Anda di halaman 1dari 20

TUGAS KEPERAWATAN KOMUNITAS III

SATUAN ACARA PENYULUHAN DIET DIABETES MELITUS

OLEH SGD 4

Ni Putu Giri Karmany (1302105010)

Dewa Ayu Made Yuni Maryastuti (1302105030)

Ni Made Karisma Wijayanti (1302105032)

Ni Putu Lilik Cahyani (1302105052)

Dewa Ayu Made Indah Kristianti (1302105062)

K. Arsta Kusma Jaya (1302105063)

Ni Made Yuli Kusuma Dewi (1302105066)

Wayan Sri Utami Dewi (1302105069)

Putu Ari Sintya Dewi (1302105070)

I Gusti Ayu Anga Sukmanti (1302105081)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

2016
SANTUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Diabetes Melitus Tipe 2


Sub Topik : Tatalaksana Diet DM Tipe 2
Sasaran : Keluarga dan Lansia DM Tipe 2 di Puskesmas Denpasar Utara III
Tempat : Puskesmas Denpasar Utara III
Hari/tanggal : Selasa, 19 April 2016
Waktu : 40 menit
Penyaji : Kelompok IV Program Studi IlmuKeperawatan UNUD

A. Latar belakang
Diabetes Mellitus merupakan suatu sindrom dengan terganggunya
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh kurangnya sekresi
insulin atau penurunan sensitivas jaringan terhadap insulin (Guyton dan Hall,
2007).Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi
produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh
kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin. Diabetes Mellitus diklasifikasikan
menjadi Diabetes Mellitus tipe 1, Diabetes Mellitus tipe 2, Diabetes Gestasional dan
Diabetes Mellitus tipe lain. Diabetes Mellitus tipe 1 hanya 5-10% dari populasi pasien
Diabetes Melitus, Diabetes Mellitus tipe 2 sejumlah 90-95% dari populasi pasien
Diabetes Melitus. Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan tipe diabetes yang paling
sering terjadi. Diabetes Gestasional merupakan intoleransi derajat glukosa onset
selama kehamilan (ADA, 2012).Diabetes merupakan masalah kesehatan yang serius
karena morboditas dan mortalitas yang tinggi. Indonesia termasuk satu dari 10 negara
dengan jumlah pasien diabetes terbanyak (Mihardja, Soetrisno, & Soegondo, 2014).
Prevalensi diabetes di dunia akan meningkat sangat cepat pada rentang usia
20-79 tahun sebesar 6,4% (285 juta) pada tahun 2010, dan akan meningkat hingga
7,7% (439 juta) pada tahun 2030. Prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia 4,6%,
terdiri dari 1,1% telah didiagnosa Diabetes Melitus, dan 3,5% tidak terdiagnosis
Diabetes Mellitus (Mihardja, Soetrisno, & Soegondo, 2014). Menurut IDF (2015),
prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia sebesar 10 juta kasus. Prevalensi yang terus
meningkat memerlukan penatalaksanaan yang cepat dan tepat. Penatalaksanaan
Diabetes Mellitus pada umumnya menggunakan empat pilar penatalaksanaan
Diabetes Mellitus.
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus dapat dilakukan dengan empat pilar
penatalaksanaan yang meliputi : penyuluhan (edukasi),latihan jasmani, pengelolaan
farmakologis dan terapi gizi. Edukasi tentang Diabetes Mellitus adalah pendidikan
dan latihan mengenai pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan diabetes yang
diberikan kepada setiap pasien diabetes dan juga diberikan kepada anggota
keluarganya, kelompok masyarakat berisiko tinggi dan pihak-pihak perencana
kebijakan kesehatan (Ndraha, 2014).Dalam pengelolaan diabetes, latihan jasmani
yang teratur juga memegang peranan yang penting. Manfaat latihan jasmani yang
teratur pada diabetes adalah memperbaiki metabolisme atau menormalkan kadar
glukosa darah dan lipid darah, meningkatkan kerja insulin (Haeria, 2009).Sarana
pengelolaan farmakologis diabetes mellitus dapat berupa Obat Hipoglikemik Oral
(OHO).Karena penting bagi pasien untuk pemeliharaan pola makan yang teratur,
maka penatalaksanaan dapat dilakukan dengan perencanaan makanan yang bertujuan
untuk mempertahankan kadar glukosa darah dan lipid dalam batas-batas normal,
menjamin nutrisi yang optimal untuk pertumbuhan anak dan remaja, ibu hamil dan
janinnya (PERKENI, 2006). Namun seringkali manajemen diet yang dilaksanakan
pasien tidak optimal.
Berdasarkan penelitian Susanti dan Sulistyarini (2013) di Rumah Sakit Baptis
Kediri dengan wawancara pada 10 orang pasien Diabetes Mellitus didapatkan 7 orang
(70%) pasien Diabetes Mellitus yang tidak patuh diet karena dukungan keluarga
kurang, dan 3 orang (30%) pasien Diabetes Mellitus yang patuh karena ada dukungan
keluarga. Sebagianbesar individudengandiabetes, tidak mengetahui bagian
darirencana perawatandalam menetukanjenis dan pola makan yang baik dan benar
untuk diri mereka. Bukti terbaru menunjukkan bahwamenggunakanpola dietuntuk
modelpendekatan dapat menawarkanmanfaat kesehatanyang lebih besar, sepertipola
diet yang disarankan untukmenawarkanrepresentasiyang lebih luasdariasupan
makanandantelah terbuktipadaefek kesehatan dan risiko penyakit(Murray et al.,
