Anda di halaman 1dari 13

Mar

25

Desentralisasi, Privatisasi dan Revitalisasi


Penyuluhan Pertanian

I. PENDAHULUAN
Penyuluhan berasal dari kata dasar suluh (obor atau pelita). Fungsi darisuluh adalah
untuk menerangi orang yang dalam kegelapan, yaitu orang yang tidak tahu sekelilingnya
menjadi tahu atau membimbing orang yang tidak tahu untuk mencapai tujuan yang
diharapkannya (Purwoko et al., 2007). Rifai (2000)] dalam Purwoko et al.(2007)
mendeskrifsikan Penyuluhan pertanian sebagaisistem pendidikan luar sekolah (non-formal
education) bagi pembangunan perilaku petani dan keluarganya termasuk kelembagaannya
agar mereka dapat memahami dan memiliki kemampuan dan kesempatan dalam mengelola
usahataninya dan mampu berswadaya sehingga dapat memberikan keuntungan dan
memuaskan bagi kehidupannya.
Sektor pertanian tercakup di dalamnya sistem penyuluhan pertanian pada saat ini
sedang mengalami perubahan menyesuaikan dan mentransformasikan dengan iklim global
yang sedang berlangsung. Seiring perubahan global dan isu lingkungan strategis, layanan
penyuluhan pertanian juga mengalami perubahan - perubahan. Subejo (2002)
mengindikasikan bahwa transformasi penyuluhan pertanian sedang berlangsung di seluruh
dunia. Perubahan terjadi pada organisasi, sistem penugasan, dan praktek sistem penyuluhan
pertanian dan pedesaan.
Isu-isu strategis yang dihadapi dalam proses pembangunan di berbagai negara
termasuk di dalamnya pembangunan pertanian dan pedesaan antara lain mencakup
desentralisasi, liberalisasi dan privatisasi serta demokratisasi (Nauchatel, 1999). Suatu
konsekuensi logis bagi penyuluhan pertanian sebagai salah satu pilar utama dalam
pembangunan pertanian adalah perumusan strategi mensikapi isu strategis tersebut.
Konsekuensi serta strategi baru tersebut semestinya mendapat perhatian dan pemikiran yang
mendalam sehingga penyuluhan pertanian tetap memiliki komitmen kuat memberikan
pelayanan terbaik pada petani dengan sasaran akhir peningkatan kesejahteraan petani.
Subejo (2006) mengindikasikan Kinerja dan aktivitas penyuluhan pertanian yang
menurun antara lain disebabkan oleh: perbedaan persepsi antara pemerintah pusat dengan
daerah dan antara eksekutif dengan legislatif terhadap arti penting dan peran penyuluhan
pertanian, keterbatasan alokasi anggaran untuk kegiatan penyuluhan pertanian dari
pemerintah daerah, ketersediaan materi informasi pertanian terbatas, penurunan kapasitas dan
kemampuan managerial dari penyuluh serta penyuluh pertanian kurang aktif untuk
mengunjungi petani dan kelompoknya, kunjungan lebih banyak dikaitkan dengan proyek.
Penyuluhan pertanian di Indonesia memerlukan strategi dalam menhadapi era globalisasi dan
perdagangan bebas. Menjadi hal yang menarik untuk dibahas strategi apa saja yang dapat
dilakukan dalam menjaga kinerja peyuluhan pertanian di Indonesia. Terciptanya penyuluhan
pertanian yang baik akan mengakibatkan pebangunan pertanian yang berkelanjutan dapat
dicapai.
II. PEMBAHASAN
2.1 Desentralisasi Penyuluhan Pertanian
Salah satu isu dalam penyuluhan pertanian adalah desentralisasi. Secara sederhana,
desentralisasi dapat diartikan sebagai pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah
(Kabupaten dan Kota) untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat
menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan UU No. 22/1999 ps. 1). Karena itu, desentralisasi harus dijiwai oleh
adanya legal self-suffici-ency dan actual independence (Nasution, 1999). Pemberian
kewenangan seperti itu, seringkali juga diberikan kepada masyarakat, khususnya kepada
pihak swasta. Kewenangan yang diberikan kepada pemerintah daerah tersebut, adalah
kewenangan dalam penyelengga-raan pemerin-tahan (Sabarno, 2001), sedang Yuwono (2001)
lebih melihat pada kewenangan dalam pemberian layanan-publik.
Berkaitan dengan pemahaman tentang desentralisasi tersebut, pada hakekatnya dapat
dibedakan dalam: desentralisasi administrasi, desentralisasi politik, dan desentralisasi fiskal
(AKIS, 2000). Oleh Abe (2001), Desentralisasi Administrasi juga dapat diartikan sebagai
dekonsentrasi, yaitu pelimpahan kewenangan atau pendelegasian dari pemerintah nasional
kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah nasional dan atau aparat pusat di daerah. Sedang
desentralisasi politik disebut juga sebagai devolusi, atau pemberian kewenangan dalam
bentuk peluang masyarakat untuk melaksanakan kontrol terhadap penyelenggaraan
pemerintahan. Khusus kaitannya dengan desen-tralisasi penyuluhan pertanian, dapat diartikan
sebagai terjadinya perubahan pola penyuluhan pertanian dari yang bersifat instruktif regulatif
ke arah informatif-fasilitatif (Soetrisno, 1986). Desentralisasi fiskal, dapat diartikan sebagai
penyerahan sebagian anggara pemerintah pusat (nasional) kepada pemerintah daerah
(Kabupaten dan Kota), yang di Indoensia diatur dengan UU No. 25 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.
Searah dengan semangat desentralisasi, kebijakan nasional telah memberikan ruang
gerak desentralisasi melalui kebijakan otonomi daerah. Desentralisasi dipandang penting
karena membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat sipil dalam memantau
kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan pemerintah. Disadur dari feeder at all tahun 1999
yang mengidentifikasi adanya danya 8 (delapan) tantangan-generik yang sedang dihadapi
penyuluhan pertanian, yaitu:
1. Skala dan Kompleksitas dari Tugas-Tugas Penyuluhan
2. Ketergantungan dengan Kebijakan Pemerintah dan Fungsi Lembaga-Lembaga Lainnya
