Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang semakin


meningkat, termasuk bidang kesehatan secara umum. Kemajuan ilmu dan teknologi
kedokteran telah mencapai taraf yang sangat memuaskan dalam hal mengatasi
penderitaan dan kematian penyakit tertentu. Namun demikian, masalah kesehatan
bagi masyarkat umum masih sangat rawan. Walaupun pada beberapa tahun terakhir
ini sejumlah penyakit menular tertentu sudah dapat diatasi, tetapi di lain pihak timbul
masalah baru dalam bidang kesehatan masyarakat, baik yang berhubungan dengan
penyakit menular dan tidak menular, maupun yang berhubungan erat dengan
gangguan kesehatan masyarakat (Noor, 2006).

Dewasa ini banyak penyakit menular yang telah mampu diatasi bahkan ada
yang telah dapat dibasmi berkat kemajuan teknologi dalam mengatasi masalah
lingkungan biologis yang eret hubungannya dengan penyakit menular. Akan tetapi
masalah penyakit menular masih tetap dirasakan oleh sebagian besar penduduk
Negara sedang berkembang. Salah satunya adalah masalah penyakit menular yang
penularannya melalui vector nyamuk (Noor, 2006).

Aedes Aegypti dan chulex sp merupakan vector penyebab penyakit yang


berbasis lingkungan salah satunya DBD. Pengetahuan bionomikvektor Aedes Aegypti
dan chulex sangat diperlukan dalam perencanaan dan pengendalian vektor DBD dan
penyakit lainnya.Bionomik adalah bagian dari biologi (sering disebut dengan
autecology) yang menerangkan hubungan antara spesies tertentu dengan
lingkungannya.

Habitat hidup Aedes Aegypti meliputi tempat berkembang biak (Breeding


place), tempat mencari makan (Feeding place), dan tempat beristirahat (Resting
place). Interaksi ketiga faktor tersebut sangat mempengaruhi perkembangbiakan
nyamuk.

1
Karena pentinganya pengetahuan mengenai perilaku hidup serta habitat
nyamuk Anopheles sp. Dalam makalah ini kami akan membahas lebih lanjut
mengenai bionomik atau perilaku hidup nyamuk serta habitat nyamuk anopheles sp.

2. Rumusan Masalah

1) Bagaimanakah perilaku hidup/bionomik dari nyamuk Aedes dan culex?


2) Dimanasajakah habitat nyamuk Aedes dan culex?
3) Faktor apasajakah yang mempengaruhi perilaku dan habitat nyamuk Aedes
dan culex?

3. Tujuan

Mengetahui perbedaan vector nyamuk (Aedes danCulex) dilihat dari ciri,


aktivitas menggigit, siklus hidup, perkembangbiakan nyamuk, habitat, pemilihan
hospes, distribusi dan penyakit yang dapat ditularkan oleh nyamuk.

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Nyamuk Culex sp
A. Culex sp

Culex sp adalah Culexspadalah genusdari nyamuk yang berperan sebagai


vektor penyakit yang penting seperti West Nile Virus,Filariasis,Japanese
enchepalitis,StLouis encephalitis.Nyamuk dewasa dapat berukuran 4 10 mm (0,16
0,4 inci). Dan dalam morfologinya nyamuk memiliki tiga bagian tubuh umum: kepala,
dada, dan perut. Nyamuk Culexyang banyak di temukan di Indonesia yaitu jenis
Culexquinquefasciatus.

Ciri-ciri jentik nyamuk Culex sp

1. Bentuk siphon langsing dan kecil yang terdapat pada abdomen terakhir.

2. Bentuk comb tidak beraturan.

3. Jentik nyamuk culex membentuk sudut di tumbuhan air(menggantung).

Ciri-ciri nyamuk Culex sp

1. Palpi lebih pendek dari pada probocis.

2. Bentuk sayap simetris.

3. Berkembang biak di tempat kotor atau di rawa-rawa.

4. Penularan penyakit dengan cara membesarkan tubuhnya.

5. Menyebabkan penyakit filariasis

6. Warna tubuhnya coklat kehitaman

B. Toksonomi

3
Kingdom : Animal
Phylum : Arthropoda
Family : Culicidae
Kelas : Insecta
Ordo : Dipthera
Sub Family : Culicini
Genus : Culex
Spesies : Culexsp

C. Siklus Hidup Culex sp


Siklus Hidup Nyamuk Culex sp
Seekor nyamuk betina mampu meletakan 100-400 butir telur. Setiap spesies
nyamuk mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda. Nyamuk Culex spmeletakan
telurnya diatas permukaan air secara bergelombolan dan bersatu membentuk rakit
sehingga mampu untuk mengapung.