2013).
Ketidakefektifan manajemen diet bagi pasien diabetes mellitus disebabkan
oleh banyak faktor. Menurut Juniarti (2014) dapat diketahui frekuensi responden
tingkat pengetahuan dengan kepatuhan diet yang pengetahuannya kurang dan tidak
patuh dalam diet sebanyak 16 responden (80,0%), sedangkan yang patuh dalam diet
sebanyak 4 responden (20,0%) (Juniarti, 2014). Menurut Susanti dan Sulistyarini
(2013) menjelaskan bahwa dukungan keluarga dapat meningkatkan kepatuhan diet
pada pasien Diabetes Mellitus. Hal ini disebabkan karena adanya dukungan
keluarga yang baik dalam menjalani terapi diet menjadikan pasien Diabetes
Mellitus menjadi termotivasi untuk menjalani pola makan seimbang. Dalam
penelitian ini, pasien Diabetes Melitus merasakan bahwa keluarganya telah
mampu mewujudkan dukungan keluarga baik secara dukungan informasional,
dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan penilaian. Dalam
penelitian lainnya, pasien yang tidak patuh terhadap rekomendasi diet disebabkan
kurangnya informasi, ketidakmauan, kurang support dari suami atau istri dan
keluarga, persepsi kesehatan yang salah, pengalaman sebelumnya dengan penyakit
kronis dan masalah finasial (Ganiyu et al., 2013). Ketidakpatuhan terhadap
rekomendasi diet yang diberikan seringkali menimbulkan dampak buruk bagi pasien
Diabetes Mellitus.
Manajemen diet diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat
menimbulkan komplikasi akutdan kronis.Pada kondisi akut dapat terjadi
hipoglikemia.Pada hipoglikemia, kadar glukosa plasma penderita kurang dari 50
mg/dl. Serangan hipoglikemia pada penderita diabetes umumnya terjadi apabila
penderita lupa atau sengaja meninggalkan makan (pagi, siang atau malam), makan
terlalu sedikit dari yang disarankan oleh dokter atau ahli gizi, berolah raga terlalu
berat, mengkonsumsi obat antidiabetes dalam dosis lebih besar dari pada seharusnya.
Sedangkan hiperglikemia adalah keadaan dimana kadar gula darah melonjak secara
tiba-tiba. Keadaan ini dapat disebabkan antara lain oleh stress, infeksi, dan
ketidakpatuhan dalam diet (Depkes RI, 2005). Keluarga sebagai support system bagi
pasien memegang peranan penting untuk mencegah terjadinya dampak negatif dari
manajemen diet yang kurang tepat pada pasien Diabetes Mellitus.Pemberian
informasi yang tepat berupa daftar makanan yang dianjurkan pada pasien dapat
membantu pasien dan keluarga dalam menerapkan manajemen diet yang sesuai
(Susanti & Sulistyarini, 2013).Pasien dan keluarga diharapkan mendapatkan informasi
secara mudah sehingga dapat meningkatkan kepatuhan diet pada pasien.Informasi
yang diharapkan dapat diperoleh di layanan primer yaitu Puskesmas.
Pendidikan kesehatan dengan menggunakan metode dan media yang tepat
diyakini dapat meningkatkan tingkat pengetahuan pasien dan keluarga. Pemberian
pendidikan kesehatan dapat menggunakan metode ceramah yang akan
menjelaskaninformasi dengan lisan dapat disertai dengan tanya jawab, diskusi kepada
sekelompok pendengar.Media video edukasi sebagai sarana audiovisual dapat
memberikan informasi lebih menarik kepada audiens (Saputri, 2014).Flipchart
merupakan media gambar yang menarik dan bermanfaat dalam penanaman konsep
(Anitah, 2008) dan dapat dibawa pulang oleh pasien dan keluarga sebagai reminder
di rumah. Flipchart yang diberikan pada pasien dan keluarga Diabetes Melitus berisi
daftar makanan yang dianjurkan bagi pasien Diabetes Mellitus. Berdasarkan hal
tersebut maka diperlukan penyuluhan mengenai diet pada pasien diabetes mellitus.
B. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan selama 1 x 40 menit, klien dan keluarga dapat
mengetahui dan memahami tentang diet yang sehat bagi penderita diabetes mellitus
(DM).
C. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti proses penyuluhan 1 x 40 menit klien dan keluarga dapat :
1. Menyebutkan tujuan melakukan diet bagi penderita DM tipe 2
2. Menyebutkan syarat syarat diet bagi penderita DM tipe 2
3. Menyebutkan hal yang perlu diperhatikan dalam memilih makanan
4. Menyebutkan tips untuk mengontrol DM tipe 2
D. Sasaran
Lansia dengan DM tipe 2 dan Keluarga
E. Materi
(Terlampir)
F. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi / Tanya Jawab
G. Media
1. Flipbook : Menu diet pada lansia penderita DM tipe 2
2. Video edukasi: Tentang pendidikan kesehatan DM tipe 2
3. Laptop & LCD: Presentasi tentang penerapan tatalaksana diet pada lansia
penderita DM tipe 2
H. Pengorganisasian kelompok
Pembawa acara : Mengawali / membuka acara, mengatur
jalannya acara
Moderator : Mengatur jalannya diskusi
Penyaji : Menyajikan materi
Fasilitator : Mendampingi peserta penyuluhan
Observer : Mengobservasikan jalannya penyuluhan
tentang ketepatan waktu, dan ketepatan
masingmasing peran
Notulen : Mencatat seluruh proses kegiatan penyuluhan
kesehatan