3. Ketidakmampuan Untuk Menelusuri Hubungan Penyebab Akibat yang Ditimbulkan Oleh
Kegiatan Penyuluhan Pertanian
4. Komitmen dan Dukungan Politis
5. Akuntabilitas
6. Kelayakan Sebagai Lembaga Layanan Pengetahuan dan Informasi
7. Keberlanjutan Operasionalisasi Fiskal dan Sumber Daya Lain
8. Interaksi dengan Tumbuh dan Berkembangnya Pengetahauan Melalui Kegiatan Penyuluhan
Menghadapi 8 tantangan generic yang diekmukakan oleh Feder. et al, menawarkan solusinya,
salah satunya adalah desentralisasi penyuluhan. Desentralisasi penyuluhan yang tidak sekedar
merupakan pelimpahan wewenang penyuluhan kepada pemerintah daerah dan masyarakat
local, tetapi juga memberikan alokasi anggaran yang lebih besar kepada daerah, serta
kewenangan untuk mengembangkan sistem penyuluhan sendiri. Seiring dengan kebijakan
desentralisasi pemerintah yang digulirkan sebagai tuntutan reformasi sejak diundangkannya
UU No. 22 Tahun 1999, desentralisasi penyuluhan pertanian yang sudah digulirkan sejak
tahun 1995 memang sudah menjadi keharusan untuk diperhatikan.
Dalam desentralisasi, juga terdapat syarat dan ukuran keberhasilan desentralisasi.
Syarat tersebut meliputi syarat internal dan eksternal seperti yang telah diungkapkan oleh Abe
(2001). Syarat-syarat internal tersebut antara lain :
a. Kesiapan masyarakat untuk keluar dari kebiasaan sentralistik
b. Kesiapan aparat-bawah, untuk lebih kreatif dan mening galkan sikap menunggu petunjuk
c. Kesiapan aparat-atas untuk menciptakan iklim kondusif bagi pelaksanaan pembangunan oleh
pemerintah daerah
d. Meningkatnya kontrol masyarakat melalui pemberdayaan parlemen
Syarat-syarat eksternal, antara lain :
a. Kesungguhan pemerintah pusat (nasional) untuk terse-lenggaranya desentralisasi
b. Tumbuh dan berkembangnya kerjasama antar daerah
Dengan pendekatan berbeda, Iglesias (Kaho, 2001), menyebutkan adanya 5 (syarat) terwujudnya
desentralisasi, yaitu:
a) Tersedianya sumberdaya, khususnya keuangan yang cukup
b) Struktur (organisasi) pemerintahan yang kuat dan efisien
c) Teknologi tepat-guna dan efisien untuk melaksanakan pemba-ngunan
d) Dukungan atau partisipasi masyarakat
e) Kepemimpinan yang mampu mengoptimalkan input-input yang tersedia dalam kondisi sangat terbatas.
Di pihak lain, AKIS (2000) menegaskan bahwa desentralisasi dalam beragam bentuk, baik
desentralisasi administrasi, desen tralisasi politik, desentralisasi fiskal yang tercermin pada perubahan
beragam kebijakan, menuntut 4 (empat) persyaratan untuk mensukseskannya, yaitu:
a) Pengembangan keterlibatan masyarakat baik di bidang politik maupun kegiatan pembangunan.
b) Pemanfaatan sumberdaya finansial bagi lembaga-lembaga desentralisasi agar mereka dapat
melaksanakan tugasnya.
c) Pengembangan kapasitas administratif pada unit-unit lokal untuk melaksanakan tugas-tugasnya
d) Pemantaban mekanisme kelembagaan politik dan birokrasi pemerintahan yang bertanggung-gugat
Sejalan dengan syarat-syarat bagi penyelenggaraan desentralisasi tersebut, Widjaja (1992)
mengemukakan beberapa ukuran keberhasil-an desentralisasi yang meliputi:
a) kemampuan keuangan daerah, yang ditunjukkan dari proporsi pendapatan aseli daerah (PAD)
terhadap jumlah total pembiayaan daerah
b) kemampuan aparatur, baik jumlah maupun mutu (pendidikan, pengalaman, kompetensi, dll)
c) partisipasi masyarakat
d) variabel-variabel ekonomi kaitannya dengan rata-rata pendapatan masyarakat
e) variabel non-ekonomi, terutama yang terkait dengan tersedianya kesempatan-kerja bagi muda-usia.
Desakan tentang pentingnya desentralisasi penyuluhan pertanian, sebenarnya sudah dirasakan
sejak awal dasawarsa 1990-an, terutama terkait dengan desentralisasi potik, desentralisasi administrasi
dan desentralisasi fiskal. Desentralisasi politik utnuk mengembangkan partisipasi masyarakat dalam
penetapa program-program prioritas, perencanaan dan pengelolaannya. Desentralisasi administrasi
merupakan pergerakan tanggung jawab kegiatan penyuluhan kepada pemerintah daerah, sedangkan
desentralisasi fiskal untuk memberikan tanggung jawab fiskal kepada pemerintah dan kelompok-
kelompok produsen.
Kajian yang dilakukan di negara-negara Amerika Latin tentang alasan-alasan tentang
pentingnya desentralisasi penyuluhan pertanian, amtara lain mengungkapkan:
a) Kelemahan strategi nasional dalam menyerap/mengakomodasi aspirasi lokal pada kegiatan
perencanaan penyuluhan pertanian yang diperlukan
b) Rendahnya mutu supervisi/pengawasan
c) Lemahnya aliran pengetahuan/inovasi bagi kaum miskin, utama-nya yang menyangkut keterkaitan
penelitian, penyuluhan dan lembaga-lembaga pelatihan
d) Lemahnya pengembangan karir penyuluh, terutama yang bekerja berdasarkan kontrak.
e) Lemahnya posisi-tawar masyarakat miskin untuk memperoleh subsidi dari pemerintah.
Tentang hal ini, kajian yang dilakukan terhadap negara-negara yang telah melakukan desentralisasi,
membuktikan bahwa:
a) Adanya keseimbangan yang adil antara pusat dan daerah, baik secara administratif, politis, dan
fiskal.
b) Desentralisasi politis, merupakan unsur yang penting dalam pemi-lihan wakil-wakil rakyat.
c) Meningkatnya peran LSM dan partisipasi masyarakat yang signifikan.
Hingga kini, diakui bahwa desentralisasi sangat bermanfaat bagi pengembangan fungsi sistem
(diseminasi) teknologi. Maskipun demikian, harus dipahami bahwa, desentralisasi hanyalah sekadar
alat, dan bukannya tujuan akhirnya. Artinya, desentralisasi bukanlah satu-satunya alat untuk
mengembangkan fungsi diseminasi teknologi. Di bawah ini, disampaikan beberapa praktek
desentralisasi yang memberikan hasil baik, yaitu:

1. Layanan yang dibutuhkan


Desentralisasi penyuluhan yang dilakukan pemerintah harus mampu memberdaya-kan
masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang agenda penyuluhan melalui
perencanaan partisipatif, pemanfaatan dana-pendukung, serta pelibatan organisasi masyarakat
di dalam pelaksa-naannya. Baik layanan penyuluhan maupun penelitian terapan, kedua-nya
sangat bermanfaat bagi pelaksanaan desentralisasi, terutama bagi para pengguna atau
penerima manfaatnya. Desentralisasi penyuluhan juga menawarkan peluang-peluang penting
kepada pihak swasta untuk berbagi membiayai kegiatan penyuluhan, serta melibatkan masyarakat
dalam kegiatan evaluasi kinerja penyuluh, program-program penyuluhan, serta penghargaan terhadap
penyuluh agar mereka dapat semakin baik melaksanakan fungsinya.
2. Penyesuaian strategi penyuluhan terhadap lingkungan kelembagaan local
Desentralisasi penyuluhan harus disesuai-kan dengan potensi serta kebutuhan lokal. Organisasi
masyarakat lokal, memilki potensi tinggi untuk dilibatkan dalam program-program penyuluhan.
Tetapi, sering kali belum memi-liki kapasitas yang memadai, keanggotaan yang terbatas serta kemam-
puan kepemimpinan yang belum mapan. Karena itu, dibutuhkan investtasi untuk pemberdayaannya,
sehingga benar-benar dapat diha-rapkan untuk menangani program-program penyuluhan yang diru-
muskan bersama masyarakat. Di lain pihak, desentralisasi adminis-trasi penyuluhan harus tercermin
pada desentralisasi politik. Sebab, apapun program yang diranncang, maupun metoda yang akan
digunakan akan sangat ditentukan oleh keputusan politik setempat.
3. Penguatan support pusat terhadap penyuluhan
Dsentralisasi penyuluhan memerlukan dukungan perencanaan pusat dan koordinasi program-program,
fasilitasi terhadap keterkaitan antar lembaga, perumusan kebijakan nasional, serta prioritas kegiatan
oleh pusat. Dalam hubungan ini, keberhasilan model keterkaitan antara penelitian dan penyuluhan
sangat dibutuhkan dalam desenralisasi penyuluhan. Demikian pula, dengan pemantauan dan evaluasi
yang terpusat yang sangat diperlukan guna perencanaan dan kajian banding tentang kinerja dan
dampak yang ditimbulkan.
4. Pengembangan mekanisme perumusan kebijakan dalam sistem campuran
Pembiayaan pemerintah pusat untuk program-program penyuluhan harus dikaitkan dengan sasaran-
sasaran kebijakan nasional. Dalam hubungan ini, perlu adanya rekonsiliasi yang luwes antara
kebijakan pusat dan kebutuhan-kebutuhan di daerah, terutama yang menyangkut perencanaan, dan
pembiayaan atau alokasi anggar-an yang diperlukan.
5. Harapan keberlanjutan pembiayaan sektor public
Desentralisasi penyuluhan harus mampu menumbuh-kembang-kan partisipasi masyarakat (LSM dan
swasta) untuk pembiayaan kegiatannya, karena pada jangka pendek, desentralisasi sangat jarang dapat
mengurangi kebutuhan anggaran pusat untuk kegiatan penyuluhan, dan kelem-bagaan desentralisasi
justru membutuhkan pembiayaan dari pusat yang terus meningkat, setidak-tidaknya pada masa
peralihan.
6. Transfer biaya untuk riset dan penyuluhan
Untuk pelaksanaaan desentralisasi penyuluhan, adanya transfer pem-biayaan dari pusat ke daerah
hampir tidak mungkin ditiadakan, diperlukan pemberdayaan kepada (petani) produsen agar dapat
menjalin kontrak kerjasama penelitian dan penyuluhan dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan
dekat dengan kegiatan pertanian, khususnya dengan kalangan swasta dan LSM.
