di dalam Konstitusi/UUD itu sendiri. Inisiatif perubahan bisa dari
kepala pemerintahan atau dari partemen.
Menurut C.F. Strong perubahan Konstitusi/UUD dapat dilakukan oleh :
a. Pemegang kekuasaan legislatif, tetapi menurut pembatasan-
pembasatan tertentu.
b. Oleh rakyat melalui suatu referendum
c. Dilakukan oleh sejumlah negara bagian
d. Yang dilakukan dalam suatu konvensi atau dilakukan oleh suatu
lembaga negara khusus yang dibentuk hanya untuk keperluan
perubahan.
Perubahan Konstitusi/UUD dapat dilakukan dengan cara, yakni ;
a. Verfassungs-anderung, yakni cara perubahan Konstitusi/UUD yang
dilakukan dengan sengaja dengan cara yang ditentukan dalam
Konstitusi/UUD.
b. Verfassungs-wandelung, yakni perubahan Konstitusi/UUD yang
dilakukan tidak berdasarkan cara formal yang ditentukan dalam
Konstitusi/UUD itu sendiri, melainkan melalui revolusi, kudeta (coup
detat), dan konvnsi.
Sistem perubahan Konstitusi/UUD yang umum dipergunakan oleh negara-
negara dalam mengubah Konstitusi/UUDnya dibedakan menjadi dua
macam;
1. Pertama, UUD lama (aslinya) akan dicabut dan digantikan oleh UUD
yang baru secara keseluruhan.
2. Kedua, perubahan melalui amandemen. Konstitusi/UUD lama (aslinya)
tetap dipertahankan keberlakuannya, sedangkan perubahan atas
pasal-pasalnya disisipkan sebagai lampiran atau addendum dari
Konstitusi/UUD asli tersebut.

Keterangan:
Di Indonesia perubahan Konstitusi/UUDnya dengan cara mengganti
langsung pasal-pasal yang diubah kedalam Konstitusi/UUD (tidak dengan
kedua cara diatas)
Hampir setiap Konstitusi/UUD memuat tentang materi prosedur perubahan
karena kemungkinan bisa saja terjadi inti sistem ketatanegaraan yang
digambarkan dalam Konstitusi/UUD tidak serasi lagi dengan
perkembangan dan kebutuhan zaman.
Sifat Konstitusi/UUD dilihat dari perubahannya ada dua, yakni;
1. Rigid/kaku : apabila untuk melakukan perubahan harus melalui
prosedur yang sulit.
2. Fleksibel : apabila prosedur perubahan Konstitusi/UUD sama dengan
prosedur perubahan UU.
24
Di Indonesia
Institusi yang berwenang mengubah dan menetapkan Konstitusi/UUD
adalah MPR. MPR tahun 2003 berdasarkan Keputusan MPR No.
IV/MPR/2003 pernah membentuk sebuah komisi ad hoc (sementara) yaitu
Komisi Konstitusi yang masa kerjanya hanya 7 bulan. Tugas Komiai
Konstitusi adalah untuk melakukan pengkajian secara
komprehenship/menyeluruh tentang perubahan UUD 1945. Dan hasil
kerjanya dilaporkan kembali ke MPR sebagai lembaga yang berwenang.
Anggota komisi konstitusi berjumlah 31 orang dipilih oleh badan pekerja
majelis terdiri dari ketua, wakil ketua 2 orang, sekretaris dan wakil
sekretaris.
Perubahannya dengan cara verfassungs-anderung, yakni cara perubahan
konstitusi/UUD yang dilakukan dengan sengaja dengan cara ditentukan
dalam Konstitusi/UUD itu sendiri yaitu mengacu ke Pasal (37) UUD 1945.
Mekanisme perubahan UUD 1945 termasuk Rigid. Mekanisme perubahan
diatur dalam Pasal 37 UUD 1945 yaitu:
(1) Usul perubahan pasal-pasal UUD dapat diagendakan dalam sidang
MPR apabila diajukan oleh sekurang-kurangnya oleh 1/3 dari
jumlah anggota MPR.
(2) Setiap usul perubahan pasal-pasal UUD diajukan secara tertulis
dan ditunjuk dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah
beserta alasannya.
(3) Untuk mengubah pasal-pasal UUD, sidang Majelis
Permusyawaratan Rakyat dihariri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari
jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat.
(4) Putusan untuk mengubah UUD dilakukan dengan persetujuan
Majelis Permusyawaratan Rakyat.
(5) Khusus tentang bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak
dapat dilakukan perubahan.
Untuk perubahan UUD 1945 dapat dikelompokan 3 materi, yakni;
1. Meteri yang tidak dapat diubah yaitu Pembukaan UUD.
2. Materi yang dapat diubah cara biasa yaitu seluruh pasal-pasal UUD
kecuali yang dikecualikan.
3. Meteri yang dapat diubah dengan cara tidak biasa yaitu pasal-pasal
yang berkenaan dengan bentuk negara kesatuan dan bentuk
pemerintahan serta pasal-pasal yang berkenaan dengan dasar
negara.
Seperti diketahui bersama selama 4 kali perubahan pada UUD 1945 ada
kesepakatan dari anggota MPR untuk tidak melakukan perubahan pada :
1. Pembukaan UUD
2. Bentuk Negara Kesatuan
3. Bentuk pemerintahan presidensial
4. Mempertahankan mekanisme check and balances
Sistematika UUD 1945 setelah perubahan terdiri dari ;
1. Pembukaan
2. Pasal-pasal
3. Penjelasan tidak lagi menjadi bagian dari UUD 1945.

25
BAB V.
DEMOKRASI

A. Pengertian Demokrasi
Pengertian demokrasi adalah;
1. Menurut Kranenburg demokrasi terbentuk dari dua suku kata Yunani :
Demo artinya rakyat dan Kratein artinya memerintah. Demokrasi
berarti cara memeintah oleh rakyat.
2. Menurut Prof. Koentjoro Poerbopranoto, demokrasi adalah : suatu
negara yang pemerintahnya di pegang oleh rakyat.
3. Menurut Abraham Lincoln demokrasi, demokrasi adalah pemerintah
dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat (democracy is government of
the people by the people and for the people).