Pengorganisasian
Pembawa acara : Ni Made Karisma Wijayanti (1302105032)
Moderator : Putu Ari Sintya Dewi (1302105070)
Penyaji : Ni Putu Giri Karmany (1302105010)
Fasilitator : I Gusti Ayu Angga Sukmaniti (1302105081)
Observer : Ni Made Yuli Kusuma Dewi(1302105066)
Notulen : Ni Putu Lilik Cahyani (1302105052)
I. Setting tempat

Keterangan gambar:

: Penyaji : Observer

: Moderator : Notulen

: Fasilitator : Peserta

J. Pendanaan
Kerjasama dengan pihak Puskesmas Denpasar Utara III
K. Kriteria evaluasi
1. Evaluasi struktur
- Peserta hadir ditempat penyuluhan
- Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Puskesmas Denpasar Utara III
- Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya
2. Evaluasi proses
- Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
- Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan sebelum kegiatan
selesai
- Peserta terlibat aktif dalam kegiatan penyuluhan seperti mengajukan
pertanyaan
3. Evaluasi hasil
- Peserta dapat menyebutkan tujuan melakukan diet bagi penyandang DM Tipe
2
- Peserta dapat menyebutkan syarat-syarat diet bagi penyandang DM Tipe 2
- Peserta dapat menyebutkan hal yang perlu diperhatikan dalam memilih
makanan
- Peserta dapat menyebutkan tips untuk mengontrol DM Tipe 2
L. Kegiatan penyuluhan

