Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM PERBEKALAN STERIL

CARA STERILISASI ALAT DAN BAHAN

Disusun oleh:

Oki Lia Saputri G1F014001

Dina Prarika G1F014003

Putri Dwi Lestari G1F014005

Rezky Bela Putri PN. G1F014007

LABORATORIUM FARMASETIKA

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS ILMU ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2016
CARA STERILISASI ALAT DAN BAHAN

I. PENDAHULUAN
a. Tujuan
Tujuan dari praktikum adalah menguraikan dan melakukan
pencucian dan sterilisasi peralatan alat dan bahan yang akan
digunakan untuk menangani produk steril; serta mampu
menguraikan cara cara sterilisasi yang dilakukan terhadap alat
dan bahan berdasarkan karakteristik alat dan bahan tersebut.
b. Tinjauan Pustaka
Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu
bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Pada
prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu
secara mekanik, fisika dan kimiawi. Sterilisasi mekanik (filtrasi)
menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil
(berukuran 0,22 atau 0,45 ) sehingga mikroba tertahan pada
saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan
yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik.
Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan cara pemanasan atau
penyinaran. Pemanasan dapat dilakukan dengan cara pemijaran,
pemanasan kering, menggunakan uap air panas, dan uap air
panas bertekanan (Agalloco, 2008).
Salah satu teknik sterilisasi yang umum digunakan adalah
metode sterilisasi menggunakan uap air panas bertekanan atau
menggunakan prinsip kerja autoklaf. Suhu dan tekanan tinggi
yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi
memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel
disbanding dengan udara panas. Biasanya untuk mensterilkan
media digunakan suhu 121 oC dan tekanan 15 lbs (SI = 103,4
Kpa) selama 15 menit (Weber, 2016). Sedangkan pemijaran
langsung digunakan untuk mensterilkan spatula, logam batang
gelas, filter logam, beaker filed, dan filter bakteri lainnya. Mulut
botol, vial dan labu ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan
alat alat lain yang tidak hancur dengan pemijaran langsung
(Pratiwi, 2008).
II. PEMBAHASAN
a. Analisis Farmakologi
-
b. Preformulasi
Preformulasi menurut Depkes RI (1979) adalah sebagai berikut:
1. Air suling
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : pelarut, pereaksi
2. Alkohol
Pemerian : cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan
mudah bergerak; bau khas; rasa panas. Mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang
tidak berasap.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P
dan dalam eter P.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung
dari cahaya; di tempat sejuk, jauh dari nyala api.
Kegunaan : zat tambahan
3. HCl
Pemerian : cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang,
jika diencerkan dengan 2 bagian air asap dan bau
hilang.
Kelarutan : larutan yang sangat encer masih bereaksi
dengan asam kuat terhadap kertas lakmus.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : zat tambahan
c. Pendekatan Formulasi
1. Alkohol
Alkohol 70% digunakan untuk mensterilkan alat alat secara
kimia karena daya kerja alkohol yang dapat mengkoagulasi
protein. Alasan penggunaan alkohol dengan kadar 70% karena
etil alkohol sangat efektif pada kadar 70% daripada 100% dan
ini tidak membunuh spora sehingga konsentrasi yang lebih
tinggi atau lebih rendah kurang efektif (Gupte, 1999).
2. HCl
Pencucian dengan HCl encer untuk menetralkan sifat alkalis
dari gelas akibat proses leburannya (Lachman, 1999).
d. Formulasi
-
e. Sterilisasi
Metode sterilisasi yang digunakan dalam praktikum ini
adalah sterilisasi panas uap bertekanan menggunakan autoklaf
dan panas kering menggunakan oven. Pada percobaan pertama
dilakukan sterilisasi tutup karet botol infus. Metode yang
digunakan adalah sterilisasi uap panas bertekanan
menggunakan autoklaf, yang bertujuan untuk membuat spora
jamur yang masih ada menjadi bentuk aktif (vegetatif) sehingga
bahan desinfektan dapat membunuh spora jamur tersebut.
Sterilisasi ini digunakan pada tutup karet karena karet tidak
tahan terhadap panas oven. Kemudian tutup karet diautoklaf 121
o
C selama 15 menit (Lachman, 1994).
Percobaan kedua dilakukan sterilisasi botol infus/ampuk/vial
menggunakan metode sterilisasi panas kering. Sterilisasi panas