B. Macam-macam Demokrasi.
1. Ditinjau dari cara penyaluran kehendak rakyat, demokrasi terbagi
atas :
a. Demokrasi Langsung : rakyat langsung mengunakan
kehendaknya didalam rapat yang dihadiri oleh seluruh rakyat.
b. Demokrasi Perwakilan : rakyat menyalurkan kehendaknya
dengan memilih wakil-wakilnya duduk dalam Dewan Perwakilan
Rakyat.
c. Demokrasi Gabungan : merupakan gabungan antara demokrasi
langsung dengan demokrasi perwakilan, dimana rakyat memilih
wakil di DPR kemudian Dewan itu dikontrol oleh rakyat dengan
sistem referendum.
2. Ditinjau dari titikberat yang menjadi perhatiannya demokrasi
terbagai atas :
a. Demokrasi Formal (Negara Liberal) : suatu demoksari yang
menjunjung tinggi persamaan dalam bidang politik tanpa
disertai upaya untuk mengupayakan untuk
mengurangi/menghilangkan kesejahteraan dalam bidang
ekomoni.
b. Demokrasi Neteral (negara Komunis) : demokrasi yang dititik
beratkan pada upaya-upaya menghilangkan perbedaan dalam
bidang ekonomi, sedang persamaan bidang politik kurang
diperhatikan bahkan kadang-kadang dihilangkan.

3. Berdasarkan tugas-tugas serta hubungan antara alat-alat


perlengkapan negara demokrasi dibedakan atas :
a. Demokrasi dengan Sistem Parlementer adalah : sistem
demokrasi dalam suatu pemerintahan negara yang menuju
kepada badan perwakilan atau parlemen. Kepala Negara :
Raja/Presiden hanya sebagai lembaga.
Kekuasaan yang nyata tidak nampak.
Kekuasaan Legislatif :
26
Dipegang oleh kabinet/dewan menteri
Dalam pembuatan UU Presiden hanya mengesahkan
saja.
Kekuasaan Eksekutif :
Dipegang oleh kabinet/dewan menteri.
Dalam menjalankan tugas bertanggung jawab kepada
DPR.
b. Demkorasi sistem pemisahan kekeuasaan adalah : sistem
demokrasi dimana kekuasaan dalam negara dipisahkan
menjadi tiga bidang yang keberadaannya saling terpisah
satu sama lain. Contoh : Legislatif, Eksekutif, Yudikatif.
Kepala negara dipilih rakyat.
c. Demokrasi dengan sistem Referendum dan inisiatif rakyat,
ciri-cirinya :
Demokrasi ini berlaku di negara-negara bagian Swiss
yang disebut Kanton.
Kanton berbentuk republik
Di Kanton terdapat kekuasaan legislatif, eksekutif,
yudikatif.
Yang menonjol adalah bahwa tugas legislatif terletak di
bawah pengawasan seluruh rakyat.
Pengawasan dilakukan dengan cara referendum.
Referendum terdiri dari referendum obligator dan
fakultas.
Referendum obligator adalah pemungutan suara rakyat
yang wajib dilakukan untuk suatu rencana UUD bagian
atau mengenai UU lain.
Referendum fakultas adalah pemungutan suara rakyat
tentang sesuatu rencana UU, pemungutan ini tidak di
wajibkan.

C. Prinsip demokrasi
Secara umum prinsip-prinsip demokrasi adalah :
1. Adanyan pembagian kekuasaan
2. Adanya pemilihan umum yang bebas
3. Adanya manajemen yang terbuka
4. Adanya kebebasan individu
5. Adanya peradilan yang bebas
6. Adanya pengakuan hak azasi manusia
7. Adanya pers yang bebas
8. Adanya beberapa partai politik
9. Adanya pemerintahan mayoritas
10. Adanya pengakuan terhadap hak-hak minoritas
11. Adanya jaminan terhadap kebebasan individu dalam
batas-batas tertentu
12. Adanya pengawasan terhadap administrasi negara
13. Adanya konstitusi/UUD/UU yang demokratis
27
14. Adanya persetujuan.
D. Nilai-nilai Demokrasi
Menurut Hanry B. Maryo demokrasi didasari
oleh beberaqpa nilai sebagai berikut :
1. Penyelesaian perselisihan dengan damai san secara melembagai
2. Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu
masyarakat yang sedang berubah.
3. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur
4. Membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum.
5. Mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman.
6. Menjami tegaknya keadilan.
Menurut Prof. Merkl dalam bukunya political continuity and
change, menunjukkan suatu kondisi yang baik untuk tumbuhnya
demokrasi adalah sebagai berikut :
1. Kesadaran individu akan hak-hak dan kebebasan dirinya dan hak-
hak serta kebebasan orang lain.
2. Sikap kerja sama
3. Kemampuan untuk mengemukakan alasan dan kompromi.
4. Suatu kesadaran hidup yang stabil
5. Kesamaan kesempatan dalam bidang ekonomi dan sosial yang
wajar
6. Bersikap kedewasaan yang ditunjukkan karena pengalaman
7. Suatu masyarakat beraneka ragam tetapi bebas.
Untuk mengukur suatu negara atau pemerintahan dalam menjalanjan
tata pemerintahannya dikatakan demokratis dapat dilihat dari empat
aspek, yaitu :
1. Masalah pembentukan negara
2. Dasar kekuasaan negara
3. Susunan kekuasaan
4. Masalah kontrol rakyat
Menurut Sri Sumantri negara dikatakan demokratis apabila :
1. Hukum ditetapkan dengan persetujuan rakyat yang dipilih
secara bebas
2. Hasil pemilihan umum dapat mengakibatkan pergantian orang-
orang pemerintah
3. Pemerintah harus terbuka
4. Kepentingan minoritas harus dipertimbangkan
Mengembangkan sikap demokratis
Pendidikan sikap demokratis dapat dilakukan dalam lembaga
pendidikan anak, sekolah, perkuliahan, masyarakat dan pemerintah.
Untuk mengembangkan sikap demokratis, maka proses pembelajaran
dan pendidikan akan lebih efektif bila dimulai dari dalam keluarga dan
pendidikan formal. Mengembangkan sikap demokratis akan lebih baik
dimulai dari usia balita serta anak-anak sekolah. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam mengembangkan sikap demokratis :
1. Beberapa panduan yang dapat membantu orang tua menanamkan
nilai-nilai demokratis dalam diri anak yaitu :
28
a. Memberikan perhatian dengan serius pada anak yang
sedang berusaha menyampaikan perasaan, pendapat atau
cerita dan jangan sampai memutuskan sebelum anak
selesai menyampaikan pendapatnya.
b. Mengusahakan menjadi pembicara yang baik
c. Menghormati anak
d. Memberikan kesempatan memperbaiki sebelum
memberikan sanksi
e. Melibathan anak dalam pengambilan keputusan
2. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dan dosen dalam
menanamkan nilai-nilai demokratis :
a. Menjadikan siswa dan mahasiswa sebagai teman dalam
proses belajar atau perkuliahan.
b. Membrikan kesempatan kepada siswa atau mahasiswa
dalam menyampaikan pendapatnya dan bersedia dalam
menerima kritik siswa atau mahasiswa
c. Guru dan Dosen sebaiknya menghidari memaki-maki atau
memarahi siswa atau mahasiswa dihadapah teman-
temannya.
3. Sebaliknya beberapa hal yang harus diperhatikan oleh siswa dan
mahasiswa dalam proses belajar demokrasi yaitu :
a. Aktif mengungkapkan ide, gagasan, pikiran kepada guru
atau dosen
b. Siswa dan mahasiswa memiliki motivasi untuk maju dan
berkembang untuk lebih dewasa.
c. Siswa dan mahasiswa mengembangkan kepekaan terhadap
lingkungan.
d. Siswa dan mahasiswa mengembangkan sderajat kesehatan
jasmani dan rohaninya.
e. Siswa dan mahasiswa mengembangkan perasaannya
sehingga dapat memahami orang lain.
f. Siswa dan mahasiswa mempunyai kemauan untuk belajar
berorganisasi melalui wadah yang ada di sekolah dan
perguruan tinggi.
g. Siswa dan mahasiswa mempunyai kemauan untik belajar
untuk mengetahui dan melakukan sesuatu dan menjadi diri
sendiri dan untuk hidup bersama.

4. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah


dalam proses belajar demokrasi adalah sebagai berikut :
a. Mendidik masyarakat untuk bersikap dewasa.
b. Mengembangkan sikap menghargai perbedaan pendapat.
c. Menggunakan mekanisme demokrasi untuk mencari titik
perbedaan pendapat.
d. Menghilangkan penggunanan tendakan kekerasan dalam
penyelesaikan permasalahan.
e. Mengembangkan sikap yang sensitif dan empati terhadap
kepentingan masyarakat luas.
29
f. Mengembangkan kerjasama antara anggota masyarakat
dengan pikiran logis dan iktikad baik.
g. Mengembangkan masyarakat untuk aktif dalam memberikan
pengawasan.

E. Pengertian Demokrasi Menurut Sumber Lain

Raffael Raga Maran, dalam buku ; Pengantar Sosial Politik


Pengantar
Demokrasi menemukan bentuknya yang khas bila dijiwai dengan prinsip-prinsip
hak asasi manusia. Dan sebaliknya hak asasi manusia sebagai prisnip moral
universal hanya dapat diaktualisasikan dengan baik dalam tatanan masyarakat
yang demokratis.
Materi yang dibahas meliputi :
ISTILAH DEMOKRASI
PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI
ASUMSI-ASUMSI YANG KELIRU TENTANG HAKIKAT DEMOKRASI.

ISTILAH DEMOKRASI
Demokrasi adalah istilah yang bersifat universal, artinya istilah boleh sama
tetapi isi dan cara perwujudanannya bisa berbeda-beda dari Negara yang satu ke
Negara yang lain.
Istilah Demokrasi berarti pemerintahan oleh rakyat (demos berarti rakyat;
kratos bearti pemerintahan).
Demokrasi dijelaskan sebagai pemerintahan di mana hak-hak untuk
membuat keputusan-keputusan politik digunakan secara langsung oleh
setiap warga Negara, yang diaktualisasikan melalui prosedur
pemerintahan mayoritas disebut dengan demokrasi langsung.
Demokrasi dijelaskan sebagai bentuk pemerintahan di mana warga Negara
menggunakan hak yang sama tidak secara pribadi tetapi melalui para
wakil yang duduk di lembaga Dewan Perwakilan Rakyat, ini disebut
demokrasi perwakilan.
Demokrasi sebagai bentuk pemerintahan, biasanya suatu demokrasi
perwakilan, dimana kekuatan-kekuatan mayoritas digunakan untuk
menjamin terpunuhinya keuntungan atau kemakmuran bagi semua warga
Negara, dijamin hak-hak individual maupun hak-hak kolektif seperti
kebebasan berbicara dan beragama, ini disebut dengan demokrasi liberal
atau demokrasi konstitusional.
Dalam demokrasi perbedaan pada dasarnya disebabkan oleh 2 (dua) hal
antara lain:
1. Kultural
Perbedaan kultur yang dipakai oleh setiap bangsa dalam memandang
demokrasi.
2. Hakikatnya
Hakikat demokrasi yang dinamis atau berubah dan terus berkembang
seperti halnya kepentingan manusia lainnya. Oleh karena itu hakikat

30
demokrasi terus berkembang dalam sejarah sesuai dengan kebutuhan dan
tuntutan zaman.
Berdasarkan dari dua hal tersebut, bila definisi demokrasi sebagai rule by
the people atau pemerintahan oleh rakyat, kelihatannya sangat memuaskan rakyat
Atena di zaman Yunani Kuno dan akan tetapi tidak klop dengan masyarakat
kontemporer.
Masyarakat kontemporer, rujukan demokrasi pada government of the
people, by the people, and for the people itu tidak memadai, karena rumusan itu
tidak mencakup demokrasi dalam bidang ekonomi, kebudayaan, pendidikan,
industri dan lain-lainnya. Jadi demokrasi diartikan sebagai pemerintahan oleh
kelompok mayoritas, ini bertentangan dengan salah satu prinsip dasar demokrasi
itu sendiri yakni persamaan hak setiap warga Negara untuk ikut menentukan
kebijaksanaan politik.
Bangsa modern-kontemporer menggunakan istilah demokrasi dalam
pengertian yang lebih luas dari pada pemerintahan oleh rakyat. Istilah demokrasi
yang dikenal dewasa ini tidak saja mengacu pada system pemerintahan, tetapi
juga system penataan kehidupan ekonomi, kebudayaan, pendidikan, industri dsb.

