Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi

Aspek medis

Pengeluaran hasil konsepsi setiap stadium perkembangannya sebelum masa


kehamilan lengkap

Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan

Kedokteran Forensik :

Keluarnya janin dari kandungan seorang wanita pada setiap saat sebelum masa
kehamilan lengkap tercapai.

Aspek hukum

Tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu


kelahiran tanpa melihat usia kandungan

Sewaktu pengguguran dilakukan, kandungan masih hidup

Ada faktor kesengajaan

2.2. Jenis Abortus

Jenis-jenis abortus menurut terjadinya dibagi menjadi:

2.2.1. Abortus spontan

Merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan


tanpa tindakan. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yang diderita si Ibu ataupun sebab-
sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan kelainan pada sistem reproduksi,
diantaranya1:

Abortus Imminens ( Threatened abortion, Abortus mengancam ) : ialah peristiwa


terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil
konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Proses awal dari suatu
keguguran, yang ditandai dengan1 :

o Perdarahan pervaginam, sementara ostium uteri eksternum masih tertutup dan


janin masih dalam intrauterine timbul pada pertengahan trimester pertama.

o TFU sesuai dengan usia gestasi berdasarkan HPHT.

o Perdarahan biasanya sedikit, hal ini dapat terjadi beberapa hari.

o Kadang nyeri, terasa nyeri tumpul pada perut bagian bawah menyertai
perdarahan.

o Tidak ditemukan kelainan pada serviks dan serviks tertutup

o Kadar hormon hCG pada urin menentukan prognosis dari abortus imminens,
jika pemeriksaan (+) sebelum dan setelah diencerkan 1/10, prognosis
mengarah ke ad bonam dan bila (-) saat diencerkan 1/10, maka prognosis
mengarah ke ad malam.

o Pemeriksaan USG diperlukan untuk mengetahui keadaan plasenta apakah


sudah terjadi pelepasan atau belum, dan apakah ada hematoma retroplasenta.
Diperhatikan ukuran biometri janin/ kantong gestasi apakah sesuai dengan
umur kehamilan berdasarkan HPHT, gerak janin dan denyut jantung janin.

Abortus Insipiens : peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan


sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat dan
mendatar, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus, tinggi fundus uteri sesuai dengan
usia gestasi berdasarkan HPHT. Ditandai dengan adanya1 :

o Nyeri perut bagian bawah seperti kejang karena kontraksi rahim kuat.

o Robeknya selaput amnion dan adanya pembukaan serviks

o Terjadi kontraksi uterus untuk mengeluarkan hasil konsepsi

o Perdarahan per vaginam masif, kadang kadang keluar gumpalan darah.


o Tes hCG biasanya negatif namun dapat positif karena produksi hCG oleh
korion, dan bukan oleh fetus

o Pada pemeriksaan USG didapati pembesaran uterus yang masih sesuai dengan
umur kehamilan, gerak janin dan gerak jantung janin masih jelas walau
mungkin sudah mulai tidak normal, perhatikan apakah adanya perdarahan
retroplasenta dan ovum yang mati.

Abortus Kompletus : proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi (desidua dan
fetus) telah keluar melalui jalan lahir sehingga rongga rahim kosong pada kehamilan
kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.Tanda dan Gejala1 :

o Serviks menutup.

o Rahim lebih kecil dari periode yang ditunjukkan amenorea.

o Gejala kehamilan tidak ada.

o Uji kehamilan biasanya positif sampai 7-10 hari setelah abortus.

Abortus Inkompletus : pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum


20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus1.

Gejala Klinis :

o Didapati amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas

o Perdarahan bisa sedikit atau banyak dan biasanya disertai stolsel (darah beku).

o Sudah ada keluar fetus atau jaringan

o Pada pemeriksaan dalam (V.T.) untuk abortus yang baru terjadi didapati
serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa jaringan pada kanalis
servikalis atau kavum uteri, serta uterus yang berukuran lebih kecil dari
seharusnya.
Missed Abortion : berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu, namun
keseluruhan hasil konsepsi tertahan dalam uterus 2 bulan atau lebih. Fetus yang
meninggal ini dapat1 :

o Keluar dengan sendirinya dalam 2-3 bulan sesudah fetus mati.

o Diresorbsi kembali sehingga hilang

o Mengering dan menipis yang disebut : fetus papyraceus

o Menjadi mola karnosa, dimana fetus yang sudah mati 1 minggu akan
mengalami degenerasi dan air ketubannya diresorbsi.

