Anda di halaman 1dari 12

PENGARUH SUPERVISI KLINIS DAN MOTIVASI KERJA

KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN


KINERJA MENGAJAR GURU

Yuri Pranata, Fadillah, Syahwani Umar


Program Studi Magister AP, FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak
Email: yuripranata@gmail.com

Abstrak: Kinerja guru dapat dilihat melalui pelaksanaan supervisi klinis.


Pelaksanaan supervisi klinis yang dilakukan kepala sekolah memiliki peran
penting. Selain melaksanakan supervisi klinis, seorang kepala sekolah hendaknya
memiliki motivasi. Masalah penelitian ini adalah: (1) Apakah terdapat pengaruh
supervisi klinis oleh kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja mengajar di
SMP Negeri Rayon 4 Kabupaten Sintang?; (2) Apakah terdapat pengaruh motivasi
kerja kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja mengajar di SMP Negeri Rayon
4 Kabupaten Sintang?; (3) Apakah terdapat pengaruh supervisi klinis dan motivasi
kerja kepala sekolah secara bersama-sama dalam meningkatkan kinerja mengajar
di SMP Negeri Rayon 4 Kabupaten Sintang? Hasil penelitian adalah: (1)
Pelaksanaan supervisi klinis oleh kepala sekolah sangat baik dan memberikan
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja mengajar di SMP Negeri
Rayon 4 Sintang; (2) Hasil perhitungan motivasi kerja kepala sekolah sangat baik,
dan memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja mengajar; (3)
Pelaksanaan supervisi klinis dan motivasi kerja kepala sekolah secara bersama-
sama memberikan pengaruh positif terhadap kinerja mengajar.

Kata Kunci: Supervisi Akademik, Motivasi Berprestasi, Kinerja

Abstract : The performance of the teacher can be seen through the implementation
of clinical supervision . Implementation of clinical supervision is conducted the
principal has an important role . In addition to implementing clinical supervision ,
a school principal should have motivation . The problem of this research are : ( 1 )
Is there an influence of clinical supervision by the principal in improving
performance in Junior High School teaching Rayon 4 Sintang ?; ( 2 ) Is there an
influence of the principal's motivation to work in improving teaching performance
in SMP Rayon 4 Sintang ?; ( 3 ) Is there an influence of clinical supervision and
motivation of the principal work together to improve teaching performance in
SMP Rayon 4 Sintang ? The results of the study are : ( 1 ) Implementation of
clinical supervision by the principal are excellent and provide a positive and
significant effect on the performance of teaching in Secondary Schools 4 Sintang
Rayon ; ( 2 ) The calculation of the principal motivation to work very well , and
provide a positive and significant effect on the performance of teaching ; ( 3 )
Implementation of clinical supervision and motivation of principals working
together a positive impact on teaching performance.

Key words : Clinical Supervision, Working Motivation, Performance

1
S upervisi merupakan pengawasan terhadap kegiatan klinis yang
berupa proses belajar mengajar, pengawasan terhadap guru dalam
mengajar, pengawasan terhadap murid yang belajar dan terhadap
situasi yang menyebabkannya.
Aktivitasnya dilakukan dengan mengidentifikasi kelemahan-kelemahan
pembelajaran untuk diperbaiki, apa yang menjadi penyebabnya dan mengapa guru
tidak berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.Dalam konteks kekinian, hal
itu tentu berbeda. Menurut Sahertian (2008: 19), tujuan supervisi adalah
memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di
kelas yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Bukan saja
memperbaiki kemampuan mengajar tapi juga untuk pengembangan potensi
kualitas guru.
Ungkapan supervisi klinis pada awalnya digunakan oleh Morries, Cogan,
Robert Galghammer dan rekan-rekannya di Harvard School of Education. Dalam
Supervision of Instruction; The History of Supervision, Roles, and
Responsibilities of Supervisiors, Issues Trends and Controversies dinyatakan
bahwa:
This original process of supervision has been subsequently embraced
by advocates of peer supervision and collegial-teacher leadership through
action research in classrooms. Despite the obvious appeal of clinical
supervision in its various forms, it is time-consuming and labor-intensive,
rendering it impossible to use on any regular basis given the large number
of teachers that supervisors are expected to supervisi (in addition to their
other administrative responsibilities). (Morries, Cogan, Robert
Galghammer, 2014).