Setelah kontak dengan air, telur akan menetas dalam waktu 2-3hari.
Pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh faktor temperature, tempat
perindukan dan ada tidaknya hewan predator.Pada kondisi optimum waktu yang
dibutuhkan mulai dari penetasan sampai dewasa kurang lebih 5 hari.

Pupa merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air, pada
stadium ini tidak memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga dapat
terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari.
Pada fase ini nyamuk membutuhkan 2-5 hari untuk menjadi nyamuk, dan selama fase
ini pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva menjadi nyamuk yang
dapat terbang dan keluar dari air.
Setelah muncul dari pupa nyamuk jantan dan betina akan kawin dan nyamuk
betina yang sudah dibuahi akan menghisap darah waktu 24-36 jam. Darah merupakan
sumber protein yang esensial untuk mematangkan telur.Perkembangan telur hingga
dewasa memerlukan waktu sekitar 10 sampai 12 hari.

D. Bionomik Nyamuk Culex sp

Nyamuk betina menghisap darah untuk proses pematangan telur, berbeda


dengan nyamuk jantan. Nyamuk jantan tidak memerlukan darah tetapi hanya

4
menghisapsari bunga.Setiap nyamuk mempunyai waktu menggigit, kesukaan
menggigit, tempat beristirahat dan berkembang biak yang berbeda-beda satu dengan
yang lain.

1. Tempat berkembang biak


Nyamuk Culex spsuka berkembang biak di sembarang tempat misalnya di
air bersih dan air yang kotor yaitu genangan air, got terbuka dan empang ikan.
2. Perilaku makan
Nyamuk Culex spsuka menggigit manusia dan hewan terutama pada malam
hari. Nyamuk Culex spsuka menggigit binatang peliharaan, unggas, kambing,
kerbau dan sapi. Menurut penelitian yang lalu kepadatan menggigit manusia di
dalam dan di luar rumah nyamuk Culex sphampir sama yaitu di luar rumah
(52,8%) dan kepadatan menggigit di dalam rumah (47,14%), namun ternyata
angka dominasi menggigit umpan nyamuk manusia di dalam rumah lebih
tinggi (0,64643) dari nyamuk menggigit umpan orang di luar rumah
(0,60135).

3. Kesukaan beristirahat
Setelah nyamuk menggigit orang atau hewan nyamuk tersebut akan
beristirahat selama 2 sampai 3 hari. Setiap spesies nyamuk mempunyai
kesukaan beristirahat yang berbeda-beda. Nyamuk Culex spsuka beristirahat
dalam rumah. Nyamuk ini sering berada dalam rumah sehingga di kenal
dengan nyamuk rumahan
4. Aktifitas menghisap darah
Nyamuk Culex spsuka menggigit manusia dan hewan terutama pada
malam hari (nocturnal). Nyamuk Culex sp menggigit beberapa jam setelah
matahari terbenam sampai sebelum matahari terbit. Dan puncak menggigit
nyamuk ini adalah pada pukul 01.00-02.00

E. Habibat
Nyamuk dewasa merupakan ukuran paling tepat untuk memprediksi potensi
penularan arbovirus.Larva dapat di temukan dalam air yang mengandung tinggi
pencemaran organik dan dekat dengan tempat tinggal manusia. Betina siap memasuki

5
rumah-rumah di malam hari dan menggigit manusia dalam preferensi untuk mamalia
lain.

F. Faktor Lingkungan Fisik yang Mempengaruhi Nyamuk Culex sp

1. Suhu
Faktor suhu sangat mempengaruhi nyamuk Culex sp dimana suhu yang tinggi
akan meningkatkan aktivitas nyamuk dan perkembangannya bisa menjadi lebih cepat
tetapi apabila suhu di atas 350C akan membatasi populasi nyamuk. Suhuoptimum
untuk pertumbuhan nyamuk berkisar antara 200C 300C. Suhu udara mempengaruhi
perkembangan virus dalam tubuh nyamuk.
2. Kelembaban Udara
Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam
udarayang dinyatakan dalam (%). Jika udara kekurangan uap air yang besar maka
daya penguapannya juga besar. Sistem pernafasan nyamuk menggunakan pipa udara
(trachea) dengan lubang-lubang pada dinding tubuh nyamuk (spiracle). Adanya
spiracle yang terbuka lebar tanpa ada mekanisme pengaturannya. Pada saat
kelembaban rendah menyebabkan penguapan air dalam tubuh sehingga menyebabkan
keringnya cairan tubuh. Salah satu musuh nyamuk adalah penguapan, kelembaban
mempengaruhi umur nyamuk, jarak terbang, kecepatan berkembang biak, kebiasaan
menggigit, istirahat dan lain-lain.
3. Pencahayaan
Pencahayaan ialah jumlah intensitas cahaya menuju ke permukaan per unit
luas. Merupakan pengukuran keamatan cahaya tuju yang diserap. Begitu juga dengan
kepancaran berkilau yaitu intensitas cahaya per unit luas yang dipancarkan dari pada
suatu permukaan. Dalam unit terbitan SI, kedua-duanya diukur dengan menggunakan
unit lux (lx) atau lumenper meter persegi (cd.sr.m-2). Bila dikaitkan antara intensitas
cahaya terhadap suhu dan kelembaban, hal ini sangat berpengaruh. Semakin tinggi
atau besar intensitas cahaya yang dipancarkan ke permukaan maka keadaan suhu
lingkungan juga akan semakin tinggi. Begitu juga dengan kelembaban, semakin tinggi

