Anda di halaman 1dari 6

PRAKTIKUM IV

ANALISA KOMPOSISI ASAM LEMAK DENGAN GCMS

A. TANGGAL PELAKSANAAN
Rabu, 18 Mei 2016

B. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mampu memahami prinsip-prinsip dasar analisa sampel dengan GCMS.
2. Mampu menjelaskan kembali dan melaporkan hasil percobaan secara ringkas,
sistematis dan akurat.
3. Mampu menentukan komposisi asam lemak dalam sampel minyak telon dengan
teknik analisa GCMS.

C. PRINSIP
GCMS terdiri dari dua bagian yaitu GC dan MS yang masing-masing memiliki fungsi
yang berbeda. GC berfungsi untuk memisahkan senyawa-senyawa dalam sampel.
Pemisahan terjadi pada bagian kolom. Prinsip pemisahan terjadi berdasarkan perbedaan
tingkat volatilitas dari senyawa-senyawa dan juga berdasarkan interaksi dengan fase diam.
Senyawa-senyawa yang sudah terpisah pada kolom GC, akan memasuki MS. Senyawa
yang masuk ke MS akan mengalami ionisasi dan fragmentasi menjadi ion-ion fragmen.
Ionisasi terjadi karena adanya electron yang berasal dari sumber ion. Ion-ion fragmen
akan memasuki mass analyzer dan akan dipisahkan berdasarkan nilai m/z kecil akan
memasuki defector lebih cepat dibandingkan ion fragmen yang mempunyai nilai m/z
besar. Output dari detector berupa diagram hubungan antara nilai m/z dengan intensitas
ion-ion fragmen dari suatu senyawa.

D. ALAT DAN BAHAN


1. Alat-alat
a. GCMS Shimadzu 2010
b. Column : RTx1MS
2. Bahan-bahan
a. Metanol p.a
b. Sampel minyak telon
c. N-heksan

E. DASAR TEORI
Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS) merupakan penggolongan
antara lat kromatografi gas dan spektroskopi massa. Alat kromatografi gas memiliki
fungsi untuk memisahkan komponen senyawa kimia yang dianalisis sedangkan
spektroskopi massa digunakan untuk mendeteksi dari masing-masing senyawa kimia yang
telah dipisahkan oleh alat kromatografi gas. Jadi pada prinsipnya alat spektroskopi massa
berperan sebagai detector. Setiap molekul yang dideteksi dengan spektroskopi massa
dapat ditentukan pola fragmentasinya (Khopkar, 1985).
Secara umum GC-MS memiliki tiga konfigurasi utama, yaitu GC, konektor, dan
MS. Prinsi kerja GC-MS didasarkan pada perbedaan kepolaran dan massa molekul
sampel yang diuapkan. Sampel yang berupa cairan atau gas langsung diinjeksikan
kedalam injector, jika sampel berbentuk padatan maka harus dilarutkan pada pelarut yang
dapat diuapkan. Alirans yang mengalir akan membawa sampel yang teruapkan untuk
masuk kedalam kolom. Komponen-komponen yang ada pada sampel akan dipisahkan
berdasarkan pertisi diantara fase gerak (gas pembawa) dan fase diam (kolom). Hasilnya
adalah berupa molekul gas yang kemudian akan diionisasikan pada spektrofotometer
massa sehingga molekul gas itu akan mengalami fragmentasi yang berupa ion-ion positif.
Ion akan memiliki rasio yang spesifik antara massa dan muatannya (Cairns, 2008).
Kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahan karena di dalamnya terdapat
fase diam. Oleh karena itu, kolom merupakan komponen sentral pada KG. ada 2 jenis
kolom pada KG yaitu kolom kemas dan kolom kapiler. Kolom kemas terdiri atas fase cair
yang tersebar pada permukaan penyangga yang lembam (inert) yang terdapat dalam
tabung yang relative besar (diameter 1-3 mm). fase diam hanya dapat dilapiskan saja pada
penyangga yang menghasilkan vase terikat. Kolom kapiler jauh lebih kecil (0,02-0,2 mm)
dan dinding kapiler bertindak sebagai penyangga lembam untuk fase diam cair. Fase diam
ini dilapiskan pada dinding kolom atau bahkan dapat bercampur dengan sedikit
penyangga lembam yang sangat halus untuk memperbesar luas permukaan efektif
(Sudjadi, 2007).
Pengguanaan kromatografi gas dapat dipadukan dengan spektroskopi masaa.
Paduan keduanya dapat menghasilkan data yang lebih akurat dalam pengidentifikasikan
senyawa yang dilengkapi dengan strutkur molekulnya. Kromatografi gas juga mirip
dengan destilasi fraksional, kerana kedua proses memisahkan komponen dari campuran
pada skala besar, sedangkan GC dapat digunakan pada skala yang lebih kecil (yaitu
mikro) (Pavia, 2006).

