Anda di halaman 1dari 16

BAB XII

SPESIFIKASI TEKNIS

1. Umum
a. Garis Besar Pekerjaan
1) Uraian Pekerjaan
Pada Kegiatan Peningkatan Sarana dan Prasarana Balai Benih Ikan
Lokal Pekerjaan Peningkatan Saluran air , lingkupnya mencakup
pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :
Pekerjaan Rehabilitasi Saluran Drainase
Pekerjaan Pembangunan Saluran Pembuangan

2) Ketentuan
a) Tenaga Kerja
Jika untuk pelaksanaan suatu pekerjaan, sifat pekerjaan menurut
dipakai/ dilibatkannya tenaga ahli khusus, Pelaksana Pekerjaan harus
mengadakan/ menggunakan tenaga ahli yang dimaksud.
b) Peralatan Kerja
Jika untuk menghasilkan hasil yang memuaskan harus digunakannya
peralatan yang sifatnya tepat guna, atau bahkan yang presisi. Pelaksana
Pekerjaan harus mengusahakan/mengadakannya, baik dengan cara membeli
atau menyewanya.
c) Standard/Peraturan Teknis yang berlaku
Dalam melaksanakan pekerjaan, bila tidak ditentukan lain dalam Rencana
Kerja dan syarat syarat (RKS) ini, berlaku dan mengikat ketentuan
ketentuan di bawah ini termasuk segala peraturan dan tambahannya :
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 Tentang
Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah beserta lampiran - lampirannya.
Peraturan Pembangunan dan pemerintah daerah setempat
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 45/PRT/M/ 2007 tanggal 27
Desember 2007 tentang pedoman teknis Pembangunan Bangunan Gedung
Negara
Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (PBI 1971), SNI DT 91-0008-
2007
Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI) Tahun 1961, SNI DT 91-0011-
2007
Mutu Kayu Bangunan SNI 03-3527-1994
Peraturan Umum Keselamatan Kerja dan Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi
Peraturan Semen Portland Indonesia NI-08
Peraturan Muatan Indonesia, NI-18
Ubin Lantai Keramik, Mutu dan Cara Uji SNI 03 -1016 -1987
Peraturan Umum Instalasi Listrik (PULL) Tahun 1977
Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Instalasi
Peraturan Cat Indonesia (PTI -1961)
Petunjuk dan peringatan tertulis yang diberikan direksi / pengawas
konstruksi
Selain ketentuan di atas juga terkait kepada peraturan tentang bangunan
lainnya yang berlaku
Untuk melaksanakan pekerjaan, berlaku dan mengikat pula :
1
Gambar - gambar kerja dan gambar detail yang dibuat oleh konsultan
perencana dan telah disyahkan oleh pemberi tugas
Rencana kerja dan syarat - syarat
Berita acara penjelasan pekerjaan
Dokumen lelang beserta addendumnya
Surat penunjukan penyedia barang / jasa (SPPBJ)
Surat perintah mulai kerja (SPMK)
Surat penawaran beserta lampiran - lampirannya
Jadwal pelaksanaan (Tentative Time Schedulle) yang telah disetujut
Pengelola Teknis Kegiatan

b. Produk
Dalam hal belum ditentukannya patern/pola/warna yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana Pekerjaan harus segera memberitahu Konsultan
Pengawas/Staf Teknis, mengenai hal-hal yang diperlukan tersebut di atas
sejalan dengan jadwal/perkembangan pekerjaan yang berlangsung,
dengan mengajukan contoh/katalog/ data teknis yang diminta menurut
persyaratan teknis yang telah ditetapkan.
1) Jika ternyata produk yang diisyaratkan tidak terdapat lokal, Pelaksana Pekerjaan
harus dapat mengusahakan pengadaannya, walaupun dengan mendatangkan
dari luar kota atau luar daerah.
2) Untuk kondisi semacam ini, Pelaksana Pekerjaan dianggap sudah harus tahu, pada
saat mengajukan penawaran maupun pada saat pelaksanaannya.

c. Pelaksanaan
1) Persiapan dan Pemeriksaan
a) Pelaksana Pekerjaan bertanggung jawab penuh untuk segala usaha, upaya, tata
acara, proses dan prosedur yang harus dilaksanakan untuk mendapatkan hasil
pelaksanaan pekerjaan hingga memenuhi persyaratan yang tercantum di
dalam Kontrak/Perjanjian.
b) Untuk itu, sebelum memulai pelaksanaan dari tiap-tiap bagian pekerjaan,
Pelaksana Pekerjaan wajib memeriksa dan meyakinkan sendiri akan kebenaran
produk/material/peralatan yang akan dipakai, kesiapan lokasi atau pekerjaan
pendahulunya.
2) Verifikasi Ketidak-cocokkan
Dalam hal terdapat kelainan atau ketidak-cocokkan antara gambar dengan kondisi
lapangan, sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan yang terkait, Pelaksana
Pekerjaan wajib memberitahu Konsultan Pengawas/Staf Teknis guna mendapat
pemeriksaan dan penyelesaian yang menyangkut permasalahan/ketidak-
cocokkan yang terjadi.
3) Pemberitahuan Pelaksanaan
Sebelum memulai pelaksanaan dari tiap-tiap bagian pekerjaan, Pelaksana
Pekerjaan wajib memberitahu Konsultan Pengawas/Staf Teknis untuk meminta
dilakukannya pemeriksaan akan kesiapan lokasi/material/peralatan atau
pekerjaan pendahulunya, dengan mengajukan Surat Permohonan Izin
Pelaksanaan bagi tiap-tiap bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan.
4) Koordinasi Pekerjaan
Dalam hal terdapat Pelaksana Pekerjaan lain yang dipekerjakan oleh Pemberi
Tugas untuk melaksanakan suatu bagian pekerjaan dari proyek ini, Pelaksana
Pekerjaan harus dapat bekerja sama di bawah pengarahan Konsultan
Pengawas/Staf Teknis, sehingga tercapai koordinasi yang baik untuk
pelaksanaan seluruh pekerjaan proyek.