7. Perencanaan untuk masa transisi dan pengembangan kapasitas local
Desentralisasi penyuluhan akan berimplikasi dengan perubahan-perubahan mendasar pada jajaran
birokrasi dan operasionalisasi programnya. Masa-masa peralihan seperti itu, akan sangat sulit dan
harus diantisipasi melalui perencanaan yang cermat, promosi tentang prinsip-prinsip yang rasional
dibalik reformasi, serta penyiapan manual baru dan panduan di masa transisi. Pengenalan secara
cepat tentang hal-hal tersebut tentunya sangat bermanfaat, agar masa transisi tersebut berlangsung
lunak, semen-tara itu, para pengambil keputusan perlu menunda segala bentuk perubahan yang
akan dilakukan.
8. Jaminan tentang pemantauan dan evaluasi terhadap sistem desentralisasi.
Sistem desentralisasi, terutama pada tahap-tahap awal, sangat mem-butuhkan pemantauan dan
evaluasi yang cermat dari pusat. Kegiatan pemantauan dan evaluasi tersebut, harus mampu memberi-
kan masukan informasi untuk perencanaan guna perumusan panduan dan prioritas kegiatan yang
diperlukan, serta harus mendorong pemerintah daerah untuk melaku-kannya sendiri guna mendukung
para pengambil keputusan, manajemen program, dan perencanaan pada tingkat lokal. kegiatan
pemantauan dan evaluasi dapat diintegrasi-kan dengan sistem yang komprehensif untuk
mengembangkan kegiatan pengumpulan data yang dibutuhkan, utamanya untuk men-jamin
keterandalan mutu data yang dikumpulkan.

2.2 Privatisasi Penyuluhan Pertanian


Rivera dan Cary (1997) mengartikan privatisasi sebagai pengalihan kepemilikan (melalui
penjualan) dari pemerintah kepada lembaga swasta. Sejalan dengan itu, Feder (2000) mengartikan
privatisasi penyuluhan sebagai pengalihan kewenangan kegiatan penyuluhan kepada lembaga
swasta/ LSM, lembaga penyiaran swasta, perusahaan swata, media masa, dan partisipasi stakeholders
yang lain. Meskipun demikian, jarang sekali terjadi penyerahan penyuluhan secara penuh oleh
pemerintah. Karena itu, Swanson (1997) mengartikan privatisasi penyuluhan sebagai upaya
peningkatan partisipasi pihak swasta, tanpa adanya pengalihan kepemilikan atau tanggung jawab
penyuluhan dari pemerintah. Alasan utama yang mendorong perlunya privatisasi penyuluhan adalah,
penghematan biaya penyuluhan yang harus ditanggung oleh pemerintah. Alasan kedua, terkait dengan
mutu atau profesionalisme penyuluh dan kegiatan penyuluhan yang dilakukan. Alasan ketiga, adalah
yang terkait dengan politisasi kegiatan penyu-luhan pertanian. Karena kegiatan penyuluhan
merupakan kegiatan menarik perhatian, pembujukan dan membantu/memfasilitasi (masyarakat)
petani, maka kegiatan penyuluhan dapat dijadikan alat politik praktis dari kelompok-kelompok
kepentingan baik yang sedang ber-kuasa maupun kelompok oposisinya.
Terdapat model-model privatisasi yang telah dicoba untuk dikembangkan di beberapa negara,
yaitu:
a. Pembiayaan penyuluhan oleh pembayar pajak, yang terkait dengan kegiatan pertanian,
seperti: produsen, pedagang, biro iklan, dll.
b. Pembayaran langsung oleh individu-individu yang melakukan kegiatan pelayanan
masyarakat.
c. Pembayaran bersama antara pemerintah dan asosiasi profesional swasta.
Terkait dengan hal tersebut, diperlukan kebijakan yang menyangkut:
a) Peraturan pajak umum berbasis pertanian (termasuk untuk kegiat-an penyuluhan pertanian)
b) Peraturan pajak-komoditi
c) Pajak pendapatan, terutama kepada petani-kaya atau asosiasi/ kelompok-tani komersial
d) Kontrak (kerjasama) penyuluhan dengan pihak swasta (konsultan) atau LSM.

