Anda di halaman 1dari 26

ANALISA PEMBENTUKAN HARGA DALAM

PERSPEKTIF SYARIAH

OLEH :

1. JAMES S MASSORA B 1A1 1 2 1 0 8


2. RAHMAT MANSYUR B 1A1 1 2 0 9 5
3. ANNISA ZAVIERA B 1A1 1 2 1 0 6
4. VALEN FARANSINA EA B 1A1 1 2 1 0 7
5. SRI MINDA SARI B 1A1 1 2 0 9 9

JURUSAN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HALUOLEO 2015


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas ridhoNya

dan kuasaNya kami dapat merampungkan proses penyusunan makalah ini berdasarkan tempo

waktu yang telah ditetapkan.


Dalam proses penyusunan makalah ini, kami menganalisis mengenai proses

pembentukan harga dalam perspektif syariah, yang mana tujuan utama penyusunannya untuk

memberikan khazanah pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan kami

pada khususnya untuk mengetahui secara Islami proses penetapan harga yang direstui dalam

konsep syariah berdasarkan pemikiran para filsuf Islam.

Terima kasih kami ucapakan atas bantuan berbagai pihak baik moral maupun moril

dalam terlaksananya penyusunan makalah ini, baik itu teman sesama mahasiswa yang

memprogramkan mata kuliah ekonomi mikro-makro syariah, para senior dan secara khusus

Bapak/Ibu dosen dalam lingkup jurusan Ilmu Ekonomi.

Kami menyadari secara positif, bahwa proses penyusunan makalah ini masih terdapat

banyak kekeliruan, baik dalam hal analisis ruang lingkupnya maupun dari segi kaidah bahasa

yang kami gunakan dalam penyusunannya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang

konstruktif terhadap kami selaku penyusun sebagai bahan evaluasi dalam penyusunan materi

makalah berprinsip syariah dikemudian hari. Terima Kasih

Kendari, 28 Oktober 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... I


DAFTAR ISI .............................................................................................................. II

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1-2


1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................. 3
1.3 Tujuan dan Manfaat ...................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Harga ................................................................................................... 4

2.2 Ruang Lingkup Teori Harga ........................................................................... 5-8


2.3 Harga Pada Pasar Islami

....................................................................................... 8-9
2.4 Penetapan harga menurut Pemikiran Ilmuwan Muslim

....................................... 9-13
2.5 Penetapan Harga Menurut Pandangan Islam ................................................... 13-14
2.6 Urgensi Penetapan Harga ....................................................................................... 14-15
2.7 Penetapan Harga Pada Ketidaksempurnaan Pasar ....................................... 15
2.8 Musyawarah Untuk Menetapkan Harga

............................................................... 15-16
2.9 Penetapan Harga Dalam Sistem Perekonomian Modern ....................................... 16-18

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 19-20

3.2 Saran ............................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam proses kehidupan bermasyarakat, kegiatan ekonomi sangat berpengaruh dalam

memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri, dimana setiap orang akan diperhadapkan dengan

berbagai situasi dan kondisi tertentu untuk mengambil keputusan yang menyangkut ekonomi,
termasuk dalam hal pembentukan harga terutama yang dialami oleh para penjual atau pedagang

dan perusahaan baik mikro maupun makro. Pada dasarnya, suatu perusahaan menentukan harga

suatu barang untuk memperoleh keuntungan, dengan cara menjual kepada para konsumen

Berdasarkan pemaparan singkat tersebut dapat dianalisa secara ekonomi, bahwa

perekonomian merupakan salah satu soko guru kehidupan negara. Dimana kuat dan lemahnya

sistem perekonomian suatu negara itu salah satunya ditentukan melalui penetapan harga,

sehingga terjadi kestabilan harga. Namun tidak mudah untuk menciptakan perekonomian dengan

harga yang stabil karena adakalanya tingkat permintaan lebih tinggi dari penawaran begitu pun

sebaliknya.

Interaksi antara pemerintah, produsen, dan konsumen sangat diperlukan guna mencapai

tujuan perekonomian yang kuat. Dengan kata lain, penentuan harga tidak dapat dimonopoli oleh

sepihak saja melainkan berdasarkan kesepakatan dalam penentuan harga. Hal tersebut guna

meminimalkan terjadinya kecurangan atau pun kerugian terhadap salah satu pihak. Pemerintah

mempunyai tanggung jawab dan ikut andil dalam penentuan harga, karena menjadi instrumen

utama penentu dari harga barang yang telah diatur dalam undang-undang seperti UU APBN.

Dalam Islam telah diatur mengenai cara bermuamalah bagi seorang muslim. Dalam

kaitannya dengan jual beli dan penentuan harga, Islam memperbolehkan jual beli dan melarang

konsep riba. Hal tersebut tertuang dalam surat Al-Baqarah : 275 yang artinya:

.......Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata

berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah

menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.......