d. Perubahan
2
Umum
1) Ruang Lingkup
Perubahan dapat/ mungkin terjadi/ dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat di
dalam pelaksanaan pekerjaan, kemungkinan tersebut adalah sebagai berikut :
a) Perubahan dilakukan oleh Pelaksana Pekerjaan.
b) Perubahan diperintahkan oleh Pemberi Tugas/Konsultan Perencana
/Konsultan Pengawas/Staf Teknis.
2) Hal-hal yang harus diserahkan
a) jika terjadi suatu usulan penggantian atas material/ produk yang telah
ditetapkan, sebelum pelaksanaannya.
b) Pelaksana Pekerjaan harus menyerahkan contoh material/ komponen serta
dilengkapi katalog dan data-data teknis lainnya guna penilaian dari
persetujuan pemakaiannya, baik itu data-data dari produk yang
direncanakan maupun dari produk yang diusulkan sebagai penggantinya.
3) Tanggung jawab
a) Jika perubahan dilakukan oleh Pelaksana Pekerjaan, maka tanggung jawab
teknis perencanaannya ada pada Pelaksana Pekerjaan.
b) Jika perubahan dilakukan oleh Pemberi Tugas atau Konsultan Perencana atau
Konsultan Pengawas/Staf Teknis, tanggung jawab teknis perencanaan ada pada
yang mengubah.
4) Penggantian Produk/ Material
a) Alasan Penggantian, Usulan penggantian suatu produk/material dapat
dilakukan jika :
(1) Material/produk yang telah ditentukan di dalam Kontrak tidak bisa
didapat secara normal, kecuali dinyatakan khusus dalam Syarat
Kontrak.
(2) Adanya faktor/pertimbangan teknis perencanaan yang memungkinkan
untuk dilakukan penggantian.
(3) Adanya faktor/pertimbangan teknis pelaksanaan yang tidak
memungkinkan sehingga perlu adanya penggantian.
(4) Diperlukan faktor teknis ketahanan yang lebih baik.
b) Persetujuan
Semua Perubahan atau Penggantian yang akan dilakukan harus mendapat
Persetujuan dari Pemberi Tugas dan Konsultan Perencana.
5) Pelaksanaan
Usulan penggantian harus disertai dengan :
a) Alasan yang jelas dan dapat diterima.
b) Data teknis produk/ material yang diusulkan.
c) Contoh Material/Peralatan yang diusulkan.
d) Sertifikat Pabrik/Sertifikat Pengujian jika ada/perlu.

e. Fasilitas Sementara
Umum
1) Ruang Lingkup
a) Tenaga listrik, penerangan, air dan saniter.
b) Gudang dan bengkel kerja.
c) Kantor sementara.
d) Keamanan dan keselamatan kerja.
2) Ketentuan
a) Instalasi listrik, penerangan, air dan saniter
b) Air untuk kerja
c) Sanitasi
d) Gudang untuk kerja
3
e) Kantor
f) Keamanan dan Keselamatan Kerja
3) Perencanaan dan Pelaksanaan
Semua fasilitas sementara, direncanakan dan dilaksanakan oleh dan
atas tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan dengan persetujuan dari
Konsultan Pengawas/Staf Teknis.
Semua biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan/pembuatan fasilitas
sementara ini sudah harus diperhitungkan di dalam penawaran, sifat
penawaran dari fasilitas sementara ini adalah sewa, yang di kemudian
hari dapat dikembalikan setelah proyek selesai, dalam hal ini Pemberi Tugas
tidak berhak memilikinya.

4) Pembongkaran
Pada akhir pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana Pekerjaan diminta untuk
membongkar fasilitas-fasilitas sementara serta harus bersih dari
lokasi/lapangan.

f. Penyerahan
Umum
1) Ruang Lingkup
Dalam rangka pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana Pekerjaan diminta untuk
menyerahkan hal-hal sebagai berikut :
a) Rencana jadwal pelaksanaan.
b) Contoh material, data teknis, petunjuk pemasangan, gambar teknis
pelaksanaan (shop drawing).
c) Foto-foto proyek.
2) Ketentuan
Jadwal Pelaksanaan dan Nilai Prestasi Kerja.
a) Bentuk jadwal berupa Network dengan skala waktu.
b) Penyajian Jadwal Pelaksanaan ini dapat dibuat berdasarkart
pengelompokkan lokasi atau bagian pekerjaan.
c) Nilai Prestasi Kerja yang direncanakan dibuat atas dasar alokasi kegiatan
pekerjaan, serta dilengkapi dengan Kurva S.

g. Mutu Kerja
Umum
1) Ruang Lingkup
a) Tenaga Ahli
Pelaksana Pekerjaan harus menyediakan/mengadakan Tenaga Ahli dan
Tenaga Kerja yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan cukup dalam
hal jumlah, kualitas, daya usaha dan kemampuan sesuai dengan besar dan
sifat pekerjaannya.
b) Peralatan Kerja
c) Peralatan Uji
d) Laboratorium Luar
e) Standar Pengujian
2) Mutu Kerja
a) Material atau produk yang dipakai harus memenuhi syarat teknis
pelaksanaan pekerjaan serta dalam keadaan baik dan tidak cacat.
b) Material digunakan/dikerjakan atau dipasang menurut syarat teknis
pelaksanaan pekerjaan serta aturan/ketentuan yang dikeluarkan oleh
pabriknya.