Gejala Klinis

o Ditandai dengan kehamilan yang normal dengan amenorrhea, dapat disertai


mual dan muntah

o Perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada permulaannya

o Pertumbuhan uterus mengecil dengan fundus yang tidak bertambah tinggi jika
kehamilannya berkisar antara 14 sampai 20 minggu.

o Mamae menjadi mengecil sebagai tanda-tanda kehamilan sekunder yang


menghilang.

o Gejala-gejala kehamilan menghilang diiringi reaksi kehamilan menjadi


negative pada 2-3 minggu setelah fetus mati.

o Pada pemeriksaan dalam serviks tertutup dan ada darah sedikit

o Pasien merasa perutnya dingin dan kosong.

o Pada pemeriksaan USG didapatkan : uterus yang mengecil, kantong gestasi


yang mengecil dan bentuknya tidak beraturan disertai gambaran fetus yang
tidak ada tanda-tanda kehidupan.

o Bila missed abortion berlangsung lebih dari 4 minggu harus diperhatikan


kemungkinan terjadinya gangguan pembekuan darah oleh karena
hipofibrinogemia sehingga perlu diperiksa koagulasi sebelum tindakan
evakuasi dan kuretase.

Abortus Habitualis : abortus yang terjadi 3 kali berturut turut atau lebih oleh sebab
apapun. Penderita abortus habitualis pada umumnya tidak sulit untuk hamil kembali,
tetapi kehamilannya berakhir dengan keguguran secara berturut-turut. Bishop
melaporkan kejadian abortus habitualis terjadi 0,41% dari seluruh kehamilan. 1

Penyebab paling sering pada abortus ini dahulu ditetapkan karena reaksi immunologi
yaitu TLX ( lymphocyte trophoblast cross reactive), tetapi dekade belakangan ini
diketahui penyebab yang tersering dijumpai adalah inkompetensia serviks yaitu
keadaan dimana serviks uterus tidak dapat menerima beban untuk tetap bertahan
menutup setelah kehamilan melewati trimester pertama, di mana os serviks akan
membuka tanpa disertai tanda-tanda inpartu lainnya seperti perut tegang dan mules-
mules, akhirnya terjadi pengeluaran janin. Penyebab lain yang sering ditemukan
berupa kelainan anatomis, disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum, kesalahan
plasenta, yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan progesteron sesudah korpus
luteum atrofis. 1,2

Pemeriksaan :

o Histerosalfingografi, untuk mengetahui adanya mioma uterus submukosa atau


anomali congenital.

o BMR dan kadar jodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak
gangguan glandula thyroidea.

o Psiko analisis

Abortus Infeksious : suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa infeksi
genital. Diagnosis1,2:

o Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan yang telah ditolong di


luar rumah sakit.
o Pemeriksaan : Kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan, dan
sebagainya.

o Tanda tanda infeksi yakni kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,5 derajat
Celcius, kenaikan leukosit dan discharge berbau pervaginam, uterus besar dan
lembek disertai nyeri tekan.

Septic Abortion : abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin
ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Diagnosis septic abortion ditegakan jika
didapatkan tanda tanda sepsis, seperti nadi cepat dan lemah, syok dan penurunan
kesadaran.1,2

2.2.2. Abortus Provokatus

Abortus Provokatus adalah abortus yang sengaja dibuat atau merupakan suatu upaya
yang disengaja, baik dilakukan oleh ibunya sendiri atau dibantu oleh orang lain, untuk
menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 20 minggu, dimana janin (hasil konsepsi)
yang dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia luar. 2,3

Abortus provokatus dapat dibedakan menjadi:

Abortus provokatus Medisinalis/Therapeutikus

Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi


menyelamatkan nyawa Ibu. Syarat-syaratnya adalah2,3:

o Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk
melakukannya (yaitu seorang dokter kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai
dengan tanggung jawab profesi.

o Mengkonsultasikan dengan sedikitnya dua orang ahli, yaitu ahli


obstetric/gynekologi dan ahli penyakit dalam atau ahli jantung yang
berpengalaman.

o Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi).
o Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat.

o Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/ peralatan yang memadai,


yang ditunjuk oleh pemerintah.

o Prosedur tidak dirahasiakan.

o Dokumen medik harus lengkap.