Tentang hal ini, terdapat beberapa bentuk insentif yang diberikan pemerintah berupa:
a) Voucher/penghargaan kepada petani yang melakukan/terlibat dalam kegiatan penyuluhan
pertanian.
b) Insentif kredit usahatani, yaitu sebagian bunga kredit yang dialo-kasikan untuk kegiatan
penyuluhan
c) Kartu-keanggotaan (membership) bagi petani, untuk memperoleh layanan penyuluhan
pertanian.
d) Kartu-keanggotaan dan sponsor untuk kegiatan penyuluhan
e) Privatisasi, yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan penyu-luhan dan atau pemberian
dana kepada kelompok-tani untuk penye-lenggaran penyuluhan.
World Bank (2002) dalam Subejo (2002) menerangkan melalui evaluasi pada proyek-
proyek penyuluhan mengindikasikan bahwa penyuluhan belum memenuhi orientasi dan
kepentingan petani, kapasitas sumberdaya manusia dan komitmen pemerintah lemah.
Problem yang lain yang muncul, kadangkala kegiatan penyuluhan pertanian memiliki
akuntabilitas yang rendah serta memiliki keterbatasan untuk mengelola sistem penyuluhan
yang luas dan komplek. Penyuluhan pertanian Indonesia nampaknya menghadapi problem
dan kondisi yang mirip seperti yang hasil evaluasi dari World Bank. Beberapa alternatif yang
dapat dilakukan sebagai bagian dari reformasi institusi untuk meningkatkan pelayanan
penyuluhan sebagaimana yang direkomendasikan World Bank (2002) mencakup tiga hal
yaitu :
a. Desentralisasi
b. Privatisasi
c. Pemisahan funding dan execution
Mamfaat yang didapati dari privatisasi penyuluhan menurut Rivera (1997) dalam
Subejo (2002) yaitu: pelayanan dan penyampaian lebih efisien, menurunkan anggaran belanja
pemerintah, dan pelayanan dengan kualitas tinggi. Privatisasi mungkin juga memiliki
beberapa kelemahan yaitu akses terhadap sumber penyuluhan menjadi tidak sama karena
keberagaman perusahaan dan kesulitan berkoordinasi dengan kelompok luar dan departemen
pemerintah. Agen penyuluhan pertanian swasta akan lebih berorientasi pada komersialisasi
dan kurang bertanggung jawab terhadap arah kebijakan yang dibuat pemerintah.
Privatisasi penyuluhan digunakan dalam arti yang luas yaitu pengenalan dan
pemberian kesempatan yang lebih luas pada pihak swasta untuk berpartisipasi, yang tidak
perlu berarti transfer seluruh aset pemerintah kepada sektor swasta (baik profit dan atau
nonprofit institutions). Suatu model yang dapat dicoba untuk dikembangkan dalam privatisasi
sistem penyuluhan baru adalah sistem kontrak. Qamar (2002) dalam Subejo (2002)
menyarankan dengan sistem kontrak penyuluhan, pemerintah dapat memberikan kontrak
kepada pihak lain untuk menyelenggarakan dan memberikan layanan penyuluhan pertanian
yang spesifik dalam area yang spesifik dan periode yang spesifik pula. Sistem lain yang telah
berkembang adalah sistem vouchers. sistem ini dapat dikembangkan berkat kerjasama
pemerintah dengan sektor swasta. Privatisasi penyuluhan memungkinkan iklim kompetisi yang
sehat dalam pelayanan penyuluhan pertanian antara sektor public dan swasta. Keunggulan
penyuluhan swasta yang umumnya berorientasi profit antara lain penggunaan media dan teknik
penyuluhan yang lebih menarik, kemampuan technical assistant yang tinggi. Isu privatisasi
dengan pemaknaan yang khas pada penyuluhan pertanian nampaknya juga menjadi salah satu
materi penting yang diangkat dalam bahasan penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU)
Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang saat ini masih dalam pembahasan
intensif antara lembaga eksekutif, legislatif serta stakeholders terkait. Nampaknya pembagian
peran antara sektor publik dan swasta sudah menjadi salah satu pertimbangan penting dalam
pemberian layanan penyuluhan pertanian di masa-masa yang akan datang (Subejo, 2006).
Kehadiran UU SP3K yang oleh banyak kalangan disambut dengan sangat antusias,
khususnya oleh para penyuluh pertanian, tetapi jika dicermati, terdapat beberapa hal yang layak
dikritisi, salah satunya yakni privatisasi penyuluhan pertanian. Pada privatisasi penyuluhan
pertanian dominasi pemerintah dalam penyelenggaraan penyuluhan, tidak saja terlihat pada
pengangkatan tenaga penyuluh, tetapi juga dalam pembiayaan kegiatan penyuluhan.
Sayangnya, tidak semua penyelenggara pemerintah memahami arti penting penyuluhan untuk
kepentingan jangka pendek kaitannya dengan penca-paian target pembangunan, maupun
kepentingan jangka panjang kaitannya dengan investasi sumberdaya manusia. Akibatnya,
kegiatan penyuluhan sangat tergantung kepada pemahaman masing-masing kepala
pemerintahannya untuk menyediakan anggaran penyuluhan pertanian.
Privatisasi juga merupakan salah satu solusi dari 8 tantangan generic yang
diungkapkan oleh Feder et.al. Privatisasi secara bertahap, sejak dari kerjasama, kontrak
kegiatan penyuluhan, sampai dengan menyerahkan sepenuhnya kegiatan penyuluhan dari
pemerintah kepada pihak swasta/LSM.