4
c) Hasil kerja harus memenuhi persyaratan teknis tepat dalam posisi
dan ukuran, halus, tidak cacat dan berdaya tahan serta berfungsi
semestinya pada waktu diserahkan.
Mutu kerja yang tidak memenuhi syarat tidak dapat diterima dan harus
segera disingkirkan dan diganti. Pembongkaran, penyingkiran, pembersihan,
penggantian, pemasangan dan pengujian ulang menjadi beban dan tanggung
jawab Pelaksana Pekerjaan sepenuhnya.

h. Produk
Umum
1) Ketentuan
Segala produk atau material baik berupa material, komponen atau
peralatan yang jelas-jelas merupakan standard atau dinyatakan sebagai
produk pabrik. pengadaannya tidak boleh diganti produk lain buatan sendiri
atau dipesan di bengkel tertentu tanpa izin/persetujuan Konsultan
Perencana.

2) Mutu
a) Mutu yang dihasilkan harus memenuhi ketentuan yang tercantum dalam
Syarat Perjanjian, baik Persyaratan Umum maupun Teknis.
b) Material, Komponen, Peralatan yang dipakai di dalam Pekerjaan harus
dalam keadaan utuh baik fisik, kimiawi maupun keadaan permukaannya
(tidak cacat).
c)Hasil pelaksanaan pekerjaan harus cukup halus penyelesaiannya.
d) Hasil pelaksanaan pekerjaan selain harus terpasang dengan baik dan tepat,
juga harus memenuhi syarat-syarat mutu, pemasangan dan pengujian
yang telah ditentukan serta berfungsi sebagaimana mestinya.
e) Bentuk, ukuran, penempatan dan pemasangan harus sesuai menurut
perencanaannya.
3) Perbaikan dan Penggantian
a) Penyimpangan yang terjadi kemudian ditolak oleh Konsultan
Perencana, harus segera diganti atas tanggung jawab Pelaksana
Pekerjaan.
b) Kerusakan yang terjadi selama berlangsungnya pelaksanaan pekerjaan
harus segera diperbaiki atau diganti atas beban dan tanggung jawab
Pelaksana Pekerjaan sepenuhnya.
c) Waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan perbaikan atau penggantian
material atau hasil kerja yang rusak atau tidak memenuhi syarat,
tidak boleh dijadikan alasan sebagai penyebab kelambatan pelaksanaan
atau alasan untuk meminta perpanjangan waktu pelaksanaan.
4) Garansi
Tiap-tiap produk jadi baik material atau peralatan yang diisyaratkan
harus. dijamin/digaransi, Pelaksana Pekerjaan harus
membuat/mengadakan Surat Jaminan/Garansi dan pabrik dan dari
Pelaksana Pekerjaan untuk diserahkan kepada Pemberi Tugas melalui
Konsultan Pengawas/Staf Teknis, antara lain berisi/menyebutkan
jenis material/peralatan/pekerjaan, tanggal atau masa berlaku serta
persyaratan garansi, ditanda tangani oleh pabrik dan Pelaksana Pekerjaan
di atas kertas segel atau kertas bermeterai cukup.
Jaminan untuk masa garansi harus dikeluarkan oleh pabrik pembuat dari
material dan Pelaksana Pekerjaan secara bersama-sama. Surat jaminan
dan pabrik pembuatnya tidak berarti melepaskan Pelaksana Pekerjaan dan
tanggung jawab atas pekerjaanrtya.
5
5) Pemeriksaan Akhir Pekerjaan
Pemeriksaan Akhir Pekerjaan harus dilakukan secara bersama-sama oleh
pihak dan instansi terkait. Selain dihadiri oleh Konsultan Perencana,
Konsultan Pengawas/Staf Teknis dan Pelaksana Pekerjaan, juga harus
dihadiri oleh wakil dari pihak Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan
Perumahan Kota Pontianak sebagai Pihak Pengelola Teknis serta wakil dan
Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Pontianak sebagai pemilik
pekerjaan .

2. Sipil dan Struktur


a. Pekerjaan Pengukuran
Umum
Sebelum mulai melaksanakan pekerjaan, Pelaksana Pekerjaan harus melakukan
pengukuran lokasi dan memasang patok-patok ukur guna penempatan
bangunan/struktur bangunan pada posisi dan elevasi yang telah ditentukan di
dalam gambar perencanaan. Peralatan tersebut antara lain adalah sebagai
berikut, tapi tidak terbatas pada : Waterpass, Teodolith, Bak ukur, Pita ukur dll
peralatan bantu yang dibutuhkan.
b. Pekerjaan Galian/Urugan Tanah dan Pembongkaran
1) Galian dan Urugan Tanah dan Pemadatannya
Pekerjaan galian, urugan dan pemadatan tanah, dimaksudkan untuk keperluan
pekerjaan pondasi atau keperluan pembentukan muka tanah sesuai dengan
ketentuan yang tercantum di dalarn gambar rencana.

