Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Paru adalah struktur elastis yang dibungkus dalam rongga toraks, yang
merupakan suatu rongga udara kuat dengan dinding yang dapat menahan
tekanan. Ventilasi membutuhkan gerakan dinding rongga toraks dan dasarnya,
yaitu diafragma. Efek dari gerakan ini adalah secara bergantian meningkatkan
dan menurunkan kapasitas dada. Ketika kapasitas dalam dada meningkat,
udara masuk melalui trakea (inspirasi) karena penurunan tekanan di dalam,
dan mengembangkan paru.ketika dinding dada dan diafragma kembali ke
ukurannya semula (ekspirasi), paru-paru yang elastis tersebut mengempis dan
mendorong udara keluar melalui bronkus dan trakea. Fase inspirasi dari
pernapasan normalnya membutuhkan energi; fase ekspirasi normalnya pasif.
Inspirasi menempati sepertiga dari siklus pernapasan, ekspirasi menempati dua
pertiganya.
Pneumothoraks adalah suatu kondisi adanya udara yang terperangkap
di rongga pleura akibat robeknya pleura visceral, dapat terjadi spontan atau
karena trauma, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan negatif
intrapleura sehingga mengganggu proses pengembangan paru. Pneumothoraks
terjadi karena trauma tumpul atau tembus toraks.Dapat pula terjadi karena
robekan pleura viseral yang disebut dengan barotrauma, atau robekan pleura
mediastinal yang disebut dengan trauma trakheobronkhial (American College
of Surgeons Commite on Trauma, 2005, Willimas, 2013)
Menurut teori adaptasi Sister Calista Roy bahwa manusia adalah suatu
sistem adaptif dan holistik. Hal ini berarti manusia mempunyai kemampuan
untuk menyesuaikan diri terhadap input, proses, dan output sebagai satu
kesatuan yang utuh. Jika input (rangsangan) tersebut meningkatkan integritas
individu, maka respons tersebut disebut adaptif, tetapi jika respons tersebut
sebaliknya, maka disebut maladaptif.
Dalam asuhan keperawatan, menurut Roy sebagai penerima asuhan
keperawatan adalah individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang
dipandang sebagai holistic adatif system dalam segala aspek yang merupakan
2

satu kesatuan. System adalah suatu kesatuan yang dihubungkan untuk


beberapa tujuan dan adanya saling ketergantungan dari setiap bagian-
bagiannya. System terdiri dari proses input, output, kontrol dan umpan balik
(Tomey & Alligood, 2006).
Dengan Model Adaptasi Roy, perawat dapat meningkatkan
penyesuaian diri pasien dalam menghadapi tantangan yang berhubungan
dengan sehat-sakit, meningkatkan penyesuaian diri pasien menuju adaptasi
dalam menghadapi stimulus. Kesehatan diasumsikan sebagai hasil dari
adapatasi pasien dalam menghadapi stimulus yang datang dari lingkungan.
Keperawatan menurut Roy adalah sebagai proses interpersonal yang diawali
karena maladaptasi terhadap perubahan lingkungan. Tindakan keperawatan
diarahkan untuk menguragi atau menghilangkan dan meningkatkan
kemampuan adaptasi manusia. Maka keperawatan menurut teori Roy adalah
disiplin ilmu bidang humanistik yang memberikan penekanan pada
kemampuan seseorang untuk mengatasi masalahnya. Peran perawat dalam hal
ini mempasilitasi potensi klien untuk beradaptasi dalam menghadapi
perubahan kebutuhan dasarnya. Sedangkan tujuan keperawatan adalah untuk
meningkatkan respons adaptasi yang meliputi 4 model adaptasi, yaitu
fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi.

1.2 Tujuan Penulisan


1. Tujuan Umum
Mampu menganalisa teori adaptasi Roy sebagai pendekatan aplikatif
dalam asuhan keperawatan klien dengan pneumothoraks
2. Tujuan Khusus
1. Memahami konsep teori Roy
2. Memahami konsep pneumothoraks
3. Membuat pengkajian pneumothoraks dalam konsep teori Roy
4. Menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan NANDA pada
pneumothoraks dalam konsep teori Roy
5. Membuat intervensi keperawatan berdasarkan NIC dan NOC pada
pneumothoraks dalam konsep teori Roy

1.3. Sistematika Penulisan


2. Bab 1 : Pendahuluan
3. Bab 2 : Tinjauan Pustaka
3

4. Bab 3 : Aplikasi Asuhan Keperawatan Teori Adapatasi Roy pada


pasien dengan pneumothoraks
5. Bab 4 : Pembahasan
6. Bab 5 : Penutup

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Roy Adaptation Model


2.1.1. Konsep Teori Roy
Dalam asuhan keperawatan, menurut Roy (1984) sebagai penerima
asuhan keperawatan adalah individu, keluarga, kelompok, masyarakat
dipandang sebagai Holistic adaptif system dalam segala aspek yang
merupakan satu kesatuan. Sister Callista Roy memandang manusia sebagai
3ember adaptif ketika manusia dapat berespon secara positif terhadap
perubahan lingkungan. Sebagai 3ember yang dapat menyesuaikan diri,
manusia dapat digambarkan secara bio, psiko, 3ember sebagai satu kesatuan
yang mempunyai input (masukan), processes dan output (keluaran/hasil).
1. Input (stimulus)
Pada manusia sebagai suatu sistim yang dapat menyesuaikan diri: yaitu
dengan menerima masukan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam
diri individu itu sendiri (Faz Patrick & Wall; 1989). Input atau stimulus
4

yang masuk, dimana feedbacknya dapat berlawanan atau responnya yang


berubah ubah dari suatu stimulus. Hal ini menunjukkan bahwa manusia
mempunyai tingkat adaptasi yang berbeda dan sesuai dari besarnya
stimulus yang dapat ditoleransi oleh manusia.
2. Control (mekanisme koping).
Proses 4ember4 seseorang menurut Roy adalah bentuk mekanisme koping
yang di gunakan. Mekanisme 4ember4 ini dibagi atas regulator dan
kognator yang merupakan subsistem.
1. Subsistem regulator.
Subsistem regulator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan
perubahan pada sistim saraf, kimia tubuh, dan organ endokrin.
Subsistim regulator merupakan mekanisme kerja utama yang berespon
dan beradaptasi terhadap stimulus lingkungan.