NO WAKTU KEGIATAN PENYULUH KEGIATAN PESERTA


1 5 Menit Pembukaan :
Membuka Kegiatan Dengan Menjawab Salam
Mengucapkan Salam
Mendengarkan
Memperkenalkan Diri
Memperhatikan
Menjelaskan Tujuan Dari
Penyuluhan Memperhatikan
Menyebutkan Materi Yang
Akan Diberikan
Menjawab Pertanyaan
Melakukan Pretesr
Menjawab Pertanyaan
Apersepsi
2 20 Menit Pelaksanaan :
Menjelaskan definisi diabetes Memperhatikan
melitus
Menjelaskan etiologi/penyebab
Memperhatikan
diabetes mellitus
Menjelaskan gejala diabetes
Memperhatikan
mellitus
Menjelaskan penatalaksanaan
diabetes mellitus Memperhatikan
Pemutaran video
Menjelaskan jenis diet diabetes
Memperhatikan
mellitus DM tipe II
Menjelaskan sajian list menu Memperhatikan

diet DM tipe II
Memberikan kesempatan Memperhatikan
peserta untuk bertanya
Bertanya dan menjawab
pertanyaan yang diajukan
3 10 Menit Evaluasi :
Menanyakan Kepada Peserta Menjawab Pertanyaan
Tentang Meteri Yang Telah
Diberikan, Dan Reinforcement
Kepada Keluarga Yang Dapat
Menjawab Pertanyaan. Menjawab Pertanyaan
Melakukan Posttest
4 5 Menit Terminasi :
Mendengarkan
Mengucapkan Terima Kasih
Atas Peran Serta Peserta Menjawab Salam
Mengucapkan Salam Penutup Menerima flipbook
pembagian flipbook menu
LAMPIRAN MATERI

A. Diabetes Melitus
Diabetes Mellitus merupakan suatu sindrom dengan terganggunya
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh kurangnya sekresi
insulin atau penurunan sensitivas jaringan terhadap insulin (Guyton & Hall,
2007).Diabetes dibedakan menjadi Diabetes Mellitus tipe 1, Diabetes Mellitus tipe 2,
Diabetes Gestasional dan Diabetes Tipe lain. Diabetes tipe 1 biasanya hanya termasuk
5-10% dari jenis diabetes yang ada yang disebabkan oleh destruksi autoimun sel
yang mengakibatkan defisiensi insulin yang absoulut. Diabetes tipe 2 merupakan tipe
diabetes yang 90-95% yang paling sering pada populasi diabetes dan terjadi resistensi
insulin relative. Beberapa bentuk diabetes disertai dengan kerusakan fungsi sel yang
seringkali ditandai dengan hiperglikemia pada usia muda (umumnya sebelum usia 25
tahun). Diabetes Gestasional didefinisikan sebagai intoleransi derajat glukosa dengan
onset selama kehamilan (ADA, 2012).
Beberapa faktor resiko dari diabetes mellitus adalah sebagai berikut :
1. Keturunan
Sekitar 50 % pasien diabetes tipe 2 mempunyai orangtua yang menderita diabetes,
dan lebih sepertiga pasien diabetes mempunyai saudara yang mengidap diabetes.
Sedangkan untuk diabetes tipe 1, sekitar 20 % terjadi pada penderita dengan
riwayat keluarga terkena diabetes dan 80 % terjadi pada penderita yang tidak
memiliki riwayat keluarga dengan diabetes(Brunner dan Suddarth, 2001).
2. Ras atau Etnis
Beberapa ras tertentu, seperti suku indian di Amerika, Hispanik, dan orang
Amerika di Afrika, mempunyai resiko lebih besar terkena diabetes tipe
2.Sedangkan diabetes tipe 1 sering terjadi pada orang Finlandia dengan presentase
mencapai 40 %. (Brunner dan Suddarth, 2001)
3. Usia
Pada diabetes tipe 1, usia muda merupakan awal terjadinya penyakit tersebut,
sedangkan pada diabetes tipe 2 umur puncak berada pada usia diatas 45 tahun.
4. Obesitas
Lebih dari 8 diantara 10 penderita diabetes tipe 2 adalah mereka yang mengalami
kegemukan. Makin banyak jaringan lemak, jaringan tubuh dan otot akan makin
resisten terhadap kerja insulin, terutama bila lemak tubuh atau kelebihan berat
badan terkumpul didaerah sentral atau perut. Lemak ini akan memblokir kerja
insulin sehingga glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel dan menumpuk dalam
peredaran darah. (Guyton dan Hall, 2007)
5. Sindroma Metabolik
Menurut WHO dan National Cholesterol Education Program : Adult Treatment
Panel III, orang yang menderita sindroma metabolic adalah mereka yang punya
kelainan seperti : tekanan darah tinggi lebih dari 160/90mmHg, trigliseridaa darah
lebih dari 150mg/dl, kolesterol HDL <40 mg/dl, obesitas sentral dengan BMI
lebih dari 30, lingkar pinggang melebihi 102 cm pada pria atau melebihi 88 cm
pada wanita, atau sudah terdapat mikroalbuminuria.
6. Kurang Gerak Badan
Olahraga atau aktivitas fisik membantu untuk mengontrol berat badan. Glukosa
darah dibakar menjadi energi, sel-sel tubuh menjadi lebih sensitive terhadap
insulin.peredaran darah lebih baik dan resiko terjadinya diabetes tipe 2 akan turun
sampai 50%.
7. Faktor Kehamilan
Diabetes pada ibu hamil dapat terjadi pada 2-5 % kehamilan. Biasanya diabetes
akan hilang setelah anak lahir. Ibu hamil dengan diabetes dapat melahirkan bayi
besar dengan berat badan lebih dari 4 kg. Apabila ini terjadi, sangat besar
kemungkinan si ibu akan mengidap diabetes tipe 2 kelak.
Beberapa faktor resiko dari diabetes mellitus adalah sebagai berikut :
1. DM tipe 2 merupakan tipe diabetes yang lebih umum, lebih banyak penderitanya
dibandingkan dengan DM tipe 1. Penderita DM tipe 2 mencapai 90-95% dari
keseluruhan populasi penderita DM. Umumnya berusia diatas 45 tahun. Faktor
genetik dan pengaruh lingkungan cukup besar dalam menyebabkan DM tipe 2,
antara lain obesitas, diet tinggi lemak dan rendah serat, serta kurang gerak badan.
2. Berbeda dengan DM tipe 1, pada penderita DM tipe 2, terutama yang berada pada
tahap awal, umumnya dapat dideteksi jumlah insulin yang cukup didalam
darahnya. Disamping kadar glukosa yang juga tinggi. DM tipe 2 bukan
disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin, tetapi karena sel-sel sasaran insulin
gagal atau tidak mampu merespon insulin secara normal.