Abortus Provokatus Kriminalis

Abortus yang sengaja dilakukan dengan tanpa adanya indikasi medik (ilegal)
dan dilarang oleh hukum. Biasanya pengguguran dilakukan dengan menggunakan
alat-alat atau obat-obatan tertentu, atau dengan kekerasan mekanik lokal.2,3

Kekerasan dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam. Kekerasan dari luar
dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang lain, seperti melakukan gerakan
fisik berlebihan, jatuh, pemijatan/pengurutan perut bagian bawah, kekerasan langsung
pada perut atau uterus, pengaliran listrik pada serviks dan sebagainya. 2,3,4

Kekerasan dari dalam yaitu dengan melakukan manipulasi vagina atau uterus.
Manipulasi vagina dan serviks uteri, misalnya dengan penyemprotan air sabun atau air
panas pada porsio, aplikasi asam arsenik, kalium permanganat pekat, atau jodium
tinktur; pemasangan laminaria stift atau kateter ke dalam serviks; atau manipulasi
serviks dengan jari tangan. Manipulasi uterus, dengan melakukan pemecahan selaput
amnion atau dengan penyuntikan ke dalam uterus. 2,3,4

Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat apa saja
yang cukup panjang dan kecil melalui serviks. Penyuntikan atau penyemprotan cairan
biasanya dilakukan dengan menggunakan Higginson tipe syringe, sedangkan
cairannya adalah air sabun, desinfektan atau air biasa/air panas. Penyemprotan ini
dapat mengakibatkan emboli udara. 2,3,4

Obat / zat tertentu Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan yang


mengandung minyak eter tertentu yang dapat merangsang saluran cerna hingga terjadi
kolik abdomen, jamu perangsang kontraksi uterus dan hormon wanita yang
merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi mukosa uterus. Hasil yang dicapai
sangat bergantung pada jumlah (takaran), sensitivitas individu dankeadaan
kandungannya (usia gestasi). 2,3,4

Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur, nanas muda,
bubuk beras dicampur lada hitam, dan lain-lain. Ada juga yang agak beracun seperti
garam logam berat, laksans dan lain-lain; atau bahan yang beracun, seperti strichnin,
prostigmin, pilokarpin, dikumarol, kina dan lain-lain. Kombinasi kina atau menolisin
dengan ekstrak hipofisis (oksitosin) ternyata sangat efektif. Akhir-akhir ini dikenal
juga sitostatika (aminopterin) sebagai abortivum. 2,3,4

2.3. Metode-Metode Aborsi dan Efek Sampingnya

Trimester Pertama

Metode Penyedotan (Suction Curettage)

Pada 1-3 bulan pertama dalam kehidupan janin, aborsi dilakukan dengan
metode penyedotan. Teknik inilah yang paling banyak dilakukan untuk kehamilan
usia dini. Mesin penyedot bertenaga kuat dengan ujung tajam dimasukkan ke dalam
rahim lewat mulut rahim yang sengaja dimekarkan. Penyedotan ini mengakibatkan
tubuh bayi berantakan dan menarik ari-ari (plasenta) dari dinding rahim. Hasil
penyedotan berupa darah, cairan ketuban, bagian-bagian plasenta dan tubuh janin
terkumpul dalam botol yang dihubungkan dengan alat penyedot ini. Ketelitian dan
kehati-hatian dalam menjalani metode ini sangat perlu dijaga guna menghindari
robeknya rahim akibat salah sedot yang dapat mengakibatkan pendarahan hebat yang
terkadang berakhir pada operasi pengangkatan rahim. Peradangan dapat terjadi
dengan mudahnya jika masih ada sisa-sisa plasenta atau bagian dari janin yang
tertinggal di dalam rahim. Hal inilah yang paling sering terjadi yang dikenal dengan
komplikasi paska-aborsi.7

Metode D&C - Dilatasi dan Kerokan

Dalam teknik ini, mulut rahim dibuka atau dimekarkan dengan paksa untuk
memasukkan pisau baja yang tajam. Bagian tubuh janin dipotong berkeping-keping
dan diangkat, sedangkan plasenta dikerok dari dinding rahim. Darah yang hilang
selama dilakukannya metode ini lebih banyak dibandingkan dengan metode
penyedotan. Begitu juga dengan perobekan rahim dan radang paling sering terjadi.
Metode ini tidak sama dengan metode D&C yang dilakukan pada wanita-wanita
dengan keluhan penyakit rahim (seperti pendarahan rahim, tidak terjadinya
menstruasi, dsb). Komplikasi yang sering
terjadi antara lain robeknya dinding rahim
yang dapat menjurus hingga ke kandung kencing. 7

Keterangan gambar:
Alat kuret dimasukkan ke dalam rahim untuk mulai mengerok janin, ari-ari, dan air ketuban dari
rahim.

