Anda di halaman 1dari 12

RANCANGAN

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT


REPUBLIK INDONESIA
NOMOR ../PRT/M/2016
TENTANG
OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN AIR BAKU

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI


PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun


1974 tentang Pengairan, Menteri Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat diberi wewenang dan tanggungjawab
untuk mengatur dan melaksanakan pengelolaan pengairan
antara lain pengelolaan Jaringan Air Baku secara lestari
untuk mencapai daya guna sebesar-besarnya;
b. bahwa berdasarkan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 11
Tahun 1974 tentang Pengairan, guna menjamin kelestarian
fungsi dari bangunan-bangunan pengairan untuk menjaga
tata pengairan dan tata air yang baik, perlu dilakukan
kegiatan-kegiatan operasi dan pemeliharaan serta perbaikan-
perbaikan bangunan-bangunan pengairan tersebut;
c. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah
sesuai asas otonomi daerah, dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah membagi sub-
bidang urusan sumber daya air menjadi kewenangan
Pemerintah Pusat, pemerintah daerah provinsi, dan
pemerintah daerah kabupaten/kota;
d. bahwa berdasarkan Pasal 8 Undang-undang Nomor 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan,
salah satu jenis peraturan perundang-undangan adalah
peraturan yang ditetapkan oleh Menteri;
e. bahwa berdasarkan Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 22
Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air, ketentuan mengenai
tata laksana operasi dan pemeliharaan bangunan pengairan
ditetapkan oleh Menteri;
f. bahwa guna memberikan dasar dan tuntunan dalam
melakukan operasi dan pemeliharaan sebagaimana dimaksud
pada huruf b, diperlukan pedoman operasi dan pemeliharaan
Jaringan Air Baku;
g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
pada huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f
perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat tentang Operasi dan Pemeliharaan
Jaringan Air Baku;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 65,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3046);
2. Undang Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Tata Cara
Penyusunan Peraturan Perundang Undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
3. Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5587);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata
Pengaturan Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1982 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara
Republik
Indonesia Nomor 3225);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor
153,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4161)
6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 tahun 2010
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Instansi Pemerintah Jo Peraturan Presiden Nomor 70 tahun
2012 tentang Perubahan Kedua Peraturan Presiden Republik
Indonesia Nomor 54 tahun 2010 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah;
7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun
2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);
8. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2015
tentang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 16);
9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/M/2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan
Umum (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor
1304);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN


RAKYAT TENTANG OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN
AIR BAKU

BAB I Ketentuan
Umum Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan :

1. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan
tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan
air laut yang berada di darat.

2. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/ataubuatan yang terdapat
pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah.

3. Air baku adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air
minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama
dengan kegunaan tersebut.

4. Sistem jaringan air baku meliputi jaringan air baku, air baku, manajemen air
baku, kelembagaan pengelolaan air baku, dan sumber daya manusia.

5. Penyediaan air baku adalah penentuan volume air per satuan waktu yang
dialokasikan dari suatu sumber air untuk suatu daerah layanan yang
didasarkan waktu, jumlah, dan mutu sesuai dengan kebutuhan untuk
menunjang air minum.

6. Pengaturan air baku adalah kegiatan yang meliputi pembagian, pemberian,


dan penggunaan air baku.

7. Pembagian air baku adalah kegiatan membagi air di bangunan bagi dalam
jaringan transmisi.

8. Pemberian air baku adalah kegiatan menyalurkan air dengan jumlah tertentu
dari jaringan transmisi sampai pada intake bangunan penjernih air (Water
Treatment Plant (WTP)).

9. Penggunaan air baku adalah kegiatan memanfaatkan air dari saluran transmisi.

10. Pembuangan air baku, selanjutnya disebut drainase, adalah pengaliran air dari
bangunan pra sedimen pada saat pengurasan.

11. Jaringan air baku adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya
sebagai satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian,
pemberian, penggunaan, dan pembuangan air baku.

12. Perkumpulan pemanfaat air baku adalah lembaga pengelolaan jaringan air
minum, mulai dari penjernih air sampai saluran distribusi.

13. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang


kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil
Presiden dan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

14. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara


Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan daerah otonom.