Yang mana dalam hal ini pedagang tidak boleh meraup keuntungan yang sebesar-

besarnya dengan menaikkan harga. Pedagang hanya boleh meraup untung yang sewajarnya

sebagai pengganti atas jasanya. Islam menolak sejumlah ideologi ekonomi yang

terkait dengan keagungan private property, kepentingan investor, asceticism


(menghindari kehidupan duniawi), authoritarianism (ekonomi terpimpin atau

paham mematuhi seseorang secara mutlak). Oleh sebab itu, sangat utama

bagi umat Islam untuk secara kumulatif mencurahkan semua dukungannya

kepada ide keberdayaan, kemajuan, dan kecerahan peradaban bisnis dan

perdagangan. Islam secara ketat memacu umatnya untuk bergiat dalam

aktivitas keuangan dan usaha-usaha yang meningkatkan kesejahteraan

ekonomi dan sosial.

Pemerintah Islam pun, sejak Rasulullah SAW di Madinah fokus pada masalah

keseimbangan harga , terutama pada bagaimana peran negara dalam mewujudkan kestabilan

harga dan bagaimana mengatasi masalah ketidakstabilan harga. Para ulama berbeda pandapat

mengenai boleh tidaknya negara menetapkan harga. Masing Masing golongan ulama ini

memiliki dasar falsafah hukum dan interpretasi masing-masing.

Berdasarkan perbedaan pendapat para ulama tersebut, maka kami selaku penulis

mencoba menganalisa penetapan harga oleh negara dalam perspektif syariah dengan

mempertimbangkan realitas ekonomi yang berlangsung saat ini di negara kita.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan harga ?

2. Bagaimanakah ruang lingkup dalam teori harga?

3. Bagaimanakah konsep harga pada pasar Islami ?

4. Bagaimanakah penetapan harga menurut para ilmuwan Islam ?

5. Bagaimanakah penetapan harga menurut perspektif Islam dan

penerapannya di Indonesia?
1.2 Tujuan dan Manfaat

1.2.1 Tujuan

Tujuan daripada penyusunan makalah ini secara komprehensif, yakni

untuk memberikan deskripsi mengenai proses pembentukan atau penetapan

harga berdasarkan perspektif syariah dari berbagai sudut pandang para

ilmuwan Islam agar dapat memberikan suatu khazanah pengetahuan dari

segi pemahaman agama Islam.

1.2.2 Manfaat

I. Bagi Penulis
Dapat menambah sumber rujukan referensi baru terhadap

pemahaman secara syariah, sehingga memiliki gambaran rasio pola

pikir ekonomi antara pemahaman secara konvensional dan secara

syariah.
II. Bagi Masyarakat Luas
Dapat memberikan gambaran terhadap mekanisme penetapan harga

dari segi fiqih muamalahnya, sehingga masyarakat dapat lebih paham

dalam membandingkan proses penetapan harga dari basis syariah

dan konvensional yang mampu membuka cakrawala pemikiran

masyarakat yang belum sepenuhnya paham mekanisme ekonomi

syariah.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Harga

Ridwan Iskandar Sudayat menyatakan bahwa harga suatu barang adalah tingkat

pertukaran barang itu dengan barang lain. Sebagaimana telah kita ketahui, salah satu tugas

pokok ekonomi adalah menjelaskan alasan barang-barang mempunyai harga serta alasan barang

yang mahal dan murah. Sebagai contoh, gaji dan upah adalah harga jasa bagi seseorang yang

bekerja. Bunga adalah harga meminjam atau menggunakan uang di Bank. Pajak adalah harga

jasa pemerintah bagi warga negaranya. Bentuk atau sebutan harga lain adalah uang sewa, tiket,

tol, honorarium, SPP, dan sebagainya.

Harga terbentuk untuk memenuhi tujuan dua pihak, yaitu produsen dan konsumen.

Produsen memandang harga sebagai nilai barang yang mampu memberikan manfaat keuntungan

di atas biaya produksinya (atau tujuan lain, misalnya keuntungan). Konsumen memandang harga

sebagai nilai barang yang mampu memberikan manfaat atas pemenuhan kebutuhan dan

keinginannya.

Dalam pasar persaingan sempurna, harga terbentuk dari kesepakatan produsen dan

konsumen. Akan tetapi, pada kenyataannya kondisi ini jarang terjadi. Salah satu pihak lain

(umumnya produsen) dapat mendominasi pembentukan harga atau pihak lain di luar produsen

dan konsumen. Tingkat harga dalam sebuah perekonomian secara keseluruhan dapat diketahui

melalui dua cara. Selama ini kita mengartikan tingkat harga sebagai hanya dari sekeranjang atau

himpunan barang dan jasa. Jika tingkat-tingkat harga mengalami kenaikan, masyarakat harus

membayar lebih untuk mendapatkan berbagai barang dan jasa yang mereka inginkan. Selain itu,

kita dapat menggunakan tingkat harga untuk menentukan nilai uang. Naiknya tingkat harga

berarti menurunnya nilai uang karena setiap nilai rupiah yang Anda punya sekarang hanya dapat

digunakan untuk membeli barang dan jasa dalam jumlah yang lebih sedikit daripada

sebelumnya.

2.2 Ruang Lingkup Teori Harga


Dalam teori harga ada beberapa hal yang harus dipelajari untuk memahami secara keseluruhan,

yaitu di antaranya:

1. Fungsi Harga

Secara umum, harga dapat berfungsi sebagai berikut:

a. Sumber pendapatan atau keuntungan perusahaan untuk mencapai tujuan produsen.

b. Pengendali tingkat permintaan dan penawaran.

c. Memengaruhi program pemasaran dan fungsi bisnis lainnya bagi perusahaan. Harga dapat

berperan sebagai pengaruh terhadap

2. Faktor Penentu Harga

Penentuan harga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi:

a. Tujuan pemasaran (biaya, penguasaan pasar, dan usaha)

b. Strategi marketing-mix (aspek harga dan non harga)

c. Organisasi (struktur, skala, dan tipe).