Ada beberapa prinsip yang mendasar dalam pelaksanaan supervisi klinis.


Prinsip yang harus diperhatikan dalam supervisi klinis menurut Jamal Mamur
Asmani (2012: 109-110) adalah: (a) Supervisi klinis yang dilakukan harus
berdasarkan pada inisiatif dari para guru. Perilaku supervisor harus teknis
sehingga guru-guru terdorong untuk berusaha meminta bantuan kepada
supervisor; (b) Ciptakan hubungan yang bersifat manusiawi, interaktif, dan
sejawat; (c) Ciptakan suasana bebas sehingga setiap orang bebas dan berani
mengemukakan sesuatu yang dialaminya. Supervisor harus mampu menjawab dan
menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi guru; (d) Objek kajian adalah
adalah kebutuhan profesional guru yang riil, tentunya yang mereka alami; (e)
Perhatian dipusatkan pada unsur-unsur spesifik yang harus diangkat untuk
diperbaiki.
Secara umum, supervisi klinis bertujuan memberikan tekanan pada proses
pembentukan dan pengembangan professional guru. Secara khusus, Jamal
Mamur Asmani (2012: 111) menyatakan tujuan supervisi klinis adalah:
menyediakan feedback yang objektif bagi guru tentang kegiatan mengajar yang
baru saja dijalankan. Umpan balik ini merupakan cermin agar guru dapat melihat
sesuatu yang sudah diperbuat dalam proses mengajar, mendiagnosis dan
membantu memecahkan masalah-masalah dalam mengajar, membantu guru dalam
mengembangkan keterampilan menggunakan strategi-strategi mengajar, sebagai
dasar untuk menilai guru dalam kemajuan pendidikan dan promosi jabatan atau

2
pekerjaan mereka, dan membantu guru mengembangkan sikap positif terhadap
pengembangan diri secara terus menerus dalam karier dan profesi mereka secara
mandiri.
Dalam tahap pelaksanaannya, Wahyudi (2009: 108) membagi tahapan
supervisi klinis sebagai berikut:
Tahap pertemuan awal
Pada pertemuan awal merupakan pembuatan kerangka kerja, karena itu perlu
diciptakan suasana akrab dan terbuka antara supervisor dengan guru sehingga
guru merasa percaya diri dan memahami tujuan diadakan pendekatan klinis.
Tahap observasi kelas
Pada tahap ini, guru melakukan kegiatan pembelajaran sesuai pedoman dan
prosedur yang telah disepakati pada saat pertemuan awal.
Tahap pertemuan akhir/balikan
Tahap akhir dari siklus supervisi klinis adalah analisis pasca pertemuan.
Supervisor mengevaluasi hal-hal yang telah terjadi selama observasi dan seluruh
siklus proses supervisi dengan tujuan untuk meningkatkan performansi guru.
Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai
kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut
bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, akan tetapi
dapat diinterpretasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atau
pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu.
Motivasi sebagai kegiatan manajemen banyak menarik perhatian para ahli.
Di satu pihak motivasi dianggap penting, sedangkan di pihak lain motivasi
dirasakan sulit bagi para pemegang pimpinan. Dikatakan penting, sebab bagi
seorang pemimpin dikatakan berhasil dalam menggerakkan bawahannya, sewaktu
menciptakan motivasi yang tepat bagi bawahan. Sedangkan dirasakan sulit bagi
pimpinan karena untuk mengamati dan mengukur motivasi setiap bawahan belum
ada kriterianya. Teori motivasi kerja lahir karena banyaknya para peneliti yang
membahas tentang motivasi kerja.
Menurut http: eprints.uny.ac.id/9579/2/bab%202%20-07104244 063.pdf
menyebutkan bahwa motivasi kerja adalah dorongan yang tumbuh dalam diri
seseorang, baik yang berasal dari dalam dan luar dirinya untuk melakukan suatu
pekerjaan dengan semangat tinggi menggunakan semua kemampuan dan
keterampilan yang dimilikinya yang bertujuan untuk mendapatkan hasil kerja
sehingga mencapai kepuasan sesuai dengan keinginannya. Salah satu teori yang
banyak dipergunakan dalam membahas motivasi kerja adalah teori dua faktor.
Teori Dua Faktor biasa juga disebut dengan teori motivasi Herzberg. Teori
ini dikembangkan oleh Frederick Irving Herzberg. Herzberg sebagaimana dikutip
dalam bulletin Defense Systems Management School (1976: 8-9) menyatakan
bahwa ada faktor-faktor tertentu di tempat kerja yang menyebabkan kepuasan
kerja (satisfiers) di antaranya adalah: achievement, recognition, work itself,
responsibility, advancement, dan growth. Sementara pada bagian lain ada pula
faktor lain yang menyebabkan ketidakpuasan (dissatisfiers), yakni: company
policy and administration, supervision, working conditions, interpersonal
relations, status, job security, salary, dan personal life. Dengan kata lain kepuasan
dan ketidakpuasan kerja berhubungan satu sama lain. Faktor-faktor tertentu di