Tanda dan Gejala Diabetes Melitus


Gejala diabetes dapat dikelompokkan menjadi dua,yaitu :
a. Gejala Akut
Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi tiga serba banyak yaitu:
- Banyak makan (polifagia)
- Banyak minum (polidipsi)
- Banyak kencing (poliuria)
Dalam fase ini biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus
bertambah, karena pada saat itu jumlah insulin masih mencukupi. Apabila keadaan
ini tidak segera diobati maka akan timbul keluhan lain yang disebabkan oleh
kurangnya insulin. Keluhan tersebut diantaranya:
- nafsu makan berkurang
- banyak minum
- banyak kencing
- berat badan turun dengan cepat
- mudah lelah
- bila tidak segera diobati,penderita akan merasa mual bahkan penderita akan jatuh
koma (koma diabetik).
b. Gejala Kronik
Gejala kronik akan timbul setelah beberapa bulan atau beberapa tahun setelah
penderita menderita diabetes. Gejala kronik yang sering dikeluhkan oleh
penderita, yaitu:
- Kesemutan
- Kulit terasa panas
- Terasa tebal dikulit
- Kram
- Lelah
- Mudah mengantuk
- Mata kabur
- Gatal disekitar kemaluan
- Gigi mudah goyah dan mudah lepas
- Kemampuanseksual menurun
- Bagi penderita yang sedang hamil akan mengalami keguguran atau kematian janin
dalam kandungan atau berat bayi lahir lebih dari 4 k