PIL RU 486

Masyarakat menamakannya "Pil Aborsi Perancis". Teknik ini menggunakan 2


hormon sintetik yaitu mifepristone dan misoprostol untuk secara kimiawi
menginduksi kehamilan usia 5-9 minggu. Di Amerika Serikat, prosedur ini dijalani
dengan pengawasan ketat dari klinik aborsi yang mengharuskan kunjungan sedikitnya
3 kali ke klinik tersebut. Pada kunjungan pertama, wanita hamil tersebut diperiksa
dengan seksama. Jika tidak ditemukan kontra-indikasi (seperti perokok berat,
penyakit asma, darah tinggi, kegemukan, dll) yang malah dapat mengakibatkan
kematian pada wanita hamil itu, maka ia diberikan pil RU 486. 5,6

Kerja RU 486 adalah untuk memblokir hormon progesteron yang berfungsi


vital untuk menjaga jalur nutrisi ke plasenta tetap lancar. Karena pemblokiran ini,
maka janin tidak mendapatkan makanannya lagi dan menjadi kelaparan. Pada
kunjungan kedua, yaitu 36-48 jam setelah kunjungan pertama, wanita hamil ini
diberikan suntikan hormon prostaglandin, biasanya misoprostol, yang mengakibatkan
terjadinya kontraksi rahim dan membuat janin terlepas dari rahim. Kebanyakan
wanita mengeluarkan isi rahimnya itu dalam 4 jam saat menunggu di klinik, tetapi
30% dari mereka mengalami hal ini di rumah, di tempat kerja, di kendaraan umum,
atau di tempat-tempat lainnya, ada juga yang perlu menunggu hingga 5 hari
kemudian. Kunjungan ketiga dilakukan kira-kira 2 minggu setelah pengguguran
kandungan, untuk mengetahui apakah aborsi telah berlangsung. Jika belum, maka
operasi perlu dilakukan (5-10 persen dari seluruh kasus). Ada beberapa kasus serius
dari penggunaan RU 486, seperti aborsi yang tidak terjadi hingga 44 hari kemudian,
pendarahan hebat, pusing-pusing, muntah-muntah, rasa sakit hingga kematian.
Sedikitnya seorang wanita Perancis meninggal sedangkan beberapa lainnya
mengalami serangan jantung. Efek jangka panjang dari RU 486 belum diketahui
secara pasti, tetapi beberapa alasan yang dapat dipercaya mengatakan bahwa RU 486
tidak saja mempengaruhi kehamilan yang sedang berlangsung, tetapi juga dapat
mempengaruhi kehamilan selanjutnya, yaitu kemungkinan keguguran spontan dan
cacat pada bayi yang dikandung. 6,7

Suntikan Methotrexate (MTX)

Prosedur dengan MTX sama dengan RU 486, hanya saja obat ini disuntikkan
ke dalam badan. MTX pada mulanya digunakan untuk menekan pertumbuhan pesat
sel-sel, seperti pada kasus kanker, dengan menetralisir asam folat yang berguna untuk
pemecahan sel. MTX ternyata juga menekan pertumbuhan pesat trophoblastoid -
selaput yang menyelubungi embrio yang juga merupakan cikal bakal plasenta.
Trophoblastoid tidak saja berfungsi sebagai 'sistim penyanggah hidup' untuk janin
yang sedang berkembang, mengambil oksigen dan nutrisi dari darah calon ibu serta
membuang karbondioksida dan produk-produk buangan lainnya, tetapi juga
memproduksi hormon hCG (human chorionic gonadotropin), yang memberikan tanda
pada corpus luteum untuk terus memproduksi hormon progesteron yang berguna
untuk mencegah gagal rahim dan keguguran. 6,7,8

MTX menghancurkan integrasi dari lingkungan yang menopang, melindungi


dan menyuburkan pertumbuhan janin, dan karena kekurangan nutrisi, maka janin
menjadi mati. 3-7 hari kemudian, tablet misoprostol dimasukkan ke dalam kelamin
wanita hamil itu untuk memicu terlepasnya janin dari rahim. Terkadang, hal ini terjadi
beberapa jam setelah masuknya misoprostol, tetapi sering juga terjadi perlunya
penambahan dosis misoprostol. Hal ini membuat cara aborsi dengan menggunakan
suntikan MTX dapat berlangsung berminggu-minggu. Si wanita hamil itu akan
mendapatkan pendarahan selama berminggu-minggu (42 hari dalam sebuah studi
kasus), bahkan terjadi pendarahan hebat. Sedangkan janin dapat gugur kapan saja - di
rumah, di dalam bis umum, di tempat kerja, di supermarket, dsb. Wanita yang
kedapatan masih mengandung pada kunjungan ke klinik aborsi selanjutnya, mau tak
mau harus menjalani operasi untuk mengeluarkan janin itu. Bahkan dokter-dokter
yang bekerja di klinik aborsi seringkali enggan untuk memberikan suntikan MTX
karena MTX sebenarnya adalah racun dan efek samping yang terjadi terkadang tak
dapat diprediksi. 7,8,9