2. Subsistem kognator.
Subsistem Kognator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan
perubahan kognitif dan emosi, termasuk didalamnnya persepsi, proses
pembelajaran, membuat 4ember4 dan emosional.
c) Output
Roy mengkategorikan output 4ember sebagai respon yang adaptif atau
respon yang tidak mal-adaptif. Koping yang tidak konstruktif atau tidak
efektif berdampak terhadap respon sakit (mal-adaptif). Jika pasien
masuk pada zona 4ember4ent4 maka pasien mempunyai masalah
keperawatan adaptasi. Terdapat tiga tingkatan adaptasi pada manusia
yang dikemukakan oleh Roy, diantaranya:
a) Fokal stimulasi yaitu stimulus yang langsung beradaptasi dengan
seseorang dan akan mempunyai pengaruh kuat terhadap seseorang
individu.
b) Kontekstual stimulus, merupakan stimulus lain yang dialami
seseorang, dan baik stimulus internal maupun eksternal, yang dapat
mempengaruhi, kemudian dapat dilakukan observasi, diukur secara
subjektif.
c) Residual stimulus, merupakan stimulus lain yang merupakan 4embe
tambahan yang ada atau sesuai dengan situasi dalam proses
penyesuaian dengan lingkungan yang sukar dilakukan observasi.
5

Sistem adaptasi Roy memiliki empat mode adaptasi diantaranya:


1. Pertama, fungsi fisiologis, komponen system adaptasi ini yang adaptasi
fisiologis diantaranya oksigenasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas dan
istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan elektrolit, fungsi neurologis
dan fungsi endokrin.
2. Kedua, konsep diri yang mempunyai pengertian bagaimana seseorang
mengenal pola-pola interaksi social dalam berhubungan dengan orang
lain.
3. Ketiga, fungsi peran merupakan proses penyesuaian yang berhubungan
dengan bagaimana peran seseorang dalam mengenal pola-pola interaksi
social dalam berhubungan dengan orang lain
4. Keempat, interdependent merupakan kemampuan seseorang mengenal
pola pola tentang kasih 5ember, cinta yang dilakukan melalui hubungan
secara interpersonal pada tingkat individu maupun kelompok. Elemen
dalam proses keperawatan menurut Roy meliputi pengkajian tahap
pertama dan kedua, 5ember5e, tujuan, intervensi, dan evaluasi, langkah-
langkah tersebut sama dengan proses keperawatan secara umum.

2.1.2 Penerapan Teori Roy Adatasi Mode dalam Proses Keperawatan


1. Pengkajian tingkah laku (assessment of behavior)
a. Mode Fisiological
Fungsi fisiologi berhubungan dengan struktur tubuh dan
fungsinya. Roy mengidentifikasi 5ember5e kebutuhan dasar
fisiologis yang harus dipenuhi untuk mempertahankan integritas,
yang dibagi menjadi dua bagian, mode fungsi fisiologis tingkat
dasar yang terdiri dari 5 kebutuhan dan fungsi fisiologis dengan
proses yang kompleks terdiri dari 4 bagian yaitu :
Oksigenasi : Kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan
prosesnya, yaitu ventilasi, pertukaran gas dan 5ember5en gas
(Vairo,1984 dalam Roy 1991).
Nutrisi : Mulai dari proses ingesti dan asimilasi makanan
untuk mempertahankan fungsi, meningkatkan pertumbuhan
6

dan mengganti jaringan yang injuri. (Servonsky, 1984 dalam


Roy 1991).
Eliminasi : Yaitu ekskresi hasil dari 6ember6ent dari
instestinal dan ginjal. ( Servonsky, 1984 dalam Roy 1991)
Aktivitas dan istirahat : Kebutuhan keseimbangan aktivitas
fisik dan istirahat yang digunakan untuk mengoptimalkan
fungsi fisiologis dalam memperbaiki dan memulihkan semua
komponen-komponen tubuh. (Cho,1984 dalam Roy, 1991).
Proteksi/ perlindungan : Sebagai dasar defens tubuh termasuk
proses imunitas dan struktur 6ember6ent ( kulit, rambut dan
kuku) dimana hal ini penting sebagai fungsi proteksi dari
infeksi, trauma dan perubahan suhu. (Sato, 1984 dalam Roy
1991).
The sense / perasaan : Penglihatan, pendengaran, perkataan,
rasa dan bau memungkinkan seseorang berinteraksi dengan
lingkungan . Sensasi nyeri penting dipertimbangkan dalam
pengkajian perasaan.( Driscoll, 1984, dalam Roy, 1991).
Cairan dan elektrolit. : Keseimbangan cairan dan elektrolit di
dalamnya termasuk air, elektrolit, asam basa dalam seluler,
ekstrasel dan fungsi sistemik. Sebaliknya inefektif fungsi
6ember fisiologis dapat menyebabkan ketidakseimbangan
elektrolit. (Parly, 1984, dalam Roy 1991).
Fungsi syaraf / neurologis : Hubungan-hubungan neurologis
merupakan bagian integral dari regulator koping mekanisme
seseorang. Mereka mempunyai fungsi untuk mengendalikan
dan mengkoordinasi pergerakan tubuh, kesadaran dan proses
emosi kognitif yang baik untuk mengatur aktivitas organ-
organ tubuh (Robertson, 1984 dalam Roy, 1991).
Fungsi endokrin : Aksi endokrin adalah pengeluaran horman
sesuai dengan fungsi neurologis, untuk menyatukan dan
mengkoordinasi fungsi tubuh. Aktivitas endokrin mempunyai
peran yang signifikan dalam respon stress dan merupakan dari
regulator koping mekanisme ( Howard & Valentine dalam
Roy,1991).
7

b. Mode konsep diri


Mode konsep diri berhubungan dengan psikososial dengan
penekanan spesifik pada aspek psikososial dan spiritual manusia.
Kebutuhan dari konsep diri ini berhubungan dengan integritas
psikis antara lain persepsi, aktivitas mental dan ekspresi perasaan.
Konsep diri menurut Roy terdiri dari dua komponen yaitu the
physical self dan the personal self.

