Anda di halaman 1dari 5

LEMBAR KERJA PRAKTIKUM

PAPLC-B

Kelompok 3 :

Fatimah azzahro ( P17433112049 )

Hella prihatiningtyas ( P17433112050 )

Ibnu misbahul munir ( P17433112051 )

Intan anggraeni ( P17433112053 )

Kelas : 2B Kesehatan Lingkungan

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG


PRODI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
TAHUN PELAJARAN 2012/2013
PERCOBAAN PENGUKURAN ANGKA PERESAPAN

A. ACARA
Percobaan pengukuran angka peresapan tanah (percolation test)
B. TUJUAN
Untuk mengetahui kemampuan tanah dalam meresapkan air yang nantiya data ini
berguna dalam desain septic tank.
C. METODE
Penggalian tanah dengan auger dan memasukkan air lalu diukur penurunan airnya.
D. TINJAUAN TEORI
Dalam usaha penanganan terhadap air limbah secara tersendiri ataupun secara
tergabung (kolektif) dalam penanganan ekskreta manusia, akan diperoleh kenyataan
bahwa pada akhirnya upaya penanganan tersebut akan berakhir dengan pembuangan
terakhir dari pada air limbah yang telah mengalami pengolahan sebelumnya. Salah satu
cara yang dapat ditempuh dalam pembuangan air limbah ini adalah dengan cara
membuang serta meresapkannya ke dalam tanah. Sudah barang tentu cara ini juga
memiliki potensi yang dapat merugikan terhadap kesehatan manusia, mengingat efluen
yang diresapkan ke dalam tanah tersebut masih mengandung bahan pencemar, baik
yang tergolong dalam pencemar kemis ataupun biologis dan fisis dengan tingkat
konsentrasi tertentu. Atas dasar pengerrtian inilah maka daerah yang menjadi tempat
pembuangan akhir dari efluen tersebut haris senantiasa diperhitungkan jaraknya dari
suatu suber air tanah yang telah ada ataupun yang akan dibangun di sekitarnya.
Daerah dimana dilakukan peresapan efluen ke dalam tanah ini biasa disebut dengan
istilah lapangan peresapan (absorption field) atau lapangan pembuangan (disposal
field). Mengingat bahwa upaya ini didasarkan pada pencapaian tujuan untuk dapat
meresapkan efluen ke dalam tanah lewat pori-pori tanah yang ada, maka potensi untuk
dapat meresapkan efluen yang dimiliki oleh suatu jenis tanah di daerah yang akan
digunakan untuk lapangan peresapan perlu diteliti untuk mengetahui angka
peresapannya yang menjadi ukuran potensinya. Dalam menentukan nilai angka
peresapan ini diperlukan suatu prosedur pengukuran yang disebut percobaan
pengukuran angka peresapan (percolation tes).
Tabel kebutuhan luas daerah peresapan untuk rumah-rumah
tempat tinggal dan sekolahan
Luas daerah peresapan yang diperlukan
Angka dalam m2 per orang yang dilayani.
peresapan Rumah tempat
Sekolahan
tinggal
2 atau 2,30 0,84
kurang
3 2,80 0,93
4 3,25 1,12
5 3,50 1,21
10 4,65 1,67
15 5,35 1,68
30 7,00 2,70
45 8,45 3,10
60 9,30 1,50
Diatas 60 Tidak sesuai untuk Tidak sesuai untuk
sistim peresapan sistim peresapan
dangkal dangkal

E. PELAKSANAAN

1. ALAT 2. BAHAN
1. Auger Air
2. Linggis, Cangkul, Sekop, Ember Krikil
3. Penggaris Batang kayu penanda ketinggian air
4. Alat ukur percolation

3. CARA KERJA
Salah satu prosedur kerja yang dianjurkan dan dipakai dalam penentuan angka
peresapan tanah adalah seperti berikut ini:

1. Banyaknya dan lokasi percobaan


Enam atau lebih percobaan harus dilakukan pada lubang percobaan percobaan
dengan jarak yang sama di seluruh lokasi lapangan peresapan yang telah
ditentukan.

2. Tipe lubang percobaan


Gali atau borlah tanah hingga tercipta lubang dengan ukuran horizontal 4-12 inchi
(10-30 cm) dan sisi vertikal sampai kedalaman parit atau sumur peresapan yang
diinginkan. Untuk menghemat waktu serta tenaga, serta banyaknya air yang
diperlukan untuk tiap percobaan maka lubang tersebut dapat dibor dengan
menggunakan auger yang berdiameter 4 inchi (10 cm).

3. Penyiapan lubang percobaan


Tambahkan kerikil dengan ketinggian 5 cm. Untuk menciptakan kondisi alamiah
dan melindungi dasar lubag dari pengikisan atau endapan.

4. Penjenuhan dan pengembangan tanah


Tancapkan batang kayu penanda dengan ketinggian 15 cm dan 30 cm dari
permukaan kerikil, lalu masukkan air kedalam lubang dengan ketinggian 30 cm
dari permukaan krikil dan bila permukaan air menurun tambahkan air lagi dan jaga
kondisi air agar stabil. Waktu penahanan air sekurang-sekuranya 4 jam atau
sebaiknya satu malam penuh, dengan tujuan agar tanah terkondisi seperti pada
musim hujan lebat. Pada tanah pasir tidak perlu dilakukan penjenuhan

5. Pengukuran angka peresapan tanah


a. Apabila masih ada setelah waktu tahan 4 jam atau satu malam penuh,
lalu atur kondisi air pada ketinggian 15 cm dari krikil, lalu ukur penurunan
permukaan air pada periode 30 menit. Data tersebut digunakan untuk
menghitung angka peresapan;
b. Apabila tidak ada air lagi, maka tambahkan air dengan ketinggian 15
cm dari permukaan krikil lalu lakukan pengukuran setiap 30 menit selama 4
jam dengan pengisian kembali setinggi 15 cm. Penurunan untuk periode 30
menit yang terakhir adalah yang digunakan untuk menghitung angka peresapan.
c. Pada tanah pasir (bila 15 cm air yang pertama merembes dalam
waktu kurang dari 30 menit, setelah periode penjenuhan). Interval pengukuran
harus diambil 10 menit dan durasinya selama 1 jam. Perhitungan penurunan air
untuk 10 mneit yang terakhir yang dijadikan dasar perhitungan angka
peresapan.
6. Kriteria tambahan untuk pertimbangan kesesuaian tanah
Pada daerah yang air tanahnya dangkal, kedalaman sampai permukaan air tanah
harus ditentukan. Apabila selama periode yang panjang dalam setahun, kedalaman
permukaan air tanah normal kurang dari 4 kaki (1,2 m), pertimbang khusus bila
daerah kedap air kurang dari 4 kaki (1,2 m).

Tipe tanah A : air masih ada setelah 30 menit


Tipe tanah B : air tepat habis pada 30 menit

Tipe tanah C : air sudah habis sebelum 30 menit

4. HASIL
Hasil yang diperoleh dari praktek yang kelompok kami lakukan pada tanah didekat
ruang R2 didapatkan hasil bahwa tanah berjenis tanah A atau air masih ada setelah 30
menit.