6
atau besar intensitas cahaya yang dipancarkan ke suatu permukaan maka kelembaban
di suatu lingkungan tersebut akan menjadi lebih rendah.

G. Pengendalian
Pengendalian nyamuk dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Pengendalian secara mekanik
Cara ini dapat di lakukan dengan mengubur kaleng-kaleng atau tempat-tempat
sejenis yang dapat menampung air hujan dan membersihkan lingkungan yang
berpotensial di jadikan sebagai sarang nyamuk Culex spmisalnya got dan potongan
bambu. Pengendalian mekanis lain yang dapat dilakukan adalah pemasangan
kelambu dan pemasangan perangkap nyamuk baik menggunakan cahaya lampu
dan raket pemukul.
2. Pengendalian secara biologi
Intervensi yang di dasarkan pada pengenalan organisme pemangsa, parasit,
pesaing untuk menurunkan jumlah Culex sp. Ikan pemangsa larva misalnya ikan
kepala timah, gambusia ikan mujaer dan nila di bak dan tempat yang tidak bisa
ditembus sinar matahari misalnya tumbuhan bakau sehingga larva itu dapat di makan
oleh ikan tersebut dan merupakan dua organisme yang paling sering di gunakan.
Keuntungan dari tindakan pengendalian secara biologis mencakup tidak adanya
kontaminasi kimiawi terhadap lingkungan. Selain dengan penggunaan organisme
pemangsa dan pemakan larva nyamuk pengendalian dapat di lakukan dengan
pembersihan tanaman air dan rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan
nyamuk, menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat
perindukan nyamuk dan membersihkan semak-semak di sekitar rumah dan dengan
adanya ternak seperti sapi, kerbau dan babi dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk
pada manusia apabila kandang ternak di letakkan jauh dari rumah.
3. Pengendalian secara kimia.
Penggunaan insektisida secara tidak tepat untuk pencegahan dan pengendalian
infeksi dengue harus dihindarkan. Selama periode sedikit atau tidak ada aktifitas
virus dengue, tindakan reduksi sumber larva secara rutin, pada lingkungandapat

7
dipadukan dengan penggunaan larvasida dalam wadah yang tidak dapat dibuang,
ditutup, diisi atau ditangani dengan cara lain.

2. Nyamuk Aedes Aegypti

A. Aedes Aegypti

Aedes Aegypti adalah vektor beberapa penyakit baik pada hewan mau pun
manusia. Banyak penyakit pada hewan dan manusia dalam penularannya mutlak
memerlukan peran nyamuk sebagai vektor dari agen penyakitnya, seperti filariasis
dan malaria. Sebagian pesies nyamuk dari genus Anopheles dan Culex yang bersifat
zoofilik berperan dalam penularan penyakit pada binatang dan manusia, tetapi ada
juga spesies nyamuk antropofilik yang hanya menularkan penyakit pada manusia.
Salah satu penyakit yang mempunyai vektor nyamuk adalah Demam Berdarah
Dengue.

Ciri-ciri jentik Aedes aegypti

1. Bentuk siphon besar dan pendek yang terdapat pada abdomen terakhir

2. Bentuk comb seperti sisir

3. Pada bagian thoraks terdapat stroot spine

Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti

1. Bentuk tubuh kecil dan dibagian abdomen terdapat bintik-bintik serta berwarna
hitam.

2. Tidak membentuk sudut 90

3. Penyebaran penyakitnya yaitu pagi atau sore

8
4. Hidup di air bersih serta ditempat-tempat lain yaitu kaleng-kaleng bekas yang bisa
menampung air hujan

5. Penularan penyakit dengan cara membagi diri.

6. Menyebabkan penyakit DBD.

B. Toksonomi

Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Culicidae
Genus : Aedes
Upagenus :Stegomyia
Spesies :Aedesaegypti

