Anda di halaman 1dari 239

i

KATA PENGANTAR
Buku Manual Pengelolaan Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga
Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan ini menjelaskan
mengenai prosedur, langkah demi langkah bagaimana melakukan
pembangunan teknis, mempersiapkan masyarakat desa dan pengelolaan
sebuah PLTMH dengan cara yang benar. Buku ini menjelaskan bagaimana
sebenarnya urutan pekerjaan yang sebaiknya dilakukan dalam membangun
sebuah PLTMH mulai dari tahap pemilihan lokasi yang paling tepat,
mengkajinya secara mendalam, mempersiapkan dan mengimplementasikan
desain teknis yang tepat untuk lokasi tersebut, membangun partisipasi
masyarakat dan mempersiapkan lembaga pengelola, sampai pada tahap
mengoperasikan, merawat dan mengelola suatu PLMTH. Secara lengkap
tahapan pembangunan PLTMH yang dibahas dalam buku ini terdiri dari (1)
Penjajagan Awal/Studi Potensi, (2) Studi Kelayakan, (3) Desain Teknis,
Persiapan Pembangunan dan Pengelolaan dengan Pelibatan Masyarakat, (4)
Pelaksanaan Pembangunan PLTMH, (5) Pengoperasian, Pemeliharaan dan
Pengelolaan PLTMH.
Pada dasarnya siapa saja yang mempunyai minat dan kepentingan terhadap
PLTMH dapat memanfaaatkan buku ini. Buku yang disusun sebagai
pedoman pengerjaan teknis dan pelibatan masyarakat di lapangan ini
berkaitan langsung dengan masyarakat pengguna, pelaksana dan perencana
program pembangunan PLTMH. Karena itu mereka yang dapat menjadi
pengguna buku ini antara lain: (1) Pemerintah; (2) Lembaga pelaksana
Program Listrik Perdesaan; (3) Lembaga-lembaga pendanaan pembangunan
desa (dalam dan luar negeri); (4) Lembaga-lembaga swadaya masyarakat
(LSM); (5) Kalangan swasta yang berminat pada pembangunan PLTMH; (6)
Tokoh-tokoh pembangunan desa yang berpengaruh dalam pengambilan
keputusan baik di tingkat pemerintahan maupun masyarakat lokal; dan (7)
Masyarakat konsumen dan pengelola PLTMH untuk listrik perdesaan. Buku
ini, terutama pada bagian studi kelayakan dan desain teknik PLTMH, juga
ditujukan secara khusus kepada (8) masyarakat yang mempunyai latar
belakang teknis terkait seperti teknik geologi, geodesi, sipil, mesin dan elektro
yang berminat berpartisipasi dalam pengembangan pembangunan PLTMH di
Indonesia.
Pengguna buku ini sebaiknya membaca melalui urutan proses mulai dari
tahap awal hingga tahap terakhir (dari bab pertama sampai dengan bab
terakhir) agar dapat mengetahui dan mengikuti seluruh tahapan secara
lengkap dan utuh. Dengan demikian maksud dan tujuan pembangunan
PTLMH dari sisi kepedulian dan perhatian terhadap masyarakat desa dalam
rangka membangun masyarakat tersebut kepada kualitas kehidupan yang
lebih baik dapat dirasakan maknanya. Pembangunan PLTMH diharapkan
tidak menjadi sesuatu yang berlangsung sia-sia atau sekedar pembangunan
listrik tanpa memandang bahwa masyarakat yang akan menjadi konsumen
perlu diajak berpartisipasi. Mengapa kita perlu menghindarkan hal yang
demikian? Karena walau bagaimanapun ketersediaan listrik sedikit banyak
akan mengubah pola hidup masyarakat setempat bahkan dapat
mengakibatkan culture shock akibat tersedianya listrik.

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
ii

Akhir kata, buku ini menyediakan sebuah cara cepat bagi Anda untuk
memperoleh informasi yang jelas dan spesifik berkaitan dengan aspek teknik
dan pengembangan masyarakat dalam proses pengembangan PLTMH untuk
program listrik perdesaan. Buku ini ditujukan untuk menjadi referensi
komprehensif sebagai pemandu pelaksanaan suatu program listrik perdesaan
menggunakan PLTMH. Meskipun demikian untuk memperdalam beberapa
topik tertentu Anda dapat membaca sejumlah literatur pendukung
sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka. Demikian juga panduan yang
diberikan dalam buku ini tidak bersifat kaku dengan tidak memberi peluang
improvisasi dalam pelaksanaan di lapangan. Bersiaplah untuk menerapkan di
luar apa yang tercakup dalam buku ini dan Anda akan menemukan banyak
perbendaharaan pengalaman yang tersembunyi.

Tim Penyusun

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
iii

DAFTAR ISI

1 PENDAHULUAN......................................................................................................3
1.1 PENYEDIAAN LISTRIK PERDESAAN MENGGUNAKAN PEMBANGKIT LISTRIK
TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)........................................................................3
1.2 PENGERTIAN PLTMH...........................................................................................3
1.3 MENGAPA MEMILIH PLTMH?..............................................................................3
1.4 TAHAPAN PENGEMBANGAN PLTMH UNTUK LISTRIK PERDESAAN.....................3
2 KEBERLANJUTAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO
(PLTMH)...................................................................................................................3
2.1 ASPEK TEKNIK......................................................................................................3
2.1.1 Pemilihan Teknologi..............................................................................3
2.1.2 Standarisasi dan Jaminan Pemeliharaan..............................................3
2.2 ASPEK EKONOMI...................................................................................................3
2.2.1 Pembiayaan Pembangunan...................................................................3
2.2.2 Pembiayaan Pengelolaan......................................................................3
2.2.3 Penetapan Tarif Listrik..........................................................................3
2.2.4 Pemanfaatan untuk Kegiatan Ekonomi Produktif.................................3
2.3 ASPEK SOSIAL......................................................................................................3
2.3.1 Partisipasi Masyarakat..........................................................................3
2.3.2 Pemanfaatan Listrik dan Manajemen Energi........................................3
2.3.3 Pengembangan Kelembagaan...............................................................3
2.3.4 Dukungan Kelembagaan.......................................................................3
2.3.4.1 Dukungan Pemerintah........................................................................................3
2.3.4.2 Dukungan Kelembagaan Lokal..........................................................................3
2.3.4.3 Fungsi Intermediasi............................................................................................3
2.4 ASPEK SUMBERDAYA ALAM.................................................................................3
3 PENJAJAGAN PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
MIKROHIDRO (PLTMH)......................................................................................3
3.1 PENJAJAGAN TEKNIS PEMBANGUNAN PLTMH.......................................3
3.1.1 Langkah-langkah Kegiatan...................................................................3
3.1.2 Kebutuhan Data untuk Studi Potensi.....................................................3
3.1.2.1 Data primer........................................................................................................3
3.1.2.2 Data Sekunder....................................................................................................3
3.2 PENJAJAGAN NON-TEKNIS PEMBANGUNAN PLTMH.............................3
3.2.1 Deskripsi Wilayah dan Kajian Sosial Demografi..................................3
3.2.2 Gambaran mengenai Lingkungan dan Sumber Energi.........................3
4 STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK
TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)....................................................................3
4.1 STUDI KELAYAKAN TEKNIS PEMBANGUNAN PLTMH.........................................3
4.1.1 Pengukuran Kondisi Hidrologi..............................................................3
4.1.1.1 Pengukuran Head Air.........................................................................................3
4.1.1.2 Pengukuran Debit Air.........................................................................................3
4.1.2 Studi Geologi dan Topografi..................................................................3
4.1.2.1 Studi Geologi.....................................................................................................3
4.1.2.2 Studi Topografi..................................................................................................3

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
iv

4.1.3 Pemilihan Lokasi dan Layout Dasar.....................................................3


4.1.3.1 Lokasi Bangunan Penyadap (Intake)..................................................................3
4.1.3.2 Lokasi Rumah Pembangkit................................................................................3
4.1.3.3 Layout Sistem PLTMH.......................................................................................3
4.2 STUDI KELAYAKAN NON-TEKNIS PEMBANGUNAN PLTMH.................3
4.2.1 Lingkup Kajian......................................................................................3
4.2.1.1 Potensi Ekonomi Desa.......................................................................................3
4.2.1.2 Potensi Sumber Daya Alam dan Kemampuan Pengadaan Material....................3
4.2.1.3 Potensi Konsumen.............................................................................................3
4.2.1.4 Kelembagaan.....................................................................................................3
4.2.1.5 Kehidupan Sosial...............................................................................................3
4.2.1.6 Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).............................................................3
4.2.2 Analisis Ekonomi Pembangunan PLTMH.............................................3
4.2.3 Penyusunan Laporan Studi Kelayakan Non Teknis...............................3
5 DESAIN TEKNIS DAN PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK
TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)....................................................................3
5.1 DESAIN BANGUNAN SIPIL....................................................................................3
5.1.1 Bendungan (Weir)..................................................................................3
5.1.1.1 Tinggi Muka Air Banjir pada Bendungan...........................................................3
5.1.1.2 Desain Lantai Muka...........................................................................................3
5.1.1.3 Desain Ruang Olakan.........................................................................................3
5.1.2 Bangunan Pengambilan (Intake)...........................................................3
5.1.3 Saluran Penghantar (Headrace)...........................................................3
5.1.3.1 Perencanaan Hidrolis.........................................................................................3
5.1.3.2 Kecepatan Aliran................................................................................................3
5.1.3.3 Desain Saluran Pembawa menggunakan Rumus Trickler (Alternatif)................3
5.1.4 Bak Pengendap dan Penenang (Head Tank atau Forebay Tank)..........3
5.1.5 Pipa Pesat (Penstock)............................................................................3
5.1.5.1 Pemilihan Pipa Pesat..........................................................................................3
5.1.5.2 Diameter Pipa Pesat...........................................................................................3
5.1.5.3 Tebal Plat...........................................................................................................3
5.1.5.4 Waterhammer.....................................................................................................3
5.1.5.5 Tumpuan Pipa Pesat (Saddle Support)..............................................................3
5.1.6 Rugi-rugi Head (Head Losses)..............................................................3
5.1.7 Rumah Pembangkit (Power House)......................................................3
5.2 PERLENGKAPAN MEKANIK ELEKTRIK..................................................................3
5.2.1 Turbin.....................................................................................................3
5.2.1.1 Jenis Turbin........................................................................................................3
5.2.1.2 Kriteria Pemilihan Jenis Turbin..........................................................................3
5.2.2 Transmisi Daya Mekanik.......................................................................3
5.2.2.1 Sistem Transmisi Daya Langsung......................................................................3
5.2.2.2 Sistem Transmisi Daya dengan Sabuk (Belt)......................................................3
5.2.3 Generator...............................................................................................3
5.2.3.1 Pemilihan Jenis Arus Listrik: Arus Bolak-Balik (AC)........................................3
5.2.3.2 Penentuan Sistem Satu Fasa atau Sistem Tiga Fasa............................................3
5.2.3.3 Perhitungan Daya Arus Bolak-balik dan Faktor Daya........................................3
5.2.3.4 Pemilihan Generator..........................................................................................3
5.2.3.5 Generator Sinkron..............................................................................................3
5.2.3.6 Generator Asinkron............................................................................................3
5.2.4 Sistem Kontrol........................................................................................3
5.2.5 Pentanahan............................................................................................3

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
v

5.2.5.1 Pentanahan Langsung........................................................................................3


5.2.5.2 Pentanahan Lewat Hambatan.............................................................................3
5.2.5.3 Pentanahan Lewat Reaktansi..............................................................................3
5.2.5.4 Pentanahan dengan Ground-Fault Neutralizer...................................................3
5.2.5.5 Konstruksi Sistem Pentanahan...........................................................................3
5.2.5.6 Bahan-Bahan Elektroda.....................................................................................3
5.2.5.7 Hantaran Pentanahan..........................................................................................3
5.3 JARINGAN LISTRIK PLTMH.................................................................................3
5.3.1 Jaringan Transmisi dan Distribusi........................................................3
5.3.1.1 Pendahuluan.......................................................................................................3
5.3.1.2 Sistem Transmisi dan Distribusi.........................................................................3
5.3.1.3 Pemilihan Tegangan...........................................................................................3
5.3.1.4 Perlengkapan Transmisi dan Distribusi..............................................................3
5.3.1.5 Perlengkapan Pengaman...................................................................................3
5.3.2 Instalasi Konsumen................................................................................3
5.3.2.1 Kabel Instalasi Rumah Konsumen.....................................................................3
5.3.2.2 Pembatas Daya (Mini Circuit Breaker/MCB).....................................................3
5.3.2.3 Sekering.............................................................................................................3
5.3.2.4 Titik Keluaran....................................................................................................3
5.4 PERHITUNGAN DAYA LISTRIK..............................................................................3
5.4.1 Perhitungan Pasokan Daya Listrik dari PLTMH..................................3
5.4.2 Kebutuhan Daya Listrik Masyarakat....................................................3
5.5 PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PLTMH.............................................................3
5.5.1 Koordinasi dan Pengaturan Kerjasama................................................3
5.5.2 Pembangunan PLTMH..........................................................................3
5.5.3 Tes Hasil Pekerjaan Fisik Bangunan Sipil............................................3
5.5.3.1 Bendungan.........................................................................................................3
5.5.3.2 Bangunan Pengambilan/Penyadap (Intake)........................................................3
5.5.3.3 Saluran Pembawa...............................................................................................3
5.5.3.4 Bak Pengendap..................................................................................................3
5.5.3.5 Bak Penenang (Forebay)....................................................................................3
5.5.3.6 Pipa Pesat (Penstock).........................................................................................3
5.5.4 Tes Hasil Pekerjaan Mekanik dan Elektrik: Turbin, Generator dan
Sistem Kontrol......................................................................................3
5.5.5 Tes Hasil Pekerjaan Jaringan Listrik PLTMH......................................3
5.5.5.1 Persyaratan Elektrik Jaringan Listrik.................................................................3
5.5.5.2 Sambungan ke Konsumen..................................................................................3
6 PERSIAPAN PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN PEMBANGKIT
LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)...................................................3
6.1 LANGKAH AWAL ...................................................................................................3
6.2 PERENCANAAN PEMBANGUNAN...........................................................................3
6.2.1 Pemilihan Teknologi dan Skema Pembiayaan.......................................3
6.2.2 Pembentukan Panitia Pembangunan.....................................................3
6.2.3 Kontribusi Masyarakat..........................................................................3
6.2.4 Penentuan Kompensasi..........................................................................3
6.2.5 Pembagian dan Penjadwalan Pekerjaan..............................................3
6.2.6 Pengendalian dan Pengawasan.............................................................3
6.3 PERENCANAAN PENGELOLAAN............................................................................3
6.3.1 Kepemilikan dan Bentuk Kelembagaan.................................................3
6.3.2 Penentuan Personil Lembaga Pengelola PLTMH................................3
6.3.3 Penyusunan Peraturan..........................................................................3

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
vi

6.3.4 Perencanaan Keuangan.........................................................................3


6.3.5 Penentuan Tarif......................................................................................3
6.3.6 Penyiapan Administrasi.........................................................................3
6.4 PERENCANAAN PEMANFAATAN.............................................................................3
6.4.1 Penentuan Area Pelayanan...................................................................3
6.4.2 Penentuan Tingkat Layanan..................................................................3
6.4.3 Penggunaan untuk Kegiatan Produktif..................................................3
6.4.4 Interkoneksi dengan Jaringan PLN.......................................................3
6.5 CAPACITY BUILDING (PENGEMBANGAN KAPASITAS SUMBER DAYA MANUSIA).. .3
7 PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN PEMBANGKIT LISTRIK
TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)....................................................................3
7.1 MENGOPERASIKAN PLTMH.................................................................................3
7.1.1 Proses Menyalakan dan Mematikan PLTMH........................................3
7.1.2 Optimisasi Daya Keluaran (Debit Rendah pada Musim Kemarau)......3
7.1.3 Pembacaan Meteran (untuk Beban ke Konsumen dan Daya Keluaran)
..............................................................................................................3
7.1.4 Deteksi Ketidaknormalan Putaran Turbin............................................3
7.2 MERAWAT DAN MEMELIHARA PLTMH................................................................3
7.2.1 Bendungan.............................................................................................3
7.2.2 Intake.....................................................................................................3
7.2.3 Saluran Pembawa..................................................................................3
7.2.4 Bak Pengendap dan Penenang..............................................................3
7.2.5 Pipa Pesat (Penstock)............................................................................3
7.2.6 Turbin.....................................................................................................3
7.2.7 Transmisi Mekanik.................................................................................3
7.2.8 Generator...............................................................................................3
7.2.9 Switch dan Kabel Penghantar Daya.....................................................3
7.2.10 Automatic Voltage Regulator (AVR)......................................................3
7.2.11 Over Voltage Trip...................................................................................3
7.2.12 Sistem Kontrol Beban (Electronic Load Controller / ELC)...................3
7.2.13 Pentanahan (Grounding/Earthing)........................................................3
7.2.14 Jaringan Transmisi dan Distribusi........................................................3
7.2.15 Instalasi Konsumen................................................................................3
7.2.16 Switch Pembatas Daya pada Instalasi Konsumen................................3
7.2.17 Jadwal Perawatan Berkala Tahunan.....................................................3
7.2.17.1 Pemeriksaan Berkala Harian............................................................................3
7.2.17.2 Pemeriksaan Berkala Mingguan.......................................................................3
7.2.17.3 Pemeriksaan Berkala Bulanan..........................................................................3
7.2.17.4 Pekerjaan Sebelum Musim Hujan....................................................................3
7.2.17.5 Pekerjaan Selama Musim Hujan......................................................................3
7.2.17.6 Pekerjaan Setelah Musim Hujan......................................................................3
7.2.17.7 Pekerjaan Selama Musim Kemarau..................................................................3
7.2.17.8 Perawatan Tahunan..........................................................................................3
7.2.17.9 Pekerjaan Tahunan...........................................................................................3
7.2.18 Daftar Peralatan Perawatan PLTMH...................................................3

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
vii

8 IMPLEMENTASI PENGELOLAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA


MIKROHIDRO (PLTMH)......................................................................................3
8.1 PENGELOLAAN ADMINISTRASI DAN PERSURATAN................................................3
8.2 PENGELOLAAN KEUANGAN DAN PEMBUKUAN....................................................3
8.3 FUNGSIONALISASI MANAJEMEN...........................................................................3
8.4 PENINGKATAN KINERJA PENGELOLAAN PLTMH.................................................3
8.4.1 Sustainabilitas (Keberlanjutan) Pelayanan...........................................3
8.4.1.1 Kinerja Sistem Fisik PLTMH.............................................................................3
8.4.1.2 Kinerja Pengelolaan...........................................................................................3
8.4.1.3 Kemampuan Pembiayaan...................................................................................3
8.4.2 Penggunaan Pelayanan.........................................................................3
8.4.3 Demand Responsiveness........................................................................3
8.4.3.1 Kesesuaian Layanan dengan Harapan................................................................3
8.4.3.2 Kesesuaian Layanan dengan Daya Beli..............................................................3
8.4.4 Tingkat Partisipasi.................................................................................3
8.4.5 Pemeratan dan Keadilan.......................................................................3

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
viii

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1. SKEMA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH).........3


GAMBAR 2. DIAGRAM TAHAPAN PEMBANGUNAN PLTMH......................................3
GAMBAR 3. SKEMA MENUJU KEBERLANJUTAN (SUSTAINABILITAS) PLTMH..........3
GAMBAR 4. PENGUKURAN HEAD ANTARA DUA TITIK X DAN Y MENGGUNAKAN
KLINOMETER.........................................................................................3
GAMBAR 5. METODA PENGUKURAN HEAD DENGAN PRESSURE GAUGE (ALAT
PENGUKUR TEKANAN)..........................................................................3
GAMBAR 6. LUAS PENAMPANG ALIRAN AIR SUNGAI DAPAT DITENTUKAN DENGAN
CARA: (A) MENGANGGAP LUAS PENAMPANGNYA BERUPA PERSEGI
PANJANG, (B) PERHITUNGAN SESUAI DENGAN RUMUS A = (4 D1 + 2 D2
+ 4 D3 + . . . + 4 DN) (W/3).....................................................................3
GAMBAR 7. KRITERIA DISAIN UNTUK WEIR YANG DIGUNAKAN DALAM
PENGUKURAN DEBIT AIR......................................................................3
GAMBAR 8. STUDI GEOLOGI: SKETSA DIDAPAT DARI PETA DAERAH, TOPOGRAFI
DAN WAWANCARA.................................................................................3
GAMBAR 9. PERENCANAAN LOKASI INTAKE.............................................................3
GAMBAR 10. CONTOH INTAKE YANG TERLINDUNGI SECARA ALAMIAH DARI ALIRAN
BANJIR...................................................................................................3
GAMBAR 11. PEMILIHAN LOKASI PLTMH UNTUK MENGHINDARI KONFLIK KARENA
ADANYA KEBUTUHAN AIR UNTUK IRIGASI.........................................3
GAMBAR 12. LOKASI RUMAH PEMBANGKIT YANG TERLINDUNGI DARI TERPAAN
BANJIR (NEW SCHEME) DIBANDINGKAN DENGAN LOKASI
SEBELUMNYA YANG MUDAH DITERPA BANJIR (ORIGINAL SCHEME)....3
GAMBAR 13. PENEMPATAN TURBIN DALAM RUMAH PEMBANGKIT...........................3
GAMBAR 14. LAYOUT SISTEM MIKROHIDRO ATAU PLTMH.......................................3
GAMBAR 15. BENTUK-BENTUK SPILLWAL STANDAR WES (U.S. ARMY ENGINEERS
WATERWAYS EXPERIMENT STATION)........................................................3
GAMBAR 16. HUBUNGAN HEAD DAN DEBIT UNTUK BENTUK-BENTUK STANDAR
SPILLWAL WES......................................................................................3
GAMBAR 17. PERENCANAAN RUANG OLAKAN..........................................................3
GAMBAR 18. KANTONG LUMPUR PADA SALURAN PEMBAWA....................................3
GAMBAR 19. KONSTRUKSI BAK PENGENDAP DAN BAK PENENANG..........................3
GAMBAR 20. DIAGRAM APLIKASI BERBAGAI JENIS TURBIN (HEAD VS DEBIT).........3
GAMBAR 21. MEKANISME PENGHANTARAN DAYA.....................................................3
GAMBAR 22. SISTEM LISTRIK SATU FASA..................................................................3
GAMBAR 23. SISTEM LISTRIK TIGA FASA Y DAN DELTA..........................................3
GAMBAR 24. VEKTOR DAYA.......................................................................................3
GAMBAR 25. MEKANISME PEMBANGKITAN DAYA PADA GENERATOR.......................3
GAMBAR 26. MACAM-MACAM SISTEM PENTANAHAN................................................3
GAMBAR 27. SISTEM TRANSMISI DAN DISTRIBUSI: (A) SISTEM LOOP, (B) SISTEM
RADIAL..................................................................................................3
GAMBAR 28. TIANG DAN LENGANNYA BESERTA ISOLATOR UNTUK SISTEM
TRANSMISI DAN DISTRIBUSI FASA TUNGGAL.......................................3
GAMBAR 29. CONTOH PEMBATAS DAYA YANG DAPAT DIGUNAKAN PADA INSTALASI
KONSUMEN PLTMH..............................................................................3
GAMBAR 30. KONTAK TUSUK PADA INSTALASI RUMAH KONSUMEN PLTMH..........3

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
ix

GAMBAR 31. KOTAK SAMBUNGAN PADA INSTALASI RUMAH KONSUMEN PLTMH


3
GAMBAR 32. SAKELAR PADA INSTALASI RUMAH KONSUMEN PLTMH.....................3
GAMBAR 33. SISTEM JARINGAN TRANSMISI, DISTRIBUSI DAN INSTALASI RUMAH
KONSUMEN PLTMH..............................................................................3
GAMBAR 34. CONTOH KURVA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PLTMH (KURVA S)
DI LEUWI KIARA, TASIKMALAYA, JAWA BARAT....................................3
GAMBAR 35. BAGIAN-BAGIAN SISTEM PLTMH DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM
KONTROL INDUCTION GENERATOR CONTROLLER/IGC...........................3
GAMBAR 36. BAGIAN-BAGIAN SISTEM PLTMH DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM
KONTROL ELECTRONIC LOAD CONTROLLER/ELC..................................3

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
x

DAFTAR TABEL
TABEL 1. FORMULIR ISIAN PENJAJAGAN PEMBANGUNAN PLTMH (1)................3
TABEL 2. FORMULIR ISIAN PENJAJAGAN PEMBANGUNAN PLTMH (2)................3
TABEL 3. FORMULIR ISIAN PENJAJAGAN PEMBANGUNAN PLTMH (3)................3
TABEL 4. FORMULIR ISIAN PENJAJAGAN PEMBANGUNAN PLTMH (4)................3
TABEL 5. FORMULIR PENGUKURAN DEBIT AIR....................................................3
TABEL 6. FORMULIR STUDI KELAYAKAN TEKNIS PEMBANGUNAN PLTMH........3
TABEL 7. CONTOH FORMULIR PERHITUNGAN IRR...............................................3
TABEL 8. STRUKTUR LAPORAN STUDI KELAYAKAN ASPEK NON TEKNIS............3
TABEL 9. KONSTANTA SLOPE OF UPSTREAM FACE UNTUK MERCU BENDUNGAN
BULAT....................................................................................................3
TABEL 10. PERHITUNGAN SALURAN PEMBAWA MENGGUNAKAN SOFTWARE FLOW
PRO 2.....................................................................................................3
TABEL 11. STANDAR DESAIN SALURAN PEMBAWA MENGGUNAKAN RUMUS
TRICKLER...............................................................................................3
TABEL 12. MATERIAL PIPA PESAT...........................................................................3
TABEL 13. STANDAR PENGGUNAAN PIPA PESAT.....................................................3
TABEL 14. KOEFISIEN KEKASARAN BERBAGAI JENIS MATERIAL PENSTOCK.........3
TABEL 15. DAERAH OPERASI TURBIN....................................................................3
TABEL 16. PUTARAN GENERATOR SINKRON (RPM)................................................3
TABEL 17. RUNAWAY SPEED TURBIN, NMAKS/N.........................................................3
TABEL 18. JUMLAH PENGHANTAR DAN FAKTOR PENGISIAN..................................3
TABEL 19. PEDOMAN APLIKASI MCB UNTUK BERBAGAI DAYA............................3
TABEL 20. FORMULIR PENGUJIAN FISIK BANGUNAN SIPIL (1)..............................3
TABEL 21. FORMULIR PENGUJIAN FISIK BANGUNAN SIPIL (2)..............................3
TABEL 22. FORMULIR PENGUJIAN PERALATAN MEKANIK DAN ELEKTRIK (1).......3
TABEL 23. FORMULIR PENGUJIAN PERALATAN MEKANIK DAN ELEKTRIK (2).......3
TABEL 24. FORMULIR PENGUJIAN PERALATAN MEKANIK DAN ELEKTRIK (3).......3
TABEL 25. SYARAT-SYARAT TWISTED ISOLATED CABLE (TIC) TEGANGAN RENDAH
(TR).......................................................................................................3
TABEL 26. FORMULIR PENGUJIAN JARINGAN TEGANGAN RENDAH.......................3
TABEL 27. PERAWATAN/PEMELIHARAAN BANGUNAN SIPIL PLTMH.....................3
TABEL 28. JADWAL PEMBERIAN GREASE (STEMPET)..............................................3
TABEL 29. PENGENALAN DAN PENANGGULANGAN GANGGUAN MEKANIK
(UNTUK PLTMH YANG MENGGUNAKAN TURBIN CROSSFLOW)...........3
TABEL 30. PENGENALAN DAN PENANGGULANGAN GANGGUAN MEKANIK
(UNTUK PLTMH YANG MENGGUNAKAN TURBIN CROSSFLOW),
LANJUTAN..............................................................................................3
TABEL 31. PENGENALAN DAN PENANGGULANGAN GANGGUAN ELEKTRIK
(UNTUK PEMBANGKIT DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM KONTROL
IGC)......................................................................................................3
TABEL 32. PENGENALAN DAN PENANGGULANGAN GANGGUAN ELEKTRIK
(UNTUK PEMBANGKIT DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM KONTROL
ELC)......................................................................................................3
TABEL 33. FORMAT BUKU DATA LANGGANAN.......................................................3
TABEL 34. FORMAT BUKU SURAT...........................................................................3
TABEL 35. FORMAT BUKU RENCANA KEGIATAN....................................................3
TABEL 36. FORMAT BUKU LANGGANAN................................................................3

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
xi

TABEL 37. FORMAT BUKU KAS HARIAN................................................................3


TABEL 38. FORMAT BUKU INVENTARIS..................................................................3
TABEL 39. FORMAT BUKU KAS HARIAN................................................................3
TABEL 40. FORMAT BUKU KAS UTANG/PIUTANG...................................................3
TABEL 41. FORMAT BUKU CATATAN UTANG/PIUTANG...........................................3
TABEL 42. FORMAT LAPORAN KEUANGAN BULANAN............................................3
TABEL 43. BIAYA BEBAN KONSUMEN PLTMH SELOLIMAN/KALI MARON, JAWA
TIMUR....................................................................................................3
TABEL 44. TARIF PEMAKAIAN LISTRIK KONSUMEN PLTMH SELOLIMAN/KALI
MARON DI JAWA TIMUR YANG SUDAH BERSIFAT PROGRESIF...............3

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
xii

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 CONTOH PROSES PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN PLTMH


TABA DI KABUPATEN TANA TORAJA, PROPINSI SULAWESI
SELATAN.........................................................................................3
LAMPIRAN 2 CONTOH LAPORAN PENJAJAGAN PEMBANGUNAN PLTMH TIBU
TANGKOK DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR, PROPINSI NUSA
TENGGARA BARAT.........................................................................3
LAMPIRAN 3 CONTOH LAPORAN STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PLTMH
BOJONG BOLED DI KABUPATEN GARUT, PROPINSI JAWA BARAT. .3
LAMPIRAN 4 CONTOH PROSES PEMBANGUNAN PLTMH SELOLIMAN/KALI
MARON (ON GRID) YANG DISERTAI UPAYA PELIBATAN
MASYARAKAT DI KABUPATEN MOJOKERTO, PROPINSI JAWA
TIMUR............................................................................................3
LAMPIRAN 5 CONTOH ANGGARAN DASAR BADAN PENGELOLA PLTMH
SILAYANG DI KABUPATEN PASAMAN, PROPINSI SUMATERA BARAT
.......................................................................................................3
LAMPIRAN 6 CONTOH POLA PENGELOLAAN PLTMH TABA DI KABUPATEN
TANA TORAJA, PROPINSI SULAWESI SELATAN...............................3

DAFTAR PUSTAKA...225

INDEKS 227

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
xiii

1 PENDAHUL
UAN

1.1 PENYEDIAAN LISTRIK PERDESAAN MENGGUNAKAN


PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)
Perdesaan umumnya merupakan daerah yang lebih tertinggal dibandingkan
perkotaan dan memiliki banyak keterbatasan prasarana pendukung seperti
jalan, fasilitas kesehatan, air bersih, listrik, aksesibilitas terhadap pasar dan
informasi, dan lain-lain. Keterpencilan lokasi menyebabkan penyediaan
prasarana-prasarana tersebut memerlukan biaya yang sangat tinggi. Hal ini
mendorong munculnya pendekatan yang bersifat desentralistik yaitu
mengandalkan kemampuan sumber daya alam maupun sumber daya
manusia setempat untuk menghemat biaya penyediaan.
Dalam hal penyediaan listrik, perluasan jaringan sampai ke daerah-daerah
terpencil pada umumnya tidak ekonomis. Begitu juga dengan penggunaan
pembangkit berbahan bakar fosil yang pada umumnya generator diesel
untuk daerah terpencil biasanya tidak ekonomis karena skala pembangkitan
yang terlalu kecil dan tingginya biaya bahan bakar. Meskipun demikian,
penyediaan listrik tetap harus dilakukan karena merupakan investasi sosial
yang tak terhindarkan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Oleh karena itu, selain kemungkinan memperoleh listrik dari perluasan
jaringan listrik PLN (Perusahaan Listrik Negara) terdapat alternatif lain yang
perlu dipertimbangkan yaitu pembangkitan listrik menggunakan sumber daya
alam setempat seperti halnya Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
Kondisi melimpahnya potensi sumber daya energi terbarukan khususnya
tenaga air merupakan peluang besar dan sekaligus tantangan untuk
mengembangkan pembangkit-pembangkit listrik skala kecil bagi masyarakat
perdesaan.

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
xiv

1.2 PENGERTIAN PLTMH


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), biasa disebut mikrohidro,
adalah suatu pembangkit listrik kecil yang menggunakan tenaga air di bawah
kapasitas 200 kW yang dapat berasal dari saluran irigasi, sungai atau air
terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjun (head) dan debit air.
Umumnya PLTMH adalah pembangkit listrik tenaga air jenis run-off river di
mana head diperoleh tidak dengan cara membangun bendungan besar, tetapi
dengan mengalihkan sebagian aliran air sungai ke salah satu sisi sungai dan
menjatuhkannya lagi ke sungai yang sama pada suatu tempat di mana head
yang diperlukan sudah diperoleh. Dengan melalui pipa pesat air diterjunkan
untuk memutar turbin yang berada di dalam rumah pembangkit (lihat gambar
di bawah ini). Energi mekanik dari putaran poros turbin akan diubah menjadi
energi listrik oleh sebuah generator.

Gambar 1. Skema Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH)

1.3 MENGAPA MEMILIH PLTMH?


Aspek Teknologi
Berdasarkan aspek teknologi terdapat keuntungan dan kemudahan pada
pembangunan dan pengelolaan PLTMH dibandingkan pembangkit listrik jenis
lain, yaitu:

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
xv

Konstruksinya relatif sederhana


Mudah dalam perawatan dan penyediaan suku cadang
Dapat dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat desa
Biaya operasi dan perawatan rendah.

Aspek Sosial Ekonomi


Selain dapat menyediakan listrik untuk kebutuhan rumah tangga, kehadiran
PLTMH juga dapat menyediakan energi yang cukup besar dan dapat
dimanfaatkan kegiatan-kegiatan produktif terutama pada siang hari ketika
beban listrik rendah. Berdasarkan sudut pandang ini kelebihan PLTMH:
Meningkatkan produktivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat melalui
munculnya atau meningkatnya produktivitas industri kecil rumah
tangga
Menciptakan lapangan-lapangan kerja baru di desa.

Aspek Pengembangan Kelembagaan Masyarakat


Pengoperasian PLTMH menuntut adanya suatu lembaga tersendiri yang
menjalankan fungsi-fungsi pengelolaan dan perawatan. Lembaga tersebut
akan menambah keberadaan lembaga yang sudah ada di desa dan secara
tidak langsung dapat menjadi media pengembangan kapasitas masyarakat
dalam pengelolaan kelembagaan dan pelayanan publik.

Aspek Lingkungan
PLTMH ramah terhadap lingkungan karena tidak menghasilkan polusi udara
atau limbah lainnya dan tidak merusak ekosistem sungai. Penyediaan listrik
menggunakan PLTMH akan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil
(misalnya minyak tanah dan solar) untuk penerangan dan kegiatan rumah
tangga lainya. Selain itu tambahan manfaat langsung yang dirasakan oleh
masyarakat dari sumberdaya air diharapkan dapat mendorong masyarakat
untuk memelihara daerah tangkapan air demi menjamin pasokan air bagi
kelangsungan operasi PLTMH.

1.4 TAHAPAN PENGEMBANGAN PLTMH UNTUK LISTRIK


PERDESAAN
Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam pembangunan PLTMH untuk
penyediaan listrik perdesaan agar pembangunan tersebut dapat memberikan
manfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Identifikasi faktor-faktor
tersebut dimulai dari tahap penjajagan awal sebagai pra-studi kelayakan yang
kemudian diteruskan dengan studi kelayakan yang meliputi kelayakan teknis
dan kelayakan sosial-ekonomi. Keputusan untuk melanjutkan atau berhenti
dapat terjadi baik pada tahap penjajagan atau tahap studi kelayakan.

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
xvi

Hasil studi kelayakan kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan konsultasi


kepada masyarakat dan penyandang dana. Untuk itu studi kelayakan perlu
menghasilkan beberapa opsi (pilihan) pembangunan dan penjelasan tentang
konsekuensi dari setiap opsi. Selanjutnya dilakukan desain detail
berdasarkan opsi yang disepakati meliputi detail desain untuk bangunan sipil,
sistem elektro-mekanikal, sistem kendali/sistem kontrol dan sistem transmisi
serta distribusi. Bersamaan dengan kegiatan ini juga dilakukan persiapan
pembangunan dan pengelolaan bersama masyarakat.
Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah lalu, masalah-masalah
sosial seringkali timbul dalam implementasi PLTMH yang tergesa-gesa.
Masalah-masalah tersebut kemudian cenderung dipecahkan kasus per kasus
tanpa kerangka yang jelas. Oleh karena itu perencanaan pembangunan dan
pengelolaan bersama masyarakat seharusnya sudah diselesaikan sebelum
pembangunan dilaksanakan. Koordinasi antar pihak-pihak yang
berkepentingan sebaiknya mulai dilakukan seawal-awalnya untuk menjalin
komitmen dan merumuskan aturan main serta peran dan tanggungjawab
semua pihak. Dalam hal ini masyarakat seharusnya diposisikan sebagai
subyek dalam setiap tahapan pengembangan dan tidak semata-mata menjadi
pengelola dan penerima manfaat.
Tahapan-tahapan kegiatan sejak dimulai dari ide untuk membangun PLTMH
hingga PLTMH beroperasi di suatu lokasi, secara garis besar dapat dibagi
dalam 5 tahap sebagai berikut:
Tahap 1, Penjajagan Awal/Studi Potensi
Tahap 2, Studi Kelayakan
Tahap 3, Desain Teknis dan Persiapan Pembangunan
Tahap 4, Pelaksanaan Pembangunan Fisik
Tahap 5, Pengoperasian, Pemeliharaan dan Pengelolaan.

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
xvii

POTENSI EKONOMI
DAN KONSUMEN

PERSIAPAN
PEMBANGUNAN
DAN
PENGELOLAAN

PEMBANGUNAN
SISTEM FISIK
PLTMH

Gambar 2. Diagram Tahapan Pembangunan PLTMH

Manual Pengelolaan Pengembangan


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Listrik Perdesaan
2 N PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
KEBERLANJUTA

MIKROHIDRO (PLTMH)

Pengembangan PLTMH untuk listrik perdesaan seyogyanya tidak lagi


dipandang sebagai solusi sementara sambil menunggu masuknya jaringan
PLN seperti yang terjadi di masa lalu. Ketersediaan teknologi PLTMH yang
handal memungkinkan pasokan listrik yang berkualitas dan berkelanjutan
dalam jangka panjang. PLTMH yang dibangun di suatu lokasi seharusnya
dipandang sebagai solusi permanen untuk lokasi tersebut.
Teknologi yang handal dan ketersediaan tenaga air yang terus-menerus
merupakan syarat mutlak bagi keberlanjutan PLTMH. Selain itu sejauh mana
PLTMH dapat berkelanjutan juga bergantung pada kemauan dan kemampuan
masyarakat pengguna dalam melakukan dan membiayai pengelolaan serta
pemeliharaan.
Kemauan masyarakat pengguna untuk terlibat dan membayar cenderung
dipengaruhi oleh sejauh mana layanan PLTMH sesuai dengan harapan
mereka. Sedangkan pendekatan terbaik sehingga PLTMH dapat dibangun,
dikelola dan memberikan layanan yang sesuai dengan harapan masyarakat
adalah pendekatan partisipatif, yaitu melibatkan masyarakat dalam
pengambilan keputusan mulai dari perencanaan, pembangunan sampai
pengoperasian.
Berdasarkan pandangan dari sisi ekonomi, kehadiran layanan listrik dapat
memberikan dampak positif kepada masyarakat melalui dua cara: pertama,
penghematan pengeluaran untuk energi dibandingkan dengan jika tidak ada
pasokan listrik; dan kedua, peningkatan kegiatan-kegiatan ekonomi produktif
yang memanfaatkan pasokan listrik. Dampak positif ini pada akhirnya akan
meningkatkan keswadayaan masyarakat dalam membiayai pengelolaan dan
pemeliharaan.

Demand Kualitas
Responsiveness Layanan Keberlanjutan

Partisipasi Penggunaan
Produktif
Keswadayaan
Pemanfaatan
berdampak positif
Capa
city
Keterbukaan Keadilan Build
ing

Gambar 3. Skema menuju Keberlanjutan (Sustainabilitas) PLTMH

Oleh karena itu, setidaknya terdapat empat aspek yang saling berkaitan dan
perlu diperhatikan dalam pengembangan PLTMH, yaitu:
1. Aspek Teknik
2. Aspek Ekonomi
3. Aspek Sosial
4. Aspek Lingkungan.

2.1 ASPEK TEKNIK


PLTMH bukanlah teknologi yang tergolong rumit. Berdasarkan pengalaman,
PLTMH relatif mudah dipahami dan dioperasikan oleh masyarakat perdesaan.
Meskipun demikian PLTMH membutuhkan pemeliharaan khusus agar tetap
dapat beroperasi secara layak dalam jangka panjang.
Pada dasarnya ada dua hal yang menentukan kelayakan teknis dari
operasional PLTMH, yaitu: (1) Pemilihan Teknologi, (2) Standarisasi dan
Jaminan Pemeliharaan.

2.1.1 Pemilihan Teknologi


Kesalahan perancangan dan pemilihan teknologi akan mengancam
keberlanjutan PLTMH baik secara teknis maupun finansial. Kerusakan
instalasi PLTMH akibat kesalahan desain pada umumnya sulit untuk
diperbaiki. Dengan demikian ketepatan dalam pemilihan teknologi PLTMH
sangat menentukan keberlanjutan operasinya secara teknis.
Untuk menekan biaya investasi, beberapa peralatan elektro mekanikal
sebaiknya diproduksi secara lokal. Begitu juga pekerjaan konstruksi perlu
dirancang sesuai dengan kondisi lokasi dan sedapat mungkin memanfaatkan
potensi tenaga terampil lokal dan bahan yang tersedia di lokasi. Masyarakat
perlu dilibatkan sejak tahap pemilihan teknologi, sebagai bentuk perencanaan
partisipatif. Alternatif teknologi yang akan digunakan sebaiknya
dikonsultasikan terlebih dahulu kepada masyarakat karena konsekuensi dari
setiap pilihan teknologi nantinya akan ditanggung oleh masyarakat.

2.1.2 Standarisasi dan Jaminan Pemeliharaan


PLTMH memiliki umur teknis tertentu yang membatasi waktu beroperasi
sistem tersebut. Kinerja suatu PLTMH akan menurun seiring berjalannya
waktu sampai suatu saat PLTMH tersebut tidak layak lagi beroperasi.
Penurunan kinerja akan terjadi lebih cepat jika pengoperasaian dan
pemeliharaan tidak dilakukan dengan baik. Oleh karena itu pola
pengoperasian dan pemeliharaan instalasi pembangkit harus mendapat
perhatian penting karena sangat menentukan keberlanjutan PLTMH.
Pemeliharaan yang baik sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya
manusia (SDM) operator dan desain pengelolaan PLTMH. Sementara,
pemilihan operator PLTMH terkendala oleh kualitas SDM yang ada di
masyarakat. Oleh karena itu, panduan tentang standar operasional PLTMH
harus disusun dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh
masyarakat perdesaan. Selain itu juga dibutuhkan peningkatan kapasitas
pengelola PLTMH melalui pelatihan atau berupa bantuan teknis untuk
perawatan dan pemeliharaan.
Jaminan pemeliharaan dalam pekerjaan konstruksi PLTMH mutlak harus
diperhatikan. Kendala yang umum terjadi dalam pengelolaan PLTMH oleh
masyarakat perdesaan adalah tidak adanya kelembagaan yang dapat
memberikan kontrol kualitas dan kinerja serta memberikan dukungan teknis
operasi dan pemeliharaan PLTMH. Dalam hal ini, sangat dianjurkan untuk
membuat kontrak standar dan perjanjian hukum untuk menjamin pasokan
suku cadang dan dukungan tenaga teknis dari kontraktor PLTMH.
Kontraktor PLTMH seharusnya membuat panduan tentang standar
pemeliharaan. Setidaknya, panduan tersebut merinci jadwal semua kegiatan
pemeliharaan (mulai dari yang ringan, misalnya pelumasan, sampai yang
berat, misalnya overhaul) dan perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap jenis
pemeliharaan termasuk penggantian suku cadang. Panduan ini juga akan
diperlukan oleh badan pengelola sebagai acuan dalam menyusun rencana
pengeluaran untuk pemeliharaan.
Pengembangan PLTMH dari aspek teknik menuntut kemudahan akses untuk
melakukan pemeliharaan dan perbaikan. Sulitnya transportasi karena
keterpencilan lokasi PLTMH merupakan kendala besar. Pilihan terbaik adalah
mengembangkan bengkel/workshop lokal yang relatif dekat dengan lokasi
PLTMH agar masyarakat tidak mengalami kesulitan jika terjadi kerusakan
pada instalasi pembangkit. Hadirnya workshop lokal juga akan mempercepat
transfer teknologi PLTMH bagi masyarakat perdesaan.
2.2 ASPEK EKONOMI
Berdasarkan rentang waktu, keberlanjutan PLTMH sebagai solusi permanen
pasokan listrik bagi suatu lokasi seyogyanya dipandang dengan dua cara:
(1) Keberlanjutan operasi PLTMH sampai berakhir umur pakainya
(2) Keberlanjutan layanan listrik setelah itu.

Keberlanjutan operasi suatu PLTMH sampai berakhir umur pakainya sangat


ditentukan oleh kemampuan masyarakat pengguna untuk membiayai
operasional dan perawatan. Selanjutnya jika diinginkan layanan listrik tetap
berlanjut setelah berakhirnya umur pakai PLTMH tersebut, maka harus ada
mekanisme yang memungkinkan masyarakat pengguna mampu membangun
PLTMH baru. Akan lebih baik lagi jika dalam pembangunan berikutnya juga
memperhitungkan peningkatan kebutuhan listrik di masa mendatang.
Semua biaya yang dibutuhkan untuk mempertahankan keberlanjutan PLTMH
harus dapat dipenuhi oleh pendapatan PLTMH yang idealnya hanya
bersumber dari iuran listrik yang dikumpulkan dari masyarakat pengguna.
Oleh karena itu besarnya iuran atau tarif listrik seharusnya ditentukan
berdasarkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan.
Pada akhirnya, keberlanjutan PLTMH akan bergantung pada kemampuan
bayar masyarakat pengguna. Untuk dapat meningkatkan kemampuan bayar,
adanya layanan listrik PLTMH seharusnya dapat memberikan dampak positif
terhadap perekonomian masyarakat.
Pada bagian ini akan dibahas empat hal yang mempengaruhi keberlanjutan
PLTMH dari aspek ekonomi, yaitu: (1) pembiayaan pembangunan, (2)
pembiayaan pengelolalaan, (3) penetapan tarif listrik dan (4) pemanfaatan
untuk kegiatan ekonomi produktif.

2.2.1 Pembiayaan Pembangunan


Pembangunan PLTMH dan sistem penyaluran listrik membutuhkan biaya
yang relatif besar. Pada umumnya biaya pembangunan berasal dari luar
masyarakat pengguna karena terbatasnya kemampuan pembiayaan oleh
masyarakat. Tetapi kontribusi masyarakat juga tetap diperlukan untuk
menekan kebutuhan biaya.
Biaya dari luar dapat berbentuk:
(1) Hibah
(2) Pinjaman
(3) Investasi.
Sedangkan kontribusi dari masyarakat bisa berbentuk:
(1) Materi,
(2) Tenaga
(3) Uang.
Sampai saat ini, sebagian besar dana dari luar untuk pembangunan PLTMH
berbentuk hibah. Artinya masyarakat pengguna tidak perlu mengembalikan
dana pembangunan. Meskipun demikian, bukan berarti masyarakat tidak
perlu membayar biaya penyusutan nilai asset. Demi keberlanjutan PLTMH,
biaya penyusutan perlu diperhitungkan dalam penetapan iuran listrik sehingga
pada saat PLTMH selesai umur pakainya telah tersedia dana yang cukup
untuk membangun PLTMH baru sebagai pengganti.
Pada kasus dana pembangunan berasal dari pinjaman, kemampuan
masyarakat dalam mengembalikan pinjaman dapat menjadi indikasi untuk
diperolehnya lagi pinjaman serupa di waktu mendatang. Begitu juga jika dana
pembangunan merupakan investasi, kembalian investasi yang diperoleh
dapat menjadi indikasi kelayakan investasi serupa. Persoalannya,
pembiayaan pembangunan PLTMH menggunakan dana-dana komersial
cenderung tidak layak secara ekonomis. Untuk itu perlu diupayakan skema-
skema khusus agar PLTMH dapat dibangun menggunakan dana pinjaman
atau investasi.
Berkaitan dengan program pembangunan perdesaan, pengembangan
PLTMH seharusnya dapat mendorong pemberdayaan masyarakat. Dalam
hal ini perlu diupayakan agar muncul swadaya masyarakat di dalam
komponen pembiayaan. Bantuan bersubsidi penuh idealnya hanya
digunakan pada kondisi tertentu. Besarnya kontribusi masyarakat dalam
pembangunan PLTMH juga akan semakin meningkatkan rasa memiliki
terhadap sarana yang dibangun. Rasa memiliki ini pada akhirnya dapat
meningkatkan partisipasi dari masyarakat.

2.2.2 Pembiayaan Pengelolaan


Selintas biaya operasional PLTMH terkesan murah karena energi primernya
adalah air yang praktis tidak perlu dibeli. Tetapi biaya perawatan instalasi
pembangkit (bangunan sipil maupun pembangkit listrik) dan jaringan
transmisi/distribusi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika terjadi
kerusakan yang mengharuskan perbaikan besar.
Biaya operasional dan perawatan meliputi:
1. Biaya operasional rutin (gaji pengelola, biaya administrasi, dsb)
2. Pemeliharaan dan perbaikan terjadwal yang besar biayanya
seharusnya sudah dapat diperkirakan sejak awal
3. Perbaikan kerusakan-kerusakan tidak terduga.
Komponen-komponen biaya tersebut harus diperhitungkan secara seksama.

2.2.3 Penetapan Tarif Listrik


Keberlanjutan PLTMH akan lebih mungkin tercapai jika pendapatan yang
diperoleh dari iuran pengguna dapat menutupi semua biaya yang harus
ditanggung. Oleh karena itu tarif listrik perlu ditetapkan sedemikian rupa
sehingga dapat menghasilkan total pendapatan yang diharapkan. Tarif listrik
yang terlalu rendah pada akhirnya akan merugikan masyarakat sendiri.
Biaya yang harus ditanggung oleh suatu PLTMH secara garis besar yaitu:
1. Biaya modal
2. Biaya operasional dan pemeliharaan.
Jika PLTMH dibangun menggunakan dana pinjaman, maka biaya modal yang
harus dibayar berupa angsuran dan bunga pinjaman. Jika PLTMH dibangun
menggunakan dana investasi, maka biaya modal yang harus dibayar berupa
penyusutan dan kembalian (return) untuk investasi. Sedangkan PLTMH yang
dibangun menggunakan dana hibah dapat dianggap sebagai investasi oleh
masyarakat pengguna, sehingga biaya penyusutan dan kembalian investasi
tersebut menjadi milik masyarakat. Akumulasi uang dari penyusutan dan
kembalian investasi tersebut harus dipisahkan. Sedapat mungkin dana
tersebut tidak diganggu gugat karena merupakan dana cadangan untuk
investasi kembali ketika PLTMH yang ada perlu diganti dengan yang baru
karena sudah habis umur pakainya.
Biaya operasional dan pemeliharaan terdiri atas biaya operasional rutin, biaya
pemeliharaan dan perbaikan terjadwal dan biaya perbaikan-perbaikan yang
tidak terduga. Informasi-informasi tentang kebutuhan biaya-biaya tersebut
perlu dijelaskan kepada masyarakat pengguna agar masyarakat bisa bersikap
lebih bijaksana pada pada saat musyawarah penetapan tarif. Selain itu
penetapan tarif juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain, misalnya
daya beli masyarakat, pemerataan dan rasa keadilan.

2.2.4 Pemanfaatan untuk Kegiatan Ekonomi Produktif


Pada umumnya pemanfaatan listrik PLTMH oleh masyarakat perdesaan
adalah untuk penerangan dan hiburan (televisi, radio, dsb) di malam hari.
Sedangkan penggunaan pada siang hari hampir tidak ada. Bahkan
kebanyakan PLTMH hanya dioperasikan pada malam hari.
Penggunaan listrik untuk penerangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya
bukan berarti tidak memberikan dampak positif terhadap ekonomi
masyarakat. Setidaknya masyarakat bisa menghemat pengeluaran jika
dibandingkan dengan penggunaan lampu minyak tanah atau generator diesel
untuk penerangan. Namun dampak positif PLTMH akan semakin meningkat
jika adanya layanan listrik juga mendorong berkembangnya kegiatan-kegiatan
ekonomi produktif yang memanfaatkan energi listrik pada siang hari. Dampak
positif ini pada akhirnya akan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga
iuran listrik juga lebih lancar. Bagi pengelola PLTMH sendiri,
termanfaatkannya energi pada siang hari akan semakin meningkatkan
peluang untuk memperoleh pendapatan.
2.3 ASPEK SOSIAL
Pembangunan PLTMH dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat
sangat relevan dengan kebijakan desentralisasi penyediaan energi (listrik)
perdesaan. Pendekatan ini menyadari pentingnya kapasitas masyarakat
untuk meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal atas sumber daya
material dan non material yang penting. Masyarakat memiliki potensi baik
dilihat dari sumber daya alam maupun dari sumber sosial dan budayanya.
Social preparation dalam pengembangan program listrik perdesaan perlu
dilaksanakan mengingat masyarakat memiliki kekuatan yang bila digali dan
dikembangkan akan dapat menjadi kekuatan yang besar untuk pengentasan
kemiskinan. Masyarakat yang tentunya lebih memahami kebutuhannya
sendiri perlu difasilitasi agar lebih mampu mengenali permasalahan-
permasalahannya sendiri dan merumuskan rencana-rencananya serta
melaksanakan pembangunan secara mandiri dan swadaya.
Dalam kaitannya dengan pengembangan listrik perdesaan, pembangunan
dan pengelolaan sumber daya alam (dalam hal ini adalah sumber daya air)
oleh masyarakat lokal merupakan media pengembangan rasa percaya diri
masyarakat, yang akan menjadi dasar utama kemampuan kemandirian
masyarakat tersebut. Pengalaman program listrik perdesaan di beberapa
negara berkembang menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas
masyarakat lokal merupakan unsur penting dalam keberlanjutan program.
Dalam proses pemberdayaan masyarakat dan pembangkitan kemandirian,
partisipasi merupakan komponen yang sangat penting. Tumbuhnya
partisipasi masyarakat akan menjadi jaminan berlangsungnya pembangunan
energi perdesaan secara berkelanjutan. Untuk itu perlu strategi
pendampingan masyarakat yang dapat memaksimalkan tingkat partisipasi.
Ada empat hal yang mempengaruhi persiapan sosial dari operasional
PLTMH, yaitu: (1) Partisipasi Masyarakat, (2) Pola Pemanfaatan Listrik, (3)
Pengembangan Kelembagaan dan (4) Dukungan Kelembagaan.

2.3.1 Partisipasi Masyarakat


Partisipasi masyarakat dalam melaksanakan program PLTMH harus selalu
ditumbuhkan, didorong dan dikembangkan secara bertahap, konsisten dan
berkelanjutan. Jiwa partisipasi masyarakat adalah semangat solidaritas
sosial, yaitu hubungan sosial yang selalu didasarkan pada perasaan moral
bersama, kepercayaan bersama dan cita-cita bersama. Partisipasi
masyarakat sejak awal program akan lebih menjamin kesuksesan dan
keberlanjutan program.
Berdasarkan pengalaman dalam program PLTMH, pola partisipasi
masyarakat sangat ditentukan bagaimana mekanisme proyek tersebut
dilaksanakan. Partisipasi masyarakat tidak akan terjadi begitu saja, tetapi
perlu pendekatan-pendekatan yang tepat dan mekansime proyek yang
mendukung pola partisipatif. Untuk itu perlu perencanaan yang matang dan
panduan proses yang tepat sesuai konteks lokal. Adanya fasilitator dari luar
desa juga direkomendasikan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.
Pola partisipatif akan berjalan baik jika ada dukungan dan keterlibatan seluruh
komponen masyarakat dan institusi lokal.
Partisipasi masyarakat dalam suatu program PLTMH meliputi aspek
perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan proyek. Keberhasilan suatu
proyek PLTMH sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dalam
pembuatan keputusan, pelaksanaan, mobilisasi sumberdaya, pemanfaatan
bersama dan evaluasi.

2.3.2 Pemanfaatan Listrik dan Manajemen Energi


Listrik sangat dibutuhkan oleh masyarakat perdesaan dalam memenuhi
energi perdesaan untuk menunjang kegiatan pembangunan perdesaan.
Listrik diharapkan tidak saja memberikan manfaat sosial bagi masyarakat,
tetapi juga mampu memberikan keuntungan ekonomi melalui pemanfaatan
untuk kegiatan usaha ekonomi produktif yang dapat memberikan peningkatan
pendapatan terutama bagi masyarakat miskin.
Perencanaan energi listrik oleh masyarakat sendiri perlu dilakukan agar
energi listrik yang tersedia bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Untuk itu perlu
dirancang suatu kerangka kerja dalam rangka penyusunan kesepakatan yang
memungkinkan masyarakat perdesaan mengemukakan kebutuhan mereka
dan memutuskan bagaimana jalan terbaik untuk memenuhinya sesuai
dengan kapasitas pasokan listrik PLTMH yang ada.
Permintaan daya listrik oleh konsumen akan cenderung meningkat seiring
dengan semakin membaiknya kesejahteraan masyarakat. Sedangkan
potensi pasokan daya listrik cenderung tetap, kecuali ada investasi tambahan
pembangkit. Agar pasokan daya listrik tetap terjaga, maka pola perencanaan
penggunaan listrik yang sesuai dengan kebutuhan (bukan keinginan)
masyarakat perlu disosialisasikan secara matang. Peningkatan permintaan
daya listrik perlu dikendalikan misalnya dengan menerapkan tarif listrik yang
lebih tinggi untuk konsumen yang menggunakan lebih banyak.
Pengalaman juga menunjukkan bahwa setelah adanya PLTMH masyarakat
perdesaan cenderung memanfaatkan listrik untuk kebutuhan konsumtif
(seperti membeli TV, parabola, stereo set dan lain-lain), dan bukan untuk
kegiatan produktif yang menghasilkan peningkatan pendapatan. Untuk itu,
sejak awal perlu dilakukan peningkatan pemahaman masyarakat tentang
pemanfaatan listrik untuk peningkatan pelayanan sosial kemasyarakatan dan
pemberdayaan usaha ekonomi produktif.