3
tempat kerja tersebut oleh Frederick Herzberg diidentifikasi sebagai hygiene
faktors (faktor kesehatan) dan motivation faktors (faktor pemuas).
Hygiene factors (faktor kesehatan) adalah faktor pekerjaan yang penting
untuk adanya motivasi di tempat kerja. Faktor ini tidak mengarah pada kepuasan
positif untuk jangka panjang. Tetapi jika faktor-faktor ini tidak hadir, maka
muncul ketidakpuasan. Faktor ini adalah faktor ekstrinsik untuk bekerja. Faktor
higienis juga disebut sebagai dissatisfiers atau faktor pemeliharaan yang
diperlukan untuk menghindari ketidakpuasan. Hygiene factors (faktor kesehatan)
adalah gambaran kebutuhan fisiologis individu yang diharapkan untuk dipenuhi.
Hygiene factors (faktor kesehatan) meliputi gaji, kehidupan pribadi, kualitas
supervisi, kondisi kerja, jaminan kerja, hubungan antar pribadi, kebijaksanaan dan
administrasi perusahaan.
Menurut Herzberg, hygiene factors (faktor kesehatan) tidak dapat dianggap
sebagai motivator. Faktor motivasi harus menghasilkan kepuasan positif. Faktor-
faktor yang melekat dalam pekerjaan dan memotivasi karyawan untuk sebuah
kinerja yang unggul disebut sebagai faktor pemuas. Karyawan hanya menemukan
faktor-faktor intrinsik yang berharga pada motivation faktors (faktor pemuas).
Para motivator melambangkan kebutuhan psikologis yang dirasakan sebagai
manfaat tambahan. Faktor motivasi dikaitkan dengan isi pekerjaan mencakup
keberhasilan, pengakuan, pekerjaan yang menantang, peningkatan dan
pertumbuhan dalam pekerjaan.
Kata kinerja merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu dari kata
performance. Dalam Oxford Advanced Learners Dictionary (2000: 978), kata
performance diartikan sebagai how well or badly you do something; how well or
badly something works. Dalam dunia kerja, kata kinerja ini muncul dari pendapat
yang dikemukakan oleh J. P. Campbell (1990) yang menyatakan Job
performance as an individual level variabel. That is, performance is something a
single person does. This differentiates it from more encompassing constructs such
as organizational performance or national performance which are higher level
variabels.
Pendapat para ahli mengenai kinerja cukup beragam. Whitmore (dalam
Uno dan Lamatenggo (2012: 59) secara sederhana mengemukakan kinerja adalah
pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seseorang. Pandangan lain
dikemukakan oleh King (dalam Uno dan Lamatenggo (2012: 61), yang
menjelaskan kinerja adalah aktivitas seseorang dalam melaksanakan tugas pokok
yang dibebankan kepadanya.
Pada prinsipnya penilaian kinerja merupakan cara pengukuran kontribusi
dari individu dalam instansi yang dilakukan terhadap organisasi. Jadi, penilaian
kinerja menyangkut penentuan tingkat kontribusi seseorang yang diekspresikan
dalam penyelesaian tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Chung dan
Megginson (dalam Jasmani Asf dan Syaiful Mustofa, 2013: 157), bahwa penilaian
kinerja merupakan a way of measuring the contributions of individuals to their
organization.
Pelaksanaan PKG dimaksudkan bukan untuk membebani atau menyulitkan
guru, tetapi untuk mewujudkan guru yang professional, karena harkat dan
martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan yang diberikan oleh para
anggotanya. Penilaian kinerja memberikan jaminan bahwa guru dapat bekerja atau