C. Siklus Hidup Aedes Aegypti


Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti
Nyamuk termasuk serangga yang mengalami metamorfosis sempurna
(holometabola) karena mengalami empat tahap dalam masa pertumbuhan dan
perkembangan. Tahapan yanag dialami oleh nyamuk yaitu telur, larva, pupa dan
dewasa. Telur nyamuk akan menetas menjadi larva dalam waktu 1-2 hari pada suhu
20-40C. Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh suhu,
tempat, keadaan air dan kandungan zat makanan yang ada di tempat perindukan. Pada
kondisi optimum, larva berkembang menjadi pupa dalam waktu 4-9 hari dan pada
kondisi ini nyamuk tidak makan tapi tetap membutuhkan oksigen yang diambilnya
melalui tabung pernafasan (breathing trumpet) , kemudian pupa menjadi nyamuk
dewasa dalam waktu 2-3 hari sehingga waktu yang dibutuhkan dari telur hingga
dewasa yaitu 7-14 hari.

9
Suhu udara merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi
perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti. Pada umumnya nyamuk akan meletakkan
telurnya pada temperatur sekitar 20 30C. Toleransi terhadap suhu tergantung pada
spesies nyamuk. telur nyamuk tampak telah mengalami embriosasi lengkap dalam
waktu 72 jam dalam temperatur udara 25 - 30C. Rata-rata suhu optimum untuk
pertumbuhan nyamuk adalah 25 27C dan pertumbuhan nyamuk akan berhenti sama
sekali bila suhu kurang dari 10C atau lebih dari 40C.
Kelembaban udara juga merupakan salah satu kondisi lingkungan yang dapat
mempengaruhi perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti. kelembaban udara yang
berkisar 81,5 - 89,5% merupakan kelembaban yang optimal untuk proses embriosasi dan
ketahanan hidup embrio nyamuk. Sedangkan tempat perindukan yang paling potensial
dalam siklus hidup nyamuk adalah di kontainer atau tempat perindukan yang digunakan
untuk keperluan sehari - hari seperti drum, tempayan, bak mandi, bak WC, ember, dan
sejenisnya.
Nyamuk lebih menyukai tempat perindukan yang berwarna gelap, terlindung
dari sinar matahari, permukaan terbuka lebar, berisi air tawar jernih dan tenang. Tempat
perindukan nyamuk (tempat nyamuk meletakkan telur) terletak di dalam maupun di luar
rumah. Tempat perindukan di dalam rumah yaitu tempat-tempat penampungan air antara
lain bak air mandi, bak air WC, tandon air minum, tempayan, gentong air, ember, dan
lainlain. Tempat perindukan di luar rumah antara lain dapat ditemukan di drum, kaleng
bekas, botol bekas, pot bekas, pot tanaman hias yang terisi air hujan dan lain-lain.
Tempat perindukan nyamuk juga dapat ditemukan pada tempat penampungan air alami
misalnya pada lubang pohon dan pelepah-pelepah daun.
Ae albopictus berkembang biak pada kontainer temporer tetapi lebih suka pada
kontainer alamiah di hutan-hutan, seperti lubang pohon, ketiak daun, lubang batu dan
batok kelapa, serta berkembang biak lebih sering di luar rumah di kebun dan jarang
ditemukan di dalam rumah pada kontainer buatan seperti gentong dan ban mobil.
Spesies ini memiliki telur yang dapat bertahan pada kondisi kering tetapi tetap hidup.

10
Nyamuk Aedes betina menghisap darah untuk mematangkan telurnya. Waktu mencari
makan (menghisap darah) adalah pada pagi atau petang hari. Kebanyakan spesies
menggigit dan beristirahat di luar rumah tetapi di kota-kota daerah tropis, Ae aegypti
berkembang biak, menghisap darah dan beristirahat di dalam dan sekitar rumah. Ada
pula yang menemukan Aedes menghisap darah di dalam rumah dan beristirahat sebelum
dan sesudah makan di luar rumah.