2.3 Revitalisasi Penyuluhan Pertanian


Pada hakekatnya, Revitalisasi Penyuluhan Pertanian adalah suatu upaya
mendudukkan, memerankan dan memfungsikan serta menata kembali penyuluhan pertanian
agar terwujud kesatuan pengertian, kesatuan korp dan kesatuan arah kebijakan. Keberhasilan
pelaksanaan revitalisasi ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah
pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat pelaku usaha pertanian. Program revitalisasi
difokuskan pada beberapa sub program, yaitu penataan kelembagaan penyuluhan pertanian,
peningkatan kuantitas dan kualitas penyuluh pertanian, peningkatan kelembagaan dan
kepemimpinan petani, peningkatan sistem penyelenggaraan penyuluhan pertanian, dan
pengembangan kerjasama antara sistem penyuluhan pertanian dan agribisnis. Program ini
berupaya memperbaiki sistem dan kinerja penyuluhan pertanian yang semenjak akhir 1990-
an sangat menurun kondisinya serta karena tingkat kemiskinan dikalangan petani semakin
meningkat.
Salah satu tonggak untuk pelaksanaan revitalisasi ini adalah telah keluarnya Undang-
Undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K) No. 16 Tahun 2006
tanggal 18 Oktober 2006. Dalam UU ini disebutkan perlunya penataan kelembagaan
penyuluhan pertanian pemerintah dari tingkat pusat sampai dengan tingkat kecamatan, serta
menyediakan sumber dana yang merupakan kontribusi antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah. UU ini merupakan satu titik awal dalam pemberdayaan para petani
melalui peningkatan sumberdaya manusia dan kelembagaan para penyuluh pertanian PNS,
swasta, dan penyuluh pertanian Swadaya.
Inti dari revitalisasi penyuluhan pertanian adalah bagaimana menempatkan
petani/nelayan sebagai pemeran utama dalam pembangunan pertanian atau pemberdayaan
masyarakat tani/nelayan. Purwoko et al. (2007) menjabarkan bahwa tujuan revitalisasi
penyuluhan pertanian adalah sebagai berikut:
a. Kelompok tani menjadi sistem pengguna aktif berbagai kesempatan berusaha dan mampu
mengambil manfaat dari keberadaan BPP.
b. BPP sebagai pusat komunikasi, informasi dan penyuluhan.
c. Adanya jaringan komunikasi dan informasi yang handal dalam melayani kebutuhan
pengembangan usaha petani/nelayan.
d. Penyuluh pertanian yang profesional.
e. Penyelenggaraan penyuluhan pertanian oleh Pemerintah Daerah Tk. II lebih mapan. Penyuluhan
pertanian lebih banyak menggunakan pendekatan sistem usahatani dengan penerapan prinsip-
prinsip agribisnis.
f. Kegiatan penyuluhan pertanian dilaksanakan dengan penerapan kombinasi metode penyuluhan
pertanian yang tepat dan partisipatif.
Penjabaran tentang tujuan revitalisasi dapat kita lihat arah dan tujuan penyuluhan pertanian
Indonesia yang bertujuan untuk mengikutsertakan petani dalam kegiatan penyuluhan, dan
peningkatan kualitas penyuluhan pertanian di Indonesia demi tercapainya pembangunan
pertanian yang berkelanjutan.
Sangat diharapkan, keluaran dari revitalisasi penyuluhan pertanian dapat terjadi
koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi diantara seluruh penyelenggara dan pemangku
kepentingan PP dalam memberikan pelayanan prima kepada petani dan keluarganya ; bangkit
dan aktivnya penyuluh pertanian, baik penyuluh PNS, swasta maupun swakarsa dalam
pelaksanaan revitalisasi penyuluhan pertanian ; dapat terjadi gerakan petani dan pelaku usaha
pertanian lainnya untuk membimbing sesame petani dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian
, antara lain melalui kelompok-kelompok tani.
Hasil yang diharapkan dari revitalisasi penyuluhan pertanian yaitu petani dan
keluarganya meningkat kapasitasnya dalam mengakses informasi pasar, teknologi,
sumberdaya lainnya dalam rangka meningkatkan produktivitas usaha dan pendapatannya.

III. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini, yakni :
1. Penyuluhan pertanian sebagai salah satu pilar utama pembangunan pertanian di Indonesia
saat ini sedang menghadapi isu strategis yang antara lain desentralisasi, globalisasi,
demokratisasi, serta privatisasi.
2. Secara sederhana, desentralisasi dapat diartikan sebagai pemberian kewenangan kepada
pemerintah daerah (Kabupaten dan Kota) untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan UU No. 22/1999 ps. 1).
3. Desentralisasi dibedakan menjadi 3, yakni desentralisasi administrasi, politik dan fiskal.
4. Dalam desentralisasi juga terdapat syarat dan ukuran dalam keberhasilan desentralisasi.
5. Desentralisasi dipandang penting karena membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi
masyarakat sipil dalam memantau kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan pemerintah.
6. Rivera dan Cary (1997) mengartikan privatisasi sebagai pengalihan kepemilikan (melalui
penjualan) dari pemerintah kepada lembaga swasta. Sejalan dengan itu, Feder (2000) mengartikan
privatisasi penyuluhan sebagai pengalihan kewenangan kegiatan penyuluhan kepada lembaga
swasta/ LSM, lembaga penyiaran swasta, perusahaan swata, media masa, dan partisipasi stakeholders
yang lain.
7. Alasan utama yang mendorong perlunya privatisasi penyuluhan adalah, penghematan biaya
penyuluhan yang harus ditanggung oleh pemerintah. Alasan kedua, terkait dengan mutu atau
profesionalisme penyuluh dan kegiatan penyuluhan yang dilakukan. Alasan ketiga, adalah yang terkait
dengan politisasi kegiatan penyu-luhan pertanian.
8. Revitalisasi Penyuluhan Pertanian adalah suatu upaya mendudukkan, memerankan dan
memfungsikan serta menata kembali penyuluhan pertanian agar terwujud kesatuan
pengertian, kesatuan korp dan kesatuan arah kebijakan.
9. Revitalisasi berupaya memperbaiki sistem dan kinerja penyuluhan pertanian yang semenjak
akhir 1990-an sangat menurun kondisinya serta karena tingkat kemiskinan dikalangan petani
semakin meningkat.
10. Hasil yang diharapkan dari revitalisasi penyuluhan pertanian yaitu petani dan keluarganya
meningkat kapasitasnya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, sumberdaya lainnya
dalam rangka meningkatkan produktivitas usaha dan pendapatannya.