4
melaksanakan pekerjaannya secara professional dan mampu memberikan layanan
yang berkualitas terhadap masyarakat, khususnya peserta didik. Penilaian kinerja
juga diharapkan dapat mengatasi kesenjangan antara guru dengan guru, antara
guru dengan kepala sekolah dan pengawas, sehingga hasilnya dapat menjadi
masukan yang sangat berharga bagi pengembangan karier guru. Dalam hal ini,
hasil penilaian kinerja dapat digunakan sebagai bahan evaluasi diri bagi guru
sehingga dia tahu kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dimilikinya
sebagai bahan untuk mengembangkan profesi, karier, dan profil kinerjanya yang
dapat dijadikan acuan dalam menyusun program Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan (PKB).
Penilaian Kinerja Guru dilakukan terhadap kompetensi guru sesuai dengan
tugas pembelajaran, pembimbingan, atau tugas tambahan yang relevan dengan
fungsi sekolah/madrasah. Khusus untuk kegiatan pembelajaran atau
pembimbingan, kompetensi yang dijadikan dasar untuk penilaian kinerja guru
adalah kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian, sebagaimana
ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007.
Keempat kompetensi ini telah dijabarkan menjadi kompetensi guru yang harus
dapat ditunjukkan dan diamati dalam berbagai kegiatan, tindakan dan sikap guru
dalam melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan. Sementara itu, untuk
tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, penilaian
kinerjanya dilakukan berdasarkan kompetensi tertentu sesuai dengan tugas
tambahan yang dibebankan tersebut (misalnya; sebagai kepala sekolah/ madrasah,
wakil kepala sekolah/madrasah, pengelola perpustakaan, dan sebagainya sesuai
dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009).
Secara umum, penilaian kinerja dapat memberikan manfaat untuk
kepentingan pengembangan, penghargaan, motivasi, dan perencanaan sumber
daya manusia. Dalam hal pengembangan (development), hasil penilaian kinerja
dapat menjadi informasi untuk menentukan jenis pelatihan yang diperlukan dalam
peningkatan pengetahuan dan keterampilan pegawai. Dalam hal penghargaan
(reward), hasil penilaian kinerja dapat menjadi dasar dalam menentukan
kompensasi maupun kenaikan jabatan pegawai. Dalam hal motivasi (motivation),
hasil penilaian kinerja dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan disiplin kerja
yang lebih baik. Selain itu, hasil penilaian kinerja juga dapat menjadi sumber data
untuk memetakan perencanaan sumber daya manusia dalam suatu organisasi.
Menurut Dirjen PMPTK (2008: 1), Penilaian kinerja guru merupakan
suatu hal yang perlu mendapat perhatian serius khususnya oleh pengawas.
Penilaian kinerja guru merupakan salah satu bagian kompetensi yang harus
dikuasai pengawas sekolah/madrasah. Hasil penilaian kinerja guru bermanfaat
sebagai input dalam penyusunan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan.
Selain itu, hasil penilaian kinerja guru juga bermanfaat dalam menetapkan
perolehan angka kredit guru dalam pengembangan karier guru.
Penilaian kinerja yang terkait dengan pelaksanaan proses pembelajaran
bagi guru mata pelajaran atau guru kelas. Hal ini sejalan dengan pendapat
Syaifullah Anshory (2013: 2): Pelaksanaan tugas utama guru tidak dapat
dipisahkan dari kemampuan seorang guru dalam penguasaan pengetahuan,
penerapan pengetahuan dan keterampilan, sebagai kompetensi yang dibutuhkan

5
sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun
2007 tentang Standar Kualifikasi Klinis dan Kompetensi Guru. Kinerja guru
dalam pembelajaran berkaitan dengan kemampuan guru dalam merencanakan,
melaksanakan dan menilai pembelajaran, baik yang berkaitan dengan proses
maupun hasilnya.