2.3.3 Pengembangan Kelembagaan


PLTMH dalam konteks pembangunan perdesaan dengan pendekatan
pemberdayaan masyarakat umumnya dikelola oleh masyarakat desa secara
mandiri. Berkaitan dengan kepemilikan dan pengelolaan PLTMH tersebut,
maka perlu ditelaah kebijakan pemerintah yang terkait erat dengan masalah
ini. Kebijakan yang dapat dijadikan bahan rujukan bagi pengelolaan PLTMH
adalah Peraturan Pemerintah/PP No. 3 Tahun 2005 dan Undang-Undang/UU
No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (yang menggantikan UU
No. 22 Tahun 1999).
Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 pada pasal 212 maka PLTMH yang
merupakan bantuan pemerintah, baik pusat maupun daerah dapat dianggap
merupakan milik pemerintahan desa, yang digunakan untuk kepentingan
kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan PLTMH sebagai asset desa,
diserahkan pada mekanisme kesepakatan masyarakat dalam kerangka
pemberdayaan masyarakat. Mekanisme pengelolaan dan bentuk
kelembagaan pengelola PLTMH itu sendiri, secara teknis belum ada
peraturan lain yang mengatur secara tegas.
Akan tetapi, UU No. 32 Tahun 2004 mengakomodir bentuk kelembagaan milik
masyarakat yang ada di desa, yaitu dalam bentuk kelembagaan informal
(pasal 211) dan berbadan hukum (pasal 213). Pasal 213 secara khusus
memberikan kewenangan kepada kepala desa untuk membentuk badan
usaha milik desa (BUMD) yang berbadan hukum sesuai peratuan perundang-
undangan. Aspek legal dari kelembagaan informal pada pasal 211 diberikan
melalui peraturan desa yang dikeluarkan oleh kepala desa.
Konsekuensi dari pasal 211 pada UU No. 32 Tahun 2004 adalah
kelembagaan informal bertujuan sosial dan berorientasi pada pemberdayaan
masyarakat. Hal ini sebenarnya sejalan dengan program PLTMH yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam
pembangunan perdesaan. Akan tetapi, karena keberlanjutan PLTMH sangat
ditentukan oleh kelangsungan finansial dari hasil pembayaran iuran listrik,
maka pengelolaan PLTMH harus berorientasi pada manajemen usaha yang
baik.
Jika pengelolaan PLTMH oleh masyarakat desa telah berjalan dengan
manajemen usaha yang baik, maka terbuka peluang bagi masyarakat untuk
meningkatkannya menjadi badan usaha milik desa berbadan hukum yang
diakui oleh pemerintah sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh
pasal 213 dalam UU No. 32 Tahun 2004. Keputusan menjadi BUMD harus
sesuai kesepakatan dan aspirasi masyarakat desa itu sendiri dengan tetap
memperhatikan aspek peningkatan keswadayaan masyarakat.
Secara teknis, kemampuan masyarakat dalam mengelola PLTMH ditentukan
oleh kapasitas SDM yang ada di daerah tersebut. Selain itu, sejarah
pengelolaan listrik desa yang pernah ada juga ternyata menjadi bahan
pelajaran penting bagi masyarakat dalam mengelola listrik secara mandiri.
Dalam hal ini, karakteristik sosial budaya masyarakat akan sangat
mempengaruhi pola kepemilikan dan manajemen PLTMH. Beragam pilihan
kelembagaan pengelola dan manajemen dapat dipertimbangkan disesuaikan
dengan konteks program dan kesepakatan dengan masyarakat.
Keberlanjutan ekonomi dari PLTMH juga ditentukan oleh rancangan pola
manajemen PLTMH dan kemampuan sumber daya manusia/SDM. Bentuk
kelembagaan badan pengelola dalam hal ini tidaklah terlalu penting akan
tetapi harus ditunjang oleh manajemen yang berorientasi bisnis.
2.3.4 Dukungan Kelembagaan
Kesuksesan listrik perdesaan pola desentralisasi, dalam hal ini PLTMH
mensyaratkan pendekatan kelembagaan yang terkoordinasi antara kebijakan
pemerintah yang kondusif dengan organisasi di tingkat lokal yang didukung
oleh kelembagaan fasilitasi di tingkat regional maupun nasional (intermediasi)
yang memiliki kemampuan beragam fungsi yang terkoordinasi. Dukungan
kelembagaan tersebut terbagi atas tiga tingkat, yaitu:
1. Tingkat nasional (pusat), yang merumuskan kebijakan dan
perencanaan listrik perdesaan untuk memberikan dasar hukum dan
pengaturan kerangka kerja pengembangan sektor ketenagalistrikan
perdesaan
2. Tingkat lokal, yaitu desa tempat pembangkit listrik tersebut berada
3. Tingkat intermediasi, yang memfasilitasi keterkaitan antara institusi
nasional dan institusi lokal yang akan menjamin bahwa perencanaan
dan kebijakan yang ada sesuai dengan kebutuhan masyarakat
perdesaan. Intermediasi bisa jadi dilakukan oleh LSM lokal, aparat
pemerintah atau perusahaan swasta (konsultan) yang dikontrak oleh
pemerintah. Dalam banyak kasus, lembaga intermediasi akan
memberikan bantuan teknis dalam hal penerangan, fasilitasi dan
perencanaan bagi masyarakat perdesaan.
Gagalnya keberlanjutan PLTMH oleh masyarakat perdesaan lebih banyak
karena faktor non teknis yaitu lemahnya dukungan institusi. Kegagalan
institusi tersebut terutama karena fungsi intermediasi yang memfasilitasi
kegiatan pemberdayaan masyarakat yang menekankan aspek social
preparation berjalan kurang baik.

2.3.4.1 Dukungan Pemerintah


Pemerintah merupakan aktor utama pembangunan dalam memberikan
dukungan secara kelembagaan, melalui kebijakan-kebijakan baik di tingkat
nasional dan regional maupun fungsi intermediasi yang berpihak kepada
kepentingan masyarakat perdesaan. Program listrik perdesaan harus
dikaitkan dengan pembangunan perdesaan yang terintegrasi. Listrik
perdesaan membutuhkan dukungan pembangunan lintas sektoral
menyangkut pertanian, ekonomi, teknologi tepat guna, pendidikan dan
konservasi sumberdaya alam. Pembangunan perdesaan yang terintegrasi
membutuhkan koordinasi antar instansi teknis dalam bentuk sinergi pada
proyek maupun agenda kegiatan rutin.
Dengan tujuan program PLTMH dapat berkelanjutan dan memberikan nilai
tambah dalam peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat perdesaan, maka
pemerintah diharapkan dapat melakukan:
Dorongan kepada instansi teknis yang menangani program PLTMH
agar memberikan perhatian yang lebih besar pada aspek social
engineering yang melibatkan konsultan teknis bidang pemberdayaan
masyarakat maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal
Pemanfaatan listrik untuk kegiatan usaha ekonomi produktif yang
membutuhkan dukungan intermediasi di bidang pertanian, ekonomi
dan teknologi tepat guna
Perencanaan PLTMH yang diintegrasikan dengan program
pembangunan perdesaan pada instansi teknis yang terkait. Dalam
hal ini dibutuhkan komitmen dari para pengambil kebijakan sehingga
kegiatan fasilitasi masyarakat dapat disinergikan dengan proyek-
proyek lain pada desa-desa sasaran program.

2.3.4.2 Dukungan Kelembagaan Lokal


Dukungan kelembagaan lokal pada masyarakat sangat penting dalam
menentukan keberlanjutan pengelolaan PLTMH secara mandiri. Dukungan di
tingkat lokal ditentukan oleh peranan para pemimpin formal (kepala desa dan
perangkat desa) dan pemimpin informal (tokoh-tokoh masyarakat) yang ada,
baik di tingkat desa maupun di tingkat yang lebih tinggi.
Pengalaman dalam pengelolaan PLTMH memperlihatkan bahwa badan
pengelola akan berjalan optimal jika didukung oleh seluruh unsur
kepemimpinan yang ada di desa. Kegagalan PLTMH seringkali diakibatkan
lemahnya kapasitas badan pengelola akibat kurangnya dukungan para tokoh-
tokoh pemimpin di desa. Lemahnya posisi badan pengelola ini menjadikan
partisipasi masyarakat juga rendah terutama dalam hal realisasi pembayaran
iuran listrik yang sangat penting dalam keberlanjutan PLTMH.
Peranan kelembagaan lokal juga dipengaruhi oleh faktor kapasitas SDM dan
kondisi sosial budaya masyarakat desa. Masyarakat di perdesaan umumnya
masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap keberadaan sosok
pemimpin dan cenderung menjadikan figur pemimpin sebagai tokoh yang
dijadikan panutan dalam semua kegiatan pembangunan.
Kelembagaan lokal yang ada pada masyarakat perdesaan dapat dipandang
sebagai:
Seperangkat aturan atau sistem nilai yang menjadi pedoman dalam
kehidupan sosial kemasyarakatan di perdesaaan. Dukungan
kelembagaan lokal yang didapatkan di sini berbentuk sistem sosial
budaya dan pola kepemimpinan di desa yang kondusif bagi proses
pemberdayaan masyarakat dalam rangka persiapan sosial
pengembangan PLTMH.
Lembaga/organisasi di perdesaan. Dukungan kelembagaan yang
didapatkan disini berbentuk adanya kerjasama atau sinergi yang baik
dengan organisasi/kelembagaan baik formal maupun informal yang
ada di perdesaan.

2.3.4.3 Fungsi Intermediasi


Dukungan institusi melalui fungsi intermediasi diberikan melalui kegiatan
pendampingan dan bantuan teknis. Masyarakat perdesaan sangat
membutuhkan dukungan intermediasi, karena lemahnya kapasitas SDM dan
akses terhadap sumberdaya (informasi, teknologi, permodalan, dan lain-lain).
Fungsi intermediasi ini dapat dilakukan oleh aparat pemerintah (instansi
terkait), LSM lokal atau konsultan dalam bentuk bantuan teknis sebagai
persiapan sosial.
Peran LSM dalam rangka bekerjasama dengan pemerintah akan sangat
membantu proses pemberdayaan masyarakat. Pada penguatan kapasitas
kelembagaan lokal diperlukan pihak luar yang mampu memerankan diri
sebagai katalisator. Pihak luar itu bisa berupa orang-orang atau institusi
sektor ketiga yang tidak berkaitan langsung dengan sektor publik dan sektor
swasta. Pihak yang berada di sektor ketiga adalah koperasi, LSM atau
lembaga adat.
Pengalaman menunjukkan bahwa masyarakat tidak dapat ditinggalkan begitu
saja mengelola PLTMH tanpa bantuan kelembagaan lain di luar masyarakat
desa yang bertindak sebagai fasilitator. Perlu adanya suatu kelembagaan
pendamping untuk melakukan penguatan kelembagaan sosial di tingkat lokal.

2.4 ASPEK SUMBERDAYA ALAM


Keberlanjutan PLTMH ditentukan dukungan potensi sumberdaya alam yang
ada, terutama ketersediaan air sungai sebagai sumber energi primer bagi
PLTMH. Ketersediaan air sungai sangat tergantung pada konservasi
catchment area (wilayah tangkapan air) dari hulu sungai tersebut.
Lingkungan hidup yang terjaga dan terpelihara akan menjamin kelestarian
sumberdaya air dan menjamin pasokan energi primer bagi PLTMH.
Program pelistrikan perdesaan melalui pengembangan PLTMH seyogyanya
diiringi dengan kegiatan konservasi hutan. Masyarakat yang menggunakan
PLTMH diharapkan dapat memahami manfaat keberadaan hutan sebagai
catchment area. Dengan demikian, masyarakat juga akan tergerak untuk
menjaga kelestarian hutan, dengan tidak melakukan penebangan liar dan
merusak keaneka ragaman hayati yang terdapat di sekitar hutan. Lebih jauh,
masyarakat juga akhirnya dapat mengambil peranan penting untuk menjaga
agar hutan tetap terpelihara.
Pengelolaan sumberdaya alam sebaiknya dilakukan oleh masyarakat sendiri
berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang mereka miliki. Masyarakat
perlu didorong untuk secara mandiri merumuskan aturan-aturan yang
kemudian harus disepakati bersama sehingga semua anggota masyarakat
terikat pada aturan-aturan itu. Kesepakatan-kesepatakan yang terbentuk di
masyarakat demi kelestarian hutan juga menumbuhkan dan melestarikan
kearifan budaya lokal yang sebenarnya telah dimiliki bangsa Indonesia.
Dalam aturan-aturan yang disepakati tersebut juga perlu dicantumkan sanksi-
sanksi yang diberlakukan bagi mereka yang melanggar sehingga aturan
tersebut bisa benar-benar berlaku sebagai norma atau nilai bagi masyarakat.
Kesepakatan konservasi ini jika dilaksanakan secara konsisten dengan
penerapan sanksi yang tegas akan menentukan keberlanjutan operasional
PLTMH dari aspek sumber daya alam.
Untuk menjamin penerapan aturan-aturan sebaiknya dibentuk institusi lokal
yang berfungsi menjaga dan menegakkan berlakunya aturan-aturan tersebut
di masyarakat. Idealnya aturan-aturan tersebut terdokumentasi dan
mendapat legalisasi dari pemerintah setempat untuk mendapatkan kepastian
hukum. Demikian juga idealnya semua proses tersebut dipayungi oleh
kebijakan pemerintah yang mengakomodasi nilai-nilai masyarakat lokal dan
kesepakatan-kesepakatan yang dibuat secara bersama antar berbagai pihak.
3 N PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK
PENJAJAGA

TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)

3.1 PENJAJAGAN TEKNIS PEMBANGUNAN PLTMH


Penjajagan teknis dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran potensi
sumber daya untuk pembangunan PLTMH di suatu wilayah yang meliputi:
Informasi lengkap tentang potensi sumber daya air untuk PLTMH,
besaran potensi yang dapat dimanfaatkan dan bagaimana sistem
PLTMH akan dibangun
Informasi lengkap tentang besarnya kebutuhan energi listrik
masyarakat dan pola penggunaannya, kondisi elektrifikasi saat ini
dan penggunaan sumber energi lainnya, serta potensi sumber daya
lokal yang dapat mendukung pembangunan PLTMH dan
pemanfaatannya.

3.1.1 Langkah-langkah Kegiatan


Survey dalam rangka penjajagan teknis sebaiknya dilaksanakan pada musim
kemarau dengan tujuan untuk mendapatkan pengukuran debit air yang
mendekati kondisi minimum. Lokasi-lokasi potensial untuk pembangunan
PLTMH dapat ditentukan berdasarkan informasi-informasi berikut:
1. Informasi awal lokasi
a. Lokasi PLTMH yang pernah dibangun di suatu wilayah. Asumsi
dasarnya adalah lokasi PLTMH yang sudah ada masih memiliki
potensi cukup besar yang belum dikembangkan. Survey
potensi sebaiknya dilakukan ke daerah yang lebih hulu di
daerah aliran sungai (DAS) yang sama yang diasumsikan lebih
sulit aksesnya sehingga pada program pembangunan terdahulu
belum diprioritaskan.
b. Informasi lokasi PLTMH dari berbagai sumber (seperti studi
topografi, DAS/Daerah Aliran Sungai dan curah hujan)
c. Lokasi yang pernah diusulkan oleh masyarakat setempat
2. Data tentang elektrifikasi yang dapat diperoleh di kantor
desa/kecamatan untuk mendapatkan lokasi desa/kampung yang
belum terlistriki
3. Informasi-informasi tambahan yang didapatkan selama kegiatan
survey di lapangan.

Berdasarkan pengamatan di lapangan pada survey awal, studi potensi


PLTMH dapat diputuskan untuk dilanjutkan atau tidak dengan memperhatikan
kriteria-kriteria berikut.
1. Total panjang jaringan transmisi/distribusi dan jarak pembangkit
terhadap penerima daya (titik beban) terjauh untuk sistem off-grid
atau jarak pembangkit terhadap titik interkoneksi (gardu penerima
daya) untuk sistem on-grid
2. Jumlah calon konsumen (orang; rumah; KK)
3. Potensi daya listrik terbangkit
4. Kontinuitas air tersedia sepanjang tahun
5. Tidak ada kondisi ekstrim di lokasi PLTMH yang akan menyebabkan
biaya pembangunan menjadi sangat mahal sehingga tidak
sebanding dengan daya listrik terbangkit
6. Lokasi tidak terlalu terisolasi, karena untuk lokasi-lokasi semacam
itu layanan listrik bisa jadi bukan prioritas
7. Site plant tidak berada di kawasan cagar alam atau budaya yang
melarang pembangunan fisik permanen di lokasi tersebut.

3.1.2 Kebutuhan Data untuk Studi Potensi


Identifikasi lokasi dan pencarian data dilakukan secara terstruktur
berdasarkan format studi yang telah disediakan (contoh format studi disajikan
pada Tabel 1). Informasi-informasi tambahan perlu dicantumkan dalam
bentuk catatan khusus untuk setiap lokasi.

3.1.2.1 Data primer


1. Gambaran Umum Wilayah
a. Identifikasi lokasi (dusun/kampung, desa, kecamatan,
kabupaten, propinsi)
b. Jumlah calon konsumen (populasi dan jumlah KK) yang akan
menjadi penerima manfaat pembangunan PLTMH
c. Jarak lokasi pembangunan (pusat beban) terhadap jaringan
PLN terdekat
d. Nama sungai, sumber air atau irigasi yang menjadi penyedia
sumber daya air untuk PLTMH
2. Informasi Teknik
a. Estimasi debit aliran air di sungai atau saluran irigasi yang
menjadi penyedia sumber daya air untuk PLTMH
b. Debit air yang direncanakan dan diharapkan dapat tersedia
sepanjang tahun
c. Pengukuran head dan estimasi head yang dapat diperoleh
d. Estimasi total daya terbangkit
e. Estimasi panjang jaringan transmisi dan distribusi yang
diperlukan
f. Estimasi jarak dari power house ke pusat beban
g. Skema/layout sistem PLTMH pada ukuran A3
h. Foto-foto yang menunjukkan gambaran rencana lokasi
bangunan penyadap, rumah pembangkit, jalur saluran
pembawa, lokasi bak penenang, jalur pipa pesat, desa/lokasi
pusat beban dan sekitarnya
i. Gambaran umum untuk mencapai lokasi pusat beban dan lokasi
site plant
j. Informasi yang berkaitan dengan topografi dan kondisi sekitar
site plant yang berkaitan dengan rencana pembangunan
PLTMH, seperti area yang rawan longsor, jatuhan batu-batuan,
pergerakan tanah, area yang berbahaya bila terjadi banjir besar,
riwayat gempa, daerah petir, kerawanan bencana alam
k. Informasi khusus yang diperlukan bagi perencanaan konstruksi,
seperti: kemungkian jenis saluran pembawa (terbuka, tertutup,
talang), kemungkinan membuat terowongan menembus bukit,
kondisi tanah (lunak, gembur, mudah erosi, batuan cadas,
kapur) yang mempengaruhi desain headrace dan bangunan
sipil lainnya
l. Informasi khusus yang berkaitan dengan konservasi daerah
setempat dan lingkungan yang khusus, seperti kondisi hutan di
sekitar yang mempengaruhi reservasi air, kawasan cagar alam
dan budaya (adat).

3.1.2.2 Data Sekunder


Data sekunder yang diperlukan adalah:
Data kependudukan dan kewilayahan
Data potensi desa atau kecamatan.
3.2 PENJAJAGAN NON-TEKNIS PEMBANGUNAN PLTMH
Pada awalnya, kemunculan gagasan pembangunan PLTMH dipicu oleh
adanya potensi tenaga air di suatu lokasi. Tetapi selanjutnya apakah
gagasan tersebut dapat atau tidak dapat direalisasikan perlu
mempertimbangkan sejauh mana masyarakat di lokasi tersebut
membutuhkan layanan listrik, memiliki kemampuan untuk membayar layanan
listrik dan kemampuan mengelola PLTMH.

3.2.1 Deskripsi Wilayah dan Kajian Sosial Demografi


Gambaran secara umum tentang kondisi sosial demografi masyarakat
diperlukan sebagai informasi dalam pembuatan usulan/proposal untuk
mengadakan studi kelayakan pembangunan PLTMH di suatu lokasi. Untuk
itu perlu dilakukan observasi di lokasi tersebut yang meliputi hal-hal sebagai
berikut.
Kehidupan sosial kemasyarakatan; Pola hubungan sosial dan
kecenderungan kehidupan sosial yang ada di masyarakat
Lembaga-lembaga desa atau organisasi lain di desa tersebut dan
pengaruhnya
Pola interaksi masyarakat (menyatu atau berkelompok); Perlu diamati
bagaimana pergaulan masyarakat di desa tersebut, apakah hanya
bergaul sebatas orang-orang yang dianggap sepaham atau terbuka,
berdasarkan garis keturunan, atau berdasar tempat tinggal
Figur yang dihormati di desa tersebut, dan pengaruhnya terhadap
masyarakat desa itu; Perlu untuk diketahui siapa saja yang menjadi
panutan bagi masyarakat setempat dan seberapa luas pengaruhnya
terhadap orang-orang yang menganggap mereka sebagai panutan
Prasarana jalan ke desa tersebut; Perlu diketahui ketersediaan
sarana jalan dan bagaimana keadaannya, serta kendaraan umum
yang menuju ke desa tersebut
Listrik dari sumber lain seperti PLN yang terdekat dan perencanaan
perluasan ke daerah tersebut
Konsumen yang akan menjadi pelanggan listrik; Perlu diobservasi
secara umum keinginan masyarakat setempat, seberapa besar
keinginannya terhadap layanan listrik
Jumlah penduduk, kepala keluarga dan rumah
Pola pemukiman penduduk; Terpencar atau mengumpul di satu atau
beberapa lokasi
Luas wilayah desa dan tingkat kepadatan
Mata pencaharian mayoritas penduduk
Perkiraan penghasilan penduduk.
3.2.2 Gambaran mengenai Lingkungan dan Sumber Energi
Pada tahap penjajagan awal/preliminary study ini, observer juga harus dapat
memberikan gambaran tentang kondisi alam dan lingkungan di lokasi.
Beberapa hal yang berkaitan dengan kondisi alam dan lingkungan adalah:
Kondisi aliran sungai (kebersihan, tingkat pencemaran)
Pemanfaatan aliran sungai oleh penduduk (mandi, cuci, kakus)
Daerah aliran sungai (kehijauan, erosi)
Bencana alam yang pernah terjadi
Keadaan lingkungan alam (hijau atau gersang, tingkat penebangan
hutan).
Selain itu perlu juga diperoleh gambaran umum tentang penggunaan dan
akses terhadap sumber energi oleh penduduk setempat. Setiap jenis sumber
energi yang digunakan oleh masyarakat setempat harus diidentifikasi pola
penggunaannya (untuk apa dan berapa banyak), misalnya minyak tanah
untuk penerangan dan memasak, solar untuk generator diesel, kayu bakar
untuk memasak, dan sebagainya. Selanjutnya perlu juga diketahui
bagaimana masyarakat memperoleh energi-energi tersebut dan berapa
harganya di lokasi.
Tabel 1. Formulir Isian Penjajagan Pembangunan PLTMH (1)
Tabel 2. Formulir Isian Penjajagan Pembangunan PLTMH (2)
Tabel 3. Formulir Isian Penjajagan Pembangunan PLTMH (3)
Tabel 4. Formulir Isian Penjajagan Pembangunan PLTMH (4)
4
KELAYAKAN PEMBANGUNAN PEMBANGKIT
STUDI

LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)

4.1 STUDI KELAYAKAN TEKNIS PEMBANGUNAN PLTMH


Aspek-aspek yang perlu dikaji pada studi kelayakan teknis pembangunan
PLTMH meliputi:
Hidrologi
Geologi dan topografi
Alternatif-alternatif layout sistem PLTMH.

4.1.1 Pengukuran Kondisi Hidrologi


Pengukuran kondisi hidrologi bertujuan untuk mendapatkan gambaran
tentang potensi daya, kuantitas dan kualitas air. Penentuan kelayakan
hidrologi diperoleh dengan melakukan kegiatan pengukuran tinggi jatuh air
(beda tinggi atau head), pengukuran debit air, dan pengukuran fluktuasi aliran
air sepanjang tahun atau biasa disebut FDC (Flow Duration Curve).
Untuk mengetahui potensi daya listrik di suatu lokasi diperlukan data
mengenai:
Debit minimum yang mengalir pada saluran air/sungai
Perencanaan debit yang dapat digunakan Pembangkit Listrik Tenaga
Mikrohidro (PLTMH)
Debit air pada saat banjir
Tinggi terjun (beda tinggi/head) yang tersedia.
Dalam pengukuran debit air kita sering berhadapan dengan keterbatasan
data dan ketersediaan waktu sehingga pengukuran air sepanjang tahun tidak
memungkinkan. Sebagai jalan keluar, pengukuran debit dapat dilakukan
pada musim kemarau. Selanjutnya untuk menjamin ketersediaan air
sepanjang tahun, perhitungan potensi daya suatu lokasi dilakukan pada 80%
- 90% debit air terukur. Potensi daya suatu lokasi dapat dihitung secara
sederhana dengan persamaan di bawah ini.
Potensi daya air (hidrolik):
Pg = 9,8 . Q . hg
Di mana:
Pg = potensi daya (kW)
Q = debit aliran air (m3/dtk)
hg = head kotor (m)
9,8 = konstanta gravitasi.
Potensi daya listrik terbangkit:
Pel = 5 . Q . hn
Di mana:
Pel = daya listrik yang keluar dari generator (kW)
Q = debit aliran air (m3/dtk)
hn = head (tinggi terjun) bersih (m)
5 = konstanta dengan memperhitungkan efisiensi 50%.

4.1.1.1 Pengukuran Head Air

Pengukuran head dapat dilakukan dengan menggunakan peta topografi,


tetapi hasil yang diperoleh sangat kasar. Pengukuran head yang akurat
dilakukan di lapangan. Setelah didapatkan perkiraan h g (head kotor), maka
dilakukan penentuan hn (head bersih) yang berhubungan dengan
perencanaan bangunan sipil, di mana hn diukur dari perbedaan tinggi titik
intake (saluran masuk air) dengan ujung penstock (pipa pesat). Metoda
pengukuran tinggi jatuh air pada prinsipnya sama dengan pengukuran
ketinggian suatu tempat dari titik yang satu (atas) ke titik yang lain (bawah).
Pada survey potensi PLTMH ini, pengukuran head dilakukan dengan
menggunakan: klinometer dan pressure gauge.
Metoda Klinometer
Klinometer berfungsi untuk mengukur sudut elevasi suatu tempat. Suatu titik
pada permukaan tertentu diukur sudutnya dibandingkan dengan titik lain yang
akan dianggap datar. Lubang lihat yang terdapat pada alat klinometer akan
membandingkan tempat berdiri pengukur dengan titik sasaran yang dituju
menjadi sudut tertentu, kemudian h (head) diukur dengan metoda sinus,
berikut diberikan gambar dan tabel pengukuran seperti di bawah ini.

Gambar 4. Pengukuran Head Antara Dua Titik X dan Y Menggunakan Klinometer

Metoda Pressure Gauge (Alat Pengukur Tekanan)


Metoda ini amat mudah dilakukan dan keakuratannya dapat dijamin bila
angka gravitasi (g) di tempat tersebut dapat diketahui dengan tepat. Sebagai
pendekatan, dapat digunakan g = 9,8 m/dtk 2, sehingga setelah ditemukan
harga tekanan (P) di tempat tersebut, didapat h dengan rumus:

h = P x 10

Di mana:
h = beda tinggi (m)
P = tekanan hidrostatis yang terbaca pada pressure gauge (kgf/cm2).
Metoda pengukuran tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut.
Gambar 5. Metoda Pengukuran Head dengan Pressure Gauge (Alat Pengukur Tekanan)

4.1.1.2 Pengukuran Debit Air


Pengukuran debit air dilakukan dengan beberapa cara, yang paling umum
dan mudah dilakukan yaitu: pengukuran debit dengan metode pengukuran
kecepatan dan luas penampang aliran air atau dengan metoda weir. Untuk
metode pertama, alat utama yang digunakan yaitu current meter dan meteran
atau pelampung, stopwatch dan meteran.
1. Pengukuran Debit Air dengan Current Meter atau Pelampung
Pengukuran debit air dengan current meter atau pelampung disebut juga
pengukuran dengan metoda kecepatan dan luas penampang aliran, karena
yang diukur dalam metoda ini adalah kecepatan dan luas penampang aliran
air. Rumus debit air adalah:
Q =A. v
Di mana:
Q = debit air (m3/dtk)
A = luas penampang aliran air (m2)
v = kecepatan aliran air (m/dtk).
Data kecepatan aliran air dapat diperoleh dengan melakukan pengukuran
menggunakan current meter atau pelampung. Pengukuran kecepatan aliran
air dengan metoda current meter adalah dengan cara membaca langsung
pada display ketika bagian kincir dari current meter dimasukkan ke dalam air.
Sedangkan pada metoda pelampung, kecepatan aliran air diperoleh dengan
meletakkan pelampung pada aliran air dan mencatat waktu (t) serta jarak (d)
tempuh pelampung masing-masing dalam satuan detik dan meter.
Kecepatan aliran air dihitung dengan rumus:
v = c . (d / t)
Di mana:
v = kecepatan aliran air (m/dtk)
d = jarak tempuh pelampung (m)
t = waktu tempuh pelampung (dtk)
c = faktor koreksi, 0,75 atau 0,95 masing-masing untuk pelampung pada
permukaan air atau cukup dalam di bawah permukaan air.
Data luas penampang aliran air diperoleh dengan melakukan pengukuran
kedalaman sungai atau saluran air pada beberapa titik dengan interval jarak
sama sepanjang arah melintang sungai. Jumlah titik harus ganjil. Kemudian
dapat digunakan rumus berikut ini untuk menghitung luas penampang aliran
air:
A = (4 d1 + 2 d2 + 4 d3 + . . . + 4 dn) (w/3)
Di mana:
A = luas penampang aliran air (m2)
d1, d2,. . . , dn = kedalaman sungai atau saluran air (m)
w = lebar interval antar titik pengukuran kedalaman sungai atau
saluran (m).
Alternatif menentukan luas penampang aliran air adalah dengan cara
mengukur lebar sungai atau saluran (W) dan kedalaman rata-rata sungai atau
saluran (drata-rata), sehingga diperoleh luas penampang tersebut dengan rumus:
A = W . drata-rata
Di mana:
A = luas penampang aliran air (m2)
W = lebar sungai atau saluran (m)
drata-rata = kedalaman rata-rata sungai atau saluran (m).
Gambar 6. Luas Penampang Aliran Air Sungai dapat Ditentukan dengan Cara: (a)
Menganggap luas Penampangnya Berupa Persegi Panjang, (b) Perhitungan
sesuai dengan Rumus A = (4 d1 + 2 d2 + 4 d3 + . . . + 4 dn) (w/3)

Tabel 5. Formulir Pengukuran Debit Air


2. Metoda Weir (Bendungan)
Metoda ini memerlukan suatu konstruksi bendungan sementara yang
dipasang melintang sungai atau saluran air. Bentuk-bentuk weir yang akan
digunakan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 7.
K

riteria Disain untuk Weir yang Digunakan dalam Pengukuran Debit Air

Berdasarkan gambar di atas bentuk-bentuk weir dapat digolongkan menjadi


tiga: rectangular (persegi panjang), triangular (segitiga), siku-siku Cipoletti.
Pada weir berbentuk rectangular (persegi panjang) rumus yang digunakan
untuk menghitung debit air:
Q = 1,8 . (L 0,2 h) . h3/2
Di mana:
Q = debit air yang melalui weir (m3/dtk)
L = panjang tempat pelimpahan air pada weir, lihat sketsa di atas (m)
h = tinggi air yang melimpah pada weir, lihat sketsa di atas (m).
Untuk weir berbentuk segitiga (triangular) siku-siku rumus yang digunakan
untuk menghitung debit air:
Q = 1,4 . h5/2

Di mana:
Q = debit air yang melalui weir (m3/dtk)
h = tinggi air yang melimpah pada weir, lihat sketsa di atas (m).
Sedangkan untuk weir tipe Cipoletti rumus yang digunakan untuk menghitung
debit air:
Q = 1,9 . L. h3/2
Di mana:
Q = debit air yang melalui weir (m3/dtk)
L = panjang tempat pelimpahan air pada weir, lihat sketsa di atas (m)
h = tinggi air yang melimpah pada weir, lihat sketsa di atas (m).

4.1.2 Studi Geologi dan Topografi

4.1.2.1 Studi Geologi


Aspek pekerjaan sipil (civil work) memegang peranan penting dalam
pembangunan suatu PLTMH atau mikrohidro. Studi geologi dalam
pembangunan mikrohidro akan memberikan informasi yang berharga untuk
merencanakan pembangunan fasilitas sipil. Informasi mengenai kondisi
alam, keadaan tanah dan batuan, serta pergerakan tanah yang diperoleh dari
studi geologi akan membantu dalam menentukan lokasi terbaik bagi
pembangunan fasilitas sipil. Di samping itu, informasi tersebut dapat
membantu dalam merencanakan dan memprediksi biaya konstruksi beserta
perawatannya.
Studi geologi, meliputi pengumpulan informasi tentang:
Pergerakan permukaan yang mungkin terjadi, seperti: batuan dan
permukaan tanah yang dapat bergerak bila turun hujan lebat,
pergerakan air dan lumpur
Pergerakan tanah di bawah permukaan yang mungkin terjadi, seperti:
gempa atau pun tanah longsor
Tipe batuan, tanah, dan pasir
Hal ini berguna untuk mendesain fondasi sipil yang cocok, dan
material yang cocok dengan kondisi tersebut.

Berikut ini diberikan contoh gambar sketsa hasil penelitian geologi.


Gambar 8.
S

tudi Geologi: Sketsa Didapat dari Peta Daerah, Topografi dan Wawancara

4.1.2.2 Studi Topografi


Studi topografi yang baik akan membantu kita dalam menentukan lokasi
terbaik di mana memungkinkan untuk mendapatkan tinggi jatuhan air (head)
yang memadai. Keadaan kontur tanah yang digambarkan oleh peta topografi
sangat membantu dalam membuat layout dasar sistem PLTMH atau
mikrohidro. Peta topografi terdiri dari petunjuk dasar: skala peta dan garis
kontur.
Skala peta merupakan perbandingan antara jarak yang tercantum dalam peta
dengan jarak sebenarnya yang ada. Skala yang umum dipakai 1 : 50.000, 1 :
10.000, 1 : 5.000, dan 1 : 2.500. Peta dengan skala 1 : 50.000 artinya 1
centimeter dalam peta sama dengan 500 meter dalam keadaan aslinya.
Garis kontur merupakan garis yang menghubungkan titik-titik yang memiliki
ketinggian yang sama. Perbedaan tinggi antara garis kontur berkisar antara
0,25 - 50 meter, tergantung skala peta. Untuk peta dengan skala 1 : 50.000,
interval garis kontur sama dengan 50 meter pada daerah pegunungan dan 5 -
10 meter pada daerah datar.

4.1.3 Pemilihan Lokasi dan Layout Dasar


Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) pada dasarnya
memanfaatkan energi potensial air (jatuhan air). Semakin tinggi jatuhan air
(head) maka semakin besar energi potensial air yang dapat diubah menjadi
energi listrik. Di samping faktor geografis yang memungkinkan, tinggi jatuhan
air (head) dapat pula diperoleh dengan membendung aliran air sehingga
permukaan air menjadi tinggi. Pembuatan bendungan memerlukan biaya
yang besar, desain dan konstruksi yang baik.
Penentuan lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro
(PLTMH) bukanlah hal yang mudah. Permasalahannya lokasi yang
menyediakan head yang cukup tinggi sangat terbatas, bahkan tidak jarang
lokasi tersebut jauh dari pusat pemukiman sehingga dapat menyulitkan dalam
pembangunan konstruksi di lapangan. Di samping itu kondisi geografi,
keadaan tanah dan batuan, serta keadaan sungai harus dipertimbangkan
dalam perencanaan pembangunan mikrohidro.

4.1.3.1 Lokasi Bangunan Penyadap (Intake)


Pada umumnya instalasi PLTMH atau mikrohidro merupakan pembangkit
listrik tenaga air jenis aliran sungai langsung, jarang yang merupakan jenis
waduk (bendungan besar). Konstruksi bangunan intake untuk mengambil air
langsung dari sungai dapat berupa bendungan (intake dam) yang melintang
sepanjang lebar sungai atau langsung membagi aliran air sungai tanpa
dilengkapi bangunan bendungan. Lokasi intake harus dipilih secara cermat
untuk menghindarkan masalah di kemudian hari.
Penentuan lokasi intake harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai
berikut:
Kondisi dasar sungai
Bentuk sungai (lurus, berkelok-kelok)
Kondisi alam di sekitar sungai
Pertimbangan penggunaan air sungai
Kemudahan pencapaian lokasi.

Kondisi Dasar Sungai


Lokasi intake harus memiliki dasar sungai yang relatif stabil, apalagi bila
bangunan intake tersebut tanpa bendungan (intake dam). Dasar sungai yang
tidak stabil mudah mengalami erosi sehingga permukaan dasar sungai lebih
rendah dibandingkan dasar bangunan intake. Hal ini akan menghambat
aliran air memasuki intake.
Dasar sungai berupa lapisan/lempeng batuan merupakan tempat yang stabil.
Tempat di mana kemiringan sungainya kecil, keadaan daerah sungainya
relatif konstan sepanjang tahun umumnya memiliki dasar sungai yang relatif
stabil. Pada kondisi yang tidak memungkinkan diperoleh lokasi intake dengan
dasar sungai yang relatif stabil dan erosi pada dasar sungai memungkinkan
terjadi, maka konstruksi bangunan intake dilengkapi dengan bendungan
intake untuk menjaga ketinggian permukaan dasar sungai di sekitar intake.

Bentuk Aliran Sungai


Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada instalasi mikrohidro adalah
kerusakan pada bangunan intake yang disebabkan oleh banjir. Hal tersebut
sering terjadi pada intake yang ditempatkan pada sisi luar sungai. Pada
bagian sisi luar sungai (b) mudah erosi serta rawan terhadap banjir. Batu-
batuan, batang pohon serta berbagai material yang terbawa banjir akan
mengarah pada bagian tersebut. Sementara itu bagian sisi dalam sungai (c)
merupakan tempat terjadinya pengendapan lumpur dan sedimentasi,
sehingga tidak cocok untuk lokasi intake. Lokasi intake yang baik terletak
sepanjang bagian sungai yang relatif lurus (a), di mana aliran akan terdorong
memasuki intake secara alami dengan membawa beban (bed load) yang
kecil.

Gambar 9. Perencanaan Lokasi Intake

Kondisi Alam di Sekitar Sungai


Seandainya memungkinkan, lokasi intake secara alamiah terlindung dari
bahaya banjir. Batu-batuan yang besar serta gundukan tanah yang
menyerupai pulau dapat dimanfaatkan sebagai pelindung bangunan intake.
Batu-batuan yang besar dapat membatasi serta menahan aliran air yang
memasuki intake pada saat banjir.

Gambar 10. Contoh Intake yang Terlindungi secara Alamiah dari Aliran Banjir

Penggunaan Air
Seringkali dijumpai aliran sungai yang dimanfaatkan untuk irigasi, sehingga
penggunaan air sungai untuk keperluan mikrohidro yang tidak direncanakan
dengan baik dapat mengganggu irigasi. Dalam hal ini, penentuan lokasi
intake harus sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi aliran air irigasi.
Dengan demikian perencanaan penggunaan air untuk irigasi dan mikrohidro
harus terintegrasi.
Gambar di bawah ini memperlihatkan layout instalasi mikrohidro yang baik.
Lokasi intake setelah pencabangan aliran sungai untuk irigasi dan kembali
memasuki sungai sebelum pencabangan aliran irigasi berikutnya
menyebabkan aliran irigasi tidak terganggu.

Gambar 11. Pemilihan Lokasi PLTMH untuk Menghindari Konflik Karena Adanya
Kebutuhan Air untuk Irigasi

Pada kondisi tertentu, penggunaan air sungai untuk keperluan irigasi dan
mikrohidro dapat dilakukan bergantian. Pada saat tertentu aliran irigasi
ditutup dan instalasi mikrohido dioperasikan, demikian pula sebaliknya.
Beberapa lokasi mikrohidro dengan head tinggi dan aliran air yang kecil
menggunakan bendungan untuk menyimpan air sehingga tidak terganggu
oleh pemakaian irigasi.
Kemudahan Pencapaian Lokasi
Lokasi intake yang mudah diakses sangat membantu pada saat
pembangunan konstruksi. Medan yang sulit dapat menghambat pelaksanaan
pembangunan dan meningkatkan pembiayaan. Seringkali untuk
mempermudah akses dilakukan pembersihan di sekitar lokasi dan sepanjang
area untuk menuju lokasi.

4.1.3.2 Lokasi Rumah Pembangkit


Pada dasarnya setiap pembangunan mikrohidro berusaha untuk
mendapatkan head yang maksimum. Konsekuensinya lokasi rumah
pembangkit (power house) berada pada tempat yang serendah mungkin.
Karena alasan keamanan dan konstruksi, lantai rumah pembangkit harus
selalu lebih tinggi dibandingkan permukaan air sungai. Data dan informasi
ketinggian permukaan sungai pada waktu banjir sangat diperlukan dalam
menentukan lokasi rumah pembangkit. Pada lokasi di dekat sungai yang
sering terkena banjir jarang ditemui pepohonan atau tanaman yang dapat
dimanfaatkan untuk kayu bakar.
Selain lokasi rumah pembangkit berada pada ketinggian yang aman, saluran
pembuangan air (tailrace) harus terlindung oleh kondisi alam, seperti batu-
batuan besar. Disarankan ujung saluran tailrace tidak terletak pada bagian
sisi luar sungai karena akan mendapat beban yang besar pada saat banjir,
serta memungkinkan masuknya aliran air menuju ke rumah pembangkit.

Gambar 12. Lokasi Rumah Pembangkit yang Terlindungi dari Terpaan Banjir (New
Scheme) Dibandingkan dengan Lokasi Sebelumnya yang Mudah Diterpa
Banjir (Original Scheme)

Pada instalasi mikrohidro dengan head rendah, lokasi rumah pembangkit


yang tinggi akan mengurangi head. Alternatif perbaikan yang dapat dilakukan
adalah:
Turbin diletakkan lebih rendah dari lantai rumah pembangkit (gambar
b). Umumnya turbin yang dipakai adalah turbin propeller.
Sebuah draft tube (pipa buang) dipasang di bawah turbin (gambar c)
untuk mendapatkan kembali dan memanfaatkan energi kinetik air
yang keluar dari turbin.
Gambar 13. Penempatan Turbin dalam Rumah Pembangkit

4.1.3.3 Layout Sistem PLTMH


Layout sebuah sistem mikrohidro merupakan rencana dasar untuk
pembangunan mikrohidro. Pada layout dasar digambarkan rencana untuk
mengalirkan air dari intake sampai ke saluran pembuangan akhir. Layout
tersebut harus memperhatikan aspek teknik dan ekonomi.
Air dari intake dialirkan ke turbin menggunakan saluran pembawa air berupa
kanal dan penstock. Penggunaan penstock memerlukan biaya yang lebih
besar dibandingkan pembuatan kanal terbuka, sehingga dalam membuat
layout perlu diusahakan agar menggunakan penstock sependek mungkin.
Beberapa pendekatan dalam membuat layout sistem mikrohidro adalah
sebagai berikut:
Air dari intake dialirkan melalui penstock sampai ke turbin. Jalur
pemipaan mengikuti aliran air, paralel dengan sungai (gambar long
penstock following river). Metoda ini dapat dipilih seandainya pada
medan yang ada tidak memungkinkan untuk dibuat kanal. Perlu
diperhatikan bahwa penstock harus aman terhadap banjir.
Jalur penstock dapat dibuat langsung dari intake ke turbin tanpa
mengikuti bentuk sungai (gambar short penstock). Penstock yang
digunakan lebih pendek dibandingkan cara pertama. Cara ini
menuntut adanya kemiringan tanah yang memadai pada jalur
penstock yang dipilih .
Seandainya memungkinkan, pembuatan saluran terbuka (kanal)
dapat dibuat sampai lokasi tertentu, selanjutnya digunakan penstock
sampai ke turbin (gambar mid-length penstock). Dengan demikian
jalur penstock menjadi sangat pendek. Panjang saluran terbuka serta
kondisi tanah perlu diperhitungkan. Saluran yang panjang akan cepat
rusak bila kurang mendapat perawatan. Kondisi tanah yang labil dan
miring akan menyulitkan dalam konstruksinya serta mahal.

Gambar 14. Layout Sistem Mikrohidro atau PLTMH


Tabel 6. Formulir Studi Kelayakan Teknis Pembangunan PLTMH

Data Umum
Nama Proyek :
Nama Sungai :
Lokasi :
Dasar Penelitian :
Tanggal Studi :
Tanda Tangan :

Data Kunci
Head yang direncanakan hn [m] :
Debit yang direncanakan Q [m3/dtk] :
Potensi Hidrolik [kW] :
Kapasitas Daya Elektrik [kVA] :

1. Topografi dan Geologi


Data yang dipersiapkan:
a. Peta topografi lokasi dengan skala 1: 2000, dan garis kontur 1-2 m
b. Peta geologi lokasi dengan skala 1 : 2000
c. Catatan kondisi tanah: kerawanan longsor, dan jenis batuan dan tanah
d. Catatan keadaan alam yang pernah terjadi: gempa bumi, tanah
longsor, banjir lumpur, erosi dan pergerakan tanah, dan sebagainya.

Berikanlah komentar Anda:

2. Hidrologi
2.1 Flow Duration Curve
Lokasi stasiun pengukur (nama daerah dan kordinat pada peta geologi):
Rentang waktu pengukuran:
Debit Air (Q, m3/dtk):
Qmaks :
Qmin :
Qrata-rata :
Qbanjir : (Q pada saat banjir selama 5 tahun terakhir)

Komentar Anda:

2.2 Presipitasi
Bila dirasakan data dari otorita sungai setempat mengenai Q sepanjang tahun
kurang memadai maka dilakukan pengamatan ini, untuk menghasilkan data FDC
yang lebih akurat.

Data Presipitasi
Lokasi Stasiun Pencatat (nama dan kordinat) :
Rentang waktu pengamatan [tahun] :
Presipitasi [mm] Pmaks :
Pmin :
Prata-rata :

Komentar Anda:

Data Curah Hujan Rata-rata Setiap Tahun


Lokasi Stasiun pengamatan (nama dan kordinat):
Curah hujan [mm] Rmaks :
Rmin :
Rrata-rata :
(disarankan untuk mencek Rrata-rata selama 10 tahun terakhir dari data Badan
Meteorologi dan Geofisika/BMG)

Komentar Anda:

Daerah Tangkapan (Catchment Area)


Luas [km2] : (daerah tangkapan di sekitar intake)
Koefisien Run-off [%] : Rrata-rata/Prata-rata

Komentar Anda:

3. Layout Hidrolik
Skema Alur Air menuju Bak Penenang
Head kotor [m]:

Struktur Intake
Deskripsikanlah kondisi struktur intake (tipe weir, dan prinsip layout lain yang
direncanakan):

Headrace
Deskripsikan (tipe channel, bak penenang, dsb):

Panjang [m]:
Pengurangan (drop):
Perencanaan Q [m3/dtk]:
Penstock
Deskripsikan (material, jenis penyambung, dan spesifikasi teknik lain yang
direncanakan):

Panjang [m]:
Diameter [m]: (diameter dalam pipa)
Ketebalan pipa [mm]:

Komentar Anda:

4. Layout Mekanik Elektrik


Alternatif 1 Alternatif 2
Turbin Jenis
Kode
Q desain [m3/dtk]
h desain [m]
Power [kW]
Speed [rpm]
Run Away Speed [rpm]
Specific Speed ny [rpm]
Efisiensi [%]
Berat [kg]
Transmisi Mekanik Jenis
Kode
Rasio
Generator Jenis
Kode
Power [kVA]
Tegangan [V]
Speed [rpm]
Run Away Speed [rpm]
Efisiensi [%]
Berat [kg]
Sistem Kontrol Jenis
Kode
Kapasitas[kVA]

Komentar Anda:

5. Biaya Pembangunan PLTMH


Uraian Biaya
Pekerjaan Sipil Sub Total
1. Infrastruktur Akses Jalan, Jembatan,
Rumah Pembangkit, dll.
2. Intake Bendungan, Pintu Air, dll.
3. Saluran Pembawa Saluran, Spillway
4. Penstock Bak Pengendap dan
Penenang, Pipa, Dudukan
dan Sambungan Pipa
Mekanik Elektrik Sub Total
1. Turbin
2. Transmisi Mekanik Pulley, Belt, Bearing,
Kopling, dll.
3. Generator
4. Sistem Kontrol
5. Jaringan Listrik Transmisi, Distribusi, Intalasi
Rumah Konsumen
Desain dan Manajemen Sub Total
Proyek
1. Studi Kelayakan
2. Desain dan Penyiapan
Masyarakat
3. Konstruksi dan
Penyiapan Pengelola
4. Uji Coba dan
Commissioning
Total

Komentar Anda:

4.2 STUDI KELAYAKAN NON-TEKNIS PEMBANGUNAN


PLTMH
Tahap ini pada dasarnya lebih merupakan tahap penajaman informasi-
informasi yang sudah diperoleh pada tahap penjajagan non teknis. Informasi
yang sudah didapatkan pada tahap penjajagan dikaji dan diuji ulang agar
diperoleh data yang lebih akurat. Selanjutnya, berdasarkan informasi-
informasi tersebut, dilakukan analisis kelayakan ekonomi pembangunan
PLTMH yang mencakup alternatif pola-pola pembiayaan dan analisis usaha
untuk setiap pola pembiayaan.
Pada tahap ini dilakukan penilaian kelayakan pembangunan PLTMH
berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkan sebelumnya. Namun pada
dasarnya tidak ada kriteria yang pasti dalam menilai kelayakan pembangunan
suatu PLTMH. Untuk itu, pada akhir bab ini akan diberikan beberapa contoh
kasus yang diharapkan dapat memberikan gambaran tentang bagaimana
studi kelayakan dilakukan di suatu lokasi.

4.2.1 Lingkup Kajian


Pada bagian ini akan diuraikan tentang lingkup kajian dan rincian informasi
yang perlu digali dalam studi kelayakan non teknis pembangunan PLTMH.

4.2.1.1 Potensi Ekonomi Desa


Penggalian potensi ekonomi desa pada tahap studi kelayakan bertujuan
untuk menilai kelayakan situasi dan kondisi perekonomian pedesaan tersebut
berdasarkan suatu tolok ukur yang dianggap ideal sebagai kriteria layak
bangun PLTMH di lokasi desa itu. Beberapa aspek ekonomi pedesaan yang
perlu dikaji diuraikan berikut ini.
Tata Guna Lahan
Penggunaan lahan di perdesaan umumnya dapat dikelompokkan dalam dua
kelompok besar, yaitu penggunaan untuk:
Sektor pertanian: lahan untuk sawah, ladang, kebun, tambak ikan,
dan pemanfaatan halaman tempat tinggal penduduk
Sektor non-pertanian: lahan yang dipergunakan untuk irigasi, jalan
raya, pasar, industri, dan lahan yang dibiarkan tumbuh liar untuk
kepentingan peternakan.
Aktivitas Usaha Ekonomi Produktif
Dalam kajian aktivitas usaha ekonomi produktif yang ada di perdesaan
berkaitan dengan implementasi PLTMH, tujuan utamanya adalah
mengidentifikasi adanya jenis-jenis usaha yang mungkin dapat ditingkatkan
produktivitasnya melalui penggunaan energi dari PLTMH. Dalam hal ini perlu
diingat bahwa selain menyediakan energi listrik, PLTMH juga dapat
menyediakan energi mekanik yang bisa langsung didapatkan dari putaran
turbin. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi terhadap:
Usaha-usaha yang kebutuhan energinya dapat dipenuhi dengan
energi listrik, misalnya tukang jahit, industri mebel, kerajinan kayu,
penggilingan tepung, bengkel motor/mobil, dan sebagainya
Usaha-usaha yang secara teknis bisa dan akan lebih efisien jika
langsung memanfaatkan energi mekanik dari putaran turbin, misalnya
penggilingan tepung, penggilingan padi dan sebagainya.

Jenis Pekerjaan dan Tingkat Pendapatan Rata-rata Penduduk


Desa
Informasi-informasi yang perlu diketahui adalah jenis-jenis pekerjaan,
penghasilan rata-rata yang bisa diperoleh dari setiap jenis pekerjaan dan
berapa prosentase atau jumlah penduduk yang bekerja di masing-masing
jenis pekerjaan. Dalam hali ini perlu juga diketahui frekuensi penerimaan
penghasilannya; per jam, harian, mingguan, bulanan, permusim atau per
pekerjaan. Lebih jauh lagi, kajian tentang jenis pekerjaan dan tingkat
pendapatan perlu diperdalam pada jenis-jenis pekerjaan dalam usaha-usaha
yang dapat ditingkatkan produktivitasnya melalui penggunaan energi dari
PLTMH.
Tingkat Kebutuhan Hidup
Tingkat kebutuhan hidup di desa dapat digali dari pengeluaran rata-rata satu
keluarga meliputi jenis dan komposisi pengeluaran; berapa dan untuk apa
saja. Penggalian informasi lebih rinci perlu dilakukan terutama tentang
pengeluaran untuk kebutuhan-kebutuhan yang menggunakan energi,
misalnya penerangan dan alat-alat listrik seperti TV, radio, setrika, dan
sebagainya. Perlu juga diketahui kecenderungan pengeluaran baru apabila
ada penghasilan tambahan yang diperoleh di luar penghasilan rutin, untuk
mengetahui karakter konsumtif masyarakat di desa tersebut. Dengan
memperhatikan hal-hal tersebut dan tingkat pendapatan rata-rata dapat
diperkirakan daya beli masyarakat terhadap layanan listrik dan tingkat
permintaan listrik serta kemungkinan peningkatan permintaan di masa
mendatang.
Kemampuan Swadaya Penduduk
Keswadayaan penduduk ini perlu diketahui karena berkaitan erat dengan
kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di desa tersebut dalam penyediaan
fasilitas umum. Informasi ini dapat diperoleh dari bagaimana proses
pembangunan-pembangunan jalan, jembatan, balai desa, sekolah, tempat
ibadah, dan sarana-sarana umum yang lain seperti sarana mandi cuci kakus
(MCK) dan air.
Daya Jangkau Desa
Sebagai informasi pendukung dalam analisis ekonomi, perlu diketahui jarak
desa dari kota terdekat yang dapat dianggap sebagai tujuan pemasaran
produk dan tempat yang cukup lengkap menyediakan kebutuhan-kebutuhan
pokok, baik kebutuhan sehari-hari, bahan bangunan (material), dan
kebutuhan-kebutuhan lain.

4.2.1.2 Potensi Sumber Daya Alam dan Kemampuan Pengadaan


Material
Setiap daerah memiliki potensi sumber daya alam yang berbeda-beda.
Berkaitan dengan implementasi PLTMH, setidaknya perlu diketahui
sumberdaya air serta hal-hal yang mempengaruhi ketersediaannya dan
ketersediaan sumber-sumber material yang dapat digunakan untuk
pembangunan.
Ketersediaan air yang berkesinambungan menjadi syarat mutlak untuk
PLTMH. Untuk itu harus diketahui beberapa faktor kritis sebagai berikut:
Dari manakah air yang akan digunakan untuk PLTMH; mata air,
sungai, saluran irigasi?
Dengan digunakannya air untuk PLTMH, apakah akan merugikan
pihak lain, misalnya petani pengguna irigasi?
Kondisi air atau debit pada musim kemarau dibanding dengan musim
hujan
Tingkat luapan air pada kondisi banjir
Kondisi daerah tangkapan air (hutan lindung, hutan alam)
Tingkat perusakan hutan baik oleh penduduk atau karena kerusakan
alami
Frekuensi dan skala bencana alam yang sering terjadi (banjir, gempa
bumi, angin topan)
Kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan
hutan.

Sebagian bahan yang diperlukan untuk pembangunan PLTMH mungkin dapat


diperoleh dari sumber daya alam di desa; misalnya batu, pasir, dan kayu.
Untuk itu perlu dilakukan estimasi seberapa banyak ketersediaannya,
bagaimana cara eksploitasinya, dan berapa biayanya. Sedangkan bahan-
bahan yang lain untuk pembangunan PLTMH merupakan hasil industri;
misalnya semen, pipa, kabel, dan perlengkapan listrik. Untuk itu perlu
diperhatikan tingkat kesulitan dalam memperoleh bahan-bahan tersebut.
Setidaknya perlu diketahui tempat terdekat untuk memperoleh setiap jenis
bahan, seberapa banyak ketersediaanya dan cara pengangkutannya.