15. Pembangunan jaringan baku adalah seluruh kegiatan penyediaan jaringan air
baku di wilayah tertentu yang belum ada jaringan air bakunya.

16. Peningkatan jaringan air baku adalah kegiatan meningkatkan fungsi dan
kondisi jaringan air baku yang sudah ada atau kegiatan menambah luas areal
pelayanan pada jaringan air baku yang sudah ada dengan mempertimbangkan
perubahan kondisi lingkungan.

17. Operasi dan pemeliharaan jaringan air baku adalah serangkaian upaya
pengaturan air baku termasuk pembuangannya dan upaya menjaga serta
mengamankan jaringan air baku agar selalu dapat berfungsi dengan baik.

18. Operasi jaringan air baku adalah upaya pengaturan air baku untuk air minum,
termasuk kegiatan pemompaan dan pendistribusian air sampai ke intake bak
penjernih sesuai dengan kebutuhan.
19. Pemeliharaan jaringan air baku adalah upaya menjaga dan mengamankan
jaringan air baku agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar
pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya.

20. Pengembangan jaringan air baku adalah pembangunan jaringan air baku baru
dan/atau peningkatan jaringan air baku yang sudah ada.

21. Rehabilitasi jaringan air baku adalah kegiatan perbaikan jaringan air baku
guna mengembalikan fungsi dan pelayanan air baku seperti semula.

22. Persiapan operasi dan pemeliharaan jaringan air baku yang selanjutnya disebut
persiapan OP, adalah tindakan yang dilaksanakan menuju kesiapan operasi
dan pemeliharaan jaringan air baku.

23. Kesiapan operasi dan pemeliharaan jaringan air baku yang selanjutnya disebut
kesiapan OP, adalah kondisi jaringan air baku yang telah memenuhi aspek
teknis, administrasi dan kelembagaan.

24. Kinerja jaringan air baku adalah suatu gambaran proporsi dari kemampuan
berfungsinya suatu sistem jaringan air baku terhadap tujuan dibangunnya
sistem tersebut.

25. Angka kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan (AKNOP) jaringan air baku
adalah nilai kebutuhan biaya yang diperlukan setiap tahun untuk
pelaksanaan operasi dan pemeliharaan jaringan air baku.

26. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di


bidang pengelolaan sumber daya air.

27. Dinas adalah Organisasi Perangkat Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota yang


berfungsi pengelolaan jaringan air baku.

Pasal 2

(1) Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai acuan bagi Pemerintah Pusat,
pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam
melaksanakan operasi dan pemeliharaan jaringan air baku.

(2) Peraturan Menteri ini bertujuan agar pengelola jaringan air baku mampu
melaksanakan kegiatan kegiatan meliputi :
a. Operasi dan pemeliharaan jaringan air baku;
b. Penilaian kesiapan operasi dan pemeliharaan untuk jaringan air baku yang
telah selesai dilaksanakan pengembangan atau rehabilitasi;
c. Penilaian kinerja jaringan air baku; dan
d. Penentuan angka kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan jaringan air
baku secara efektif dan efisien.
Pasal 3

Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi :

a. Pedoman penyelenggaraan operasi dan pemeliharaan jaringan air baku;


b. Pedoman kesiapan operasi dan pemeliharaan untuk jaringan air baku
yang telah selesai dilaksanakan pengembangan atau rehabilitasi;
c. Pedoman penilaian kinerja jaringan air baku; dan
d. Pedoman penentuan angka kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan
jaringan air baku.

BAB II
PEDOMAN PENYELENGGARAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
JARINGAN AIR BAKU

Pasal 4

(1) Operasi dan pemeliharaan jaringan air baku, berupa:


a. Operasi jaringan air baku; dan
b. Pemeliharaan jaringan air baku.

(2) Operasi jaringan air baku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
merupakan upaya pengaturan air baku dan pembuangannya, termasuk
kegiatan membuka menutup pintu bangunan air, menjalankan mesin
penggerak dan pompa air, menyusun rencana pembagian air, melaksanakan
pembagian air, mengumpulkan data, memantau, dan mengevaluasi.

(3) Pemeliharaan jaringan air baku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,
merupakan upaya menjaga dan mengamankan jaringan air baku agar selalu
dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi jaringan
air baku dan mempertahankan kelestariannya.