METODE
Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail
mengenai suatu gejala sehingga termasuk dalam kategori penelitian deskriptif.
Penelitian ini direncanakan menggunakan pendekatan kuantitatif. Pemilihan
pendekatan kuantitatif didasarkan pada pertimbangan bahwa pada dasarnya
penelitian ini bertujuan untuk menguji suatu teori, untuk menyajikan suatu fakta
atau mendeskripsikan secara statistik.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan karakteristik populasi
adalah guru yang: (1) Guru yang mengajar di SMP Negeri Rayon 4 Kabupaten
Sintang; (2) Guru memiliki ijazah S1; dan (3) Guru tercatat sebagai PNS. Jumlah
sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 49 orang. Instrumen dalam penelitian
ini berupa angket sebagai alat ukur variabel penelitian. Dalam penelitian ini akan
mengukur skala sikap, adapun bentuk skala sikap yang digunakan adalah skala
Likert. Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini yakni mengetahui hubungan
variabel X1 dan X2 terhadap variabel Y digunakan rumus korelasi ganda dengan
menggunakan perangkat lunak berupa program SPSS ver.21.0.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Berdasarkan hasil analisis data penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui
hubungan variabel Kinerja Mengajar Guru (Y), Supervisi Klinis (X1), dan
Motivasi Kerja Kepala Sekolah (X2) sebagaimana terlihat berikut ini.
Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah: (1) hubungan variabel X1
terhadap variabel Y, (2) hubungan variabel X2 terhadap variabel Y, dan (3)
hubungan variabel X1 dan X2 terhadap variabel Y. Perhitungan dengan program
SPSS ver.21.0 menghasilkan data sebagai berikut:
Pengaruh X1 terhadap variabel Y
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS ver.21.0 diperoleh
data sebagai berikut:
Tabel
Correlations between Var 01 and Var 03
VAR00001 VAR00003
Pearson Correlation 1 .631**
Supervisi Klinis Sig. (2-tailed) .000
N 49 49
**
Pearson Correlation .631 1
KInerja Mengajar Sig. (2-tailed) .000
N 49 49
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

6
Dari tabel di atas terlihat bahwa nilai korelasi antara variabel X1 (Supervisi
Klinis) dengan Kinerja Mengajar Guru (Y) memperoleh angka sebesar 0,631.
Angka tersebut lebih dari angka r tabel untuk N = 49, yakni 0,281. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pelaksanaan supervisi
klinis oleh kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru.

Pengaruh X2 terhadap variabel Y


Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS ver.21.0 diperoleh

Tabel
Correlations between Var 02 and 03

VAR00002 VAR00003
Pearson Correlation 1 .744
Sig. (2-tailed) .264
Motivasi Kerja 49 49
N

Pearson Correlation .744 1


Sig. (2-tailed) .264
KInerja Mengajar
49 49
N

Dari tabel di atas terlihat bahwa nilai korelasi antara variabel X2 (Motivasi
Kerja Kepala Sekolah) dengan Kinerja Mengajar Guru (Y) memperoleh angka
sebesar 0,744. Angka tersebut lebih dari angka r tabel untuk N = 49, yakni 0,281.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh motivasi kerja
kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru.

Pengaruh variabel X1 dan X2 terhadap variabel Y


Untuk mengetahui pengaruh variabel X 1 dan X2 terhadap variabel Y
digunakan rumus korelasi ganda sebagai berikut:

2 2
r X 1.Y
r X 2.Y
2(rX 1.Y ).(rX 2.Y ).(rX 1. X 2 )
2
1 r X 1. X 2
R X1.X2.Y =

Penghitungan dengan menggunakan program SPSS ver.21.0 menghasilkan data


sebagai berikut.