The physical self, yaitu bagaimana seseorang memandang


dirinya berhubungan dengan sensasi tubuhnya dan gambaran
tubuhnya. Kesulitan pada area ini sering terlihat pada saat
merasa kehilangan, seperti setelah operasi, amputasi atau
hilang kemampuan seksualitas.
The personal self, yaitu berkaitan dengan konsistensi diri,
ideal diri, moral- etik dan spiritual diri orang tersebut.
Perasaan cemas, hilangnya kekuatan atau takut merupakan hal
yang berat dalam area ini.

c. Mode fungsi peran


Mode fungsi peran mengenal pola pola interaksi 7ember
seseorang dalam hubungannya dengan orang lain, yang
dicerminkan dalam peran primer, sekunder dan tersier. Fokusnya
pada bagaimana seseorang dapat memerankan dirinya
dimasyarakat sesuai kedudukannya

d. Mode Interdependensi
Mode interdependensi adalah bagian akhir dari mode yang
dijabarkan oleh Roy. Fokusnya adalah interaksi untuk saling
7ember dan menerima cinta/ kasih 7ember, perhatian dan saling
menghargai.
Interdependensi yaitu keseimbangan antara ketergantungan dan
kemandirian dalam menerima sesuatu untuk dirinya.
Ketergantungan ditunjukkan dengan kemampuan untuk afiliasi
dengan orang lain. Kemandirian ditunjukkan oleh kemampuan
8

berinisiatif untuk melakukan tindakan bagi dirinya.


Interdependensi dapat dilihat dari keseimbangan antara dua nilai
ekstrim, yaitu 8ember dan menerima.

2. Pengkajian stimulus (assessment of stimuli)


Langkah kedua dari proses keperawatan yang melibatkan
identifikasi dari stimulus internal dan eksternal yang mempengaruhi
tingkah laku adaptif individu. Stimulus diklasifikasikan atas :
a. Focal stimuli merupakan stimulus yang secara langsung
mempengaruhi individu;
b. Contextual stimuli merupakan stimulus lain yang hadir dan
mempengaruhi situasi ;
c. Residual stimuli merupakan stimulus yang memberikan efek pada
situasi tetapi belum jelas
3. Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa keperawatan menurut teori adaptasi Roy adalah
sebagai suatu hasil dari pengambilan keputusan berhubungan dengan
kurang mampunya adaptasi. Diagnosa keperawatan dirumuskan
dengan mengobservasi tingkah laku klien terhadap pengaruh
lingkungan.Menurut Roy& Andrews (1999); Tomey & Alligood,
(2006), ada 3 metode dalam menetapkan diagnosa keperawatan yaitu
suatu pernyataan dari prilaku dengan stimulus yang sangat
mempengaruhi, suatu ringkasan tentang prilaku dengan stimulus yang
relevan, serta penamaan yang meringkaskan pola prilaku ketika lebih
dari satu mode kena dampak oleh stimulus yang sama. Setelah
pengkajian data dibedakan antara 2 hal yaitu data yag termasuk
adaptasi positif atau masalah adaptasi. Oleh karena itu, diagnosa
keperawatan menurut Model Adaptasi Roy dapat berupa diagnosa
keperawatan positif untuk adaptasi positif dan diagnosa keperawatan
yang diangkat berdasarkan masalah adaptasi.
4. Penetapan Tujuan Keperawatan.
9

Roy menyampaikan bahwa tujuan pada intervensi


keperawatan adalah untuk mempertahankan dan mempertinggi
perilaku adaptif dan mengubah perilaku inefektif menjadi adaptif.
Penetapan tujuan dibagi atas tujuan jangka panjang dan jangka pendek.
Tujuan jangka panjang meliputi: hidup, tumbuh, reproduksi dan
kekuasaan. Sedangkan tujuan jangka pendek meliputi: tercapainya
tingkah laku yang diharapkan setelah dilakukan manipulasi terhadap
stimulasi fokal, kontektual dan residual (Roy & Andrews, 1999;
Tomey &Allagood,2006).
5. Intervensi
Menurut Roy & Andrews (1999) dalam Alligood & Tomey
(2006), intervensi keperawatan memfokuskan pada cara untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Intervensi keperawatan berisi
manajemen terhadap stimulus yang mempengaruhi prilaku dan
mengubah atau memanifulasi stimulasi fokal, kontekstual dan residual,
juga difokuskan pada koping individu sehingga seluruh stimulasi
sesuai dengan kemampuan individu untuk beradaptasi.Intervensi
keperawatan dinilai efektif jika tingkah laku pasien sesuai dengan
tujuan yang ditetapkan dengan cara merubah, meningkatkan,
menurunkan, menghilangkan, atau memelihara stimulus tersebut.
Perubahan stimulus mempertinggi kemampuan mekanisme koping
seseorang untuk berespon positif dan menghasilkan prilaku yang
adaptif.
Intervensi keperawatan ditetapkan berdasarkan 4 hal yang
meliput: apa pendekatan alternatif yang akan dilakukan, apa
konsekuensi yang akan terjadi, apakah mungkin tujuan tercapai oleh
elternatif tersebut, dan nilai alternatif itu diterima atau tidak. Intervensi
keperawatan ini dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain
(pasien, keluarga, dan tim kesehatan lain). Roy & Andrews (1999);
Alligood & Tomey (2006).