2) Pembongkaran
Pembongkaran seluruh bagian struktur, finishing arsitektur/interior dan instalasi
mekanik/listrik yang ada sehubungan dengan pembongkaran seluruh bangunan
workshop lama.
3) Ketentuan
a) Bentuk dan ukuran galian harus mempertimbangkan sifat dan keadaan
permukaan tanah yang ada, agar mudah dan aman.
b) Pelaksanaan pekerjaan tanah ini harus mempergunakan peralatan yang cukup
memadai, baik untuk pelaksanaan maupun untuk keamanan dan
pembersihannya.
c) Pelaksana Pekerjaan juga harus melakukan upaya penjagaan dan
perlindungan terhadap pekerjaan maupun terhadap lingkungan
sekelilingnya. baik selama maupun hingga selesainya pekerjaan.
d) Bongkahan-bongkahan batu tidak boleh dipergunakan sebagai bahan urugan
kecuali dipecah-pecah menjadi butir-butir kecil dengan ukuran diameter
maksimum. 40 mm. Bahan ini hanya dapat dipakai untuk urugan yang
diperlukan untuk pembentukan permukaan tanah baru.
4) Pengeringan (Dewatering)
Pelaksanaan dewatering harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan
keamanan dan kemudahan lokasi.
5) Urugan
a) Bahan urugan harus bebas dari sampah, tanah humus serta bahan-bahan yang
mudah lapuk, seperti kayu dll, atau bahan-bahan lain yang bersifat organis.
b) Persyaratan tingkat kepadatan yang diminta adalah sbb :
(1) 95% diperuntukkan bagi urugan di bawah fondasi/jalan atau struktur
bangunan.
(2) 80% diperuntukkan bagi urugan bukan di bawah struktur
bangunan/jalan, seperti jalur jalan pejalan kaki serta untuk maksud

6
peninggian atau pembentukan permukaan tanah atau urugan lain pada
umumnya.

c. Pekerjaan Acuan Beton


1) Uraian Pekerjaan
a) Ruang lingkup mencakup pekerjaan acuan footplate, sloff, kolom, balok, balok
ringbalk dan kolom praktis bangunan pada umumnya.
b) Uraian ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan pekerjaan
pembuatan acuan beton secara lengkap (perancah, penyangga, acuan dari
perkuatan lainnya), baik untuk struktur balok, kolom, dinding atau pelat
beton.
c) Uraian pekerjaan lain yang merupakan kesatuan dengan pelaksanaan
pekerjaan ini adalah :
(1) Syarat teknis pelaksanaan pekerjaan tulang beton.
(2) Syarat teknis pelaksanaan pekerjaan beton berdasarkan Peraturan Beton
Indonesia tahun 1971 dan Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia 1961.
d) Koordinasi dengan pekerjaan lain. Pekerjaan ini dilakukan setelah pekerjaan
bongkaran eksisting bangunan yang sudah ada.
2) Ketentuan
a) Pembuatan acuan untuk beton dapat dipakai pada sistem ulang pakai (sistem
bongkar pasang) dengan modul dan bentuk disesuaikan dengan struktur
yang ada.
b) Untuk beton yang akan dicor di atas permukaan tanah galian, acuan beton
harus berupa lantai kerja dari beton mutu B.0 menurut PBI 1971.
3) Shop Drawing
Shop drawing yang harus dibuat sebelum mulai pelaksanaan pembuatan dan
pemasangan acuan beton adalah khusus acuan untuk pekerjaan beton expose.

4) Pembongkaran
a) Cara pembongkaran acuan, perancah dan penyangga harus dilakukan
dengan hati-hati, sehingga aman dan tidak menimbulkan kerusakan, baik pada
acuan maupun pada betonnya.
b) Pemotongan sisa besi pemisah acuan yang menonjol keluar dari dinding
beton, dilakukan dengan mesin las.
c) Pembongkaran acuan, perancah atau penyangga acuan harus
disesuaikan dengan macam struktur (kolom, dinding atau pelat) betonnya
serta ditinjau berdasarkan umur beton dan kekuatannya.

d. Pekerjaan Tulangan Beton


1) Ketentuan
a) Uraian ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan pekerjaan
beton pada umumnya.
b) Uraian pekerjaan lain yang merupakan kesatuan dengan
pelaksanaan pekerjaan ini adalah :
(1) Teknis pelaksanaan pekerjaan acuan beton.
(2) Teknis pelaksanaan pekerjaan beton.
c) Koordinasi dengan pekerjaan lain, pemasangan angker/ stek untuk
pasangan batako atau kolom.
d) Setiap pengiriman besi tulangan harus disertai surat keterangan dari
pabrik yang menerangkan mutu besi tulangan yang dikirim. Sertifikat
uji besi tulangan yang dipakai di dalam pekerjaan ini.
2) Peralatan
a) Besi tulangan yang dipakai harus dalam keadaan baru, bersih dan tidak
cacat.
7
b) Ukuran besi yang dipakai harus sesuai dengan ketentuan yang
tercantum di dalam PBI 1971.
c) Peralatan dan ruang kerja, tersedia bengkel kerja yang terlindung
dari pengaruh langsung cuaca (hujan).
d) Tersedia peralatan potong dan pembengkokan besi tipe pilau dengan
tenaga momen.
e) Tersedia peralatan pembengkokkan besi tulangan sesuai dengan
radius tulangan yang ditentukan di dalam PBI 1971.
3) Material
a) Tulangan, Tulangan yang dipakai adalah dari mutu U.39 untuk D >= 13
mm dan U.24 untuk D =< 12 mm menurut PBI 1971, serta
mempunyai sertifikat uji dari lembaga uji pemerintah.
b) Ganjal Tulangan, Ganjal tulangan beton dibuat dan dipasang
berdasarkan ketentuan tebal selimut beton sbb
(1) Untuk lantai dan dinding beton, tebal batu tahu adalah 1,5 cm.
(2) Untuk balok dan sirip beton, 2 cm.
(3) Untuk kolom 3 cm.
(4) Batu tahu dilengkapi dengan kawat pengikat yang tertanam dan
menjulur keluar untuk pengikat kedudukkannya.
c) Kawat, Kawat pengikat dari baja lunak, dengan diameter kawat
minimal 1 mm.
4) Pengujian mutu
a) 2 buah contoh untuk tiap 10 ton tulangan yang dikirim dalam bentuk
bundel dari pabrik.
b) 2 buah contoh untuk tiap 2,5 ton tulangan yang dikirim dalam
keadaan campuran.
c) Ukuran contoh untuk bahan pengujian adalah panjang 1 meter untuk
dap contohnya.