7
Tabel
Model Summary
Control Variables VAR 1 VAR 2
Correlation 1.000 .285
Supervisi Klinis Significance (2-tailed) . .050
Kinerja Df 0 46
Mengajar Correlation .285 1.000
Motivasi Kerja Significance (2-tailed) .050 .
Df 46 0

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh dari pengaruh


variabel X1 dan X2 terhadap Y adalah sebesar 0,281. Nilai ini lebih dari nilai t
tabel dengan N = 49, yakni 0,281. Dengan demikian terdapat pengaruh yang
signifikan antara pelaksanaan supervisi klinis dan motivasi kerja kepala sekolah
terhadap kinerja mengajar guru.
Sedangkan untuk uji signifikansinya digunakan rumus Uji t. Uji t dikenal
dengan uji parsial, yaitu untuk menguji bagaimana pengaruh masing-masing
variabel bebasnya secara sendiri-sendiri terhadap variabel terikatnya. Uji ini dapat
dilakukan dengan mambandingkan t hitung dengan t tabel atau dengan melihat
kolom signifikansi pada masing-masing t hitung. Adapun rumus Uji t yang
dipergunakan dalam penelitian ini adalah:

t
x x
1 2

(n1 1) s12 (n2 1) s22 1 1



n1 n2 2 n1 n2

Penghitungan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan program


SPSS ver. 21.00 menghasilkan data sebagai berikut

Tabel 4
Coefficients
Model Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
B Std. Error Beta
(Constant) 21.355 15.006
Supervisi Klinis .206 .088 .277
Motivasi Kerja .843 .174 .573
Kepala Sekolah
a. Dependent Variable: Kinerja Mengajar Guru

8
Pembahasan

Berdasarkan analisis hasil penelitian yang telah diungkapkan pada bab


sebelumnya, dilakukan pembahasan hasil penelitian sebagaimana dipaparkan
berikut ini.

Supervisi Klinis
Dimensi yang diukur dalam supervisi klinis terdiri dari: (1) tahap
perencanaan awal; (2) tahap pelaksanaan observasi; dan (3) tahap akhir. Hasil
penelitian menunjukkan persentase supervisi klinis adalah sebesar 89,06% dan
tergolong dalam kategori sangat baik. Hal ini membuktikan bahwa supervisi klinis
sudah dilaksanakan dengan baik. Dengan demikian berarti bahwa pelaksanaan
supervisi klinis oleh kepala sekolah sudah berjalan dengan sangat baik.
Dari ketiga dimensi tersebut semuanya termasuk dalam kategori sangat
baik. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan supervisi klinis merupakan salah
satu faktor utama bagi peningkatan kinerja mengajar guru. Hal ini sejalan dengan
pendapat Wahyudi (2009: 95) yang menyatakan bahwa Supervisi merupakan
salah satu faktor penting sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui
kegiatan yang dilakukan oleh supervisor pendidikan. Selain itu, Acheson dan
Gall (dalam Makawimbang, 2013: 35) juga menyatakan bahwa tujuan supervisi
adalah meningkatkan pengajaran guru di kelas.
Peranan kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi klinis ini menjadi
krusial, karena hal tersebut menjadi salah satu bidang tugas kepala sekolah
sebagaimana disebutkan oleh Mulyasa (2013: 111) bahwa sebagai salah satu
tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor. Sejalan dengan itu,
Makawimbang (2013: 59) juga menyatakan bahwa pelaksanaan supervisi klinis
yang dilakukan adalah salah satu upaya kepala sekolah dalam kematangan
profesional guru di mana dalam supervisi klinis bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan dasar guru yang berkaitan dengan kompetensi dasarnya.
Dari temuan di atas, maka dirasakan perlu untuk memberikan pemahaman
pada pemangku kepentingan di sekolah bahwa salah satu tujuan dari pelaksanaan
supervisi klinis adalah kepentingan jangka pendek di sekolah.

Motivasi Kerja Kepala Sekolah


Dimensi yang diukur dalam motivasi kerja terdiri dari: (1) hygiene factors;
dan (2) motivation factors. Hasil penelitian menunjukkan persentase motivasi
kerja kepala sekolah adalah sebesar 91,05% dan tergolong dalam kategori sangat
baik. Hal ini membuktikan bahwa motivasi kerja kepala sekolah sudah termasuk
dalam kategori sangat baik.
Orang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi biasanya akan lebih
melakukan upaya-upaya untuk menggali kemampuan dirinya sebelum akhirnya
dia menyerah dengan keterbatasan yang dimilikinya. Dalam hubungannya
dengan hasil penelitian ini, maka hasil tersebut sejalan dengan pendapat
Makawimbang (2013: 65) yang menyebutkan bahwa bagi seorang pemimpin

9
dikatakan berhasil dalam menggerakkan bawahannya, sewaktu menciptakan
motivasi yang tepat bagi bawahan.
Dari temuan di atas, maka dirasakan perlu bagi kepala sekolah untuk lebih
mengenal seluruh potensi yang dimilikinya sehingga dapat dimanfaatkan apabila
menemukan kesulitan-kesulitan dalam pengelolaan sekolah.