2.2. Pneumothoraks
1. Pengertian
10

Pneumothoraks adalah suatu kondisi adanya udara yang


terperangkap di rongga pleura akibat robeknya pleura visceral, dapat
terjadi spontan atau karena trauma, yang mengakibatkan terjadinya
peningkatan tekanan negatif intrapleura sehingga mengganggu proses
pengembangan paru. Pneumothoraks terjadi karena trauma tumpul atau
tembus thoraks.Dapat pula terjadi karena robekan pleura viseral yang
disebut dengan barotrauma, atau robekan pleura mediastinal yang
disebut dengan trauma trakheobronkhial (American College of Surgeons
Commite on Trauma, 2005, Willimas, 2013).
Pneumothorak adalah adanya udara dalam rongga pleura.
Biasanya pneumotorak hanya temukan unilateral, hanya pada blast-
injury yang hebat dapat ditemukan pneumotorak bilateral. (Halim
danusantoso dalam Andra Saferi Wijaya dan Yessie Mariza Putri, 2013).
Penumotorak hanya adanya udara dalam rongga pleura akibat robeknya
pleura (Silvia. A Price, 2006). Pneumotorak adalah keluarga udara dari
paru yang cedera kedalam rongga pleura (Dieae C Baughman,2000).

2. Klasifikasi
1. Simple pneumothoraks adalah yang tidak disertai peningkatan
intrathoraks yang progesif. Manifisetasi klinis yang dijumpai:
a) Paru pada sisi yang terkena akan kolaps, parsial atau total.
b) Tidak dijumpai mediastinal shift.
c) Dijumpai hipersonor pada daerah yang terkena.
d) Dijumpai suara napas yang melemah sampai menghilang pada
daerah yang terkena.
e) Dijumpai kolaps paru pada daerah yang terkena.
f) Pada pemeriksaan foto thoraks dijumpai adanya gambaran
radiolusen atau gambaran lebih hitam pada daerah yang terkena,
biasanya dijumpai gambaran pleura line.
2. Tension pneumothoraks adalah pneumothoraks yang disertai
peningkatan tekanan intrathoraks yang semakin lama semakin
bertambah atau progresif. Pada tension pneumothoraks ditemukan
11

mekanisme ventil atau udara dapat masuk dengan mudah, tetapi


tidak dapat keluar. Adapun manifestasi klinis yang dijumpai :
a) Terjadi peningkatan intra toraks yang progresif, sehingga terjadi
kolaps total paru, mediastinal shift atau pendorongan
mediastinum ke kontralateral, deviasi trachea, hipotensi
&respiratory distress berat.
b) Tanda dan gejala klinis: sesak yang bertambah berat dengan
cepat, takipneu, hipotensi, tekanan vena jugularis meningkat,
pergerakan dinding dada yang asimetris.
c) Tension pneumotoraks merupakan keadaan life-threatening,
maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan foto toraks.
3. Open pnemothoraks terjadi karena luka terbuka yang cukup besar
pada toraks sehingga udara dapat keluar dan masuk rongga intra
toraks dengan mudah. Tekanan intra toraks akan sama dengan
tekanan udara luar. Dikenal juga sebagai sucking-wound.

3. Manifestasi Klinis
a) Dispnea (jika luas)
b) Nyeri pleuritik hebat
c) Treakea bergeser menajauhi sisi yang mengalami pneumotorak
d) Takikardia
e) Sianosis (jika luas)
f) Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena
g) Perkusi hipersonor diatas pneumotorak
h) Perkusi meredup di atas paru-paru yang kollaps
i) Suara napas berkurang pada sisi yang terkena
j) Premitus vokal dan raba berkurang

4. Patofisiologi
Patogenesis pneumotorak spontan sampai sekarang belum jelas.
a) Pneumothorak Spontan Primer
Pneumotorak spontan primer terjadi karena robeknya suatu
kantong udara dekat pleura viseralis. Penelitian secara petologis
membuktikan bahwa pasien pneumotorak spontan yang parunya
dipesersi tampak adanya satu atau dua ruang berisi udara dalam
bentuk blab dan bulla.
12

Bulla merupakan suatu kantong yang dibatasi sebagian oleh pelura


fibrotik yang menebal sebagian oleh jaringan fibrosa paru sendiri
dan sebagian lagi oleh jaraingan paru emfisematus. Blab terbentuk
dari suatu alveoli yang pecah melalui suatu jaringan intertisial
kedalam lapisan tipis pleura viseralis yang kemudian berkumpul
dalam bentuk kista. Mekanisme pembentukan bulla/blab belum
jelas , banyak pendapat mengatakan terjadainya kerusakan bagian
apeks paru akibat tekanan pleura lebih negatif.
Blab atau bulla yang pecah masih belum jelas hubungan dengan
aktivitas yang berlebihan,karena pada orang-orang yang tanpa
aktivitas (istirahat) juga dapat terjadi pneumothorak. Pecahnya
alveoli juga dikatakan berhubungan dengan obstruksi check-valve
pada saluran napas dapat diakibatkan oleh beberapa sebab antara
lain : infeksi atau infeksi tidak nyata yang menimbulkan suatu
penumpukan mukus dalam bronkial.
b) Pneumotorak Spontan Sekunder
Disebutkann bahwa terjadinya pneumotorak iniadalah akibat
pecahnya blab viseralis atau bulla pneumotorak dan sering
berhubungan dengan penyakit paru yang medasarinya. Patogenesis
penumotorak ini umumnya terjadi akibat komplikasi asma, fibrosis
kistik, TB paru, penyakit-penyakit paru infiltra lainnya (misalnya
pneumotoral supuratif, penumonia carinci). Pneumotorak spontan
sekunder lebih serius keadaanya karena adanya penyakit yang
mendasarinya.