4.2.1.3 Potensi Konsumen


Pada umumnya munculnya inisiatif pembangunan PLTMH dipicu oleh adanya
potensi tenaga air di suatu lokasi. Tetapi selanjutnya apakah inisiatif tersebut
dapat atau tidak dapat direalisasikan perlu mempertimbangkan sejauh mana
masyarakat di lokasi tersebut membutuhkan layanan listrik. Bagaimana pun,
menyediakan listrik untuk masyarakat yang belum membutuhkan atau
menginginkannya bukanlah keputusan yang layak. Untuk itu diperlukan
kajian tentang potensi konsumen yang akan menjadi pasar tenaga listrik
PLTMH.
Pengetahuan dan data mengenai potensi konsumen akan digunakan sebagai
acuan untuk memperkirakan kebutuhan listrik yang akan dilayani PLTMH.
Dengan mengetahui perkiraan jumlah konsumen yang akan dilayani dan
informasi tentang peluang-peluang usaha potensial yang memanfaatkan
energi dari PLTMH yang dapat dikembangkan di desa tersebut, maka dapat
diperkirakan berapa besar daya yang harus disediakan oleh PLTMH yang
akan dibangun.
Langkah awal dapat dimulai dengan membuat peta pemukiman penduduk
dalam skala 1 : 10.000 secara rinci menggunakan aturan-aturan pemetaan
yang berlaku umum. Dengan memanfaatkan peta pemukiman penduduk ini,
dapat diketahui distribusi bermukimnya penduduk secara detail sebagai dasar
untuk memperkirakan bentuk jaringan distribusi listrik yang layak secara
ekonomis, efisien dan adil.
Ada beberapa hal yang harus diketahui untuk menentukan calon konsumen
yang benar-benar potensial, antara lain: pendapatan dan pengeluaran
penduduk per rumah tangga setiap bulannya dan nilai tabungan per keluarga.
Calon konsumen adalah masyarakat desa yang mempunyai keinginan
(kebutuhan) terhadap layanan listrik. Calon konsumen itu menjadi potensial
apabila mempunyai kemampuan untuk membayar energi yang akan
dikonsumsi.
Untuk mengukur potensi konsumen informasi-informasi yang perlu
diperhatikan:
Jumlah atau persentase penduduk yang tinggal menetap di desa
sebaiknya dipisahkan antara penduduk yang benar-benar menetap di
desa tersebut dengan mereka yang hanya sekedar berstatus sebagai
penduduk tetapi lebih banyak tinggal di luar desa
Jumlah penghasilan per kepala keluarga dan per kapita per bulan
Jumlah dan jenis-jenis pengeluaran terutama untuk pengeluaran
energi yang kemudian dapat dibandingkan dengan besarnya
pengeluaran jika digantikan oleh listrik
Jumlah penduduk yang berminat menjadi konsumen dan yang
membutuhkan listrik. Untuk keperluan ini dapat dibuat ringkasan data
minat dan kebutuhan berdasarkan skala minat untuk menjadi
konsumen (sangat berminat, berminat, dan tidak berminat) dan skala
kebutuhan terhadap listrik (sangat perlu, perlu dan tidak perlu).

Pengukuran potensi konsumen pada dasarnya harus dapat memberikan


gambaran tentang berapa total daya yang harus disediakan oleh PLTMH dan
berapa besarnya iuran listrik yang dapat diberlakukan kepada masyarakat.
Gambaran tersebut yang akan menjadi landasan perencanaan kapasitas
PLTMH yang akan dibangun dan skema-skema pembiayaannya. Dalam hal
ini perlu diingat bahwa perbedaan skema pembiayaan akan berpengaruh
pada berapa besarnya tarif yang dapat mengembalikan biaya modal.
4.2.1.4 Kelembagaan
Kelembagaan yang ada di masyarakat desa dikelompokkan dalam lembaga
formal pemerintahan desa dan lembaga-lembaga non-pemerintahan desa
yang berpengaruh dan diakui keberadaannya oleh masyarakat, yaitu:
Lembaga formal pemerintahan desa: kepala desa dan jajaran
aparatnya, Badan Perwakilan Desa, dan sebagainya
Lembaga-lembaga non-pemerintahan: koperasi, puskesmas,
organisasi-organisasi masyarakat atau agama, tamir atau pengurus
masjid, pengurus gereja, dan unit-unit kelompok kegiatan seperti
posyandu, kelompok pengajian, karang taruna, PKK.

Untuk memahami pola berorganisasi masyarakat, perlu dipelajari dan dikaji


struktur organisasi dan mekanisme berjalannya lembaga-lembaga yang ada
serta penilaian kinerjanya oleh penduduk setempat. Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam hal ini adalah: proses pergantian pimpinan lembaga,
proses pemilihan pimpinan lembaga, kestabilan lembaga, penghargaan
penduduk terhadap pimpinan dan lembaganya dan pola partisipasi
masyarakat dalam menjalankan roda organisasi lembaga tersebut.
Kajian tentang kelembagaan masyarakat perdesaan ini diharapkan dapat
menghasilkan informasi-informasi yang diperlukan untuk merumuskan
alternatif bentuk-bentuk lembaga pengelola PLTMH dan mekanisme
pengelolaan yang mungkin dikembangkan.

4.2.1.5 Kehidupan Sosial


Pembangunan PLTMH yang akan memberikan listrik bagi penduduk,
membuka kesempatan untuk menerima informasi lebih luas dan cepat pada
penduduk desa yang dapat menikmati listrik. Informasi-informasi tersebut
tentu akan berdampak bagi kehidupan penduduk desa tersebut dan
mendorong terjadinya perubahan. Sebelum terjadi perubahan yang mungkin
saja berdampak negatif, kehidupan masyarakat desa tersebut harus dipelajari
terlebih dahulu.
Beberapa hal yang perlu dipelajari adalah:
Pola hubungan antar rumah tangga di dalam desa tersebut
Pola hubungan di dalam rumah tangga (hubungan antara bapak, ibu,
dan anak-anak)
Pengelompokkan masyarakat (berdasarkan pekerjaan, kebiasaan,
kekeluargaan, figur yang dianut)
Tokoh-tokoh yang dijadikan figur oleh masyarakat setempat
Pola kegiatan sehari-hari masyarakat
Harapan dan keinginan-keinginan masyarakat secara umum
berdasarkan kelompok umur, gender, dan status sosial
Kesetaraan atau diskriminasi gender
Perubahan-perubahan yang terjadi selama ini; mengapa dan
seberapa cepat perubahan-perubahan tersebut terjadi.
Pengetahuan tentang hal-hal tersebut di atas diharapkan dapat
mengantarkan pada pemahaman terhadap pola kehidupan sosial masyarakat
setempat. Lebih jauh lagi, berdasarkan pemahaman tersebut kita dapat
memperkirakan kecenderungan perubahan yang akan terjadi setelah ada
layanan listrik dan kesiapan masyarakat dalam menerima perubahan
tersebut.

4.2.1.6 Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)


Kualitas pengelolaan PLTMH yang akan dibangun kelak, sangat bergantung
pada kualitas SDM pengelolanya. Bagaimanapun, pengelola dan operator
PLTMH yang akan dibangun harus diupayakan menggunakan SDM dari
dalam desa tersebut (tenaga kerja lokal). Begitu juga pada pembangunan
PLTMH, keterlibatan tenaga kerja lokal yang memiliki keterampilan yang
sesuai harus diupayakan semaksimal mungkin. Keterlibatan selama tahap
pembangunan ini juga akan mempercepat proses transfer pengetahuan dan
dapat juga difungsikan sebagai media penyiapan awal tenaga-tenaga
operator.
Untuk menyediakan informasi tentang kualitas dan kuantitas tenaga kerja
yang tersedia, dapat dimulai dengan menyusun hal-hal sebagai berikut:
Piramida tingkat pendidikan penduduk
Piramida tingkat pendidikan penduduk usia kerja
Piramida jenis pekerjaan penduduk usia kerja
Klasifikasi tenaga kerja berdasarkan keahlian yang dimiliki
Klasifikasi upah yang diterima oleh penduduk usia kerja berdasarkan
jenis pekerjaan dan keahlian.

Untuk kegiatan pembangunan PLTMH, kebutuhan pekerja untuk setiap jenis


pekerjaan diupayakan bisa terpenuhi oleh tenaga-tenaga kerja lokal. Rencana
penambahan tenaga kerja dari luar yang berarti meningkatkan pengeluaran
biaya pembangunan hanya dilakukan jika ketersediaan tenaga kerja lokal
tidak mencukupi. Data tentang standar upah untuk masing-masing jenis
pekerjaan seperti tukang batu, tukang tembok, tukang kayu, dsb
merupakan informasi yang diperlukan dalam penyusunan Rencana Anggaran
Biaya pembangunan. Sedangkan untuk pengelolaan PLTMH, informasi
tentang kualitas SDM merupakan dasar yang dapat digunakan untuk
merumuskan kebutuhan pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan
kapasitas tenaga pengelola dan operator sesuai dengan standar pengelolaan
PLTMH.

4.2.2 Analisis Ekonomi Pembangunan PLTMH


Pembangunan PLTMH di Indonesia pada umumnya dibiayai menggunakan
dana-dana hibah. Penggunaan dana pinjaman atau investasi untuk PLTMH
masih belum populer. Begitu juga pembiayaan PLTMH dengan pola swadaya
biasanya hanya mampu dilakukan oleh perusahaan swasta ataupun
perorangan yang digunakan untuk kepentingan usaha/bisnis.
Namun tidak berarti bahwa penggunaan dana investasi atau pinjaman tidak
layak untuk PLTMH. Meskipun skema komersial murni hampir tidak mungkin
diterapkan, masih terdapat alternatif-alternatif lain yang bisa dicoba. Sebagai
contoh perpaduan antara hibah, pinjaman lunak dan pinjaman komersial
dengan grace period (waktu tenggang) yang panjang serta swadaya
masyarakat (baik dalam bentuk material, finansial maupun tenaga).
Analisis kelayakan ekonomi pembangunan PLTMH dimulai dengan
menentukan sifat sumber dana; hibah, pinjaman, investasi, swadaya, atau
perpaduan antara sumber-sumber tersebut. Kemudian langkah-langkah
selanjutnya adalah sebagai berikut:
Menentukan masa pengembalian seluruh investasi (Break Event
Point)
Merancang pola pengembalian dana (kepada investor, bank atau kas
lembaga pengelola PLTMH)
Membuat proyeksi keuangan lengkap dengan cash flow, neraca rugi
laba, Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV).
Menentukan rata-rata biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat
per bulan
Memperkirakan jumlah iuran listrik per bulan yang harus dikeluarkan
per kepala keluarga.

Sumber dana perlu diketahui bentuknya untuk menentukan besarnya dana


yang harus dikembalikan oleh masyarakat setempat melalui pembayaran
iuran bulanan. Pengembalian untuk dana pinjaman meliputi angsuran dan
bunga pinjaman. Sedangkan pengembalian untuk dana investasi meliputi
penyusutan dan kembalian (return) untuk investasi. Sedangkan PLTMH yang
dibangun menggunakan dana hibah dapat dianggap sebagai investasi oleh
masyarakat pengguna. Penjajagan awal kepada pihak penyandang dana
perlu dilakukan untuk menentukan besarnya bunga, return, dan masa
pengembalian. Lebih baik lagi jika kesepakatan dengan penyandang dana
sudah dapat diperoleh sejak awal.
Analisis keuangan harus dibuat untuk beberapa opsi pembangunan yang
layak secara teknis. Pada akhirnya yang menentukan apakah ada atau tidak
opsi pembangunan yang layak adalah masyarakat pengguna. Meskipun
demikian, dengan membandingkan perkiraan jumlah iuran listrik yang harus
ditanggung masyarakat dan tingkat daya beli yang diperoleh dari hasil studi,
sejak awal kita bisa membuang opsi yang menghasilkan iuran listrik terlalu
mahal. Begitu juga jika sudah ada informasi tentang batas maksimum
ketersediaan dana dari penyandang dana dan besarnya kontribusi
masyarakat, kita memiliki pegangan tentang batas maksimum total anggaran
proyek.
inflow outflow net
Generation Tarif cash in Capital O&M cash out cash flow

Y ear GWh/y Rp/kWh M io Rp/y M io Rp/y M io Rp/y M io Rp/y M io Rp/y


-3
construction -2 10,00 10,00 -10,00
period -1 40,00 40,00 -40,00
0 450,00 450,00 -450,00
1 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
2 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
3 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
4 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
5 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
6 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
7 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
8 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
9 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
10 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
operation 11 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
period 12 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
13 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
14 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
15 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
16 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
17 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
18 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
19 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
20 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
21 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
22 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
23 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
24 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32
25 2,00 125,00 250,00 15,28 0,40 15,68 234,32

Net Pres ent Value 2.078,32


Inte rnal Rate of Return 44%

Inflation Rate 7,50% Invested Capital loan 70,00% 105


Discount Rate 14,00% market equity 30,00% 150
6,05% real total 500,00
pay back [y] 25 years pay back & interest 15,28
O&M 1,25% => O&M 6,25

Tabel 7. Contoh Formulir Perhitungan IRR


4.2.3 Penyusunan Laporan Studi Kelayakan Non Teknis
Laporan studi kelayakan merupakan akumulasi dari data-data dan informasi-
informasi yang diperoleh selama di lapangan mengenai suatu desa calon
lokasi PLTMH. Rekomendasi dari studi kelayakan berupa opsi-opsi
pembangunan yang dinilai layak. Opsi-opsi tersebut kemudian perlu
dibandingkan dengan kasus-kasus pembangunan PLTMH yang pernah
dilakukan di tempat-tempat lain sebagai referensi. Selanjutnya rekomendasi
akhir berupa perbandingan antar opsi.
Contoh struktur laporan sudi kelayakan non-teknis pembangunan PLTMH
disajikan pada tabel di bawah ini.

ISI LAPORAN SIFAT HASIL


1. Kriteria ideal
2. Potensi Ekonomi Desa kuantitatif
3. Potensi Sumber Daya Alam kuantitatif dan kualitatif
4. Kemampuan Pengadaan kuantitatif dan kualitatif

Material
5. Potensi Konsumen kuantitatif
6. Kelembagaan Desa kualitatif
7. Jalannya Kelembagaan Desa kualitatif
8. Kehidupan Sosial Masyarakat kualitatif

Desa
9. Potensi Sumber Daya Manusia kuantitatif dan kualitatif
10. Analisis Ekonomi dan Sosial kuantitatif dan kualitatif
11. Perbandingan Analisis dan kuantitatif dan kualitatif
Kriteria
12. Rekomendasi Opsi-opsi pembangunan
13. Perbandingan dengan Kualitatif
Referensi
14. Rekomendasi Akhir Kualitatif dan kuantitatif

Tabel 8. Struktur Laporan Studi Kelayakan Aspek Non Teknis


71

5 N TEKNIS DAN PEMBANGUNAN


DESAI

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA


MIKROHIDRO (PLTMH)

Desain teknis yang dilakukan dalam pembangunan PLTMH mencakup


komponen-komponen utama instalasi yang terdiri dari fasilitas teknik sipil dan
komponen mekanik elektrik, seperti bendungan (weir), intake untuk
memasukan atau menyimpan air, saluran pembawa air (headrace), bak
penenang (forebay), power house, turbin air, generator, panel-panel
listrik/sistem kontrol dan jaringan listrik. Komponen-komponen PLTMH yang
akan didisain tersebut dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut.

5.1 DESAIN BANGUNAN SIPIL

5.1.1 Bendungan (Weir)

5.1.1.1 Tinggi Muka Air Banjir pada Bendungan


Dalam desain bendungan yang perlu diperhatikan adalah antisipasi dalam
menghadapi banjir dari sungai tersebut. Untuk menentukan tinggi muka air
banjir di atas mercu bendungan adalah sebagai berikut:
(1) Untuk bendungan bronjong:

Q m.b.d. g.d
Di mana:
Q = debit banjir rencana (m3/dtk) Q20
b = lebar bendung atau sungai
d = tinggi muka air di atas bendung (m)
m = koefisien = 0,7 hingga 0,9
g = gravitasi = 9,8 m/dtk2.

(2) Untuk mercu bendungan bulat, berdasarkan standar WES adalah:

Persamaan kurva (downstream face) Xn = k . Hdn-1 . Y


Di mana:
X = absis ke kanan
Y = ordinat ke kiri
k = konstanta
n = konstanta
Hd = tinggi desain (tinggi muka air di atas mercu saat banjir).

Tabel 9. Slope of Upstream Face k n K


o
Vertikal 2 1.850 n
3 : 1 1.936 1.836 s
3 : 2 1.939 1.810 t
a
3 : 3 1.873 1.776 n
t
a Slope of Upstream Face untuk Mercu Bendungan Bulat

h
Q = C . L . He1,5 , dengan syarat 1,33
Hd
Di mana:
Q = debit banjir (ft3/dtk)
C = koefisien pengaliran (4,03)
L = lebar bendung efektif
He = tinggi energi total (ft)
h = tinggi bendung, A = L . (h + He).

Langkah-langkah perhitungan:
(1) Pilih slope mercu
(2) Didapat nilai k & n
(3) Nilai Q20, L, C
73

(4) Hitung He
Q20
(5) Hitung Va Va
A
V
(6) Hitung Ha Ha a
2g
(7) Hitung Hd Hd = He - Ha
h
(8) Hitung
Hd
C
(9) Asumsi nilai 1
Cd
(10) Ulangi langkah 4, 7 & 8.

H a
H a

X 1.810 =1.939H 0.810


d
Y
H e H d H e H d

0.282 H 0.214 H
d 0.175 H d
d 0.115 H d

Origin of coordinates
x
x
Y Origin of
coordinates
R=0.22 H d

R=0.5 H Y
d 2
R=0.2 H d
X 1.85 =2.0H 0.85 Y P.T 3
d

Crest axis R=0.48 H Crest axis


d
Set back

H a H a

X 1.836 =1.936H 0.836


d X 1.776 =1.873H 0.776
d
Y
Y
H e H d H H
e d
0.237 H 0.119 H
d 0.139 H d
d

x
x
Origin of Origin of
R=0.21 H d coordinates coordinates
1 3
Y Y
3
3

Crest axis
R=0.68 H Crest axis R=0.45 H d
d

Gambar 15. Bentuk-bentuk Spillwal Standar WES (U.S. Army Engineers Waterways
Experiment Station)
1.04 1.3

=0.20

0.33

1.00
d

0.67
1.03 1.2

h/H
Ups
trea
m
face
3 on

s lope
2
1.02 1.1

: 3o

r
greate
n

1.33 or
3
3 on
1
1.01 1.0
Correction factor

1.00 3 on 1 0.9
3 on 2

0.99 0.8

3 on
3
0.98 0.7
0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2 1.4
h/H d Q=CLH 1.5
0.6 e

H a =velocity head
0.5 H d =design head excluding H a
H e =total head including H a
0.4 H a

H d H e

0.3
d
H e /H

0.2 h

0.1

0.0
0.0 0.75 0.80 0.85 0.90 0.95 1.00

C/C d in which C d = 4.03

Gambar 16. Hubungan Head dan Debit untuk Bentuk-bentuk Standar Spillwal WES

5.1.1.2 Desain Lantai Muka


Dengan adanya bendungan akan terjadi beda tinggi tekan di depan dan di
belakang bendungan. Beda tekan ini mengakibatkan adanya aliran di bawah
bendungan. Untuk menghitung panjang lantai muka digunakan teori LANE.
1
L LV . L h > C . H
3
Di mana:
LV = jumlah bidang kontak vertikal
Lh = jumlah bidang kontak horisontal
C = creep ratio
H = beda tinggi tekan.
75

5.1.1.3 Desain Ruang Olakan


Ruang olakan dibuat dengan maksud untuk mematahkan energi atau
mengurangi kecepatan aliran di bagian hilir mercu, sehingga tidak terjadi
penggerusan di hilir bendungan.
Langkah-langkah perhitungan:
(1) Cari harga Q20 dan Beff
Q20
(2) Hitung q =
B eff
1
q2 3
(3) Hitung hc =
g


H
(4) Hitung
He
Rmin
(5) Hitung
hc
Tmin
(6) Hitung
hc
(7) Periksa Rmin
(8) Periksa Tmin
Q
(9) Periksa V =
A
1
(10) Hitung kecepatan kritis V2 = g . D
2
(11) Periksa V < V2 aliran sub kritis.

tinggi kecepatan

H
q hc V2
2g
muka air hilir

0
45
1
1 a = 0.1R
T
R
Lantai Bendung

elevasi dasar lengkungan

Gambar 17. Perencanaan Ruang Olakan


5.1.2 Bangunan Pengambilan (Intake)
Untuk perencanaan pintu bilas digunakan rumus:
Q .b.h. 2.g.z

Di mana:
Q = debit rencana (m3/dtk)
b = lebar pintu (m)
h = tinggi bukaan pintu intake (m)
g = gaya gravitasi (9,8 m/dtk2)
z = beda tinggi muka air di hulu dan di hilir intake (m)
= koefisien konstruksi (0,85 0,90).

5.1.3 Saluran Penghantar (Headrace)


Saluran penghantar berfungsi untuk mengalirkan air dari intake sampai ke
bak penenang. Desain saluran penghantar berdasarkan pada kriteria:
Nilai ekonomis yang tinggi
Efisiensi fungsi
Aman terhadap tinjauan teknis
Mudah pengerjaannya
Mudah pemeliharaannya
Struktur bangunan yang memadai
Kehilangan tinggi tekan (head losses) yang kecil.

5.1.3.1 Perencanaan Hidrolis


Dimensi saluran dihitung menggunakan formula untuk perhitungan aliran
seragam (uniform flow) pada saluran terbuka. Proses perencanaan hidrolis
saluran pembawa dapat dilakukan di antaranya menggunakan software
engineering hydraulic Flow Pro 2. Pada perencanaan ini ditetapkan slope
saluran pembawa sebesar 0,001 dengan koefisien Manning 0,012.

5.1.3.2 Kecepatan Aliran


Kecepatan aliran pada saluran penghantar direncanakan sedemikian rupa
untuk mencegah sedimentasi akibat kecepatan rendah maupun penggerusan
tanah akibat kecepatan tinggi. Kecepatan aliran yang diijinkan dalam saluran
ditetapkan dengan asumsi ukuran butir material sedimen 0,2 0,3 mm.
Kecepatan aliran yang diijinkan pada perencanaan ini adalah:
Kecepatan maksimum: 2 m/dtk untuk saluran pasangan batu tanpa
plesteran
Kecepatan minimum: 0,3 m/dtk untuk saluran pasangan batu
plesteran dan 0,5 m/dtk untuk saluran tanpa pasangan/plesteran.
77

Kecepatan rata-rata aliran yang diijinkan pada perencanaan ini berkisar 0,5
0,7 m/dtk.
U-SHAPED CHANNEL, SI Units, U-shaped Channel

Discharge Diameter Manning's n Slope Control Depth


0.75 1.2 0.012 0.001 1,000

Normal Depth XSec Area Crit. Depth XSec Area Flow Type
0,546 0,656 0,342 0,410 subcritical

Distance Depth Energy Area Velocity


36,900 0,970 0,991 1,164 0,644
74,486 0,940 0,962 1,128 0,665
112,876 0,909 0,934 1,091 0,687
150,000 0,881 0,907 1,057 0,709

Tabel 10. Perhitungan Saluran Pembawa menggunakan Software Flow Pro 2

5.1.3.3 Desain Saluran Pembawa menggunakan Rumus Trickler


(Alternatif)
Untuk desain saluran pembawa ini dapat menggunakan rumus TRICKLER
sebagai berikut.
2 1
Q = v.A
V K . R3 . I 2
Di mana:
Q = debit rencana (m3/dtk)
K = koefisien kekasaran
v = kecepatan aliran (m/dtk)
R = jari-jari hidraulis (m)
I = kemiringan
A = luas (m2).

Q (m3/dtk) b/h m v

0.00 - 0.15 1 1:1 0.25 - 0.30


0.15 - 0.30 1 1:1 0.30 - 0.35
0.30 - 0.40 1 1:1 0.35 - 0.40
0.40 - 0.50 1 1:1 0.40 - 0.45
0.50 - 0.75 1 1:1 0.45 - 0.50
0.75 - 1.50 1 1:1 0.50 - 0.55
1.50 - 3.00 1 1:1 0.55 - 0.60

Tabel 11. Standar Desain Saluran Pembawa menggunakan Rumus Trickler


Bidang endap sedimen untuk kantong lumpur pada saluran pembawa:
Q
B.L =
vV
Di mana:
Q = debit rencana (m3/dtk)
vV = kecepatan jatuh partikel (m/dtk)
B = lebar dasar (m)
L = panjang saluran (m).

1 y

h Bak Pengendap
A
lt
2 y

Kantong Lumpur
1 t

2
L

Kantong Lumpur Operasi Normal Kantong Lumpur Saat Pembilasan

HS HS

B B

Gambar 18. Kantong Lumpur pada Saluran Pembawa

5.1.4 Bak Pengendap dan Penenang (Head Tank atau


Forebay Tank)
Konstruksi bak pengendap dan bak penenang dalam perencanaan ini adalah
sebagaimana ditampilkan pada gambar di bawah. Perhitungan dimensi bak
penenang dilakukan dengan beberapa kriteria, yaitu:
79

Volume bak 10 20 kali debit yang masuk untuk menjamin aliran


steady di pipa pesat dan mampu meredam tekanan balik pada saat
penutupan aliran di pipa pesat
Bak pengendap dan bak penenang direncanakan dengan
menetapkan kecepatan vertikal partikel sedimen 0,03 m/dtk
Pipa pesat ditempatkan 15 cm di atas dasar bak pengendap dan bak
penenang untuk menghindarkan masuknya batu atau benda-benda
yang tidak diijinkan terbawa memasuki turbin, karena berpotensi
merusak runner turbin
Pipa pesat ditempatkan pada jarak minimum 4 x D (diameter pipa
pesat) dari muka air untuk menjamin tidak terjadi turbulensi dan
pusaran yang memungkinkan masuknya udara bersama aliran air di
dalam pipa pesat
Bak pengendap dan bak penenang dilengkapi trash rack untuk
mencegah sampah dan benda-benda yang tidak diinginkan
memasuki pipa pesat bersama aliran air
Pipa penguras ditempatkan di bak pengendap dan bak penenang
sebagai kelengkapan untuk perawatan (pembuangan endapan
sedimen)
Bak pengendap dan bak penenang dilengkapi pelimpas yang
direncanakan untuk membuang kelebihan debit pada saat banjir.
Bangunan bak penenang dan saluran pembawa direncanakan terjaga
ketinggian permukaan pada saat banjir sampai maksimum 25% dari
debit desain.
Konstruksi bak penenang dan pengendap berupa pasangan batu
diplester dengan dasar bak berupa coran beton tumbuk (tanpa
tulangan) kedap air.

pelimpas trashrack
muka air
Min 4D

D
15

endapan sedimen

pipa penguras sedimen pipa pesat

Gambar 19. Konstruksi Bak Pengendap dan Bak Penenang


5.1.5 Pipa Pesat (Penstock)
Pipa pesat (penstock) adalah pipa yang yang berfungsi untuk mengalirkan air
dari bak penenang (forebay tank). Perencanaan pipa pesat mencakup
pemilihan material, diameter penstock, tebal dan jenis sambungan
(coordination point). Pemilihan material berdasarkan pertimbangan kondisi
operasi, aksesibilitas, berat, sistem penyambungan dan biaya. Diameter pipa
pesat dipilih dengan pertimbangan keamanan, kemudahan proses
pembuatan, ketersediaan material dan tingkat rugi-rugi (friction losses)
seminimal mungkin. Ketebalan penstock dipilih untuk menahan tekanan
hidrolik dan surge pressure yang dapat terjadi.

5.1.5.1 Pemilihan Pipa Pesat


Data dan asumsi awal perhitungan pipa pesat:
Material pipa pesat menggunakan plat baja di-roll dan dilas (welded
rolled steel). Hal ini dipilih sebagai alternatif terbaik untuk
mendapatkan biaya terkecil. Material yang digunakan adalah mild
steel (St 37) dengan kekuatan cukup.
Head losses pada sistem pemipaan (penstock) diasumsikan sekitar
4% terhadap head gross.

5.1.5.2 Diameter Pipa Pesat


Diameter minimum pipa pesat dapat dihitung dengan persamaan
D = 2,69. (n2 . Q2 . L / hg )0,1875
Di mana:
n = koefisien kekasaran (roughness) untuk welded steel = 0,012
Q = debit desain sebesar (m3/dtk)
L = panjang penstock (m)
hg = tinggi jatuhan air (gross head) (m).

Tabel 12. Material Pipa Pesat

5.1.5.3 Tebal Plat


Perhitungan tebal plat dapat menggunakan persamaan:
tp = (P1 . D/(2f Kf)) + ts
81

Di mana:
ts = adalah penambahan ketebalan pipa untuk faktor korosi
P1 = tekanan hidrostatik (kN/mm2)
D = diameter dalam pipa
Kf = faktor pengelasan sebesar 0,9 untuk pengelasan dengan
inspeksi x-ray, sebesar 0,8 untuk pengelasan biasa
f = desain tegangan pipa yang diijinkan = 1400 kN/mm 2.

5.1.5.4 Waterhammer
Pada saat penutupan inlet valve dapat terjadi tekanan gelombang aliran air di
dalam pipa yang dikenal sebagai waterhammer. Tekanan balik akibat
tertahannya aliran air oleh penutupan katup akan berinteraksi dengan
tekanan air yang menuju inlet valve sehingga terjadi tekanan tinggi yang
dapat merusak penstock. Besarnya tekanan tersebut dipengaruhi oleh faktor:
Kecepatan gelombang tekanan (pressure wave speed), c yang
besarnya:
c = [10-3. K/(1 + K.D/(E.t))]0,5
Di mana:
K = modulus bulk air = 2,1 x 109 N/m2
E = modulus elastik material, untuk welded steel 2,1 x 1011 N/m2
D = diameter pipa (mm)
t = tebal pipa (mm).

Surge pressure pada pipa, Ps ( m kolom air)


Ps = c . V/g
Di mana:
V = kecepatan aliran air didalam pipa (m/dtk) = 4Q/D2
g = percepatan gravitasi m/dtk2.

Tekanan total (tekanan kritis) di dalam pipa adalah sebesarP c yaitu:


Pc = Po + Ps
= (0,96 Hg) + Ps
di mana Po adalah tekanan hidrostatik dalam pipa dengan asumsi
head losses 4%. Sementara itu tegangan yang terjadi pada dinding
pipa adalah:
= Pc. D/(2.t)
Tegangan pada dinding pipa tersebut dibandingkan dengan kekuatan
tarik material dan tegangan yang diijinkan. Apabila tegangan pada
dinding pipa lebih besar maka penentuan diameter dan ketebalan
pipa diulang (iterasi) sampai diperoleh kondisi yang aman.
Perhitungan rinci kekuatan dan keamanan pipa dapat dilampirkan
pada setiap lokasi rencana pengembangan PLTMH.

5.1.5.5 Tumpuan Pipa Pesat (Saddle Support)


Tumpuan pipa pesat, baik pondasi anchor block, saddle support, berfungsi
untuk mengikat dan menahan penstock. Jarak antar tumpuan (L) ditentukan
oleh besarnya defleksi maksimum penstock yang diijinkan. Jarak maksimum
dudukan pondasi penstock dapat dihitung dengan formula:
L = 182,61 . { [(D + 0,0147)4 D4] 0,333} / P
Di mana:
D = diameter dalam penstock (m)
P = berat satuan dalam keadaan penuh berisi air (kg/m).

Berat satuan pipa pesat dihitung dengan formula:


Wpipa = . D . t . l . baja
Di mana:
Wpipa = berat satuan pipa (kg/m)
D = diameter pipa (m)
t = tebal pipa (m)
l = panjang pipa satuan = 1 m
baja = massa jenis pipa baja = 7860 kg/m3.

Berat air di dalam pipa dihitung sebesar:


Wair = 0,25 . . D2 . l . air
Di mana:
Wair = berat air di dalam pipa (kg/m)
D = diameter pipa (m)
l = panjang pipa satuan = 1 m
air = massa jenis air = 1000 kg/m3.

Berat satuan pipa berisi penuh air adalah, P = W pipa + Wair. Pada
perencanaan PLTMH jarak antar tumpuan pipa pesat rata-rata adalah 4 m.

5.1.6 Rugi-rugi Head (Head Losses)


Rugi-rugi head (head losses) diberikan oleh faktor:
83

Kerugian karena gesekan saat aliran air melewati trashrack


Kerugian gesekan aliran fluida di dalam pipa
Kerugian karena turbulensi aliran yang dipengaruhi belokan, bukaan
katup, perubahan penampang aliran.
Reduksi head losses dapat dilakukan dengan cara:
Penggunaan diameter pipa yang lebih besar (harus
mempertimbangkan biaya)
Pengurangan belokan pada penstock dan pemilihan dimensi yang
terbaik untuk mendapatkan rugi-rugi yang kecil.
Besarnya rugi-rugi pada pipa pesat terdiri dari:
(1) Rugi-rugi karena gesekan selama aliran di dalam pipa, hf:

hf = . L . v2 / (2 . g . D)
Di mana:
= koefisien gesekan berdasarkan diagram Moody, bilangan
Reynolds dan koefisien kekasaran material
L = panjang penstock (m)
v = kecepatan rata-rata (m/dtk)
g = percepatan gravitasi (m/dtk2)
D = diameter pipa pesat (m).

Persamaan empiris lainnya yang dapat digunakan untuk


menghitung rugi-rugi gesekan ini adalah:
(hf / L) = 10,29 . n2 . Q2 / D5,333
Di mana:
hf = head losses karena gesekan aliran di dalam pipa (m)
L = panjang pipa (m)
n = koefisien kekasaran Manning,
untuk material welded steel = 0,012
Q = debit (m3/dtk)
D = diameter penstock (m).

Kerugian karena gesekan pada aliran melalui trashrack dapat


dihitung dengan formula Kirchmer sebagai berikut.
Di mana:
Kt = koefisien gesekan bentuk plat trashrack
t = tebal plat trashrack (m)
b = jarak antar plat trashrack (m)
Vo = kecepatan aliran air (m/dtk)
g = percepatan gravitasi (m/dtk2)
= sudut jatuhan trashrack dengan horisontal.

(2) Kerugian karena turbulensi, hi

hi = total. v2 / (2g)
Di mana koefisien losses, total besarnya adalah:
total = inlet loss + belokan/elbow + inlet valve + reducer/difusor + draftube

Berdasarkan perhitungan menggunakan formula-formula di atas,


maka pada perencanaan PLTMH ukuran pipa pesat distandarisasi
untuk memudahkan aplikasi di lapangan, sebagaimana dapat dilihat
pada tabel di bawah ini. Diameter standar pipa dibuat dari plat
ukuran 120 cm x 240 cm yang di-roll dan dilas.

Tabel 13. Standar Penggunaan Pipa Pesat


85

Tabel 14. Koefisien Kekasaran Berbagai Jenis Material Penstock

5.1.7 Rumah Pembangkit (Power House)


Rumah pembangkit yang merupakan titik pusat pembangkitan direncanakan
dengan ukuran tergantung kondisi di lapangan, sebagai contoh dapat
berukuran 3 x 4 m atau 4 x 4 m. Pada rumah pembangkit ini akan
ditempatkan peralatan mekanik elektrik yang terdiri dari:
Turbin
Transmisi Mekanik
Generator
Panel Kontrol
Ballast Load
Tempat Peralatan/Tools.

Rumah pembangkit dilengkapi dengan pengamanan terhadap petir dan arus


berlebih (lightning arrester). Rumah pembangkit berupa pasangan bata
dengan bangunan coran bertulang pada pondasi turbin dan penampungan air
di bawah turbin sebelum keluar ke tailrace.
Hal utama yang menjadi perhatian dalam pembangunan rumah pembangkit
adalah aksesibilitas dan sirkulasi udara untuk melepas panas pada ballast
load. Sirkulasi udara yang baik akan menjaga temperatur kerja sekitar rumah
pembangkit tidak berlebih sehingga temperatur kerja mesin dapat dijaga
dengan baik.
5.2 PERLENGKAPAN MEKANIK ELEKTRIK

5.2.1 Turbin

5.2.1.1 Jenis Turbin


Turbin air berperan untuk mengubah energi air (energi potensial, tekanan dan
energi kinetik) menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran poros. Putaran
poros turbin ini akan diubah oleh generator menjadi tenaga listrik.
Berdasarkan prinsip kerjanya, turbin air dibagi menjadi dua kelompok:
Turbin impuls (crossflow, pelton & turgo), untuk jenis ini tekanan
pada setiap sisi sudu gerak/runner - bagian turbin yang berputar -
sama
Turbin reaksi (francis, kaplan/propeller).
Daerah aplikasi berbagai jenis turbin air relatif spesifik. Pada beberapa
daerah operasi memungkinkan digunakan beberapa jenis turbin. Pemilihan
jenis turbin pada daerah operasi yang overlapping ini memerlukan
perhitungan yang lebih mendalam. Pada dasarnya daerah kerja operasi
turbin dapat dikelompokkan menjadi:
Low head power plant, dengan tinggi jatuhan air (head) 10 m
Medium head power plant, dengan tinggi jatuhan antara low head dan
high-head
High head power plant, dengan tinggi jatuhan air yang memenuhi
persamaan
h 100 (Q)0,333
Di mana:
h = head (m)
Q = debit desain (m3/dtk).

Secara umum hasil survey lapangan mendapatkan potensi pengembangan


PLTMH dengan tinggi jatuhan (head) 6 60 m yang dapat dikategorikan pada
head rendah dan medium.

Jenis Turbin Variasi Head (m)

Kaplan dan Propeller 2 h < 20


Francis 10 h < 350
Pelton 50 h < 1000
Crossflow 6 h < 100
Turgo 50 h < 250

Tabel 15. Daerah Operasi Turbin


87

5.2.1.2 Kriteria Pemilihan Jenis Turbin


Pemilihan jenis turbin dapat ditentukan berdasarkan kelebihan dan
kekurangan dari jenis-jenis turbin, khususnya untuk suatu desain yang sangat
spesifik. Pada tahap awal, pemilihan jenis turbin dapat diperhitungkan
dengan mempertimbangkan parameter-parameter khusus yang
mempengaruhi sistem operasi turbin, yaitu:
Faktor tinggi jatuhan air efektif (net head) dan debit yang akan
dimanfaatkan untuk operasi turbin merupakan faktor utama yang
mempengaruhi pemilihan jenis turbin, sebagai contoh: turbin pelton
efektif untuk operasi pada head tinggi, sementara turbin propeller
sangat efektif beroperasi pada head rendah
Faktor daya (power factor) yang diinginkan berkaitan dengan head
dan debit yang tersedia
Kecepatan (putaran) turbin yang akan ditransmisikan ke generator.
Sebagai contoh untuk sistem transmisi direct couple antara generator
dengan turbin pada head rendah, sebuah turbin reaksi (propeller)
dapat mencapai putaran yang diinginkan, sementara turbin pelton
dan crossflow berputar sangat lambat (low speed) yang akan
menyebabkan sistem tidak beroperasi.
Ketiga faktor di atas seringkali diekspresikan sebagai kecepatan spesifik,
Ns, yang didefinisikan dengan formula:
Ns = N . P0,5/ h1,25
Di mana:
N = kecepatan putaran turbin (rpm)
P = output maksimum turbin (kW)
h = head bersih (m).

Output turbin dihitung dengan formula:


P = 9,81 . Q . H . t
Di mana:
Q = debit air (m3/dtk)
H = head bersih (m)
t = efisiensi turbin
= 0,8 0,85 untuk turbin pelton
= 0,8 0,9 untuk turbin francis
= 0,7 0,8 untuk turbin crossflow
= 0,8 0,9 untuk turbin propeller/kaplan.
Kecepatan spesifik setiap turbin memiliki kisaran (range) tertentu berdasarkan
data eksperimen. Kisaran kecepatan spesifik beberapa turbin air adalah
sebagai berikut:
Turbin Pelton : 12 Ns 25
Turbin Francis : 60 Ns 300
Turbin Crossflow : 40 Ns 200
Turbin Propeller : 250 Ns 1000
Dengan mengetahui kecepatan spesifik turbin maka perencanaan dan
pemilihan jenis turbin akan menjadi lebih mudah. Beberapa formula yang
dikembangkan dari data eksperimental berbagai jenis turbin dapat digunakan
untuk melakukan estimasi perhitungan kecepatan spesifik turbin, yaitu:
Turbin Pelton (1 jet): Ns = 85.49/H 0,243 (Siervo & Lugaresi, 1978)
Turbin Francis: Ns = 3763/H 0,854 (Schweiger & Gregory, 1989)
Turbin Kaplan: Ns = 2283/H 0,486 (Schweiger & Gregory, 1989)
Turbin Crossflow: Ns = 513.25/H 0,505 (Kpordze & Warnick, 1983)
Turbin Propeller: Ns = 2702/H 0,5 (USBR, 1976).

Dengan mengetahui besaran kecepatan spesifik maka dimensi dasar turbin


dapat diestimasi (diperkirakan).
Berkaitan dengan desain PLTMH, pilihan turbin yang umumnya cocok untuk
lokasi di Indonesia adalah:
Turbin propeller tipe open flume untuk head rendah s.d. 6 m
Pompa sebagai Turbin (Pump as Turbine/PAT) untuk head rendah 10
s.d. 50 m
Turbin crossflow/banki-mithell untuk head 6 m < H < 60 m.
Pemilihan jenis turbin tersebut berdasarkan ketersediaan teknologi secara
lokal dan biaya pembuatan/pabrikasi yang lebih murah dibandingkan tipe
lainnya seperti pelton dan francis. Jenis turbin crossflow yang dipergunakan
pada perencanaan ini adalah crossflow T-14 dengan diameter runner 0,3 m.
Turbin tipe ini memiliki efisiensi maksimum yang baik sebesar 0,74 dengan
efisiensi pada debit 40% masih cukup tinggi di atas 0,6. Efisiensi PAT lebih
rendah 3-5% dari titik efisiensi terbaik yang dapat dicapai bila dioperasikan
sebagai pompa, yaitu antara 0,6 hingga 0,65. Sementara untuk penggunaan
turbin propeller open flume fabrikasi lokal ditetapkan efisiensi turbin sebesar
0,75. Penggunaan kedua jenis turbin tersebut untuk pembangkit tenaga air
skala mikro (PLTMH), khususnya crossflow T-14 telah terbukti handal di
lapangan dibandingkan jenis crossflow lainnya yang dikembangkan oleh
berbagai pihak (lembaga penelitian, pabrikan, impor).
Putaran turbin baik propeller open flume untuk head rendah dan turbin
crossflow memiliki kecepatan yang rendah. Pada sistem mekanik turbin
digunakan transmisi sabuk flatbelt atau vee belt dan pulley untuk menaikkan
putaran sehingga sama dengan putaran generator 1500 rpm. Efisiensi sistem
transmisi mekanik flat belt diperhitungkan 0,98. Sementara pada sistem
89

transmisi mekanik turbin propeller open flume menggunakan vee belt, dengan
efisiensi 0,95.

Gambar 20. Diagram Aplikasi berbagai Jenis Turbin (Head Vs Debit)

Jumlah Pole (Kutub) Frekuensi , 50 Hz

2 3000
4 1500
6 1000
8 750
10 600
12 500
14 429

Tabel 16. Putaran Generator Sinkron (rpm)


Jenis Turbin Putaran Nominal, N Runaway speed
(rpm)

Semi Kaplan, single regulated 75 100 2 2.4


Kaplan, double regulated 75 150 2.8 3.2
Small-medium Kaplan 250 - 700 2.8 3.2
Francis (medium & high head) 500 1500 1.8 2.2
Francis (low head) 250 - 500 1.8 2.2
Pelton 500 1500 1.8 2
Crossflow 100 1000 1.8 2
Turgo 600 1000 2

Tabel 17. Runaway Speed Turbin, Nmaks/N

5.2.2 Transmisi Daya Mekanik


Transmisi daya berperan untuk menyalurkan daya dari poros turbin ke poros
generator. Elemen-elemen transmisi daya yang digunakan terdiri dari: sabuk
(belt), pulley, kopling dan bantalan (bearing).
Belt berfungsi untuk menyalurkan daya dari poros turbin ke poros generator.
Belt harus cukup tegang sesuai dengan jenis dan ukurannya. Pulley
berfungsi untuk menaikkan putaran sehingga putaran generator sesuai
dengan putaran daerah kerjanya. Sedangkan kopling, bantalan dan cone
clamp merupakan komponen/elemen pendukung.
Secara umum sistem transmisi daya dapat dikelompokkan menjadi:
Sistem transmisi daya langsung (direct drives)
Sistem transmisi daya tidak langsung (indirect drives), dalam hal ini
menggunakan belt.
91

Gambar 21. Mekanisme Penghantaran Daya

5.2.2.1 Sistem Transmisi Daya Langsung


Pada sistem transmisi daya langsung ini (direct drives), daya dari poros turbin
(rotor) langsung ditransmisikan ke poros generator yang disatukan dengan
sebuah kopling. Dengan demikian konstruksi sistem transmisi ini menjadi
lebih kompak, mudah untuk melakukan perawatan, efisiensi tinggi dan tidak
memerlukan elemen mesin lain seperti belt dan pulley kecuali sebuah kopling.
Karena sistem transmisi dayanya langsung (direct drives), maka generator
yang digunakan harus memiliki kecepatan (putaran) optimum yang hampir
sama dengan kecepatan (putaran) poros turbin (rotor), sekitar 15%
perbedaannya. Alternatif lain adalah menggunakan gearbox untuk
mengoreksi rasio kecepatan (putaran) antara generator dan poros turbin.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah pemasangan poros turbin dan poros
generator yang menuntut kelurusan sumbu. Pengaruh ketidaklurusan sumbu
poros (misalignment) dikurangi dengan penggunaan kopling fleksibel yang
mengizinkan sedikit ketidaklurusan sumbu poros (misalignment).

5.2.2.2 Sistem Transmisi Daya dengan Sabuk (Belt)


Sabuk dipakai untuk memindahkan daya antara dua poros yang sejajar.
Pemilihan jenis sabuk bergantung pada besar kecilnya daya yang akan
ditransmisikan. Sabuk memainkan peranan yang penting dalam menyerap
beban kejut dan meredam pengaruh getaran. Sabuk yang digunakan
umumnya jenis flat belt dan V-belt (vee belt).
Flat belt banyak digunakan pada sistem transmisi daya mekanik untuk
mikrohidro dengan daya yang besar. V-belt digunakan pada instalasi PLTMH
dengan daya di bawah 20 kW. Penggunaan sistem transmisi sabuk ini
memerlukan komponen pendukung seperti: pulley, bantalan beserta
asesorisnya dan kopling.
Pada sistem transmisi daya dengan sabuk, putaran turbin dan generator yang
dihubungkan dapat berbeda atau dengan kata lain ada rasio putaran.
Dengan demikian range generator yang akan digunakan lebih luas dan
bervariasi.

5.2.3 Generator

5.2.3.1 Pemilihan Jenis Arus Listrik: Arus Bolak-Balik (AC)


Untuk pengadaan tenaga listrik PLTMH dapat menggunakan arus searah
(DC, direct current) atau arus bolak balik (AC, alternating current). Secara
umum penggunaan arus AC lebih menguntungkan daripada arus DC.
Tegangan AC dapat diubah menjadi tegangan tinggi secara mudah dan
murah dengan menggunakan transformator. Dengan demikian energi
listriknya dapat ditransmisikan pada jarak yang cukup jauh dari rumah
pembangkit (power house) secara lebih ekonomis, di mana rugi-rugi
transmisinya dapat diminimalkan. Keuntungan lain dari penggunaan arus AC
ialah konstruksi generator AC yang lebih sederhana.
Arus AC menuntut frekuensi sistem tetap konstan, terutama jika
menggunakan motor induksi sebagai generator. Untuk itu diperlukan
pengaturan kecepatan putar generator di samping pengatur tegangan
(voltage regulator).
Pada prakteknya, kombinasi pengadaan tenaga listrik AC dan DC merupakan
pilihan yang baik. Penyimpanan tenaga listrik AC ke baterai-baterai
(accumulator) memberikan alternatif lain bagi masyarakat yang tidak
93

terjangkau oleh jaringan listrik PLTMH untuk dapat menikmati penerangan,


televisi, radio atau penerapan lainnya yang memerlukan tenaga listrik dalam
jumlah kecil.
Untuk dapat dimanfaatkan dengan baik, arus bolak balik (AC) harus memiliki
frekuensi tertentu. Sebagai contoh, untuk lampu pijar frekuensi arus AC yang
kecil tidak dapat mempertahankan suhu yang tetap dan hanya akan
menghasilkan sinar yang berkedip-kedip.
Frekuensi yang dipakai untuk arus AC adalah 50 Hz atau 60 Hz. Tegangan
standar yang dihasilkan adalah 110 V dan/atau 240 V untuk generator satu
fasa, serta 240/415 V untuk generator tiga fasa.

5.2.3.2 Penentuan Sistem Satu Fasa atau Sistem Tiga Fasa


Pasokan listrik AC dengan sistem satu fasa ditunjukkan oleh gambar di
bawah. Pada dasarnya sistem satu fasa ini hampir sama dengan rangkaian
DC. Keuntungan sistem satu fasa adalah:
Instalasi listrik dengan sistem satu fasa lebih sederhana.
Sistem pengaturan beban (ELC) untuk satu fasa lebih murah
Ukuran (size) generator ditentukan oleh beban maksimum
(kebutuhan konsumen), sementara pada sistem tiga fasa kapasitas
maksimum generator yang dipilih lebih besar daripada beban
maksimum (kebutuhan).

S u m b e r te g a n g a n , e k iv a le n d e n g a n g e n e ra to r b e b a n s a tu f a s a
y a n g d ile n g k a p i p e n g a t u r te g a n g a n d a n f re k w e n s i

Gambar 22. Sistem Listrik Satu Fasa

Sistem tiga fasa pada dasarnya terdiri dari tiga buah sistem satu fasa dengan
satu buah penghantar netral untuk mengembalikan arus. Dalam
pelaksanaan/praktek ada 2 cara membuat hubungan pada sistem tiga fasa
yaitu:
Hubungan delta (segitiga)
Hubungan bintang (Y).
Hubungan delta diperoleh dengan cara menghubungkan ujung lilitan fasa
pertama ke pangkal lilitan fasa berikutnya berturut-turut, sehingga diperoleh
rangkaian tertutup yang simetris. Jika beban pada setiap fasanya seimbang
maka besarnya arus listrik untuk setiap fasa sama.
Pada hubungan bintang (Y) ketiga ujung yang sejenis (boleh pangkal maupun
ujung) dari ketiga lilitan pada sistem tiga fasa disatukan. Titik
persambungannya disebut titik bintang atau titik nol. Sistem penghantaran
arus listriknya dapat menggunakan:
Tiga hantaran tanpa kawat nol (merah, kuning, biru)
Tiga hantaran kawat fasa (merah, kuning, biru) dan satu hantaran
kawat nol (hitam).

H u b u n g a n s e g itig a (d e lt a )
R = R e d , m e ra h
Y = Y e llo w , k u n in g I R , I Y , d a n I B a d a la h a r u s p a d a ja la - ja la .
B = B lu e , b ir u IR Y , IY B , d a n IB R a d a la h a r u s fa s a p a d a
N = N e u t r a l, h ita m h u b u n g a n d e lta

J ik a b e b a n s e im b a n g , b e s a r n y a a r u s ja la
s a m a : IR = IY = IB = IL .
IR A r u s fa s a p a d a h u b u n g a n d e lta te r s e b u t
R R ju g a s a m a b e s a r n y a : IP .

IL I P 3

N IN

R IR R

B IB IR Y

B Y
Y
Iy
IB R
B IB
Y
H u b u n g a n b in ta n g ( Y ) B IY B
Y Iy
IN a d a la h a r u s p a d a k a w a t n e tr a l.
J ik a b e b a n s e im b a n g , m a k a IN = 0

IL = IP

V L V P 3

Gambar 23. Sistem Listrik Tiga Fasa Y dan Delta

Daya listrik pada beban (pemakai) adalah jumlah dari pemakaian daya listrik
dari masing-masing beban. Pada generator sistem tiga fasa, baik disambung
segitiga maupun disambung bintang, selalu mempunyai daya yang tetap.
95

Keuntungan sistem tiga fasa ini adalah:


Generator dan motor induksi tiga fasa banyak tersedia di pasaran
dengan harga yang relatif murah dibandingkan bila menggunakan
generator satu fasa untuk kapasitas yang sama di atas 5 kW
Dimensi generator dan motor induksi tiga fasa lebih kecil
dibandingkan generator satu fasa untuk rating (kapasitas) yang sama
Penggunaan sistem tiga fasa menghemat pemakaian penghantar
(tembaga) lebih dari 75% dibandingkan sistem satu fasa dengan
tegangan yang sama.
Pada prakteknya, pemilihan penggunaan sistem satu fasa atau tiga fasa
tergantung biaya yang tersedia dan kemudahan untuk mendapatkan
perlengkapan instalasi listrik yang diperlukan. Umumnya untuk kapasitas di
bawah 5 kW menggunakan sistem satu fasa dan untuk kapasitas di atas 5 kW
menggunakan sistem tiga fasa. Bila sistem tiga fasa akan digunakan perlu
dipertimbangkan batasan agar saat sistem beban satu fasa dihubungkan
tetap diperoleh keseimbangan. Semua sistem beban satu fasa (rumah
tangga) dapat dihubungkan ke salah satu fasa dari jala-jala sistem tiga fasa.

5.2.3.3 Perhitungan Daya Arus Bolak-balik dan Faktor Daya


Besarnya daya listrik yang dipakai oleh suatu alat listrik ditentukan oleh
besarnya tegangan (V) dan arus listrik (I) yang mengalir di dalam alat listrik
tersebut. Untuk arus bolak-balik, besarnya tegangan dan arus listrik berubah-
ubah setiap saat. Daya sesungguhnya yang terpakai (P) adalah:
P E I cos
Di mana:
P = daya sesungguhnya dalam satuan watt (W)
ExI = daya semu dalam satuan volt ampere (VA)
cos= faktor daya, Pf
= geseran sudut antara tegangan dan arus listrik.

Daya Semu (VA) = E x I

Daya Semu (VA) Daya Nyata (watt),


Daya
Reaksi
P = E x I Cos
(VAR)
Daya Reaksi (VAR),
Q = E x I Sin
VAR singkatan dari
Daya nyata (Watt)
Voltage Ampere Reactive

Gambar 24. Vektor Daya


Berdasarkan persamaan daya, dapat pula ditulis :
Daya Nyata (Watt) = Pf x Daya Semu (VA)
Berdasarkan vektor daya (gambar di atas) dapat diketahui hubungan antara
daya nyata (real power, watt), daya semu (apparent power, VA) dan daya
reaksi (reactive power, VAR) yang dapat dinyatakan oleh persamaan:

DayaSemu (VA) ( DayaNyata ) 2 ( Daya Re aksi ) 2

Pada peralatan listrik, faktor daya ini penting sekali diketahui. Semakin tinggi
faktor dayanya, semakin tinggi mutunya. Sebaliknya semakin rendah faktor
dayanya, semakin rendah pula mutunya.

5.2.3.4 Pemilihan Generator


Generator adalah suatu peralatan yang berfungsi mengubah energi mekanik
menjadi energi listrik. Jenis generator yang digunakan pada desain PLTMH
ini adalah:
Generator sinkron, sistem eksitasi tanpa sikat (brushless exitation)
dengan penggunaan dua tumpuan bantalan (two bearing)
Induction Motor as Generator (IMAG) sumbu vertikal, yang umumnya
digunakan bersama turbin PAT dan turbin propeller open flume.

Spesifikasi generator adalah putaran 1500 rpm, 50 Hz, 3 fasa dengan


keluaran tegangan 220 V/380 V. Efisiensi generator secara umum adalah:
Aplikasi < 10 kVA, efisiensi 0,7 0,8
Aplikasi 10 20 kVA, efisiensi 0,8 0,85
Aplikasi 20 50 kVA, efisiensi 0,85
Aplikasi 50 100 kVA, efisiensi 0,85 0,9
Aplikasi > 100 kVA, efisiensi 0,9 0,95.

5.2.3.5 Generator Sinkron

5.2.3.5.1 Prinsip Kerja Generator Sinkron


Pada Generator Sinkron kutub-kutub pembangkit medan magnet (rotor)
berputar terhadap jangkar (stator). Selama rotor berputar terjadi perubahan
fluks medan magnet yang membangkitkan energi listrik yang dikenal sebagai
gaya gerak listrik (GGL). Arus bolak-balik (AC) yang dihasilkan dialirkan oleh
kawat-kawat yang dihubungkan langsung dengan lilitan (kumparan) jangkar.
Untuk menghasilkan fluks pada kumparan medan magnet dapat diperoleh
dengan 2 cara yaitu:
Rotor generator sinkron merupakan magnet permanen
Mengalirkan arus searah (DC) ke rotor untuk membangkitkan medan
magnet pada kumparan medan, biasanya diberikan oleh mesin
penguat yang terpisah ke rotor melalui cincin.
97

Gambar di bawah memperlihatkan mekanisme pembangkitan energi listrik


dengan kedua cara tersebut. Pada saat generator mengeluarkan arus dari
semua lilitan statornya, pada stator timbul medan putar. Kutub medan rotor
akan mendapat tarikan dari kutub medan putar stator hingga turut berputar
dengan kecepatan yang sama (sinkron).
ro to r s ta to r

A C (o u tp u t)

K u m p a ra n m e d a n (m a g n e t p e rm a n e n )
b e r p u t a r t e r h a d a p ja n g k a r ( s t a t o r )

sum ber
a ru s D C

AC
(o u tp u t)

M e d a n p u ta r m a g n e t p a d a k u m p a ra n (ro to r)
y a n g d ib a n g k it k a n o le h a r u s s e a r a h ( D C )
Gambar 25. Mekanisme Pembangkitan Daya pada Generator

Kecepatan sinkron untuk generator arus bolak-balik dinyatakan dengan


persamaan:
120. f
n
P
Di mana:
n = kecepatan putar (rpm)
f = frekuensi tegangan (Hz)
P = jumlah kutub.
Jadi misalnya untuk mendapatkan arus bolak-balik dengan frekwensi 50 Hz,
sebuah generator yang mempunyai empat buah kutub harus berputar dengan
kecepatan (n) sebesar:
n = (120 . 50) / 4
n = 1500 rpm.

5.2.3.5.2 Pemilihan Generator Sinkron


Kapasitas sebuah generator dinyatakan dalam Volt-Ampere atau VA. Sebuah
generator harus memiliki kapasitas (Volt-Ampere) yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan pada saat beban maksimum. Dengan memperhatikan
rugi-rugi generator serta untuk menjamin kinerja generator maka perlu
adanya faktor keamanan, biasanya 25%.
Jadi untuk memenuhi kebutuhan (beban) sebesar 100 kVA dipergunakan
generator 125 kVA. Bila akan digunakan pengontrol beban (ELC, Electronic
Load Controller) maka kapasitas daya tambahan (ekstra) sebesar 60%. Di
samping itu perlu dipertimbangkan kemungkinan bertambahnya beban akibat
adanya penambahan permintaan suplai listrik.
Efisiensi generator sinkron umumnya meningkat sebanding dengan
kapasitasnya, dari 65% untuk daya 1 kVA sampai 90% untuk daya 20 kVA.
Generator yang dipakai disesuaikan dengan sistem arus bolak-balik yang
dipilih, apakah sistem satu fasa atau tiga fasa.