Kinerja Mengajar Guru


Dimensi yang diukur dalam kinerja guru dalam mengajar terdiri dari: (1)
perencanaan pembelajaran; (2) pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang aktif dan
efektif; dan (3) penilaian pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan persentase
supervisi klinis adalah sebesar 88,75% dan tergolong dalam kategori sangat baik.
Hal ini membuktikan bahwa kinerja guru dalam mengajar sudah sangat baik.
Dengan demikian berarti kinerja guru dalam mengajar sudah baik.
Persentase yang tinggi tersebut menggambarkan keberhasilan kinerja guru
dalam melaksanakan proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat
Barmawi dan Mohammad Arifin (2012: 13) yang menyebutkan bahwa kinerja
merupakan tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan
tugas sesuai dengan tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar
kinerja yang telah ditetapkan selama periode tertentu dalam kerangka mencapai
tujuan organisasi.
Dari ketiga dimensi tersebut hanya ditemukan satu di antaranya yakni
dimensi perencanaan pembelajaran yang masih agak rendah dibanding dengan
dimensi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa guru masih perlu untuk
meningkatkan kemampuannya dalam merencanakan pembelajaran.

Pengaruh Supervisi Klinis dan Motivasi Kerja Kepala Sekolah terhadap Kinerja
Mengajar Guru
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan diperoleh hasil bahwa ada
pengaruh positif dan signifikan antara supervisi klinis dan motivasi kerja kepala
sekolah terhadap kinerja mengajar guru. Dengan demikian maka Ha diterima dan
Ho ditolak. Hal ini mengandung arti bahwa pelaksanaan supervisi klinis dan
motivasi kerja kepala sekolah secara bersama-sama memberikan pengaruh yang
positif terhadap kinerja mengajar guru.
Hasil yang diperoleh tersebut sesuai dengan pernyataan Dirgagunarsa
(dalam Makawimbang, 2013: 71) yang mengungkapkan bahwa ada beberapa
unsur yang berpengaruh dari pimpinan, antara lain kebijaksanaan-kebijaksana-an
yang telah ditetapkan dan persyaratan kerja yang perlu dipenuhi oleh para
bawahan. Dari pendapat tersebut tergambar bahwa pelaksanaan supervisi klinis
oleh kepala sekolah memang merupakan suatu kebijakan yang telah ditetapkan
oleh sekolah dan merupakan suatu persyaratan yang mesti dipenuhi oleh para
guru. Dengan demikian, guru telah memiliki kesiapan apabila kepala sekolah akan
melaksanakan supervisi. Selain itu, Wahyusumijo (dalam Makawimbang, 2013:
71) juga menyatakan bahwa di dalam motivasi terdapat interaksi di antaranya
situasi dimana individu bekerja, misalnya persepsi individu terhadap pekerja,
harapan dan cita-cita di dalam bekerja dan kecakapan di dalam bekerja.
Analisis deskriptif menunjukkan bahwa baik pelaksanaan supervisi klinis,
motivasi kerja kepala sekolah, maupun kinerja mengajar guru terbanyak pada