5. Komplikasi
Timbulnya infeksi sekunder pada fungsi toraks darurat maupun
secara akibat pemasangan WSD sangat ditakutkan. Infeksi dapat berupa
epiema ataupun abses paru.
13

6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pneumototrak bergantung pada jenis
pneumotorak yang dialaminya, derajat kolaps,berat ringannya gejala,
penyakit dasar, dan penyulit yang terjadi saat melaksanakan pengobatan
yang meliputi :

Tindakan dekompresi
Membuat hubungan antara rongga pleura dengan lingkungan luar
dengan cara ;
1. Menusukkan jarum melalui dinding dada hingga ke rongga pleura,
dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan
berubah menjadi negatif. Hal ini disebabkan karena udara keluar
melalui jarum tersebut. Cara lainnya adalah melakukan penusukan
ke rongga pleura memakai transfusion set.
2. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontraventil :
a) Penggunaan pipa wter Sealed drainage (WSD)
Pipa khusus (kateter thoraks) steril, dimasukkan ke rongga pleura
dengan perantara troakar atau dengan bantuan klem penjepit
(pen) pemasukan pipa plastic (kateter thoraks) dapat juga
dilakukan melalui celah yang telah dibuat dengan bantuan insisi
kulit dari seala iga ke-4 pada garis klavikula tengah. Selanjutnya,
ujung sealng plastik di dada dan pipa kaca WSD dihubungkan
melalui pipa plastic lainyya. Posisi ujung pipa kaca yang berada
di botol sebaiknya berada 2 cm di bawah permukaan air supaya
gelembung udara dapat mudah keluar melalui perbedaan tekanan
tersebut.
b) Pengisapan kontinu (continous suction)
Pengisapan dilakukan secara kontinu apabila tekanan intrapleura
tetap positif. Pengisapan ini dilakukan dengan cara memberi
tekanan negatif sebesar 10-20 cmH 2O. Tujuannya adalah agar
paru cepat mengaembang dan segera terjadi perlekatan antara
pleura visceral danpleura parietalis
c) Pencabutan drain
14

Apabila paru telah mengambang maksimal dan tekanan negatif


kembali, drain dapat dicabut. Sebelum dicabut, drain ditutup
dengan cara dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila paru
tetap mengembang penuh, drain dapat dicabut.
15

BAB III
APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN TEORI ADAPATASI ROY PADA PASIEN DENGAN PNEUMOTHORAKS

3.1 Proses Keperawatan

PROSES KEPERAWATAN

Pengkajian Assesment
Mode
Berfikir Kritis Stimulus
Adaptasi Perilaku
Fokal Kontekstual Residual

Fisiologis 1. Oksigenasi Saat masuk IGD tanggal 20 Nopember 2016 klien mengatakan Penurunan Peningkatan (-)
ekspansi tekanan udara di
sesak napas dan batuk sejak 3 hari, dan memberat hari ini, batuk
paru dalam rongga
kering, klien mengatakan sulit bernafas, klien merasakan seperti ada pleura
yang mengganjal di dada kirinya. Klien mengatakan nyeri dada kiri
tiba-tiba sejak 3 hari yang lalu
Pemeriksaan fisik :
Keadaan umum sakit sedang, kesadaran composmentis GCS 15
E4M6V5. TD:110/70 mmHg, HR: 108x/i, RR 32x/i, Spo2 99%.
Dada : Hemithorax ka/ki vesiculer (+), ronchi (-), Wheezing (-).
Bibir tampak sianosis
Hasil Thoraks foto tanggal 22 Nop 2016
Gambaran Hiperreaktif Bronchus dengan Pneumothoraks kiri sisa,
dengan perkiraan Volume (+/-) 3%
Terpasang Catheter WSD dengan ujung distal setinggi CVTh4 kiri
16

2. Nutrisi Pola makan sehari 3 kali (-) (-) (-)


Tidak ada keluhan mual dan muntah
Tidak ada makanan pantangan atau makanan alergi

3. Eliminasi BAK 2500 ml/24 jam (-) (-) (-)


BAB normal, frekunsi 1x sehari
Intake oral baik, 1500 mL/24 jam
IvFD RL 1000mL/24 jam

4. Aktivitas dan Klien bedrest Sesak Penurunan (-)


Istirahat Klien terpasang WSD napas ekspansi paru
Aktifitas pemenuhan kebutuhan sehari hari selama dirawat dibantu
oleh keluarga dan perawat
Klien mengatakan sejak 3 hari tidak bisa tidur.
Klien mengatakan sulit bernafas, klien merasakan seperti ada yang
mengganjal di dada kirinya
Klien mengatakan nyeri dada kiri tiba-tiba sejak 3 hari yang lalu
TD:110/70 mmHg, HR: 108x/i, RR 32x/i, Spo2 99%.