kering dilakukan menggunakan oven dengan suhu 170 oC selama
15 menit. Mikroorganisme akan mengalami kekeringan jika
dipaparkan pada suhu tinggi, akibatnya sel akan lisis dan mati.
Kekurangan sterilisasi panas kering yaitu masih bertahannya
endospore bakteri (Lachman, 1994).
Pada percobaan ketiga, dilakukan sterilisasi alat kesehatan
reusable (instrument). Metode yang digunakan adalah sterilisasi
panas kering menggunakan oven dengan suhu 170 oC selama 15
menit. Kemudian setelah disterilisasi menggunakan oven,
disterilisasi kembali menggunakan autoklaf (uap panas
o
bertekanan) pada suhu 121 C selama 15 menit (Lachman,
1994).
f. Evaluasi Sediaan
Keberhasilan proses sterilisasi alat dapat ditentukan dengan
melakukan uji sterilitas sesuai dengan Farmakope Indonesia IV.
Menurut Farmakope Indonesia IV (1995), uji sterilisasi digunakan
dengan membilas (rinse) alat yang telah disterilisasi ke dalam
akuades murni. Akuades tersebut kemudian dimasukkan dan
diinkubasi dalam medium yang telah ditentukan. Medium
pertumbuhan yang digunakan harus memiliki sifat merangsang
pertumbuhan mikroba. Medium yang digunakan berdasarkan
Farmakope Indonesia IV (1995), adalah sebagai berikut:
Medium tioglikolat cair, digunakan untuk inkubasi pada kondisi
aerob dengan pH akhir medium uji sterilisasi adalah 7,1 0,2
diukur pada suhu ruangan.
Medium tioglikolat alternatif, digunakan untuk inkubasi pada
kondisi anaerob dengan pH akhir medium adalah 7,1 0,2
diukur pada suhu ruangan.
Soybean casein digest medium, digunakan untuk inkubasi
pada kondisi aerob dengan pH akhir medium adalah 7,3 0,2
diukur pada suhu ruangan.
Jika hasil dari uji sterilisasi menggunakan medium tersebut
menunjukkan adanya kontaminasi mikroba, maka dapat
ditentukan bahwa bahan atau alat tersebut tidak memenuhi
persyaratan sterilitas. Begitu juga sebaliknya, jika medium gagal
menunjukkan kontaminasi mikroba, maka ditentukan bahwa
bahan atau alat tersebut memenuhi persyaratan uji sterilitas
(Deokes RI, 1995).
g. Desain Kemasan
-
h. Informasi Obat
-
III. PERHITUNGAN
-
IV. PENIMBANGAN
-
V. CARA PEMBUATAN
Pada percobaan pertama, dilakukan pencucian dan sterilisasi
tutup karet botol infus. Tutup karet botol infus diendam dalam
alkohol 70% selama 15 menit, kemudian dicuci dengan air;
dilakukan pengulangan pencucian smapai tutup botol bersih.
Selanjutnya ditambahkan akuades lalu dimasukkan ke autoklaf
selama 15 menit pada suhu 121 oC.
Kemudian pada percobaan kedua dilakukan pencucian dan
sterilisasi ampul/vial/botol infuse. Pencucian ampul/vial/botol infuse
dilakukan menggunakan HCl encer, lalu dibilas menggunakan air.
Pembilasan dilakukan berulang sampai ampul/vial/botol infuse
bersih, kemudian dicuci menggunakan akuades. Container diatur
dengan teratur dan rapi dalam oven dan disterilkan pada suhu 170
o
C selama 15 menit.
Percobaan ketiga dilakukan pencucian dan sterilisasi alat
kesehatan reusable (instrument). Instrument yang sudah bersih
direndam dalam larutan alkohol 70% selama 15 menit, dibilas
menggunakan air biasa atau air panas mengalir, kemudian
dikeringkan dalam oven suhu 170 oC selama 15 menit atau sampai
kering. Instrument yang sudah kering kemudian dimasukkan ke
dalam bak instrument yang terbuat dari stainless steel dan
dibungkus aluminium foil. Lalu disterilkan dalam autoklaf pada suhu
121 oC selama 15 menit.
Pada percobaan selanjutnya yaitu pengambilan sampel bahan
pengemas primer untuk uji sterilitas. Di dalam ruang steril, di bawah
laminar air flow (LAF) yang telah disiapkan, sampel diambil dari
bahan pengemas primer (tutup karet botol infus/ampul/vial/botol
infus) menggunakan pinset stainless steril. Selanjutnya dimasukkan
dalam 10 ml akuades steril. 1 ml akuades steril tersebut dimasukkan
ke dalam media tioglikolat cair dan diinkubasi dalam kondisi aerob.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Agalloco, J., 2008, Validation of Pharmaceutical Processes
(Electronic Version), Informa Healthcare Inc, USA.
Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
Lachman, L.K., 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri II, Penerbit
UI, Jakarta.
Pratiwi, S.T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta.
Weber, Tobias A, Jan-Christoph, Arent, Lukas, Mnch, Miro,
Duhovic, Johannes M., Balvers, 2016, A fast method for the
generation of boundary conditions for thermal autoclave
simulation, Composites Part A: Applied Science and
Manufacturing, Vol. 88:216225.