D. Bionomik Nyamuk Aedes Aegypti

Bionomik vektor meliputi kesenangan tempat perindukan nyamuk, kesenangan


nyamuk menggigit, kesenangan nyamuk istirahat, lama hidup dan jarak terbang :
1. Kesenangan tempat perindukan nyamuk.
Tempat perindukan nyamuk biasanya berupa genangan air yang tertampung
disuatu tempat atau bejana. Nyamuk Aedes tidak dapat berkembangbiak
digenangan air yang langsung bersentuhan dengan tanah. Genangannya yang
disukai sebagai tempat perindukan nyamuk ini berupa genangan air yang
tertampung di suatu wadah yang biasanya disebut kontainer atau tempat
penampungan air bukan genangan air di tanah.Survei yang telah dilakukan di
beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa tempat perindukan yang paling
potensial adalah TPA yang digunakan sehari hari seperti drum, tempayan, bak
mandi, bak WC, ember dan sejenisnya. Tempat perindukan tambahan adalah
disebut non-TPA, seperti tempat minuman hewan, vasbunga, perangkap semut dan
lain-lainnya, sedangkan TPA alamiah seperti lubang pohon, lubang batu, pelepah
daun, tempurung kelapa, kulit kerang, pangkal pohon pisang, potongan bambu,
dan lain-lainnya.
Nyamuk Aedes aegypti lebih tertarik untuk meletakkan telurnya pada TPA
berair yang berwarna gelap, paling menyukai warna hitam, terbuka lebar, dan
terutama yang terletak di tempat-tempat terlindungsinar matahari
langsung.Tempat perindukan nyamuk Aedes yaitu tempat di mana nyamuk Aedes
meletakkan telurnya terdapat di dalam rumah (indoor) maupun di luar
rumah(outdoor). Tempat perindukan yang ada di dalam rumah yang paling utama
adalah tempat-tempat penampungan air: bak mandi, bak air WC, tandon air
minum,tempayan, gentong tanah liat, gentong plastik, ember, drum, vas tanaman
hias,perangkap semut, dan lain-lain. Sedangkan tempat perindukan yang ada di

11
luar rumah (halaman): drum, kaleng bekas, botol bekas, ban bekas, pot bekas,
pottanaman hias yang terisi oleh air hujan, tandon air minum, dan lain-lain.
2. Kesenangan nyamuk menggigit
Nyamuk Aedes hidup di dalam dan di sekitar rumah sehingga makanan yang
diperoleh semuanya tersedia di situ. Boleh dikatakan bahwa nyamuk Aedes aegypti
betina sangat menyukai darah manusia (antropofilik). Kebiasaan menghisap darah
terutama pada pagi hari jam 08.00-12.00 dan sore hari jam 15.00-17.00. Nyamuk
betina mempunyai kebiasaan menghisap darah berpindah-pindah berkali-klali dari
satu individu ke individu yang lain. Hal ini disebabkan karena pada siang
harimanusia yang menjadi sumber makanan darah utamanya dalam keadaan aktif
bekerja/bergerak sehingga nyamuk tidak dapat menghisap darah dengan tenang
sampai kenyang pada satu individu. Keadaan inilah yang menyebabkan penularan
penyakit DBD menjadi lebih mudah terjadi.Waktu mencari makanan, selain
terdorong oleh rasa lapar, nyamuk Aedes juga dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu bau yang dipancarkan oleh inang,temperatur, kelembaban, kadar karbon
dioksida dan warna. Untuk jarak yang lebih jauh, faktor bau memegang peranan
penting bila dibandingkan dengan faktor lainnya.
Sedangkan nyamuk Aedes Albopictus betina aktif di luar ruangan yang teduh dan
terhindar dari angin. Nyamuk iniaktif menggigit pada siang hari. Puncak aktivitas
menggigit ini bervariasi tergantung habitat nyamuk meskipun diketahui pada pagi
hari dan petang hari
3. Kesenangan nyamuk istirahat
Kebiasaan istirahat nyamuk Aedes aegypti lebih banyak di dalam rumah pada
benda-benda yang bergantung, berwarna gelap, dan di tempat-tempat lain
yangterlindung. Di tempat-tempat tersebut nyamuk menunggu proses pematangan
telur. Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina
akanmeletakan telurnya di dinding tempat perkembangbiakannya, sedikit di
ataspermukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu
2 hari setelah telur terendam air. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat
mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur tersebut dapat bertahan sampai
berbulan-bulan bila berada di tempat kering dengan suhu -2C sampai 42C,
danbila di tempat tersebut tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur
dapat menetas lebih cepat.
4. Jarak terbang
Penyebaran nyamuk Aedes Aegypti betina dewasa dipengaruhi oleh beberapa
faktor termasuk ketersediaan tempat bertelur dan darah, tetapi tampaknya