5. Proteksi Klien terpasang WSD Insersi Penurunan (-)


WBC 11.103 u/L WSD ekspansi paru
Klien bedrest

6. Sensasi Pasien mengeluh nyeri pada lokasi insersi WSD, skala nyeri 5/10 Insersi Penurunan (-)
(NRS). WSD ekspansi paru
pada
dada kiri

7. Cairan dan Kesadaran CM , GCS = 15 (-) (-) (-)


elektrolit Na+ 145 (135-145 mmol/L)
K+ 3,6 (3,5-5,5 mmol/L)
Ca++ 0,37 (0,9-1,08 mmol/L)
17

BAK 2500 ml/24 jam


BAB normal, frekunsi 1x sehari
Intake oral baik, 1500 mL/24 jam
IvFD RL 1000mL/24 jam
8. Fungsi Kesadaran CM, GCS 15 (-) (-) (-)
Neurologi Ukuran pupil 2/2 mm ka/ki, bentuk isokor, reflek terhadap cahaya
langsung +/+.
Klien mampu merasakan sensasi nyeri saat diberi rangsangan
Klien merasa nyeri didaerah insersi WSD

9. Fungsi GDS 120 gr/dl (-) (-) (-)


Endokrin

Konsep diri 1. Fisik diri Kebutuhan dasar klien sebagian dibantu perawat dan keluarga (-) (-) (-)
a. Sensasi Klien mengatakan optimis akan sembuh
tubuh
b. Citra tubuh
2. Personal diri
a. Konsistensi
diri
b. Ideal diri
c. Moral, etik,
spiritual diri
Fungsi a. Instrumental Klien sebelumnya berperan sebagai pelajar Klien Pemasanagn (-)
peran (penampilan Klien hobi membaca immobilit WSD
fisik) Klien kooperatif dan bekerja sama dalam proses penyembuhan as
b. Ekspresif Pasien mengatakan saat ini aktivitasnya terbatas
(Perasaaan,
sikap, kesukaan
atau ketidak
sukaan).
Interdepen significant other Klien masih mampu beraktifitas dengan bantuan minimal keluarga (-) (-) (-)
18

densi (orang yang berarti) dan perawat


dan support system. Keluarga mengatakan siap membantu mobilisasi klien saat di rumah
Keluarga memberikan dukungan yang baik kepada klien dalam
proses penyembuhan
19

3.2 Diagnosa

1. Ketidakefektifan pola napas b/d penurunan ekspansi paru (00032)


2. Intoleransi aktivitas b/d masalah pernapasan (00092)
3. Nyeri akut b/d insisi WSD (00132)
4. Resiko infeksi b/d prosedur invasive (00004)
20

3.3 Intervensi

No Diagnosa Keperawatan Nursing Outcomes Classification (NOC) Nursing Interventions Classification (NIC)

1 Ketidakefektifan pola napas b/d Respon ventilasi mekanik Airway Management :


penurunan ekspansi paru.
Status pernapasan 1. Identifikasi faktor penyebab kolaps: trauma, infeksi
komplikasi mekanik pernapasan.
Kriteria Hasil:
2. Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman napas, laporkan
Definisi :
1. Tak tampak sesak napas dan nyeri saat melakukan setiap perubahan yang terjadi
Inspirasi dan / atau ekspirasi 3. Baringkan klien dalam posisi yang nyaman, atau dalam
pernapasan
yang tidak memberi ventilasi 2. Bentuk dada simetris posisi duduk.
adekuat. 3. Gerakan dada saat bernapas simetris 4. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
4. Tidak menggunakan otot bantu pernapasan 5. Monitor respirasi dan status O2
5. Pola napas normal
6. TTV normal
7. Palpasi getaran simetris
Oksigenasi Management
8. Perkusi sonor simetris
9. Auskultasi vesikuler simetris
1. Pertahankan jalan nafas yang paten
10. Radiologi: Paru yang kolaps sudah ekspansi
2. Berikan Terapi Oksigen
3. Monitor aliran oksigen
4. Pertahankan posisi pasien
5. Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi
6. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap
oksigenasi

Vital sign Monitoring


21

1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR


2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
4. Monitor frekuensi dan irama pernapasan
5. Monitor suara paru
6. Monitor pola pernapasan abnormal
7. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
8. Kolaborasi untuk tindakan dekompresi dengan
pemasangan selang WSD

2. Intoleransi aktivitas b/d masalah Toleransi terhadap aktivitas Terapi aktivitas :


pernapasan
Daya tahan 1. Kaji tingkat kemampuan pasien untuk berpindah dari
tempat tidur, berdiri, ambulasi, dan melakukan ADL
Energi Psikomotor
Definisi : 2. Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktivitas
Kriteria Hasil
Ketidakcukupan energi 3. Evaluasi motivasi dan keinginan pasien untuk
psikologis atau fisiologis untuk 1. Mentoleransi aktivitas yang bisasa dilakukan, yang
meningkatkan aktivitas
mempertahankan atau dibuktikan oleh toleransi aktivitas, ketahanan,
menyelesaikan aktivitas penghematan energy, kebugaran fisik, energy
kehidupan sehari-hari yang Manajemen energy :
harus atau yang ingin dilakukan. psikomotorik, dan perawatan diri, ADL.
2. Kemampuan untuk berbicara saat beraktivitas fisik 4. Tentukan penyebab keletihan
3. Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat 5. Pantau respon kardiorespiratori terhadap aktivitas
4. Menyadari keterbatasan energy 6. Pantau respon oksigen pasien terhadap aktivitas
7. Pantau respon nutrisi untuk memastikan sumber-sumber
energy yang adekuat
8. Pantau dan dokumentasikan pola tidur pasien dan
lamanya waktu tidur dalam jam
22

3. Nyeri akut b/d insisi WSD Tingkat kenyamanan: tingkat persepsi positif terhadap Manajemen nyeri:
kemudahan fisik psikologis
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi
Pengendalian nyeri: tindakan individu untuk mengendaikan lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi,
Definisi : nyeri
kualitas, intensitas atau keparahan nyeri dan factor
Pengalaman sensori dan Tingkat nyeri: keparahan nyeri yang dapat diamati atau presipitasinya
emosional yang tidak dilaporkan
menyenangkan yang muncul 2. Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya
akibat kerusakan jaringan yang Kriteria Hasil pada mereka yang tidak mampu berkomunikasi efektif.
actual atau potensial atau
digambarkan dalam hal 1. Menunjukan tingkat nyeri 3. Ajarkan klien teknik pengendalian nyeri (distraksi &
kerusakan sedemikian rupa 2. Memperlihatkan pengendalian nyeri
3. Melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologis relaksasi)
(International Association for 4. mengenali factor penyebab dan menggunakan
the Study of Pain), awitan yang
tindakan untuk memodifikasi factor tersebut 4. Kurangi kecemasan klien
tiba-tiba atau lambat dari
5. melaporkan nyeri kepada pelayan kesehatan.
intensitas ringan hingga berat
6. melaporkan pola tidur yang baik
dengan akhir yang dapat Pemberian Analgesik :
diantisipasi atau diprediksi dan
berlangsung < 6 bulan. 1. Kolaborasi pemberian terapi analgesic