e. Pekerjaan Beton
1) Uraian pekerjaan
a) Lingkup pekerjaan
b) Uraian ini mencakup persyaratan Teknis untuk pelaksanaan pekerjaan
beton pada umumnya.
c) Uraian pekerjaan lain yang merupakan kesatuan dengan
pelaksanaan pekerjaan ini adalah :
(1) Teknis pelaksanaan pekerjaan acuan beton.
(2) Teknis pelaksanaan pekerjaan tulangan beton.
(3) Koordinasi dengan pekerjaan lain.
(4) Pemasangan angker/stek untuk pasangan bata atau kolom.
(5) Pemasangan pipa-pipa sparing yang menembus atau terpasang
pada dinding atau kolom beton.
2) Ketentuan
a) Pemakaian merk semen yang digunakan harus dari satu merk, kecuali
dengan persetujuan Konsultan Pengawas/Staf Teknis.
b) Pemakaian beton praktis, dengan k =17,5 Mpa (Beton K175), ketentuan dan
pelaksanaannya harus mendapat persetujuan dari Konsultan
Pengawas/Staf Teknis.
c) Pemakaian beton struktur, dalam hal digunakan beton aduk jadi dengan k
22,5 Mpa (Beton K225), ketentuan dan pelaksanaannya harus mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas/Staf Teknis.
3) Peralatan, Untuk pembuatan beton, Pelaksana Pekerjaan harus menyediakan
/menggunakan peralatan sebagai berikut :

8
a) Beton mollen
b) Penakar campuran agregat dan semen serta air (baik volume atau berat,
tergantung mutu beton yang harus dihasilkan). Ketentuan ini harus sesuai
dengan PBI 1971.
c) Peralatan angkut adukan beton.
d) Peralatan penggetar/pemadat adukan beton.
e) Peralatan uji slump adukan beton.
f) Cetakan silinder atau kubus beton guna pengujian mutu beton di
laboratorium.
4) Standard/ peraturan, pekerjaan acuan ini dilaksanakan berdasarkan Peraturan
Beton Indonesia tahun 1971 dan Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia 1961.
5) Penyerahan contoh dan sertifikat uji, Sebelum mulai pelaksanaan, Pelaksana
Pekerjaan diminta untuk menyerahakan hal-hal sebagai berikut :
a) Contoh material yang alcan dipakai seperti pasir, batu kerikil, air, bahan
campuran beton guna mempercepat pengerasan atau memperlambat
ikatan awal jika diperlukan.
b) Hasil dari pengujian bahan kerikil, pasir, air dan kubus/silinder beton yang
dihasilkan dari penelitian di laboratorium harus segera diserahkan kepada
Konsultan Pengawas/Staf Teknis guna pemeriksaan dan persetujuannya.
6) Penanganan, penyimpanan dan perlindungan
a) Pengiriman dan penyimpanan bahan-bahan, pada umumnya harus dengan
waktu dan urutan pelaksanaan.
b) Semen harus didatangkan dalam zak yang tidak pecah (utuh), disimpan
dalam, gudang yang kering, terlindung dari pengaruh cuaca, berventilasi
cukup.
c) Agregat harus ditempatkan dalam bak-bak yang cukup terpisah dari satu
dan lain jenisnya/gradasinya dan di atas lantai beton ringan untuk
menghindar tercampurnya dengan tanah.
7) Material
a) Semen Portland yang digunakan adalah tipe I serta dengan mutu S.325
menurut PUBBI 1982.
b) Air dan agregat pasir dan kerikil/split, Air, pasir dan koral harus sesuai
dengan ketentuan yang tercantum di dalam PBI 1971 serta PUBBI 1982.
c) Pelaksanaan
(1) Permukaan bekisting harus bersih dan dibasahi terlebih dahulu sebelum
pengecoran.
(2) Tinggi pengecoran jatuh bebas tidak boleh lebih dari 1,5 meter.
(3) Pengecoran tidak boleh terputus lebih dari waktu setting semen
menurut. sifat semen dan/atau additive yang dipakai.
(4) Pembongkaran perancah dan bekisting :
Bekisting kolom atau dinding beton dapat dibuka setelah beton
berumur minimal 3 hari.
Bekisting lantai baru dapat dibuka setelah beton minimal 21 hari.
d) Pemasangan pipa-pipa, pemasangan pipa dalam beton tidak boleh
sampai merugikan kekuatan kostruksi.
8) Pemadatan
Pemadatan beton dilakukan dengan menggunakan jarum penggetar, dalam
posisi vertikal. Penggunaan jarum penggetar tidak boleh dipanjar dalam adukan
beton sehingga menimbulkan segregasi.
9) Perawatan (curing) beton
a) Beton harus dilindungi dari pengaruh panas, sehingga tidak terjadi
penguapan air yang cepat.