Sedangkan Faktor eksternal meliputi:

a. Elastisitas permintaan dan kondisi persaingan pasar.

b. Harga pesaing dan reaksi pesaing terhadap perubahan harga;

c. Lingkungan eksternal lain, yaitu lingkungan mikro (pemasok, penyalur, asosiasi, dan

masyarakat) dan lingkungan makro (pemerintah, cadangan sumber daya, keadaan sosial).

3. Batas Penentu Harga

Perubahan harga buka tanpa batas, melainkan terbatasi oleh permintaan (customer demand),

biaya (cost), dan persaingan (competition). Posisi atau tingkat harga akan bergerak berfluktuasi

dalam ruang gerak persaingan mengikuti kekuatan pesaing yang lebih besar. Akan tetapi,

perubahannya tidak melebihi batas harga tertinggi dari permintaan pasar (batas atas) ataupun

tidak lebih rendah dari biaya yang ditanggung produsen (batas bawah)

4. Tahap Penentuan Harga


Khusus untuk produk baru, penentuan harga melalui prosedur berikut:

a. Memilih tujuan dan orientasi harga.

b. Memperkirakan permintaan produk dan perilakunya.

c. Memperkirakan biaya dan perilakunya.

d. Melakukan analisis perilaku pesaing;

e. Menetukan strategi harga;

f. Menyesuaikan harga akhir.

5. Tujuan Harga

Secara umum, penentuan harga mempertimbangkan batasan-batasan berikut:

a. Biaya bertujuan untuk mengendalikan keuntungan atau hanya untuk menutup menutup biaya;

b. Permintaan pasar bertujuan untuk mengendalikan (memperluas ataupun mempertahankan)

penjualan atau market-share.

c. Persaingan harga akan bertujuan untuk mengendalikan (mengatasi atau menghindari)

persaingan.

6. Strategi Harga

a. Strategi Harga Berorientasi Pada Biaya

Strategi harga yang berorientasi pada biaya didasarkan pada perhitungan biaya (tetap atau

variabel) dan penentuan target keuntungan yang diinginkan (target pengembalian investasi)

untuk dapat menetapkan harga. Penentuan harga dilakukan berdasarkan hal-hal berikut.

1. Tingkat keuntungan tertentu, yaitu:


Harga ditentukan menurut perhitungan biaya target keuntungan yang diharapkan.
2. Besarnya keuntungan merupakan persentase dari biaya (cost-plus), harga Perolehan

(mark-up), atau harga jualnya.


3. Melalui perilaku biaya (tetap ataupun variabel) dapat diperhitungkan tingkat atau volume

penjualan impas (break-even point).

b. Strategi Harga Berorientasi Pada Permintaan


Penetapan harga yang berorientasi pada permintaan akan mempertimbangkan kondisi

permintaan pasar. Harga akan diserap apabila ada permintaan. Dengan kata lain, harga dapat

ditetapkan sesuai menurut tingkat permintaannya. Dengan demikian, perusahaan perlu

memahami tingkat permintaan terhadap barang yang terbentuk. Dengan mempertimbangkan

permintaan pasar, strategi harga dapat diarahkan untuk mencapai tingkat atau penumbuhan

penjualan (market-share), mencakup:

Diskriminasi harga
Perceived value pricing

c. Strategi Harga Berorientasi Pada Persaingan

Harga dapat bertahan di pasar persaingan apabila produsen memerhatikan harga-harga

pesaingnya (price competition), terutama price leadernya. Produsen dapat menentukan harga

yang sama, di atas atau dibawah harga pesaingnya (going rate pricing). Adapun pada penawaran

pekerjaan secara lelang, harga ditetapkan dengan memperkirakan harga pesaingnya.

d. Kebijakan Harga Akhir

Harga yang sudah ditetapkan adakalanya perlu disesuaikan karena perubahan yang terjadi di

lingkungan pasar. Untuk melakukan antisipasi perubahan tersebut, perlu dilakukan kebijakan

harga. Penyesuaian harga (administered pricing) mempertimbangkan fleksibilitas, siklus produk,

potongan harga (diskon), jarak geografis antara penjual dan pembeli, product mix, dan harga

psikologis konsumen.

e. Metode Penetapan Harga

Menurut Ridwan Iskandar Sudayat, ada beberapa metode yang dapat digunakan sebagai

rancangan dan variasi dalam penetapan harga, yaitu sebagai berikut.

Harga didasarkan pada biaya total ditambah laba yang diinginkan (cost plus pricing

method). Metode harga ini adalah metode yang paling sederhana, yaitu penjualan atau
produsen menetapkan harga jual untuk satu barang yang besarnya sama dengan jumlah

biaya per unit ditambah jumlah untuk laba yang diinginkan (margin) pada tiap-tiap unit

tersebut. Formulanya menjadi:


Cost Plus Pricing Method = Biaya Total + Laba = Harga Jual
Harga yang berdasarkan keseimbangan antara permintaan dan suplai. Metode penetapan

harga yang lain adalah metode menentukan harga terbaik untuk mencabai laba optimal

melalui keseimbangan antara biaya dan permintaan pasar. Metode ini paling cocok bagi

perusahaan yang tujuan penetapan hargannya adalah memperoleh keuntungan maksimal.