PRINSIP-PRINSIP DASAR DEMOKRASI


Prinsip-prinsip dasar demokrasi adalah ;
a. Persamaan,
Yang dimaksud dengan persamaan adalah persamaan kesempatan bagi
semua orang sebagai warga Negara untuk mencapai pengembangan
maksimum potensialitas fisik, intelektual, moral, spiritual, dan untuk
mencapai tingkat partisipasi social oleh setiap pribadi yang konsisten
dengan tingkat kematangan yang telah diperolehnya.
b. Hormat terhadap nilai-nilai luhur manusia,
Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur manusia adalah tugas yang tak bisa
ditawar-tawar oleh setiap manusia. Kesejahteraan manusia jauh lebih
penting daripada tujuan apapun. Kesejahteraan manusia selalu menjadi
tujuan dan tak pernah boleh menjadi sarana demi tujuan lainnya. Inilah
ciri yang membedakan demokrasi dengan system-sistem politik yang lain
seperti fasisme dan komunisme.
Dalam masyarakat yang demokratis suatu tujuan tidak mengorbankan
kesejahteraan manusia, sedangkan dalam masyarakat fasis dan komunis,
eksistensi manusia selalu demi Negara.
c. Hormat terhadap hak-hak sipil dan kebebasan,
Di dalam masyarakat demokratis, hak-hak sipil dan kebebasan dihormati
serta dijunjung tinggi. Kebutuhan akan kebebasan individual dan social
harus dipenuhi. Kebebasan individual mengacu pada kemampuan manusia
sebagai individu untuk menentukan sendiri apa yang harus dilakukan, ini
berprakarsa untuk menempuh langkah-langkah terbaik demi
pengembangan diri masyarakat-bangsanya.
Kebebasan social dimaksudkan sebagai ruang bagi pelaksanaan
kebebasan indivisual. Pembatasan secara ketat yang dilakukan oleh
lembaga-lembaga pemerintah atau militer atas kehidupan wagra Negara
dapat merusak kebebasan individual.

31
Kebebasan itu tetap punya batas. Batasnya ialah bahwa kebebasan itu
dilaksanakan demi pemenuhan hak dan kebaikan orang lain. Jadi
kebebasan yang diijinkan di sini bukanlah kebebasan yang mengarah pada
anarki sosial.
Dengan demikian batas kebebasan adalah yang berasal dari dalam diri
manusia, artinya perlu ada self discipline, disiplin diri, yakni pengendalian
diri yang muncul dari hati nurani, kesadaran serta tanggung jawab social
individu atau dari kesadaran dan rasa hormatnya terhadap kebutuhan, hak-
hak, dan nilai-nilai luhur sesamanya. Semuanya menunjukkan pentingnya
suatu tingkat kemampuan intelektual, emosional, moral dan kesadaran
social yang tinggi di dalam diri mereka yang membangun dan memelihara
masyarakat demokratis.
Tidak adanya kebebasan akan menimbulkan kekacauan social dan anarki
seperti tidak ada kebebasan berbicara, beragama, berkumpul/berserikat,
berpartisipasi dalam pembentukan kebijakan politik, ekonomi dan
pendidikan. Kebebasan menuntut adanya tanggung jawab dari orang-
orang yang menggunakannya.
d. Permainan yang adil (fair play)
Sikap menjunjung tinggi fair play (permainan yang adil) termasuk salah
satu ciri hidup masyarakat demokratis. Ini mengandaikan adanya
ketahanan diri terhadap godaan untuk mengambil keuntungan dari
kelemahan orang lain. Pada intinya adalah rasa hormat dan menghormati.
Dan ini merupakan ideology masyarakat demokrasi, sedangkan ideology
non-demokratis adalah individu sering dipaksa untuk mempraktekan
segala macam cara yang tidak manusiawi demi kepentingan pihak
pemerintah. Kelemahan ideologi non-demokratis : Penghianatan akan
membiakan penghianatan, kekerasan melahirkan kekerasan baru yang
lebih dahsyat.
Suatu pemerintahan disebut demokratis bila memenuhi 8 (delapan) kriteria
berikut:
1. adanya persetujuan rakyat
2. adanya partisipasi efektif rakyat dalam pembuatan keputusan politik
yang menyangkut nasib mereka
3. adanya persamaan kedudukan di hadapan hukum
4. adanya kebebasan individu untuk menentukan diri
5. adanya menghormatan terhadap hak-hak asasi manusia
6. adanya pembagian pendapatan yang adil
7. adanya mekanisme control social terhadap pemerintah
8. adanya ketersediaan dan keterbukaan informasi.

ASUMSI-ASUMSI YANG KELIRU TENTANG HAKIKAT DEMOKRASI


Upaya-upaya nyata untuk menegakkan suatu system politik yang
memungkinkan terealisasinya hak-hak asasi manusia, dan itu adalah demokrasi.
Namun pertumbuhan serta perkembangan demokrasi, khususnya di Negara-
negara berkembang bukannya tanpa ancaman bahaya. Maka perlu
dipertimbangkan secara singkat beberapa asumsi yang keliru tentang hakikat
demokrasi.