9
b) Persiapan perlindungan atas kemungkinan datangnya hujan, harus
diperhatikan.
c) Beton harus dibasahi paling sedikit selama 10 hari setelah pengecoran.
10) Tabel Pekerjaan Beton

Uraian Mutu Beton

Coran sengkang saluran K 175

f. Pekerjaan pasangan batu


1) Lingkup Pekerjaan
a) Meliputi pengadaan, pemasangan, dan pengerjaan tenaga kerja,
alat-alat, dan bahan-bahan sehubungan dengan pekerjaan pasangan
batu sesuai dengan persyaratan dan ketentuan dalam gambar.
b) Pengadaan dari seluruh material, galian penyiapan pondasi dan
seluruh pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan struktur
sesuai dengan spesifikasi ini dan memenuhi garis, ketinggian,
potongan dan dimensi seperti yang ditunjukan pada gambar atau
sebagaimana diperlukan secara tertulis oleh Direksi.
c) Pasangan batu ini digunakan untuk pondasi bangunan.
2) Persyaratan dan Bahan-Bahan
a) Batu
- Batu harus bersih, keras tanpa alur atau retak dan harus dari
macam yang diketahui awet. Bila perlu batu harus dibentuk untuk
menghilangkan bagian yang tipis atau lemah.
- Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan jika
ditempatkan saling mengunci.
- Terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi, batu harus memiliki
ketebalan yang tidak kurang dari 15 cm, lebar tidak kurang dari
satu setengah kali tebalnya dan panjang yang tidak kurang dari
satu setengah kali dari lebarnya.
b) Adukan
Adukan haruslah adukan semen yang memenuhi kebutuhan sesuai
dengan persyaratan yang ada pada spesifikasi ini.

3) Cara Pengerjaan
a) Persiapan
1. Pondasi untuk struktur pasangan batu harus dipersiapkan sesuai
dengan syarat untuk seksi galian.
2. Terkecuali disyaratkan lain atau ditunjukkan pada gambar dasar
pondasi untuk struktur penahan harus normal, atau bertangga
yang juga normal terhadap muka dari tembok
3. Bila ditunjukkan pada gambar atau yang diminta oleh Direksi
suatu pondasi beton dapat diperlukan. Beton yang digunakan
harus memenuhi kebutuhan sesuai dengan spesifikasi ini.
b) Pemasangan Batu
1. Landasan dari adukan segar yang paling sedikit 3 cm tebalnya
harus dipasang pada pondasi yang disiapkan sesaat sebelum
penempatan masing-masing batu pada lapisan pertama. Batu
besar pilihan harus digunakan untuk lapisan dasar dan pada sudut-
sudut. Perhatian harus dilakukan untuk menghindarkan
pengelompokkan dari batu yang berukuran sama.
10
2. Batu harus diampar dengan muka yang terpanjang mendatar dan
muka yang tampak harus dipasang sejajar dengan muka tembok
dari batu yang terpasang.
3. Batu harus ditangani sehingga tidak menggunakan atau
menggeser batu yang telah terpasang. Peralatan yang cocok harus
disediakan untuk memasang batu yang lebih besar dari yang
dapat ditangani oleh dua orang. Menggelindingkan atau
menggulingkan batu pada pekerjaan yang baru dipasang tidak
diperkenankan.
c) Penempatan Adukan
1. Sebelum pemasangan, batu harus dibersihkan dan secara
menyeluruh dibasahi, cukup waktu untuk memungkinkan
penyerapan air mendekati titik jenuh. Landasan yang akan
menerima masing-masing batu juga harus dibasahi dan
selanjutnya landasan dari adukan harus disebar pada sisi batu ke
batu yang sedang dipasang
2. Tebal dari adukan/landasan adukan harus pada rentang antara 2
5 cm dan harus minimum diperlukan untuk menjamin terisinya
seluruh rongga antara batu yang dipasang.
3. Banyaknya adukan untuk landasan yang ditempatkan pada suatu
waktu haruslah dibatasi sehingga batu hanya dipasang pada
adukan segar yang belum mengeras. Bila batu menjadi longgar
atau lepas setelah adukan mencapai pengerasan awal maka harus
dibongkar, dan adukan dibersihkan dan batu dipasang lagi dengan
adukan segar.
d) Pekerjaan akhir pasangan
1. Sambungan dari sisi muka dari batu harus dikerjakan hampir rata
dengan permukaan pekerjaan, tetapi tidak menyelimuti batu,
sewaktu pekerjaan berlangsung.
2. Terkecuali disyaratkan lain bagian puncak horizontal dari seluruh
pasangan batu harus dibuat rapi dengan tambahan dari lapisan
adukan setebal 2 cm, yang dikerjakan kepermukaan yang merata
dengan kemiringan yang akan menjamin perlindungan terhadap
air hujan dan dengan sudut yang dibulatkan. Lapisan tersebut
harus dimasukkan kedalam dimensi yang disyaratkan dari struktur.
3. Langsug setelah ditempatkan dan sewaktu adukan masih segar
seluruh batu muka harus dibersihkan dari kotoran adukan.
4. Permukaan yang telah selesai harus dirawat seperti yang
disyaratkan untuk pekerjaan beton.
5. Bila pekerjaan cukup kuat dan tidak lebih dari 14 hari menyusul
selesainya pekerjaan pemasangan urugan harus ditempatkan
seperti disyaratkan atau seperti diperintahkan oleh Direksi.
6. Lereng serta bahu yang bersebelahan harus dipangkas dan
dikerjakan untuk menjamin sambungan yang kokoh dengan
pasangan batu, yang akan memungkinkan draenase yang tak
terhalang dan mencegah gerusan pada tepi pekerjaan.