Efek samping yang tercatat dalam studi kasus adalah sakit kepala, rasa sakit,
diare, penglihatan yang menjadi kabur, dan yang lebih serius adalah depresi sumsum
tulang belakang, kekuragan darah, kerusakan fungsi hati, dan sakit paru-paru. Dalam
bungkus MTX, pabrik pembuat menuliskan peringatan keras bahwa MTX memang
berguna untuk pengobatan kanker, beberapa kasus artritis dan psoriasis, "kematian
pernah dilaporkan pada orang yang menggunakan MTX", dan pabrik itu menyarankan
agar hanya para dokter yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan tentang terapi
antimetabolik saja yang boleh menggunakan MTX. Meski para dokter aborsi yang
menggunakan MTX menepis efek-efek samping MTX dan mengatakan MTX dosis
rendah baik untuk digunakan dalam proses aborsi, dokter-dokter aborsi lainnya tidak
setuju, karena pada paket injeksi yang digunakan untuk aborsi juga tertera peringatan
bahaya racun walau MTX digunakan dalam dosis rendah. 7,8,9

Trimester Kedua

Metode Dilatasi dan Evakuasi

Metode ini digunakan untuk membuang janin hingga usia 24 minggu. Metode
ini sejenis dengan D&C, hanya dalam D&E digunakan tang penjepit (forsep) dengan
ujung pisau tajam untuk merobek-robek janin. Hal ini dilakukan berulang-ulang
hingga seluruh tubuh janin dikeluarkan dari rahim. Karena pada usia kehamilan ini
tengkorak janin sudah mengeras, maka tengkorak ini perlu dihancurkan supaya dapat
dikeluarkan dari rahim. Jika tidak berhati-hati dalam pengeluarannya, potongan
tulang-tulang yang runcing mungkin dapat menusuk dinding rahim dan menimbulkan
luka rahim. Pendarahan mungkin juga terjadi. Dr. Warren Hern dari Boulder,
Colorado, Amerika Serikat, seorang dokter aborsi yang sering melakukan D&E
mengatakan, hal ini sering membuat masalah bagi karyawan klinik dan menimbulkan
kekuatiran akan efek D&E pada wanita yang menjalani aborsi. Dokter Hern juga
melihat trauma yang terjadi pada para dokter yang melakukan aborsi, ia mengatakan,
"tidak dapat disangkal lagi, penghancuran terjadi di depan mata kita sendiri.
Penghancuran janin lewat forsep itu seperti arus listrik." 7,8,9

Keterangan : Tang penjepit dan alat sedot tengah dimasukkan ke dalam rahim untuk menghancurkan
janin.

Metode Racun Garam (Saline)

Caranya ialah dengan meracuni air ketuban. Teknik ini digunakan saat
kandungan berusia 16 minggu, saat air ketuban sudah cukup melingkupi janin. Jarum
disuntikkan ke perut si wanita dan 50-250 ml (kira-kira secangkir) air ketuban
dikeluarkan, diganti dengan larutan konsentrasi garam. Janin yang sudah mulai
bernafas, menelan garam dan teracuni. Larutan kimia ini juga membuat kulit janin
terbakar dan memburuk. Biasanya, setelah kira-kira satu jam, janin akan mati. Kira-
kira 33-35 jam setelah suntikan larutan garam itu bekerja, si wanita hamil itu akan
melahirkan anak yang telah mati dengan kulit hitam karena terbakar. Kira-kira 97%
dari wanita yang memilih aborsi dengan cara ini melahirkan anaknya 72 jam setelah
suntikan diberikan. Suntikan larutan garam ini juga memberikan efek samping pada
wanita pemakainya yang disebut "Konsumsi Koagulopati" (pembekuan darah yang
tak terkendali diseluruh tubuh), juga dapat menimbulkan pendarahan hebat dan efek
samping serius pada sistim syaraf sentral. Serangan jantung mendadak, koma, atau
kematian mungkin juga dihasilkan oleh suntikan saline lewat sistim pembuluh darah.
Keterangan : Jarum suntik ditusuk hingga mencapai
air ketuban. Jarum ini kemudian menyedot dari sedikit air ketuban keluar, lalu diganti
dengan larutan racun garam.