F. PROSEDUR KERJA
1. Petunjuk Pemakaian GCMS Shimadzu 2010
Membuka keran gas helium

Menekan tombol power GCMS Shimadzu 2010

Menyalakan computer dan terjadi proses pemvakuman, memperhatikan hingga


autovakum selesai

Mengklik metode file pada menu Real Time Analysis

Menggunakan metode lama dengan mengklik oven lalu memilih metode yang
diingainkan (t sampai 20,6 menit)

2. Analisis Komposisi Asam Lemak dengan GCMS


Menginjeksi 1 mL sampel minyak telon yang telah disiapkan ke dalam kolom GC
menggunakan metode autosampel

Melakukan pencucian shearing setiap pengambilan sampel

Melakukan pemisahan dalam kolom RTX1MS Rostek 30 m, 0,25 mm ID,0,25 mm df


dengan fase diam berupa serbuk (polyethilin glikol), suhu injector 230 C, suhu
kolom70 C dan menaikkan sampai 300 C dengan kenaikan 40 C/5 menit, laju alir 1,15
mL/menit

Menunggu ion yang telah terfragmen menuju ke detector

Menggunakan detector MS EMD 70 MeV (hasil dari detector berupa kromatogram)

Mengamati kromatogram saat menuju ke monitor (prose pembacaan berupa grafik)