Secara umum, penatalaksanaan diabetes mellitus memiliki prinsip yang sama yaitu
dengan 4 pilar. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus dapat dilakukan sebagai berikut
( Haeria, 2009) :
a. Terapi diet
Diet merupakan kunci utama sutu keberhasilan penatalaksanaan diabetes mellitus.
Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi gizi yang seimbang sesuai
dengan kecukupan gizi baik berikut ini :
- Karbohidrat : 60 70 %
- Protein : 10 15 %
- Lemak : 20 25 %
- Kolesterol : lebih dari 300 mg perhari
- Serat : 25 mg perhari
b. Olahraga
Olah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah tetap
normal. Olah raga yang disarankan adalah yang CRIPE ( continuous, rhythmical,
interval, progressive, endurance training ). Olah raga yang dilakukan sedapat
mungkin mencapai zona sasaran 75 85% denyut nadi maksimal. Olah raga akan
memperbanyak jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh juga
meningkatkan penggunaan glukosa.
c. Terapi obat
Terapi obat berupa insulin, obat hipoglikemk oral (golongan sulfonylurea,
meglitinida, turunan fenilalanin, biguanidina, tiazolidindion, inhibitor -glukosidase),
atau kombinasi keduanya.
d. Edukasi
Upaya edukasi dilakukan secara komphrehensif dan berupaya meningkatkan motivasi
pasien untuk memiliki perilaku sehat. Tujuan dari edukasi diabetes adalah mendukung
usaha pasien penyandang diabetes untuk mengerti perjalanan alami penyakitnya dan
pengelolaannya, mengenali masalah kesehatan/komplikasi yang mungkin timbul
secara dini/ saat masih reversible, ketaatan perilaku pemantauan dan pengelolaan
penyakit secara mandiri, dan perubahan perilaku/kebiasaan kesehatan yang
diperlukan. Edukasi pada penyandang diabetes meliputi pemantauan glukosa
mandiri, perawatan kaki, ketaatan pengunaan obat-obatan, berhenti merokok,
meningkatkan aktifitas fisik, dan mengurangi asupan kalori dan diet tinggi lemak
(Ndraha, 2014).
Tujuan utama dalam penanganan diabetes bagi pasien adalah kadar glukosa
yang terkontrol dan menurunkan risiko terjadinya komplikasi (Miller & DMatteo,
2013). Follow up yang rutin bagi pasien diabetes penting untuk mencegah
komplikasi jangka panjang. Beberapa penelitian menemukan rendahnya kepatuhan
pasien terhadap regimen terapi karena kurang peduli dengan penyakitnya
(Shrivastava, ShrivastavaPS,& Ramasamy, 2014). Lebih 90% pasien merawat dirinya
sendiri, sehingga kemampuan pasien dalam perilaku pemeliharaan kesehatan
memegang peranan penting dalam manajemen diabetes. Namun di penelitian lainnya
menegaskan bahwa dukungan sosial juga dapat menjadi hambatan dalam self-
management. Pada pasien penyakit kronis seperti diabetes, tingkat ketidakpatuhan
sebesar 50% atau lebih. Pada anak anak dan remaja sebesar 50-70% tidak patuh
terhadap medikasi (Miller & DMatteo, 2013). Pada penelitian Tiv et al. (2012)
bahkan di negara dengan kualitas akses kesehatan yang sangat baik pun menemukan
level yang rendah pada kepatuhan terhadap medikasi pada pasien diabetes mellitus
tipe 2 (Tiv et al., 2012).
Penatalaksanaan yang kurang tepat dapat menimbulkan hiperglikemia yang
terjadi dari waktu ke waktu dapat menyebabkan kerusakan berbagai system tubuh
terutama syaraf dan pembuluh darah. Beberapa konsekuensi dari diabetes yang sering
terjadi adalah (Rikesdas 2013; Kemenkes RI 2014):
- Meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke.
- Neuropati (kerusakan syaraf) di kaki yang meningkatkan kejadian ulkus kaki,
infeksi dan bahkan keharusan untuk amputasi kaki
- Retinopati diabetikum, yang merupakan salah satu penyebab utama kebutaan,
terjadi akibat kerusakan pembuluh darah kecil di retina.
- Diabetes merupakan salah satu penyebab utama gagal ginjal
- Risiko kematian penderita diabetes secara umum adalah dua kali lipat
dibandingkan bukan penderita diabetes.
Dengan pengendalian metabolisme yang baik, menjaga agar kadar gula darah
berada dalam kategori normal, maka komplikasi akibat diabetes dapat
dicegah/ditunda. (Rikesdas 2013; Kemenkes RI 2014).