Urea

Karena bahaya penggunaan saline, maka suntikan lain yang biasa dipakai
adalah hipersomolar urea, walau metode ini kurang efektif dan biasanya harus
dibarengi dengan asupan hormon oxytocin atau prostaglandin agar dapat mencapai
hasil maksimal. Gagal aborsi atau tidak tuntasnya aborsi sering terjadi dalam
menggunakan metode ini, sehingga operasi pengangkatan janin dilakukan. Seperti
teknik suntikan aborsi lainnya, efek samping yang sering ditemui adalah pusing-
pusing atau muntah-muntah. Masalah umum dalam aborsi pada trimester kedua
adalah perlukaan rahim, yang berkisar dari perlukaan kecil hingga perobekan rahim.
Antara 1-2% dari pasien pengguna metode ini terkena endometriosis/peradangan
dinding rahim. 7,8,9

Prostaglandin

Prostaglandin merupakan hormon yang diproduksi secara alami oleh tubuh


dalam proses melahirkan. Injeksi dari konsentrasi buatan hormon ini ke dalam air
ketuban memaksa proses kelahiran berlangsung, mengakibatkan janin keluar sebelum
waktunya dan tidak mempunyai kemungkinan untuk hidup sama sekali. Sering juga
garam atau racun lainnya diinjeksi terlebih dahulu ke cairan ketuban untuk
memastikan bahwa janin akan lahir dalam keadaan mati, karena tak jarang terjadi
janin lolos dari trauma melahirkan secara paksa ini dan keluar dalam keadaan hidup.
Efek samping penggunaan prostaglandin tiruan ini adalah bagian dari ari-ari yang
tertinggal karena tidak luruh dengan sempurna, trauma rahim karena dipaksa
melahirkan, infeksi, pendarahan, gagal pernafasan, gagal jantung, perobekan rahim. 7,8

Partial Birth Abortion

Metode ini sama seperti melahirkan secara normal, karena janin dikeluarkan
lewat jalan lahir. Aborsi ini dilakukan pada wanita dengan usia kehamilan 20-32
minggu, mungkin juga lebih tua dari itu. Dengan bantuan alat USG, forsep (tang
penjepit) dimasukkan ke dalam rahim, lalu janin ditangkap dengan forsep itu. Tubuh
janin ditarik keluar dari jalan lahir (kecuali kepalanya). Pada saat ini, janin masih
dalam keadaan hidup. Lalu, gunting dimasukkan ke dalam jalan lahir untuk menusuk
kepala bayi itu agar terjadi lubang yang cukup besar. Setela itu, kateter penyedot
dimasukkan untuk menyedot keluar otak bayi. Kepala yang hancur lalu dikeluarkan
dari dalam rahim bersamaan dengan tubuh janin yang lebih dahulu ditarik keluar. 7,8,9

Histerektomi (untuk kehamilan trimester kedua dan ketiga)

Sejenis dengan metode operasi caesar, metode ini digunakan jika cairan kimia
yang digunakan/disuntikkan tidak memberikan hasil memuaskan. Sayatan dibuat di
perut dan rahim. Bayi beserta ari-ari serta cairan ketuban dikeluarkan. Terkadang,
bayi dikeluarkan dalam keadaan hidup, yang membuat satu pertanyaan bergulir:
bagaimana, kapan dan siapa yang membunuh bayi ini? Metode ini memiliki resiko
tertinggi untuk kesehatan wanita, karena ada kemungkinan terjadi perobekan rahim.
Dalam 2 tahun pertama legalisasi aborsi di kota New York, tercatat 271,2 kematian
per 100.000 kasus aborsi dengan cara ini. 7,8,9

2.4. Komplikasi Aborsi

Komplikasi yang dapat terjadi karena aborsi adalah10 :

1. Perdarahan (hemorrhage)

2. Perforasi : sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga
yang tidak ahli seperti bidan dan dukun.

3. Infeksi dan tetanus

4. Gagal ginjal akut


5. Syok, pada abortus dapat disebabkan oleh:

- Perdarahan yang banyak disebut syok hemoragik

- Infeksi berat atau sepsis disebut syok septik atau endoseptik

6. DIC (Disseminated Intravaskular Coagulation)

Komplikasi dari post abortus berkembang menjadi 3 bagian besar9 :

a) Evakuasi yang inkomplit dan atonia uterus yang menyebabkan komplikasi


perdarahan. Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat
terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.

b) Infeksi

Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang merupakan
flora normal. Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi terbatas pada desidua. Pada
abortus septik, virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke perimetrium tuba,
parametrium dan peritonium.

c) Kerusakan organ-organ

2.5. Pembuktian Kasus Abortus

Untuk dapat membuktikan apakah kematian seorang wanita itu merupakan akibat dari
tindakan abortus yang dilakukan atas dirinya, diperlukan petunjuk-petunjuk12 :