12
terbatas sampai jarak 100 meter dari lokasi kemunculan.Akan tetapi penelitian
terbaru di Puerto Rico menunjukkan bahwa nyamuk ini dapat menyebar sampai
lebih dari 400 meter terutama untuk mencari tempat bertelur.Transportasi pasif
dapat berlangsung melalui telur dan larva yang ada di dalam penampung.
5. Lama hidup
Nyamuk Aedes Aegypti dewasa memiliki rata-rata lama hidup 8 hari. Selama
musim hujan, saat masa bertahan hidup lebih panjang, risiko penyebaran virus
semakin besar.Dengan demikian, diperlukan lebih banyak penelitian untuk
mengkaji survival alami Aedes Aegypti dalam berbagai kondisi.
Untuk dapat memberantas nyamuk Aedes Aegypti secara efektif diperlukan
pengetahuan tentang pola perilaku nyamuk tersebut yaitu perilaku mencari darah,
istirahat dan berkembang biak, sehingga diharapkan akan dicapai Pemberantasan
Sarang Nyamuk dan jentik Nyamuk Aedes Aegypti yang tepat.
Perilaku tersebut meliputi :
a) Perilaku Mencari Darah
1) Setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur
2) Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2 3 hari sekali
3) Menghisap darah pada pagi hari sampai sore hari, dan lebih suka pada jam
08.00 12.00 dan jam 15.00 17.00
4) Untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina sering menggigigt lebih
dari satu orang
5) Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter
6) Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan.
b) Perilaku Istirahat
Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2 3
hari untuk mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukai :
1) Tempat-tempat yang lembab dan kurang terang, seperti kamar mandi, dapur,
WC
2) Di dalam rumah seperti baju yang digantung, kelambu, tirai.
3) Di luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah.
c) Perilaku berkembangbiak
Nyamuk aedes aegypti bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air
bersih seperti:
1) Tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari :bak mandi, WC,
tempayan, drum air, bak menara( tower air) yang tidak tertutup, sumur gali.
2) Wadah yang berisi air bersih atau air hujan: tempat minum burung, vas bunga,
pot bunga, potongan bambu yang dapat menampung air, kaleng, botol, tempat
pembuangan air di kulkas dan barang bekas lainnya yang dapat menampung
air meskipun dalam volume kecil.

13
E. Habibat
Ae. aegypti merupakan spesies nyamuk yang hidup dan ditemukan di
negara-negara yang terletak antara 350 Lintang Utara dan 350 Lintang Selatan
pada temperatur udara paling rendah sekitar 100 C. Pada musim panas, spesies
ini kadang-kadang ditemukan di daerah yang terletak sampai sekitar 450
Lintang Selatan. Selain itu ketahanan spesies ini juga tergantung pada
ketinggian daerah yang bersangkutan dari permukaan laut. Biasanya spesies
ini tidak ditemukan di daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter diatas
permukaan laut. Dengan ciri highly anthropophilic dan kebiasaan hidup di
dekat manusia. Ae. Aegypti dewasa menyukai tempat gelap yang tersembunyi
di dalam rumah sebagai tempat beristirahatnya, nyamuk ini merupakan vektor
efisien bagi arbovirus. Ae.Aegypti juga mempunyai kebiasaan mencari makan
(menggigit manusia untuk dihisap darahnya) sepanjang hari terutama antara
jam 08.00-13.00 dan antara jam 15.00-17.00. Sebagai nyamuk domestik di
daerah urban, nyamuk ini merupakan vektor utama (95%) bagi penyebaran
penyakit DBD. Jarak terbangspontan nyamuk betina jenis ini terbatas sekitar
30-50 meter per hari. Jarak terbang jauh biasanya terjadi secara pasif melalui
semua jenis kendaraan termasuk kereta api, kapal laut dan pesawat udara.
Nyamuk Ae. aegypti hidup dan berkembang biak pada tempat tempat
penampungan air bersih yang tidak langsung berhubungan dengan tanah
seperti bak mandi, tempayan, kaleng bekas, tempat minum burung dan lain
sebagainya.Umur nyamuk Ae. aegypti berkisar 2 minggu sampai 3 bulan atau
rata rata 1,5 bulan tergantung dari suhu, kelembaban sekitarnya. Kepadatan
nyamuk akan meningkat pada waktu musim hujan dimana terdapat genangan
air bersih yang dapat menjadi tempat untuk berkembang biak. Selain nyamuk
Ae. aegypti, penyakit demam berdarah juga dapat ditularkan oleh nyamuk Ae.
albopictus.Tetapi peranan nyamuk ini dalam menyebarkan penyakit demam
berdarah kurang jika dibandingkan nyamuk Ae. aegypti. Ae. aegypti suka
beristirahat di tempat yang gelap, lembab, dan tersembunyi di dalam rumah
atau bangunan termasuk di kamar tidur, kamar mandi, kamar kecil maupun
dapur. Di dalam ruangan, nyamuk suka beristirahat pada benda benda yang
tergantung seperti pakaian, kelambu, gordyn di kamaryang gelap dan lembab.
Pada umumnya Ae. aegypti lebih menyukai tempat perindukan berupa air
bersih tetapi dari hasil studi oleh beberapa peneliti menguatkan bahwa telur

14
nyamuk lebih banyak pada ovitrap dengan rendaman jerami dari pada dengan
air bersih biasa. Penelitian Karen A Polson menyebutkan adanya perbedaan
jumlah telur pada ovitrap menggunakan 10% air rendaman jerami dengan
ovitrap yang menggunakan air biasa. Jumlah telur yang dihasilakan lebih
banyak pada 10% air rendaman jerami dari pada menggunakan air biasa.