5.2.3.6 Generator Asinkron


Penggunaan generator asinkron (generator induksi) sebagai pembagkit listrik
pada PLTMH dengan kapasitas yang kecil lebih reliable (handal)
dibandingkan bila menggunakan generator sinkron. Biasanya sebagai
generator asinkron digunakan motor induksi.
Motor induksi sebagai generator sebenarnya merupakan teknologi yang
sudah tidak asing lagi didunia PLTMH. Biasanya sistem ini di sebut
"Induction Motor as Generator" atau IMAG. Di Indonesia kemungkinan
pengembangan teknologi ini terbuka lebar setelah adanya sistem kontrol
beban elektronik IGC (Induction Generator Controller).
Sistem IMAG (asynchronous) jika dibandingkan dengan sistem synchronous
(generator sinkron) memiliki beberapa keunggulan yang sangat berarti untuk
proyek-proyek PLTMH, terutama dengan kapasitas sampai 30 kW.
Keunggulan utamanya antara lain:
Harga lebih murah dibanding generator sinkron
Produk memenuhi standar industri sehingga daya tahan lebih
terjamin
Tersedia dalam beberapa ukuran mulai dari 1 kW - 100 kW
Tersedia dengan tiga ukuran putaran (1000, 1500, dan 3000 rpm)
sehingga lebih mudah untuk disesuaikan dengan putaran turbin
99

Motor tiga fasa dapat dipasang dengan sistem satu fasa tanpa
perubahan apapun pada motor.

5.2.3.6.1 Prinsip Kerja Motor Induksi


Bila lilitan stator motor induksi tiga fasa dihubungkan pada jala-jala maka
pada stator akan timbul medan putar dengan kecepatan:
120
ns .f
p
Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor pada rotor,
sehingga pada kumparan rotor timbul tegangan induksi (GGL). Adanya GGL
dalam kawat-kawat menyebabkan adanya arus dalam kawat rotor. Karena
kawat-kawat yang dialiri arus tersebut berada dalam medan putar, maka
timbul pula kopel yang menyebabkan kawat-kawat tersebut berputar bersama
dengan rotor, searah dengan medan putar stator.
Agar tegangan induksi (GGL) terjadi, maka garis-garis gaya medan putar
stator harus saling berpotongan dengan kawat-kawat rotor. Bila rotor
berputar sama cepatnya dengan medan putar stator, maka garis-garis gaya
medan putar tidak akan dapat saling berpotongan dengan kawat-kawat rotor
sehingga tidak akan timbul tegangan induksi. Dengan demikian, pada motor
induksi kecepatan berputarnya rotor tidak sama dengan kecepatan medan
putar stator. Karena itu motor induksi disebut juga sebagai motor asinkron.
Perbedaan kecepatan berputar rotor (nr) dengan kecepatan medan putar
stator (ns) disebut slip (S), dinyatakan dengan:
( ns nr )
S
ns
Bila nr = ns, tegangan tidak akan terinduksi dan arus tidak mengalir pada
kumparan jangkar rotor.
Besar kecilnya slip dipengaruhi juga oleh keadaan beban dari motor. Bila
beban kosong, maka keadaan slip akan lebih kecil daripada bila beban
penuh. Pada motor-motor dengan daya kecil slip yang terjadi lebih besar
daripada motor-motor dengan daya besar. Untuk motor kecil, 1kW, pada saat
beban penuh besarnya slip sekitar 0,05. Untuk motor dengan daya besar,
100 kW, pada saat beban penuh besarnya slip kurang dari 0,01.

5.2.3.6.2 Motor Induksi Sebagai Generator (IMAG)


Untuk dapat berfungsi sebagai generator, motor induksi (IMAG) memerlukan
daya reaktif untuk menimbulkan medan putar. Suplai daya reaktif ini
diberikan oleh kapasitor. Penggerak utama dipakai untuk memutar rotor
searah dengan arah medan putar. Bila slip dibuat negatif atau dengan kata
lain kecepatan berputar rotor (nr) lebih besar daripada kecepatan medan
putar stator (ns), mesin akan berfungsi sebagai generator.
5.2.3.6.3 Karakteristik Generator Induksi ( IMAG )
Motor induksi umumnya berputar dengan kecepatan konstan mendekati
kecepatan sinkronnya. Perubahan beban pada motor induksi mempengaruhi
putaran motor induksi. Akibatnya akan terjadi perubahan frekuensi yang
menimbulkan perubahan tegangan listrik. Pada generator induksi (IMAG)
tegangan akan turun dengan cepat pada saat beban bertambah, sehingga
perlu adanya pengaturan tegangan dan putaran. Saat ini untuk instalasi
mikrohidro, dengan menggunakan motor induksi sebagai generator, tersedia
sistem pengaturan IGC (Induction Generator Controller). Pada saat motor
induksi digunakan sebagai generator, tegangan yang dihasilkan umumnya
10% lebih rendah dari tegangan yang diperlukan untuk mengoperasikannya
sebagai motor listrik dengan frekuensi yang sama.

5.2.3.6.4 Pemilihan Generator Induksi


Pada dasarnya pertimbangan yang dilakukan pada pemilihan generator
sinkron juga berlaku pada pemilihan motor induksi, seperti faktor daya, faktor
keamanan untuk kapasitas daya motor induksi (daya ekstra) dan lain-lain.
Pada prakteknya sering digunakan faktor daya sebesar 0,8 dalam memilih
generator induksi. Sebagai contoh, untuk memenuhi kebutuhan beban 10 kW
dipilih motor dengan rating (kapasitas) 10 kW / 0,8 = 12,5 kW.
Tegangan yang dihasilkan oleh motor induksi (IMAG) lebih rendah dari pada
spesifikasi yang tercantum (rated voltage) bila digunakan sebagai generator.
Sebagai contoh sebuah motor induksi memiliki spesifikasi, 415 V (240 V line -
netral), tiga fasa, 50 Hz, hubungan bintang (Y). Bila digunakan sebagai
generator, motor induksi tersebut mungkin hanya mensuplai tegangan 380 V
(220 V line-netral), tiga fasa, 4 hantaran kawat. Bila ingin mempertahankan
tegangan (sesuai spesifikasi) dapat juga dicapai dengan menaikkan
frekuensi sistem dari 50 Hz menjadi sekitar 53 Hz. Hal ini dapat dilakukan
dengan menggunakan IGC. Dalam pelaksanaannya (praktek) peningkatan
frekuensi sebesar 10% akan menaikkan tegangan yang dihasilkan sekitar
15%.

5.2.4 Sistem Kontrol


Frekuensi dan tegangan listrik yang dihasilkan oleh generator dipengaruhi
oleh kecepatan putar generator. Perubahan kecepatan putar generator akan
menimbulkan perubahan frekuensi dan tegangan listrik. Pada batas-batas
tertentu perubahan tersebut tidak membahayakan.
Tujuan pengontrolan pada PLTMH adalah untuk menjaga sistem elektrik dan
mesin agar selalu berada pada daerah kerja yang diperbolehkan. Semua
peralatan listrik didesain untuk beroperasi pada frekuensi dan tegangan
tertentu. Bila beroperasi pada frekuensi dan tegangan yang berbeda dapat
mengakibatkan peralatan listrik cepat rusak. Misalnya: pada malam hari 90%
rumah mematikan lampu, maka beban mikrohidro menjadi turun. Hal ini akan
mengakibatkan roda gerak berputar lebih cepat (run away speed). Akibatnya
frekuensi listrik akan naik dan bila terlalu tinggi akan merusak alat-alat
elektronik yang digunakan di rumah-rumah.
101

Sistem pengontrolan pada mikrohidro meliputi:


Pengontrolan aliran air yang memasuki turbin
Pengontrolan beban/daya listrik.

Mekanisme pengontrolannya dapat berlangsung secara manual, otomatis


atau semi-otomatis. Pengontrolan secara manual dilakukan dengan
mengatur bukaan katup (guide vane) secara manual sehingga aliran air yang
memasuki turbin dapat disesuaikan dengan beban (daya) konsumen. Pada
pengontrolan otomatis, bukaan katup (guide vane) bekerja secara otomatis
pada saat terjadi perubahan frekuensi dan kecepatan generator. Untuk
pengontrolan semi-otomatis, pengaturan beban generator dilakukan secara
otomatis sementara mekanisme bukaan katup (guide vane) tetap dilakukan
secara manual. Sistem kontrol semi-otomatis ini dikenal sebagai sistem
pengaturan beban (load controller).
Sistem pengaturan yang banyak dipakai pada PLTMH adalah sistem kontrol
semi-otomatis (load controller) yang relatif murah dibandingkan dengan
sistem kontrol otomatis. Bagian utama dari sistem kontrol ini terdiri dari panel
kontrol dan ballast load. Prinsip pengaturannya adalah menyeimbangkan
antara daya yang dihasilkan oleh generator dengan beban (daya) konsumen.
Pada saat beban konsumen berkurang, kelebihan daya yang dihasilkan
generator akan dipindahkan ke ballast load sehingga beban total pada
generator tidak berubah.
Beberapa sistem kontrol pada PLTMH yang banyak digunakan adalah:
Instalasi PLTMH dengan kapasitas daya kurang dari 1 kW, sistem
pengaturan/kontrol dapat dilakukan secara manual.
IGC (Induction Generator Controller), sistem pengaturan beban untuk
penggunaan motor induksi sebagai generator (IMAG). Sistem ini
dapat digunakan untuk kapasitas daya kurang dari 50 kW.
ELC (Electronic Load Controller), sistem pengaturan beban untuk
generator sinkron. umumnya digunakan untuk kapasitas daya di atas
50 kW.
DTC System (Digital Turbin Control System), sistem pengaturan
turbin secara otomatis sehingga memungkinkan untuk dihubungkan
dengan jaringan PLN.
Sistem kontrol tersebut khususnya IGC dan ELC telah dapat difabrikasi
secara lokal dan terbukti handal pada penggunaan di banyak PLTMH. Sistem
kontrol ini terintegrasi pada panel kontrol (switch gear). Fasilitas operasi
panel kontrol minimum terdiri dari:
Kontrol start/stop, baik otomatis, semi otomatis, maupun manual
Stop/berhenti secara otomatis
Trip stop (berhenti pada keadaan gangguan: over-under voltage,
over-under frequency)
Emergency shut down, bila terjadi gangguan listrik (misal arus lebih).
5.2.5 Pentanahan
Masalah pentanahan merupakan salah satu faktor penting di dalam
pelistrikan seperti pada instalasi pembangkit, sistem transmisi dan distribusi.
Pentanahan berhubungan erat dengan perlindungan suatu sistem berikut
semua perlengkapannya. Pengusahaan pentanahan berarti mengusahakan
agar arus gangguan yang timbul pada saat tertentu, mengalir masuk tanah
sehingga tidak merusak peralatan listrik yang ada. Dalam pelaksanaannya,
pentanahan meliputi:
Pentanahan sistem, berupa pengadaan hubungan dengan tanah
untuk suatu titik pada penghantar arus dari sistem, seperti pada
sistem transmisi dan distribusi
Pentanahan peralatan sistem, berupa pengadaan hubungan dengan
tanah untuk suatu bagian yang tidak membawa arus dari sistem,
seperti pada pipa baja saluran tempat kabel, batang pemegang
saklar.

5.2.5.1 Pentanahan Langsung


Pada pentanahan langsung, titik netral sistem langsung dihubungkan dengan
tanah tanpa suatu tambahan impedansi dari luar. Namun ada reaktansi
antara netral dan tanah. Penggunaan pentanahan ini perlu memperhatikan
kemungkinan terjadinya arus gangguan yang besar. Biasanya untuk sistem
tegangan rendah (s.d. 600 V) dan tegangan tinggi (22 kV) metoda ini banyak
digunakan.

5.2.5.2 Pentanahan Lewat Hambatan


Pentanahan lewat hambatan banyak diterapkan pada sistem tegangan
menengah (2,4 - 13,8 kV). Pada pentanahan ini di antara titik netral sistem
dan tanah dipasang hambatan untuk mengurangi besarnya arus gangguan
yang mungkin terjadi. Metoda ini akan menimbulkan tegangan lebih yang
cukup tinggi.

5.2.5.3 Pentanahan Lewat Reaktansi


Penambahan berupa reaktan dimaksudkan untuk memperbesar reaktansi
yang berasal dari generator/transformator agar arus gangguan tanah tidak
melebihi arus gangguan tiga fasa yang dihasilkan.

5.2.5.4 Pentanahan dengan Ground-Fault Neutralizer


Pentanahan ini dikenal juga dengan nama pentanahan resonans. Cara ini
sering digunakan pada sistem yang sering mengalami gangguan di udara,
sehingga pemutusan saluran dari penyedia daya tidak selalu harus dilakukan.
103

R N

X g
X g R N

Pentanahan langsung Pentanahan lewat hambatan

X N
X N

Pentanahan lewat reaktan Ground fault netralizer

Gambar 26. Macam-macam Sistem Pentanahan

5.2.5.5 Konstruksi Sistem Pentanahan


Peralatan kontruksi sistem pentanahan adalah:
Elektroda tanah (grounding electrode) adalah sejenis penghantar
yang ditanam di dalam tanah dan berfungsi agar potensial semua
penghantar yang dihubungkannya sama dengan potensial tanah.
Perlengkapan ini juga merupakan alat pelepasan arus ke tanah.
Elektroda tanah memegang peran penting karena amat menentukan
seberapa besar arus gangguan yang dapat dilepaskan ke tanah.
Penghantar tanah (grounding conductor) berfungsi menghubungkan
peralatan sistem yang akan ditanahkan ke bus tanah atau elektroda
tanah.
Ada beberapa sistem pentanahan yaitu:
Pentanahan dengan elektroda alamiah, di mana yang menjadi
elektroda adalah penghantar-penghantar listrik yang berada di bawah
bangunan, misalnya: kerangka pipa, kontruksi logam, dsb. Di daerah
perdesaan elektroda seperti ini banyak digunakan melalui mata air
sebagai elektroda tanah.
Pentanahan dengan elektroda buatan, digunakan elektroda khusus
untuk keperluan pentanahan seperti: sistem batang tancap, di mana
batang yang menjadi elektroda dapat berupa pipa logam dan
ditancapkan tegak lurus menembus beberapa meter ke dalam tanah.
Kabel dan batang benam, di mana sering dilakukan untuk daerah
cadas maupun untuk daerah berpasir. Cara ini dilaksanakan dengan
membenamkan batang atau kabel logam secara mendatar
(horisontal) sebagai elektroda sekitar 0,5 s.d 1 meter di bawah
permukaan tanah.
Sistem grid/kisi-kisi. Sistem ini biasanya dilakukan untuk kebutuhan
pentanahan pusat listrik di mana pentanahan dilakukan untuk seluruh
daerah instalasi pusat listrik. Penghantar-penghantar dibenamkan
sedalam 0,3 - 0,6 m membentuk suatu jaringan yang bersilangan
sehingga terdiri dari kotak-kotak persegi.
Plat benam, biasa digunakan untuk industri kecil. Plat logam seluas
1 - 3 m2 ditanam di dalam tanah dengan posisi tegak pada
umumnya, dengan kedalaman 1,5 - 3 m. Metoda ini jarang dipakai
karena mahal.

5.2.5.6 Bahan-Bahan Elektroda


Syarat-syarat utama bahan elektroda diantaranya adalah:
Tidak mudah berkarat seperti: baja dan tembaga
Kokoh atau tahan terhadap desakan, pukulan, dsb
Memiliki daya hantar listrik yang baik.
Penggunaan tembaga dapat membentuk sel galvanis dengan bahan logam
lain yang tertanam di tanah seperti saluran pembungkus kabel sehingga
mempercepat terjadinya korosi pada logam tersebut. Untuk pencegahannya
dilakukan pelapisan timah pada tembaga atau melapisi logam-logam lain
dengan aspal, terutama yang dekat dengan elektroda tembaga. Untuk
elektroda baja tidak menimbulkan masalah dan cocok untuk sistem grid
maupun elektroda benam.

5.2.5.7 Hantaran Pentanahan


Hantaran pentanahan ialah hantaran yang menghubungkan bagian yang
harus ditanahkan dengan elektroda pentanahan. Luas penampang minimum
untuk hantaran:
(1) Untuk hantaran dengan perlindungan mekanis yang kokoh:
Hantaran tembaga : 1,5 mm 2
Hantaran aluminium : 2,5 mm2
(2) Untuk hantaran yang tidak diberi perlindungan mekanis yang
kokoh:
Hantaran tembaga : 4 mm2
Pita baja, tebal minimum 2,5 mm : 50 mm 2
Hantaran aluminium tidak boleh digunakan.
105

Sebagai perlindungan digunakan pipa baja, pipa plastik tidak cukup kuat.
Jika tidak dipasang dalam pipa untuk hantaran pentanahan sebaiknya
digunakan hantaran telanjang sehingga mudah dikontrol jika ada yang putus.
Untuk rumah tinggal sebaiknya jangan digunakan hantaran telanjang.
Hantaran pentanahan harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak
mungkin terjadi pemutusan. Saklar, pengaman lebur dan sambungan yang
mudah dilepas tidak boleh dipasang pada hantaran pentanahan. Hantaran
netral (hantaran nol) tidak boleh digunakan sebagai hantaran pentanahan.
Dalam hantaran netral ada rugi tegangan dan dapat timbul beda tegangan
antara benda yang ditanahkan dan tanah.
Sambungan antara hantaran pentanahan dengan elektroda pentanahan
harus kuat dan membuat kontak listrik yang baik. Cara penyambungan
hantaran pentanahan ke elektroda yang umum adalah:
Sambungan dengan klem atau baut dengan batas suhu yang
diizinkan adalah 250C
Sambungan termis dengan las dengan batas suhu maksimum 450C.
Satu hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan penyambungan adalah
pembersihan permukaan pada bagian-bagian yang akan disambung dari
debu, kotoran atau bahan isolator lain yang melekat.

5.3 JARINGAN LISTRIK PLTMH

5.3.1 Jaringan Transmisi dan Distribusi

5.3.1.1 Pendahuluan
Rumah pembangkit (power house) umumnya terletak jauh dari pemakai
tenaga listrik. Listrik yang keluar dari generator, ditransmisikan dari power
house melalui sistem distribusi hingga ke kotak instalasi rumah. Sistem
transmisi dan distribusi tersebut harus dirancang dengan optimal untuk
mengurangi rugi-rugi daya (power losses) terutama bila jarak antara rumah
pembangkit listrik ke tempat pemakai/konsumen relatif jauh.
Perencanaan sistem transmisi dan distribusi mengacu pada beberapa kriteria
yaitu:
Range dari variasi tegangan listrik yang tersedia
Rugi-rugi daya maksimum agar PLTMH masih dalam batas ekonomis
(menguntungkan)
Pemilihan jenis kawat penghantar dan penampang kawat
Perlindungan terhadap gangguan dan bencana alam
Keamanan bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar jaringan.
Selain semua faktor tersebut masih ada faktor yang menentukan yaitu faktor
ekonomis.
5.3.1.2 Sistem Transmisi dan Distribusi
Komponen-komponen sistem transmisi dan distribusi harus dapat bertugas
untuk jangka waktu yang panjang. Sistem tersebut harus dirancang dengan
memperhitungkan kebutuhan di masa mendatang. Sistem tersebut harus
dibuat seluwes mungkin sehinga bila beban itu meningkat, perluasannya
dapat dilakukan dengan pengeluaran yang serendah-rendahnya. Sistem
yang dipakai harus dibuat sederhana sehingga kesalahan operasi dapat
ditekan serendah mungkin. Untuk instalasi PLTMH ada beberapa bentuk
sistem transmisi dan distribusi yang dapat dipakai. Pada dasarnya bentuk-
bentuk tersebut dapat digolongkan menjadi sistem radial dan sistem loop
(tertutup).
Pada sistem loop jalur transmisi membuat suatu rangkaian tertutup. Sistem
ini cukup rumit dengan kebutuhan perlengkapan hubung-bagi (switch gear)
dan pengaman. Walaupun demikian, sistem ini mempunyai keandalan yang
sangat tinggi. Sistem radial terdiri dari satu atau lebih saluran pencatu yang
menyebar ke titik-titik yang ditentukan. Bentuk ini merupakan sistem yang
paling sederhana, mudah untuk dirancang, murah, dan sistem
pengamanannya lebih sederhana, tetapi keandalannya rendah. Bila diberi
pengaman dengan baik sistem ini akan memberikan pelayanan yang
memuaskan, tetapi setiap gangguan rangkaian akan menyebabkan catu daya
terputus. Untuk sistem transmisi dan distribusi PTMH di perdesaan
sebaiknya digunakan sistem radial - yang telah diberi pengaman dengan baik
- untuk mengurangi biaya instalasi tanpa mengorbankan pelayanan.
107

Gambar 27. Sistem Transmisi dan Distribusi: (a) Sistem Loop, (b) Sistem Radial

5.3.1.3 Pemilihan Tegangan


Tegangan sistem transmisi dapat berupa tegangan menengah (20 kV) atau
tegangan rendah (220 V). Untuk saluran transmisi yang panjang,
penggunaan sistem tegangan menengah dapat mengurangi rugi-rugi daya
selama penghantaran tenaga listrik. Penggunaan sistem tegangan
menengah memerlukan transformator. Dengan demikian biaya yang
dikeluarkan dapat menjadi lebih mahal, namun dapat juga lebih murah karena
kabel lebih kecil. Penggunaan transformator menuntut adanya pemeliharaan
di samping memerlukan isolator yang mahal sebagai alat pelengkap kabel.
Sistem transmisi dan distribusi pada mikrohidro relatif sederhana. Pada
umumnya tegangan sistem transmisi yang digunakan merupakan tegangan
rendah karena saluran transmisinya pendek, sehingga tidak memerlukan
transformator. Penggunaan sistem transmisi tegangan rendah lebih
ekonomis untuk saluran transmisi kurang dari 1,5 km. Bahaya penggunaan
sistem transmisi tegangan rendah bila jarak saluran transmisi terlalu jauh
dapat mengakibatkan drop tegangan.
Penurunan tegangan yang terlampau besar akan menyebabkan arus yang
terlampau besar (melebihi kemampuan penghantar) yang dapat menimbulkan
panas sehingga dapat menyebabkan penghantar terbakar. Tegangan ujung
penghantar yang terlampau rendah akan menyebabkan pesawat-pesawat
yang dihubungkan tidak dapat bekerja sebagai mana mestinya. Tegangan
listrik yang terlampau rendah dapat mengakibatkan generator menjadi panas
(beban besar) dan umur generator menjadi pendek. Untuk menjaga
terjadinya drop tegangan pada ujung hantaran tempat konsumen dipakai
kawat penghantar yang lebih besar sehingga dapat mengalirkan arus listrik
yang besar. Penurunan tegangan sepanjang jaringan transmisi sebesar 6%
masih dalam batas yang diperbolehkan untuk listrik pedesaan.
Suplai tenaga listrik dari power house (pusat listrik) umumnya menggunakan
sistem tiga fasa dengan rangkaian 4 kawat (sambungan bintang, Y).
Keuntungan penggunaan 4 kawat dibanding 3 kawat adalah kapasitas
mengalirkan daya bertambah dan regulasi tegangan menjadi lebih baik.
Dengan arus yang sama daya dari sistem 4 kawat adalah 3 kali lebih besar
dari pada menggunakan sistem delta 3 kawat.

5.3.1.4 Perlengkapan Transmisi dan Distribusi


Pada instalasi PLTMH, yang dimaksud jaringan transmisi adalah jaringan
primer sedangkan jaringan distribusinya merupakan jaringan sekunder.
Instalasi jaringan transmisi serta jaringan distribusinya tidak jauh berbeda.

5.3.1.4.1 Transformator
Tranformator digunakan pada instalasi PLTMH bila sistem transmisinya
menggunakan tegangan tinggi. Pada jaringan transmisinya terdapat
transformator step-up untuk menaikkan tegangan pada ujung permulaan
transmisi dan transformator step-down untuk menurunkan kembali tegangan
sesuai standar yang akan digunakan konsumen. Umumnya instalasi PLTMH
menggunakan sistem tegangan rendah sehingga tidak memerlukan
transformator.

5.3.1.4.2 Penghantar
Material konduktor (kabel induk) yang sering dipilih adalah antara alumunium
atau tembaga (copper). Untuk instalasi tegangan rendah banyak digunakan
penghantar tembaga. Tembaga yang digunakan untuk penghantar umumnya
tembaga elektrolistis dengan kemurnian di atas 99,5%.
Alumunium banyak digunakan sebagai penghantar terutama pada jaringan
tegangan tinggi. Untuk penghantar alumunium di Indonesia belum banyak
digunakan. Penggunaan alumunium dapat menghemat bobot sebesar 50%
dibandingkan menggunakan tembaga, tetapi diameter penghantar alumunium
28% lebih besar (luas penampang alumunium 1,64 kali luas penampang
tembaga). Penghantar alumunium lebih murah daripada penghantar tembaga
tetapi lebih rapuh dan daya hantarnya kurang baik. Untuk menambah
kekuatan tariknya, biasanya kawat alumunium diberi tulangan pada intinya,
dikenal sebagai kawat alumunium bertulang baja (Aluminium Conductor Steel
Reinforced, ACSR). Hanya saja perlu diperhatikan kemungkinan terjadinya
109

karat pada baja intinya bila menggunakan ACSR. Untuk memperkecil biaya
pengghantar dan juga karena tingginya kelembaban di Indonesia, penghantar
alumunium 6201 dapat dipakai.
Penghantar yang digunakan dapat berupa penghantar telanjang atau
penghantar berisolasi (kabel). Untuk kabel induk dapat digunakan
penghantar tembaga dengan ukuran penampang 50 mm2 atau kabel twisted
aluminum berpenampang 70 mm2. Pada instalasi PLTMH, umumnya
digunakan kabel aluminium 4 x 70 mm2 untuk kabel transmisi dan 2 x 16 mm 2
untuk kabel distribusi. Untuk mendapatkan ukuran penampang penghantar
memerlukan perhitungan yang tidak sederhana (dalam hal ini tidak dibahas
lebih jauh).

5.3.1.4.3 Tiang dan Perlengkapannya


Tiang listrik untuk jaringan tegangan rendah biasanya terdiri dari tiang
tunggal. Tiang-tiang listrik dapat dibuat baja, beton bertulang atau kayu, dan
dibuat dengan sistem konus. Apabila memungkinkan lebih baik dipergunakan
tiang standar PLN. Penggunaan kayu untuk tiang listrik dapat menekan
biaya, tetapi memerlukan proses pengawetan karena kelemahan dari tiang
kayu adalah mudah kropos dan mudah patah. Jenis kayu yang banyak
dipakai, terutama untuk jaringan transmisi dan distribusi adalah kayu Ulin,
Rasamala dan Jati. Karena kekerasan dan kekuatannya, kayu Ulin dapat
digunakan tanpa diawetkan.
Tiang baja umumnya berupa pipa, makin ke atas makin kecil diameternya.
Untuk tiang-tiang yang pendek dapat dipakai tiang dengan satu diameter dari
bawah ke atas (tidak konis). Tiang beton bertulang diklasifikasikan menurut
cara pembuatannya yaitu: pembuatan pabrik dan pembuatan setempat (on-
site). Penggunaan tiang beton kini semakin banyak. Untuk daerah dengan
akses transportasi yang sulit pembuatan tiang beton di tempat dapat menjadi
alternatif yang baik dan lebih murah dari pada tiang standar PLN.
Tinggi tiang secukupnya, yang penting aman dan bentangan penghantar tidak
mengganggu. Jarak antar tiang rata-rata 40 - 60 m. Pada beberapa tiang
(tergantung panjang jaringan) harus diberi pentanahan yang dihubungkan ke
kabel netral. Pada tiang yang pertama (di power house) dipasang arresters
untuk melindungi generator dari arus kejut yang disebabkan petir.

5.3.1.4.4 Lengan Tiang


Lengan tiang dipakai untuk menjaga penghantar dan menempatkan peralatan
lain yang perlu dipasang di atas tiang. Lengan tiang dipasang horisontal pada
tiang dengan menggunakan klem, disekrup (dengan mur dan baut) secara
langsung, dilas (pada tiang baja) atau dipaku (pada tiang kayu). Pada tiang
kayu biasanya antara lengan tiang dan tiang dipasang kayu penguat. Pada
satu tiang sering dipasang lebih dari satu lengan tiang. Biasanya lengan
tiang teratas dipakai untuk jaringan primer sedang yang di bawah untuk
jaringan sekunder.
Selain itu ada juga tiang yang tidak berlengan seperti pada tiang-tiang fasa
tunggal jaringan distribusi primer yang tidak digabungkan dengan jaringan
sekundernya. Penggunaan penghantar berisolasi (kabel) memungkinkan
untuk tidak menggunakan lengan tiang. Kabel dipasang pada tiang dengan
menggunakan klem.

5.3.1.4.5 Kawat Penguat Tiang


Kawat penguat tiang, biasanya kawat telanjang, dipakai sebagai penguat
pada tiang-tiang yang harus menahan momen yang besar. Tiang-tiang sudut
(tiang yang penghantarnya membentuk sudut), tiang-tiang ujung (tiang tempat
mengikat penghantar pertama kali pada saat pemasangan penghantar,
biasanya memakai isolator gantung) memerlukan kawat penguat tiang. Kawat
penguat tiang ini dipaku di atas tanah dengan memakai pasak atau dengan
memakai jangkar yang ditanam di dalam tanah. Kawat ini diikat pada
jangkar/pasak atau tiang dengan memakai klem.

5.3.1.4.6 Isolator
Isolator digunakan untuk mengisolasi penghantar dari tiang listrik atau lengan
tiang. Isolator biasanya dibuat dari porselen tetapi ada juga yang dibuat dari
gelas atau fiberglass. Isolator gelas banyak dipakai pada jaringan tegangan
rendah dan sambungan konsumen, jenisnya adalah isolator pasak. Isolator
fiberglass biasanya diperkuat dengan polyester resin (plastik). Permukaan
isolator harus licin dan sudut-sudut serta lekuk-lekuknya harus tidak tajam
dan licin.
111

Gambar 28. Tiang dan Lengannya Beserta Isolator untuk Sistem Transmisi dan
Distribusi Fasa Tunggal

Jenis - jenis isolator yang biasa dipakai pada jaringan transmisi dan distribusi
adalah isolator gantung (suspension type), isolator pasak (pin type), isolator
batang panjang (long-rod type) dan isolator pos saluran (line post type).
Isolator gantung banyak dipakai pada tiang-tiang sudut dan tiang-tiang ujung.
Isolator batang panjang dipakai pada tiang-tiang tak berlengan. Isolator
pasak dan pos saluran dipasang secara vertikal di atas lengan atau ujung
tiang untuk menyangga penghantar banyak dipakai pada jaringan transmisi
dan distribusi.
5.3.1.5 Perlengkapan Pengaman

5.3.1.5.1 Sekering
Sekering dipergunakan untuk melindungi jaringan listrik terhadap gangguan
arus lebih. Sekering terdiri dari penghantar kecil yang dapat melebur,
biasanya terbiat dari perak, timah, seng atau paduan logam lainnya yang
mempunyai titik lebur rendah. Sekering dapat menyalurkan arus nominal
secara terus menerus dan akan putus apabila arusnya naik melebihi
kapasitas yang dapat diterima. Perbandingan arus maksimum yang tidak
merusak sekering pada waktu yang tak tertentu dengan arus kerja (nominal)
dinyatakan sebagai faktor sekering "factor-fusing". Faktor sekering ini lebih
besar daripada satu (1). Untuk sistem tegangan rendah, fungsi sekering
sebagai pengaman ini dapat digantikan dengan menggunakan MCB (Mini
Circuit Breaker).

5.3.1.5.2 Pemutus Rangkaian (Circuit Breaker)


Pemutus rangkaian (circuit breaker) adalah peralatan sakelar yang mampu
mengalirkan dan memutuskan aliran listrik. Pemutus rangkaian berfungsi
sebagai pengaman dari arus beban lebih atau arus hubung singkat atau
pengaman kedua-duanya dan sebagai sakelar yang mempunyai beban berat
untuk mengatasi kenaikan beban sakelar.
Macam pemutus rangkaian:
Pemutus rangkaian minyak (oil circuit breaker), di mana kontak-
kontak berada dalam tangki minyak. Tipe ini biasanya digunakan
pada tegangan di atas 600 V. Keuntungannya: penyerapan energi
bunga api oleh minyak, pendinginan bunga api oleh gas yang
dihasilkan dan minyak itu sendiri, kemampuan minyak untuk mengalir
ke ruangan bunga api setelah arus tidak mengalir.
Pemutus rangkaian udara, yaitu kontak berada di udara terbuka. Tipe
ini banyak digunakan untuk tegangan rendah, umumnya di bawah
600 V. Keuntungannya adalah mudah kontak atau lepas (ON, OFF),
pemeliharaan sederhana, lebih handal dibanding pemutus rangkaian
minyak.
Pemutus rangkaian vakum, di mana pemutusan kontak pada ruangan
hampa. Tipe ini digunakan sebagai pemutus rangkaian tegangan
tinggi.
Pemutus rangkaian SF6. Pada dasarnya tipe ini sama dengan
pemutus rangkaian udara, digunakan pada tegangan tinggi. SF6
merupakan campuran gas yang stabil, isolasi yang tinggi, tidak
mudah terbakar, tidak beracun dan tidak berbau. Pemakaian gas ini
menyebabkan konstruksi pemutus rangkaian dapat diperkecil.

5.3.1.5.3 Perlindungan Terhadap Petir


Sambaran petir langsung pada kawat fasa jaringan transmisi dan distribusi,
dapat menimbulkan arus induksi sebesar 200.000 A atau lebih. Arus sebesar
itu dapat merusak perlengkapan instalasi listrik, sehingga perlu dibuang ke
bumi.
113

Petir akan selalu mencari jalan yang mudah ke tanah. Bangunan-bangunan


tinggi, menara, tiang dan pohon-pohon tinggi memiliki kemungkinan yang
besar terkena sambaran petir. Perlengkapan perlindungan terhadap petir
yang umum digunakan adalah:
Penangkal petir (lightning arrester) dan batang-batang penangkap
petir (rod) pada gardu induk. Penangkap-penangkap petir dapat
berupa batang logam runcing, ujung vertikal suatu saluran atau kawat
penangkap horisontal. Penangkap-penangkap tersebut dipasang di
tempat-tempat yang memiliki kemungkinan terbesar terkena
sambaran petir. Tempat-tempat itu ialah bagian bangunan yang
menonjol, seperti pucuk tiang.
Penangkal-penangkal petir pada jarak-jarak tertentu sepanjang
jaringan listrik.
Kawat-kawat tanah sepanjang jaringan.
Pada lokasi penangkal petir, kawat-kawat tanah penangkal petir disambung
ke tanah melalui elektroda tanah.

5.3.2 Instalasi Konsumen


Sistem instalasi konsumen (consumer instalation) dimulai dari kabel distribusi
dari tiang terdekat ke instalasi rumah hingga titik keluaran. Peralatan yang
digunakan dalam instalasi listrik banyak sekali ragamnya. Dari sekian banyak
jenis peralatan instalasi listrik, hanya sebagian kecil saja yang akan dibahas
dalam buku ini.
Elemen utama yang digunakan pada instalasi ke konsumen di antaranya:
Kabel
Pembatas Daya (MCB)
Sekering
Titik Keluaran (Output).

5.3.2.1 Kabel Instalasi Rumah Konsumen


Sistem distribusi ke konsumen pada instalasi PLTMH umumnya
menggunakan sistem satu fasa. Kabel untuk menyalurkan listrik dari jaringan
distribusi ke konsumen yang banyak digunakan pada instalasi PLTMH adalah
jenis kabel twisted alumunium 2 x 10 mm2. Selain itu dapat pula digunakan
kabel tembaga yang sebanding. Jenis hantaran yang banyak digunakan
untuk instalasi rumah tinggal ialah kabel rumah NYA dan kabel instalasi NYM.

5.3.2.1.1 Kabel Rumah


Kabel rumah yang digunakan pada instalasi rumah adalah jenis NYA. Kabel
NYA merupakan jenis standar yang terdiri dari penghantar tembaga polos
dengan isolasi PVC. Sampai dengan luas penampang 10 mm 2,
penghantarnya terdiri dari kawat tunggal. Di atas luas penampang tersebut,
penghantarnya terdiri dari sejumlah kawat yang dipilin menjadi satu. Kabel
NYA tidak menjalarkan api dan dapat digunakan sampai suhu penghantar
700C.
Untuk instalasi dengan menggunakan kotak-kontak dinding dalam rangkaian
akhir, sekurang-kurangnya digunakan NYA 2,5 mm 2 yang dapat menerima
beban maksimum 16 A. Kabel NYA 2,5 mm 2 juga digunakan untuk hantaran
antara lampu dan sakelarnya.
Untuk pemasangan tetap dalam jangkauan tangan, kabel NYA harus
dilindungi dengan pipa instalasi. Untuk pemasangan di luar jangkauan
tangan boleh dipasang terbuka dengan menggunakan isolator jepit atau
isolator rol. Cara pemasangannya harus sedemikian hingga ada jarak bebas
minimum 1 cm terhadap dinding dan terhadap bagian lain dari bangunan atau
konstruksi. Kabel NYA tidak boleh digunakan di ruang basah, di alam terbuka
atau tempat kerja/gudang dengan bahaya kebakaran.

5.3.2.1.2 Kabel Instalasi Berselubung


Jika dibandingkan dengan instalasi dalam pipa, kabel instalasi berselubung
lebih mudah dibengkokkan, tahan terhadap pengaruh asam dan uap dan
sambungan dengan alat pemakai dapat ditutup lebih rapat. Kabel standar
instalasi berselubung yang banyak dipakai adalah kabel NYM yang memiliki
penghantar tembaga polos berisolasi PVC dengan selubung PVC berwarna
putih. Penghantar NYM terdiri dari kawat tunggal untuk penampang 1,5 - 10
mm2 dan umumnya untuk instalasi rumah digunakan kabel NYM 2 x 1,5 mm 2.
Pada suhu sekeliling 300C kabel ini dapat digunakan sampai suhu penghantar
maksimum 700C.
Kabel NYM dapat dipasang langsung menempel pada plesteran atau kayu,
atau ditanam langsung dalam plesteran. Kabel NYM dapat dipasang pada
ruang lembab, basah, di tempat kerja atau gudang dengan bahaya
kebakaran. Kabel NYM tidak boleh dipasang di dalam tanah.

5.3.2.1.3 Kabel Lampu


Kabel lampu digunakan untuk instalasi dalam lampu dan armatur penerangan
dalam keadaan terlindung dan bebas dari pengaruh tekukan atau puntiran.
Beberapa jenis kabel lampu berisolasi PVC (NYFA, NYFAF, NYFAZ dan
NYFAD) dengan luas penampang 0,5 dan 0,75 mm 2 dapat digunakan.
Keempat jenis kabel lampu tersebut dapat digunakan hingga suhu
penghantar maksimum 700C.

5.3.2.1.4 Isolator
Untuk instalasi di dalam rumah/gedung sering digunakan isolator rol untuk
menunjang kabel rumah (NYA), misalnya di atas langit-langit. Pemasangan
isolator ini sedemikian sehingga jarak bebas antara penghantar yang
berlainan fasa atau berlainan polaritas, tidak kurang dari 3 cm. Untuk kabel
NYA atau NGA ukuran 1,5 mm 2 dan 2,5 mm2, jarak antara titik-titik tumpunya
tidak boleh melebihi satu meter dan jarak terdekat antara kabel dengan
dinding 1 cm. Pemasangan kabel tersebut tidak boleh dibelitkan pada isolator
(dapat menggunakan bantuan kawat pengikat), kecuali pada ujung tarikan
115

atau pada pencabangan dan belokan serta pemasangannya harus tegang.


Selain isolator rol dapat juga digunakan isolator jepit.

5.3.2.1.5 Pipa instalasi


Untuk instalasi di dalam gedung/rumah sering digunakan kabel rumah yang
dipasang dalam pipa instalasi. Pipa instalasi yang umumnya digunakan:
Pipa baja dicat dengan meni
Pipa PVC, pipa sintetik
Pipa fleksibel.
Pipa baja lebih kuat dan lebih tahan terhadap panas dan nyala api tetapi
memerlukan pentanahan sebagai pengaman terhadap kemungkinan
terjadinya kegagalan isolasi pada penghantar di dalam pipa. Pipa PVC
memiliki daya isolasi yang baik, tahan terhadap hampir semua bahan kimia
sehingga tidak perlu dicat dan mudah digunakan.
Di dalam pipa instalasi dilarang ada sambungan pada penghantar,
sambungan ini harus dalam kotak sambung/kotak cabang. Untuk
menghindari kesulitan penarikan kabel di dalam pipa dan perbaikan atau
penambahan yang dimungkinkan untuk masa mendatang maka pengisian
pipa untuk penghantar ditentukan oleh faktor pengisian maksimum pipa.
Faktor pengisian menyatakan perbandingan jumlah luas penampang seluruh
penghantar terhadap luas penampang dalam pipa.

Jumlah Penghantar di Dalam Pipa Faktor Pengisian


1 50% dari luas penampang pipa
2 33% dari luas penampang pipa
3 atau lebih 40% dari luas penampang pipa

Tabel 18. Jumlah Penghantar dan Faktor Pengisian

Pembengkokan pipa instalasi harus sedemikian sehingga tidak terjadi


penggepengan. Jari-jari lengkungnya, diukur hingga bagian dalam
lengkungan, harus sekurang-kurangnya sama dengan:
3D untuk pipa PVC
4D untuk pipa baja s.d ukuran 16 mm atau 5/8 //
6D untuk pipa baja > 16 mm, di mana D = diameter luar pipa
instalasi.

5.3.2.2 Pembatas Daya (Mini Circuit Breaker/MCB)


Pembatas daya (MCB) digunakan untuk membatasi agar daya yang
digunakan konsumen tidak melebihi daya yang dipesan. MCB adalah suatu
pengaman pemutus rangkaian yang dilengkapi dengan pengaman termal
(bimetal) untuk beban lebih dan juga dilengkapi pengaman relai untuk arus
lebih atau arus hubung singkat. MCB digunakan untuk tegangan rendah.
Sebelum MCB dipasang, maka harus terlebih dahulu dilakukan pengetesan
daya yang dapat diterimanya dengan alat multi-tester. Apabila telah sesuai
maka MCB dipasang pada letaknya dan di segel. Tabel di bawah ini dapat
dijadikan batasan penggunaan MCB untuk berbagai daya yang dipesan
konsumen.

No. Jenis MCB Aplikasi Daya


1. 0,5 A 50 - 75 W
2. 1A

Tabel 19. Pedoman Aplikasi MCB untuk Berbagai Daya

Gambar 29. Contoh Pembatas Daya yang Dapat Digunakan pada Instalasi Konsumen
PLTMH
117

5.3.2.3 Sekering
Sekering berfungsi sebagai pengaman dalam jaringan instalasi agar bila
terjadi hubungan singkat tidak menyebar ke tempat lain. Selain itu sekering
juga berfungsi untuk mengamankan hantaran, motor listrik dan instalasi
keseluruhan dari beban berlebihan. Secara umum terdapat 2 tipe sekering:
Sekering otomatis, di mana bila terjadi hubungan singkat dapat
segera difungsikan kembali dengan menekan tombol otomatis.
Pengaman ini memutuskan secara otomatis jika arusnya melebihi
suatu nilai tertentu.
Sekering biasa, di mana bila terjadi hubungan singkat akan
diamankan dengan putusnya kawat penghubung (kawat isyarat) yang
terdapat pada badan sekering.

5.3.2.4 Titik Keluaran


Pada umumnya kabel yang digunakan untuk instalasi dalam rumah adalah
kabel NYM 2 x 1,5 mm 2 atau NYA 2,5 mm2. Kabel ini untuk mendistribusikan
listrik hingga ke titik keluaran yang memiliki 2 macam jenis.
Titik keluaran sakelar ON/OFF, adalah titik keluaran untuk mengatur
hidup matinya lampu dalam instalasi di dalam rumah. Disarankan
pula untuk menggunakan lampu jenis hemat energi (tipe SL atau HL)
Titik keluaran kontak-tusuk (stacker arus) adalah untuk menyalurkan
arus listrik ke alat elektronik yang dimiliki oleh rumah tangga.

5.3.2.4.1 Kontak Tusuk


Kontak tusuk harus dibuat dari bahan yang tidak dapat terbakar dan tahan
lembab dan harus cukup kuat (kokoh). Oleh karena itu kontak tusuk biasanya
dibuat dari bahan plastik ataupun kayu keras (untuk kapasitas arus kurang
dari 16 A).
Dalam pemasangan kontak tusuk perlu diperhatikan:
Kotak-kotak dinding fasa satu harus dipasang sedemikian sehingga
kontak netralnya berada di sebelah kanan
Kotak-kontak dinding yang dipasang kurang dari 1,25 meter di atas
lantai, harus diperlengkapi dengan tutup
Pada satu tusuk kontak hanya boleh dihubungkan satu kabel yang
dapat dipindah-pindahkan
Kemampuan kotak-kontak sekurang-kurangnya sesuai dengan daya
alat yang dihubungkan padanya, tetapi tidak boleh kurang dari 5 A.

5.3.2.4.2 Sakelar
Sakelar digunakan untuk memutuskan dan menghubungkan rangkaian listrik.
Sakelar memiliki beberapa persyaratan umum:
Harus dapat dilayani secara aman tanpa memerlukan alat bantu
Dalam keadaan terbuka, bagian-bagin yang bergerak harus tidak
bertegangan
Harus tidak dapat menghubungkan arus dengan sendirinya karena
gaya berat
Kemampuan sakelar harus sesuai dengan daya alat yang digunakan,
tetapi tidak boleh kurang dari 5 Ampere
Sakelar untuk penerangan umum selalu ditempatkan di dekat pintu
sedemikian hingga kalau pintunya dibuka sakelarnya dapat langsung
dijangkau
Umumnya sakelar dipasang 1,50 m di atas lantai sehingga tidak
dapat dijangkau oleh anak-anak.

5.3.2.4.3 Kotak Sambungan


Penyambungan kabel dan pembuatan cabang pada instalasi pipa hanya
boleh dilakukan di dalam kotak cabang/kotak sambung. Kotak sambungan
berfungsi sebagai alat bantu pembungkus rangkaian pipa instalasi. Pada
instalasi rumah sederhana banyak digunakan kotak sambungan normal.
Kotak sambungan normal umumnya dibuat dari bahan besi cor, atau pelat
baja yang di cat meni, ataupun kotak dari bahan plastik. Penggunaan kotak
normal dapat menghemat pipa, karena kotak-kontaknya dapat diletakkan
ditempat-tempat yang paling menguntungkan. Di samping kotak normal,
terdapat pula kotak sambungan jenis lain seperti: kotak sentral, kotak banula
dan kotak rangkaian ganda, yang banyak digunakan pada bangunan gedung
dan lorong.
119

Gambar 30. Kontak Tusuk pada Instalasi Rumah Konsumen PLTMH

Gambar 31. Kotak Sambungan pada Instalasi Rumah Konsumen PLTMH

Gambar 32. Sakelar pada Instalasi Rumah Konsumen PLTMH


T R A N S M IS I A l 4 x 7 0 m m 2
R ( s a tu g a r is )
S ( d u a g a r is )
T ( tig a g a r is )
N ( t a n p a g a r is )
D IS T R IB U S I A l T w is te d 2 x 1 6 m m 2

T ( s a tu g a r is )
N ( ta n p a g a r is )

K O N S U M E N A l T w is t e d 2 x 1 0 m m 2

N T
O N
M C B
O FF

K O N S U M E N K E -2
S TO P K O N TA K
K O T A K S E K R IN G

S a k la r S e k r in g

D u d u k a n S e k r in g
4 A m p e re
IN S T A L A S I N Y M 2 X 1 ,5 m m 2

S a k la r

F IT T IN G F IT T IN G
Gambar 33. Sistem Jaringan Transmisi, Distribusi dan Instalasi Rumah Konsumen
PLTMH
121

5.4 PERHITUNGAN DAYA LISTRIK

5.4.1 Perhitungan Pasokan Daya Listrik dari PLTMH


Daya poros turbin
Pt = 9,81 . Q . h . t
Daya yang ditransmisikan ke generator
Ptrans = 9,81 . Q . h . t . belt
Daya yang dibangkitkan generator
Ptrans = 9,81 . Q . h . t . belt . gen
Di mana:
Q = debit air (m3/dtk)
h = head bersih (m)
t = efisiensi turbin
= 0,74 untuk turbin crossflow T-14
= 0,75 untuk turbin propeller open flume lokal
belt = 0,98 untuk flat belt, 0,95 untuk vee belt
gen = efisiensi generator.

Daya yang dibangkitkan generator ini yang akan disalurkan ke pengguna.


Dalam perencanaan jumlah kebutuhan daya di pusat beban harus di
bawah kapasitas daya terbangkit, sehingga tegangan listrik stabil dan
sistem menjadi lebih handal (berumur panjang).

5.4.2 Kebutuhan Daya Listrik Masyarakat


Kebutuhan listrik masyarakat, khususnya pada program pelistrikan desa
sangat dibatasi. Hal ini didasarkan ketersediaan potensi sumber daya air,
kemampuan memelihara dan membiayai penggunaan listrik, serta besaran
biaya pembangunan.
Salah satu faktor pembatas adalah pemilihan pembatas arus terkecil di
pasaran yaitu 0,5 A sehingga daya yang dapat digunakan untuk setiap
sambungan instalasi rumah rata-rata sebesar 110 W. Penggunaan listrik dari
PLTMH oleh masyarakat perdesaan umumnya hanya untuk penerangan dan
TV/radio di malam hari sementara pada siang hari sebagian besar
masyarakat bekerja. Penggunaan daya sebesar 110 W pada setiap
sambungan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Penerangan 3 buah lampu @15 W = 45 W
Penggunaan televisi berwarna = 60 W.
Penggunaan tersebut dianggap cukup untuk kebutuhan pelistrikan perdesaan
pada daerah terisolasi. Untuk penggunaan kegiatan ekonomi produktif,
seperti permesinan direkomendasikan dilakukan pada siang hari.

5.5 PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PLTMH

5.5.1 Koordinasi dan Pengaturan Kerjasama


Koordinasi dan pengaturan kerjasama antar pihak dan personil terkait dalam
pembangunan PLTMH sangat diperlukan seperti dengan:
Aparat pemerintah setempat, tokoh masyarakat, masyarakat yang
akan menjadi konsumen dan calon pengelola PLTMH yang akan
dibangun dan masyarakat lainnya secara umum
Pelaksana lapangan untuk pekerjaan sipil, mekanik dan elektrik
Supervisor yaitu personil terutama yang paham gambar teknis, baik
untuk pekerjaan sipil, mekanik maupun elektrik
Penyuluh lapangan yang bertugas melakukan koordinasi masyarakat
setempat dalam mendukung pelaksanaan pembangunan PLTMH
Workshop/Perusahaan lokal yang membuat turbin, sistem kontrol dan
lain-lain.

5.5.2 Pembangunan PLTMH


Pengaturan ketepatan jadwal pelaksanaan dan kualitas perlu dilakukan dalam
pelaksanaan pekerjaan pembangunan PLTMH yang meliputi:
Fasilitas sipil antara lain bendungan, intake, saluran pembawa, bak
penenang, pipa pesat dan rumah pembangkit
Perlengkapan mekanik seperti turbin, bearing, pulley, belt, dsb
Perlengkapan elektrik seperti generator, sistem kontrol, jaringan
transmisi dan instalasi listrik di rumah-rumah konsumen.
Tepat setelah pekerjaan pembangunan fisik PLTMH rampung perlu dilakukan
kegiatan sebagai berikut:
Uji Coba PLTMH
Commissioning (Tes Hasil Pekerjaan) PLTMH
Serah terima PLTMH.

Selanjutnya segera dilakukan pemantauan pelaksanaan pengoperasian serta


perawatan PLTMH tahap awal oleh pelaksana pembangunan yaitu sekitar 30
hari kalender sejak PLTMH diserahterimakan.
123

Gambar 34. Contoh Kurva Pelaksanaan Pembangunan PLTMH (Kurva S) di Leuwi Kiara,
Tasikmalaya, Jawa Barat

5.5.3 Tes Hasil Pekerjaan Fisik Bangunan Sipil


Tes ini ditujukan untuk mengetahui apakah terdapat kekurangan-kekurangan
pada hasil pekerjaan fisik terutama pekerjaan sipil seperti bendung, bangunan
pengambilan (intake), saluran pembawa, bak pengendap, bak penenang,
bangunan pelimpah, rumah pembangkit, pondasi turbin, saluran pembuang,
saringan, bak ballast load dan pondasi pipa pesat. Selain itu diperhatikan
juga sambungan-sambungan antar flanges, pengelasan pipa pesat dan
angker blok (anchor block).

5.5.3.1 Bendungan
Bendungan dapat dikatakan baik bila menunjukkan fungsi berikut ini dengan
baik.
Bendungan berfungsi sebagai peninggi muka air, sehingga dapat
mengalirkan air ke bangunan pengambilan dengan ketinggian air
sesuai rencana.
Bendungan dilengkapi dengan pintu air besi/kayu (stoplog) yang
berfungsi sebagai penguras lumpur apabila tinggi kotoran 2/3 mercu
bendungan.
Bendungan sebagai pelimpah (over flow) dapat melewatkan air
apabila muka air yang masuk pada bangunan penyadap sudah
terpenuhi, sesuai dengan kapasitas yang direncanakan.
Struktur bendungan harus cukup kuat, sesuai parameter desain
bendungan.

5.5.3.2 Bangunan Pengambilan/Penyadap (Intake)


Bangunan pengambilan/penyadap dapat dikatakan baik bila bangunan
tersebut dapat menunjukkan fungsinya dengan baik.
Bangunan pengambilan (intake) mempunyai fungsi utama untuk
memasukkan air, baik air yang dibendung maupun tidak, ke dalam
saluran pembawa. Debit air yang masuk dibatasi oleh bangunan dan
tinggi muka air dalam intake. Intake yang baik dapat memenuhi
suplai air ke dalam bak penenang sehingga muka air pada bak
penenang tidak mengalami penurunan.
Intake dilengkapi saringan. Saringan pada intake dikatakan baik
apabila saringan tersebut dapat berfungsi dengan baik sehingga
kotoran/sampah tidak dapat lewat tetapi tidak menghambat air yang
masuk (muka air dalam saluran tidak surut). Konstruksi saringan juga
memudahkan pembersihan.
Struktur intake harus dibuat cukup kuat terhadap terpaan air sungai.

5.5.3.3 Saluran Pembawa


Saluran pembawa dikatakan baik bila saluran tersebut telah menunjukkan
fungsinya dengan baik.
Saluran harus mempunyai sloope yang cukup, sehingga air dapat
mengalir dengan sempurna. Kecepatan tidak boleh kurang dari 0,6
m/dtk.
Untuk saluran tanah, kecepatan air antara 0,6 - 0,8 m/dtk. Apabila
kecepatan kurang dari 0,6 m/dtk, hal ini berpotensi menimbulkan
endapan. Sedangkan bila melebihi 0,8 m/dtk, tanah akan tergerus air
dan akan mengakibatkan longsor.
Untuk saluran pembawa yang diberi pasangan, struktur pasangan
harus cukup kuat tidak retak dan tidak bocor.

5.5.3.4 Bak Pengendap


Bak pengendap dapat dikatakan baik apabila bak tersebut sudah
menunjukkan fungsinya sebagai pengendap dengan baik.
125

Bak pengendap harus mempunyai sloope sedemikian rupa sehingga


sedimen yang mengendap dapat terkumpul
Bak pengendap harus dapat mengatur kecepatan air dalam bak
hingga kecepatan air berkisar 0,1 - 0,2 m/dtk
Struktur bak pengendap harus dapat menahan beban air sehingga
tidak terjadi kebocoran
Bak pengendap juga harus dilengkapi dengan pelimpah hingga muka
air yang masuk ke dalam bak penenang dapat terkontrol dengan baik
meskipun debit air yang masuk melebihi kapasitas bak penenang.

5.5.3.5 Bak Penenang (Forebay)


Bak penenang (forebay) dapat dikatakan baik apabila fungsi bak telah dapat
dirasakan manfaatnya.
Dimensi bak penenang harus cukup dapat menampung air sehingga
kondisi air tetap tenang selama turbin dioperasikan
Jarak muka air ke dalam pipa pesat harus dibuat cukup sehingga
tidak terjadi arus pusaran yang akan membawa udara ke dalam pipa
pesat
Pada bagian inlet bak penenang harus diberi saringan halus sehingga
kotoran tidak dapat masuk ke dalam bak
Konstruksi saringan dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan
untuk membersihkan sampah yang terjaring
Struktur bak harus cukup kuat dalam menahan beban air sehingga
tidak terjadi retak dan kebocoran di sekitar bak penenang
Sambungan antara bak dan pipa pesat tidak mengalami kebocoran
Adanya pintu air (pengatur).