B. Manajemen Diet Diabetes


Pola makan adalah makanan yang seimbang antara zat gizi karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan mineral (Ramadhan, 2008). Pengaturan diet pada
penderita diabetes mellitus merupakan pengobatan yang utama pada penatalaksanaan
diabetes mellitus yaitu mencakup pengaturan dalam:
1. JUMLAH MAKANAN
Syarat kebutuhan kalori untuk penderita diabetes mellitus harus sesuai untuk
mencapai kadar glukosa normal dan mempertahankan berat badan normal.
Komposisi energi adalah 60-70 % dari karbohidrat, 10-15 % dari protein, 2025
% dari lemak. Makanlah aneka ragam makanan yang mengandung sumber zat
tenaga, sumber zat pembangun serta zat pengatur.
a. Makanan sumber zat tenaga mengandung zat gizi karbohidrat, lemak dan
protein yang bersumber dari nasi serta penggantinya seperti: roti, mie,
kentang dan lain-lain.
b. Makanan sumber zat pembangun mengandung zat gizi protein dan mineral.
Makanan sumber zat pembangun seperti kacang-kacangan, tempe, tahu, telur,
ikan, ayam, daging, susu, keju dan lain-lain.
c. Makanan sumber zat pengatur mengandung vitamin dan mineral. Makanan
sumber zat pengatur antara lain: sayuran dan buah-buahan.
Ada beberapa jenis diet dan jumlah kalori untuk penderita diabetes mellitus
menurut kandungan energi, karbohidrat, protein dan lemak

Keterangan:
- Jenis diet I s/d III diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk.
- Jenis diet IV s/d V diberikan kepada penderita diabetes tanpa komplikasi.
- Jenis diet VI s/d VIII diberikan kepada penderita kurus, diabetes remaja
(juvenile diabetes) atau diabetes dengan komplikasi.
2. JENIS BAHAN MAKANAN
Jenis makanan yang dianjurkan untuk penderita diabetes mellitus adalah
makanan yang kaya serat seperti sayur-mayur dan buah-buahan segar. Hal yang
terpenting adalah jangan terlalu mengurangi jumlah makanan karena akan
mengakibatkan kadar gula darah yang sangat rendah (hypoglikemia) dan juga
jangan terlalu banyak makan makanan yang memperparah penyakit diabetes
mellitus.
Ada beberapa jenis makanan yang dianjurkan dan jenis makanan yang tidak
dianjurkan atau dibatasi bagi penderita diabetes mellitus yaitu:
a. Jenis bahan makanan yang dianjurkan untuk penderita diabetes mellitus
adalah:
1. Sumber karbohidrat kompleks seperti nasi, roti, mie, kentang, singkong,
ubi dan sagu.
2. Sumber protein rendah lemak seperti ikan, ayam tanpa kulitnya, susu
skim, tempe, tahu dan kacang-kacangan.
3. Sumber lemak dalam jumlah terbatas yaitu bentuk makanan yang mudah
dicerna. Makanan terutama mudah diolah dengan cara dipanggang,
dikukus, disetup, direbus dan dibakar
b. Jenis bahan makanan yang tidak dianjurkan atau dibatasi untuk penderita
diabetes mellitus adalah:
1. Mengandung banyak gula sederhana, seperti gula pasir, gula jawa, sirup,
jelly, buah-buahan yang diawetkan, susu kental manis, soft drink, es krim,
kue-kue manis, dodol, cake dan tarcis.
2. Mengandung banyak lemak seperti cake, makanan siap saji (fast-food),
goreng-gorengan.
3. Mengandung banyak natrium seperti ikan asin, telur asin dan makanan
yang diawetkan (Almatsier, 2006).
3. INTERVAL MAKAN PENDERITA DIABETES MELLITUS
Makanan porsi kecil dalam waktu tertentu akan membantu mengontrol kadar
gula darah. Makanan porsi besar menyebabkan peningkatan gula darah
mendadak dan bila berulang-ulang dalam jangka panjang, keadaan ini dapat
menimbulkan komplikasi diabetes mellitus. Oleh karena itu makanlah sebelum
lapar karena makan disaat lapar sering tidak terkendali dan berlebihan. Agar
kadar gula darah lebih stabil, perlu pengaturan jadwal makan yang teratur.
Makanan dibagi dalam 3 porsi besar yaitu makan pagi (20 %), siang (30 %), sore
(25 %) serta 2-3 kali porsi kecil untuk makanan selingan masing-masing (10-15
%)
Keterangan:
- Gls : gelas
- Sdm : sendok makan
- Ptg : potong
- Sdg : sedang
Nilai Gizi :
- Energi : 1912 kkal
- Protein : 60 g (12,5 % energi total)
- Lemak : 48 g (22,5 % energi total
- Karbohidrat : 299 g (62,5 % energi total)
- Kolestrol : 303 mg - Serat : 37 g
4. DAFTAR BAHAN MAKANAN PENUKAR
Daftar bahan makanan penukar yang digunakan adalah bahan makanan penukar
II yaitu suatu daftar nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan
dikelompokkan berdasarkan kandungan kalori, protein, lemak dan hidrat arang
yang diberikan oleh rumah sakit. Menurut (Arisman, 2002) bahan makanan
dikelompokkan menjadi 7 bagian yaitu:
a. Golongan 1 : Bahan Makanan Sumber Karbohidrat
1 Satuan Penukar = 175 kalori
4 gr protein
40 gr karbohidrat