2.3 Harga Pada Pasar Islami

Konsep Islam memahami bahwa pasar dapat berperan efektif dalam

kehidupan ekonomi bila prinsip persaingan bebas dapat berlaku secara

efektif. Pasar tidak mengharapkan adanya intervensi dari pihak manapun,

tak terkecuali negara dengan otoritas penentuan harga atau private sector

dengan kegiatan monopolistik ataupun lainnya. Karena pada dasarnya pasar

tidak membutuhkan kekuasaan yang besar untuk menentukan apa yang

harus dikonsumsi dan di produksi. Sebaliknya biarkan tiap invidu dibebaskan

untuk memilih sendiri apa yang dibutuhkan dan bagaimana memenuhinya.

Inilah pola normal dari pasar atau keteraturan alami dalam istilah Al-

Ghazali berkait dengan ilustrasi dari evolusi pasar. Selanjutnya Adam

Smith menyatakan serahkan saja pada invisible hand, dan dunia akan

teratur dengan sendirinya.

Dari pemahaman itu, harga sebuah komoditas (barang dan jasa)

ditentukan oleh permintaan dan penawaran, perubahan yang terjadi pada

harga berlaku juga ditentukan oleh terjadinya perubahan permintaan dan

perubahan penawaran. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh

Anas Ra bahwasanya suatu hari terjadi kenaikan harga yang luar biasa
dimasa Rasulullah Saw, maka sahabat meminta Nabi untuk menentukan

harga pada saat itu, lalu beliau bersabda yang artinya:

Bahwasanya Allah adalah Zat yang mencabut dan memberi

sesuatu, Zat yang memberi rezeki dan penentu harga.

Dengan demikian pemerintah tidak memiliki wewenang untuk

melakukan intervensi terhadap harga pasar dalam kondisi normal. Ibnu

Taimiyah menyatakan jika masyarakat melakukan tranasaksi jual beli dalam

kondisi normal tanpa ada bentuk distorsi atau penganiayaan apa pun dan

terjadi perubahan harga, maka ini merupakan kehendak Allah dan harus

diyakini, bahwa nilai konsep Islam tidak memberikan ruang intervensi dari

pihak manapun untuk menentukan harga.

2.4 Penetapan harga menurut Pemikiran Ilmuwan Muslim

Pada masa kenabian dalam dunia perdagangan Arab menjadi

kesepakatan bersama bahwa tingginya rendahnya permintaan terhadap

komoditas ditentukan oleh harga yang bersangkutan yang mana jika

tersedia sedikit barang maka harga akan mahal dan bila tersedia banyak

barang maka harga akan menjadi murah. Dalam pembahasan harga serta

hal-hal yang terkait mengungkapkan pendapat para ekonom Muslim yaitu

Abu Yusuf, Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah beserta Ibnu Khaldun.

a. Abu Yusuf

Seperti ahli ekonomi Islam yakni Abu Yusuf ulama pertama yang

menyinggung mekanisme pasar, ia meneliti peningkatan dan penurunan

produksi dalam kaitannya dengan perubahan harga. Fenomena umum inilah

yang kemudian dikritisi oleh Abu Yusuf. Pemahamannya tentang hubungan

antara harga dan kuantitas hanya memperhatikan kurva demand. Ia


membantah fenomena tersebut karena tidak selalu terjadi bahwa bila

persediaan barang sedikit harga akan mahal dan bila persediaan melimpah

harga akan menjadi murah. Fenomena yang berlaku pada amasa Abu Yusuf

dapat dijelaskan dalam teori permintaan yang mana teori ini menjelaskan

hubungan antara harga dengan banyaknya kuantitas yang diminta dapat

diformulasikan sebagai berikut:

D = Q = f (P)

Yang menunjukkan bahwa pengaruh harga terhadap jumlah

permintaan suatu komoditi adalah negatif, apabila terjadi kelangkaan barang

maka harga cenderung akan tinggi dan juga sebaliknya apabila barang

tersebut melimpah maka harga akan cenderung turun atau lebih rendah.

Sehingga hukum permintaan mengatakan bila harga komoditi naik akan

menyebabkan penurunan jumlah komoditi yamg dibeli dan juga jika harga

turun maka konsumen akan meningkatkan jumlah komoditi yang akan dibeli.

Karena pada kenyataannya tidak selalu terjadi bila persediaan sedikit

harga akan mahal dan jika persediaan melimpah harga akan murah. Dari

pernyataan tersebut Abu Yusuf menyangkal pendapat umum mengenai

hubungan terbalik antara persediaan barang (supply) dan harga karena pada

kenyataannya harga tidak bergantung pada permintaan saja tetapi juga

pada kekuatan penawaran. Dalam sebuah formulasi sederhana, hubungan

antara harga dengan jumlah komoditi dapat dilihat:

S = Q = f (p)