4. Resiko infeksi b/d prosedur Pengendalian resiko. Perlindungan Infeksi :


invasive
Status imun 1. Pantau tanda dan gejala infeksi (suhu, denut jantung,
drainase, penampilan luka, sekresi, penampilan urin, suhu
Keparahan
Definisi : kulit, lesi kulit, keletihan dan malaise)
Pengendalian resiko 2. kaji factor yang dapat meningkatkan kerentanan
Mengalami peningkatan resiko terhadap infeksi
3. pantau hasil laboratorium (hitung darah lengkap,
23

terserang organisme patogenik Penembuhan luka hitung granulosit, absolute, hitung jenis, protein serum,
albumin)
4. amati penampilan praktek hygiene personal untuk
Kriteria Hasil : perlindungan terhadap infeksi
5. Perawatan area luka insisi
1. Factor resiko infeksi akan hilang
2. Status imunitas meningkat
3. Kontrol resiko infeksi Aktivitas kolaboratif
4. Respon terhadap pengobatan
1. Ikuti protocol institusi untuk melaporkan suspek
infeksi atau kultur positif
2. Berikan terapi antibiotic, bila diperlukan
24

BAB IV
ANALISIS KASUS

4.1 Kasus

Tn.G umur 20 tahun datang ke IGD RS P pada tanggal 21 Nopember 2016


pukul 14.18 WIB. Klien mengatakan sesak napas dan batuk sejak 3 hari, dan
memberat hari ini, batuk kering, klien mengatakan sulit bernafas, klien
merasakan seperti ada yang mengganjal di dada kirinya, kemarin sudah
berobat ke dokter praktik, disarankan ke dokter spesialis Pulmonologi hari
ini. Klien mengatakan nyeri dada kiri tiba-tiba sejak 3 hari yang lalu.
Muntah tidak ada, keringat dingin tidak ada, makan minum masih baik,
tidak ada penurunan berat badan. Foto Thorax: Pneumothorax spontan kiri.
Riwayat penyakit dahulu tidak spesifik. Riwayat operasi sebelumnya tidak
ada. Faktor Psikologis tidakada. Klien diperiksa di emergency dengan
Pneumothorax spontan kiri dengan Pro: WSD kiri cyto.
Pada tanggal 22 Nopember 2016 pukul 08.59, Klien mengeluh nyeri pada
lokasi insersi WSD, nyeri skala 5/10. WSD: undulasi (+), produksi minimal.
Foto Thorax AP post insersi WSD: tidak tampak Pneumothorax kiri.
Keadaan umum sakit sedang, kesadaran composmentis GCS 15 E4M6V5.
TD:110/70 mmHg, HR: 108x/i, RR 32x/i, Spo2 99%. Bibir tampak sianosis.
Conjuntiva anemis (-), sklera Ikterik (-), hemithorax ka/ki vesiculer (+),
ronchi (-), Wheezing (-), cor normal. Perut: Supel (+), Nyeri tekan (-),
peristaltik normal. Extremitas : akral hangat, udem (-)

Pemeriksaan penunjang

Hasil EKG
Normal heart rate sinus rhythm with sinus arrhythmia
vertical heart otherwise ECG without pathological findings
Thorak foto 20/11/2016
Dilakukan Foto Thoraks PA/AP:
Trachea di tengah, tak tampak menyempit
25

Cor tak membesar, CTR < 50%. Aorta normal, Kalsifikasi (-), Elongatio (-).
Sinus Costofrenicus & Cardiofrenicus serta Diafragma kanan/kiri normal
Pulmo :
Hilli normal
Corakan Bronchovaskuler bertambah
Tak tampak infiltrat , tampak bayangan hyperluscent avaskular di
hemithoraks kiri dengan perkiraan Volume (+/-) 70%, disertai gambaran paru
kiri yang terlihat kolaps
Kranialisasi (-)
Kesan :
- Cor dalam batas normal
- Tak tampak TB Paru Aktif / Efusi Pleura
- Gambaran Hiperreaktif Bronchus dengan Pneumothoraks kiri dengan
perkiraan Volume (+/-) 70%

Thorak foto 22/11/2016


Dilakukan Foto Thoraks PA/AP :
Dibandingkan dengan hasil Foto sebelumnya (20/11/2016) :
Trachea di tengah, tak tampak menyempit
Cor tak membesar, CTR < 50%
Aorta normal, Kalsifikasi (-), Elongatio (-)
Sinus Costofrenicus & Cardiofrenicus serta Diafragma kanan/kiri normal
Pulmo :
Hilli normal
Corakan Bronchovaskuler bertambah
Tak tampak infiltrat , tampak bayangan Paru kiri yang sudah terlihat
mengembang hampir maksimal, disertai bayangan hyperluscent avaskular di
apikal hemithoraks kiri minimal yang merupakan Pneumothoraks sisa,
dengan perkiraan Volume (+/-) 3%. Kranialisasi (-)
Terpasang Catheter WSD dengan ujung distal setinggi CVTh4 kiri

Kesan :
26

- Cor dalam batas normal


- Tak tampak TB Paru Aktif / Efusi Pleura
- Gambaran Hiperreaktif Bronchus dengan Pneumothoraks kiri sisa, dengan
perkiraan
Volume (+/-) 3%
- Terpasang Catheter WSD dengan ujung distal setinggi CVTh4 kiri

4.2 Analisis Kasus

Roy merekomendasikan pengkajian dengan dua tahapan yaitu pengkajian


perilaku dan stimulus yang dapat diterapkan pada klien pneumothoraks, dimana
klien dengan pneumothoraks umumnya membutuhkan waktu perawatan lama
sehingga klien diharapkan memiliki respon adaptif. Model ini dapat digunakan
untuk proses keperawatan pada klien dengan pneumothoraks mulai dari
pengkajian sampai pada evaluasi.