b. Golongan 2 : Bahan Makanan Sumber Protein Hewani


1 Satuan Penukar = 95 kalori
10 gr protein
6 gr lemak
c. Golongan 3 : Bahan Makanan Sumber Protein Nabati
1 Satuan Penukar = 80 kalori
6 gr protein
3 gr lemak
8 gr karbohidrat

d. Golongan 4 : Sayuran
1. Sayuran A
Bebas dimakan, kandungan kalori dapat diabaikan, sumbernya dari
gambas (oyong), jamur kuping sedang, ketimun, jamur segar, lobak,
selada dan tomat.
2. Sayuran B
1 Satuan Penukar 1 gls
(100 gr) = 25 kalori
1 gr protein
5 gr karbohidrat
Sumber bahan makanannya yaitu dari bayam, labu siam, bit, buncis,
brokoli, genjer, jagung muda, kol, wortel, sawi, toge kacang hijau, terong,
kangkung, kacang panjang, pare, rebung, papaya muda.
3. Sayuran C
1 Satuan Penukar 1 gls
(100 gr) = 50 kalori
3 gr protein
10 gr karbohidrat
Sumber bahan makanannya yaitu dari bayam merah, daun katuk, daun
melinjo, daun papaya, daun singkong, toge kacang kedele, daun talas,
melinjo, nangka muda.
e. Golongan 5 : Buah-buahan
1 Satuan Penukar = 40 kalori
10 gr karbohidrat
f. Golongan 6 : Susu
1 Satuan Penukar = 110 kalori
7 gr protein
9 gr karbohidrat
7 gr lemak

g. Golongan 7 : Minyak
1 Satuan Penukar = 45 kalori
5 gr lemak

Keterangan :
Bh = buah
Gr = gram
Bj = biji
Kcl = kecil
Btg = batang
Ptg = potong
Btr = butir
Sdg = sedang
Bsr = besar
Sdm = sendok makan
Gls = gelas (240 ml)
Sdt = sendok the

STANDAR JENIS DIET UNTUK PENDERITA DIABETES MELLITUS


Standar jenis diet pada penderita diabetes mellitus yang rawat inap ada dua jenis
yaitu:
- Jenis diet diabetes mellitus IV (1700 kalori)
Kandungan energi dari jenis diet diabetes mellitus IV adalah 1700 kalori dan
jumlah kandungan zat gizi karbohidrat 275 gram, protein 55,5 gram dan lemak
36,5 gram.
- Jenis diet diabetes mellitus V (1900 kalori)
Kandungan energi dari jenis diet diabetes mellitus V adalah 1900 kalori dan
jumlah kandungan zat gizi karbohidrat 299 gram, protein 60 gram dan lemak 48
gram.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. (2006). Prinsip Dasar Ilmu Gizi Edisi ke-6. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

American Diabetes Association. (2012). Diagnosis and Classification of


DiabetesMellitus.Diabetes Care.35(1), 64-71

Brunner & Suddarth. (2001) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume Kedua. Edisi
Kedelapan. Jakarta : EGC

Guyton A.C., Hall J.E. (2007). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta : EGC

Haeria.(2009). Pelayanan Kefarmasian Dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus.Jurnal


Kesehatan. 11(4),19 26.

Kemenkes RI. (2014). Situasi dan Analisis Diabetes. Jakarta. Infodatin

Ndraha, S (2014). Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Tatalaksana Terkini.Medicinus. 27(2), .9-16
Ramadhan.(2008). Seberapa Sehatkah Hidup Anda. Jogjakrta: Penerbit Think.
Riskesdas. (2013). Riset Kesehatan dasar. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kementerian
Kesehatan.