1. Adanya kehamilan

2. Umur kehamilan, bila dipakai pengertian abortus menurut pengertian medis

3. Adanya hubungan sebab akibat antara abortus dengan kematian

4. Adanya hubungan antara saat dilakukannya tindakan abortus dengan saat kematian

5. Adanya barang bukti yang dipergunakan untuk melakukan abortus sesuai dengan
metode yang dipergunakan

6. Alasan atau motif untuk melakukan abortus itu sendiri


Pemeriksaan Korban Hidup

Pada pemeriksaan pada ibu yang diduga melakukan aborsi, usaha dokter adalah
mendapatkan tanda-tanda sisa kehamilan dan menentukan cara pengguguran yang dilakukan.
Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan oleh Sp.OG. 12

Untuk menentukan tanda-tanda sisa kehamilan diusahakan melakukan anamnesis


secara teliti dan pemeriksaan fisik berupa adanya payudara yang membesar dan pengeluaran
ASI serta dijumpai adanya kolustrum pada pemeriksaan laboratorium, Warna kehitaman
disekitar payudara, uterus masih membesar, dijumpai adanya striae, lochia dari vagina, dan
perlukaan pada portio. 12

Untuk menentukan usaha penghentian kehamilan dilakukan pemeriksaan toksikologi,


pemeriksaan PA jaringan hasil aborsi atau sisa plasenta yang tertinggal dirahim, luka,
peradangan, bahan-bahan yang tidak lazim dalam liang senggama, sisa bahan abortivum.
Pada masa kini bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan DNA untuk pemastian
hubungan ibu dan janin. 12

Pemeriksaan Korban Mati

Pemeriksaan dilakukan menyeluruh melalui pemeriksaan luar dan dalam (autopsi).


Pemeriksaan ditujukan pada12:

a) Menentukan perempuan tersebut dalam keadaan hamil atau tidak. Untuk ini diperiksa :

Payudara secara makroskopis maupun mikroskopis

Ovarium, mencari adanya corpus luteum persisten secara mikroskopik

Uterus, lihat besarnya uterus, kemungkinan sisa janin dan secara mikroskopik
adanya sel-sel trofoblast dan sel-sel decidua

b) Mencari tanda-tanda cara abortus provokatus yang dilakukan

Mencari tanda-tanda kekerasan lokal seperti memar, luka, perdarahan jalan lahir

Mencari tanda-tanda infeksi akibat pemakaian alat yang tidak steril. Jika digunakan
zat kimia secara lokal maka pada liang senggama atau cavum uteri dapat
ditemukan zat-zat tersebut.
Jika digunakan obat-obatan oral atau suntikan maka tentunya obat-obatan tersebut
akan dapat dilacak melalui pemeriksaan toksikologik.

c) Menentukan sebab kematian.

Dengan otopsi yang teliti disertai pemeriksaan penunjang maka dapat diketahui
penyebab kematiannya:

Vagal refleks : Komplikasi ini terjadi karena adanya rangsangan pada permukaan
sebelah dalam dari canalis servikalis. Kematian khas terjadi di meja operasi.

Perdarahan : Terjadi karena robeknya vagina, serviks, atau uterus sehingga


menyebabkan perdarahan yang masif.

Emboli udara : Komplikasi ini sering terjadi pada aborsi dengan alat semprot.
Dimana udara ikut masuk ke dalam pembukuh darah dan dapat menyebabkan
emboli udara pada arteri coronaria atau arteri otak. Kematian terjadi dalam waktu
10 menit. Jumlah udara yang mematikan tergantung dari banyak faktor. Udara
sebanyak 10 mililiter saja sudah dapat menyebabkan kematian, tetapi pernah ada
laporan bahwa penderita dapat sembuh sesudah mengalami emboli sebanyak 100
mililiter.

Sepsis : Dapat terjadi karena alat-alat yang digunakan tidak steril, uterus tidak
bersih, dan robeknya usus besar.

2.6. Aborsi Dipandang Dari Segi Hukum dan Etika

UU Kesehatan No 36 tahun 2009:

Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:

a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau
cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi
tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan.

(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan
yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:

a) Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid
terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;

b) Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki
sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;

c) Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;

d) Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan

e) Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 77

Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pada penjelasan UU Kesehatan pasal 77 dinyatakan sebagai berikut:

- Yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggung jawab adalah aborsi yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa
persetujuan perempuan yang bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
yang tidak profesional, tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan yang
berlaku, diskriminatif, atau lebih mengutamakan imbalan materi dari pada indikasi
medis.
- Namun sayangnya didalam UU Kesehatan ini belum disinggung soal masalah
kehamilan akibat hubungan seks komersial yang menimpa pekerja seks komersial.
(3) Dalam peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara
lain mengenai keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya,
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian & kewenangan bentuk persetujuan,
sarana kesehatan yang ditunjuk.