Hasil

G. HASIL PENGAMATAN
(Terlampir)

H. PEMBAHASAN
Praktikum ini berjudul analisa komposisi asam lemak dengan GCMS yang
bertujuan agar dapat memahami prinsip-prinsip dasar analisa sampel dengan GCMS serta
dapat menentukan komposisi asam lemak dalam sampel minyak telon dengan teknik
analisa GCMS. Digunakan sampel minyak telon karena mudah diperoleh dan harganya
murah.
GC-MS adalah metode untuk mengkombinasikan kromatografi gas dan
spektrometri massa,untuk mengidentifikasi senyawa yang berbeda dalam analisis sampel.
Kromatografi gas untuk menganalisis jumlah senyawa secara kuantitatif dan spektrometri
massa untuk menganalisis struktur molekul senyawa analit. Kromgrafi gas dan
spektrometri massa memiliki keunikan masing-masing dimana keduanya memiliki
kelebihan dan kekurangan, dengan menggabungkan kedua teknik tersebut diharapkan
mampu meningkatkan kemampuan dalam menganalisis sampel.
Salah satu syarat suatu senyawa dapat dianalisa dengan GC-MS adalah senyawa
tersebut harus bersifat mudah menguap (volatile). Pemisahan yang terjadi, dapat
disebabkan oleh perbedaan titik didih suatu senyawa dan interaksi senyawa tersebut
dengan fase diam dan kolom. Suatu asam lemak rantai panjang mempunyai titik didih
yang tinggi karena mempunyai gugus karboksilat yang menyebabkan terjadinya ikatan
hydrogen dan peningkatan jumlah rantai hidrokarbonakan menyebabkan peningkatan titik
didih.
Keberhasilan kromatografi anatara lain dipengaruhi kondisi operasi GC yang
ditentukan oleh suhu, tekanan, konsentrasi fase gerakdan dimensi kolom. Selain itu juga
dipengaruhi oleh ketepatan pemilihan fase diam dan fase gerak. Berdasarkan gambar
kromatogram, dapat dilihat bahwa kromatogram hasil analisis sampel minyak telon
dengan GCMS memperlihatkan peak yang sudah runcing (ideal). Pada analisis sampel
minyak telon ini, menggunakan fase gerak berupa gas dan fase diam berupa liquid yang
diabsobsikan pada padatan (berupa silica). Fase gerak yang digunakan adalah gas helium
(He), karena gas ini bersifat inert, murni, ringan, tidak mudah terbakar, dan mempunyai
konduktifitas panas tinggi. Jenis kolom untuk GCMS yang dipakai adalah kolom
RTX1MS Restech, 30 m X 0,25 mm ID,0,25 mm. di dalam kolom terjadi proses
pemisahan senyawa-senyawa berdasarkan prinsip like dissolve like, yaitu senyawa-
senyawa yang bersifats ama dengan kolom akan tertahan lebih lama, sedangkan
sebaliknya senyawa-senyawa yang berbeda sifatnya akan diteruskan menuju detector dan
memiliki waktu retensi yang lebih lama dalam kolom dan memiliki waktu retensi yang
lebih lama, sedangkan sebaliknya senyawa-senyawa yang berbeda sifatnya akan
diteruskan menuju detector dan memilikiwaktu retensi yang lebih singkat. Senyawa asam
lemak dalam bentuk metil ester yang memiliki rantai lebih panjang cenderung lebih
bersifat nonpolar karena memiliki rantai karbon yang lebih banyak. Oleh karena itu asam
lemak yeng terdeteksi terlebih dahulumerupakan asam lemakdalam bentuk metil esternya
dengan rantai karbon yang lebih pendek. Selain karena kepolarannya dan interaksinya
dengan fase diam, pemisahan di dalam kolom juga terjadi karena perbedaan titik didih
lebih rendah akan memiliki waktu retensi yang lebih singkat. Suhu detector deprogram
pada suhu 300 C untuk mencegah kondensasi dari cuplikan setelah keluar dari kolom.
Detektor yang diguanaan adalah Mass-Spektrometer (MS). Detector ini
mengidentifikasikan ion molekul dan fragmentasinya. Ion molekul dapat terbentuk karena
adanyaelektron yang ditembakkan sumber electron dan menabrak senyawa hasil separasi
GC. Ion molekul dapat terfragmentasi dengan pola fragmentasi tertentu. Ion molekul dan
fragmen ionnya akan bergerak melalui analyzer. Pemisahan berdasarkan massa ionnya
terjadi di dalam analyzer. Ion yang memiliki massa lebih kecil akan bergerak lebih
dahulu, sehingga ion ini akan terdeteksi terlebih dahulu oleh detector. Ion molekul
memiliki massa yang paling besar akan terdeteksi paling akhir. Oleh karena itu, dalam
spectrum massa ion molekul terletak pada bagian akhir spectrum. Ion molekul telah
mengalami fragmentasi sehingga % abundance dari ion molekul dapat lebih kecil dari
fragmen ionnya. Analisis dengan menggunakan GC dan detector MS umumnya akan
menghasilkan ion-ion bermuatan positif. Dari hasil analisis minyak telon dengan GC-MS
diperoleh kromatogram. Dari hasil kromatogram, terdapat 10 puncak. Dari 10 puncak
diduga bahwa senyawa-senyawa yang terdapat pada sampel minyak telon yaitu ALPHA.-
PINENE, (-)-1-Phellandrene Benzene, methyl (1-methylethyl)-(CAS) Cyclohexene, 1-
methyl-4-(1-methylethen EUCALYPTOL (1,8-CINEOLE).gamma._Terpinene Benzene,
1-methoxy-4-(1-propenyl)-(CAS) Eicosane (CAS) n-Eicosane. Jadi pada minyak telon
memiliki 10 puncak yang dapat terdeteksi senyawanya.

I. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Prinsip kerja GCMS, GCMS terdiri dari dua blok bangunan utama yaitu kromatografi
gas dan spektrofotometri massa. Pemisahan senyawa kimia yang diubah kedalam
bentuk gas lalu dari gas diubah menjadi atom dan diubah lagi menjadi ion dan akan
terpisah berdasarkan perbedaan massanya dan dideteksi oleh spektroskopi massa.
Hasil yang didapat berbentuk kromatogram.
2. Hasil dari analisa GC-MS terhadap minyak telon pada GC terbaca memiliki 10
puncak. Secara berurutan dari peak 1-10 mengandung senyawa ALPHA.-PINENE,
(-)-1-Phellandrene Benzene, methyl (1-methylethyl)-(CAS) Cyclohexene, 1-methyl-
4-(1-methylethen EUCALYPTOL (1,8-CINEOLE).gamma._Terpinene Benzene, 1-
methoxy-4-(1-propenyl)-(CAS) Eicosane (CAS) n-Eicosane.

DAFTAR PUSTAKA

Cairns, D. 2008. Intisari Kimia Farmasi. Jakarta : EGC.

Fessenden, R. J., Fessenden, J. S. 1999. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.

Khopkar. 1985. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia.

Skoog, D., A., Donald M. West, F. James Holler. 1996. Analytical Chemistry. America :
Souders Collage Publishing.

Sudjadi. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Pavia, D., L., Gary M. Lampman, Georga S. Kritz, Randall G. Engel.2006. Introduction to
Organic Laboratory Techniques (4th Ed) Thomson Brooks/Cole.pp.797-817.

Anda mungkin juga menyukai