Bahwa pengaruh harga terhadap jumlah permintaan suatu komoditi

adalah positif, apabila harga naik maka permintaan juga akan naik begitu

sebaliknya jika harga turun maka permintaan akan turun. Sehingga dapat
kita simpulkan bahwa hukum penawaran mengatakan bila harga komoditi

naik makan akan direspon oleh penambahan jumlah komoditi yang

ditawarkan. Begitu juga bila harga komoditi turun akan direspon oleh

penurunan jumlah komoditi yang akan ditawarkan. Menurut Siddiqi ucapan

Abu Yusuf hatus diterima sebagai pernyataan hasil pemgamatannya pada

saat itu, yakni keberadaan yang bersamaan antara melimpahnya barang dan

tingginya harga serta kelangkaan barang dan harga rendah.

b. Al-Ghazali

Al-Ghazali telah menjabarkan secara rinci akan peranan aktivitas

perdagangan dan timbulnya pasar yang harganya bergerak sesuai dengan

kekuatan permintaan dan penawaran. Menurut Al-Ghazali pasar merupakan

bagian dari keteraturan alami secara rinci ia juga menerangkan

bagaimana evolusi terciptanya pasar.

Al-Ghazali tidak menolak kenyataan bahwa keuntunganlah yang

menjadi motif perdagangan. Dan pada saat lain ia menjabarkan pentingnya

peran pemerintah dalam menjamin keamanan jalur perdagangan demi

kelancaran perdagangan dan pertumbuhan ekonomi. Al-Ghazali tidak

menjelaskan permintaan dan penawaran dalam terminologi modern,

beberapa paragraf dalam tulisannya jelas menunjukkan bentuk kurva

penawaran dan permintaan. Untuk kurva penawaran naik dari kiri bawah ke

kanan atas dinyatakan oleh nya sebagai jika petani tidak mendapatkan

pembeli dan dan barangnya, ia akan menjualnya pada harga yang lebih

murah.
Al-Ghazali juga telah memahami konsep elastisitas permintaan:

Mengurangi margin keuntungan dengan menjual pada harga

yang lebih murah akan meningkatkan volume penjualan dan

ini pada gilirannya akan meningkatkan keuntungan.

c. Ibnu Taimiyah

Masyarakat pada masa Ibnu Taimiyah beranggapan bahwa

peningkatan harga merupakan akibat ketidakadilan dan tindakan melanggar

hukum dari pihak penjual atau mungkin sebagai akibat manipulasi pasar.

Anggapan ini dibantah oleh Taimiyah dengan tegas ia menyatakan bahwa

harga ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Selanjutnya ia

menyatakan bahwa naik dan turunnya harga tidak selalu disebabkan oleh

tindakan tidak adil dari sebagian orang yang terlibat transaksi.

Perubahan dalam penawaran digambarkan sebagai peningkatan atau

penurunan dalam jumlah barang yang ditawarkan, sedangkan permintaan

sangat ditentukan oleh selera dan pendapatan. Besar kecilnya kenaikan

harga bergantung pada besarnya perubahan penawaran dan atau

permintaan. Bila seluruh transaksi sudah sesuai aturan, kenaikan harga yang

terjadi merupakan kehendak Allah. Ibnu Taimiyah menentang peraturan

yang berlebihan ketika kekuatan pasar secara bebas bekerja untuk

menentukan harga yang kompetitif.

d. Ibnu Khaldun

Dalam bukunya Al-Muqoddimah ia menulis satu bab berjudul Harga-

harga di Kota yang mana Ibnu Khaldun membagi jenis barang menjadi dua

jenis yakni barang kebutuhan pokok dan barang pelengkap. Menurutnya bila

suatu kota berkembang dan selanjutnya populasinya bertambah banyak


(kota besar) maka perdagangan barang-barang kebutuhan pokok

mendapatkan prioritas. Supplay bahan pokok penduduk kota besar jauh

lebih besar dari pada supplay bahan pokok penduduk kota kecil. Menurut

Ibnu Khaldun penduduk kota besar memiliki supplay bahan pokok yang

melebihi kebutuhannya sehingga harga bahan pokok dilkota besar relatif

lebih murah. Sementara itu supplay bahan pokok di kota kecil relatif kecil,

karena itu orang-orang khawatir kehabisan makanan, sehingga harganya

relatif mahal.

Naiknya disposable income dapat meningkatkan marginal propensity

to consume (MPC) tehadap barang-barang mewah dari setiap penduduk

kota tersebut. Hal ini menciptakan permintaan baru atau peningkatan

permintaan terhadap barang-barang mewah, akibatnya harga barang

mewah akan meningkat pula.

Pada bagian lain dari bukunya, khaldun menjelaskan pengaruh naik

dan turunnya penawaran terhadap harga, ia mengatakan:

Ketika barang-barang yang tersedia sedikit, harga-harga

akan naik. Namun, bila jarak antar kota dekat dan aman untuk

melakukan perjalanan, akan banyak barang yang diimpor

sehingga ketersediaan barang akan melimpah, dan harga-

harga akan turun.

Dengan demikian Ibnu Taimiyah dan Ibnu Kahaldun juga sudah

mengidentifikasikan kekuatan permintaan dan penawaran sebagai penentu

keseimbangan harga.

2.5 Penetapan Harga Menurut Pandangan Islam


Setelah perpindahan (hijrah) Rasulullah SAW ke Madinah, maka beliau menjadi

pengawas pasar (muhtasib). Pada saat itu, mekanisme pasar sangat dihargai. Salah satu buktinya

yaitu Rasulullah SAW menolak untuk membuat kebijakan dalam penetapan harga, pada saat itu

harga sedang naik karena dorongan permintaan dan penawaran yang dialami.