3. Arsitektur dan Interior


a. Adukan Semen Pasir
1) Lingkup Pekerjaan
Persyaratan teknis ini secara umum dipakai/berlaku untuk pelaksanaan
pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :
a) Pasangan batako.
b) Pasangan ubin dari bahan Keramik
11
c) Pekerjaan plesteran.
d) Dan lain-lain pekerjaan yang memerlukan bahan adukan semen pasir
untuk perekat atau sebagai pekerjaan utama/pokok, yang secara jelas
ditentukan (it masing-masing bagian pekerjaan.
2) Ketentuan
a) Tipe/klasifikasi adukan semen-pasir.
(1) Tipe Semen : Pasir
(2) Kedap air 1 : 2
1 : 3
(3) Biasa 1 : 5
b) Adukan tipe kedap air digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan fondasi dan
pasangan batako, plesteran/keramik di kamar mancli/ toilet atau pada
umumnya dipakai pada pasangan batako/keramik atau plesteran yang
terkena pengaruh air/lembab di dalam pemakaian/fungsinya.
c) Peralatan. Untuk melaksanakan pekerjaan ini, Pelaksana Pekerjaan harus
menyediakan peralatan-peralatan pokok sbb :
(1)Mesin pengaduk/molen
(2)Peralatan penakar campuran
(3) Untuk pekerjaan dengan volume kecil penakaran dapat
menggunakan ember yang terbuat dari plastik atau dari plat besi.
3) Material
a) Semen Portland
Jika tidak disebut secara khusus, semen yang dipakai adalah tipe I
dengan mutu S.325 sesuai NI-8 th.1972, dibuktikan dengan sertifikat uji.
b) Pasir
(1) Pasir yang dapat dipakai untuk pelaksanaan pekerjaan adalah pasir
yang sesuai dengan pekerjaan beton, mempunyai karakter fisik keras
dan tajam, serta tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5%.
(2) Ukuran butir pasir, Ukuran pasangan batu/ubin, plester kasar atau
pekerjaan yang memerlukan adukan semen pasir yang bersifat
kasar. ukuran butiran pasir maximum 5 mm.
(3) Untuk plester halus di atas plester kasar, ukuran butir pasir
maximum 1. mm.
c) Air
Air yang dapat dipakai untuk pelaksanaan pekerjaan ini adalah : Air
harus bebas dari bahan organis, asam alkali, garam atau bahan-bahan
lain yang dapat mempengaruhi daya ikatan maupun mutu kekuatan
adukan. Syarat-syarat lain harus sesuai dengan aturan-aturan yang
tercantum di dalam Persyara tan Umum Bahan Bangunan di Indonesia
th.1982.
4) Pelaksanaan
a) Persiapan
a) Pasir yang akan digunakan harus disaring dengan ayakan
berukuran bukaan sesuai dengan keperluan pemakaian adukan
untuk pelaksanaan suatu pekerjaan.
b) Bahan pasir yang akan dipakai harus disaring/ diayak terlebih
dahul dengan ayakan bukaan 5 mm atau 1 mm sesuai ketentuan
jenis adukan yang diperlukan.

b) Pencampuran dan pengadukan

12
(1) Semen dan pasir dicampur dalam keadaan kering dengan
menggunakan penakar volume hingga bahan-bahannya tercampur
merata.
(2) Selanjutnya, ditambahakan air ke dalam campuran semen dan
pasir tersebut di atas serta diaduk kembali hingga merata dan
dicapai konsistensi adukan dalam bentuk adukan lembab atau
plastis sesuai dengan kebutuhan pemakaian.
(3) Lama pengadukkan setelah dicampur air, minimum 1,5 menit.

b. Pasangan Batako
1) Umum
a) Uraian Pekerjaan
(1) Uraian ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan
pekerjaan dinding pasangan batako.
b) Ketentuan
(1) Pelaksanaan
(a) Pasangan bata kedap air memakai adukan semen pasir 1 : 2,
antara lain seperti dinding-dinding kamar mandi dll.
(b) Pasangan batako biasa memakai adukan semen pasir 1 : 3.
(c) Jika tidak ditentukan lain, sistem ikatan pasangan batako 1/2
batu adalah "Ikatan silang" dimana lapisan yang satu dengan
lapisan yang di bawahnya harus berbeda setengah panjang
batako.
(d) Pada pasangan satu bate dan pasangan lebih tebal harus
disusun secara ikatan Vlaams dan sesuai dengan peraturan
seharusnya.
(2) Peralatan.
Pelaksana Pekerjaan harus menggunakan peralatan kerja yang
memadai dan mencukupi serta Teodolith, Waterpass, selang dan
benang ukur serta memasang patok-patok/papan pedoman.
2) Material
a) Pasir dan air untuk pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan PUBBI tahun
1982.
b) Secara umum, pasir harus keras, bersih atau bebas dan bahan-bahan organis
maupun lumpur.
c) Semen PC yang dipakai adalah dari tipe I mutu S.325 menurut NI-8
persyaratan semen Portland. Pelaksanaan pekerjaan menggunakan
semen lebih dari satu merk harus dengan persetujuan Konsultan
Pengawas/Staf Teknis.
d) Batako berukuran 70 mm x 150 mm x 300 rnm dengan mutu kekuatan kelas 1
harus sesuai dengan ketentuan yang tercantum di dalam Peraturan
Umurn Bahan Bangunan di Indonesia tahun 1982.
3) Pelaksanaan
a) Umum
(1) Pasangan batako dilaksanakan sesuai elevasi, jalur dan bentuk yang
ditetapkan di dalam gambar rencana, serta dalam keadaan bersih dari
segala macam kotoran dari bahan-bahan lain yang
mengganggu pelaksanaan pekerjaan.
(2) Pasangan batako dibuat dengan adukan semen pasir menurut
ketentuan yang telah ditetapkan di atas, dengan siar pemasangan + 1
cm.
b) Teknis Pelaksanaan
(1) Pasangan batako harus rapat adukan (diantara pasangan batako kali
tidak ada rongga yang tidak terisi adukan).