(4) Pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan air baku mengacu
pada:

a. Pedoman penyelenggaraan operasi jaringan air baku; dan

b. Pedoman penyelenggaraan pemeliharaan jaringan air baku

sebagaimana tercantum dalam Lampiran I dan Lampiran II Peraturan Menteri


ini yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
BAB III
PEDOMAN KESIAPAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (OP)
JARINGAN AIR BAKU

Bagian Kesatu
Lingkup Pengaturan Kesiapan OP
Pasal 5

Lingkup pengaturan kesiapan OP meliputi :

a) Tata cara penetapan kesiapan OP


b) Tata cara pelaksanaan persiapan OP
c) Tata cara serah terima

Bagian Kedua
Penetapan Kesiapan OP
Pasal 6
(1) Penetapan status kesiapan OP, dilakukan oleh Kepala BBWS/BWS/Dinas
sesuai dengan lingkup tugasnya;

(2) Penetapan status kesiapan OP sebagaimana dimaksud ayat (1), ditetapkan


setelah melalui tahapan :

a. dilakukan pelaksanaan persiapan OP oleh Tim Persiapan OP; dan


b. mendapat rekomendasi dari Tim Persiapan OP;

Bagian Ketiga
Tata Cara Pelaksanaan Persiapan OP
Alinea Kesatu
Prinsip Penilaian Kesiapan OP
Pasal 7

(1) Prinsip penilaian Kesiapan OP meliputi :

a. pemeriksaan terhadap kesiapan administratif,


b.pemeriksanaan terhadap kesiapan fisik termasuk uji pengaliran, dan
c. pemeriksaan terhadap kesiapan manajemen dan kelembagaan.

(2) Kesiapan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi
dokumen perencanaan, dokumen pembangunan, dan dokumen hukum dalam
bentuk dokumen tulis, dokumen elektronik dan/atau dokumen cetak
(3) Kesiapan fisik termasuk uji pengaliran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b meliputi semua jaringan utama, jaringan pendukung, dan peralatan
pendukung untuk terselenggaranya proses OP;

(4) Kesiapan manajemen dan kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c meliputi ketersediaan sumber daya manusia, serta manajemen dan
kelembagaan,

Alinea Kedua
Lingkup Kegiatan Persiapan OP
Pasal 8
Lingkup kegiatan persiapan OP meliputi :

a. Penetapan Tim Persiapan OP


b. Pemeriksaan Kesiapan OP
c. Evaluasi Hasil Pemeriksaan Kesiapan OP
d. Rekomendasi Tim Persiapan OP
e. Tindak Lanjut Rekomendasi Tim Persiapan OP
f. Pelatihan Peningkatan Kemampuan Petugas OP Air Baku
g. Penetapan kesiapan OP
h. Serah Terima Pekerjaan Persiapan OP

Alinea Ketiga
Tugas, Fungsi dan Susunan Tim Persiapan OP
Pasal 9

(1) Tim Persiapan OP mempunyai tugas melaksanakan penilaian kesiapan OP,

(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Tim
Persiapan OP menyelenggarakan fungsi pelaksanaan penilaian kesiapan OP;

(3) Tim Persiapan OP sebagaimana dimaksud ayat (1), dibentuk oleh Kepala BBWS,
Kepala BWS, dan Kepala Dinas sesuai dengan lingkupnya.

(4) Anggota Tim Persiapan OP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari :

a. Pegawai pada unit pelaksana konstruksi jaringan air baku;


b. Pegawai pada unit operasi dan pemeliharaan jaringan air baku;
c. Perwakilan pemanfaat air baku.

(5) Dalam hal pelaksanaan operasi dan pemeliharaan jaringan air baku yang
akan/sedang ditugas pembantuankan kepada pemerintah daerah, anggota tim
ditambah dengan perwakilan dari institusi yang akan melaksanakan tugas
pembantuan.
(6) Tim Pesiapan OP sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dapat didampingi oleh
Unit Penjamin Mutu pada lembaga yang bersangkutan.

Alinea Keempat
Pelaksanaan Persiapan OP
Pasal 10

(1) Pelaksanaan penilaian kesiapan OP dilaksanakan secara partisipatif dengan


melibatkan kelompok pemanfaat air baku.