Dalam KUHP terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan abortus yaitu pasal 283,
299, 346,347,348, 349,535 KUHP.9

Pasal 283 KUHP

Barang siapa mempertunjukkan alat atau cara menggugurkan kandungan kepada anak
dibawah usia 17 tahun atau dibawah umur hukuman maksimum 9 bulan.

Pasal 299 KUHP

(1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati
dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat
digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda
paling banyak empat puluh lima ribu rupiah.

(2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan
perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau
juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.

(3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencarian, maka
dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.

Pasal 346 KUHP

Seorang wanita dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau


menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pasal 347 KUHP

(1) Barang siapa dngan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita
tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 348 KUHP

(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita
dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

(2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara
paling lima tujuh tahun.

Pasal 349 KUHP

Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan
pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang
diterapkan dalam Pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat
dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam
mana kejahatan dilakukan.

Pasal 535 KUHP

Barang siapa mempertunjukkan secara terbuka alat atau cara menggugurkan


kandungan, hukuman maksimum 3 bulan.

Dari Pasal 346, 347 dan 348 KHUP, jelas bahwa undang-undang tidak
mempersoalkan masalah umur kehamilan atau berat badan dari fetus yang keluar. Sedangkan
pasal 349 dan 299 KUHP memuat ancaman hukuman untuk orang-orang tertentu yang
mempunyai profesi atau pekerjaan tertentu bila mereka turut membantu atau melakukan
kejahatan seperti yang dimaksud ke tiga pasal tersebut.

Yang dapat dikenakan hukuman adalah tindakan menggugurkan atau mematikan


kandungan yang termasuk tindakan pidana sesuai dengan pasal-pasal pada KUHP (abortus
kriminalis). Sedangkan tindakan yang serupa demi keselamatn ibu yang dapat dipertanggung
jawabkan secara medis (abortus medicinalis atau abortus therapeuticus), tidaklah dapat
dihukum walaupun pada kenyataan dokter dapat melakukan abortus medisinalis, itu diperiksa
oleh penyidik dan dilanjutkan dengan pemeriksaan di pengadilan.10

Pemeriksaan oleh penyidik atau hakim di pengadilan bertujuan untuk mencari bukti-
bukti akan kebenaran bahwa pada kasus tersebut memang murni tidak ada unsur kriminalnya,
semata-mata untuk keselamatan jiwa ibu. Perlu diingat bahwa hanya Hakimlah yang berhak
memutuskan apakah seseorang itu (dokter) bersalah atau tidak bersalah. 10

UU HAM

pasal 53

ayat 1 : Setiap anak sejak dalam kandungan berhak untuk hidup, mempertahankan hidup &
meningkatkan taraf kehidupannya.

Aspek Etika Profesi Kedokteran

- Pasal 7d: Setiap dokter harus senantiasa mengingatkan kewajiban melindungi hidup
makhluk insani. Pada pelaksanaannya, apabila ada dokter yang melakukan
pelanggaran, maka penegakan implementasi etik akan dilakukan secara berjenjang
dimulai dari panitia etik di masing-masing RS hingga Majelis Kehormatan Etika
Kedokteran (MKEK).14
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo, Sarwono. 2002.Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo.

2. Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 246.

3. Varney, Helen, dkk. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC, 604-605.

4. Walsh, Linda V. 2008. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC, 447-449.

5. World Health Organization.Unsafe Abortion: Global and Regional Estimates of


Incidence of and Mortality due to Unsafe Abortion with a Listing of Available Country
Data. Third Edition. Geneva: Division of Reproductive Health (Technical Support)
WHO, 1998.

6. Cunningham, Gary, F. dkk. 2006. Obstetri Williams Vol. 2. Jakarta: EGC, 951-964.

7. Wiknjosastro, Hanifa. Gangguan Bersangkutan dengan Konsepsi dalam Ilmu


Kandungan. Edisi kedua. 1999. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiohardjo.
246 9

8. Apuranto, H dan Hoediyanto. 2006. Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal.


Surabaya: Bag. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran
UNAIR

9. Hamzah, Andi, Dr.SH., 1984, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Ghalia Indonesia,
Jakarta.
10. Hanafiah, M. Yusuf., Prof.Dr.SPOG & Amri Amir, Dr.SpF., 1999, Etika Kedokteran
&Hukum Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.