13
(2) Guna pedoman kedataran pasangan batako, tiap-tiap kali pemasangan
benang pedoman tidak boleh lebih dari 20 cm di atas pasangan di
bawahnya.
(3) Tebalnya siar pasangan batako 1 cm (10 mm) dan siarnya harus
benarbenar rapat adukan serta cekung atau rata (tidak boleh
menonjol ke permukaan bata).
(4) Dalam satu hari pasangan tidak boleh lebih tinggi dari 1 meter,
pengakhiran pasangan satu hari tersebut harus dibuat bertangga (tidak
bergigi) untuk menghindari retak dikemudian hari.
(5) Pasangan batako harus dilindungi dan pengaruh langsung sinar/panas
matahari, serta harus dijaga kondisi kelembabannya dengan membasahi
permukaan pasangan selama 7 hari.

c. Pekerjaan Plesteran
1) Umum
a) Lingkup Pekerjaan
Uraian ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan
pekerjaan plesteran pada permukaan dinding, lantai, langit-langit atau
permukaan bidang lain yang harus diplester menurut ketentuannya.
b) Persyaratan teknis lain yang berlaku untuk pelaksanaan pekerjaan
ini :
Pekerjaan adukan semen pasir.
c) Ketentuan
Pemakaian adukan
(1)Adukan plester biasa.
Adukan plesteran biasa menggunakan campuran semen pasir
dengan perbandingan volume 1 semen : 3 pasir digunakan
pada semua permukaan dinding kecuali pada dinding-dinding kedap
air.
(2)Adukan plester kedap air.
Adukan untuk plesteran kedap air menggunakan campuran semen
pasir dengan perbandingan volume 1 semen : 2 pasir,
digunakan pada permukaan dinding di daerah toilet.
2) Material
a) Pasir dan air untuk pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan PUBBI
th.1982.
b) Secara umum, pasir harus keras, bersih atau bebas dari bahan-bahan
organis maupun lumpur.
c) Semen PC yang dipakai adalah dari tipe I mutu S.325 menurut NI-8
persyaratan semen Portland.
d) Bahan additive, dalam hal diperlukan bahan additive seperti Calbond
atau bahan-bahan tambahan lain yang diperlukan untuk pelaksanaan
pekerjaan plesteran ini, penggunaannya harus dengan persetujuan
Konsultan Pengawas/Staf Teknis.
3) Pelaksanaan
a) Persiapan permukaan dinding yang akan diplester.
(1) Pada permukaan dinding batako, pada celah/siar pasangan batako
harus dibuat cekungan sedalam lebih kurang 10 mm, untuk
persiapan pelaksanaan pemlesteran.
(2) Permukaan dinding beton yang akan diplester harus dikasarkan
(dibuai kasar) agar bahan plestemya dapat merekat.
b) Sudut-sudut plesteran.

14
Semua sudut horizontal, baik luar maupun dalam serta garis tegaknya
dalam pekerjaan plesteran harus dilaksanakan secara sempurna, tegak
dan siku. Sudut luar dibuat tumpul.
c) Perbaikan bidang plesteran.
Plesteran yang bergelombang yang tidak dapat diperbaiki dengan
cara pembobokkan dan pemlesteran kembali, harus dibongkar dan
diganti dengan yang baru.
d) Jumlah lapisan plester.
(1) Lapisan pertama adalah lapis plester setebal + 10 mm, merupakan
lapis plester untuk membentuk permukaan yang rata dan datar,
menggunakan bahan untuk plesteran kasar.
(2) Lapisan kedua adalah lapis plester akhir guna mencapai
permukaan dinding yang direncanakan, harus membentuk
permukaan dinding yang halus, rata dan datar, menggunakan bahan
untuk plesteran halus.

4. PEMBERSIHAN AKHIR
a.Kontraktor diwajibkan memelihara kebersihan selesai pekerjaan baik
berupa sampah-sampah, gundukan tanah maupun bahan-bahan yang
sudah tidak terpakai lagi dan lain sebagainya.
b.Pembersihan dan kebersihan bangunan setelah program selesai sampai
dengan penyerahan kedua, menjadi beban dan tanggung jawab
Kontraktor.

5. PENUTUP
a. Segala sesuatu yang belum tercantum dalam Spesifikasi Teknis ini
pada penjelasan kerja ternyata diperlukan akan dicantumkan dalam
Berita Acara Penjelasan Kerja.
b. Hal-hal yang timbul dalam pelaksanaan dan diperlukan penyelesaian di
lapangan, akan dibicarakan dan diatur oleh Konsultan Pengawas/Staf
Teknis dengan Kontraktor dan bila diperlukan akan dibicarakan bersama
Pemberi Tugas.

Diperiksa Oleh : Dibuat Oleh :


PengelolaTeknis Konsultan Perencana,
PT. PATRACO CIPTA DISAIN
PRATAMA

ASMARWAN, A.Ma.
NIP. 19691019 200604 1 010 PURWATI, ST
Team Leader

15
Mengetahui / Menyetujui : Mengetahui:
Kepala Dinas Pejabat Pelaksana Teknis
Pertanian, Perikanan dan Kegiatan
Kehutanan
Kota Pontianak

Ir. HIDAYATI HARIYONO, S.Tp.


NIP. 19650526 199103 2 008 NIP. 19630511 198703 1 016

16