Mekanisme penentuan harga dalam islam sesuai dengan Maqashid al-Syariah, yaitu

merealisasikan kemaslahatan dan menghindari kerusakan di antara manusia. Seandainya

Rasulullah saat itu langsung menetapkan harga, maka akan kontradiktif dengan mekanisme

pasar. Akan tetapi pada situasi tertentu, dengan dalih Maqashid al-Syariah, penentuan harga

menjadi suatu keharusan dengan alasan menegakkan kemaslahatan manusia dengan memerangi

distorsi pasar (memerangi mafsadah atau kerusakan yang terjadi di lapangan).

Dalam konsep islam, yang paling prinsip adalah harga ditentukan oleh keseimbangan

permintaan dan penawaran. Keseimbangan ini terjadi bila antara penjual dan pembeli bersikap

saling merelakan. Kerelaan ini ditentukan oleh penjual dan pembeli dan pembeli dalam

mempertahankan barang tersebut. Jadi, harga ditentukan oleh kemampuan penjual untuk

menyediakan barang yang ditawarkan kepada pembeli, dan kemampuan pembeli untuk

mendapatkan harga barang tersebut dari penjual.

Akan tetapi apabila para pedagang sudah menaikkan harga di atas batas kewajaran,

mereka itu telah berbuat zalim dan sangat membahayakan umat manusia,maka seorang penguasa

(Pemerintah) harus campur tangan dalam menangani persoalan tersebut dengan cara menetapkan

harga standar. Dengan maksud untuk melindungi hak-hak milik orang lain., mencegah terjadinya

penimbunan barang dan menghindari dari kecurangan para pedagang. Inilah yang pernah

dilakukan oleh Khalifah Umar bin Kattab.


Konsep mekanisme pasar dalam Islam dibangun atas prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Ar-Ridha, yakni segala transaksi yang dilakukan haruslah atas dasar kerelaan antara masing-

masing pihak.

2. Berdasarkan persaingan sehat (fair competition). Mekanisme pasar akan terhambat bekerja

jika terjadi penimbunan (ihtikar) atau monopoli. Monopoli setiap barang yang penahanannya

akan membahayakan konsumen atau orang banyak.

3. Kejujuran (honesty), kejujuran merupakan pilar yang sangat penting dalam Islam, sebab

kejujuran adalah nama lain dari kebenaran itu sendiri. Islam melarang tegas melakukan

kebohongan dan penipuan dalam bentuk apapun. Sebab, nilai kebenaran ini akan berdampak

langsung kepada para pihak yang melakukan transaksi dalam perdagangan dan masyarakat

secara luas.

4. Keterbukaan (transparancy) serta keadilan (justice). Pelaksanaan prinsip ini adalah

transaksi yang dilakukan dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan kehendak dan

keadaan yang sesungguhnya.

2.6 Urgensi Penetapan Harga

Drs. H. Asmuni Mth., MA Mengutarakan bahwa Ibnu Taimiyah membedakan dua tipe

penetapan harga: tak adil dan tak sah, serta adil dan sah. Penetapan harga yang tak adil dan tak

sah, berlaku atas naiknya harga akibat kompetisi kekuatan pasar yang bebas, yang

mengakibatkan terjadinya kekurangan suplai atau menaikkan permintaan. Ibnu Taimiyah sering

menyebut beberapa syarat dari kompetisi yang sempurna. Misalnya, ia menyatakan, Memaksa

penduduk menjual barang-barang dagangan tanpa ada dasar kewajiban untuk menjual,

merupakan tindakan yang tidak adil dan ketidakadilan itu dilarang. Ini berarti, penduduk

memiliki kebebasan sepenuhnya untuk memasuki atau keluar dari pasar. Sedangkan penetapan

harga yang adil dan sah sebagaimana pada penjelasan di atas yaitu penetapan harga diberlakukan
apabila ada kedzaliman dalam penentuan harga atau karena ada ketimpangan harga yang kiranya

diperlukan adanya tasir. Dan sah jika untuk kemashlahatan bersama.

Tak dapat dielakkan lagi bahwa penetapan harga sangat penting dan dibutuhkan sekali

pada saat terjadi monopoli, ketimpangan atau kedzaliman dalam penentuan harga pada suatu

pasar.

II.7 Penetapan Harga Pada Ketidaksempurnaan Pasar

Berbeda dengan kondisi musim kekeringan dan perang, Ibnu Taimiyah

merekomendasikan penetapan harga oleh pemerintah ketika terjadi ketidaksempurnaan

memasuki pasar. Misalnya, jika para penjual menolak untuk menjual barang dagangan mereka

kecuali jika harganya mahal dari pada harga normal (al-qimah al-marifah) dan pada saat yang

sama penduduk sangat membutuhkan barang-barang tersebut. Maka mereka diharuskan

menjualnya pada tingkat harga yang setara, contoh sangat nyata dari ketidaksempurnaan pasar

adalah adanya monopoli dalam perdagangan makanan dan barang-barang serupa.