32
Ancaman yang paling besar terhadap demokrasi, terdapat beberapa
gagasan yang salah tentang hakikat dan tuntutan-tuntutannya. Salah satunya
adalah asumsi bahwa demokrasi dengan sendirinya menghasilkan cara hidup
yang paling mudah. Asumsi ini didasarkan pada prinsip demokrasi yang
menekankan nilai, pengembangan, dan kebebasan individual, padahal demokrasi
menuntut tanggung jawab yang lebih besar ketimbang tuntutan ideology.
Kekuatan demokrasi sebagian besar ditentukan oleh kemampuan kita untuk
memenuhi kebebasan yang hakiki, ini merupakan asumsi yang keliru (1)
Tampak anggapan bahwa demokrasi itu bersifat statis, sesuatu yang
begitu dicapai selamanya demikian, akan tetapi hakikat demokrasi dinamis,
berubah dan tunbuh.(2)
Anggapan bahwa cara hidup demokratis itu lebih alamiah ketimbang cara
hidup yang dituntut oleh ideologi-ideologi lainnya. Contohnya barang-barang atau
hal-hal yang lebih akrab dengan kita tampak lebih natural bagi kita ketimbang
barang-barang atau hal-hal yang kelihatannya asing. Yang benar adalah bahwa
demokrasi itu tidak lebih natural daripada ideology lain manapun yang bersifat
cultural. Oleh karena itu demokrasi tidak dapat dipaksakan untuk tumbuh dan
berkembang dalam suatu ruang social-budaya yang vakom akan kepercayaan,
sikap, dan aktivitas-aktivitas yang selaras dengan cita-cita demokratis. (3)
Ancaman terhadap demokrasi berasal dari ketakutan akan kekuatan dan
penampilan system politik, ekonomi dan social yang lain (4). Misalnya munculnya
fasisme dan komunisme dianggap sebagai ancaman terhadap keunggulan
demokrasi. Ketakutan akan kekuatan-kekuatan tersebut membuat demokrasi
cenderung dijalankan secara defensif yaitu untuk menyelamatkan demokrasi
dengan cara-cara yang tidak demokratis. Dan untuk mencegah cara-cara yang
tidak demokratis seperti itu diperlukan kearifan dalam melihat persoalan real yang
dihadapi, termasuk cara melihat ancaman itu sendiri.
Akhirnya perang dan rumor-rumor tentang perang pun dengan sendirinya
merupakan ancaman serius bagi demokrasi. Suatu perang yang dahsyat bahkan
bisa melumpuhkan kehidupan demokrasi. Dalam situasi perang, nilai-nilai yang
menjadi basis bagi kehidupan yang demokratis diganti secara radikal dengan
kepentingan-kepentingan lain bagi keberhasilan perang. Perang menjadi
monster yang sangat menakutkan, karena selain menghancurkan tatanan polotik,
juga menyebabkan depresi ekonomi yang besar di Negara-negara yang terkait.
Oleh karena itu perang harus dicegah dengan mengembangkan semangat cinta
damai.

33
BAB VI
RULE OF LAW DAN HAK AZASI MANUSIA

A. Pengertian Rule Of Law.

Penegakan hukun atau Rule Of Law merupakan suatu dokrin dalam hukum
yang mulai muncul pada abad ke-XIX, bersamaan dengan kelahiran
negara berdasarkan hukum (konstitusi) dan demokrasi. Kehadiran Rule Of
Law boleh disebut sebagai reaksi dan koreksi terhadap negara absolute
(kekuasaan di tangan penguasa) yang telah berkembang sebelumnya.
Berdasarkan pengertiannya, Friedman (1959) membedakan Rule Of Law
menjadi dua yaitu pengertian secara formal (in the formal sense) san
pengertian secara hakiki/materiil (ideological sense). Secara formal, Rule
Of Law diartikan sebagai kekuasaan umum yang terorganisir (organized
public power), hal ini dapat diartikan bahwa setiap negara mempunyai
aparat penegak hukum sedangkan secara hakiki Rule Of Law terkait
dengan penegakan hukum yang menyangkut ukuran hukum yang baik dan
buruk (just and unjust law).
Rule Of Law merupakan suatu legalisme sehingga mengandung gagasan
bahwa keadilan dapat dilayani melalui pembuatan sistem peraturan dan
prosedur yang bersifat objektif, tidak memihak, tidak personal dan otonom.
B. Latar Belakang Rule Of Law.
Rule Of Law merupakan konsep tentang common law dimana segenap
lapisan masyarakat dan negara beserta seluruh kelembagaannya
menjunjung tinggi supremasi hukum yeng dibangun di atas prinsip keadilan
dan egalitarian. Rule Of Law adalah Rule by the Law dan bukan Rule by
Law. Ia lahir mengambil alih dominasi yang dimiliki kaum gereja, ningrat
dan kerajaan, menggeser negara kerajaan dan memunculkan negara
konstitusi pada gilirannya melahirkan dokrin Rule Of Law.
Paham Rule Of Law di Inggris diletakkan pada hubungan antara hukum
dan keadilan. Di Amerika diletakkan pada hak-hak azasi manusia dan di
Belanda paham Rule Of Law lahir dari paham kedaulatan negara, melalui
paham kedaulatan hukum untuk mengawasi pelaksanaan tugas kekuatan
pemerintah.
Di Indonesia, inti dari pada Rule Of Law adalah jaminan adanya keadilan
bagi masyarakat khususnya keadilan sosial. Pembukaan UUD 1945
memuat [rinsip-prinsip Rule Of Law, yang pada hakikatnya merupakan
jaminan secara moral terhadap rasa keadilan bagi rakyat Indonesia.
Dengan kata lain Pembukaan UUD 1945 memberikan jaminan adanya
Rule Of Law dan sekaligus Rule Of Justice. Prinsip-prinsip Rule Of Law
dalam Pembukaan UUD 1945 bersifat tetap dan intruktif bagi
penyelenggara negara, karena Pembukaan UUD 1945 merupakan pokok
kaedah fundamental Negara Kesatuan Republik Indonesia.
34
C. Fungsi Rule Of Law.
Fungsi Rule Of Law pada hakikatnya merupakan jaminan secara formal
terhadap rasa keadilan bagi rakyat Indonesia dan juga keadilan sosial.
Inti dari Rule Of Law adalah jamianan adanya keadilan bagi masyarakat,
terutama keadilan sosial.
Penjabaran prinsip-prinsip Rule Of Law secara formal termuat di dalam
pasal-pasal UUD 1945, yaitu;
1. Pasal 1 ayat (3) : Negara Indonesia adalah Negara hukum.
2. Pasal 24 ayat (1) : Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan
yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan.
3. Pasal 27 ayat (1) : segenap warga negara bersamaan
kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada
kecualinya.
4. Pasal 28 D ayat (1) : dalam BAB XA tentang Hak Azasi Manusia,
memuat 10 pasal, antara lain bahwa setiap orang berhak atas
pengakuan, jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil
serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.
5. Pasal 28 D ayat (2) : setiap orang berhak untuk bekerja serta
mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam
hubungan kerja.
D. Dinamika Pelaksanaan Rule Of Law.
Pelaksanaan Rule Of Law mengandung keingnan untuk terciptanya negara
hukum, yang membawa keadlan bagi seluruh rakyat. Penegakan Rule Of
Law harus diartikan secara hakiki (materiil) yaitu dalam arti pelaksanaan
dari just law. Prinsip-prinsip Rule Of Law secara hakiki sangat erat
kaitannya dengan the encforcement of the rule of law dalam
penyelenggaraan pemerintah terutama dalam hal penegakan hukum dan
implementasi prinsip-prinsip Rule Of Law.
Secara kuantitatif, peraturan perundang-undangan yang terkait dengan
Rule Of Law telah banyak dihasilkan di negara kita, namun
implementasi/penegakannya belum mencapai hasil yang opimal, sehingga
rasa keadilan sebagai perwujudan pelaksanaan Rule of Law belum
dirasakan sebagian masyarakat.
Proses penegakan hukum di Indonesia dilakukan oleh lembaga-lembaga
hukum terdiri dari :
Kepolisian.
a. Fungsi Kepolisian.
Kepolisian berfungsi memelihara keamanan dalam negeri yang
meliputi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat,
35
penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan
kepada masyarakat.
Tugas pokok Kepolisian
1) Memelihara ketertiban dan keamanan masyarakat;
2) Menegakkan hukum; dan
3) Memberikan perlindungan/pengayoman dan pelayanan
kepada masyarakat.
Wewenang Kepolisian
Untuk menjalankan tugas maka Kepolisian mempunyai wewenang
antara lain :
1) Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan
atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa;
2) Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan
penyitaan;
3) Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari
tindakan Kepolisian dalam rangka pencegahan;
4) Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan
pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain
serta kegiatan masyarakat;
5) Memberikan izin dan mengawasi keramaian dan kegiatan
masyarakat lainnya;

6) Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api,


bahan peledk dan senjata tajam.
b. Kejaksaan
Kejaksaan Republik Indonesia adalah lembaga pemerintah yang
melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta
kewenangan lain berdasarkan undang-undang.
Kejaksanaan mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut :
1) Melakukan penuntutan;
2) Melaksanakan penetapan hakim dan putusan
pengadilan pidana bersyarat, putusan pidana pengawasan
dan keputusan lepas bersyarat;
3) Melakukan penyidikan terhadap tidak pidana
tertentu berdasarkan undang-undang;
4) Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu
dapat melakukan pemeriksaan tembahan sebelum
dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya
dikoordinasikan dengan penyidik.
36
c. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditetapkan dengan Undang-
undang nomor 32 Tahun 2002 dengan tujuan meningkatkan daya
guna dan hasil guna terhadap pemberantasan tindakan pidana
korupsi.
Tugas pokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) :
1) Berkoordinasi dengan instansi lain yang
berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana
korupsi;
2) Supervisi terhadap instansi yang berwenang
melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi;
3) Melakukan penyelidikan, penyidikan dan
penuntutan terhadap tindak pidana korupsi;
4) Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tidak
pidana korupsi; dan
5) Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan
pemerintahan negara.
Wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
1) Melakukan pengawasan, penelitian, penelaahan terhadap
instansi yang menjalankan tugas dan wewenang dengan
pemberantasan tindak korupsi;
2) Mengambil alih penyidikan dan penuntutan terhadap pelaku
tindak korupsi yang sedang dilakukan oleh Kepolisian dan
Kejaksaan;
3) Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan
pemberantasan korupsi;
4) Meminta laporan instansi terkait dengan pencegahan tindak
pidana korupsi.
d. Badan Peradilan
Badan Peradilan menurut Undang-undang nomor 4 dan nomor 5
Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman dan Mahkamah Agung,
bertindak sebagai lembaga penyelenggara peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan serta membantu pencarian
keadilan. Badan Peradilan terdiri dari :
a. Mahkamah Agung (MA)
Mahkamah Agung (MA) merupakan puncak kekuasanaan
kehakiman di Indonesia. MA mempunyai kewenangan :
1) Mengadili pada tingkat kasasi terhadap putusan
yang diberikan pada tingkat terakhir oleh peradilan;

37
2) Menguji peraturan perundang-undangan di bawah
undang-undang terhadap undang-undang; dan
3) Kewenangan lain yang ditentukan undang-undang.
b. Mahkamah Konstitusi (MK)
Mahkamah Konstitusi (MK) merupakan lembaga peradilan
pada tingkat pertama dan terakhir untuk :
1) Menguji undang-undang terhadap UUD 1945;
2) Memutus sengketa kewenangan lembaga negara
yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945;
3) Memutuskan pembubaran partai politik; dan
4) Memutuskan perselisihan tentang hasil pemilihan
umum.
c. Peradilan Tinggi dan Negeri
Merupakan peradilan umum di tingkat propinsi dan
kabupaten. Fungsi kedua peradilan adalah
menyelenggarakan peradilan baik pidana maupun perdata
di tingkat kabupaten dan ditingkat banding di pengadilan
Tinggi.
Pasal 57 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2004 menetapkan
agar peradilan memberikan prioritas peradilan terhadap
tindak pidana korupsi, terorisme, narkoba, psikotropika,
pencucian uang dan selanjutnya tindak pidana.