5.5.3.6 Pipa Pesat (Penstock)


Pipa pesat dapat dikatakan baik apabila pipa tersebut telah menunjukkan
fungsinya dengan baik.
Mempunyai dimensi yang cukup sesuai dengan debit air yang
dialirkan
Pada sambungan flanges tidak mengalami kebocoran
Pada sambungan las antar pipa tidak mengalami kebocoran
Mempunyai dudukan/pondasi yang cukup sesuai beban yang bekerja.
Pengujian secara Visual

No. Unit Pekerjaan Aspek yang di Uji Kondisi ( ) Catatan


SB B K

1. Bendungan Peninggi muka air


Pelimpah
Pintu Penguas
Struktur bangunan

2. Bangunan Fungsi penyadap


Penyadap
Fungsi saringan
( Intake ) Struktur bangunan

Sloope/aliran air
3. Saluran Pembawa
Struktur bangunan

4. Bak Pengendap Sedimentasi


( Settling Basin ) Dimensi
Pintu penguras
Pelimpah
Struktur

5. Bak Penenang Dimensi


( Forebay ) Tinggi muka air
dari pipa pesat
Fungsi saringan
Konstruksi
saringan
Struktur bangunan
bak
Pintu air
Sambungan antara
bak dan pipa pesat

6. Pipa Pesat Dimensi pipa


( Penstock ) Flanges
Pengelasan
Dudukan pipa
(support)

Keterangan:SB = Sangat Baik, B = Baik, K= Kurang

Tabel 20. Formulir Pengujian Fisik Bangunan Sipil (1)


127

Pengujian dengan Pengetesan Air

No. Unit Pekerjaan Aspek yang di Uji Kondisi ( ) Catatan


SB B K

1. Bendung Peninggi muka air


Pelimpah
Pintu Penguas
Struktur bangunan

2. Bangunan Fungsi penyadap


Penyadap Fungsi saringan
( Intake ) Struktur bangunan

3. Saluran Sloope/aliran air


Pembawa Struktur bangunan

4. Bak Pengendap Sedimentasi


Dimensi
( Settling Basin )
Pintu penguras
Pelimpah
Struktur

5. Bak Penenang Dimensi


Tinggi muka air dari
( Forebay )
pipa pesat
Fungsi saringan
Konstruksi saringan
Struktur bangunan
bak
Pintu air
Sambungan antara
bak dan pipa pesat

6. Pipa Pesat Dimensi pipa


Flanges
( Penstock )
Pengelasan
Dudukan pipa
(support)

Keterangan:SB = Sangat Baik, B = Baik, K= Kurang

Tabel 21. Formulir Pengujian Fisik Bangunan Sipil (2)


5.5.4 Tes Hasil Pekerjaan Mekanik dan Elektrik: Turbin,
Generator dan Sistem Kontrol
Pengujian pertama dilakukan dengan keadaan air dalam pipa pesat kosong.
(1) Menggerakkan belt (transmisi) sehingga poros runner dapat diputar
tanpa beban sama sekali. Periksa:
Putaran runner lancar
Tidak ada gesekan atau bunyi
Pulley lurus dan tidak baling
Pulley tidak bisa digoyang pada poros runner.
(2) Membuka rangkaian penyetelan katup air turbin (guide vane)
sehingga dapat digerakkan dengan tangan. Periksa:
Gerakan guide vane lancar
Tidak ada kelonggaran poros kiri-kanan dan atas-bawah
Tidak ada kelonggaran antar poros dan penggerak poros.
(3) Memasang kembali (menyetel) katup air turbin serta belt
(transmisi). Periksa:
Keseragaman baut, ring dan mur pada seluruh rangkaian
turbin/generator
Kekencangan baut-baut tersebut.

Pengujian kedua dilakukan dengan kondisi air dalam pipa pesat terisi penuh.
Buka pintu air pipa pesat, katup turbin tetap dalam posisi menutup. Periksa:
Sambungan antara pipa pesat dan turbin tidak bocor
Turbin keseluruhannya tidak bocor
Putaran runner tidak lebih dari 20% putaran pada putaran
operasional.

Pengujian ketiga dilakukan tanpa ada beban (no load test).


(1) Membuka katup turbin secara perlahan-lahan sehingga sistem
kontrol mulai beroperasi (ditandai dengan bunyi). Periksa:
Putaran turbin lancar dan mulus
Voltase pada ketiga fasa adalah 220 Volt 5 Volt
Frekuensi tetap 50 Hz 2Hz.
(2) Menjalankan turbin tanpa terbeban (MCB dalam posisi OFF).
(3) Menjalankan turbin dengan dibebani. Periksa:
kWH meter bekerja dengan baik
Semua alat ukur (Voltmeter, Frekuensi Meter, Ampere Meter, Ballast
Meter, dan yang lainnya) berfungsi dengan baik.
(4) Perlengkapan fasilitas operator (di rumah pembangkit). Periksa:
Buku catatan dan buku manual operator
Pengadaan 1 set peralatan kunci-kunci.
129

Turbin, Generator dan Sistem Kontrol

No. Unit Komponen Aspek yang di Uji Kondisi ( ) Catatan


SB B K

A. Pengujian pada saat pipa pesat tidak terisi air (kosong)

1. Poros Runner Putaran runner


dan Pulley
Gesekan / bunyi

Pergeseran
Posisi Pulley

2. Rangkaian Gerakan
Penyetel Katup
Turbin Poros kiri - kanan

Poros atas - bawah

Hubungan antara poros
dan penggerak poros

3. Transmisi Tarikan belt


Mekanik
Keseragaman baut

Tarikan baut

B. Pengujian pada saat pipa pesat terisi air (penuh)

4. Sambungan Pipa Kebocoran


pesat dengan
Turbin

5. Turbin Kebocoran

Putaran Turbin

C. Pengujian tanpa beban (No Load test) katup turbin dibuka sebagian

6. Turbin Putaran runner



Suhu rumah bearing

7. Generator Putaran generator

8. Panel Kontrol Tegangan phase volts



Frekuensi

Keterangan:SB = Sangat Baik, B = Baik, K= Kurang

Tabel 22. Formulir Pengujian Peralatan Mekanik dan Elektrik (1)


No. Unit Komponen Aspek yang di Uji Kondisi ( ) Catatan
SB B K

D. Pengujian pada debit maksimum

9. Panel Kontrol Tegangan pd. Ballast Meter


Tegangan Ballast R

Tegangan Ballast S
Tegangan Ballast B
Frekuensi Generator

E. Pengujian tanpa beban (run away speed) selama 1 menit.

10. T u r b i n Putaran runner



Getaran

11. Generator Getaran

F. Pengujian dengan beban palsu

12. Panel Kontrol Tegangan phase volts


Tegangan ballast R
Tegangan ballast S
Tegangan ballast B
Frekuensi
Arus phase R

Arus phase S

Arus phase B

13. Turbin & Kesesuaian putaran
Generator

G. Menutup sebagian katup pada saat beban palsu terpasang.

14. Panel Kontrol Kerja sistem kontrol pada


saat tegangan di bawah
180 Volt

Keterangan:SB = Sangat Baik, B = Baik, K= Kurang

Tabel 23. Formulir Pengujian Peralatan Mekanik dan Elektrik (2)


131

Instalasi Listrik

No. Unit Komponen Aspek yang di Uji Kondisi ( ) Catatan


SB B K

A. Uji Visual dalam keadaan turbin tidak dijalankan.

1. Kabel Sambungan
Keterampilan
Kabel Arde
Kabel pengaman Petir
B. Pengujian pada saat turbin dijalankan.

2. Kontrol Panel
(kabel fasa R MCB pada phasa jatuh
digabung dengan
kabel netral)

C. Pengujian dengan beban palsu dan ballast.

3. Panel Kontrol Tegangan antara netral


dan arde dibawah 12 Volt
Fungsi semua alat ukur
Berfungsi
4. kWH Meter Berfungsi

D. Perlengkapan fasilitas operator

5. Administrasi Buku Catatan


Buku Petunjuk Pengo-
perasian

Peralatan (1 set kunci)

Gambar-gambar

Keterangan:SB = Sangat Baik, B = Baik, K= Kurang

Tabel 24. Formulir Pengujian Peralatan Mekanik dan Elektrik (3)


133

5.5.5 Tes Hasil Pekerjaan Jaringan Listrik PLTMH


Dalam merancang jaringan beberapa persyaratan dijadikan patokan. Harga-
harga patokan tersebut sesuai dengan standar-standar yang ada.
Persyaratan dikatagorikan menjadi persyaratan elektris dan persyaratan
mekanis.

5.5.5.1 Persyaratan Elektrik Jaringan Listrik


Persyaratan elektrik ini sudah terdapat dalam standar, bahkan sebagian besar
sudah diterapkan dalam eksisting, hanya saja tambahan yang diambil dari
standar-standar itu karena adanya perkembangan peralatan. Dalam hal ini
disajikan batasan-batasan tersebut.

5.5.5.1.1 F r e k u e n s i
Sistem frekuensi yang dipergunakan 50 Hz.

5.5.5.1.2 Sistem Jaringan


Sistem distribusi jaringan tegangan rendah (JTR) mempergunakan sistem tiga
fasa, meterial kabel mempergunakan over head twisted cable. Ada dua
daerah pemasangan untuk twisted ini:
Di bawah hantaran udara tegangan menengah/HUTM (tiang HUTM di
pakai juga untuk twisted ini) atau disebut underbuilt.
Khusus twisted yang lazimnya mempergunakan tiang 7-9 m atau
lazim disebut JTR murni.

5.5.5.1.3 Tiang Listrik


Mengenai tiang listrik pada daerah pemasangan JTR khusus, tiang besi/beton
yang dipakai umumnya 7-9 m. Untuk tempat-tempat tertentu diperlukan juga
tiang 7-9 m, seperti tiang ujung atau sudut yang tidak mungkin dipasang guy
set. Tiang ditenam 1/6xpanjang tiang. Pemakaian tiang ini memperhitungkan
beban jaringan, beban lampu jalan, dan tarikan sambungan rumah.

5.5.5.1.4 Accessories
Berbeda dengan pemasangan HUTM, pemasangan JTR ini hanya
menggunakan peralatan-peralatan kecil.
Pole bracket: Berfungsi sebagai tempat bergantungnya suspension
clamp maupun strain clamp. Dengan demikian pole bracket ini tidak
perlu dibedakan antara mounting suspension maupun strain clamp.
Strain clamp: Di tiang-tiang yang menderita tarikan netral
(messenger) dari twisted dipakai strain clamp, misalnya tiang ujung
section pole atau sudut-sudut belok besar diatas 400.
Pengikat: Dipakai pada tiang ujung penarikan, untuk pengikat pole
bracket ke tiang dipakai stainless steel strip 20 mm x 0,7 mm yang
dipasang dengan memakai stopping buckle.
134

Link: Dipakai pemisah antara tiang dengan pipa yang keduanya pada
keadaan terikat oleh stainless steel strip.
Turn buckle: Dipakai pada tiang ujung penarikan, untuk pengaturan
halus, sebelum dilakukan pengencangan di tiang-tiang selain tiang
awal dan tiang ujung.
Suspension clamp: Dipakai pada tiang selain tiang awal, section
atau tiang ujung yang jaringannya lurus atau belok sampai maksimal
400.
Twisted Isolated Cable (TIC): Walaupun sampai sekarang masih
lebih mahal, harga TIC ini cenderung menurun, beberapa keuntungan
lain adalah:
o Mengurangi gangguan
o Mengurangi pencurian
o Mengurangi penebangan
o Mengurangi peralatan bantu (isolator TR, travers, cross arm, dan
lain-lain)
o Lebih memenuhi persyaratan estetika.

Tiga macam TIC yang dipakai:


o 3 x 70 mm2 + N 50 mm + 2 x 16
o 3 x 50 mm2 + N 50 mm + 1 x 16
o 3 x 35 mm2 + N 50 mm + 1 x 16
o 3 x 35 mm2 + N 25 mm + 1 x 10 (PLTMH).

Penyambungan ke busbar TR di Gardu/PH perlu penyeimbangan,


diantaranya penyambungan kabel yang 2 x 10 mm2, tidak boleh
disambung ke busbar yang sama, karena bila penyambungan sama
akan menimbulkan losses yang lebih tinggi sedang bila berlainan
komponen-komponen dapat saling mengurangi.

Dia. 70 Dia. 50 Dia. 35


Min. tensile strength (N/mm2) 180 180 180
Koef. Linier expantion/0c 23 x 10-6 23 x 10-6 23 x 10-6
Dia. Of bare cond 10,1 8,4 7
Type of insulation XLPE XLPE XLPE
Ketebalan dari isolasi (mm) 18 18 18
Dia. Of cond. Over insulation 14,4 12,2 10,9
Voltage rating (V) 1000/60 1000/60 1000/60
Berat kg/km 1000 786 550

Tabel 25. Syarat-syarat Twisted Isolated Cable (TIC) Tegangan Rendah (TR)

Cable joint: Guna penyambungan kabel phasanya dipakai


compression non tension joint terisolasi, sedang untuk netralnya
adalah compression tension joint. Cable joint biasanya dipakai hanya
karena ketidak cocokan antara panjang kabel dalam drum dengan
jarak antara tiang dan apabila ada kerusakan kabelnya.
135

Pentanahan: Pentanahan pada JTR memakai kawat CU 50 mm 2


terisolasi. Kawat terisolasi disini dipakai karena di netral TIC selalu
ada arus, hal mana diakibatkan karena sulit sekali beban yang betul-
betul seimbang di masing-masing phasa. Harga pentanahan
maksimal 50 Ohm hingga dalam tanah tidak perlu pentanahan yang
melingkar seperti pada HUTM. Pentanahan di JTR dialkukan untuk
setiap 5 gawang atau sesuai kondisi atau lokasi di tiang awal, tiang
akhir dan pada tiang yang mempunyai sambungan rumah 8 rantai.
Pentanahan di tiang awal ini juga merupakan pentanahan netral
sekunder trafo distribusi. Pentanahan setiap 5 gawang dimaksudkan
pula membantu pentanahan rumah-rumah.
Pondasi: Pada umumnya pondasi dipakai untuk menahan beban dari
tiang akibat ada beban di mana struktur tanah berada kekerasannya
rendah. Hanya hal-hal khusus bila di tiang ujung atau tempat yang
tidak memungkinkan memakai guy set dipakai pondasi.
Concrete foundation slab: Tidak seperti HUTM, concrete slab
dipakai karena adanya guy set. Perhitungan menunjukkan walaupun
tiangnya memakai guy set, tidak diperlukan concrete slab, karena
tekanan kebawahnya cukup terlawan oleh luas kontak antara alas
tiang dengan tanah dikalikan sigma tanah. Bila tiang sudah
dilengkapi dengan guy set, pondasi tidak diperlukan.
Guy set: Pemakaian guy set pada JTR dengan mempergunakan tipe
ringan. Bila JTR underbuilt, guy set memakai stay insulator tegangan
menengah. Pada stay set yang mempergunakan countre pole, stay
insulator ini dipasang pada over head-nya (antara tiang yang ditahan
dengan countre polenya). Sedangkan pada JTR murni stay insulator
ini tidak diperlukan. Turn buckle-nya sama dengan turn buckle pada
HUTM mengingat harganya sama, sedangkan kawat baja yang
digunakan sama dengan yang ringan pada HUTM.
Sambungan-sambungan: Yang dimaksud sambungan disini adalah
selain dari cable joint, seperti percabangan. Dipakai top connector
(kuku elang) isolated yang ada giginya dan dilindungi dengan grease.

5.5.5.2 Sambungan ke Konsumen


Ada beberapa macam konsumen menurut besarnya:
Konsumen kecil (rumah tangga)
Konsumen menengah (komersil)
Komsumen besar (industri).

Kelompok konsumen yang dibahas disini hanya konsumen kecil dan


menengah.

5.5.5.2.1 Konsumen Kecil (Rumah Tangga)


Pembatasan dibatasi dalam sistem penyambungan konsumen tersebut dari
tiang PLN/PLTMH. Pada prinsipnya penyambungan dengan sistem jaring,
yang artinya semua konsumen disambung langsung dari tiang. Untuk
konsumen 1 fasa, bila terjadi kaharusan sistem berantai, perlu batasan sejauh
136

mana jumlah mata rantai itu diijinkan, selain jarak dan penampang twisted
cable-nya.
Batasan-batasan itu adalah:
Jumlah konsumen maksimal 3,
Maksimal mata rantai terjauh 50 m untuk service entrance 1x16 mm2,
Maksimal mata rantai terjauh 30 m untuk service entrance 1x10 mm2,
Jumlah rantai per tiang adalah 8, tiang TR yang memeliki 8 rantai,
netralnya harus ditanahkan.

Konsumen tiga fasa tidak dilakukan penyambungan dengan sistem berantai.


Penyambungan antara TIC dengan service entrance ini dipakai isolated tap
connector bergigi yang mengandung grease. Ada dua cara penyambungan,
yaitu dengan menggunakan galvanized roff pole yang diatasnya ada
protection device for roof pole (invooring). Pemakaian roof pole ini dilakukan
bila letak atap lebih rendah dari tiang. Cara lain adalah penyambungan pada
lisplank atau tembok rumah. Cara ini tidak lagi mengunakan roof pole.
Biasanya cara kedua ini dilakukan untuk bengunan yang lebih tinggi atau
sejajar tiang. Penyambungan rumah flat service entrance dipasangkan pada
tembok rumah. Jaringan didistribusikan melalui panel distribusi tegangan
rendah di banguan tersebut.

5.5.5.2.2 Konsumen Menengah (Komersil)


Kelompok konsumen komersil yang disinggung disini adalah komplek pasar
saja, karena kelompok konsumen komersil yang lain sama saja cara
penyambungannya dengan konsumen rumah tangga. Penyambungan
kompleks pasar biasanya listrik dijual dalam jumlah besar. Bila hal ini terjadi
penyambungan tinggal dilakukan dengan mensupply panel TR. Tetapi sering
kali masing-masing kios meminta pengukuran sendiri hingga perlu instalasi di
pasar yang melalui beberapa panel distribusi TR.
137

No. Unit Pekerjaan Aspek yang di Uji Kondisi ( ) Catatan


SB B K

1. Tiang Besi, 7 meter Struktur pemasangan

2. Twisted Cable Pemasangan


3 x 35 + 1 x 25 mm2
Penyambungan

Tegangan Loses < 15%

3. TIC pada Jaringan Struktur pemasangan


< 450

4. TIC pada Jaringan Struktur pemasangan


450 1200

5. TIC pada Tiang Struktur pemasangan


Penegang

6. TIC pada Awal Tiang Struktur pemasangan


Jaringan

7. TIC pada Ujung Tiang Struktur pemasangan


Jaringan

8. Tumpang Tarik Struktur pemasangan


( stay/guy set )

9. Pentanahan Struktur pemasangan


Resistansi < 5 OHM

10. Pondasi Tiang Struktur pemasangan


Kualitas material

Keterangan:SB = Sangat Baik, B = Baik, K= Kurang

Tabel 26. Formulir Pengujian Jaringan Tegangan Rendah


6 N PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN
PERSIAPA

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA


MIKROHIDRO (PLTMH)

Keberhasilan pembangunan PLTMH di suatu lokasi sangat ditentukan oleh


partisipasi dan dukungan seluruh komponen masyarakat pengguna.
Pengalaman-pengalaman di masa lalu menunjukkan bahwa salah satu faktor
utama yang menyebabkan tidak berlanjutnya operasi PLTMH di berbagai
lokasi adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan
pengambilan keputusan serta lemahnya dukungan dari lembaga-lembaga
yang ada di masyarakat. Hal tersebut mengakibatkan potensi-potensi
keswadayaan tidak termanfaatkan secara optimal.
Implementasi PLTMH dalam konteks pemberdayaan masyarakat bisa menjadi
suatu media pembelajaran bagi masyarakat dalam mengembangkan potensi-
potensi yang dimilikinya untuk mencapai keswadayaan. Keberadaan PLTMH
di suatu desa juga seharusnya dapat menumbuhkan interaksi yang lebih baik
antar lembaga-lembaga yang ada di masyarakat.
Untuk menjamin bahwa PLTMH dibangun, dikelola dan dapat menyediakan
listrik sesuai dengan harapan masyarakat, maka diperlukan partisipasi
masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi baik dalam
pembangunan maupun pengelolaan. Pada dasarnya, partisipasi dapat
ditingkatkan sampai pada satu titik di mana seluruh lapisan masyarakat
terlibat secara langsung atau tidak langsung di dalam pengambilan
keputusan. Dengan demikian setiap keputusan yang diambil merupakan
cerminan keinginan dan kebutuhan masyarakat.
140

Oleh karena itu persiapan pembangunan dan pengelolaan harus dilakukan


bersama masyarakat untuk mencapai suatu kondisi di mana masyarakat siap
mengambil peran yang paling menentukan dalam pembangunan PLTMH dan
memiliki pola pengelolaan yang menjamin keberlanjutan layanan listrik
PLTMH. Secara garis besar, kegiatan persiapan ini meliputi:
Pembentukan panitia pembangunan
Penentuan kontribusi masyarakat dan pembagian kerja dalam
pembangunan PLTMH
Penentuan bentuk lembaga pengelola dan kepemilikan PLTMH
Penyiapan mekanisme pengelolaan
Penetapan tarif
Perencanaan pemanfaatan listrik baik untuk rumah tangga maupun
kegiatan ekonomi produktif
Pengembangan kapasitas tenaga pengelola dan operator PLTMH.
Adanya fasilitator atau suatu kelembagaan pendamping dari luar desa juga
direkomendasikan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, melakukan
penguatan kelembagaan, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia
(SDM) yang diperlukan untuk pengelolaan. Agar dapat menentukan metode-
metode fasilitasi yang tepat, fasilitator perlu memahami kondisi sosial
ekonomi, karakteristik sumberdaya alam, dan sumberdaya manusia di lokasi.
Dalam hal ini, hasil-hasil studi kelayakan bisa menjadi bekal yang berharga
untuk dipelajari.

6.1 LANGKAH AWAL


Langkah awal yang tentunya harus dilakukan adalah menjalin dialog dengan
seluruh komponen masyarakat. Dengan adanya dialog-dialog tersebut
diharapkan muncul keinginan bersama untuk mengagendakan suatu
pertemuan besar yang diikuti oleh mayoritas warga. Untuk memastikan
berjalannya proses, salah satu hasil yang harus didapatkan dalam setiap
pertemuan adalah kesepakatan tentang jadwal dan agenda pertemuan
berikutnya.
Salah satu persoalan awal yang jamak ditemukan dalam implementasi
PLTMH adalah keraguan masyarakat terhadap teknologi dan keberlanjutan
layanan listrik. Benarkah turbin yang akan dipasang itu dapat bertahan
sekian tahun? Mungkinkah dapat menghasilkan listrik sekian kilo-watt?
Cukupkah air sungai di desa kami? Mengapa bukan kabel PLN saja yang
ditarik ke sini? Fasilitator atau lembaga pendamping dapat memanfaatkan
proses awal ini sekaligus untuk memberikan penjelasan.
Pada langkah-langkah awal umumnya perlu untuk mengembangkan
kelompok basis yang bisa berfungsi sebagai fasilitator dari dalam masyarakat.
Kelompok basis ini mungkin bisa menjadi embrio bagi terbentuknya panitia
pembangunan dan lembaga pengelola PLTMH. Kelompok ini bisa
merupakan kelompok baru atau dikembangkan dari lembaga-lembaga yang
sudah ada. Kelompok atau lembaga-lembaga yang menjadi kelompok basis
141

tidak harus yang sudah kuat pengaruhnya, tetapi yang lebih penting adalah
yang mungkin mendapat dukungan dari mayoritas dan kelembagaan lain
yang berpengaruh, cukup netral, serta resistensinya rendah.
Banyak contoh sukses dalam pengelolaan PLTMH justru terjadi di lokasi-
lokasi di mana peran dan intervensi lembaga formal rendah. Peran yang
terlalu besar dari lembaga formal atau lembaga-lembaga berpengaruh lainnya
justru dapat menimbulkan ketergantungan terhadap lembaga-lembaga
tersebut. Sebaliknya, memulai dari kelompok baru atau lembaga-lembaga
yang kurang berperan sebelumnya justru dapat meningkatkan motivasi
keswadayaan. Hal yang terpenting adalah adanya dukungan dan legitimasi
dari lembaga formal dan lembaga-lembaga berpengaruh terhadap
masyarakat maupun pihak-pihak luar terkait.

6.2 PERENCANAAN PEMBANGUNAN

6.2.1 Pemilihan Teknologi dan Skema Pembiayaan


Studi kelayakan menghasilkan pilihan-pilihan pembangunan yang dinilai
layak. Pilihan-pilihan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan
konsultasi kepada masyarakat dan penyandang dana. Dalam hal ini
masyarakat perlu mendapat penjelasan tentang konsekuensi-konsekuensi
dari setiap pilihan, terutama berkaitan dengan jumlah daya terbangkit, biaya
pembangunan dan kontribusi yang harus disediakan oleh masyarakat dengan
memperhatikan ketersediaan dana. Masyarakat dapat pula ditawarkan
pilihan skema-skema pembiayaan alternatif beserta konsekuensi-
konsekuensinya.

6.2.2 Pembentukan Panitia Pembangunan


Panitia pembangunan PLTMH ini adalah lembaga yang dibentuk untuk
bertanggung jawab dalam pembangunan PLTMH sampai selesai dan kelak
diikuti dengan serah terima untuk pengelolaan kepada lembaga pengelola
yang telah terpilih. Panitia pembangunan bertanggungjawab dalam
pengaturan, mobilisasi, dan pengawasan kontribusi dan pekerjaan oleh
masyarakat dan bertindak sebagai representasi masyarakat dalam
berhubungan dengan kontraktor, penyandang dana, dan pihak-pihak luar
lainnya. Oleh karena itu pemilihan panitia seharusnya dilakukan oleh
masyarakat dan sebaiknya melibatkan semua unsur yang ada di desa
tersebut.

6.2.3 Kontribusi Masyarakat


Kontribusi dari masyarakat bisa berbentuk:
Materi
Tenaga
142

Uang.

Peluang-peluang yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan kontribusi


masyarakat seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan
masyarakat itu sendiri. Masyarakat masih tetap dapat meningkatkan
kontribusinya terhadap pembangunan PLTMH tanpa harus mengeluarkan
uang, yaitu dalam bentuk tenaga dan material. Peningkatan kontribusi
masyarakat akan membuka kemungkinan ditingkatkannya alokasi
pengeluaran lain yang dapat meningkatkan kualitas sistem yang dibangun
dan akan berdampak pada efisiensi penggunaan dana proyek. Pada proyek-
proyek di mana kendala dana menjadi persoalan, kontribusi masyarakat
adalah bagian dari solusi.

6.2.4 Penentuan Kompensasi


Dalam pembangunan PLTMH seringkali ada lahan warga setempat yang
harus digunakan, misalnya untuk ditempati rumah pembangkit, untuk dilalui
saluran pembawa atau pipa pesat. Meskipun digunakan untuk kepentingan
bersama, pemilik lahan seharusnya mendapat kompensasi. Bentuk
kompensasi seharusnya merupakan solusi yang tidak meninggalkan
persoalan di kemudian hari. Misalnya, seorang warga yang kehilangan
lahannya meminta kompensasi untuk dijadikan salah satu operator dan
mendapat bayaran untuk pekerjaan itu. Persoalan mungkin timbul di
kemudian hari jika yang bersangkutan ternyata tidak menjalankan tugasnya
dengan baik. Bentuk kompensasi seperti ini sebaiknya dihindari.

6.2.5 Pembagian dan Penjadwalan Pekerjaan


Dengan mempertimbangkan adanya gotong-royong, jenis-jenis pekerjaan
dalam pembangunan PLTMH dapat dibedakan menjadi: pekerjaan yang tidak
perlu dibayar atau bisa dikerjakan secara gotong-royong dan pekerjaan yang
perlu dibayar. Sedangkan dilihat dari kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan,
jenis-jenis pekerjaan dapat dibedakan menjadi: pekerjaan yang membutuhkan
keterampilan dan tidak membutuhkan keterampilan.
Penentuan pekerjaan yang perlu dibayar atau tidak sebaiknya dilakukan
melalui kesepakatan dengan masyarakat. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak
perlu dibayar dapat dianggap sebagai kontribusi masyarakat dalam
pembiayaan pembangunan. Perbanyakan jenis pekerjaan yang dikategorikan
tidak perlu dibayar juga merupakan salah satu solusi persoalaan keterbatasan
dana.
Pekerjaan-pekerjaan yang perlu dibayar pada umumnya adalah pekerjaan-
pekerjaan yang dilakukan oleh orang luar (misalnya staff/tenaga ahli
kontraktor) dan membutuhkan keterampilan. Meskipun demikian, harus
diusahakan semaksimal mungkin untuk memanfaatkan tenaga-tenaga
terampil lokal untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan keterampilan.
143

Dengan membayar orang dari luar untuk pekerjaan-pekerjaan yang bisa


dikerjakan tenaga lokal adalah pemborosan.
Dalam pembangunan PLTMH, mungkin saja ada pekerjaan-pekerjaan yang
tidak memerlukan keterampilan tetapi kebutuhan tenaga kerjanya sangat
tinggi sehingga tidak mungkin hanya mengandalkan gotong-royong.
Pekerjaan-pekerjaan semacam ini sebaiknya diberikan kepada mereka yang
kurang mampu untuk pemerataan pendapatan.
Dalam penjadwalan pekerjaan, perlu diingat bahwa pembangunan PLTMH
memerlukan waktu yang cukup lama. Sedangkan selama itu masyarakat juga
tetap harus melaksanakan pekerjaan dan kegiatan rutinnya. Penjadwalan
pekerjaan terutama untuk pekerjaan yang dilaksanakan secara gotong-royong
dan tidak mendapat bayaran harus disesuaikan dengan kesibukan dan
keleluasaan warga. Pembuatan jadwal secara partisipatif biasanya perlu
dimulai dengan melakukan identifikasi terhadap pola kegiatan harian,
mingguan, bulanan dan tahunan masyarakat.
Pembagian kerja juga harus mencerminkan rasa keadilan. Sedapat mungkin
setiap orang mendapatkan beban kerja yang setara. Pengukuran beban kerja
secara umum dapat dilakukan berdasarkan waktu atau hari kerja. Tapi untuk
pekerjaan tertentu, misalnya, beban kerja memasang tiang listrik dapat diukur
berdasarkan jumlah tiang yang dipasang.

6.2.6 Pengendalian dan Pengawasan


Setiap pekerjaan membutuhkan pengendalian dan pengawasan untuk
memastikan bahwa pekerjaan tersebut dilaksanakan sesuai dengan yang
direncanakan dan tepat waktu. Dalam perencanaan pekerjaan, selain
ditentukan jadwal, pelaku, dan penanggungjawab, juga harus ditentukan
pengawas dan penilai pekerjaan tersebut. Pada kegiatan partisipatif, fungsi
pengendalian dan pengawasan ini seharusnya juga lebih banyak melibatkan
komponen-komponen masyarakat desa.

6.3 PERENCANAAN PENGELOLAAN

6.3.1 Kepemilikan dan Bentuk Kelembagaan


Kepemilikan PLTMH yang akan dibangun di suatu desa juga harus ditentukan
sebelum PLTMH tersebut dibangun untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan di kemudian hari. Pada umumnya kepemilikan PLTMH ini
berkaitan erat dengan skema pembiayaannya.
Pada kasus PLTMH yang dibiayai oleh pemerintah dan dioperasikan oleh
masyarakat desa, merujuk pada Undang-Undang No. 32 Tahun 2004,
kepemilikan asset PLTMH secara formal adalah atas nama Pemerintah Desa
yang mewakili pemerintah (negara). Kepemilikan masyarakat di sini merujuk
bahwa asset PLTMH sebenarnya adalah milik (pemerintah) yang dikuasakan
kepada masyarakat (pendekatan pemberdayaan masyarakat) untuk dikelola
144

secara mandiri dan digunakan sepenuhnya untuk meningkatkan


kesejahteraan masyarakat perdesaan.
Pengelolaan PLTMH berdasarkan bentuk kelembagaannya dapat bersifat:
1. Formal
Alternatif kelembagaan formal yang mungkin dibentuk antara lain adalah
koperasi dan Badan Usaha Milik Desa. Dalam hal ini, lembaga pengelola
tidak identik dengan pemilik dari asset PLTMH.
2. Informal
Kelembagaan pola seperti ini yang paling banyak dipakai oleh
masyarakat di perdesaan. Kelembagaan yang baik, idealnya walaupun
informal tetapi memiliki aturan tertulis (anggaran dasar dan anggaran
rumah tangga) dan legalitas dari pemerintahan setempat.
Penetapan bentuk kelembagaan juga harus diikuti dengan menyepakati
struktur lembaga dan hubungannya dengan lembaga-lembaga pemerintahan
dan pihak penyandang dana.

6.3.2 Penentuan Personil Lembaga Pengelola PLTMH


Pada prinsipnya, personil lembaga pengelola harus dipilih oleh masyarakat.
Begitu juga, bagaimana pemilihan tersebut dilakukan bergantung pada cara
terbaik menurut masyarakat. Pemilihan bisa dilakukan secara musyawarah
mufakat, voting terbuka atau tertutup, atau pemilihan langsung yang
melibatkan seluruh masyarakat. Pada umumnya hal ini bergantung pada
situasi sosial dan tata cara pemilihan yang biasa dilakukan oleh masyarakat.
Hal yang perlu diperhatikan di sini karena sering luput dari perhatian adalah
bahwa setiap jabatan harus punya batas waktu.

6.3.3 Penyusunan Peraturan


Setelah dicapai kesepakatan mengenai badan usaha yang akan mengelola
PLTMH, maka selanjutnya perlu disusun Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran
Rumah Tangga (ART) serta aturan-aturan tertulis lainnya yang memuat
berbagai kesepakatan yang pernah dibuat, hak dan kewajiban masing-masing
pihak, mekanisme kerja dan pertanggungjawaban, aturan main dan
sebagainya yang bersifat mengikat kepada semua pihak.
Penyusunan AD/ART dan aturan-aturan tertulis lainnya adalah pekerjaan
yang bisa memakan waktu lama. Fasilitator pendamping dapat
memperlihatkan contoh-contoh dari PLTMH yang sudah ada sebagai
pembantu fasilitasi. Perencanaan agenda-agenda pertemuan dalam rangka
penyusunan aturan tertulis sebaiknya dilakukan secara cermat dengan target
yang jelas tentang hasil setiap pertemuan untuk menghindari rapat yang
bertele-tele dan tak berkesudahan.
145

6.3.4 Perencanaan Keuangan


Sebagaimana telah dibahas pada bab sebelumnya, biaya yang harus
ditanggung oleh suatu PLTMH secara garis besar terdiri atas:
1. Biaya modal
2. Biaya operasional dan pemeliharaan.
Cara penghitungan biaya modal tergantung pada skema pembiayaan. Untuk
dana pinjaman, maka biaya modal yang harus dibayar berupa angsuran dan
bunga pinjaman. Untuk dana investasi, maka biaya modal yang harus
dibayar berupa penyusutan dan kembalian (return) untuk investasi.
Sedangkan dana hibah dapat dianggap sebagai investasi oleh masyarakat
pengguna, sehingga biaya penyusutan dan kembalian investasi tersebut
menjadi milik masyarakat. Akumulasi uang dari penyusutan dan kembalian
investasi tersebut harus dipisahkan. Sedapat mungkin dana tersebut tidak
diganggu gugat karena merupakan dana cadangan untuk investasi kembali
ketika PLTMH yang ada perlu diganti dengan yang baru karena sudah habis
umur pakainya. Selain itu, mengingat komponen-komponen PLTMH memiliki
umur teknis yang berbeda, maka penghitungan penyusutan harus dilakukan
terpisah per komponen.
Besarnya biaya pembangunan sudah dapat dihitung berdasarkan desain
teknis PLTMH. Sedangkan masa pengembalian normalnya dihitung
berdasarkan asumsi umur teknis PLTMH, kecuali untuk dana pinjaman yang
bergantung pada negosiasi dengan pemberi pinjaman. Setelah data-data
tersebut diperoleh, kita dapat menghitung jumlah yang harus dikembalikan
setiap bulannya.
Biaya operasional dan pemeliharaan meliputi:
Biaya operasional rutin (gaji pengelola, biaya administrasi, dsb)
Pemeliharaan dan perbaikan terjadwal yang besar biayanya
seharusnya sudah dapat diperkirakan sejak awal
Perbaikan kerusakan-kerusakan tidak terduga.
Untuk item kedua dan ketiga, sebagaimana telah dibahas pada bab
sebelumnya, dianjurkan untuk membuat kontrak standar dan perjanjian
hukum untuk menjamin pasokan suku cadang dan dukungan tenaga teknis
dari kontraktor pemeliharaan PLTMH. Untuk keperluan perencanaan
keuangan, kontraktor tersebut setidaknya harus dapat memberikan jadwal
semua kegiatan pemeliharaan (mulai dari yang ringan, misalnya pelumasan,
sampai yang berat, misalnya overhaul) dan perkiraan kebutuhan biaya untuk
setiap jenis pemeliharaan termasuk penggantian suku cadang. Kontraktor
pembangunan seyogyanya yang harus bertindak untuk memberikan
dukungan teknis pemeliharaan. Kontraktor pembangunan PLTMH harus
bertanggungjawab untuk menyediakan kontraktor pemeliharaan jika yang
bersangkutan tidak sanggup melaksanakannya sendiri.
Berdasarkan hasil penghitungan biaya modal dan biaya operasional serta
pemeliharaan, selanjutnya dapat dihitung berapa besar pendapatan yang
146

harus diperoleh setiap bulannya. Angka inilah yang akan digunakan untuk
menyusun struktur tarif.

6.3.5 Penentuan Tarif


Komponen tarif listrik pada umumnya terdiri atas:
Biaya pemakaian (Rp/kWh), yaitu biaya yang dikenakan berdasarkan
besarnya pemakaian listrik (kWh)
Biaya beban (Rp/kW/bln), yaitu biaya bulanan yang dikenakan
berdasarkan besarnya daya tersambung (kW)
Biaya penyambungan awal, yaitu biaya yang dikenakan pada saat
penyambungan awal yang biasanya ditetapkan dengan
memperhatikan besarnya daya tersambung.

Penentuan besarnya tarif pada prinsipnya berdasarkan tiga hal, yaitu:


Besarnya pendapatan yang harus diperoleh untuk memenuhi semua
kebutuhan keuangan pengelolaan PLTMH
Jumlah pelanggan
Perkiraan penggunaan listrik oleh pelanggan.

Berdasarkan tiga hal tersebut dapat ditentukan berapa besar tarif yang
seharusnya dikenakan kepada konsumen, baik berupa biaya pemakaian,
biaya beban, maupun biaya penyambungan awal. Akan tetapi perlu diingat,
bahwa penetapan tarif juga harus mempertimbangkan hal-hal berikut.
Pemanfaatan yang efisien
Untuk mendorong perilaku efisien, pemakaian yang lebih besar
seharusnya dikenakan tarif yang lebih tinggi
Keadilan dan pemerataan
Harus ada mekanisme untuk menyediaan pelayanan minimum bagi
mereka yang kurang mampu
Dapat diterapkan untuk penghitungan tagihan
Penetapan tarif harus merujuk pada bagaimana penggunaan listrik
oleh pelanggan dapat diukur. Jika tanpa kWh-meter, maka biaya
pemakaian tidak bisa dihitung sehingga hanya bisa dianggap sama
untuk semua konsumen. Karena itu biaya bulanan hanya bergantung
pada daya tersambung.

Untuk lebih menjamin dapat dikembalikannya biaya modal, pada umumnya


biaya modal dibebankan kepada konsumen dalam bentuk biaya beban dan
biaya penyambungan awal. Biaya pemakaian hanya digunakan untuk
menutup biaya operasional dan pemeliharaan. Khusus untuk biaya
penyambungan awal, di beberapa lokasi biaya ini digunakan untuk menutup
biaya pembangunan jaringan transmisi dan distribusi sehingga dapat
dianggap sebagai kontribusi masyarakat dalam pembangunan. Dengan
demikian, cara penyusunan tarif secara umum dapat direkomendasikan
sebagai berikut:
147

Biaya pemakaian (Rp/kWh) dihitung berdasarkan biaya operasional


dan pemeliharaan PLTMH.
Biaya beban (Rp/kW/bulan) ditetapkan hanya untuk menutup biaya
pembangunan sistem pembangkit. Perlu diingat bahwa biaya beban
yang terlalu besar akan memberatkan konsumen yang pemakaian
listriknya (kWh) rendah. Jadi jangan menetapkan biaya beban lebih
tinggi dari yang dibutuhkan.
Biaya penyambungan ditetapkan untuk menutup biaya pembangunan
jaringan transmisi dan distribusi serta instalasi rumah.
Dengan mempertimbangkan besar kemungkinan jumlah konsumen dan
pemakaian daya akan meningkat pada tahun-tahun berikutnya, maka
seharusnya penetapan biaya beban dan biaya penyambungan tidak
berdasarkan jumlah konsumen pada tahun awal.

6.3.6 Penyiapan Administrasi


Penyelenggaraan sistem administrasi yang baik amat berpengaruh terhadap
pengelolaan PLTMH agar dapat berjalan lancar. Perlu diperhatikan
kesederhanaan dalam mendisain sistem administrasi pengelolaan PLTMH.
Lebih jauh tentang administrasi pengelolaan PLTMH akan dibahas pada bab
implementasi pengelolaan.

6.4 PERENCANAAN PEMANFAATAN


Pemanfaatan listrik PLTMH oleh masyarakat perdesaan pada umumnya
digunakan untuk keperluan-keperluan konsumtif rumah tangga. Karena itu
listrik PLTMH praktis hanya digunakan pada malam hari. Pemanfaatan listrik
PLTMH akan lebih optimal dan mendorong pertumbuhan ekonomi
masyarakat jika adanya layanan listrik juga mendorong berkembangnya
kegiatan-kegiatan ekonomi produktif yang memanfaatkan energi listrik pada
siang hari.
PLTMH dibangun untuk memberikan layanan listrik sesuai dengan kebutuhan
masyarakat. Untuk menghindari terjadinya kesenjangan antara layanan yang
diberikan dengan yang diharapkan, maka diperlukan partisipasi masyarakat
untuk menentukan dan merencanakan pemanfaatan listrik PLTMH.
Pada tahun-tahun berikutnya kebutuhan listrik mungkin saja mengalami
peningkatan baik karena bertambahnya konsumen atau meningkatnya
pemakaian oleh konsumen yang ada. Dalam menghadapi permintaan
konsumen baru, pengelola PLTMH cenderung tidak cukup kuat untuk
menolak. Karena bagaimana pun PLTMH tersebut merupakan milik bersama
di mana setiap orang berhak untuk mendapat layanan. Dampaknya adalah
permintaan menjadi terlalu banyak sehingga sistem overload dan tingkat
layanan memburuk. Oleh karena itu pada tahun pertama sebaiknya tidak
semua daya terbangkit dimanfaatkan untuk mengantisipasi peningkatan
permintaan pada tahun-tahun berikutnya.
148

6.4.1 Penentuan Area Pelayanan


Area yang akan dilayani oleh PLTMH pada umumnya ditetapkan berdasarkan
besar daya terbangkit dan lokasi sumber air. Dalam hal ini batasan-batasan
geografis dan administratif seringkali digunakan. Persoalan biasanya muncul
jika potensi daya tidak begitu besar sedangkan beberapa dusun atau
kampung harus terlayani semua agar tidak menimbulkan konflik. Di lokasi-
lokasi yang minat terhadap layanan listrik tinggi sedangkan potensi daya yang
tersedia tidak terlalu besar, penentuan area pelayanan harus dilakukan
dengan sangat hati-hati.
Langkah berikutnya setelah menentukan area pelayanan adalah pendataan
calon konsumen. Angka yang akurat tentang calon konsumen diperlukan
untuk perencanaan penggunaan daya dan perencanaan keuangan. Pada
tahap ini juga disarankan agar sebagian atau uang muka biaya
penyambungan awal diminta dari calon konsumen sebagai tanda bukti bahwa
yang bersangkutan akan benar-benar menjadi konsumen.

6.4.2 Penentuan Tingkat Layanan


Tingkat layanan listrik PLTMH meliputi daya tersambung per konsumen dan
lamanya listrik menyala setiap hari. PLTMH seringkali hanya dioperasikan
pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun
disarankan untuk mengoperasikan sehari penuh untuk mendorong
penggunaan daya pada siang hari.
Besar daya tersambung per rumah baru bisa ditentukan setelah ada
kepastian jumlah konsumen dan kemudian ditentukan berdasarkan potensi
daya terbangkit PLTMH. Pertanyaannya adalah apakah besarnya daya
tersambung tersebut akan selalu tetap atau akan meningkat di masa
mendatang? Permintaan listrik cenderung meningkat baik karena
peningkatan pendapatan, perubahan gaya hidup, maupun peralihan
penggunaan dari bentuk energi final yang lain ke energi listrik. Pada tahap-
tahap awal pengembangan permintaan listrik biasanya justru cenderung
meningkat lebih cepat. PLTMH yang digunakan untuk pelistrikan pedesaan
juga tak lepas dari kecenderungan peningkatan permintaan tersebut.

6.4.3 Penggunaan untuk Kegiatan Produktif


Adanya listrik diharapkan dapat mendorong kegiatan-kegiatan ekonomi
produktif sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,
meningkatkan daya beli, dan pada akhirnya memperlancar iuran listrik. Bagi
PLTMH sendiri, kegiatan-kegiatan produktif yang memanfaatkan energi listrik
pada siang hari akan meningkatkan peluang untuk memperoleh pendapatan.
Usaha-usaha produktif tersebut bisa juga dikelola sendiri oleh pengelola
PLTMH, meskipun idealnya usaha-usaha tersebut tumbuh dengan inisiatif
dan dikelola sendiri oleh konsumen.
Dalam hali ini pengelola sebaiknya mengidentifikasi adanya jenis-jenis usaha
yang mungkin dapat ditingkatkan produktivitasnya melalui penggunaan energi
149

dari PLTMH. Selain menyediakan energi listrik, PLTMH juga dapat


menyediakan energi mekanik yang bisa langsung didapatkan dari putaran
turbin. Oleh karena itu jenis-jenis usaha yang potensial menjadi konsumen
PLTMH dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
Usaha-usaha yang kebutuhan energinya dapat dipenuhi dengan
energi listrik, misalnya tukang jahit, industri mebel, kerajinan kayu,
penggilingan tepung, bengkel motor/mobil, dan sebagainya
Usaha-usaha yang secara teknis bisa dan akan lebih efisien jika
langsung memanfaatkan energi mekanik dari putaran turbin, misalnya
penggilingan tepung, penggilingan padi, dan sebagainya.

Untuk lebih mendorong munculnya usaha-usaha ekonomi produktif, beberapa


kegiatan juga dapat dilakukan seiring dengan pembangunan PLTMH di suatu
lokasi, misalnya:
1. Pemberian bantuan modal
Masyarakat di perdesaan umumnya kurang memiliki akses terhadap
lembaga-lembaga pembiayaan
2. Introduksi teknologi tepat guna
Pemanfaatan PLTMH untuk kegiatan usaha ekonomi produktif seringkali
memerlukan dukungan teknologi tepat guna berupa mesin-mesin,
peralatan kerja maupun teknik-teknik produksi yang mudah dipahami dan
dioperasikan oleh masyarakat
3. Pendampingan, konsultasi manajemen, atau asistensi teknis untuk
membantu masyarakat meningkatkan usahanya.

6.4.4 Interkoneksi dengan Jaringan PLN


Pengembangan lebih jauh dari suatu PLTMH di perdesaan adalah penjualan
listrik dari PLTMH tersebut ke jaringan yang dikelola Perusahaan Listrik
Negara (PLN). Perusahaan Listrik Negara (PLN) dapat membuat suatu
kontrak perjanjian interkoneksi dengan pembangkit-pembangkit listrik kecil
hingga 1 MW. Dalam perjanjian tersebut tercakup hal-hal sebagai berikut.
Perjanjian jual beli
Standar dan jadwal perawatan peralatan interkoneksi
Pemeriksaan interkoneksi
Pengukuran konsumsi listrik
Rekening, dan lain-lain.
150

6.5 CAPACITY BUILDING (PENGEMBANGAN KAPASITAS


SUMBER DAYA MANUSIA)
Perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) atau capacity
building didasari oleh kenyataan bahwa pada umumnya calon pengelola dan
operator PLTMH kurang menguasai keterampilan-keterampilan yang
dibutuhkan untuk mengelola PLTMH. Peningkatan kapasitas tidak hanya
ditekankan pada kemampuan teknis, tetapi perlu juga peningkatan kapasitas
dalam kemampuan manajemen dan administrasi. Dalam kaitannya dengan
pemberdayaan ekonomi di mana PLTMH dapat diposisikan sebagai entry-
point dalam pembangunan ekonomi perdesaan, pengelola PLTMH juga perlu
mendapat peningkatan kapasitas dalam pengembangan dan pengelolaan
usaha.
Identifikasi tentang kebutuhan pelatihan yang telah dilakukan pada studi
kelayakan dapat dipertajam pada tahap persiapan ini. Dengan sudah
jelasnya orang-orang yang menjadi pengurus lembaga pengelola serta
operator dan teknisi, maka identifikasi kebutuhan peningkatan kapasitas serta
metoda yang sesuai dapat dilakukan dengan lebih terarah. Peningkatan
kapasitas dapat dilakukan melalui pelatihan, kunjungan lokasi, praktek
lapangan atau pemagangan, atau asistensi dalam tugas-tugas yang
sebenarnya.
151

7 N DAN PEMELIHARAAN PEMBANGKIT


PENGOPERASIA

LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)

Dalam pengoperasian dan pemeliharaan sebuah PLTMH, sebaiknya sumber


daya manusia yang terlibat setidaknya memiliki pengetahuan dasar tentang:
Kelistrikan
Bangunan Sipil
Permesinan.
Semakin banyak kegiatan pemeliharaan dan perbaikan yang dapat dilakukan
sendiri oleh masyarakat setempat maka beban biaya operasional dan
pemeliharaan akan lebih kecil. Begitu juga, karena tidak perlu menunggu
datangnya tenaga teknis dari luar, kerusakan akan lebih cepat teratasi dan
listrik bisa menyala kembali dengan normal. Selain itu, banyak kerusakan-
kerusakan yang terjadi karena semata-mata salah pengoperasian atau
kurangnya perawatan rutin. Untuk itu pada bab ini akan dibahas prosedur
pengoperasian standar PLTMH dan perawatan serta pemeriksaan rutin
komponen-komponen PLTMH.
152

BANGUNAN SIPIL
BAK
RUMAH
SALURAN BAK PENENANG
INTAKE PEMBANGKIT
BENDUNG PEMBAWA PENGENDAP - saringan
- pintu air - pondasi turbin
- pelimpah - penguras - pintu air
- sal. pembuang
- pelimpah

MEKANIKAL
PIPA PESAT TURBIN TRANSMISI MEKANIK
- pipa nafas
- pulley turbin
- flanges - casing turbin - rumah bearing
- belt (vee atau flat)
- packing - katup turbin - penjebak air
- pulley generator
- adapter (nozzle) - runner - tutup bearing
- plummer block
- gate valve - bearing - tutup turbin
- coupling
- pressure gauge

ELEKTRIKAL
PANEL KONTROL BALLAST LOAD
- water heater
- lampu
EKSITASI : - packing
- kapasitor - penguras
GENERATOR - MCB kap. utama
INDUKSI - MCB kap. bantu INSTALASI
- stator KONSUMEN
- rotor IGC :
- kipas - pcb - konektor
- transformator, fan - kabel 2x10 mm
- gantungan set
- bridge rectifier
- MCB
- IGBT, SSR TRANSMISI DISTRIBUSI
- sekering
- filter kapasitor - tiang
- stop kontak
- arresters - tiang
- fitting lampu
- tarik tegang set - tarik tegang set
- meter (Hz,Volt,Amp) - kabel NYM 2x1.5 mm
ARDE - kontaktor, NFB, MCB
- gantungan set - gantungan set
- konektor - konektor
- pipa GI - terminal, dll - kabel 4x70 mm - kabel 2x16 mm
- Kabel BC 16 mm - arde - arde

Gambar 35. Bagian-bagian Sistem PLTMH dengan Menggunakan Sistem Kontrol


Induction Generator Controller/IGC
153

BANGUNAN SIPIL
BAK
RUMAH
SALURAN BAK PENENANG
INTAKE PEMBANGKIT
BENDUNG PEMBAWA PENGENDAP - saringan
- pintu air - pondasi turbin
- pelimpah - penguras - pintu air
- sal. pembuang
- pelimpah

MEKANIKAL
PIPA PESAT TURBIN TRANSMISI MEKANIK
- pipa nafas
- pulley turbin
- flanges - casing turbin - rumah bearing
- belt (vee atau flat)
- packing - katup turbin - penjebak air
- pulley generator
- adapter (nozzle) - runner - tutup bearing
- plummer block
- gate valve - bearing - tutup turbin
- coupling
- pressure gauge

ELEKTRIKAL
PANEL KONTROL BALLAST LOAD
- water heater
ELC - lampu
- main circuit board - packing
- GP transformator
GENERATOR - SCR module
- penguras
- bus bar
SINKRON - trafo arus - pipa kontrol INSTALASI
- stator - frequency trip board
- kontaktor KONSUMEN
- rotor
- push button
- kipas - ballast fuse - konektor
- AVR - lampu pilot - kabel 2x10 mm
- meter (Volt ,Amp,Hz) - gantungan set
- terminal - MCB
TRANSMISI DISTRIBUSI
- sekering
- tiang
PANEL SEKUNDER - stop kontak
- arresters - tiang
- fitting lampu
- trafo arus - tarik tegang set - tarik tegang set
- kabel NYM 2x1.5 mm
ARDE - NFB - gantungan set - gantungan set
- KWH meter - konektor - konektor
- pipa GI - hour meter - kabel 4x70 mm - kabel 2x16 mm
- Kabel BC 16 mm - relay & saklar sirine - arde - arde

Gambar 36. Bagian-bagian Sistem PLTMH dengan Menggunakan Sistem Kontrol


Electronic Load Controller/ELC
154

7.1 MENGOPERASIKAN PLTMH

7.1.1 Proses Menyalakan dan Mematikan PLTMH


1. Menyalakan PLTMH
Ubah posisi NFB menjadi OFF.
Buka penutup pintu air (gate valve) pada bak penenang.
Buka katup turbin (guide vane) secara perlahan-lahan. Tekan
tombol START pada overvoltage trip pada waktu yang bersamaan.
Pada saat tegangan generator menunjukkan angka 150 volt akan
terdengar bunyi klik yang menandakan bahwa relay eksitasi telah
berfungsi.
Lepaskan tombol START dan secara perlahan-lahan buka katup
turbin. Voltmeter ballast akan mulai bekerja, sementara tegangan
dan kecepatan generator tetap. Keadaan ini harus berlangsung
selama 10 detik atau lebih untuk kemudian membuka katup turbin
sepenuhnya.
Sambungkan beban utama dengan merubah posisi NFB menjadi ON.
Jika tegangan ballast menurun menjadi 0 volt, maka terdapat cukup
daya yang dibangkitkan atau terlalu banyak beban pada sistem.
Load controler tidak dapat menahan generator agar berkecepatan
konstan.
Kendalikan tekanan air (head pressure) pada pressure gauge 30
menit kemudian untku memastikan apakah tidak terjadi penurunan
muka air di bak. Jika terjadi penurunan dibawah tekanan statik (static
pressure) maka katup turbin telah dibuka terlalu besar atau tidak
terdapat cukup air yang masuk ke dalam bak penenang (periksa dan
pastikan). Bila hal ini terjadi maka tutup katup turbin secara
perlahan-lahan sampai tekanan air menjadi normal kembali.
Sepanjang siang hari penggunaan beban biasanya lebih rendah
dibanding sore dan malam hari (disebut beban puncak). Oleh sebab
itu bukaan katup turbin dapat diperkecil. Sebelum terjadi kenaikan
beban pada beban puncak, bukaan katup turbin harus diperbesar.
2. Mematikan PLTMH
Tutup katup turbin secara perlahan-lahan (tidak lebih cepat dari 5
detik).
Tutup katup bak penenang (pintu air).
Ubah posisi NFB menjadi OFF.

7.1.2 Optimisasi Daya Keluaran (Debit Rendah pada Musim


Kemarau)
Sepanjang musim kemarau perhatian khusus harus diberikan untuk menjamin
bahwa seluruh air yang dibutuhkan dapat masuk pada saluran intake dan
155

tidak terdapat kebocoran. Jika terjadi penurunan debit dari yang


direncanakan maka akan terjadi penurunan keluaran daya pada saat normal.
Untuk memelihara keluaran daya maksimum yang memungkinkan, sangat
penting untk membuka katup turbin pada posisi yang tepat. Jika bukaan
kecil, maka keluaran daya akan rendah meskipun terdapat air yang cukup di
bak penenang. Jika bukaan terlalu besar, tekanan air (head pressure) akan
menurun dan udara akan masuk sehingga daya keluaran akan menurun
secara tajam.
Ikuti langkah-langkah dibawah ini untuk mengatur bukaan katup turbin
sehingga akan didapat daya maksimum selama musim kemarau.
Buka katup turbin sebesar yang diperkirakan untuk debit yang ada.
Ubah posisi NFB menjadi ON, dan tunggu selama 30 menit. Jika
tekanan tetap sama, buka katup turbin sedikit lebih besar.
Tunggu selama 30 menit berikutnya. Jika tekanan air masih tetap
sama, maka buka katup turbin sedikit lebih besar lagi. Demikian
seterusnya.
Ketika tekanan turun, tutup katup turbin sedikit. Ubah posisi NFB
menjadi OFF. Kendalikan tegangan pada ballast. Tutup katup turbin
sampai tekanan kembali ke normal. Nyalakan kembali dan buka
katup sampai tegangan ballast sama dengan sebelumnya kemudian
ubah posisi NFB menjadi ON.
Periksa 30 menit kemudian. Jika tekanan tetap seperti semula, lebih
baik mengamati bak penenang dan melihat apakah terjadi pusaran air
sehingga udara terhisap ke pipa pesat. Sebaiknya tetap ada sedikit
overflow.
Periksa saat petang (jam 18.00 sampai 20.30), berapa besar
penurunan tegangan generator. Tegangan generator sebaiknya
sebesar 205 Volt atau lebih. Jika lebih rendah dari besaran ini
menunjukkan beban yang sangat besar atau debit air yang kurang
(periksa pada bak penenang).

7.1.3 Pembacaan Meteran (untuk Beban ke Konsumen dan


Daya Keluaran)
Meteran (alat ukur) di rumah pembangkit dapat dipergunakan sebagai alat
untuk menghitung secara kasar beban ke konsumen dan total daya keluaran
dari fasilitas pembangkit.
1. Untuk Beban ke Konsumen
Untuk menghitung beban ke konsumen perhatikan tegangan generator serta
beban arus R, Y dan B yang tercantum pada masing-masing meter.
Sebagai contoh:
Tegangan generator = 226 Volt
Arus R = 63 Ampere
Arus Y = 71 Ampere
156

Arus B = 55 Ampere
Maka beban ke konsumen dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut:

P Vg A1 Vg A2 Vg A3
= 226 63 226 71 226 55
= 14238 + 16046 + 12430
= 42714 Watt 42.7 kW

2. Daya Keluaran
Jika switch utama pada posisi OFF, baca tegangan ballast R, Y & B.
Sebagai contoh:
Tegangan ballast R (A1) = 183 Volt
Tegangan ballast Y (A2) = 178 Volt
Tegangan ballast B (A3) = 183 Volt
Tegangan statis ballast (Vb) adalah 240 Volt
Setiap phasa ballast 15 kilowatt
Maka daya yang dibangkitkan dapat dihitung sebagai berikut:
A 2 A 2 A 2
P 1 2 3 15 kW
Vb Vb Vb

183 2 178 2 183 2
= 15 kW
240 240 240

= 0.581 0.550 0.653 15 kW
= 1.694 15 kW
= 25.4 kW

Jika switch utama pada posisi ON maka daya yang terbangkit adalah
penjumlahan dari beban ke konsumen dan daya yang menuju ballast load.