2.8 Musyawarah Untuk Menetapkan Harga

Jadi, meskipun dalam berbagai kasus dibolehkan mengawasi harga, tapi dalam seluruh

kasus tak disukai keterlibatan pemerintah dalam menetapkan harga. Mereka boleh melakukannya

setelah melalui perundingan, diskusi dan konsultasi dengan penduduk yang berkepentingan.

Dalam hubungannya dengan masalah musyawarah penetapan harga, Ibnu Taimiyah

menjelaskan sebuah metode yang diajukan pendahulunya Ibnu Habib, menurutnya Imam (kepala

pemerintahan) harus menjalankan musyawarah dengan para tokoh perwakilan dari pasar (wujuh

ahl al-suq). Pihak lain juga diterima hadir dalam musyawarah ini, karena mereka harus juga

dimintai keterangannya. Setelah melakukan perundingan dan penyelidikan tentang pelaksanaan

jual-beli dan pemerintah harus secara persuasif menawarkan ketetapan harga yang didukung oleh

peserta musyawarah dan juga seluruh penduduk. Jadi, keseluruhannya harus bersepakat tentang
hal itu, harga itu tak boleh ditetapkan tanpa persetujuan dan izin mereka. Untuk menjelaskan

tujuan gagasan membentuk komisi untuk berkonsultasi, ia mengutip pendapat ahli fikih lainnya

Abu al-Walid, yang menyatakan, Logika di balik ketentuan ini adalah untuk mencari dengan

cara itu- kepentingan para penjual dan para pembeli, dan menetapkan harga harus membawa

keuntungan dan kepuasan orang yang membutuhkan penetapan harga (penjual) dan tidak

mengecewakan penduduk (selaku pembeli).

Jika harga itu dipaksakan tanpa persetujuan mereka (penjual) dan membuat mereka tidak

memperoleh keuntungan, maka penetapan harga seperti itu berarti korup yang mengakibatkan

stok bahan kebutuhan sehari-hari akan menghilang dan barang-barang penduduk menjadi

hancur. Harga itu perlu ditetapkan melalui musyawarah bersama dan diciptakan oleh rasa

kewajiban moral serta pengabdian untuk kepentingan umum.

2.9 Penetapan Harga Dalam Sistem Perekonomian Modern

Sebagaimana yang dimuat zonaekis.com (web khusus membahas ekonomi Islam)

bahwa secara teoritis tidak ada perbedaan signifikan antara perekonomian klasik dengan

modern. Teori harga secara mendasar sama, yakni bahwa harga wajar atau harga

keseimbangan diperoleh dari interaksi antara kekuatan permintaan dan penawaran (suplai)

dalam suatu persaingan sempurna, hanya saja dalam perekonomian modern teori dasar ini

berkembang menjadi kompleks karena adanya diversifikasi pelaku pasar, mekanisme

perdagangan, instrumen, maupun perilakunya, yang mengakibatkan terjadinya distorsi

pasarDistorsi pasar yang kompleks dalam sistem perekonomian modern melahirkan

persaingan tidak sempurna dalam pasar. Secara sunnatullah memang, apabila persaingan

sempurna berjalan, keseimbangan harga di pasar akan terwujud dengan sendirinya. Namun

sunnatullah pula, bahwa manusia dalam hal ini sebagai pelaku pasar tidaklah sempurna.

Maka dalam praktek, banyak dijumpai penyimpangan perilaku yang merusak keseimbangan
pasar. Di Indonesia misalnya, secara rasional keseimbangan pasar dirusak oleh konglomerasi

dan monopoli yang merugikan masyarakat konsumen, penimbunan BBM maupun beras dan

kasus terakhir bebas masuknya gula dan beras impor yang dimasukkan oleh pelaku bermodal

besar, sehingga suplai gula di pasar menjadi tinggi dan akhirnya turunlah harga jualnya di

bawah biaya produksinya. Kasus ini jelas merugikan petani tebu dan pabrik gula lokal. Dalam

ekonomi liberal atau bebas, kasus ini sah dan dibenarkan atas prinsip bahwa barang bebas

keluar masuk pasar dan kebebesan bagi para pelaku pasar untuk menggunakan modalnya.

Dan pemerintah atau negara tidak berhak melakukan intervensi terhadap pasar.

Pada kasus-kasus di atas, bisa diselesaikan secara adil apabila negara melakukan

intervensi pasar, misalnya dengan memaksa penimbun untuk menjual barangnya ke pasar

dengan harga wajar, menetapkan harga yang adil sehingga pelaku monopoli tidak bisa

menaikkan harga seenaknya. Para ahli ekonomi modern pun menganjurkan negara untuk

menetapkan harga dalam kasus-kasus tertentu seperti di atas.

Secara pasti di Indonesia pernah dilakukan penetapan harga seperti yang pernah

ditetapkan Presiden Abdurrahman Wachid pada harga gabah di negara ini. Penetapan harga

tersebut tertuang dalam Inpres RI No. 8 Tahun 2000 Tentang Penetapan Harga Dasar

Gabah Serta Harga Pembelian Gabah dan Beras.

Kenaikan harga yang disebabkan oleh ketidaksempurnaan pasar dalam suatu

perekonomian modern, terdiri atas beberapa macam berdasarkan pada penyebabnya, yakni

harga monopoli, kenaikan harga sebenarnya, dan kenaikan harga yang disebabkan oleh

kebutuhan-kebutuhan pokok. Untuk itu adalah peran pemerintah untuk melakukan intervensi

pasar dalam rangka mengembalikan kesempurnaan pasar, salah satunya adalah dengan

menetapkan harga pada keempat kondisi di atas.