(2) Dalam hal kelompok pemanfaat air baku belum terbentuk, pelaksanaan
penilaian kesiapan OP melibatkan pemanfaat air baku yang ditetapkan oleh
Kepala Desa/Camat/Bupati.

(3) Secara bersamaan dengan persiapan operasi dan pemeliharaan jaringan air
baku, Bupati segera memfasilitasi pembentukan kelompok pemanfaat air baku;

(4) Pelaksanaan persiapan OP, dikoordinasikan dengan Komisi Irigasi sesuai


dengan wilayahnya.

(5) Pelaksanaan persiapan OP, dimulai pada saat penerimaan pertama pekerjaan
pengembangan atau rehabilitasi (PHO).

(6) Dalam kondisi diperlukan untuk kepentingan masyarakat, selama masa


persiapan OP, secara selektif dapat dilakukan kegiatan operasi dan
pemeliharaan jaringan air baku.

(7) Jangka waktu pelaksanaan persiapan OP diselenggarakan paling lama 2 (dua)


tahun.

(8) Unit pelaksana pengembangan dan rehabilitasi jaringan air baku, bertanggung
jawab atas seluruh kegiatan selama masa Persiapan OP.

Alinea Kelima
Serah Terima Pekerjaan Persiapan OP
Pasal 11

(1) Penyerahan hasil pekerjaan persiapan OP, diserah terimakan kepada unit
pelaksana operasi dan pemeliharaan jaringan air baku,

(2) Dokumen pekerjaan persiapan OP, dilengkapi dengan Penetapan Status


Kesiapan OP;
(3) Penyerahan pekerjaan persiapan OP, dilaksanakan dengan memperhatikan
status jaringan air baku dan wewenang pelaksanaan operasi dan
pemeliharaannya, serta serah terima aset sesuai ketentuan yang berlaku.

Alinea Keenam
Rincian Pelaksanaan Kegiatan Persiapan OP
Pasal 12
Rincian pelaksanaan kegiatan persiapan OP, mengacu pada pedoman sebagaimana
tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri ini yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

BAB IV

PEDOMAN PENILAIAN KINERJA JARINGAN AIR BAKU

Pasal 13

(1) Penialaian kinerja jaringan air baku, berupa:

a. Penelusuran jaringan air baku


b. Pencatatan dan dokumentasi kondisi jaringan air baku.
c. Analisis kondisi jaringan air baku
d. Rekomendasi tindak lanjut

(2) Pelaksanaan kegiatan penilaian kinerja jaringan air baku mengacu pada
pedoman penyelenggaraan penilaian kinerja jaringan air baku. sebagaimana
tercantum dalam Lampiran IV Peraturan Menteri ini yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

BAB V

PEDOMAN PENENTUAN ANGKA KEBUTUHAN NYATA OPERASI DAN


PEMELIHARAAN JARINGAN AIR BAKU

Pasal 14

(1) Penyusunan angka kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan jaringan air
baku disusun berdasarkan :

a. Perhitungan kebutuhan finansial untuk kegiatan operasi jaringan air baku


b. Perhitungan kebutuhan finansial untuk kegiatan pemeliharaan jaringan air
baku
(2) Angka kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan jaringan air
baku sebagaimana dimaksud ayat (1) dihitung berdasarkan kebutuhan
tahunan.

(3) Pelaksanaan kegiatan penyusunan angka kebutuhan nyata operasi dan


pemeliharaan jaringan air baku mengacu pada pedoman penetuan angka
kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan jaringan air baku sebagaimana
tercantum dalam Lampiran V Peraturan Menteri ini yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

BAB VI KETENTUAN

LAIN-LAIN

Pasal 15

Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini:

a. ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai operasi dan


pemeliharaan jaringan air baku yang telah ada sebelum ditetapkannya
Peraturan Menteri ini, dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini; dan

b. kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan air baku yang masih dalam proses
sebelum ditetapkannya Peraturan Menteri ini, tetap dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.

BAB VII KETENTUAN

PENUTUP

Pasal 16

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang
mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dalam
Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal ..

MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT


REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

M. BASUKI HADIMULJONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal ..

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA


REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

YASONNA H. LAOLY

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN NOMOR