38
BAB VII
HAK AZASI MANUSIA

PENGERTIAN DAN HAKIKAT HAK AZASI MANUSIA


Secara definitif hak merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman
berperilaku, melindungi kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang
bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya.
A. Pengertian HAM
HAM adalah hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan
fundamental sebagai suatu anugrah Allah yang harus dihormati, dijaga dan
dilindungi oleh setiap individu, masyarakat atau negara.
Hakikat HAM merupakan upaya menjaga keselamatan aksistensi manusia
secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak
dan kewajiban, serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan
dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi
dan menjunjung tinggi HAM, menjadi kewajiban dan tanggung jawab
bersama antara individu, pemerintah (aparatur pemerintah baik sipil
maupun militer) dan negara.
Hakikat HAM yaitu :
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah
bagian dari manusia secara otomatis;
b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin,
ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan
bangsa;

c. HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk


membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai
HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak
melindungi atau melanggar HAM (mansour Fakih, 2003).
B. Perkembangan Pemikiran HAM bermula dari :
a. Magna Charta
b. The American Declaration
c. The French Declaration
d. The Foru Freedom
The American Declaration berpandangan bahwa manusia adalah merdeka
sejak di dalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir ia
harus dibelenggu.
39
The French Declaration tidak boleh ada penangkapan dan penahanan
yang semena-mena, termasuk penangkapan tanpa alasan yang sah dan
penahanan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah.
Dalam kaitan itu berlaku prinsip presumption of innocent, artinya orang-
orang yang dtangkap, kemudian ditahan dan dituduh, berhak dinyatakan
tidak bersalah, sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan
hukum tetap yang menyatakan ia bersalah.
Perkembangan pemikiran HAM dibagi dalam empat generasi :
1. Generasi Pertama :
Pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik,
fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan
politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia II,
totaliterisme dan adanya keinginan negara-negara yang baru
merdeka untuk menciptakan suatu tertub hukum yang baru.
2. Generasi Kedua :
Pengertian HAM tidak saja menurut hak yuridis melainkan juga hak-
hak sosial, ekonomi, politik dan budaya.
3. Generasi Ketiga :
Keadilan dan pemenuhan hak asasi haruslah dimulai sejak
mulainya pembangunan itu sendiri, bukan setelah pembangunan ini
selesai. Agaknya pepatah kuno justice delayed, justice deny tetap
berlaku untuk kita semua.
4. Generasi Keempat :
Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh negara-negara di
kawasan Asia pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi
manusia yang disenut Declaratioan Of The Basic Duties of Asia
People and Government. Deklarasi ini lebih maju dari rumusan
deklarasi ketiga, karena tidak saja mencakup tuntutan struktural
tetapi juga berpihak kepada terciptanya tataran sosial yang
berkeadilan.
Beberapa masalah yang terkait dengan HAM dalam kaitan dengan
pembangunan sebagai berikut :
a. Pembanguan berdikari (self development)
b. Perdamaian
c. Partisipasi rakyat
d. Hak-hak budaya
e. Hak keadilan sosial
Pemikiran HAM Boedi Utomo :
Dalam konteks pemikiran HAM, para pemimpin Boedi Utomo
telahmemperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan
40
pendapat malalui petisi-petisi yang ditunjuk kepada pemerintah colonial
maupun dalam tulisan yang dimuat surat kabar Goeroe Desa. Bentuk
pemikiran HAM Boedi Utomo dalam bidang hak kebebasan berserikat dan
mengeluarkan pendapat.
Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan
dengan masalah hak persamaan kedudukan dikuma hukum, hak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak, hak untuk memeluk agama dan
kepercayaan, hak berserikat, hak berkumpul, hak mengeluarkan pikiran
dengan lisan dan tulisan.
C. Periode HAM
HAM 1970-1980
Pemikiran elit pengasa pada masa ini sangat diwarnai oleh sikap
penolakannya terhadap HAM sebagai produk Barat dan individualistik serta
bertentangan dengan paham kekeluargaan yang dianut bangsa Indonesia.
Pemerintah pada periode ini bersifat depensif yang dicerminkan dari
produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM.
HAM 1990 Sekarang
Setrategi penegakan HAM pada periode ini dilakukan melalui dua tahap
yaitu tahap status penentuan (prescriptive status) dan tahap penataan
aturan secara jonsisten (rule consistent behaviour).
Rencana Aksi Nasional HAM pada tanggal 15 Agustus 1998 yang
didasarkan pada empat pilar yaitu :
a. Persiapan pengesahan prangkat internasional di bidang HAM;
b. Desiminasi informasi dan pendidikan bidang HAM;
c. Penentuan skala prioritas pelaksanaan HAM;
d. Pelaksanaan isi perangkat internasional di bidang HAM yang telah
diratifikasi melalui perundang-undangan nasional.
Bentuk bentuk HAM :
1. Hak Sipil
2. Hak Politik
3. Hak Ekonomi
4. Hak Sosial Budaya.
Hak Personal, Hak Legal, Hak Sipil dan Politik yang terdapat dalam pasal
3-21 dalam DUHAM tersebut memuat :
1. Hak untuk hidup, kebebasan dan keamanan pribadi;
2. Hak bebas dari perbudakan dan penghambatan;
3. Hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang
kejam, tak berprikemanusiaan atau merendahkan derajat
kemanusiaan;
41
4. Hak untuk memperoleh pengekuan hukum dimana saja secara
pribadi;
5. Hak untuk pengempunan hukum secara efektif;
6. Hak bebas dari penangkapan, penahanan atau pembuangan yang
sewenang-wenang;
7. Hak untuk peradilan yang independen dan tidak memihak;
8. Hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah;
9. Hak bebas dari campurtangan yang sewenang-wenang terhadap
kekuasaan pribadi, keluarga, tempat tinggal maupun surat-surat;
10. Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik;
11. Hak atas perlindungan hukum terhadap serangan semavam itu;
12. Hak bergerak;
13. Hak memperoleh suaka;
14. Hak atas suatu kebangsaan;
15. Hak untuk menikah dan membentu keluarga;
16. Hak untuk mempunyai hak milik;
17. Hak bebas berpikir, berkesadaran dan beragama;
18. Hak bebas berpikir dan menyatakan pendapat;
19. Hak untuk berhimpun dan berserikat;
20. Hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan hak atas
akses yang sama terhadap pelayanan masyarakat.
Sedangkan hak ekonomi, sosial dan busaya berdasarkan pada pernyataan
DUHAM menyangkut hal-hal sebagai berikut, yaitu:
1. Hak atas jaminan sosial;
2. Hak untuk bekerja;
3. Hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama;
4. Hak untuk bergabung ke dalam serikat-serikat buruh;
5. Hak atas istirahat dan waktu senggang;
6. Hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan
kesejahteraan;
7. Hak atas pendidikan;
8. Hak untuk berpertisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan
dari masyarakat.
Selanjutnya secara operasional beberapa bentuk HAM yang terdapat
dalam UU nomor 39 tahun 1999 tentang HAM sebagai berikut :