Diposkan 25th March 2012 oleh Sekar Wulan P


Label: swp
0

Tambahkan komentar
My World

Beranda

Terkini

Tanggal

Label

Penulis

LANGKAH-LANGKAH DALAM EVALUASI PERTANIAN (Perencanaan dan Evaluasi


Penyuluhan Pertanian)
Dec 26th
FERTILITAS
FERTILITAS
May 15th 2
Farm Planning and Budgeting
Farm Planning and Budgeting
May 15th
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Mar 6th
PERAN UTAMA PUBLIC RELATION
Dec 15th
Penulisan Bad News dalam Komunikasi Bisnis
Oct 13th
Virus Tweet Viewer Beredar di Twitter
Virus Tweet Viewer Beredar di Twitter
Sep 10th
KEWIRAUSAHAAN
KEWIRAUSAHAAN
Sep 6th
Komunikasi Bisnis
Sep 6th
Transfer Video dari Handycam Sony Mini-DV ke Komputer Menggunakan USB 2.0
Aug 20th
BEASISWA DATA PRINT
BEASISWA DATA PRINT
Aug 6th
Inilah Alasan Kenapa Banteng Benci Sama Warna Merah
Inilah Alasan Kenapa Banteng Benci Sama Warna Merah
Jul 8th
Psikotest ala Jepang
Psikotest ala Jepang
Jul 8th
Peranan Bawang Merah Terhadap Pembangunan Ekonomi
Jul 5th
PENGGUNAAN PARASITOID TELUR DAN LARVA SEBAGAI AGENS PENGENDALI
HAYATI EFEKTIF TERHADAP HAMA PENGGEREK TEBU
Jun 21st
Dormansi Benih
Dormansi Benih
May 15th
J E R U K ( Citrus sp. )
May 12th
11 Tempat Menyelam Terbaik Dunia
11 Tempat Menyelam Terbaik Dunia
May 11th
Review : Girls' Generation TaeTiSeo TWINKLE MV
May 6th 1
Asal-usul Kehidupan Melalui Evolusi Biologi dan Kimia
May 2nd
Pengembangan Ekonomi Kreatif Sektor Pertanian
Pengembangan Ekonomi Kreatif Sektor Pertanian
Apr 27th
Hama Dan Penyakit Utama Kacang Panjang serta Penanganan Panen dan Pasca Panen
Apr 27th
Mekanisme Pertahanan Tubuh Terhadap Virus
Mekanisme Pertahanan Tubuh Terhadap Virus
Apr 27th
HOPE IS A DREAM THAT DOESN'T SLEEP
HOPE IS A DREAM THAT DOESN'T SLEEP
Apr 26th
TIPS MENGHILANGKAN RASA MALAS BELAJAR
TIPS MENGHILANGKAN RASA MALAS BELAJAR
Apr 22nd
Cerita di Balik Mundurnya Soeharto
Cerita di Balik Mundurnya Soeharto
Apr 22nd
Six Thinking Hats: Teknik Mengambil Keputusan dari Semua Sudut Pandang
Apr 20th
Sinetron Indonesia plagiat drama/film Asia
Sinetron Indonesia plagiat drama/film Asia
Apr 17th
Tutorial Bikin Account Weibo :)
Tutorial Bikin Account Weibo :)
Apr 14th
Kamus Ekonomi
Kamus Ekonomi
Apr 14th
Hal Sepele di Kehidupan Ini Yang Bisa Bikin Kamu Mendadak Bahagia
Hal Sepele di Kehidupan Ini Yang Bisa Bikin Kamu Mendadak Bahagia
Apr 14th
Tips Mengatasi Tetangga Kosan yang Berisik
Tips Mengatasi Tetangga Kosan yang Berisik
Apr 14th
Anak Kerang
Apr 14th
The Story of Cow and Chicken
The Story of Cow and Chicken
Apr 14th
Wortel, Telur, Dan Kopi :)
Apr 14th
Petani Indonesia Memperjuangkan Hak-haknya di PBB
Petani Indonesia Memperjuangkan Hak-haknya di PBB
Apr 14th
Plus Minus Pestisida Nabati (Alami)
Apr 14th
Industri, Pertumbuhan Ekonomi dan Biaya Eksternalitas
Industri, Pertumbuhan Ekonomi dan Biaya Eksternalitas
Apr 14th
Arti kata Kamseupay ;)
Arti kata Kamseupay ;)
Mar 27th
Inilah 10 Negara dengan Harga Bensin Termahal di Dunia
Mar 27th
Misteri Gigitan pada Logo Apple
Mar 25th
Desentralisasi, Privatisasi dan Revitalisasi Penyuluhan Pertanian
Desentralisasi, Privatisasi dan Revitalisasi Penyuluhan Pertanian
Mar 25th
5 Film Horor yang Diambil dari Kisah Nyata
5 Film Horor yang Diambil dari Kisah Nyata
Mar 25th
Kata - Kata Bijak Terkenal dari Tokoh Dunia
Mar 25th
Long Live Education In Islam
Long Live Education In Islam
Mar 25th
Organisasi Sosial dan Kepemimpinan Lokal
Organisasi Sosial dan Kepemimpinan Lokal
Mar 25th
Makanan Khas SOLO :D
Mar 25th
Corat Coret
Mar 24th
Kependudukan :D
Kependudukan :D
Mar 24th
Kelembaban Udara
Kelembaban Udara
Mar 20th
T.T (Malam Penggalauan)
T.T (Malam Penggalauan)
Mar 20th 1
SENGKETA TANAH MERUYA
SENGKETA TANAH MERUYA
Mar 20th
Faktor Yang Mempengaruhi Perkecambahan Benih
Faktor Yang Mempengaruhi Perkecambahan Benih
Mar 19th
14 Fakta Unik Tentang Bahasa Inggris
14 Fakta Unik Tentang Bahasa Inggris
Mar 18th
Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tanaman
Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tanaman
Mar 18th 8
40 Fakta Unik Tentang SpongeBob SquarePants :D
Mar 18th 1
Budidaya Kangkung
Mar 18th
39 Hal Unik Ada Di Sekitar Kita
Mar 18th 1
Stay Away from 3 Characters Which Can Destroy Yourself (Blame, Excuse, Justify)
Stay Away from 3 Characters Which Can Destroy Yourself (Blame, Excuse, Justify)
Mar 18th
Alasan Saya Memilih Islam :)
Mar 18th
7 Perilaku Sesat Seorang Jomblo
Mar 18th 1
HIDUP SEHAT KONSUMSI PADI ORGANIK
HIDUP SEHAT KONSUMSI PADI ORGANIK
Mar 18th
AGROKLIMAT
AGROKLIMAT
Mar 18th
Green Economy
Green Economy
Mar 17th
Country Report of Canada
Country Report of Canada
Mar 17th

Memuat
Template Dynamic Views. Diberdayakan oleh Blogger.