Dalam rangka melindungi hak pembeli dan penjual, Islam membolehkan bahkan

mewajibkan melakukan intervensi harga. Ada beberapa faktor yang membolehkan intervensi

harga antara lain :

a. Intervensi harga menyangkut kepentingan masyarakat yaitu melindungi penjual dalam hal profit

margin sekaligus pembeli dalam hal purchasing power.

b. Jika harga tidak ditetapkan ketika penjual menjual dengan harga tinggi sehingga merugikan

pembeli.

c. Intervensi harga melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas karena pembeli biasanya

mewakili masyarakat yang lebih luas, sedangkan penjual mewakili kelompok yang lebih kecil.

Mekanisme tasir telah dibicarakan diatas, sedangkan secara konkretnya adalah pemerintah

berupaya menyediakan komoditas dimaksud dan menyesuaikannya dengan permintaan pasar.

Sebaliknya, apabila stok barang cukup banyak di pasar, tetapi harga tetap melonjak naik, maka

pihak pemerintah perlu melakukan pengawasan yang ketat. Apabila kenaikan harga ini

disebabkan ulah para pedagang, misalnya dengan melakukan penimbunan barang dengan tujuan

menjualnya setelah terjadi lonjakan harga, pemerintah berhak untuk mematok harga.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Jadi harga suatu barang adalah tingkat pertukaran barang itu dengan barang lain.

Dimana harga terbentuk untuk memenuhi tujuan dua pihak, yaitu produsen dan konsumen.

Produsenmemandanghargasebagainilaibarangyangmampumemberikanmanfaatkeuntungan

diatasbiayaproduksinya(atautujuanlain,misalnyakeuntungan).Konsumenmemandangharga

sebagai nilai barang yang mampu memberikan manfaat atas pemenuhan kebutuhan dan

keinginannya(misalkanhemat,prestise,syaratpembayaran,dansebagainya).

DalamkonsepperspektifIslam,hargadisiniditentukanolehkeseimbanganpermintaan

danpenawaran.Dimanakeseimbanganiniterjadibilaantarapenjualdanpembelibersikapsaling

merelakan.Akantetapiapabilaparapedagangsudahmenaikkanhargadiatasbataskewajaran,

merekaitutelahberbuatzalimdansangatmembahayakanumatmanusia,makaseorangpenguasa

(Pemerintah)haruscampurtangandalammenanganipersoalantersebutdengancaramenetapkan

hargastandar.

Dengan kata lain, bahwa penetapan harga (tasir) pada suatu perdagangan dan bisnis

diperbolehkan jika di dalamnya terdapat kemungkinan adanya manipulasi sehingga berakibat

naiknya harga. Jadi praktek tasir di Indonesia sudah pernah dilakukan seperti penetapan harga
dasar gabah dan beras pada zaman pemerintahan Presiden Abdurrahman Wachid yang tertuang

dalam Inpres RI No. 8 Tahun 2000 Tentang Penetapan Harga Dasar Gabah Serta Harga

Pembelian Gabah dan Beras.

3.2 Saran

Dari penyusunan makalah ini, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan sebagai

masukan untuk meningkatkann khazanah keilmuan terutama yang berkaitan dengan rujukan

referensidalamkaitannyadenganperspektifsyariahterhadappenetapanhargadisini.Jadidalam

halinisarantersebutantaralain:

1. Kurangnyakontribusiilmiahsecarateoritisyangmenjadirujukanataureferensiyang

relevandengankondisiekonomimasyarakatmasakini,baiksecarahukumIslam

maupunsecarahukumpositif.
2. HendaknyaPemerintahmelaluiBdanPembinaanHukumNasionalsesegeramungkin

mengatur jual beli dalam rangka penetapan harga dasar yang sesuai dengan

mekanisme syariah yang relevan terhadap iklim ekonomi di Indonesia, sehingga

masyarakatdapatmengimplementasikannyadenganbaikdanbenar.
DAFTARPUSTAKA

AbdulWahabKholab,KaidahHukumIslam,Jakarta:RajawaliPress,1993
AdiwarmanAzwarKarim,EkonomiMikroIslamEdisiKetiga,Jakarta:PT.Raja

GrafindoPersada,2008
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Edisi Ketiga,

Jakarta:PT.RajaGrafindoPersada,2006
Asmuni. Penetapan Harga dalam Islam: Perpektif Fikih dan Ekonomi di

http://shariaeconomy.blogspot.com/2008/07/penetapan-harga-dalam-islam-

perpektif.html
As-Suyuthi, Imam Jalaluddin. Al-Asybah wa An-Nadhair. Maktabah Ats-Tsaqafi Li

An-Nasyri WA At-Tauzi : Kairo di

http://www.eramuslim.com/konsultasi/fikih-kontemporer/pematokan-harga.htm

Inpres RI No. 8 Tahun 2000 Tentang Penetapan Harga Dasar Gabah Serta Harga

Pembelian Gabah dan Beras yang diunduh dari

http://www.tempointeraktif.com/hg/peraturan/2004/04/07/prn,20040407-03,id.html
http://zonaekis.com/penetapan-harga-dalam-sistem-perekonomian-modern#more-

327