42
1. Hak untuk hidup;
2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan;
3. Hak mengembangkan diri;
4. Hak memperoleh keadilan;
5. Hak atas kebebasan pribadi;
6. Hak atas rasa aman;
7. Hak atas kesejahteraan;
8. Hak turut serta dalam pemerintahan;
9. Hak wanita;
10. Hak anak.
Nilai-nilai HAM :
Berkaitan dengan nilai-nilai HAM, paling tidak ada tiga teori yang dapat
dijadikan kerangka analisis yaitu teori realitas (realistic theory). Teori
relativisme sultural (cultural relative theory) dan teori radikal universalisme
(radical universalisme) Davies, Peter, 1994.
Menurut teori relativitas kultural ada tiga model penerapan HAM yaitu :
a. Penerapan HAM yang lebih menekankan pada hak sipil, hak politik
dan hak pemilikan pribadi;
b. Penerapan HAM yang lebih menekankan pada hak ekonomi dan
hak ekonomi;
c. Penerapan HAM yang lebih menekankan pada hak penentuan
nasib sendiri (self determination) dan pembangunan ekonomi.
HAM dalam Islam :
Adanya ajaran tentang HAM dalam Islam menunjukkan bahwa Islam
sebagai agama telah menempatkan manusia sebagai makhluk terhormat
dan mulia. Karena itu, perlindungan dan penghormatan terhadap manusia
merupakan tuntutan dari ajaran Islam itu sendiri yang wajib dilaksanakan
oleh umatnya terhadap sesama manusia tanpa kecuali.
Dalam Piagam Madinah paling tidak ada dua ajaran pokok yaitu : semua
pemeluk Islam asdalah satu umat walaupun mereka berbeda suku bangsa
dan hubungan antara komunitas muslim dengan non muslim didasarkan
pada prinsip :
a. Berinteraksi secara baik dengan sesama tetangga;
b. Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama;
c. Membela mereka yang teraniaya;
d. Saling menasehati;
e. Menghormati kebebasan beragama.
43
Sedangkan ketentuan HAM yang terdapat dalam Deklarasi Kairo sebagai
berikut :
1. Hak persamaan dan kebebasan (surat Al-Isra : 70; An-Nisa:58, 105,
107, 135; Al-Mumtahanah:8);
2. Hak hidup (surat Al-Maidah:45; Al-Isra:33);
3. Hak perlindungan diri (surat al-Balad:12-17; At-taubah:6);
4. Hak kehormatan pribadi (surat At-Taubah:6);
5. Hak berkeluarga (surat Al-Baqarah:221; Al-Rum:21;An-Nisa:1; At-
Tahrim:6);
6. Hak kesetaraan wanita dengan pria (surat Al-Baqarah:228; Al-
Hujrat:13(;
7. Hak anak dari orang tua (surat Al-Baqarah:233; Al-Isra:23-24);
8. Hak mendapatkan pendidikan (surat At-Taubah:122;Al-Alaq:1-5);
9. Hak kebebasan beragama (surat Al-Kafirun:1-6; Al-Baqarah:156; Al-
Kahfi:29);
10. Hak kebebasan mencari usaka (surat An-Nisa:97; Al-
Mumtahanah:9);
11. Hak memperoleh perkerjaan (surat At-Taubah:105;Al-Baqarah:286;
Al-Mulk:15);
12. Hak memperoleh perlakuan sama (surat Al=Baqarah:275=278; An-
Nisa: 161; Al-Imran:130);
13. Hak kepemilikan (surat Al-Baqarah:29; An-Nisa:29);
14. Hak tahanan (surat Al-Mumtahanah:8).
HAM Dalam Perundang-undangan :
Dalam perundang-undangan RI paling tidak terdapat empat bentuk hukum
tertulis yang memuat aturan tantang HAM. Pertama, dalam konstitusi
(Undang-Undang Dasar Negara). Kedua, dalam ketetapan MPR (TAP
MPR). Ketiga, dalam undang-undang. Keempat, dalam peraturan
pelaksanaan perundang-undangan seperti peraturan pemerintah,
keputusan presiden dan peraturan pelaksanaan lainnya.
HAM sebagai tatanan sosial merupakan pengakuan masyarakat terhadap
pentingnya nilai-nilai HAM dalam tatanan sosial, politik,ekonomi yang
hidup. Dalam kerangka menjadikan HAM sebagai tatanan sosial,
pendidikan HAM secara kurikuler maupun malalui pendidikan
kewarganagaraan (civic education) sangat diperlukan dan terus dilakukan
secara berkesinambungan.

44
D. Pelanggaran dan Pengendalian HAM

Pelanggaran HAM adalah :


Setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara
baik di sengaja ataupun tidak di sengaja atau kelalaian yang secara hukum
mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi
manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-
undang ini, dan tidak didapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan
memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan
mekanisme hukum yang berlaku (UU No. 26/2000 tentang pengadilan
HAM).
Pelanggaran HAM :
Pelanggaran terhadap hak asasi manusia dapat dilakukan baik oleh
aparatur negara (state actors) maupun bukan aparatur negara (non state
actor) (UU No. 26/2000 tentang oengadilan HAM). Karena itu penindakan
terhadap pelanggaran hak asasi manusia tidak boleh hanya ditujukan
terhadap aparatur negara, tetapi juga pelanggaran yang dilakukan bukan
aparatur negara.
E. Penanggung Jawaban Dalam Penegakan (Respection), Pemajuan
(Promotion), Perlindungan (Protection) dan Pemenuhan (Fulfill) HAM.
Tanggung jawab pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM tidak
saja dibebankan kepada negara, melainkan juga kepada individu warga
negara. Artinya negara dan individu sama-sama memiliki tanggung jawab
terhadap pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.

45