7.1.4 Deteksi Ketidaknormalan Putaran Turbin


Jika benda yang cukup besar masuk ke dalam penstock, benda tersebut
dapat menghambat turbin. Benda ini menghalangi semburan air, sehingga
daya keluaran menjadi turun. Hambatan turbin dapat dideteksi dengan
putaran yang tidak beraturan dan suara normal putaran turbin yang
mengalami perubahan.
Untuk menghilangkan hambatan ini, penstock harus dikosongkan dengan
menutup pintu air pada bak penenang. Jika tidak terdapat, pintu air dapat
disumbat. Setelah itu, penutup bagian atas (top cover) turbin dapat diangkat
dan runner dapat dibersihkan dari segala macam kotoran.
157

7.2 MERAWAT DAN MEMELIHARA PLTMH

7.2.1 Bendungan
Deskripsi:
Bendungan (weir) diletakkan/dibuat melintang arah aliran air untuk
mendapatkan jumlah air yang dibutuhkan oleh turbin. Pada bendungan
biasanya terdapat pintu air untuk membersihkan sedimen-sedimen kasar
yang terbawa oleh air.
Pekerjaan Perawatan:
Setelah setiap musim hujan berlalu, bendungan (weir) harus diperhatikan
secara seksama, bendungan yang menggunakan bronjong seringkali harus
mengalami perbaikan-perbaikan. Sepanjang musim kemarau periksa apakah
terdapat kebocoran-kebocoran pada bendungan. Jika terjadi banyak
kebocoran, harus segera diperbaiki. Biasanya bendungan bronjong dapat
tahan selama 5 tahun sebelum harus diperbaiki kembali, sedangkan untuk
bendungan tetap biasanya dapat tahan untuk jangka waktu 20 tahun.
7.2.2 Intake

Deskripsi:
Intake adalah bangunan untuk menyadap air yang akan dialirkan ke turbin.
Pada intake biasanya terdapat saringan untuk menahan kotoran.
Pekerjaan Perawatan:
Periksa apakah pada bangunan intake terdapat kebocoran. Bersihkan
kotoran-kotoran yang menyangkut pada saringan yang menghalangi air untuk
masuk.

7.2.3 Saluran Pembawa


Deskripsi:
Saluran pembawa adalah saluran yang membawa air dari intake ke bak
pengendap atau bak penenang sehingga mengurangi daya infiltrasi.
Pekerjaan Perawatan:
Saluran pembawa biasanya berlokasi pada daerah yang cukup terjal dan
mempunyai kecenderungan untuk longsor. Oleh sebab itu pemeriksaan
secara berkala harus dilakukan untuk mencegah kebocoran atau kelemahan-
kelemahan lainnya.
158

7.2.4 Bak Pengendap dan Penenang


Deskripsi:
Pada bak pengendap dan penenang, air akan mengalami perlambatan
sehingga partikel yang kecil (di atas 0,3 mm) dapat mengendap di dasar
kolam. Partikel ini harus dihilangkan dari air yang akan memasuki turbin
karena dapat menyebabkan runner turbin mengalami penggerusan
(terganggu). Bak pengendap ini kadang-kadang juga berfungsi sebagai bak
penenang. Pintu air yang terdapat pada bak ini dimaksudkan untuk menguras
endapan-endapan yang terjadi. Pengurasan harus dilakukan setiap 2 atau 3
hari sekali.
Pekerjaan Perawatan:
Pemeriksaan secara berkala untuk melakukan pengurasan.

7.2.5 Pipa Pesat (Penstock)


Deskripsi:
Penstock berfungsi untuk menghantarkan air dari bak penenang ke turbin
tanpa kehilangan massa maupun tekanan. Diameter penstock tergantung
dari debit maksimum yang dibutuhkan. Setiap segmen penstock
dihubungkan dengan flange dan disambungkan dengan mur dan baut. Karet
packing dipasang di antara flange. Pada kondisi tertentu di mana pemuaian
dan pengerutan penstock sangat besar sehingga tidak dapat terakomodir oleh
penstock sehingga penstock tidak dapat tersangga dengan baik pada
tempatnya. Oleh karena itu dibutuhkan penyangga penstock yang memiliki
spesifikasi tertentu yang dapat menjaga penstock agar tetap tersangga
denagn baik dan dapat berfungsi dengan baik pula.
Pekerjaan Perawatan:
Periksa penstock setiap minggu, apakah terdapat kebocoran atau keretakan.
Jika keluar melalui flange, kencangkan baut dan mur. Jika kebocoran masih
terjadi atau terdapat keretakan pipa hubungi pelaksana pembangunan
PLTMH. Periksa setiap 1 tahun sekali dan pastikan bahwa tidak ada air yang
mengalir melalui bagian bawah dudukan penstock. Secara berkala potonglah
rumput/tumbuhan lainnya yang tumbuh di sekitar pipa. Pastikan pula tidak
terdapat tanah atau gundukan tanah yang menempel pada pipa karena ini
akan mempermudah proses karat (korosi). Lakukan pengecatan paling
lambat 2 tahun sekali, hal ini untuk memperlambat proses karat.
159

Rutin per Tahun Musim


Musim
No Jenis Bangunan (Kondisi Kemarau
Banjir
Normal) Panjang
1. BENDUNGAN & INTAKE
Cek posisi batu besar sekitar sebulan sekali setiap hari
bendung
Cek posisi badan bendung/ sebulan sekali setiap hari
bronjong
Cek kebocoran dan semusim
penggerusan sekali
2. PINTU AIR
Pemberian stempet pada ulir sebulan sekali
Pengaturan lebar bukaan tergantung tergantung
kebutuhan kebutuhan
3. SALURAN PEMBAWA
Cek kebocoran dan kelebihan seminggu sekali setiap hari
debit
Keringkan dan bersihkan tiga bulan sekali
saluran
Penambalan kebocoran dan setahun sekali
perbaikan umum
4. BAK PENGENDAP
Kosongkan dan bersihkan sebulan sekali setiap hari
5. BAK PENENANG
Bersihkan saringan setiap hari
Kosongkan dan bersihkan seminggu sekali sebulan sekali seminggu
dua kali
6. PONDASI PIPA PESAT
Cek terhadap kemungkinan enam bulan sekali semusim
retak, penggerusan oleh air dan sekali
tanah amblas (turun)
7. RUMAH PEMBANGKIT
Cek tebing sungai dari setahun sekali
penggerusan
Cek kelancaran air dari saluran setiap hari
pembuang

Tabel 27. Perawatan/Pemeliharaan Bangunan Sipil PLTMH

7.2.6 Turbin
Deskripsi:
Di dalam turbin terjadi konversi energi air menjadi energi mekanik yang akan
menggerakkan generator. Air bertekanan memasuki turbin melalui adapter
(nozzle). Pada nozzle dipasang alat untuk mengukur besarnya tekanan air.
Pekerjaan Perawatan:
Bearing turbin (2 buah) harus diperiksa setiap hari untuk mengetahui adanya
pemanasan yang melebihi kewajaran atau adanya kebisingan/keretakan.
Tambahkan pelumas sesuai dengan yang diperlukan. Seminggu sekali lumasi
bearing. Setelah 5 tahun sebaiknya bearing tersebut diganti meskipun
bearing yang ada masih dapat dipergunakan. Jangan biarkan turbin bekerja
dengan bearing yang usang, hal tersebut akan merusak turbin bahkan
160

generatornya. Hal ini perlu dihindarkan sebab kedua barang tersebur


harganya sangat mahal. Dudukan turbin (housing) harus diperiksa setiap
minggu untuk mencegah hal-hal yang mengganggu lancarnya pengoperasian
turbin. Jika terdapat kelainan perbaiki sesuai dengan kadar kerusakannya.
Turbin Crossflow sangat mudah perawatannya. Perawatan yang perlu
dilakukan hanyalah memberi grease secara teratur dan benar. Sebaiknya
selalu gunakan grease SKF LGMT 3. Sesuai dengan yang disarankan oleh
SKF untuk spherical roller bearing (bearing turbin) berilah grease sesuai
dengan kecepatan putarnya, sebanyak 32 gram. Pemberian grease yang
terlalu banyak akan menyebabkan rumah bearing menjadi sesak akibatnya
putaran bearing tidak lancar dan timbul panas. Setelah pemberian grease
yang ketiga kalinya, sebaiknya bearing dibersihkan dari sisa-sisa grease yang
lama dengan minyak tanah dan diisi kembali dengan grease yang seluruhnya
baru. Untuk pemberian grease pada katup (guide vane), karena bearing pada
katup sifatnya hanya sekedar mempermudah gerakan dan bearing tidak
berputar dalam kecepatan yang tinggi, maka fungsi grease lebih ditujukan
untuk melindungi bearing dari karat. Untuk katup berilah grease setiap 500
jam sekali, sebanyak 32 gram. Turbin setiap hari harus dibersihkan dengan
lap agar embun yang menempel pada turbin cepat kering, embun yang
masuk ke lubang baut akan menyebabkan karat.

DAERAH HEAD, METER


< 10 10 - 20 20 - 40 40 - 60
TURBIN 2500 jam 2000 jam 1000 jam 750 jam
KATUP TURBIN 500 jam
PLUMMER BLOCK 750 jam
Tabel 28. Jadwal Pemberian Grease (Stempet)

7.2.7 Transmisi Mekanik


Deskripsi:
Transmisi mekanik terdiri dari pulley turbin, vee belt dan pulley generator.
Untuk sistem transmisi mekanik dengan flat belt terdiri dari pulley turbin,
pulley generator, flat belt, Plummer Block (yang berisi 2 buah Spherical roller
bearing dan 2 buah housing bearing) dan flexible couplings. Pulley
dikuncikan pada poros dengan spi. Pulley berfungsi untuk menaikkan
putaran sehingga putaran generator sesuai dengan putaran daerah kerjanya
(1550 RPM untuk generator induksi dan 1500 RPM untuk generator sinkron).
Perbandingan antara diameter pulley turbin dan diameter pulley generator
menentukan perbandingan kecepatannya dan dirumuskan sebagai berikut:
161

dt vg

dg vt
Di mana:
dt = diameter pulley turbin (mm)
dg = diameter pulley generator (mm)
vt = kecepatan turbin (rpm)
vg = kecepatan generator (rpm).

Belt berfungsi untuk menyalurkan daya poros turbin ke poros generator. Belt
harus cukup tegang sesuai dengan jenis dan ukurannya. Belt dikencangkan
oleh baut penarik pada chasis generator. Belt yang kendor akan
menyebabkan slip. Plummer block berfungsi untuk menahan tarikan/beban
dari belt sehingga bearing generator tidak menerima beban tarik yang
terlampau berat. Flexible couplings berfungsi untuk menghubungkan poros
generator dengan poros pada plummer block. Dengan adanya flexible
couplings ini maka kelurusan (alignment) antar poros tidak menuntut toleransi
yang terlalu tinggi.
Pekerjaan Perawatan:
Periksa baut spi sebulan sekali, kencangkan bila terasa longgar. Jaga agar
belt jangan sampai kena air atau grease. Berilah grease SKF LGMT3
sebanyak 15 gram untuk masing-masing bearing pada plummer block setiap
750 jam sekali, setelah pemberian grease yang ketiga (jam ke 2250), buka
housing bearing dan bersihkan bearing dengan minyak tanah dan isi kembali
dengan grease yang baru. Periksa flexible couplings minimal satu minggu
sekali untuk memastikan bahwa karet di dalamnya masih baik. Lakukan
pergantian karet coupling 6 bulan sekali.
162

No. Jenis Gangguan Kemungkinan Penanggulangan


dan Tanda-tanda Penyebabnya dan Perbaikan
M- KURANG AIR
01 PRESSURE GAUGE PINTU AIR pada MATIKAN PEMBANGKIT (MP),
tidak mencapai garis BENDUNG atau BAK buka pintu air sampai penuh,
merah PENENANG belum buang benda-benda yang
Tegangan pada dibuka penuh atau menyumbat
BALLAST METER atau tersumbat Kurangi bukaan KATUP TURBIN
BALLAST VOLT kurang MUSIM KEMARAU, sampai PRESSURE GAUGE
dari biasanya sumber air berkurang mencapai garis merah kembali
banyak
M- TURBIN kemasukkan
02 BENDA KERAS
Terdengan suara berisik SARINGAN pada BAK MP, kosongkan air di PIPA PESAT,
yang berulang-ulang PENENANG ada yang buka TUTUP TURBIN, buang benda
pada ADAPTER atau di jebol atau renggang keras dan tutup kembali dengan
dalam TURBIN SILIKON atau PACKING
Gerakan KATUP Perbaiki SARINGAN
TURBIN tidak normal
M- GETARAN TURBIN
03 berlebihan Baut-baut pada CHASIS MP, kencangkan kembali baut-baut
Timbul getaran dan TURBIN ada yang lepas yang kendor atau lepas
suara bising yang lebih atau longgar
keras dari pada
biasanya
Putaran PULLEY tidak
center
M- SLIP pada BELT
04 Putaran TURBIN dan BAUT PENARIK BELT MP, kencangkan BAUT CHASIS
GENERATOR tidak longgar GENERATOR, pertahankan
stabil, terdengar BELT sudah sangat kelurusan PULLEY (cek dengan
menyentak-nyentak kendor, usia pakai (life benang nylon), kencangkan
BELT berbunyi lebih time) sudah habis BAUT PENARIK BELT ke posisi
keras dari biasanya semula (garis batas),
kencangkan kembali BAUT
CHASIS GENERATOR
Ganti dengan BELT BARU
sesuai TIPE dan UKURANNYA,
bila kesulitan, hubungi
KONTRAKTOR ybs
M- BEARING terlampau Terlalu banyak diberi MP, buka RUMAH BEARING,
05 PANAS STEMPET kurangi STEMPET, jalankan
Temperatue BEARING Banyak KOTORAN PEMBANGKIT, cek kembali
melebihi biasanya, tidak atau STEMPET LAMA temperatur BEARING
tahan dipegang oleh yang menumpuk pada MP, buka RUMAH BEARING,
tangan BEARING buang STEMPET LAMA,
SEAL rusak, BEARING bersihkan BEARING dengan
kemasukian air MINYAK TANAH, isi kembali
dengan STEMPET BARU
Apabila bocor berlebihan,
hubungi KONTRAKTOR ybs

Tabel 29. Pengenalan dan Penanggulangan Gangguan Mekanik (Untuk PLTMH yang
menggunakan Turbin Crossflow)
163

No. Jenis Gangguan Kemungkinan Penanggulangan


dan Tanda-tanda Penyebabnya dan Perbaikan
M- BEARING RUSAK
06 Timbul suara berisik Terlambat/kurang Ganti dengan BEARING
(gesekan antar besi) diberi STEMPET BARU sesuai TIPE dan
melebihi biasanya Mutu STEMPET tidak UKURANNYA, bila kesulitan
Apabila RUMAH bagus segera hubungi
BEARING dibuka dan Usia pakai BEARING KONTRAKTOR ybs
PULLEY diputar, terlihat sudah habis
putaran BEARING TIDAK
LANCAR
M- Getaran GENERATOR
07 berlebihan BAUT CHASIS MP, kencangkan BAUT yang
Getaran Generator GENERATOR lepas/ longgar
melebihi biasanya longgar Kencangkan dan ganti karet
FLEXIBLE baru
Bunyi berisik dari COUPLINGS longgar
FLEXIBLE COUPLINGS atau karetnya
rusak/aus

Tabel 30. Pengenalan dan Penanggulangan Gangguan Mekanik (Untuk PLTMH yang
menggunakan Turbin Crossflow), lanjutan

7.2.8 Generator
Deskripsi:
Generator mengkonversi energi mekanik menjadi energi listrik. Generator ini
digerakkan secara langsung melalui perantara belt. Untuk menghasilkan
listrik, generator menghubungkan magnet permanen yang ada.
Pekerjaan Perawatan:
Periksa generator setiap hari untuk tingkat pemanasan yang melebihi
kewajaran. Badan generator boleh menjadi hangat, tetapi seandainya telapak
tangan sudah tidak dapat diletakkan di badan generator secara wajar maka
hal ini sudah di luar kebiasaan. Periksa saluran-saluran ventilasi, apakah
terhalangi atau tidak. Buka jendela rumah turbin jika diperlukan. Bersihkan
badan generator, jika hal ini masih belum dapat menolong, segera hubungi
pelaksana pembangunan PLTMH. Setiap setahun sekali buka tutup ventilasi
generator dan bersihkan dari debu-debu yang menempel, sarang laba-laba
dan kotoran lainnya agar dapat memungkinkan udara pendingin mengalir
dengan baik. Bearing generator tidak memerlukan pelumasan karena telah
dibuat sedemikian rupa dan dilindungi dari pabrik pembuatnya. Setelah
bekerja selama 5 tahun terus menerus, maka bearing perlu untuk diganti.
Periksa setiap hari adanya kemungkinan kebisingan atau getaran yang
berlebihan, jika hal ini terjadi kencangkanlah baut dan mur serta kopling yang
longgar. Periksa kelurusan tata letak dengan memutar poros dengan tangan,
poros harus harus dapat berputar dengan mudah tanpa dipaksa. Jika terdapat
getaran yang mencurigakan, hal ini harus dilakukan oleh orang yang telah
berpengalaman.
164

7.2.9 Switch dan Kabel Penghantar Daya


Deskripsi:
Kabel penyalur daya adalah kabel yang menghubungkan generator ke Panel
Kontrol. Switch NFB dipergunakan untuk mengalirkan listrik ke pusat beban
(desa/konsumen) dan juga berfungsi untuk melindungi Panel Kontrol dan
generator jika terjadi hubungan pendek di Jaringan Distribusi.
Pekerjaan Perawatan:
Periksa setiap minggu seluruh kabel penghantar daya dengan cara
menyentuh dan menggenggamnya. Kabel ini harus cukup dingin dan agak
hangat. Jika hangat kencangkan semua sambungan, jika sepatu kabel
menjadi hitam atau berubah warna, buanglah sepatu kabel tersebut dan ganti
dengan yang baru. Jaga kebersihan NFB dengan lap setiap saat yang
diperlukan.

7.2.10 Automatic Voltage Regulator (AVR)


Deskripsi:
AVR berfungsi untuk mengatur tegangan agar tetap konstan pada besaran
yang diinginkan dan tidak tergantung pada kecepatan generator.
Pekerjaan Perawatan:
Perawatan yang diperlukan oleh alat ini hanya melakukan pembersihan kotak
dari luar. Jika terjadi kelainan jangan melakukan pembongkaran kotak sendiri,
hubungi pelaksana pembangunan PLTMH.
7.2.11 Over Voltage Trip

Deskripsi:
Alat ini mencegah konsumen dan generator dari kejadian adanya tegangan
yang berlebihan (over voltage). Kejadian ini hanya mungkin terjadi kalau AVR
gagal/tidak berfungsi dengan baik. Alat ini terdapat pada kotak AVR.
Pekerjaan Perawatan:
Untuk alat ini tidak diperlukan perawatan yang kontinu.

7.2.12 Sistem Kontrol Beban (Electronic Load Controller /


ELC)
Deskripsi:
Sistem Kendali ELC (Electronic Load Controller) harus dianggap sebagai satu
kesatuan, yang terdiri dari Panel Kontrol ELC, Panel Sekunder (Panel hubung
bagi) dan Ballast Load.
165

Pada Panel Kontrol ELC terdapat:


Terminal, yaitu tempat untuk kabel sesuai dengan jalur rangkaiannya.
Main Circuit Board, merupakan pusat (otak) dari sistem Kendali ELC.
Pada Main Circuit Board ini terdapat tombol setting (penyetelan) ELC
yang bertuliskan FREQ, STAB, BALANCE dan COMP. Pada saat uji
coba tombol setting ini telah di-set dengan benar. SAMA SEKALI
TIDAK DIPERBOLEHKAN merubah dan mengutak-atik tombol
setting.
Frequency Trip Board, merupakan alat pengaman apabila terjadi
beban lebih (over load) di konsumen. Alat ini akan memerintahkan
kontaktor untuk memutuskan hubungan dengan beban konsumen.
Pada Frequency Trip Board ini terdapat tombol setting yang
bertuliskan L dan H. Pada saat uji coba tombol setting ini telah di-set
dengan benar. SAMA SEKALI TIDAK DIPERBOLEHKAN merubah
dan mengutak-atik tombol setting.
Kontaktor, digunakan untuk menyalakan dan mematikan arus listrik
ke arah jalur konsumen. Kontaktor dinyalakan dengan cara menekan
tombol Push Button ON (warna hijau). kontaktor dapat dimatikan
secara otomatis atas perintah dari Frequency Trip Board.
SCR (Thyristor) Module, dalam ELC terdapat 3 buah SCR Module
yang masing-masing merupakan SCR untuk jalur R, Y dan B. SCR
duduk pada sirip aluminium (heat sink). Sirip alumunium ini berguna
untuk melepaskan/menyalurkan panas yang dikeluarkan oleh body
SCR. SCR mengatur jumlah arus yang boleh dilepaskan ke ballast
load sesuai dengan perintah dari Main Circuit Board. Di atas SCR
Module terdapat lubang ventilasi udara untuk mengalirkan panas ke
luar panel. Lubang ini harus selalu dalam keadaan bersih dan bebas.
SAMA SEKALI DILARANG MELETAKKAN SESUATU DI ATAS
LUBANG VENTILASI yang menyebabkan lubang ventilasi
terhalang/tertutup.
Ballast Fuse, terletak di antara terminal untuk ballast load dan jalur
menuju SCR Module. Terdapat tiga buah ballast fuse untuk masing-
masing jalur. Ballast fuse berfungsi untuk memutuskan arus ke
ballast load apabila terjadi hubungan singkat (short) pada ballast.
Ballast fuse merupakan fuse (sekering) tipe semikonduktor yang
mempunyai kemampuan memutus arus dalam waktu yang sangat
cepat, sehingga kerusakan pada SCR Module dapat dihindari.
Apabila ballast fuse putus (dapat dicek dengan OHM Meter), harus
diganti dengan ballast fuse yang sama. JANGAN SAMPAI
MENGGANTI BALLAST FUSE DENGAN SEPOTONG KABEL.
GP Transformer, merupakan trafo untuk memberikan catu daya bagi
Main Circuit Board. Masukan (input) dari trafo ini adalah tegangan
antara phasa R dengan netral-nya, keluaran (output) dari trafo berupa
tegangan AC 18 Volt.
Trafo Arus (Current Transformer), terdapat tiga buah Trafo Arus pada
jalur generator input. Keluaran dari Trafo Arus ini mencerminkan arus
yang dikeluarkan/dihasilkan oleh generator dan dapat dibaca pada
Ampere Meter (Alt. Current). Tiga buah Trafo Arus lagi terletak pada
166

jalur menuju konsumen. Keluaran dari Trafo Arus ini dipakai sebagai
sensor untuk pemeriksaan di Main Circuit Board.
Meter, yang terdiri dari: Phase Voltmeter, angka yang terbaca
merupakan tegangan antara phasa dengan Netral yang dihasilkan
oleh generator. Ampere Meter, angka yang terbaca merupakan arus
yang dihasilkan generator untuk masing-masing phasa. Frekuensi
Meter, angka yang terbaca adalah frekuensi yang dibangkitkan oleh
generator. Ballast Voltmeter, angka yang terbaca menunjukkan
tegangan yang ada di Ballast Load untuk masing-masing phasa.
Push Button, yang terdiri dari dua macam, warna hijau, untuk
menyalakan kontaktor dan warna merah untuk mematikan.
Lampu Pilot, yang terdiri dari dua macam, warna hijau, dimana bila
menyala menunjukkan bahwa kontaktor siap dinyalakan, dan warna
merah, yang bila menyala menunjukkan bahwa kontaktor sudah
menyala.
Panel Sekunder, yang terdiri dari:
Trafo Arus, keluaran dari alat ini menunjukkan arus yang digunakan
oleh konsumen yang dibaca oleh kWh Meter.
NFB (No Fuse Breaker), merupakan saklar yang menghubungkan ke
konsumen. Fungsi utama dari NFB adalah untuk memutuskan arus
bila terjadi hubungan singkat (short) di Jalur Transmisi atau Jaringan
Distribusi, sehingga arus hubungan singkat tidak sampai ke
generator. Pada jalur keluar NFB, dipasang varistor sebagai
pengaman apabila terjadi tegangan kejut lebih dari 500 Volt.
KWH Meter, angka yang terbaca menyatakan jumlah kilo watt - jam
yang telah digunakan oleh seluruh konsumen.
Hour Meter, angka yang terbaca menyatakan jam operasi pembangkit
yang telah dicapai.
Ballast Load, terdiri dari:
Air Heater, yang dipasang paralel untuk masing masing phasa.
Kapasitas masing-masing heater tercantum pada pangkal heater.
Bus Bar, merupakan terminal yang berupa plat tembaga, ada 4 buah
Bus Bar. 3 untuk masing masing phasa dan 1 buah untuk netral, Bus
Bar duduk pada isolator.
Pekerjaan Perawatan:
Periksa ikatan kabel di terminal Generator, ELC, NFB dan Ballast Load
sebulan sekali, kencangkan bila longgar. Pemeriksaan ini harus dilakukan
dalam kondisi pembangkit tidak beroperasi (mati). Lakukan pengukuran OHM
(tahanan) pada terminal Ballast Load di ELC (antara phasa dan netral)
seminggu sekali untuk memastikan semua ballast berfungsi dengan baik.
Hal-hal yang harus dihindarkan selama menjalankan pembangkit dengan
menggunakan sistem kontrol ELC:
167

Jangan membiarkan pembangkit dinyalakan pada daerah frekuensi


rendah, segera buka katup turbin untuk mencapai tegangan dan
frekuensinya yang telah di-set.
Pada daerah bukaan katup turbin dan ballast volts tertentu, akan
terjadi peristiwa hunting, dimana putaran turbin dan generator
terdengar menyentak-nyentak dan tidak stabil. Segera hindari
kejadian hunting tersebut dengan menambah bukaan katup turbin.
Jangan menyalakan beban ke konsumen sebelum turbin dibuka pada
daerah kerja maksimalnya.
Pada saat beban konsumen belum maksimal (penyambungan
instalasi masih terus berlangsung), jangan menyalakan pembangkit
pada daya maksimalnya. Setelah NFB ke konsumen dinyalakan,
kurangi bukaan katup turbin sampai BALLAST VOLTS menunjukkan
angka 30 Volt.

7.2.13 Pentanahan (Grounding/Earthing)


Deskripsi:
Alat ini berfungsi untuk mencegah terjadinya kejutan listrik (electric shock)
pada manusia jika terjadi kegagalan fungsi alat. Alat ini terdiri dari satu pipa
yang ditanam didalam tanah yang dihubungkan dengan kabel netral dan
penangkal petir.
Pekerjaan Perawatan:
Periksa setiap tahun kabel tanah di sekitar rumah pembangkit dan
sambungan-sambungannya dengan seluruh kotak metal, switch, badan
generator, badan turbin dan ballast load. Periksa sambungan dan
kencangkan bila longgar.

7.2.14 Jaringan Transmisi dan Distribusi


Deskripsi:
Jaringan transmisi dan distribusi adalah jaringan kabel yang berfungsi untuk
mengalirkan/menghantarkan listrik dari rumah pembangkit ke pusat beban
(desa/konsumen) dengan drop maksimum sebesar 20 Volt. Kabel yang
digunakan untuk tegangan rendah adalah kabel alumunium yang berisolasi,
sedangkan untuk tegangan tinggi menggunakan kabel tanpa isolasi dengan
diameter yang lebih besar. Rumah konsumen dihubungkan dengan kabel
jaringan ini dan diperhitungkan denga cermat agar dapat diterima oleh ketiga
phasa yang ada dengan seimbang.
Pekerjaan Perawatan:
Periksa setahun sekali tiang jaringan terhadap gangguan-gangguan yang
diakibatkan oleh adanya tumbuhan. Pada saat yang bersamaan, Periksa pula
kerusakan yang terjadi pada tiang, tiang yang rusak/bengkok harus diganti
sebelum terjadi keretakan/patah.
168

7.2.15 Instalasi Konsumen


Deskripsi:
Standar kabel untuk menyalurkan listrik dari jaringan distribusi ke konsumen
adalah Twisted Aluminium 2 x 10 mm. Harus digunakan pembatas daya
(MCB atau PTC) sebelum masuk ke konsumen sesuai dengan permintaan
dayanya. Lakukan pengetesan beban dan segel kotak pembatas daya
setelah daya tersebut memenuhi syarat. Pada tiap-tiap konsumen harus
diberi sekering maksimal 4 Ampere (sekering tidak boleh diganti oleh
sepotong kabel). Gunakan selalu lampu yang standar, Lampu TL Elemen
sama sekali dilarang untuk dipergunakan. Sebaiknya gunakan kapasitor
untuk pemasangan lampu TL, anjurkan kepada konsumen untuk
menggunakan lampu hemat energi (tipe SL atau HL), gunakan kabel NYM 2 x
1.5 mm untuk kabel instalasi rumah. Rancang baik-baik jalur kabel agar
diperoleh panjang kabel seefisien dan seefektif mungkin.
Pekerjaan Perawatan:
Periksa ketertiban konsumen dalam pemakaian jenis lampu. Periksa sekering
apakah dipasang dengan benar atau tidak (bukan diganti dengan kabel).

7.2.16 Switch Pembatas Daya pada Instalasi Konsumen


Deskripsi:
Kabel jaringan dihubungkan ke rumah konsumen dengan melalui kotak
switch pembatas daya (MCB) yang berfungsi untuk membatasi penggunaan
listrik di rumah konsumen sesuai dengan daya yang diinginkan oleh
konsumen dan disepakati oleh pengelola rumah pembangkit. Jika
penggunaan listrik di rumah melebihi batas kemampuan MCB, maka MCB
tersebut secara otomatis akan memutuskan aliran listrik di rumah tersebut.
Pekerjaan Perawatan:
Periksa setiap bulan, apakah sambungan kabel listrik di rumah konsumen dari
jaringan distribusi melalui kotak MCB atau tidak. Untuk menghindari
pencurian daya, periksa MCB dengan memberi beban di rumah tersebut 20%
lebih besar dari kemampuan MCB. Bila MCB tidak mati, ganti MCB tersebut
dengan MCB baru yang sesuai dengan batasan dayanya.
169

No. Jenis Gangguan Kemungkinan Penanggulangan


dan Tanda-tanda Penyebabnya dan Perbaikan
IGC SAAT DINYALAKAN
01 TEGANGAN TIDAK ADA Hubungan kabel KAPASITOR Segera MATIKAN PEMBANGKIT
LAMPU pada MAIN dengan GENERATOR INPUT (MP), kemudian lakukan tes OHM
CIRCUIT BOARD tidak terputus untuk masing-masing phasa antara
ada yang menyala GENERATOR kehilangan KAPSITOR dengan GENERATOR
Suara GENERATOR remanensinya, muatan di INPUT. Nyalakan kembali
terdengar lebih keras dari KAPASITOR habis Pembangkit
biasanya
IGC SAAT DINYALAKAN LAMPU TRANSFORMATOR rusak MP dengan segera, lalu jalankan
02 LOW VOLT tidak menyala MAIN CIRCUIT BOARD rusak dengan SISTEM MANUAL. Hubungi
Kontraktor ybs
IGC SAAT DINYALAKAN SEMUA MAIN CIRCUIT BOARD rusak MP dengan segera, jalankan
03 LAMPU INDIKATOR di MAIN BALLAST terbakar (short) pembangkit dengan SISTEM
CIRCUIT BOARD (kecuali MANUAL, hubungi Kontraktor ybs
LAMPU SSR ON) menyala MP, Lakukan tes OHM, catat jumlah
Daya Ballast yang terbakar (short),
hubungi Kontraktor ybs
IGC SAAT DINYALAKAN Rangkaian pada MAIN MP dengan segera, lakukan tes
04 BALLAST METER terlalu BALLAST ada yang putus OHM pada MAIN BALLAST, catat
mencapai angka 9, pada jumlah Daya Ballast yang terbakar,
saat lampu SSR ON jalankan dengan SISTEM MANUAL,
menyala, KONTAKTOR hubungi Kontraktor ybs
ADDITIONAL BALLAST
pada kondisi ON-OFF, ON-
OFF yang berulang-ulang
IGC SAAT DINYALAKAN kondisi Kabel PUSH BUTTON kendor MP, kencangkan kabel yang kendor
05 normal, lampu LOW VOLT KOIL KONTAKTOR rusak MP, pastikan dengan tes OHM pada
dan SSR ON menyala, KOIL, jalankan secara SISTEM
lampu lain MATI, MANUAL, hubungi Kontraktor ybs
KONTAKTOR KONSUMEN
tidak mau dinyalakan
IGC SAAT DINYALAKAN sistem Beban Konsumen terlalu MP, lakukan penertiban
06 kontrol normal, kontaktor banyak, ada PENCURIAN Lihat penanganan gangguan
normal, saat NFB dinyalakan STROOM mekanikal M-1
kontaktor selalu lepas DAYA TURBIN tidak maksimal
IGC SAAT DINYALAKAN sistem Terjadi short circuit di Jaringan MP dengan segera, lakukan tes OHM
07 kontrol normal, kontaktor untuk masing-masing phasa dengan
normal, saat NFB dinyalakan phasa, phasa dengan netral di
NFB selalu jatuh, kontaktor jaringan. Temukan letak short
tidak lepas sebelum Pembangkit dinyalakan lagi
IGC SAAT PEMBANGKIT Terjadi OVER VOLTAGE, MCB MP, Tutup katup Turbin, ON-kan
08 SUDAH DINYALAKAN KAPASITOR jatuh, Turbin run kembali MCB KAPASITOR, lalu
Konsumen PADAM, rumah away speed nyalakan kembali Pembangkit
Pembangkit PADAM Beban Konsumen terlalu MP, lakukan penertiban
banyak, ada pencurian stroom Lihat penanganan gangguan
DAYA TURBIN tidak maksimal mekanikal M-1
BALLAST terjadi short, MCB MP, lakukan tes OHM pada
KAPASITOR jatuh, Turbin run BALLAST, catat jumlah dan Daya
away speed Ballast yang terbakar. Jalankan
Pembangkit dnegan SISTEM
MANUAL, hubungi Kontraktor ybs
IGC SAAT PEMBANGKIT Lihat IGC 07 Lihat IGC 07
09 SUDAH DINYALAKAN
Konsumen PADAM, rumah
pembangkit MENYALA

Tabel 31. Pengenalan dan Penanggulangan Gangguan Elektrik (Untuk Pembangkit


dengan Menggunakan Sistem Kontrol IGC)
170

No. Jenis Gangguan Kemungkinan Penanggulangan


dan Tanda-tanda Penyebabnya dan Perbaikan
ELC SAAT DINYALAKAN SISTEM BALLAST ada yang Segera MATIKAN PEMBANGKIT
01 KONTROL TIDAK BEKERJA, terbakar (short) (MP), kemudian lakukan tes OHM
METER TERBACA BALLAST & BALLAST untuk masing-masing BALLAST,
FREKUENSI METER naik FUSE semua normal, GP catat jumlah dan Daya Ballast yang
melebihi 53 Hz TRANSFORMER rusak terbakar, periksa apakah ada
Semua METER pada ELC BALLAST, BALLAST FUSE, BALLAST FUSE yang putus,
terbaca (bergerak menunjuk GP TRANSFORMER hubungi Kontraktor ybs
angka) semua normal, MAIN
CIRCUIT BOARD rusak
ELC SAAT DINYALAKAN SISTEM 5 A FUSE putus MP dengan segera, ganti FUSE
02 KONTROL TIDAK BEKERJA, yang putus dengan 5 A FUSE yang
METER TIDAK TERBACA sesuai
ELC SAAT DINYALAKAN BALLAST SCR MODULE rusak, MP dengan segera, hubungi
03 VOLTS mengikuti ALTERNATOR terjadi short Kontraktor ybs
VOLTS
ELC SAAT DINYALAKAN FREKUENSI CIRCUIT BREAKER pada MP dengan segera, buka cover
04 METER naik sampai mentok, AVR jatuh AVR, ON-kan kembali CIRCUIT
METER lainnya tidak terbaca AVR rusak BREAKER
MP, hubungi Kontraktor ybs
ELC SAAT DINYALAKAN PHASE AVR rusak MP, hubungi Kontraktor ybs
05 VOLTS melebihi biasanya dan
tidak terkendali
ELC SAAT DINYALAKAN PHASE AVR rusak MP, hubungi Kontraktor ybs
06 VOLTS kurang dari biasanya dan
tidak terkendali
ELC SAAT DINYALAKAN sistem kontrol LAMPU PILOT HIJAU tidak MP dengan segera, lalu NYALAKAN
07 normal, KONTAKTOR tidak mau mau menyala, terlalu cepat kembali dengan pembukaan katup
dinyalakan dalam membuka katup Turbin perlahan-lahan
Turbin Lakukan tes OHM antara netral
KOIL KONTAKTOR rusak dengan titik di PUSH BUTTON
MERAH (yang tidak bersambung
dengan PUSH BUTTON HIJAU).
Bila KOIL rusak, METER akan
OPEN. Hubungi Kontraktor ybs
ELC SAAT PEMBANGKIT Beban Konsumen terlalu MP, lakukan penertiban
08 DINYALAKAN sistem kontrol banyak, ada pencurian Lihat penanganan gangguan
normal, Kontaktor normal, saat stroom mekanikal M-1
NFB dinyalakan Kontaktor selalu DAYA TURBIN tidak
lepas. FREKUENSI METER maksimal
bergerak turun
ELC SAAT PEMBANGKIT Terjadi short di Jaringan MP, lakukan tes OHM untuk masing-
09 DINYALAKAN sistem kontrol masing phasa dengan phasa dan
normal, Kontaktor normal, saat phasa dengan netral di Jaringan.
NFB dinyalakan NFB selalu jatuh, Temukan letak short sebelum
kontaktor tidak lepas Pembangkit dinyalakan kembali
ELC SAAT PEMBANGKIT SUDAH Terjadi OVER VOLTAGE, MP, tutup katup Turbin dengan
10 DINYALAKAN Konsumen PADAM CIRCUIT BREAKER di AVR segera. ON-kan kembali CIRCUIT
jatuh BREAKER, nyalakan kembali
Terjadi OVER VOLTAGE , Pembangkit
CIRCUIT BREAKER di AVR MP, tutup katup Turbin/Pintu air,
jatuh, BALLAST terbakar hubungi Kontraktor ybs
Beban Konsumen terlalu MP, lakukan penertiban
banyak, ada pencurian Lihat penanganan gangguan
stroom mekanikal M-1
DAYA TURBIN tidak
maksimal

Tabel 32. Pengenalan dan Penanggulangan Gangguan Elektrik (Untuk Pembangkit


dengan Menggunakan Sistem Kontrol ELC)
171

7.2.17 Jadwal Perawatan Berkala Tahunan

7.2.17.1 Pemeriksaan Berkala Harian


Periksa tingkat pemanasan (temperatur) bearing (bantalan poros).
Periksa turbin (frame) dan katup jika terjadi kebocoran.
Periksa tegangan (voltage) generator, arus beban, tegangan ballast
dan frekuensi (terutama pada sore hari pada saat beban puncak)
untuk overload, hubungan pendek (short circuit) dan kelainan yang
ada.

7.2.17.2 Pemeriksaan Berkala Mingguan


Perhatikan panjang saluran pembawa dan periksa apakah terdapat
kelainan-kelainan seperti kebocoran, hambatan, dan kemungkinan
longsor.
Periksa bak penenang dan bak pengendap, perhatikan apakah
terdapat kebocoran, kerusakan, hambatan atau erosi tanah.

7.2.17.3 Pemeriksaan Berkala Bulanan


Perhatikan sepanjang pipa pesat (penstock) dan periksa apakah
terdapat kebocoran pada flange, tempat pengelasan serta erosi tanah
pada pasangan dudukan penstock.
Sentuh dan rasakan kabel pada generator, NFB, ELC dan ballast,
apakah terjadi pemanasan yang berlebihan dan periksa sambungan-
sambungan kabel apakah terjadi perubahan warna (pernah
mengalami panas yang berlebihan).

7.2.17.4 Pekerjaan Sebelum Musim Hujan


Pada saat awal musim hujan, buka pintu penguras pada intake untuk
membersihkan sedimen-sedimen yang ada.

7.2.17.5 Pekerjaan Selama Musim Hujan


Periksa saluran pembawa dari intake sampai ke bak penenang, bersihkan
dari kotoran dan sampah yang masuk. Periksa setiap endapan pada intake,
buka pintu penguras agar endapan dapat dihilangkan. Lakukan pemeriksaan
yang lebih teliti pada kerusakan permukaan tanah atau erosi yan gterdapat di
sekitar intake, saluran pembawa, bak pengendap, bak penenang dan pipa
pesat (penstock). Buka saluran pembuang pada bak penenang untuk
menghilangkan sisa endapan yang ada.

7.2.17.6 Pekerjaan Setelah Musim Hujan


Periksa semua bangunan PLTMH untuk melihat adanya kemungkinan terjadi
kerusakan akibat banjir. Bersihkan endapan pada samua saluran air.
Bersihkan kotoran yang menyangkut di bendungan. Periksa secara
keseluruhan saluran pembawa terutama yang rawan longsor, juga pada
kedudukan pipa pesat dan dudukan lainnya yang dapat tergerus oleh air
hujan.
172

7.2.17.7 Pekerjaan Selama Musim Kemarau


Periksa apakah terjadi kebocoran pada intake. Perhatikan apakah terjadi
keretakan pada bak. Perhatikan apakah terdapat tanah yang basah akibat
kebocoran pada saluran pembawa. Lakukan perubahan pada katup Turbin
untuk menyesuaikan dengan jumlah air yang ada di bak.

7.2.17.8 Perawatan Tahunan


Bersihkan dan periksa saringan halus. Apakah saringan halus perlu diganti
atau tidak, jika diperlukan bersihkan bak. Dua kali setahun bantalan poros
Turbin harus dibersihkan dengan minyak tanah dan dilumasi kembali dengan
stempet. Buka tutup generator, bersihkan kotoran-kotorannya dan bagian
dalam bersihkan dengan lap kering. Bersihkan dan lap bagian dalam dan luar
dari kotak Panel Kontrol, AVR/Overvoltage Trip dan kotak petunjuk AVR dari
debu dan kotoran lainnya. Keluarkan dan bersihkan endapan dari bak ballast.
Periksa kabel pentanahan dan sambungan-sambungan yang ada. Periksa
tiang jaringan, isolasi pada kabel jaringan dan potonganlah dahan pohon
yang menyentuh serta menghalangi kabel. Perhatikan juga kondisi tiang,
mungkin ada yang perlu diganti. Periksa kabel dan kotak MCB pada semua
rumah konsumen.

7.2.17.9 Pekerjaan Tahunan


Bersihkan tanah diatas timbunan kabel pentanahan setiap 2 tahun sekali
untuk memeriksa korosi (karat), setelah dilakukan pemeriksaan dan
perbaikan, timbun kembali dengan tanah. Setiap 2 tahun sekali periksa Turbin
dan pipa pesat (penstock). Disarankan untuk melakukan pengecatan pada
pipa pesat untuk mengurangi proses korosi serta mengganti runner Turbin
jika diperlukan. Periksa juga bangunan intake dan disarankan untuk
melakukan perbaikan/penggantian jika diperlukan. Periksa dudukan generator
dan sambungan-sambungan, lakukan perbaikan dan jika perlu lakukan
penggantian. Periksa dan ganti jika diperlukan, saringan dan box ballast
setiap 3 tahun. Lakukan pengecatan pipa pesat setiap 2 tahun sekali.
Rencanakan untuk mengganti runner Turbin, bantalan poros Turbin dan
generator, kopling (coupling dan plummer block), belt serta bearing setiap 5
tahun sekali. Hubungi pelaksana pembangunan PLTMH untuk melakukan
pekerjaan ini. Rencanakan untuk mengganti seluruh tiang jaringan setiap 5
atau 10 tahun sekali. Rencanakan untuk mengganti/memperbaiki rumah
Turbin dan pipa pesat setiap 10 tahun sekali. Hubungi pelaksana
pembangunan PLTMH untuk pekerjaan ini.

7.2.18 Daftar Peralatan Perawatan PLTMH


Peralatan yang berkualitas baik, penting dan dibutuhkan untuk perawatan
yang baik. Peralatan yang murah cenderung berkualitas kurang baik, mudah
patah serta memungkinkan kerusakan pada peralatan. Penggantian peralatan
yang rusak harus dilakukan secepatnya. Peralatan untuk pemeliharaan
disimpan dalam lemari rumah pembangkit, manajer bertanggung jawab dan
harus tetap melakukan pemeriksaan.
173

1. Peralatan Mekanik
Ring Spanners
Open Spanners
Kunci Inggris
Obeng Besar, Sedang, Kecil
Tang
Palu
Gergaji Besi
2. Peralatan Elektrik
Testpen
Multimeter
Solder
Gunting (Kecil)
Tang (Kecil).
8 I PENGELOLAAN PEMBANGKIT LISTRIK
IMPLEMENTAS

TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)

Pada implementasi pengelolaan PLTMH ini hal-hal yang perlu dijalankan


yaitu:
Pengelolaan Administrasi dan Persuratan
Pengelolaan Keuangan dan Pembukuan
Fungsionalisasi Pengelolaan PLTMH
Peningkatan Kinerja Pengelolaan PLTMH.

8.1 PENGELOLAAN ADMINISTRASI DAN PERSURATAN


Pengelolaan administasi PLTMH meliputi kegiatan-kegiatan sebagaimana
disebutkan di bawah ini.
Surat menyurat: meliputi surat masuk dan surat keluar
Penjadwalan dan notulensi pelaksanaan rapat: termasuk di sini
adalah rapat intern pengelola, rapat antar bidang pengelola, rapat
koordinasi dengan lembaga-lembaga lain di desa termasuk
pemerintah desa, rapat/musyawarah dengan masyarakat setempat,
rapat dengan pihak yang bekerjasama dalam pembangunan PLTMH
Kegiatan-kegiatan umum, selain teknis dan keuangan: termasuk
penerimaan tamu
Dokumentasi dan evaluasi rencana kegiatan hasil rapat pengurus.
Untuk menunjang kegiatan administrasi tersebut beberapa perlengkapan
perlu dipersiapkan. Perlengkapan yang dipersiapkan tidak hanya sekedar
176

peralatan tulis kantor saja tetapi juga perlengkapan buku-buku yang sudah
ditata isinya sedemikian rupa. Perlengkapan-perlengkapan yang harus
dipersiapkan tersebut antara lain adalah:
Buku catatan data langganan
Buku catatan kegiatan umum harian
Buku catatan surat masuk
Buku catatan surat keluar
Buku catatan tamu
Map untuk menyimpan surat masuk
Map untuk menyimpan surat keluar
Notulensi untuk rapat
Buku catatan rencana kegiatan.
Dalam menjalankan organisasi pengelolaan PLTMH, ada aktivitas-aktivitas
rutin harian, antara lain:
Kegiatan teknis harian secara umum, seperti perbaikan kerusakan
Keluhan atau saran dari pemakai
Kejadian atau kegiatan lainnya, seperti kunjungan lapangan,
pertemuan, dan lain-lain.
Kegiatan rutin harian ini tidak terlepas dari perencanaan. Karena kegiatan
rutin pada dasarnya adalah kegiatan yang berjalan sesuai perencanaan yang
sudah disusun di awal tahun pengelolaan dan sudah disepakati oleh semua
pihak yang berkaitan. Oleh karena itu kegiatan rutin harian akan bergantung
pada perencanaan yang baik. Dengan begitu harus dibuat perencanaan yang
baik yang mengandung prinsip-prinsip berikut ini:
Sesuai dengan kemampuan: rencana kerja harus sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki oleh pengelola
Dirumuskan dengan jelas: rencana kegiatan yang dibuat sebaiknya
mudah dipahami sehingga tidak membingungkan pada saat
pelaksanaannya
Dapat diukur hasil pencapaiannya: pada saat menyusun rencana
kegiatan, harus diketahui bagaimana keberhasilan kegiatan tersebut
dapat dinilai/dievaluasi
Mempunyai jangka waktu
Setiap rencana yang dihasilkan pada rapat pengurus harus dicatat
dalam buku catatan rencana kegiatan untuk dapat evaluasi setelah
pelaksanaan kegiatan.
Berkaitan dengan buku notulensi rapat sebaiknya memuat hal-hal sebagai
berikut:
Perihal rapat tersebut diadakan
Tanggal, waktu, dan tempat diadakannya rapat
Nama pimpinan rapat dan para peserta rapat
Permasalan yang menjadi pembahasan
Hasil pembahasan dan kesimpulan rapat
177

Tanda tangan pimpinan dan sekretaris rapat.


Bentuk-bentuk buku administrasi yang sebaiknya dipersiapkan oleh badan
pengelola PLTMH adalah sebagai berikut.

Penggunaan
Tanggal Daya
No Nama Alamat Lampu Lampu TV/Radio/
Masuk Langganan
TL Bohlam Video

Tabel 33. Format Buku Data Langganan

No.
Tanggal Surat No. Surat Tanggal
No Surat Pengirim Tentang
Masuk Keluar Surat Keluar
Masuk

Tabel 34. Format Buku Surat

Penyeleng-
No Kegiatan Pimpinan Peserta Tempat Waktu
gara

Tabel 35. Format Buku Rencana Kegiatan

8.2 PENGELOLAAN KEUANGAN DAN PEMBUKUAN


Pengelolaan keuangan adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan uang, baik
berupa pendapatan maupun pengeluaran. Kegiatan-kegiatan dalam
pengelolaan keuangan PLTMH meliputi:
Pencatatan uang iuran dan uang pangkal dari pelanggan
Pencatatan pendapatan dan pengeluaran harian
Pencatatan inventaris pearalatan PLTMH
Pembuatan laporan keuangan
Perencanaan anggaran.
Untuk menjalankan pengelolaan keuangan tersebut diperlukan beberapa
perlengkapan seperti:
Kartu langganan listrik untuk pemakai
Buku pembayaran iuran listrik
Buku catatan kas harian
Buku catatan inventaris
Buku catatan hutang
Buka catatan piutang
178

Map untuk menyimpan bon dan faktur pengeluaran


Laporan keuangan bulanan.
Dalam pengelolaan keuangan ini terdapat beberapa perhitungan dan kegiatan
yang perlu dilakukan yaitu:
Penyusutan peralatan
Pengelolaan buku harian
Pembuatan laporan keuangan
Pembagian sisa hasil usaha
Perencanaan anggaran keuangan.
Penyusutan perlu diperhitungkan dengan beberapa pertimbangan:
Setiap peralatan sampai jangka waktu tertentu harus diganti
Semakin lama peralatan digunakan semakin turun harga jual di
pasaran, semakin tinggi biaya perawatannya semakin besar
kemungkinannya untuk mengalami kerusakan.
Oleh karena itu setiap barang dan kekayaan lembaga pengelola PLTMH
berupa benda atau barang harus diperhitungkan penyusutan nilainya dengan
cara sebagai berikut.
Setiap peralatan mempunyai nilai penyusutan untuk mengantisipasi
keadaan tersebut di atas
Nilai penyusutan merupakan dana cadangan yang dapat digunakan
apabila kondisi tersebut terjadi.
Perhitungan nilai penyusutan = Nilai awal peralatan/Umur peralatan dalam
tahun
Perlengkapan penting lainnya dalam pengelolaan keuangan PLTMH adalah
buku kas. Ada beberapa jenis buku kas yang harus dimiliki, salah satu di
antaranya adalah buku kas harian. Tujuan utama dari setiap pembukuan
sendiri adalah mencatat pemasukan dan pengeluaran. Pada dasarnya
pembukuan tidak hanya sekedar digunakan mencatat data keuangan, tetapi
juga mengolah dan memanfaatkan data tersebut. Beberapa hal yang
disarankan dalam pembuatan buku kas harian adalah bahwa buku kas itu
sebaiknya memenuhi dua hal di bawah ini.
Buku kas harian dapat juga mengikutsertakan pengelolaan kas dan
bank
Setiap transaksi dalam Buku Kas Harian selalu dapat dicatat dalam 2
kolom (kecuali untuk penyusutan).
Sementara itu untuk setiap transaksi sebaiknya memperhatikan hal-hal
berikut ini.
Dari mana uang tersebut diperoleh/datang
Ke mana/Untuk apa uang itu dibayarkan/dikeluarkan.
Beberapa jenis pendapatan yang akan menjadi pemasukan bagi lembaga
pengelola PLTMH adalah:
179

Iuran listrik bulanan


Pendapatan lain-lain, seperti uang pangkal pemasangan listrik,
sumbangan, hasil penjualan peralatan bekas, bunga tabungan bank,
pembayaran piutang dan lain-lain.
Sementara itu untuk pengeluaran umumnya terdiri dari:
(1) Gaji
Gaji pokok
Bonus dan tunjangan
Uang makan
(2) Perawatan
Semua pengeluaran perawatan dan pemeliharaan harian
Semua biaya penanggulangan kerusakan dan perbaikan yang tidak
terlalu besar
Pembelian peralatan untuk pengoperasian dan perawatan
(3) Operasional
Biaya transportasi
Pembelian keperluan kantor
Sewa lahan
(4) Lain-lain
Pembayaran hutang
Pengembalian pinjaman/kredit dan bunganya
Pengeluaran untuk kerusakan atau perbaikan yang besar
Menjamu tamu.
Setiap menyusun perencanaan suatu lembaga terutama yang bergerak di
bidang usaha harus diketahui atau dihitung rencana/perkiraan pendapatan
yang akan diperoleh dan rencana pengeluaran yang akan dilakukan oleh
lembaga usaha tersebut. Rencana/perkiraan pendapatan tersebut adalah:
Pemasukan yang selama ini sudah berjalan rutin (iuran per bulan)
Pemasukan yang diharapkan muncul misalnya karena penambahan
konsumen.
Dan pengeluaran yang direncanakan atau diperkirakan adalah:
Pengalaman dari informasi pengeluaran bulan-bulan yang lalu
Biaya berdasarkan rencana kegiatan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam penyusunan
perencanaan keuangan tersebut adalah:
Kondisi Keuangan
Posisi Kas/Bank
Cadangan Uang/Simpanan
Hutang/Piutang
180

Prioritas Kepentingan
Kemampuan (Non Uang).

Contoh-contoh format buku pengelolaan keuangan PLTMH disajikan berikut


ini.
Pembayaran
No Nama No. Langganan Tanggal Penerima
Bulan

Tabel 36. Format Buku Langganan

Pengguna/
No Tanggal Debit Kredit Untuk
Pelaku

Tabel 37. Format Buku Kas Harian

No Barang Tanggal Beli Untuk Keadaan per Bulan

Tabel 38. Format Buku Inventaris

Pengguna/
No Tanggal Debit Kredit Untuk
Pelaku

Tabel 39. Format Buku Kas Harian

No Tanggal Hutang Piutang Kepada Penerima

Tabel 40. Format Buku Kas Utang/Piutang


181

No. :
Nama :
Alamat :
Pekerjaan :
Tanggal Akad :
Isi Akad :

Pembayaran :
Jumlah Pembayaran Pembayaran ke-

Penerima/pembayar :

Tabel 41. Format Buku Catatan Utang/Piutang

Bulan :
Tahun :
Neraca :
Pemasukan Pengeluaran

Balans :
Saldo Kas :
Tanggal Pelaporan :
Pelapor :

Tabel 42. Format Laporan Keuangan Bulanan

8.3 FUNGSIONALISASI MANAJEMEN


Dalam menjalankan suatu organisasi ada tiga perangkat dasar yang
mendasari pendirian organisasi yaitu:
Struktur Organisasi dan Kepengurusan
Rapat dan Musyawarah
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Dengan mengambil contoh lembaga-lembaga pengelola PLTMH yang sudah
ada maka untuk lembaga pengelola fungsi-fungsi berikut umumnya selalu
182

ada. Fungsi-fungsi yang menjadi dasar fungsionalisasi dan deskripsi kerja


lembaga pengelolaan PLTMH adalah:

Ketua
Sekretaris
Bendahara
Operator: Mekanik, Elektrik, Pengairan dan Pemeliharaan Bangunan,
serta Keamanan.

Tugas dan tanggung jawab masing-masing unsur fungsional tersebut adalah:


(1) Ketua
Mengatur dan mengkoordinasi pengurus badan pengelola
Mewakili badan pengelola dalam hubungan dengan pihak luar
(2) Sekretaris
Mengatur kegiatan surat-menyurat
Menyelenggarakan rapat dan melakukan pencatatan hasil rapat
Melaporkan dan mempertanggungjawabkan administrasi umum
(3) Bendahara
Menangani dan mencatat iuran listrik
Mengatur pengeluaran biaya
Melapor dan mempertanggungjawabkan keuangan
(4) Operator
Mengatur penbagian air dan memelihara saluran air
Memelihara bangunan sipil
Merawat komponen - komponen mekanik dan elektrik
Menanggulangi kerusakan
Mencatat kondisi teknis
Operasional harian dan keamanan.
Salah satu aktivitas yang menjamin kelancaran berjalannya organisasi adalah
penyelenggaraan rapat dengan baik dan benar serta memiliki arahan yang
benar dan jelas. Oleh karena itu untuk pelaksanaan rapat dan atau
musyawarah perlu diperhatikan hal-hal berikut:
Diselenggarakan secara teratur
Ada topik yang jelas dan dipersiapkan dengan baik
Setiap anggota mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat dan
usul
Sebaiknya dilakukan secara musyawarah untuk mufakat.
Berikut adalah beberapa rapat/musyawarah yang umumnya sering dilakukan
oleh lembaga pengelolaan PLTMH:
(1) Rapat Pengurus
Hanya terbatas pada badan pengelola
183

Dilaksanakan sebulan sekali


Membahas masalah yang dihadapi
Menyusun rencana kegiatan.
(2) Musyawarah
Dihadiri masyarakat pemakai listrik dan pihak desa
Dilaksanakan setahun sekali
Wadah pertukaran informasi
Laporan kegiatan badan pengelola
Evaluasi badan pengelola
Pemilihan dan penentuan pengurus (bila perlu).
Seorang anggota pengurus badan pengelola PLTMH harus memenuhi hal-hal
sebagai berikut:
Dipilih dan diberhentikan atas keputusan musyawarah pemakai listrik
untuk masa jabatan tertentu
Bertanggung jawab pada musyawarah pemakai listrik
Memberikan laporan ke pemerintah desa dan pihak penyandang
dana pembangunan (investor atau pemberi pinjaman).
Beberapa kegiatan yang menjadi tanggung jawab dan urusan pengelola
dikelompokkan ke dalam kegiatan teknis dan kegiatan non-teknis. Kegiatan-
kegiatan tersebut adalah:
(1) Kegiatan Teknis
Pengaturan pembagian air dan pemeliharaan saluaran air
Perawatan bangunan sipil PLTMH
Perawatan dan pemeliharaan komponen-komponen mekanik, seperti
generator, sistem kontrol dan jaringan listrik
Penanggulangan dan perbaikan apabila terjadi kerusakan
Operasional harian dan pencatatan kondisi teknis.
(2) Kegiatan Administrasi dan Keuangan
Pengaturan dan pengawasan pengurus badan pengelola
Pengaturan kegiatan surat-menyurat
Penyelenggaraan rapat dan melakukan pencatatan yang diperlukan
Penanganan dan pencatatan iuran listrik bulanan
Perencanaan dan pengaturan keuangan
Pengaturan pembagian sisa hasil usaha
Pelaporan pertanggung jawaban administrasi umum dan keuangan
Pemberian informasi kepada masyarakat.