F. Faktor Lingkungan Fisik yang Mempengaruhi Nyamuk Aedes Aegypti

1.Suhu
Faktor suhu sangat mempengaruhi nyamuk Aedes aegypti dimana
nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu rendah (10oC) tetapi proses
metabolismenya menurun atau bahkan berhenti bila suhu sampai di bawah
suhu (4,5oC) pada suhu yang lebih tinggi dari 350C mengalami keterbatasan
proses fisiologis. Suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk berkisar antara
25o27oC. Suhu udara mempengaruhi perkembangan virus dalam tubuh
nyamuk.
2.Kelembaban Udara
Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam
udara yang dinyatakan dalam (%). Jika udara kekurangan uap air yang besar
maka daya penguapannya juga besar. Sistem pernafasan nyamuk
menggunakan pipa udara (trachea) dengan lubang-lubang pada dinding
tubuh nyamuk (spiracle). Adanya spiracleyang terbuka lebar tanpa ada
mekanisme pengaturannya. Pada saat kelembaban rendah menyebabkan
penguapan air dalam tubuh sehingga menyebabkan keringnya cairan tubuh.
Salah satu musuh nyamuk adalah penguapan, kelembaban mempengaruhi
umur nyamuk, jarak terbang, kecepatan berkembang biak, kebiasaan
menggigit, istirahat dan lain-lain.

G. Pengendalian
Pemberantasan nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus bertujuan untuk
menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit demam berdarah dengue
hingga ke tingkat yang bukan merupakan masalah kesehatan masyarakat lagi.

15
Kegiatan pemberantasan nyamuk Aedes yang dapat dilaksanakan dengan dua
cara yaitu:
1. Pemberantasan Nyamuk Dewasa
Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara :
a) Pengasapan (Fogging)
Pengasapan atau fogging dengan menggunakan jenis insektisida.
b) Repelen
Repelen, yaitu bahan kimia atau non-kimia yang berkhasiat mengganggu
kemampuan insekta untuk mengenal bahan atraktan dari hewan atau
manusia.
c) Teknik Serangga Mandul (TSM)
Radiasi dapat dimanfaatkan untuk pengendalian vektor yaitu untuk
membunuh secara langsung dengan teknik desinfestasi radiasi dan
membunuh secara tidak langsung yang lebih dikenal dengan Teknik
Serangga Mandul (TSM), yaitu suatu teknik pengendalian vektor yang
potensial, ramah lingkungan, efektif, spesies spesifik dan kompatibel.
2. Pemberantasan jentik
Pemberantasan terhadap jentik Aedes aegypti yang dikenal dengan istilah
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilakukan dengan cara :
a) Fisik
Cara ini dilakukan dengan menghilangkan atau mengurangi tempat-
tempat perindukkan. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang
pada dasarnya ialah pemberantasan jentik atau mencegah agar
nyamuk tidak dapat berkembang biak. PSN ini dapat dilakukan
dengan :
1) Menguras bak mandi dan tempat-tempat penampungan air
sekurangkurangnya seminggu sekali. Ini dilakukan dengan
pertimbangan bahwa perkembangan telur menjadi nyamuk selama 7-
10 hari.
2) Menutup rapat tempat penampungan air seperti tempayan, drum dan
tempat air lain
3) Mengganti air pada vas bunga dan tempat minum burung
sekurangkurangnya seminggu sekali

16
4) Membersihkan pekarangan dan halaman rumah dari barang-barang
bekas seperti kaleng bekas dan botol pecah sehingga tidak menjadi
sarang nyamuk.
5) Menutup lubang-lubang pada bambu pagar dan lubang pohon dengan
tanah
6) Membersihkan air yang tergenang diatap rumah
7) Memelihara ikan.
b) Kimia
Dikenal sebagai Larvasidasi atau Larvasiding yakni cara memberantas
jentik nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan insektisida
pembasmi jentik (larvasida).
c) Biologi
Pengendalian ini dilakukan dengan menggunakan makhluk hidup,
baik dari golongan mikroorganisme, hewan invertebrata atau hewan
vertebrata. Organisme tersebut dapat berperan sebagai patogen,
parasit atau pemangsa.
7.