Penerapan model teori Roy bukan hanya pada klien sakit, tetapi pada saat
klien sudah dirumah, klien masih perlu beradaptasi dengan kondisinya. Pada
pengkajian keperawatan klien pneumothoraks dengan menggunakan pendekatan
Model Adaptasi Roy, pengkajian lebih banyak berfokus pada pengkajian fungsi
fisiologis yaitu oksigenasi. Pengkajian fungsi fisiologis oksigenasi meliputi
pengkajian perilaku dan stimulus yang diharapkan dapat memperlihatkan tanda-
tanda perbaikan fungsi paru.

Model yang dikembangkan Roy dapat diaplikasikan diberbagai tatanan


pelayanan rumah sakit pada klien dengan penyakit akut maupun kronis, dari klien
dengan permasalahan fisiologis dan psikologis, sesuai dengan karakteristik teori
oleh George (1999) bahwa teori harus dapat diaplikasikan untuk mengatasi
masalah klien dari yang sederhana sampai yang kompleks.

Model adaptasi Roy mempunyai kekuatan untuk melakukan pendataan secara


lengkap dan akurat karena pengkajiannya melalui dua tahap. Model ini
menyediakan kerangka kerja yang cukup baik untuk pengkajian, serta seluruh
proses keperawatan. Model Adaptasi Roy telah diaplikasikan pada klien dewasa
27

dengan berbagai macam kondisi medis termasuk post traumatik stres disorder
(Nayback, 2009), dan pada wanita pada masa menopause (Cunningham, 2002).
Model ini telah digunakan untuk mengevaluasi kebutuhan perawatan klien dewasa
dengan kanker (Ramini, Brown & Bucner, 2008), Asthma (Bucner, Simons,
Brakefield, et al, 2007), dan Hipertensi normal-tinggi (Starnes & Peters, 2004).

Pengkajian perilaku dan stimulus dilakukan secara bersamaan pada masing-


masing mode. Pengkajian perilaku (assessment behavior) merupakan langkah
pertama dari proses keperawatan. Hasil dari pengkajian perilaku bisa dilaporkan
secara subjektif dan objektif melalui pengamatan dan pengukuran. Tidak semua
perilaku dapat diobservasi. Untuk itu, diperlukan kemampuan untuk melihat dan
mendengar serta kejelian perawat untuk melihat adanya masalah atau fenomena
pada klien.

Salah satu kelemahan teori adaptasi roy pada pengkajian sistem respirasi
(klien dengan pneumothoraks) yaitu adanya data/informasi yang tumpang tindih
pada data pengkajian sehingga jika diaplikasikan dalam pelayanan, memerlukan
waktu yang cukup lama dalam menuliskan dokumentasi pengkajian.
28

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Roy Adaptation model memiliki kelebihan terhadap pendataan secara
lengkap dan akurat karena pengkajiannya melalui dua tahap. Model ini
menyediakan kerangka kerja yang cukup baik untuk pengkajian serta
seluruh proses keperawatan. Model ini terintegrasi dalam enam tahapan
proses keperawatan yang meliputi pengkajian perilaku, pengkajian
stimulus, diagnosis, tujuan, intervensi dan evaluasi. Model adaptasi Roy
memungkinkan perawat untuk memiliki kemampuan analisis yang baik
terhadap suatu penyakit karena pengkajian dengan dua tahap yaitu
pengkajian perilaku dan pengkajian stimulus mengharuskan perawat untuk
memiliki konsep patoflow yang baik.
2. Model Adaptasi Roy ini juga memiliki sedikti kekurangan yaitu adanya
data/informasi yang tumpang tindih pada data pengkajian sehingga jika
diaplikasikan dalam pelayanan, memerlukan waktu yang cukup lama
dalam menuliskan dokumentasi pengkajian.

5.2 Saran
Perawat perlu mengenali dan memahami perkembangan model/teori
keperawatan secara menyeluruh agar dapat menerapkan teori tersebut ke
dalam proses keperawatan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi klien.
29

DAFTAR PUSTAKA

Alligood, Martha Raile. (2014). Nursing Theory: Utilization and Aplication 5th
editition. Singapura. Elsevier

Alligood, Martha Raile. (2014) Nursing Theory and Their Work (8 ed).
Greenville, North Carolina: Elsevier.

Black, J.M. & Hawk, J. H. (2014). Keperawatan Medikal Bedah:Manajemen


Klinis untuk Hasil yang Diharapkan. Edisi 8. Jakarta: Salemba Medika

Bulechek. Butcher. Dochterman. Wagner. (2016). Nursing Intervention Classification


(NIC) 6th Edition. Elsevier: Singapore Pte Ltd.

George, J. B. (1999). Nursing theories: Base for professional nursing. (5th ed). Pearson
Education

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds). (2015). NANDA International, Inc.


Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Ed.10.
Jakarta: EGC.

Moorhead. Johnson. Mass. Swanson. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC). 5th
Edition. Elsevier: Singapore Pte Ltd.

Prince Silvia A & Wilson Lorraine M. (1995). Patofisiologi: Konsep Klinis


Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta: EGC