8.4 PENINGKATAN KINERJA PENGELOLAAN PLTMH


Kinerja pengelolaan PLTMH yang perlu dipelihara dan ditingkatkan terus
menerus oleh badan pengelola adalah sebagai berikut:
(1) Sustainabilitas (Keberlanjutan) Pelayanan
184

Keberlanjutan pelayanan yang dimaksudkan di sini meliputi kualitas dan


kinerja sistem fisik PLTMH, kualitas pelayanan dan kemampuan dalam
mengelola dan membiayai pengelolaan tersebut.
(2) Penggunaan Listrik oleh Masyarakat
Aspek penggunaan listrik meliputi pola penggunaan yang bukan hanya untuk
kegiatan konsumtif tetapi diarahkan pada penggunaan yang bersifat produktif,
serta peningkatan manfaat maupun dampak bagi masyarakat karena adanya
listrik dari PLTMH.
(3) Demand Responsiveness
Kemampuan memenuhi permintaan listrik berkaitan dengan sejauh mana
layanan listrik yang dihasilkan PLTMH sesuai dengan harapan/keinginan
masyarakat penggunanya.
(4) Tingkat Partisipasi
Tingkat partisipasi masyarakat yang dimaksudkan adalah keterlibatan
masyarakat dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan beserta
pelaksanaan keputusan tersebut.
(5) Pemerataan
Pemerataan berkaitan dengan sejauh mana pengelolaan PLTMH
memperhatikan dan melibatkan kelompok-kelompok termiskin dari
masyarakat pengguna.
Indikator peningkatan kinerja pengelolaan PLTMH tersebut akan dijelaskan
dalam uraian berikut ini.

8.4.1 Sustainabilitas (Keberlanjutan) Pelayanan


Sejauh mana keberlanjutan pelayanan PLTMH dapat terjaga bisa dilihat dari
kinerja sistem fisik PLTMH, kinerja pengelolaan dan kemampuan masyarakat
pengguna dalam membiayai operasi dan pemeliharaan sistem PLTMH.

8.4.1.1 Kinerja Sistem Fisik PLTMH


Informasi yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai kinerja sistem fisik
PLTMH di antaranya adalah:
Kesesuaian cakupan pelayanan (jumlah konsumen PLTMH yang bisa
dilayani) dengan yang direncanakan
Frekuensi (tingkat keseringan) kerusakan yang dialami PLTMH
Tegangan di titik pemakaian/konsumen
Waktu pelayanan setiap harinya
Seringnya listrik mati.
Jumlah konsumen PLTMH yang dilayani bisa jadi lebih sedikit dari pada yang
direncanakan. Atau jumlah yang terlayani tetap dipaksakan seperti yang
direncanakan tetapi level tegangan (volt) menjadi jauh dibawah yang
seharusnya. Ini menunjukkan adanya penurunan kemampuan pembangkit
dalam menghasilkan listrik yang umumnya disebabkan oleh komponen fisik
PLTMH yang tidak terawat dengan baik. Rendahnya tegangan di titik
185

pemakaian merupakan hal yang sebaiknya tidak terjadi pada konsumen


PLTMH. Selain itu idealnya PLTMH beroperasi sepanjang waktu meskipun
dalam kenyataannya sebagian besar PLTMH off-grid di perdesaan beroperasi
hanya pada malam hari. Hal lain yang perlu diantisipasi dan dihindarkan
adalah mati listrik atau PLTMH berhenti beroperasi karena kekurangan air
atau terhenti karena kerusakan teknis. Kekurangan air terutama pada musim
kemarau bisa terjadi akibat daerah resapan air di hulu sungai tidak terjaga
dengan baik. Badan pengelola perlu bekerja sama dengan berbagai pihak
dalam pemeliharaan daerah resapan air tersebut. Demikian pula kerjasama
dengan pihak-pihak terkait perlu dijalin dalam penanganan kerusakan teknis
berat yang sifatnya sukar ditangani sendiri oleh badan pengelola.

8.4.1.2 Kinerja Pengelolaan


Kinerja pengelolaan yang dimaksudkan disini dapat diukur melalui empat
indikator berikut ini.
Kemampuan dalam perbaikan kerusakan
Keteraturan pertemuan untuk membahas pengelolaan
Keberadaan dan efektivitas peraturan dalam penggunaan dan
pelayanan
Pengelolaan keuangan.
Pada umumnya masyarakat dan badan pengelola hanya dapat melakukan
perbaikan-perbaikan ringan pada komponen elektrik mekanik dan perbaikan-
perbaikan pada komponen bangunan sipil. Sedangkan kerusakan
mekanik/elektrik berat ditangani dengan cara membawa komponen yang
rusak ke kota atau ke pelaksana pembangunan PLTMH sehingga masyarakat
seringkali harus mengeluarkan biaya yang relatif besar untuk perbaikan.
Pertemuan untuk membahas pengelolaan sebaiknya tidak hanya dilakukan
pada saat terjadi kerusakan berat yang membutuhkan biaya tambahan cukup
besar. Seharusnya pertemuan intern pengelola dan pertemuan antara
pengelola dengan konsumen dilakukan secara rutin/berkala.
Persoalan yang paling perlu dicermati dalam pengelolaan PLTMH adalah
keberadaan peraturan yang mengatur pelayanan dan penggunaan.
Sebaiknya dibuat peraturan tertulis yang merupakan cerminan kesepakatan
antara pengelola dengan pengguna. Peraturan jangan hanya disampaikan
secara lisan dan kemudian pengawasan serta penegakan peraturan tersebut
tidak sungguh-sungguh dilakukan.
Demikian juga dengan perencanaan keuangan sebaiknya dilakukan dan
dievaluasi secara berkala. Misalnya, rencana tahunan perlu dievaluasi per
tiga bulan, rencana bulanan perlu dievaluasi setiap minggunya apakah
realisasinya sesuai dengan yang direncanakan. Hal yang perlu dihindari
adalah tidak melakukan perencanaan keuangan sehingga pengelolaan
keuangan berlangsung begitu saja dan cenderung tidak terkendali.
186

8.4.1.3 Kemampuan Pembiayaan


Kemampuan masyarakat dalam membiayai operasional dan pemeliharaan
PLTMH dapat diukur melalui dua indikator yakni:
Keswadayaan pembiayaan
Kecukupan biaya yang dikumpulkan dari iuran.
Keberlanjutan PLTMH akan terjamin jika semua kebutuhan pengeluaran
dapat dipenuhi menggunakan dana yang terkumpul dari iuran konsumen
sehingga tidak diperlukan lagi dana-dana dari sumber lain.

8.4.2 Penggunaan Pelayanan


Penggunaan pelayanan listrik yang dimaksudkan di sini meliputi pola
penggunaan baik untuk kegiatan konsumtif maupun produktif serta manfaat
dan dampak karena adanya layanan listrik dari PLTMH. Manfaat yang terlihat
dari adanya listrik di berbagai lokasi PLTMH umumnya hanya meliputi
kebutuhan-kebutuhan konsumtif semata. Sedangkan penggunaan listrik
untuk keperluan produktif biasanya belum berkembang. Untuk jangka
panjang sebaiknya badan pengelola PLTMH mulai melakukan upaya-upaya
agar masyarakat dapat menggunakan listrik untuk kegiatan produktif,
misalnya di mulai dari penggunaan peralatan penggilingan beras, ubi kayu,
kopi dan lain-lain yang dicontohkan oleh badan pengelola.

8.4.3 Demand Responsiveness


Sejauh mana layanan PLTMH dapat memenuhi harapan masyarakat dapat
dilihat dari kesesuaian layanan dengan yang diharapkan dan dengan daya
beli masyarakat pengguna.

8.4.3.1 Kesesuaian Layanan dengan Harapan


Kesesuaian layanan dengan harapan masyarakat pengguna secara langsung
dapat dilihat dari kualitas layanan badan pengelola PLTMH dan jangka waktu
perbaikan yang berimplikasi pada berapa lama listrik mati ketika terjadi
gangguan atau kerusakan. Kesesuaian layanan dengan harapan juga dapat
dilihat secara tidak langsung dari keterlibatan masyarakat dalam pengambilan
keputusan berkaitan dengan tingkat layanan. Dalam hal ini diasumsikan
bahwa keterlibatan masyarakat di dalam proses-proses pengambilan
keputusan tersebut akan menghasilkan keputusan yang lebih sesuai dengan
keinginan masyarakat. Sebaliknya, tidak dilibatkannya masyarakat
cenderung menyebabkan keputusan yang dihasilkan tidak sesuai dengan
keinginan masyarakat.

8.4.3.2 Kesesuaian Layanan dengan Daya Beli


Kesesuaian layanan dengan daya beli masyarakat pengguna secara
langsung dapat dilihat dari ketepatan dalam pembayaran iuran untuk operasi
dan pemeliharaan. Kesesuaian layanan dengan harapan juga dapat dilihat
secara tidak langsung dari keterlibatan masyarakat dalam penentuan jumlah
187

iuran. Dalam hal ini juga diasumsikan bahwa keterlibatan masyarakat di


dalam proses penentuan jumlah iuran mencerminkan kesesuaian besarnya
iuran yang ditentukan dengan daya beli mereka. Iuran bulanan di sejumlah
PLTMH di Indonesia pada umumnya berjalan cukup baik. Hampir semua
atau sebagian besar membayar tepat waktu pada saat layanan listrik berjalan
normal. Hal ini tidak lepas dari keterlibatan masyarakat dalam penentuan
iuran.

8.4.4 Tingkat Partisipasi


Tingkat partisipasi masyarakat meliputi keterlibatan saat pengoperasian dan
pengelolaan baik dalam hal pengambilan keputusan maupun pelaksanaan.

8.4.5 Pemeratan dan Keadilan


Iuran yang adil seharusnya dikenakan berdasarkan tingkat penggunaan di
mana dalam pola yang ideal besarnya penggunaan diukur dengan kWh
meter. Pada implementasi PLTMH umumnya tingkat penggunaan hanya
diukur dengan jumlah alat dan besarnya daya yang digunakan. Hal yang
perlu dihindarkan adalah penggunaan pembatas daya yang jauh lebih besar
dari daya yang seharusnya diperuntukkan bagi konsumen karena kendala
ketersediaan pembatas daya di pasaran. Apabila hal ini terjadi konsumen
masih dapat leluasa menambah penggunaan jumlah peralatan dan daya
tanpa sepengetahuan pengelola.
Pemerataan berkaitan dengan sejauh mana pengelolaan PLTMH
memperhatikan kelompok-kelompok termiskin dari masyarakat pengguna.
Tarif sebaiknya disusun sehingga rumah tangga yang kurang mampu akan
mendapat tarif per watt (atau per kWh) yang lebih kecil. Dengan asumsi
bahwa penggunaan daya yang lebih banyak mencerminkan daya beli yang
lebih tinggi, maka semakin tinggi penggunaan daya/energi seharusnya tarif
yang dikenakan juga lebih tinggi. Sistem ini yang disebut dengan sistem tarif
progresif. Sebaiknya dihindari penentuan tarif yang bersifat flat (sama untuk
setiap watt/konsumen).

No. Daya Terpasang (VA) Biaya Beban (Rp/Bulan)

1 200 3.000,-
2 450 5.000,-
3 900 8.000,-
4 1500 15.000,-

Tabel 43. Biaya Beban Konsumen PLTMH Seloliman/Kali Maron, Jawa Timur
188

Golongan Pemakaian (kWh) Tarif (Rp/kWh)

Blok I 1 20 90
Blok II 21 40 110
Blok III > 40 120

Tabel 44. Tarif Pemakaian Listrik Konsumen PLTMH Seloliman/Kali Maron di Jawa Timur
yang Sudah Bersifat Progresif
LAMPIRAN 1 Conto
h Proses Pembangunan dan Pengelolaan PLTMH Taba di
Kabupaten Tana Toraja, Propinsi Sulawesi Selatan

Sejak tahun 1980 hingga 1990-an awal, warga Desa Buntu Minanga (Taba)
telah berupaya melakukan penyediaan listrik bagi masyarakat setempat
menggunakan pembangkit listrik tenaga air secara swadaya. Dengan
teknologi lokal yang sederhana menurut pengakuan masyarakat dapat
membangkitkan listrik sebesar 20 kW dengan biaya saat itu sekitar 17 juta
rupiah. Pembangkit listrik swadaya masyarakat itu dapat melistriki sekitar 60
rumah. Namun karena berbagai keterbatasan perangkat pembangkit dan
pengetahuan masyarakat, listrik hanya dapat mereka nikmati selama 2 hingga
3 tahun saja.
Pada tahun 1996 masyarakat mencoba mengajukan permohonan bantuan
penyediaan listrik tenaga air kepada pemerintah kabupaten setempat. Seiring
dengan adanya program pelistrikan dari pemerintah pusat yang memperoleh
bantuan dari negara-negara E7, baru pada tahun 1998 dilakukan kegiatan
survey studi kelayakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro
(PLTMH) di Desa Taba dan sekitarnya, Tana Toraja. Survey ini juga
dilakukan secara serentak di lokasi lain di Tana Toraja yaitu di Bokin dan
Tandan Dua.
Pada tahun yang bersamaan jaringan listrik yang dikelola PLN telah
mencapai dan memasuki wilayah Desa Taba dan sekitarnya. Sementara
persiapan pembangunan PLTMH Taba terus dilangsungkan. Karena itulah
kemudian muncul konflik di antara masyarakat mengenai pemilihan cara
penyediaan listrik desa apakah menggunakan PLTMH atau melalui jaringan
listrik PLN. Penyelesaian konflik dilakukan dengan cara melakukan
sosialisasi penyediaan listrik kepada seluruh masyarakat di Desa Taba dan
Sarambu baik dengan menggunakan PLTMH maupun melalui jaringan PLN
dengan segala konsekuensinya. Masyarakat memperoleh penjelasan mulai
yang berkaitan dengan tarif listrik yang harus mereka bayar, kualitas listrik,
kontinuitas pasokan listrik, kapasitas listrik hingga mengenai kepemilikan
sarana pembangkit listrik. Setelah melalui proses sosialisasi tersebut
kemudian sebagian anggota masyarakat memutuskan untuk memilih salah
satu dari alternatif penyediaan listrik melalui PLTMH atau jaringan PLN. Pada
saat itu jumlah masyarakat yang memilih penyediaan listrik melalui PLTMH
sebanyak 150 KK, 60 KK memilih jaringan PLN dan selebihnya belum
mengambil keputusan.
Pada tahun 1998-1999 PLTMH Taba mulai dibangun dengan melibatkan
pelaksana sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Bandung dan
masyarakat setempat. Masyarakat mengerjakan sejumlah pekerjaan
pembangunan seperti pengumpulan pasir dan batu, pengangkutan semen
dan tiang, memecahkan batu, penyiapan saluran pembawa, serta
pemasangan sebagian kWh meter di rumah-rumah calon pelanggan.
190

Pekerjaan pembangunan lainnya dilakukan oleh LSM dari Bandung seperti


penyediaan turbin, generator, sistem kontrol, pipa pesat, transmisi mekanik,
pemasangan transformator, jaringan dan instalasi listrik di rumah calon
pelanggan, dan lain-lain. LSM dari Bandung itu bersama tim dari negara
donor E7 melakukan kegiatan penyiapan lembaga pengelola PLTMH Taba
yang meliputi struktur dan bentuk kelembagaan, aspek pengelolaan
administrasi, keuangan dan teknis PLTMH.
Saat ini PLTMH Taba yang berkapasitas terpasang 46 kW masih beroperasi
dengan baik dan baru mengalami kerusakan sedang sebanyak 2 kali pada
bearing sistem transmisi mekanik turbin-generator. Kerusakan tersebut dapat
ditangani dengan cepat dan dapat dibiayai sendiri dari pendapatan iuran
pelanggan PLTMH Taba. Sisa hasil usaha pengelolaan listrik yang ditangani
lembaga Koperasi Listrik Desa (dulu bernama Pengelola Listrik Desa tidak
berbadan hukum) disimpan di Bank BNI dan telah mencapai jumlah 92 juta
rupiah. Tabungan sebesar itu seluruhnya diperoleh dari hasil iuran pelanggan
PLTMH di Desa Taba dan Sarambu yang berjumlah 295 KK.
191

LAMPIRAN 2 Conto
h Laporan Penjajagan Pembangunan PLTMH Tibu Tangkok
di Kabupaten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat
1. Informasi Umum
Propinsi : Nusa Tenggara Barat
Kabupaten : Lombok Timur
Kecamatan : Aikmel
Desa : Karang Baru
Dusun : Tibu Tangkok
Sungai : Koko Songgan
Gross Head : 8,5 m
Estimasi Debit Disain : 200 l/dtk
Potensi Daya Hidrolik : 16,68 kW
Potensi Daya Listrik : 8,61 kW

Gambar 1. Peta Lokasi PLTMH Tibu Tangkok di Kabupaten Lombok


Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat
192

2. Gambaran Lokasi
Lokasi
Salah satu lokasi potensial PLTMH yang telah disurvey terletak di sekitar
Dusun Tibu Tangkok. Dusun Tibu Tangkok merupakan bagian dari Desa
Karang Baru, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, Propinsi Nusa
Tenggara Barat. Dusun ini secara geografis terletak di 08 03117,9 LS dan
11603238,9 BT. Desa Karang Baru berbatasan dengan Dusun Mengah di
sebelah utara, Dusun Pao Dangkah di sebelah selatan, Dusun Beriri Jarak di
sebelah barat dan Dusun Dasan Reban di sebelah timur.
Aksesibilitas
Dusun Tibu Tangkok terletak 24,8 km ke arah timur laut dari Kota Selong
Ibukota Kabupaten Lombok Timur. Untuk mencapai Dusun Tibu Tangkok, dari
Selong dapat menggunakan bis umum selama 30 menit sampai Ibukota
Kecamatan Aikmel. Kemudian dari Ibukota Kecamatan Aikmel ke Desa
Karang Baru dapat dicapai dengan menggunakan bis umum selama 30 menit.
Dari Desa Karang Baru ke Dusun Tibu Tangkok dapat dicapai selama 10
menit dengan menggunakan ojeg/motor. Sedangkan dari Dusun Tibu
Tangkok ke lokasi rencana PLTMH Tibu Tangkok dapat ditempuh dengan
berjalan kaki selama 15 menit. Jalan dari Selong ke Ibukota Kecamatan
Aikmel adalah jalan beraspal sejauh 17 km, demikian juga jalan dari Ibukota
Kecamatan Aikmel ke Desa Karang Baru merupakan jalan beraspal sejauh 6
km. Jalan dari Desa Karang Baru ke Dusun Tibu Tangkok adalah jalan
berbatu sejauh 1,8 km. Sedangkan keadaan jalan dari Dusun Tibu Tangkok
ke lokasi rencana PLTMH Tibu Tangkok adalah jalan tanah sejauh 150 m.
Tabel 1. Aksesibilitas Lokasi Rencana PLTMH Tibu Tangkok
Waktu Moda Kondisi
Rute Jalan Jarak
Tempuh Transportasi Jalan
Selong Aikmel 17 km 30 menit Bis umum Beraspal
Aikmel Karang Baru 6 km 30 menit Bis umum Beraspal
Karang Baru Tibu
1,8 km 10 menit Motor/Ojeg Berbatu
Tangkok
Tibu Tangkok Lokasi
150 m 15 menit Jalan Kaki Jalan tanah
Rencana PLTMH

3. Kondisi Topografi dan Geologi


Air yang akan digunakan untuk rencana PLTMH Tibu Tangkok berasal dari
Saluran Irigasi Tibu Tangkok yang bersumber dari Sungai Koko Songgan.
Sungai Koko Songgan yang mengalir ke arah timur ini terletak di sebelah
utara Dusun Tibu Tangkok. Sedangkan Saluran Irigasi Tibu Tangkok terletak
di sebelah kiri Sungai Koko Songgan yang juga mengalir ke arah timur.
Berdasarkan peta topografi, kondisi kemiringan tanah di sepanjang Sungai
Koko Songgan dekat Saluran Irigasi Tibu Tangkok tidak terlalu terjal kecuali di
193

satu tempat sekitar 50 m sebelum lokasi rencana rumah pembangkit PLTMH


Tibu Tangkok terdapat sebuah air terjun. Keadaan tanah sepanjang sungai
tersebut berbatu dan cukup gembur karena sebagian merupakan tanah
persawahan. Gambar detail kondisi topografi di sekitar Sungai Koko
Songgan dan Saluran Irigasi Tibu Tangkok ditunjukkan pada lampiran laporan
ini.
4. Kondisi Sosial Ekonomi
Pemukiman masyarakat sekitar rencana PLTMH Tibu Tangkok terletak
berdekatan membentuk suatu dusun yang cukup padat. Kebanyakan
masyarakat di sana bermata pencaharian sebagai petani. Pengelolaan lahan
dan hasil pertanian masyarakat masih dilakukan secara tradisional. Untuk
bahan bangunan seperti batu dan pasir banyak terdapat di sekitar Sungai
Koko Songgan, sedangkan semen harus dibeli di Ibukota Kecamatan Aikmel
yang berjarak sekitar 7,8 km dari Dusun Tibu Tangkok.
Di Dusun Tibu Tangkok terdapat beberapa bangunan umum yaitu 1 bangunan
Sekolah Dasar (SD), 1 bangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP), 1
bangunan masjid, 1 bangunan puskesmas dan 1 bangunan kantor desa.
Masyarakat juga memiliki organisasi kemasyarakatan seperti LKMD,
kelompok Pengajian, Koperasi dan Yayasan.
5. Kondisi Elektrifikasi
Dusun Tibu Tangkok dan dusun-dusun lainnya di Desa Karang Baru belum
memperoleh listrik yang disuplai oleh Kelompok Listrik Pedesaan (KLP)
sebagaimana desa-desa di sekitarnya. Meskipun jarak terdekat jaringan
listrik milik KLP ke Desa Karang Baru sekitar 0,3 km, KLP dalam waktu
beberapa tahun ke depan belum mempunyai rencana mensuplai energi listrik
untuk masyarakat di Desa Karang Baru. Sementara ini untuk penerangan
rumah, masyarakat masih menggunakan petromak dan lampu tempel dengan
bahan bakar minyak tanah.
Jumlah rumah di Dusun Tibu Tangkok saat ini lebih kurang 132 rumah.
Berdasarkan informasi masyarakat, kebutuhan energi listrik per rumah sekitar
50 W untuk penerangan pada malam hari. Dengan mempertimbangkan
jumlah fasilitas umum yang perlu mendapatkan tenaga listrik untuk
penerangan pada malam hari, jumlah kebutuhan energi listrik Dusun Tibu
Tangkok diperkirakan sekitar 7,28 kW.
Tabel 2. Estimasi Kebutuhan Energi Listrik di Dusun Tibu Tangkok

Daya Daya
No. Uraian Jumlah Keterangan
Listrik/Unit Listrik
1 Rumah 132 50 W 6,6 kW
2 Sekolah 2 100 W 0,2 kW SD dan SMP
3 Masjid 1 100 W 0,1 kW
4 Puskesmas 1 100 W 0,1 kW
5 Kantor Desa 1 100 W 0,1 kW Balai Pertemuan
Penerangan
6 - - 0,18 kW
Jalan
Total 7,28 kW
194

6. Potensi Hidrolik
Rencana PLTMH Tibu Tangkok akan menggunakan Saluran Irigasi Tibu
Tangkok sebagai saluran pembawa (headrace) sepanjang lebih kurang 320
m. Intake saluran ini terletak di sebuah dam swadaya masyarakat yang
merupakan salah satu bendungan bronjong pada Sungai Koko Songgan
dengan koordinat posisi 080316,6 LS dan 11603237,7 BT. Sedangkan
rumah pembangkit rencana PLTMH Tibu Tangkok terletak pada koordinat
posisi 0803115,9 LS dan 11603242,8 BT. Berdasarkan survey lapangan
pada musim kemarau, debit air Sungai Koko Songgan yang terukur adalah
200 l/dtk. Sedangkan besar head yang terukur yaitu 8,5 m dengan
perkiraan panjang penstok 36 m. Gambar jalur penstok rencana PLTMH
Tibu Tangkok dapat dilihat pada lampiran laporan ini.
Estimasi kebutuhan energi listrik di Dusun Tibu Tangkok sebagaimana
ditunjukkan dalam Tabel 2 sekitar 7,28 kW. Daya listrik yang dapat
dibangkitkan rencana PLTMH Tibu Tangkok dengan debit 200 l/dtk dan net
head 8 m adalah 8,61 kW sehingga masih terdapat daya listrik cadangan
sekitar 1,33 kW.
Tabel 3. Estimasi Kapasitas Daya Rencana PLTMH Tibu Tangkok
No. Item Simbol Jumlah

1 Estimasi gross head Hg 8,5 m


2 Debit terukur Qm 200 l/dtk
3 Debit disain Qd 200 l/dtk
4 Potensi daya hidrolik Ph 16,68 kW
5 Estimasi net head Hnet 8m
6 Estimasi efisiensi turbin T 0,7
7 Estimasi efisiensi generator G 0,85
8 Estimasi transmisi mekanik M 0,97
Estimasi daya listrik terbangkit di Rumah
9 Pel1 9,06 kW
Pembangkit
10 Estimasi rugi-rugi transmisi Ploss 0,45 kW
11 Estimasi daya listrik di Dusun Tibu Tangkok Pel2 8,61 kW
12 Estimasi kebutuhan daya listrik Pexp 7,28 kW
13 Daya listrik cadangan (Pel2 Pexp) Pres 1,33 kW

Rumus yang mendasari perhitungan potensi daya hidrolik di atas adalah


Ph = Qd x Hg x g
Dengan : Ph = potensi daya hidrolik, kW
Qd = debit disain, m3
Hg = gross head, m
g = konstanta gravitasi bumi, 9.81 m/dtk2
195

Net head (Hnet) ditentukan dari pengurangan rugi-rugi gesekan dan turbulensi
dalam penstock (Hloss) terhadap gross head (Hg). Estimasi efisiensi turbin,
estimasi efisiensi generator dan estimasi efisiensi transmisi mekanik di atas
masing-masing merupakan efisiensi untuk turbin Crossflow yang diproduksi
lokal, generator sinkron dan flat belt pada umumnya. Sedangkan rugi-rugi
pada jalur transmisi diperkirakan sekitar 5% dari daya listrik yang
dibangkitkan pada rumah pembangkit (Pel1).
7. Jalur Transmisi Listrik
Pemukiman penduduk di Dusun Tibu Tangkok merupakan kelompok-
kelompok rumah yang letaknya saling berdekatan. Panjang jalur utama
transmisi listrik dari rumah pembangkit ke pusat pemukiman di Dusun Tibu
Tangkok adalah sekitar 150 m. Gambar jalur transmisi listrik dari rumah
pembangkit rencana PLTMH Tibu Tangkok ke pemukiman di Dusun Tibu
Tangkok ditunjukkan pada lampiran laporan ini.
8. Dokumentasi

Gambar 2. Foto Kondisi Pemukiman Calon Konsumen PLTMH di Dusun


Tibu Tangkok, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat
196

Gambar 3. Foto Saluran Irigasi yang Dapat Digunakan sebagai Saluran


Pembawa PLTMH Tibu Tangkok

Gambar 4. Foto Lokasi Rencana Bendungan yang Ditempatkan Di


Bagian Hulu Terjunan Air pada Sungai Koko Songgan
197

Gambar 5. Foto Lokasi Rencana Bak Penenang pada Tanah Persawahan


Dusun Tibu Tangkok

Gambar 6. Foto Lokasi Rencana Rumah Pembangkit di Salah Satu Sisi


Sungai Koko Songgan
LAMPIRAN 3 Conto
h Laporan Studi Kelayakan Pembangunan PLTMH Bojong
Boled di Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat

1. Informasi Umum
Propinsi : Jawa Barat
Kabupaten : Garut
Kecamatan : Pamulihan
Desa : Garumukti
Dusun : Bojong Boled
Sungai : Cibatarua
Gross Head : 22,5 meter
Debit Desain : 2.000 l/dtk
Potensi Daya Hidrolik Desain : 441 kW
Potensi Daya Listrik : 277,50 kW
Mode Operasi : On Grid Connection
2. Gambaran Lokasi
Lokasi
Salah satu lokasi potensial PLTMH yang telah dilakukan studinya terletak di
sekitar Dusun Bojong Boled. Dusun Bojong Boled merupakan bagian dari
Desa Garumukti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa
Barat dengan posisi koordinat 07025LS dan 107040BT Dusun Bojong Boled
berbatasan dengan Desa Garumukti di sebelah utara, Dusun Kombongan di
sebelah selatan, Sungai Cipaneungeun di sebelah barat dan Sungai
Cibatarua di sebelah timur.
Aksesibilitas
Dusun Bojong Boled (Lokasi Rencana PLTMH Bojong Boled) terletak 58 km
ke arah selatan dari Kota Garut, Propinsi Jawa Barat. Untuk mencapai Dusun
Bojong Boled, dari Kota Garut dapat menggunakan kendaraan roda empat
selama 1,5 jam sampai Ibukota Kecamatan Pamulihan. Kemudian dari
Ibukota Kecamatan Pamulihan ke Desa Garumukti dapat dicapai dengan
menggunakan motor/ojeg selama 15 menit. Sedangkan dari Desa Garumukti
ke lokasi rencana PLTMH Bojong Boled dapat dicapai selama 1 jam dengan
berjalan kaki. Jalan dari Kota Garut ke Ibukota Kecamatan Pamulihan adalah
jalan beraspal dan berbatu sejauh 51 km, sedangkan jalan dari Ibukota
Kecamatan Pamulihan ke Desa Garumukti merupakan jalan beraspal sejauh
3 km. Sedangkan jalan dari Desa Garumukti ke lokasi rencana PLTMH
Bojong Boled berupa jalan tanah sejauh 2 km.
200

Tabel 1. Aksesibilitas Lokasi Rencana PLTMH Bojong Boled


Waktu Moda Kondisi
Rute Jalan Jarak
Tempuh Transportasi Jalan
Garut Pamulihan 51 km 1,5 jam Kend. Roda 4 Beraspal
Pamulihan Kend. Roda 4,
5 km 15 menit Beraspal
Garumukti Motor/Ojeg
Garumukti Lokasi
2 km 1 jam Jalan Kaki Tanah
Rencana PLTMH

3. Kondisi Topografi dan Geologi


Irigasi sungai Cibatarua yang mengalir ke arah selatan ini terletak di sebelah
utara Dusun Bojong Boled. Berdasarkan peta topografi, kondisi kemiringan
tanah di sepanjang irigasi sungai Cibatarua cukup terjal, terlebih pada daerah
rencana PLTMH. Sedangkan keadaan tanah sepanjang sungai merupakan
tanah lunak dan terdapat batuan cadas. Gambar detail kondisi topografi di
sekitar irigasi Sungai Cibatarua ditunjukkan pada lampiran laporan ini.
4. Kondisi Sosial Ekonomi
Pemukiman masyarakat sekitar rencana PLTMH Bojong Boled terletak
membentuk kelompok-kelompok kecil atau dusun. Kebanyakan masyarakat
di sana bermata pencaharian sebagai petani yang mengelola persawahan.
Pengelolaan lahan dan hasil pertanian masyarakat masih dilakukan secara
tradisional.
Untuk bahan bangunan seperti batu dan pasir banyak terdapat di sekitar
Sungai Cibatarua, sedangkan semen harus dibeli di kota Kecamatan
Pamulihan yang berjarak sekitar 7 km dari lokasi rencana PLTMH Bojong
Boled. Di Dusun Bojong Boled terdapat bangunan umum yaitu sebuah
bangunan masjid. Masyarakat juga memiliki organisasi kemasyarakatan
seperti kelompok pengajian.
5. Kondisi Elektrifikasi
Dusun Bojong Boled di Desa Garumukti belum memperoleh listrik yang
disuplai oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Jarak terdekat jaringan listrik
PLN ke Dusun Bojong Boled sekitar 2 km. PLN dalam waktu beberapa tahun
ke depan belum mempunyai rencana mensuplai energi listrik untuk
masyarakat di Dusun Bojong Boled. Sementara ini untuk penerangan rumah,
masyarakat menggunakan kincir sederhana sebanyak 16 buah milik pribadi
perorangan, petromak dan lampu tempel dengan bahan bakar minyak tanah.
Jumlah rumah di Dusun Bojong Boled dan sekitarnya saat ini lebih kurang 65
rumah. Berdasarkan informasi masyarakat, kebutuhan energi listrik per
rumah sekitar 110 W untuk penerangan pada malam hari dan penggunaan
peralatan rumah tangga. Dengan mempertimbangkan jumlah fasilitas umum
yang perlu mendapatkan tenaga listrik untuk penerangan pada malam hari,
jumlah kebutuhan energi listrik Dusun Bojong Boled diperkirakan sekitar 8,14
kW.
201

Tabel 2. Estimasi Kebutuhan Energi Listrik di Dusun Bojong Boled dan


Sekitarnya
Daya
No Uraian Jumlah Daya Listrik
Listrik/Unit
1 Rumah 65 110 W 7,15 kW
2 Masjid/Langgar 1 110 W 0,11 kW
3 Penerangan Jalan 0,88 kW
Total 8,14 kW

6. Potensi Sumber Daya Air (Hidrolik)

Ketersediaan Air
Sumber air untuk PLTMH Bojong Boled merupakan aliran air yang
memungkinkan untuk mendapatkan tinggi jatuhan air yang cukup.
Pengukuran sesaat debit air pada musim kemarau serta informasi
masyarakat menunjukkan tersedianya sumber daya air yang relatif terjamin
sepanjang tahun dalam jumlah yang memadai.
Perencanaan pemanfaatan sumber daya air irigasi Sungai Cibatarua untuk
PLTMH Bojong Boled berdasarkan pada kebutuhan energi listrik masyarakat,
besaran investasi, dan jaminan ketersediaan air sepanjang tahun.
Pengukuran sesaat pada musim kemarau mendapatkan debit aliran air irigasi
Sungai Cibatarua sebanyak 2,6 m3/detik. Banyaknya area hutan di hulu
sungai sebagai konservasi air merupakan faktor penting dalam menjamin
ketersediaan debit air yang cukup sepanjang tahun.
Berdasarkan analisis kebutuhan listrik Dusun Bojong Boled, PLTMH Bojong
Boled didesain untuk memanfaatkan debit air sebanyak 2 m 3/detik, yaitu 77%
dari debit air terukur pada irigasi Sungai Cibatarua saat survey (September
2003). Potensi konflik penggunaan air Sungai Cibatarua untuk kegiatan lain
sepanjang daerah intake sampai tail race (tempat aliran air PLTMH kembali
ke Sungai Cibatarua) tidak ada.

Head Desain
Topografi daerah Cibatarua, khususnya sekitar aliran Sungai Cibatarua,
memiliki potensi yang baik untuk mendapatkan tinggi jatuhan air yang
memadai untuk pembangunan PLTMH. Tinggi jatuhan air (head) untuk
PLTMH Bojong Boled terdapat pada lokasi sejauh 150 meter dari pemukiman
penduduk Dusun Bojong Boled.
Desain tinggi jatuhan air (gross head) untuk PLTMH Bojong Boled sebesar
22,5 m. Head tersebut diperoleh setelah membawa aliran air melalui saluran
pembawa (headrace) sepanjang 6,6 meter. Detail penampang tinggi jatuhan
air dapat dilihat pada lampiran laporan ini.
202

7. Layout Sistem dan Kapasitas Daya PLTMH Bojong Boled


PLTMH Bojong Boled memanfaatkan sumber air irigasi Sungai Cibatarua.
Intake saluran PLTMH terletak pada sisi kiri irigasi Sungai Cibatarua.
Rencana lokasi bak penenang dan rumah pembangkit PLTMH Bojong Boled
masing-masing terletak pada koordinat posisi 07 02543,8 LS; 10704054,9
BT dan 0702543,0 LS; 10704055,8 BT. Gambar basic- layout sistem
PLTMH Bojong Boled dapat dilihat pada lampiran laporan ini.
Tabel 3. Letak Geografis Lokasi Bangunan Sipil PLTMH Bojong Boled

Nama Bangunan Sipil Garis Lintang (LS) Garis Bujur (BT)


Bak Penenang (Forebay) 0702543,8 10704054,9
Rumah Pembangkit (Power
0702543,0 10704055,8
House)

Estimasi kebutuhan energi listrik di Dusun Bojong Boled sebagaimana


ditunjukkan dalam Tabel 2, sekitar 8,14 kW. Daya listrik yang dapat
dibangkitkan Rencana PLTMH Bojong Boled dengan debit 2 m3/detik dan
gross head 22,5 m adalah 277,5 kW.
Tabel 4. Estimasi Kapasitas Daya Rencana PLTMH Bojong Boled

No. Uraian Simbol Nilai

1 Estimasi gross head Hg 22,5 m


2 Debit terukur Qm 2,6 l/dtk
3 Debit desain Qd 0,2 l/dtk
4 Potensi daya hidrolik Desain Ph 441 kW
5 Estimasi net head Hnet 22,16 m
6 Estimasi efisiensi turbin T 0,74
7 Estimasi efisiensi generator G 0,90
8 Estimasi efisiensi transmisi mekanik M 0,98
Estimasi daya listrik terbangkit di Rumah
9 Pel1 277,50 kW
Pembangkit
10 Estimasi rugi-rugi transmisi Ploss 13,875 kW
Estimasi daya listrik di Dusun Bojong
11 Pel2 52,73 kW
Boled dan Sekitarnya
12 Estimasi kebutuhan daya listrik Pexp 8,14 kW
13 Daya listrik cadangan (Pel2 Pexp) Pres 255,49 kW
203

Rumus yang mendasari perhitungan potensi daya hidrolik di atas adalah


Ph = Qd x Hg x g
Dengan :
Ph = potensi daya hidrolik, kW
Qd = debit desain, m3/detik
Hg = gross head, m
g = konstanta percepatan gravitasi, 9.81 m/dtk2
Net head (Hnet) ditentukan dari pengurangan rugi-rugi gesekan dan turbulensi
dalam penstok (Hloss) terhadap gross head (Hg). Estimasi efisiensi turbin,
efisiensi generator dan efisiensi transmisi mekanik masing-masing
merupakan efisiensi untuk turbin crossflow, generator sinkron dan
penggunaan flat belt yang diperoleh berdasarkan spesifikasi manufaktur.
Sedangkan rugi-rugi pada jalur transmisi yang menggunakan tranformator
(trafo) diperkirakan sekitar 5% dari daya listrik yang dibangkitkan di rumah
pembangkit (Pel1).

8. Fasilitas Bangunan Sipil


Fasilitas utama bangunan sipil PLTMH terdiri dari bendungan bronjong,
bangunan penyadapan air (intake), saluran pembawa (headrace), bak
penenang (forebay), pipa pesat (penstock), rumah pembangkit (power house)
dan saluran pengeluaran (tail race).
Bendungan Bronjong
Pengambilan air sebesar 2 m3/detik dari irigasi Sungai Cibatarua memerlukan
bendungan yang berfungsi untuk menjamin pasokan air yang direncanakan
memasuki intake. Bendungan yang direncanakan berupa bangunan bronjong
sepanjang 2,5 m dengan ketinggian 140 cm dari muka air normal (MAN).
Bangunan bronjong dipasang dengan kedalaman 60 cm dari dasar sungai.
Dengan kedalaman sungai rata-rata saat pengukuran adalah 82 cm, maka
bendungan bronjong ini akan menaikkan muka air normal (MAN) pada area
ini setinggi 60 cm. Volume bangunan bronjong direncanakan sebanyak 2,4
m3. Bangunan bronjong ini dilengkapi fasilitas pelimpas dan pintu air
(menggunakan stop log) yang terletak dekat bangunan intake.
Intake
Rencana bangunan penyadapan air, lebih dikenal sebagai bangunan intake
berada pada sisi kanan aliran Sungai Cibatarua. Struktur intake berupa side
intake, dikenal juga sebagai lateral intake berupa pasangan batu kali (1:2)
dengan plesteran semen. Intake dilengkapi dengan trash rack untuk
mencegah masuknya sampah, ranting besar, atau benda-benda terhanyut
yang dapat mengganggu aliran di headrace
204

Saluran Pembawa (Headrace)


Saluran pembawa aliran air (headrace) berupa pasangan batu kali (1:4)
dengan plesteran semen pada bagian permukaan saluran pembawa yang
berkontak dengan air. Saluran pembawa sepanjang 6,6 m ini berukuran
penampang dalam 2,2 m x 2 m, dengan ketebalan pasangan batu kali 40 - 50
cm. Ketinggian air yang mengalir pada kondisi normal adalah 200 cm dari
dasar saluran. Slope saluran pembawa sebesar 1/1000 dengan kecepatan
aliran air rata-rata direncanakan 0,56 m/detik. Saluran pembawa berupa
saluran terbuka (open channel).
Bak Penenang (Forebay)
Bak penenang (forebay) terletak diujung saluran pembawa. Struktur bak
penenang berupa pasangan batu kali (1:2) terdiri dari bak pengendap
(settling basin), saluran pelimpah (spillway), pipa penguras, trashrack, dan
bak penenang sendiri. Bangunan ini sering kali dikenal dengan istilah head
tank, sebagai reservoar air yang terletak pada sisi atas untuk dialirkan ke unit
turbin yang terletak di bagian bawah. Beda tinggi jatuhan air ini yang dikenal
sebagai head.
Bangunan bak penenang berukuran panjang 25,5 m dengan bagian
utamanya adalah bak pengendap berukuran 2250 cm x 350 cm. Kedalaman
bak pengendap bervariasi mulai 200 cm pada bagian pemasukan sampai 204
cm pada bagian ujung dekat pipa penguras. Bagian bak penenang terletak di
ujung dengan ukuran 250 cm x 350 cm x 325 cm. Pada sisi penstock, struktur
pondasi (anchor block) yang menyatu dengan bak penenang berupa coran
beton.
Fasilitas saluran pelimpah pada bak penenang akan mengalirkan air berlebih
ke Sungai Cibatarua sepanjang 63,1 m. Struktur saluran pelimpah berupa
pasangan batu kali berpenampang saluran dalam 100cm x 80cm. Sebagai
finishing adalah lapisan plester semen pada bagian sisi dalam saluran
pelimpah untuk mencegah rembesan.
Penstock
Proses konversi energi dari energi potensial hidrolik menjadi energi kinetik
yang akan dirubah menjadi energi mekanik oleh unit turbin terjadi melalui
pemanfaatan potensi air yang berkumpul di bak penenang (head tank). Air
dari bak penenang mengalir melalui penstock (pipa pesat) menuju turbin yang
terdapat di dalam rumah pembangkit.
Penstock yang diperlukan pada perencanaan PLTMH Bojong Boled
menggunakan besi plat mild steel 6 mm yang di-roll dan dilas ditempat.
Penstock sepanjang 24 m dengan diameter 111 mm akan diperkuat struktur
fondasi (anchor block) berupa coran beton tumbuk, diteruskan bercabang ke
dua penstock berdiameter 76 cm dengan ketebalan 6 mm sepanjang 2 x 4
meter. Pada bagian awal maupun ujung penstock berdiameter 76 cm
205

terdapat pipa reducer. Sebagai finishing, permukaan luar penstock dicat untuk
melindungi terhadap karat.

Rumah Pembangkit dan Tail Race


Rumah pembangkit merupakan tempat peralatan elektrikal-mekanik
terpasang. Unit turbin beserta sistem transmisi mekanik, generator, panel
kontrol, dan ballast load terpasang di dalam bangunan ini. Rumah pembangkit
berukuran 4 m x 6,5 m ini adalah bangunan permanen pasangan bata dengan
plesteran semen. Bagian lantai rumah pembangkit diperkuat struktur coran
beton bertulang sekaligus sebagai pondasi dudukan unit turbin.
Pada PLTMH ini digunakan dua turbin yang airnya berasal dari satu bak
penenang yang sama kemudian dialirkan keluar bak dengan sebuah pipa
berdiameter 111cm yang kemudian dicabangkan ke dua pipa berdiameter 76
cm, dan diteruskan ke-2 pipa tersebut ke 2 buah turbin yang berada di satu
rumah pembangkit.
Bagian bawah lantai rumah pembangkit terhubung dengan saluran
pembuangan air (tail race) menuju Sungai Cibatarua. Panjang saluran
pembuangan adalah 30,5 m. Rencana posisi lantai rumah pembangkit berada
pada ketinggian 5 m dari bibir sungai saat pengukuran (September 2003).
Bangunan rumah pembangkit dilengkapi fasilitas akses jalan sepanjang 12
meter dengan lebar 1 meter. Selain akses jalan, drainase sekitar rumah
pembangkit harus tersedia secara memadai.

9. Perlengkapan Mekanik Elektrik


Perangkat mekanik elektrik sistem PLTMH merupakan produk rekayasa
dalam negeri. Komponen utama perlengkapan ini terdiri dari:
- Turbin - Transmisi Mekanik
- Generator Sinkron - Sistem Kontrol Beban:
Electronic Load Controller/ELC
- Ballast Load: Air Heater - Jaringan Listrik
Turbin
Debit dan head desain yang ada akan cocok dengan turbin jenis crossflow.
Turbin yang dipilih untuk dipakai PLTMH Bojong Boled adalah turbin
crossflow T14 dengan diameter 300 mm dan lebar runner 900 mm, sebanyak
2 buah. Turbin didesain bekerja optimal pada putaran operasi 589 rpm
dengan debit setiap turbin sebesar 1 m 3/detik. Batas minimum yang masih
bisa direkomendasi untuk besar debit minim adalah sampai 402 liter/detik
(untuk tiap turbin), yaitu pada efisiensi 67%.
Transmisi Mekanik
206

Sistem transmisi mekanik berfungsi meneruskan energi mekanik putaran


poros turbin ke generator sekaligus menaikkan putaran sesuai spesifikasi
generator (1500 rpm). Desain transmisi mekanik PLTMH Bojong Boled
menggunakan flat belt Siegling Extremultus GT 40, 5347 x 120 mm. Pulley
pada sisi turbin berdiameter 1050 mm dan pulley kecil pada sisi generator
berdiameter 400 mm. Lebar kedua pulley adalah 140 mm, sedangkan jarak
antara pusat poros turbin dan pulley berjarak 1.500 mm. Sistem transmisi
pada kedua sisi (sisi turbin dan sisi generator) dilengkapi plummer block
bearing untuk menumpu poros pulley. Koneksi pulley menggunakan kopling
fleksible. Spesifikasi teknik lengkap dapat dilihat pada lampiran laporan ini.
Generator
Sebagai pembangkit tenaga listrik digunakan 2 buah AC generator sinkron
220 V, 50 Hz 1500 rpm. Rating generator yang digunakan minimum 175
kVA untuk setiap turbin dengan efisiensi sekitar 90%. Beberapa merek
generator yang umum dipakai dan mudah diperoleh adalah Stamford atau
Mecc Alte Spa.
Sistem Kontrol dan Proteksi
Sistem kontrol bertugas mengatur kompensasi beban untuk menyeimbangkan
beban dengan daya output generator. Sistem ini melindungi generator dan
turbin dari run away speed apabila terjadi beban putus atau drop. Sistem
kontrol yang digunakan adalah Electronic Load Control (ELC) dengan rating
175 kVA. Sistem kontrol ini menyatu dengan panel kontrol listrik dan bekerja
secara otomatis. Pada sistem kontrol ini di pasang 2 buah synchronizer yang
bertugas untuk menyamakan frekuensi. Synchronizer yang pertama bertugas
untuk mensinkronkan frekuensi yang keluar dari masing-masing generator,
sedangkan synchronizer yang ke-2 bertugas untuk mensinkronkan frekuensi
terbangkit dengan jala-jala listrik dari PLN. Sebagai pelengkap, sistem
ketenagalistrikan (electrical system) PLTMH diproteksi dengan penggunaan
Lightning Arrester dan sistem peng-arde-an
Ballast Load
Sebagai penyeimbang beban digunakan ballast load air heater. Kapasitas
ballast load didesain berlebih (over) sebesar minimum 25% yaitu sebesar 175
kVA, sehingga selalu bekerja pada kondisi yang aman di bawah rating
kapasitas ballast load. Hal ini mempengaruhi umur penggunaan ballast load.
Jaringan Transmisi Listrik dan Distribusi
Pemukiman penduduk Dusun Bojong Boled merupakan perumahan yang
tersebar dalam radius + 200 m. Panjang jalur utama transmisi listrik dari
rumah pembangkit ke pusat pemukiman di Dusun Bojong Boled dan ke titik
terdekat PLN adalah 1.900 m. Panjang jaringan transmisi dan distribusi
pada pusat beban sekitar 450 m. Sistem transmisi dan distribusi mengikuti
standardisasi sistem kelistrikan di Indonesia. Kabel yang dipilih untuk jaringan
transmisi utama adalah kabel twisted 4 x 70 mm2, sedangkan untuk jaringan
distribusi digunakan kabel twisted 4 x 35 mm2.
207

Jaringan transmisi PLTMH Bojong Boled terdistribusi melayani 66 bangunan


yang terdiri dari 65 rumah dan 1 masjid. Instalasi rumah (house wiring)
dilakukan sesuai standar PLN dalam penggunaan material kabel dan
aksesoris. Jumlah titik lampu setiap rumah sebanyak 3 buah untuk
penerangan ruang tamu dan ruang keluarga, kamar utama, dan
dapur/belakang rumah. Setiap rumah dilengkapi pembatas arus 0.5 A untuk
mencegah penggunaan listrik yang berlebih.
Output PLTMH Bojong Boled dapat di-grid ke jaringan transmisi PLN
tegangan rendah. Perhitungan yang dilakukan pada studi ini memasukkan
biaya pelistrikan desa sebagai social cost untuk membantu warga sekitarnya.
Pengaturan daya yang digunakan tiap pemakai di Bojong Boled merupakan
kesepakatan pemakai dengan PLN yang dalam hal ini membeli daya listrik
dari PLTMH Bojong Boled.

10. Biaya Pembangunan


Biaya rencana pembangunan PLTMH Bojong Boled disusun berdasarkan
data harga material yang disesuaikan dengan lokasi. Informasi harga
diperoleh melalui wawancara dengan penduduk setempat. Penyediaan
material lokal seperti batu, pasir dan tenaga kerja (gotong royong)
diasumsikan sebagai harga material dan upah setempat. Penyusunan unit
biaya dibuat berdasarkan standar pekerjaan umum. Tabel di bawah ini
memperlihatkan struktur biaya rencana pembangunan PLTMH Bojong Boled.
Detail perhitungan biaya pembangunan dapat dilihat pada lampiran laporan
ini.
Tabel 5. Estimasi Biaya Pembangunan PLTMH Bojong Boled
No Uraian Persentase Jumlah (Rp)
1 Desain Engineering
3% 72.450.000
2 Pengadaan Peralatan Mekanik dan
43% 1.123.549.558
Elektrik
3 Pekerjaan Sipil
16% 421.224.147
4 Jaringan Transmisi dan Distribusi
5% 130.108.965
5 Lain-lain (Penyiapan Masyarakat
11% 280.755.641
dan Pengelolaan)
6 Pajak
8% 202.808.831
7 Pengembangan Proyek(Akuisisi
15% 379.098.028
Tanah, Perijinan, Tender, dll.)
Total 2.609.995.170
100%
Dibulatkan 2.610.000.000
208

Gambar 1. Grafik Struktur Pembiayaan Pembangunan PLTMH Bojong


Boled
Dua komponen terbesar rencana biaya pembangunan PLTMH Bojong Boled
adalah pengadaan peralatan mekanik elektrik dan pekerjaan sipil. Gambar di
atas memperlihatkan komposisi rencana pembiayan PLTMH Bojong Boled.
Biaya pembangunan PLTMH Bojong Boled dengan kapasitas daya
pembangkitan 277,50 kW adalah sebesar Rp 9,4 juta/kW.
11. Analisis Finansial
PLTMH Bojong Boled merupakan salah satu PLTMH yang layak secara
finansial untuk dijadikan sebuah investasi sebagai suatu peluang bisnis.
Beberapa indikator yang dipakai untuk menentukan layak tidaknya PLTMH ini
adalah nilai NPV (Net Preset Value), Waktu Pengembalian (Payback Period),
IRR (Internal Rate of Return), serta PI (Profitability Index).
Untuk disebut layak maka NPV pada tahun yang ditentukan haruslah lebih
besar dari 0 (nol). Waktu Pengembalian (Payback Period) yang dijadikan
patokan adalah tidak melebihi 2/3 umur proyek. Sedangkan apabila dilihat
dari indikator IRR, maka proyek akan layak apabila IRR lebih besar dari
Rata-rata bunga tertimbang (discount rate). Untuk indikator PI harus lebih
besar dari 1 untuk disebut layak.
Pada perhitungan finansial PLTMH Bojong Boled dilakukan beberapa asumsi
yang ditetapkan, yaitu sebagai berikut:
- Kenaikan biaya operasional dan perawatan per tahun sebesar 4%
- Suku bunga pinjaman komersial sebesar 17% per tahun
- Suku bunga deposito sebesar 10% per tahun
- Resiko investasi sebesar 5% per tahun
- Penyesuaian/Peningkatan tarif harga jual per kWh sebesar 2,5% per tahun
- Perhitungan depresiasi diasumsikan 10 tahun
209

- Periode operasi diasumsikan selama 20 tahun


- Suku bunga tertimbang (discount rate) sebesar 15%.
Skema perhitungan dilakukan dengan dua skema, yaitu: skema pertama,
skema investasi dengan jumlah modal sendiri sebesar 100% (tanpa
pinjaman), sedangkan skema kedua menggunakan perhitungan dengan
jumlah modal sendiri sebesar 60% dan pinjaman sebesar 40% dengan waktu
tenggang pembayaran (grace period) 2 tahun dan waktu pembayaran cicilan
10 tahun.
Skema pertama menghasilkan perhitungan yang layak apabila tarif > Rp.215 /
kWh. Dengan tarif sebesar Rp 215/kWh didapat indikator:
NPV pada tahun ke-20 : Rp 31.000.000
Waktu pengembalian : 6,45 tahun
IRR : 15,20%
PI : 1,01
Tabel 6. Hasil Perhitungan Finansial dengan Modal Sendiri 100%

Apabila ingin mendapatkan rasio investasi yang menarik yaitu IRR di atas
20%, maka tarif yang direkomendasikan > Rp 270/kWh seperti terlihat pada
tabel di bawah ini.
Tabel 7. Hasil Perhitungan Finansial dengan Modal Sendiri 100%,
IRR>20%
210

Dengan tarif senilai Rp 270 per kWh, akan didapat indikator sebagai berikut:
NPV pada tahun ke-20 : Rp.854.000.000
Waktu pengembalian : 5,03 tahun
IRR : 30,32%
PI : 1,33
Skema kedua menghasilkan perhitungan yang layak apabila tarif > Rp
265/kWh. Dengan tarif sebesar Rp 265/kWh didapat indikator:
NPV pada tahun ke-20 : Rp 27.000.000
Waktu pengembalian : 6,80 tahun
IRR : 15,96%
PI : 1,01
Tabel 8. Hasil Perhitungan Finansial dengan Modal Sendiri 60% dan
Pinjaman 40%

Apabila ingin mendapatkan rasio investasi yang menarik yaitu IRR diatas
20%, maka tarif yang direkomendasikan > Rp 315/kWh seperti terlihat pada
tabel di bawah ini.
Tabel 9. Hasil Perhitungan Finansial dengan Modal Sendiri 60% dan
Pinjaman 40%, IRR >20
211

Dengan tarif senilai Rp 315 per kWh, akan didapat indikator sebagai berikut:
NPV pada tahun ke-20 : Rp 740.000.000
Waktu pengembalian : 5,47 tahun
IRR : 20,14%
PI : 1,29
Dilihat dari analisis beberapa skema di atas maka kesepakatan penentuan
tarif harga jual per kWh memegang peranan yang sangat penting terhadap
kelayakan proyek.