17
BAB III

HASIL

No Jam Tempat Kelembapa Pencahayaan Nyamuk D=


n Nyamuk/
Rxt
1 8.25 Belakang 91% 154 x 100 2 2
kantin (1) D= 3 x 10

= 0,06

2 8.40 Belakang 91% 133 x 100 1 1


Kantin (2) D= 3 x 10

= 0,03

3 8.50 R.pak Jono 91% 37 x 100 2 2


D= 3 x 10

= 0,06

4 9.00 R.Pak 91% 32 x 100 0 0


sugeng D= 3 x 10

=0

5 9.15 Lapangan 91% 403 x 100 0 0


Voly (1) D= 3 x 10

=0

6 9.25 Lapangan 91% 63 x 100 1 1


Voly (2) D= 3 x 10

= 0,03

7 9.35 Samping 91% 17x 100 0 0


Lapangan D= 3 x 10
Voly (1)
=0

8 9.45 Samping 91% 307 x 100 1 1


lapangan D= 3 x 10
Voly (2)
= 0,03

18
9 10.00 Rumah 91& 67 x 100 1 1
Sampah D= 3 x 10
(1)
= 0,03

10 10.10 Rumah 91% 56 x 100 3 3


sampah D= 3 x 10
(2)
= 0,1

11 10.20 Rumah 91% 53 x 100 2 2


Sampah D= 3 x 10
(3)
= 0,06

12 10.35 R.pak 91% 128 x 100 0 0


zaeni D= 3 x 10

=0

BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan
a) Morfologi nyamuk Aedesaegypti
Telur Aedesaegypti berukuran 0,5 0,8 mm, berwarna hitam, bulat panjang dan
berbentuk oval.
Jentik Nyamuk Aedes aegypti tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan bulu- bulu
sederhana yang tersusun bilateral simetris.
Kepompong (Pupa) pernafasan, Pupa nyamuk Aedesaegypti bentuk tubuhnya
bengkok, dengan bagian kepala- dada (chepalothorax) lebih besar apabila
dibandingkan dengan besarperutnya, sehingga tampak sepertitan dabaca koma.
Nyamuk Dewasa, nyamuk

19
Aedesaegypti tubuhnya tersusun dari tiga bagian yaitu kepala, dada dan perut. Pada
bagian kepala terdapat sepasang matamajemuk dan antena yang berbulu.tumbuhan
(phytophagus). Nyamuk betina mempunyai antenna tipe pilose.

b) Morfologi Nyamuk Culexsp


Pada stadium jentik nyamuk Culex mempunyai siphon yang mengandung
bulu- bulu siphon (siphonal tuft) dan pekten, sisir atau comb dengan gigi- gigi sisir
(comb teeth), segmen anal dengan pelana tertutup dan tampak tergantung pada
permukaan air. Stadium pupa Culex mempunyai tabung pernafasan yang bentuknya
kelihatan sempit dan panjang, digunakan untuk pengambilan oksigen
Nyamuk Dewasa
Palpus nyamuk betina lebih pendek dari proboscis, sedang nyamuk jantan palpus dan
proboscis sama panjang. Pada sayap mempunyai bulu yang simetris dan tanpa
costa.Sisik sayap membentuk kelompok sisik yang berwarna sehingga tampak sisik
sayap membentuk bercak- bercak pada sayap berwarna putih dan kuning atau putih
dan cokelat, juga putih dan hitam.Ujung perut selalu menumpul.

2. Saran
Kegiatan pemberantasan nyamuk aedes aegypti dan culex yang dapat
dilaksanakan dengan cara fogging, repelen, dan teknik serangga mandul. Adapun cara
lainnya yaitu dengan 3M , Menguras , Menutup , Mengubur. Masyarakat juga
dihimbau untuk dapat menjaga kebersihan lingkungan, karena kebersihan lingkungan
merupakan salah satu cara untuk menghindari adanya penyakit yang di sebabkan oleh
beberapa nyamuk salah satunya DBD yang di tularkan oleh nyamuk kepada manusia.

20
21
LAMPIRAN

Belakang kantin (1) Belakang Kantin (2)

22
Belakang R.pak zaeni R.sampah (1)

23
Lapangan voli (1) Lapangan Voly (2)

Samping Lapangan Voly (1) Samping Lapangan Voly (3)

Belakang R.pak joni Belakang R.pak sugeng

24
Pengambilan Jentik Nyamuk

Jentik nyamuk

25