10
kategori sering. Hasil uji hipotesis dalam penelitian ini juga menunjukkan
bahwa supervisi klinis mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap kinerja
mengajar guru dibandingkan dengan motivasi kerja.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan menggunakan SPSS
ver.21.0 dapat ditarik simpulan sebagai berikut: (1) Pelaksanaan supervisi klinis
yang dilakukan oleh kepala sekolah telah berjalan dengan sangat baik, baik dalam
hal perencanaan awal, pelaksanaan observasi, maupun pada tahap akhir.
Kesimpulan ini ditunjukkan dengan persentase yang dicapai sebesar 89,06%. Hal
ini memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja mengajar
guru di SMP Negeri Rayon 4 Sintang; (2) Hasil perhitungan statistik mengenai
motivasi kerja kepala sekolah baik dari hygiene factors maupun motivation factors
menunjukkan persentase yang diperoleh mencapai 91,05%. Hal ini berarti bahwa
motivasi kerja kepala sekolah SMP Negeri yang tergabung dalam Rayon 4 Sintang
termasuk sangat baik. Tingginya persentase motivasi ini ternyata memberikan
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja mengajar guru; dan (3)
Berdasarkan hasil perhitungan statistik yang telah dilakukan mengenai pengaruh
supervisi klinis dan motivasi kerja kepala sekolah secara bersama-sama dalam
meningkatkan kinerja mengajar guru, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa
pelaksanaan supervisi klinis yang sudah sangat baik dan motivasi kerja kepala
sekolah yang juga sudah sangat baik, secara bersama-sama memberikan pengaruh
yang positif terhadap kinerja mengajar guru. Hasil uji hipotesis dalam penelitian
ini juga menunjukkan bahwa supervisi klinis mempunyai pengaruh yang lebih
besar terhadap kinerja mengajar guru dibandingkan dengan motivasi kerja.

Saran
Berdasarkan simpulan di atas serta hasil pengolahan data, maka dapatlah
disarankan beberapa hal berikut ini: (1) Dalam tahap awal perencanaan supervisi
klinis, sebaiknya supervisor bersama guru selalu menentukan instrumen observasi
yang akan dilaksanakan; (2) Pelaksanaan supervisi sebaiknya diatur lebih baik
agar tidak mengganggu konsentrasi peserta didik dalam menerima pelajaran; (3)
Supervisor sebaiknya selalu mengulas kembali hasil observasi demi perbaikan
situasi belajar mengajar; (4) Pelaksanaan tindak lanjut hasil observasi/supervisi
sebaiknya selalu dibicarakan bersama antara supervisor dengan guru; (5) Hasil
pengamatan yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal sebaiknya disampaikan
langsung kepada guru: (6) Kepala sekolah sebaiknya tidak menjadikan keinginan
mempertahankan jabatan sebagai motivasi dalam bekerja; (7) Sebaiknya kepala
sekolah menjadikan tantangan yang diberikan atasan sebagai motivasi untuk
bekerja lebih baik; (8) Perkembangan sekolah yang semakin baik hendaknya
menjadi pemicu bagi kepala sekolah untuk bekerja lebih maksimal; (9) Guru
sebaiknya senantiasa menggunakan metode mengajar yang menunjang kreativitas
anak; (10) Penggunaan bahasa Indonesia yang baik hendaknya lebih ditingkatkan
oleh guru dalam proses pembelajaran; (11) Metode penilaian yang dipergunakan
oleh guru sebaiknya lebih bervariasi; dan (12) Guru hendaknya
mengadministrasikan hasil-hasil evaluasi belajar yang dilaksanakan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Defense Systems Management School (1976)


Dirjen PMPTK (2008). Penilaian Kinerja Guru. Jakarta: Dirjen PMPTK
Depdiknas.
Hornby, A.S. (2000). Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English
(6th edition, Singapore: Oxford University Press.
http: eprints.uny.ac.id/9579/2/bab%202%20-07104244063.pdf
http://www.businessdictionary.com/definition/motivation.html,
Jasmani Asf dan Syaiful Mustafa. (2013). Supervisi Pendidikan; Terobosan Baru
dalam Peningkatan Kinerja Pengawas Sekolah dan Guru. Yogyakarta: Ar
Ruzz Media.
Morries, Cogan, Robert Galghammer dalam Supervision of Instruction The
History of Supervision, Roles, and Responsibilities of Supervisors, Issues
Trends and Controversies. Tersedia: http:education.
stateuniversity.com/pages/2472/ Supervisor-Instruction.html. (diunduh: 29
Januari 2014).
Mulyasa, E. (2012). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung:
Rosdakarya.
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar
Kualifikasi Klinis dan Kompetensi Guru.
Syaifullah Anshory (2013). Persiapan Menghadapi Penilaian Kinerja Guru.
Pontianak: STAIN Press.
Uno dan Latumenggo (2012) Teori Kinerja dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi
Aksara.
Wahyudi (2009). Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Organisasi Pembelajaran.
Bandung: Alfabeta.

12