12. Kesimpulan
Secara teknis pembangunan PLTMH Bojong Boled layak dilaksanakan.
Dilihat dari aspek biaya pembangunan sebesar Rp 9,4 juta/kW. Apabila dikaji
lebih jauh, direct cost pembangunan fisik PLTMH Bojong Boled hanya
sebesar Rp 8 juta/kW.
Beberapa hal yang berhasil diidentifikasi dari kegiatan studi adalah sebagai
berikut:
1) PLTMH Bojong Boled yang direncanakan akan
memanfaatkan sumber daya air irigasi Sungai Cibatarua. Sumber daya
air irigasi Sungai Cibatarua relatif dapat menjamin pasokan air sepanjang
tahun dalam jumlah memadai sehingga PLTMH dapat beroperasi secara
optimum sepanjang tahun.
2) Rencana PLTMH Bojong Boled menggunakan teknologi
turbin crossflow sebanyak 2 buah dengan masing-masing diameter 300
mm dan lebar runner 900 mm. Debit desain sebesar 2 m3/detik
merupakan 77% dari keseluruhan debit. Ketinggian head desain adalah
22,5 meter.
3) Secara finansial PLTMH layak untuk dijadikan kesempatan
investasi dengan beberapa asumsi dasar dan tarif harga jual kWh yang
tertentu.
4) Skema pembiayaan pertama, yaitu dengan pembiayaan
modal sendiri 100%, perhitungan finansial menghasilkan perhitungan
yang layak apabila tarif > Rp 215/kWh. Dengan tarif sebesar Rp 215/kWh
didapat indikator:
- NPV pada tahun ke-20 : Rp 31.000.000
- Waktu pengembalian : 6,45 tahun
- IRR : 15,20%
- PI : 1,01
5) Skema pembiayaan pertama, apabila ingin mendapatkan
rasio investasi yang menarik yaitu IRR diatas 20%, maka tarif yang
212

direkomendasikan > Rp 270/kWh. Dengan tarif sebesar Rp 270/kWh


didapat indikator:

- NPV pada tahun ke-20 : Rp 854.000.000


- Waktu pengembalian : 5,03 tahun
- IRR : 30,32%
- PI : 1,33
6) Skema pembiayaan kedua, yaitu dengan pembiayaan modal
sendiri sebesar 60% dan 40% pinjaman menghasilkan perhitungan yang
layak apabila tarif > Rp 265/kWh. Dengan tarif sebesar Rp.265/kWh
didapat indikator:
- NPV pada tahun ke-20 : Rp 27.000.000
- Waktu pengembalian : 6,80 tahun
- IRR : 15,96%
- PI : 1,01
7) Skema pembiayaan kedua, apabila ingin mendapatkan rasio
investasi yang menarik yaitu IRR diatas 20%, maka tarif yang
direkomendasikan > Rp 315/kWh. Dengan tarif sebesar Rp 315/kWh
didapat indikator:
- NPV pada tahun ke-20 : Rp 740.000.000
- Waktu pengembalian : 5,47 tahun
- IRR : 20,14%
- PI : 1,29
213

13. Dokumentasi

Foto 1. Rencana Bendungan

Foto 2. Saluran Pembawa yang Sudah Ada


214

Foto 3. Rencana Bak Penenang dan Rumah Pembangkit

Foto 4. Sungai Cibatarua


LAMPIRAN 4
Contoh Proses Pembangunan PLTMH Seloliman/Kali Maron
(On Grid) yang Disertai Upaya Pelibatan Masyarakat di
Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Kali Maron pertama kali


dibangun pada tahun 1994 melalui kerjasama Pusat Pendidikan Lingkungan
Hidup (PPLH) Seloliman, GTZ, dan Yayasan Mandiri. PLTMH tersebut
berkapasitas 12 kW dan direncanakan akan digunakan untuk melistriki 3
dusun di Seloliman (Janjing, Sempur, dan Biting) selain untuk memenuhi
kebutuhan listrik PPLH sendiri. Rencana ini berantakan karena PLN pada
tahun itu mulai memasang tiang di dua dusun dari tiga dusun tersebut.
Sebagian besar masyarakat juga cenderung memilih untuk menjadi
pelanggan PLN. Akhirnya, listrik dari PLTMH hanya digunakan oleh
masyarakat Dusun Janjing dan PPLH sendiri.
PLTMH ini beroperasi normal selama 6 tahun (selanjutnya disebut fase
pertama) dan dikelola oleh PPLH tanpa peran serta yang signifikan dari
masyarakat. Kerusakan parah terjadi pada tahun 2000 yang memaksa
PLTMH tersebut berhenti beroperasi. PPLH yang tidak memiliki dana yang
cukup untuk melakukan perbaikan besar kemudian berupaya untuk
mendapatkan dana dari luar. Hal ini juga menumbuhkan kesadaran perlunya
meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan PLTMH.
Perbaikan dan sekaligus upgrading (peningkatan kapasitas pembangkit)
berhasil dilakukan pada tahun itu juga dan menandai awal fase kedua PLTMH
Kali Maron. Upgrading ini lebih merupakan penggantian komponen elektronik
mekanik; turbin, generator, dan sistem kontrol. Proyek upgrading ini
terlaksana melalui kerjasama Konsorsium Seloliman dengan GEF-
SGP/UNDP. Konsorsium Seloliman merupakan konsorsium yang khusus
didirikan untuk proyek upgrading tersebut beranggotakan PPLH dan LEM21.
Upgrading menghasilkan PLTMH dengan kapasitas yang lebih besar, yakni
32 kW. Peningkatan kapasitas ini kemudian memungkinkan peningkatan
daya terpasang per konsumen dan penambahan jumlah konsumen.
Beberapa rumah di dusun Sempur kemudian ikut menjadi konsumen PLTMH
Kali Maron. Pada fase kedua ini juga mulai ada penggunaan oleh
masyarakat untuk kegiatan-kegiatan produktif.
Proyek upgrading ini juga disertai upaya-upaya capacity building
(pengembangan kapasitas) masyarakat pengguna. Upaya-upaya tersebut
dan sekaligus pendekatan baru dalam pola interaksi antara PPLH dengan
masyarakat akhirnya menghasilkan pola pengelolaan PLTMH yang lebih
melibatkan masyarakat. PLTMH Kali Maron dikelola oleh Paguyuban Kali
Maron (PKM) yang beranggotakan semua konsumen PLTMH termasuk PPLH
sendiri.
216

Masih kecilnya kebutuhan daya saat ini mengakibatkan potensi daya


terbangkit tidak termanfaatkan dengan optimal. Oleh karena itu kemudian
dirintis upaya interkoneksi dengan jaringan PLN untuk menjual kelebihan
daya. Kontrak interkoneksi sudah ditandatangani pada 17 November 2003.
Interkoneksi mulai dilakukan pada 2 Desember dan diresmikan pada 5
Desember 2003.

Gambar 1. PLTMH Seloliman/Kali Maron, Mojokerto, Jawa Timur


217

LAMPIRAN 5 Conto
h Anggaran Dasar Badan Pengelola PLTMH Silayang di
Kabupaten Pasaman, Propinsi Sumatera Barat

ANGGARAN DASAR
PERUSAHAAN LISTRIK DESA
PARIT SILAYANG KECAMATAN RAO MAPAT TUNGGUL
KABUPATEN PASAMAN PROPINSI SUMATERA BARAT

BAB I
NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 1
(1) Badan Pengelola Listrik Pedesaan ini bernama PERUSAHAAN LISTRIK
DESA PARIT SILAYANG (PLDPS).
(2) PERUSAHAAN LISTRIK DESA PARIT SILAYANG berkedudukan di desa
Parit Silayang Perwakilan Kecamatan Rao Mapat Tunggul.

BAB II
AZAZ, TUJUAN DAN TUGAS
Pasal 2
PERUSAHAAN LISTRIK DESA PARIT SILAYANG didirikan atas dasar azaz
Pancasila.

Pasal 3
Tujuan pembentukan Perusahaan Listrik Desa Parit Silayang adalah:
(1) Membangun Sarana Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH)
(2) Mendayagunakan dan melestarikan sarana yang sudah dibangun melalui
suatu usaha pengelolaan dan pemeliharaan yang tepat.
(3) Memenuhi kebutuhan listrik masyarakat desa yang bersangkutan melalui
manajemen pembangkit listrik.
218

(4) Menumbuh kembangkan usaha ekonomi yang mampu meningkatkan


pendapatan Desa Parit Silayang dan sekitarnya .
(5) Mengelola keuangan dari hasil pendayagunaan PLTM untuk membiayai
pendayagunaan dan pelestarian sarana serta meningkatkan pendapatan
asli desa melalui sisa hasil usaha seperti yang diatur dalam pasal 19.

Pasal 4
Tugas-tugas Badan Pengelola Perusahaan Listrik Desa Parit Silayang
adalah:
(1) Melaksanakan perencanaan dan pengembangan pembangunan Sarana
Pembangkit Listrik tenaga Mikrohidro.
(2) Melaksanakan pengoperasian, pemeliharaan, pangawasan dan perbaikan
sarana secara tepat.
(3) Melaksanakan pengelolaan sarana dengan penuh tanggung jawab
termasuk mengatur pembagian listrik dan menentukan serta memungut
iuran dari pemakai dan mengatur penggunaan yang berdasarkan
ketentuan yang telah ditetapkan oleh Rapat Pengurus
(4) Mengadakan hubungan dan kerjasama dengan instansi terkait lainnya
yang dianggap perlu dalam rangka peningkatan efektivitas dan
produktivitas PLDPS dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan
anggaran dasar ini, Anggaran Rumah Tangga dan Peraturan-peraturan
lain yang berlaku
(5) Membina dan membimbing keselamatan pemakai dan anggota
masyarakat lainnya dibidang pemanfaatan dan penggunaan listrik yang
sesuai dengan persyaratan.
(6) Membayar angsuran pada pihak ketiga sesuai dengan perjanjian yang
ditetapkan.

BAB III
SIFAT DAN BENTUK
Pasal 5
(1) Perusahaan Listrik Desa Parit Silayang dibentuk sebagai Badan Usaha
Milik Desa oleh Pemerintah Desa dan LKMD, pengurusnya terdiri dari
anggota yang terdiri dari anggota yang terpilih oleh Dewan Pengawas
dan disyahkan dengan Surat Keputusan Kepala Desa dan diketahui oleh
Camat serta bertugas untuk melayani PLDPS sebagai Badan Usaha Milik
Desa serta kebutuhan masyarakat akan listrik.
(2) PLDPS dibentuk dengan tetap memperhatikan lembaga yang ada di desa.
219

(3) Segala keputusan yang berhubungan dengan PLDPS ini ditetapkan dalam
sidang Pemerintah Desa bersama LKMD, yang dipimpin oleh Kepala
Desa, antara lain:

a. Membuat, merubah dan mengganti Anggaran Dasar.


b. Memilih anggota Dewan Pengawas
c. Menolak atau menerima pertanggung jawaaban Badan Pengurus.

BAB IV
WILAYAH KERJA
Pasal 6
Wilayah kerja PLDPS adalah Desa Parit Silayang Perwakilan Kecamatan Rao
Mapat tunggul.

BAB V
SUSUNAN ORGANISASI
Pasal 7
Susunan organisasi Perusahaan Listrik Desa Parit Silayang adalah sebagai
berikut:
a. Penasihat / Pelindung
b. Dewan Pengawas
c. Pengurus
d. Badan Pemeriksa

Pasal 8
(1) Penasehat/Pelindung adalah Camat.
(2) Dewan Pengawas terdiri dari:
a. Kepala Desa sebagai ketua Ketua Dewan Pengawas (Ketua)
b. Ketua KAN/Ninik Mamak (Anggota)
c. Ketua I LKMD (Anggota)
d. Anggota
e. Anggota
(3) Badan Pengurus terdiri dari:
220

a. Manajer sebagai Ketua


b. Wakil Manajer sebagai Sekretaris
c. Bendahara

d. Tenaga Teknis I
e. Tenaga Teknis II
(4) Badan Pemeriksa terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat desa yang
bertanggung jawab, jujur dan tidak anggota Dewan Pengawas atau
Badan Pengurus, yang dapat dipercaya serta terpilih sebagai Badan
Pemeriksa oleh Pemerintah Desa dan LKMD dan sekurang-kurangnya
berjumlah 3 (tiga) orang.

BAB VI
KEPENGURUSAN
Pasal 9
(1) Anggota pengurus dipilih oleh Dewan Pengawas.
(2) Yang dapat dipilih sebagai pengurus adalah mereka yaang dinilai oleh
anggota Dewan Pengawas sebagai orang yang:
a. Jujur, tekun, bertanggung jawab dan mampu serta bersedia
menyediakan waktu
b. Bersedia memenuhi tugas dan kewajiban serta tanggung jawab yang
telah ditentukan.
(3) Yang tidak dapat dipilih sebagai pengurus adalah:
a. Kepala Desa dan keluarga dekat Kepala Desa
b. Anggota LMD dan Aparat Desa sebagai yang duduk pengambil
keputusan.
(4) Pengurus dipilih untuk masa jabatan empat tahun dan dapat dipilih
kembali.
(5) Seorang anggota Badan Pegurus dapat diberhentikan dari jabatannya
melalui suatu sidang Dewan Pengawas jika terbukti bahwa:
a. Pengurus menyalah gunakan wewenang dalam pengelolaan sarana
sehingga merugikan PLDPS
b. Pengurus tidak melaksanakan tugas dan kewajiban yang telah
ditetapkan sehingga menghambat kelancaran kerja PLDPS
c. Pengurus melakukan pelanggaran berat terhadap Anggaran Dasar
atau Anggaran Rumah Tangga atau peraturan-peraturan lain yang
menyangkut pada PLDPS maupun di desa.
221

BAB VII
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 10
(1) Penasehat/Pelindung berhak memberi sarannya dan nasehatnya dalam
semua hal atau masalah yang bersambung dengan pengelolaan PLDPS.
(2) Terutama dalam perbedaan pendapat antara Dewan Pengawas PLDPS di
satu pihak, Pemerintah Desa dan LKMD di pihak lain,
Penasehat/Pelindung bisa dimohon untuk mendamaikan dan
memufakatkan.

Pasal 11
Badan Pengawas mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut:
(1) Membuat, merobah dan mengganti Anggaran Rumah Tangga
(2) Memilih, mengangkat, memindahkan jabatan dan memberikan peringatan
serta memberhentikaan anggota Pengurus
(3) Mensahkan dan mengawasi pelaksanaan rencana kerja, Rencana
Anggaran Pendapatan dan Belanja PLDPS tahunan
(4) Menolak atau menerima pertanggung jawaban Badan Pengurus
(5) Menerima Laporan Badan Pemeriksa dan menyampaikan hasil
pemeriksaan pada Pemerintah Desa dan LKMD, serta memberikan
laporan dan pertanggung jawaban tahunan secara terbuka mengenai
pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan keadaan sarana
(6) Memberikan persetujuan untuk pinjaman yang diusulkan oleh Badan
Pengurus
(7) Mengadakan rapat secara teratur, paling sedikit dua kali setahun. Selain
rapat diadakan secara khusus, jika dianggap perlu oleh seseorang
anggota Dewan pengawas atau oleh Rapat Dewan Pengawas atau oleh
Rapat Badan Pengurus.

Pasal 12
Pengurus mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut:
(1) Melaksanakan ketentuan-ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga serta keputusan dan peraturan lain yang ditetapkan oleh
Dewan Pengawas dan dalam Rapat Badan Pengurus, termasuk
222

penyelesaian sengketa yang menyangkut pemenfaatan sarana yang


terjadi antar pemakai
(2) Menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja PLDPS Tahunan
serta pinjaman
(3) Melaksanakan rencana kerja PLDPS yang telah di syahkan oleh Rapat
Umum Anggota ( RUA ) dan Dewan Pengawas
(4) Mengadakan Rapat secara teratur, paling sedikit satu kali dalam tiga bulan
dan memberikan laporan
(5) Mengadakan rapat-rapat Badan Pengurus secara khusus yang dianggap
perlu selain rapat periodik yang telah dijadwalkan
(6) Mengadakan pembinaan dan bimbingan kepada pemakai sarana dan
anggota masyarakat lainnya mengenai pemanfaatan sarana
(7) Melaksanakan administrasi dan pembukuan PLDPS secara tepat dan
terbuka. Sistem dan tata cara penyelenggaraan pembukuan dan
administrasi PLDPS akan diatur dalam peraturan tersendiri yang khusus
ditetapkan untuk maksud-maksud tertentu.
(8) Memberikan laporan dan pertanggung jawaban secara terbuka dalam
setiap rapat Badan Pengurus mengenai pelaksanaan kegiatan perjalanan
dan kegiatan sarana
(9) Memberikan pertanggung jawaban mengenai pengelolaan sarana dan
keuangan PLDPS apabila diperlukan atas permintaan Dewan Pengawas,
selain yang ditetapkan dalam butir (8) di atas
(10) Memberikan peringatan kepada pemakai atau anggota masyarakat
lainnya, jika yang bersangkutan terbukti melakukan pelanggaran yang
dapat menggangu kelancaran kerja PLDPS atau merugikan pemakai
lainnya
(11) Mencabut atau memberhentikan aliran listrik ke rumah pemakai jika
terbukti yang bersangkutan tidak mengindahkan peringatan yang
dikeluarkan oleh PLDPS, seperti yang ditetapkan dalam butir (10)
(12) Menentukan dan menuntut iuran dari pemakai sejumlah dan dalam
jangka waktu yang telah ditetapkan
(13) Menanggung kerugian organisasi PLDPS yang diakibatkan kelalaian
pengurus.

BAB VIII
PARA PEMAKAI SARANA
Pasal 13
Yang dapat menjadi anggota Pemakai Sarana adalah:
a. Masyarakat Desa Parit Silayang
223

b. Masyarakat Desa sekitarnya


c. Sarana umum seperti mesjid, sekolah dan sebagainya.

Pasal 14
(1) Anggota masyarakat yang ingin mendapat pelayanan sarana harus
mengajukan permohonan lansung kepada PLDPS.
(2) PLDPS berhak mempertimbangkan, menerima atau menolak permohonan
yang diajukan dan memberikanjawaban atas permohonan anggota
masyarakat selambat-lambatnya 1 bulan setelah permohonan diterima.
(3) Calon anggota bersedia membayar biaya perorangan sejumlah yang telah
ditetapkan oleh PLDPS.

Pasal 15
Konsumen yang ingin berhenti sebagai pemakai sarana mengajukan
permohonan kepada pengurus PLDPS.

BAB IX
HAK DAN KEWAJIBAN PEMAKAI
Pasal 16
(1) Pemakai sarana berhak untuk:
a. Mendapat pelayanan listrik sesuai dengan ketentuan yang berlaku
b. Dipilih menjadi anggota pengurus PLDPS.
(2) Pemakai Sarana berkewajiban untuk:
a. Membayar sejumlah iuran/retribusi yang telah ditetapkan oleh Rapat
Pengurus
b. Keterlambatan dalam pembayaran iuran/retribusi akan dikenakan
denda dan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

BAB X
PEMERIKSAAN
Pasal 17
(1) Pemeriksaan dilakukan oleh Badan Pemeriksa sekurang-kurangnya 1
(satu) kali dalam setahun.
(2) Dalam hal pemeriksaan pembukuan jika diperlukan dapat didatangkan ahli
dari luar.
224

(3) Badan Pemeriksa akan memberikan hasil pemeriksaannya kepada Badan


Pengurus, Dewan Pengawas, Pemerintah Desa dan LKMD setempat.
(4) Badan Pengurus berhak memberikan penjelasannya dan pernyataannya
kepada badan pengawas, Pemerintah Desa dan LKMD mengenai yang
ditemukan dalam laporan hasil pemeriksaan.
BAB XI
RAPAT-RAPAT
Pasal 18
Rapat-rapat yang tersebut dalam Anggaran Dasar ini dianggap syah jika
dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota lembaga yang
terkait. Keputusan diambil berdasarkan musyawarah dan mufakat. Dalam
hal tidak tercapai kata mufakat, maka keputusan diambil dengan suara
terbanyak dari anggota yang hadir. Dalam hal suara sama banyak,
keputusan ditetapkan oleh ketua.

BAB XII
MODAL USAHA
Pasal 19
Modal Badan Usaha Listrik Desa Parit Silayang diperoleh dari:
a. Pemerintah
b. Iuran Pemakai
c. Sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat
d. Pinjaman
e. Usaha-usaha lain yang syah menurut hukum serta tidak bertentangan
dengan ketentuan-ketentuan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga
dan peraturan-peraturan lain yang berlaku.

BAB XIII
HASIL USAHA
Pasal 20
(1) Hasil usaha adalah jumlah pendapatan kotor tahunan yang bersisa
setelah ditarik semua pengeluaran yang sudah dikeluarkan.
(2) Pendapatan kotor tersebut dalam butir ( 1 ) harus dikurangkan oleh jumlah
yang diperlukan untuk:
a. Pengembangan sarana/perbaikan
b. Pembinaan pemakai dan anggota masyarakat lainnya dibidang
pemanfaatan sarana
225

c. Membayar kewajiban PLDPS pada pihak lain, jika ada (misalnya untuk
angsuran pembayaran kembali dan bunga pinjaman)
d. Dana cadangan/dana lain-lain
e. Pendidikan dan Latihan pengurus serta petugas lainnya dari PLDPS.
(3) Pengeluaran ditetapkan antara 15 % sampai dengan 45 % dari
pendapatan kotor tersebut dalam butir (1). Pengeluaran untuk
pengembangan / perbaikaan sarana, gaji dan honor yang dibayar pada
anggota Badan Pengurus serta petugas lainnya, juga dapat ditentukan
dalam persentase dari pendapatan kotor.
(4) Hasil usaha yang ada sisanya setelah perkurangan tersebut dalam butir
(2) dan (3) sudah dilakukan, adalah pendapatan bersih atau Sisa Hasil
PLDPS.
(5) Pendapatan bersih (net profit) tersebut dalam butir (4) dibagi keuntungan
saham akan dimasukkan dalam Kas Desa (AAPKD).

Pasal 21
(1) Bilamana PLDPS dibubarkan karena sesuatu hal diluar kekuasaan,
misalnya karena bencana alam, maka semua kekayaan PLDPS
digunakan untuk melunasi segala kewajiban PLDPS.
(2) Segala sisa kekayaan (jika ada, setelah membayar segala kewajiban
PLDPS) menjadi kekayaan desa.

BAB XIV
PERUBAAHAN ANGGARAN DASAR
Pasal 22
(1) Perubahan Anggaran Dasar ini hanya dapat dilakukan dalam suatu Rapat
Khusus Pemerintah Desa bersama LKMD yang dihadiri oleh sekurang-
kurangnya 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggotanya.
(2) Keputusan diambil dengan jumlah sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga)
dari jumlah anggota yang hadir.

BAB XV
KEDUDUKAN HUKUM LAHAN
Pasal 23
(1) Lahan yang dipergunakan untuk PLTM adalah lahan yang dipergunakan
untuk saluran, intake, bak pengendap, bak pelimpah, lahan dibawah
datau pada pipa pesat, rumah turbin dan dam sekitar rumah turbin.
226

(2) Lahan yang dibangun untuk PLTM ini dimiliki melalui porses penyerahan
melalui surat pernyataan hitam di atas putih terlebih dahulu.
(3) Lahan yang dilalui oleh tiang-tiang, baik berupa tiang transmisi maupun
distribusi digunakan dengan persetujuan pemilik lahan dan pengurus
dengan sukarela dan tidak menuntut ganti rugi.

BAB XVI
PEMILIKAN SARANA
Pasal 24
(1) Sarana PLTM ini dimiliki oleh PLDPS untuk membantu menerangi Desa
Parit Silayang.
(2) Sarana tersebut, terdiri dari:
a. Bangunan Sipil
b. Pipa Pesat
c. Rumah Turbin dan Isinya
d. Tiang Transmisi dan Distribusi
e. Kabel Transmisi dan Distribusi

BAB XVII
PENUTUP
Pasal 26
Hal-hal yang belum tercantum dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam
Anggaran Rumah Tangga atau Peraturan Khusus yang disusun oleh PLDPS
dengan berpedoman pada Anggaran Dasar ini.

DITETAPKAN DI DESA SILAYANG

Pemerintah Desa/LMD Atas nama LKMD


Kepala Desa Ketua I LKMD

Nazaruddin Mat Utin

Diketahui Oleh:
CAMAT RAO MAPAT TUNGGUL
227

Drs. R. Nazar
NIP. 410003351
228

LAMPIRAN 6 Conto
h Pola Pengelolaan PLTMH Taba di Kabupaten Tana Toraja,
Propinsi Sulawesi Selatan

Pola Pengelolaan PLTMH Taba


Desa Buntu Minanga (Taba) dan Sarambu, Kec. Buntu Pepasan
(Rindingallo), Kabupaten Tana Toraja, Propinsi Sulawesi Selatan

A. Keberlanjutan Pelayanan
A.1. Kualitas dan Kinerja Sistem
PLTMH Taba berdasarkan dokumen yang dimiliki oleh pelaksana
pembangunan fisik dalam hal ini sebuah LSM dari Bandung mempunyai
spesifikasi sebagai berikut.
Kapasitas Terpasang : 46 kW
Head : 33,77 m
Debit : 250 liter/detik
Turbin : Crossflow T12, bo 156 mm
Transmisi Mekanik : Flat Belt
Generator : Synchronous
Sistem Kontrol : Electronic Load Controller (ELC)
Kapasitas terbangkit PLTMH Taba pada saat survey dilakukan (Oktober
2005) sekitar 38 kW. Nilai kapasitas terbangkit tersebut diperoleh
berdasarkan pengukuran di lapangan yang meliputi pengukuran debit air, arus
serta tegangan listrik di rumah pembangkit dengan dilengkapi data-data
sekunder di atas seperti head, jenis turbin, generator dan transmisi mekanik.
Berdasarkan pengukuran di atas juga diperoleh informasi bahwa pada siang
hari sekitar 30% dari listrik yang dibangkitkan (12 kW) disalurkan ke beban
ballast dan 70% lagi (26 kW) digunakan oleh konsumen PLTMH Taba.
Kapasitas 38 kW tersebut di atas berasal dari air sebanyak 210 liter/detik
yang dijatuhkan dari ketinggian 33,77 m. Sebenarnya air yang mengalir
melalui saluran pembawa ada sebanyak 250 liter/detik tetapi dengan
mengatur bukaan pada guide vane turbin diperkirakan sebanyak 15% atau 40
liter/detik terbuang melalui saluran pelimpah. Apabila air sebanyak 250
liter/detik seluruhnya dialirkan melalui pipa pesat maka diperkirakan PLTMH
Taba dapat membangkitkan listrik sekitar 45 kW dengan asumsi telah ada
penurunan efisiensi pada turbin Crossflow yang telah beroperasi selama 6
tahun sejak 1999 dengan waktu operasi setiap hari 24 jam non stop.
229

Sistem fisik PLTMH Taba juga dilengkapi dengan perangkat yang jarang ada
di sistem PLTMH lain di tanah air yaitu trasformator step up dan step down
serta pengukur penggunaan listrik oleh konsumen (kWh meter). Perangkat
tersebut jarang ada di lokasi lain karena harganya cukup mahal baik untuk
transformator maupun kWh meter tetapi keduanya dapat meningkatkan
kualitas listrik yang diterima konsumen dan memberikan rasa keadilan dalam
pembayaran iuran listrik sesuai dengan penggunaan di rumah tangga masing-
masing.
Tabel 1. Hasil Pengukuran Kapasitas Terbangkit PLTMH Ta'ba
(dari Sisi Hidraulik)

Item Nilai
1. Pengukuran Debit
Lebar Saluran (l, m) 0,8
Kedalaman Saluran (d, m) 0,48
Jarak Tempuh Pelampung (p, m) 6
Waktu Tempuh Pelampung (t, dtk) 7,8
Luas Penampang (A, m2) 0,384
Kecepatan Pelampung (m/dtk) 0,769

Asumsi Faktor Koreksi Kecepatan


0,85
Pelampung

Perkiraan Air yang Masuk Pipa Pesat 0,85


Debit Air (Q, m3/dtk) 0,213
2. Pengukuran Kapasitas Terbangkit
Head (h, m) 33,77
Konstanta Gravitasi 9,8
Potensi Hidraulik (kW) 70,6
Asumsi Efisiensi Turbin 0,65
Asumsi Efisiensi Transmisi Mekanik 0,98
Asumsi Efisiensi Generator 0,85
Kapasitas Terbangkit (kW) 38,2
Kapasitas Terbangkit (kW), Dibulatkan 38
230

Tabel 2. Hasil Pengukuran Kapasitas Terbangkit PLTMH Ta'ba


(dari Sisi Elektrik)
Beban Beban Beban
Item
Konsumen Ballast Total
Arus Satu Fasa (A) 50 50
Tegangan Satu Fasa (V) 220 100
Daya Satu Fasa (VA) 11000 5000
Daya Tiga Fasa (VA) 33000 15000
Daya Terbangkit (kVA) 48
Daya Terbangkit (kW) 38,4
Daya Terbangkit (kW), Dibulatkan 38

PLTMH Taba selama masa operasinya baru mengalami perbaikan ringan


sebanyak dua kali yaitu pada komponen bearing sistem transmisi mekanik
antara turbin dan generator. Dengan mempertimbangkan bahwa kemampuan
pembangkitan PLTMH masih mendekati dari yang dirancang yaitu 45 kW dari
yang dirancang 46 kW dan pertimbangan selama 6 tahun beroperasi setiap
hari 24 jam non stop baru mengalami perbaikan ringan pada bearing, maka
dapat dikatakan kualitas dan kinerja sistem fisik PLTMH tersebut cukup baik.
Distribusi daya dari PLTMH Taba dilakukan menggunakan kWh meter
dengan pembatas daya 900 watt per rumah. Kualitas pelayanan pada
dasarnya normal yang ditunjukkan dengan hasil pengukuran nilai tegangan
pada titik pemakaian berkisar 200 210 volt. Sedangkan tegangan output
generator sebesar 220 volt.
A.2. Kinerja Pengelolaan
Teknisi melaksanakan kegiatan rutin operasional PLTMH, yaitu
menghidupkan dan mematikan sistem. Dalam hal kemampuan perawatan,
teknisi pada umumnya hanya dapat melakukan perbaikan-perbaikan ringan
dan perawatan rutin bak penampung dan saluran air di sekitarnya.
Sedangkan kerusakan mekanik/elektrik ditangani oleh badan pengelola
dengan cara membawa komponen yang rusak ke Kota Rantepao seperti ke
Yayasan Turbin Desa untuk diperbaiki atau dicarikan penggantinya.
Setiap akhir bulan (tanggal 25) badan pengelola melakukan pertemuan rutin
untuk membahas pelaksanaan berbagai program kerja yang telah ditetapkan
seperti perawatan sistem fisik PLTMH (mekanik, eletrik, sipil), pembacaan
meteran listrik, penarikan iuran dari pelanggan dan penggunaan dana yang
dikelola pengurus. Badan pengelola PLTMH Taba telah membuat peraturan
tertulis berkenaan dengan hak dan kewajiban pelanggan dan pengurus.
Peraturan yang telah dibuat itu sebagian besar dipatuhi oleh pihak-pihak
terkait. Perencanaan keuangan dibuat secara berkala (tahunan) tetapi hanya
meliputi pos-pos pengeluaran tertentu saja seperti gaji bulanan pengelola dan
biaya perawatan serta perbaikan aspek mekanik, elektrik dan bangunan sipil
sistem fisik PLTMH. Hal-hal berkaitan dengan keuangan yang tidak
terencanakan dengan baik di antaranya adalah penyediaan dana untuk biaya
penyusutan peralatan sistem fisik PLTMH, penambahan pemasukan dana
231

melalui kios milik pengurus (padahal dinyatakan dalam anggaran dasar badan
pengelola), penggunaan listrik untuk kegiatan produktif yang dikelola oleh
pengurus, penerapan tarif listrik progresif, dan lain-lain.
Berikut hasil self-assessment oleh masyarakat dalam hal kinerja pengelolaan.
Tabel 3. Hasil Self-Assessment oleh Masyarakat dalam Hal Kinerja
Pengelolaan

Indikator Keterangan
Perbaikan yang
Semua perbaikan ringan dilakukan oleh
dilakukan oleh
masyarakat
masyarakat
Pertemuan untuk Pertemuan diadakan rutin dan dihadiri oleh
membahas pengelolaan sebagian besar pengurus tetapi hampir tidak
PLTMH pernah mengundang warga/pengguna lainnya
Peraturan tertulis dalam
Sebagian besar peraturan dipatuhi, atau
penggunaan dan
sebagian besar orang mematuhi aturan
pelayanan
Perencanaan keuangan dibuat secara berkala
Perencanaan keuangan tetapi hanya meliputi pengeluaran-pengeluaran
tertentu saja

A.3. Kemampuan Pembiayaan


Iuran bulanan disetorkan kepada badan pengelola yang kemudian mengurusi
pembiayaan operasional dan pemeliharaan. Hasil pengumpulan iuran
mencukupi untuk keperluan operasional dan pemeliharaan termasuk ketika
terjadi kerusakan sedang pada komponen mekanik (bearing).
Nilai iuran yaitu Rp 800,- per kWh dengan biaya abodemen Rp 7500,- per
bulan. Rata-rata penggunaan listrik per rumah tangga adalah 6 7 kWh per
bulan atau setara dengan pembayaran iuran sebesar Rp 12.300,- hingga
13.100,- per bulan. Penggunaan energi sebesar itu umumnya hanya untuk
penerangan rumah masyarakat konsumen. Apabila dibandingkan dengan
tarif yang diterapkan oleh PLN bagi warga di desa yang sama sebesar Rp
500,- per kWh dengan biaya abodemen Rp 18.000,- per bulan maka
pelanggan PLN harus membayar lebih mahal yaitu Rp 21.000,- hingga
21.500,- per bulan per rumah tangga, dengan catatan pola penggunaan listrik
serupa. Iuran yang diperoleh dari konsumen tersebut dapat menutupi semua
kebutuhan biaya dan masih tersisa cadangan untuk kerusakan besar.
Berikut hasil self-assessment oleh masyarakat dalam hal kemampuan
pembiayaan.
232

Tabel 4. Hasil Self-Assessment oleh Masyarakat dalam Hal Kemampuan


Pembiayaan

Indikator Keterangan
Pembiayaan operasional dan
Semua dibiayai dari iuran pelanggan
pemeliharaan
Iuran dapat menutupi semua kebutuhan biaya
Kecukupan biaya dari iuran
dan ada cadangan untuk kerusakan besar

B. Penggunaan Pelayanan
Layanan listrik dari PLTMH Taba digunakan untuk keperluan konsumtif
terutama penerangan. Tidak ada penggunaan produktif. Manfaat yang
dirasakan masyarakat dan nilai yang diberikan pada manfaat tersebut
dibanding yang diharapkan sebelumnya adalah sebagai berikut.
Tabel 5. Manfaat Listrik dari PLTMH Taba yang Dirasakan oleh
Masyarakat
No. Manfaat
1 Penerangan Rumah
2 Bisa Menyalakan TV/Radio
3 Bisa Menggunakan Setrika
4 Bisa Menggunakan Kulkas
5 Bisa Mengoperasikan Wartel
6 Bisa Menggunakan Ketam Kayu

Sedangkan manfaat-manfaat lain yang tidak terbayangkan sebelumnya tapi


kemudian dirasakan setelah adanya layanan listrik PLTMH antara lain: waktu
belajar anak-anak bertambah, penyebaran informasi melalui TV/radio lebih
cepat dan lebih meluas di masyarakat, pembangunan rumah lebih cepat serta
komunikasi keluar masuk desa menjadi lebih lancar.
Kualitas dan kuantitas layanan listrik bagi konsumen PLTMH Taba
sebenarnya sudah cukup memadai. Kualitas listrik yang baik ditunjukkan
dengan besarnya tegangan di rumah pelanggan sebesar 200 210 V.
Kuantitas listrik memadai dilihat dari jumlah energi yang dapat diserap oleh
masing-masing pelanggan sebesar 21 kWh per bulan, sementara yang aktual
digunakan adalah 6-7 kWh per bulan per pelanggan. Badan pengelola
PLTMH Taba hingga saat ini belum berkeinginan untuk menambah
pelanggan baru mengingat biaya pemasangan jaringan dan instalasi rumah
yang cukup mahal serta pertimbangan adanya peningkatan penggunaan
listrik oleh konsumen yang ada sekarang ini.
233

Tabel 6. Potensi Energi Rata-rata yang Dapat Digunakan per Rumah


Tangga

Item Nilai Keterangan


Faktor beban 0,25 Asumsi untuk rural residensial
Installed capacity 46 kW
Operasi Optimal
Operasi maks 0,75
Daya mampu 34,5 kW
Beban puncak maks 34,5 kW
Beban rata-rata maks 8,63 kW
Energi maks 6.210 kWh/bulan
Jumlah konsumen 295 rumah
Energi per KK rata2 maks 21,05 kWh/bulan

C. Demand Responsiveness
C.1 Kesesuaian Layanan dengan Harapan
Pada pertengahan tahun 1990-an masyarakat Desa Taba mengusulkan
pembangunan PLTMH kepada Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, karena
PLTMH yang diprakarsai dan dibuat oleh masyarakat setempat sudah tidak
berfungsi lagi. Beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 1998 pihak
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja bersama tim yang mewakili pihak donor
asing dari negara-negara E7 melakukan survey pembangunan PLTMH di
Desa Taba.
Perencanaan teknis dan pilihan teknologi dilakukan sepenuhnya oleh
pelaksanana proyek. Penentuan tingkat layanan dilakukan berdasarkan
kapasitas PLTMH yang direncanakan dengan cara musyawarah yang
melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Berikut hasil self-assessment oleh masyarakat dalam kesesuaian layanan
dengan harapan.
Tabel 7. Hasil Self-Assessment oleh Masyarakat dalam Kesesuaian
Layanan dengan Harapan

Indikator Keterangan
Jangka waktu perbaikan Biasanya perlu waktu beberapa hari
Pemrakarsa Awal/Inisiator Pemerintah/aparat desa tokoh-tokoh
Pembangunan PLTMH formal dan informal
Penentuan Pilihan Teknologi PLTMH Pihak luar
Penentuan Tingkat Pelayanan (Besar
Seluruh lapisan masyarakat
Daya dan Waktu Nyala)
234

C.2 Kesesuaian Layanan dengan Daya Beli


Penentuan jumlah iuran dilakukan oleh Badan Pengelola yang dipercaya
masyarakat karena dipilih oleh seluruh masyarakat. Iuran bulanan ditetapkan
sebesar Rp 30.000,- per paket (1 pembatas daya) yang biasanya digunakan
3-5 rumah. Selanjutnya iuran berjalan dengan baik.
Pada saat pembangunan masyarakat memberikan kontribusi hanya dalam
bentuk tenaga. Kontribusi berupa material atau uang tidak pernah diminta ke
masyarakat. Seluruh biaya pembangunan berasal dari dana proyek. Bahkan,
di luar waktu kerja bakti yang dilakukan seminggu sekali, pengerahan tenaga
dari masyarakat dibayar oleh pelaksana proyek. Dalam hal ini bukan berarti
masyarakat tidak bersedia berkontribusi, tetapi semata-mata karena begitulah
strategi implementasi yang dipraktekkan oleh pelaksana proyek.
Berikut hasil self-assessment oleh masyarakat dalam kesesuaian layanan
dengan daya beli.
Tabel 8. Hasil Self-Assessment oleh Masyarakat dalam Kesesuaian
Layanan dengan Daya Beli

Indikator Keterangan

Sebagian besar membayar tepat


Ketepatan dalam pembayaran iuran
waktu

Penentuan jumlah iuran Pihak Luar (Konsultan dari E7)

Jenis kontribusi Tenaga

D. Tingkat Partisipasi
D.1 Keterlibatan dalam Pelaksanaan
Sebagian pekerjaan dilakukan oleh masyarakat dengan supervisi dari
pelaksana proyek. Dapat dikatakan bahwa pekerjaan yang tidak dilakukan
langsung oleh masyarakat hanya instalasi turbin, generator, pipa pesat,
jaringan dan sebagian instalasi listrik rumah. Sebagian instalasi listrik di 150
rumah dilakukan oleh sebagian masyarakat yang telah dilatih untuk menjadi
teknisi PLTMH Taba.
Beberapa pekerjaan lain yang dilakukan masyarakat yaitu pengumpulan pasir
dan batu, pengangkutan semen dan tiang, memecahkan batu serta
penyiapan saluran pembawa. Seluruh pekerjaan yang dilakukan oleh
masyarakat setempat mendapat upah yang dialokasikan oleh pelaksana
proyek.
Berikut hasil self-assessment oleh masyarakat dalam hal keterlibatan dalam
pelaksanaan pembangunan.
235

Tabel 9. Hasil Self-Assessment oleh Masyarakat berkaitan dengan


Keterlibatan dalam Pelaksanaan Pembangunan

Indikator Keterangan
Sebagian pekerjaan yang
membutuhkan ketrampilan dilakukan
Keseimbangan pembagian pekerjaan
oleh masyarakat. Pelaksana proyek
yang membutuhkan keterampilan
memberikan pelatihan terlebih
dahulu.
Keseimbangan pembagian pekerjaan Sebagian pekerjaan yang ada
yang mendapat upah upahnya dilakukan oleh masyarakat

D.2 Hak dalam Pengambilan Keputusan


Informasi tentang rencana pembangunan disampaikan oleh Kepala Desa
kepada perangkat desa, tokoh formal, dan informal dalam rapat desa.
Kemudian dalam kegiatan pembangunan, masyarakat terlibat dalam
beberapa bagian pekerjaan dan hanya dapat melakukan kontrol terhadap
pekerjaan yang dilakukannya sendiri.
Setelah PLTMH beroperasi, penentuan tingkat layanan dan rumah-rumah
yang terlayani dilakukan melalui musyawarah yang melibatkan seluruh
masyarakat. Pemilihan pengurus badan pengelola dilakukan melalui
pemilihan langsung oleh masyarakat. Badan Pengelola tersebut yang
kemudian mendapat mandat sepenuhnya untuk mengelola PLTMH.
Laporan pertanggungjawaban Badan Pengelola kepada masyarakat,
termasuk laporan keuangan biasanya dilakukan melalui papan pengumuman
yang ada di kantor badan pengelola sehingga dapat dilihat langsung oleh
seluruh masyarakat.
Berikut hasil self-assessment oleh masyarakat dalam hal keterlibatan
masyarakat dalam pengambilan keputusan.
236

Tabel 10. Hasil Self-Assessment oleh Masyarakat berkaitan dengan


Keterlibatan Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan

Indikator Keterangan

Tanggungjawab dan kewenangan Masyarakat yang berwenang dan dibentuk


dalam pengelolaan dan badan pengelola yang bertanggungjawab
pemeliharaan kepada masyarakat.

Anggota Badan Pengelola (BP) diusulkan


Pembentukan Badan Pengelola oleh masyarakat dan kemudian dipilih
langsung oleh masyarakat
Keterbukaan dalam pengelolaan Laporan keuangan dibuat secara teratur dan
keuangan dilaporkan kepada seluruh masyarakat
Masyarakat/badan pelaksana hanya memiliki
Kontrol masyarakat terhadap
kontrol terhadap pekerjaan yang
pelaksanaan pembangunan
dilaksanakan masyarakat sendiri
Penerima Informasi tentang
Seluruh Lapisan Masyarakat
Rencana Pembangunan PLTMH
Pemerintah/aparat desa tokoh-tokoh formal
Penentuan Rincian Lokasi
dan informal
Penentuan Struktur Pengelola Seluruh lapisan masyarakat
Penentuan Pengaturan O/M Badan Pengelola

E. Pemerataan: Keadilan dalam Sistem Kontribusi dan Iuran


Pada saat pembangunan masyarakat berkontribusi dalam bentuk tenaga.
Tidak ada kontribusi lain yang dimintakan kepada masyarakat. Setelah
PLTMH beroperasi, sebagian besar masyarakat mendapatkan layanan listrik
PLTMH. Iuran ditetapkan berdasarkan pemakaian yang diukur dengan kWh
meter. Distribusi daya dilakukan per paket 900 watt.
Berikut hasil self-assessment oleh masyarakat berkaitan dengan keadilan dan
sistem kontribusi dan iuran.
237

Tabel 11. Hasil Self-Assessment oleh Masyarakat berkaitan dengan


Keadilan dan Sistem Kontribusi serta Iuran

Indikator Keterangan
Keseimbangan dalam Iuran dibayar berdasarkan pemakaian yang diukur
pembayaran iuran dengan kWh meter
Sistem kontribusi Semua harus menyumbang (tanaga) dengan
yang disepakati jumlah yang sama
Pengawasan dilakukan dan ada sanksi bagi yang
Pengawasan
tidak menyumbang, tetapi ada beberapa yang tidak
terhadap kontribusi
terkena sanksi

Tabel 12. Decision Matrix

Keterlibatan dalam Masya- Tokoh Penge- Kepala Pemda


LSM
Pengambilan Keputusan rakat Masy. lola Desa dan E7

Pemrakarsa awal - x - x x x

Penerima informasi
x x - x - -
pembangunan

Pemilihan jenis teknologi - - - - x -

Penentuan tingkat layanan


(watt/rumah dan waktu x x x x - x
nyala)
Pemilihan lokasi (saluran
air, power-house, jalur - x - x x -
distribusi, dsb)
Penentuan struktur
x x - x - x
pengelola
Penentuan pengaturan
operasional dan - - x - x -
pemeliharaan

Penentuan jumlah iuran - - x x - x


238

F. Dokumentasi

Foto 1. Sebagian Anggota Pengelola dan Pengawas PLTMH Taba yang


mengikuti Diskusi Pengelolaan di Kantor Koperasi Listrik Desa (KLD)
Taba

Foto 2. Contoh Perencanaan Tahunan yang Pernah Dibuat oleh Badan


Pengelola PLTMH Taba
239

Foto 3. Pengumuman Cara Pembayaran Listrik bagi Pelanggan PLTMH


Taba

Foto 4. Loket Pembayaran Listrik dan Pengaduan bagi Pelanggan di


Kantor Badan Pengelola PLTMH Taba
DAFTAR PUSTAKA

1. ABS Alaskan: Micro Hydro Power: A Guide to Small-Scale Water Power


Systems, 2002
2. Adam Harvey: Micro-Hydro Design Manual: A Guide to Small-Scale
Water Power Schemes, Intermediate Technology Publications, 1993
3. Adriaan N. Zomers: Rural Electrification, Twente University Press, 2001
4. Alex Arter, Ueli Meier: Hydraulic Engineering Manual, Swiss Centre for
Development Cooperation in Technology and Management (SKAT), 1990
5. Allen R Inversin: Micro Hydropower Sourcebook: A Practical Guide to
Design and Implementation in Developing Countries, NRECA
International Foundation, Washington DC, 1990
6. Celso Penche dan Dr Ingeniero de Minas (U.Politcnica de Madrid):
Lymans Handbook on How to Develop a Small Hydro Site, European
Small Hydropower Association (ESHA), Second Edition, 1998
7. Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Barat: Evaluasi dan
Penyusunan Rencana Energi Alternatif (Mikrohidro), 2003
8. Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Barat: Rehabilitasi
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH): Leuwi Kiara Tasikmalaya
Jawa Barat, 2003
9. Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Barat: Survey
Penggunaan Energi (Kajian Energi Terbarukan), 2003
10. Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi (DJLPE): Pola
Pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Tana
Toraja Sulawesi Selatan: Laporan Studi Lapangan PLTMH Taba dan
Sadan Ulusalu, 2005
11. Ford Foundation, Mini Hydro Power Project (MHPP) dan Yayasan Bina
Usaha Lingkungan (YBUL): Langkah Pembangunan Pembangkit Listrik
Tenaga Mikrohidro (PLTMH), 2005
12. Forum Pengembangan Kemitraan dalam Pembangunan (Partnership in
Development Forum): Program Listrik Pedesaan dengan Mikrohidro, 1996
13. J.M. Chapallaz, J. Dos Ghali, P. Eichenberger, G. Fischer: Manual on
Induction Motors Used as Generators, Gesellschaft fur Technische
Zusammenarbeit (GTZ), 1992
14. Japan International Cooperation Agency (JICA): Inventory Study on
Development Potential for Rural Electrification in the Target Area: South
Sulawesi, West Nusa Tenggara and East Nusa Tenggara, 2001
242

15. K. Goldsmith: The Role of the Private Sector in the Small-Scale


Hydropower Field, Swiss Centre for Development Cooperation in
Technology and Management (SKAT), 1995
16. Kantor Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM: Pedoman Umum
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro, 2001
17. Krishna Nakarmi, Alex Arter, Rolf Widmer, Markus Eisenring: Cross Flow
Turbine Design and Equipment Engineering, Swiss Centre for
Development Cooperation in Technology and Management (SKAT), 1993
18. Ray Holland, Lahiru Perera, Teodoro Sanchez dan Dr Rona Wilkinson:
Decentralized Rural Electrification: The Critical Success Factors, 2001
19. Smail Khennas dan Andrew Barnett: Best Practices for Sustainable
Development of Micro Hydro Power in Developing Countries, 2000
20. Thomas Meier: Mini Hydropower for Rural Development: A New Market-
Oriented Approach to Maximize Electrification Benefits with Special Focus
on Indonesia, 2001
21. Tokyo Electric Power Services Co. (TEPSCO) dan Nippon Koei Co. (NK):
Panduan untuk Pembangunan Pembangkit Listrik Mikro-Hidro, 2003
22. United Nations Development Programme (UNDP): Energy for Sustainable
Development in Asia and the Pacific Region: Challenges and Lessons
from UNDP Projects, 2004
23. United States Agency for International Development (USAID): Best
Practices Guide: Economic & Financial Evaluation of Renewable Energy
Projects, 2002
243

INDEKS

A Debit, 23, 31, 32, 34, 36, 37, 46, 62, 77,
111, 117, 140, 166, 177, 180, 185, 189,
Administrasi, 118, 133, 161, 169 191, 197, 213
Anggaran Dasar, 130, 167, 203, 205, 206, Demand Responsiveness, 170, 172, 218
207, 210, 211, 212 Demografi, 24
Anggaran Rumah Tangga, 130, 167, 204, Desa, 17, 50, 51, 54, 58, 129, 130, 175,
206, 207, 210, 212 176, 177, 178, 179, 185, 186, 203, 204,
Arus, 80, 83, 84, 99, 117, 141, 151, 152 205, 206, 207, 208, 209, 210, 211, 212,
Arus Bolak-Balik, 80 213, 215, 218, 220, 223
Asinkron, 86 Desain Teknis, i, 4
AVR, 150, 156, 158 Distribusi, 49, 93, 94, 95, 98, 107, 150,
152, 153, 192, 212, 215, 221
B
E
Bak Penenang, 47, 67, 112, 113, 114, 183,
190, 200 Earthing, 153
Bak Pengendap, 49, 66, 67, 111, 113, 114, Ekonomi Produktif, 12, 50
144 ELC, 81, 86, 89, 139, 150, 151, 152, 156,
Ballast, 73, 115, 117, 118, 150, 151, 152, 157, 191, 192, 213
155, 156, 191, 192 Elektrik, 46, 48, 49, 74, 115, 116, 117,
Bangunan Penyadap, 40, 113, 114 118, 119, 155, 156, 159, 168, 191, 215
Bangunan Sipil, 59, 110, 113, 114, 137, Energi, 2, 14, 25, 179, 187, 218, 225
145, 188, 189, 212
Bearing, 49, 145, 149
Belt, 49, 78, 80, 147
F
Bentuk Kelembagaan, 129 Faktor Daya, 83
Bronjong, 189 Fasa Tunggal, 98
Finansial, 194, 195, 196
C Flat Belt, 213
Forebay, 66, 112, 113, 114, 190
Capacity Building, 136
Crossflow, 74, 76, 78, 146, 148, 149, 181,
213
G
Generator, 48, 49, 73, 77, 80, 83, 84, 85,
D 86, 88, 89, 115, 116, 117, 138, 149,
152, 191, 192, 213
Daya, 32, 46, 51, 79, 80, 82, 83, 84, 85, Geologi, 38, 39, 46, 178, 186
100, 102, 103, 108, 140, 141, 142, 150, Grease, 146
154, 155, 156, 163, 172, 173, 177, 180, Grounding, 91, 153
185, 187, 188, 219
Daya Beli, 172, 219
244

H Kurva S, 110

Head, 32, 33, 34, 46, 47, 62, 66, 68, 71,
74, 77, 177, 185, 187, 213
L
Head Tank, 66 Langganan, 163, 166
Headrace, 47, 64, 190 Layanan, 134, 172, 217, 218, 219
Hidrologi, 31, 46 Layout, 40, 44, 45, 47, 48, 188
Lembaga Swadaya Masyarakat, 175
I Lingkungan, 3, 8, 18, 25, 201, 225
Listrik Perdesaan, i, 3
IGC, 86, 88, 89, 138, 155 Loop, 94
IMAG, 84, 86, 87, 88, 89 Losses, 71
Induksi, 87
Instalasi Rumah, 100, 105, 106, 107
Intake, 40, 41, 47, 49, 64, 111, 113, 114,
M
143, 180, 188, 189 Manajemen, 14, 49, 167
Interkoneksi, 135, 202 Masyarakat, i, 3, 9, 13, 17, 18, 49, 58, 108,
Intermediasi, 16, 17 127, 128, 135, 169, 175, 179, 186, 201,
Inventaris, 166 208, 216, 217, 218, 219, 220, 221, 222
Irigasi, 42, 178, 180, 182, 186 Material, 52, 58, 68, 73, 96
IRR, 56, 57, 194, 195, 196, 197, 198 MCB, 99, 100, 102, 103, 115, 118, 154,
Iuran, 165, 172, 173, 210, 216, 219, 221, 155, 158
222 Mekanik, 48, 49, 73, 74, 115, 116, 117,
118, 146, 148, 149, 159, 168, 191, 213
J Meteran, 141
Mikrohidro, 45, 88, 204, 225
Jawa, 110, 173, 185, 201, 202, 225 Motor, 84, 86, 87
Jawa Barat, 110, 185, 225
Jawa Timur, 173, 201, 202
N
K Non Teknis, 58
Nusa Tenggara, 177, 178, 181, 225
Kapasitas, 46, 48, 86, 136, 152, 180, 188,
192, 213, 214, 215
Kas, 164, 165, 166, 167, 211
O
Keadilan, 132, 173, 221, 222 On Grid, 185, 201
Keberlanjutan, 7, 8, 10, 11, 15, 18, 169, Operator, 115, 118, 168
170, 171, 213 Optimisasi, 140
Kelembagaan, 3, 13, 14, 16, 17, 53, 58, Over Voltage Trip, 150
130
Kepemilikan, 129
Keuangan, 131, 161, 163, 165, 167, 169 P
Kinerja, 9, 161, 169, 170, 171, 213, 215, Panel Kontrol, 73, 116, 117, 118, 150,
216 151, 158
Klinometer, 33 Panitia Pembangunan, 127
Koefisien Kekasaran, 73 Partisipasi, 13, 14, 170, 173, 219
Kompensasi, 128 Pelayanan, 134, 169, 170, 172, 213, 217
Konsumen, i, 24, 49, 52, 58, 100, 103, Pemanfaatan Listrik, 13, 14
105, 106, 107, 121, 122, 141, 154, 155, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro, i,
156, 173, 181, 209 2, 31, 40, 175, 201, 203, 225, 226
Kontak Tusuk, 105 Pembiayaan, 10, 11, 127, 171, 194, 216,
Kontribusi, 127, 219, 221, 222 217
Kopling, 49 Pemeliharaan, i, 4, 8, 9, 11, 131, 145, 168
Kotak Sambungan, 105, 106 Pemerataan, 170, 173, 221
245

Pemeriksaan, 135, 144, 152, 157, 209 Rumah Pembangkit, 42, 43, 44, 49, 73,
Pemerintah, i, 16, 129, 204, 206, 207, 209, 115, 183, 191, 200
210, 211, 212, 218 Runaway Speed, 78
Pengelola, i, 49, 130, 176, 203, 204, 219,
220, 223, 224
Pengelolaan, i, 4, 11, 15, 18, 129, 130,
S
161, 163, 164, 169, 171, 175, 179, 186, Sabuk, 80
213, 215, 216, 223, 225 Saluran Pembawa, 49, 65, 66, 111, 113,
Penghantar, 64, 91, 92, 96, 101, 102, 150 114, 143, 182, 190, 199
Pengoperasian, i, 3, 4 Satu Fasa, 81
Pengujian, 113, 114, 115, 116, 117, 118, Sekering, 99, 100, 104
123 Sinkron, 77, 84, 86, 191
Penjajagan Awal, i, 4 Sipil, 49
Penstock, 44, 48, 49, 68, 73, 112, 113, Sistem Kontrol, 48, 49, 88, 115, 116, 138,
114, 144, 190 139, 150, 155, 156, 191, 192, 213
Pentanahan, 89, 90, 91, 92, 121, 123, 153 Sosial, 3, 8, 13, 24, 54, 58, 179, 186
Perawatan, 143, 144, 145, 146, 147, 149, Standarisasi, 8, 9
150, 152, 153, 154, 157, 158, 169 Stempet, 146
Perdesaan, 1 Studi Kelayakan, i, 4, 31, 46, 49, 58, 185
Perencanaan, 14, 17, 31, 41, 47, 63, 64, Studi Potensi, i, 4, 22
68, 93, 126, 127, 129, 130, 131, 133, Sulawesi, 175, 213, 225
163, 164, 169, 187, 215, 218, 223 Sumatera, 203
Pipa Pesat, 68, 72, 112, 113, 114, 144, 212 Sumber Daya Alam, 52, 58
Piutang, 165, 166, 167 Sumber Daya Manusia, 55, 58, 136
PLN, 1, 7, 23, 24, 89, 96, 121, 126, 135, Sungai, 22, 36, 40, 41, 46, 177, 178, 179,
175, 186, 192, 193, 201, 202, 216 180, 182, 183, 185, 186, 187, 188, 189,
PLTMH, i, ii, 1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 190, 191, 197, 200
12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 21, 22, 23, Surat, 161, 163, 204
24, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 38, 39, 40, Sustainabilitas, 8, 169, 170
42, 44, 45, 46, 49, 50, 51, 52, 53, 54, Switch, 150, 154
55, 56, 58, 59, 70, 72, 74, 76, 80, 81,
84, 86, 88, 89, 93, 94, 95, 96, 100, 103,
105, 106, 107, 108, 109, 110, 119, 120, T
121, 125, 126, 127, 128, 129, 130, 131, Tarif, 11, 12, 132, 173
132, 133, 134, 135, 136, 137, 138, 139, Tegangan, 48, 69, 80, 81, 88, 95, 116, 117,
140, 143, 144, 145, 148, 149, 150, 157, 118, 120, 123, 141, 142, 148, 170
158, 161, 162, 163, 164, 166, 167, 168, Tegangan Rendah, 120, 123
169, 170, 171, 172, 173, 175, 176, 177, Teknis, 31, 46, 169, 206
178, 179, 180, 181, 182, 185, 186, 187, Teknologi, 2, 7, 8, 127
188, 189, 190, 191, 192, 193, 194, 197, Tes Hasil Pekerjaan, 109, 110, 115, 119
201, 202, 203, 213, 214, 215, 217, 218, Tiang Listrik, 119
219, 220, 221, 223, 224, 225 Tiga Fasa, 81, 82
Power House, 73 Topografi, 38, 39, 46, 178, 186, 187
Pressure Gauge, 33, 34 Transformator, 95
Produktif, 134 Transmisi, 48, 49, 73, 78, 79, 80, 93, 94,
Progresif, 173 95, 98, 107, 116, 146, 152, 153, 181,
Propeller, 74, 76 191, 192, 212, 213
Pulley, 49, 78, 115, 116, 146, 191 Transmisi Daya Mekanik, 78
Pump as Turbine, 76 Turbin, 43, 44, 48, 49, 73, 74, 75, 76, 77,
78, 89, 112, 115, 116, 117, 118, 142,
R 145, 146, 148, 149, 155, 156, 158, 191,
212, 213, 215
Radial, 94 Twisted Isolated Cable, 120
RPM, 146, 147
246

U W
Utang, 166, 167 Waterhammer, 69
Weir, 37, 59
V
Vektor Daya, 83